Está en la página 1de 21

Archive for referat forensik

Odontologi
Juli 2, 2012 pada 12:38 pm · Filed under referat forensik

Pendahuluan

Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perkembangan social budaya
mengakibakan tingginya angka kecelakaan, pembunuhan dan peristiwa – peristiwa lain yang
kadang – kadang mengakibatkan kesulitan dikenalinya korban tersebut. Di lain pihak adanya
tuntutan untuk segera dilakukannya identifikasi secara tepat pada korban tersebut. Dan salah
satu identifikasi yang paling penting adalah umur.

Penentuan umur dapat dilakukan dengan pemeriksaan penutup sutura, inti penulangan,
penyatuan tulang serta pemeriksaan gigi.

Penggunaan gigi sebagai identifikasi memberikan keuntungan dikarenakan sifat gigi yang
keras dan tahan terhadap cuaca, kimia, maupun trauma. Selain itu gigi manusia mempunyai
sifat diphypodensi dimana setiap gigi mempunyai konfigurasi dan relief yang berbeda dan
perubahan yang terjadi karena umur atau proses patologis/intervensi pada gigi dapat menjadi
informasi lain. Dalam tinjauan kepustakaan ini akan membahas tentang penentuan umur
berdasarkan identifikasi gigi.(1)

PEMBAHASAN

1 ANATOMI DAN MORFOLOGI GIGI MANUSIA1.1. Anatomi Gigi(2)

Gigi manusia terdiri dari tiga

1. Akar gigi, yang berfungsi menopang gigi dan merupakan bagian gigi yang terletak
didalam tulang rahang.
2. Mahkota gigi yaitu bagian gigi yang berada diatas ginggiva.
3. Leher gigi, yaitu bagian yang menghubungkan akar gigi dengan mahkota gigi.

1.2. Struktur Gigi(2)

Badan dari gigi terdiri dari :

1. Email, merupakan jaringan keras yang mengelilingi mahkota gigi dan berfungsi
membentuk struktur luar mahkota gigi dan membuat gigi tahan terhadap tekanan dan
abrasi. Email tersusun dari mineral anorganik terutama kalsium dan fosfor, zat
organic dan air.
2. Dentin, merupakan bagian dalam struktur gigi yang terbanyak dan berwarna
kekuningan. Dentin bersifat lebih keras dari pada tulang tetapi lebih lunak dari email.
Dentin terdiri dari 70 % bahan organic, terutama Kalsium dan fosfor serta 30 % bahan
organic dan air.
3. Sementum, merupakan jaringan gigi yang mengalami kalsifikasi dan menutup akar
gigi. Sementum berfungsi sebagai tempat melekatnya jaringan ikat yang memperkuat
akar gigi pada alveolus. Sementum lebih lunak dari dentin dan terdiri dari 50% bahan
organic berupa Kalsium dan Fosfor dan 50% bahan organic.
4. Pulpa, merupakan jaringan ikat longgar yang menempati bagian ruang tengah pulpa
dan akar gigi. Pada pulpa terkandung pembuluh darah, syaraf, dan sel pembentuk
dentin. Pulpa berisi nutrisi dan berfungsi sebagai sensorik.

1.3. Morfologi gigi. (2)

Menurut masa pertumbuhan gigi manusia terbagi menjadi dua, yaitu :

1. Gigi susu

Gigi susu berjumlah 20 buah dan mulai tumbuh pada umur 6 -9 bulan dan lengkap pada umur
2 – 2,5 tahun. Gigi susu terdiri dari 5 gigi pada setiap daerah rahang masing – masing adalah :
2 gigi seri (incicivus),1 gigi taring

1. Gigi permanen

Gigi permanen berjumlah 28 – 32 terdiri dari 2 gigi seri, 1 gigi taring, 2 gigi premolar, dan 3
gigi molar pada setiap daerah rahang. Gigi permanen menggantikan gigi susu. Antara umur 6
– 14 tahun 20 gigi susu diganti gigi permanen. Gigi molar 1 dan 2 mulai erupsi pada umur 6 –
12 tahun sedangkan gigi molar 3 mulai erupsi pada umur 17 – 21 tahun.

1.4 Nomenklatur Gigi

Nomenklatur yang biasa dipakai adalah :

1. Cara Zsigmondy
2. Cara Palmer
3. Cara FID ( Federation Internationale Dentaire )

Cara Zsigmondy

Gigi susu

V IV III II I I II III IV V

V IV III II I I II III IV V

Gigi tetap

8764321 12345678

8764321 12345678

Contoh penulisan :
V : gigi susu m2 kanan atas

6 : gigi tetap M1 kiri bawah

Cara Palmer

Gigi susu

EDCBA ABCDE

EDCBA ABCDE

Gigi tetap

8764321 12345678

8764321 12345678

Contoh penulisan :

E : gigi susu m2 kanan atas

6 : gigi tetap M1 kiri bawah

Cara FID ( Federation Internationale Dentaire )

Dengan menggunakan sstem 2 angka :

Gigi Tetap :

1- 2-

4- 3-

18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25 26 27 28
48 47 46 45 44 43 42 41 31 32 33 34 35 36 37 38

Gigi Susu

5- 6-

8- 7-

55 54 53 52 51 61 62 63 64 65

85 84 83 82 81 71 72 73 74 75

Contoh penulisan :

55 : gigi susu m2 kanan atas

36 : gigi tetap M1 kiri bawah

2.2 EMBRIOLOGI DAN PERKEMBANGAN GIGI MANUSIA

Gigi memiliki tiga periode pertumbuhan yaitu :

1. Periode Proliferasi

Pertumbuhan gigi mulai bulan keenam dari kehidupan embrio ( 11 mm embrio ) dengan
bentukan tonjolan gigi primordial. Diferensiasi pertumbuhan gigi berkembang dari ectoderm
dan mesoderm.

Pembentukan gigi diawali dari pembentukan enamel, kemudian berdiferensiasi menjadi


dentin, pulpa, sementum, dan ligament periodontal.

Tonjolan gigi berasal dari invaginasi proliferatif dari ectoderm epitel mulut dan diikuti
difernsiasi dari mesenkial mesoderm berdekatan. Epitel mulut berdiferensiasi menjadi enamel
yang memproduksi ameloklast dan dentin yang memproduksi odontoblast yang muncul dari
mesoderm.

Pulpa gigi terdiri dari jaringan ikat mesoderm, pembuluh darah dan saraf yang berkembang
secara sentral dalam cangkang luar gigi yang membentuk dentin dan enamel. Invaginasi
Tonjolan gigi berpisah dari tonjolan epitel mulut dan terus berkembang secara bertahap dan
diikuti pembentukan tulang maxilla, mandibula, gigi seri, gigi taring.

Gigi susu terbentuk sampai umur 3 – 4 bulan (fetus), sedangkan untuk gigi tetap, gigi
belakang ( premolar dan molar ) sampai dengan stadium III kehamilan, sedangkan untuk gigi
incicivus lateralis sampai dengan stadium II kehamilan.

1. Periode kalsifikasi

Kalsifikasi jaringan email dan dentin merupakan aposisi, mulai 4 bulan intrauterine sampai
dengan usia 3 tahun setelah lahir untuk gigi susu, sedang untuk gigi tetap antara lain :
Gigi I1 mulai 4 bulan intrauterine sampai dengan usia 1,5 tahun setelah

lahir.

Gigi I2 mulai 6 bulan intrauterine sampai dengan usia 2 atau 3 tahun,

begitu pula untuk gigi M1 atas dan gigi M2 bawah. Untuk gigi M2 atas

dan bawah sampai dengan usia 3 tahun. Sedangkan untuk gigi caninus

atas dan bawah sampai dengan usia 3,5 tahun.

1. Periode erupsi

Periode erupsi ini sangat bervariasi, tergantung dari beberapa factor antara lain :

Pertumbuhan memanjang dari gigi.

Multiplikasi dari jaringan pulpa.

Deposisi dari jaringan baru jaringan cement.

Pertumbuhan jaringan tulang rawan.

Gigi dapat memberi informasi apakah seseorang itu anak – anak atau remaja.

2.3 PENENTUAN UMUR BERDASARKAN PEMERIKSAAN GIGI

Metode yang sering digunakan untuk seseorang berdasar pemeriksaan gigi antara lain :

1. Metode Schour dan Massler

Schour dan Massler membuat table tentang gambaran pertumbuhan gigi mulai dari lahir
sampai dengan umur 21 tahun, yang banyak digunakan dalam ilmu kedokteran gigi klinis
khususnya ordontis untuk merencanakan atau mengevaluasi perawatan gigi.

Tabel ini biasa dibunakan untuk mempelajari gigi geligi dimana yang sudah seharusnya
tanggal atau seharusnya sudah tumbuh pada umur tertentu. Untuk penentuan umur
penggunaannyajustru melihat gigi ayng sudah ada didalam mulut dan menentukan umurnya
dengan bantuan table Schour dan Massler.

1. Tabel Gustaffson dan Koch


Pada prinsipnya sama dengan sChour dan Massler, hanya pada table Gustaffson untuk setiap
gigi ini diberikan perkiraan jadwal yang lebih lengakap, mulai dari pembentukan,
mineralisasi, pertumbuhan ke dalam mulut sapai pada penutupan foramen apicalis, sejak
dalam kandungan hingga umur 16 tahun.

1. Metode Gustaffson

Penentuan umur berdasarkan table Gustaffson – Koch pada umumnya bermanfaat selama gigi
masih dalam masa pertumbuhan. Untuk memperkirakan umur seseorang setelah masa itu
digunakan 6 metode dari Gustaffson.

a.atrisi

Penggunaan gigi setiap hari membuat gigi mengalami keausan yang sesuai dengan
bertambahnya usia.

b. Sekunder dentin

Sejalan dengan adanya atrisi, maka di dalam ruang pulpa akan dibentuk sekunder dentin
untuk melindungi gigi, sehingga semakin bertambah usia maka sekunder dentin akan semakin
tebal.

c. Ginggiva attachment

Pertambahan usia juga ditandai dengan besarnya jarak antara perlekatan gusi dan gigi.

d. Pembentukan foramen apikalis

Semakin lanjut usia, semakin kecil juga foramen apikalis.

e. Transfarasi akar gigi

Semakin tua usia seseorang maka akar giginya semakin bening, hal ini dipengaruhi oleh
mineralisasi yang terjadi selama kehidupan.

f. Sekunder sement

Ketebalan semen sangat berhubungan dengan usia. Dengan bertambahnya usia ketebalan
sement pada ujung akar gigi juga semakin bertambah.

1. Neonatal dan Von Ebner Lines

Garis-garis incremental Von Ebner dan Neonatal, dapat dilihat pada gigi yang telah disiapkan
dalam bentuk sediaan asahan dengan ketebalan 30-40 mikron. Pada gigi susu dan Molar 1
(yaitu gigi-gigi yang ada pada waktu kelahiran), akan ditemukan neonatal line berupa garis
demarkasi yang memisahkan bagian dalam email (yang terbentuk sebelum kelahiran) dengan
bagian luar enamel (yang terbentuk setelah lahir). Selanjutnya juga akan ditemukan garis-
garis incremental Von Ebner yang merupakan transisi antara periode pertumbuhan cepat dan
pertumbuhan lambat yang berselang-seling.
Jarak rata-rata antara garis ini adalah 4 mikron yang merupakan kecepatan deposisi dentin
dalam 24 jam. Apabila pembentukan gigi belum selesai, perhitungan garis Von Ebner dari
neonatal line dapat membantu penentuan umur.

1. Metode Asam Aspartat

Hapusan asam aspartat telah digunakan untuk menentukan usia berdasarkan pada terdapatnya
bahan tersebut pada dentin manusia. Komponen protein terbanyak pada tubuh manusia
berbentuk L-amino Acid, D-amino acid yang ditemukan pada tulang, gigi, otak dan lensa
mata. D-amino acid dipercaya mempunyai proses metabolisme yang lambat dan tiap
bagiannya mempunyai laju pemecahan yang lebih lambat dan mempunyai ratio dekomposisi
yang lebih lambat juga. Asam aspartat mempunyai kemampuan penghapusan paling tinggi
dari semua asam amino.

Pada 1976 Helfman dan Bada menggunakan informasi ini untuk mempelajari perkiraan umur
dengan membandingkan rasio D-Laspartat acid dengan 20 subyek dengan hasil bagus (r =
0,979) rasio yang tinggi pada D/L rasio banyak ditemukan pada usia muda dan menurun
akibat pertambahan usia dan perubahan lingkungan.

Pada tahun 1990 Ritz et al. melaporkan adanya asam aspartat pada dentin untuk menentukan
usia pada orang yang telah meninggal, berdasarkan hal tersebut metode ini dapat
menyediakan informasi yang lebih akurat tentang penentuan usia dibandingkan dengan
parameter yang lain.

Untuk penentuan usia digunakan persamaan linier sebagai berikut :

Ln (1 + D/L) / (1 – D/L) = 2k (aspartat)t + konstanta

K : first order kinetik

t : actual age

Gigi yang digunakan dalam kasus ini adalah gigi seri tengah bagian bawah dan premolar
pertama. Mereka menemukan perkiraan umur yang lebih baik dari fraksi total asam amino
dengan membagi menjadi fraksi kolagen yang tidak larut dan fraksi peptide. Dibandingkan
dengan total asam amino, fraksi kolagen yang tidak larut dan fraksi peptide yang terlarut,
mempunyai konsentrasi glutamine dan asam aspartat yang lebih tinggi.

KESIMPULAN

1. Penggunaan gigi sebagai bahan identifikasi berdasarkan bahwa gigi manusia


mempunyai sifat yang khas dan diphyodensi diman tiap individu mempunyai
konfigurasi dan relief yang berbeda.
2. Untuk dapat melakukan identifikasi gigi diperlukan pengetahuan yang baik tentang
Anatomi, Morfologi, Dan Embriologi gigi manusia.
3. Metode yang digunakan dalam penentuan usia berdasarkan identifikasi gigi antara
lain :
1. Tabel Schour dan Massler
2. Tabel Gustaffson dan Koch
3. Metode Gustaffson
4. Neonatal dan Von Ebner Lines
5. Metode Asam Aspartat

DAFTAR PUSTAKA

1. Stimson, P. G, Mertz, C. A, 1997. Forensic Dentistry, CNC Press Boca Raton, New
York.
2. Clark, D. H, 1992, Practical Forensic Odontology, Butterworth-Heinemann Ltd,
Melksham, Great Britain.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Odontologi
Juni 6, 2009 pada 2:16 pm · Filed under referat forensik

Pendahuluan

Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perkembangan social budaya
mengakibakan tingginya angka kecelakaan, pembunuhan dan peristiwa – peristiwa lain yang
kadang – kadang mengakibatkan kesulitan dikenalinya korban tersebut. Di lain pihak adanya
tuntutan untuk segera dilakukannya identifikasi secara tepat pada korban tersebut. Dan salah
satu identifikasi yang paling penting adalah umur.

Penentuan umur dapat dilakukan dengan pemeriksaan penutup sutura, inti penulangan,
penyatuan tulang serta pemeriksaan gigi.

Penggunaan gigi sebagai identifikasi memberikan keuntungan dikarenakan sifat gigi yang
keras dan tahan terhadap cuaca, kimia, maupun trauma. Selain itu gigi manusia mempunyai
sifat diphypodensi dimana setiap gigi mempunyai konfigurasi dan relief yang berbeda dan
perubahan yang terjadi karena umur atau proses patologis/intervensi pada gigi dapat menjadi
informasi lain. Dalam tinjauan kepustakaan ini akan membahas tentang penentuan umur
berdasarkan identifikasi gigi.(1)

PEMBAHASAN

1 ANATOMI DAN MORFOLOGI GIGI MANUSIA

1.1. Anatomi Gigi(2)

Gigi manusia terdiri dari tiga

1. Akar gigi, yang berfungsi menopang gigi dan merupakan bagian gigi yang terletak
didalam tulang rahang.
2. Mahkota gigi yaitu bagian gigi yang berada diatas ginggiva.
3. Leher gigi, yaitu bagian yang menghubungkan akar gigi dengan mahkota gigi.

1.2. Struktur Gigi(2)

Badan dari gigi terdiri dari :

1. Email, merupakan jaringan keras yang mengelilingi mahkota gigi dan berfungsi
membentuk struktur luar mahkota gigi dan membuat gigi tahan terhadap tekanan dan
abrasi. Email tersusun dari mineral anorganik terutama kalsium dan fosfor, zat
organic dan air.
2. Dentin, merupakan bagian dalam struktur gigi yang terbanyak dan berwarna
kekuningan. Dentin bersifat lebih keras dari pada tulang tetapi lebih lunak dari email.
Dentin terdiri dari 70 % bahan organic, terutama Kalsium dan fosfor serta 30 % bahan
organic dan air.
3. Sementum, merupakan jaringan gigi yang mengalami kalsifikasi dan menutup akar
gigi. Sementum berfungsi sebagai tempat melekatnya jaringan ikat yang memperkuat
akar gigi pada alveolus. Sementum lebih lunak dari dentin dan terdiri dari 50% bahan
organic berupa Kalsium dan Fosfor dan 50% bahan organic.
4. Pulpa, merupakan jaringan ikat longgar yang menempati bagian ruang tengah pulpa
dan akar gigi. Pada pulpa terkandung pembuluh darah, syaraf, dan sel pembentuk
dentin. Pulpa berisi nutrisi dan berfungsi sebagai sensorik.

1.3. Morfologi gigi. (2)

Menurut masa pertumbuhan gigi manusia terbagi menjadi dua, yaitu :

1. Gigi susu

Gigi susu berjumlah 20 buah dan mulai tumbuh pada umur 6 -9 bulan dan lengkap pada umur
2 – 2,5 tahun. Gigi susu terdiri dari 5 gigi pada setiap daerah rahang masing – masing adalah :
2 gigi seri (incicivus),1 gigi taring

2. Gigi permanen

Gigi permanen berjumlah 28 – 32 terdiri dari 2 gigi seri, 1 gigi taring, 2 gigi premolar, dan 3
gigi molar pada setiap daerah rahang. Gigi permanen menggantikan gigi susu. Antara umur 6
– 14 tahun 20 gigi susu diganti gigi permanen. Gigi molar 1 dan 2 mulai erupsi pada umur 6 –
12 tahun sedangkan gigi molar 3 mulai erupsi pada umur 17 – 21 tahun.

1.4 Nomenklatur Gigi

Nomenklatur yang biasa dipakai adalah :

1. Cara Zsigmondy
2. Cara Palmer
3. Cara FID ( Federation Internationale Dentaire )

Cara Zsigmondy
Gigi susu

V IV III II I I II III IV V

V IV III II I I II III IV V

Gigi tetap

8764321 12345678

8764321 12345678

Contoh penulisan :

Vl : gigi susu m2 kanan atas

Cara Palmer

Gigi susu

EDCBA ABCDE

EDCBA ABCDE

Gigi tetap

8764321 12345678

8764321 12345678

Contoh penulisan :

E l : gigi susu m2 kanan atas

Cara FID ( Federation Internationale Dentaire )

Dengan menggunakan sstem 2 angka :

Gigi Tetap :

1- 2-

4- 3-

18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25 26 27 28

48 47 46 45 44 43 42 41 31 32 33 34 35 36 37 38

Gigi Susu
5- 6-

8- 7-

55 54 53 52 51 61 62 63 64 65

85 84 83 82 81 71 72 73 74 75

Contoh penulisan :

55 : gigi susu m2 kanan atas

36 : gigi tetap M1 kiri bawah

2 EMBRIOLOGI DAN PERKEMBANGAN GIGI MANUSIA

Gigi memiliki tiga periode pertumbuhan yaitu :

1. Periode Proliferasi

Pertumbuhan gigi mulai bulan keenam dari kehidupan embrio ( 11 mm embrio ) dengan
bentukan tonjolan gigi primordial. Diferensiasi pertumbuhan gigi berkembang dari ectoderm
dan mesoderm.

Pembentukan gigi diawali dari pembentukan enamel, kemudian berdiferensiasi menjadi


dentin, pulpa, sementum, dan ligament periodontal.

Tonjolan gigi berasal dari invaginasi proliferatif dari ectoderm epitel mulut dan diikuti
difernsiasi dari mesenkial mesoderm berdekatan. Epitel mulut berdiferensiasi menjadi enamel
yang memproduksi ameloklast dan dentin yang memproduksi odontoblast yang muncul dari
mesoderm.

Pulpa gigi terdiri dari jaringan ikat mesoderm, pembuluh darah dan saraf yang berkembang
secara sentral dalam cangkang luar gigi yang membentuk dentin dan enamel. Invaginasi
Tonjolan gigi berpisah dari tonjolan epitel mulut dan terus berkembang secara bertahap dan
diikuti pembentukan tulang maxilla, mandibula, gigi seri, gigi taring.

Gigi susu terbentuk sampai umur 3 – 4 bulan (fetus), sedangkan untuk gigi tetap, gigi
belakang ( premolar dan molar ) sampai dengan stadium III kehamilan, sedangkan untuk gigi
incicivus lateralis sampai dengan stadium II kehamilan.

2. Periode kalsifikasi

Kalsifikasi jaringan email dan dentin merupakan aposisi, mulai 4 bulan intrauterine sampai
dengan usia 3 tahun setelah lahir untuk gigi susu, sedang untuk gigi tetap antara lain :

Gigi I1 mulai 4 bulan intrauterine sampai dengan usia 1,5 tahun setelah

lahir.
Gigi I2 mulai 6 bulan intrauterine sampai dengan usia 2 atau 3 tahun,

begitu pula untuk gigi M1 atas dan gigi M2 bawah. Untuk gigi M2 atas

dan bawah sampai dengan usia 3 tahun. Sedangkan untuk gigi caninus

atas dan bawah sampai dengan usia 3,5 tahun.

3. Periode erupsi

Periode erupsi ini sangat bervariasi, tergantung dari beberapa factor antara lain :

Pertumbuhan memanjang dari gigi.

Multiplikasi dari jaringan pulpa.

Deposisi dari jaringan baru jaringan cement.

Pertumbuhan jaringan tulang rawan.

Gigi dapat memberi informasi apakah seseorang itu anak – anak atau remaja.

3. PENENTUAN UMUR BERDASARKAN PEMERIKSAAN GIGI

Metode yang sering digunakan untuk seseorang berdasar pemeriksaan gigi antara lain :

1. Metode Schour dan Massler

Schour dan Massler membuat table tentang gambaran pertumbuhan gigi mulai dari lahir
sampai dengan umur 21 tahun, yang banyak digunakan dalam ilmu kedokteran gigi klinis
khususnya ordontis untuk merencanakan atau mengevaluasi perawatan gigi.

Tabel ini biasa dibunakan untuk mempelajari gigi geligi dimana yang sudah seharusnya
tanggal atau seharusnya sudah tumbuh pada umur tertentu. Untuk penentuan umur
penggunaannyajustru melihat gigi ayng sudah ada didalam mulut dan menentukan umurnya
dengan bantuan table Schour dan Massler.

2. Tabel Gustaffson dan Koch

Pada prinsipnya sama dengan sChour dan Massler, hanya pada table Gustaffson untuk setiap
gigi ini diberikan perkiraan jadwal yang lebih lengakap, mulai dari pembentukan,
mineralisasi, pertumbuhan ke dalam mulut sapai pada penutupan foramen apicalis, sejak
dalam kandungan hingga umur 16 tahun.

3. Metode Gustaffson
Penentuan umur berdasarkan table Gustaffson – Koch pada umumnya bermanfaat selama gigi
masih dalam masa pertumbuhan. Untuk memperkirakan umur seseorang setelah masa itu
digunakan 6 metode dari Gustaffson.

a.atrisi

Penggunaan gigi setiap hari membuat gigi mengalami keausan yang sesuai dengan
bertambahnya usia.

b. Sekunder dentin

Sejalan dengan adanya atrisi, maka di dalam ruang pulpa akan dibentuk sekunder dentin
untuk melindungi gigi, sehingga semakin bertambah usia maka sekunder dentin akan semakin
tebal.

c. Ginggiva attachment

Pertambahan usia juga ditandai dengan besarnya jarak antara perlekatan gusi dan gigi.

d. Pembentukan foramen apikalis

Semakin lanjut usia, semakin kecil juga foramen apikalis.

e. Transfarasi akar gigi

Semakin tua usia seseorang maka akar giginya semakin bening, hal ini dipengaruhi oleh
mineralisasi yang terjadi selama kehidupan.

f. Sekunder sement

Ketebalan semen sangat berhubungan dengan usia. Dengan bertambahnya usia ketebalan
sement pada ujung akar gigi juga semakin bertambah.

4. Neonatal dan Von Ebner Lines

Garis-garis incremental Von Ebner dan Neonatal, dapat dilihat pada gigi yang telah disiapkan
dalam bentuk sediaan asahan dengan ketebalan 30-40 mikron. Pada gigi susu dan Molar 1
(yaitu gigi-gigi yang ada pada waktu kelahiran), akan ditemukan neonatal line berupa garis
demarkasi yang memisahkan bagian dalam email (yang terbentuk sebelum kelahiran) dengan
bagian luar enamel (yang terbentuk setelah lahir). Selanjutnya juga akan ditemukan garis-
garis incremental Von Ebner yang merupakan transisi antara periode pertumbuhan cepat dan
pertumbuhan lambat yang berselang-seling.

Jarak rata-rata antara garis ini adalah 4 mikron yang merupakan kecepatan deposisi dentin
dalam 24 jam. Apabila pembentukan gigi belum selesai, perhitungan garis Von Ebner dari
neonatal line dapat membantu penentuan umur.

5. Metode Asam Aspartat


Hapusan asam aspartat telah digunakan untuk menentukan usia berdasarkan pada terdapatnya
bahan tersebut pada dentin manusia. Komponen protein terbanyak pada tubuh manusia
berbentuk L-amino Acid, D-amino acid yang ditemukan pada tulang, gigi, otak dan lensa
mata. D-amino acid dipercaya mempunyai proses metabolisme yang lambat dan tiap
bagiannya mempunyai laju pemecahan yang lebih lambat dan mempunyai ratio dekomposisi
yang lebih lambat juga. Asam aspartat mempunyai kemampuan penghapusan paling tinggi
dari semua asam amino.

Pada 1976 Helfman dan Bada menggunakan informasi ini untuk mempelajari perkiraan umur
dengan membandingkan rasio D-Laspartat acid dengan 20 subyek dengan hasil bagus (r =
0,979) rasio yang tinggi pada D/L rasio banyak ditemukan pada usia muda dan menurun
akibat pertambahan usia dan perubahan lingkungan.

Pada tahun 1990 Ritz et al. melaporkan adanya asam aspartat pada dentin untuk menentukan
usia pada orang yang telah meninggal, berdasarkan hal tersebut metode ini dapat
menyediakan informasi yang lebih akurat tentang penentuan usia dibandingkan dengan
parameter yang lain.

Untuk penentuan usia digunakan persamaan linier sebagai berikut :

Ln (1 + D/L) / (1 – D/L) = 2k (aspartat)t + konstanta

K : first order kinetik

t : actual age

Gigi yang digunakan dalam kasus ini adalah gigi seri tengah bagian bawah dan premolar
pertama. Mereka menemukan perkiraan umur yang lebih baik dari fraksi total asam amino
dengan membagi menjadi fraksi kolagen yang tidak larut dan fraksi peptide. Dibandingkan
dengan total asam amino, fraksi kolagen yang tidak larut dan fraksi peptide yang terlarut,
mempunyai konsentrasi glutamine dan asam aspartat yang lebih tinggi.

KESIMPULAN

1. Penggunaan gigi sebagai bahan identifikasi berdasarkan bahwa gigi manusia


mempunyai sifat yang khas dan diphyodensi diman tiap individu mempunyai
konfigurasi dan relief yang berbeda.
2. Untuk dapat melakukan identifikasi gigi diperlukan pengetahuan yang baik tentang
Anatomi, Morfologi, Dan Embriologi gigi manusia.
3. Metode yang digunakan dalam penentuan usia berdasarkan identifikasi gigi antara
lain :
1. Tabel Schour dan Massler
2. Tabel Gustaffson dan Koch
3. Metode Gustaffson
4. Neonatal dan Von Ebner Lines
5. Metode Asam Aspartat

DAFTAR PUSTAKA
1. Stimson, P. G, Mertz, C. A, 1997. Forensic Dentistry, CNC Press Boca Raton, New
York.
2. Clark, D. H, 1992, Practical Forensic Odontology, Butterworth-Heinemann Ltd,
Melksham, Great Britain
3. https://bimaariotejo.wordpress.com/category/referat/referat-forensik/
NOMENKLATUR GIGI
Posted: January 5, 2012 in materi pembelajaran
0

Menurut masa pertumbuhan gigi manusia terbagi menjadi dua, yaitu :

1. Gigi susu

Gigi susu berjumlah 20 buah dan mulai tumbuh pada umur 6 -9 bulan dan lengkap pada umur
2 – 2,5 tahun. Gigi susu terdiri dari 5 gigi pada setiap daerah rahang masing – masing adalah :
2 gigi seri (incicivus),1 gigi taring

2. Gigi permanen

Gigi permanen berjumlah 28 – 32 terdiri dari 2 gigi seri, 1 gigi taring, 2 gigi premolar, dan 3
gigi molar pada setiap daerah rahang. Gigi permanen menggantikan gigi susu. Antara umur 6
– 14 tahun 20 gigi susu diganti gigi permanen. Gigi molar 1 dan 2 mulai erupsi pada umur 6 –
12 tahun sedangkan gigi molar 3 mulai erupsi pada umur 17 – 21 tahun.

Nomenklatur adalah cara menulis gigi geligi ada beberapa cara nomenklatur yaitu:

1.Cara Zsigmondy :

1. Gigi permanent :

87654321 12345678

87654321 12345678

Contoh : P2 atas kanan = 5 |

I 1 bawah kiri = | 1

1. Gigi decidui :

V IV III II I I II III IV V

V IV III II I I II III IV V

Contoh : c bawah kanan = III |

m2 atas kiri = | V

1. Cara FDI

System 2 angka dari federation dental international (FDI)

i. Angka pertama menunjukan kuadran gigi


ii. Angka kedua menunjukan elemen gigi

1. Gigi Permanent

1-4 untuk gigi permanent

1 = rahang atas kanan 1 2

2 = rahang atas kiri 4 3

3 = rahang bawah kiri

4 = rahang bawah kanan

1817161514131211 2122232425262728

4847464544434241 3132333435363738

1. Gigi decidui

5 – 8 untuk gigi susu

5 = rahang atas kanan 5 6

6 = rahang atas kiri 8 7

7 = rahang bawah kiri

8 = rahang bawah kanan

55 54 53 52 51 61 62 63 64 65

85 84 83 82 81 71 72 73 74 75

Contoh :

43 = permanen, caninus bawah kanan

25 = permanen, premolar dua atas kiri

73 = decidui, caninus bawah kiri

65 = decidui, molar dua atas kiri

3. Cara Palmers

cara yang paling mudah dan universal untuk dental record

1. Gigi tetap
87654321 12345678

87654321 12345678

Gigi yang dilihat dari lateral

Contoh :

P2 atas kanan = 5 |

I1 bawah kiri = | 1

1. Gigi Decidui

EDCBA ABCDE

EDCBA ABCDE

Contoh :

c bawah kanan = C |

m2 atas kiri = | E

4. Cara Amerika

dengan menghitung dari atas kiri, ke kanan, kebawah kanan lalu bawah kiri.

1. Gigi tetap

16 15 . . . . . 9 8 . . . . . 2 1

17 18 . . . . .24 25 . . . . .31 32

Contoh :

P2 atas kanan = 13

I1 bawah kiri = 25

1. Gigi Decidui

X IX . . VI V IV . . I

XI XII . . XV XVI XVIII . . … XX

Contoh :

m2 bawah kanan = XI
c atas kiri = III

5. Cara Haderup

+ +

– –

Contoh :

P2 atas kanan = 5 +

I1 bawah kiri = – 1

c bawah kanan decidui = 03 +

m2 atas kiri decidui = +05

6.Cara applegate

Kebalikan dari cara amerika yaitu dengan menghitung dari atas kanan, kebawah kiri, lalu
kebawah kanan

1. Gigi Permanent

1 2 . . . . . 8 9 . . . . . 15 16

32 31 . . . . …25 24 . . . . . . 18 17

1. Gigi Decidui

I II . . . V VI . . . . X

XX . . .XVI XV . . . X I

7. System Scandinavian

Jarang digunakan dalam praktek dokter gigi

+ = untuk gigi atas

– = untuk gigi bawah

8 Cara G. B. Denton

1. Gigi tetap : 2 1

3 4

P2ataskanan=2.5
1. Gigi susu : b a

c d

m2 atas kiri = a.5

9. Cara Utrecht / Belanda

Dengan menggunakan tanda-tanda :

S = superior / atas

I = inferior / bawah

d = dexter / kanan

s = sinister / kiri

1. Gigi permanent (penulisan dengan huruf besar)

Contoh : P2 atas kanan = P2 Sd

I1 bawah kiri = I1 Is

1. Gigi Decidui (penulisan dengan huruf kecil)

Contoh : c bawah kanan = c Id

m2 atas kiri = m2 S