Está en la página 1de 13

Assalamualaikum wr wb

Terimakasih kesempatan yang diberikan kepada saya selakudokter di UPTD PKMPengandonan


Kab OKU untukmembagikan sedikit ilmu saya tentang penyakit penyakit yang dapat disebabkan
oleh air

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas kehadiran

Bpk H Kalsum Abadi SKM selaku Kasi alkes dinkes Kab OKU yang saya hormati

Ibu Dian Indah Sari SKM selaku Kepala UPTD PKM Pengandonan Kab OKU yang saya hormati

Bpk M.Akhram SKM selaku Kepala TU UPTD PKM Pengandonan Kab OKU yang saya hormati

Bpk selaku Kepala Desa Pengandonan yang saya hormati

Para Staf UPTD PKMPengandonan yang sayasayangi

Serta seluruh warga Desa Pengandonan yang saya dan kami juga sayangi

Baiklah sebelum kita mulai ada baiknya kita semua mengucapkan lafaz Basmallah

Dewasa ini telah kita ketahui bahwa penyebaran penyakit tidak hanya melalui udara tetapi bisa
juga disebabkan oleh air.tentunya air yang terkontaminasi oleh bakteri,parasit dan juga virus.

di negara berkembang. WHO dan UNICEF memperkirakan 80% penyakit dan kematian
disebabkan oleh Penyakit yang menular melalui air. WHO melaporkan 88% Penyakit
yang menular melalui air terjadi karena buruknya kebersihan, sanitasi, dan sumber air
yang tidak aman dikonsumsi.

Air adalah kebutuhan utama kehidupan manusia. 70% tubuh kita adalah air. Setiap
orang perlu minum air 6-8 gelas setiap harinya.

 Pastikan air terlihat jernih, tidak berbau, tidak keruh/butek, tidak berasa.
 Minumlah air bersih dan jernih. Gunakan air dalam kemasan atau air bersih yang
sudah disterilkan. Jangan minum air mentah.
 Pastikan air yang disimpan masih beradai dalam batas mikroba yang aman.
 Bila hendak digunakan untuk mandi / berendam, larutkan Dettol Antiseptic Cair
untuk membunuh kuman
 Pastikan tangan bersih. Cucilah tangan dengan sabun setiap kali habis dari
toilet, sebelum menyiapkan makanan dan memegang makanan.
 Pastikan makanan sudah dicuci, dadibersihkan dari kuman berbahaya
PENCEMARAN AIR OLEH MIKROBA PATOGEN
Air dapat merupakan medium pembawa mikroorganisme patogenik yang berbahaya
bagi kesehatan. Bahaya atau resiko kesehatan uang berhubungan dengan pencemaran
air secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua yakni bahaya langsung dan bahaya
tidak langsung. Bahaya langsung terhadap kesehatan manusia dapat terjadi akibat
mengonsumsi air yang tercemar atau air yang berkualitas buruk, baik langsung
diminum, melalui makanan dan dapat juga akibat dari pemakaian air yang tercemar
untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci peralatan makan dan lain sebagainya.
Bahaya bagi kesehatan masyarakat dapat pula diakibakan oleh berbagai dampak
kegiatan industri dan pertanian. Sedangkan bahaya tak langsung dapat terjadi misalnya
akibat dari mengonsumsi ikan, yang dimana ikan tersebut sudah tercemar atau
mengandung zat-zat polutan berbahaya.
Pencemaran air oleh virus, bakteri patogen, dan parasit lainnya atau oleh zat kimia
dapat terjadi pada sumber air bakunya, ataupun terjadi pada saat pengairan olahan dari
pabrik ke konsumen. Di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia, sungai,
danau, kolam, laut sering digunakan untuk beberapa keperluan sehari-hari, misalnya
mandi, mencuci pakaian, mencuci alat makan dan makanan, bahkan untuk tempat
pembuangan tinja, sehingga air tersebut menjadi tercemar berat oleh virus, bakteri
patogen dan mikroorganisme parasit lainnya.
Patogen yang sering ditemukan di dalam air terutama adalah bakteri-bakteri penyebab
infeksi saluran pencernaan seperti Vibrio cholerae penyebab penyakit kolera,Shigella
dysenteriae penyebab disenteri basiler, Salmonella typosa penyebab tifus dan S.
paratyphi penyebab paratifus, virus polio dan hepatitis, dan Entamoeba
histolyticapenyebab disentri amuba. Untuk mencegah penyebaran penyakit melalui air
perlu dilakukan control terhadap polusi air.
MIKROBA PATOGEN PENYEBAB PENCEMARAN AIR
Beberapa mikroba patogen biasanya ditemukan di dalam air limbah domestik
dan juga di dalam efluen dari unit pengolahan limbah. Mikroba yang menjadi agen
penyebab pencemaran air adalah bakteri, virus.
 Bakteri Patogen
Bakteri penyebab pencemaran air dan bersifat patogen antara lain sebagai berikut :
1. Salmonella
Kingdom : Bacteria
Philum : Proteobacteria
Kelas : Gammaproteobacteria
Ordo : Enterobacteria
Famili : Enterobactericeae
Genus : Salmonella
Spesies : Salmonella typhi
Salmonella adalah enterobactericeae yang terdistribusi secara luas di dalam lingkungan
dan meliputi lebih dari 2000 stereotipe. Salmonella merupakan bakteri patogen paling
utama yang terdapat di air limbah yang dapat menyebabkan demam typus dan
paratypus dan gastroenteristis (radang lambung / perut). Konsentrasi Salmonella di
dalam air limbah berkisar dari beberapa sel samapi mencapai 8000 organisme per 100
ml air limbah. Diperkirakan bahwa hampir 0.1% penduduk mengeluarkan Salmonella di
dalam tinja. Di Amerika Serikat Salmonellosis terutama disebabkan oleh kontaminasi
pada makanan, tetapi pada kontaminasi air minum juga masih menjadi perhatian yang
utama.

2. Shigella

Kerajaan: Bakteria
Filum: Proteobakteria
Kelas: Gamma Proteobakteria
Ordo: Enterobakteriales
Famili: Enterobakteriaceae
Genus: Shigella dysenteriae
Shigella secara sepintas adalah agen disentri bacillus, yaitu suatu penyakit diare
yang menyebabkan berak darah sebagai akibat dari peradangan dan pendarahan selaput
dinding usus. Ada empat spesies shigella yang bersifat patogen, yaitu Shigella flexneri,
Shigella dysentriae, Shigella boydii, dan Shigella sonnei. Keempat Shigella patogen
tersebut dapat berpindah secara kontak langsung dengan penderita yang telah
terinfeksi, dimana orang yang terinfeksi mengeluarkan Shigella didalam tinjanya.
Meskipun perpindahan atau penularan Shigella melalui kontak antar orang
adalah cara penularan yang utama, tetapi melalui air juga perlu diperhatikan.
Contohnya, seperti yang terjadi di Florida, penggunaan air tanah mempunyai andil
terhadap Shigellosis yang telah menginfeksi sekitar 1200 orang.
3. Vibrio Cholerae

Kerajaan: Bacteria
Filum: Proteobacteria
Kelas: Gamma Proteobacteria
Ordo: Vibrionales
Famili: Vibrionaceae
Genus: Vibrio
Spesies: V. cholerae

Vibrio cholerae adalah bakteri gram-negative yang berentuk batang melengkung.


Bakteri ini dapat berpindah melalui air. Vibrio Cholerae mengeluarkan suatu
enterotoksin yang menyebabkan diare, mulai dari ringan sampai hebat, muntah, dan
kehilangan cairan tubuh secara cepat, dan menyebabkan kematian dalam waktu
singkat. Vibrio cholerae sering muncul sebagai endemik di banyak wilayah Asia.
Organisme patogen tersebut dapat menyebabkan pencemaran air dengan konsentrasi
sebesar 10 – 10.000 organismpe per 100 ml air pada saat terjadi endemik. Ledakan
endemik Kolera pernah terjadi di Peru dan Chilli yang diakibatkan mengonsumsi
sayuran yang telah terkontaminasi oleh air yang telah tercemar oleh Vibrio Cholerae.
 Virus
Air dan limbah dapat terkontaminasi oleh 140 jenis virus. Virus ini dapat masuk
kedalam tubuh manusia melalui mulut dan berkembang biak dalam saluran pencernaan
dan kemudian dikeluarkan dalam jumlah yang besar melalui kotoran manusia yang
terinfeksi.Virus-virus yang masuk ke dalam tubuh manusia kadangkala menyebabkan
infeksi yang tidak terlihat, sehingga sulit untuk dideteksi. Virus ini penyebab penyakit
yang bervariasi, mulai dari penyakit kulit, demam, infeksi pernafasan, penyakit yang
berhubungan dengan pencernaan dan kelumpuhan. Virus-virus ini relatif sedikit di
dalam air buangan, namun demikian sampel sebanyak 100-1000 liter harus dipekatkan
untu mendeteksi keberadaan patogen ini.
Ditinjau dari ilmu epidemi, virus umumnya berpindah melalui kontak antar
peroranganm namun dapat juga melalui perantara air baik secara langsung (air minum,
kolam renang) maupun secara tidak langsung yaitu melalui makanan yang
terkontaminasi. Penularan waterbome virus dapat digambarkan dengan skema seperti
berikut.

Gambar : Penyebaran virus melalui air


Beberapa contoh Virus yang dapat mencemari air dan bersifat patogen antara lain :
1. Virus Hepatitis
Terdapat beberapa jenis penyakit Hepatitis, yang masing-masing disebabkan oleh jenis
virus yang berbeda. Berikut ini adalah jenis-jenis virus yang disebabkan oleh virus
penyebab hepatitis.
Infeksi hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV), yaitu enterovirus yang
berukuran 27 nm RNA, dengan masa inkubasi relatif pendek (2-6 minggu) dan
penularan melalui oral. Virus ini sulit dideteksi walaupun dapat dibiakkan dalam
jaringan. Cara lain untuk mendeteksi HAV adalah dengan penyelidikan genetik dan
metode imunologi.
Serum hepatitis disebabkan oleh Virus hepatitis B (HBV) yaitu virus dengan ukuran
42 nm DNA, mempunyai masa inkubasi relatif lama (4-12 minggu). Virus ini ditularkan
melalui kontak dengan darah yang terinfeksi atau melalui hubungan seks. Tingkat
kematian sekitar 1-4% lebih tinggi daripada infeksi hepatitis (<0.5%).
Hepatitis A menular melalui oral baik kontak antar perorangan maupun melalui
pencemaran air dan makanan yang terkintaminasi. Penyakit ini menyebar diseluruh
dunia dan antibodi HAV lebih banyak terdapat pada kelompok dnegan tingkat sosial
ekonomi yang rendah, kemudian meningkat sesuai umur orang yang terinfeksi.
Penularan melalui air tercatat di seluruh dunia kasus hepatitis ini terjadi akibat
mengonsumsi air yang telah terkontaminasi virus tersebut dan pengolahan airnya tidak
sempurna. Penularan melalui makanan lebih menjadi perhatian dibandingkan melalui
air. Mengonsumsi kerang-kerangan yang tumbuh dalam air yang terkontaminasi
menimbulkan kasus hepatitis menjadi cukup besar.
2. Rotavirus
Rotavirus termasuk dalam keluarga Reoviridae, ukuran 70 nm yang mengandung RNA
double-stranded dikelilingi double-shelled capsid. Rotavirus adalah penyebab utama
penyakit perut akut pada anak dibawah usia 2 tahun. Virus menyebar melalui fecal-oral,
dapat pula melalui pernafasan. Pernah terjadi beberapa kasus wabah penyakit yang
disebabkan oelh rotavirus yang mengotaminasi air buangan.
3. Agen Tipe Norwalk
Virus ini berukuran kecil, sekitar 27 nm, pertama kali ditemukan tahun 1968 di
Norwalk, Ohio. Virus ini merupakan penyebab utama penyakit yang penularannya
melalui air, dan dapat pula melalui makanan. Virus ini menyebabkan diare dan mual
dan dapat menyerang usus halus. Virus Norwalk memegang peranan penting dalam
penyebaran penyakit perut melalui air tercemar.
MIKROORGANISME INDIKATOR
Mikroorganisme indikator adalah sekelompok mikroorganisme yang digunakan sebagai
petunjuk kualitas air. Mikroorganisme indikator telah digunakan untuk mendeteksi
dan menghitung kontaminasi tinja di air, makanan, dan sampel lainnya. Untuk
digunakan sebagai mikroorganisme indikator, terdapat persyaratan yang harus
dipenuhi oleh mikroorganisme tersebut, kendati demikian, persyaratan ini tidak mutlak
untuk dipenuhi seluruhnya, tergantung kondisi yang ada. Syaratnya antara lain:
 Dapat digunakan untuk berbagai jenis air
 Mikroorganisme harus muncul bila patogen enterik dan sumber polusi muncul
 Tidak ada di air yang terpolusi
 Mudah diisolasi, murah, mudah diidentifikasi, dan mudah dihitung
 Lebih banyak jumlahnya dan lebih tahan dibanding patogen
 Bukan merupakan patogen
 Tidak berkembang biak di air
 Merespon perlakuan dan kondisi lingkungan
 Kepadatan indikator harus berkaitan langsung dengan derajat polusi
 Menjadi bagian dari mikroflora dalam saluran pencernaan hewan berdarah panas
Mikroorganisme indikator dapat dibedakan menjadi indikator bakteri, indikator virus,
dan indikator protozoa.
1. Indikator Bakteri
Terdapat lima bakteri yang umum digunakan sebagai indikator:
a. Koliform
Koliform tidak termasuk dalam taksonomi bakteri namun hanya istilah untuk
menyebutkan kelompok mikroorganisme yang berada di air. Ciri-ciri bakteri
koliform adalah gram negatif, berbentuk batang, merupakan anaerob fakultatif yang
dapat memfermentasikan laktosa dengan pembentukkan asam dan gas pada suhu 35 °C
selama 24-48 jam. Memiliki enzim tambahan yaitu sitokrom oksidase dan beta-
galaktosidase. Koliform dapat ditemukan di saluran pencemaran hewan, tanah, atau
secara alami pada sampel lingkungan.
Pada keadaan normal, koliform terdapat di air dalam jumlah standar dan dapat diukur,
namun bila terjadi pencemaran air, jumlah koliform akan menjadi banyak dan dapat
melebihi jumlah bakteri patogen lain. Oleh karena itu, koliform dapat digunakan
sebagai indikator pencemaran air. Jika terdapat bakteri koliform dalam air, belum tentu
bakteri patogen juga ada di air tersebut, namun jika bakteri koliform terdapat dalam
jumlah besar maka perlu diperiksa kembali keberadaan bakteri patogen lain.
b. Koliform tinja
Digunakan untuk mendeteksi pencemaran tinja. Merupakan bakteri termotoleran yang
dapat beradaptasi dengan cara stabilisasi protein pada suhu di saluran pencernaan.
Koliform tinja dapat melakukan fermentasi dengan menghasilkan asam dan gas pada
suhu 44.5 °C. Koliform tinja memiliki korelasi yang kuat dengan pencemaran tinja
hewan berdarah panas. Untuk mendeteksi E.coli pada koliform tinja secara lebih
spesifik dapat digunakan enzim MUG yang akan berpendar dengan sinar UV.
c. Streptococcus Tinja – Enterococcus
Merupakan mikrobiota pada manusia dan hewan. Contoh Streptococcus pada manusia
adalah S. faecalis dan S. faecium
d. Clostridium
Merupakan mikrobiota pada hewan berdarah panas dan limbah. Sifatnya lebih stabil
dibanding patogen dan memiliki spora sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi
polusi yang terjadi di waktu lampau.
e. Pseudomonas
Digunakan sebagai indikator kolam renang selain Staphylococcus aureus. Memiliki sifat
tahan terhadap desinfeksi kimiawi. Berpigmen pyocyanin dan dapat berpendar.
f. Bacteroides sp. dan Bifidobacteria sp.
Banyak ditemukan di feses 100 kali dibanding yang lain. Kedua bakteri ini sulit
dideteksi karena bersifat sangat anaerob dan dapat musnah bila terkena oksigen,
sehingga untuk mendeteksi perlu kondisi yang sangat anaerob pula. Beberapa
jenis Bacteroides spesifik pada manusia.
2. Indikator Virus
Terdapat empat kandidat mikroorganisme yang digunakan sebagai indikator virus.
 Kolifage, yaitu baktriofage yang menginfeksi E.coli dan bakteri koliform lainnya.
Bakteri yang diinfeksi tidak memiliki fili sehingga virus menempel langsung pada
dinding selnya. Sifatnya tidak spesifik pada feses dan deteksi bergantung pada
inangnya. Contohnya adalah myoviridae, podoviridae, dan siphoviridae.
 Kolifage jantan, yaitu colifage yang menginfeksi E.coli jantan (yang memilliki strain
F+) sehingga dapat menghasilkan fili dan penempelan terjadi melalui reseptor fili.
Bersifat spesifik pada feses. Contohnya adalah leviviridae
 Fage Bacteroides fragilis, bersifat spesifik feses manusia. Namun konsentrasinya
sangat rendah sehingga belum dapat ditunjukkan spesifitasnya
 Fage Salmonella, terdapat pada feses manusia dan hewan. Digunakan untuk
mengindikasi banyaknya bakteri Salmonella, namun konsentrasinya juga terlalu
rendah.
3. Indikator Protozoa
Sesungguhnya tidak ada indikator yang berlaku secara universal bagi parasit protozoa.
Indikator bergantung pada sumber air yang dugunakan pada suatu daerah tertentu.
Contoh yang telah diidentifikasi adalah indikasi menggunakan spora Clostridium dan
bakteri aerob termostabil.
Mikroorganisme yang menjadi indikator makanan merupakan kelompok bakteri yang
keberadaannya di makanan di atas batasan jumlah tertentu, yang dapat menjadi
indikator suatu kondisi yang terekspos yang dapat mengintroduksi organisme
berbahaya dan menyebabkan proliferasi spesies patogen ataupun toksigen. Misalnya E.
coli tipe I, koliform dan fekal streptococci digunakan sebagai indikator penanganan
pangan secara tidak higienis, termasuk keberadaan patogen tertentu. Mikroorganisme
indikator ini sering digunakan sebagai indaktor kualitas mikrobiologi pada pangan dan
air.
PENYAKIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENCEMARAN AIR AKIBAT
DARI MIKROORGANISME PARASIT
Beberapa penyakit yang berhubungan dengan air yang tercemar oleh
mikroorganisme parasit telah dikenal sejak lama. Pencemaran air oleh air limbah
ataupun kotoran (tinja) manusia yang mengandung mikroorganisme yang dapat
menimbulkan penyakit, seperti virus, bakteri patogen dan sebagainya dapat
menyebabkan wabah atau peledakan jumlah penderita penyakit di suatu wilayah dalam
waktu yang relatif singkat.
Beberapa ciri khusus penyebaran penyakit-penyakit tersebut antara lain yakni
proses penularan pada umumnya melalui mulut, terjadi di wilayah yang airnya
tercemar, penderita pada umumnya terkonsentrasi pada suatu wilayah secara
temporer,penderitanya tidak terbatas pada usia, ataupun jenis kelamin tertentu.
Meskipun sulit untuk mendeteksi bakteri patogen di dalam air, tetapi dapat
diperkirakan melalui pemeriksaan bakteri E.coli yang disebabkan oleh pencemaran
tinja, dan waktu inkubasinya biasanya lebih panjang daripada keracunan makanan.
Penyakit yang biasanya berhubungan dengan pencemaran air akibat mikroorganisme
parasit antara lain adalah :
1. Disentri
Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (=gangguan) dan enteron (=usus), yang
berarti radang usus yang menimbulkan gejala meluas, tinja lendir bercampur
darah. Disentri adalah peradangan usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan
buang air besar. Buang air besar ini berulang-ulang yang menyebabkan penderita
kehilangan banyak cairan dan darah. Penyebab umumnya adalah infeksi
parasit Entamoeba histolytica yang menyebabkan disentri amuba dan infeksi golongan
Shigella yang menjadi penyebab disentri basiler. Penderita perlu segera mendapatkan
perawatan medis, jika tidak dapat mengancam jiwa
Penyebab Penyakit:
1. Bakteri (Disentri basiler)
 Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering (± 60% kasus disentri
yang dirujuk serta hampir semua kasus disentri yang berat dan mengancam jiwa
disebabkan oleh Shigella. Penyebabnya adalah bakteri Shigella dysenteriae. Waktu
inkubasinya sekitar 1 – 7 hari, biasanya 4 sekitar kurang dari 4 hari.
 Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
 Salmonella
 Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
2. Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica, lebih sering pada
anak usia > 5 tahun
Gejala yang Ditimbulkan :
1. Disentri Basiler
 § Diare mendadak yang disertai darah dan lendir dalam tinja. Pada disentri
shigellosis, pada permulaan sakit, bisa terdapat diare encer tanpa darah dalam 6-
24 jam pertama, dan setelah 12-72 jam sesudah permulaan sakit, didapatkan darah
dan lendir dalam tinja.
 § Panas tinggi (39,5 – 40,0 C), kelihatan toksik.
 § Muntah-muntah.
 § Anoreksia.
 § Sakit kram di perut dan sakit di anus saat BAB.
 § Kadang-kadang disertai dengan gejala menyerupai ensefalitis dan sepsis (kejang,
sakit kepala, letargi, kaku kuduk, halusinasi).
2. Disentri amoeba
 § Diare disertai darah dan lendir dalam tinja.
 § Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit daripada disentri basiler (≤10x/hari)
 § Sakit perut hebat (kolik)
 § Gejala konstitusional biasanya tidak ada (panas hanya ditemukan pada 1/3
kasus).
Pengobatan
Pengobatan dengan antibiotika yang tepat akan mengurangi masa sakit dan
menurunkan risiko komplikasi dan kematian. Pilihan utama untuk Shigelosis (menurut
anjuran WHO) : Kotrimoksazol (trimetoprim 10mg/kbBB/hari dan sulfametoksazol
50mg/kgBB/hari) dibagi dalam 2 dosis, selama 5 hari. Dari hasil penelitian, tidak
didapatkan perbedaan manfaat pemberian kotrimoksazol dibandingkan plasebo10.
Alternatif yang dapat diberikan : Ampisilin 100mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis .
Cefixime 8mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis . Ceftriaxone 50mg/kgBB/hari, dosis
tunggal IV atau IM . Asam nalidiksat 55mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis. Perbaikan
seharusnya tampak dalam 2 hari, misalnya panas turun, sakit dan darah dalam tinja
berkurang, frekuensi BAB berkurang, dan lain-lain. Bila dalam 2 hari tidak terjadi
perbaikan, antibiotik harus dihentikan dan diganti dengan alternatif lain.
Terapi antiamebik diberikan dengan indikasi : Ditemukan trofozoit Entamoeba
hystolistica dalam pemeriksaan mikroskopis tinja. Tinja berdarah menetap setelah
terapi dengan 2 antibiotika berturut-turut (masing-masing diberikan untuk 2 hari),
yang biasanya efektif untuk disentri basiler. Terapi yang dipilih sebagai antiamebik
intestinal pada anak adalah Metronidazol 30-50mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis
selama 10 hari. Bila disentri memang disebabkan oleh E. hystolistica, keadaan akan
membaik dalam 2-3 hari terapi.
Preventif (Pencegahan)
Langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi penyakit disentri
adalah dengan memperhatikan pola hidup sehat dan bersih; menjaga kebersihan
makanan dan minuman dari kontaminasi kotoran dan serangga pembawa bakteri; dan
membiasakan untuk selalu mencuci tangan sebelum makan.
2. Demam Thipoid (Typhus)
Penyakit Demam Tifoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus
atau types dalam bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh
bakteriSalmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella typhi terutama
menyerang bagian saluran pencernaan. Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang
selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan
dewasa. Di Indonesia, diperkirakan antara 800 – 100.000 orang terkena penyakit tifus
atau demam tifoid sepanjang tahun. Demam ini terutama muncul di musim kemarau
dan konon anak perempuan lebih sering terserang, peningkatan kasus saat ini terjadi
pada usia dibawah 5 tahun. Sumber penularan yang utama adalah penderita itu sendiri
atau karier, dan penularan dapat terjadi karena infeksi yang disebabkan oleh bakteria
yang ada di dalam tinja penderita yang akan mengontaminasi air, air minum, makanan,
ataupun kontak langsung.
Penyebab Penyakit :
Penyebabnya adalah bakteri jenis bacillus thypus yaitu Salmonella thyposa, dengan
waktu inkubasi sekitar 1 sampai 3 minggu. Bakteri tersebut masuk melalui mulut dan
menjangkiti lympha (getah bening) pada bagian bawah usus halus, kemudian masuk ke
aliran darah dan akan terbawa ke organ-organ internal sehingga gejala muncul pada
seluruh tubuh, misalnya seluruh badan lemas, pusing, hilang nafsu makan, dan timbul
demam serta mengigil.
Gejala yang ditimbulkan :
Secara garis besar, gejala yang ditimbulkan antara lain :
1. Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun menjelang
malamnya demam tinggi.
2. Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak
akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau
pedas.
3. Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hati dan
limpa, akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga
terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa
masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.
4. Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan
gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa
kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).
5. Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas,
pusing. Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.
6. Pingsan, Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan
berbaring tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali
terjadi gangguan kesadaran.
Pengobatan
Pengobatan terhadap penderita penyakit demam Tifoid atau types bertujuan
menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya
komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. Pengobatan penyakit tifus
dilakukan dengan jalan mengisolasi penderita dan melakukan desinfeksi pakaian, faeces
dan urine untuk mencegah penularan. Pasien harus berbaring di tempat tidur selama
tiga hari hingga panas turun, kemudian baru boleh duduk, berdiri dan berjalan.
Selain obat-obatan yang diberikan untuk mengurangi gejala yang timbul seperti demam
dan rasa pusing (Paracetamol), Untuk anak dengan demam tifoid maka pilihan
antibiotika yang utama adalah kloramfenikol selama 10 hari dan diharapkan terjadi
pemberantasan/eradikasi kuman serta waktu perawatan dipersingkat. Namun beberapa
dokter ada yang memilih obat antibiotika lain seperti ampicillin, trimethoprim-
sulfamethoxazole, kotrimoksazol, sefalosporin, dan ciprofloxacin sesuai kondisi pasien.
Demam berlebihan menyebabkan penderita harus dirawat dan diberikan cairan Infus.
Preventif (Pencegahan)
Pencegahan penyakit demam Tifoid bisa dilakukan dengan cara perbaikan kebersihan
dan sanitasi lingkungan serta penyuluhan kesehatan. Imunisasi dengan menggunakan
vaksin oral dan vaksin suntikan (antigen Vi Polysaccharida capular) telah banyak
digunakan. Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan
dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-
paratifoid). Untuk anak usia 2 tahun yang masih rentan, bisa juga divaksinasi.
3. Kolera
Kolera merupakan penyakit yang sudah langka di negara-negara perindustrian dalam
seratus tahun belakangan ini, tetapi penyakit ini masih sering terdapat di beberapa
bagian dunia termasuk sub-benua India dan bagian benua Afrika di sebelah selatan
gurun Sahara (sub-Sahara). Kolera adalah penyakit diare akut, yang disebabkan oleh
infeksi usus akibat terkena bakteria Vibrio cholerae. Infeksi biasanya ringan atau tanpa
gejala, tapi terkadang parah. Kurang lebih 1 dari setiap 20 penderita mengalami sakit
yang berat dengan gejala diare yang sangat encer, muntah-muntah, dan kram di kaki.
Bagi mereka ini, kehilangan cairan tubuh secara cepat ini dapat mengakibatkan
dehidrasi dan shock atau reaksi fisiologik hebat terhadap trauma tubuh. Kalau tidak
diatasi, kematian dapat terjadi dalam beberapa jam. Sumber utama penularan penyakit
ini adalah air minum atau makanan yang tercemar (terkontaminasi) oleh kotoran atau
muntahan penderita yang mengandung bakteri kholera ataupun tercemar oleh inang
atau pembawa bakteri kholera.

Penyebab Penyakit
a. Cholera Asiatica disebabkan oelh baksil Vibrio comma
b. Cholera Eltor disebabkan oleh baksil Vibrio eltor
Penyebabnya adalah bakteri patogen jenis Vibrio cholerae, dan waktu inkubasinya antar
beberapa jam sampai dengan 5 hari. Bakteri ini masuk melalui mulut dan akan
berkembang di dalam usus halus (small intestine), dan akan menghasilkan eksotoksin
yang menyebabkan rasa mual.
Gejala yang ditimbulkan
Pada penderita penyakit kolera gejala umum yang ditampakkan, antara lain ialah :
1. Diare yang encer dan berlipah tnpa didahului rasa mulas atau tenesmus.
2. Feses atau kotoran (tinja) yang semula berwarna dan berbau berubah menjadi cairan
putih keruh (seperti air cucian beras) tanpa bau busuk ataupun amis, tetapi seperti
manis yang menusuk
3. Feses yang menyerupai air cucian beras tersebut bila diendapkan akan mengeluarkan
gumpalan putih.
4. Diare terjadi berkali-kali dan dalam jumlah yang cukup banyak.
5. Terjadinya muntah setelah didahului dengan diare yang terjadi, penderita tidaklah
merasakan mual sebelumnya.
6. Kejang otot perut bisa juga dirasakan dengan disertai nyeri yang hebat.
7. Banyaknya cairn yang keluar akan menyebabkan terjadinya dehidrasi dengan tanda-
tanda seperti : detak jantung cepat, mulut kering, lemah fisik, mata cekung, hipotensi,
dan lain-lain dan apabila tidak segera menadapatkan penanganan pengganti cairan
tubuh yang hilang maka dapat menyebabkan kematian.
Pengobatan
Penderita yang mengalami penyakit kolera harus segera mandapatkan penaganan
segera, yaitu dengan memberikan pengganti cairan tubuh yang hilang sebagai langkah
awal. Pemberian cairan dengan cara Infus/Drip adalah yang paling tepat bagi penderita
yang banyak kehilangan cairan baik melalui diare atau muntah. Selanjutnya adalah
pengobatan terhadap infeksi yang terjadi, yaitu dengan pemberian
antibiotik/antimikrobial seperti Tetrasiklin, Doxycycline atau golongan Vibramicyn.
Pengobatan antibiotik ini dalam waktu 48 jam dapat menghentikan diare yang terjadi.
Preventif (Pencegahan)
Cara pencegahan dan memutuskan tali penularan penyakit kolera adalah dengan
prinsip sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces)
pada tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang
sudah dimasak terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai
sabun/antiseptik, cuci sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan
mentah (lalapan), hindari memakan ikan dan kerang yang dimasak setengah matang.
Bila dalam anggota keluarga ada yang terkena kolera, sebaiknya diisolasi dan
secepatnya mendapatkan pengobatan. Benda yang tercemar muntahan atau tinja
penderita harus di sterilisasi, searangga lalat (vektor) penular lainnya segera diberantas.
Pemberian vaksinasi kolera dapat melindungi orang yang kontak langsung dengan
penderita
4. Poliomyelitis Anterior Akut
Poliomyelitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh
virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV),
masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki
aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan
kadang kelumpuhan (paralisis). Polio adalah penyakit menular yang dikategorikan
sebagai penyakit peradaban. Polio menular melalui kontak antarmanusia. Virus masuk
ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang
terkontaminasi feses. Poliovirus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas
tigastrain berbeda dan amat menular. Virus akan menyerang sistem saraf dan
kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa mengenal usia,
lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. Masa
inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari. Polio dapat menyebar
luas diam-diam karena sebagian besar penderita yang terinfeksi poliovirus tidak
memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka sendiri sedang terjangkit. Setelah
seseorang terkena infeksi, virus akan keluar melalui feses selama beberapa minggu dan
saat itulah dapat terjadi penularan virus. Sumber infeksi yaitu virus polio yang terdapat
pada tinja dan dahak penderita, ataupun virus yang terbawa oleh inangnya.
Penularannya melalui air minum yang tercemar virus tersebut dan juga melalui
makanan yang terkontaminasi.
Penyebab Penyakit
Penyebabnya adalah virus polio yang bernamapoliovirus (PV), waktu inkubasinya
antara 3 sampai 21 hari, biasanya antara 7 sampa 12 hari. Virus polio masuk melalui
mulut dan menginfeksi seluruh tubuh, kemudian menjalar melalui simpul saraf lokal,
dan selanjutnya menyerang sistem saraf pusat, yang dapat menyebabkan kelumpuhan.
Gejala yang Ditimbulkan
Gambaran klinis penyakit polio pada manusia sangat bervariasi, dari gejala yang sangat
ringan sampai terjadi paralisis (kelumpuhan). Gejala klinis mulai dengan demam,
merasa lemah, nyeri kepala dan muntah. Dalam 24 jam terlihat kekakuan pada leher
dan punggung serta terjadi kejang mulut (bibir atas dan bawah tidak dapat digerakkan).
Penderita terlihat mengantuk, iritabel, dan cemas. Adakalanya disertai kekakuan otot
dan nyeri otot ringan. Bila terjadi paralisis (lumpuh) biasanya dimulai dalam beberapa
detik sampai lima hari sesudah nyeri kepala. Kelumpuhan anggota gerak yang layuh dan
biasanya pada salah satu tungkai.
Pengobatan
Pengobatan terhadap penyakit poliomielitis sangat sukar dan tidak ada spesifik, tetapi
tergantung penyulit yang terjadi. Selain fisioterapi dan ortopedi perlu diperhatikan
fungsi organ lain.
Preventif (Pencegahan)
Penyakit polio dapat dicegah dengan imunisasi. Vaksin virus mati diberikan secara
suntikan. Sedangkan yang hidup melalui mulut dengan tetesan. Virus hidup yang
dilemahkan lebih efektif dibandingkan dengan virus yang mati. Selain pemberian
imunisasi maka peningkatan sanitasi lingkungan dan higienis perorangan sangat
diperlukan.
5. Diare
Diare (atau dalam bahasa kasar disebut menceret) (BM = diarea; Inggris = diarrhea)
adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami rangsanganbuang air besar yang
terus-menerus dan tinja atau feses yang masih memiliki kandungan air berlebihan.
Di Dunia ke-3, diare adalah penyebab kematian paling umum kematian balita, dan juga
membunuh lebih dari 1,5 juta orang per tahun. Diare merupakan salah satu penyakit
yang paling banyak terjadi di negara berkembang termasuk di Indonesia. Yang paling
banyak terserang penyakit ini umumnya adalah anak-anak dan balita, dan bila
keadaannya parah seringkali mengakibatkan dehidrasi, yang apabila tidak segera
ditangani dapat berujung pada kematian. Bakteri patogen yang menyebabkan penyakit
ini berasal dari tinja dan masuk ke tubuh manusia melalui mulut, makanan, minuman
atau melalui kontak perorangan. Seringkali organisme penyebab infeksi entrik tersebut
diakibatkan oleh kondisi lingkungan rumah yang kotor dan tidak sehat. Hal terebut juga
dikarenakan oleh pencucian tangan yang kurang bersih pada waktu buang kotoran,
ataupun melalui lalat. Banyak juga kasus yang terjadi akibat mengonsumsi air yang
telah tercemar oleh bakteri patogen penyebab diare tersebut.
Penyebab Penyakit
Diare kebanyakan disebabkan oleh beberapa infeksi virus tetapi juga seringkali akibat
dari racun bakteria. Dalam kondisi hidup yang bersih dan dengan makanan mencukupi
dan air tersedia, pasien yang sehat biasanya sembuh dari infeksi virus umum dalam
beberapa hari dan paling lama satu minggu. Namun untuk individu yang sakit atau
kurang gizi, diare dapat menyebabkan dehidrasi yang parah dan dapat mengancam jiwa
bila tanpa perawatan. Virus penyebab diare adalah Viral gastroenteritis atau yang
dikenal sebagai stomatch virus (virus perut). Selain oleh virus, diare juga disebabkan
oleh bakteri. Bakteri-bakteri tersebut antara lain adalah E.coli, Salmonella enteritidis,
Compylobacter bacteria, Shigella, Giardo, Cryptosporidium.
Gejala yang ditimbulkan
Gejala umum diare antara lain :
a. Buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam
b. Feses berbentuk encer atau cair
c. Badan lemah dan lesu dan terkadang disertai muntah-muntah
d. Rasa haus dan nafsu makan menurun
Pengobatan
Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan yang
bersifat NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Formula lengkap disebut oralit, sedangkan
larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak
mengandung NaCl dan sukrosa.
Cara membuat larutan gula garam
 Gula satu sendok teh penuh
 Garam ¼ sendok teh
 Air masak satu gelas
 Campur diaduk sampai larut
Cara membuat oralit
 Sediakan satu gelas (200 ml) air yang telah dimasak
 Masukkan satu bungkus oralit kedalam gelas
 Aduk sampai larut
Takaran pemberian oralit untuk penderita Diare
 Di bawah 1 tahun : 3 jam pertama 1.5 gelas selanjutnya 0.5 gelas setiap kali mencret
 Di bawah 5 tahun : 3 jam pertama 3 gelas, selanjutnya 1 gelas setiap kali mencret
 Anak di atas 5 tahun : 3 jam pertama 6 gelas, selanjutnya 1,5 gelas setiap kali
mencret
 Anak diatas 12 tahun dan dewasa : 3 jam pertama 12 gelas, selanjutnya 2 gelas
setiap kali mencret

Preventif (Pencegahan)
Pencegahan diare merupakan salah satu upaya yang baik dilakukan untuk menghindari
gejala diare secara efektif. Cuci tangan terutama saat ingin makan atau aktivitas lain
merupakan upaya pencegahan diare agar virus tidak menyebar. Untuk pencegahan
diare yang disebabkan oleh makanan yang tercemar dapat dilakukan beberapa cara,
antara lain :
 Sajikan makanan dimasak atau dipanaskan. Jika belum diolah dinginkan makanan
dalam kulkas. Membiarkan makanan pada suhu kamar dapat mendorong
pertumbuhan bakteri sehingga dapat dilakukan pencegahan diare.
 Cuci permukaan alat atau perkakas untuk menghindari penyebaran kuman dari
satu tempat ke tempat yang lain.
 Selalu memberikan ASI eksklusif kepada bayi yang berusia di bawah enam bulan.
 Buang air besar pada tempatnya (WC, toilet) dan menyediakan tempat sampah
yang memadai.
 Memberantas lalat agar tidak menghinggapi makanan yang ada di rumah.
 Mengupayakan lingkungan rumah selalu menjadi lingkungan hidup yang sehat