Está en la página 1de 32

AMPHIBI

A. Perkembangan Amphibi
Amphibi berasal dari bahasa yunani yaitu amphi yang berarti rangkap
dan bios yang berarti hidup. Amphibi merupakan kelompok chordata yang
pertama kali keluar dari kehidupan dalam air. Amphibi merupakan kelas yang
paling primitif dari hewan- hewan vertebrata darat. Amphibi adalah satwa
bertulang belakang yang memiliki jumlah jenis terkecil, yaitu sekitar 4,000
jenis. Walaupun sedikit, Amphibi merupakan satwa bertulang belakang yang
pertama berevolusi untuk kehidupan di darat dan merupakan nenek moyang
reptile. Fosil Amphibi tertua disimpulkan berasar dari akhir masa Devon,
sekitar 365 juta tahun silam. Kemungkinan sebagian besar hewan- hewan
Amphibi pertama merupakan hewan akuantik, yang kadang kadang
mengembara ke darat untuk menghindari ikan karnivora atau mengeksplotasi
makanan yang berlimpah.
Banyak Amphibi masa Karboniferus sangat menyerupai reptilia.
Beberapa diantaranya mencapai panjang 4 m. Karena Amphibi merupakan satu
satunya vetebrata didarat pada akkhir masa Devo dan awal masa Karboniferus,
era Amphibi merupakan nama yang tepat untuk masa Karboniferus. Jumlah
Amphibi mulai menyusut menjelang akhir masa Karbiniferus.setelah zaman
mesozoikum dimulai dengan dengan masa Trias, sekitar 245 juta tahun yang
silam, sebagian besar hewan yang selamat dari garis keturunan Amphibiyang
menyerupais spesies modern.
Amphibi meliputi katak, toad, caecilian, newt dan salamander. Amphibi
adalah keturunan vertebrata pertama untuk membuat perpindahan dari
kehidupan di air menuju kehidupan di tanah. Kolonisasi awal habitat daratan,
garis zaman Amphibin tidak pernah secara penuh mengikatkan hubungan
mereka dengan habitat air. Lingkungan air dan lingkungan darat berbeda
dengan banyak aspek sehingga mengakibatkan perubahan dalam tubuh hewan
vertebrata sewaktu muncul di darat. Alat pernafasan insang beubah menjadi
alat pernapasan paru- paru sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan
dalam sistem peredaran darah. Beberapa pola pada Amphibi ini menunjukkan
pola baru yang disesuaikan dengan kehidupa darat Misalnya, kaki, paru- paru,
nares ( nostril) yang mempunyai hubungan dengan covum oris, dan alat
penghidupan yag berfungsi baik dalam air maupun di darat atau pun diudara.
Ciri- ciri Khusus Amphibi yaitu :
1. Kulit selalu basah dan berkelajar ( yang masih senang di air atau pun dekat
air), tidak bersisik luar.
2. Memiliki dua pasang kaki untuk berjalan atau berenang, mempuyai jari
paling banyak 4-5, tidak bersirip

1
3. Terdapat dua buah nares ( lubang hidung sebelah luar) yang
menghubungkan dengan cavum oris. Selain itu terdapat klep untuk menolak
air ( waktu dalam air)
4. Mata berkelopak yang dapat digerakkan.
5. Lembar gendang pendengar teretak disebelah luar
6. Mulut bergigi dan berlidah yang dapat dijulurkan
7. Skeleton sebagian besar berupa tulang keras, tempurung kepalanya memiliki
condyl,
8. Costae tidak menempel pada sternum.
9. Cor terbagi atas 3 ruangan, yaitu dua ruagan auricula dan satu ruang
ventriculum, mempunyaisatu atau tiga pasang archus aorticus, erythrocyt
berbetuk oval dan bernukleus.
10. Pernapasannya dengan insang, paru- paru, kulit atau garis mulut ( rima
oris).
11. Otak memiliki 10 pasang nervi carnalis.
12. Suhu tubuh tergantung pada lingkungannya ( poikilothermis).
13. Fertilisasi terjadi di luar atau di dalam tubuh.

Amphibi merupakan tetrapoda atau vertebrata darat yang paling rendah.


Amphibi tidak diragukan lagi berasal dari satu nenek moyang dengan ikan,
mungkin hal itu terjadi pada zaman Devon. Transisi dari Amphibi dari air ke
darat tampak pada :
1. Modifikasi tubuh untuk berjalan di darat, disamping masih memiliki
kemampuan berenang dalam air.
2. Tumbuhnya kaki sebagai pengganti beberapa pasang sirip
3. Merubah kulit hingga memungkinkan menghadap suasana udara
4. Penggantian insang oleh paru-paru
5. Merubah sistem sirkulasi untuk keperluan respirasi dengan paru-paru dan
kulit
6. Alat sensorisnya memiliki kemampuan berfungsi baik di udara maupun air.

Kecebong, larva Amphibi biasanya merupakan herbivore akuatik dengan


insang, system gurat sisi yang meyerupai vetebrata akuatik, dan ekor yang
panjang dan bersisirip. Kecebong pada awalnya tidak memiliki kaki, ia
berenang dengan mengibas ngibaskan ekornya. Selama metamormosis yang
menuju “kehidupan kedua”, kecebong mengembangkan kaki, paru paru,
sepasang gendang telingan, eksternal, dan sisitem pencernaan yang teradaptasi
untuk cara makan karnivora. Dalam waktu yang sama, insnang menghilang,
system gurat sisi juga menghilang pada sebagian besar spesies. Anak katak
merayap menuju kepesisir dan menjadi pemburu terrestrial. Akan tetapi, lepas

2
dari namanya, banyak Amphibi tidak menjalani kehidupan ganda – akuatik dan
terrestrial. Ada beberapa katak, salahmander, dan sesilia lebih mirip dengan
bentuk dewasanya, dan biasanya larva maupun hewan dewasa merupakan
karnifora.(Cambell, 2012).
Sebagaian besar Amphibi ditemukan dihabitat yang lembab seperti rawa
rawa dan hutan hujan. Bahkan Amphibi yang telah beradaptasi terhadap habitat
yang lebih kering masih menghabiskan banyak waktunya didalam liang atau
dibawah dedaunan lembab yang tingkat kelembabannya tinggi. Amphibi
umumnya sangat begantung pada kulitnya yang lembab untuk pertukaran gas
dengan lingkungan. Beberapa spesies terrestrial tidak memiliki paru paru dan
hanya bernafas melalui kulit dan rongga mulutnya. (Cambell, 2012)
Didalam air amphibi mempunyai kemampuan megapung, hal ini
bertujuan untuk proses pertukaran gas dengan air. Sedangkan didarat, amphibi
yang mempunyai kemampuan sendiri untuk melawan gravitasi, pertukaran gas
dengan udara, dan cenderung kehilangan air keudara. ( Miler dan Harley,
2001).
Beberapa ciri khusus pada amphibi adalah pada kulit dan kelenjar
kulitnya, warna tubuhnya, pergantian kulitnya, serta alat geraknya. Berikut
uraian singkatnya
1. Kulit dan kelenjer kulit
Kulit amphibi sangat penting dalam respirasi dan proteksi. Kulit terjaga
kelembapannya dengan adanya kelenjer mukosa, bahkan pada spesies yang
hidup diair, mucus diberikan pelumas bagi tubuh. Sebagian besar amphibi
memiliki kelenjar granula dan kelenjar mucus. (Sukia, 2005)
Umumnya amphibi dewasa hidup dilingkungan yang basah atau lembab,
sejak mereka sudah mulai rentang untuk kehilangan air dikulitnya. Katak
memiliki kulit yang tidak rata yang mampu mengurangi kesempatan untuk
kehilangan air dan kemudia menyebabkan mereka dapat menghabiskan
banyak waktu didarat.(Lytle & Meyer; 25)
Racun yang tedapat pada amphibi sangat bervariasi. Kodok yang hidup
dilaut (Buffo marinus) racunnya sangat mnjur untuk membunuh anjing.
Kelenjer racun pada katak dan kodok dapat menimbulkan iritasi pada kulit jika
seseorang menyentuh binatang ini. Studi tentang katak neotropik dari keluarga
Dendrobatide yang beracun, menunjukan bahwa racun itu merupakan steroidal
alkaloid yang berefek pada saraf dan aktifikas otot korban. Tipe racun lain pada
amphibi adalah neorotoksin, halusinogen, vasokontriktol, emolitik dan local
irritant. Ketika beberapa spesies amphibi ditempatkan bersama sama ditempat
sempit, ada spesies tertentu cepat mati karena racun yang dikeluarkan spesies
lain. (Sukia, 2005)

3
Kelenjer mucus dan granular atau kelenjer racun dikelompokkan sebagai
kelenjer alveolar. Kelenjer alveolar adalah kelenjer yang tidak mempunyai
saluran pengeluaran, tetapi produknya dikeluarkan lewat dinding selnya sendiri
secara alami. Akan tetapi ada juga beberpaa amphibi yang mempunyai kelenjar
alveolar tubuler, kelenjar demikian ini sering ditemukan diibu jari pada katak
dan kodok dan terkadang juga ditemukan dibagian dadanya. Kelenjar ini
menjadi fugsional selama musim reproduksi dan mengeluarkan cairan yang
membantu pejantan melekatkan diri kebetina selama musim kawin, bahkan
pada salamander terdapat tubular pada dagu pejantannya yang mengeluarkan
cairan khusus untuk menarik bertina selama musim reproduksi . (Sukia, 2005)

2. Warna tubuh
Amphibi sangat beranekaragam warnanya hijau terang, kuning, orange,
dan emas, sedangkan warna merah dan biru jarang ditemukan titik. Warna
tubuh amphibi ini bisa disebabkan oleh karena pigmen atau secara strukruta,
atau dihasilkan oleh keduanya (paduaan pigmen dan structural). Pigmen pada
amphibi, sebagaimana pada ikan, terletak pada kromatofor dikulit. Sel sel
pigmen ini biasanya dinamakan menurut jenis pigmen yang dikandung.
Melanofora mengandung pigmen coklat dam hitam dan lipofora mengandung
pigmen merah, kuning dan orange. Amphibi juga memiliki sel sel pigmen yang
disebut guanofora, semacam iridosit pada ikan, mengandung Kristal guanine
yang dapat memproduksi iridesen atau efek putih terang. Umumnya lipofora
terletak didekat permukaan kulit, lebih kearah dalam terdapat guanofora yang
paling dalam terdapat melanofora. (Sukia, 2005)
Kromatofora bentuknya agak ameboit dengan prosisus protoplasmik
meluas keluar dai tubuh selnya kesel lain. Pigmen pada sitoplasma dalam
kromatofora mampu berpindah sehingga pigmen dapat terkonsentrasi
mengumpul untuk menebalkan warna atau terpencar sehingga menipiskan
warna. Sel pigmen khususnya lipofora mampu melakukan gerakan ameboid
dan dapat berpindah mendekat atau menjauh dari permukaan kulit. Sering kali
perubahan dari hijau dan kuning merupakan hasil kontraksi dari melanofora
dan perpindahan lipofora ke posisi antara atau dibawah guanofora. (Sukia,
2005).

3. Pergantian kulit
Seluruh kulit amphibi telepas secara periodic. Proses ini berlangsung
dibawah kontrol hormon. Lapisan luar kulit tidak hanya satu bagian, tidak
sebagaimana pada reptile, tetapi dalam fragmen meskipun tungkai biasanya

4
utuh dan mengelupas bersamaan. Pengelupasan kulit pada katak pohon hijau,
mungkin terjadi setiap bulan atau lebih. (Sukia. 2005)

4. Alat gerak (Apendages)


Sebagiam besar amphibi berekor memiliki empat tungkai relative lemah
yang tidak cocok untuk berjalan cepat ditamah. Umumnya, kaki depan
memiliki empat jari dan kaki belakang lima jari, tetapi pada beberapa spesies
terjadi pengurangan. (Sukia. 2005).
Secara umum katak dan kodok, jumlah jari tungkai depan biasanya empat
buah, tungkai belakang memanjang dan biasanya untuk melompat. Kebanyak
katak dan kodok memiliki lima jari pada tungkai belakang dan jari tambah
diketahui sebagai perhaluk pada sisi sentral kaki. Beberapa jenis katak arboreal
mempunyai jari lebih lebar dan adfitse. (Sukia. 2005).
Tetrapoda ( berkaki empat, bebebrapa amphibi) bergantung pada tubuh
anggota gerak ( apendages) ketimbang dinding tubuh untuk lokomosi. Dengan
demikian dinding tubuh tereduksi dan otot- otot apendikuler mendominasi.
Salamander menggunakan bentuk lokomosi yang relatif tak terspesialisasi yang
mengingatkan pada lokomosi yang relatif tak terspesialisasi yang
mengingatkan pada lokomosi yang relatif tak terspesialisasi yang
mengingatkan pada lokomosi bentuk ombak yang dimiliki ikan disekutar
tubuhnya. Salamander terestrial juga bergerak dengan pola tungkai dan
pergerakan tubuh yang mana pergerakan alternatifnya dari apendages hasil dari
kontraksi otot yang melemparkan tubuh pada tikungan untuk memajukan
langkah dari tungkai. Sesilia memiliki pergerakan seperti akordeon yang
mendekatkan bagian- bagian tubuh untuk melakukan gerakan tarik atau dorong
ke depan dalam waktu yang sama ( Miller & Harley, 2001).
Tungkai belakang yang panjang dan panggul Anura termodofikasi untuk
melompat. Tulang dorsal pada pelvis ( ilium) memanjang ke depan dan dengan
hati- hati melekat pada verbal column, dan urostyle memanjang ke depan dan
dengan hati- hati melekat pada vertebral column, dan urostyle memanjang ke
belakang dan melekat pada panggul. Modifikasi tulang ini mengeraskan
setengah dari bagian posterior tubuh Anura. Tungkai belakang yang panjang
dan bentuk otot yang bertenaga merupakan sistem pengungkit yang efisien
untuk melompat. Jaringan penghubung yang elastis dan otot- otot melekat pada
pectoral ke tengkorak dan vertebral column. ( Miller & Harley, 2001).

B. Sistem Organ Amphibi


1. System rangka dan otot amphibi

5
Amphibi mempunyai tengkorak yang tebal dan luas secara proposional,
kebalikan dari ikan. Tengkorak amphibi modern mempunyai tulang tulang
premaksila, nasal, frontal, parietal, dan skuamosa (Sukiya, 2005)
Tengkorak katak terdiri dari tiga baian utama yaitu 1) cranium 2)
pasangan kapsul sensori dari telinga, hidung, dan rongga mata yang lebar 3)
skeleton visceral (terdiri dari bagian rahang, apparatus hyoid, dan kratinago
laryngeal .(Lytle & Meyer; 2005)
Kelompok vertebra memiliki sepuluh tulang belakang (vertebra). Tulang
belakang pertama adalah atlas, berhubungan dengan dasar dari tulang
tengkorak. Bagiana ini tidak memiliki proses atau pergerakan melintang
(tranversal) dan hanya pergerakan servikal vertebra (leher) di katak. Ekor
menuju abdomen vertebra adalah sacrum yang luas dengan dua proses atau
pergerakan trannversal yang kuat yang bergabung dengan ileum (Lytle &
Meyer. 2005)
System otot aksial pada amphibi masih metameric seperti pada ikan
tetapi tampak tanda tanda perbedaan, sekat horizontanl membagi otot dorsal
dan ventral. Bagian dari system otot epaksial pembagian otot otot setiap
segmen tubuh amphibi. Sedangkan otot hipaksial terlepas atau terbagi dalam
lapisan lapisan kemudian membentuk otot otot oblique internal dan otot
transversus. (Sukia, 2005)
Asal usul tulang vetebrata apendages tidak diketahui secara pasti. Namun
kesamaan dalam struktu tulang tulang apandages amphibi dan tulang tulang
ikan purba sarcopterygian kemungkinan homolog. Sendi pada bahu,pinggul,
siku, lutut, pergelangan tangan, dan pegelangan kaki, memungkinkan dapat
bergerak bebas dan berkontak langsung dengan substrat. Bagian panggul
amphibi terdiri dari tiga tulang (ilium, ischium, dan pubis) yang dengan kuat
melekatkan panggul pada vertebra columnar. Tulang tulang ini ada pada semua
tetrapoda, tetapi tidak pada ikan ( Miller & Harley, 2001).

System sirkulasi

Gambar 3. Rangka Amphibi Gambar 4. Otot Amphibi

2. Sistem sirkulasi amphi

6
Pada katak , bentuk jatungnya adalah beruang tiga , dan system siskulasi
yang munujukan dua jalur yaitu system divisi untuk menyuplai organ tubuh
dan pulmonal divivsi untuk membawa darah menuju paru paru (Lytle &
Meyer: 2005).
System sirkulasi pada ampibi menunjukan adaptasi yang luar biasa untuk
kehidupannya yang terbia antara habitat akuatik dan terstrial. Pemisahan paru
paru dan sistematik sirkuit dianggap kurang efisien pada amphibi ketimbang
ikan. Atrium terbagi secara sebagian pada Urideles dan terbagi secara
sempurna pada Anura. Ventrikelnya tidak memiliki septa. Katup spiral pada
conus arteriosus atau pada ventral aorta membantu mengarahkan darah pada
paru paru dan sistematik sirkuit. Sebagaimana yang didiskusikan nanti,
pertukaran gas pada kulit pada amphibi, sama baiknya dengan petukaran gas di
paru paru. Oleh karena itu, darah memasuki jantung bagian kanan hamper
sama terisinya dengan baik oleh oksigen dengan darah yang memasuki jantung
dari paru paru. Ketika Amphibi benar benar tenggelam, semua pertukaran gas
terjadi di seluruh kulit dan permukaan yang lembaba lain dari tubuhnya oleh
sebab itu, darah dating dari antrium dari paru paru (Miller & Harley: 2001).
Kebanyakan pada Amphibi pasangan arkus aorta pertama, keduan dan
kelima hialang. Arkus aorta keempat merupakan system yang menuju ke
posterior berupa dorsal aorta. Bagian peroksimal dari pasangan keenam arkus
aorta kulit diamana aerari terjadi system venosus pada amhibi sangan mirip
paru paru ikan kecuali pada vena abdominal masuk system portal hepatic ke
sinus venosus (Sukiya, 2005).

Gambar 5. system sirkulasi amphibi

3. Sistem pencernaan amphibi


Kebanyakan Amphibi dewasa adalah karnivora yang memakan berbagai
varietas dari hewan invetebrata. Misalnya , bukfrog akan mamangsa mamalia
kecil, burung, dan anggota Anuta lain. Faktor utama yang menentukan apa
yang akan Amphibi makan adalah berdasarkan ukuran dan ketersedian mangsa.
Hampir semua larva adalah herbivora dan memakan alga serta tanaman lain.
Kebanyakan Amphibi mencari mangsa meteka dengan mengandalkan

7
pernglihatan dan dengan gampang menunggu mangsa hingga lewat. Organ
penciuman pada salamander akuatik dan sesilia memainkan peran penting
dalam medeteksi mangsa. Banyak salamander secara realatif tidak
terspesialisasi dalam metode makan memakan mereka, hanya menggunakan
rahang mereka untuk menangkap mangsa (Miller & Harley: 2001).
Anura dan plethodonotid salamander, bagaimanapun juga mengunakan
lidah dan rahang dalam mekanisme menjentik dan menanggap mangsa. Lidah
yang sesungguhnya baru nampak pada hewan amphibi. Lidah amphibi
menempel pada pinggiran depan rahang dan mampu melipat kembali mukut
bagian bawah. Mucus dan kelenjer buccal yang berada di ujung lidah
mengeluarkan sekrat yang lengket. Ketika mangsa dating jangkauan Amphibi
menekuk lututnya ke depan dan mengeluarkan lidahnya. Lidahnya menjulur
oangjang, dan rahang bawahnya tertekan. Kepalanya miring menuju servikal
vetebranya yang membantunyu melancarkan serangan. Ujung lidahnya
menjebak mangsa kemudian lidah dan mangsanya tdai kembali masuk dalam
mulut. (Miller & Harley: 2001).
Katak air butuh sedikit kelenjer oral, karena makanan katak di air
sehingga tidak memerlukan banyak kelenjar mucus dimulut. Kelenjar kelenjar
tersebut berapa pada lidahnya yang dinggunkaan untuk menanggkap mangsa.
Amphibi darat juga memiliki kelenjer intermaksilari pada dingding mulutnya.
Beberapaa Amphibi yang lidahnya tidak dapat bergerak, tetapi sebagian besar
bangsa Amphibi mempunyia lidah yang dapat dijulurkan keluar serta pada
katak dan kodok lidah digulung kebelakang bila tidak digunakan. Esophagus
pendek dapat dibedakan dari lambung, usus , menunjukaan berbagai variasi,
pada celcillia menunjukan ada gulungan kecil dan tidak dibedakan antara usus
kecil dan usus besar, pada katak dan kodok terdapat usus yang relative panjang,
menggulung membuka ke kloaka (Sukiya, 2005).

8
Gambar 6. Sistem Pencernaan Amphibi

4. Sistem Pernapasan Amphibi


Selama tahap larva sebagian besar anphibi bernafas dengan insang.
Insang ini bukan tipe internal seperti pada ikan, tetapi insang eksternal.
Struktur insang luar adalah filamenous, bertutup epitelium bersilia, umumnya
mereduksi selama metamorphosis. Beberapa amphibi berekor, insang luar ini
ada selama hidupnya ( Sukiya, 2005).
Struktur paru- paru pada Amphibi masih sederhana. Amphibi yang hidup
di air, permukaan dalam dari paru- paru lembut, tetapi sebagian besar dinding
paru- paru pada katak dan kodok berisi lipatan alveoli sehingga meningkatkan
permukaan pernapasan. Beberapa amphibi dari ordo Caudata memiliki trakhea
pendekm disokong ole kartilago terbagi dalam dua cabang yang membuka
kearah paru- paru. Ujung dari trakhea atas diperluas, khususnya pada katak dan
kodok, untuk membentuk laring atau kotak suara, dimana pita suara berada.
Pertemuan antara faring dan laring disebut glotis. Pada umumnya udara
dipompa ke dalam paru- paru melalui proses yang sederhana. Sebagian besar
amphibi bernapas melalui kulit, tetapi salamander ketika dewasa mendapat
oksigen melalui kulit dan epitelium oral. Oleh sebab itu, berarti kulit harus
dijaga kelembapannya. Amphibi darat dalam menjaga kelembapan tubuh ini
dilengkapi dengan sejumlah kelenjar mukus yang didistribusikan dari
permukaan tubuh ( Sukiya, 2005).

Gambar 7 . Sistem Pernapasan Amphibi

5. Sistem Urogenital Amphibi


Amphibi berekor ginjalnya berstruktur elongasi seperti pada
Elamobranchiite tapi pada sejenis Anura ada tendensi menjadi pendek. Banyak
amphibi sebagian atau seluruh hidupnya berada dalam air, korpus kelrenalis
berkembang untuk membantu mencegah pengenceran yang berlebihan dari

9
cairan tubuh. Pembuluh arkinefrik amphibi jantan berupa genital eksretori.
Pembuluh arkinefrik tersebut hanya melakukan transport sperma ( Sukiya,
2005).
Pada amphibi darat, air dari urine yang terkumpul diserap kembali pada
waktu tertentu untuk mengimbangi kelembapan kulit yang berkurang. Amphibi
yang banyak menghabiskan waktu di dalam tanah, seperti spadefoot toad (
Scaphious), dapat menyerap air dari tanah selama tekanan osmotik cairan
tubuh lebih tinggi daripada tegangan air didalam tanah. Berikut ini adalah
gambar dari sistem urogenital katak jantan dan katak betina ( sumber :
kinantan, 2010) :

Gambar 8. Organ- organ Urogenital Katak


Testis berpasangan dan berhubungan langsung atau dihubungkan tubulus
mesonefrik ke kloaka, tidak ada organ kopulasi spesial. Pada kodok ada suatu
struktur yang disebut organ Bidder terletak di anterior setiap testis ( Sukiya,
2005).

6. Sistem Saraf dan indera Amphibi


Sistem saraf pada amphibi pada dasarnya sama seperti pada ikan. Pusat
kegiatan otak berada pada bagian dorsal otak tengah dimana sel- sel saraf
merupakan bagian penciuman, sehingga memperluas hemisfer cerebral. Lineal
body ditemukan pada semua Amphibi, tetapi anura memilki parietal body atau
ujung organ pineal . ( Sukiya, 2005).
Sistem saraf pada amphibi menurut ( Jasin, 1992) terdiri atas sistem saraf
sentral dan sistem saraf periforium. Sistem saraf sentral terdiri dari:
encephalon ( otak) dan medulla spinalis. Enchephalonter terdapat pada kotak-
kotak ( cranium) . Pada sebelah dorsal akan tampak dua lobus olfactorium
menuju Saccusnasalis, dua haemisperiumcerebri atau cerebrum kanan kiri
yang berbentuk ooid yang diuhubungkan dengan comisure anterior,Sedangkan
bagian anteriornya bergabung dengan dienchepalonmedialis. Dibagian
belakang ini terdapat dua bulatan lobusopticus yang ditumpuk oleh tengah (
mesenchepalon) sebelah bawahnya merupakan cerebrum ( otak kecil).

10
Dibelakang terdapat bagian terbuka sebelah atas yakni medulla oblongata yang
berhubungan dengan medulla spinalis dan berakhir di sebelah feliumterminale
( Sukiya, 2005).

Gambar 9. Sistem Saraf Amphibi


Jika diperhatikan bentuk tengkoraknya luas dan datar dengan mulut yang
lebar, lubang hidung, dua mata yang mencolok dan membran timphani yang
sirkular berada dibelakang mata. Batas matanya adalah kelopak mata bawah
yang besar dan kelopak mata atas yang tidak mencolok. Kelopak mata ketiga
merupakan kelopak dalam yang jernig yaitu membran nictitating, membantu
dalam menjaga mata agar tetap lembab ketika katak berada di darat dan juga
membantu menjaga mata dari abrasi ketika berada diair ( Lytle & Meyer,
2005).
Parietal dan pineal body berfungsi sebagai fotoreseptor sensitif terhadap
gelombang panjang dan intensitas cahaya berperan dalam termorgulasi dan
orientasi arah. Fotoreseptor pada gelombang panjang juga terdapat pada kulit
katak dan salamander. ( Sukiya, 2005).

7. Sistem Reproduksi dan Endokrin Amphibi


Fertlisasi berlangsung secara eksternal pada sebagian besar Amphibi,
jantan memegang erat- erat betinadan menumpahkan spermanya di atas telur-
telur yang sedang dikeluarkan oleh betina. Amphibi biasanya bertelur di dalam
air atau dilingkungan darat yang lembab. Telur tidak memiliki cangkang dan
cepat mengering di dalam udara kering. Beberapa species Amphibi bertelur di
dalam air atau di lingkungan darat yang lembab. Telur memiliki cangkang dan
cepat mengering di dalam udara kering. Beberapa species Amphibi bertelur
dalam jumlah yang sangat banyak di kolam sementara, dan mortilisasi telurnya
tinggi. Sebaiknya species – species yang bertelur dalam jumlah relatif sedikir
dan menunjukkan berbagai macam pengasuhan anak. Bergantung pada species,
jantan atau betina mungkin membawa telur- telurnya di punggung, di dalam
mulut, atau bahkan didalam lambung. Ada pula species ovovivipar dan vivipar
yang menyimpan telur- telurnya di dalam saluran reproduksi betina tempat
embrio dapat berkembang tanpa mengalami kekeringan (Campbell, 2012).

11
Banyak Amphibi menunjukkan perilaku sosial yang kompleks dan
beraneka ragam, terutama selama musim kawin. Katak biasanya diam, namun
jantan pada kebanyakan species bersuara untuk mempertahankan wilayah
kawinnya atau untuk menarik betina. Pada beberapa species, migrasi ke tempat
perbiakan tertentu mungkin melibatkan komunikasi suara, navigasi selestrial,
atau sinyal kimiawi ( Campbell, 2012).
Sistem endoktrin pada amphibi mirip pada vertebrata tingkat tinggi.
Kelenjar paratroid ada ( tidak ada pada ikan) sebagai regulator kalsium dalam
sistem endoktrin. Kelenjar adrenal, korteks, dan medulla bergabung tidak
terpisah seperti pada ikan. Kelenjar tiroid tidak hanya mengatur aktivitas
metabolisme tubuh tetapi dipercaya sangat penting dalam mempengaruhi
periode pengelupasan lapisan luar kulit ( Sukiya, 2005).
Hormon tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid meregulasi
metabolisme pada katak, manusia, dan vertebrata yang lain. Akan tetapi,
tiroksin memiliki efek tambahan dan berbeda pada katak yaitu merangsang
merespon resorpsi ekor kecebong dalam metamorfosisnya menjadi dewasa
( Campbell, 2010).

Gambar 10. Sistem Reproduksi Amphibi


C. Sistematika Amphibi
Ampfibia (Amphibin, kelas Amphibi) kini diwakili oleh sekitar 6500
species salamander (urodela, “yang berekor”), katak (ordo anura “tak berekor”)
dan cecilia (ordo apoda, “ yang tak berkaki ). Hanya terdapat sekitar 550 spcies
urodela. Beberapa species sepemuhnya akuatik, namun yang lain hidup
didaratan sepanjang hidupnya atau ketika dewasa. Sebagian besar salamander
yang hidup didaratan berjalan dengan tubuh berliuk- liuk ke kanan dan kekiri,
ciri yang diwarisi umum terjadi pada salamander akuatik, axolotl, misalnya
mempertahankan sifat- sifat larva bahkan ketika ia telah matang secara seksual
( campbell, 2012).
Anggota- anggota dari ordo caudata (cauda= ekor), data= menghasilkan)
adalah salamander. Mereka sepanjang hidupnya memilki ekor dan dua pasang
kaki yang saat ada relatif tidak terspesialisasi perkembangannya. Sekitar 115
12
dari 350 yng telah terdeskripsi hidup di Amerika Utara. Hampir semua
salamander yang teresterial hidup di hutan tropis dan mempunyai larva yang
hidup diair. Beberapa family dari ordo ini hidup di gua- gua dimana
temperaturnya konstan dan kondisi kelembabapannya menciptakan lingkungan
yang ideal baginya. Family Plethodontidae merupakan sepenuhnya salamander
tereestrial dimana mereka meletakkan telurnya di tanah bukan diair dan yang
muda menetas sebagai miniatur sebagai yang dewasa( serupa antara fase muda
dan dewasa) (Miller dan Harley , 2001).
Anggota dari family Salamandridae umumnya disebut “kadal liar”
( bahasa inggrisnya “newt”). Mereka menghabiskan sebagian besar hidup
mereka dalam air dan seringkali menggunakan sirip ekornya. Rentag panjang
tubuh salamander mulai dari hanya beberapa cm saja sampai 1,5 M
( salamander raksasa jepang, andriasjaponicus). Salamader amerika Utara yang
terbesar adalah Hellbender ( Cryptobranchus aleganiensis) yang panjangnya
65 cm. (Miller dan Harley, 2001).

Gambar 1. Andrias japonicas Gambar 2. Cryptobranchus alleganiensis

Hampir semua salamander melakukan fertilisasi secara internal.Pejantan


memproduksi “ piramidal”, adalah spermatofor berelatin (seperti agar- agar)
yang ditutpi dengan sperma dan disimpa di substrat. Salamander betina
mengumpulkan sperma itu dengan kloaka dan disimpan dikantong spsesial
yaitu spermateka. Telur- telur di fertlisasi saat melewati kloaka dan biasanya
dikeluarkan satu persatu, dalam satu rumpun ataupula dalam bentuk untaian.
Larvanya serupa dengan bentuk dewasa namun ukuran lebih kecil. Mereka
sering memiliki insang eksternal, sirip ekor, gigi, larva, lidah
rudimenter( belum sempurna). Larva akuatik biasanya bermertafosis menjadi
salamande dewasa yang hidup di terestrial. Banyak salamander lain yang
mengalami metamorfosis. Tidak sempurna dan paedomorfikhc (adanya
karakteristik larva pada salamander dewasa) (Miller dan Harley, 2001).
Anura yang berjumlah sekitar 5420 species, lebih terspesialisasi untuk
bergerak didaratan daripada urodela. Katak dewasanya meggunakan kakinya
yang kuat untuk melompat- lompat dilapangan. Katak menangkap serangga
dan mangsanya dengan menjulurkan lidah yang panjang dan lengket yang

13
melekat ke bagian depan mulut. Katak menujukkan berbagai adaptasi untuk
menghindari pemangsaan dari predator yang lebih besar. Katak mempunyai
kelenjar kulit untuk mensekresikan kelenjar mucus yang tidak enak bahkan
berbisa. Banyak species beracun, memiliki warna cerah yang tampaknya
diasosiasikan denga bahaya oleh para predator. Katak katak yang lain memiliki
pola pola warna yang dapat menyamarkan merek (Campbell, 2012).
Ordo anura (an= tanpa, aura=ekor) atau salientia termasuk sekitar 3500
spesies katak dan kodok. Annura hidup dihampir ligkungan tropis kecuali
dilintang atas dan dibeberapa kepulauan laut. Beberapa ditemukan didaerah
kering berpasir. Fase dewasanya tidak memiliki ekor dan ekor vetebra
bergabung menjadi struktur mirip tangkai yang disebut urostyle. Kaki
belakangnya panjang serta berotot dan diakhiri dengan kaki berselaput (Miller
& Harley: 2001)
Anura memiliki kehidupan sejarah yang beragam. Fertilisasinya hampir
selalu dilakukan secara eksternal dan telur telur serta larva larvanya betipikal
akuatik. Fase larvanya disebut kecebong (berudu) mempunyai perkembangan
ekor yang baik. Tubuh gemuk mereka tidak berlengan (bertungkai, berkaki)
sampai mendekati akhir dari masa larvanya. Tidak seperti bentuk dewasanya,
bentuk larva bersifat herbivora dan memiliki proteinaceous, yaitu struktur
bagian tubuh yang serupa dengan paruh yang digunakan untuk makan. Larva
anura mengalami metamorfosis yang drastis dan cepat dari bentuk larva hingga
bentuk tubuh dewasa. (Miller & Harley: 2001)
Pebedaan antara katak dan kodok lebih merujuk pada sisi vermakuler
atau kebiasaan dari pada dilihat dari sisi ilmianya. Kodok biasanya merujuk
pada anura dengan kulit yang lebih kering dan berkutil yang lebih teriterestrial
dari pada anggota lain dari ordo annura ini. Beberapa jumlah taksa dengan
kekerabatan jauh memiliki karakteristik ini. Kodok sejati memiliki famili
buffonidae pada ordo anura.(Miller & Harley: 2001)
Apoda atau sesilia (sekitar 170 spesies) tidak berkaki dan hapir buta.
Sekilas mereka mirip cacing tanah. Ketiadaan kaki merupakan adaptasi kedua
saat mereka berevolusi dari nenek moyang yang berkaki. Sesilia menghuni
daerah tropis, tempat sebagian besar spesies meliang di dalam tanah hutan yang
lembab. Beberapa spesies amerika selatan hidup di kolam air tawar dan sungai
kecil (Campbell, 2012).
Anggota ordo gymnophiana (gymnos artinya telanjang, ophineos artinya
seperti ular) adalaha sesilia. Jadi nama lain dari gymnophiana adalah apoda.
Para ahli zoologi telah mendeskripsikan sekitar 160 spesies terbatas hanya pada
daerah tropis. Sesilia adalah hewan mirip cacing yang membuat liang dalam
tanah yang memakan cacing-cacing dan invertebrata lain di tanah. Sesilia
menampakkan segmentasi sebab lpatan dikulit atasnya yang berpisah antara

14
kumpulan otot. Tentakel yang retraktil (mampu kembali ke dalam keadaan
semula) diantara mata mereka dan hidung mampu mentrasnportasi bahan kimia
dari lingkungan ke sel-sel penciuman di mulut bagian atas. Kulit menutupi
mata, dengan demikian sesilia mungkin dapat dikatakan hampir buta. ( Miler
dan Harley, 2001).
Fertilisasi pada sesilia dilakukan secara internal. Bentuk larvanya sering
lewat dalam ovidukdi mana mereka mengikis lapisan dalam oviduk dengan
gigi janinnya untuk makan. Sesilia muda muncul dari betina sebagai miniatur
sesilia dewasa (antara bentuk muda dan dewasanya mirip). sesilia lain
meletakkan telur-telurnya yang berkembang menjadi larva aquatik atau embrio
yang berkembang di tanah (Miller dan Harley, 2001).

1. Ordo Apoda
Apoda berasal dari kata a artinya tanpa dan podos artinya kaki. Hewan
yang tergolong ke dalam ordo ini adalah hewan-hewan Amphibi yang tidak
mempunyai kaki (kaki tereduksi). Nama lain dari Apoda adalah Caecilian
berasal dari bahasa Latin yaitu caecus yang berarti buta. Dinamakan demikian
karena matanya tertutup oleh kulit dan dalam beberapa spesies tertutup oleh
tulang.
Selain kedua nama di atas, di dalam taksonomi digunakan nama
Gymnophiona, berasal dari bahasa Yunani gymnos yang berarti terbuka dan
ophis yang berarti ular. Dikarenakan organ kaki tereduksi dan tubuhnya
bersegmen-segmen, morfologi luar dari Apoda mirip sekali dengan cacing atau
ular. Selain kakinya, organ ekor juga mereuksi atau hilang, sehingga tubuhnya
memanjang karena disesuaikan pula dengan habitatnya di tanah dengan
menggali atau membuat sebuah lubang. Kisaran panjang tubuh antara 90-1600
mm. Mempunyai tentakel (sensori) untuk membantunya hidup di dalam tanah
atau air. Letak tentakel ini bervariasi, antara lubang hidung dan matanya tidak
berkelopak.
Fase hidup yang bersifat aquatik adalah saat larva. Setelah dewasa hidup
di tanah dengan menggali lobang. Ada beberapa spesies yang hidup di air
(Genus Typhlonectes, Atretochoana, dan Potomotyphlus) sehingga tubuhnya
dilengkapi sirip kecil untu membantu berenang. Penampakan seperti ini mirip
dengan belut. Selain itu apoda tidak memiliki membran tympanum untuk alat
bantu pendengaran, tidak seperti kebanyakan amphibi.
Tubuh apoda bersegmen-segmen, setiap segmen yang berbentuk seperti
cincin disebut annuli. Penampakan seperti ini menjadikan apoda mirip dengan
cacing tanah. Annuli pada apoda dibedakan annuli sekunder dan tersier. Pada
bagian post tubuhnya, ekor membentuk bagian tubuh yang sangat kecil
dibandingkan bagian yang lainnya. Bahkan, pada beberapa spesies tubuhnya

15
tiba-tiba berakhir pada terminal tumpul. Famili dari apoda yang masih
memiliki ekor dianggap lebih primitif dari pada yang ekornya telah tereduksi.
Sesilia merupakan satu-satunya ordo Amphibi yang pembuahannya
internal. Sesilia jantan memiliki organ mirip penis, disebut phallodeum, yang
dimasukkan ke kloaka betina selama 2 sampai 3 jam. Sekitar 25% spesies
sesilia ovipar (bertelur); telurnya itu dijaga oleh betina. Pada beberapa spesies,
sesilia sudah bermetamorfosis saat menetas; yang lain menetas menjadi larva.
Larvanya tidak sepenuhnya hidup di air, namun menghabiskan waktunya di
tanah dekat air. 75% spesies vivipar, yang artinya mereka melahirkan anak
yang sudah berkembang. Janinnya diberi makan dalam tubuh betina dari sel-sel
oviduk, yang mereka makan dengan gigi pemegang khusus.
Sesilia menyukai tempat-tempat yang basah atau lembab. Tepi-tepi
sungai atau parit di bawah tumpukan batu, kayu atau serasah yang bertimbun,
dan dekat kolam atau rawa. Makanan sesilia tidak begitu diketahui, meskipun
nampaknya terdiri atas serangga dan invertebrate yang ditemukan di masing-
masing spesies itu.

Penjelasan singkat berikut ini akan membahas struktur spesifik tubuh


Apoda:
1. Tengkorak Apoda
Tengkorak Apoda memiliki susunan dan bangunan yang kuat dan berat. Hal
ini disesuaikan dengan fungsi kepalanya untuk menggali dan mendorong
tanah. Oleh karena itu struktur tulang pada tengkoraknya saling menyatu. Di
samping sensorinya yang membuka, tengkorak kebanyakan spesies apoda
beratapkan tulang-tulang yang tebal. Kondisi ini disebut stegokrotaphy.
Tetapi beberapa spesies apoda masih mempertahankan tengkorak yang
bagian temporalnya membuka, kondisi ini disebut zygokrotaphy. Apoda
yang tengkoraknya bersifat demikian dianggap lebih primitif. Semakin
berkurang jumlah tulang pada tengkorak pada ordo ini, maka dianggap
merupakan famili yang lebih maju.
2. Mata
Semua apoda mempunyai organ mata, tetapi sangat tereduksi dan tertutup
oleh kulit atau tulang. Mungkin karena hidupnya pada liang-liang tanah,
matanya telah merosot ke berbagai bagian kepala, setiap spesies berbeda.
Beberapa spesies, seperti Ichthyophis sp., memiliki mata di permukaan agak
dangkal sementara spesies lain seperti Herpele dan Gegeneophis punya mata
di bawah tulang tengkorak dan bahkan memiliki soket mata yang digantikan
oleh tulang. Studi perbandingan morfologi menunjukkan bahwa ada

16
kecenderungan peningkatan mata tertutup dengan kulit atau tulang
bersamaan dengan hilangnya modifikasi lensa dan retina. Namun, retina dan
saraf optik tetap utuh sehingga kemungkinan bahwa sebagian besar mata
Apoda masih mampu melakukan photoreception. Apabila cahaya terang
mereka akan bersembunyi begitu sebaliknya. Namun Apoda tidak mampu
mendeteksi gerakan visual.
3. Tentakel
Tentakel sensori kecil terdapat di kedua sisi kepala antara mata dan lubang
hidung. Pada kebanyakan spesies, tentakel menonjol melalui lobang di
tengkorak sementara pada spesies lain tidak demikian. Famili
Scolecomorphidae terkenal karena memiliki tentakel dekat dengan mata.
Tentakel adalah struktur yang kompleks dari berbagai bentuk, termasuk
jaringan saraf, otot, saluran, dan kelenjar dan diperkirakan berfungsi dalam
chemoreception.
4. Mulut, gigi dan otot rahang
Mulut apoda terletak di bagian agak bawah dari kepala (subterminal).
Morfologi mulut ini disebut countersunk dan dianggap sebuah adaptasi
untuk menggali. Apoda yang paling primitif masih memiliki mulut terminal.
Pada masing-masing rahang terdapat dua baris gigi, baris sebelah dalam dan
luar. Ukuran giginya bervariasi dan bentuknya tergantung pada spesies.
Semua vertebrata darat, kecuali Apoda, memiliki satu set otot penutup
rahang. Apoda memiliki dua set otot (adductors jaws dan otot-otot
interhyoideus) dan ini dianggap sebagai adaptasi untuk mempertahankan
posisi rahang agar tetap tertutup rapat saat menggali.
5. Nuchal Collars
Di belakang kepala terdapat dua struktur anatomis yang saling berhubungan
yaitu nuchal collars, yang berbeda tiap spesiesnya. Bentuknya agak mirip
dengan clitellum cacing tanah. Alur yg berhubung dengan nuchal pertama
menandai perbatasan posterior tengkorak dan menandai kedua pembagian
antara dua nuchal. Alur yang berhubung dengan kuduk ketiga menandai
batas antara kedua nuchal yang berhubung dengan seluruh tubuh. Pada
beberapa spesies terkadang sulit untuk membedakannya karena adanya
lipatan dermal tambahan sepanjang permukaan dorsal.
6. Kulit
Seperti Amphibi lainnya, Apoda memiliki kelenjar racun di kulit meskipun
potensi racun tersebut belum banyak dikenal. Akan tetapi yang berbeda dari
Apoda dibanding amphibi lainnya adalah sisiknya yang berada di bawah
permukaan kulit. Sisik terdiri dari serabut kolagen yang tertutup oleh
mineralized nodul. Ini dapat ditemukan dalam lipatan dan alur-alur kulit dan
biasanya semakin ke arah posterior jumlahnya semakin meningkat. Selain

17
itu, Caecilia sp. punya tipe sisik sekunder yang tertanam ke dalam jaringan
ikat subdermal.

Klasifikasi ordo Apoda


a. Rhinatrematidae, Nussbaum, 1977.
Dianggap sebagai Sesilia paling primitif. Terdapat di Amerika Selatan.
Berukuran kecil, 0,3 m, ekor pendek, mempunyai struktur mulut seperti
“paruh”, telur diletakan di tanah. Larva mempunyai insang luar, hidup di
genangan air sampai bermetamorfosis menjadi hewan dewasa. Dua genera:
Epicrionops (8 spesies) dan Rhinatrema (1 spesies)
Contoh:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Amphibi
Family: Rhinatrematidae
Ordo Apoda
Genus: Rhinatrema
Duméril and Bibron,
1841
Type species
Rhinatrema bivittatum

b. Ichthyophiidae Taylor, 1968


Anggota famili ini mempunyai ciri-ciri tubuh yang bersisik, ekornya
pendek, mata relatif berkembang. Reproduksi dengan oviparous. Larva
berenang bebas di air dengan tiga pasang insang yang bercabang yang
segera hilang walaupun membutuhkan waktu yang lama di air sebelum
metamorphosis. Anggota famili ini yang ditemukan di indonesia adalah
Ichtyophis sp., yaitu di provinsi DIY.
Sesilia khas Asia Tenggara, termasuk sub benua India. Panjang tubuh
sampai 0,5 dengan ekor pendek, mulut tidak tersembunyi di bawah
moncong. Mempunyai sejumlah sisik di tubuh. Rahang dengan dua set otot.
Telur diletakkan di tanah lembab, larva menetap di air sampai metamorfosis
tiba. Induk betina kemungkinan menjaga telurnya.
Dua genera; Caudacaecilia (5 species), Ichthyopis (34 species)
Contoh:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata

18
Subphylum: Vertebrata
Class: Amphibi
Subclass: LissAmphibi
Order: Gymnophiona
Family: Ichthyophiidae
Genus: Ichthyophis
Fitzinger, 1826

c. Uraeotyphlidae Nussbaum, 1979.


Kelompok ini sebelumnya termasuk sebagai bagian dari famili Ichthyophiidae.
Distribusi di Ghat bagian barat, di ujung Semenanjung India. Panjang 23
sampai 30 cm, ekor pendek dengan vertebrae sejati. Meletakan telur pada
tanah lembab, mempunyai stadium larva bebas. Habitat pada serasah di
hutan hujan tropis. Hanya satu genus, Uraeotyphlus (6 spesies).

Contoh:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Subphylum: Vertebrata
Class: Amphibi
Order: Gymnophiona
Family: Uraeotyphlidae
Nussbaum, 1979
Genus: Uraeotyphlus
W. Peters, 1879
Species: Uraeotyphlus
gansi

d. Scolecomorphidae Taylor, 1969.


Ditemukan di Afrika (Kamerun, Malawi, Tanzania), Mata tertutup tulang dan
festigial, tubuh seperti bersegmen. Tidak punya ekor, Betina

19
mempertahankan telur di dalam tubuhnya; langsung “melahirkan”, offspring
tanpa melalui tahapan larva. Dua genera Scolecomorphus (3 spesies), dan
Crotaphatrema (3 spesies)
Contoh:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Amphibi
Order: Gymnophiona
Family: Scolecomorphidae
Genus: Scolecomorphus
Species: S. vittatus

e. Caeciliaidae Rafinesque-Schmaltz, 1814.


Distribusi: Mexico, Amerika Tengah dan Selatan, Subsahara Afrika, India, Asia
Tenggara dan Seychelles. Terspesialisasi untuk menggali lubang, dengan
tengkorak yang mengalami penulangan. Banyak yang berukuran kecil,
tetapi jenis terbesar mencapai 1,5 m. Merupakan family terbesar, sekitar 22
genera. Di antaranya Boulengerula (6 spesies) dan Caecilia (33 spesies),
Siphonops (5 spesies). Beberapa bersifat vivipar; lainnya mengalami
perkembangan secara langsung.
Contoh:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Amphibi
Order: Gymnophiona
Family: Caeciliidae
Genus: Caecilia
Species: C. tentaculata

f. Typhlonectidae Taylor, 1968.


Distribusi: Amerika Selatan, Sesilia akuatis sejati. Beberapa mencapai panjang
75 cm. Bagian posterior tubuh memipih lateral, tidak ada ekor. Tengkorak
mempunyai asal yang sama dengan famili Caeciliidae. Bersifat vivipar.
Juvenil mempunyai insang luar.Dengan 5 genera, di antaranya
Chthonerpeton (8 spesies) dan Typhlonectes (2 spesies)
Contoh:

20
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Amphibi
Order: Gymnophiona
Family: Typhlonectidae
Genus: Chthonerpeton
Species: C. noctinectes

2. Ordo Caudata atau Urodela


Caudata atau Urodela merupakan salah satu ordo dari kelas amfibhi, ordo
ini mempunyai ciri betuk tubuh memanjang, mempunyai anggota gerak, dan
ekor, serta tidak memiliki Tympanum. Tubuh dapat dibedakan antara kepala,
leher, dan badan. Beberapa spesies mempunyai insang dan yang lainnya
bernapas dengan paru-paru. Pada bagian kepala terdapat mata yang kecil dan
beberapa spesies, matanya mengalami reduksi. Anggota ordo urodela hidup di
darat akan tetapi tidak dapat lepas dari air. Pola persebarannya meliputi
wilayah Amerika Utara, Asia Tengah, Jepang, dan Eropa (Pough et. al, 1998).
Caudata mencakup 7 familia: Proteidae, Amphiumidae,
Cryptobranchidae, Salamandridae, Ambystomatidae, Plethodontidae,
Sirenidae.
a. FamiliProteidae
Tungkai kecil dan lemah, ekor mempunyai sirip dorsal dan sirip ventral, alat
pernapasan larva berupa tiga pasang insang luar dengan tiga pasang celah
insang, yang dewasa mempunyai satu pasang paru-paru, masih
mempertahankan tiga pasang insang luar dan dua pasang celah insang. Ekor
masih seperti larva contohnya adalah Necturus.
Kingdom :Animalia
Phylum :Chordata
Class :Amphibi
Order :Urodela
Family :Proteidae
Genus :Necturus
Species :Necturus maculosus
(Rafinesque,1818).

b. Famili Amphiumidae
Bentuknya seperti sidat, ukuran tubuhnya besar, dapat mencapai 40 inci.
Ada yang dewasa terdapat satu celah insang, bernapas dengan paru-paru.

21
Pada tungkai depan dan belakang sangat kecil tidak seimbang dengan
ukuran tubuhnya.
Contoh Amphiuma.
Kingdom: Animalia
Phylum : Chordata
Class : Amphibi
Order : Urodela
Family : Amphiumidae
Genus : Amphiuma (Garden,
1821)
Species : Amphiuma means

c. Famili Cryptobranchidae
Anggota kelompok ini berwujud agak ganjil, karena kepalanya pipih dan
lebar, ekor pipih bilateral, kulit nampak berlipat-lipat yang memanjang
pada sisi lateral tubuh. Panjang tubuh dapat mencapai 29 inci, celah
insang satu pasang tertutup oleh lipatan kulit. Contonya:
Crypthopbranchus alleganiensis.
Klasifikasi Crypthopbranchus alleganiensis
Kingdom: Animalia
Phylum :Chordata
Class :Amphibi
Order :Urodela
Family :Cryptobranchidae
Genus :Crypthobranchus
(Leuckart,1821)
Species:Crypthobranchus
alleganiensis
(Daudin,1803)

d. Familia Salamandridae
Anggota kelompok ini memiliki tiga pase kehidupan: larva, eft, newt.
Larva mempunyai insang dan celah insang, hidup di air. setelah beberapa
bulan insang dan celah insang menghilang, tungkai belakang muncul.
Terbentuklah fase yang disebut eft. Eft muncul dari air menjadi hewan
darat. Kulit mengalami kornifiksi, kelenjer kulit tidak berfungsi lagi.
Newt satu bentu kehidupan darat berakhir menjelang pemasakkan
seksual. Hewan-hewan kembali ke air, kelenjer kulit aktif lagi, ekor

22
berubah dari selindris menjadi pipih dan bersirip dorsal dan ventral.
Contohnya Notophthalamus.
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Amphibi
Order: Urodela
Family: Salamandridae
Genus: Notophthalamus
Species: Notophthalamus
meridionalis (Cope,
1880)

e.Famili Ambystomatida
Anggota ini bersifat terastria, sesekali masuk ke air untuk
berkembangbiak. Beberapa spesies mempertahankan insang luar dan tetap
tinggal dalam air. Contohnya Ambystoma.
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Amphibi
Order: Caudata
Family: Ambystomatidae
Genus: Ambystoma
Species: Ambystoma
mexicanum
(Shaw, 1789)

f. Famili Plethodontidae
Anggota kelompok ini ada yang aquatik dan ada yang terestrial. Hewan
dewasa kehilangan insang maupun paru-paru,pernapasan dilakukan oleh
kulit yang basah atau lembab. Contohnya Plethodon.
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Amphibi
Order: Caudata
Family: Plethodontidae

23
Genus: Plethodon (Tschudi,
1838)
Species: Plethodon
caddoensis

g.Famili Sirenidae
Kelompok ini tidak mempunyai tungkai belakang, mempunyai tiga
pasang celah insang, hidup di rawa-rawa. Contonya Pseudobranchus.
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Amphibi
Order: Caudata
Family: Sirenidae
Genus: Pseudobrnchus
Species: Pseudobranchus
axanthus

3. Ordo Anura
1) Familia Bufonidae
Ciri- ciri umumnya yaitu kulit kasar dan berbintil, terdapat kelenjar
paratoid dibelakang tymphanum dan terdapat pematang di kepala.
Mempunyai tipe gelang bahu arciferal. Sacral diapophisis melebar. Bufo
mempunyai mulut yang lebar akan tetapi tidak memiliki gigi. Tungkai
belakang lebih panjang dari pada tungkai depan dan jari- jari tidak
mempunyai selaput. Fertilisasi berlangsung secara eksternal. Famili ini
terdiri dari 18 genera dan kurang lebih 300 species.
Contoh:
Bufo asper ( Bangkok sungai )

24
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Bufonidae
Genus : Bufo
Species : Bufo asper
(Gravenhorst, 1829)

Identifikasi
Kodok buduk yang besar, tidak gendut dan agak ramping. Sering
dengan bintil- bintil kasar dan benjol- benjol besar ( asper, bahasa latin=
kasar, berduri). Jantan berukuran ( dari moncong ke anus) 70-100 mm,
betina 95-120 mm. Punggung berwarna coklat tua kusam, keabu- abuan atau
kehitaman. Sisi bawah berbintik hitam. Jantan biasanya dengan kulit dagu
yang kehitaman. Selaput renang sampai ke ujung jari kaki.
Kebiasaan
Kodok ini sering ditemui di dekat sungai, dibebatuan sampai ke
tebing- tebing di bagian atas. Terkadang didapati pula diranting semak
belukar yang rendah. Aktif diwaktu malam (nocturnal). Kodok ini di siang
hari bersembunyi di balik bebatuan, kadang- kadang berendam berkelompok
dalam air yang tersembunyi. Kodok ini dapat melompat jauh dengan
kakinya yang relatif panjang. Dan kodok ini sering berpura- pura mati
apabila ditangkap. Bila dipegang dan di letakkan terlentang di atas tempat
yang datar dan rata, kodok ini akan tetap tidak bergerak sampai beberapa
saat, untuk kemudian tiba- tiba membalikkan badan dan melompat seketika
bila situasi dirasanya sudah aman. Kodok jantan bersuara memanggil betina
dari tepi sungai ketika bulan purnama. Bunyi : Wok, kak, berat dan berulang
agak lambat.
Penyebaran :
Kodok sini sering menyebar di sungai mulai dari Indochina di utara
hingga ke Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Di jawa tersebar hingga ke
Pasuruan dan Malang di Jawa Timur.

2) Familia Microhylidae
Famili ini anggotanya berukuran kecil sekitar 8-100 mm. Kaki relative
panjang dibandingkan dengan tubuhnya. Terdapat gigi pada Maxilla dan
mandibulanya. Tetapi beberapa genus tidak mempunyai gigi. Famili ini
sering ditemukan di areal sawah.
Klasifikasi :

25
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Microhylidae
Genus : Gastrophryne
Species : Gastrophryne carolinensis

3) Familia Ranidae
Famili ini sering disebut juga katak sejati. Bentuk tubuhnya relative
ramping. Tungkai relatif panjang dan diantara jari- jarinya terdapat selaput
untuk membantu berenang. Kulitnya halus, licin dan ada beberapa yang
berbintil. Gelang bahu bertipe fimisternal. Pada kepala tidak ada pematang
seperti pada Bufo. Mulutnya lebar dan terdapat gigi seperti parut di bagian
maxillarnya.
Klasifikasi :

Kingdom : Animalia
Phylum : chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Ranidae
Genus : Rana
Spesies : Rana chalconota

4) Famili Rhacophoridaie
Memiliki ukuran dari 1,5 cm sampai 12 cm. Warna tubuh kehijauan.
Termasuk katak terbang . keunikan katak ini memiliki sekat yang luas antara
tangan dan kaki. Yang memungkinkan mereka untuk melayang di udara.
Habitat sebagian besar hidup di pohon.
Klasifikasi :

26
Kingdom: Animalia
Phylum : chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Rhacophoridae
Genus : Rhacophorus
Spesies : Rhacophorus sp

5) Familia Dendrobatidae
Ukuran tubuh 1,5 cm ada yang mencapai 6 cm. berat sekitar 2 gram,
tergantung pada ukuran katak. Kebanyakan katak panah beracun berwarna
cerah. Habitat ditempat – tempat lembab, termasuk pada daun, pada
tanaman, antara akar terbuka, dan ditempat lain. Keunikan kulit berwarna
cerah namun mengandung toksin untuk menghidari diri dari pemangsanya.
Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Phylum : chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Dendrobatidae
Genus : Dendrobates
Spesies :Dendrobates azureus

6) Familia Hylidae
Hylidis kebanyakan berwarna hijau dengan mata kecil, serta memiliki
bantalan dan perangkat pada tungkai. Hylidis serangga dan invetebrate
lainnya. Tetapi beberapa spesies yang lebih besar dapat memakan vetebrata.
Habitat di pepohonan, spesies lain bertelur pada daun menjorok ke vegatasi
air, yang memungkinkan kecebong untuk jatuh ke kolam saat mereka
menetas.

Klasifikasi :

27
Kingdom : Animalia
Phylum : chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Hylidae
Genus : Hyla
Spesies : Hyla japonica

7) Family Pelodryadidae
Panjang tubuh 1,6-9 cm. memiliki tubuh datar dan kaki langsing panjang.
Warna badan hijau atau coklat. Habitat hidup sebagian besar pada pohon
dan semak belukar.
Klasifikasi :

Kingdom : Animalia
Phylum : Vertebrata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Pelodryadidae
Genus : Pelobates
Spesies : Pelobates fuscus

8) Familia pipidae
Ukuran tubuh bisa berukuran 26 cm. mata menonjol dan kaki berselaput.
Warna tubuh hijau kecoklatan. Habitatnya banyak ditemukan dikolam
Klasifikasi :

Kingdom : Animalia
Phylum : chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Pipidae
Genus : Pseudhymenochirus
Spesies : P. merlini

9) Famili Sooglossidae

28
Ukuran tubuh sekitar 4 cm, bersembunyi dibawah daun daun jatuh atau
celah celah batu. Habitatnya mereka bertelur ditanah lembab tapi bukan di
air.
Klasifikasi :

Kingdom : Animalia
Phylum : chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Sooglossidae
Genus : Sooglossus
Spesies :Sooglossus gardineri

10) Famili Myobatrachidae


Ukuran tubuh bervariasi kurang dari 1,5 cm. hingga 12 cm panjangnya.
Warna tubuh kecoklatan. Habitatnya ditanah yang kering atau di tumpukan
dedaunan yang kering
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Vertebrata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Myobatrachidae
Genus : Rheobatrachus
Spesies : Rheobatrachus sp

11) Famili Discoglossidae


Merupakan keluarga katak primitive, degam nama umum katak berlidah.
Mereka berasa; dari eropa barat dan utara – Afika. Jenis ini mempunyai
kolam tinggal berudu
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Discoglossidae
Genus : Discoglossid
Spesies : Discoglossid frogs

29
12) Famili Ascaphidae
Katak ini memiliki banyak tualang dari katak lain, kemampuan untuk
vocalize, dan memiliki tulang rusuk bebas. Ukutan tubuh kecil 2,5 cm
sampi 5 cm dan ditemukan dalam sungai Montana, Idaho, Washington,
Oregon, dan California utara di barat laut Amerika Serikat dan tenggara
British Columbia .
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Ascaphidae
Genus : Ascaphus
Spesies : Ascaphus
montanus

13) Famili Leiopelmatidae


Ukuran tubuh sangat kecil hanya 5 cm panjangnya. Sebagian besar
bertelur di dalam tanah lembab, biasanya dibawah batu atau vegetasi.
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Ascaphidae
Genus : Leiopelma
Spesies : Leiopelma hochstetteri

14) Famili pipidae


Memiliki modifikasi morfologi kaki berselaput tidak lidah atau pita suara.
Hanya memiliki laring yang membantu menghasilkan suara. Panjang
tubuh berkisaran 4-19 cm. keunikan spesies ini memiliki telinga yang
dapat mendengar suara dari dasar air. Habitatnya di perarairan ditemukan
di daerah tropis Amerika selatan dan sub-Sahara Afrika.
Klasifikasi

30
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Pipidae
Genus : Xenopus
Spesies : Xenopus laevis

15) Familia Rhinophrynidae


Ukuran tubuh sampai 8 cm dan biasanya memiliki bintik – bintik merah
pada tubuh gembung dengan sebuah garis merah di sepanjang pusat
punggungnya. Memiliki kaki yang pendek, dan kepala kecil runcing. Kaki
pendek kuat, membantu dalam hal menggali. Sebagian besar hidupnya
dibawah tanah. Ini akan bersembunyi kedalam tanak lunak dengan kaki
pendek sekali lingkungan telah mongering. Katak ini membenamkan
lidahnya langsung keluar dari depan mulut.
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Rhinophrynidae
Genus : Rhinophrynus
Spesies : Rhinophrynus dorsalis

16) Familia Pelobatidae


Ukuran tubuh dengan 10 cm, warna tubuh mencolok. Katak ini menggali pasir
sebagai tempat unutk bersembunyi memiliki tonjolan mengeras di kaki mereka
untuk membantu dalam menggali. Habitatnya berada pada di air.
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Pelobatidae
Genus : Bombina
Spesies : Bombina variegata

17) Famili Pelodytidae

31
Tubuh relative berukuran kecil dengan warna hijau kehitaman, serta
terdapat bintil bintil. Hidup ditempat yang lembab. Mereka terlihat seperti
malam hari, namun dalam beberapa waktu siang hari juga terlihat. Spesies
ini terdapat di Eropa , terutama di sekitar Mediterania . Alleen P. Hanya P.
Caucasicus datang dari utara hingga Rusia dan Turki .

Kingdom :Animalia
Phylum :Chordata
Class : Amphibia
Ordo : Anura
Family : Pelodytidae
Genus : Parsley
Spesies : Parsley frogs

32