Está en la página 1de 25

LAPORAN MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN

DI RUANG CHRISANT RUMAH SAKIT NASIONAL DIPONEGORO


KOTA SEMARANG

Disusun untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Stase Manajemen

Dosen Pembimbing: Madya Sulisno, S.Kp,M.Kes

M. Hasib Ardani, S.Kp., M.Kes

Disusun oleh:

Mayline Angela H

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS XXX


DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
Manajemen Asuhan Keperawatan Pada By. Ny. S (0 th)
di Ruang Chrisant Rumah Sakit Nasioanl Diponegoro Semarang

A. Identitas
Tanggal masuk ruang : Selasa, 19 September 2017 (19.00 WIB)
Tanggal pengkajian : Selasa, 19 September 2017 (20.00 WIB)
1. Identitas Klien
Nama : By. Ny. S
No. Rekam Medis : 021798
Tanggal lahir : 19 September 2017
Umur : 0 th
Ruang Rawat Inap : Ruang Chrysant
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Pendidikan Terakhir :-
Pekerjaan :-
Suku : Jawa
Bahasa : Jawa, Indonesia
Alamat : Kepodang Raya A 84 Banyumanik
Pembiayaan Kesehatan : JASKESMASKOT
Kelas Ruangan : Kelas III
2. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. M
Suku : Jawa
Hubungan dengan Klien : Ayah
Bahasa : Jawa, Indonesia
Alamat : Kepodang Raya A 84 Banyumanik

1
B. Resume Asuhan Keperawatan
By. Ny. S lahir pada tanggal 19 September 2017 pukul 18.00 dengan SC
atas indikasi partus tak maju di ruang operasi RSND Semarang. Bayi lahir
dengan berat badan 3000 gram, panjang badan 50 cm, lingkar kepala 36 cm,
lingkar dada 35 cm dan lingkar lengan 13 cm. APGAR skor dari bayi tersebut
adalah 9,10,10. Tonus otot baik dan bayi lahir menangis, nadi 140 x/menit.
Reflek moro, sucking, rooting, swallowing, Babinski, tonik neck dan grasping
positif ada bayi.
By. Ny S dibawa keruangan setelah ibu dan bayi dijemput perawat
ruangan chrisant di ruang operasi pukul 19.00 WIB. Saat dilakukan
pengkajian di ruangan keadaan bayi baik sama seperti di ruangan, gerak bayi
aktif dan menangis. Bayi dilakukan IMD saat di ruangan, bayi sudah dapat
menyusu ibunya dengan baik. Suhu bayi 36.80C,
Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan terhadap By. Ny S, diagnosa
keperawatan yang muncul adalah resiko infeksi pada tali pusat. Masalah
tersebut dapat diketahui dari keadaan bayi yang dilakukan pemotongan tali
pusat saat lahiran. Intervensi yang telah dilakukan adalah:
Infection protection (6550)
1. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan klien
2. Observasi adanya tanda-tanda infeksi
3. Ajarkan kepada orang tua teknik mencuci tangan yang tepat sebelum
memegang bayi
4. Anjurkan kepada keluarga dan pengunjung yang akan memegang bayi
untuk cuci tangan dengan sabun atau menggunakan aseptic
Newborn Care (6880)
1. Bersihkan tali pusat
2. Jaga agar tali pusat tetap kering dan terjaga dari kotoran
3. Lindungi neonatus dari sumber infeksi di lingkungan rumah sakit
4. Motivasi ibu memberikan ASI secara rutin / sesuai keinginan bayi sebagai
perlindungan bayi
5. Ajarkan kepada ibu klien untuk perawatan bayi baru lahir

2
Hari pertama setelah klien lahir, didapatkan data operan jika klien tidak
mendapat ASI yang cukup karena ASI ibu yang tidak keluar banyak, sehingga
dilakukan perawatan pada payudara ibu untuk merangsang keluarnya ASI
sehingga klien mendapatkan ASI yang cukup.
Pada hari kedua didapatkan keadaan bayi mengalami ikterus fisiologis, hal
tersebut dapat dikarenakan klien tidak mendapatkan cukup ASI dari ibu. Bayi
dinyatakan oleh dokter sudah boleh pulang asalkan ibu juga sudah di
perbolehkan pulang oleh dokter ibu klien, dan memberi saran kepada ibu klien
untuk sering memberikan ASI kepada klien.

3
C. Pengelolaan Pasien
1. Proses Penerimaan Pasien Baru
Penerimaan pasien di ruang operasi setelah program SC selesai, klien
dan ibunya siap untuk dipindah ke ruang rawat inap chrysant. Klien di
jemput oleh perawat dan melakukan operan pasien dengan perawat di
ruang operasi saat menjemput pasien di ruang operasi. Saat penerimaan
terlihat keadaan klien baik, menangis dan tonus otot baik. Setelah
dilakukan operan, perawat ruang operasi memberikan rekam medis dan
dokumentasi klien lainnya kepada perawat Nova yang menjemput klien
dan ibunya. Klien merupakan pasien JAMKESMASKOT kelas tiga.
Sistem penerimaan pasien disertai dengan menyertakan lembar
formulir pindah antar ruang dimana dalam formulir tersebut terdapat poin -
poin seperti ruang rawat asal, disini pasien berasal dari VK yang dibawa
ke ruang operasi untuk proses melahirkan, ruang rawat tujuan yaitu ruang
Chrysant, alasan pasien dirawat yaitu perawatan bayi baru lahir post SC hr
ke 0.
Proses penyerahan atau transfer pasien perlu dilakukan secara detail
dan terperinci. Komunikasi yang biasa digunakan ketika transfer pasien
yaitu menggunakan SBAR (Situation, Backgroud, Assesment and
Recommendation). Situation berisi nama pasien, umur, diagnose medis dan
tanggal masuk serta dijelaskan secara singkat masalah kesehatan pasien
atau keluhan utama. Background menjelaskan informasi klinik yang
mendukung. Asseement berisi menjelaskan secara lengkap hasil
pengkajian pasien terkini, seperti vital sign, kondisi kulit, saturasi oksigen
dll serta menyatakan kemungkinan masalah. Recommendation berisi
berupa mengusulkan dokter untuk datang melihat pasien dan memastikan
jam kedatangan dokter serta menanyakan pada dokter kapan imunisasi
HB0 di lakukan kepada klien.

4
2. Proses Orientasi Ruangan pada Pasien
Klien sampai di ruang Chrysant kemudian diantarkan mahasiswa
keperawatan ke kamar 211. Mahasiswa Keperawatan Undip memberikan
orientasi pada pasien dan keluarga mengenai ruangan serta keadaan klien
saat ini. Mahasiswa menjelaskan pada salah satu anggota keluarga
mengenai tata letak ruang rawat, menjelaskan tentang pentingnya untuk
melakukan cuci tangan serta lokasi sarana cuci tangan yang tersedia,
menjelaskan ruangan perawat jika memiliki keperluan untuk menemui
perawat serta bagaimana cara untuk menghubungi jika perawat tidak ada
di nurse station, menjelaskan mengenai jam besuk, serta kapan waktu
untuk berkonsultasi dengan dokter. Pada saat itu perawat tidak
menjelaskan atau memberikan edukasi mengenai penyakit yang diderita
pasien karena hal tersebut merupakan salah satu kewenangan dari dokter.
Mahasiswa menjelaskan tentang prosedur tindakan yang dilakukan pada
klien, kemudian pasien atau keluarga diminta untuk menandatangi lembar
bukti bahwa sudah mendapatkan orientasi dari perawat. Mahasiswa juga
menjelaskan bagaimana manajemen nyeri kepada ibu klien, menjelaskan
mengenai alergi obat, peralatan medis yang akan digunakan, assessment
Pendidikan kesehatan pasien dan keluarga.
Proses orientasi ruangan tersebut juga dijelaskan beberapa hal yang
harus diketahui oleh keluarga pasien maupun pasien seperti hak dan
kewajiban pasien dan keluarga, keadaan klien saat ini, hal-hal yang dapat
dilakukan oleh keluarga dan makanan ASI klien yang rutin diberikan ibu
kepada klien setiap dua jam sekali, melakukan cuci tangan yang benar,
serta penggunaan APD masker dan sarung tangan saat melakukan
perawatan kepada klien.
Adapun isi dari formulir greeting adalah penjelasan sebagai berikut.
1. Fasilitas kamar perawatan: AC/ Fan, TV, telepon, kamar mandi, menu
makan untuk kelas (kelas II)
2. Tata Tertib RS Nasional Diponegoro:

5
a. Larangan membawa barang / perhiasan / telepon genggam,
senjata tajam, dsb. Jika terjadi kehilangan maka RS Nasional
Diponegoro tidak bertanggung jawab
b. Penunggu pasien maksimal 1 orang ( untuk pasien anak kelas I,
II, III )
c. Tidak boleh ditunggu ( untuk pasien ibu kelas I, II, III )
d. Anak usia dibawah 12 tahun tidak boleh masuk
e. Untuk perawatan Perinatologi, ICU / NICU yang berhak masuk
ke ruangan pasien hanya orang tua pasien saja
3. Hak dan Kewajiban pasien
4. Waktu berkunjung
Pagi: 09.30-11.30 WIB
Sore: 16.00-18.00 WIB
5. Untuk kelas I, Utama, VIP, disarankan melakukan rawat gabung. Jam
besuk bebas untuk kelas perawatan Utama dan VIP
6. Larangan merokok
7. Apabila ada keluhan pasien sampaikan pada Perawat jaga dan Kepala
Instalasi
8. Barang yang ada diruangan perawatan merupakan barang inventaris
Rumah Sakit dan tidak boleh dibawa pulang
9. Untuk pasien anak agar tidak meninggalkan anak di tempat tidur tanpa
pagar terpasang
10. Untuk keluarga / orangtua di ruang Kamar Berhasil /Perinatologi / ICU
/ NICU agar memakai baju/ skort
11. Tidak diperkenankan membawa alas tidur seperti tikar, karpet, kasur,
dll
12. Dokter visit 1x 24 jam

3. Tingkat Ketergantungan Pasien


Tabel klasifikasi pasien berdasarkan derajat ketergantungan KATZ
1). Saat dikaji
Aktivitas 0 1 2 3 4
Bathing 
Dressing 
Toiletting 
Transfering 
Continence 
Feeding 
Keterangan :

6
0 : mandiri
1 : menggunakan alat bantu
2 : dibantu orang lain
3 : di bantu orang lain dan alat
4 : tidak mampu
Kesimpulan: by. Ny S memiliki tingkat ketergantungan total
4. Prinsip Pasien Safety
Menurut IPSG (International Patient Safety Goals) terdapat 6 sasaran
keselamatan pasien, yaitu identifikasi pasien, komunikasi efektif,
penggunaan obat, ketepatan operasi, resiko infeksi dan resiko jatuh.
Perawatan yang didapatkan oleh pasiensudah melakukan 6 prinsip patient
safety.
a. Identifikasi pasien
Identifikasi pasien dilakukan IGD.Pasien diberikan tanda pengenal
berupa gelang pengenal. Gelang pengenal terbagi menjadi 2 yaitu
gelang utama dan gelang penanda tambahan. Gelang utama berisi
Nama, taggal lahir dan No. Rekam Medis. Gelang penanda utama
terdiri dari 2 warna yaitu warna Biru untuk pasien laki-laki dan warnah
merah muda untuk pasien perempuan. Sedangkan gelang penanda
tambahan terdiri dari 4 warna, yaitu: warna kuning digunakan pada
pasien yang memiliki resiko jatuh, gelang warna merah digunakan
pada pasien yang memiliki alergi dan gelang warna unggu untuk DNR
(Do Not Resusitation). Pada pergelangan tangan By. Ny. S telah
terpasang gelang pengenal utama berwarna pink yang berisi identitas
utama klien yaitu Nama, no. Rekam Medis dan tanggal lahir. By. Ny. S
terpasang gelang penanda tambahan berwarna kuning karena beresiko
jatuh.
b. Komunikasi efektif
Komunikasi efektif selalu digunakan oleh perawat ketika
berkomunikasi pada pasien atau keluarga, pada rekan sejawat ataupun
pada tenaga kesehatan lainnya. Komunikasi efektif digunakan untuk

7
mengurangi resiko kesalahfahaman yang mungkin dapat terjadi
sewaktu-waktu.
Komunikasi dengan rekan sejawat menggunakan komunikasi
langsung maupun tidak langsung dengan metode SBAR. Komunikasi
secara lisan melalui telepon menggunakan metode Tulis, Baca,
Konfirmasi, yang ditandai dengan stempel T-B-K dan divalidasi oleh
penerima perintah dan pemberi perintah di rekam medis pasien.
c. Pengelolaan High Alert Medication (HAM)
Penggunaan obat yang dilakukan oleh perawat sudah
menggunakan prinsip 6 benar yaitu benar pasien, benar obat, benar
cara pemberian, benar dosis, belum benar waktu, benar dokumentasi.
Akan tetapi ada beberapa obat yang harus diwaspadai.
Rumah sakit belum menyusun kebijakan dan/atau prosedur untuk
mengidentifikasi obat-obatan yang patut diwaspadai apa saja yang
dimiliki rumah sakit berdasarkan data yang ada. Rumah Sakit Nasional
Diponegoro juga belum menyusun Kebijakan dan/atau prosedur
penetapan bagian mana saja secara klinis memang memerlukan
elektrolit konsentrat sesuai bukti dan praktik profesional yang ada.
Selain itu RSND juga belum memiliki daftar obat-obatan nama dan
bentuk sediaan sama kekuatan sediaan berbeda yang biasa disebut
dengan LASA (Look Alike Sound Alike).
d. Safety Surgery (-)
Ketepatan operasi seperti benar dalam marking ketika pasien akan
dilakukan pembedahan sehingga tidak ada kesalahan dalam prosedur
operasi. Kecuali pada mukosa dan perinium. Pasien By. Ny. S tidak
menggunakan marking karena tidak akan dilakukan tindakan
pembedahan.
e. Pencegahan infeksi
Pencegahan infeksi pada RS Nasional Diponegoro dengan
menerapkan 5 moment dan 6 langkah cuci tangan. Pencegahan infeksi
pada pasien dengan menggunakan cuci tangan. Cuci tangan tidak
hanya diterapkan pada petugas kesehatan akan tetapi pada klien dan
juga keluarga klien. Namun masih banyak kendala dalam penerapan

8
moment cuci tangan diantaranya masih kurangnya gambar booklet/
poster cuci tangan di setiap ruang, belum ada pelatihan tentang hand
hygine, tim PPI sudah terbentuk dan melakukan pemantauan untuk
tindakan pencegahan infeksi yang ada di ruangan.
f. Pencegahan pasien jatuh
Resiko jatuh di ruangan dicegah dengan memperhatikan tempat
tidur pasien seperti menegakkan pembatas tempat tidur, memastikan
klien berada di box bayi atau berada di pengawasan orang tuanya,
selain itu juga terlihat dari penggunaan gelang tangan yang digunakan
oleh pasien dengan gelang tangan berwarna kuning yang menandakan
bahwa pasien memiliki resiko jatuh sehingga dapat menjadi perhatian
bagi perawat.
Pencegahan pasien jatuh dilakukan dengan mengidentifikasi pasien
dengan menggunakan penilaian resiko jatuh dengan skor dibawah ini :
Tabel skala jatuh Humpty Dumpty dapat dilihat dibawah ini :
Parameter Kriteria Nilai Skor

Usia < 3 Tahun 4 v

3 – 7 tahun 3

7 – 13 tahun 2

≥ 13 tahun 1

Jenis Kelamin Laki – laki 2

Perempuan 1 v

Diagnosis Diagnosis neurologi 4

Perubahan oksigenasi (diagnosis 3


respiratorik, dihaidrasi, anemia,
anoreksia, Sinkop, Pusing, dll

Gangguan prilaku / psikiatri 2

Diagnosis lainnya 1 v

Gangguan Tidak menyadari keterbatasan 3 v


Kognitif lainnya

9
Lupa akan adanya keterbatasan 2

Orientasi baik terhadap diri sendiri 1

Faktor Riwayat jatuh / bayi diletakkan 4


Lingkungan ditempat tidur dewasa

Pasien menggunakan alat bantu / 3 V


bayi diletakkan dalam tempat tidur
bayi / perabot rumah.

Pasien diletakkan pada tempat tidur 2

Area diluar rumah sakit 1

Pembedahan / Dalam 24 jam 3 V


sedasi/ anestesi

Dalam 48 jam 2

>48 jam dan tidak menjalani 1


pembedahan / sedasi / anastesi.

Penggunaan Penggunaan multiple sedative, obat 3


medika mentosa hypnosis, barbiturate, fenotiazi,
antidepresan, pencahar, diuretic,
narkose.

Penggunaan obat salah satu diatas 2

Penggunaan medikasi lainnya / 1 V


atau tidak ada medikasi.

Jumlah Skor Humpty Dumpty 16

Dengan ketentuan skala Humpty Dumpty dibawah ini :

Skor Penilaian Resiko jatuh (skor minimum 7, Skor maksimum 25)

· Skor 7 – 11 Resiko Rendah

· Skor ≥ 12 Resiko Tinggi

Berdasarkan hasil pengkajian resiko jatuh pada by. Ny S


didapatkan hasil yaitu masuk resiko jatuh tinggi dengan skor 16.

10
5. Prinsip Pengelolaan Pencegahan Infeksi Pada Pasien
Pengelolaan pencegahan infeksi bertujuan untuk menciptakan
lingkungan yang bersih aman dan nyaman sehingga dapat meminimalkan
atau mencegah terjadinya transmisi mikroorganisme dari lingkungan ke
pasien, petugas, pengunjung serta masyarakat sekitar rumah sakit dan
fasilitas kesehatan sehingga infeksi nosokomial dan kecelakaan kerja
dapat dicegah.Prinsip pengelolaan pencegahan infeksi seperti cuci tangan
dan pemakaian APD (Alat Pelindung Diri) di ruangan sudah cukup baik,
hal ini terlihat pada setiap kali melakukan tindakan.Perawat selalu
melakukan cuci tangan baik sebelum maupun sesudah kontak dengan
pasien maupun kontak dengan lingkungan pasien, baik mencuci tangan
dengan menggunakan cairan antiseptik maupun cuci tangan dengan
menggunakan sabun dan air yang mengalir.
Pencegahan infeksi pada RS Nasional Diponegoro dengan
menerapkan 5 moment dan 6 langkah cuci tangan. Pencegahan infeksi
pada pasien dengan menggunakan cuci tangan. Cuci tangan tidak hanya
diterapkan pada petugas kesehatan akan tetapi pada klien dan juga
keluarga klien. Selain cuci tangan, terdapat pencegahan infeksi dengan
cara menggunakan masker dan handscoon akan tetapi untuk fasilitas
masker di tempat umum belum ada dan belum ada poster cuci tangan di
wastafel sekitar ruang perawatan pasien. Penggunaan masker dan sarung
tangan atau handscoon diwajibkan setiap kali melakukan tindakan kepada
pasien, terutama pada pasien yang memiliki penyakit menular seperti
HIV/AIDS, TBC, Hepatitis, SARS ataupun lainnya. Resiko peningkatan
infeksi akan semakin tinggi jika pengelolaan pencegahan infeksi tidak
terlaksana dengan baik. Dalam hal ini tindakan perawat dalam melakukan
pengelolaan pencegahan infeksi di ruangan sudah cukup baik, sehingga
resiko untuk penularan atau peningkatan infeksi di ruang dapat diturunkan.

11
6. Kebutuhan Waktu Perawatan Pasien

Jenis Tindakan Keperawatan


Hari/
Jam Tindakan Keperawatan yang Dilaksanakan Tidak
Tanggal Langsung Kolaborasi
Langsung
Selasa, 19.00-19.05 Menerima pasien dari ruang operasi 15 menit
19
Septemb 20.00-20.10 Melakukan pengkajian 10 menit
er 2017 20.30.20.35 Mengobservasi reaksi non verbal 5 menit
20.45-20.55 Mendokumentasikan asuhan keperawatan 10 menit
21.00-21.10 Melakukan operan jaga 10 menit
Tidak
Langsung Kolaborasi
Langsung
Total Waktu = 50 menit 35 menit 0 menit
15 menit
(70%) (0%)
(30%)
Rabu, 20 14.00-14.20 Melakukan operan jaga 20 menit
Septemb
er 2017 15.00-15.10 Melakukan pengkajian 10 menit
15.10-15.15 Memonitor KU dan TTV (suhu 370C) 5 menit
15.15-15.20 Memberikan posisi yang nyaman 5 menit
15.30-15.40 Perawatan tali pusat 10 menit
16.00-16.15 Memandikan klien 15 menit
18.00-18.05 Memantau kondisi klien 5 menit
18.50.19.00 Mengobservasi reaksi non verbal 10 menit

12
19.20-19.40 Mendokumentasikan asuhan keperawatan 20 menit
19.50-20.05 Melakukan operan jaga 15 menit

Tidak
Langsung Kolaborasi
langsung
105 menit 0 menit
30 menit
(77.8 %) (0%)
Total Waktu = 115 menit (22.2 %)

Kamis, 07.00-07.10 Melakukan operan jaga 10 menit


21
Septemb 07.15-07.45 Melakukan pengkajian 30 menit
er 2017 07.45-07.50 Memonitor KU dan TTV (suhu 36,90C) 5 menit
07.50-07.55 Memberikan posisi yang nyaman 15 menit
08.15-08.30 Perawatan tali pusat 15 menit
09.00-09.05 Memandikan klien 15 menit
12.00-12.05 Memantau kondisi klien 5 menit
12.50.12.55 Mengobservasi reaksi non verbal 10 menit
13.30-13.40 Mendokumentasikan asuhan keperawatan 20 menit
14.00-14.10 Melakukan operan jaga 10 menit

Tidak
Langsung Kolaborasi
langsung
105 menit 0 menit
30 menit
(77.8 %) (0%)
Total Waktu = 135 menit (22.2 %)

13
Rekap waktu tindakan keperawatan yang dilakukan :
Hari Waktu tindakan keperawatan
Jadwal sift
perawatan yang dilaksanakan
1 Pagi 50 menit
2 Pagi 135 menit
3 Pagi 135 menit

Dari rekap tindakan keperawatan selama 3 hari perawatan klien yaitu


siftpagi, masing-masing memiliki waktu untuk shift siang pertama
dibutuhkan waktu 50 menit, sedangkan untuk shift siang kedua didapatkan
135 menit dan untuk sift pagi ketiga selama 135 menit.

7. Kebutuhan SDM
a. SDM yang diperlukan
Douglas (1984) dalam Swansburg (1999) tentang jumlah tenaga
perawat di rumah sakit mengungkapkan jumlah perawat yang dibutuhkan
pada pagi, sore dan malam tergantung pada tingkat ketergantungan pasien
seperti pada tabel berikut:
Klasifikasi Pasien
Jumlah
Minimal Parsial Total
Pasien
Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam
1 0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,30 0,20
2 0,34 0,28 0,14 0,54 0,30 0,20 0,72 0,60 0,40
3 0,51 0,42 0,21 0,81 0,45 0,30 1,08 0,90 0,60
Dst

Pada tanggal 19 September 2017 , jumlah pasien di Ruang


Chrysant ada 7 pasien dengan jumlah masing-masing tidak ada pasien
dengan minimal care, 5 pasien dengan partial care dan 2 pasien
dengan total care. Kebutuhan SDM minimal di masing-masing shift
yaitu dijabarkan sebagai berikut:

1) Pagi
Minimal care : 0 x 0,17 =0

14
Partial care : 5 x 0,27 = 1.35
Total care : 2 x 0,36 = 0,72
TOTAL SDM : 2.07 = 2 orang
2) Siang
Minimal care : 0 x 0,14 = 0
Partial care : 5 x 0,15 = 0.75
Total care : 2 x 0,30 = 0.6
TOTAL SDM : 1.35 = 2 orang
3) Malam
Minimal care : 0 x 0,07 = 0
Partial care : 5 x 0,10 = 0.50
Total care : 2 x 0,20 = 0,4
TOTAL SDM : 0.54 = 1 orang

Kebutuhan SDM dengan perhitungan Douglas, didapatkan hasil


minimal SDM pada shift pagi yaitu 2 orang, siang sebanyak 2 orang,
dan malam 1 orang. Pelaksanaannya, jumlah perawat di ruangan pada
shift pagi yaitu 5 orang, siang sebanyak 4 orang, dan malam 3-4 orang.
Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan di ruangan sudah sesuai
secara teori dan secara manajemen ruangan sudah mencukupi dan
SDM yang tersedia telah mampu menangani masalah yang ada pada
pasien.

b. Waktu yang diperlukan


Kebutuhan perawat per hari untuk pasien dengan tingkat
ketergantungan partial menurut Douglas yaitu 3-4 jam per 24 jam.
Dalam mengelola pasien pada by. Ny.S sudah dilakukan asuhan
keperawatan selama 1 x24 jam baik langsung, tidak langsung, Maupun
kolaborasi.

Secara langsung rincian perawatan yaitu:

15
No. Jenis Tindakan Banyaknya Durasi Total

1. Mengedukasi makan 1 5 menit 5 menit


sedikit tapi sering
2. Memberikan edukasi 2 5 menit 10 menit
perawatan bayi baru
lahir
3. Memandikan klien 3 15 menit 45 menit

4. Perawatan tali pusat 3 10 menit 30 menit

5. Tindakan monitoring 3 5 menit 15 menit


KU dan TTV
6. Injeksi 2 5 menit 10 menit

7. Visite dokter 3 15 menit 45 menit

Total 160 menit

Berdasarkan tindakan keperawatan yang dilakukan didapatkan total


waktu yang dilakukan terhadap pasien adalah 160 menit. Kebutuhan
waktu maksimal dan minimal pasien dengan tingkat ketergantungan
total care menurut Douglas (3-4 jam/24 jam):
Kebutuhan waktu perawatan minimal sift pagi:
0,36/0,86 x (5x 60 menit) = 125,57 menit
Kebutuhan waktu perawatan maksimal sift pagi:
0,36/0,86 x (6x 60 menit) = 150,69 menit
Kebutuhan waktu perawatan minimal sift siang :
0,30/0,86 x (5x 60 menit) = 104,65 menit
Kebutuhan waktu perawatan maksimal sift siang:
0,30/0,86 x (6x 60 menit) = 125,58 menit
Kebutuhan waktu perawatan minimal sift malam:
0,20/0,86 x (5x 60 menit) = 69,76 menit
Kebutuhan waktu perawatan maksimal sift malam:
0,20/0,86 x (6x 60 menit) = 83,72 menit

16
5 Kebutuhan Logistik
Tanggal
No Tindakan Logistik Total Penggunaan
19/09 20/09 21/09
1. Transfer IGD a. Pemeriksaan umum dokter 1 - - 1
b. Askep khusus 1 - - 1
c. Gelang pasien 1 - - 1
2. Rekam Medik 1 - - 1
a. Berkas RM
3. Tindakan a. Memasang infuse IGD - - - 0
Keperawatan IGD b. Pengambilan sampling darah - - - 0
4. Pemberian terapi obat a. Leukomed - - - 0
melalui IV line b. Infus RL - - - 0
c. IV Catheter 24 - - - 0
d. Spuit 5 cc 2 4 4 10
e. Infus set - - - 0
f. Spuit 3 cc - - - 0
g. Masker 2 1 1 4
h. Handscoon non steril 6 6 6 18
i. Resep administrasi (apotek) - - - 0
j. Bak instrument 1 1 1 3
k. Gunting 1 - - 1
l. Bengkok 1 - - 1
m. Kapas alkohol 3 3 3 9
4. Pemberian Obat a. Salofalk 500mg - - - 0

5. Pemeriksaan a. Darah rutin - - - 0


Laboratorium b. Widal - - - 0
6. Ruang Perawatan: a. Tempat tidur 1 1 1 3
(R. Melati) b. Sprei
c. Bantal
d. Sarung bantal

17
e. Selimut
f. Tiang infus
g. Handrub
h. Tong sampah
i. Penerangan + listrik
j. Kamar mandi/WC
k. Pispot
l. Kipas angina
7. Visit Dokter Spesialis Dokter Spesialis Anak 1 1 1 3
(dr. Tun R, Sp. A.)
8. Pemeriksaan TTV 1 1 1 3
Termometer
9. Tindakan a. Memberikan obat oral - - - 0
Keperawatan b. Mengecek suhu 3 3 3 9
c. Memasang infus - - - 0
d. Verbed (Sprei, sarung bantal, 1 - 1 2
sarung guling, selimut)
e. Edukasi keluarga klien 1 1 1 3
10. Pelayanan Gizi a. Asuhan Gizi - - - 0
b. Diet - - - 0

18
6 Biaya Perawatan Pasien
Tanggal Total
No Tindakan Logistik Biaya Satuan Total Biaya
19/9 20/9 21/9 Penggunaan
1. Pendaftaran Berkas RM 1 - - 1 Rp 10.000,00 Rp 10.000,00
2. Biaya obat dan 1 - - 1 Rp 55.400,00 Rp 55.400,00
Biaya obat dan alkes
alkes
3. Administrasi 1 1 1 1 Rp.50.000,00 Rp.50.000,00
Admin rawat inap
rawat inap
4. Rawat inap kelas 1 1 1 3 Rp 60.000,00 Rp 180.000,00
Kamar kelas III
III
5. Visit Dokter 1 1 1 3 Rp 65.000,00 Rp 195.000,00
Dokter Spesialis Anak
Spesialis
6. Perawatan tali 1 1 1 3 Rp. 10.000,00 Rp. 30.000,00
psat
7. Injeksi 2 - - 2 Rp 5.000,00 Rp 10.000,00
8. Memandikan bayi 1 1 1 4 Rp 10.000,00 Rp 40.000,00
9. Jasa pelayanan 1 1 1 3 Rp 35.000,00 Rp 105.000,00
kelas III
10. Tindakan 1 1 1 3 Rp 50.000,00 Rp 150.000,00
Keperawatan
TOTAL Rp 825.400,00

Biaya perawatan by. Ny S telah ditanggung oleh asuransi kesehatan yang diikuti oleh by. Ny.S yaitu JASKESMASKOT. Seluruh
total pembiayaan telah tertutup oleh JASKESMASKOT, sehingga keluarga by. Ny S tidak menambah biaya perawatan. Sebelumnya,
keluarga Ny.S telah mengurus persyaratan penggunaan JASKESMASKOT di RSND Semarang, yaitu mengumpulkan fotokopi KTP
dan Kartu JASKESMASKOT atas nama pasien masing-masing 3 lembar.

19
7 Kebutuhan Edukasi dan Evaluasi
a. Pengendalian Infeksi
Edukasi yang diberikan kepada by. Ny S dan keluarga adalah
pemberian informasi mengenai penyakit dan terapi yang diberikan
kepada Ny.S, serta pemberian informasi mengenai pencegahan infeksi
yaitu cuci tangan 6 langkah menggunakan handrub yang disediakan di
setiap depan pintu masing-masing kamar dan sabun cuci tangan yang
disediakan di setiap kamar di atas westafel. Keluarga juga dianjurkan
untuk memberikan makan makanan ASI eksklusif untuk by. Ny.S Saat
dilakukan evaluasi, keluarga klien mengatakan sudah menerapkan cuci
tangan dengan 6 langkah seperti yang sudah diajarkan setiap setelah
dan sesudah melakukan aktivitas. Keluarga juga mengatakan sudah
memberikan makanan sesuai anjuran.
b. Diit dan Obat-obatan
Klien bayi sehingga disarankan untuk mengkonsumsi ASI
eksklusif selama enam bulan tanpa makanan pendamping atau
tambahan susu formula. Ibu Klien dimotivasi untuk banyak minum,
terutama air putih. Klien juga dianjurkan makan buah dan sayuran
untuk memperlancar produksi ASI.
8 Discharge Planning
INDIKATOR
A. Tahap Pengkajian
Mengklarifikasi dan mengidentifikasi identitas klien untuk memastikan
kekurangan data yang diperoleh. Kemudian mengkaji tingkat pengetahuan klien
dan keluarga terkaitpenyakit yang terdiri dari penyebab dan tanda gejala penyakit,
serta penanganan yang dapat dilakukan oleh klien atau keluarga salah satunya
dengan mengonsumsi obat sesuai dosis dengan teratur.
B. Tahap Perencanaan
1. Memprediksi permasalahan kesehatan klien yang akan dihadapi saat klien
pulang
2. Melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk menyelesaikan
permasalahan klien (dokter, dokter spesialis, gizi, dll)
3. Menentukan rencana perawatan untuk mempersiapkan perawatan kesehatan
klien di rumah sesuai kebutuhan klien

20
4. Mencatat perencanaan/intervensi sesuai dengan kebutuhan klien dalam
pendokumentasian
C. Tahap Pelaksanaan
1. Medication (obat)
Klien tidak mendapatkan obat namun pemantauan keadaan klien sehingga perlu
kontrol setiap bulan sekali.
2. Environment (lingkungan)
by. Ny.S berusia 0 tahun, belum mampu untuk melakukan aktivitas sendiri,
sehingga dibantu dalam segala aktivitas dan memotivasi keluarga untuk
memodivikasi lingkungan yang aman untuk bayi.
3. Treatment (pengobatan)
Setelah kembali atau pulang dari rumah sakit, keluarga dijelaskan
untukperawatan bayi dirumah. Anjurkan keluarga untuk memantau ASI
eksklusif klien. Mengingatkan keluarga untuk melakukan kontrol sesuai jadwal.
Anjurkan keluarga untuk segera ke pelayanan kesehatan (dokter, puskesmas,
dll) saat by. Ny.S atau salah satu anggota keluarga lain ada yang mengalami
masalah kesehatan
4. Health Teaching (pengajaran kesehatan)
Menganjurkan keluarga untuk memperhatikan kesehatan dan asupan makanan
yang dikonsumsi oleh by. Ny.S agar tidak makan makanan sembarangan untuk
mencegah konstipasi agar tidak terjadi nasalah pencernaan pada bayi
5. Diet
Keluarga klien dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan
pertama.
D. Tahap Evaluasi
Setelah dilakukan pemberian pendidikan kesehatan singkat kepada klien terkait
masalah kesehatan by. Ny.S dan bagaimana menerapkan tindakan pencegahan
penyakit, keluarga klien mengatakan paham dan mengerti terhadap apa yang
disampaikan dan dijelaskan oleh perawat.

9 Survei Kepuasan Pasien


Kepuasan klien terhadap pelayanan di rumah sakit dinilai dari proses
wawancara yang dilakukan kepada keluarga klien. Keluarga klien

21
menyampaikan bahwa merasa puas atas pelayanan yang telah diberikan
untuk mengatasi masalah kesehatan yang diderita klien serta ucapan
terimakasih dari keluarga klien untuk dokter, perawat dan mahasiswa yang
telah merawat dan membantu hal-hal yang dibutuhkan klien dan keluarga
selama dirawat di Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang. Kepuasan
pasien juga di ketahui dari form ceklist kepuasan pasien yang diisi oleh
orang tua klien.

10 Komunikasi Interpersonal
Kebutuhan interpersonal yang dibutuhkan klien selama perawatan di
Rumah Sakit Diponegoro yaitu komunikasi kepada dokter spesialis (dokter
penanggung jawab pasien), ahli gizi dan petugas analisa laborat.
1. Advise yang diberikan oleh dokter spesialis (dr. Tun P, Sp.A) adalah
untuk menunggu peberian HBO saat 6-24 jam setelah bayi lahir
2. Advise dari ahli gizi yaitu diit hanya ASI

11 Hambatan dan Pendukung Proses Keperawatan Secara Manajerial


Analisa SWOT

STRENGHT WEAKNESS
- Jenis ketenagaan perawat hampir - Belum semua tindakan
sebagian masih muda dan perawat didokumentasikan di
semangat. status
- Pelaksanaan tugas dari kepala - Belum adanya pembagian
ruang sudah baik sebesar 85,71 % TIM karena tenaga yang
- Pelaksanaan tugas dari ketua TIM belum mencukupi untuk
sudah dilaksanakan dengan baik pembentukan TIM
- Adanya nursestation - Jumlah pasien yang masih
- Sudah ada model asuhan sedikit
keperawatan TIM - Belum adanya indicator mutu
- Model yang digunakan sesuai perawatan
dengan visi misi Rumah sakit. - Belum adanya form discart
- Terciptanya komunikasi yang planning di dokumentasi
cukup antar profesi pasien
- Memiliki standar asuhan - Masih terjadi miss
keperawatan communication saat ada
peraturan atau kebijakan baru

22
- Format pengkajian dan semua dirubah
arsip yang akan digunakan sudah - Lokasi rumah sakit yang
tersedia kurang strategis
- Kelengkapan pengisisan
dokumentasi perawat sudah baik
- Dokumentasi perawat yang
dilakukan yaitu dari pengkajian
sampai evaluasi
- Adanya standar dalam pemberian
intervensi.
OPPORTUNITY THREAT
- Adanya kerjasama yang baik - Adanya pesaingan global
antara ners dengan perawat klinik khusus perawat
- Adanya mahasiswa ners yang - Tingginya kesadaran
sedang praktik keperrawatan masyarakat efisien dalam
- Adanya kebijakan pemerintah pelayanan perawatan
tentang perawat - Persaingan antara rumah sakit
- RSND merupakan rumah sakit swasta yang semakin ketat
pendidikan yang baru berkembang - Adanya pertanggungjawaban
- Ruang perawatan yang nyaman legalitas
dan bersih. - Kurangnya promosi tentang
- Rumah sakit dengan konsep keunggulan pelayanan di
modern. RSND agar dikenal oleh
masyarakat luas.

D. Hambatan/Tantangan, Faktor Pendukung Dan Solusi Penyelesaian


Dalam Pengelolaan Pasien
a. Strenght
- Klien mengungkapkan semua keluhan yang dirasakan sehingga
pengobatan yang diberikan sesuai dengan kondisi klien
- Klien mengikuti semua anjuran yang diberikan perawatdan dokter
dalam segi pengobatan dan perawatannya.
- Perawatan yang diberikan pada klien sudah sesuai dengan SOP yang
ada.
- Pemberian obat-obatan baik injeksi maupun oral sudah sesuai dengan
prinsip pemberian obat dengan prinsip 6 benar.
b. Weakness
- Terkadang pemberian obat tidak sesuai dengan waktu yang seharusnya
diberikan

23
- Klien dan keluarga belum memahami tentang penyakit yang diderita
oleh by. Ny.S
c. Opportunity
Adanya dokter spesialis anak yang menangani klien sehingga
pengobatannya bisa terfokus.
d. Threat
Sudah dilakukan Hand over dari OK ke ruangan, setelah klien kembali
keruang perawatan. Hal ini membuat pemberian terapi post tindakan dapat
segera di berikan pada klien sesuai advise dokter.
e. Solusi dalam menyelesaikan masalah
1) Penggunaan hand over dengan metode SBAR dan setelah klien keluar
dari OK, catatan medisnya juga ikut dikembalikan diruangan.
2) Memberikan edukasi klien dan keluarga tentang penyakit yang diderita
oleh klien.
3) Meminta keluarga untuk memberikan dukungan kepada keluarga
tentang perawatan dan pemberian terapi yang teratur.

24