Está en la página 1de 13

ANALISA PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP

KETERSEDIAAN DEBIT ALIRAN SUNGAI DI SUB DAS KALI BODO


KABUPATEN MALANG DENGAN MODEL SMALL WATERSHED MONTHLY
HYDROLOGIC MODELING SYSTEM (SWMHMS)

Anissa Leonita Agung Rizkiana1, Donny Harisuseno 2, Ussy Andawayanti2


1
Mahasiswa Program Sarjana Teknik Jurusan Pengairan Universitas Brawijaya
2
Dosen Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
1
Email: anissaleonitarizkiana@gmail.com

ABSTRAK
Meningkatnya intensitas hujan serta perubahan penggunaan lahan ditengarai sebagai faktor
utama penyebab banjir yang sering terjadi. Dalam upaya meminimalisir resiko banjir, perlu
diadakan kajian atau analisa dampak yang ditimbulkan oleh suatu komponen ekosistem
terhadap komponen ekosistem lainnya. Analisa pengaruh perubahan lahan terhadap
ketersediaan debit aliran sungai serta penggunaan suatu model dapat digunakan bentuk
perencanaan pengelolaan Sub DAS Kali Bodo sehingga didapatkan kondisi di kawasan Sub
DAS Kali Bodo yang layak secara hidrologis. Penelitian ini menggunakan model Small
Watershed Monthly Hydrologic Modeling System (SWMHMS) dengan menggunakan 6
parameter berupa AWC, CN, IRAC, PERCCOEF, SC, dan SYC yang dihasilkan dengan cara
trial and error. Tingkat keakurasian pada perhitungan debit hasil pemodelan SWMHMS
kondisi eksisting dihasilkan berdasarkan uji Nash Sutcliffe, uji F, dan uji determinasi.
Berdasarkan hasil simulasi model menjadi 6 skenario penggunaan lahan, dapat disimpulkan
bahwa kondisi Sub DAS Kali Bodo saat ini masih layak secara hidrologis berdasarkan
nilai Koefisien Regim Sungai (KRS) yang merupakan perbandingan antara nilai debit
maksimum terhadap debit minimum masih tergolong dalam kelas Baik.
Kata kunci: Model SWMHMS, Perubahan Penggunaan Lahan, Debit Aliran Sungai

ABSTRACT
The increased of the intensity of rainfall and land use changes are the main factors caused
frequent flooding. In an effort to minimize the risk of flooding, it is necessary to manage the
impact caused by an ecosystem component to other ecosystem components. Analysis the effect
of land changes towards the availability of river flow discharge and the use of a model can be
used form of management planning of Sub Watershed Bodo to obtain conditions in the area of
Sub Watershed Bodo is feasible hydrologically. This study uses the model of Small Watershed
Monthly Hydrologic Modeling System (SWMHMS) using 6 parameters of AWC, CN, IRAC,
PERCCOEF, SC, and SYC generated by trial and error. The level of accuracy in the
SWMHMS modeling calculation results of existing conditions is generated based on Nash
Sutcliffe test, F test, and test of determination. Based on the results of model simulation into 6
land use scenarios, it can be concluded that the condition of Kali Bodo Sub DAS is still
feasible hydrologically based on River Regression Coefficient value (KRS) which is the ratio
between the maximum discharge value to the minimum discharge is still classified in the Good
class.
Keywords: SWMHMS Model, Land Use Change, River Flow Discharge
PENDAHULUAN berbeda dengan menggunakan beberapa
Indonesia memiliki kecenderungan skenario perubahan iklim.
mengalami musim kemarau yang lebih Mao dan Cherkauer (2009) meneliti
panjang dan musim hujan yang lebih dampak perubahan penggunaan lahan
pendek dengan curah hujan yang berubah terhadap respon hidrologi di cekungan
secara drastis sehingga akan berdampak Great Lakes menggunakan Model
pada kuantitas dan kualitas dari Kapasitas Variabel Infiltrasi (VIC).
ketersediaan sumber daya alam. Parameter yang digunakan pada penelitian
Meningkatnya intensitas hujan serta tersebut adalah perubahan rata-rata
perubahan penggunaan lahan ditengarai Evapotranspirasi (ET), limpasan total,
sebagai faktor utama penyebab banjir. kelembaban tanah dan air salju (SWE)
Dalam upaya meminimalisir resiko banjir, dalam kurun waktu 20 tahun.
perlu diadakan pengelolaan DAS sebagai TA Kimaro (2006) meneliti pengaruh
bentuk solusi permasalahan maupun perubahan penggunaan lahan terhadap
sebagai antisipasi kejadian jangka karakteristik banjir di Jepang
panjang, sehingga diperlukan analisa menggunakan model hidrologi
mengenai dampak yang ditimbulkan oleh terdistribusi. Data penggunaan lahan
suatu komponen ekosistem terhadap Model hidrologi terdistribusi berdampak
komponen ekosistem lainnya, seperti pada proses infiltrasi. Pada model
aktivitas manusia terhadap respon sungai. infiltrasi dan proses routing dengan
Ambika Khadka (2012) melakukan berbasis DEM dan Model gelombang
analisa dengan Model SWAT untuk kinematik, menunjukkan peningkatan
memprediksi dampak perubahan hidrograf banjir, debit puncak dan waktu
penggunaan lahan pada limpasan banjir yang akan berdampak pada
permukaan, infiltrasi, dan debit puncak di karakteristik banjir di wilayah tersebut.
sub DAS Xinjiang, China dengan 6 Sedangkan pada penelitian ini
skenario penggunaan lahan. Hasil dari bertujuan untuk mengetahui hasil
penelitian tersebut adalah bahwa perubahan penggunaan lahan di Sub DAS
keberadaan hutan pada suatu DAS sangat Kali Bodo Kabupaten Malang terhadap
mempengaruhi besar debit puncak pada ketersediaan debit aliran sungai dengan
saat musim hujan. mensimulasikan perubahan tata guna
Berdasarkan analisa yang dilakukan lahan pada wilayah tersebut.
oleh V. Bogdanets (2015) di Ukraina
menggunakan Analisa Spasial (GIS) METODE PENELITIAN
terdapat perubahan Regim Aliran Sungai  Lokasi Penelitian
yang terjadi di zona pesisir dilihat dari Lokasi studi berada di Sub DAS Kali
kondisi tutupan lahan pada daerah yang Bodo Kabupaten Malang dengan letak
dekat dengan garis pantai mengalami geografis 7o47’8,50" - 7o55’13,39" LS dan
fluktuasi ketersediaan air tanah yang lebih 112o35’15,52" - 112o39’45,23" BT dan
tinggi. letak pos AWLR Kali Bodo di desa
G. S. Dwarakish (2015) melakukan Banjar Arum, kecamatan Singosari pada
penelitian mengenai dampak hidrologi di 07°54'34"LS - 112°39'36"BT. Sub DAS
daerah tangkapan air dengan karakteristik Kali Bodo memiliki luas wilayah 67,68
penggunaan lahan dan kondisi iklim yang km². Pada Gambar 1 menunjukkan peta
Sub DAS Kali Bodo.
AWLR

Gambar 1. Peta Sub DAS Kali Bodo


 Data yang dibutuhkan 10.Peta Batas Daerah Aliran Sungai
Data-data yang dibutuhkan dalam  Tahapan Analisa
analisa ini adalah : 1.Menyiapkan data yang dibutuhkan
1. Data hujan harian selama 10 tahun 2.Analisa Hidrologi
(Tahun 2006-2015) a. Uji Konsistensi dengan Kurva
2. Data suhu udara selama 3 tahun Massa Ganda
(Tahun 2013-2015) b. Analisa curah hujan rerata
3. Data debit AWLR selama 3 tahun menggunakan metode Poligon
(Tahun 2013-2015) Thiessen
4. Dokumen RTRW Kabupaten Malang 3. Menentukan besar parameter Sub DAS
5. Peta administrasi Kabupaten Malang yang akan digunakan dalam pemodelan
6. Peta jenis tanah Sub DAS Kali Bodo SWMHMS
7. Peta penggunaan lahan Kabupaten 4. Kalibrasi Model SWMHMS
Malang menggunakan data debit terukur
8. Peta RTRW Kabupaten Malang selama 3 tahun (Tahun 2013-2015)
9. Peta lokasi stasiun hujan dan 5. Simulasi Model SWMHMS menjadi
klimatologi Sub DAS Kali Bodo beberapa skenario penggunaan lahan
 Penentuan Besar Parameter Sub Jika curah hujan harian lebih besar dari
DAS IRA maka besar limpasan permukaan dapat
Penentuan besar parameter dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
(Parameterisasi) Sub DAS Kali Bodo RUNOFF = (4)
dilakukan dengan cara coba-coba dengan
mempertimbangkan kondisi hidrologi Sub RUNOFF = Besarnya limpasan permukaan
DAS Kali Bodo hingga didapatkan besar harian (inchi)
debit aliran sungai hasil Model SWMHMS RAINFALL=Besarnya presipitasi (curah
(Qmodel) mendekati besar debit aliran sungai hujan) harian (inchi)
hasil pengamatan (Qobs). 2. Intersepsi Tanaman (INTCP)
 Model SWMHMS merupakan bagian dari presipitasi (curah
Besar parameter Sub DAS yang hujan) yang tertahan oleh permukaan
dihasilkan dengan cara coba-coba vegetasi. Pendekatan yang digunakan
digunakan untuk menghitung besarnya dalam Model SWMHMS untuk
komponen – komponen Model SWMHMS, menghitung kehilangan intersepsi yaitu:
diantaranya: Jika RAINFALL > IRA, maka:
1. Limpasan Permukaan (RUNOFF) INTCP = (1-IRAC) x IRA .... (5)
Perhitungan besarnya limpasan Jika RAINFALL IRA, maka:
permukaan menggunakan metode Soil INTCP = (1-IRAC) x RAINFALL (6)
Conservation Service (SCS), dengan rumus Dengan IRAC merupakan koefisien
– rumus sebagai berikut : IRA yang membagi curah hujan menjadi
SMX = 10.............. ..... ..(1) intersepsi tanaman /permukaan dan
infiltrasi.
S = SMX × ... (2) 3. 3. Infiltrasi (INFIL)
Jumlah curah hujan yang tidak dibagi
dengan : menjadi limpasan permukaan ataupun
CN = Bilangan kurva intersepsi akan meresap kedalam tanah.
SMX = Curah hujan (retensi) maksimum di Besarnya infiltrasi harian dapat ditentukan
bawah kondisi kering (inchi) dengan cara di bawah ini:
TWC = Total kapasitas air (total water Jika RAINFALL > IRA, maka:
capacity) pada tanah atau sama INFIL=(RAINFALL–RUNOFF)–INTCP (7)
dengan jumlah kapasitas air yang Jika RAINFALL IRA, maka:
tersedia (inchi) INFIL=IRAC × RAINFALL (8)
AW = Jumlah air (available water) yang 4. 4. Evapotranspirasi Aktual (AET)
terdapat didalam tanah (inchi) Perhitungan evapotranspirasi aktual
S = Curah hujan yang bergantung pada harian dapat diselesaikan dengan rumus
kondisi kelembaban tanah (retensi) sebagai berikut :
(inchi) jika > 1 maka:
Dilanjutkan dengan menghitung besar
limpasan permukaan. Limpasan permukaan
tidak akan terjadi jika besarnya curah hujan AWP = × 100 atau AWP = 100, (10)
harian kurang dari jumlah nilai total
kapasitas intersepsi dan infiltrasi (IRA) .
IRA = 0,2 × S (3) F = (11)
F = Koefisien evapotranspirasi IGSJ = IGSJ-I + PERC – BSFL (16)
AWP = Presentase air yang terdapat di IGSJ-I = Jumlah air yang disimpan pada hari
dalam tanah (%) sebelumnya (inchi)
AET = F × (DPET I,K – INTCP) (12) 9. Total Limpasan (TRUNOFF)
5. Perkolasi (PERC) Pada akhirnya, jumlah limpasan
Perkolasi dari zona tampungan lengas permukaan dan aliran dasar digunakan
tanah ke tampungan airtanah hanya terjadi untuk menentukan harga harian dari total
dalam keadaan kelembaban tanah, dimana limpasan pada DAS :
TWC AW AWC, sehingga perkolasi TRUNOFF = RUNOFF + BSFL (17)
dapat dihitung dengan persamaan sebagai TRUNOFF = Total limpasan pada DAS
berikut : (inchi)
PERC = PERCCOEF × (AW –AWC) (13)  Kalibrasi Model
PERC = Perkolasi (inchi) Kalibrasi Model SWMHMS dilakukan
PERCCOEF = Koefisien perkolasi untuk menetapkan nilai parameter ataupun
AW = Jumlah air yang terdapat di koefisien Model SWMHMS yang paling
dalam tanah (inchi) cocok digunakan di lokasi studi dengan
6. Neraca Air (Water Balance) data masukan pada tahun tertentu.
Jumlah air yang disimpan pada zona Kalibrasi Model dilakukan dengan
tampungan tanah ditingkatkan melalui menghitung besar debit aliran sungai Bodo
infiltrasi dan diturunkan melalui selama 3 tahun (2012-2015) kemudian
evapotraspirasi dan perkolasi. Maka, pada membandingkan hasil tersebut dengan data
tahap ini perhitungan neraca air debit terukur yang didapatkan dari
menggunakan persamaan sebagai berikut : pencatatan AWLR sungai Bodo pada tahun
AWJ =AWJ-1 + INFIL - AET - PERC (14) 2012-2015.
AWJ-1 = Jumlah air tanah yang tersedia pada  Analisa Tingkat Keakurasian data
hari sebelumya pada Pemodelan SWMHMS
J = Jumlah hari Analisa tingkat keakurasian dilakukan
7. Aliran Dasar (BSFL) dengan tujuan menentukan keakurasian
Pada dasarnya, Model SWMHMS data debit yang dihasilkan dari pemodelan
tidak membedakan antara aliran antara dan SWMHMS. Analisa dilakukan dengan 3
tampungan airtanah yang bergerak menjadi tahapan sebagai berikut:
aliran dasar. Perhitungan aliran dasar harian 1. Uji F
dapat dihitung dengan persamaan sebagai Perhitungan uji F dengan klasifikasi
berikut : satu arah digunakan untuk menguji derajat
BSFL = SC × IGS (15) perbedaan nyata antara Qmod dengan Qobs,
BSFL = Besaranya aliran dasar (inchi) dengan persamaan sebagai berikut:
SC = Koefisien aliran dasar yang
mengatur pergerakan air dari .... (18)
tampungan air tanah
8. Tampungan Air Tanah/Aliran Antara dengan:
(IGS) S1 = deviasi standar sampel ke-1
Jumlah air yang disimpan pada S2 = deviadi standar sampel ke-2
tampungan ini ditingkatkan oleh perkolasi n1 = jumlah sampel kelompok ke-1
dan diturunkan oleh aliran dasar. Sehingga n2 = jumlah sampel kelompok ke-2
pada tahap ini neraca air pada tampungan Hipotesis nol diterima pada derajat
airtanah menggunakan persamaan sebagai kepercayaan a % dan variabel hidrologi
berikut :
yang diuji mempunyai nilai rata-rata yang 2. Skenario 2
sama. Hipotesis nol ditolak jika nilai F > Simulasi berdasarkan UU No. 41 Tahun
Fc. 1999 tentang kehutanan yaitu luas area
2. Uji Nash Sutcliffe kehutanan yang harus dijaga sebesar 30%.
Uji Nash Sutcliffe dilakukan 3. Skenario 3
berdasarkan persamaan sebagai berikut: Simulasi dilakukan dengan merubah area
tegalan menjadi luas lahan hutan di kawasan
(19) Sub DAS Kali Bodo sebesar 25% dari total
luas Sub DAS.
dimana: 4. Skenario 4
ENs = koefisien Nash-Sutcliffe Simulasi dilakukan dengan merubah luas
Qmod = Debil hasil pemodelan (m3/dtk) lahan hutan di kawasan Sub DAS Kali Bodo
Qpengamatan = Debit pengamatan (m3/dtk) menjadi 20% dari total luas Sub DAS.
= Rata-rata debit pengamatan Simulasi dilakukan dengan memanfaatkan
area tegalan.
Kategori berdasarkan nilai ENS adalah 5. Skenario 5
sebagai berikut : Simulasi dilakukan dengan merubah luas
 Layak jika ENS > 0,75 lahan hutan di kawasan Sub DAS Kali Bodo
 Memuaskan jika 0,75 > ENS > 0,36 menjadi 15% dari total luas Sub DAS.
 Kurang memuaskan jika ENS < 0,36 Simulasi dilakukan dengan memanfaatkan
3. Uji Determinasi area tegalan.
Uji determinasi dilakukan untuk 6. Skenario 6
mengetahui besar koefisien determinasi Simulasi dilakukan dengan merubah luas
atau koefisien penentu yang dapat lahan sawah di kawasan Sub DAS Kali Bodo
menunjukkan perbedaan varian dari data menjadi 50% dari total luas Sub DAS.
Simulasi dilakukan dengan memanfaatkan
pengamatan dengan data hasil pendugaan.
area tegalan.
Besar koefisien determinasi ditentukan
dengan rumus sebagai berikut:  Perhitungan Nilai Koefisien Regim
Sungai (KRS)
(20) Perhitungan koefisien regim sungai
dengan: (KRS) dilakukan untuk mengetahui kondisi
R2 = koefisien determinasi Sub DAS Kali Bodo secara hidrologis.
Xi = debit pemodelan (m3/dtk) Perhitungan dilakukan dengan menentukan
Yi = debit terukur (m3/dtk) perbandingan besar debit maksimum
X = debit rata- rata pemodelan (m3/dtk) terhadap debit minimum, sehingga
Y = debit rata-rata terukur (m3/dtk) didapatkan besar KRS. Klasifikasi nilai
KRS sesuai dengan Peraturan Dirjen
 Simulasi Model
Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial:
Simulasi model dilakukan untuk
KRS = (21)
mengetahui besar pengaruh yang perubahan
tata guna lahan terhadap ketersediaan debit
aliran sungai. Smilusi dilakukan dengan Tabel 1. Tabel Nilai KRS
No. Nilai KRS Kelas Skor
merubah pola tata guna lahan menjadi 6
1. < 50 Baik 1
skenario sebagai berikut:
2. 50 – 120 Sedang 3
1. Skenario 1
3. > 120 Jelek 5
Simulasi berdasarkan Rencana Tata
Sumber : Peraturan Dirjen Rehabilitasi Lahan
Ruang Wilayah Kabupaten Malang Tahun
dan Perhutanan Sosial Nomor : P.04/V-
2010-2030.
SET/2009
HASIL DAN PEMBAHASAN Stasiun Hujan Ngujung. Data yang
 Analisa Hidrologi digunakan adalah data tahun 2006 – 2015.
1. Uji Konsistensi Nilai curah hujan digunakan untuk
Uji konsistensi dilakukan untuk menguji menghitung besar debit sungai Kali Bodo
kebenaran data lapangan. Data yang yang akan pada proses pemodelan
digunakan dalam studi ini adalah curah hujan SWMHMS.
tahunan dari 4 stasiun hujan berpengaruh  Penentuan Parameter Sub DAS Kali
terhadap kawasan Sub DAS Kali Bodo sesuai Bodo dengan model SWMHMS
Peta Polygon Thiessen Sub DAS Kali Bodo, Berdasarkan hasil penentuan parameter
yaitu Stasiun Hujan Karangploso, Stasiun Sub DAS Kali Bodo dengan cara coba-coba
Hujan Singosari, Stasiun Hujan Temas dan didapatkan hasil AWC = 0,370 ; CN =
Stasiun Hujan Ngujung. Data yang 77,658 ; IRAC = 0,597 ; PERCCOEF =
digunakan adalah data tahun 2006 – 2015. 0,545 ; SC = 0,0055 dan SYC = 31,496.
Dari hasil analisa kurva massa ganda di Hasil parameterisasi tersebut dianggap
semua stasiun hujan yang digunakan tidak mampu menghasilkan debit yang paling
ditemukan terjadinya penyimpangan data mendekati dengan hasil debit terukur.
sehingga tidak diperlukan faktor koreksi data.  Kalibrasi Model
Hal ini berarti data hujan yang digunakan Kalibrasi Model dilakukan dengan
adalah konsisten dan dapat digunakan untuk menghitung besar debit aliran sungai Bodo
analisa selanjutnya. selama 3 tahun (2012-2015) dan
2. Analisa Curah Hujan Rerata membandingkan data tersebut dengan data
Data yang digunakan dalam studi ini debit terukur yang didapatkan dari pencatatan
adalah curah hujan harian dari 4 stasiun hujan AWLR sungai Bodo pada tahun 2012-2015).
yaitu: Stasiun Hujan Karangploso, Stasiun Hasil kalibrasi model ditunjukkan pada
Hujan Singosari, Stasiun Hujan Temas dan gambar 2.
200

160

120

80

40

Gambar 2. Hasil Kalibrasi Model SWMHMS Terhadap debit Pengukuran Hasil Pencatatan
AWLR
Berdasarkan gambar tersebut dapat Sub DAS Kali Bodo hasil pengamatan
diketahui jika pada tahap kalibrasi model identik dengan hasil perhitungan dengan
didapatkan hasil pola debit aliran sungai model SWMHMS.
 Analisa Tingkat Keakurasian data Dari uji determinasi didapatkan nilai
pada Pemodelan SWMHMS R2 = 0,889 atau sebesar 88,9%. Hal
1. Uji F tersebut menunjukkan bahwa bertambah
Berdasarkan hasil uji F diperoleh Fc besar atau menurunnya debit pengamatan
= 1,765 dan karena F = 0,0395 (F<Fc) dapat dijelaskan oleh hubungan linier
maka H0 (hipotesis nol) diterima. Dengan antara debit hasil pemodelan SWMHMS
kata lain dapat dinyatakan bahwa debit dengan debit pengamatan, sedangkan
hasil pemodelan identik dengan debit 11,1% nya disebabkan oleh faktor lain yang
hasil pengamatan. tidak dijelaskan oleh uji determinasi
2. Menghitung Uji Nash Sutcliffe tersebut.
Berdasarkan hasil perhitungan  Simulasi Model
didapatkan nilai koefisien Nash Sutcliffe Berdasarkan hasil simulasi model
sebesar 0,602, maka dapat dikatakan jika SWMHMS menjadi 6 skenario perubahan
debit hasil pendugaan dengan model penggunaan lahan didapatkan hasil sebagai
SWMHMS identik dengan debit berikut:
pengamatan dengan kategori memuaskan.
3. Menghitung Koefisien Determinasi
200

150

100

50

Gambar 3. Grafik rekapituasi hasil simulasi debit aliran sungai Bodo dengan model
SWMHMS
Berdasarkan grafik tersebut terjadi  Perhitungan Nilai KRS
perubahan debit aliran sungai yang tidak Berdasarkan hasil analisa perubahan
terlalu signifikan. Perubahan tata guna penggunaan lahan didapatkan nilai KRS yang
lahan dengan kondisi berdasarkan UU No. terkecil adalah kondisi perubahan tata guna
41 Tahun 1999 dianggap sebagai skenario lahan berdasarkan UU No. 41 Th. 1999
terbaik, yaitu dengan merubah luas tata dengan nilai KRS 4,357 dengan nilai debit
guna luhan area hutan menjadi 30%. maksimum 144,055 m3/dtk dan debit
minimum 33,059 m3/dtk. Nilai KRS tersebut
ditabulasikan pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil perhitungan nilai Koefisien Regim Sungai (KRS)
Debit Maksimum Debit Minimum
No Skenario CN KRS
(m3/dtk) (m3/dtk)
1 Kondisi Eksisting 77,658 145,095 31,125 4,662
2 Kondisi RTRW 77,659 146,087 31,674 4,612
3 Kondisi UU No. 41 Th. 1999 76,784 144,055 33,059 4,357
4 Kondisi Skenario 3 76,833 143,690 32,711 4,393
5 Kondisi Skenario 4 77,483 145,729 31,911 4,567
6 Kondisi Skenario 5 77,383 144,715 31,684 4,567
7 Kondisi Skenario 6 80,587 157,499 28,726 5,483
Nilai KRS yang rendah pada kondisi hasil pendugaan parameter dengan cara
UU No. 41 Th. 1999 tersebut dipengaruhi coba-coba sesuai dengan kondisi eksisting,
oleh jenis tata guna lahan berupa Hutan nilai parameter Model SWMHMS untuk
30% yang berdampak pada daya resap air Sub DAS Kali Bodo adalah AWC =
ke dalam tanah yang semakin besar pula, 0,370 ; CN = 77,658 ; IRAC = 0,597 ;
sehingga pada saat musim penghujan besar PERCCOEF = 0,545 ; SC = 0,0055 dan
limpasan yang terjadi akan semakin kecil. SYC = 31,496.
Pada skenario 3 dengan perubahan tata 2. Tingkat keakurasian pada perhitungan
guna lahan pada area hutan sebesar 25% debit hasil pemodelan SWMHMS kondisi
dilakukan dengan mengurangi luas area eksisting ditunjukkan dengan besar nilai
tegalan sehingga luas area tegalan menjadi yang dihasilkan dari uji Nash Sutcliffe
seluas 31,849%. Perubahan dengan adalah 0,602 ; Uji F < Fc yaitu 0,0395 <
skenario 4 dan 5 dilakukan dengan 1,765 dan nilai yang dihasilkan dari uji
merubah luasan hutan menjadi 20% dan determinasi sebesar 88,9 %.
15% dengan mengurangi luas area tegalan. 3. Komponen neraca air yang dihasilkan
Pada skenario 4 dan 5 terjadi kenaikan Model SWMHMS terdiri dari P (Hujan),
Nilai KRS sebesar 0,174. Sedangkan untuk AET (Evapotranspirasi Aktual), RUNOFF
perubahan tata guna lahan dengan nilai (Limpasan), BSFL (Aliran dasar), dan Q
KRS terbesar yaitu 5,483 adalah pada (Debit aliran sungai). Pada kondisi
skenario 6 yaitu dengan merubah luas area eksisting didapatkan besar komponen
sawah menjadi 50% dengan memanfaatkan neraca air Model SWMHMS secara
area tegalan. komulatif yaitu : P = 216,131 inchi ;
Selanjutnya adalah menentukan AET = 31,777 inchi ; RUNOFF =
klasifikasi nilai KRS berdasarkan Peraturan 35,542 inchi ; BSFL = 89,358 inchi ; Q
Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan = 2485,058 m3/detik.
Sosial. Berdasarkan hasil klasifikasi 4. Berdasarkan hasil analisa perubahan
tersebut kondisi eksisting Sub DAS Kali tata guna lahan di kawasan sub DAS Kali
Bodo termasuk kedalam kelas Baik dengan Bodo dapat dilihat bahwa besarnya
nilai KRS 4,662 atau kurang dari 50. perubahan debit aliran sungai yang terjadi
tidak terlalu signifikan, hal ini dapat dilihat
KESIMPULAN dari nilai KRS tiap skenario yang tidak
Berdasarkan seluruh tahapan pada berbeda jauh. Perubahan tata guna lahan
penyusunan tugas akhir ini, dapat dengan kondisi berdasarkan UU No. 41
diberikan kesimpulan sebagai berikut : Tahun 1999 dianggap sebagai skenario
1. Model SWMHMS mengandung terbaik, yaitu dengan merubah luas tata
parameter-parameter AWC, CN, IRAC, guna luhan area hutan menjadi 30% dengan
PERCCOEF, SC dan SYC. Berdasarkan memanfaatkan area tegalan dan
menghasilkan nilai KRS 4,357. Pada Civil Engineering and the Built
kondisi eksisting Sub DAS Kali Bodo saat Environment.http://www.jsnds.org/jnd
ini masih tergolong layak secara hidrologis s/27_2_6.pdf
berdasarkan hasil klasifikasi nilai KRS
sebesar 4,662 yang termasuk kedalam kelas
Baik.

DAFTAR PUSTAKA
Khadka, Ambika. 2012. Analysis of land
use changes using SWAT. USA: Yale
Tropical Resources Institute.
https://environment.yale.edu/tri/fellow/
1607/
Dwarakish, G.S. 2015. Impact of land use
change on hydrological systems: A
review of current modeling
approaches.India.http://www.tandfonli
ne.com/doi/full/10.1080/23312041.201
5.1115691
Allred, B. & Haan, C.T. 1996. SWMHMS –
Small Watershed Monthly Hydrologic
Modelling System. USA: American
Water Resources Association.
http://www.researchgate.net/publicatio
n/227587484
Departemen Kehutanan. 2009. Peraturan
Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan
dan Perhutanan Sosial tentang
Pedoman Monitoring dan Evaluasi
Daerah Aliran Sungai. Jakarta. Jurnal
Departemen Kehutanan
Mao & Cherkauer. 2009. Evaluating the
impacts of land use changes on
hydrologic responses in the
agricultural regions of Michigan and
Wisconsin. USA:Department of
Biosystems & Agricultural
Engineering, Michigan State
University, East Lansing, USA.
http://www.hydrol-earth-syst-sci-
discuss.net/hessd-8-C1692-2011
TA Kimaro. 2006. Distributed hydrologic
simulations to analyze the impacts of
land use changes on flood
characteristics in the Yasu River basin
in Japan. Jepang: Water Resources
Engineering Department, Faculty of
ANALISA PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN
TERHADAP KETERSEDIAAN DEBIT ALIRAN SUNGAI DI SUB DAS
KALI BODO KABUPATEN MALANG DENGAN MODEL SMALL
WATERSHED MONTHLY HYDROLOGIC MODELING SYSTEM
(SWMHMS)

JURNAL
TEKNIK PENGAIRAN KONSENTRASI
PEMANFAATAN DAN PENDAYAGUNAAN
SUMBER DAYA AIR

Ditujukan untuk memenuhi persyaratan


memperoleh gelar Sarjana Teknik

ANISSA LEONITA AGUNG RIZKIANA


NIM. 125060401111019

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
MALANG
2017
LEMBAR PENGESAHAN

ANALISA PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN


TERHADAP KETERSEDIAAN DEBIT ALIRAN SUNGAI DI SUB DAS
KALI BODO KABUPATEN MALANG DENGAN MODEL SMALL
WATERSHED MONTHLY HYDROLOGIC MODELING SYSTEM
(SWMHMS)

JURNAL
TEKNIK PENGAIRAN KONSENTRASI
PEMANFAATAN DAN PENDAYAGUNAAN
SUMBER DAYA AIR

Ditujukan untuk memenuhi persyaratan


memperoleh gelar Sarjana Teknik

Disusun Oleh:
ANISSA LEONITA AGUNG RIZKIANA
NIM. 125060401111019

Jurnal ini telah direvisi dan disetujui oleh dosen pembimbing


pada tanggal 08 Juni 2017

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. Eng. Donny Harisuseno, ST., MT. Dr. Ir. Ussy Andawayanti, MS.
NIP. 19750227 199903 1 001 NIP. 19610131 198609 2 001
Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Pengairan

Ir. Moch. Sholichin, MT., Ph.D.


NIP. 19670602 199802 1 001