Está en la página 1de 3

Aksiologi Dalam Perspektif Islam

Kata “ilmu” secara etimologis dalam berasal dari bahasa Arab (‫ )علم‬mengandung arti mengetahui,
mengenal memberi tanda dan petunjuk yang berantonim dari makna naqid al-jahl (tidak tahu).
Karena itu, dipahami bahwa ilmu adalah sebagai suatu pengetahuan secara praktis yang dipakai
untuk menunjuk pada pengetahuan sistematis tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan
subyek tertentu.

Untuk lebih jelasnya, perlu pula dikemukakan beberapa pendapat tentang pengertian ilmu secara
terminologi. Dalam hal ini menurut John Ziman menyatakan bahwa ilmu adalah kajian tentang dunia
material yang memiliki obyek tertentu. Pengertian ini mengindikasikan bahwa ilmu memiliki batasan
tertentu yang harus dikelolah sehingga bermuara pada suatu pengetahuan tentang sesuatu.
Selanjutnya menurut Al-Qadhi ‘Abd. al-Jabbar bahwa ‫( العلم يقتضى سكون العالم الى ماتناوله‬ilmu adalah
suatu makna yang dapat menentramkan hati bagi seorang alim terhadap apa yang telah dicapainya).
Pengertian ini mengindikasikan adanya ketentraman dan ketenangan jiwa apabila berhasil dalam
pencariannya. Walaupun demikian, pengertian ini (menurut penulis) hanya berlaku kepada mereka
yang bergelut dalam ilmu-ilmu yang bermanfaat. Dalam pandangan Imam al-Gazali bahwa ‫العلم هو‬
‫( حصول المثال فى القلب‬ilmu itu adalah tejadinya gambaran di dalam hati).

Pengertian ini mengindikasikan bahwa gambaran esensi sesuatu itu ada di dalam hati, bukan berarti
yang dimaksud di sini hanya semata-semata hati saja. Al-Gazali menganggap bahwa hati adalah
bagian dari‫ بصيرة‬yang di dalamnya tercakup akal. Berdasarkan hal ini maka ia mengembalikan
pengertian ilmu ke dalam dua komponen yaitu ‫ البصيرة البطنية‬yaitu akal dan hati, hakikat atau esensi
sesuatu sebagai obyek pokok dan cara terjadinya gambaran sesuatu itu. Dalam Kamus Bahasa
Indonesia dikatakan bahwa pengertian ilmu adalah pengetahuan secara mutlak tentang sesuatu
yang disusun secara sistematis menurut metode-metode tertentu dan dapat digunakan untuk
merenungkan gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan. Pengertian ini megindikasikan bahwa
ilmu itu memiliki corak tersendiri menurut suatu ketentuan yang terwujud dari hasil analisis-analisis
secara konprehensif.

Dari beberapa pengertian ilmu yang telah disebutkan di atas, maka dapat dipahami bahwa batasan
ilmu merujuk pada hasil interaksi manusia dengan obyek tertentu yang akan menghasilkan sesuatu
pengetahuan dan itulah yang disebut ilmu. Dalam pandangan Nurcholish Madjid salah seorang
pemikir Muslim di Indonesia juga bahwa ilmu pengetahuan itu netral. Lebih lanjutnya menurutnya
bahwa, Ilmu pengetahuan baik yang alamiah maupun yang sosial adalah netral. Artinya tidak
mengandung nilai (bebas nilai) kebaikan atau kejahatan pada dirinya sendiri. Nilainya diberikan oleh
manusia yang memiliki dan menguasainya.

Apa yang dikemukakan Nurcholish Madjid di atas mengindikasikan ilmu pengetahuan berkaitan
dengan aksiologi. Dalam hal ini, Aksiologi menurut bahasa berasal dari bahasa yunani “axios” yang
berarti bermanfaat dan ‘logos’ berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Secara istilah, aksiologi adalah
ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan. Sejalan dengan
itu, Sarwan menyatakan bahwa aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi, realitas, dan arti dari
nilai-nilai (kebaikan, keindahan, dan kebenaran). Dengan demikian aksiologi adalah studi tentang
hakikat tertinggi dari nilai-nilai etika dan estetika. Dengan kata lain, apakah yang baik atau bagus itu.

Definisi lain mengatakan bahwa aksiologi adalah suatu pendidikan yang menguji dan
mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia dan menjaganya, membinanya di
dalam kepribadian peserta didik. Dengan demikian aksiologi adalah salah satu cabang filsafat yang
mempelajari tentang nilai-nilai atau norma-norma terhadap sesuatu ilmu.
Berbicara mengenai nilai itu sendiri dapat kia jumpai dalam kehidupan seperti kata-kata adil dan
tidak adil, jujur dan curang. Hal itu semua mengandung penilaian karena manusia yang dengan
perbuatannya berhasrat mencapai atau merealisasikan nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu
yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.

Secara singkat dapat dikatakan, perkataan “nilai” kiranya mempunyai macam-macam mak

na seperti (1) mengandung nilai, artinya berguna; (2) merupakan nilai, artinya baik atau benar, atau
indah; (3) mempunyai nilai artinya merypakan obyek keinginan, mempunyai kualitas yang dapat
menyebab-kan orang mengambil sikap menyetujui, atau mempunyai sifat nilai tertentu; (4) memberi
nilai artinya, menanggapi sesuatu sebagai hal yang diinginkan atau sebagai hal yang menggambarkan
nilai tertentu. Nilai ini terkait juga dengan etika dan nilai estetika. Nilai etika adalah teori perbuatan
manusia yang ditimbang menurut baik atau buruk dan tentang hak dan kewajiban moral. Sedangkan
nilai estika adalah telaah filsafat tentang keindahan serta keindahan, dan tanggapan manusia
terhadapnya. Di dalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan
karena menyangkut tanggung jawab, baik tanggung jawab pada diri sendiri, masyarakat, alam
maupun terhadap Tuhan.

Ilmu pengetahuan pun mendapatkan pedoman untuk bersikap penuh tanggung jawab, baik
tanggungjawab ilmiah maupun tanggungjawab moral. Tanggungjawab ilmiah adalah sejauhmana
ilmu pengetahuan melalui pendekatan metode dan sistem yang dipergunakan untuk memperoleh
pendekatan metode dan sistem yang dipergunakan untuk memperoleh kebenaran obyektif, baik
secara korehen-idealistik, koresponden realistis maupun secara pragmatis-empirik. Jadi berdasarkan
tanggungjawab ini, ilmu pengetahuan tidak dibenarkan untuk mengejarkan kebohongan, dna hal-hal
negatif lainnya.

Berdasar dari apa yang telah diuraikan dipahami ilmu pengetahuan mengandung nilai, dan
kebenaran nilai ilmu pengetahuan yang dikandungnya bukan untuk kebesaran ilmu pengetahuan
semata yang berdiri hanya mengejar kebenaran obyektif yang bebas nilai melainkan selalu terikat
dengan kemungkinan terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia.

Sejak awal kehadirannya, Islam sudah memberikan penghargaan yang begitu besar kepada ilmu.
Wahyu pertama yang diturunkan pada Rasulullah Muhammad adalah “iqra'” atau perintah untuk
membaca. Jibril memerintah Muhammad untuk membaca dengan menyebut nama Tuhanmu yang
menciptakan. Jadi, dari kata iqra’ inilah, umat Islam diperintah untuk membaca yang kemudian lahir
makna untuk memahami, mendalami, menelaah, menyampaikan, maupun mengetahui dengan
dilandasi “bismi rabbik”, dalam arti, hasil-hasil bacaan dan pemahaman itu nantinya dapat
bermanfaat untuk kemanusiaan (Shihab, 2001:433). Al Qur’an dan hadits kemudian dijadikan
sebagai sumber ilmu yang dikembangkan oleh umat Islam dalam spectrum yang seluas-luasnya
(Achmadi, 2005:33)

Ilmu pengetahuan dalam sejarah tradisi Islam tidaklah berkembang pada arah yang tak terkendali,
melainkan pada arah maknawi dan umat berkuasa untuk mengendalikannya.Kekuasaan manusia
atas ilmu pengetahuan harus mendapat tempat yang utuh. Eksistensi ilmu pengetahuan bukan saja
untuk mendesak pengetahuan, melainkan kemanusiaanlah yang menggenggam ilmu pengetahuan
untuk kepentingan dirinya dalam rangka penghambaan diri kepada Yang Maha Pencipta. Ilmu
pengetahuan harus terbuka pada konteknya, dan agama yang menjadi konteksnya itu. Agama
mengarahkan ilmu pengetahuan pada tujuan hakikinya, yaitu memahami realitas alam dan
memahami eksistensi Allah, agar manusia menjadi sadar akan hakikat penciptaan dirinya, dan tidak
mengarahkan ilmu pengetahuan hanya pada praksisnya atau kemudahan-kemudahan pada material
duniawi. Solusi yang diberikan Al Qur’an terhadap ilmu pengetahuan yang terikan dengan nilai
adalah dengan cara mengembalikan ilmu pengetahuan pada jalur semestinya, sehingga ia menjadi
berkah dan rahmat bagi manusia dan alam, bukan sebaliknya membawa mudharat atau penderitaan
(Tafsir, 1997:173). Ilmu tidaklah bebas nilai, karena antara logika dan etika harus berdialektika, jadi
bukan hanya penggabungan ilmu dan agama saja. Akal digunakan dengan mengoperasionalkan otak,
berusaha mencari kebenaran sesuai dengan kemampuan ilmu pengetahuan masing-masing. Hal ini
akan menimbulkan logika yang menjadikan manusia sebagai seorang intelektual atau ilmuwan.
Dalam Islam, ilmu senantiasa didasarkan pada Al Qur’an agar tidak bebas nilai. Nilai dalam Islam
tidak berdasarkan sesuatu adat dan budaya tetapi berdasarkan wahyu dan kehendak Allah.
Melakukan yg wajib adalah diperintah oleh Allah dan disukaiNya sehingga mendapat ganjaran
kebajikan. adapun jika melakukan yang haram dan dibenci oleh Allah maka pantas baginya balasan
yang buruk.

Seorang ilmuwan muslim tidak hanya diharapkan berkata benar,namun juga baik,indah dan bernilai,
misalnya jika seorang ilmuwan sekuler berkata bahwa untuk bebas dari penyakit kelamin harus
memakai kondom jika berhubungan dengan pelacur, maka ilmuwan muslim berkata bahwa
berhubungan dengan pelacur itu dilarang dalam islam. Contoh lain dari kebenaran akal yang tidak
beretika moral misalnya menceraikan istri yang tidak dapat memberi anak, sistem perang atau jihad
yang tidak berperikemanusiaan, menampar murid yang tidak bisa menjawab soal, dan lainnya.

Prinsip-prinsip semua ilmu dipandang oleh kaum muslimin berada dalam Al Qur’an, dan Al Qur’an
dan hadits menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan ilmu dengan menekankan
keutamaan menuntut ilmu, dan pencarian ilmu apapun pada akhirnya bermuara pada penegasan
tauhid. Dalam perjalanan ilmu dalam dunia Islam, para ilmuwan Muslim berangkat dari membaca Al
Qur’an dalam proses penemuannya, misalnya Abu Musa al Jabir ibn Hayyan (721-815), Muhammad
ibn Musa al Khawarizmi (780-850), Tsabit ibn Qurrah (9100), Ibn Sina (926), Al Farabi (950), Ibn
Batutah (1304-1377), Ibn Khaldun (1332-1406), dan masih banyak tokoh lainnya (Achmadi, 2005:12).