Está en la página 1de 17

ANTROPOMETRI 2016

ANTROPOMETRI
A. DESKRIPSI
Antropometri berasal dari kata lain yaitu anthropos yang berarti manusia dan metron yang berarti
pengukuran, dengan demikian antropometri mempunyai arti sebagai pengukuran tubuh manusia
(Bridger, 1995). Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran, tinggi, lebar, berat dan
lain-lain yang berbeda satu dengan yang lainnya. Data atntropometri digunakan untuk
mengembangkan perancangan untuk tinggi, ruang, genggaman, dan jangkauan untuk stasiun
kerja dan peralatan dengan tujuan untuk mengakomodasi dimensi tubuh dari potensi
tekanan/bahaya kerja (Wickens et al, 2004). Dengan mengetahui ukuran dimensi tubuh pekerja,
dapat dibuat rancangan peralatan kerja, stasiun kerja dan produk yang sesuai dengan dimensi
tubuh pekerja sehingga dapat menciptakan kenyamanan, kesehatan, keselamatan kerja.

Tujuan Praktikum
1. Membekali mahasiswa dengan konsep berpikir (prosedural), penganalisaan, dan
perancangan.
2. Mampu mengetahui interaksi antara manusia, mesin, peralatan, bahan, maupun
lingkungan kerjanya.
3. Mampu memahami adanya sejumlah data antropometri dan menggunakannya untuk
perancangan/pengaturan sistem kerja.
4. Mahasiswa dapat merancang desain stasiun kerja.
5. Mampu merancang desain produk berdasarkan data antropometri.

B. INPUT DAN OUTPUT


Input:
a) Langkah-langkah dan cara pengukuran dimensi tubuh.
Output:
a) Video dan data Antropometri
b) Desain produk/stasiun kerja.

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 1


ANTROPOMETRI 2016
C. PERALATAN PRAKTIKUM PENGUKURAN ANTROPOMETRI
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
a. Timbangan badan
b. Antropometer
c. Flexible curve
d. Kursi Antropometri
e. Lembar pengamatan dan pena
f. Penggaris/meteran

D. PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM


Langkah Praktikum Antropometri
1. Memilih objek penelitian sesuai kriteria yang telah ditentukan.
2. Mengukur dimensi tubuh objek penelitian dan merekam proses pengukuran
menggunakan kamera/handycam.
3. Mengisi lembar pengamatan sesuai dengan pengukuran yang telah dilakukan.
4. Merancang sebuah desain produk atau stasiun kerja berdasarkan data antropometri.

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 2


ANTROPOMETRI 2016

LANDASAN TEORI
Antropometri
1. Konsep Antropometri
Akhir abad ke 19 antropometri mulai digunakan secara luas pada berbagai disiplin ilmu. Pada
masa itu pula antropometri bersama-sama dengan biomekanika menjadi sesuatu yang sangat
menarik ahli rekayasa (Kroemer et., 1994). Dalam hal perancanagan fasilitas kerja, data tentang
ukuran tubuh manusia (data antropometri) menjadi penting dalam merancang alat, fasilitas kerja
dan stasiun kerja. data antropometri digunakan sebagai dasar oleh para ergonom untuk
merancang, dengan tujuan agar terjadi kesesuaian antara dimensi tubuh manusia (pengguna)
denganrancangan yang digunakan. Data anthropometri yang berhasil diperoleh akan
diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal:
1) Perancangan areal kerja (workstation, interior mobil, dll).
2) Perancangan peralatan kerja (perkakas, mesin, dll).
3) Perancangan produk-produk konsumtif (pakaian, kursi, meja, dll).
4) Perancangan lingkungan kerja fisik.
Rancangan yang menggunakan data antropometri diharapkan akan memudahkan
pengguna dalam beraktivitas sehingga dapat meningkatkan kemampuan kerja yang akan
berdampak pada peningkatan produktivitas kerja (Purnomo, 2013).
Pengukuran antropometri dibagi berdasarkan dua bagian, yaitu:
1) Antropometri statis: pengukuran dilakukan pada tubuh manusia yang berada dalam posisi
diam.
2) Antropometri dinamis: pengukuran dimensi tubuh diukur dalam berbagai posisi tubuh
yang sedang bergerak, sehingga lebih kompleks dan lebih sulit diukur.
Terdapat 3 kelas pengukuran dinamis, yaitu :
a) Pengukuran tingkat keterampilan sebagai pendekatan untuk mengerti keadaan
mekanis dari suatu aktivitas.
Contoh : Dalam mempelajari performa atlet.
b) Pengukuran jangkauan ruangan yang dibutuhkan saat kerja.
Contoh : Jangkauan dari gerakan tangan dan kaki efektif saat bekerja yang dilakukan
dengan berdiri atau duduk.

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 3


ANTROPOMETRI 2016
c) Pengukuran variabilitas kerja.
Contoh : Analisis kinematika dan kemampuan jari-jari tangan dari seorang juru ketik
atau operator komputer.
Terdapat 2 dimensi yang digunakan sebagai batasan dalam antropometri (Pheasant, 1988), yaitu:
1. Dimensi Ruang, dalam mendesain workstation, lingkungan harus menyediakan ruang
akses dan sirkulasi yang memadai. Dimensi ruang digunakan untuk menentukan dimensi
minimum yang diterima pada objek. Dimensi yang digunakan diambil dari populasi
dengan ukuran besar seperti persentil 95, sehingga populasi dengan ukuran lebih kecil
dapat mengakomodasi.
2. Dimensi Jangkauan, digunakan untuk menentukan dimensi maksimum yang diterima
pada objek. Dimensi yang digunakan diambil dari populasi dengan ukuran kecil seperti
persentil 5. Contoh penggunaan dimensi jangkauan adalah pada kemampuan
menggenggam atau menjangkau.
Terdapat 3 filosofi dasar untuk desain yang digunakan oleh para ahli ergonomi sebagai data
antropometri untuk diaplikasikan (Niebel & Freivalds 2002).
1. Desain untuk ekstrim, yang berarti bahwa untuk desain tempat atau lingkungan kerja
tertentu seharusnya menggunakan data antropometri individu ekstrim.
2. Desain untuk penyesuaian, desainer seharusnya merancang dimensi peralatan atau
fasilitas tertentu yang bisa disesuaikan dengan pengguna (users).
3. Desain untuk rata-rata, desainer dapat menggunakan nilai antropometri rata-rata dalam
mendesain dimensi fasilitas tertentu.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi variabilitas dimensi tubuh manusia, diantaranya
(Purnomo, 2013) :
a. Umur d. Jenis pekerjaan/Profesi
b. Jenis kelamin e. Lingkungan daerah
c. Ras/Etnik f. Tingkat sosial dan status nutrisi

Selain faktor-faktor di atas, ada beberapa kondisi tertentu (khusus) yang dapat mempengaruhi
variabilitas ukuran dimensi tubuh manusia, seperti:
a. Cacat
b. Faktor iklim
c. Kehamilan (pregnancy)

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 4


ANTROPOMETRI 2016
2. Perancangan Stasiun Kerja
Secara umum, tahapan perancangan stasiun kerja dengan memperhatikan faktor antropometri
adalah (Roebuck, 1995):
a. Menentukan kebutuhan perancangan stasiun kerja.
b. Mendefinisikan populasi pemakai.
c. Pemilihan objek yang akan diambil datanya.
d. Penentuan sumber data (dimensi tubuh yang akan diambil) dan pemilihan persentil yang
akan dipakai.
e. Penyiapan alat ukur yang akan dipakai.
f. Pengambilan data.
g. Pengolahan data
h. Visualisasi rancangan dengan memperhatikan posisi tubuh, kelonggaran (pakaian dan
ruang), dan variasi gerak.
i. Analisis Hasil Rancangan.

3. Pengolahan Data Antropometri


Beberapa pengolahan data yang harus dilakukan pada data antropometri adalah :
A. Uji Normalitas Data
Uji normalitas data dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa data sampel berasal dari
populasi yang berdistribusi normal.Pengolahan Data Normalitas dan Percentile dengan
SPSS adalah sebagai berikut:
a) Input data nilai dimensi pada data view.
b) Masuk ke tampilan variable view, kemudian kolom name diganti dengan nama
dimensi.
c) Pengolahan data :
i. Klik analyze, pilih descriptive statistics, kemudian explore.
ii. Masukkan semua variabel sebagai dependent variables.
iii. Checklist both pada toolbox display.
iv. Pilih statistic: checklist descriptive, percentiles, kemudian continue.
v. Pilih plots: checklist none pada boxplots, stem dan leaf pada descriptive.
vi. Checklist normality plots with test, kemudian continue.

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 5


ANTROPOMETRI 2016
vii. Pilih options: checklist exclude cases listwise, kemudian continue.
viii. Klik continue. Hasil pengolahan data ditampilkan pada output.

B. Kecukupan data
Untuk menghitung kecukupan data dapat digunakan perhitungan berikut (Barnes,
1900) :

K = Tingkat kepercayaan
Bila tingkat kepercayaan 99%, maka k = 2,58 3
Bila tingkat kepercayaan 95%, maka k = 1,96 2
Bila tingkat kepercayaan 68%, maka k 1
S = Derajat ketelitian (1-10%)
a. Apabila N N (jumlah pengamatan teoritis lebih kecil atau sama
dengan pengamatan yang sebenarnya dilakukan), maka data
tersebut dinyatakan telah mencukupi untuk tingkat kepercayaan dan
derajat ketelitian yang diinginkan.
b. Tetapi jika sebaliknya, dimana N > N (jumlah pengamatan teoritis
lebih besar dari jumlah pengamatan yang ada), maka data tersebut
dinyatakan tidak cukup. Dan agar data tersebut dapat diolah, maka
data pengamatan harus ditambah sampai lebih besar dari jumlah data
pengamatan teoritis.

C. Keseragaman Data
Dalam uji keseragaman data ada dua parameter yang digunakan yaitu
Batas Kontrol Atas (BKA) dan Batas Kontrol Bawah (BKB). Perhitungan
BKA dan BKB dapat ditentukan dengan rumus berikut ini (Montgomery,
2002) :

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 6


ANTROPOMETRI 2016
BKA= + k
BKB = + k
= standar deviasi/simpangan baku

D. Persentil
Persentil adalah nilai dari suatu dimensi antropometri yang mewakili presentase populasi
yang memiliki ukuran dimensi tertentu atau lebih rendah. Informasi ini sangat penting
dalam tahap perancangan karena dapat membantu untuk memperkirakan presentase
populasi pengguna yang dapat diakomodasi oleh desain tertentu (Wickens et al, 2004).

Gambar 1. Distribusi normal

Pada umumnya, persentil yang digunakan adalah persentil 5, persentil 50 dan


persentil 95. Nilai persentil dapat dihitung menggunakan rumus berikut ini (Purnomo,
2013) :
Px = Zx.SB
Keterangan :
: Nilai Rata-rata X
SB : Simpangan baku
Zx : Nilai Standar Normal

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 7


ANTROPOMETRI 2016
Berikut ini merupakan nilai standar normal dari setiap persentil yang digunakan
dalam pengukuran antropometri :
Tabel 1. Nilai Standar Normal

Nilai Standar Normal


0,5 1 2,5 5 10
Persentil
0,95 99 97,5 95 90
Zx 2,575 2,327 1,96 1,645 1,282

Apabila menghitung persentil kecil gunakan tanda negatif (-)


Apabila menghitung persentil besar gunakan tanda positif (+)
Khusus dalam pengukuran antropometri dinamis, dapat pula diberikan
toleransi terhadap perbedaan yang mungkin dijumpai dari data yang
tersedia dengan populasi yang dihadapi dalam merekomendasikan
ukuran suatu rancangan (allowance).

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 8


ANTROPOMETRI 2016

STUDY CASE

Diketahui jumlah siswa di SMA Sukaraja sebanyak 150 siswa. Dari ke 150 siswa tersebut,
diambil 10 siswa untuk dijadikan sampel. Dari ke 10 siswa tersebut diukur dimensi tubuhnya.
Salah satu dimensi yang digunakan adalah tinggi popliteal (tpo). Setelah melakukan pengukuran
didapatkan data sebagai berikut :

165 162 163 164 162


163 162 160 158 157

Tentukan kecukupan, keseragaman data dan P95, bila tingkat keyakinan 95% dan derajat
ketelitiannya 5% !

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 9


ANTROPOMETRI 2016
Referensi

Barnes, Ralph M. 1900. Motion and Time Study Design and Measurement of Work.
Singapore: John Wiley & Sons, Inc.
Bridger R.S. 1995. Introduction to Ergonomic. Singapore: Mc. Graw Hill International.
Kroemer, K.H.E., Kroemer, H.B and Kroemer-Elbert, K.E 1994. Ergonomics, How To Design for
Ease & Effiency. New Jersey: Prentice Hall. Englewoods Clifts.
Montgomery, Douglas C.; Runger, George C. 2002. Applied Statistics and Probability for
Engineers. America : John Wiley & Sons, Inc.
Niebel, B. & Freivalds, A., 2002. Methods, Standards and Work Design 11th
ed. Recherche, 67, p.02.
Pheasant, Stepehen. 1988. Bodysoace : Antropometry, Ergonomics and the Design
of Work. London : Taylor & Francis Ltd.
Purnomo, Hari. 2013. Antropometri dan Aplikasinya. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Roebuck, J.A., 1995. Anthropometric Methods: Designing to Fit the Human Body,
Human Factors and Ergonomics Society Santa Monica, CA.
Wickens, C.D.; Lee J.D.; Liu Y.; Gorden Becker S.E. 2004. An Introduction to
Human Factors Engineering. 2nd Edition. Pearson Education Inc.

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 10


ANTROPOMETRI 2016

Lampiran Gambar Dimensi Tubuh

G
Gambar 2. Posisi Duduk

Gambar 3. Posisi Berdiri

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 11


ANTROPOMETRI 2016

Gambar 4. Dimensi Kaki dan Tangan

Gambar 5. Dimensi Kepala

Tabel 1. Keterangan Pengukuran Antropometri Duduk dan Berdiri


Dimensi
No. Simbol Keterangan
yang diukur

Tinggi Ukur jarak vertikal alas duduk sampai ujung atas kepala.
1 Duduk TDT Subyek duduk tegak dengan mata memandang lurus ke depan
Tegak dan membentuk sudut siku-siku
Ukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai tulang
Tinggi Bahu
2 TBD bahu yang menonjol pada saat subyek duduk tegak.
Duduk
Tinggi Mata Ukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai mata
3 TMD
Duduk pada saat subjek duduk tegak.
Ukur jarak horisontal antara kedua lengan atas, subyek duduk
4 Lebar Bahu LB tegak dengan lengan atas merapat ke badan dan lengan bawah
direntangkan ke depan. (Deltoid)
Ukur jarak horisontal antara kedua tulang bahu atas, subyek
5 Lebar Bahu LBA duduk tegak dengan lengan atas merapat ke badan dan
Atas lengan bawah direntangkan ke depan. (Acromion)

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 12


ANTROPOMETRI 2016
Dimensi
No. Simbol Keterangan
yang diukur
Ukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai ujung
6 Tinggi Siku TSD bawah siku. Subyek duduk tegak dengan lengan ke atas
Duduk vertikal di sisi badan dan lengan bawah membentuk sudut 90o
dengan lengan bawah.
Subyek duduk tegak, ukur jarak dari permukaan alas duduk
7 Tebal Paha TP
ke atas paha.
Tinggi Ukur jarak vertikal dari lantai sampai lutut bagian dalam.
8 TPO
Popliteal
Ukur jarak horisontal dari bagian terluar pantat sampai
Pantat
9 PPO lekukan lutut sebelah dalam. Paha dan kaki bagian bawah
Popliteal
membentuk sudut 90o.
Ukur jarak horisontal dari bagian terluar pantat sampai ke
Pantat Ke
10 PKL bagian lutut yang menonjol. Paha dan kaki bagian bawah
Lutut
membentuk sudut siku-siku.
Lebar Subyek duduk tegak, ukur jarak horisontal dari pinggul sisi
11 LP
Pinggul kanan dan kiri.
Panjang
Subyek berdiri tegak tangan di samping, ukur jarak dari
12 Lengan PLB
siku sampai pergelangan tangan.
Bawah
Ukur jarak vertikal dari lantai ke titik pertemuan antara lengan
Tinggi Siku
13 TSB atas dan lengan bawah. Subyek berdiri tegak dengan kedua
Berdiri
tangan tergantung secara wajar.
Ukur jarak horisontal dari ujung jari terpanjang tangan kiri ke
14 Rentangan RT ujung jari terpanjang tangan kanan, subyek berdiri tegak dan
Tangan kedua tangan direntangkan horisontal ke samping sejauh
mungkin.
Ukur jarak vertikal dari lantai sampai ujung mata bagian
Tinggi Mata
15 TMB dalam (dekat pangkal hidung). Subyek berdiri tegak dan
Berdiri
memandang lurus ke depan.
Jarak vertikal telapak kaki sampai ujung kepala yang paling
Tinggi
16 TBT atas, sementara subyek berdiri tegak mata memandang lurus
Badan Tegak
ke depan
Ukur jarak horisontal dari punggung sampai ujung jari tengah.
17 Jangkauan JT Subyek berdiri tegak dengan betis, pantat, punggung merapat
Tangan ke dinding, tangan direntangkan ke depan.
Tinggi Bahu Ukur jarak vertikal dari lantai sampai bahu yang
18 TBB
Berdiri menonjol (acromion) pada saat subyek berdiri tegak
Ukur jarak dari dada sampai punggung secara
19 Tebal Badan TB
horisontal.

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 13


ANTROPOMETRI 2016
Tabel 2. Keterangan Pengukuran Antropometri Kepala
Dimensi yang
No Simbol Keterangan
diukur
Dihitung dari kepala bagian belakang yang paling
20 Panjang Kepala PK menonjol sampai kepala yang paling depan.

Dihitung dari kepala samping kanan menuju kepala


21 Lebar Kepala LK
samping kiri.
Diameter
Diameter kepala, dihitung dari dagu menuju kepala
22 Maksimum Dari DMD
atas bagian belakang.
Dagu
Dagu Ke Puncak Diameter kepala, dihitung dari dagu menuju kepala
23 DPK
Kepala bagian atas.
Telinga Ke Puncak Dihitung dari pusat telinga menuju kepala bagian
24 TPK
Kepala atas.
Telinga Ke Dihitung dari pusat telinga menuju bagian kepala
25 TBK
Belakang Kepala bagian belakang
26 Antara Dua Telinga ADT Dihitung dari telinga menuju telinga satunya.
Mata Ke Puncak
27 MPK Dihitung dari mata menuju kepuncak kepala
Kepala
Mata Ke Belakang Dihitung dari mata menuju kepala bagian
28 MBK
Kepala belakang
Antara Dua Pupil Dihitung antara pupil satu dengan pupil yang
29 APM
Mata satunya.
Hidung Ke Puncak Dihitung dari hidung menuju kepala bagian atas.
30 HPK
Kepala
Hidung Ke Dihitung jarak dari hidung menuju kepala bagian
31 HBK
Belakang Kepala belakang.
Mulut Ke Puncak
32 MUPK Dihitung dari mulut menuju kepala bagian atas.
Kepala
Dihitung dari lebar mulut ( dari samping kanan menuju
33 Lebar Mulut LM
samping kiri)

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 14


ANTROPOMETRI 2016

Tabel 3. Keterangan Pengukuran Antropometri Berdiri


Dimensi yang
No. Simbol Keterangan
diukur
Tinggi Ukur jarak vertikal (tinggi) genggaman tangan
34 Genggaman TGT pada posisi rileks ke bawah, dari titik genggaman
Tangan tangan ke telapak kaki.
Tebal Perut Ukur jarak horisontal dari punggung bagian
35 TPT
(Abdominal) belakang hingga di depan perut.
Ukur jarak vertikal dari ujung jari kaki
36 Tinggi Lutut TL
hingga lutut.
Panjang Dari Siku Ke Ukur jarak horisontal dari siku ke ujung jari
37 PSJ
Ujung Jari tengah.
38 Panjang Lengan Atas PLA Ukur jarak vertical dari bagian siku hingga batu atas

Jarak Tangan Kanan


Ukur horizontal antara jarak tangan kanan ke kiri
39 Dan Tangan Kiri JRT

Tinggi Pegangan
Tangan (Grip) Pada
Ukur vertikal pegangan tangan ke telapak kaki
Posisi Tangan
40 TGB pada posisi tangan vertikal ke atas dan tubuh
Vertical Ke Atas
berdiri tegak
Dan Berdiri Tegak

Tinggi Pegangan
Tangan (Grip) Pada
Ukur jarak vertikal pegangan tangan hingga dasar
Posisi Tangan
41 TGD panggul pada saat posisi tangan vertikal ke atas dan
Vertikal Ke Atas
duduk tegak
Dan Duduk Tegak

Ukur jarak horisontal dari bahu sampai pusat


Panjang Bahu Ke
genggaman tangan. Subyek berdiri tegak dengan
42 Genggaman Tangan PBGT
betis, pantat, punggung merapat ke dinding, tangan
direntangkan ke depan.
Ukur jarak horisontal dari Siku, subyek berdiri
Rentangan Tangan
43 RS tegak dan kedua tangan membentuk siku
Siku
horizontal
Ukur jarak horisontal dari punggung sampai pusat
Panjang Genggaman
genggaman tangan. Subyek berdiri tegak dengan
44 Tangan Ke Depan PGT
betis, pantat, punggung merapat ke dinding, tangan
direntangkan ke depan

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 15


ANTROPOMETRI 2016

Tabel 4. Keterangan Pengukuran Antropometri Tangan


Dimensi yang
No. Simbol Keterangan
diukur
Ukur jarak vertikal (tinggi) tangan dari ujung jari
45 Panjang Tangan PT tengah sampai pergelangan tangan, ketika tangan
dibentangkan
Ukur jarak vertikal telapak tangan dari bagian
Panjang Telapak
46 PTT pangkal jari hingga pergelangan tangan, ketika
Tangan
tangan dibentangkan
Ukur jarak vertikal dari ujung ibu jari hingga
47 Panjang Ibu Jari PIJ
pangkal ibu jari, ketika tangan dibentangkan
Ukur jarak vertikal dari ujung jari telunjuk
Panjang Jari
48 PJL hingga pangkal jari telunjuk, ketika tangan
Telunjuk
dibentangkan
Ukur jarak vertikal dari ujung jari tengah
Panjang Jari
49 PJT hingga pangkal jari tengah, ketika tangan
Tengah
dibentangkan
50 Panjang Jari Manis PJM Ukur jarak vertikal dari ujung jari manis hingga
pangkal jari manis, ketika tangan dibentangkan.
Ukur jarak vertikal dari ujung jari kelingking
Panjang Jari
51 PJK hingga pangkal jari kelingking, ketika tangan
Kelingking
dibentangkan.
Tinggi Tulang Ukur jarak vertikal dari lantai ke tulang ruas / buku
52 TTR
Ruas jari tangan (Metacarpal)

Ukur jarak vertikal dari lantai ke ujung jari


Tinggi Lantai
53 TUJ tangan (jari tengah/dactylion) saat berdiri tegak
Ujung Jari
dan tangan posisi normal kebawah.
Ukur jarak horisontal pada bagian sambungan antar
54 Lebar Ibu Jari LIJ
ruas tulang ibu jari

Ukur tebal ibu jari pada sambungan antar ruas


55 Tebal Ibu Jari TIJ
tulang ibu jari.

Ukur jarak horisontal pada bagian sambungan antar


Lebar Jari
56 LJL ruas tulang jari telunjuk kearah mendekati tubuh.
Telunjuk
Ukur tebal jari telunjuk pada sambungan antar
Tebal Jari
57 TJL ruas tulang jari telunjuk kearah mendekati
Telunjuk
tubuh.
Lebar Telapak Ukur jarak horisontal dari tepi dalam telapak
58 Tangan LTM tangan hingga bagian tepi luar telapak tangan
(Metacarpal) (Metacarpal)

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 16


ANTROPOMETRI 2016
Dimensi yang
No. Simbol Keterangan
diukur
Lebar Telapak
Ukur jarak horisontal dari tepi dalam telapak
59 Tangan (Sampai LTB
tangan hingga bagian tepi luar ibu jari.
Ibu Jari)
Tebal Telapak Ukur jarak vertikal dari punggung tangan
60 Tangan TTM sampai dengan telapak tangan pada metacarpal,
(Metacarpal) ketika tangan direntangkan
Tebal Telapak Ukur jarak vertikal dari punggung tangan
61 Tangan (Sampai TTB sampai bagian bawah ibu jari pada saat tangan
Ibu Jari) direntangkan.
LBMA Ukur jarak horisontal terjauh dari ibu jari ke jari
62 Lebar Maksimum
X kelingking

Tabel 5. Keterangan Pengukuran Antropometri Kaki


Dimensi yang
No. Simbol Keterangan
diukur
Panjang Telapak Ukur jarak vertikal (tinggi) dari ujung tumit
63 PTI
Kaki ke ujung jari terluar.
Panjang Telapak Ukur jarak vertikal (tinggi) dari ujung tumit
64 PTLK
Lengan Kaki ke lengan kaki.
Panjang Kaki
Ukur jarak vertikal (tinggi) dari ujung tumit
65 Sampai Jari PKK
ke ujung jari kelingking
Kelingking
Ukur jarak horisontallengan kaki hingga tepi terluar
66 Lebar Kaki LI
telapak kaki

Ukuran jarak horisontal bagian dalam telapak kaki


Lebar Tangkai
67 LTI hingga bagian luar telapak kaki pada bagian tungkai
Kaki
kaki.
Tinggi Mata Ukur jarak vertikal dari telapak kaki hingga bagian
68 TMI
Kaki bawah mata kaki pada saat berdiri tegak.

Tinggi Bagian Ukur jarak vertikal dari telapak kaki hingga pada
69 Tengah Telapak TTI bagian tengah punggung kaki pada saat berdiri
Kaki tegak
Ukur jarak vertikal dari telapak kaki pada bagian
Jarak Horizontal
tungkai kaki ke mata kaki.
70 Tangkai Mata Kaki JHMI

Laboratorium Desain Sistem Kerja & Ergonomi Page 17