Está en la página 1de 20

AQIDAH ISLAM (TAUHID)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Individu Semester 1 Pada Mata
Kuliah Pengantar Studi Islam Jurusan Tarbiyah prodi Tadris Bahasa Inggris

Oleh

MUHAMMAD ZULZIDAN M.

NIM : 0217 4082

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

WATAMPONE

2017/2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah saya ucapkan syukur kepada Allah SWT yang telah


memberikan Rahmat serta Hidayah-Nya, sehingga kita masih dalam
keadaan sehat dan longgar. Dan khususnya, saya (penyusun) bisa
menyelesaikan Makalah dengan judul AQIDAH ISLAM (TAUHID).
Makalah ini dibuat sebagai tugas individu yang akan dikumpulkan dan di
presentasikan.

Yang kedua, tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen mata
kuliah pengantar studi islam yang memberikan arahan dan ajaran tentang
pelajaran agama Islam.

Adapun yang terakhir, penyusun menyadari makalah ini memiliki


banyak kekurangan, karena itu sangat diharapkan kritik dan saran yang
konstruktif dari pembaca demi perbaikan dan sekaligus memperbesar
manfaat makalah ini sebagai pembelajaran.

Watampone, 12 Oktober 2017

Penyusun

DAFTAR ISI

ii
AQIDAH ISLAM (TAUHID) ........................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................ii
BAB I PEDAHULUAN..................................................................................................... 5
A. LATAR BELAKANG.................................................................................................... 5

B. RUMUSAN MASALAH .............................................................................................. 5

C. TUJUAN ................................................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................... 6


1. Pengertian Tauhid ................................................................................................... 6

2. Tauhid Rububiyah ................................................................................................... 6

3. Tauhid Uluhiyyah .................................................................................................. 11

BAB III PENUTUP ......................................................................................................... 18


KESIMPULAN ................................................................................................................. 18

Pengertian Tauhid .......................................................................................... 18


Tauhid Rububiyah .......................................................................................... 18
Tauhid Uluhiyyah ........................................................................................... 19

iii
iv
BAB I

PEDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Aqidah adalah bentuk masdar dari kata aqada,yaqidu


aqdanaqidatanyang berarti simpulan,ikatan,sangkutan,perjanjian,dan
kokoh.sedangkan secara teknis aqidah berarti iman, kepercayaan, dan keyakinan.
Dan tumbuhnya kepercayaan tentunya di dalam hati, sehingga yang dimaksud
aqidah adalah kepercayaan yang menghujani atau simpul dalam hati. Menurut ibnu
Taimiyah dalam bukunya akidah al- Wasithiyah menerangkan makan aqidah
dengan suatu perkara yang harus di benarkan dalam hati, dengannya jiwa menjadi
tenang sehingga jiwa itu menjadi yakin serta mantap tidak dipengaruhi oleh
keraguan dan juga tidak dipengaruhi oleh syakwasangka. Sedangkan Syekh Hasan
al-Banna dalam bukunya al- aqaid menyatakan bahwa aqidah sebagai sesuatu
yang yang seharusnya hati menerangkannya sehingga menjadi ketenangan jiwa,
yang menjadikan kepercayaan bersih dari bimbangan dan keraguan.

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun yang akan di bahas di makalah ini adalah sebagai berikut;


1. Apa yang dimaksud dengan tauhid ?
2. Jelaskan tauhid Uluhiyyah ?
3. Jelaskan tauhid rubuhiyyah ?

C. TUJUAN

Tujuan penulisan rumusan masalah adalah;


1. Untuk mengetahui pengertian tauhid
2. Untuk mengetahui tauhid Uluhiyyah
3. Untuk mengetahui Rubbuhiyyah

5
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Tauhid

TAUHID ditinjau dari sudut bahasa (etimologi) kata tauhid merupakan bentuk
kata mashdar dari asal kata kerja lampau yaitu: Wahhada yuwahhidu wahdah yang
memilki arti mengesakan atau menunggalkan1.Dengan demikian ilmu Tauhid
adalah salah satu cabang ilmu studi keislaman yang lebih memfokuskan pada
pembahasan wujud Allah dengan segala sifatnya serta tentang rasul-Nya, sifat-sifat-
Nya serta tentang para Rasul-Nya, sifat-sifat dan segala perbuatan-Nya dengan
berbagai pendekatan.

2. Tauhid Rububiyah

Yaitu mengesakan Allah dalam tiga perkara: menciptakan, menguasai, dan


mengatur.

Dalilnya adalah Firman Allah:


Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.(Al-
Araf;54).

Titik pengambilan dalil dari ayat ini adalah didahulukannya khabar yang
seharusnya diakhirkan dan kaidah ilmu balaghah menyatakan bahwa,
mendahulukan sesuatu yang semestinya dikahirkan menunjukkan pembatasan.

1
Ahmad Warson Munawir, Al-Munawir Kamus Bahasa Arab-Indonesia (Yogyakarta: Ponpes Al-
Munawir, 1984), html.1646

6
Kemudian perhatikanlah pembukaan ayat ini dengan yang berfungsi menarik
perhatian dan menegaskan,Yakni hal Allah semata bukan hak selain-Nya.
Menciptakan ini adalah menciptakan (yang kita kenal), dan memerintah maksudnya
adalah mengatur.

Adapun menguasai (kerajaan), maka dalilnya adalah Firman Allah,




Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi.( Al-Jasiyah;27).

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah sajalah yang menguasai kerajaan. Titik
pengambilan dalilnya adalah sama dengan ayat sebelumnya, yaitu, didahulukannya
apa yang semestinya di akhirkan. Jika demikian, maka Allah adalah satu-satunya
yang mencipta, menguasai dan mengatur.

Apabila Anda berkata bagaimana cara mengabungkan antara apa yang telah
saya tetapkan ini dengan penetapan penciptaan kepada selain Allah, seperti Firman
Allah,




Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik."(Q.S. Al- mu'minun
: 14).

Dan mirip dengan itu adalah sabda Nabi tentang para pelukis (makhluk
hidup),

7
Dikatakan kepada mereka, ' Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan'.2 [HR.
Bukhari No.7003].

Dan Firman Allah dalam hadist qudsi,




Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-
Ku?3

Bagaimana Anda menggabungkan semua ini dengan apa yang Anda katakan
bahwa Allah adalah satu-satunya yang menciptakan dengan dalil-dalil di atas?

Jawabannya adalah,bahwa yang dimaksud dengan menciptakan adalah


mengadakan [sesuatu yang benar-benar baru,pent.].ini hanya khusus bagi Alla.
Kalau hanya sekedar merubah sesuatu dari satu bentuk ke bentuk lain, maka ini
bukan menciptakan dalam makna hakiki meskipun terkadang disebut menciptakan,
dari segi ilmu bahwa itu adalah membentuk (sesuatu), akan tetapi kenyataanya
bahwa itu bukanlah penciptaan dalam arti yang sebenarnya. Sebagai contoh seorang
tukang kayu merubah kayu menjadi pintu,maka dikatakan, dia menciptakan sebuah
pintu, akan tetapi bahan dasar ciptaanya itu, diciptakan oleh Allah. Tak ada manusia
meskipun dengan kemampuan sehebat apapun yang mampu menciptakan ranting
(kecil) kayu arak sekalipun, atau menciptakan seekor lalat.

Simaklah Firman Allah,







2
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari , Kitab Al-Libas, Bab Man Kariba Al-Quud Ala Ash-Shurah; dan
Muslim, Kitab Al-Libas, Bab Tahrim Tashwir Shurah Al hayawan.

3
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari , Kitab Al-Libas Bab Naqdhi Ash Shuwar, Dan Muslim, Kitab Al-
Libas Bab Tahrim Tashwir Shurah Al-Hayawan.

8






Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu
perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali
tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu
menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka
dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat
lemah (pulalah) yang disembah.(Al-Hajj;73).

adalah ism mashul (kata sambung), yang mencakup seluruh apa yang
diseru selain Allah, baik itu pohon, batu, manusia, malaikat, dan lain-lain. Semua
di seru selain Allah tersebut, tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun
mereka bersatu menciptakannya. Maka lebih tak mampu jika masing-masing
menciptakannya sendiri-sendiri.,

Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat
merebutnya kembali dari lalat itu. Bahkan makhluk-makhluk yang diseru selain
Allah tersebut, seandainya lalat mengambil sesuatu dari mereka niscaya mereka
tidak akan mampu mengambilnya kembali dari lalat yang lemah itu. Seandainya
lalat mengambil sesuatu dari mereka niscaya mereka tidak akan mampu
merebutnya kembali dari lalat lemah itu. Seandainya ada seekor lalat yang hinggap
di tubuh seorang raja terkuat di muka bumi ini dan ia menghisap susu milik raja
tersebut, niscaya dia tidak akan mengambil susu yang telah dihisap oleh lalat
tersebut, demikian pula jika lalat tersebut hinggap ke makanannya. Jadi Allah-lah
satu-satunya Pencipta.

Jika Anda berkata, bagaimana menggabungkan antara ucapan Anda bahwa


Allah adalah satu-satunya yang berkuasa (dan pemilik kerajaan) dengan
ditetapkannya kepimilikan kepada makhluk, seperti Firman Allah,

9

Di rumah yang kamu miliki kuncinya. (An-Nur;61).

Dan Firman Allah,





kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki.(Al-
Muminum;6).

Jawabannya: Menggabungkan antara keduanya dari dua segi,

Pertama: Kepemilikan manusia terhadap sesuatu tidak bersifat umum dan


menyeluruh, karena aku misalnya, memiliki apa yang ada ditanganku dan aku tidak
memiliki apa yang ada di tangan Anda, padahal semua itu (baik yang ada saya
maupun pada Anda) adalah milik Allah, maka dari segi cakupan kepemilikan secara
total dan menyeluruh, kepemilikan Allah lebih menyeluruh dan lebih luas, dan itu
adalah kepemilikan yang sempurna.

Kedua: Kepemilikanku terhadap sesuatu ini bukan merupakan kepemilikan


yang hakiki dimana aku bisa melakukan padanya sesuka hatiku. Aku hanya bisa
melakukan padanya sesuai dengan perintah agama dan sesuai izin pemilik yang
sebenarnya, yaitu Allah. Kalau aku menjual satu dirham dengan dua dirham, maka
itu tidak halal bagiku karena aku tidak memiliki itu. Jadi kepemilikanku terbatas.
Ditambah lagi bahwa dari segi takdir akupun tidak memiliki hak sedikitpun, karena
ia adalah milik Allah. Aku tidak mampu berkata kepada budakku yang sakit,
sembuhlah kamu, lalu dia sembuh. Aku pun tidak mampu berkata kepada yang
sehat, sakitlah kamu. Lalu dia sakit; karena pemilik tindakan yang sebenarnya
adalah Allah. Seandainya Dia berfirman Sembuhlah, maka dia pasti sembuh.
Seandainya Dia berfirman Sakitlah, maka dia pasti sakit. Jadi aku tidak memiliki
hak bertindak dari segi syara dan qadar. Kepemilikanku terbatas dari segi cakupan

10
dari keumumannya. Dengannya itu jelaslah bagaimana monopoli Allah terhadap
kerajaan (kepemilikan).

Jelaslah disini bahwa ucapan, sesungguhnya Allah memonopoli


penciptaan dan pengaturan, bersifat umum menyeluruh dan mutlak tanpa ada
pengecualian karena pertanyaan yang kami cantumkan diatas bertentangan dengan
apa yang menjadi hak tetap Allah.

3. Tauhid Uluhiyyah

Yaitu mengesakan Allah dengan ibadah, di mana Anda tidak menjadi hamba
bagi selain-Nya. Anda tidak menyembah malaikat, nabi, wali, syaikh, bapak dan
ibu; Anda tidak menyembah kecuali Allah semata. Anda tidak menyembah kecuali
Allah semata. Anda mengesakan Allah dengan penghambaan diri dan menuhankan-
Nya. Oleh karena itu, ia disebut tauhid uluhiyyah dan dinamakan tauhid ibadah.
Jika dilihat dari sisi Allah, maka ia adalah tauhid uluhiyyah dan jika dari sisi hamba,
maka ia adalah tauhid ibadah.

Ibadah berpijak kepada dua perkara besar, yaitu cinta dan mengagungkan,
yang keduanya menghasilkan (sikap yang disebut dalam ayat berikut),





Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam
(mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami
dengan harap dan cemas. (Al-Anbiya; 90).

Dengan kecintaan muncul keinginan (untuk melaksanakan) dan karena


mengangungkan,timbul rasa ketakutan dan kekhawatiran (akan siksa-Nya).

Oleh karena itu ibadah berarti perintah-perintah dan larangan-larangan:


perintah yang berpijak pada keinginan dan mecari cara untuk sampai kepada yang

11
memerintahkan dan larangan yang berpijak kepada pengagungan dan ketakutan
kepada Dzat yang maha agung.

Jika Anda mencitai Allah, maka Anda menginginkan apa yang ada di
sisiNya, Anda menginginkan untuk bisa sampai kepadaNya. Dan Anda pun mencari
jalan yang mengantar Anda kepadaNya, maka Anda akan menantikanNya dengan
sempurna. Jika Anda mengagungkanNya, maka Anda akan takut kepadaNya.
Setiap kali Anda hendak bermaksiat, Anda merasakan keagungan Sang Pencipta,
maka Anda pun mengurungkan niatmu tersebut,




Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu)
dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu
andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami
memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian.(yusuf; 24).

Ini adalah nikmat Allah kepada Anda, apabila Anda hendak bermaksiat,
Anda mendapat Allah di depanmu, maka Anda takut dan segan lalu menjauhi
kemaksiatan tersebut. Hal itu karena Anda menyembahNya dengan keinginan dan
sekaligus ketakutan .

Apa yang dengannya kita beribadah kepada Allah, haruslah murni untuk
Allah tidak diberikan kepada selainNya seperti shalat, puasa , zakat, haji, doa,
nadzar, takut, tawakkal dan ibadah ibadah lainnya.

Jika kamu bertanya: Mana dalil yang menunjukkan bahwa uluhiyyah itu
hanya hak Allah semata?

Jawabannya: Banyak sekali, diantaranya:

12
Firman Allah,






Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan
Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan
Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku. (Al-Anbiya:25).

Firman Allah,






Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu. (An-Nahl:36).

Juga Firman Allah,





Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang
berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang
yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). (Ali Imran;18).

Seandainya ilmu tidak memiliki keutamaan kecuali yang satu ini niscaya
hal itu sudah cukup, dimana Allah memberitakan bahwa tidak ada yang bersaksi
terhadap ketuhananNya kecuali para ahli ilmu semoga kita termasuk mereka-
Allah menyatakan bahwasannya tidak ada tuhan (yang berhak disembah)

13
melainkan Dia. Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang
berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). (Ali Imran:18).

Kemudian Allah menetapkan kesaksian ini dengan FirmanNya,



Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Ali Imran;18).

Ini adalah dalil yang jelas bahwa tiada tuhan yang hak kecuali Allah. Aku
bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Anda semua
juga bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Inilah
kesaksian yang benar.

Jika ada yang berkata, bagaimana kamu mengikrarkan hal itu, padahal Allah
sendiri yang menetapkan ketuhanan selainNya.seperti FirmanNya,



Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun
yang lain. (Al-Qashash; 88).

seperti juga FirmanNya,



Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal
tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu. (Al-Muminum;117).

14
Juga seperti FirmanNya,







karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-
sembahan yang mereka seru selain Allah. (Hud;101).

Seperti pula ucapan ibrahim,



Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan
jalan berbohong?(Ash-Shaffat;86),

Dan banyak lagi ayat-ayat yang lain. Bagaimana Anda menggabungkan


antara hal ini dengan kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah?

Jawabannya: ketuhananan selain Allah adalah ketuhanan yang batil, hanya


sekedar penyebutan,






Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu
mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk
(menyembah)nya.(An-Najm; 23).

Ketuhanannya adalah batil, walaupun ia disembah dan dituhankan oleh


orang yang sesat, akan tetapi ia sebenarnya tidak layak untuk disembah. Ia adalah
tuhan-tuhan yang disembah, akan tetapi tuhan-tuhan yang batil.

15



Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan
sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang
batil.(Luqman;30).

Tidak seorang pun dari Ahli Kiblat yang menisbatkan diri kepada islam
mengingkari kedua bagian tauhid ini, karena Allah memang Maha Esa dalam
rubbubiyah dan uluhiyyah, akan tetapi setelah itu muncul sebagian orang yang
mengklaim ketuhanan sebagian manusia. Seperti golongan ekstrim Syiah
(Rafidhah), mereka menyatakan bahwa Ali adalah tuhan seperti yang dilakukan
tokoh mereka Abdullah bin Saba di mana dia datang kepada Ali bin Abu Thalib
dan berkata kepadanya, Engkaulah adalah Allah yang sebenarnya. Akan tetapi
asal usul Abdullah bin Saba ini adalah Yahudi yang masuk Islam dengan
mengusung dukungan kepada Ahlul Bait demi merusak agama islam Ibnu
Taimiyah, Abdullah bin Saba melakukan seperti yang dilakukan oleh Paulus
ketika dia masuk ke dalam agama Nasrani demi merusak agama Nasrani.4

Abdullah bin Saba ini berkata kepada Ali, Engkaulah adalah Allah yang
sebenarnya. Dan Ali tidak rela ada orang yang mendudukannya lebih dari
kedudukannya yang sebenarnya, bahkan dengan kearifan,keadilan,ilmu dan
pengetahuannya Ali menyatakan di atas mimbar Kufah, sebaik-baik umat ini
adalah nabinya Abu bakar dan Umar, Ali mengumumkan hal itu di dalam
khutbahnya dan dinukil darinya secara khawatir.

Ali mengucapkan ini dan dia mengakui keutamaan bagi pemiliknya, mana
mungkin dia rela kalau ada yang berkata kepadanya, Engkau adalah Allah yang
sebenarnya. Oleh karena itu Ali mentazir (menghukum) mereka dengan berat.ali
menyuruh menggali parit lalu dipenuhi dengan kayu bakar dan api pun dinyalakan.

4
Diriwayatkan oleh Al-Lalikai di Minhaj As-Sunnah, no. 2823 dari Asy-Syabi. Ucapan ini
dicantumkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di Minhaj As-Sunnah, 1/29 dan dia menyebutkan
ulama yang meriwayatkannya, ia dihasankan oleh Al-Hafizh di Al-Fath, 12/270

16
Selanjutnya orang-orang itu ditangkapi dan dilemparkan ke dalam api, hal itu
karena kebohongan mereka sangatlah besar naudzubillah- bukan sesuatu yang
remeh. Menurut suatu riwayat, Abdullah bin Saba iyah, karena mereka
mengklaimnya sebagai tuhan.

Kembali kami katakan bahwa semua orang yang termasuk ahli Kiblat tidak
ada yang mengingkari kedua bentuk tauhid ini yakin tauhid rubbuhiyyah dan tauhid
uluhiyyah meskipun ada sebagian ahli bidah yang menuhankan manusia.

17
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tentang Aqidah Islam( Tauhid) dan pembagian tauhid
dalam bab sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut :
Pengertian Tauhid

TAUHID ditinjau dari sudut bahasa (etimologi) kata tauhid merupakan bentuk
kata mashdar dari asal kata kerja lampau yaitu: Wahhada yuwahhidu wahdah yang
memilki arti mengesakan atau menunggalkan.Dengan demikian ilmu Tauhid adalah
salah satu cabang ilmu studi keislaman yang lebih memfokuskan pada pembahasan
wujud Allah dengan segala sifatnya serta tentang rasul-Nya, sifat-sifat-Nya serta
tentang para Rasul-Nya, sifat-sifat dan segala perbuatan-Nya dengan berbagai
pendekatan.

Tauhid Rububiyah

Yaitu mengesakan Allah dalam tiga perkara: menciptakan, menguasai, dan


mengatur.

Dalilnya adalah Firman Allah:


Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.(Al-
Araf;54).

Titik pengambilan dalil dari ayat ini adalah didahulukannya khabar yang
seharusnya diakhirkan dan kaidah ilmu balaghah menyatakan bahwa,
mendahulukan sesuatu yang semestinya dikahirkan menunjukkan pembatasan.
Kemudian perhatikanlah pembukaan ayat ini dengan yang berfungsi menarik
perhatian dan menegaskan,Yakni hal Allah semata bukan hak selain-Nya.

18
Menciptakan ini adalah menciptakan (yang kita kenal), dan memerintah maksudnya
adalah mengatur.

Tauhid Uluhiyyah

Yaitu mengesakan Allah dengan ibadah, di mana Anda tidak menjadi hamba
bagi selain-Nya. Anda tidak menyembah malaikat, nabi, wali, syaikh, bapak dan
ibu; Anda tidak menyembah kecuali Allah semata. Anda tidak menyembah kecuali
Allah semata. Anda mengesakan Allah dengan penghambaan diri dan menuhankan-
Nya. Oleh karena itu, ia disebut tauhid uluhiyyah dan dinamakan tauhid ibadah.
Jika dilihat dari sisi Allah, maka ia adalah tauhid uluhiyyah dan jika dari sisi hamba,
maka ia adalah tauhid ibadah.

Ibadah berpijak kepada dua perkara besar, yaitu cinta dan mengagungkan,
yang keduanya menghasilkan (sikap yang disebut dalam ayat berikut),





Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam
(mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami
dengan harap dan cemas. (Al-Anbiya;90).

19
Daftar Pustaka

1.Prof.Dr Muhaimin, MA. 2.Dr.Abdul Mujib, M.Ag .3.Dr. Jusuf


Mudzakkir, M.SI 2005. Kawasan dan Wawasan Studi Islam.Jakarta; Fajar
Interpratama Offset.
Mulyono dan Bashori. 2010. Studi Ilmu Tauhid Kalam.Malang; UIN-
MALIKI PRESS (AnggotaIKAPI)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. 1996. Buku Induk Akodah
Islam.Jakarta; Darul Haq.

20