Está en la página 1de 12

ASUHAN KEPERAWATAN

KLIEN DENGAN HALUSINASI

Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa 2

Dosen Pengampu: Zumrotul Choiriyah,S.Kep.,Ns

Disusun oleh :

1. Nanik Handayani 010115a077


2. Nurul Khotimah 010115a090
3. Sahrul
4. Saiful Amri
5. Setiyani 010115a114
6. Yuli Ambar Nirmala Dewy 010115a138

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO UNGARAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan, karena berkat rahmat dan
karuniaNyalah akhirnya kami dapat menyelesaikan Asuhan Keperawatan ini untuk memenuhi
tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa. Adapun tujuan dari Asuhan Keperawatan ini adalah
untuk memahami mengenai Halusinasi dan Waham.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa Asuhan Keperawatan ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna, mengingat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki
masih sangat terbatas. Oleh karena itu, Saya juga mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun semangat, agar kedepan bisa membuat Asuhan Keperawatan dengan
lebih baik. Dan saya berharap Asuhan Keperawatan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan
pihak yang memerlukan pada umumnya. Semoga Tuhan memberikan rahmat serta
karuniannya kepada semua pihak yang telah turut membantu penyusunan Asuhan
Keperawatan ini.

Ungaran, 13 September 2017

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Fenomena gangguan jiwa saat ini mengalami peningkatan yang signifikan, setiap
tahun di berbagai belahan dunia jumlah penderita gangguan jiwa bertambah. Berdasarkan
data World Health Organization (WHO) tahun 2013, ada sekitar 450 juta orang di dunia yang
mengalami gangguan jiwa. WHO menyatakan setidaknya ada satu dari empat orang di dunia
mengalami masalah mental dan masalah gangguan jiwa yang ada di seluruh dunia sudah
menjadi masalah yang serius (Hartanto, 2014).
Tujuan perawatan pasien dengan gangguan jiwa salah satunya adalah mengembalikan
fungsi sosial pasien sehingga pasien mampu menjalankan kembali perannya di masyarakat.
Gangguan jiwa adalah sindrom atau pola perilaku yang secara klinis bermakna yang
berhubungan dengan distress atau penderitaan yang menimbulkan gangguan pada satu atau
lebih fungsi kehidupan manusia. (Yanuar, 2012).
Prevalensi masalah kesehatan jiwa di Indonesia sebesar 6,55%. Angka tersebut
tergolong sedang dibandingkan dengan negara lainnya. Data dari 33 Rumah Sakit Jiwa (RSJ)
yang ada di seluruh Indonesia menyebutkan hingga kini jumlah penderita gangguan jiwa
berat mencapai 2,5 juta orang. Penderita gangguan jiwa berat dengan usia di atas 15 tahun di
Indonesia mencapai 0,46%. Hal ini berarti terdapat lebih dari 1 juta jiwa di Indonesia yang
menderita gangguan jiwa berat. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa 11,6% penduduk
Indonesia mengalami masalah gangguan mental emosional (Riset Kesehatan Dasar, 2007).
Sedangkan pada tahun 2013 jumlah penderita gangguan jiwa mencapai 1,7 juta (Riset
Kesehatan Dasar, 2013)
Prevalensi gangguan jiwa di Jawa Tengah mencapai 3,3% dari seluruh populasi yang
ada. Berdasarkan data dari dinas kesehatan propinsi jawa tengah tercatat ada 1.091 kasus
yang mengalami gangguan jiwa dan beberapa dari kasus tersebut hidup dalam pasungan.
Angka tersebut diperoleh dari pendataan sejak Januari hingga November 2012 (Hartanto,
2014).
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN

Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan
perubahan sensori perepsi: merasakan sensasi palsu berupa suara, pengelihatan, pegecapan,
peraba atau penghiduan. Pasien merasakan stimulus yang sebenarnya tidak ada. (Keliat dan
Akemat, 2012)
Halusinasi merupakan suatu keadaan dimana terdapat persepsi sensoris dalam kondisi
sadar tanpa adanya rangsangan eksternal yang sesungguhnya.1International Pilot Study of
Schizophrenia (IPSS) memperkirakan bahwa 70% dari pasien skizofrenia mengalami
halusinasi. Halusinasi yang paling umum dalam skizofrenia adalah pendengaran, diikuti oleh
visual. Secara keseluruhan, salah satu kesan yang didapatkan pada visual skizofrenia yaitu
adanya dunia yang seperti dongeng, diisi dengan hal-hal yang tidak ada di dunia nyata dan
orang-orang yang muncul dalam bentuk simbolik, fragmentaris atau dilemahkan

B. ETIOLOGI
Berikut ini akan diuraikan fase halusinasi, karakteristik menurut Depkes RI (2000)
dalam Dermawan dan Rusdi (2013)
Fase-fase halusinasi, meliputi :
1. Conforting (menyenangkan)
Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stress, rasa gelisah, kesepian. Klien
mungkin melamun atau memfokuskan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk
menghilangkan kecemasan dan stress. Cara ini menolong untuk sementara. Klien
masih mampu mengontrol kesadaraanya dan mengenal pikirannya, namun intensitas
persepsi meningkat.
2. Condemming
Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal,
klien berada pada tingkatlistening pada halusinasi. Pemikiran internal menjadi
menonjol, gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak
jelas klien takut apabila orang lain mendengar dank lien merasa tak mampu
mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan
memproyeksikan seolah olah halusinasi datang dari orang lain.
3. Kontroling
Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi terbiasa dan tak
berdaya pada halusinasinya. Termasuk dalam gangguan psikotik.
4. Conquering (panik)
Klien merasa terpaku dan tak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya.
Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah
dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk
dengan halusinasi nya klien berada dalam dunia yang menakutkan dalam waktu
singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan
intervensi.

C. KLASIFIKASI
Pada klien dengan gangguan jiwa ada beberapa jenis halusinasi dengan karakteristik
tertentu diantaranya :
1. Halusinasi pendengaran, karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama
suara suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang
membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan
sesuatu.
2. Halusinasi penglihatan, karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam
bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun dan / atau panorama
yang luas dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan.
3. Halusinasi penciuman, karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau
yang menjijikkan seperti : darah, urine atau feses. Kadang kadang terhidu bau
harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia.
4. Halusinasi peraba, karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak
tanpa stimulus yang terlihat. Contoh : merasakan sensasi listrik datang dari tanah,
benda mati atau orang lain.
5. Halusinasi pengecap, Karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk,
amis dan menjijikan.
6. Halusinasi sinestetik, karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti
darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine.
D. TANDA DAN GEJALA

Menurut Prabowo (2014), perilaku pasien yang terkait dengan halusinasi adalah
sebagai berikut:
1. Bicara, senyum, dan tertawa sendiri.
2. Gerakan bibir tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, dan respon verbal yang
lambat.
3. Menarik diri dari orang lain, dan berusaha untuk menghindari diri dari orang lain.
4. Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan keadaan tidak nyata.
5. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernafasan, tekanan darah.
6. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik dan
berkonsentrasi dengan pengalaman sensorinya.
7. Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya), dan takut.
8. Sulit berhubungan dengan orang lain.
9. Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung, jengkel dan marah.
10. Tidak mampu mengikuti perintah dengan perawat.
11. Tampak tremor dan berkeringat.

E. POHON MASALAH

Resiko mencederai diri sendiri,


orang lain, dan lingkungan

Perubahan persepsi sensosi :


Halusinasi

Isolasi sosial : Menarik Diri


F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada kasus ensefalits supuratf akut
adalah pemeriksaan yang biasa dilakukan pada kasus-kasus infeksi lainnya. Di samping
itu dapat juga dilakukan pemeriksaan elektroensefalogram (EEG), foto rontgen kepala,
bila mungkin CT-Scan otak, atau arteriograf. Pungsi lumbal tdak dilakukan bila terdapat
edema papil. Bila dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinal maka dapat diperoleh
hasil berupa peningkatan Tekanan intracranial, pleiositosis polinuklearis, jumlah protein
yang lebih besar daripada normal, dan kadar klorida dan glukosa dalam batas-batas
normal.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Diagnosa keperawatan
Halusinasi

2. Rencana tindakan keperawatan

Diagnosa : Gangguan persepsi sensori halusinasi


Tujuan umum : klien tidak mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Intervensi :
a. Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan menggunakan/
komunikasi terapeutik yaitu sapa klien dengan ramah, baik secara verbal
maupun non verbal, perkenalkan nama perawat, tanyakan nama lengkap klien
dan panggilan yang disukai, jelaskan tujuan pertemuan, jujur dan menepati
janji, bersikap empati dan menerima klien apa adanya.
b. Dorong klien mengungkapkan perasaannya.
c. Dengarkan klien dengan penuh perhatian dan empati.

2. Klien dapat mengenal halusinasinya.


Intervensi :
a. Adakan kontak sering dan singkat.
b. Observasi segala perilaku klien verbal dan non verbal yang berhubungan
dengan halusinasi.
c. Terima halusinasi klien sebagai hal yang nyata bagi klien, tapi tidak nyata bagi
perawat.
d. Diskusikan dengan klien situasi yang menimbulkan dan tidak menimbulkan
situasi.
e. Diskusikan dengan klien faktor predisposisi terjadinya halusinasi.
3. Klien dapat mengontrol halusinasi.
Intervensi :
a. Diskusikan dengan klien tentang tindakan yang dilakukan bila halusinasinya
timbul.

4. Klien dapat memanfaatkan obat dalam mengontrol halusinanya.


Intervensi :
a. Diskusikan dengan klien tentang cara memutuskan halusinasinya.
b. Dorong klien menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasi.
c. Berikan reinforcement positif atas keberhasilan klien menyebutkan kembali
cara memutuskan halusinasinya.

5. Klien mendapat sistem pendukung keluarga dalam mengontrol halusinasinya.


Intervensi :
a. Diskusikan dengan klien tentang cara memutuskan halusinasinya.
b. Dorong klien menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasi.
c. Berikan reinforcement positif atas keberhasilan klien menyebutkan kembali
cara memutuskan halusinasinya.
d. Diskusikan dengan klien tentang obat untuk mengontrol halusinasinya.
e. Kaji kemampuan keluarga tentang tindakan yg dilakukan dalam merawat klien
bila halusinasinya timbul.
f. Diskusikan juga dengan keluarga tentang cara merawat klien yaitu jangan
biarkan klien menyendiri, selalu berinteraksi dengan klien, anjurkan kepada
klien untuk rajin minum obat, setelah pulang kontrol 1 x dalam sebulan.
1. Implementasi
a. Strategi pelaksanaan klien

- SP 1 Pasien : Membantu pasien mengenal halusinasi (isi, frekuensi, waktu),


mengajarkan bahwa suara itu tidak nyata, bagaimana respon dia, bsagaimana
respon orang lain ketika halusinasinya timbul, menjelaskan cara-cara
mengontrol halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara
pertama: menghardik halusinasi.
- SP 2 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara
kedua:bercakap-cakap dengan orang lain
- SP 3 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga:
melaksanakan aktivitas terjadwal
- SP 4 Pasien: Melatih pasien menggunakan obat secara teratur

b. Strategi pelaksanaan keluarga


- SP 1 Keluarga : Pendidikan Kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis
halusinasi yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi dan cara-cara
merawat pasien halusinasi.
- SP 2 Keluarga: Melatih keluarga praktek merawat pasien langsung
dihadapan pasien
- SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga

B. EVALUASI

a. Evaluasi pasien
Asuhan keperawatan klien dengan halusinasi berhasil jika klien menunjukkan
kemampuan mandiri untuk mengontrol halusinasi dengan cara yang efektif yang
dipilihnya. Klien juga diharapkan sudah mampu melaksanakan program pengobatan
berkelanjutan mengingat sifat penyakitnya yang kronis
Evaluasi asuhan keperawatan berhasil jika keluarga klien juga menunjukkan
kemampuan menjadi sistem pendukung yang efektif untuk klien mengatasi masalah
gangguan jiwanya. Kemampuan merawat di rumah dan menciptakan lingkungan
kondusif bagi klien di rumah menjadi ukuran keberhasilan asuhan keperawatan, di
samping pemahaman keluarga untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai jika
muncul gejala-gejala relaps.
b. Evaluasi keluarga
Keluarga merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan asuhan
keperawatan pada pasien dengan halusinasi. Dukungan keluarga selama pasien di
rawat di rumah sakit sangat dibutuhkan sehingga pasien termotivasi untuk sembuh.
Demikian juga saat pasien tidak lagi dirawat di rumah sakit (dirawat di rumah).
Keluarga yang mendukung pasien secara konsisten akan membuat pasien mampu
mempertahankan program pengobatan secara optimal. Namun demikian jika keluarga
tidak mampu merawat pasien, pasien akan kambuh bahkan untuk memulihkannya lagi
akan sangat sulit. Untuk itu perawat harus memberikan pendidikan kesehatan kepada
keluarga agar keluarga mampu menjadi pendukung yang efektif bagi pasien dengan
halusinasi baik saat di rumah sakit maupun di rumah.

Tindakan keperawatan yang dapat diberikan untuk keluarga pasien halusinasi adalah:
1. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
2. Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi yang
dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi, proses terjadinya halusinasi, dan cara
merawat pasien halusinasi.
3. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara merawat pasien
dengan halusinasi langsung di hadapan pasien
4. Buat perencanaan pulang dengan keluarga
DAFTAR PUSTAKA

Sukarno, aji dkk. Kemampuan Perawat Dalam Merawat Pasien Dengan Gangguan Jiwa
Di Ruang Psikiatri Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi Semarang.
jurma.unimus.ac.id
Zukna, Neola Amanda Miskanita dkk. Pasien dengan Halusinasi dan Waham Bizarre. J
Medula Unila Volume 7 Nomor 1 Januari 2017
Keliat, Budi Ana dkk. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta : EGC, 2009
Yusuf, A dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika.
hal: 111 125.