Está en la página 1de 11

PROBLEMATIKA REKAYASA BUDIDAYA TANAMAN

PROBLEMATIKA PERSIAPAN LAHAN


MAKALAH

Oleh :

Yonna Anggita Dewi (20160210064)


Azmi Hanafiah Dwi P (20160210100)
Emilda Pramesti (20160210103)
Randy Akbar Putra (20160210105)
Mahendra Wijaya Kusuma (20160210114)

PRODI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
Oktober, 2017
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Penyiapan lahan pada prinsipnya membebaskan lahan dari tumbuhan pengganggu


atau komponen lain dengan maksud untuk memberikan ruang tumbuh kepada tanaman
yang akan dibudidayakan. Lahan atau tanah merupakan sumberdaya alam fisik yang
mempunyai peranan penting dalam segala kehidupan manusia, karena lahan atau tanah
diperlukan manusia untuk tempat tinggal dan hidup, melakukan kegiatan pertanian,
peternakan, perikanan, kehutanan, pertambangan dan sebagainya. Karena pentingnya
peranan lahan atau tanah dalam kehidupan manusia, maka ketersediaannya juga jadi
terbatas (Prasetyo, dkk, 2008).

Penyiapan lahan untuk tujuan budidaya tanaman merupakan upaya untuk


menyiapkan kondisi lingkungan fisik yang sesuai dengan persyaratan tumbuh kembang
tanaman. Faktor iklim, topografi, tanah dan lingkungan fisik pendukung lainnya seperti
ketersediaan dan cadangan air harus menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan
apakah lahan tersebut sudah memenuhi syarat untuk digunakan sebagai lahan usahatani
yang berkelanjutan. Beberapa faktor mungkin sudah sesuai tetapi beberapa faktor
lainnya memerlukan sentuhan teknologi untuk memodifikasinya sehingga sesuai atau
paling tidak telah mendekati kebutuhan sesuai persyaratan tumbuh kembang tanaman yang
akan dibudidayakan (Djaenudin, dkk, 2003).

Tanaman merupakan salah satu penopang hidup manusia yang sangat penting.
Disamping itu tumbuhan juga memiliki peranan yang sangat penting untuk perkembangan
makhluk hidup. Perlu dilakukan pembudidayaan tanaman terutama tanaman berkhasiat
yang banyak manfaat seperti Kumis Kucing yang sekarang ini mempunyai prospek cerah
untuk dibudidayakan. Oleh karena itu, untuk membudidayakan tanaman Kumis Kucing
perlu dilakukan persiapan lahan yang baik yang mendukung tanaman untuk tumbuh lebih
sempurna.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana persiapan lahan dari lahan palawija menjadi lahan untuk budidaya
kumis kucing?

1
C. Tujuan

Untuk memahami dan mengerti mengenai persiapan lahan dari lahan palawija
menjadi lahan untuk budidaya kumis kucing.

2
II. TINJAUAMN PUSTAKA

A. Kumis Kucing

Orthosiphon aristatus (Blume) Miq., atau dikenal dengan nama kumis


kucing termasuk tanaman dari famili Lamiaceae/Labiatae. Tanaman ini merupakan salah
satu tanaman obat asli Indonesia yang mempunyai manfaat dan kegunaan yang cukup
banyak dalam menanggulangi berbagai penyakit (Dwiyanto, 2002).

Klasifikasi

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae (Menghasilkan biji)

Kelas : Dicotyledoneae (Biji berkeping 2)

Subkelas : Asteridae

Ordo : Lamiales

Famili : Lamiaceae

Genus : Orthosiphon

Spesies : Orthosiphon aristatus (Blume) Miq.

Kumis kucing termasuk terna, tumbuhan tegak, pada bagian bawah berakar di
bagian buku-bukunya dan tingginya mencapai 2 meter. Batang bersegi empat agak beralur
berbulu pendek atau gundul. Helai daun berbentuk bundar atau lojong, lanset, bundar telur
atau belah ketupat yang dimulai dari pangkalnya. Urat daun sepanjang pinggir berbulu
tipis atau gundul, dimana kedua permukaan berbintik-bintik. Ciri khas tanaman ada pada
bagian kelopak bunga berkelenjar, urat dan pangkal berbulu pendek dan jarang sedangkan
di bagian yang paling atas gundul. Bunga bibir, mahkota yang bersifat terminal yakni
berupa tandan yang keluar dari ujung cabang, di bagian atas ditutupi oleh bulu pendek
berwarna ungu dan kemudian menjadi putih. Benang sari ukurannya lebih panjang dari
tabung bunga dan melebihi bibir bunga bagian atas. Buah geluk berwarna coklat gelap,

3
gagang berbulu pendek dan jarang, biji coklat gelap. Berbulu pendek dan jarang, biji
coklat gelap (Tjitrosoepomo, 2005).

B. Lahan

Menurut Shadiqin (2013) lahan (land) atau sumberdaya lahan (land resources)
adalah lingkungan fisik yangterdiri dari iklim, relief, tanah, air dan vegetasi serta benda
yang ada diatasnya sepanjangada pengaruhnya terhadap penggunaan tanah. Sedangkan
tanah adalah suatu benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-komponen padat,
cair dan gas dan mempunyai sifat serta perilaku yang dinamik. Lahan memiliki kualitas
yang dipengaruhi oleh ketersediaan air, erosi, ketersediaan unsur hara, dan lain sebagainya.
Pada suatu lahan perlu dilakukan aktivitas perbaikan guna memperbaiki dan menajaga
kualitas lahan agar tetap bermanfaat, karena penanaman pada lahan secara terus-menurus
dan tanpa adanya pengolahan yang baik akan menurunkan kualitas lahan sehingga akan
berpengaruh pada menurunnya hasil produk pertaniannya. Selain itu, penggunaan lahan
yang tidak sesuai dengan kemampuan lahannya juga akan menyebabkan berkurangnya
kemampuan lahan dalam memproduksi hasil. Hal itu disebkan oleh kebutuhan kondisi
lahan yang berbeda antara spesies tanaman satu dengan yang lainnya. Namun umumnya
tanaman membutuhkan kondisi tanah yang gembur dengan struktur tanah yang mudah
ditembus oleh pertumbuhan akar, memiliki cukup bahan organik, mempunyai agregat yang
baik agar tanaman bisa berjangkar pada tanah, mempunyai tingkat drainase dan aerasi
yang baik agar kebutuhan air dan udara tanahnya dapat tercukupi, memiliki pH netral
sampai agak asam (5,5-7), serta mendapat sinar matahari penuh.

C. Persiapan Lahan

Dalam budidaya tanaman persiapan lahan merupakan suatu tahapan yang penting.
Persiapan lahan yang baik mampu mengoptimalkan pertumbuhan dari tanaman, karena
sebagian besar kebutuhan tanaman berasal dari dalam tanah seperti unsur hara, air, dll.
Menurut Ina Naya (2011) persiapan lahan adalah kegiatan menyiapkan lahan yang sesuai
dengan jenis tanaman budidaya sehingga tanaman akan tumbuh secara optimal. Persiapan
lahan dilakukan sebelum penanaman yang meliputi pengolahan lahan, penyiangan gulma
yang tumbuh, pemupukan dasar, pembuatan bedengan hingga pemasangan mulsa.
Pengolahan tanah merupakan cara untuk memperbaiki kondisi fisik, kimia maupun biologi
tanah. Mengolah lahan merupakan pekerjaan memodifikasi atau memanipulasi tanah di
daerah perakaran tanaman secara langsung. Hal itu, bertujuan untuk memperbaiki area

4
tersebut bagi pertumbuhan akar, ketersediaan hara dan produksi. Pengolahan tanah dapat
memperbaiki kondisi tanah karena mengubah struktur dan tekstur tanah menjadi lebih baik
sehingga aerasi dan drainase tanah juga menjadi lebih baik. Aerasi yang baik
mengakibatkan jasad renik dapat berkembang dengan baik, sehingga menambah kesuburan
tanah. Selain itu, juga mempermudah air merasap sehingga tanah tidak tergenang dan
kelembabannya terjaga. Tanah yang telah diolah akan memiliki struktur yang remah dan
teksturnya menjadi halus. Sehingga, penyerapan air menjadi lebih baik dan tercipta
rongga-rongga di dalam tanah agar akar tanaman dapat bernafas. Pengolahan lahan
tersebut meliputi penggaruan dan pemupukan lahan, Penggaruan lahan dapat dilakukan
dengan menggunakan cangkul atau traktor. Penggaruan lahan ini bertujuan untuk
menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah yang keras, sehingga struktur dan tekstur tanah
memungkinkan untuk ditanami. Sedangkan pemupukan lahan bertujuan untuk menambah
unsur hara dalam tanah agar tanah menjadi lebih subur dan dapat mencukupi kebutuhan
tanaman akan unsur hara. Sehingga, pertumbuhan tanaman lebih optimal.

5
III. PEMBAHASAN
A. Kasus
Tanaman Kumis Kucing sekarang ini mempunyai prospek yang cerah untuk
dibudidayakan sebagai bahan baku obat herbal. Bu Namung tertarik untuk
membudidayakannya. Ia mempunyai ladang berukuran 1 hektar dengan dengan pengairan
yang cukup bagus dan biasa ditanami dengan palawija. Untuk mengubah fungsi lahan
tersebut, maka Bu Namung perlu pengetahuan tentang tatacara pengolahan dan
penyimpanan lahannya guna dialihfungsikan dan disiapkan untuk penanaman Kumis
Kucing. Berikan jalan keluar permasalahan Bu Namung tersebut.

B. Analisis

Lahan tanah Bu Namung seluas 1 ha yang dulunya ditanami palawija dan beliau
memiliki keinginan untuk merubahnya menjadi tanaman obat-obatan bisa beliau lakukan.
Tanah Bu Namung yang memiliki pengairan yang cukup bagus merupakan kriteria tanah
yang cocok untuk menanam tanaman obat kumis kucing. Kriteria lahan untuk penanaman
tanaman kumis kucing ialah tanah yang gembur atau subur, banyak mengandung bahan
organik yang dapat mengikat unsur hara dan air. Untuk jenis tanah yang baik yaitu jenis
tanah andosol dan latosol. Keduanya memiliki sifat yaitu mudah menyerap atau mengikat
air.

C. Formulasi Pemecahan Masalah/Solusi

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Bu Namung harus diberikan penjelasan


terkait lahan yang beliau miliki, bahwa lahan beliau merupakan lahan yang cukup baik
untuk dialihfungsikan sebagai tanaman kumis kucing. Pada dasarnya tanaman kumis
kucing membutuhkan kriteria/karakteristik lahan yang memiliki pengairan yang baik.
Selanjutnya, diberikan pelatihan atau arahan untuk mengolah lahan tersebut.

Menurut Dian Wahyudi (2001), terdapat beberapa tahapan dalam penyiapan lahan
diantaranya:

1. Pengolahan Media Tanam


a. Persiapan Tanah
Membersihkan lahan dari gulma dan sisa tumbuhan lain yang ada. Kemudian tanah
diolah sedalam 30-40 cm hingga mendapat strutur tanah yang remah dan gembur.

6
Apabila diperlukan, dapat menaburkan kapur dolmite pada tanah dengan tujuan
untuk mengatur tingkat keasaman tanah sehingga tanah akan subur.
b. Pembentukan Bedengan
Pada tanah yang sudah diolah selanjutnya dilakukan pembuatan bedengan.
Umumnya lebar bedengan berkisar 90-100cm dengan tinggi 25-30cm. Setelah itu
tepat disela-sela bedengan dibuat galengan dengan tujuan sebagai saluran irigasi.
Pada umunya ukuran galengan berkisar 30-50cm. Panjang dari bedengan dan
galengan ini disesuaikan dengan panjang dari lahan tanamnya.
c. Pemupukan Dasar (sebelum tanam)
Pada tahapan ini dilakukan pemupukan dasar dengan menambahkan pupuk kompos
atau pupuk kandang kurang lebih 40-60 ton/ha. Selanjutnya tanah didiamkan
selama 15 hari.
2. Pembibitan

Budidaya pada tanaman kumis kucing umumnya melalui perbanyakan secara


vegetatif yaitu dengan stek batang atau cabang. Adapun kebutuhan bahan tanam untuk 1
hektar dengan jarak tanam 40 x 40 cm diperlukan 50.000-62.500 stek/ha. Bahan tanaman
yang diambil umumnya sebagai berikut:
a) Memilih batang atau cabang yang tidak terlalu tua atau muda, serta sudah
berkayu.
b) Memotong batang dengan pisau tajam.
c) Memotong batang menjadi stek berukuran 1520 cm.
d) Membuang sebagian daun dengan maksud mengurangi penguapan air.
e) Selanjutnya stek dapat langsung ditanam di kebun produksi atau ditanam dulu di
persemaian. Apabila dalam persemaian stek ditanam dgn jarak tanam 10x10 cm
dan sedalam 20 cm. Penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari. Bila perlu
persemaian dinaungi dgn naungan plastik transparan atau jerami/daun kering.
Setelah timbul tunas baru, bibit dipindahkan ke kebun produksi.
3. Teknik Penanaman
a. Penentuan Pola Tanaman
Waktu tanam terbaik untuk dilakukan penanaman adalah di awal musim hujan
(Oktober-Desember) kecuali apabila air tersedia (irigasinya baik), waktu tanam
bisa dilaksanakan kapan saja.
b. Pembuatan Lubang Tanam

7
Pembuatan lubang tanam disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan dibudidaya.
Pada kasus ini kumis kucing akan efektif ditanam pada jarak tanam 40 x 40 cm.
c. Cara Penanaman
Memilih bibit yg baik dari pembibitan (stek). Membuat lubang kecil sebagai
lubang tanam. Menanamkan stek tegak lurus sedalam 5 cm atau 1/3 bagian dari
pangkal batang stek. Pada setiap lubang tanam diisi dengan 4-6 bibit/stek.
Memadatkan tanah di sekitar lubang tanam yang telah ditanami. Kemudian
dilakukan penyiraman secukupnya.

8
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan definisi kasus dan hasil pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa tahap penyiapan lahan kumis kucing terdiri dari 3 tahap yaitu tahap
pengolahan media tanam, tahap pembibitan, dan tahap penanaman. Tahap pembibitan
dilakukan dengan cara menyiapkan bibit dengan cara perbanyakan vegetatif dengan stek
batang/cabang. Tahap pengolahan media tanam meliputi persiapan, pembuatan bedengan
dan pemupukan. Sedangkan tahap dari teknik penanaman meliputi penentuan pola tanam,
pembuatan lubang tanam dan cara penanaman.

9
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Cara Budidaya Tanaman Kumkis Kucing Lengkap. http://www.budidaya-


petani.com/2013/02/budidaya-tanaman-kumis-kucing-lengkap.html?m=0. Diakses
pada 23 Oktober 2017.
Dian Wahyudi. 2001. Pentingnya Persiapan Lahan. http://benihpertiwi.co.id/pentingnya-
persiapan-lahan-sebelum-tanam/#.WfIX4NOCzIU. Diakses pada 25 Oktober 2017.
Djaenudin, D. dkk. 2003. Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan Untuk Komoditas
Pertanian. Balai Penelitian Tanah. Puslitbang Tanah. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian: Bogor.
Dwiyanto. 2009. Ramuan Tradisional cetakan ke-1.Yogyakarta : Quills Publisher.
Ina, Naya. 2011. Penyiapan Lahan.
https://www.academia.edu/10889169/Penyiapan_Lahan. Diakses pada 16 Oktober
2017.
Jupri. 2001. Lahan.
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/196006151988031-
JUPRI/LAHAN.pdf. Diakses pada 16 Oktober 2017.
Prasetyo, dkk. 2008. Bahan Kuliah Produksi Tanaman Perkebunan I. Fakultas Pertanian
UNIB, Bengkulu.
Sadiqin, L. 2013. Pengelolaan Lahan Pertanian.
https://www.academia.edu/13778576/PENGELOLAAN-LAHAN-PERTANIAN.
Diakses pada 16 Oktober 2017.
Samudi, S. 2001. Persiapan Lahan.
http://www.tanindo.com/index.php?option=com_content&view=article&id=57:1-
persiapan-lahan&catid=69:1-persiapan-lahan&Itemid=33. Diakses pada 16 Oktober
2017.
Syaiful, Dwianto. 2015. Pentingnya Tanah dan Lahan Untuk Pertanian.
http://dwiantosyaiful.web.ugm.ac.id/?p=19. Diakses pada 16 Oktober 2017.
Tjitrosoepomo, Gembong.2005.Morfologi Tumbuhan.Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.

10