Está en la página 1de 21

Aliran Energi dan Daur Biogeokimia

Posted by Guru Kito on 11.11.10


Pada suatu tempat di sekitar kita dapat ditemukan adanya berbagai jenis
organisme, baik sejenis maupun berbeda jenis yang membentuk suatu organisasi
kehidupan. Mereka berinteraksi saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang
lain dalam berbagai bentuk.

Satu organisme dikenal sebagai individu, dan populasi merupakan sekumpulan


organisme sejenis yang berinteraksi pada tempat dan waktu yang sama. Jumlah
individu sejenis yang terdapat pada satuan luas tertentu dinamakan kepadatan
populasi. Antara populasi yang satu dengan populasi yang lain selalu terjadi
interaksi, baik secara langsung atau tidak langsung dalam suatu komunitas. Dalam
suatu komunitas senantiasa terdapat tumbuhan, hewan dan mikroorganisme.
Organisasi kehidupan yang merupakan kesatuan komunitas-komunitas dengan
lingkungan abiotik (fisik) tempat hidupnya membentuk suatu ekosistem. Seluruh
ekosistem yang ada di dunia ini membentuk biosfer sebagai bagian permukaan bumi
yang dihuni oleh suatu kehidupan.

Telah kita ketahui bahwa antara komponen ekosistem senantiasa saling


berinteraksi. Tujuan utama interaksi antar komponen berkaitan erat dengan
kelangsungan hidup. Bertambahnya anggota populasi menyebabkan kepadatan
bertambah, sehingga antar individu harus bersaing untuk mencukupi kebutuhannya.
Persaingan antar individu dalam populasi memiliki intensitas yang paling tinggi
karena mereka memiliki persamaan kebutuhan hidup yang disebut kompetisi
intraspesifik. Di dalam suatu komunitas, populasi yang satu senantiasa berinteraksi
dengan populasi yang lain. Bentuk interaksi antar populasi dapat berupa kompetisi,
predasi, simbiosis, maupun antibiosis. Kompetisi antar populasi dinamakan
kompetisi interspesifik, yaitu bila kedua populasi menempati niche yang sama pada
habitat yang sama. Misalnya, rumput ilalang dengan tanaman jagung di lahan
petani. Interaksi mereka dapat menyebabkan terusirnya populasi tertentu, migrasi,
adaptasi, dan kematian sehingga mempengaruhi kepadatan populasi pada suatu
tempat.

Berikut ini akan kita kaji bentuk-bentuk interaksi dalam ekosistem lainnya yang
meliputi rantai makanan, jaring-jaring makanan, piramida ekologi, aliran energi, dan
daur materi.

1. Rantai makanan dan Jaring-jaring makanan

Contoh rantai makanan

Rantai makanan merupakan proses aliran energi melalui memakan dan dimakan
antarorganisme yang berlangsung secara teratur dan membentuk suatu garis tertentu.
Misal: Rumput-Ulat-Burung Kecil-Kucing. sedangkan jaring-jaring makanan adalah
kumpulan dari rantai makanan yang saling berhubungan dan membentuk skema mirip
jaring.
Kelangsungan hidup organisme membutuhkan energi dari bahan organik yang
dimakan. Bahan organik yang mengandung energi dan unsur-unsur kimia transfer
dari satu organisme ke organisme lain berlangsung melalui interaksi makan dan
dimakan. Peristiwa makan dan dimakan antar organisme dalam suatu ekosistem
membentuk struktur trofik yang bertingkat-tingkat.
Contoh jaring-jaring makanan

Setiap tingkat trofik merupakan kumpulan berbagai organisme dengan


sumber makanan tertentu. Tingkat trofik pertama adalah kelompok organisme
autotrop yang disebut produsen. Organisme autotrop adalah organisme yang dapat
membuat bahan organik sendiri dari bahan anorganik dengan bantuan sumber
energi. Bila dapat menggunakan energi cahaya seperti cahaya, matahari disebut
fotoautotrop, contohnya tumbuhan hijau dan fitoplankton. Apabila menggunakan
bantuan energi dari reaksi-reaksi kimia disebut kemoautotrop, misalnya, bakteri
sulfur, bakteri nitrit, dan bakteri nitrat.

Tingkat tropik kedua ditempati oleh berbagai organisme yang tidak dapat
menyusun bahan organik sendiri yang disebut organisme heterotrop. Organisme
heterotrop ini hanya menggunakan zat organik dari organisme lain sehingga disebut
juga konsumen. Pembagian konsumen adalah sebagai berikut.

a. Konsumen Primer
Organisme pemakan produsen atau dinamakan herbivora yang menempati tingkat
trofik kedua.

b. Konsumen Sekunder
Organisme pemakan herbivora yang dinamakan karnivora kecil yang menempati
tingkat trofik ketiga.

c. Konsumen Tersier
Organisme pemakan konsumen sekunder yang dinamakan karnivora besar yang
menempati tingkat trofik keempat.
Dalam suatu ekosistem tidak selamanya memiliki tingkat trofik yang sama
karena tergantung dari keanekaragaman pada suatu tempat. Namun, biasanya
terdiri dari empat sampai lima tingkat trofik. Jalur makan dan dimakan dari
organisme pada suatu tingkat trofik ke tingkat trofik berikutnya yang membentuk
urutan dan arah tertentu disebut rantai makanan.

Berdasarkan macam trofik pertamanya (produsen), rantai makanan


dibedakan menjadi rantai makanan perumput dan rantai makanan detritus.

Di dalam suatu ekosistem umumnya tidak hanya terdiri dari suatu rantai
makanan saja, tetapi lebih banyak dan komplek. Setiap organisme mungkin
mengambil makanan dari berbagai organisme dari trofik di bawahnya dalam rantai
makanan yang sama atau rantai makanan yang lain. Misalnya, organisme pemakan
segala (omnivora) dapat memakan produsen dan konsumen dari berbagai tingkat
trofik. Dengan demikian, di dalam suatu ekosistem hubungan makan dan dimakan
saling berkaitan dan bercabang sehingga membentuk jaring-jaring makanan.

2. Piramida ekologi
Struktur trofik dapat disusun secara urut sesuai hubungan makan dan dimakan
antar trofik yang secara umum memperlihatkan bentuk kerucut atau piramid.
Gambaran susunan antar trofik dapat disusun berdasarkan kepadatan populasi,
berat kering, maupun kemampuan menyimpan energi pada tiap trofik yang disebut
piramida ekologi. Piramida ekologi ini berfungsi untuk menunjukkan gambaran
perbandingan antar trofik pada suatu ekosistem. Pada tingkat pertama ditempati
produsen sebagai dasar dari piramida ekologi, selanjutnya konsumen primer,
sekunder, tersier sampai konsumen puncak.

Dikenal ada tiga macam piramida ekologi antara lain piramida jumlah, piramida
biomassa dan piramida energi. Gambaran ideal suatu piramida ekologi adalah
sebagai berikut.

a. Piramida jumlah
Penentuan piramida jumlah didasarkan pada
jumlah organisme yang terdapat pada satuan luas tertentu atau kepadatan populasi
antar trofiknya dan mengelompokan sesuai dengan tingkat trofiknya. Perbandingan
populasi antar trofik umumnya menunjukkan jumlah populasi produsen lebih besar
dari populasi konsumen primer lebih besar dari populasi konsumen skunder lebih
besar dari populasi konsumen tersier. Ada kalanya tidak dapat menggambarkan
kondisi sebagaimana piramida ekologi. Misalnya, pada sebuah pohon asam tinggal
jutaan semut, puluhan kupu-kupu, ratusan lebah, dan sekelompok burung pemakan
serangga.

b. Piramida biomassa

Piramida biomassa dibuat berdasarkan pada massa (berat) kering organisme


dari tiap tingkat trofik persatuan luas areal tertentu. Secara umum perbandingan
berat kering menunjukkan adanya penurunan biomassa pada tiap tingkat trofik.
Perbandingan biomassa antar trofik belum dapat menggambarkan kondisi
sebagaimana piramida ekologi.

c. Piramida energi
Dasar penentuan piramida energi
adalah dengan cara menghitung jumlah energi tiap satuan luas yang masuk ke
tingkat trofik dalam waktu tertentu, (misalnya per jam, per hari, per tahun). Piramida
energi dapat memberikan gambaran lebih akurat tentang kecepatan aliran energi
dalam ekosistem atau produktivitas pada tingkat trofik. Kandungan energi tiap trofik
sangat ditentukan oleh tingkat trofiknya sehingga bentuk grafiknya sesuai dengan
piramida ekologi yang sesungguhnya di lingkungan. Energi yang mampu disimpan
oleh individu tiap trofik dinyatakan dalam k kal/m2/hari.

Pada piramida energi tampak jelas adanya penurunan jumlah energi secara
bertahap dari trofik terendah ke trofik di atasnya. Penurunan ini disebabkan oleh hal-
hal berikut.

1) Hanya sejumlah makanan tertentu yang dapat dimakan oleh organisme trofik di
atasnya.
2) Beberapa bahan makanan yang sulit dicerna dibuang dalam keadaan masih
mengandung energi kimia.
3) Hanya sebagian energi kimia dalam bahan makanan yang dapat disimpan dalam
sel dan sebagian lainnya untuk melakukan aktivitas hidup.

Selain itu bentuk piramida energi jika dibandingkan pada suatu tempat dengan
tempat lain, dapat diketahui efisiensi produktivitas pada kedua tempat itu.

3. Arus energi dan daur materi

Dari aktivitas di atas kamu dapat melihat adanya perpindahan energi pada
sebuah rantai makanan. Pada proses perpindahan selalu terjadi pengurangan
jumlah energi setiap melalui tingkat trofik makan-memakan. Energi dapat berubah
menjadi bentuk lain, seperti energi kimia, energi mekanik, energi listrik, dan energi
panas. Perubahan bentuk energi menjadi bentuk lain ini dinamakan transformasi
energi.

Sumber energi utama bagi kehidupan adalah cahaya matahari. Energi cahaya
matahari masuk ke dalam komponen biotik melalui produsen (organisme
fotoautotropik) yang diubah menjadi energi kimia tersimpan di dalam senyawa
organik. Energi kimia mengalir dari produsen ke konsumen dari berbagai tingkat
tropik melalui jalur rantai makanan. Energi kimia tersebut digunakan organisme
untuk pertumbuhan dan perkembangan. Kemampuan organisme-organisme dalam
ekosistem untuk menerima dan menyimpan energi dinamakan produktivitas
ekosistem. Produktivitas ekosistem terdiri dari produktivitas primer dan produktivitas
sekunder.

a. Produktivitas primer
Produktivitas primer adalah kecepatan organisme autotrop sebagai produsen
mengubah energi cahaya matahari menjadi energi kimia dalam bentuk bahan
organik. Hanya sebagian kecil energi cahaya yang dapat diserap oleh produsen.
Produktivitas primer berbeda pada setiap ekosistem, yang terbesar ada pada
ekosistem hutan hujan tropis dan ekosistem hutan bakau.

Seluruh bahan organik yang dihasilkan dari proses fotosintesis pada


organisme fotoautotrop disebut produktivitas primer kotor (PPk). Lebih kurang 20%
dari PPK digunakan oleh organisme fotoautotrop untuk respirasi, tumbuh dan
berkembang. Sisa PPK yang baru disimpan dikenal sebagai produktivitas primer
bersih (PPB). Biomassa organisme autotrop (produsen) diperkirakan mencapai 50%-
90% dari seluruh bahan organik hasil fotosintesis. Hal ini menunjukkan simpanan
energi kimia yang dapat ditransfer ke trofik selanjutnya melalui hubungan makan
dimakan dalam ekosistem.

b. Produktivitas sekunder

Produktivitas sekunder adalah kecepatan organisme heterotrop mengubah


energi kimia dari bahan organik yang dimakan menjadi simpanan energi kimia baru
di dalam tubuhnya. Energi kimia dalam bahan organik yang berpindah dari produsen
ke organisme heterotrop (konsumen primer) dipergunakan untuk aktivitas hidup dan
hanya sebagian yang dapat diubah menjadi energi kimia yang tersimpan di dalam
tubuhnya sebagai produktivitas bersih.

Demikian juga perpindahan energi ke konsumen sekunder dan tersier akan


selalu menjadi berkurang. Perbandingan produktivitas bersih antara trofik dengan
trofik-trofik di atasnya dinamakan efisiensi ekologi. Diperkirakan hanya sekitar 10%
energi yang dapat ditransfer sebagai biomassa dari trofik sebelumnya ke trofik
berikutnya.

4. Daur biogeokimia
Berbeda dengan energi, materi kimia yang berupa unsurunsur penyusun
bahan organik dalam ekosistem, berpindah ke trofik-trofik rantai makanan tanpa
mengalami pengurangan, melainkan berpindah kembali ke tempat semula. Unsur-
unsur tersebut masuk ke dalam komponen biotik melalui udara, tanah atau air.
Perpindahan unsur kimia dalam ekosistem melalui daur ulang yang melibatkan
komponen biotik dan abiotik ini dikenal dengan sebutan daur biogeokimia. Hal ini
menunjukkan adanya hubungan antara komponen biotik dengan abiotik dalam suatu
ekosistem. Daur biokimia meliputi : daur air, daur sulfur, daur pospor, daur nitrogen,
daur karbon dan daur oksigen.

a. Daur air

Semua organisme hidup memerlukan air untuk melakukan aktivitas hidupnya.


Oleh karena itu, ketersediaan air di lingkungan sangat mutlak bagi organisme hidup.
Hewan mengambil air, langsung dari air permukaan, tumbuhan dan hewan yang
dimakan, sedangkan tumbuhan mengambil air dari air tanah dengan menggunakan
akarnya. Manusia menggunakan sekitar seperempat air tanah yang ada di daratan.
Air keluar dari hewan dan manusia berupa urin dan keringat, sedangkan pada
tumbuhan melalui proses transpirasi.

b. Daur sulfur (Belerang)

Sulfur merupakan bahan penting untuk pembuatan semua protein dan banyak
terdapat di kerak bumi. Tumbuhan mengambil sulfur dalam bentuk dari tanah,
sedangkan hewan dan manusia mendapatkannya dari tumbuhan yang mereka
makan. Perhatikan skema daur sulfur di samping ini.
c. Daur fosfor

Fosfor merupakan unsur kimia yang jarang terdapat di alam dan merupakan
faktor pembatas produktivitas ekosistem, serta merupakan unsur yang penting untuk
pembentukan asam nukleat, protein, ATP dan senyawa organik vital lainnya. Fosfor
satu-satunya daur zat yang tidak berupa gas, sehingga daurnya tidak melalui udara.
Sebagian besar fosfor mengalir ke laut dan terikat pada endapan di perairan atau
dasar laut. Begitu sampai di laut hanya ada dua mekanisme untuk daur ulangnya ke
ekosistem darat, salah satunya melalui burung-burung laut yang mengambil fosfor
melalui rantai makanan laut dan mengembalikan ke darat melalui kotorannya
kemudian masuk ke rantai makanan. Perhatikan skema daur fosfor di samping ini.

d. Daur nitrogen

Semua organisme memerlukan unsur nitrogen untuk pembentukan protein


dan berbagai molekul organik esensial lainnya. Unsur nitrogen sebagian besar
terdapat di atmosfer dalam bentuk gas nitrogen (N2) dan kadarnya 78% dari semua
gas di atmosfer.
Gas nitrogen ini di atmosfer masuk ke dalam tanah melalui fiksasi nitrogen
oleh bakteri (Rhizobium, Azotobacter, Clostridium), alga biru (Anabaena, Nostoc)
dan jamur (Mycorhiza) nitrogen yang masuk ke tanah melalui fiksasi diubah menjadi
amonia (NH3) oleh bakteri amonia. Proses penguraian nitrogen menjadi amonia
disebut amonifikasi.

Nitrogen yang masuk ke tanah bersama kilat dan air hujan berupa ion nitrat
(NO3), sedangkan nitrogen yang ada di dalam tubuh tumbuhan dan akan hewan
melalui proses mineralisasi oleh bakteri pengurai menjadi amonia. Amonia yang
dihasilkan melalui proses amonifikasi dan mineralisasi oleh bakteri nitrit
(nitrosomonas dan nitrosococcus) dirombak menjadi ion nitrit (NO2), selanjutnya
ion nitrit dirombak bakteri nitrat (nitrobacter) menjadi ion nitrat (NO3). Perombakan
amonia menjadi ion nitrit, ion nitrit menjadi ion nitrat disebut nitrifikasi.

Tumbuhan umumnya menyerap nitrogen dalam bentuk ion nitrat, sedangkan


hewan mengambil nitrogen dalam bentuk senyawa organik (protein) yang
terkandung pada tumbuhan dan hewan yang dimakan.

Sebagian ion nitrat dirombak oleh bakteri denitrifikasi (Thiobacillus


denitrificans, Pseudomonas denitrificans) menjadi nitrogen. Nitrogen yang dihasilkan
akan kembali ke atmosfer. Proses penguraian ion nitrat menjadi nitrogen disebut
denitrifikasi.

e. Daur karbon dan oksigen

Unsur karbon di atmosfer dalam bentuk gas karbon dioksida (CO2),


sedangkan unsur oksigen dalam bentuk gas oksigen (O2). Konsentrasi (CO2) di
atmosfer diperkirakan 0,03%. Karbon dioksida masuk ke dalam komponen biotik
melalui organisme fotoautotrop (tumbuhan hijau) dan kemoautotrop (bakteri
kemoautotrop) dalam proses fotosintesis dan kemosintesis. Karbon kemudian
tersimpan sebagai zat organik dan berpindah melalui rantai makanan, respirasi dan
ekskresi ke lingkungan. Sedangkan, oksigen (O2) masuk ke komponen biotik melalui
proses respirasi untuk membakar bahan makanan, lalu dihasilkan karbon dioksida
(CO2). Daur karbon berkaitan erat dengan daur oksigen di alam kita ini.
http://im-learningsekolah.blogspot.co.id/2010/11/interaksi-dalam-ekosistem.html

A. Aliran Energi

Interaksi antara organisme dengan lingkungan dapat terjadi karena adanya aliran
energi. Aliran energi adalah jalur satu arah dari perubahan energi pada suatu ekosistem.
Proses aliran energi antarorganisme dapat terjadi karena adanya proses makan dan di makan.
Proses makan dan dimakan terjadi antara satu kelompok organisme dengan kelompok
organisme lainnya.

Dalam proses makan dan dimakan terjadi proses perpindahan ataupun alirn energi.
Pada awalnya energi matahari mengalir ke tumbuhan hijau dan digunakan untuk pross
fotosintesis. Hasil fotosintesis disimpan sebagai cadangan makanan, dan dimakan oleh
konsumen. Energi akan berpindah dari konsumen yang satu dengan yang lainnya, jika
konsumen puncak mati maka akan diuraikan oleh bakteri dan jamur menjadi unsur-unsur
mineral yang diserap oleh tumbuhan tersebut kembali. Pada proses perpindahan energi dari
satu trofik ketingkat trofik lainnya selalu ada energi yang hilang

Sehingga dapat dikatakan bahwa aliran energi merupakan rangkaian urutan


pemindahan bentuk energi satu ke bentuk energi yang lain dimulai dari sinar matahari lalu ke
produsen, konsumen, sampai ke pengurai di dalam tanah. Organisme memerlukan energi
untuk mendukung kelangsungan hidupnya, antara lain untuk proses pertumbuhan dan
perkembangan, reproduksi, bergerak, dan metabolisme yang ada dalam tubuh.

Berikut diagram arus energi dan daur zat hara (materi) dalam ekosistem

Cahaya matahari Komponen biotik Energi panas

Zat Hara

Komponen Abiotik

Pada setiap tingkat trofik, energi yang dilepaskan ke lingkungan dalam bentuk panas
dapat mencapai 90%. Jadi, hanya 10% dari energi itu yang digunakan untuk kegiatan
hidupnya. Karena itu, semakin jauh energi itu dari sumbernya akan semakin kecil alirannya.
Hal ini disebabkan karena adanya energi yang beralih dalam bentuk panas tubuh seperti
diuraikan tadi. Di dalam ekosistem terjadi pemborosan energi. juga tampak bahwa energi itu
mengalir dari luar (matahari) ke dalam ekosistem dalam satu alur. Energi tidak daapat
berdaur ulang dan tidak dapat kembali lagi ke matahari.
Salah satu sifat yang penting adalah energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk
lain. Perubahan bentuk energi itu dikenal sebagai transfofmasi energi. Makhluk hidup mampu
melakukan transformasi energi. Misalnya, dari energi gula diubah menjadi lemak dan protein,
yang kemudian disimpan di dalam jaringan tubuh, atau diubah menjadi energi gerak.

Read more: http://helmysuhendar.blogspot.com/2013/04/makalah-aliran-energi-dan-siklus.html#ixzz4QYvmeYsSB.


Rantai Makanan

Rantai makanan adalah perpindahan materi dan energi dari suatu mahluk hidup ke
mahluk hidup lain dalam proses makan dan dimakan dengan satu arah. Tiap tingkatan dari
rantai makanan disebut taraf trofik/tingkat trofik. Pada setiap tahap pemindahan energi, 80%
90% energi potensial hilang sebagai panas, karena itu langkah-langkah dalam rantai makanan
terbatas 4-5 langkah saja. Dengan perkataan lain, semakin pendek rantai makanan semakin
besar pula energi yang tersedia.

Rantai makanan dimulai dari organisme autotrof dengan mengubah energi cahaya dari
matahari menjadi energi kimia. Energi kimia ini akan diteruskan pada konsumen tingkat
pertama atau primer, tingkat kedua atau sekunder, dan seterusnya sampai kelompok
organisme pengurai atau dekomposer. Rantai makanan sendiri memiliki menurut para ilmuan
dibagi menjadi tiga rantai pokok, yaitu :

1. Rantai Pemangsa (Rantai Makanan Tipe Perumput)


Landasan utama dari Rantai Pemangsa adalah tumbuhan hijau sebagai produsen.
Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivora sebagai konsumen I, dilanjutkan
dengan hewan karnivora yang memangsa herbivora sebagai konsumen ke-2 dan berakhir
pada hewan pemangsa karnivora maupun herbivora sebagai konsumen ke-3.
Contohnya : Padi Tikus Ular Sawah Elang

Padi sebagai produsen ( trofik I ), tikus sebagai konsumen I ( trofik II ) dan ular sawah
sebagai konsumen II ( trofik III ).

2. Rantai Parasit (Rantai Makanan Tipe Parasit)


Rantai parasit dimulai dari organisme besar hingga organisme yang hidup sebagai
parasit. Contoh organisme parasit antara lain cacing, bakteri, dan benalu.
Contohnya : Tanaman Mangga Benalu Ulat Burung Pemakan Ulat.

3. Rantai Saprofit (Rantai Makanan Tipe Detritus)


Rantai saprofit dimulai dari organisme mati ke jasad pengurai. Misalnya jamur dan
bakteri. Rantai-rantai di atas tidak berdiri sendiri tapi saling berkaitan satu dengan lainnya
sehingga membentuk jaring-jaring makanan.
Contohnya : Hancuran Daun ( seresah ) Cacing Tanah Ayam Musang.

Ilustrasi singkat dari rantai makanan dapat disimak dari gambar :

Berdasarkan rantai makanan tersebut padi berperan sebagai produsen, tikus berperan
sebagai konsumen I, ular berperan sebagai konsumen II, dan elang berperan sebagai
konsumen III. Dari rantai makanan tersebut dapat kita gambarkan peristiwa yang akan terjadi
jika salah satu komponen dalam rantai makanan tersebut tidak ada atau hilang. Misalkan pada
rantai makanan di atas konsumen I (tikus) tidak ada atau hilang, maka konsumen II (ular)
akan terganggu keseimbangannya karena tidak mendapatkan makanan. Sebaliknya produsen
(padi) akan melimpah karena tidak ada yang memakannya. Siklus dalam rantai makanan
dapat berjalan seimbang apabila semua komponen tersedia. Apabila salah satu komponen,
misalnya konsumen I tidak ada, maka akan terjadi ketimpangan dalam urutan makan dan
dimakan dalam rantai makanan tersebut. Agar rantai makanan dapat berjalan terus menerut
maka jumlah produsen harus lebih banyak daripada konsumen I. Jumlah konsumen I harus
lebih banyak daripada jumlah konsumen II dan seterusnya. Kumpulan dari beberapa rantai
makanan akan membentuk jaring-jaring makanan.

Read more: http://helmysuhendar.blogspot.com/2013/04/makalah-aliran-energi-dan-siklus.html#ixzz4QYvpcEycC.


Jaring-Jaring Makanan
Dalam suatu ekosistem umumnya tidak hanya terdiri dari satu rantai makanan, akan
tetapi banyak rantai makanan. Tumbuhan hijau tidak hanya dimakan oleh satu organisme
saja, tetapi dapat dimakan oleh berbagai konsumen primer. Misalnya: bunga sepatu daunnya
dimakan ulat, ulat juga makan daun sawi. Daun sawi juga dimakan belalang, belalang
dimakan katak dan burung pipit, burung pipit juga makan ulat, burung pipit dimakan burung
elang. Daun sawi juga dimakan oleh tikus, tikus dimakan oleh burung elang. Akibatnya
dalam suatu ekosistem tidak hanya terdapat satu rantai makanan saja tetapi banyak bentuk
rantai makanan. Rantai-rantai makanan yang saling berhubungan antara satu dengan yang
lain disebut jaring-jaring makanan.

D. Piramida Ekologi

Piramida ekologi adalah gambaran susunan antar trofik dapat disusun berdasarkan
kepadatan populasi, berat kering, maupun kemampuan menyimpan energi pada tiap trofik.
Struktur trofik dapat disusun secara urut sesuai hubungan makan dan dimakan antar trofik
yang secara umum memperlihatkan bentuk kerucut atau piramid. Piramida ekologi ini
berfungsi untuk menunjukkan gambaran perbandingan antar trofik pada suatu ekosistem.
Pada tingkat pertama ditempati produsen sebagai dasar dari piramida ekologi, selanjutnya
konsumen primer, sekunder, tersier sampai konsumen puncak.

Piramida ekologi sendiri terbagi menjadi beberapa macam, diantaranya :

1. Piramida Energi
Pada piramida energi tidak hanya jumlah total energi yang digunakan organisme pada
setiap taraf trofik rantai makanan tetapi juga menyangkut peranan berbagai organisme di
dalam transfer energi . Dalam penggunaan energi, makin tinggi tingkat trofiknya maka makin
efisien penggunaannya. Namun panas yang dilepaskan pada proses tranfer energi menjadi
lebih besar. Hilangnya panas pada proses respirasi juga makin meningkat dari organisme
yang taraf trofiknya rendah ke organisme yang taraf trofiknya lebih tinggi.

Sedangkan untuk produktivitasnya, makin ke puncak tingkat trofik makin sedikit,


sehingga energi yang tersimpan semakin sedikit juga. Energi dalam piramida energi
dinyatakan dalam kalori per satuan luas per satuan waktu.

2. Piramida Biomassa

Piramida biomassa yaitu suatu piramida yang menggambarkan berkurangnya transfer


energi pada setiap tingkat trofik dalam suatu ekosistem. Pada piramida biomassa setiap
tingkat trofik menunjukkan berat kering dari seluruh organisme di tingkat trofik yang
dinyatakan dalam gram/m2. Umumnya bentuk piramida biomassa akan mengecil ke arah
puncak, karena perpindahan energi antara tingkat trofik tidak efisien. Tetapi piramida
biomassa dapat berbentuk terbalik.
Misalnya di lautan terbuka produsennya adalah fitoplankton mikroskopik, sedangkan
konsumennya adalah makhluk mikroskopik sampai makhluk besar seperti paus biru dimana
biomassa paus biru melebihi produsennya. Puncak piramida biomassa memiliki biomassa
terendah yang berarti jumlah individunya sedikit, dan umumnya individu karnivora pada
puncak piramida bertubuh besar.

3. Piramida Jumlah

Yaitu suatu piramida yang menggambarkan jumlah individu pada setiap tingkat trofik
dalam suatu ekosistem.

Piramida jumlah umumnya berbentuk menyempit ke atas. Organisme piramida jumlah


mulai tingkat trofik terendah sampai puncak adalah sama seperti piramida yang lain yaitu
produsen, konsumen primer dan konsumen sekunder, dan konsumen tertier. Artinya jumlah
tumbuhan dalam taraf trofik pertama lebih banyak dari pada hewan (konsumen primer) di
taraf trofik kedua, jumlah organisme kosumen sekunder lebih sedikit dari konsumen primer,
serta jumlah organisme konsumen tertier lebih sedikit dari organisme konsumen sekunder.

Read more: http://helmysuhendar.blogspot.com/2013/04/makalah-aliran-energi-dan-siklus.html#ixzz4QYvwv6sf F.


Daur Biogeokimia dalam Ekosistem

Siklus biogeokimia atau siklus organik-anorganik adalah siklus unsur atau senyawa
kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik.
Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-
reaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia.
Daur biogeokimia terjadi sejak munculnya makhluk hidup pertama kali di bumi. Daur
biogeokimia mendukung proses berlangsungnya kehidupan. Makhluk hidup dapat
memperoleh zat dari lingkungannya, melakukan pertukaran zat, serta membuang zat-zat yang
tidak berguna ke lingkungannya. Jika daur ini terhenti, proses kehidupan juga berhenti. Jadi,
kelancaran daur biogeokimia penting bagi kelangsungan hidup makhluk hidup.

Daur Biogeokimia sendiri berfungsi sebagai siklus materi yang mengembalikan semua unsur-
unsur kimia yang sudah terpakai oleh semua yang ada di Bumi baik komponen biotik maupun
komponen abiotik, sehingga kelangsungan hidup di bumi dapat terjaga. Dengan adanya daur
biogeokimia, unsur-unsur kimia yang penting bagi keberlangsungan hidup makhluk hidup
tetap ada di Bumi untuk terus dimanfaatkan oleh makhluk hidup dalam suatu siklus. Jika daur
ini terhenti, maka proses kehidupan juga berhenti, karena itu kelancaran daur biogeokimia
sangat penting bagi keberlangsungan hidup makhluk hidup di Bumi. Daur ini dibedakan
menjadi beberapa macam

1. Daur Nitrogen

Unsur N yang terdapat dalam tanah sangat sedikit, tumbuhan memperoleh nitrogen dari
dalam tanah berupa amonium, ion nitrat (NO-2). Sumber nitrogen yang lain yaitu nitrogen
yang difiksasi oleh bakteri nitrogen. Contoh : Rhizobium, Azetobacter, dan Clostridium
pasteurianium. Beberapa jenis bakteri dalam tanah melakukan kegiatan yang secara tidak
langsung mempengaruhi tersedianya nitrogen dalam tanah yaitu Nitrosomonas,
Nitrosococcus, dan Nitrobacter yang membantu dalam proses nitrfikasi. Di dalam tanah
bakteri anaerob mampu mengubah senyawa nitrat menjadi amoniak atau NH-3. Peristiwa ini
disebut denitrifikasi. Contohnya Thiobacillus denitrificans dan Pseudomonas denitrificans

2. Daur Karbon dan Oksigen


Oksigen bnyak ditemukan dalam keadaan bebas di atmosfer da terlarut di dalam air.
Oksigen merupakan hasil fotosintesis dan dipakai untuk respirasi. Proses respirasi akan
melepaskan karbon dioksida ke atmosfer. Karbon dioksida tersebut oleh tumbuhan hijau
digunakan untuk membentuk senyawa organik melalui proses fotosintesis

3. Daur Sulfur (Belerang)

Sulfur (belerang) banyak terdapat di dalam kerak bumi dan dapat diambil tumbuhan
dalam bentuk sulfat. Sulfur di atmosfer berupa gas SO2 atau oksida sulfur yang terbentuk dari
sisa pembakaran bahan bakar fosil (BBM) dan lelehan dari belerang dari tambang belerang
Ketika gas sulfur dioksida yang berada di udara bersenyawa dengan oksigen dan air,
akan membentuk asam sulfat yang ketika jatuh ke tanah akan menjadi bentuk ion-ion sulfat.
Kemudian ion-ion sulfat tadi akan diserap oleh tumbuhan untuk menyusun protein dalam
tubuhnya. Ketika manusia atau hewan memakan tumbuhan, maka akan terjadi perpindahan
unsur belerang dari tumbuhan ke tubuh hewan atau manusia. Ketika hewan atau tumbuhan
mati, jasadnya akan diuraikan oleh bakteri dan jamur pengurai dan menghasilkan bau busuk,
yaitu gas hidrogen sulfida yang akan dilepas ke udara dan sebagian tetap ada di dalam tanah.
Gas hidrogen sulfida yang ada di udara akan bersenyawa dengan oksigen membentuk sulfur
dioksida , dan yang di tanah oleh bakteri tanah akan diubah menjadi ion sulfat dan senyawa
sulfur dioksida yang nanti akan diserap kembali oleh tumbuhan.
4. Daur Fosfor
Garam mineral fosfor berasal dari kerak bumi larut mengikuti siklus air yang akhirnya
sampai di laut. Oleh karena erosi, unsur fosfor yang berda dalam bentuk fosfat akan berubah
menjadi fosfat organik yang dapat diserap oleh tumbuhan

Daur Fosfor adalah proses perubahan fosfat dari fosfat anorganik menjadi fosfat
organik dan kembali menjadi fosfat anorganik secara kesinambungan dan tanpa jeda. Fosfor
adalah komponen penting pada membran sel, asam nukleat dan tranfer energi pada respirasi
sel. Fosfor juga ditemukan sebagai komponen utama dalam pembentukan gigi dan tulang
vertebrata. Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik dan
senyawa fosfat anorganik. Fosfat organik adalah sebutan untuk senyawa fosfat yang
terkandung dalam binatang dan tumbuhan. Sedangkan fosfat anorganik adalah senyawa fosfat
yeng terdapat pada tanah, batuan dan air.
Siklus fosfor atau daur fosfat diawali dengan pembentukan fosfat anorganik oleh
alam. Fosfor terdapat di alam dalam bentuk ion fosfat (PO43-) dan banyak terdapat pada
batu-batuan. Batu-batuan yang kaya dengan fosfat yang mengalami erosi dan pelapukan
terkikis dan hanyut oleh air membentuk larutan fosfat. Larutan fosfat kemudia diserap oleh
tumbuhan dan makhluk hidup autotrof seperti protista fotosintesis dan Cyanobacteri. Manusia
dan hewan memperoleh fosfat dari tumbuhan yang dimakannya. Jika kandungan fosfta dalam
tubuh makhluk hidup berlebihan maka fosfat akan dikeluarkan kembali kealam dalam bentuk
urine ataupun feces yang kemudian diuraikan oleh bakteri pengurai kembali menjadi fosfat
anorganik. Selain dari sisa-sisa metabolisme tubuh, fosfat juga di peroleh dari dekomposisi
makhluk hidup yang telah mati oleh bakteri pengurai.

5. Daur Air (Hidrologi)


Daur Hidrologi adalah siklus perputaran air dibumi. Air merupakan senyawa yang
sangat dibutuhkan oleh berbagai jenis kehidupan. Tanpa air kita tidak bisa hidup. Air dapat di
jumpai di berbagi tempat di permukaan bumi dalam berbagai bentuk. Ada yang berupa
cairan dan ada juga yang berbentuk uap air. Air juga ditemukan diberbagai tempat, dilaut
ataupun di darat, dikedalaman bumi atau pun di atsmosfer. Di pegunungan ataupun di lembah
dan juga dalam tubuh makhluk hidup. Perpindahan air dari dari darat ke udara ke
makhluk hidup lalu kembali ke bumi lagi itulah yang disebut siklus air.

Read more: http://helmysuhendar.blogspot.com/2013/04/makalah-aliran-energi-dan-


siklus.html#ixzz4QYwPz43gPENUTUP

Mengakhiri Makalah ini, penyusun tidak lupa mengucapkan puji syukur kehadirat
tuhan yang maha esa atas segala Rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
Makalah ini dengan baik. Tetapi bila ada terdapat kesalahan dalam penuturan kata-kata agar
sekiranya dapat dimaklumi, karena bagaimanapun penulis masih dalam tahap belajar,
sehingga masih perlu penambahan disana-sini.

Dalam bab ini, penulis akan mengemukakan beberapa kesimpulan dari penulisan
Makalah ini yang mungkin dapat bermanfaat bagi kita semua

A. Kesimpulan
1. Aliran energi adalah jalur satu arah dari perubahan energi pada suatu ekosistem. Proses
aliran energi antarorganisme dapat terjadi karena adanya proses makan dan di makan. Proses
makan dan dimakan terjadi antara satu kelompok organisme dengan kelompok organisme
lainnya.

2. Aliran energi di ekosistem dpat dalam bentuk rantai makanan, ajring-jaring makanan
dan piramida ekologi yang didalamnya terjadi proses pertukaran energi dari satu organisme
ke organisme lainnya

3. Siklus biogeokimia atau siklus organik-anorganik adalah siklus unsur atau senyawa
kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik.
Daur biogekimia terbagi atas daur sulfur, daur air, daur nitrogen, daur oksigen dan
karbondioksida dan daur fosfor.
g
DAFTAR PUSTAKA

Berybunut, 2012. Biogeokimia, http://berybunut.wordpress.com,


Diakses 24 Februari 2013
Emanuel, A.P.,1997. Biologi, PT Galaxy Puspa Mega, Jakarta
Meylanihusain, 2012. Energi dalam Ekosistem, http://meylanihusain2027.wordpress.com, diakses 24 Februari 2013
Masteropx,2012. Aliran Energi dalam Ekosistem, , http://masteropik.blogspot.com, diakses 24 Februari 2013
Lestari, lis, 2012. Daur Air dan Daur Fosfat, http://www.kamusq.com, diakses 24 Februari 2013
Sasongko, Agung, 2001.BIOLOGI, PT. Pabelan, Surakarta
Soerya, 2012. Jaring-Jaring Makanan, http://soerya.surabaya.go.id, diakses 24 Februari 2013
Soerya, 2012. Piramida Ekologi, http://soerya.surabaya.go.id, diakses 24 Februari 2013
Zakapedia, 2012. Arus Energi dalam Rantai Makanan, http://www.zakapedia.com/. Diakses 24 Februari 2013

Read more: http://helmysuhendar.blogspot.com/2013/04/makalah-aliran-energi-dan-siklus.html#ixzz4QYwYMiKF

http://helmysuhendar.blogspot.co.id/2013/04/makalah-aliran-energi-dan-siklus.html