Está en la página 1de 2

Menurut Suprio (2008), Usaha di organisasi pelayanan kesehatan di Indonesia dalam

menerapkan pasien safety untuk usaha perbaikan mutu pelayanan ini berada pada level
organisasi pelayanan kesehatan dengan berbagai kegiatan antara lain:
1. Meningkatkan peran para klinisi termasuk clinical leadership dalam patient safety
2. Memberdayakan dan mendukung staf sarana pelayanan kesehatan untuk menerapkan
patient safety dalam area kerja institusi
3. Menetapkan indikator pasien safety dan standar pasien safety
4. Mengidentifikasi dan mengurangi risiko pelayanan kesehatan melalui sistem koordinasi,
pelaporan dan feedback yang efektif
5. Mengatasi berbagai hambatan yang timbul dalam penerapan patient safety
6. Mengembangkan diklat sarana pelayanan kesehatan dengan fokus kepada patient safety
dan peningkatan kinerja pelayanan klinik
7. Menetapkan mekanisme untuk mengadopsi secara cepat dari hasil penelitian ke praktik
sehari-hari
8. Melakukan komputerisasi instruksi pelayanan klinik untuk mengingatkan dan memberikan
sinyal.
Sedangkan usaha perbaikan lingkungan organisasi pelayanan kesehatan dalam menerapkan
pasien safety untuk usaha perbaikan mutu ini berada pada lingkungan luar organisasi pemberi
pelayanan kesehatan dengan berbagai kegiatan antara lain:
1. Pengembangan kebijakan lisensi dan sertifikasi
2. Mekanisme untuk mempelajari pengalaman dari berbagai pelayanan kesehatan dan industri
lain
3. Sistem rujukan antara pelayanan kesehatan tingkat primer, sekunder dan tersier
4. Mengembangkan sistem informasi berbasis web bagi kepentingan konsumen dan sarana
pelayanan kesehatan
5. Memberikan materi dan motivasi patient safety dalam pendidikan dokter, perawat, bidan,
dan tenaga klinis lainnya
6. Peningkatan peran lembaga atau institusi penilai mutu eksternal dari sarana pelayanan
kesehatan
7. Adanya kontrol oleh lembaga pembiayaan pelayanan kesehatan.

B. Peran Keperawatan Dalam Mendukung Penerapan Pasien Safety Di Rumah Sakit


Pelayanan keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan yang tidak
terpisahkan dari pelayanan RS dan merupakan proporsi terbesar dari tenaga kesehatan lain
yang bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan keperawatan yang optimal dan
berkualitas terhadap klien selama 24 jam secara berkesinambungan, oleh karena itu
diperlukan SDM keperawatan yang berkualitas tinggi, yang tanggap dan responsive terhadap
situasi yang ada (Gillies, 1996).
Menurut Kuntjoro (2005), Upaya untuk memperbaiki mutu dan kinerja pelayanan klinis di
rumah sakit pada umumnya dimulai oleh perawat melalui berbagai bentuk kegiatan, seperti:
gugus kendali mutu, penerapan standar keperawatan, pendekatan-pendekatan pemecahan
masalah, maupun audit keperawatan. Uraian tugas dan tanggung jawab untuk kegiatan
peningkatan mutu pelayanan klinik terdapat di seluruh unit pelayanan klinik (rawat jalan,
rawat inap, laboratorium, radiologi, kamar operasi, dan sebagainya). Secara umum uraian
tugas dan tanggung jawab kegiatan peningkatan mutu pelayanan ada pada wakil manajemen
(management representative) yang bertugas menjamin kesesuaian dan efektivitas kegiatan
peningkatan mutu, termasuk diunit-unit pelayanan klinik.

Peran tenaga keperawatan dalam manajemen mutu sangat besar, diawali dalam keterlibatan
dalam pembentukan tim mutu, sosialisasi, penggalangan komitmen, melakukan self
assesment bidang keperawatan, kemudian penyusunan standar operasional prosedur (SOP),
alur kegiatan keperawatan baik klinik maupun manajerial. Hal ini sesuai dengan tujuan dari
clinical governance memadukan pendekatan manajemen organisasi dan manajemen klinis
secara bersama. Keterlibatan para staf termasuk keperawatan dalam kegiatan clinical
governance terfokus pada kegiatan audit klinik dan penyusunan standar praktik berdasarkan
evidence-based. Upaya peningkatan mutu pelayanan menurut Lori Di Prete Brown,
berdasarkan dimensi mutu berupa kompetensi tekhnis dimana perawat memiliki kemampuan,
ketrampilan, dan penampilan perawat. Kompetensi tehnis yang tidak sesuai standar akan
merugikan pasien. Misalnya pda kasus cidera akibat jatuh dari tempat tidur dan kesalahan
dalam pemberian obat. Perawat memberi pelayanan secara efektif dan efisien, menjalin
hubungan antar manusia, dan memberi kenyamanan dalam memberikan perawatan kepada
pasien (Wijono, 1999). Dengan penerapan pasien safety keterlibatan tersebut menjadi lebih
baik karena adanya prosedur komunikasi internal yang lebih baik (Djasri, 2006