Está en la página 1de 5

19- SHOLAWAT QOMARUL WUJUD

Allahumma shalli alaa sayidina Muhammadin qamaril wujuudi fii hadzaal yawmi wa fii kulli
yawmil mawuudi sirran wa jahran fid-dunyaa wal akhirati wa alaa aalihii wa shahbihii wa
sallim (10x)

Shalawat Al-Quthb Ghauts Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad As-Seqqaf Gresik.
Dibaca sehabis sholat Subuh, setiap hari
sebanyak sepuluh kali.

Kami terima ijazah shalawat tersebut dari Al-Walid al-Arifbillah Al-Habib Seqqaf bin Abu Bakar
bin Muhammad As-Seqqaf (Kraksan, Jawa Timur), putra beliau langsung, Al-Quthb Ghauts
Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad As-Seqqaf rhm
(Gresik, Jawa Timur) dan juga dari Abah Al-Arifbillah Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin
Yahya (Pekalongan, Jawa Tengah), serta cucu dari Al-Habib Abu Bakar As-seqqaf putra dari
Al-Habib Seqqaf bin Abu Bakar bin Muhammad
AS-Seqaf juga merupakan menantu dari Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, yakni
Akhinabillah Al-Habib Zainal Abidin bin Seqqaf bin Abu Bakar bin Muhammad As-Seqqaf.

Sekilas manaqib-nya (biografi); Al-Habib Al-Qutub Abubakar Bin Muhammad


Assegaf Al-Habib Al-Qutub Abubakar bin Muhammad Assegaf lahir di kota Besuki, Jawa Timur,
pada tahun 1285 H. Semenjak kecil beliau sudah ditinggal oleh ayahnya yang wafat di kota
Gresik.
Pada tahun 1293 H, Habib Abubakar kemudian berangkat ke Hadramaut karena memenuhi
permintaan nenek beliau, Syaikhah Fatimah binti Abdullah 'Allan.
Beliau berangkat kesana ditemani dengan Al-Mukarram Muhammad Bazmul. Sesampainya disana,
beliau disambut oleh paman, sekaligus juga gurunya, yaitu Abdullah bin Umar Assegaf, beserta
keluarganya. Kemudian beliau tinggal di kediaman Al-Arif Billah Al-Habib Syeikh bin Umar bin
Saggaf Assegaf.
Di kota Seiwun beliau belajar ilmu figih dan tasawuf kepada pamannya Al-Habib Abdullah bin
Umar Assegaf. Hiduplah beliau dibawah bimbingan gurunya itu. Bahkan beliau dibiasakan oleh
gurunya untuk bangun malam dan shalat tahajud meskipun usia beliau masih kecil. Selain
berguru kepada pamannya, beliau juga mengambil ilmu dari para ulama besar yang ada disana.

Diantara guru-guru beliau disana antara lain:


. Al-Habib Al-Qhutb Sulthanul Awliya Ali bin Muhammad Alhabsyi, penyusun kitab maulid
Simthud Duhror.
Al-Habib Muhammad bin Ali Assegaf
Al-Habib Idrus bin Umar Alhabsyi
Al-Habib Ahmad bin Hasan Alatas
Al-Habib Al-Imam Abdurrahman bin Muhammad Almasyhur (Mufti Hadramaut saat itu).
Al-Habib Syeikh bin Idrus Alaydrus Al-Habib Al-Qutub Ali bin Muhamad Al Habsyi muallif
Simtud Dhuror, sungguh telah melihat tanda-tanda kebesaran dalam diri Habib Abubakar dan akan
menjadi seorang yang mempunyai kedudukan yang tinggi. Al-Habib Ali
Alhabsyi berkata kepada seorang muridnya, "Lihatlah mereka itu, 3 wali min auliyaillah, nama
mereka sama, keadaan mereka sama, dan kedudukan mereka sama. Yang pertama, sudah berada di
alam barzakh, yaitu Al-Habib Al-Qutub
Abubakar bin Abdullah Alaydrus. Yang kedua, engkau sudah pernah melihatnya pada saat engkau
masih kecil, yaitu Al-Habib Al-Qutub Abubakar bin Abdullah Alatas. Dan yang ketiga, engkau
akan melihatnya di akhir umurmu".
Mereka mencapai tingkatan maqam Sayidina Abu Bakar ash-shidiq.ra.
Ketika usia murid tersebut sudah menginjak usia senja, ia bermimpi melihat Nabi SAW 5 kali
dalam waktu 5 malam berturut-turut. Dalam mimpinya
itu, Nabi SAW berkata kepadanya, "(terdapat kebenaran) bagi yang melihatku di setiap kali
melihat. Kami telah hadapkan kepadamu cucu yang sholeh, yaitu Abubakar bin Muhammad
Assegaf. Perhatikanlah ia".

Murid tersebut sebelumnya belum pernah melihat Habib Abubakar, kecuali di mimpinya itu.
Setelah itu ingatlah ia dengan perkataan gurunya, Al-Habib Ali Alhabsyi, "Lihatlah mereka itu, 3
wali
min auliyaillah...". Tidak lama setelah kejadian mimpinya itu, ia pun meninggal dunia, persis
sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Habib Ali bahwa ia akan melihat Habib Abubakar di akhir
umurnya.
Setelah menuntut ilmu disana, pada tahun 1302 H beliau pun akhirnya kembali ke pulau Jawa
bersama Habib Alwi bin Saggaf Assegaf, dan menuju kota Besuki. Disinilah beliau mulai
mensyiarkan dakwah Islamiyyah di kalangan masyarakat. Kemudian pada tahun 1305 H, disaat
usia beliau masih 20 tahun, beliau pindah menuju kota Gresik.

Di pulau Jawa, beliaupun masih aktif mengambil ilmu dan manfaat dari ulama-ulama yang ada
disana saat itu, diantaranya yaitu:
Al-Habib Quthb Aqthab Abdullah bin Muhsin Alatas (Bogor)
Al-Habib Quthb Abdullah bin Ali Alhaddad (wafat di Jombang)
Al-Habib Sulthanul Awliya Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas (Pekalongan)
Al-Habib Al-Qhutub Ghauts Abubakar bin Umar Bin Yahya (Surabaya)
Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi
(Surabaya)
Al-Habib Muhammad bin Ahmad Almuhdhor (wafat di Surabaya) Pada suatu hari disaat
menunaikan shalat Jum'at, datanglah ilhaamat rabbaniyyah kepada diri beliau untuk ber- uzlah dan
mengasingkan diri dari keramaian duniawi dan godaannya, menghadap kebesaran Ilahiah,
ber-tawajjuh kepada Sang Pencipta Alam, dan menyebut
keagungan nama-Nya di dalam keheningan. Hal tersebut beliau lakukan dengan penuh kesabaran
dan ketabahan.
Waktu pun berjalan demi waktu, sehingga tak terasa sudah sampai 15 tahun lamanya. Beliau pun
akhirnya mendapatkan ijin untuk keluar dari uzlahnya, melalui isyarat dari guru beliau, yaitu
Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi. Berkata Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi,
"Kami memohon dan ber-tawajjuh kepada Allah selama 3 malam berturut-turut untuk
mengeluarkan Abubakar bin Muhammad Assegaf dari uzlahnya".
Setelah keluar dari uzlahnya, beliau ditemani dengan Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi
berziarah kepada Al-Imam Al-Habib Alwi bin Muhammad Hasyim Assegaf. Sehabis ziarah, beliau
dengan gurunya itu langsung menuju ke kota Surabaya dan singgah di kediaman Al-Habib
Abdullah bin Umar Assegaf.
Masyarakat Surabaya pun berbondong-bondong menyambut kedatangan beliau di rumah tersebut.
Tak lama kemudian, Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi berkata kepada khalayak yang ada
disana seraya menunjuk kepada Habib Abubakar,
"Beliau adalah suatu khazanah daripada
khazanah keluarga Ba'alawi. Kami membukakannya untuk kemanfaatan manusia, baik yang
khusus maupun yang umum". Semenjak itu Habib Abubakar mulai membuka majlis taklim dan
dzikir di kediamannya di kota Gresik. Masyarakat pun menyambut dakwah
beliau dengan begitu antusias. Dakwah beliau tersebar luas...dakwah yang penuh ilmu dan ikhlas,
semata-mata mencari ridhallah. Dalam majlisnya, beliau setidaknya telah mengkhatamkan kitab
Ihya Ulumiddin sebanyak 40 kali. Dan merupakan kebiasaan beliau, setiap
kali dikhatamkannya pembacaan kitab tersebut, beliau mengundang jamuan kepada masyarakat
luas.

Suatu kisah ketika Al-Habib Alwy bin Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Solo), putera Al-Habib Ali
bin Muhammad al-Habsyi (Seiwun), penyusun kitab Maulid Simthud Duhror, dan ayah dari
Al-Habib Anis bin Alwy bin Ali bin Muhammad Al-
Habsyi (Solo) datang ke Gresik ke kediaman Al-Habib Abu Bakar, Dalam majelis itu lalu
dibacakan kumpulan mimpi Habib Alwi bin Abdullah Alaydrus yang tinggal di Pekalongan.

Beliau pernah mimpi bertemu Rasulullah SAW. Dalam mimpinya beliau SAW berkata kepadanya,
Jika engkau rindu kepadaku, pandanglah wajah Abubakar bin Muhammad Assegaf sampai ke
dagunya.
Kebetulan saat itu Sayyidiy Alwi duduk
berhadapan dengan Habib Abubakar. Al-Am Abdulkadir bin Hadi meminta agar Sayyidiy Alwi
duduk di samping Habib Abubakar. Biarkan aku duduk di hadapan Habib Abubakar demi
melaksanakan perintah Al-Musthof (rasulullah) saw dalam mimpi tadi, kata Sayyidiy Alwi.
Habib Abubakar berkata, Seseorang bertanya kepadaku tentang hl Habib Ali bin Muhammad
Al-Habsyi, gurunya. Aku jawab, Habib Ali bagaikan matahari. Yakni, nur, manfaat dan sikap
shidq beliau seperti matahari. Habib Ali telah memberikan manfaat kepada banyak hamba Allah.
Setiap hamba memperoleh manfaat dan cahaya beliau ra. Semoga Allah meridhoi mereka semua,
memberi kita manfaat berkat mereka dan memberi kita karunia mereka, meskipun niat dan
amal kita jauh dari niat dan amal mereka.
Semoga Allah tidak mengharamkan kita dari kebaikan yang ada di sisi-Nya karena keburukan
amal kita.
Abdul kadir bin Umar Maulakhela kemudian melantunkan syair Habib Ali:
Suara nyanyian, menghibur hati dengannya, hilang segala duka.

Setelah qoshidah selesai dibawakan, Habib Abubakar bertanya, Qoshidah siapa itu?
Qoshidah Habib Ali, jawab seseorang. Beliau lalu bercerita, Ketika aku di Hadramaut,
Habib Ali memiliki hubungan yang sangat erat denganku.
Pernikahanku yang pertama, beliaulah yang menikahkan dan membiayainya. Ketika aku hendak
pergi ke Jawa, beliau berkata kepadaku, Jika kau ingin menikah lagi, aku akan menikahkanmu.
Namun aku tidak mau, beliau lalu mengizinkan aku pergi ke Jawa. (Setelah diam sesaat) Habib
Abubakar melanjutkan, Aku tidak berdiri, duduk, atau mengerjakan sesuatu, kecuali atas
petunjuk beliau. Dan beliau selalu ada di dekatku.
Habib Abubakar berkata kepada Sayyidiy Alwi, Kita semua berada dalam keberkahan ayahmu.
Saat ini Habib Ali Al-Habsyi bersama kita di tempat ini. Dan setiap hari ia bersamaku di sini.

Di antara ucapan Habib Abubakar, semoga Allah memanjangkan umur beliau, karena ingin
menyebut-nyebut nikmat Allah adalah sebagai berikut, Saat aku sakit, Al-Musthof saw datang
menjengukku dan aku dalam keadaan sadar ( yaqodhoh ). Aku berpelukan dengan beliau di tempat
ini. (sambil menunjuk tempat yang biasa beliau duduki) Sayidina Al-Faqh Al-Muqoddam
juga pernah datang ke tempat ini setelah sholat 'Ashar dan aku dalam keadaan jaga. Aku sedang
duduk di atas sajadah, tiba-tiba Sayidina Al-Faqh Al-Muqoddam datang diapit dua orang lain.
Salah seorang di antara mereka berkata,
Kenalkah kau orang ini? katanya seraya
menunjuk orang yang di tengah.
Tidak, jawabku.
Beliau adalah kakekmu, Sayidina Al-Faqh Al-Muqoddam, kata orang itu.
Semoga Allah meridhoi mereka semua dan memberi kita manfaat di dunia dan akhirat berkat
mereka.
Sayidina Al-rifbillh, Nruddn, Immul Muttaqn, Ali bin Muhammad Al-Habsyi dalam kalam
beliau berkata, Ahwl kaum arifin tidak bisa dijangkau akal manusia. Diperlukan iman dan
kepasrahan (taslm) untuk mempercayainya. Dan kami mempercayai dan membenarkannya.
Imam Abu Qasim Al-Junaid.ra berkata:
Membenarkan pengetahuan kami merupakan kewalian yang kecil.
Kami beriman kepada Allah dan segala sesuatu yang datang dari-Nya, dan dari Rasul-Nya saw
serta keistimewaan-keistimewaan yang diberikan Allah kepada para wali-Nya. Semoga Allah tidak
mengharamkan segala kebaikan yang ada di sisi-Nya karena keburukan kami. Kami hanya dapat
berkata, Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau
beri nikmat, bukannya jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalannya orang-orang
yang sesat.

Beliau adalah seorang yang ghirahnya begitu tinggi dalam mengikuti jalan, atribut dan akhlak
keluarga dan Salafnya Saadah Bani Alawi. Majlis beliau senantiasa penuh dengan mudzakarah dan
irsyad menuju jalan para pendahulunya. Majlis beliau tak pernah kosong dari pembacaan
kitab-kitab mereka. Inilah perhatian beliau untuk tetap menjaga thoriqah salafnya dan berusaha
berjalan diatas... qadaman ala qadamin bi jiddin auza'i.
Itulah yang beliau lakukan semasa hayatnya, mengajak manusia kepada kebesaran Ilahi. Waktu
demi waktu berganti, sampai kepada suatu waktu
dimana Allah memanggilnya. Disaat terakhir dari akhir hayatnya, beliau melakukan puasa selama
15 hari, dan setelah itu beliau pun menghadap ke
haribaan Ilahi. Beliau wafat pada tahun 1376 H pada usia 91 tahun. Jasad beliau disemayamkan di
sebelah masjid Jami, Gresik.
Walaupun beliau sudah berpulang ke rahmatillah, kalam-kalam beliau masih terdengar dan
membekas di hati para pendengarnya. Akhlak-akhlak beliau masih menggoreskan kesan
mendalam di mata orang-orang yang melihatnya.

Hal-ihwal beliau masih mengukir keindahan iman di kehidupan para pecintanya. Semoga
shalawatnya merupakan wasilah kita kepada beliau ra. untuk wushul , sampai kehadirat Rabbul
izzati Allah Azza Wa Jalla.
Radhiyallahu anhu wa ardhah... Allahumma Aamiin

REFERENSI
1. Manaqib Al-Habib Al-Qutub Abubakar bin Muhammad Assegaf.
2. Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Muhammad Syamsu Assegaf.