Está en la página 1de 11

ABSTRAK

Pada umumnya bahan galian industri disetiap negara sudah dikenal dan sangat populer,
baik dikalangan masyarakat kecil apalagi bagi para pengusaha yang banyak menyimpan
investasi bagi usaha mereka sendiri. Salah satu bahan galian tersebut adalah intan.Intan
merupakan batu permata yang banyak dicari oleh para penambang bahan galian, karena
mempunyai nilai jual yang tinggi pula.Selain itu pula intan ini merupakan yang paling keras
dalam tingkatanya, sehingga tidak dapat tergores oleh benda yang tajam sekalipun karena
kekuatannya itu tadi.

Diantara bahan-bahan galian yang lainnya intan ini sangat susah ditemukan diberbagai
wilayah di Indonesia maupun di negara lain. Kemudian para penambang tidak biasa
memprediksi misal dalam satu lahan itu banyak mengandung intan. Dan untuk mencari itu
semua memerlukan keahlian yang khusus untuk bidang itu sendiri. Intan pada umumnya dialam
ini hanya ada dua jenis yaitu intan bening (intan mulia, intan permata), dan yang jenis
keduanya adalah intan hitam.

Sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan kita harus banyak memahami lebih detail
lagi tentang pemanfaatan dari intan itu sendiri dan bahan galian yang lainnya. Sebab kita tahu
bahwa yang namanya bahan galian sangat dibutuhkan oleh kita semua baik itu untuk
perekonomian atau untuk kepentingan yang lainnya yang bersifat positif. Maka dari itu kita
harus bisa memanfaatkan apa yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita semua. Dan harus
tetap lestari agar persediaanya tidak cepat habis jangan terlalu di eksploitasi secara terus
menerus yang dapat menyebabkan kerugian bagi semuanya.

Sehingga intan atau batu permata adalah bahan galian yang sangat diinginkan oleh
hampir setiap orang karena keindahannya itu. Selain karena keindahannya juga intan ini
mempunyai nilai yang bagus disetiap mata seseorang. Tetapi akan sulit bagi mereka untuk
membedakan suatu intan yang betul-betul asli atau palsu karena intan akan diketahui asli atau
tidaknya seseorang itu harus mempunyai pengalaman tersendiri sebab intan sudah banyak
imitasinya.Banyak juga jenis-jenis intan yang langka atau masih sukar didapat di antaranya
adalah: fabulist, titanium, linobat, nilam putih, sirkon, sirkonia, YAG,GGG, diamonair,
djevalit, dan paronit yaitu sirkonia yang berasal dari Rusia. Dari macam-macam intan tersebut
maka jelaslah bahwa semua itu harus dijaga agar tetap utuh dan tidak akan cepat habis kalau
dieksploitasinya dengan ramah lingkungan. Lebih detailnya lagi tentang pengelolaan dan
pemanfaatnya akan dibahas di bab II yaitu dalam pembahasan.
BAB I
PENDAHULUAN
Batu permata atau kata lain yang populernya sering disebut intan.Intan ini terbentuk
dari mineral-mineral anorganik. Mineral itu sendiri dapat di definisikan sebagai berikut yaitu
bahan anorganik yang terbentuk secara alamiah, mempunyai komposisi yang tetap dan
bentuknya hablur (struktur kristal) yang beraturan dan seragam pada batas
volumenya.Sehingga saat ini intan atau batu permata merupakan salah satu macam mineral dari
lebih 2000 mineral yang telah ditemukan di bumi ini.
Mineral ini lebih dikenal lagi sebagai salah satu bahan galian, serta manfaatnya ini
sangat berguna bagi kehidupan manusia khususnya. Begitu pula di Indonesia kedudukan bahan
galian ini sangat penting sekali. Bahan galian batu permata ini tergolong kedalam bahan galian
C yaitu bahan galian non strategis dan non vital.
Dan batu permata ini lumayan sulit ditemukan. Oleh karena itu kita sebagai pewaris
dari alam seharusnya harus tetap menjaga alam kita agar terus lestari dan harus bisa
mengeksploitasi bahan galian dengan seramah mungkin. Supaya persediaan bahan galian
khususnya batu permata atau intan tidak akan habis.Jikalau sekarang persediaan batu permata
dan bahan galian yang lainnya sudah hampir habis maka apa yang akan diwariskan kepada
anak cucu kita kalau semua kekayaan bumi ini dihabiskan sekarang? Pasti akan sulit bagi kita
selaku manusia untuk mempertanggung jawabkan atas apa yang telah terjadi.
Sehingga jawaban yang paling baiknya tidak lain harus dikurangi pengeksploitasian
yang tidak ramah dengan lingkungan tadi. Mungkin akan terasa sulit untuk melakukan itu
semua karena di zaman sekarang hampir semua manusia tergantung pada bahan galian, baik
itu permata maupun galian yang lainnya. Sebab bahan galian itu semua merupakan kekayaan
dari setiap negara yang mempunyai nilai jual yang sangat tinggi, serta hasilnya bisa dinikmati
oleh masyarakat dan para pengusaha yang menyimpan dan mempunyai sahm besar.
Maka penulis membuat makalah yang sederhana ini untuk menganalisis tentang
Teknik Penambangan, Pengelolaan dan Pemanfaatan Intan. Dengan harapan kajian dalam
makalah ini bisa memberikan pemahaman yang lebih untuk bisa memberi manfaat dan
kegunaan bagi pembaca dengan adanya makalah ini. Namun, apa yang tertulis secara eksplisit
dalam makalah ini tentu kurang memmadai untuk memenuhi harapan tersebut tanpa adanya
kritik dan saran.Sehingga kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan dari rekan-rekan
semua untuk memenuhi harapan yang dimaksud.

BAB I
PEMBAHASAN
Intan atau batu permata tergolong dalam bahan galian C. Bahan galian C ini yaitu bahan
galian yang non strategis dan non vital. Golongan bahan galian C ini banyak sekali termasuk
intan atau batu permata. Selain intan yang tergolong ke bahan galian ini diantaranya: Nitrat,
nitrit, fosfat, talk, mika, grafit, magnesit, tawas, oker, kaolin, fledstar, gifsum, batu apung, trass,
obsidian, marmer, batu tulis, batu kapur, dolomite, kalsit, granit, andesit, basalt, trakhit, tanah
liat, dan yang terakhir adalah pasir. Itu semua adalah jenis bahan galian yang lainnya.
Sejauh ini tidak diketahui asal dan arti kata intan atau batu permata yang dalam bahasa
Inggris disebut diamond. Kata diamond yang diturunkan dari bahasa Belanda diamant
sebenarnya berasal dari bahasa Yunani yang berarti tidak terhancurkan. Intan juga merupakan
satu-satunya batu permata yang mempunyai formula yang terdiri dari satu unsur yaitu karbon
(C). Intan terbentuk bersamaan dengan pembekuan batuan ultrabasa missal peridotit dan
kimberlit.
Kristalisasi intan pada kimberlite pipe terbentuk pada kedalaman 60 mil (kurang lebih
95 km) atau lebih dalam dibawah permukaan bumi dan pada temperatur 1.500-2.000 C. Intan
mempunyai hablur dengan sistem kubus, umunya berwarna bening tetapi kadang-kadang
berwarna kebiruan, kehijauan, kemerahan atau kuning, berat jenis 3,52 dengan kilap adamantin
dengan garis tengah atom 1,54 A, kekerasan 10 skala Mohs atau 8.000-8500 knop. Ikatan atom
karbon dalam kisi-kisi hablur mempunyai empat arah kelemahan atau bidang belah. Bila
mendapat tekanan yang keras maka kristal ini akan terbelah meninggalkan permukaan atau
bidang yang halus sejajar dengan bidang oktahedron.
Sifat ini sangat penting bagi pengrajin intan (lapidan) dalam membagi intan berbutir
besar menjadi butir-butir yang lebih kecil serta dalam membuat bentuk dan mengasahnya. Sifat
lain yang penting adalah dalam membiaskan dan memantulkan sinar. Sinar yang berbeda akan
dibiaskan dan dipantulkan dan berbeda arahnya, karena adanya indeks bias. Sebagai contoh
terhadap sinar merah mempunyai indeks bias 2,407, sedangkan indeks bias terhadap sinar ungu
atau lembayung 2,465. Dispersi antara sinar merah dan ungu tercatat 0,058 ( = 2,465-2,407)
dan antara sinar merah dan biru 0,048. Karena harga disperse yang sangat tinggi it maka intan
kelihatan gemerlapan.
Tiap-tiap batu mulia (termasuk intan) dicari dan dihitung berat jenisnya. Sesudah
mengetahui nilai kerasnya,beratnya dapat dihitung dalam karat dari batu mulia itu. Karat untuk
batu mulia (termasuk intan) adalah satuan berat yang setimbang dengan seperlima gram (1
karat = 0,20 gram). Satuan ini dipakai diseluruh dunia, oleh karenanya disebut karat metric.
Jika kita timbang berat intan , tidak dikatakan berat intan itu satu gram, melainkan dikatakan
lima karat intan.
Agar tidak salah pengertian, harap diketahui bahwa timbangan karat yang dipakai untuk batu
mulia tidak sama dengan satuan karat yang dipakai untuk emas. Misalnya emas dinamakan 24
karat adalah jenis emas murni ( = 100% Au ). Emas disebut 18 karat mengandung 18/24 x
100% = 75% emas murni. Intan Indonesia terkenal karena intan yang paling keras dan paling
berat dibandingkan dengan intan dari negara lain, mungkin dalam hal ini. Disebabkan intan
Indonesia mempunyai bentuk kristal kembar.
Di Indonesia intan sering terdapat sebagai endapan aluvial bersama dengan kuarsa,
korundum dan sikron. Di Indonesia terdapat di Martapura (Kalimantan Selatan) dalam batuan
yang disebut Breksi Pemali dan di daerah Landak, Sekayan, Sanggau ( Kalimantan Barat,
Kalimantan Tengah, Kecamatan Permata Intan ). Ditempat ini terdapat kampong yang bernama
kampong Sungai Gula tempat pemukiman penambang intan tradisional.
Kebanyakan intan dari Kalimantan mempunyai warna. Warna yang digemari adalah warna Air
Laut yang berwarna putih, agak kebiruan seperti air laut, yang berwarna lebih biru disebut Air
Hujan harganya sangat mahal. Warna kuning merupakan intan yang paling murah. Semuanya
ditemukan pada atau hasil dari endapan alluvial di sungai purba. Jenis endapan intan yang lain
adalah endapan pipabreksi yang disebut endapan kimberlit, misalnya yang dijumpai di
Kimberly (Afrika) dan Australia Barat.
Endapan kimberlit ini mempunyai ciri bahwa mineral olivin yang berasosiasi teelah
mengalami proses serpentinisasi. Intan yang ditemukan di Kalimantan dan yang ukurannya
paling besar adalah intan Trisakti dengan 166,72 karat. Jenis intan ini ditemukan di Kabupaten
Cempaka tahun 1965. Intan ini digosok di Amsterdam.
Kemudian ditemukan penemuan jenis intan yang lainnya lagi di Galuh Cempaka
berukuran 29,75 karat pada tanggal 18 Agustus 1969. Pada tahun itu juga ditemukan kembali
intan Galuh Bulan berukuran 27,5 karat, sedangkan pada tanggal 27 November 1967
ditemukan intan Galuh Badu berukuran 26,50 karat di Kecamatan Bati-Bati, Kbupaten Tanah
Laut dan pada tahun 1987 akhir ditemukan lagi intan dengan berat 50 karat berwarna kuning.
Walaupun penelitian tentang intan tidak pernah brhenti, akan tetapi orang tidak pernah
menemukan batuan asal intan.
Meskipun semula Koolhoven tahun 1936 menduga asalnya dari Breksi Pemali, akan
tetapi hingga saat ini pendapat itu belum bisa diyakini oleh semua orang. Intan ternyata tidak
hanya ditemukan dalam endapan Pleistosen (dahulu disebut Diluvium), tetapi juga dalam
lapisan berumur Eosen bahkan dalam Formasi Manunggul yang berumur Kapur Atas. Dengan
demikian maka jelas intan setidaknya berumur Pra-Manunggul. Hingga sekarang intan digali
dari endapan sungai yang berumur Pleistosen hingga saat ini yang terdiri dari ukuran kerakal
sampai lanau.
Intan yang ditemukan di Indonesia baik untuk permata antara lain di daerah:
Riau: Sungai Siabu, Kmper, Bangkinang (berupa indikasi endapan alluvial).
Kalimantan Barat: Muara Mengkiang (sebagai rombakan pada endapanaluvial).
Kalimantan Tengah: Kampung Sungai Gula, Kecamatan Permata Intan Barito Utara
(merupakan endapan intan letakan pada alluvial). Purukcau, Murungraya: Sei Pinang
(semuanya merupakan endapan intan letakan pada alluvial). Pujo, cabang Sungai Bohot
(berupa indikasi pada komplek batuan ultrabasa yang dikelilingi oleh batu pasir dan serpih
yang mengandung batubara.
Kalimantan Selatan: Kabupaten Martapura, Simpang Empat (antara kampong Mataram dan
Sungkai, pinggir Jalan. Raya Banjarmasin Kandangan (terdapan andapan kerikil pada daerah
dataran banjir, telah diusahakan oleh masyarakat.
Kalimantan Timur: Sekatak Bunyi (berupa indikasi pada endapan alluvial), Kabupaten Kutai,
Kecamatan Longiran, Sungai Babi: Kabupaten Kutai sekitar Kampung Tionghoan cabang
sungai sebelah kanan.
B. Teknik Penambangan
Pencarian intan dilakukan dengan cara membuat atau menggali lubang didalam tanah
yang sudah tentu mengandung intan. Ada dua macam lubang yaitu lubang surut dan lubang
dalam. Lubang surut kedalamannya antara satu sampai setengah meter sedangkan lubang
dalam dapat mencapai sepuluh meter atau lebih. Untuk menghancurkan tanahnya pada
mulanya hanya digali dengan tenaga manusia, tetapi saat sekarang sudah ada yang
mempergunakan pompa semprot seperti yang sudah dilakukan di daerah penambangan rakyat
di daerah Sungai Gula, Kecamatan Permata Intan.
Pemisahan tanah dengan intan dilakukan dengan dulang (= lingganan) yang terbuat dari
kayu. Tempat mendulang batu dan tanah dinamakan pendulangan. Pendulangan yang ada
disekitar Martapura ialah di Cempaka, Banyu Ireng, Ampar Tikar, Pendarapan dan Banjarbaru.
Disekitar proyek Riam Kanan terdapat pendulangan Mandikapau, Awang Bangkal, Tiwingan,
Rantau Bujur dan Rantau Alayung.Dimasa yang akan mendatang nanti kemungkinan
penambangan intan akan dilakukan dengan cara atau menggunakan mekanik yang lebih
canggih lagi untuk menggali intan tersebut.
C. Pengelolaan dan Pemanfaatan Intan
Bahan galian yang tadi yaitu intan diasah dengan bentuk asahn fasit, misalnya berlian,
markis, pendelop dan briolet. Di antara bentuk tersebut fasit berlian adalah jenis yang paling
umum, sehingga intan yang demikian disebut pula dengan nama berlian. Di zaman sekarang
banyak pedagang intan berlian membuat istilah intan dan berlian. Menurut para pedagang yang
disebut intan adalah yang tidak gemerlapan atau Nampak suram, walaupun kedua permata itu
sama-sama diasah dalam bentuk asahan fasit. Pendapat yang dilontarkan para pedagang
tersebut sebetulnya tidak benar.
Bentuk asahan berlian bermacam-macam antara lain berlian Swiss (sederhana), berlian
gunting, berlian raja (standar), berlian mawar, berlian magna, berlian bintang bersinar. Intan
yang berukuran kecil biasanya diasah dengan menggunakan bentuk asahan berlian sederhana
yang hanya mempunyai fasit meja, fasit mahkota dan fasit pavilium. Sedangkan intan yang
berukurab besar diasah dengan menggunakan bentuk asahan berlian standar atau berlian lain
yang mempunyai fasit meja, bintang, mahkota, sabuk atas, sabuk bawah, pavilion dan kulet.
Mengasah intan dengan menggunakan bentuk asah fasit, pengaturan sudut fasit sangat
penting. Hal yang sama juga dengan sudut antara mahkota dan pavilion merupakan kunci
gemerlapnya bagi intan yang bersangkutan. Perbandingan panjang, lebar dan tinggi juga
merupakan factor yang harus diperhatikan. Apabila salah satu dari tiga factor tersebut
dilupakan, maka intan tere=sebut kurang gemerlapan. Lebih-lebih apabila ketiga factor tersebut
dilupakan, maka sebuah berlian akan nampak suram seperti sebuah potongan atau pecahan
gelas yang kurang nilai jualnya.
Terdapat dua jenis intan yang beada dialam ini yaitu intan bening yang disebut intan
mulia atau intan permata dan intan hitam yang disebut intan industri. Intan industry
dipergunakan sebagai alat pemotong, dan pemoles misalnya sebagai mata gergaji, mata pahat
bor, pemotong kaca, dan bubuk penggosok, pengasah dan pemoles. Jenis intan ini banyak
dihasilkan oleh negara di Amerika Latin misalnya: Brasil, Bolivia, Argentina, Uruguay dan
negara Afrika Selatan serta Afrika Barat. Adapula yang disebut intan Matara, yang sebenarnya
mineral zirkon yang berwarna bening es, atau dengan kata lain ialah intan imitasi.
Walaupun sangat jarang, intan bening yang berwarna sering pula didapatkan misalnya
berwarna kekuningan, kebiruan, kehijauan, kemerahan dan terkadang juga dijumpai dalam
keadaan warna tua. Sehingga intan yang berwarna menjadi lebih sangat indah, tetapi jarang
akibatnya harga menjadi lebih mahal. Ini dilakukan dalam reaktor atom dengan jalan
neutronisasi atau penembakan dengan partikel atau elemen yang mempunyai atom berukuran
sama. Misal warna hijau dengan menggunakan partikel radioaktif dari ikatan radium. Warna
yang telah dihasilkan ini dapat diubah menjadi kuning atau coklat dengan pemanasan yang
diatur.
Intan ini termasuk batu permata yang jarang dan sukar ditemukan, sehingga dibuat
suatu sintesis dan imitasina. Di antara intan-intan dan imitasinya yang terkenal dan banyak
beredar di toko-toko permata adalah:
Fabulit (strontium fifanat), Titanium (rutil).
Linobat (litium niobat), Nilam Putih, Spinel Putih, Sirkon.
Sirkonia (sirkon kubus), Diamonair.
YAG (yttrium alumunium garnet).
YIG (yttrium ion garnet), GGG (gogolinium gallium garnet).
Djevalit (sirkonia Amerika Serikat).
Paionit (sirkonia Rusia).
Untuk membedakan intan asli dan palsu perlu pengalaman. Harga atau nilai sebuah
intan ditentukan 4 faktor utama (bias disebut 4 C yaitu berat (carat), warna (colour), kejernihan
atau kebersihan (clarity), dan bentuk ashan (cut). Intan dengan berat 0,5-2.0 karat sangat ideal
karena mudah dijual, serta dipakainya tidak terlalu mencolok. Sedangkan intan berwarna
meskipun dari warna buatan tetapi lebih berharga dan lebih mahal dari pada intan yang bening.
Kejernihan sebuah intan diartikan bahwa intan tersebut tidak mengandung atau mempunyai
cacat, termasuk pengotoran seperti gelembung atau mineral lain. Berdasarkan derajat
kejernihan ini, intan dibagi menjadi beberapa kelas sebagai berikut:

Pengotoran atau cacat yang dimaksud di atas adalah hanya dapat dilihat oleh ahli
permata atau intan khususnya menggunakan alat laboratorium. Mungkin intan kelas 6 atau 7
dapat diuji dengan menggunakan pealatan sederhana misalnya mikroskop birokuler. Di
samping klasifikasi tersbut, ada pula klasifiksi berdasarkan kejernihan yang digabungkan
dengan warna serta dinyatakan dengan huruf dan angka seperti table 14 berikut:

Apabila dalam suatu sertifikat yang menyertai sebuah permata menyebutkan:


AB 1-2 : Berarti intan yang bersangkutan putih jernih dan jernih
F-6 : Berarti intan yang bersangkutan berwarna bunga tanjung dan berbintik-bintik
AA3 : Berarti intan tersebut berwarna outih biru dan sangat sedikit mengandung pengotoran.
Walaupun intan merupakan benda terkeras yang tidak mungkin tergores oleh
benda-benda yang lain, namun memerlukan perawatan pula. Pemakaian yang terus menerus
menyebabkan intan akan kehilangan gemerlapnya. Hal tersebut disebabkan oleh kotoran yang
melekat pada permukaan fasit dan menghalang sinar yang menembus, dibiaskan seta
dipantulkan.
Dalam hal ini perawatan dilakukan dengan mencuci dam membersihkan. Alat-alat yang
diperlukan antara lain:
Sikat halus (missal sikat bulu mata)
Larutan yang terdiri dari 20 ons natrium bikarbonat (NaHCO3), 1 ons kaporit (CaOCI2), 1 ons
garam dapur (NaCl) dan 16 ons air.
Yang harus diperhatikan ialah jangan sekali-kali melepaskan intan dari ikatannya,
karena dapat menyebabkan intan tersebut menjadi cacat dan rusak. Apabila hal tersebut perlu
diperbaiki, serahkanlah pada ahli permata. Dan apabila saat ini intan banyak dipakai sebagai
perhiasan untuk keindahan dan status sosial seseorang , akan tetapi pada jaman dahulu intan
ini dianggap sebagai barang yang sangat bertuah.
BAB III
SIMPULAN
Intan merupakan bahan galian yang sangat sukar untuk ditemukan. Intan atau batu
permata ini pula mempunyai nilai jual yang lebih tinggi sehingga banyak orang yang tertarik
dengan benda tersebut. Apalagi dari golongan orang-orang yang memiliki perekonomian yang
baik atau bisa disebutkan golongan konglongmerat. Semakin intan itu berwarna maka nilai juga
semakin tinggi sehingga banyak dijual di took-toko intan atau berlian yang imitasinya.Dan di
ala m ini hanya terdapat dua jenis intan saja yaitu intan bening atau disebut intan permata dan
yang satu lagi adalah intan hitam.
Jenis intan yini termasuk pada batu permata yang jarang dan sukar ditemukan. Sehingga
dibuat sintesis dan imitasinya, di antara intan dan imitasinyayang banyak dan terkenal di took-
toko adalah: fabulit, titanium, linobat, nilam putih, spinel outih, sirkon, sirkonia, diamonair,
YAG (yytrium ion gamet), GGG (gogolinium gallium gamet), djevalit (sirkonia Amerika
Serikat), dan yang terakhir paronit (sirkonia dari Rusia).
Selain itu, intan atau batu permata ini tergolong dalam bahan galian C yaitu bahan
galian yang non strategis dan non vital. Dan intan juga merupakan bahan galian yang paling
keras dan tidak dapat tergores sedikitpun oleh benda-benda tajam. Akan tetapi intan ini harus
dirawat dengan sebaik mungkin sebab jikalau tidak dirawat maka gemerlapannya bisa hilang
akibat kotoran yang menempel. Intan mempunyai urutan yang paling keras dari mineral-
mineral yang paling lunak. Berikut urutan mineralnya: Talk, gipsum, kalsit, flourit, apatit,
ortoklas, kuarsa, topas, korund dan intan.
Untuk membedakan suatu intan asli dengan intan palsu itu perlu pengalaman. Harga
atau nilai sebuah intan ditentukan oleh 4 faktor utama yakni biasanya disebut dengan 4 C yaitu:
berat (carat), warna (colour), kejernihan dan kebersihan (clarity), dan bentuk asahan (cut).
Kejernihan sebuah intan diartikan bahwa intan tersebut tidak mengandung atau mempunyai
cacat, termasuk pengotoran seperti gelembung atau mineral lain.
Berdasarkan derajat kejernihan intan ini dibagi menjadi beberapa kelas yaitu dari
tingkatan atau kelas 1 sampai kelas 7 yang paling terbawah. Di Indonesia lumayan cukup
banyak juga daerah yang dapat menghasilkan intan. Contohnya saja intan banyak ditemukan
di Riau (Sumatera), Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan
Kalimantan Timur. Dan masih banyak lagi bahan galian yang lainnya yang terdapat di
Indonesia.
Penambangan intan ini dilakukan dengan cara menggali lubang didalam tanah yang
sudah barang tentu didalamnya mengandung intan. Dalam penambangan intan ada dua macam
lubangyaitu yang dinamakan dengan lubang surut dan lubang dalam. Lubang surut ini
mempunyai kedalaman antara satu sampai setengah meter sedangkan lubang dalam dapat
mencapai sepuluh meter ataupun lebih dari itu. Sehingga dengan adanya intan di negara kita
itu menambah nilai kekayaan yang berada di Indonesia, serta kita harus memenfaatkannya
dengan sebaik mungkin.

DAFTAR PUSTAKA
Skiner, B.J., 1976. Sumber Daya Bumi. Gadjah Mada Universitay Press.
Yogyakarta.
An, P.K. dan Kay, H.S., 1993, Rahasia Batu Permata. PT. Mandira. Semarang.
Pengantar Geologi.