Está en la página 1de 15

ANGGARAN PENYUSUNAN MODAL

Jenis-jenis investasi modal dari beberapa sudut pandang

a. Sudut pandang wujud aktiva


Aktiva tetap
Aktiva moneter
Aktiva tak berwujud
b. Sudut pandang strategis atau taktis
Investasi strategis
Investasi taktis
c. Sudut pandang pemakaian
Pergantian aktiva yang sudah tidak berfungsi dengan baik
Penggantian aktiva yang sudah tidak berfungsi
Pengembangan produk yang ada
d. Sudut pandang besar kecilnya pengeluaran moodal
Investasi modal besar
Investasi modaal kecil.

Tujuan perusahaan dan penganggaran modal

Tujuannya adalah memberikan kesempatan kerja yang kontinu, memberikan kesejahteraan pada
karyawan dan pihak-pihak yang terkait, memberikan service kepada masyarakat. Secara umum
tujuan suatu perusahaan adalah memaksimumkan kekayaan(nilai perusahaan) bagi para
stakebolders. Kekayaan akan mningkat jika manfaat yang diperoleh dari suatu investasi melebihi
biayanya.

Unsur-unsur yang menentukn kekayaan :

Bessarnya arus kas bersih yang diharapkan di masa datang.


Kapan arus kas bersih terjadi
Tingkat ketidak pastian arus kas bersih

Pendekatan penilaian investasi modal

Ada 2 cara alternatif cara penilaian:

Pendekatan langsung
Dalam pendekatan ini mencoba mengukur nilai suatu perusahan(kekayaan), dengan
mengamati serta menghitung harga saham prusahaan yang bersangkutan di pasar saham.
Formula yang digunakan

Keterangan
VF= f ( I, F, E)
VF : nilai dari suatu perusahaan
I : keputusanpemilihan inversati
F : sumber pemodalan
E : Kebijakan tetang penggunaan
Pendekatan tidak langsung
Untuk mengantisipasi kesulitan pada metode pertama maka menggunakan pendekatan
discounted cash flow model.
Prosedur penilaian dalam keputusan investasi
Taahap-tahap penilaian dalam investasi :
1. Memperkirakan pola arus kas dari investasi
Ada 2 jenis arus kas yaitu capital expenditure dan revenue expenditure.
Capital expenditure adalah setiap pengeluaran yang memberikan manfaat jangka panjang
( melebihi periode operasi yang sedang berjalan). Sedangkan revenue expenditure adalah
pengeluaran yang dperhitungkan sebagai pengorbana untuk memperoleh penghasialan
dari periode yang sedang berjalan.
Capital expenditure disebut juga denagn istilah outlay yakni aktiva tetap ditambah modal
kerja. Sedangkan penerimaan bersih di sebut proceeds, terdapat 2 rumus:
Bila pendanaan menggunakan 100% modal sendiri
Proceeds = EAT + Depresiasi
Bila pendanaan menggunakan kombinasi modal sendiri dengan modal asing
Proceeds = EAT+ depresiasi + bunga setelah pajak
Bunga setelah pajak = bunga yang dibayar penghematan pajak
2. Menilai arus kas yang diperkirakan dengan cara tertentu
Contoh kasus : seorang pedagang sepeda montor membeli sebuah montor bebek seharga
Rp 13juta. Untuk mendapat penghasilan tambahan pedagang tersebut menyewakan
sepeda mntornya kepada tukang ojek seharga Rp 250.000,- per bulan, selama 3bulan
nerturut-turut. Pada akhir 3bulan sepeda mntor laku seharga Rp 15juta.
Dalam investasi ini, besarnya pengeluaran modal adalah Rp 13juta (capital expenditure).
Sedangkan proceed-nya sebesar Rp 25,75 juta) (Rp 15juta dari hasil penjualan dan 3 x Rp
250.000 dari hasil sewa).
0 1 2 3 4 5
+6,8juta +6,8juta +6,8juta +6,8juta +6,8juta
+10juta
+26,8 juta

3. Mengambil keputusan investasi atas dasar kriteria tertentu


Untuk menentukan keputusan investasi diperlukan serangkaian:
a. Keputusan pembelajaran dan penganggaran modal
b. Penentuan tahun dasar (t 0) untuk perhitungan nilai sekarang

Jenis kegiatan yang dilakukan pada masing-masing tahap terperinci adalah:

T Tahun Kegiatan yng dilakukan


t-3 2A04 Dilakukan studi kelayakan untuk menjajaki layak tidaknya
investasi itu dilaksanakan. Teryata hasilnya positif/layak.
Biaya studi sebesar Rp 30juta
t-2 2A05 Dilakukan pembelian tanah dan persiapan pemasangan
dengan investasi sebesar Rp 100 juta.
Pemesanan mesin pabrik pembuatannya dengan uang muka
sebesar Rp 500juta (50% dari harga mesin).
t-3 2A06 Dilaksanakan pembangunan pbrik bernilai Rp 100juta.
Ditandatangani dan diterima pinjaman dari bank senilai Rp
500juta dengan bunga 20% setahun untuk jangka 5tahun
Pelunasan harga mesin sebesar Rp 500 juta pada tahun itu
juga mesin diterima.
Dilakukan pemasangan mesin sekaligus produksi
percobaan dengan biaya Rp 20juta.
t-0 Awal 2007 Peralihan dari tahun 2A06-2A07
t+1 2A07 Dilaksanakan prodes produksi komersial yang pertama
pada kapasitas 30% dari kapasitas mesin sebenarnya.
Penjualan hasil produksi, ternyata perusahaan menderita
rugi 10juta
t+2 2A08 Proses produksi pada kapasitas 60%, menghasilkan laba Rp
50 juta
t+3 2A09-2A16 Proses produksi pada kapasitas 90% menghasilkan laba Rp
s/d 100 juta setiap tahun
t-10
Data keuangan yang relevan
Pengeluaran modal berupa:
1. Biaya penelitian/studi kelayakan Rp 30 juta
2. Pembelian tanah Rp 100juta
3. Pembelian dan pemasangan mesin Rp 1000juta (2A05= 25juta, 2A06=500juta)
4. Biaya percobaan mesin Rp 20 juta
5. Bunga pinjaman bank 2A06 Rp 100 juta
6. Biaya pembangunan pabrik Rp 200 juta
Rp 1450 juta

Amortisasi dan depresiasi aktiva tetap

Tanah : Rp 100 juta (underpreciable asset)


Depresiasi : pabrik = Rp 200 juta : 10 tahun = Rp 20 juta setahun
Mesin = Rp 1020 juta : 10 tahun = Rp 102 juta setahun
Amortisasi : biaya penelitian dan bunga pinjaman selama 3 tahun sebesar :
Rp 130 juta : 3 = Rp 43,33 juta setahun
Maka biaya depresiasi + amortisasi = Rp 20 juta + 102 juta + 43,3 juta = rp 165,3 juta
Beban bunga per tahun = 20% x rp 500 juta = Rp 100 juta
Bunga setelah pajak : 100 x (1-33,3%) = 66,7

Catatan : proceeds = EAT + depresiasi + bunga (1- pjak)

2A07 = -10 + 165,3 + 66,7 = 222

2A08 = +50 + 165,3 + 66,7 = 282


2A09 = 100 + 165,3 + 66,7 = 332

2A10 = 100 + 122 + 66,7 = 288,7

2A11 = 100 + 122 + 66,7 = 288,7

2A12 = 100 + 122 = 288,7

2A16 = 100 + 122 = 288,7

Sehinngga pola alian kas investasi :

tahun N waktu Jenis arus kas Jumlah


2A07 awal 0 t0 Outlay -1450 juta
2A07 akhir 1 t1 Proceed + 222 juta
2A08 2 t2 Proceed + 282 juta
2A09 3 t3 Proceed + 332 juta
2A10 4 t4 Proceed + 288,7 juta
2A11 5 t5 Proceed + 288,7 juta
2A12-2A15 6-9 t6-t9 Proceed + 222 juta
2A16 10 t10 Proceed + 222 juta
4. Melakukan pengawasan dan membuat perhitungan penyesuaian yang diperlukan.

Kriteria penilaian investasi

1. Payback Period
Metode payback period pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi investasi yang
diajukan. Payback period adalah target waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk
mengembalikan investasi awal yang diperhitungkan dari cash inflow. Definisi payback
period sebagai berikut: The payback period is the exact amount of time required for the
firm to recover its initial investment in a project as calculated from cash inflowPayback
period diperhitungkan dengan membagi investasi dengan cash inflow tahunan. Kriteria
terhadap penerimaan keputusan investasi dengan menggunakan metode payback ini
adalah diterima apabila payback period yang diterima yang diperoleh lebih
singkat/pendek waktunya dibandingkan dengan target waktu payback period yang
sebelumnya telah ditentukan.

Formula : Payback period =

Payback dengan arus kas masuk tahunan yang sama


Contoh : arus kas keluar pada awal proyek = rp 100 juta
Arus kas masuk tahunan selama 10 tahun = rp 20 juta
Penyelesaiannya :

Payback periode = = = 5 tahun

Jika patokan ditetapkan sebesar 4 tahun, maka proyek tersebut ditolak.

Payback dengan arus kas masuk tahunan yang berbeda-beda


Contoh :
tahun Arus kas masuk Kas kumulatif
0 - - 100
1 30 -70
2 30 -40
3 25 -15
4 25 10
5 25 35
Jika di asumsikan arus kas masuk terjadi merata sepanjang tahun maka kas kumulatif
mencapai nol , pada:

Payback periode = 3 + = 3,6 tahun

2. Net Present Value


Secara eksplisit NPV memberikan pertimbangan dari nilai waktu uang, dan merupakan
teknik capital budgeting yang banyak digunakan. NPV adalah jumlah present
value semuacash inflow yang dikumpulkan proyek (dengan menggunakan discount
rate suku bunga kredit yang dibayar investor) dikurangi jumlah investasi (initial cash
outflow). Net Present Value yaitu: The Net Present Value is found by subtracting a
projects initial investment from the present value of its cash inflows discounted at a rate
equal to the firms cost of capital.

NPV = Coo
Sebagai pedoman umum, rencana investasi akan menguntungkan apabila NPV positif dan
apabila NPV nol maka investasi tersebut berarti break even. Apabila NPV suatu proyek
negatif, berarti proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan.
Kelebihan metode NPV sebagai sarana penilaian terhadap kelayakan suatu rencana
investasi barang modal adalah penggunaan nilai waktu uang untuk menghitung nilai
sebenarnya cash flow yang diperoleh pada masa yang akan datang. Dengan demikian,
dapat diperoleh gambaran profitabilitas proyek yang lebih mendekati realitas. Kelebihan
lainnya adalah digunakannya discount faktor, biasanya merupakan salah suku bunga
kredit yang dipinjam investor untuk membiayai proyek. Dengan demikian, penggunaan
metode ini menjadi lebih fleksibel karena dapat disesuaikan dengan discount factor yang
berubah-ubah dari waktu ke waktu.
Kriteria penerimaan atas investasi dengan metode ini adalah diterima apabila NPV yang
dihasilkan adalah positif, dan ditolak apabila nilai NPV negatif. Kelemahan dari metode
ini adalah perhitungan yang cukup rumit, tidak semudah perhitungan payback period.
Untuk perhitungannya diperlukan keahlian seorang financialanalis sehingga
penggunaannya terbatas.
Contoh :
Perusahaan ABC akan melakukan investasi terhadap proyek A dan proyek B. Kedua
proyek tersebut merupakan proyek independen dan mutually exclusive. Investasi
dikeluarkan pada awal tahun pertama.
Diketahui discount rate 10%
Adapun aliran kas bersih dari masing-masing proyek sebagai berikut:
Tahun Proyek A Proyek B

0 -100.000 -100.000

1 50.000 10.000

2 40.000 30.000

3 30.000 40.000

4 20.000 50.000

5 10.000 20.000
Jawaban :
Proyek A Tahun 1 = 50.000 / (1+0,1)1 = 45.455
Proyek A Tahun 2 = 40.000 / (1+0,1)2 = 33.058
Proyek A Tahun 3 = 30.000 / (1+0,1)3 = 22.539
Proyek A Tahun 4 = 20.000 / (1+0,1)4 = 13.660
Proyek A Tahun 5 = 10.000 / (1+0,1)5 = 6.209
NPV Proyek A = (45.455 + 33.058 + 22.539 + 13.660 + 6.209) 100.000 = 20.921
Proyek B Tahun 1 = 10.000 / (1+0,1)1 = 9.091
Proyek B Tahun 2 = 30.000 / (1+0,1)2 = 24.793
Proyek B Tahun 3 = 40.000 / (1+0,1)3 = 30.053
Proyek B Tahun 4 = 50.000 / (1+0,1)4 = 34.151
Proyek B Tahun 5 = 20.000 / (1+0,1)5 = 12.419
NPV Proyek B = (9.091 + 24.793 + 30.053 + 34.151 + 12.419) 100.000 = 10.507

Tahun PV Proyek A PV Proyek B

0 100.000 100.000

1 45.455 9.091

2 33.058 24.793

3 22.539 30.053

4 13.660 34.151

5 6.209 12.419

NPV 20.921 10.507

Keputusan :
Proyek A, karena memiliki nilai lebih besar dibandingkan proyek B, walaupun keduanya
memiliki nilai NPV > 0

3. Profitability index (PI)


Indeks ini menunjukan rasio dari nilai sekarang arus kas masuk terhadap nilai sekarang
kas keluar.
Formula :
Kriteria
Jika PI > 1, maka proyek diterima
PI =1, maka tidak menjadi masalah
PI < 1, maka proyek ditolak
4. Internal rate of return (IRR)
Yaitu tingkat discount rate yang dapat menjadikan sama antara nilai sekarang dari arus
kas masuk dengan nilai sekarang dari arus kas keluar.

Dimana r adalah internal rate of return


Kriteria penilaian :
IRR > r, maka proyek diterima
IRR = r, maka tidak menjadi masalah
IRR < r, maka proyek ditolak

Contoh Kasus:
Ekspansi usaha
Diketahui :
a. Neraca sebelum ekspansi
Aktiva Pasiva
Aktiva lancar/ modal kerja Rp 40 juta Utang bank (i=15%) Rp 30 juta
AT ( tanah, gedung&mesin) Rp 60 juta Modal sendiri Rp 70 juta
total aktiva Rp 100 juta Total pasiva Rp 100 juta
b. Kapasitas produksi maksimal 10.000 @ rp 30.000/unit
c. Biaya tetap total (TFC) meliputi biaya penyusutan gedung, mesin, dan biaya tetap lainnyaa
sebesar rp 10 juta, biaya variabel per unit (VC/unit) adalah Rp 25.000 dan pajak 15%.
Dengan data diatas, tentukan laba rugi, rentabilitas ekonomis, dan return on equity (ROE)
perusahaan bila unit usaha baru menggunakan 70% dari kapasitas produksi.
d. Kemudian perusahaan melakukan eksansi usaha dengan usaha dengan meningkatkan
kapasitas produksinya menjadi 90% dengan menambah modal kerjanya menjadi 50 juta
yang dibelanjai dengan menambah modal sendiri.
e. Dengan eksansi ini tentukan neraca perusahaan sebuah ekspansi, rentabilitas sesudah
ekspansi dan haruskah ekspansi ini dilakukan.
Penyelesaian :
a. Laba rugi sebelum ekspansi
Penghasilan penjualan 70%x 10.000 u x Rp 30.000/u Rp 210.000.000
TVC 7.000 unit @ Rp 25.000 Rp 175.000.000
TFC Rp 10.000.000
Total cost Rp 185.000.000
EBIT Rp 25.000.000
Bunga (i) 15% x Rp 30.000.000 Rp 4.500.000
EBT Rp 20.500.000
Pajak (t) 15% x Rp 20.500.000 Rp 3.075.000
EAT Rp 17.425.000

b. Rentabilitas ekonomis = = 25%

ROE = = 24,5%

c. Neraca sesudah ekspansi


Aktiva Pasiva
Aktiva lancar/modal kerja Rp 50 juta Utang bank ( I=15%) Rp 30 juta
Aktiva tetap Rp 60 juta Modal sendiri Rp 70 juta
Total aktiva Rp 110 juta Total pasiva Rp 110 juta

d. Laba rugi sesudah ekspansi


Penghasilan penjualan 90%x 10.000 u x Rp 30.000/u Rp 270.000.000
TVC 9.000 unit @ Rp 25.000 Rp 225.000.000
TFC Rp 10.000.000
Total cost Rp 235.000.000
EBIT Rp 35.000.000
Bunga (i) 15% x Rp 30.000.000 Rp 4.500.000
EBT Rp 30.500.000
Pajak (t) 15% x Rp 30.500.000 Rp 4.575.000
EAT Rp 25.925.000

e. Rentabilitas ekonomis = = 31,8%

ROE = = 32,4%
f. Kesimpulan : kedua rentabilitas sesudah ekspansi meningkat, sehingga ekspansi dapat
dilaksanakan.

ANGGARAN PERUSAHAAN JASA DAN DAGANG


Penyusunan Anggaran Perusahaan Dagang
Perusahaan manufaktur (industri) kegiatannya membeli barang untuk diolah menjadi
produk jadi, sedangkan perusahaan dagang kegiatannya membeli barang untuk dijual. Dengan
demikian anggaran pada perusahaan dagang lebih sedikit daripada perusahaan industri.
Penyusunan anggaran perusahaan dagang lebih sederhana dibandingkan dengan penyusunan
anggaran perusahaan manufaktur, karena dalam perusahaan dagang tidak terdapat istilah bahan
baku, tenaga kerja langsung overhead pabrik, produk jadi, dan produk dalam proses. Produk jadi
yang terdapat dalam perusahaan manufaktur, dalam perusahaan dagang terdapat barang
dagangan.

Seperti halnya pada perusahaan manufaktur terdapat anggaran tetap dan anggaran
variabel, pada perusahaan dagang juga terdapat anggaran tetap dan anggaran variabel, tetapi pada
perusahaan dagang tidak menggunakan metode penentuan harga pokok penuh untuk menyusun
anggaran tetap seperti yang terdapat pada perusahaan manufaktur. Anggaran tetap pada
perusahaan dagang meliputi anggaran jualan, anggaran belian barang dagangan, anggaran harga
pokok barang terjual, anggaran beban penjualan dan administrasi (beban usaha), anggaran laba-
rugi, anggaran kas, dan anggaran neraca.

Begitu juga dalam hal menyusun anggaran variabel pada perusahaan dagang tidak
menggunakan metode penentuan harga variabel seperti yang terdapat pada perusahaan
manufaktur. Hal ini disebabkan perusahaan dagang tidak berproduksi sehingga tidak
menggunakan metode penentuan harga pokok produk. Harga pokok barang terjual pada
perusahaan dagang merupakan biaya variabel, sedangkan harga pokok barang terjual dalam
perusahaan manufaktur yang menggunakan metode penentuan harga pokok penuh bukan
termasuk biaya variabel, kecuali menggunakan metode penentuan harga pokok variabel.
Anggaran variabel pada perusahaan dagang seperti halnya pada perusahaan manufaktur dapat
digunakan untuk perencanaan laba jangka pendek dan dapat juga digunakan dalam pengambilan
keputusan, hanya saja dalam Kegiatan Belajar 2 ini tidak diuraikan tentang anggaran variabel
yang digunakan dalam pengambilan keputusan, karena pada dasarnya sama dengan perusahaan
manufaktur.

ANALISIS SELISIH

Analisis selisih pada perusahaan dagang terdiri atas analisis selisih harga pokok jualan
dan analisis selisih volume jualan. Analisis selisih harga pokok jualan mencakup analisis selisih
harga dan analisis selisih volume.

Selisih harga pokok jualan adalah selisih anggaran harga pokok jualan dengan realisasi
harga pokok jualan. Anggaran harga pokok jualan adalah anggaran kuantitas barang yang dijual
dikali harga pokok per unit. Realisasi harga pokok jualan adalah realisasi kuantitas barang yang
dijual dikali harga pokok per unit.

Bila anggaran harga pokok jualan lebih besar dari realisasi harga pokok jualan maka
terjadi selisih laba, sedangkan bila anggaran harga pokok jualan lebih kecil dari realisasi harga
pokok jualan maka terjadi selisih rugi.

Selisih harga pokok jualan terdiri atas selisih harga dan selisih volume :

Selisih harga = (KR x HA) (KR x HR)

Selisih volume = (KA x HA) (KR x HA)

Keterangan :

KR = kuantitas realisasi barang yang dijual

HR = harga pokok per unit realisasi

KA = kuantitas anggaran barang yang dijual

HA = harga pokok per unit anggaran

Selisih Harga :

Selisih harga anggaran = KR x HA


Selisih harga realisasi = KR x HR

Bila selisih harga anggaran lebih besar dari selisih harga realisasi, maka terjadi selisih
harga laba. Jika selisih harga anggaran lebih kecil dari selisih harga realisasi, maka terjadi selisih
harga rugi.

Selisih Volume :

Selisih volume anggaran = KA x HA

Selisih volume realisasi = KR x HA

Bila selisih volume anggaran lebih besar dari selisih volume realisasi, maka terjadi selisih
volume rugi. Jika selisih volume anggaran lebih kecil dari selisih volume realisasi, maka terjadi
selisih volume laba.

Penyusunan Anggaran Perusahaan Jasa

Perusahaan jasa dapat dibedakan menjadi enam golongan :

a. Perusahaan jasa keuangan, antara lain :


perusahaan perbankan,
perusahaan asuransi,
perusahaan pegadaian, dan
perusahaan sewa guna usaha
b. Perusahaan jasa angkutan, antara lain :
Perusahaan penerbangan
Perusahaan perkapalan
Perusahaan taksi, dan
Perusahaan angkutan lainnya
c. Perusahaan jasa hiburan, antara lain :
Perusahaan bioskop
Perusahaan permainan
Perusahaan diskotik
Perusahaan hiburan lainnya

d. Perusahaan jasa penitipan, antara lain :

Perusahaan penitipan anak


Perusahaan parkiran, dan
Perusahaan penitipan lainnya

e. Perusahaan jasa sewa, antara lain :


Perusahaan perhotelan
Perusahaan apartemen, dan
Perusahaan penyewaan alat

Perusahaan jasa lainnya, antara lain :

Perusahaan pengetikan
Perusahaan penagihan, dan
Perusahaan percaloan
f. Perusahaan Jasa Perbankan
Aktivitas dalam usaha perbankan secara garis besar dibagi dua :
Simpanan
Kredit
1. Simpanan
Simpanan masyarakat di bank ada tiga macam, yaitu :
Simpanan giro (current account)
Adalah simpanan masyarakat di bank yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat
dengan menggunakan cek, bilyet giro, atau alat lainnya yang lazim digunakan.
Simpanan deposito (demand deposit)
Adalah simpanan masyarakat di bank yang penarikannya dapat dilakukan setelah jatuh
tempo.
Simpanan tabungan (saving account)
Adalah simpanan masyarakat di bank yang penarikannya dilakukan menurut syarat
tertentu.
2. Kredit
Menurut fungsinya, jenis kredit di bank dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
Kredit Modal Kerja
Adalah kredit yang digunakan untuk keperluan usaha sehari-hari, seperti membeli
barang dagangan.
Kredit Investasi
Adalah kredit yang digunakan untuk keperluan mendapatkan barang modal, seperti
keperluan relokasi pabrik, modernisasi alat, ekspansi, rehabilitasi alat, dll.
Kredit Konsumsi
Adalah kredit yang digunakan bukan untuk keperluan produksi melainkan untuk
dipakai sendiri, seperti kredit profesi guru, untuk beli kendaraan, atau kredit
perumahan untuk dipakai sendiri.

ANALISIS SELISIH

Sesuai dengan jenis aktivitasnya, maka analisis selisih pada perusahaan jasa perbankan
ada dua macam, yaitu analisis selisih kredit dan analisis selisih simpanan.
Analisis Selisih Kredit

Selisih volume kredit = Tingkat bunga margin kontribusi x (volume kredit anggaran volume
kredit aktual)

Analisis Selisih Simpanan

Selisih volume simpanan = Tingkat bunga simpanan x (volume simpanan volume simpanan
aktual)

Selisih tingkat bunga simpanan =Volume simpanan aktual x(Tingkat bunga simpanan Tingkat
bunga simpanan aktual)

Selisih biaya bunga simpanan = (Tingkat bunga simpanan x volume simpanan) (Tingkat
bunga simpanan aktual x volume simpanan aktual)

Bank seperti halnya kegiatan produksi di perusahaan atau kegiatan pembeli barang
dagangan di pasar perusahaan dagang. Kegiatan kredit di bank seperti halnya kegiatan penjualan
di perusahaan manufaktur dan perusahaan dagang.

Siapa pun di bank terdiri atas simpanan giro, simpanan tabungan, dan simpanan deposito.
Kredit di bank terdiri atas, kredit modal kerja, kredit investasi dan kredit konsumsi. Kredit modal
kerja dan kredit investasi biasanya disebut kredit produksi sebagai lawan kredit konsumsi. Dalam
penjelasan anggaran variabel per gandaan, bunga simpanan merupakan biaya variabel sedangkan
bunga kredit dapatan (revenues).

Analisis selisih pada perusahaan pada perubahan analisis selisih terdiri dari atas analisis
selisih kredit berupa selisih volume kredit dan analisis selisih simpanan berupa selisih volume
simpanan selisih tingkat bunga simpanan dan selisih biaya bunga simpanan. Pada perusahaan
jasa perpakiran juga dapat dibuat analisis titik impas seperti halnya pada perusahaan jasa, analisis
titik impas penting dalam hal persamaan jangka pendek karena dengan diketahui titik impas
dapat menyediakan barang jasa yang dijual agar tidak berada di bawah titik impas yang
mengakibatkan perusahaan merugi.