Está en la página 1de 3

Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap

persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu
dengan segala segi dari kehidupan manusia. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat ilmu
berperan sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dalam filsafat ilmu adalah
ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan akan berkembang, tanpa meninggalkan ilmu yang
lama. Sehingga ilmu pengetahuan lama merupakan batu loncat bagi ilmu pengetahuan yang baru.
Diperlukan perenungan kembali tentang ilmu pengetahuan baru, dengan mempelajari ilmu
pengetahuan yang lama. Dengan cara tersebut, manusia dapat mempelajari mendasar tentang
hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain. Oleh
karena dapat dikatakan filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat
dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu
pengetahuan itu sendiri. Sehingga filsafat ilmu dapat digunakan sebagai landasan perkembangan
ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan baru, berkembang dari berbagai ilmu pengetahuan yang lama. Semua kejadian
dan penyebabnya akan membentuk ilmu pengetahuan yang baru. Ilmu pengetahuan berkembang
akibat pertanyaan-pertanyaan muncul sebelum dan setelah para ilmuwan menyelesaikan
pekerjaannya. Oleh karena itu, filsafat berusaha untuk membuat sebuah hubungan secara
keseluruhan dari semua bidang pengalaman.
A. Hakekat Pengetahuan
Ada dua teori yang digunakan untuk mengetahui hakekat Pengetahuan:
1. Realisme,
Teori ini mempunyai pandangan realististerhadap alam. Pengetahuan adalah gambaran
yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata.
2. Idealisme,
Teori ini menerangkan bahwa pengetahuan adalah proses-proses mental/psikologis
yang bersifat subjektif. Pengetahuan merupakan gambaran subjektif tentang sesuatu
yang ada dalam alam menurut pendapat atau penglihatan orang yang mengalami dan
mengetahuinya. Premis pokok adalah jiwa yang mempunyai kedudukan utama dalam
alam semesta. Sebenarnya realisme dan idealisme mempunyai kelemahan- kelemahan
tertentu.
B. Hubungan Filsafat Ilmu Dengan Cabang Filsafat Lain
Burrell dan Morgan (1979:1) berpendapat bahwa ilmu sosial dapat
dikonseptualisasikan dengan empat asumsi yang berhubungan dengan ontologi,
epistemologi, sifat manusia (human nature), dan metodologi.
Ontologi adalah asumsi yang penting tentang inti dari fenomena dalam penelitian.
Pertanyaan dasar tentang ontologi menekankan pada apakah realita yang diteliti
objektif ataukah realita adalah produk kognitif individu.
Epistemologi adalah asumsi tentang landasan ilmu pengetahuan tentang bagaimana
seseorang memulai memahami dunia dan mengkomunikasikannya sebagai pengetahuan
kepada orang lain. Bentuk pengetahuan apa yang bisa diperoleh? Bagaimana seseorang
dapat membedakan apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah? Apakah sifat
ilmu pengetahuan? Pertanyaan dasar tentang epistemologi menekankan pada apakah
mungkin untuk mengidentifikasikan dan mengkomunikasikan pengetahuan sebagai
sesuatu yang keras, nyata dan berwujud (sehingga pengetahuan dapat dicapai) atau apakah
pengetahuan itu lebih lunak, lebih subjektif, berdasarkan pengalaman dan wawasan dari
sifat seseorang yang unik dan penting (sehingga pengetahuan adalah sesuatu yang harus
dialami secara pribadi).
Sifat manusia (human nature), adalah asumsiasumsi tentang hubungan antar
manusia dan lingkungannya. Pertanyaan dasar tentang sifat manusia menekankan kepada
apakah manusia dan pengalamannya adalah produk dari lingkungan mereka, secara
mekanis/determinis responsive terhadap situasi yang ditemui di dunia eksternal mereka,
atau apakah manusia dapat dipandang sebagai pencipta dari lingkungan mereka.
Metodologi, adalah asumsiasumsi tentang bagaimana seseorang berusaha untuk
menyelidiki dan mendapat pengetahuan tentang dunia sosial. Pertanyaan dasar tentang
metodologi menekankan kepada apakah dunia sosial itu keras, nyata, kenyataan objektif
berada di luar individu ataukah lebih lunak, kenyataan personalberada di dalam individu.
Selanjutnya ilmuwan mencoba berkonsentrasi pada pencarian penjelasan dan pemahaman
tentang apa yang unik/khusus dari seseorang dibandingkan dengan yang umum atau
universal yaitu cara dimana seseorang menciptakan, memodifikasi, dan
menginterpretasikan dunia dengan cara yang mereka temukan sendiri.
C. Ciri Berfikir Berfikir Filsafat
a. Radikal
Berfikir radikal artinya berfikir sampai ke akar permasalahannya.
b. Sistematik
Berfikir yang logis, sesuai aturan, langkah demi langkah, berurutan, penuh kesadaran,
dan penuh tanggung jawab.
c. Universal
Berfikir secara menyeluruh tidak terbataspada bagian tertentu tetapi mencakup seluruh
aspek.
d. Spekulatif
Berfikir spekulatif terhadap kebenaran yang perlu pengujian untuk memberikan bukti
kebenaran yang difikirkannya.
D. Hubungan Filsafat Dengan Ilmu
a. Filsafat mempunyai objek yang lebih luas, sifatnya universal, sedangkan ilmu
objeknya terbatas, khusus lapangannya saja.
b. Filsafat hendak memberikan pengetahuan, insight/pemahaman lebih dalam dengan
menunjukkan sebab-sebab yang terakhir. Sedangkan ilmu juga menunjukkan sebab-
sebab, tetapi yang tak begitu mendalam.
c. Filsafat memberikan sintesis kepada ilmu-ilmu yang khusus, mempersatukan, dan
mengkoordinasikannya.
d. Lapangan filsafat mungkin sama dengan lapangan ilmu, tetapi sudut pandangnya
berlainan. Jadi, merupakan dua pengetahuan yang tersendiri.
E. Perbedaan Filsafat Dengan Ilmu

ILMU FILSAFAT

1. Mencoba merumuskan pertanyaan atas


jawaban. Mencari prinsip-prinsip umum,
1. Segi-segi yang dipelajari dibatasi tidak membatasi segi pandangannya
agar dihasilkan rumusan- bahkan cenderung memandang segala
rumusan yang pasti sesuatu secara umum dan keseluruhan
2. Obyek penelitian yang terbatas 2. Keseluruhan yang ada
3. Tidak menilai obyek dari suatu 3. Menilai obyek renungan dengan suatu
sistem nilai tertentu. makna, misalkan , religi, kesusilaan,
4. Bertugas memberikan jawaban keadilan dsb.
4. Bertugas mengintegrasikan ilmu-ilmu

Filsafat selalu mengarah pada pencarian akan kebenaran. Pencarian itu dapat dilakukan dengan
menilai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada secara kritis sambil berusaha menemukan jawaban yang
benar. Tentu saja penilaian itu harus dilakukan dengan langkah-langkah yang teliti dan dapat
dipertanggungjawabkan secara rasional. Penilaian dan jawaban yang diberikan filsafat sendiri,
senantiasa harus terbuka terhadap berbagai kritikan dan masukan sebagai bahan evaluasi demi
mencapai kebenaran yang dicari.

Sumber
http://physicsmaster.orgfree.com/Artikel%20Ilmiah%2011.html
http://psikologi.net/filsafat-ilmu-sebagai-landasan-pengembangan-ilmu-pengetahuan-alam/
Chariri, A. 2009. Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitatif, Paper disajikan pada Workshop Metodologi
Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Laboratorium Pengembangan Akuntansi (LPA), Fakultas Ekonomi Universitas
Diponegoro Semarang, 31 Juli 1 Agustus 2009