Está en la página 1de 47

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Sambungan pipa model T merupakan salah satu komponen untuk menyalurkan fluida, yang
merupakan subjek dari atau perubahan harga tekanan. Pipa itu sendiri harus
diperhitungkan bersama perubahan fluktuasi gaya yang terjadi pada sistem dari
fluida, gas atau efek luar seperti tiupan angin dan gangguan gempa bumi.
Perencanaan sistem pemipaan harus memperhatikan sistem pipa atau pemipaan seperti :
Jumlah kebutuhan fluida atau gas dengan tekanan yang dapat diterima oleh
material.
Memiliki fleksibilitas penurunan tegangan agar semua kondisi operasi dari
gaya-gaya momen di pipa berada dalam batas yang diijinkan.
Tegangan merupakan salah satu besaran yang harus menjadikan perhatian utama dalam
perancangan. Banyak metode yang dapat digunakan untuk manganalisi tegangan.
Diantaranya metode analitik dan numerik. Penyelesaian masalah dengan mengguakan
metode analitik merupakan metode penyelesaian yang paling baik, namun ada kalanya
metode tersebut tidak dapat digunakan apabila menyangkut masalah sistem geometri
kondisi batas yang rumit, serta sifat-sifat material yang bervariasi. Oleh karena
itu, digunakan metode numerik sebagai pendekatannya. Beberapa metode numerik yang
lazim digunakan diantaranya metode elemen hingga (Finite Element Method).
Metode elemen hingga merupakan metode yang paling popular digunakan. Untuk
menerapkan metoda elemen hingga tersebut, diperlukan seperangkat komputer digital
beserta perangkat lunaknya, dan saat ini sudah banyak tersedia paket-paket
perangkat lunak metode elemen hingga yang digunakan untuk menyelesaikan masalah-
masalah teknik. Salah satunya adalah perangkat lunak ANSYS 14.0 yang merupakan
suatu perangkat lunak metode elemen hingga yang digunakan sebagai pengganti
keterbatasan solusi analitik.
1.2. IDENTIFIKASI MASALAH
Masalah yang dianalisa pada tugas akhir ini adalah untuk pemodelan sistem
yang melibatkan geometri dan kondisi-kondisi batas yang rumit, serta sifat-sifat
material yang bervasiasi, penyelesaian analitik sangat sulit untuk digunakan.
Karena keterbatasan solusi analitik tersebut, maka dilakukanlah berbagai cara untuk
mengatasinya, diantaranya : membuat perangkat lunak sendiri dan menggunakan
perangkat lunak tersebut, diperlukan waktu yang cukup lama. Sehingga cara ini pun
belum efektif untuk dilakukan.
Dengan kondisi - kondisi tersebut, maka cara yang
,kndzfxvoi;asj;ficvnhdsaiodnhfopsa?NchjisNcx"AVDL
s"dv
x'v
'c
v'xx
cv'zx
cv'zx
v's

Vx
Cvzdf
V
zdvzd
cv
z
df
bv
dz'fb
xz''v
dafb
zdfbdzfb'
dz
bbs
dgb'
df'b
dzs'b
d'g
n'd
fb'd
b'd
s'b
df'
b
ds'b
gf'b

fdb'
sfd'bf
sd'nb
fgpaling efisien yaitu menggunakan perangkat lunak yang telah ada. Salah satunya
adalah perangkat lunak ANSYS 14.0 yang merupakan perangkat lunak metode elemen
hingga yang telah popular.
Dalam tugas akhir ini, identifikasi masalah menitik beratkan pada cara penggunaan
masalah gaya yang terjadi dalam proses pembebanan dengan menggunakan perangkat
lunak ANSYS 14.0 untuk menyelesaikan masalah gaya.
1.3. TUJUAN
Tujuan tugas akhir ini menganalisa tegangan pada komponen sambungan pipa
model T dengan menggunakan perhitungan secara analitik pada pipa utama, empiris
pada pipa bercabang, maupun numerik (software ANSYS 14.0).
1.4. LINGKUP MASALAH
Untuk memperjelas batasan masalah dari penyelesaian suatu kasus, maka penulis
memberikan lingkup pembahasan sebagai berikut:
PEMODELAN AWAL
Yaitu membuat pernyataan masalah pada suatu kasus yang akan dianalisa sebelum
menggunakan perangkat lunak ANSYS 14.0. Dalam membuat pernyataan masalah tersebut,
adalah beberapa asumsi-asumsi yang digunakan, yaitu : gaya yang terjadi pada saat
pembebanan.
Pelaksanaan motode elemen hingga dengan menggunakan perangkat lunak ANSYS
14.0 yaitu memodelkan suatu kasus nyata kedalam perangkat lunak ANSYS 14.0.
INTERPRESTASI HASIL
Yaitu menafsirkan hasil yang didapatkan dari penyelesaian kasus tersebut.

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN


Agar lebih mempermudah penyusunan laporan ini maka perlu penyusunan dalam
beberapa bab yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Terdiri dari latar belakang, identifikasi masalah, tujuan, pembatasan
masalah dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Membahas teori-teori yang berhubungan dengan metode elemen hingga
dan program ANSYS 14.0.
BAB III PEMODELAN STRUKTUR SAMBUNGAN PIPA MODEL T
Terdiri dari pegumpulan data, pemodelan dengan menggunakan program
ANSYS 14.0 dan pemilihan ukuran dari variable-variabel.
BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA
Bab ini berisikan hasil-hasil penelitian yang sudah dilakukan yang
dirangkum secara keseluruhan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. DASAR-DASAR METODE ELEMEN HINGGA


Metode elemen hingga adalah metode numeris untuk penyelesaian masalah teknik
dan fisika matematis. Masalah tersebut meliputi:
Analisa struktur
Heat transfer
Aliran fluida
Perpindahan massa
Elektromagnetik
Permasalahan kompleks dari geometri, pembebanan, dan sifat material, umumnya susah
untuk menyelesaikannya secara matematis. Penyelesaian matematis adalah menggunakan
persamaan matematis yang menghasilkan persamaan untuk mendapatkan informasi /
penyelesaian dari nilai yang tidak diketahui disetiap lokasi dibagian struktur /
objek. Penyelesaiannya umumnya menggunakan ODE & PDE (Persamaan Difrensial
Parsial).
Penyelesaian Metode Elemen Hingga menghasilkan persamaan dari masalah yang
dianalisa dalam sistem persamaan serentak yang harus diselesaikan. Penyelesaian ini
memberikan hasil / penyelesaian pendekatan dari nilai yang tidak diketahui pada
titik tertentu dalam sistem yang kontinyu. Sistem yang kontinyu adalah istilah dari
kondisi struktur / objek yang sebenarnya.
Dikritisasi (discretization) adalah proses pemodelan dari struktur/ objek dengan
membaginya dalam elemen - elemen kecil (finite elemen atau elemen hingga) yang
terhubung oleh titik-titik (nodes) yang digunakan oleh elemen - elemen tersebut dan
sebagai batas dari struktur / objek. Dalam metode elemen hingga persamaan dari
seluruh sistem dibentuk dari penggabungan persamaan elemen-elemennya.
Masalah struktur: penyelesaian yang didapat adalah deformasi (displacement) pada
setiap titik (nodes) yang selanjutnya digunakan untuk mendapatkan besaran-besaran
regangan (strain) dan tegangan (stress). Untuk masalah bukan struktur:
heat transfer: temperatur akibat flux temperatur.
fluid flow: tekanan fluida akibat flux fluida.
Metode elemen hingga (finite elemen method) telah berkembang selama 35 tahun
bersamaan dengan perkembangan teknologi komputer.
Penyelesaian dari metode elemen hingga (MEH) umumnya menggunakan metode
matriks. Penyelesaian MEH memerlukan perhitungan yang sangat banyak dan berulang-
ulang dari persaamaan yang sama, sehingga diperlukan sarana komputer dan bahasa
pemrogramannya. Penyelesaian dari seluruh sistem umumnya merupakan penyelesaian
persamaan serentak yang dinyatakan dalam bentuk matriks dan diselesaian menggunakan
penyelesaian persamaan serentak (Cholesky, Eliminasi Gauss, Iterasi Gauss-Seidel).

2.1.1. SEJARAH METODE ELEMEN HINGGA


Elemen satu dimensi dikembangkan oleh Hrennikoff (1941) dan McHenry (1943) sebagai
elemen rangka (truss) dan balok (beam). Courant (1943) mengembangkan definisi
tegangan dalam bentuk fungsi (variational form), shg. Sebagai awal penggunaan
fungsi bentuk (shape function) yang diterapkan dalam elemen segitiga (elemen dua
dimensi).
Levy (1947) mengembangkan metode fleksibilitas (flexibility method) atau metode
gaya (force method). Pada tahun 1953, dia mengembangkan metode deformasi
(displacement method) atau metode kekakuan (stiffness method). Pada masa itu
usulannya sangat susah diterima oleh umum karena memerlukan banyak perhitungan
sehingga diperlukan komputer sebagai sarana pendukung.
Argyris dan Kelsey (1954) mengembangkan analisa struktur metode matriks menggunakan
metode energi. Pengembangan ini menunjukkan pentingnya pendekatan prinsip energi
dalam penyelesaian persamaan-persamaan metode elemen hingga. Awal penggunaan elemen
dua dimensi dilakukan oleh Turner, Clough, Martin, dan Top (1956) dengan menurunkan
persamaan untuk elemen rangka, balok, elemen segitiga dan persegi, pada
pengembangan direct stiffness method untuk mendapatkan kekakuan sistem.
Istilah finite element (elemen hingga) diperkenalkan oleh Clough pada th. 1960
saat menggunakan elemen segitiga dan segi empat dalam analisa tegangan bidang
(plane stress analysis). Melosh (1961) mengembangkan elemen pelat lentur (plate
bending). Grafton dan Strome (1963) mengembangkan elemen shell dan axisymmetric
shell untuk pemodelan pressure vessel. Martin (1961), Gallagher, Padlog, dan
Bijlaard (1962), Melosh (1963), dan Argyris (1964) mengembangkan elemen tiga
dimensi tetrahedral. Clough, Rashid, dan Wilson (1965) mengembangkan element
axisymmetric solid.
Kebanyakan pendekatan regangan dan tegangan kecil dipakai dalam penyelesaian MEH
ditahun 60-an. Turner, Dill, Martin, dan Melosh (1960) mengembangkan penyelesaian
dari Large deformation and thermal analysis. Gallagher, Padlog, dan Bijlaard (1962)
mengembangkan penyelesaian kasus material tidak linier (non-linear material).
Gallagher dan Padlog (1963) mengembangkan penyelesaian dari masalah tekuk
(buckling). Zienkiewicz, Watson, dan King (1968) mengembangkan penyelesaian dari
kasus visco-elasticity.
Archer (1965) mengembangkan penyelesaian dari kasus analisa dinamis dalam
pengembangan consistent mass matriks pada rangka dan balok. Melosh (1963)
mengembangkan pendekatan persamaan variational (vaiational formulation) dalam
permulaan dari penyelesaian masalah bukan struktur. Zienkiewicz, dan Cheung (1965),
Martin (1968), dan Wilson dan Nickel (1966) mengembangkan penyelesaian dari masalah
torsi dari poros, aliran fluida, dan konduksi panas.
Penyelesaian menggunakan weighing residual method dikembangkan oleh Szabo dan Lee
(1969), dan diterapkan dalam penyelesaian masalah transient field problems oleh
Zienkiewicz dan Parekh (1970). Studi tersebut memberikan alternatif penyelesaian
bila kasus-kasus yang tidak bisa diselesaiakan dengan pendekatan direct formulation
dan variational formulation.
Belytscho (1976) mengembangkan penyelesaian yang efisien dari perilaku large
displacement non-linear dynamic dengan memperbaiki penyelesaian numerisnya.
Penerapan dari metode elemen hingga telah digunakan dalam bidang bioengineering.
Kasus-kasus dalam bidang ini masih banyak masalah dimaterial pada non-linear
material, non-linear geometry, dan banyak hal lain yang masih menunggu
penyelesaian.

2.1.2. PERAN KOMPUTER DALAM METODE ELEMEN HINGGA

Hingga tahun.1950-an, metode matriks dan metode elemen hingga tidak siap
digunakan dalam penyelesaian - penyelesaian masalah kompleks karena besarnya
persamaan yang harus diselesaikan, sehingga tidak praktis.
Dengan hadirnya komputer, maka perhitungan dari penyelesaian persamaan dari sistem
struktur tersebut dapat diselesaikan dalam hitungan menit.
Perkembangan komputer menyebabkan perkembangan program-program numeris untuk
masalah struktur dan non-struktur.

2.1.3. LANGKAH-LANGKAH METODE ELEMEN HINGGA


2.1.3.1. Langkah 1
Diskritisasi / meshing dan pemilihan jenis elemen berkait dengan idealisasi yang
ingin dilakukan terhadap struktur yang dimodelkan. Pilihan yang ada berkait dengan
jenis elemen (1 dimensi, 2 dimensi, atau 3 dimensi), dan berlanjut dengan tingkat
kesulitan dari jenis elemen yang ditunjukkan oleh jumlah titik (nodes) dalam elemen
beserta jumlah derajat kebebasan (degree of freedom atau DOF) dari masing-masng
titik (nodes). Penentuan jumlah elemen berkait dengan ukuran elemen yang penentuan
dan penyebarannya berkenaan dengan konsentrasi dari deformasi, regangan, serta
tegangan yang akan terjadi pada struktur yang dimodelkan yang disebabkan oleh
bentuk geometri dari struktur serta penyebaran beban dan syarat batasnya.

Gambar 2.1 Jenis Elemen

Gambar 2.2 Jumlah Elemen

2.1.3.2. Langkah 2
Pilih Fungsi Deformasi (Displacement Function) Penentuan fungsi deformasi adalah
berkait dengan jumlah titik dalam satu elemen serta DOF yang dimodelkan pada tiap
titik atau tingkat / derajat polinomial dalam asumsi fungsi deformasi dalam elemen
tersebut.
2.1.3.3. Langkah 3
Menentukan persamaan hubungan antara regangan {?} dan deformasi {d} serta antara
tegangan {s} dan regangan {?}.
Regangan: ?x =du/dx ; ?Y =dv/dy ; ?Z =dw/dz
Tegangan: sX = E ?x ; sY = E ?Y ; sZ = E ?Z
2.1.3.4. Langkah 4.
Menentukan Matrik Persamaan dan Kekakuan Elemen
Ada tiga metode dalam penentuan persamaan kekakuan elemen:
Metode Kesetimbangan Langsung (Direct Equilibrium Method).
Metode Kerja atau Energi (Work or Energy Method).
Metode dengan Pemberatan pada Energi Sisa (Methods of Weighted
Residual).
Metode Kesetimbangan Langsung: Matrik persamaan elemen yang menunjukkan hubungan
antara gaya, kekakuan, dan deformasi pada elemen ditentukan berdasarkan pada
prinsip kesetimbangan gaya.
Metode Kerja atau Energi: Metode ini adalah pendekatan yang dapat mencakup hampir
semua tingkat kerumitan dari suatu model yang mencakup komponen material, dimensi,
beban, dan syarat batas.
Metode yang menggunakan prinsip energi / kerja lainnya: Metode Castigliano dan
Metode yang berdasarkan Prinsip Energi Potensial Minimum. Keduanya hanya berlaku
untuk penurunan dengan material elastis.
Metode dengan Pemberatan pada Energi Sisa: Metode ini yang terkenal adalah Metode
Galerkin. Metode ini memberikan hasil yang sama untuk semua penyelesaian Metode
Energi. Metode ini sebagai penyelesaian saat metode energi tidak bisa digunakan.
Metode ini dapat mengadopsi langsung persamaan diferensial.
Persamaan elemen yang dihasilkan secara umum adalah sebagai berikut:
2.1.3.5. Langkah 5
Bentuk persamaan global dari sistem struktur secara matrik adalah sebagai berikut:

{F} = [K] {d}


Dimana:
{F} = adalah vektor gaya global pada titik baik yang diketahui maupun yang tidak

diketahui.
[K] = adalah matrik kekakuan global dari sistem struktur; sifatnya singular atau

det [K] = 0.
{d} = adalah vektor deformasi yang diketahui dan yang tidak diketahui.
2.1.3.6. Langkah 6
Penyelesaian dari DOF yang tak diketahui, setelah syarat batas diberikan. Persamaan
dari sistem menjadi: Dimana: n = jumlah DOF yang tak diketahui. Matrik [K] bersifat
non-singular (det [K] ? 0). Penyelesaiannya umumnya menggunakan antara lain: metode
eliminasi Gauss Iterasi Gauss, Gaussseidel, dst.
2.1.3.7. Langkah 7
Penyelesaian Regangan dan Tegangan Elemen. Hasil regangan dan tegangan adalah
output yang umum digunakan untuk menentukan kualitas dari desain struktur yang
dilakukan.
2.1.3.8. Langkah 8
Interpretasi Hasil Output yang berupa: deformasi, tegangan, dan regangan adalah
sebagai acuan dalam menilai desain yang dimodelkan. Dari analisis yang dilakukan,
maka dapat ditentukan perubahan-perubahan untuk perbaikan desain maupun kualitas
model.

2.1.4. APLIKASI PADA METODE ELEMEN HINGGA


2.1.4.1. PADA MASALAH STRUKTUR:
Analisa Tegangan: pada struktur rangka, balok dan frame; pada struktur pelat
berlubang, dst.
Kejadian Tekuk (Buckling): pada kolom dan shell.
Analisa Getaran.
2.1.4.2. PADA MASALAH NON-STRUKTUR:
Kejadian Transfer panas (Heat Transfer).
Aliran Fluida (Fluid Flow), termasuk aliran dalam media berpori (tanah).
Distribusi dari potensi magnetik atau elektrik.
2.1.4.3. APLIKASI PADA BIOENGINEERING.

2.1.5. KEUNTUNGAN DARI METODE ELEMEN HINGGA


Memodelkan bentuk yang kompleks.
Menyelesaikan kondisi pembebanan umum.
Memodelkan objek / struktur dengan jenis material yang banyak (karena
Persamaan Pada tingkat elemen).
Memodelkan banyak macam syarat batas.
Dengan mudah menggunakan bermacam ukuran elemen dalam meshing.
Menyelesaikan model dengan mudah dan murah.
Dapat memodelkan efek dinamis.
Menyelesaikan kelakuan tidak linier dari geometri dan material.

2.1.6. SOFTWARE DARI METODE ELEMEN HINGGA


GT STRUDL.
CATIA.
STRUCAD.
SAP2000.
ABAQUS.
FLUENT.
ALGOR.
IDEAS.
CFX.
ANSYS.
FEMAP.
ADINA.
MSC NASTRAN.
MSC PATRAN.
ROBOT (AUTODESK).
MSC DYTRAN.
MSC MARC.
SACS.
MICRO SAS.
2.1.7. TEORI PEMROGRAMAN
Algoritma perhitungan dari suatu proses analisis sederhana dapat dituliskan
dalam satu program tunggal, khususnya jika ternyata program tersebut berukuran
kecil katakanlah dalam orde ratusan baris. Penyusunan, modifikasi dan kompilasi
program tunggal dengan demikian masih bisa dilakukan dengan mudah. Namun jika
program sudah besar dengan ribuan bahkan puluhan ribu baris maka praktek penulisan
algoritma dalam suatu program tunggal sebaiknya dihindari atas dasar beberapa
alasan, antara lain :
Semakin besar ukuran program, semakin lama waktu kompilasi yang dibutuhkan.
Program yang berukuran 2 kali membutuhkan waktu kompilasi lebih dari 2 kali lipat.
Hal ini diperlukan demi alasan penghematan waktu kompilasi.
Alasan yang menyangkut kompilasi ulang. Modifikasi beberapa baris saja
membutuhkan kompilasi ulang program keseluruhan, yang jika terdiri-dari ribuan
baris tentu akan menyita waktu yang lama.
Alasan yang menyangkut proses penelusuran kesalahan ( debugging ). Kebutuhan
akan menemukan kesalahan kecil atau beberapa baris saja membutuhkan pemeriksaan
kesalahan pada semua baris yang ada, sehingga sering dihadapi kasus dalam praktek
pemrograman dimana baris yang sebenarnya betul malah dimodifikasi sementara
kesalahan yang dicari masih belum diketemukan dan tidak diperbaiki.

Untuk mengatasi hal-hal diatas, maka program akan ditulis dalam satu program induk
( main programe ) yang memiliki beberapa subprograme yang dalam hal ini digunakan
subroutine. Program induk hanya berfungsi untuk menugasi subroutine ( memberi
perintah keja dengan perintah call ). Suatu subroutine bertugas untuk melakukan
satu macam proses operasi yang dalam keseluruhan analisis dilakukan berulang.
Secara garis besar, suatu paket program analisis struktur dapat dibagi atas
beberapa blok proses, yaitu :
Mulai
Pembacaan data masukan
Membuat program struktur
Menjalankan program struktur
Mencetak data keluaran
Analisa data
Selesai
Garis besar pemrograman analisis struktur diatas dapat dibuat program seperti
dibawah ini :

Gambar 2.3 Diagram Blok Program Analisis Struktur

2.2. TEORI ELASTISITAS


2.2.1. TEGANGAN
Tegangan yang bekerja pada penampang bahan dapat dirumuskan sebagai berikut :
s= P/A
Dimana : s = tegangan atau gaya per-satuan luas (N/m^2 )
P = beban (N)
A = luas penampang (m2)

Dalam menentukan bahan untuk perancangan suatu struktur atau komponen, maka hal
yang paling utama yang harus ditentukan adalah tegangan yang mampu diberikan pada
struktur tersebut. Tegangan yang harus ditentukan pada bahan sebelum proses
perancangan adalah :
Tegangan Batas didefinisikan sebagai tegangan satuan terbesar suatu bahan
yang dapat ditahan tanpa menimbulkan kerusakan.
Tegangan ijin yaitu bagian kekuatan batas yang bisa aman digunakan pada
perancangan. Para perancang struktur ( komponen ) umumnya bekerja dengan suatu
tegangan izin yang ditetapkan sebelumnya.
Secara umum tegangan dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :
Tegangan Normal ( Normal Stress )
Tegangan normal adalah tegangan yang bekerja normal ( tegak lurus )
terhadap permukaan yang mengalami tegangan. Tegangan ini dapat berupa tegangan
tarik maupun tekan.
Tegangan Geser (Shear Stress)
Tegangan geser adalah tegangan yang bekerja sejajar terhadap permukaan yang
mengalami tegangan.
Komponen tegangan ( stress ) bernilai positif jika searah dengan koordinat
positifnya dan sebaliknya. Tegangan yang bekerja pada batang terdiri dari 6
komponen, antara lain :
{s}^2 = { s_(xx ) s_(yy ) s_(zz ) s_(xy ) s_(xz ) s_yz }

Keenam komponen tegangan ini dapat digambarkan seperti dibawah ini :

Gambar 2.4 Komponen Tegangan Tiga Dimensi

2.2.1.1. ANALISIS TEGANGAN SISTEM PEMIPAAN


Perhitungan dalam analisis tegangan pipa dengan program ANSYS dilakukan dengan
menganggap tiap elemen pemipaan sebagai batang dan besarnya tegangan pada setiap
komponen ditentukan oleh besarnya beban, factor geometri dan material yang
digunakan. Tegangan yang diizinkan dalam desain dan rumus perhitungan tegangan pipa
mengacu pada standar ASME III, kelas 2. Tegangan pipa dan batas tegangan maksimum
yang diizinkan dianalis berdasarkan rumusan untuk berbagai pembebanan tergantung
dari kondisi sistem. Untuk beban statik dan termal, analisa tegangan dilakukan
dengan menghitung dan memeriksa batas tegangan akibat beban statik beban termal dan
gabungan seperti ditunjukkan dalam rumus sebagai berikut:

S= (B_1 ?PD?_0)/?2t?_n + (B_2 (M_DW+ M_SSE))/Z


Tegangan izin 1,5 Sh
S = (i . M_c)/Z
Tegangan izin = Sa
S=(P D_0)/?4t?_n + 0,75 i M_dw/Z+ (i Mc)/Z
Tegangan izin = SA + Sh
Dimana:
S = tegangan pada pipa (Pa).
Sy = tegangan tarik yang diizinkan (Pa).
Sh = tegangan tarik izin suhu operasi (Pa).
MDW = momen akibat beratm (Nm).
Me = momen total (Nm).
Mte = momen puntir (Nm).
MSSE = momen akibat seismic (Nm).
Mb = momen bengkok (bending) (Nm).
Tn = tebal pipa (m).
D0 = diameter luar pipa (m).
Z = section modulus (m3).
Fa = gaya aksial (N).
Fv = gaya vertical (N).
B1 dan B2 = konstanta.
P = Tekanan operasi (PA).
2.2.1.2. PERHITUNGAN TEGANGAN DENGAN METODE ELEMEN
HINGGA

Dasar dari metode elemen hingga adalah membagi benda kerja menjadi elemen-elemen
kecil yang jumlahnya berhingga sehingga dapat menghitung reaksi akibat beban (load)
pada kondisi batas (boundary condition) yang diberikan. Dari elemen-elemen tersebut
dapat disusun persamaan-persamaan matrik yang bias diselesaikan secara numerik dan
hasilnya menjadi jawaban dari kondisi beban pada benda kerja tersebut. Dari
penyelesaian matematis dengan menghitung inverse matrik akan diperoleh persamaan
dalam bentuk matrik untuk sat elemen dan bentuk matrik total yang merupakan
penggabungan ( assemblage ) matrik elemen.
Secara garis besar bentuk persamaan dalam penyelesaian tegangan dan regangan untuk
struktur dan pemipaan didasarkan pada rumus dasar perhitungan kekuatan dalam
konstruksi mekanik untuk daerah elastis sebagai berikut.

F = ((A . E)/I) ?l
Dimana :
F = gaya atau beban (N)
A = luas penampang (m2)
E = modulus elastisitas (Pa)
?l = pertambahan panjang (m)

Dari rumus dasar yang menunjukkan hubungan antara beban, sifat bahan,
geometri, dan pergeseran yang ditimbulkan dapat disusun bentuk umum persamaan dalam
elemen dengan persamaan matrik. Untuk problem pemipaan perhitungan tegangan akibat
beban mekanik dapat diperoleh dengan menyelesaikan persamaan matrik serta
memberikan syarat batas dan pembebanan dengan persamaan berikut:
[K] {u}= {F}
Dimana :
[K] = matrik kekakuan
{u} = matrik pengerasan
{F} = matrik beban
Untuk pembebanan termal rumus tegangan didasarkan pada besarnya perbedaan
regangan pada setiap titik dan elemen akibat terjadinya distribusi temperatur yang
tidak merata. Secara umum bentuk rumusan tegangan termal dapat disusun dalam
persamaan matrik sebagai berikut:
s=D e=D [a ?T] T
Dimana :
D = matriks konstanta yang bergantung pada jenis bahan dan
dinyatakan dalam besaran modulus young (E) dan angka
poison (v).
e = regangan
a = koefisien muai panas dari bahan
?T = beda suhu
Dengan menyelesaikan inverse matrik yang terbentuk dalam persamaan dapat
diperoleh hasil berupa distribusi tegangan pada sistem. Berdasarkan bentuk
persamaan matrik untuk tiap elemen dapat disusun bentuk persamaan matrik untuk
gabungan yang kemudian memberikan hasil tegangan pada setiap titik dan elemen.
Penyelesaian akibat beban mekanik dan termal dapat juga diselesaikan dengan
mmenggabungkan dua jenis pembebanan dan memberikan syarat batas dan menyelesaikan
persamaan matriknya. Penyelesaian metode elemen hingga dapat diselesaikan dengan
perhitungan menggunakan program ANSYS untuk memperoleh hasil akhir berupa nilai dan
distribusi tegangan pada seluruh titik elemen pada komponen dengan mengikuti
langkah perhitungan yang diatur pada penggunaan program tersebut. Program ANSYS
telah menyusun penyelesaian persamaan dari gabungan dengan berbagai macam
pembebanan yang disusun dari penyelesaian dengan menghitung inverse matrik
menggunakan teknik iterasi.

2.2.2. REGANGAN
Regangan digunakan untuk mempelajari deformasi yang terjadi pada suatu benda. Untuk
memperoleh regangan, maka dilakukan dengan membagi perpanjangan (d) dengan panjang
(L) yang telah diukur, dengan demikian diperoleh :
e= d/L
Dimana : e = regangan
d = perubahan bentuk aksial total (mm)
L = Panjang batang (mm)
2.2.3. HUKUM HOOKES
Sesuai dengan hukum Hookes, tegangan adalah sebanding dengan regangan.
Kesebandingan tegangan terhadap regangan dinyatakan sebagai perbandingan tegangan
satuan terhadap regangan satuan. Pada bahan kaku tetapi elastis seperti baja, kita
peroleh bahwa tegangan satuan yang diberikan menghasilkan perubahan bentuk satuan
yang relatif kecil. Perkembangan hukum Hookes tidak hanya pada hubungan tegangan-
regangan saja, tetapi berkembang menjadi modulus young atau modulus elastisitas.
Rumus modulus elastisitas (E) adalah:

E= s/e
Dimana : E = modulus elastisitas (N/m^2 ) atau Mpa
s = tegangan (N/m^2 )
e = regangan

2.3 TINJAUAN UMUM PROGRAM ANSYS 14.0


2.3.1. PENDAHULUAN
Menganalisa suatu elemen yang menggunakan metode elemen hingga dapat
dilakukan menggunakan bantuan komputer terutama untuk masalah mekanika yang sulit
dilakukan dengan perhitungan teoritik yaitu untuk bentuk-bentuk elemen mesin yang
rumit.
Analisa tegangan untuk bentuk-bentuk elemen mesin yang rumit lebih efektif
bila menggunakan komputer dengan software yang sesuai, dengan demikian akan
memperoleh hasil yang lebih sederhana dan dapat mempercepat proses analisis,
meningkatkan ketelitian perhitungan serta mengurangi kesalahan yang mungkin
terjadi.
ANSYS 14.0 adalah program metode elemen hingga yang dapat digunakan untuk
menganalisa tegangan, getaran dan perpindahan panas untuk struktur dan elemen
mesin. Perangkat lunak ANSYS 14.0 memberikan kemudahan untuk menganalisa bentuk-
bentuk elemen mesin yang rumit dengan hasil yang dapat diterima.

2.3.2. PEMBUATAN MODEL


Hal pertama yang dilakukan untuk menganalisa struktur dengan menggunakan
ANSYS 14.0 adalah peembuatan pemodelan bagi elemen mesin yang akan dianalisa
tersebut. Pemodelan adalah proses untuk memperlihatkan sifat-sifat fisik elemen
yang akan dianalisa dengan dengan lengkap.
Dengan menggunakan program ANSYS 14.0 pemodelan dapat dilakukan dengan import
geometri dari CAD atau dengan membuat model dengan ANSYS 14.0. Untuk pemodelan
elemen hingga ang akan dibuat dan akan dianalisa pada program ANSYS 14.0 dapat
menghasilkan pemodelan yang lengkap. Pembuatan jarring-jaring nodal ( meshing )
dapat dilakukan dengan manual ataupun dengan automatis. Pemilihan material yang
tepat serta sifat-sifat material dapat diambil dari program ANSYS 14.0 libraries
bermacam-macam bentuk tumpuan dan kondisi pembebanan dapat diterapkan pada model
untuk memodelkan keadaan model sebenarnya.

2.3.3. PEMBUATAN GEOMETRI


Untuk membuat suatu pemodelan diperluakan geometri dari elemen mesin yang
akan dianalisa pemodelan dapat dilakukan dengan memindahkan ( import ) geometri
dari CAD atau dengan membuat model dengan ANSYS 14.0, bila pembuatan model geometri
dilakukan dengan menggunakan program ANSYS 14.0, maka dapat menggunakan perintah-
perintah menu create, dengan perintah-perintah yang ada pada menu tersebut dapat
dibuat geometri dari model yang akan dianalisa.

2.3.4. PENENTUAN MATERIAL DAN PROPERTI ELEMENT


Setelah geometri elemen dibuat langkah selanjutnya adalah menentukan material
dan tipe material dari elemen tersebut. Sifat-sifat dari material yang akan
digunakan seperti modulus young dan mass density, tergantung pada tipe material
tersebut.
2.3.4.1. TIPE MATERIAL
ANSYS 14.0 memiliki tipe-tipe material yang dapat digunakan dibawah ini:
2.3.4.1.1. ISOTROPIC
Isotropic material merupakan tipe material yang luas penggunaannya. Tipe ini
dapat digunakan untuk semua tipe elemen. Material yang memiliki tipe ini mempunyai
sifat-sifat yang konstan pada semua arah. Oleh karena itu semua sifat ditetapkan
dengan satu nilai tanpa perlu pertimbangan arah.
2.3.4.1.2. ORTHOTROPIC 2D
Orthotropic 2D didefinisikan ada perbedaan, dalam bidang, karakteristik
material dalam arah utama. Material ini digunakan untuk axisymmetric elemen.
2.3.4.1.3. ORTHOTROPIC 3D
Tipe ini didefinisikan bahwa karakteristik material yang dimiliki variasi dalam
tiga arah (sumbu) utama, digunakan untuk elemen solid.
2.3.4.1.4. ANISOTROPIC 2D
Tipe ini adalah bentuk umum dari 2D orthotropic material, hanya saja parameter yang
ditetapkan sebagai matrik umum 3x3.
2.3.4.1.5. ANISOTROPIC 3D
Tipe ini adalah bentuk yang lebih umum dari 3D orthotropic material, untuk kasus
ini dapat didefinisikan sebagai tipe matrik 6x6 dan untuk memperlihatkan parameter
termal.

2.3.4.2. TIPE ELEMENT


Simulasi yang tergantung pada pemilihan tipe dan property element. Ada beberapa
tipe elemen yang dimiliki program ANSYS 14.0, secara luas diklasifikasikan sebagai
berikut:

2.3.4.2.1. ELEMENT 3D
Memiliki volume, menghubungkan nodal yang terletak tidak pada bidang yang sama
digunakan ketika tegangan yang terjadi pada seluruh bidang tiga dimensi.
2.3.4.2.2. ELEMENT 2D
Memiliki luas, menghubungkan nodal yang terletak pada suatu bidang digunakan ketika
variasi tegangan terjadi hanya pada dua dimensi dan pada dimensi yang ketiga
konstan.
2.3.4.2.3. ELEMENT 1D
Memiliki panjang, menghubungkan dua nodal, disebut juga elemen garis.

2.3.4.3. PROPERTI ELEMENT


Untuk memilih properti yang digunakan untuk menganalisa elemen mesin. Program ANSYS
14.0 memiliki daftar properti yang bias dipakai dalam bidang mekanika. Pemilihan
ini disesuaikan dengan keadaan sebenarnya dari benda kerja yang akan dianalisa.
Properti yang dapat digunakan anatara lain.
2.3.4.3.1. ELEMEN GARIS (LINE ELEMENT)
Seluruh elemen yang termasuk kedalam tipe ini adalah menghubungkan dua nodal
perbedaan tipe yang dipilih memperlihatkan perbedaan kondisi struktural.

2.3.4.3.1.1. ROD ELEMENT


Uniaxial element yang memiliki matrik kekuatan tekan, tarik dan torsional elemen
ini tidak memiliki kemampuan untuk bending dan geser. Digunakan untuk pembuatan
pemodelan truss dengan sambungan pin.
2.3.4.3.1.2. TUBE ELEMENT
Tube element ini adalah variasi dari rod element dengan penampang melintang bulat,
juga termaksud kedalam tipe uniaxial element yang dimiliki matrik kekuatan tekan,
tarik, dan torsional. Beberapa program analisa berisikan matrik bending dan geser
ketika dipakai untuk pemodelan pipa.
Aplikasi yang sering dipakai adalah untuk pemodelan pipa. Juga digunakan lebih
tepat untuk memperjelas sifat-sifat dari rod element jika penampang melintang
bulat. Properti-nya antara lain: diameter luar dan diameter dalam.
2.3.4.3.1.3. CURVE TUBE BEAM
Merupakan tipe tube element yang lain. Elemen ini adalah kurva, sumbu netralnya
merupakan lengkungan bukan garis. Sering kali beberapa tube element disusun sebuah
lengkungan.
Digunakan untuk pemodelan belokan dan siku pada sistem pemipaan. Properti yang
dimiliki seperti halnya tube lain: diameter luar dan diameter dalam.
2.3.4.3.1.4. BAR ELEMENT
Uniaxial element yang memiliki kekakuan tekan, tarik, torsional dan bending bentuk
beam yang lebih umum sering menggunakan elemen ini.
Digunakan untuk pemodelan beam / frame struktur. Properti yang memiliki antara lain
: luas, momen inersia, konstanta torsional dan area geser.
2.3.4.3.1.5. BEAM ELEMENT
Uniaxial element yang memiliki kekakuan tekan, tarik, torsional, dan bending.
Elemen ini pada ujungnya dapat meruncing dan dapat diberikan properti yang berbeda
pada masing-masing ujungnya.
Digunakan untuk pemodelan beam / frame struktur. Properti yang memiliki antara
lain: luas, momen inersia, konstanta torsional, dan area geser.
2.3.4.3.1.6. SPRING ELEMENT
Merupakan kombinasi pegas dan damper elemen, dapat berupa beban aksial maupun
torsional. Properti yang dimiliki antara lain : kekakuan dan damping.
2.3.4.3.1.7. DOF SPRING ELEMENT
Dof spring element adalah kombinasi pegas dan damper element. Elemen ini
meghubungkan enam nodal derajat kebebasan pada nodal pertama, kepada nodal yang
lain nodal kedua.
Digunakan untuk menghubungkan dua derajat kebebasan dengan kekakuan tertentu.
Properti yang dimiliki : derajat kebebasan, kekakuan dan damping.
2.3.4.3.1.8. GAP ELEMENT
Gap element termaksud kedalam elemen nonlinear yang mempunyai kekakuan tarik,
tekan, dan geser yang berbeda.
Digunakan untuk memperlihatkan permukaan atau titik yang dapat terpisah, tertutup,
atau bergeser dari satu terhadap yang lain. Properti yang dimiliki antara lain:
kekuatan tarik, kekakuan melintang, dan koefisien gesek sumbu Y dan Z.

2.3.4.3.2. PLANE ELEMENT


Plane element dapat digunakan untuk memeperlihatkan membran, shell, dan pelat.
2.3.4.3.2.1. SHEAR PANEL ELEMENT
Elemen bidang hanya melawan gaya geser, gaya tangensial yang bekerja pada ujung
elemen. Elemen ini juga dapat melawan gaya normal.
Digunakan untuk memperlihatkan struktur yang berisikan lembaran yang sangat tipis,
ditahan dengan kekakuan yang khusus. Properti yang dimiliki: ketebalan.
2.3.4.3.2.2. MEMBRAN ELEMENT
Elemen bidang yang hanya menahan gaya normal digunakan untuk membuat lembaran yang
sangat tipis. Properti: ketebalan.
2.3.4.3.2.3. BENDING ELEMENT
Elemen bidang yang hanya dapat menahan gaya bending digunakan untuk membuat model
pelat yang hanya digunakan menahan gaya bending. Properti: ketebalan dan kekuatan
bending.

2.3.4.3.2.4. PLATE ELEMENT


Elemen ini dapat menahan gaya geser, dan gaya bending. Digunakan untuk struktur
pelat tipis. Properti: ketebalan, kekakuan bending, dan gaya geser.
2.3.4.3.2.5. LAMINATE ELEMENT
Seperti plate element, kecuali bahwa elemen ini merupakan gabungan dari satu atau
lebih layer. Setiap layer dapat memperlihatkan material yang berbeda.
Digunakan untuk memperlihatkan shell. Properti: material, sudut orientasi,
ketebalan, dan gaya geser.

2.3.4.3.3. VOLUME ELEMENT


Elemen ini digunakan seluruh untuk pemodelan tiga dimensi solid struktur. Dengan
elemen ini akan didapatkan hasil analisa yang lengkap.
2.3.4.3.3.1. AXISYMETRIC ELEMENT
Tipe ini adalah elemen dua dimensi digunakan untuk memperlihatkan volume hasil
revolusi. Aplikasi adalah untuk pemodelan axisymetric solid struktur dengan
axisymetric tumpuan dan axisymetric beban.
2.3.4.3.3.2. SOLID ELEMENT
Tipe ini adalah solid tiga dimensi. Aplikasinya untuk struktur atau elemen mesin
tiga dimensi. Dengan menggunakan elemen solid ini maka output yang didapatkan lebih
lengkap.
2.3.5. PEMBUATAN JARING-JARING NODAL (MESHING)
Pembuatan jarring-jaring nodal ( meshing ) merupakan langkah yang harus dilakukan
dalam menganalisa struktur atau momen mesin dengan menggunakan metode elemen
hingga.
Jaring-jaring nodal yang ada pada suatu elemen mesin yang dianalisa merupakan letak
dari nodal-nodal yang ada pada elemen tersebut.

2.3.6. PENENTUAN TUMPUAN


Tumpuan adalah bagian yang menumpu / menahan elemen dari beban yang diberikan.
Tumpuan mutlak diperlukan dalam setiap analisa menggunakan metode elemen hingga.
Program ANSYS 14.0 memberikan fasilitas untuk membuat tumpuan dalam setiap struktur
/ elemen mesin yang dianalisa.

2.3.7. PEMBERIAN BEBAN


Beban yang diberikan terhadap subjek yang akan dianalisa dapat berupa body load,
load nodal, dan elemental load. Pemilihan tipe ini disesuaikan dengan keadaan
sebenarnya dari elemen mesin yang akan dianalisa.
2.3.7.1. BODY LOAD
Body load bekerja pada seluruh elemen pada pemodelan dan berguna untuk
memperhatikan:
Percepatan.
Kecepatan.
Termal.
2.3.7.2. BEBAN NODAL
Beban nodal yang dapat diberikan adalah:
Gaya dan momen.
Perpindahan.
Percepatan.
Temperatur.
2.3.7.3. BEBAN ELEMENTAL
Beban elemental memiliki enam tipe pembebanan, yaitu:
Tekanan.
Temperatur.
Konveksi.
Radiasi.

2.3.8. ANALISA
Analisa terhadap struktur aatau elemen mesin yang daapat dilakukan oleh program
ANSYS 14.0 meliputi:
Basic struktur analysic
Heat transfer analysic
Nonlinear analysic
Dynamic analysic
Visualisasi analysic

2.3.8.1. BASIC STRUKTUR ANALYSIC


2.3.8.1.1. LINEAR STATIC
Linear static analysic merupakan tipe yang paling sering digunakan dalam
analisa. Istilah linear mengandung arti bahwa perhitungan perpindahan atau tegangan
adalah linear terhadap gaya yang diberikan, dan istilah static mengandung arti
bahwa tidak terpengaruh oleh waktu ( stady state ).
2.3.8.1.2. BUCKLING
Dalam linear statik struktur diasumsikan berada dalam kesetimbangan. Ketika
beban ditiadakan, struktur akan kembali kebentuk semula atau tidak terdeformasi.
Pada kombinasi pembebanan, struktur diasumsikan berada dalam kesetimbangan. Ketika
beban ditiadakan, struktur akan kembali kebentuk semula atau tidak terdeformasi.
Pada kombinasi pembebanan, struktur terus menerus terdeformasi, tanpa penambahan
yang besar. Dalam kasus seperti ini struktur menjadi tidak stabil, struktur
mengalami buckling, untuk elastik atau linear, buckling analisis diasumsikan bahwa
yielding dari struktur dan arah gaya yang diberikan tidak berubah.
2.3.8.1.3. NORMAL MODEL
Normal model analisis menghitung frekuensi natural dari struktur frekuensi
natural adalah frekuensi yang erjadi bila struktur diberikan beban pengganggu
kestabilan.

2.3.8.2. HEAD TRANSFER ANALYSIC


ANSYS 14.0 untuk windows mempunyai kemampuan dalam menganalisa termal. Kemampuan
yang dimiliki antara lain, untuk kondisi dalam satu dimensi, dua dimensi, tiga
dimensi, konveksi bebas, konveksi paksa, radiasi, pembebanan panas permukaan,
volumetric, dan sistem kontrol termal elemen.

2.3.8.3. NONLINEAR ANALYSIC


Salah satu pertimbangan dalam penentuan tipe analisa adalah bahwa struktur
yang mengalami sifat nonlinear pada saat pembebanan. Berdasarkan hal itu, sifat
struktur dan material dapat dibuat nonlinear, banyak tipe dari sifat nonlinear yang
mungkin terjadi. Jadi struktur mengalami perpindahan yang cukup besar, dan material
struktur mengalami pembebanan perpindahan yang cukup besar, dan material struktur
mengalami pembebanan diatas yielding point, struktur akan cenderung kurang kaku dan
deformasi permanen akan terjadi. Program ANSYS 14.0 memberikan pemilihan tipe-tipe
tersebut, yaitu:
Geometri nonlinear
Material
Contact

2.3.8.4. DYNAMIC ANALYSIC


Piihan dynamic response yang dapat digunakan dari program ANSYS 14.0
berisikan kemampuan untuk:
Frekuensi response, yang menghitung stady-state response kedalam bentuk
sinusoidal aksitasi.
Transient response, yang menghitung response kedalam bentuk umum, dan fungsi
waktu terhadap eksitasi.

2.3.8.5. VISUALISASI ANALYSIC


Program ANSYS 14.0 memiliki kemampuan memperlihatan hasil analisa dalam
berbagai grafik dan tabel. Metode ini memberikan fasilitas agar data mengevaluasi
dengan cepat dan akurat walaupun elemen yang dianalisa sangat kompleks. Grafik
memberikan ketepatan dalam mengidentifikasi kecendrungan dan performa menyeluruh
dari model dan struktur yang dianalisa. Tabel juga memberikan kemudahan untuk
mengidentifikasikan keakuratan analisa dan informasi yang lebih detail mengenai
kondisi kritis yang terjadi.
2.3.8.5.1. XY STYLE
Merupakan fasilitas program untuk menampilkan bagian hasil analisa berbentuk plot
kurva dua dimensi dalam sumbu XY.
2.3.8.5.2. MODEL STYLE
Merupakan fasilitas program untuk menampilkan model yang ada. Dengan fasilitas ini
dapat dipilih beberapa tampilan dari bentuk model.
2.3.8.5.3. DEFORMED STYLE
Merupakan fasilitas program untuk menampilkan hasil analisa seperti, deformasi,
animasi, dan vektor.

2.3.8.5.4. COUNTOUR STYLE


Merupakan fasilitas program untuk menampilkan hasil analisa seperti, contour,
tegangan, keriteria, dan lain - lain.
BAB III
PEMODELAN KOMPONEN SAMBUNGAN PIPA MODEL T

3.1. MODEL SAMBUNGAN PIPA - T


Pada kesempatan ini pemodelan dilakukan untuk sambungan pipa model T dengan
menggunakan program ANSYS 14.0. ANSYS adalah merupakan salah satu program komputer
untuk metode elemen hingga. Dengan ANSYS 14.0 semua tahap dalam analisis struktur
bisa dilakukan, yaitu mulai dari pembuatan geometri, meshing, pemilihan material,
jenis elemen, penentuan syarat batas dan beban.
Dalam menganalisa suatu konstruksi melalui software terlebih dulu dibuat
bentuk tiga dimensi agar dapat mendekati bentuk aslinya. Dengan kesepakatan sebagai
berikut:
Sistem sumbu yang digunakan :
X = sumbu lateral.
Y = sumbu vertical.
Z = sumbu longitudinal.
Data dimensi komponen sambungan pipa model T
Diameter luar (Do) = 4,5 (inchi)
Tebal dinding (t) = 0,237 (inchi)
Diameter dalam (Di) = 4,026 (inchi)

Dalam proses ini langkah-langkah yang dilakukan adalah :

3.2. PEMODELAN ELEMEN HINGGA


3.2.1. PEMODELAN GEOMETRI (CAD )
Pemodelan elemen hingga (finite element modelling) dilakukan dengan
tujuan untuk mendapatkan nilai tegangan pada komponen yang dimodelkan. Pemodelan
elemen hingga untuk komponen sambungan pipa model T dilakukan dengan menggunakan
perintah Geometry pada Workbench ANSYS 14.0 tahun 2012. Awalnya membuat gambar pipa
utama pada bidang XY dengan ukuran seperti pada data dimensi komponen sambungan
pipa model T, kemudian membuat pipa percabangan pada bidang XZ dengan ukuran
dimensi yang sama dengan gambar pipa utama. Maka hasil gambar komponen sambungan
pipa model T dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1 Geometry Komponen Sambungan Pipa Model T

3.2.2. JARING-JARING NODAL (MESHING MODEL)


Sebelum proses analisis dilakukan, maka setelah pemodelan geometri yaitu
melakukan proses meshing pada komponen sambungan pipa model T sesuai dengan tahapan
analisis pada software ANSYS 14.0. Hasil meshing dapat dilihat pada gambar 3.2.
Gambar 3.2 Hasil Mashing Pada Ansys 14.0

Dari hasil meshing pada ansys didapatkan jumlah elemen sebanyak 2334 dan nodes
sebanyak 13785 dengan toleransi element size 0,3937 in (1cm). Dengan hasil kualitas
yang demikian maka dapat diteruskan ke proses berikutnya yaitu Static Structural.

3.2.3. STATIC STRUCTURAL


Pada proses static structural ada dua analisis setting yang dilakukan yaitu
insert pressure dan fixed support. Pressure pada komponen sambungan pipa model T
dirancang dengan perhitungan bahwa beban yang diterima dari daerah seluruh dalam
komponen tersebut adalah 14,5 (Psi). Perhitungan ini didasarkan pada beban dengan
toleransi yaitu 1 (Bar) = 14,5 (Psi) sebagai beban normal yang diberikan. Pemodelan
dapat dilihat pada gambar 3.3.

Gambar 3.3 Hasil Pemodelan Pressure Pada Ansys 14.0

Selanjutnya komponen sambungan pipa T diberi support (tumpuan) pada kedua sisi
ujung pipa utama komponen sambungan pipa T yang mewakili kondisi pipa. Jenis
support (tumpuan) yang diberikan ialah fixed support (tumpuan jepit) dimana yang
dibebaskannya adalah dalam arah rotasi X dan Y. Pemodelan dapat dilihat pada gambar
3.4.

Gambar 3.4 Hasil Pemodelan Support Pada Ansys 14.0

3.2.4. SOLUTION
Pada tahap solution disini dapat melihat hasil analisa tegangan-tegangan yang
terjadi setelah diberikan pembebanan dan tumpuan. Tegangan yang terjadi pada
komponen sambungan pipa T pada software ANSYS 14.0 yaitu maximum principal stress
dan minimum principal stress. Hasil analisa tegangan maximum principal stress dan
minimum principal stress dapat dilihat pada gambar 3.5 dan gambar 3.6.
Gambar 3.5 Hasil Solution Maximum Principal Stress Pada Ansys 14.0
Gambar 3.6 Hasil Solution Minimum Principal Stress Pada Ansys 14.0

3.3. DIAGRAM ALIR PROSES ANALISA KOMPONEN SAMBUNGAN


PIPA MODEL T DENGAN METODE ELEMEN HINGGA
MENGGUNAKAN PRANGKAT LUNAK PROGRAM ANSYS 14.0
BAB IV
PERHITUNGAN DAN ANALISA

4.1. PERHITUNGAN TEGANGAN PADA SAMBUNGAN PIPA MODEL T


SECARA MANUAL
Perhitungan sambungan pipa model T secara numerik dengan menggunakan program
ANSYS 14.0 akan dibandingkan dengan perhitungan secara manual. Maka perhitungan
tegangan pada komponen sambungan pipa model T sebagai berikut:

Dimensi komponen sambungan pipa model T yang diperlukan dalam perhitungan:

Diameter luar (Do) = 4,5 (in) .


Diameter dalam (Di) = 4,026 (in) .
Jari-jari pipa (r) = 2,25 (in) .
Tebal pipa (t) = 0,237 (in).
Tekanan internal (P) = 14,5 (Psi) .

Pada perhitungan analitik menentukan hoop stress pada pipa utama ( tanpa
sambungan ) seperti pada gambar 4.1 dengan menggunakan persamaan rumus:

Gambar 4.1 Hoop stress Yang Terjadi Pada Pipa Utama

s_(H = (P . D)/(2 . t) )
Dimana :
P = tekanan (Psi)
D = diameter luar pipa (in)
t = tebal pipa (in)
Maka perhitungan analitik hoop stress pada pipa utama ( tanpa sambungan ):
? s?_(H = (P . D)/(2 . t) )
s_(H = (14,5 Psi . 4,5 in)/(2 . 0,237 in) )
s_(H = ( 65,25 Psi .in)/(0,474 in) )
s_(H = 137,65 Psi )
Pada perhitungan analitik menentukan axial stress pada pipa utama ( tanpa sambungan
) seperti pada gambar 4.2 dengan menggunakan persamaan rumus:
Gambar 4.2 Axial stress Yang Terjadi Pada Pipa Utama

s_(A = (P . D)/(4 . t) )
Dimana :
P = tekanan (Psi)
D = diameter luar pipa (in)
t = tebal pipa (in)
Maka perhitungan analitik axial stress pada pipa utama ( tanpa sambungan ):
s_(A = (P . D)/( 4 . t) )
s_(A = (14,5 Psi . 4,5 in)/(4 . 0,237 in) )
? s?_(A = (65,25 Psi .in)/(0,948 in) )
s_(A = 68,23 Psi )
Pada komponen sambungan pipa model T, perhitungan analitik hanya bisa
menghitung untuk pipa utama ( tanpa sambungan ) saja, maka tidak bisa diuraikan
secara analitik akan tetapi bisa dengan menggunakan cara empiris.
Berdasarkan persamaan empiris dari persamaan (19) journal of the Korean
nuclear society volume 29, number 4 dengan judul Stress Index Development for
piping with trunnion Attachment Under Pressure and Moment Loadings, halaman 310 -
319 maka perhitungan sambungan pipa model T dapat diselesaikan dengan persamaan
rumus sebagai berikut:
s_H = K1M . C1M (PD/2T) ( untuk hoop stress).
s_A = K1M . C1M (PD/4T) ( untuk axial stress).
dimana:

K1M = Modified peak stress index due to internal pressure


K1M = 1,085 (D/T)-0,0208(d/D)0,00736(t/T)0,0358
for (t/T) = 1.
K1M = 1,085 (D/T)-0,0208(d/D) 0,00736 (t/T)0,0126
for (t/T) < 1.
C1M = Modified secondary stress index due to internal pressure
C1M = 0,829 (D/T)0,111(d/D)-0,0445(t/T)0,0185
for (t/T) = 1.
C1M = 0,829 (D/T)0,111(d/D)-0,0445(t/T)0,00829
for (t/T) < 1.
P = Internal Pressure (tekanan dalam pipa).
D = Outside diameter of run pipe (diameter pipa utama).
d = Outside diameter of trunnion pipe support (diameter pipa cabang)
T = Thickness of run pipe (tebal dinding pipa utama).
t = Thickness of trunnion pipe support (tebal dinding pipa cabang)

Maka perhitungan tegangan pada sambungan pipa model T :


K1M ( Modified peak stress index due to internal pressure ):

K1M = 1,085 . (D/T)-0,0208 . (d/D) 0,00736 . (t/T)0,0358


K1M = 1,085 . ((4,5 in)/(0,237 in))-0,0208 . ((4,5 in)/(4,5 in)) 0,00736 .
((0,237 in)/(0,237 in))0,0358
K1M = 1,085 . 18,98 in -0,0208 . 1 in 0,00736 . 1 in 0,0358
K1M = 1,085 . 0,94 in . 1 in . 1 in
K1M = 1,019722 in

C1M ( Modified secondary stress index due to internal pressure ):

C1M = 0,829 . (D/T)0,111 . (d/D) -0,0445 . (t/T)0,00185


C1M = 0,829 . ((4,5 in)/(0,237 in))0,111. ((4,5 in)/(4,5 in)) -0,0445 . ((0,237
in)/(0,237 in)) 0,00185
C1M = 0,829 . 18,98 in 0,111 . 1 in -0,0445 . 1 in 0,00185
C1M = 0,829 . 1,38 in . 1 in . 1 in
C1M = 1,155088 in

Jadi asumsi nilai hoop stress pada sambungan pipa model T adalah:
s_H = K1M . C1M (PD/2T)
s_H = 1,019722 in . 1,155088 in . ((14,5 Psi .
4,5 in)/(2 . 0,237 in))
s_H = 1,1778 in . ((65,25 Psi .in )/(0,474 in))
s_H = 162,13 Psi

Jadi asumsi nilai axial stress pada sambungan pipa model T adalah:
s_A = K1M . C1M (PD/4T)
s_A = 1,019722 in . 1,155088 in . ((14,5 Psi
.4,5 in)/(4 . 0,237 in))
s_A = 1,1778 in . ((65,25 Psi .in )/(0,948 in))
s_A = 81,07 Psi

4.2. PERHITUNGAN TEGANGAN PADA SAMBUNGAN PIPA MODEL T


SECARA NUMERIK MENGGUNAKAN PROGRAM ANSYS
Hasil pemodelan dengan menggunakan program ANSYS 14.0 dihasilkan data tegangan yang
berupa perhitungan secara numerik. Maka dengan proses selanjutnya didapat bentuk
kurva tegangan terhadap posisi dan tegangan-tegangan pada nodes tertentu. Pada
tabel dibawah ini diperlihatkan nilai-nilai dari setiap nodes pada minimum
principal stress dan maximum principal stress pada bagian komponen sambungan pipa
model T.

Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Numerik Maximum Principal Stress Dan Minimum Principal

Stress Pada Bidang (YZ) Sebelah Kiri Komponen Sambungan Pipa Model
T

Posisi Maximum Principal Stress (psi) Minimum Principal Stress (psi)


-41 16.483 -2.3665
-40 17.021 -2.6608
-39 17.315 -2.8818
-38 17.356 -2.8825
-37 17.436 -2.8978
-36 17.507 -3.1152
-35 18.299 -3.1493
-34 18.384 -3.366
-33 26.455 -3.4037
-32 59.609 -3.8272
-31 94.802 -4.0159
-30 139.58 -4.6627
-29 184.41 -5.308
-28 236.29 -5.9234
-27 288.18 -6.895
-26 346.81 -7.3128
-25 405.48 -9.8539
-24 471.39 -12.74
-23 537.39 -17.736
-22 611.4 -19.413
-21 685.57 -20.363
-20 768.73 -21.35
-19 852.15 -23.261
-18 945.99 -32.069
-17 1040.2 -41.438
-16 1147 -55.786
-15 1254.4 -70.805
-14 1378.2 -93.071
-13 1502.9 -116.29
-12 1649.9 -152.1
-11 1798.2 -189.21
-10 1987.6 -241.36
-9 2179 -295.59
-8 2442.2 -392.92
-7 2706.8 -491.93
-6 3205.7 -582.36
-5 3707.5 -677.91
-4 4800.8 -940.56
-3 6073.5 -1231.4
-2 7858.5 -1423.5
-1 8382.5 -3940
0 11338 -2809.8
1 6322.8 -2620.9
2 5898.6 -2609.9
3 6176.2 -2492.4
4 6752.2 -2442.6
5 7180.8 -2098
6 7213.2 -1936.2
7 8434 -1823.2
8 8446.3 -1791.6
9 9357.5 -1692.3
10 8932 -1259.6
11 8845.9 -835.6
12 8542.2 -681.98
13 8558.7 -3865.7
14 10412 -2832.1
Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Numerik Maximum Principal Stress Dan Minimum Principal

Stress Pada Bidang (YZ) Sebelah Kanan Komponen Sambungan Pipa


Model T

Posisi Maximum Principal Stress (psi) Minimum Principal Stress (psi)


-41 16.463 -2.382
-40 16.99 -2.6593
-39 17.305 -2.9285
-38 17.357 -2.9357
-37 17.447 -2.9392
-36 17.683 -3.1881
-35 18.341 -3.1889
-34 18.35 -3.359
-33 26.224 -3.4394
-32 58.984 -3.9809
-31 93.971 -4.048
-30 138.56 -4.6895
-29 183.21 -5.3959
-28 234.92 -5.9412
-27 286.63 -7.289
-26 345.08 -7.3182
-25 403.55 -9.8383
-24 469.26 -12.696
-23 535.05 -17.644
-22 608.84 -19.48
-21 682.77 -20.578
-20 765.66 -21.713
-19 848.8 -23.115
-18 942.29 -31.866
-17 1036.2 -41.177
-16 1142.6 -55.39
-15 1249.6 -70.274
-14 1372.8 -92.518
-13 1496.9 -115.7
-12 1644.1 -150.77
-11 1792.6 -187.17
-10 1980.5 -239.96
-9 2170.3 -294.58
-8 2442.7 -386.24
-7 2716.9 -479.82
-6 3196.2 -570.19
-5 3676.4 -661.58
-4 4834.6 -941.34
-3 5993 -1227.6
-2 8352.7 -1489.4
-1 9349 -1782.4
0 7381.7 -4162.4
1 6082.4 -2895
2 6190.7 -2830.9
3 6357.8 -2623.8
4 6769.6 -2568.4
5 7856.7 -2448.3
6 8087.6 -2372.4
7 8420.4 -2106.5
8 8539.2 -1832.5
9 10207 -1802.4
10 8834.7 -1944.1
11 8886.1 -1265.2
12 8926.2 -841.99
13 10372 -684.4
14 7212.3 -3883.7

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Numerik Maximum Principal Stress Dan Minimum Principal

Stress Pada Daerah Sambungan Pipa Utama dan Cabang Komponen


Sambungan
Pipa Model T.

Posisi Maximum Principal Stress (psi) Minimum Principal Stress (psi)


-22 12588 -500.4
-21 14763 1959
-20 17240 1888.9
-19 15074 1679.5
-18 12437 1641.5
-17 11284 1362.3
-16 11021 1238.9
-15 8588.9 -968.18
-14 7409.6 -969.76
-13 6421.2 -1194.2
-12 6276.8 -2670.5
-11 5447.3 -2827.9
-10 2902.3 -4511.1
-9 2688.6 -5911.5
-8 128.69 -8144.4
-7 81.822 -9781.3
-6 67.821 -11453
-5 65.663 -12850
-4 26.872 -13058
-3 23.223 -13211
-2 0.41004 -13247
-1 -25.95 -11522
0 -1088.4 -9969.2
1 -836.12 -11872
2 -717.28 -13551
3 -685.42 -13651
4 -335.4 -13902
5 -262.83 -14150
6 -207.15 -11978
7 -131.95 -9895.2
8 -45.706 -9683.8
9 1338.8 -7588.8
10 1474.2 -5859
11 4028.7 -4007.1
12 4063.4 -3885.5
13 5272.1 -1724
14 7296.4 -1484.6
15 7404 -1300.4
16 10043 -1199.2
17 11168 716.01
18 11281 722.61
19 13690 831.37
20 13778 844.62
21 9967.1 1219.9
22 8636.3 -115.62

4.3. GRAFIK TEGANGAN PADA SAMBUNGAN PIPA MODEL T


Hasil pengolahan data tegangan dari pemodelan komponen sambungan pipa model T
dengan menggunakan program ANSYS 14.0 diperoleh dalam bentuk grafik hubungan
posisi (in) terhadap tegangan (Psi).

Gambar 4.4 Rekapitulasi Grafik Maximum Principal Stress dan Minimum Principal
Stress Pada Pipa Utama dan Pipa Cabang Daerah bidang YZ Sebelah
Kiri Komponen Sambungan Pipa Model T

Gambar 4.5 Rekapitulasi Grafik Maximum Principal Stress dan Minimum Principal
Stress Pada Pipa Utama dan Pipa Cabang Daerah bidang YZ Sebelah
Kanan Komponen Sambungan Pipa Model T.

Gambar 4.6 Rekapitulasi Grafik Maximum Principal Stress dan Minimum Principal
Stress Pada Pipa Utama dan Pipa Cabang daerah sambungan pipa
utama dan pipa cabang Komponen Sambungan Pipa Model T

4.4. ANALISA PERBANDINGAN ANTARA PERHITUNGAN MANUAL


DENGAN PERHITUNGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ANSYS
Dari hasil perhitungan dengan program ANSYS 14.0 dapat diperoleh distribusi
tegangan yaitu maximum principal stress untuk menunjukkan tegangan hoop stress pada
sisi luar dan dalam dari komponen pipa T dan minimum principal stress menunjukkan
tegangan axial stress pada sisi luar dan dalam komponen pipa T tersebut.
Perbandingan hasil perhitungan antara metode elemen hingga menggunakan
program ANSYS 14.0 dengan perhitungan manual berdasarkan persamaan empiris yang
telah diperoleh hasilnya setelah melakukan proses penurunan persamaan.

Tabel 4.5 Hasil Analisa Tegangan Minimum Principal Stress (Numerik) dengan Axial
Stress
(Empiris).
PERHITUNGAN NUMERIK PERHITUNGAN EMPIRIS KEGAGALAN
(%)
MINIMUM PRINCIPAL STRESS (Psi) AXIAL STRESS
(Psi)

81.286 (Psi)

81.07 (Psi)
2.66 x 10-3

Tabel 4.6 Hasil Analisa Tegangan Maximum Principal Stress (Numerik) dengan Hoop
Stress
(Empiris).

PERHITUNGAN NUMERIK PERHITUNGAN EMPIRIS KEGAGALAN


(%)
MAXIMUM PRINCIPAL STRESS (Psi) HOOP STRESS
(Psi)

162.27 (Psi)
162.13 (Psi)
8.63 x 10-4

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. KESIMPULAN
Hasil perhitungan dengan program ANSYS 14.0 maupun perhitungan empiris
memperoleh harga tegangan yang berbeda. Secara umum perhitungan ANSYS diperoleh
berbagai macam harga tegangan yang berbeda dalam komponen akibat pengaruh bentuk
geometri, seperti juga dalam hasil perhitungan untuk beberapa bengkokan pipa dan
sistem pemipaan lainnya. Hasil perhitungan ANSYS 14.0 lebih konservatif
dibandingkan hasil perhitungan empiris, dari hasil perhitungan ini bisa dikatakan
bahwa perhitungan ANSYS 14.0 lebih teliti dengan memberikan hasil pada setiap titik
nodesnya dan bisa menghasilkan desain lebih teliti dan efisien. Perhitungan dengan
ANSYS ini mudah dikembangkan untuk analisis desain, yaitu dengan mengubah input
file, ketelitian dari hasil perhitungan ditentukan oleh visualisasi atau modelling
yang diambil, baik dalam pemilihan tipe elemen ataupun penentuan siarat batas dalam
pembebanan.

5.2. SARAN
Untuk mendapatkan hasil analisa komponen sambungan pipa T secara numerik yang
lebih teliti diperlukan melakukan pemodelan komponen dengan menggunakan software
yang lain selain ANSYS 14.0 sehingga perhitungan numerik mendekati hasil
perhitungan empiris dan analitik.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Sambungan pipa model T merupakan salah satu komponen untuk menyalurkan fluida, yang
merupakan subjek dari atau perubahan harga tekanan. Pipa itu sendiri harus
diperhitungkan bersama perubahan fluktuasi gaya yang terjadi pada sistem dari
fluida, gas atau efek luar seperti tiupan angin dan gangguan gempa bumi.
Perencanaan sistem pemipaan harus memperhatikan sistem pipa atau pemipaan seperti :
Jumlah kebutuhan fluida atau gas dengan tekanan yang dapat diterima oleh
material.
Memiliki fleksibilitas penurunan tegangan agar semua kondisi operasi dari
gaya-gaya momen di pipa berada dalam batas yang diijinkan.
Tegangan merupakan salah satu besaran yang harus menjadikan perhatian utama dalam
perancangan. Banyak metode yang dapat digunakan untuk manganalisi tegangan.
Diantaranya metode analitik dan numerik. Penyelesaian masalah dengan mengguakan
metode analitik merupakan metode penyelesaian yang paling baik, namun ada kalanya
metode tersebut tidak dapat digunakan apabila menyangkut masalah sistem geometri
kondisi batas yang rumit, serta sifat-sifat material yang bervariasi. Oleh karena
itu, digunakan metode numerik sebagai pendekatannya. Beberapa metode numerik yang
lazim digunakan diantaranya metode elemen hingga (Finite Element Method).
Metode elemen hingga merupakan metode yang paling popular digunakan. Untuk
menerapkan metoda elemen hingga tersebut, diperlukan seperangkat komputer digital
beserta perangkat lunaknya, dan saat ini sudah banyak tersedia paket-paket
perangkat lunak metode elemen hingga yang digunakan untuk menyelesaikan masalah-
masalah teknik. Salah satunya adalah perangkat lunak ANSYS 14.0 yang merupakan
suatu perangkat lunak metode elemen hingga yang digunakan sebagai pengganti
keterbatasan solusi analitik.
1.2. IDENTIFIKASI MASALAH
Masalah yang dianalisa pada tugas akhir ini adalah untuk pemodelan sistem
yang melibatkan geometri dan kondisi-kondisi batas yang rumit, serta sifat-sifat
material yang bervasiasi, penyelesaian analitik sangat sulit untuk digunakan.
Karena keterbatasan solusi analitik tersebut, maka dilakukanlah berbagai cara untuk
mengatasinya, diantaranya : membuat perangkat lunak sendiri dan menggunakan
perangkat lunak tersebut, diperlukan waktu yang cukup lama. Sehingga cara ini pun
belum efektif untuk dilakukan.
Dengan kondisi - kondisi tersebut, maka cara yang paling efisien yaitu menggunakan
perangkat lunak yang telah ada. Salah satunya adalah perangkat lunak ANSYS 14.0
yang merupakan perangkat lunak metode elemen hingga yang telah popular.
Dalam tugas akhir ini, identifikasi masalah menitik beratkan pada cara penggunaan
masalah gaya yang terjadi dalam proses pembebanan dengan menggunakan perangkat
lunak ANSYS 14.0 untuk menyelesaikan masalah gaya.
1.3. TUJUAN
Tujuan tugas akhir ini menganalisa tegangan pada komponen sambungan pipa
model T dengan menggunakan perhitungan secara analitik pada pipa utama, empiris
pada pipa bercabang, maupun numerik (software ANSYS 14.0).
1.4. LINGKUP MASALAH
Untuk memperjelas batasan masalah dari penyelesaian suatu kasus, maka penulis
memberikan lingkup pembahasan sebagai berikut:
PEMODELAN AWAL
Yaitu membuat pernyataan masalah pada suatu kasus yang akan dianalisa sebelum
menggunakan perangkat lunak ANSYS 14.0. Dalam membuat pernyataan masalah tersebut,
adalah beberapa asumsi-asumsi yang digunakan, yaitu : gaya yang terjadi pada saat
pembebanan.
Pelaksanaan motode elemen hingga dengan menggunakan perangkat lunak ANSYS
14.0 yaitu memodelkan suatu kasus nyata kedalam perangkat lunak ANSYS 14.0.
INTERPRESTASI HASIL
Yaitu menafsirkan hasil yang didapatkan dari penyelesaian kasus tersebut.

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN


Agar lebih mempermudah penyusunan laporan ini maka perlu penyusunan dalam
beberapa bab yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Terdiri dari latar belakang, identifikasi masalah, tujuan, pembatasan
masalah dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Membahas teori-teori yang berhubungan dengan metode elemen hingga
dan program ANSYS 14.0.
BAB III PEMODELAN STRUKTUR SAMBUNGAN PIPA MODEL T
Terdiri dari pegumpulan data, pemodelan dengan menggunakan program
ANSYS 14.0 dan pemilihan ukuran dari variable-variabel.
BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA
Bab ini berisikan hasil-hasil penelitian yang sudah dilakukan yang
dirangkum secara keseluruhan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. DASAR-DASAR METODE ELEMEN HINGGA


Metode elemen hingga adalah metode numeris untuk penyelesaian masalah teknik
dan fisika matematis. Masalah tersebut meliputi:
Analisa struktur
Heat transfer
Aliran fluida
Perpindahan massa
Elektromagnetik
Permasalahan kompleks dari geometri, pembebanan, dan sifat material, umumnya susah
untuk menyelesaikannya secara matematis. Penyelesaian matematis adalah menggunakan
persamaan matematis yang menghasilkan persamaan untuk mendapatkan informasi /
penyelesaian dari nilai yang tidak diketahui disetiap lokasi dibagian struktur /
objek. Penyelesaiannya umumnya menggunakan ODE & PDE (Persamaan Difrensial
Parsial).
Penyelesaian Metode Elemen Hingga menghasilkan persamaan dari masalah yang
dianalisa dalam sistem persamaan serentak yang harus diselesaikan. Penyelesaian ini
memberikan hasil / penyelesaian pendekatan dari nilai yang tidak diketahui pada
titik tertentu dalam sistem yang kontinyu. Sistem yang kontinyu adalah istilah dari
kondisi struktur / objek yang sebenarnya.
Dikritisasi (discretization) adalah proses pemodelan dari struktur/ objek dengan
membaginya dalam elemen - elemen kecil (finite elemen atau elemen hingga) yang
terhubung oleh titik-titik (nodes) yang digunakan oleh elemen - elemen tersebut dan
sebagai batas dari struktur / objek. Dalam metode elemen hingga persamaan dari
seluruh sistem dibentuk dari penggabungan persamaan elemen-elemennya.
Masalah struktur: penyelesaian yang didapat adalah deformasi (displacement) pada
setiap titik (nodes) yang selanjutnya digunakan untuk mendapatkan besaran-besaran
regangan (strain) dan tegangan (stress). Untuk masalah bukan struktur:
heat transfer: temperatur akibat flux temperatur.
fluid flow: tekanan fluida akibat flux fluida.
Metode elemen hingga (finite elemen method) telah berkembang selama 35 tahun
bersamaan dengan perkembangan teknologi komputer.
Penyelesaian dari metode elemen hingga (MEH) umumnya menggunakan metode
matriks. Penyelesaian MEH memerlukan perhitungan yang sangat banyak dan berulang-
ulang dari persaamaan yang sama, sehingga diperlukan sarana komputer dan bahasa
pemrogramannya. Penyelesaian dari seluruh sistem umumnya merupakan penyelesaian
persamaan serentak yang dinyatakan dalam bentuk matriks dan diselesaian menggunakan
penyelesaian persamaan serentak (Cholesky, Eliminasi Gauss, Iterasi Gauss-Seidel).

2.1.1. SEJARAH METODE ELEMEN HINGGA


Elemen satu dimensi dikembangkan oleh Hrennikoff (1941) dan McHenry (1943) sebagai
elemen rangka (truss) dan balok (beam). Courant (1943) mengembangkan definisi
tegangan dalam bentuk fungsi (variational form), shg. Sebagai awal penggunaan
fungsi bentuk (shape function) yang diterapkan dalam elemen segitiga (elemen dua
dimensi).
Levy (1947) mengembangkan metode fleksibilitas (flexibility method) atau metode
gaya (force method). Pada tahun 1953, dia mengembangkan metode deformasi
(displacement method) atau metode kekakuan (stiffness method). Pada masa itu
usulannya sangat susah diterima oleh umum karena memerlukan banyak perhitungan
sehingga diperlukan komputer sebagai sarana pendukung.
Argyris dan Kelsey (1954) mengembangkan analisa struktur metode matriks menggunakan
metode energi. Pengembangan ini menunjukkan pentingnya pendekatan prinsip energi
dalam penyelesaian persamaan-persamaan metode elemen hingga. Awal penggunaan elemen
dua dimensi dilakukan oleh Turner, Clough, Martin, dan Top (1956) dengan menurunkan
persamaan untuk elemen rangka, balok, elemen segitiga dan persegi, pada
pengembangan direct stiffness method untuk mendapatkan kekakuan sistem.
Istilah finite element (elemen hingga) diperkenalkan oleh Clough pada th. 1960
saat menggunakan elemen segitiga dan segi empat dalam analisa tegangan bidang
(plane stress analysis). Melosh (1961) mengembangkan elemen pelat lentur (plate
bending). Grafton dan Strome (1963) mengembangkan elemen shell dan axisymmetric
shell untuk pemodelan pressure vessel. Martin (1961), Gallagher, Padlog, dan
Bijlaard (1962), Melosh (1963), dan Argyris (1964) mengembangkan elemen tiga
dimensi tetrahedral. Clough, Rashid, dan Wilson (1965) mengembangkan element
axisymmetric solid.
Kebanyakan pendekatan regangan dan tegangan kecil dipakai dalam penyelesaian MEH
ditahun 60-an. Turner, Dill, Martin, dan Melosh (1960) mengembangkan penyelesaian
dari Large deformation and thermal analysis. Gallagher, Padlog, dan Bijlaard (1962)
mengembangkan penyelesaian kasus material tidak linier (non-linear material).
Gallagher dan Padlog (1963) mengembangkan penyelesaian dari masalah tekuk
(buckling). Zienkiewicz, Watson, dan King (1968) mengembangkan penyelesaian dari
kasus visco-elasticity.
Archer (1965) mengembangkan penyelesaian dari kasus analisa dinamis dalam
pengembangan consistent mass matriks pada rangka dan balok. Melosh (1963)
mengembangkan pendekatan persamaan variational (vaiational formulation) dalam
permulaan dari penyelesaian masalah bukan struktur. Zienkiewicz, dan Cheung (1965),
Martin (1968), dan Wilson dan Nickel (1966) mengembangkan penyelesaian dari masalah
torsi dari poros, aliran fluida, dan konduksi panas.
Penyelesaian menggunakan weighing residual method dikembangkan oleh Szabo dan Lee
(1969), dan diterapkan dalam penyelesaian masalah transient field problems oleh
Zienkiewicz dan Parekh (1970). Studi tersebut memberikan alternatif penyelesaian
bila kasus-kasus yang tidak bisa diselesaiakan dengan pendekatan direct formulation
dan variational formulation.
Belytscho (1976) mengembangkan penyelesaian yang efisien dari perilaku large
displacement non-linear dynamic dengan memperbaiki penyelesaian numerisnya.
Penerapan dari metode elemen hingga telah digunakan dalam bidang bioengineering.
Kasus-kasus dalam bidang ini masih banyak masalah dimaterial pada non-linear
material, non-linear geometry, dan banyak hal lain yang masih menunggu
penyelesaian.

2.1.2. PERAN KOMPUTER DALAM METODE ELEMEN HINGGA

Hingga tahun.1950-an, metode matriks dan metode elemen hingga tidak siap
digunakan dalam penyelesaian - penyelesaian masalah kompleks karena besarnya
persamaan yang harus diselesaikan, sehingga tidak praktis.
Dengan hadirnya komputer, maka perhitungan dari penyelesaian persamaan dari sistem
struktur tersebut dapat diselesaikan dalam hitungan menit.
Perkembangan komputer menyebabkan perkembangan program-program numeris untuk
masalah struktur dan non-struktur.

2.1.3. LANGKAH-LANGKAH METODE ELEMEN HINGGA


2.1.3.1. Langkah 1
Diskritisasi / meshing dan pemilihan jenis elemen berkait dengan idealisasi yang
ingin dilakukan terhadap struktur yang dimodelkan. Pilihan yang ada berkait dengan
jenis elemen (1 dimensi, 2 dimensi, atau 3 dimensi), dan berlanjut dengan tingkat
kesulitan dari jenis elemen yang ditunjukkan oleh jumlah titik (nodes) dalam elemen
beserta jumlah derajat kebebasan (degree of freedom atau DOF) dari masing-masng
titik (nodes). Penentuan jumlah elemen berkait dengan ukuran elemen yang penentuan
dan penyebarannya berkenaan dengan konsentrasi dari deformasi, regangan, serta
tegangan yang akan terjadi pada struktur yang dimodelkan yang disebabkan oleh
bentuk geometri dari struktur serta penyebaran beban dan syarat batasnya.

Gambar 2.1 Jenis Elemen

Gambar 2.2 Jumlah Elemen

2.1.3.2. Langkah 2
Pilih Fungsi Deformasi (Displacement Function) Penentuan fungsi deformasi adalah
berkait dengan jumlah titik dalam satu elemen serta DOF yang dimodelkan pada tiap
titik atau tingkat / derajat polinomial dalam asumsi fungsi deformasi dalam elemen
tersebut.
2.1.3.3. Langkah 3
Menentukan persamaan hubungan antara regangan {?} dan deformasi {d} serta antara
tegangan {s} dan regangan {?}.
Regangan: ?x =du/dx ; ?Y =dv/dy ; ?Z =dw/dz
Tegangan: sX = E ?x ; sY = E ?Y ; sZ = E ?Z
2.1.3.4. Langkah 4.
Menentukan Matrik Persamaan dan Kekakuan Elemen
Ada tiga metode dalam penentuan persamaan kekakuan elemen:
Metode Kesetimbangan Langsung (Direct Equilibrium Method).
Metode Kerja atau Energi (Work or Energy Method).
Metode dengan Pemberatan pada Energi Sisa (Methods of Weighted
Residual).
Metode Kesetimbangan Langsung: Matrik persamaan elemen yang menunjukkan hubungan
antara gaya, kekakuan, dan deformasi pada elemen ditentukan berdasarkan pada
prinsip kesetimbangan gaya.
Metode Kerja atau Energi: Metode ini adalah pendekatan yang dapat mencakup hampir
semua tingkat kerumitan dari suatu model yang mencakup komponen material, dimensi,
beban, dan syarat batas.
Metode yang menggunakan prinsip energi / kerja lainnya: Metode Castigliano dan
Metode yang berdasarkan Prinsip Energi Potensial Minimum. Keduanya hanya berlaku
untuk penurunan dengan material elastis.
Metode dengan Pemberatan pada Energi Sisa: Metode ini yang terkenal adalah Metode
Galerkin. Metode ini memberikan hasil yang sama untuk semua penyelesaian Metode
Energi. Metode ini sebagai penyelesaian saat metode energi tidak bisa digunakan.
Metode ini dapat mengadopsi langsung persamaan diferensial.
Persamaan elemen yang dihasilkan secara umum adalah sebagai berikut:
2.1.3.5. Langkah 5
Bentuk persamaan global dari sistem struktur secara matrik adalah sebagai berikut:

{F} = [K] {d}


Dimana:
{F} = adalah vektor gaya global pada titik baik yang diketahui maupun yang tidak

diketahui.
[K] = adalah matrik kekakuan global dari sistem struktur; sifatnya singular atau

det [K] = 0.
{d} = adalah vektor deformasi yang diketahui dan yang tidak diketahui.
2.1.3.6. Langkah 6
Penyelesaian dari DOF yang tak diketahui, setelah syarat batas diberikan. Persamaan
dari sistem menjadi: Dimana: n = jumlah DOF yang tak diketahui. Matrik [K] bersifat
non-singular (det [K] ? 0). Penyelesaiannya umumnya menggunakan antara lain: metode
eliminasi Gauss Iterasi Gauss, Gaussseidel, dst.
2.1.3.7. Langkah 7
Penyelesaian Regangan dan Tegangan Elemen. Hasil regangan dan tegangan adalah
output yang umum digunakan untuk menentukan kualitas dari desain struktur yang
dilakukan.
2.1.3.8. Langkah 8
Interpretasi Hasil Output yang berupa: deformasi, tegangan, dan regangan adalah
sebagai acuan dalam menilai desain yang dimodelkan. Dari analisis yang dilakukan,
maka dapat ditentukan perubahan-perubahan untuk perbaikan desain maupun kualitas
model.

2.1.4. APLIKASI PADA METODE ELEMEN HINGGA


2.1.4.1. PADA MASALAH STRUKTUR:
Analisa Tegangan: pada struktur rangka, balok dan frame; pada struktur pelat
berlubang, dst.
Kejadian Tekuk (Buckling): pada kolom dan shell.
Analisa Getaran.
2.1.4.2. PADA MASALAH NON-STRUKTUR:
Kejadian Transfer panas (Heat Transfer).
Aliran Fluida (Fluid Flow), termasuk aliran dalam media berpori (tanah).
Distribusi dari potensi magnetik atau elektrik.
2.1.4.3. APLIKASI PADA BIOENGINEERING.

2.1.5. KEUNTUNGAN DARI METODE ELEMEN HINGGA


Memodelkan bentuk yang kompleks.
Menyelesaikan kondisi pembebanan umum.
Memodelkan objek / struktur dengan jenis material yang banyak (karena
Persamaan Pada tingkat elemen).
Memodelkan banyak macam syarat batas.
Dengan mudah menggunakan bermacam ukuran elemen dalam meshing.
Menyelesaikan model dengan mudah dan murah.
Dapat memodelkan efek dinamis.
Menyelesaikan kelakuan tidak linier dari geometri dan material.

2.1.6. SOFTWARE DARI METODE ELEMEN HINGGA


GT STRUDL.
CATIA.
STRUCAD.
SAP2000.
ABAQUS.
FLUENT.
ALGOR.
IDEAS.
CFX.
ANSYS.
FEMAP.
ADINA.
MSC NASTRAN.
MSC PATRAN.
ROBOT (AUTODESK).
MSC DYTRAN.
MSC MARC.
SACS.
MICRO SAS.
2.1.7. TEORI PEMROGRAMAN
Algoritma perhitungan dari suatu proses analisis sederhana dapat dituliskan
dalam satu program tunggal, khususnya jika ternyata program tersebut berukuran
kecil katakanlah dalam orde ratusan baris. Penyusunan, modifikasi dan kompilasi
program tunggal dengan demikian masih bisa dilakukan dengan mudah. Namun jika
program sudah besar dengan ribuan bahkan puluhan ribu baris maka praktek penulisan
algoritma dalam suatu program tunggal sebaiknya dihindari atas dasar beberapa
alasan, antara lain :
Semakin besar ukuran program, semakin lama waktu kompilasi yang dibutuhkan.
Program yang berukuran 2 kali membutuhkan waktu kompilasi lebih dari 2 kali lipat.
Hal ini diperlukan demi alasan penghematan waktu kompilasi.
Alasan yang menyangkut kompilasi ulang. Modifikasi beberapa baris saja
membutuhkan kompilasi ulang program keseluruhan, yang jika terdiri-dari ribuan
baris tentu akan menyita waktu yang lama.
Alasan yang menyangkut proses penelusuran kesalahan ( debugging ). Kebutuhan
akan menemukan kesalahan kecil atau beberapa baris saja membutuhkan pemeriksaan
kesalahan pada semua baris yang ada, sehingga sering dihadapi kasus dalam praktek
pemrograman dimana baris yang sebenarnya betul malah dimodifikasi sementara
kesalahan yang dicari masih belum diketemukan dan tidak diperbaiki.

Untuk mengatasi hal-hal diatas, maka program akan ditulis dalam satu program induk
( main programe ) yang memiliki beberapa subprograme yang dalam hal ini digunakan
subroutine. Program induk hanya berfungsi untuk menugasi subroutine ( memberi
perintah keja dengan perintah call ). Suatu subroutine bertugas untuk melakukan
satu macam proses operasi yang dalam keseluruhan analisis dilakukan berulang.
Secara garis besar, suatu paket program analisis struktur dapat dibagi atas
beberapa blok proses, yaitu :
Mulai
Pembacaan data masukan
Membuat program struktur
Menjalankan program struktur
Mencetak data keluaran
Analisa data
Selesai
Garis besar pemrograman analisis struktur diatas dapat dibuat program seperti
dibawah ini :

Gambar 2.3 Diagram Blok Program Analisis Struktur

2.2. TEORI ELASTISITAS


2.2.1. TEGANGAN
Tegangan yang bekerja pada penampang bahan dapat dirumuskan sebagai berikut :
s= P/A
Dimana : s = tegangan atau gaya per-satuan luas (N/m^2 )
P = beban (N)
A = luas penampang (m2)

Dalam menentukan bahan untuk perancangan suatu struktur atau komponen, maka hal
yang paling utama yang harus ditentukan adalah tegangan yang mampu diberikan pada
struktur tersebut. Tegangan yang harus ditentukan pada bahan sebelum proses
perancangan adalah :
Tegangan Batas didefinisikan sebagai tegangan satuan terbesar suatu bahan
yang dapat ditahan tanpa menimbulkan kerusakan.
Tegangan ijin yaitu bagian kekuatan batas yang bisa aman digunakan pada
perancangan. Para perancang struktur ( komponen ) umumnya bekerja dengan suatu
tegangan izin yang ditetapkan sebelumnya.
Secara umum tegangan dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :
Tegangan Normal ( Normal Stress )
Tegangan normal adalah tegangan yang bekerja normal ( tegak lurus )
terhadap permukaan yang mengalami tegangan. Tegangan ini dapat berupa tegangan
tarik maupun tekan.
Tegangan Geser (Shear Stress)
Tegangan geser adalah tegangan yang bekerja sejajar terhadap permukaan yang
mengalami tegangan.
Komponen tegangan ( stress ) bernilai positif jika searah dengan koordinat
positifnya dan sebaliknya. Tegangan yang bekerja pada batang terdiri dari 6
komponen, antara lain :
{s}^2 = { s_(xx ) s_(yy ) s_(zz ) s_(xy ) s_(xz ) s_yz }

Keenam komponen tegangan ini dapat digambarkan seperti dibawah ini :

Gambar 2.4 Komponen Tegangan Tiga Dimensi

2.2.1.1. ANALISIS TEGANGAN SISTEM PEMIPAAN


Perhitungan dalam analisis tegangan pipa dengan program ANSYS dilakukan dengan
menganggap tiap elemen pemipaan sebagai batang dan besarnya tegangan pada setiap
komponen ditentukan oleh besarnya beban, factor geometri dan material yang
digunakan. Tegangan yang diizinkan dalam desain dan rumus perhitungan tegangan pipa
mengacu pada standar ASME III, kelas 2. Tegangan pipa dan batas tegangan maksimum
yang diizinkan dianalis berdasarkan rumusan untuk berbagai pembebanan tergantung
dari kondisi sistem. Untuk beban statik dan termal, analisa tegangan dilakukan
dengan menghitung dan memeriksa batas tegangan akibat beban statik beban termal dan
gabungan seperti ditunjukkan dalam rumus sebagai berikut:

S= (B_1 ?PD?_0)/?2t?_n + (B_2 (M_DW+ M_SSE))/Z


Tegangan izin 1,5 Sh
S = (i . M_c)/Z
Tegangan izin = Sa
S=(P D_0)/?4t?_n + 0,75 i M_dw/Z+ (i Mc)/Z
Tegangan izin = SA + Sh
Dimana:
S = tegangan pada pipa (Pa).
Sy = tegangan tarik yang diizinkan (Pa).
Sh = tegangan tarik izin suhu operasi (Pa).
MDW = momen akibat beratm (Nm).
Me = momen total (Nm).
Mte = momen puntir (Nm).
MSSE = momen akibat seismic (Nm).
Mb = momen bengkok (bending) (Nm).
Tn = tebal pipa (m).
D0 = diameter luar pipa (m).
Z = section modulus (m3).
Fa = gaya aksial (N).
Fv = gaya vertical (N).
B1 dan B2 = konstanta.
P = Tekanan operasi (PA).
2.2.1.2. PERHITUNGAN TEGANGAN DENGAN METODE ELEMEN
HINGGA

Dasar dari metode elemen hingga adalah membagi benda kerja menjadi elemen-elemen
kecil yang jumlahnya berhingga sehingga dapat menghitung reaksi akibat beban (load)
pada kondisi batas (boundary condition) yang diberikan. Dari elemen-elemen tersebut
dapat disusun persamaan-persamaan matrik yang bias diselesaikan secara numerik dan
hasilnya menjadi jawaban dari kondisi beban pada benda kerja tersebut. Dari
penyelesaian matematis dengan menghitung inverse matrik akan diperoleh persamaan
dalam bentuk matrik untuk sat elemen dan bentuk matrik total yang merupakan
penggabungan ( assemblage ) matrik elemen.
Secara garis besar bentuk persamaan dalam penyelesaian tegangan dan regangan untuk
struktur dan pemipaan didasarkan pada rumus dasar perhitungan kekuatan dalam
konstruksi mekanik untuk daerah elastis sebagai berikut.

F = ((A . E)/I) ?l
Dimana :
F = gaya atau beban (N)
A = luas penampang (m2)
E = modulus elastisitas (Pa)
?l = pertambahan panjang (m)

Dari rumus dasar yang menunjukkan hubungan antara beban, sifat bahan,
geometri, dan pergeseran yang ditimbulkan dapat disusun bentuk umum persamaan dalam
elemen dengan persamaan matrik. Untuk problem pemipaan perhitungan tegangan akibat
beban mekanik dapat diperoleh dengan menyelesaikan persamaan matrik serta
memberikan syarat batas dan pembebanan dengan persamaan berikut:
[K] {u}= {F}
Dimana :
[K] = matrik kekakuan
{u} = matrik pengerasan
{F} = matrik beban
Untuk pembebanan termal rumus tegangan didasarkan pada besarnya perbedaan
regangan pada setiap titik dan elemen akibat terjadinya distribusi temperatur yang
tidak merata. Secara umum bentuk rumusan tegangan termal dapat disusun dalam
persamaan matrik sebagai berikut:
s=D e=D [a ?T] T
Dimana :
D = matriks konstanta yang bergantung pada jenis bahan dan
dinyatakan dalam besaran modulus young (E) dan angka
poison (v).
e = regangan
a = koefisien muai panas dari bahan
?T = beda suhu
Dengan menyelesaikan inverse matrik yang terbentuk dalam persamaan dapat
diperoleh hasil berupa distribusi tegangan pada sistem. Berdasarkan bentuk
persamaan matrik untuk tiap elemen dapat disusun bentuk persamaan matrik untuk
gabungan yang kemudian memberikan hasil tegangan pada setiap titik dan elemen.
Penyelesaian akibat beban mekanik dan termal dapat juga diselesaikan dengan
mmenggabungkan dua jenis pembebanan dan memberikan syarat batas dan menyelesaikan
persamaan matriknya. Penyelesaian metode elemen hingga dapat diselesaikan dengan
perhitungan menggunakan program ANSYS untuk memperoleh hasil akhir berupa nilai dan
distribusi tegangan pada seluruh titik elemen pada komponen dengan mengikuti
langkah perhitungan yang diatur pada penggunaan program tersebut. Program ANSYS
telah menyusun penyelesaian persamaan dari gabungan dengan berbagai macam
pembebanan yang disusun dari penyelesaian dengan menghitung inverse matrik
menggunakan teknik iterasi.

2.2.2. REGANGAN
Regangan digunakan untuk mempelajari deformasi yang terjadi pada suatu benda. Untuk
memperoleh regangan, maka dilakukan dengan membagi perpanjangan (d) dengan panjang
(L) yang telah diukur, dengan demikian diperoleh :
e= d/L
Dimana : e = regangan
d = perubahan bentuk aksial total (mm)
L = Panjang batang (mm)
2.2.3. HUKUM HOOKES
Sesuai dengan hukum Hookes, tegangan adalah sebanding dengan regangan.
Kesebandingan tegangan terhadap regangan dinyatakan sebagai perbandingan tegangan
satuan terhadap regangan satuan. Pada bahan kaku tetapi elastis seperti baja, kita
peroleh bahwa tegangan satuan yang diberikan menghasilkan perubahan bentuk satuan
yang relatif kecil. Perkembangan hukum Hookes tidak hanya pada hubungan tegangan-
regangan saja, tetapi berkembang menjadi modulus young atau modulus elastisitas.
Rumus modulus elastisitas (E) adalah:

E= s/e
Dimana : E = modulus elastisitas (N/m^2 ) atau Mpa
s = tegangan (N/m^2 )
e = regangan

2.3 TINJAUAN UMUM PROGRAM ANSYS 14.0


2.3.1. PENDAHULUAN
Menganalisa suatu elemen yang menggunakan metode elemen hingga dapat
dilakukan menggunakan bantuan komputer terutama untuk masalah mekanika yang sulit
dilakukan dengan perhitungan teoritik yaitu untuk bentuk-bentuk elemen mesin yang
rumit.
Analisa tegangan untuk bentuk-bentuk elemen mesin yang rumit lebih efektif
bila menggunakan komputer dengan software yang sesuai, dengan demikian akan
memperoleh hasil yang lebih sederhana dan dapat mempercepat proses analisis,
meningkatkan ketelitian perhitungan serta mengurangi kesalahan yang mungkin
terjadi.
ANSYS 14.0 adalah program metode elemen hingga yang dapat digunakan untuk
menganalisa tegangan, getaran dan perpindahan panas untuk struktur dan elemen
mesin. Perangkat lunak ANSYS 14.0 memberikan kemudahan untuk menganalisa bentuk-
bentuk elemen mesin yang rumit dengan hasil yang dapat diterima.

2.3.2. PEMBUATAN MODEL


Hal pertama yang dilakukan untuk menganalisa struktur dengan menggunakan
ANSYS 14.0 adalah peembuatan pemodelan bagi elemen mesin yang akan dianalisa
tersebut. Pemodelan adalah proses untuk memperlihatkan sifat-sifat fisik elemen
yang akan dianalisa dengan dengan lengkap.
Dengan menggunakan program ANSYS 14.0 pemodelan dapat dilakukan dengan import
geometri dari CAD atau dengan membuat model dengan ANSYS 14.0. Untuk pemodelan
elemen hingga ang akan dibuat dan akan dianalisa pada program ANSYS 14.0 dapat
menghasilkan pemodelan yang lengkap. Pembuatan jarring-jaring nodal ( meshing )
dapat dilakukan dengan manual ataupun dengan automatis. Pemilihan material yang
tepat serta sifat-sifat material dapat diambil dari program ANSYS 14.0 libraries
bermacam-macam bentuk tumpuan dan kondisi pembebanan dapat diterapkan pada model
untuk memodelkan keadaan model sebenarnya.

2.3.3. PEMBUATAN GEOMETRI


Untuk membuat suatu pemodelan diperluakan geometri dari elemen mesin yang
akan dianalisa pemodelan dapat dilakukan dengan memindahkan ( import ) geometri
dari CAD atau dengan membuat model dengan ANSYS 14.0, bila pembuatan model geometri
dilakukan dengan menggunakan program ANSYS 14.0, maka dapat menggunakan perintah-
perintah menu create, dengan perintah-perintah yang ada pada menu tersebut dapat
dibuat geometri dari model yang akan dianalisa.

2.3.4. PENENTUAN MATERIAL DAN PROPERTI ELEMENT


Setelah geometri elemen dibuat langkah selanjutnya adalah menentukan material
dan tipe material dari elemen tersebut. Sifat-sifat dari material yang akan
digunakan seperti modulus young dan mass density, tergantung pada tipe material
tersebut.
2.3.4.1. TIPE MATERIAL
ANSYS 14.0 memiliki tipe-tipe material yang dapat digunakan dibawah ini:
2.3.4.1.1. ISOTROPIC
Isotropic material merupakan tipe material yang luas penggunaannya. Tipe ini
dapat digunakan untuk semua tipe elemen. Material yang memiliki tipe ini mempunyai
sifat-sifat yang konstan pada semua arah. Oleh karena itu semua sifat ditetapkan
dengan satu nilai tanpa perlu pertimbangan arah.
2.3.4.1.2. ORTHOTROPIC 2D
Orthotropic 2D didefinisikan ada perbedaan, dalam bidang, karakteristik
material dalam arah utama. Material ini digunakan untuk axisymmetric elemen.
2.3.4.1.3. ORTHOTROPIC 3D
Tipe ini didefinisikan bahwa karakteristik material yang dimiliki variasi dalam
tiga arah (sumbu) utama, digunakan untuk elemen solid.
2.3.4.1.4. ANISOTROPIC 2D
Tipe ini adalah bentuk umum dari 2D orthotropic material, hanya saja parameter yang
ditetapkan sebagai matrik umum 3x3.
2.3.4.1.5. ANISOTROPIC 3D
Tipe ini adalah bentuk yang lebih umum dari 3D orthotropic material, untuk kasus
ini dapat didefinisikan sebagai tipe matrik 6x6 dan untuk memperlihatkan parameter
termal.

2.3.4.2. TIPE ELEMENT


Simulasi yang tergantung pada pemilihan tipe dan property element. Ada beberapa
tipe elemen yang dimiliki program ANSYS 14.0, secara luas diklasifikasikan sebagai
berikut:

2.3.4.2.1. ELEMENT 3D
Memiliki volume, menghubungkan nodal yang terletak tidak pada bidang yang sama
digunakan ketika tegangan yang terjadi pada seluruh bidang tiga dimensi.
2.3.4.2.2. ELEMENT 2D
Memiliki luas, menghubungkan nodal yang terletak pada suatu bidang digunakan ketika
variasi tegangan terjadi hanya pada dua dimensi dan pada dimensi yang ketiga
konstan.
2.3.4.2.3. ELEMENT 1D
Memiliki panjang, menghubungkan dua nodal, disebut juga elemen garis.

2.3.4.3. PROPERTI ELEMENT


Untuk memilih properti yang digunakan untuk menganalisa elemen mesin. Program ANSYS
14.0 memiliki daftar properti yang bias dipakai dalam bidang mekanika. Pemilihan
ini disesuaikan dengan keadaan sebenarnya dari benda kerja yang akan dianalisa.
Properti yang dapat digunakan anatara lain.
2.3.4.3.1. ELEMEN GARIS (LINE ELEMENT)
Seluruh elemen yang termasuk kedalam tipe ini adalah menghubungkan dua nodal
perbedaan tipe yang dipilih memperlihatkan perbedaan kondisi struktural.

2.3.4.3.1.1. ROD ELEMENT


Uniaxial element yang memiliki matrik kekuatan tekan, tarik dan torsional elemen
ini tidak memiliki kemampuan untuk bending dan geser. Digunakan untuk pembuatan
pemodelan truss dengan sambungan pin.
2.3.4.3.1.2. TUBE ELEMENT
Tube element ini adalah variasi dari rod element dengan penampang melintang bulat,
juga termaksud kedalam tipe uniaxial element yang dimiliki matrik kekuatan tekan,
tarik, dan torsional. Beberapa program analisa berisikan matrik bending dan geser
ketika dipakai untuk pemodelan pipa.
Aplikasi yang sering dipakai adalah untuk pemodelan pipa. Juga digunakan lebih
tepat untuk memperjelas sifat-sifat dari rod element jika penampang melintang
bulat. Properti-nya antara lain: diameter luar dan diameter dalam.
2.3.4.3.1.3. CURVE TUBE BEAM
Merupakan tipe tube element yang lain. Elemen ini adalah kurva, sumbu netralnya
merupakan lengkungan bukan garis. Sering kali beberapa tube element disusun sebuah
lengkungan.
Digunakan untuk pemodelan belokan dan siku pada sistem pemipaan. Properti yang
dimiliki seperti halnya tube lain: diameter luar dan diameter dalam.
2.3.4.3.1.4. BAR ELEMENT
Uniaxial element yang memiliki kekakuan tekan, tarik, torsional dan bending bentuk
beam yang lebih umum sering menggunakan elemen ini.
Digunakan untuk pemodelan beam / frame struktur. Properti yang memiliki antara lain
: luas, momen inersia, konstanta torsional dan area geser.
2.3.4.3.1.5. BEAM ELEMENT
Uniaxial element yang memiliki kekakuan tekan, tarik, torsional, dan bending.
Elemen ini pada ujungnya dapat meruncing dan dapat diberikan properti yang berbeda
pada masing-masing ujungnya.
Digunakan untuk pemodelan beam / frame struktur. Properti yang memiliki antara
lain: luas, momen inersia, konstanta torsional, dan area geser.
2.3.4.3.1.6. SPRING ELEMENT
Merupakan kombinasi pegas dan damper elemen, dapat berupa beban aksial maupun
torsional. Properti yang dimiliki antara lain : kekakuan dan damping.
2.3.4.3.1.7. DOF SPRING ELEMENT
Dof spring element adalah kombinasi pegas dan damper element. Elemen ini
meghubungkan enam nodal derajat kebebasan pada nodal pertama, kepada nodal yang
lain nodal kedua.
Digunakan untuk menghubungkan dua derajat kebebasan dengan kekakuan tertentu.
Properti yang dimiliki : derajat kebebasan, kekakuan dan damping.
2.3.4.3.1.8. GAP ELEMENT
Gap element termaksud kedalam elemen nonlinear yang mempunyai kekakuan tarik,
tekan, dan geser yang berbeda.
Digunakan untuk memperlihatkan permukaan atau titik yang dapat terpisah, tertutup,
atau bergeser dari satu terhadap yang lain. Properti yang dimiliki antara lain:
kekuatan tarik, kekakuan melintang, dan koefisien gesek sumbu Y dan Z.

2.3.4.3.2. PLANE ELEMENT


Plane element dapat digunakan untuk memeperlihatkan membran, shell, dan pelat.
2.3.4.3.2.1. SHEAR PANEL ELEMENT
Elemen bidang hanya melawan gaya geser, gaya tangensial yang bekerja pada ujung
elemen. Elemen ini juga dapat melawan gaya normal.
Digunakan untuk memperlihatkan struktur yang berisikan lembaran yang sangat tipis,
ditahan dengan kekakuan yang khusus. Properti yang dimiliki: ketebalan.
2.3.4.3.2.2. MEMBRAN ELEMENT
Elemen bidang yang hanya menahan gaya normal digunakan untuk membuat lembaran yang
sangat tipis. Properti: ketebalan.
2.3.4.3.2.3. BENDING ELEMENT
Elemen bidang yang hanya dapat menahan gaya bending digunakan untuk membuat model
pelat yang hanya digunakan menahan gaya bending. Properti: ketebalan dan kekuatan
bending.

2.3.4.3.2.4. PLATE ELEMENT


Elemen ini dapat menahan gaya geser, dan gaya bending. Digunakan untuk struktur
pelat tipis. Properti: ketebalan, kekakuan bending, dan gaya geser.
2.3.4.3.2.5. LAMINATE ELEMENT
Seperti plate element, kecuali bahwa elemen ini merupakan gabungan dari satu atau
lebih layer. Setiap layer dapat memperlihatkan material yang berbeda.
Digunakan untuk memperlihatkan shell. Properti: material, sudut orientasi,
ketebalan, dan gaya geser.

2.3.4.3.3. VOLUME ELEMENT


Elemen ini digunakan seluruh untuk pemodelan tiga dimensi solid struktur. Dengan
elemen ini akan didapatkan hasil analisa yang lengkap.
2.3.4.3.3.1. AXISYMETRIC ELEMENT
Tipe ini adalah elemen dua dimensi digunakan untuk memperlihatkan volume hasil
revolusi. Aplikasi adalah untuk pemodelan axisymetric solid struktur dengan
axisymetric tumpuan dan axisymetric beban.
2.3.4.3.3.2. SOLID ELEMENT
Tipe ini adalah solid tiga dimensi. Aplikasinya untuk struktur atau elemen mesin
tiga dimensi. Dengan menggunakan elemen solid ini maka output yang didapatkan lebih
lengkap.

2.3.5. PEMBUATAN JARING-JARING NODAL (MESHING)


Pembuatan jarring-jaring nodal ( meshing ) merupakan langkah yang harus dilakukan
dalam menganalisa struktur atau momen mesin dengan menggunakan metode elemen
hingga.
Jaring-jaring nodal yang ada pada suatu elemen mesin yang dianalisa merupakan letak
dari nodal-nodal yang ada pada elemen tersebut.

2.3.6. PENENTUAN TUMPUAN


Tumpuan adalah bagian yang menumpu / menahan elemen dari beban yang diberikan.
Tumpuan mutlak diperlukan dalam setiap analisa menggunakan metode elemen hingga.
Program ANSYS 14.0 memberikan fasilitas untuk membuat tumpuan dalam setiap struktur
/ elemen mesin yang dianalisa.

2.3.7. PEMBERIAN BEBAN


Beban yang diberikan terhadap subjek yang akan dianalisa dapat berupa body load,
load nodal, dan elemental load. Pemilihan tipe ini disesuaikan dengan keadaan
sebenarnya dari elemen mesin yang akan dianalisa.
2.3.7.1. BODY LOAD
Body load bekerja pada seluruh elemen pada pemodelan dan berguna untuk
memperhatikan:
Percepatan.
Kecepatan.
Termal.
2.3.7.2. BEBAN NODAL
Beban nodal yang dapat diberikan adalah:
Gaya dan momen.
Perpindahan.
Percepatan.
Temperatur.
2.3.7.3. BEBAN ELEMENTAL
Beban elemental memiliki enam tipe pembebanan, yaitu:
Tekanan.
Temperatur.
Konveksi.
Radiasi.

2.3.8. ANALISA
Analisa terhadap struktur aatau elemen mesin yang daapat dilakukan oleh program
ANSYS 14.0 meliputi:
Basic struktur analysic
Heat transfer analysic
Nonlinear analysic
Dynamic analysic
Visualisasi analysic

2.3.8.1. BASIC STRUKTUR ANALYSIC


2.3.8.1.1. LINEAR STATIC
Linear static analysic merupakan tipe yang paling sering digunakan dalam
analisa. Istilah linear mengandung arti bahwa perhitungan perpindahan atau tegangan
adalah linear terhadap gaya yang diberikan, dan istilah static mengandung arti
bahwa tidak terpengaruh oleh waktu ( stady state ).
2.3.8.1.2. BUCKLING
Dalam linear statik struktur diasumsikan berada dalam kesetimbangan. Ketika
beban ditiadakan, struktur akan kembali kebentuk semula atau tidak terdeformasi.
Pada kombinasi pembebanan, struktur diasumsikan berada dalam kesetimbangan. Ketika
beban ditiadakan, struktur akan kembali kebentuk semula atau tidak terdeformasi.
Pada kombinasi pembebanan, struktur terus menerus terdeformasi, tanpa penambahan
yang besar. Dalam kasus seperti ini struktur menjadi tidak stabil, struktur
mengalami buckling, untuk elastik atau linear, buckling analisis diasumsikan bahwa
yielding dari struktur dan arah gaya yang diberikan tidak berubah.
2.3.8.1.3. NORMAL MODEL
Normal model analisis menghitung frekuensi natural dari struktur frekuensi
natural adalah frekuensi yang erjadi bila struktur diberikan beban pengganggu
kestabilan.

2.3.8.2. HEAD TRANSFER ANALYSIC


ANSYS 14.0 untuk windows mempunyai kemampuan dalam menganalisa termal. Kemampuan
yang dimiliki antara lain, untuk kondisi dalam satu dimensi, dua dimensi, tiga
dimensi, konveksi bebas, konveksi paksa, radiasi, pembebanan panas permukaan,
volumetric, dan sistem kontrol termal elemen.

2.3.8.3. NONLINEAR ANALYSIC


Salah satu pertimbangan dalam penentuan tipe analisa adalah bahwa struktur
yang mengalami sifat nonlinear pada saat pembebanan. Berdasarkan hal itu, sifat
struktur dan material dapat dibuat nonlinear, banyak tipe dari sifat nonlinear yang
mungkin terjadi. Jadi struktur mengalami perpindahan yang cukup besar, dan material
struktur mengalami pembebanan perpindahan yang cukup besar, dan material struktur
mengalami pembebanan diatas yielding point, struktur akan cenderung kurang kaku dan
deformasi permanen akan terjadi. Program ANSYS 14.0 memberikan pemilihan tipe-tipe
tersebut, yaitu:
Geometri nonlinear
Material
Contact

2.3.8.4. DYNAMIC ANALYSIC


Piihan dynamic response yang dapat digunakan dari program ANSYS 14.0
berisikan kemampuan untuk:
Frekuensi response, yang menghitung stady-state response kedalam bentuk
sinusoidal aksitasi.
Transient response, yang menghitung response kedalam bentuk umum, dan fungsi
waktu terhadap eksitasi.

2.3.8.5. VISUALISASI ANALYSIC


Program ANSYS 14.0 memiliki kemampuan memperlihatan hasil analisa dalam
berbagai grafik dan tabel. Metode ini memberikan fasilitas agar data mengevaluasi
dengan cepat dan akurat walaupun elemen yang dianalisa sangat kompleks. Grafik
memberikan ketepatan dalam mengidentifikasi kecendrungan dan performa menyeluruh
dari model dan struktur yang dianalisa. Tabel juga memberikan kemudahan untuk
mengidentifikasikan keakuratan analisa dan informasi yang lebih detail mengenai
kondisi kritis yang terjadi.
2.3.8.5.1. XY STYLE
Merupakan fasilitas program untuk menampilkan bagian hasil analisa berbentuk plot
kurva dua dimensi dalam sumbu XY.
2.3.8.5.2. MODEL STYLE
Merupakan fasilitas program untuk menampilkan model yang ada. Dengan fasilitas ini
dapat dipilih beberapa tampilan dari bentuk model.
2.3.8.5.3. DEFORMED STYLE
Merupakan fasilitas program untuk menampilkan hasil analisa seperti, deformasi,
animasi, dan vektor.

2.3.8.5.4. COUNTOUR STYLE


Merupakan fasilitas program untuk menampilkan hasil analisa seperti, contour,
tegangan, keriteria, dan lain - lain.
BAB III
PEMODELAN KOMPONEN SAMBUNGAN PIPA MODEL T

3.1. MODEL SAMBUNGAN PIPA - T


Pada kesempatan ini pemodelan dilakukan untuk sambungan pipa model T dengan
menggunakan program ANSYS 14.0. ANSYS adalah merupakan salah satu program komputer
untuk metode elemen hingga. Dengan ANSYS 14.0 semua tahap dalam analisis struktur
bisa dilakukan, yaitu mulai dari pembuatan geometri, meshing, pemilihan material,
jenis elemen, penentuan syarat batas dan beban.
Dalam menganalisa suatu konstruksi melalui software terlebih dulu dibuat
bentuk tiga dimensi agar dapat mendekati bentuk aslinya. Dengan kesepakatan sebagai
berikut:
Sistem sumbu yang digunakan :
X = sumbu lateral.
Y = sumbu vertical.
Z = sumbu longitudinal.
Data dimensi komponen sambungan pipa model T
Diameter luar (Do) = 4,5 (inchi)
Tebal dinding (t) = 0,237 (inchi)
Diameter dalam (Di) = 4,026 (inchi)

Dalam proses ini langkah-langkah yang dilakukan adalah :

3.2. PEMODELAN ELEMEN HINGGA


3.2.1. PEMODELAN GEOMETRI (CAD )
Pemodelan elemen hingga (finite element modelling) dilakukan dengan
tujuan untuk mendapatkan nilai tegangan pada komponen yang dimodelkan. Pemodelan
elemen hingga untuk komponen sambungan pipa model T dilakukan dengan menggunakan
perintah Geometry pada Workbench ANSYS 14.0 tahun 2012. Awalnya membuat gambar pipa
utama pada bidang XY dengan ukuran seperti pada data dimensi komponen sambungan
pipa model T, kemudian membuat pipa percabangan pada bidang XZ dengan ukuran
dimensi yang sama dengan gambar pipa utama. Maka hasil gambar komponen sambungan
pipa model T dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1 Geometry Komponen Sambungan Pipa Model T

3.2.2. JARING-JARING NODAL (MESHING MODEL)


Sebelum proses analisis dilakukan, maka setelah pemodelan geometri yaitu
melakukan proses meshing pada komponen sambungan pipa model T sesuai dengan tahapan
analisis pada software ANSYS 14.0. Hasil meshing dapat dilihat pada gambar 3.2.
Gambar 3.2 Hasil Mashing Pada Ansys 14.0

Dari hasil meshing pada ansys didapatkan jumlah elemen sebanyak 2334 dan nodes
sebanyak 13785 dengan toleransi element size 0,3937 in (1cm). Dengan hasil kualitas
yang demikian maka dapat diteruskan ke proses berikutnya yaitu Static Structural.

3.2.3. STATIC STRUCTURAL


Pada proses static structural ada dua analisis setting yang dilakukan yaitu
insert pressure dan fixed support. Pressure pada komponen sambungan pipa model T
dirancang dengan perhitungan bahwa beban yang diterima dari daerah seluruh dalam
komponen tersebut adalah 14,5 (Psi). Perhitungan ini didasarkan pada beban dengan
toleransi yaitu 1 (Bar) = 14,5 (Psi) sebagai beban normal yang diberikan. Pemodelan
dapat dilihat pada gambar 3.3.

Gambar 3.3 Hasil Pemodelan Pressure Pada Ansys 14.0

Selanjutnya komponen sambungan pipa T diberi support (tumpuan) pada kedua sisi
ujung pipa utama komponen sambungan pipa T yang mewakili kondisi pipa. Jenis
support (tumpuan) yang diberikan ialah fixed support (tumpuan jepit) dimana yang
dibebaskannya adalah dalam arah rotasi X dan Y. Pemodelan dapat dilihat pada gambar
3.4.

Gambar 3.4 Hasil Pemodelan Support Pada Ansys 14.0

3.2.4. SOLUTION
Pada tahap solution disini dapat melihat hasil analisa tegangan-tegangan yang
terjadi setelah diberikan pembebanan dan tumpuan. Tegangan yang terjadi pada
komponen sambungan pipa T pada software ANSYS 14.0 yaitu maximum principal stress
dan minimum principal stress. Hasil analisa tegangan maximum principal stress dan
minimum principal stress dapat dilihat pada gambar 3.5 dan gambar 3.6.
Gambar 3.5 Hasil Solution Maximum Principal Stress Pada Ansys 14.0
Gambar 3.6 Hasil Solution Minimum Principal Stress Pada Ansys 14.0

3.3. DIAGRAM ALIR PROSES ANALISA KOMPONEN SAMBUNGAN


PIPA MODEL T DENGAN METODE ELEMEN HINGGA
MENGGUNAKAN PRANGKAT LUNAK PROGRAM ANSYS 14.0
BAB IV
PERHITUNGAN DAN ANALISA

4.1. PERHITUNGAN TEGANGAN PADA SAMBUNGAN PIPA MODEL T


SECARA MANUAL
Perhitungan sambungan pipa model T secara numerik dengan menggunakan program
ANSYS 14.0 akan dibandingkan dengan perhitungan secara manual. Maka perhitungan
tegangan pada komponen sambungan pipa model T sebagai berikut:

Dimensi komponen sambungan pipa model T yang diperlukan dalam perhitungan:

Diameter luar (Do) = 4,5 (in) .


Diameter dalam (Di) = 4,026 (in) .
Jari-jari pipa (r) = 2,25 (in) .
Tebal pipa (t) = 0,237 (in).
Tekanan internal (P) = 14,5 (Psi) .

Pada perhitungan analitik menentukan hoop stress pada pipa utama ( tanpa
sambungan ) seperti pada gambar 4.1 dengan menggunakan persamaan rumus:

Gambar 4.1 Hoop stress Yang Terjadi Pada Pipa Utama

s_(H = (P . D)/(2 . t) )
Dimana :
P = tekanan (Psi)
D = diameter luar pipa (in)
t = tebal pipa (in)
Maka perhitungan analitik hoop stress pada pipa utama ( tanpa sambungan ):
? s?_(H = (P . D)/(2 . t) )
s_(H = (14,5 Psi . 4,5 in)/(2 . 0,237 in) )
s_(H = ( 65,25 Psi .in)/(0,474 in) )
s_(H = 137,65 Psi )
Pada perhitungan analitik menentukan axial stress pada pipa utama ( tanpa sambungan
) seperti pada gambar 4.2 dengan menggunakan persamaan rumus:

Gambar 4.2 Axial stress Yang Terjadi Pada Pipa Utama

s_(A = (P . D)/(4 . t) )
Dimana :
P = tekanan (Psi)
D = diameter luar pipa (in)
t = tebal pipa (in)
Maka perhitungan analitik axial stress pada pipa utama ( tanpa sambungan ):
s_(A = (P . D)/( 4 . t) )
s_(A = (14,5 Psi . 4,5 in)/(4 . 0,237 in) )
? s?_(A = (65,25 Psi .in)/(0,948 in) )
s_(A = 68,23 Psi )
Pada komponen sambungan pipa model T, perhitungan analitik hanya bisa
menghitung untuk pipa utama ( tanpa sambungan ) saja, maka tidak bisa diuraikan
secara analitik akan tetapi bisa dengan menggunakan cara empiris.
Berdasarkan persamaan empiris dari persamaan (19) journal of the Korean
nuclear society volume 29, number 4 dengan judul Stress Index Development for
piping with trunnion Attachment Under Pressure and Moment Loadings, halaman 310 -
319 maka perhitungan sambungan pipa model T dapat diselesaikan dengan persamaan
rumus sebagai berikut:
s_H = K1M . C1M (PD/2T) ( untuk hoop stress).
s_A = K1M . C1M (PD/4T) ( untuk axial stress).
dimana:

K1M = Modified peak stress index due to internal pressure


K1M = 1,085 (D/T)-0,0208(d/D)0,00736(t/T)0,0358
for (t/T) = 1.
K1M = 1,085 (D/T)-0,0208(d/D) 0,00736 (t/T)0,0126
for (t/T) < 1.
C1M = Modified secondary stress index due to internal pressure
C1M = 0,829 (D/T)0,111(d/D)-0,0445(t/T)0,0185
for (t/T) = 1.
C1M = 0,829 (D/T)0,111(d/D)-0,0445(t/T)0,00829
for (t/T) < 1.
P = Internal Pressure (tekanan dalam pipa).
D = Outside diameter of run pipe (diameter pipa utama).
d = Outside diameter of trunnion pipe support (diameter pipa cabang)
T = Thickness of run pipe (tebal dinding pipa utama).
t = Thickness of trunnion pipe support (tebal dinding pipa cabang)

Maka perhitungan tegangan pada sambungan pipa model T :


K1M ( Modified peak stress index due to internal pressure ):

K1M = 1,085 . (D/T)-0,0208 . (d/D) 0,00736 . (t/T)0,0358


K1M = 1,085 . ((4,5 in)/(0,237 in))-0,0208 . ((4,5 in)/(4,5 in)) 0,00736 .
((0,237 in)/(0,237 in))0,0358
K1M = 1,085 . 18,98 in -0,0208 . 1 in 0,00736 . 1 in 0,0358
K1M = 1,085 . 0,94 in . 1 in . 1 in
K1M = 1,019722 in

C1M ( Modified secondary stress index due to internal pressure ):

C1M = 0,829 . (D/T)0,111 . (d/D) -0,0445 . (t/T)0,00185


C1M = 0,829 . ((4,5 in)/(0,237 in))0,111. ((4,5 in)/(4,5 in)) -0,0445 . ((0,237
in)/(0,237 in)) 0,00185
C1M = 0,829 . 18,98 in 0,111 . 1 in -0,0445 . 1 in 0,00185
C1M = 0,829 . 1,38 in . 1 in . 1 in
C1M = 1,155088 in
Jadi asumsi nilai hoop stress pada sambungan pipa model T adalah:
s_H = K1M . C1M (PD/2T)
s_H = 1,019722 in . 1,155088 in . ((14,5 Psi .
4,5 in)/(2 . 0,237 in))
s_H = 1,1778 in . ((65,25 Psi .in )/(0,474 in))
s_H = 162,13 Psi

Jadi asumsi nilai axial stress pada sambungan pipa model T adalah:
s_A = K1M . C1M (PD/4T)
s_A = 1,019722 in . 1,155088 in . ((14,5 Psi
.4,5 in)/(4 . 0,237 in))
s_A = 1,1778 in . ((65,25 Psi .in )/(0,948 in))
s_A = 81,07 Psi

4.2. PERHITUNGAN TEGANGAN PADA SAMBUNGAN PIPA MODEL T


SECARA NUMERIK MENGGUNAKAN PROGRAM ANSYS
Hasil pemodelan dengan menggunakan program ANSYS 14.0 dihasilkan data tegangan yang
berupa perhitungan secara numerik. Maka dengan proses selanjutnya didapat bentuk
kurva tegangan terhadap posisi dan tegangan-tegangan pada nodes tertentu. Pada
tabel dibawah ini diperlihatkan nilai-nilai dari setiap nodes pada minimum
principal stress dan maximum principal stress pada bagian komponen sambungan pipa
model T.

Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Numerik Maximum Principal Stress Dan Minimum Principal

Stress Pada Bidang (YZ) Sebelah Kiri Komponen Sambungan Pipa Model
T

Posisi Maximum Principal Stress (psi) Minimum Principal Stress (psi)


-41 16.483 -2.3665
-40 17.021 -2.6608
-39 17.315 -2.8818
-38 17.356 -2.8825
-37 17.436 -2.8978
-36 17.507 -3.1152
-35 18.299 -3.1493
-34 18.384 -3.366
-33 26.455 -3.4037
-32 59.609 -3.8272
-31 94.802 -4.0159
-30 139.58 -4.6627
-29 184.41 -5.308
-28 236.29 -5.9234
-27 288.18 -6.895
-26 346.81 -7.3128
-25 405.48 -9.8539
-24 471.39 -12.74
-23 537.39 -17.736
-22 611.4 -19.413
-21 685.57 -20.363
-20 768.73 -21.35
-19 852.15 -23.261
-18 945.99 -32.069
-17 1040.2 -41.438
-16 1147 -55.786
-15 1254.4 -70.805
-14 1378.2 -93.071
-13 1502.9 -116.29
-12 1649.9 -152.1
-11 1798.2 -189.21
-10 1987.6 -241.36
-9 2179 -295.59
-8 2442.2 -392.92
-7 2706.8 -491.93
-6 3205.7 -582.36
-5 3707.5 -677.91
-4 4800.8 -940.56
-3 6073.5 -1231.4
-2 7858.5 -1423.5
-1 8382.5 -3940
0 11338 -2809.8
1 6322.8 -2620.9
2 5898.6 -2609.9
3 6176.2 -2492.4
4 6752.2 -2442.6
5 7180.8 -2098
6 7213.2 -1936.2
7 8434 -1823.2
8 8446.3 -1791.6
9 9357.5 -1692.3
10 8932 -1259.6
11 8845.9 -835.6
12 8542.2 -681.98
13 8558.7 -3865.7
14 10412 -2832.1

Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Numerik Maximum Principal Stress Dan Minimum Principal

Stress Pada Bidang (YZ) Sebelah Kanan Komponen Sambungan Pipa


Model T

Posisi Maximum Principal Stress (psi) Minimum Principal Stress (psi)


-41 16.463 -2.382
-40 16.99 -2.6593
-39 17.305 -2.9285
-38 17.357 -2.9357
-37 17.447 -2.9392
-36 17.683 -3.1881
-35 18.341 -3.1889
-34 18.35 -3.359
-33 26.224 -3.4394
-32 58.984 -3.9809
-31 93.971 -4.048
-30 138.56 -4.6895
-29 183.21 -5.3959
-28 234.92 -5.9412
-27 286.63 -7.289
-26 345.08 -7.3182
-25 403.55 -9.8383
-24 469.26 -12.696
-23 535.05 -17.644
-22 608.84 -19.48
-21 682.77 -20.578
-20 765.66 -21.713
-19 848.8 -23.115
-18 942.29 -31.866
-17 1036.2 -41.177
-16 1142.6 -55.39
-15 1249.6 -70.274
-14 1372.8 -92.518
-13 1496.9 -115.7
-12 1644.1 -150.77
-11 1792.6 -187.17
-10 1980.5 -239.96
-9 2170.3 -294.58
-8 2442.7 -386.24
-7 2716.9 -479.82
-6 3196.2 -570.19
-5 3676.4 -661.58
-4 4834.6 -941.34
-3 5993 -1227.6
-2 8352.7 -1489.4
-1 9349 -1782.4
0 7381.7 -4162.4
1 6082.4 -2895
2 6190.7 -2830.9
3 6357.8 -2623.8
4 6769.6 -2568.4
5 7856.7 -2448.3
6 8087.6 -2372.4
7 8420.4 -2106.5
8 8539.2 -1832.5
9 10207 -1802.4
10 8834.7 -1944.1
11 8886.1 -1265.2
12 8926.2 -841.99
13 10372 -684.4
14 7212.3 -3883.7

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Numerik Maximum Principal Stress Dan Minimum Principal
Stress Pada Daerah Sambungan Pipa Utama dan Cabang Komponen
Sambungan
Pipa Model T.

Posisi Maximum Principal Stress (psi) Minimum Principal Stress (psi)


-22 12588 -500.4
-21 14763 1959
-20 17240 1888.9
-19 15074 1679.5
-18 12437 1641.5
-17 11284 1362.3
-16 11021 1238.9
-15 8588.9 -968.18
-14 7409.6 -969.76
-13 6421.2 -1194.2
-12 6276.8 -2670.5
-11 5447.3 -2827.9
-10 2902.3 -4511.1
-9 2688.6 -5911.5
-8 128.69 -8144.4
-7 81.822 -9781.3
-6 67.821 -11453
-5 65.663 -12850
-4 26.872 -13058
-3 23.223 -13211
-2 0.41004 -13247
-1 -25.95 -11522
0 -1088.4 -9969.2
1 -836.12 -11872
2 -717.28 -13551
3 -685.42 -13651
4 -335.4 -13902
5 -262.83 -14150
6 -207.15 -11978
7 -131.95 -9895.2
8 -45.706 -9683.8
9 1338.8 -7588.8
10 1474.2 -5859
11 4028.7 -4007.1
12 4063.4 -3885.5
13 5272.1 -1724
14 7296.4 -1484.6
15 7404 -1300.4
16 10043 -1199.2
17 11168 716.01
18 11281 722.61
19 13690 831.37
20 13778 844.62
21 9967.1 1219.9
22 8636.3 -115.62

4.3. GRAFIK TEGANGAN PADA SAMBUNGAN PIPA MODEL T


Hasil pengolahan data tegangan dari pemodelan komponen sambungan pipa model T
dengan menggunakan program ANSYS 14.0 diperoleh dalam bentuk grafik hubungan
posisi (in) terhadap tegangan (Psi).
Gambar 4.4 Rekapitulasi Grafik Maximum Principal Stress dan Minimum Principal
Stress Pada Pipa Utama dan Pipa Cabang Daerah bidang YZ Sebelah
Kiri Komponen Sambungan Pipa Model T

Gambar 4.5 Rekapitulasi Grafik Maximum Principal Stress dan Minimum Principal
Stress Pada Pipa Utama dan Pipa Cabang Daerah bidang YZ Sebelah
Kanan Komponen Sambungan Pipa Model T.

Gambar 4.6 Rekapitulasi Grafik Maximum Principal Stress dan Minimum Principal
Stress Pada Pipa Utama dan Pipa Cabang daerah sambungan pipa
utama dan pipa cabang Komponen Sambungan Pipa Model T

4.4. ANALISA PERBANDINGAN ANTARA PERHITUNGAN MANUAL


DENGAN PERHITUNGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ANSYS
Dari hasil perhitungan dengan program ANSYS 14.0 dapat diperoleh distribusi
tegangan yaitu maximum principal stress untuk menunjukkan tegangan hoop stress pada
sisi luar dan dalam dari komponen pipa T dan minimum principal stress menunjukkan
tegangan axial stress pada sisi luar dan dalam komponen pipa T tersebut.
Perbandingan hasil perhitungan antara metode elemen hingga menggunakan
program ANSYS 14.0 dengan perhitungan manual berdasarkan persamaan empiris yang
telah diperoleh hasilnya setelah melakukan proses penurunan persamaan.

Tabel 4.5 Hasil Analisa Tegangan Minimum Principal Stress (Numerik) dengan Axial
Stress
(Empiris).
PERHITUNGAN NUMERIK PERHITUNGAN EMPIRIS KEGAGALAN
(%)
MINIMUM PRINCIPAL STRESS (Psi) AXIAL STRESS
(Psi)

81.286 (Psi)

81.07 (Psi)
2.66 x 10-3

Tabel 4.6 Hasil Analisa Tegangan Maximum Principal Stress (Numerik) dengan Hoop
Stress
(Empiris).

PERHITUNGAN NUMERIK PERHITUNGAN EMPIRIS KEGAGALAN


(%)
MAXIMUM PRINCIPAL STRESS (Psi) HOOP STRESS
(Psi)

162.27 (Psi)
162.13 (Psi)
8.63 x 10-4

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. KESIMPULAN
Hasil perhitungan dengan program ANSYS 14.0 maupun perhitungan empiris
memperoleh harga tegangan yang berbeda. Secara umum perhitungan ANSYS diperoleh
berbagai macam harga tegangan yang berbeda dalam komponen akibat pengaruh bentuk
geometri, seperti juga dalam hasil perhitungan untuk beberapa bengkokan pipa dan
sistem pemipaan lainnya. Hasil perhitungan ANSYS 14.0 lebih konservatif
dibandingkan hasil perhitungan empiris, dari hasil perhitungan ini bisa dikatakan
bahwa perhitungan ANSYS 14.0 lebih teliti dengan memberikan hasil pada setiap titik
nodesnya dan bisa menghasilkan desain lebih teliti dan efisien. Perhitungan dengan
ANSYS ini mudah dikembangkan untuk analisis desain, yaitu dengan mengubah input
file, ketelitian dari hasil perhitungan ditentukan oleh visualisasi atau modelling
yang diambil, baik dalam pemilihan tipe elemen ataupun penentuan siarat batas dalam
pembebanan.

5.2. SARAN