Está en la página 1de 10

STORYTELLING SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KONSUMSI SAYUR

Nor Zaidah Asyariyah, Yuni Sufyanti Arief, Ilya Krisnana

Korespondensi:
Nor Zaidah Asyariyah, d/a: Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga
Kampus C Jl Mulyorejo Surabaya, Telp. 031 5913754
E-mail: zaidah.binti@gmail.com

ABSTRACT

Preschool vegetable consumption still less than recommendation that lack of knowledge and
attitude of ignoring the importance of eating vegetables is being the reasons. Storytelling is a
method that suitable for cognitive and affective development of preschool which able to imagine
new perspectives and invite learning experiences from the characters. The purpose of this study
was to examine the effects of storytelling on knowledge and attitude vegetable consumption for
preschool at Nitasari Kindergarten Mojo Gubeng Surabaya. A Quasy Experiment method with
pretest-posttest control group design was used. The populations were students of Nitasari
Kindergarten Surabaya in the B class which has 37 students. Samples were taken by purposive
sampling technique. The independent variable is storytelling with flash card as a media, while the
dependent variable is the knowledge and attitude of preschool in vegetable consumption. Data
were collected by using questionnaire and interview then analyzed using level of significance
p<0.05 by Wilcoxon Sign Rank Test and Mann Whitney U test. Result showed that there was
difference in vegetable consumption knowledge level between treatment and control groups with
p=0.000; and there was difference in vegetable consumption attitude between treatment and
control groups with p=0.003. It can be concluded that storytelling has effect on knowledge and
attitude vegetable consumption for preschool. Storytelling should carry out by competence
storyteller and for further studies should examine into action domain.

Keywords: storytelling, knowledge, attitude, vegetable consumption, preschool

PENDAHULUAN tinggi kalsium, yang zat-zat penting tersebut


sebagian besar didapat dari konsumsi sayur
Usia prasekolah (36 tahun) merupakan masa
setiap hari.
perkembangan sosial, intelektual dan
emosional yang pesat bagi anak. Anak
Anak masih sangat bergantung pada orang
membutuhkan asupan gizi yang adekuat untuk
dewasa, terutama orang tua yang berperan
mencapai pertumbuhan dan perkembangan
penting pada pembentukan pola makan dan
yang optimal. Oleh sebab itu nutrisi memiliki
pemenuhan kebutuhan nutrisi termasuk
peranan penting bagi tumbuh kembangnya,
memilihkan jenis makanan yang
dimana nutrisi didapatkan dari makanan yang
dihidangkan. Jenis makanan keluarga
dikonsumsi tiap hari. Pertumbuhan yang cepat
pertama yang dikenalkan adalah sop sayur
saat masa infant berangsur-angsur melambat
(52,7%) dan tahu/tempe (29,0%) (Harinda,
saat anak memasuki usia prasekolah. Seiring
2012). Hal ini membuktikan orang tua
dengan penurunan kecepatan pertumbuhan ini,
sebagai penyedia makanan dan yang
perilaku makan menjadi berubah. Hal ini
mengenalkan berbagai macam makanan
membuat anak mengalami penurunan nafsu
termasuk sayur sudah memperkenalkan
makan dan hanya mau makan makanan yang
sejak dini, namun anak memilih-milih dan
disukai (Wardlaw & Smith, 2009). Anak
menghindari sayur. Dari hasil wawancara
cenderung tidak mau makan sayur, padahal
yang dilakukan pada 7 orang ibu siswa TK
intake protein, kalsium, zat besi, vitamin A
B Nitasari, 100% ibu selalu menghidangkan
dan D yang adekuat merupakan hal penting
menu sayur setiap hari. Akan tetapi, 6 dari 7
selama masa ini (British Nutrition Foundation,
ibu mengatakan bahwa anak menolak untuk
2009). Anak membutuhkan asupan tinggi
makan sayur. Anak lebih memilih nasi dan
protein, rendah lemak, tinggi vitamin B dan
lauk saja seperti telur, ikan dan ayam. Ibu

Jurnal Pediomaternal 73 Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015


harus berusaha keras dan memaksa anak untuk Ketika dihidangkan mie goreng yang
mau makan sayur sehingga membuat suasana terdapat sawi hijau didalamnya, para siswa
makan tidak nyaman dan anak menjadi rewel. cenderung memilih mie saja dan
Gambaran sikap ini merupakan kasus global menyisahkan sawi hijau lalu dibuang.
dan merupakan suatu kesulitan bagi orangtua
untuk memberi anak-anak mereka makanan Salah satu penyebab rendahnya konsumsi
yang mengandung serat dan banyak vitamin sayur pada anak karena kurangnya
yaitu sayur-mayur (Wardlaw & Smith 2009). pengetahuan dan sikap mengabaikan
Anak perlu mendapat penanaman sejak dini pentingnya makan sayur. Tidak efektifnya
mengenai pentingnya makan sayur, karena pendidikan gizi pada anak semenjak usia
masa prasekolah merupakan waktu yang dini berdampak pada pengetahuan yang
terbaik untuk inisiasi eating behaviors yang kurang tentang pola konsumsi makanan
baik dan akan bertahan hingga dewasa (Droog yang sehat dan seimbang saat dewasa,
et al., 2013). Dongeng bisa menjadi wahana sehingga menyebabkan perilaku yang salah
untuk mengasah imajinasi, membuka (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Masalah
pemahaman dan belajar pada pengelaman- tersebut dapat berakibat buruk bagi tumbuh
pengalaman sang tokoh dalam dongeng kembang anak. Anak dapat mempunyai
tersebut. Teknik bercerita merupakan cara peluang besar untuk menderita kurang gizi
yang unik, menarik tanpa memaksa dan tanpa karena makanan yang dikonsumsi dalam
perlu menggurui sang anak (Haryani, 2007). jumlah sedikit sehingga tidak memenuhi
kebutuhan nutrisinya (Fitriani et al., 2009).
Terdapat proporsi yang cukup besar pada anak Selain itu, anak dapat mengalami stunting
di dunia yang tidak memenuhi rekomendasi atau menjadi balita pendek. Berdasarkan
WHO dalam konsumsi sayur dan buah, yakni Riset Kesehatan Dasar tahun 2010,
setidaknya 400 gram/hari (Krolner et al., Indonesia dengan prevalensi anak balita
2011). Hal ini disebabkan karena anak sudah pendek sebesar 35,6% merupakan negara
dapat memilih-milih makanan yang ke-5 terbesar yang berkontribusi pada 90%
disukainya, hanya mau makan makanan stunting di dunia. Anak pendek mempunyai
tertentu saja dan cenderung menghindari risiko lebih tinggi menderita diabetes,
makan sayur (Fitriani et al., 2009). obesitas, hipertensi dan stroke pada usia
Diperkirakan sebanyak 80% anak-anak di dewasa (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
dunia ini yang tidak menyukai sayur-mayur Untuk itu, diperlukan suatu metode untuk
sedangkan sayur-mayur merupakan meningkatkan pengetahuan dan sikap
penyumbang utama untuk nutrisi dan diet mengenai pentingnya makan sayur setiap
seimbang pada anak-anak dan dewasa hari. Oleh sebab itu, perlulah dilakukan
(Maryam, 2012). Sebuah penelitian oleh The intervensi sejak dini supaya anak-anak
Gateshead Millenium Baby Study pada tahun mendapat kesehatan yang optimum
2006 di Inggris menyebutkan 20% orangtua (Wardlaw et al., 2004). Storytelling
melaporkan anaknya mengalami masalah merupakan metode yang sesuai dengan
makan, dengan prevalensi tertinggi anak hanya perkembangan kognitif dan afektif anak
mau makan makanan tertentu (Wright, 2007). usia prasekolah.
Survei lain di Amerika Serikat menyebutkan
19-50% orangtua mengeluhkan anaknya Saat storytelling berlangsung merupakan
sangat pemilih dalam makan sehingga terjadi proses yang penting, terjadi penyerapan
defisiensi zat gizi tertentu (Piazza & pengetahuan yang disampaikan storyteller
Hernandez, 2004). Gunanti (2000) dalam kepada audience. Proses inilah yang
penelitiannya mengatakan rata-rata konsumsi menjadi pengalaman seorang anak dan
sayur pada anak prasekolah masih kurang dari menjadi tugas storyteller untuk
anjuran, yaitu 50,9 gram/kapita/hari. Padahal menampilkan kesan menyenangkan pada
angka anjuran konsumsi anak prasekolah saat bercerita (Kusumastuti, 2010). Setelah
adalah >75 gram/kapita/hari. Hasil itu, memilah mana yang dapat dijadikan
pengambilan data awal, dari 40 siswa TK B panutan sehingga membentuknya menjadi
Nitasari, >50% siswa menyisihkan sayur yang moralitas yang dipegang sampai dewasa
dihidangkan saat makan bersama. Para siswa (Haryani, 2007). Anak akan mengadopsi
lebih memilih nasi dan lauk daripada sayur. cerita yang disampaikan oleh storyteller

Jurnal Pediomaternal 74 Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015


yang berisi tentang pesan-pesan baik; senang memiliki skor rendah. Sama halnya dengan
makan sayur, tidak rewel dan memilih-milih kelompok perlakuan, tingkat pengetahuan
jenis makanan saat waktu makan tiba. konsumsi sayur kelompok kontrol saat
Selanjutnya, anak diharapkan dapat pretest sebagian besar pada tingkat rendah
menerapkan pesan-pesan yang disampaikan yaitu terdapat 11 responden (68,75%)
pada kehidupan sehari-hari. Storytelling memiliki pengetahuan rendah tentang
merupakan cara yang efektif untuk konsumsi sayur.
mengembangkan aspek kognitif, afektif dan
aspek konatif anak (Asfandiyar, 2007). Tabel 1 Pengetahuan konsumsi sayur sebelum
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dan sesudah diberikan storytelling
dilakukan penelitian guna mempelajari Perlakuan Kontrol
pengaruh storytelling terhadap pengetahuan Tingkat Pre Post Pre Post
dan sikap anak usia prasekolah dalam pengeta
huan n % n % n % n %
konsumsi sayur di TK Nitasari Mojo Gubeng
Surabaya. Rendah 12 75 2 12,5 11 68,75 10 62,5
Cukup 3 18,75 3 18,75 5 31,25 5 31,25
BAHAN DAN METODE Baik 1 6,25 11 68,75 0 0 1 6,25
Desain pada penelitian adalah Quasy Total 16 100 16 100 16 100 16 100
Experimental dengan rancangan Pretest- Wilcoxon Signed
Posttest Control Group Design, dengan Rank Test
P=0,000 P=0,070
populasi dalam penelitian adalah siswa-siswi Mann-Whitney U
Test
P=0,000
TK B Nitasari Kelurahan Mojo Kecamatan
Gubeng Surabaya yang berjumlah 37 anak.
Pendekatan sampling yang digunakan dalam Saat dilakukan posttest menunjukkan bahwa
penelitian ini adalah purposive sampling. hampir seluruh responden pada kelompok
Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang perlakuan memiliki pengetahuan konsumsi
telah ditetapkan, didapatkan besar sampel sayur pada tingkat pengetahuan baik setelah
sebanyak 32 anak. diberikan storytelling, hal ini dibuktikan
dengan adanya 11 reponden (68,75%) yang
Variabel independen penelitian adalah memiliki skor baik. Pada kelompok kontrol
storytelling dengan menggunakan media flash saat posttest sebagian besar memiliki
card. Variabel dependen dalam penelitian ini pengetahuan pada tingkat rendah yang
adalah pengetahuan dan sikap konsumsi sayur ditandai dengan 10 responden (62,50%)
anak usia prasekolah. Instrumen yang yang memiliki pengetahuan yang rendah.
digunakan adalah kuisioner dan wawancara
terstruktur modifikasi dari Hariani (2011). Hasil uji statistik Wilcoxon Signed Rank
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Test diperoleh nilai p=0,000 sehingga
Wilcoxon signed rank test dan Mann Whitney p<0,05 artinya ada perbedaan pengetahuan
Test dengan derajat kemaknaan p 0,05. yang signifikan saat pretest dan posttest
pada kelompok perlakuan. Pada kelompok
HASIL PENELITIAN kontrol didapatkan hasil uji statistik
Wilcoxon Signed Rank Test diperoleh nilai
Penelitian dilakukan di Taman Kanak-Kanak p=0,070 sehingga p>0,05 yang artinya tidak
Nitasari yang terletak di Jalan Jojoran III/168 ada perbedaan pengetahuan yang signifikan
Kelurahan Mojo Kecamatan Gubeng saat pretest dan posttest. Hasil uji statistik
Surabaya. Kegiatan pembelajaran terkait Mann-Whitney U Test diperoleh p=0,000
konsumsi sayur yang dilakukan di TK Nitasari sehingga p<0,05 yang artinya ada perbedaan
antara lain makan bersama satu bulan sekali pengetahuan yang signifikan antara
yang didalamnya terdapat menu sayur-mayur. kelompok perlakuan dan kontrol.
Tabel 1 menunjukkan bahwa hampir seluruh Berdasarkan tabel 2 sikap siswa pada
responden pada kelompok perlakuan memiliki kelompok perlakuan saat pretest memiliki
pengetahuan yang rendah tentang pengetahuan perbandingan sikap positif dan sikap negatif
konsumsi sayur pada saat pretest dilakukan yang sama. Hal ini dapat ditunjukkan dari
yang dibuktikan dengan 12 responden (75%) jumlah respoden yang memiliki sikap positif

Jurnal Pediomaternal 75 Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015


terhadap konsumsi sayur sebanyak 8 rendah. Pada tabulasi nilai pengetahuan saat
responden (50%) dan memiliki sifat negatif pretest, responden pada kelompok
sebanyak 8 responden (50%). Sebagian besar perlakuan memiliki pengetahuan yang
responden kelompok kontrol bersikap positif rendah pada beberapa aspek pengetahuan
dalam konsumsi sayur yang dibuktikan dengan mengenai konsumsi sayur yaitu macam-
9 responden (56,25%) memiliki sikap positif macam sayur dan frekuensi makan sayur.
saat dilakukan pretest. Sebagian besar responden tidak lulus pada
parameter macam-macam sayur, frekuensi
Tabel 2 Sikap konsumsi sayur sebelum dan sesudah makan sayur dan manfaat makan sayur.
diberikan storytelling Setelah dilakukan analisis, diketahui bahwa
responden belum pernah mendapatkan
Perlakuan Kontrol pendidikan kesehatan mengenai konsumsi
Kategori Pre Post Pre Post sayur. Kegiatan pembelajaran terkait hal
sikap tersebut jarang dilakukan. Para pengajar
n % n % n % n %
menjelaskan kepada siswa-siswi bahwa
Positif 8 50 11 68,75 9 56,25 8 50 sayur itu membuat tubuh sehat namun tidak
Negatif 8 50 5 31,25 7 43,75 8 50 menyampaikan manfaat lainnya. Mengenai
10 jenis-jenis sayur dan dampak kurang
Total 16 100 16 100 16 100 16
0 konsumsi sayur, hanya menyampaikan
Wilcoxon Signed secara garis besar atau secara umum. Siswa-
Rank Test
P=0,005 P=0,088
Mann-Whitney U siswi hanya mengetahui bahwa semua
Test
P=0,003 gambar sayur bernama sayur, tanpa
mengetahui nama masing-masing sayur.
Sebagian besar responden kelompok perlakuan Kristjandottir et al. (2006) dalam
memiliki sikap positif dalam konsumsi sayur Fibrihirzani (2012) mengatakan bahwa
setelah diberikan intervensi storytelling yang pengetahuan tentang manfaat dan anjuran
dibuktikan dengan 11 reponden (68,75%) konsumsi sayur berbanding lurus dengan
memiliki sikap positif sesuai tabel 2. Sikap konsumsi sayur pada anak. Hal ini sangat
siswa pada kelompok kontrol saat posttest berhubungan dengan pola orang tua dalam
memiliki perbandingan sikap positif dan sikap mengajarkan anaknya mengenai konsumsi
negatif yang sama. Hal ini dapat ditunjukkan sayur serta peran guru/pengajar dalam
dari jumlah respoden yang memiliki sikap mengenalkan dan mendidik siswa-siswinya
positif terhadap konsumsi sayur sebanyak 8 dalam hal pengetahuan konsumsi sayur
responden (50%) dan memiliki sifat negatif sejak usia kanak-kanak.
sebanyak 8 responden (50%).
Responden yang memiliki pengetahuan
Hasil uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test konsumsi sayur kategori baik berjumlah 1
diperoleh nilai p=0,005 sehingga p<0,05 yang anak pada pretest. Responden tersebut
berarti ada perbedaan sikap yang signifikan pernah mendapatkan pendidikan play group
saat pretest dan posttest pada kelompok dan pendidikan terakhir orang tua responden
perlakuan. Pada kelompok kontrol, hasil uji adalah Diploma. Sedangkan pengetahuan
statistik Wilcoxon Signed Rank Test terburuk ada pada 1 responden yang
menunjukkan nilai signifikansi p=0,088 memiliki tingkat pengetahuan rendah
sehingga p<0,05 yang artinya tidak ada dimana anak tersebut hanya menjawab 1
perbedaan sikap yang signifikan saat pretest jawaban benar. Responden tersebut tidak
dan posttest. Hasil uji statistik Mann-Whitney pernah mendapatkan pendidikan play group
U Test menunjukkan bahwa hasil signifikansi dan pendidikan terakhir kedua orang tua
p=0,003 sehingga p<0,05 yang berarti ada responden adalah Sekolah Dasar.
perbedaan sikap yang signifikan antara Pendidikan sangat mempengaruhi proses
kelompok perlakuan dan kontrol. belajar, baik pendidikan orang tua maupun
pendidikan anak tersebut. Dengan
PEMBAHASAN pendidikan yang tinggi maka seseorang
Berdasarkan tabel 1 pengetahuan responden akan cenderung untuk mendapatkan
pada kelompok perlakuan saat pretest informasi. Sebaliknya tingkat pendidikan
didapatkan hasil sebagian besar pada kategori yang kurang akan menghambat

Jurnal Pediomaternal 76 Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015


perkembangan dan sikap seseorang terhadap menyentuh sesuatu yang memberikan
nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Herlina, informasi tertentu agar ia bisa
2009). Responden yang pernah mendapatkan mengingatnya.
pendidikan playgroup, tingkat pengetahuannya
lebih baik dari pada responden yang tidak Pengetahuan pada seluruh responden
pernah mendapatkan pendidikan playgroup kelompok perlakuan mengalami
karena memungkinkan anak mendapatkan peningkatan setelah intervensi storytelling,
informasi dan pembelajaran yang lebih dari peningkatan terbesar adalah pada parameter
pada anak yang tidak pernah mendapatkan macam-macam sayur. Sebagian besar
pendidikan playgroup. Selain itu, pendidikan responden perlakuan memiliki pengetahuan
orang tua juga berpengaruh dalam hal ini. baik pada saat posttest. Macam-macam
Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi sayur bisa ditunjukkan melalui alat peraga
pendidikan seseorang semakin mudah pula yang digunakan dalam penelitian ini,
mereka menerima informasi dan makin banyak peneliti menggunakan media flash card.
pula pengetahuan yang dimilikinya. Flash card adalah salah satu alat peraga
Sebaliknya, jika seseorang tingkat dalam storytelling dimana alat peraga
pendidikannya rendah, akan menghambat digunakan untuk menarik minat anak-anak
perkembangan sikap seseorang terhadap dalam proses storytelling (Asfandiyar,
penerimaan, informasi dan nilai-nilai yang 2007). Manipulasi simbol merupakan
baru diperkenalkan (Mubarak, 2007). Akan karakteristik esensial dari tahapan anak
tetapi, pada penelitian ini tidak semua prasekolah. Kemampuan anak berada pada
responden sesuai dengan teori tersebut karena kemampuan menggunakan gambar simbolik
banyak faktor yang mempengaruhi tingkat dalam berfikir (Syaodih, 2011). Selain itu,
pengetahuan seseorang diantaranya anak mendapat visualisasi yang jelas dan
pendidikan, umur, lingkungan, pengalaman, nyata dari gambar-gambar yang ditunjukkan
minat, kebudayaan, dan sumber informasi. melalui media flash card, dalam hal ini
storytelling mampu menyajikan informasi
Hasil posttest pada kelompok perlakuan dan pesan melalui suara dan gambar (audio
didapat pengetahuan responden hampir dan visual) sehingga memudahkan anak
seluruhnya berada pada kategori baik. dalam memahami isi cerita.
Pengetahuan tertinggi ada pada parameter
pertama dan kedua yaitu macam-macam sayur. Sebagian besar responden kelompok kontrol
Peningkatan pengetahuan dari hasil pretest dan memiliki pengetahuan rendah saat pretest
posttest dapat diketahui melalui peningkatan maupun posttest. Kategori pengetahuan
kategori yang terjadi pada hampir seluruh pada kelompok kontrol saat pretest
responden. Perubahan yang sangat signifikan didapatkan hasil hampir seluruh responden
yaitu peningkatan pengetahuan responden dari pada kategori pengetahuan rendah. Pada
kategori rendah menjadi baik pada sebagian hasil posttest pengetahuan kelompok kontrol
besar responden (68,75%). Akan tetapi didapat pengetahuan responden sebagian
ditemukan 2 orang responden yang tetap besar tetap pada kategori rendah. Akan
berada pada kategori pengetahuan rendah. tetapi, ditemukan 2 responden yang
Responden yang tetap berada kategori mengalami penurunan kategori yakni dari
pengetahuan rendah dapat dikaitkan dengan kategori cukup menjadi rendah. Selain
tipe atau gaya belajar anak. Dalam penurunan terdapat 3 responden yang
penyampaian materi storytelling, pendongeng mengalami peningkatan kategori dari
perlu mempertimbangkan jenis gaya belajar kategori rendah menjadi cukup, dan 1
anak. Menurut Gardner (2008), terdapat tiga kategori dari cukup menjadi baik. Hal
tipe belajar anak yaitu audio, visual dan tersebut dapat terjadi karena responden
kinestetik. Metode storytelling hanya mendapatkan informasi mengenai konsumsi
menyajikan informasi berupa suara (audio) sayur dari sumber lain seperti media
melalui ucapan storyteller dan gambar (visual) elektronik, teman sebaya, orang tua atau
melalui media flash card. Tidak semua anak lainnya, namun informasi tersebut masih
memiliki tipe belajar auditori dan/atau visual. belum mampu meningkatkan pengetahuan
Beberapa anak memiliki gaya belajar responden. Dari hasil tersebut, tidak
kinestetik dimana mengharuskan anak tersebut ditemukan perbedaan yang signifikan pada

Jurnal Pediomaternal 77 Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015


aspek pengetahuan responden kelompok kebutuhan dan metode yang digunakan
kontrol antara pretest dan posttest. harus sesuai dengan karakteristik kelompok
yang akan menerima informasi tersebut.
Storytelling dengan media flash card Kelebihan metode storytelling adalah cerita
merupakan salah satu metode belajar yang tersebut bisa menjadi wahana untuk
cocok dan sesuai untuk anak usia prasekolah. mengasah imajinasi, membuka pemahaman
Pada saat proses storytelling berlangsung dan belajar pada pengalaman-pengalaman
terjadi sebuah penyerapan pengetahuan yang sang tokoh dalam dongeng tersebut. Teknik
disampaikan pencerita kepada audience. bercerita merupakan cara yang unik,
Proses inilah yang menjadi pengalaman menarik tanpa memaksa dan tanpa perlu
seorang anak (Kusumastuti, 2010). Setelah itu menggurui sang anak (Haryani, 2007).
memilah mana yang dapat dijadikan panutan Storytelling merupakan metode
olehnya sehingga membentuknya menjadi penyampaian informasi yang tepat bagi usia
moralitas yang dipegang sampai dewasa anak prasekolah. Hasil pretest dan postest
(Haryani, 2007). Anak mengadopsi cerita yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
disampaikan oleh storyteller yang berisi yang signifikan antara storytelling terhadap
tentang pesan-pesan yang baik untuk senang pengetahuan konsumsi sayur kelompok
makan sayur, sehingga pengetahuan anak perlakuan, sedangkan pada kelompok
meningkat yang ditandai dengan kontrol hasilnya tidak signifikan.
meningkatnya skor pengetahuan responden ke
dalam kategori pengetahuan baik. Berdasarkan tabel 2 sikap responden
kelompok perlakuan saat pretest didapatkan
Kisah yang disampaikan saat storytelling pada hasil setengah dari seluruh responden
pertemuan pertama berisi cerita seorang siswa berada pada kategori negatif. Pada tabulasi
TK yang tidak bersemangat sekolah karena sikap saat pretest, responden kelompok
sakit perut, susah buang air besar akibat selalu perlakuan memiliki sikap negatif terbanyak
menolak dan tidak mau makan sayur. Salah pada pernyataan manfaat makan sayur
seorang teman dari siswa tersebut (parameter keenam) yakni 7 responden yang
menceritakan pengalaman kakaknya yang menjawab setuju (pernyataan negatif).
pernah merasakan hal yang sama. Sakit perut Setengah dari seluruh responden tidak lulus
itu tidak enak, tidak menyenangkan dan pada parameter manfaat makan sayur, hal
mengganggu bermain. Hal ini ditekankan ini disebabkan karena tingkat pengetahuan
untuk parameter dampak kurang konsumsi atau informasi yang dimiliki kurang. 6 dari
sayur. Selain itu, teman siswa tersebut 12 responden yang memiliki pengetahuan
menceritakan nasihat orang tuanya akan konsumsi sayur rendah, responden tersebut
pentingnya konsumsi sayur (penekanan juga mempunyai sikap negatif terhadap
parameter manfaat makan sayur). Di akhir konsumsi sayur. Pengetahuan tentang sayur
cerita siswa TK tersebut mau makan sayur, pada anak akan sangat mendukung sikap
menjadi anak yang sehat, bersemangat sekolah dan perilaku anak untuk mengkonsumsinya.
dan dapat bermain kembali bersama teman- Menurut Fibrihirzani (2012), ketika anak
teman. Cerita yang mengisahkan langsung tahu mengenai manfaat konsumsi sayur
tokoh anak seperti ini akan terkesan dekat dan anak akan sadar dan tertarik untuk mencoba
nyata karena responden bisa membayangkan mengonsumsinya. Pengenalan dan
langsung bahwa yang ada di dalam cerita pemaparan sayur secara berulang-ulang saat
tersebut adalah dirinya. Dengan demikian usia dini mampu meningkatkan kesukaan
reponden akan membayangkan sakit perut, anak. Hal ini sangat berhubungan dengan
susah buang air besar, tidak bisa belajar dan pola orang tua dalam mengajarkan dan
bermain karena tidak mau makan sayur, menanamkan kesukaan terhadap konsumsi
kemudian pada akhirnya anak tidak mau sayur, termasuk mengenal macam-macam
meniru dan tidak ingin merasakan pengalaman sayur dan manfaatnya bagi tubuh.
yang tidak menyenangkan tersebut. Responden yang dibiasakan oleh orang
Teknik dan metode penyampaian merupakan tuanya untuk mengkonsumsi sayur setiap
faktor penting yang menunjang keberhasilan hari akan cenderung menyukai dan bersikap
transfer informasi. Tujuan penyampaian positif dalam hal konsumsi sayur tersebut,
informasi harus menyesuaikan dengan maka hal ini akan tertanam dalam benak

Jurnal Pediomaternal 78 Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015


anak bahwa sayur memiliki banyak macam bertahan pada kategori positif, serta terdapat
dan manfaat serta harus dikonsumsi setiap peningkatan pada 4 responden yang
hari. sebelumnya dalam kategori negatif menjadi
kategori positif. Akan tetapi, Storytelling
Pada pretest kelompok perlakuan ini, tidak memberikan perubahan sikap pada 4
ditemukan pula hasil bahwa responden responden yang tetap berada pada kategori
perempuan cenderung memiliki sikap positif negatif pada sebelum maupun sesudah
terhadap konsumsi sayur dibanding responden diberikan intervensi. Keempat responden
laki-laki. 5 dari 9 reponden perempuan tersebut tidak pernah mendapatkan
bersikap positif terhadap konsumsi sayur. pendidikan play group dan 2 dari 4
Sedangkan pada reponden laki-laki hanya 3 responden tersebut pendidikan terakhir
dari 7 reponden yang bersikap positif terhadap orang tua adalah Sekolah Dasar. Ditemukan
konsumsi sayur. Selain faktor pengetahuan, pula 1 orang responden yang mengalami
jenis kelamin merupakan salah satu faktor penurunan kategori dari positif menjadi
yang mempengaruhi konsumsi sayur pada negatif. Responden yang tidak dapat
anak. Perempuan mengonsumsi sayur lebih menjawab semua pertanyaan dengan benar
banyak dibandingkan laki-laki (Fibrihirzani, disebabkan karena posisi duduk reponden
2012). Hubungan antara jenis kelamin dengan saat storytelling jauh dari storyteller,
konsumsi sayur dapat disebabkan karena niat sehingga volume suara yang diterima antara
dan preferensi. Dalam penelitian Bere et al. responden satu dan yang lain tidak sama.
(2007), niat dan preferensi perempuan untuk Menurut Nasir (2009), lingkungan
mengonsumsi sayur dua kali lebih besar merupakan situasi yang dapat
daripada laki-laki. mempengaruhi proses komunikasi mulai
dari sumber yang menyampaikan pesan,
Responden yang bersikap positif terhadap sampai pada efek atau pengaruh pesan
konsumsi sayur berjumlah 8 anak saat pretest. terhadap penerima pesan. Menurut Majid
5 orang diantaranya memiliki orang tua (2001) dalam Kusumastuti (2010),
dengan pendidikan terakhir Diploma dan pendongeng harus memperhatikan posisi
Sekolah Menengah Atas. Tingkat pendidikan duduk agar kegiatan mendongeng berjalan
orang tua akan menentukan cara orang tua lancar dan mendapatkan hasil sesuai yang
dalam membimbing dan mengarahkan diharapkan. Saat penelitian berlangsung,
anaknya dalam hal pendidikan. Tingkat tidak dimungkinkan untuk mengkondisikan
pendidikan orang tua yang rendah akan tempat duduk audience di satu deret yang
cenderung sempit wawasannya terhadap sama untuk intervensi storytelling tersebut.
pendidikan, sedangkan tingkat pendidikan Pesan dan informasi yang disampaikan
orang tua yang tinggi akan memiliki wawasan mungkin tidak diserap sempurna oleh
yang lebih luas (Rini, 2012). Makin tinggi responden sehingga mempengaruhi hasil
pendidikan seseorang makin mudah orang posttest beberapa responden yang tetap
tersebut untuk menerima informasi. Semakin berada pada kategori sikap negatif.
banyak informasi yang masuk semakin banyak
pula pengetahuan yang didapat tentang Selain karena posisi duduk saat storytelling
kesehatan. Pengetahuan sangat erat berlangsung, terdapat hal lain yang dapat
hubungannya dengan pendidikan dimana mempengaruhi sikap beberapa responden
seseorang dengan pendidikan tinggi maka yang tetap pada kategori negatif. Mengubah
orang tersebut semakin luas pengetahuannya. aspek sikap seseorang tidak seperti
Namun perlu ditekankan bahwa seseorang mengubah aspek pengetahuan yang
berpendidikan rendah tidak berarti mutlak dibutuhkan beberapa waktu yang cukup
berpengetahuan rendah pula. Peningkatan lama. Menurut Azwar (2007), ada beberapa
pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari faktor yang mempengaruhi pembentukan
pendidikan formal akan tetapi dapat diperoleh sikap seseorang antara lain pengalaman
dari pendidikan nonformal. pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap
Peningkatan jumlah responden kelompok penting, kebudayaan, media massa, lembaga
perlakuan dengan kategori positif berdasarkan pendidikan, dan faktor emosional. Ada
data pada tabel 2, yaitu terdiri atas 7 responden kemunginan karena posttest dilakukan di
yang semula sudah dalam kategori positif tetap hari yang sama dengan intervensi,

Jurnal Pediomaternal 79 Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015


responden membutuhkan waktu untuk berubah menyadari bahwa sayur-mayur sangat
dan mengolah informasi yang didapat bermanfaat bagi kesehatan.
sebelumnya sehingga masih ada beberapa
responden yang bersikap negative. saat Sebagian besar responden kelompok kontrol
dilakukan posttest. Semua responden yang memiliki sikap negatif saat pretest dan
bersikap negatif tersebut seluruhnya berusia 6 posttest. Kategori sikap pada responden
tahun. Ditinjau dari faktor emosional, kelompok kontrol saat pretest didapatkan
perkembangan emosional anak 6 tahun ada setengah dari seluruh responden berada
pada fase egosentris. Berpikir egosentris yaitu pada kategori negatif. Pada hasil posttest
berpikir tentang benar atau tidak benar, setuju sikap responden kelompok kontrol tidak
atau tidak setuju, berdasarkan sudut pandang jauh berbeda, sebagian besar responden
anak sendiri. Oleh sebab itu, anak belum dapat tetap pada kategori sikap negatif. Terdapat 4
meletakkan cara pandangnya di sudut pandang responden mengalami penurunan kategori
orang lain (Syaodih, 2011). dari positif menjadi negatif. Pada akhir total
tabulasi pada kelompok kontrol jumlah
Hasil posttest sikap responden kelompok responden yang berada pada kategori sikap
perlakuan sebagian besar berada pada kategori negatif meningkat. Hal ini dikarenakan
positif. Sikap positif terbanyak ada pada kelompok kontrol tidak mendapatkan
pernyataan mengenai kandungan sayur intervensi storytelling dimana terdapat
(parameter pertama) dan kesukaan makan pendidikan pengetahuan dan sikap dalam
sayur (parameter keempat) yaitu semua konsumsi sayur yang sesuai untuk anak usia
responden menjawab setuju (pernyataan prasekolah.
positif). Ditemukan peningkatan kategori
positif antara pretest dan posttest pada Cerita yang membuat sayur mayur sebagai
sebagian besar responden kelompok perlakuan tokoh yang seolah-hidup hidup sangat
(68,75%). sesuai dengan fase anak prasekolah yang
penuh dengan imajinasi. Saat anak
Sikap responden kelompok perlakuan mengembangkan imajinasi dan memperluas
mengalami peningkatan setelah diberikan minatnya adalah ketika ia mendengarkan
intervensi storytelling. Hal tersebut cerita. Dari cerita, anak belajar mengenal
dikarenakan Storytelling memiliki kekuatan manusia dan kehidupan, serta dirinya
yang sanggup mempengaruhi akal pikiran dan sendiri. Lewat cerita yang disampaikan,
psikologi manusia secara luar biasa. tokoh sayur-mayur yang menangis
Mendongeng merupakan salah satu cara menyentuh sisi afeksi dan perasaan anak.
efektif untuk membentuk tingkah laku dan Selain itu, secara tidak langsung cerita
mampu menanamkan superego kepada anak tersebut memotivasi anak untuk menyukai
(Sophiani, 2008). Kisah yang disampaikan saat dan mau makan sayur. Di dalam cerita
storytelling pada pertemuan kedua berisi cerita banyak sekali unsur persuasi yang
seorang anak yang sedang terlelap di tidur ditonjolkan. Menurut Azwar (2011) persuasi
siangnya bermimpi mendengar suara sayur- dapat diperkaya dengan pesanpesan yang
mayur yang sedang menangis karena sedih membangkitkan emosi kuat, terutama ketika
tidak dimakan. Kangkung menangis karena pesan berisi rekomendasi mengenai
berada di tempat sampah, dibuang oleh anak- perubahan sikap. Cara ini efektif bila sikap
anak, tidak dimakan, sedangkan kangkung atau perilaku yang hendak diubah ada
merasa dirinya sangat bermanfaat bagi kaitannya dengan aspek kesehatan.
pembentukan tulang dan gigi anak-anak
karena mengandung banyak kalsium. Selain Stimulus yang diberikan melalui storytelling
kangkung, buncis juga menangis karena anak- mampu meningkatkan pengetahuan dan
anak hanya memilih wortel saat orang tua mengubah kecenderungan (sikap) anak
mereka memasak sop sayur wortel dan buncis. untuk memilih mengkonsumsi sayur.
Padahal buncis mampu membuat anak-anak Storyteller menampilkan kesan
tidak susah buang air besar dan tidak sakit menyenangkan kepada anak dan melibatkan
perut. Di akhir cerita, anak tersebut emosi anak serta menimbulkan keakraban
bersemangat makan sayur karena dia telah sosial antara pencerita dan audience.
Penyampaian informasi dan pesan serta

Jurnal Pediomaternal 80 Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015


nilai-nilai penting tentang perilaku konsumsi untuk mengetahui keberlanjutan anak mau
sayur yang terdapat dalam storytelling dapat makan sayur (aspek tindakan) terkait
menimbulkan repson yang adaptif yaitu pengetahuan yang meningkat pada aspek
perubahan sikap positif anak terhadap macam-macam sayur dan sikap yang positif
konsumsi sayur. Storytelling merupakan setelah diberi intervensi storytelling
metode yang sesuai dengan perkembangan menggunakan media flash card. Selain itu,
kognitif dan afektif anak usia prasekolah. guru dapat memanfaatkan storytelling
Setelah mendapatkan perlakuan berupa dengan media flash card sebagai metode
pendidikan kesehatan tentang konsumsi sayur pembelajaran dalam kelas mengenai
dengan metode storytelling menggunakan pendidikan kesehatan terutama konsumsi
media flash card, para responden lebih sayur untuk siswa didik TK B yang efektif
mengerti akan kandungan, manfaat serta hal- dilaksanakan dua kali dalam satu bulan.
hal penting lain mengenai konsumsi sayur. Orang tua memberikan dukungan dalam
Terjadi perubahan sikap yang signifikan pada meningkatkan konsumsi sayur dengan
responden kelompok perlakuan saat pretest menyediakan menu sayur setiap hari,
dan posttest. Hal berbeda terjadi pada menganjurkan anak mengkonsumsi sayur
responden kelompok kontrol, tidak ada dan memberikan fasilitas seperti
perbedaan sikap yang signifikan pada hasil menyiapkan sayur untuk bekal sekolah.
pretest dan posttest. Perawat komunitas dapat menerapkan
storytelling sebagai salah satu alternatif
SIMPULAN DAN SARAN metode dalam melakukan promosi
kesehatan pada anak usia prasekolah.
Simpulan
Peneliti selanjutnya tidak hanya meneliti
Pengetahuan dalam konsumsi sayur domain pengetahuan dan sikap saja,
mengalami peningkatan setelah dilakukan melainkan juga penelitian hingga domain
storytelling pada anak prasekolah di TK tindakan untuk mencapai perubahan
Nitasari Mojo Gubeng Surabaya karena perilaku konsumsi sayur anak usia
storytelling menggunakan media flash card prasekolah secara maksimal.
menarik minat siswa yang tedapat gambar-
gambar menarik didalamnya. Sikap dalam KEPUSTAKAAN
konsumsi sayur anak usia prasekolah di TK
Asfandiyar, Andi Y. (2007). Cara
Nitasari Mojo Gubeng Surabaya mengalami
PintarMendongeng, Jakarta: Mizan.
peningkatan setelah dilakukan storytelling
Azwar, S. (2011). Sikap Manusia, Teori dan
menggunakan media flash card karena di
Pengukurannya Edisi 2. Jakarta:
dalam cerita banyak unsur persuasi yang
Pustaka Pelajar.
ditonjolkan, memotivasi anak untuk menyukai
Bere, et al. (2007). Why do Boys Eat Less
dan mau makan sayur. Storyteling
Fruit and Vegetables than Girls?
berpengaruh dalam peningkatan pengetahuan
Public Health Nutrition 11 (3): 321-
dan sikap dalam konsumsi sayur anak usia
325.
prasekolah di TK Nitasari Mojo Gubeng
British Nutrition Foundation. (2009).
Surabaya karena dalam storytelling
Nutrition Science: Preschool Children.
menggunakan media flash card sesuai dengan
(http://www.nutrition.org.uk/nutritions
perkembangan kognitif dan afektif fase anak
cience/life/pre-school-children).
prasekolah yang mampu mengasah imajinasi,
Droog, Simone M. et al. (2013). Enhancing
membuka pemahaman dan belajar pada
Childrens Vegetable Consumption
pengalaman-pengalaman sang tokoh dalam
Using Vegetable-Promoting Picture
dongeng tersebut.
books, The Impact of Interactive
Shared Reading and Character
Product Congruence. Journal Appetite
73 (2014) 7380. Elsevier.
Fibrihirzani, Hafsah. (2012). Hubungan
Saran
antara Karakteristik Individu, Orang
Guru atau pengajar menyediakan menu sayur tua dan Lingkungan dengan Konsumsi
yang bermacam-macam saat makan bersama Buah dan Sayur pada Siswa SDN Beji

Jurnal Pediomaternal 81 Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015


5 dan 7 Depok Tahun 2012. Skripsi Kusumastuti, Dina N. (2010). Pengaruh
Fakultas Kesehatan Masyarakat Kegiatan Storytelling terhadap
Universitas Indonesia Jakarta. Pertumbuhan Minat Baca Siswa di TK
Fitriani, F. et al. (2009). Gambaran Penyebab Bangun 1 Getas Kecamatan Pabelan
Kesulitan Makan pada Anak Prasekolah Kabupaten Semarang. Skripsi Fakultas
Usia 3-5 Tahun di Perumahan Top Amin Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Mulya Jakabaring Palembang. Eprints Semarang. (eprints.undip.ac.id/22141/).
Universitas Sriwijaya Palembang. Maryam, Aziemah. (2012). Tingkat
Gardner, Howard. (2008). Kenalilah Tipe Pengetahuan Anak-Anak Sekolah
Gaya Belajar Kita (Learning Style). Dasar tentang Manfaat Konsumsi
Universitas Bangka Belitung. Sayur-Mayur di Sekolah Dasar
(http://www.ubb.ac.id). Shafiyyatul Amaliyyah Medan. Skripsi
Gunanti, Ining R. (2000). Faktor-Faktor yang Fakultas Kedokteran Universitas
Mempengaruhi Konsumsi Sayuran Anak Sumatera Utara Medan
Prasekolah. Research center of nutrition Mubarak, Wahit Iqbal, et al. (2007).
development Universitas Airlangga Promosi Kesehatan Sebuah Pengantar
Surabaya. Proses Belajar Mangajar dalam
Hariani, Dede. (2011). Pengaruh Penyuluhan Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
terhadap Pengetahuan dan Sikap Nasir. (2009). Komunikasi dalam praktek
Konsumsi Buah dan Sayuran Siswa keperawatan. Teori dan aplikasi.
Sekolah Dasar di SD Negri 064975 Jakarta: Salemba Medika.
Kecamatan Medan Denai Kota Medan. Piazza, C.C. & T.A. Hernandez. (2004).
Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Assesment and treatment of pediatric
Universitas Sumatera Utara feeding disorders. Encyclopedia on
Harinda, Loraine. (2012). Proporsi dan Status Early Childhood; 2004; 1-7.
Gizi pada Anak Prasekolah dengan Rini, Esti Setya. (2012). Hubungan Tingkat
Kesulitan Makan di Semarang. Fakultas Pendidikan Orang Tua dan Prestasi
Kedokteran Universitas Diponegoro Belajar Siswa dengan Minat Siswa
Semarang Melanjutkan Studi ke Perguruan Tinggi
Haryani. (2007). Mencerdaskan Anak dengan pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1
Dongeng. Universitas Negeri Yogyakarta. Kalasan. Skripsi Fakultas Ekonomi
Diakses 18 Maret 2014 Universitas Negeri Yogyakarta.
(http://staff.uny.ac.id/) Sophiani, P. (2008). Peran Storytelling
Herlina, Sarah. (2009). Hubungan sebagai Sarana Promosi Perpustakaan
Karakteristik dengan Tingkat TK/SD Al Izhar Pondok Labu Jakarta.
Pengetahuan Ibu Postpartum tentang Skripsi Fakultas Adab dan Humaniora
Perawatan Masa Nifas di Ruang Camar I UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Syaodih, Ernawulan. (2011). Perkembangan
Achmad Pekanbaru. Fakultas Kedokteran Kognitif Anak Prasekolah. Universitas
Universitas Sumatera Utara. Pendidikan Indonesia Bandung
Kementerian Kesehatan RI. (2011). Strategi (http://file.upi.edu/).
Nasional Penerapan Pola Konsumsi Wardlaw Gordon M. & Anne M. Smith.
Makanan dan Aktifitas Fisik untuk (2009). Contemporary Nutrition 7th
Mencegah Penyakit Tidak Menular. edition. New York: McGraw-Hil
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI Publishing Company.
Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Wardlaw, Gordon M. et al. (2004).
Kesehatan Ibu dan Anak. Perspectives in Nutrition 6th edition.
Krolner, et al. (2011). Determinants of fruit New York: McGraw-Hil Publishing
and vegetable consumption among Company.
children and adolescents: a review of the Wright CM, et al. (2007). How do toddler
literature. Part II: qualitative studies. eating problems relate to their eating
International Journal of Behavioral behavior, food preferences, and
Nutrition and Physical Activity 2011, growth? American Academy of
8:112. Pediatrics; 2007; 120:1069-75.

Jurnal Pediomaternal 82 Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015