Está en la página 1de 10

Audit Program

PENGERTIAN KAS
Menurut PSAK No.2 (2009), Kas terdiri atas saldo kas (cash on hand) dan rekening
giro (demand deposits). Kas merupakan harta lancar entitas atau perusahaan yang sangat
menarik dan mudah untuk diselewengkan karena menyangkut dengan penerimaan dan
pengeluaran kas maka perlu pengendalian internal (internal control) yang baik atas kas dan
bank. Dan Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2002), Kas adalah alat pembayaran
yang siap dan bebas digunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.
Perusahaan membagi kas menjadi dua, yaitu kas bank dan kas yang ada dalam
perusahaan. Hal ini dilakukan minimal untuk mengolah kas agar bermanfaat untuk
perusahaan (dengan membungakan uang di bank) selain itu perusahaan menjadikan ini
sebuah sistem untuk menghidari terjadinya hal yang tidak diinginkan seperti penyelewengan
kas oleh karyawan, kehilangan, dan lainnya.

Ciri-ciri Kas
Dapat digunakan segera sebagai alat bayar sebesar nilai nominalnya, sedangkan alat
bayar yang tidak dapat digunakan segera sebagai alat bayar dan tidak sesuai dengan nilai
nominalnya tidak dapat dipakai sebagai alat bayar.

Sifat-sifat Kas antara lain:


a. Kas terlalu terlibat dalam hampir semua transaksi perusahaan.
b. Kas merupakan harta yang siap dan mudah untuk digunakan dalam transaksi serta
ditukarkan dengan harta lain, mudah dipindahkan dan beragam tanpa tanda pemilik.
c. Jumlah uang kas yang dimiliki oleh perusahaan harus di jaga sedemikian rupa sehingga
tidak terlalu banyak dan tidak kurang.

BANK
Menurut SAK yang dimaksud dengan bank adalah sisa rekening giro perusahaan yang
dapat dipergunakan secara bebas untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.
Yang termasuk kas/bank antara lain:
a. Uang tunai baik mata uang sendiri (yang disahkan pemerintah) maupun mata uang asing.
b. Cek dan Bilyet Giro
c. Simpanan di Bank dalam bentuk giro
d. Travelers Chek yaitu cek yang dikeluarkan khusus untuk perjalanan (Turisme Bisnis).
e. Momey Order yaitu surat penting membayar sejumlah uang tertentu berdasarkan
keperluan pengguna.
f. Cashiers Chek yaitu cek yang dibuat oleh suatu bank untuk suatu saat dicairkan di bank
itu juga.
g. Bank Draft yaitu cek atau perintah membayar dari suatu bank yang mempunyai rekening
di bank lain, yang dikeluarkan atas permintaan seseorang atau nasabah melalui
penyetoran lebih dulu di bank pembuat.

Sedangkan yang tidak termasuk kas adalah


a. Deposito berjangka (time deposit)
b. Cek mundur dan cek kosong
c. Uang yang disediakan untuk tujuan tertentu (sinking fund)
d. Rekening giro yang tidak dapat segera digunakan
e. Surat berharga
f. Perangko
Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives) Kas dan Bank
1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas kas dan bank
serta transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dan bank.
Jika auditor dapat meyakinkan dirinya bahwa internal control atas kas dan bank serta
transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dan bank berjalan efektif maka luasnya
pemeriksaan dalam melakukan substantive test dapat diperkecil. Untuk itu pihak intern
(manajemen) harus membangun suatu sistem yang kuat dan benar-benar menjalaninya.
2. Untuk memeriksa apakah saldo kas dan bank yang ada di neraca per tanggal neraca betul-
betul ada dan dimiliki perusahaan.
3. Auditor harus meyakinkan bahwa kas dan bank benar-benar ada milik perusahaan dan
bukan milik pribadi direksi atau pemegang saham. Karena itu auditor harus melakukan
kas opname dan mengirim konfirmasi bank.
4. Untuk memeriksa apakah ada pembatasan untuk penggunaan saldo kas dan bank.
Misalnya adanya dana yang disisihkan untuk membayar bunga obligasi atau membayar
kewajiban-kewajiban perusahaan. selain itu mungkin saja terjadi rekening giro
perusahaan yang dibekukan karena adanya masalah hukum.
5. Untuk memeriksa seandainya ada saldo kas dan bank dalam valuta asing, apakah saldo
tersebut sudah dikonversikan ke dalam rupiah dengan menggunakan kurs tengah BI pada
tanggal neraca dan apakah selisih kurs yang terjadi sudah dibebenkan atau dkreditkan ke
rugi laba tahun berjalan.
6. Untuk memeriksa apakah penyajiannya di neraca sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum. Menurut SAK:
Kas dan bank disajikan di neraca sebagai harta lancar.
Kas dan bank yang penggunaanya dibatasi dapat dimasukan dalam harta lancer hanya
jika pembatasan tersebut dilakukan untuk menyisihkan dana untuk melunasi kewajiban
jangka pendek atau jangka pembatasan tersebut hanya berlaku selama satu tahun.
Saldo kredit pada perkiraan bank disajikan pada kelompok kewajiban jangka pendek.
Saldo kredit dan debet rekening giro pada bank yang sama dapat digabung dan disajikan
pada neraca sebagai satu kesatuan.

Prosedur Pemeriksaan (Audit) Kas dan Bank


Untuk mencapai tujuan audit kas dan bank adalah dengan melakukan prosedur audit
sebagai berikut:
1. Pahami dan evaluasi internal control atas kas dan bank serta tansaksi penerimaaan dan
pengeluaran kas dan bank. Proses memahami dan mengevaluasi internal control atas kas dan
bank serta transaksi penerimaan kas dan bank. Merupakan yang sangat penting dalam proses
pemeriksaan akuntan.kas dan bank.
Hasil evaluasi internal control ata kas dan bank serta transaksi penerimaan dan pengeluaran
kas dan bank berupa kesimpulan apakah internal control tersebuat berjalan efekrif atau tidak.
Jika auditor menyimpulkan bahwa internal control efektif, berarti luasnya pengujian atas
kewajaran saldo kas dan bank pertanggal neraca bisa dipersempit, karena kemungkinan
terjadinya kesalahan adalah kecil dan jika kesalahan terjadi akan bisa segera ditemukan oleh
pihak perusahaan. untuk memahami internal control yang terdapat di perusahaan, auditor bisa
melakukan Tanya jawab dengan klien dengan menggunakan internal control questionnaires.
Kemudian dari hasil Tanya jawab digambarkan lebih lanjut dengan flowchart dalam bentuk
cerita.
Berdasarkan jawaban ICQ, flowchart dan pejelasan naratif (jika ada), auditor bisa
mengevaluasi internal control yang ada secara teoritis dan menarik kesimpulan sementara
apakah internal control atas kas dan Bank serta penerimaan dan pengeluaran kas/bank, baik
sedang atau lemah. Jika disimpulkan Sementara bahwa internal control baik, auditor harus
melakukan tes atas transaksi penerimaan dan pengeluaran kas/bank, untuk membuktikan
apakah internal control berjalan baik atau tidak.
Yang diambil sebagai sampel biasanya bukti penerimaan kas/bank dan bukti pengeluaran kas
atau bank atau nomor cek atau nomor giro. Jika disimpulkan sementara bahwa internal
control lemah, auditor tidak perlu mengadakan tes, tetapi langsung mengadakan substantive
tes yang diperluas. Karena biasanya jika tetap dilakukan compliance test, kesimpulan akhir
tetap menyatakan bahwa internal control lemah. Kemudian auditor harus menambil
kesimpulan akhir, apakah internal control baik, sedang atau lemah. Setelah itu dilakukan
substantive atas saldo kas atau Bank.
Audit prosedur untuk compliance test harus dipisahkan dari audit prosedur untuk substantive
test, begitu juga dengan kertas kerja pemeriksaannya. Hasil quetionaires dengan klien akan
didokumentasikan oleh auditor dalam bentuk naratif.
Langkah berikutnya, auditor harus melakukan compliance test (pengujian ketaatan) ,namun
sebelumnya perlu disusun audit program untuk pengujian ketaatan atas transaksi penerimaan
dan pengeuaran kas/bank sebagai berikut :
- Penerimaan dan pengeluaran kas/bank
1. ambil sampel bukti penerimaan kas/bank secara random
2. Periksa bukti penerimaan kas/bank berikut,
3. periksa apakah posting ke buku besar sudah dilakuan dengan benar
4. tarik kesimpulan mengenai hasil compliance test.
2. Buat Top Schedule cash on hand and in bank per tnggal neraca (missal per 31 12- 1994)
atau kalau belum selesai, boleh per 31-10-1994 atau 31-11-1994; penambahan mutasi akan
diperiksa kemudian, apakah ada hal-hal yang unusual (diluar kebiasaan) atau tidak.
3. Lakukan cash count (perhitungan fisik luang kas) per tanggal neraca, bias juga sebelum
atau sesudah tanggal neraca.
Jika klien menggunakan inprest fund system untuk kas kecilnya, cash count bisa dilakukan
kapan saja karena saldo kas selalu tetap. Jika digunakan fluctuating fund system maka cash
count sebaiknya dilakukan tidak jauh dari tanggal neraca agar tidak mengalami kesulitan
sewaktu melakukan perhitungan maju atau mundur ke tanggal neraca atau saldo kas per
minggu per tanggal cash count ditambah atau dikurangi dengan penerimaan atau pengeluaran
sebelum atau sesudah tanggal neraca.
4. Kirim konfirmasi atau dapatkan pernyataansaldo dari kasir dalam hal tidak dilakukan kas
opname.
Untuk kas yang berada di cabang yang jauh dan saldonya tidak besar tidak perlu auditor
khusus mengunjungi cabang tersebut untuk melakukan kas opname karena tidak berimbang
cost dan benefit sehingga cukup dikirim surat konfirmasi atau diminta pernyataan saldo dari
kasir.
5. Kirim konfimasi untuk seluruh rekening bank yang dimiliki perusahaan.
6. Minta rekonsiliasi bank per tanggal neraca (misalnya per 31-12-1994), kalau terpaksa
karena belum selesai yang Desember, dapat diminta per 31-11-1994.
7. Lakukan pemeriksaan atas rekonsiliasi bank tersebut.
8. Review jawaban konfirmasi dari bank, notulen rapat dan perjanjian kredit untuk
mengetahui apakah ada pembtasan dari rekening bank yang dimiliki perusahaan.
Saldo rekening bank yang penggunaannya lebih dari satu tahun tidak boleh dikelompokkan
sebagai harta lancar dan harus dijelaskan pada catatan atas laporan keuangan. Pembatasan
tersebut bisa terjadi karena rekening dibekukan, sinking fund.
9. Periksa inter bank transfer 1 minggu sebelum dan sesudah tangga; neraca, untuk
mengetahui adanya kitting dengan tujuan untuk window dressing.
10. Periksa transaksi kas sesudah tanggal neraca (subsequent payment and subsequent
collection) sampai mendekatitanggal selesainya pemeriksaaan lapangan. Tujuan adalah untuk
mengetahui apakah ada unrecorded liabilities (kewajiban yang belum tercacat) per tanggal
neraca yang belum dibayar diperiode berikutnya. Tujuan lain untuk mengetahui apakah
hutang per tanggal neraca sudah dulunasi diperiode berikutnya, sehingga auditor lebih yakin
mengenai kewajaran saldo utang per neraca.
11. Sendainya ada saldo kas dan bank dalam mata uang asing per tanggal neraca, periksa
apakah saldo tersebut sudah dikonversikan ke dalam rupiah dengan menggunakan kurs
tengah BI pada tanggal neraca dan apakah selisih kurs yang terjadi sudah dibebankan atau
dkreditkan pada rugi laba tahun berjalan. Kurs tengah BI adalah rata-rata kurs beli dan kurs
jual.
12. Periksa apakah penyajian kas dan bank di neraca dan catatan atas laporan keuangan,
sesuai dengan prinsip akuntansiyang belum berlaku umum.
13. Buat kesimpulan di Top Schedule kas dan bank atau di memo tersendiri mengenai
kelayakan dari cash on hand and in bank, setelah kita menjalankan seluruh audit prosedur di
atas.

AUDIT PERSEDIAAN
Audit Persediaan adalah merupakan bagian dari aset perusahaan yang pada umumnya
nilainya cukup material dan rawan oleh tindakan pencurian ataupun penyalahgunaan. Oleh
karena itu, biasanya akun persediaan menjadi salah satu perhatian utama auditor dalam
pemeriksaan atas laporan keuangan perusahaan. Menurut Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK No.14, hal 14.1 s/d 14.2 & 14.9 IAI, 2002, persediaan adalah aktiva:
1. yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal.
2. dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau
3. dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses atau
pemberian jasa.
Persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali, misalnya
barang dagang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau pengadaan tanah dan properti
lainnya untuk dijual kembali. Persediaan juga mencakup barang jadi yang telah diproduksi,
atau barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi perusahaan, dan termasuk bahan
serta perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi.
Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya
lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual
atau dipakai.
Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi, mana yang lebih
rendah (the lower ofcost and net realiable value)

SIFAT-SIFAT PERSEDIAAN
Persediaan (Inventory) adalah elemen atau unsur yang sangat penting dalam
perusahaan terutama dalam penentuaan harga pokok penjualan pada perusahaan dagang
ataupun perusahaan manufaktur baik yang berskala kecil maupun berskala besar, yang
berfungsi untuk Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang, Menghilangkan
resiko hilangnya barang, Mempertahankan stabilitas operasional perusahaan., Untuk
mencapai penggunaan mesin yang optimal, Memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya
kepada konsumen.. Persediaan mempunyai sifatsifat sebagai berikut :
a. Persediaan biasanya merupakan sebagai aktiva lancar (Current Asset) karena masa
perputarannya hanya kurang atau sama dengan satu tahun saja.
b. Persediaan merupakan jumlah yang besar terutama untuk perusahaan yang mengelola
persediaan dari bahan baku menjadi barang jadi.
c. Mempunyai pengaruh yang besar terhadap neraca dan perhitungan laba rugi bagi
perusahaan selain itu juga sangat menentukan perusahaan pada akhir periode akuntansi.
Contoh dari perkiraan-perkiraan yang biasa digolongkan sebagai persediaan adalah:
Bahan baku {raw materials)
Barang dalam proses (work in process)
Barang jadi (finished goods)
Suku cadang (spare-parts)
Bahan pembantu: olie, bensin, solar
Barang dalam perjalanan (goods in transit), yaitu barang yang sudah dikirim oleh
Supplier tetapi belum sampai di gudang perusahaan.
Barang konsinyasi: consignment out (barang perusahaan yang dititip jual pada
perusahaan lain). Sedangkan consignment in (barang perusahaan lain yang dititip jual
di perusahaan) tidak boleh dilaporkan/dicatat sebagai persediaan perusahaan.

TUJUAN AUDIT PERSEDIAAN


Adapun tujuan utama pemeriksaan persediaan adalah untuk menentukan bahwa :
1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas persediaan,
2. Untuk memeriksa apakah persediaan yang tercantum di neraca betul-betul ada dan
dimiliki oleh perusahaan pada tanggal neraca.
3. Untuk memeriksa apakah metode penilaian persediaan (valuation) sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/Standar Akuntansi Keuangan.
4. untuk memeriksa apakah sistem pencatatan persediaan sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia/SAK.
5. Untuk memeriksa apakah terhadap barang-barang yang rusak (defective), bergerak lambat
(s/ow moving) dan ketinggalan mode (absolescence) sudah dibuatkan allowance yang
cukup.
6. Untuk mengetahui apakah ada persediaan yang dijadikan jaminan kredit.
7. Untuk mengetahui apakah persediaan diasuransikan dengan nilai pertanggungan yang
cukup.
8. Untuk mengetahui apakah ada perjanjian pembelian/penjualan persediaan (purchasel
sales commitment) yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap laporan keuangan,
9. Untuk memeriksa apakah penyajian persediaan dalam laporan keuangan sudah sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.
Walaupun tujuan-tujuan audit yang disebutkan di atas diarahkan terutama atas
eksistensi dan valuasi persediaan dalam neraca, tetapi auditor harus selalu ingat bahwa audit
terhadap akun persediaan yang dilakukannya harus berhubungan dengan harga pokok
penjualan dan akun-akun terkait lainnya dalam laporan laba rugi.

PROSEDUR AUDIT PERSEDIAAN


Prosedur pemeriksaan dibagi atas prosedur compliance test, analytical review dan
substantive test. Dalam praktiknya, prosedur pemeriksaan yang dibahas di sini harus
disesuaikan dengan kondisi perusahaan yang diaudit.
Prosedur pemeriksaan persediaan mencakup pembelian, penyimpanan, pemakaian dan
penjualan persediaan, karena berkaitan dengan siklus pembelian, utang dan pengeluaran kas
serta siklus penjualan, piutang dan penerimaan kas.
Prosedur pemeriksaan untuk compliance test.
1. Pelajari dan evaluasi internal control atas persediaan.
1. Dalam hal ini auditor biasanya menggunakan internal control questionnaires,
yang contohnya bisa dilihatdi Exhibit 11-1.
2. Lakukan test transaksi (compliance test} atas pembelian dengan menggunakan
purchase order sebagai sample. Untuk test transaksi atas pemakaian persediaan
(bahan baku) bisa digunakan material requisition sebagai sample. Untuk test
transaksi atas penjualan, bisa digunakan faktur penjualan sebagai sample.
3. Tarik kesimpulan mengenai infernal control atas persediaan.
Jika dari test transaksi auditor tidak menemukan kesalahan yang berarti, maka auditor
bisa menyimpulkan bahwa inte rnal control atas persediaan berjalan efektif. Karena itu
substantive test atas persediaan bisa dipersempit.

Prosedur pemeriksaan substantive atas persediaan.


1. Lakukan observasi atas stock opname (perhitungan phisik) yang dilakukan perusahaan
(klien).
2. Minta Final Inventory List [Inventory Compilation) dan lakukan prosedur pemeriksaan
berikut ini:
check mathematical accuracy (penjumlahan dan perkalian).
cocokkan quantity per book dengan stock card.
cocokkan quantity per count dengan count sheet kita (auditor)
cocokkan total value dengan buku besar persediaan.
1. Kirimkan konfirmasi untuk persediaan consignment out.
2. Periksa unit price dari raw material (bahan baku), work in process (barang dalam proses),
finished goods (barang jadi) dan supplies (bahan pembantu).
3. Lakukan rekonsiliasi jika stock opname dilakukan beberapa waktu sebelum atau sesudah
tanggal neraca.
4. Periksa cukup tidaknya allowance for slow moving (barang-barang yang bergerak
lambat), barang-barang yang rusak dan barang-barang yang ketinggalan mode.
5. Periksa kejadian sesudah tanggal neraca (subsequent event).
6. Periksa cut-off penjualan dan cut-off pembehan.
7. Periksa jawaban konfirmasi dari bank, loan agreement (perjanjian kredit), notulen rapat,
8. Periksa apakah ada sates atau purchase commitment per tanggal neraca.
9. Seandainya ada barang dalam perjalanan (goods in transit), lakukan prosedur berikut ini:
minta rincian goods in transit per tanggal neraca.
periksa mathematical accuracy,
periksa subsequent clearance.
1. Buat kesimpulan dari hasil pemeriksaan persediaan dan buat usulan adjustment jika
diperlukan.
2. Periksa apakah penyajian persediaan di laporan keuangan sudah sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.

Aktiva Tetap
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2002, Nomor 16.2 Paragraf 05) Aktiva tetap adalah
aktiva tetap berwujud yang digunakan dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih
dahulu yang digunakan dalam operasi perusahaan. Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam
rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.

Penggolongan Aktiva Tetap


Aktiva tetap yang dimiliki perusahaan banyak jenisnya, untuk tujuan akuntansi maka
perlu penggolongan aktiva tetap sesuai dengan kebutuhan dan fungsi masing-masing.
Menurut Harahap (2002:22) : Penggolongan aktiva tetap dibagi menjadi berbagai
sudut, antara lain :
1. Sudut Substansi, aktiva tetap dapat dibagi:
a. Tangible Assets atau aktiva berwujud seperti lahan, mesin, gedung, dan peralatan.
b. Intangible Assets atau aktiva yang tidak berwujud seperti HGU, GB, Goodwill-
Pattens, Copyright, Hak Cipta, Franchise, dan lain-lain.
2. Sudut Disusutkan atau Tidak:
a. Depreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap yang dapat disusutkan seperti bangunan,
peralatan, mesin, inventaris, dan lain-lain.
b. Undepreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap yang tidak disusutkan seperti tanah.
3. Berdasarkan jenis dapat dibagi sebagai berikut:
a. Lahan
Lahan adalah bidang tanah terhampar baik yang merupakan tempat bangunan maupun
yang masih kosong. Dalam akuntansi apabila ada lahan yang didirikan bangunan di atasnya
harus dipisahkan pencatatannya dari lahan itu sendiri.
b. Bangunan Gedung
Gedung adalah bangunan yang terdiri di atas bumi ini baik di atas tanah/ air.
Pencatatannya harus terpisah dari lahan yang menjadi lokasi gedung itu.
c. Mesin
Mesin termasuk peralatan-peralatan yang menjadi bagian dari mesin yang
bersangkutan.
d. Kendaraan
Semua jenis kendaraan seperti alat pengangkutan, truk, traktor, mobil, kendaraan roda
dua, dan lain-lain.
e. Perabot
Dalam jenis ini termasuk perabot kantor, perabot laboraturium, perabot pabrik yang
merupakan isi dari suatu bangunan.
f. Peralatan
Peralatan yang dianggap merupakan alat-alat besar yang digunakan dalam
perusahaan seperti inventaris kantor, inventaris pabrik, inventaris laboraturium, inventaris
gudang, dan lain-lain.
g. Prasarana
Di Indonesia merupakan kebiasaan bahwa perusahaan membuat klasifikasi khusus
prasarana seperti jalan, jembatan, roil, pagar, dan lain-lain.

Menurut Harnanto (2002:314) : Penggolongan aktiva tetap di bagi menjadi tiga


kelompok atau bagian yaitu :
1. Aktiva tetap berwujud yang umur atau masa kegunaannya tidak terbatas. Termasuk
dalam kelompok ini adalah tanah yang dipakai sebagai tempat kedudukan bangunan
pabrik, bangunan gedung, dan bangunan kantor.
2. Aktiva berwujud yang umur atau masa kegunaannya terbatas, dan dapat diganti dengan
aktiva sejenis apabila masa kegunaan telah berakhir. Termasuk dalam kelompok ini
adalah bangunan, mesin dan alat pabrik, mebel dan perlengkapan kantor, dan
kendaraan.
3. Aktiva tetap yang umur dan masa kegunaannya terbatas, dan tidak dapat diganti dengan
aktiva sejenis apabila masa kegunaannya telah habis. Termasuk dalam kelompok ini
adalah sumber alam, seperti tambang.

Prosedur Audit Aktiva Tetap


Prosedur audit pengujian substantif terhadap saldo aktiva tetap:
1. Prosedur audit awal
Auditor melakukan rekonsiliasi antara informasi aktiva tetap yang di cantumkan di
neraca dengan catatan akuntansi pendukungnya. Rekonsiliasi ini perlu dilakukan agar auditor
memperoleh suatu keyakinan yang memadai bahwa informasi aktiva tetap yang dicantumkan
di neraca didukung dengan catatan akuntansi yang dapat dipercaya oleh karena itu auditor
melakukan 6 prosedur audit sebagai berikut yang akan diuji lebih lanjut:
1) Usut saldo aktiva tetap yang tecantum di dalam neraca ke saldo akun aktiva tetap
bersangkutan di buku besar;
2) Hitung kembali saldo aktiva tetap di buku besar;
3) Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting
dalam aktiva tetap serta hitung akumulasi penyusutan aktiva tetap tersebut;
4) Usut saldo akun aktiva tetap ke kertas kerja tahun lalu;
5) Usut posting pendebetan dan pengkreditan ke dalam jurnal yang bersangkutan;
6) Lakukan rekonsiliasi akun kontrol terhadap aktiva tetap dalam buku besar ke buku
pembantu aktiva tetap.

2. Prosedur analitik
Prosedur analitik antara lain:
1) Hitung rasio:
a. Tingkat perputaran aktiva tetap
b. Laba bersih dengan aktiva tetap
c. Aktiva tetap ke modal saham
d. Biaya reparasi dan pemeliharaan dengan aktiva tetap
2) Lakukan analisis hasil prosedur analitik dengan harapan dari dasarkan pada data
masa lalu baik data anggaran maupun data realisasi.

3. Prosedur pengujian terhadap transaksi rinci


1) Periksa tambahan aktiva tetap ke dokumen yang mendukung timbulnya transaksi
tersebut;
2) Periksa berkurangnya aktiva tetap ke dokumen yang mendukung timbulnya
transaksi tersebut;
3) Lakukan pemeriksaan pisah batas (cut off) transaksi aktiva tetap;
4) Lakukan review terhadap akun biasa maintanance maupun biaya reparasi.

4. Prosedur pengujian terhadap saldo akun rinci


1) Lakukan inspeksi atau peninjauan terjadap aktiva tetap;
a. Lakukan inspeksi terhadap tambahan aktiva tetap
b. Lakukan penyelidikan dan sesuaikan jika terjadinya perbedaan
c. Periksa dokumen yang mendukung pembayaran dan pembelian aktiva tetap
setelah tanggal neraca
2) Periksa bukti hak kepemilikan aktiva tetap dan kontrak yang mendukung
penggunaan aktiva tetap tersebut;
3) Lakukan review terhadap penyusutan aktiva tetap.

5. Prosedur verifikasi penyajian dan pengungkapan


Bandingkan penyajian aktiva tetap dengna prinsip aktiva yang diterima umum:
1) Periksa klasifikasi aktiva tetap di neraca;
2) Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan aktiva tetap.
PENGERTIAN PIUTANG USAHA
Menurut Donald E. Keiso (2004:386), piutang adalah klaim uang, barang, jasa kepada
pelanggan atau pihak pihak lainnya. Sedangkan menurut Sukrisno Agoes, (2004:173),
piutang usaha adalah piutang yang berasal dari penjualan barang dagangan atau jasa secara
kredit.Piutang timbul dari beberapa jenis transaksi, di mana yang paling umum ialah dari
penjualan barang atau jasa secara kredit. Kredit dapat diberikan dalam bentuk perkiraan
terbuka atau berdasarkan instrumen kredit yang sahih, yang disebut surat promes (wesel).
Surat promes (promissory note), yang sering disebut wesel (nota), adalah janji tertulis untuk
membayar sejumlah uang tertentu atas permintaan atau pada suatu tanggal yang telah
ditetapkan.

KLASIFIKASI PIUTANG
Piutang dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Piutang usaha
a) Piutang dagang
b) Piutang jasa
2) Piutang non usaha
a) Piutang karyawan
b) Piutang deviden
c) Piutang pendapatan yang masih harus diterima
d) Piutang klaim asuransi
e) Piutang wesel
f) Piutang lain-lain

TUJUAN AUDIT PIUTANG


Menurut Sukrisno Agoes (2004:173), tujuan audit atas piutang antara lain :
1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengendalian intern (internal control) yang baik atas
piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas.
2. Untuk memeriksa validity (keabsahan) dan authenticity (ke otentikan) dari pada piutang.
3.Untuk memeriksa collectibility (kemungkinan tertagihnya) piutang dan cukup tidaknya
perkiraan allowance for bad debts (penyisihan piutang tak tertagih)
4. Untuk mengetahui apakah ada kewajiban bersyarat (contingent liability) yang timbul
karena pendiskontoan wesel tagih (notes receivable)
5. Untuk memeriksa apakah penyajian piutang di neraca sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia/Standar Akuntansi Keuangan.

PROSEDUR AUDIT ATAS PIUTANG


Menurut Sukrisno Agoes (2004:176), prosedur audit piutang usaha antara lain :
1. Pelajari dan evaluasi internal control atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan
penerimaan.
2. Buat Top Schedule dan Supporting Schedule piutang pertanggal neraca.Minta aging
shedule dari piutang usaha pertanggal neraca yang antara lain menunjukkan nama pelanggan
(customer), saldo piutang, umur piutang dan kalau bisa subsequent collections-nya.
3. Periksa mathematical accuracy-nya dan check individual balance ke subledger lalu totalnya
ke general ledger.
4. Test check umur piutang dari beberapa customer ke subledger piutang dan sales invoice.
5. Kirimkan konfirmasi piutang:
(1) Tentukan dan tuliskan dasar pemilihan pelanggan yang akan dikirim surat
konfirmasi.
(2) Tentukan apakah akan digunakan konfirmasi positif atau konfirmasi negatif.
(3) Cantumkan nomor konfirmasi baik di schedule piutang maupun di surat
konfirmasi.
(4) Jawaban konfirmasi yang berbeda harus diberitahukan kepada klien untuk dicari
perbedaannya.
(5) Buat ikhtisar (summary) dari hasil konfirmasi
6. Periksa subsequent collections dengan memeriksa buku kas dan bukti penerimaan kas
untuk periode sesudah tanggal neraca sampai mendekati tanggal penyelesaian pemeriksaan
lapangan (audit field work). Perhatikan bahwa yang dicatat sebagai subsequent
collectionshanyalah yang berhubungan dengan penjualan dari periode yang sedang diperiksa.
7. Periksa apakah ada wesel tagih (notes receivable) yang didiskontokan untuk mengetahui
kemungkinan adanya contingent liability.
8. Periksa dasar penentuan allowance for bad debts dan periksa apakah jumlah yang
disediakan oleh klien sudah cukup, dalam arti tidak terlalu besar dan terlalu kecil.
9. Test sales cut-of dengan jalan memeriksa sales invoice, credit note dan lain-lain, lebih
kurang 2 (dua) minggu sebelum dan sesudah tanggal neraca. Periksa apakah barang-barang
yang dijual melalui invoice sebelum tanggal neraca, sudah dikirim per tanggal neraca. Kalau
belum cari tahu alasannya. Periksa apakah ada faktur penjualan dari tahun yang diperiksa,
yang dibatalkan dalam periode berikutnya.
10. Periksa notulen rapat, surat-surat perjanjian, jawaban konfirmasi bank, dan
correspondence file untuk mengetahi apakah ada piutang yang dijadikan sebagai jaminan.
11. Periksa apakah penyajian piutang di neraca dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia/SAK
12. Tarik kesimpulan mengenai kewajaran saldo piutang yang diperiksa.