Está en la página 1de 17

ABSTRAK

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang masih tinggi prevalensinya di
dunia. Laporan WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa pada tahun 2002
tercatat ada 8,8 juta kasus TB baru dimana 3,9 juta adalah kasus dengan BTA positif.
Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis.
Sebagian besar kasus dan angka kematian tertinggi didapatkan di negara yang sedang
berkembang dengan jumlah kasus terbanyak ditemukan di Asia Tenggara, yaitu 33% dari seluruh
kasus TB di dunia, dengan penduduk usia produktif (20-49 tahun) sebagai korban terbanyak.

Situasi TB di dunia maupun di Indonesia pada khususnya saat ini semakin memburuk, jumlah
kasus TB meningkat dan banyak yang tidak dapat disembuhkan walaupun pengobatan TB yang
efektif sudah tersedia, sehingga tidaklah mengherankan apabila sampai saat ini TB tetap menjadi
problem kesehatan dunia yang utama. Alasan utama munculnya atau meningkatnya beban TB
global adalah :

1. Kemiskinan pada berbagai penduduk, tidak hanya pada negara berkembang tetapi juga
pada penduduk perkotaan tertentu di negara maju.
2. Adanya perubahan demografik dengan meningkatnya penduduk dunia dan perubahan
struktur usia manusia.
3. Perlindungan kesehatan yang tidak mencukupi pada kelompok penduduk yang rentan
terutama di negara-negara miskin.
4. Tidak memadainya pendidikan TB pada tenaga medis setempat.
5. Terlantar dan kurangnya biaya untuk obat, sarana diagnostik, dan pengawasan kasus TB,
disertai deteksi dan tatalaksana kasus yang tidak adekuat.
6. Adanya perkembangan epidemik HIV. Munculnya pandemik HIV/AIDS di dunia
menambah permasalahan TB secara signifikan. Pada saat yang sama, kekebalan ganda
kuman terhadap obat anti TB (multi drug resistance =MDR) semakin menjadi masalah.
Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemik TB yang sulit
untuk disembuhkan.

Di Indonesia, TB merupakan salah satu masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah penderita
TB di Indonesia merupakan urutan ke-3 untuk tingkat prevalensi TB tertinggi di dunia setelah
China dan India. Apabila jumlah kasus ketiga negara tersebut dijumlahkan maka didapatkan
estimasi 10% dari total penderita TB didunia. Pada tahun 1998 diperkirakan jumlah kasus TB
yang ada di Indonesia adalah sekitar 591.000 kasus dengan 266.000 kasus BTA
positif. Tuberculosis sendiri masih merupakan pembunuh nomor satu di Indonesia diantara
penyakit menular lainnya dan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan
penyakit pernafasan akut pada seluruh kelompok umur. Prevalensi nasional terakhir, TB paru
diperkirakan sekitar 0,24%. Sampai sekarang angka kejadian tersebut relatif terlepas dari angka
pandemi infeksi HIV karena masih relatif rendahnya infeksi HIV, tetapi hal ini mungkin akan
bisa berubah di masa mendatang mengingat semakin meningkatnya laporan infeksi HIV dari
tahun ke tahun.

Tuberkulosis didefinisikan sebagai suatu penyakit infeksi kronik


yang disebabkan oleh kuman TB, yaitu Mycobacterium tuberculosis. Penularan TB biasanya
terjadi melalui inhalasi kuman basil yang terkandung dalam droplet nuclei, sehingga TB paru
merupakan manifestasi klinik yang paling sering ditemui dibandingkan dengan TB pada organ
tubuh lain, seperti kelenjar getah bening, selaput otak, tulang, ginjal, maupun saluran kencing.
Sumber penularan pada TB adalah penderita TB dengan batuk darah atau berdahak yang
didapatkan mengandung basil tahan asam (BTA positif). Faktor yang memungkinkan seorang
terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan droplet nuclei dalam udara, lamanya
terpapar di udara, daya tahan tubuh seseorang, serta keadaan nutrisi. Lingkungan hidup yang
sangat padat dan pemukiman perkotaan yang kurang bersih kemungkinan besar mempermudah
proses penularan serta berperan serta dalam peningkatan jumlah kasus TB.

Mendiagnosis kasus TB ditetapkan berdasarkan anamnesis dalam metode wawancara,


pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang diagnosis berupa sputum BTA, radiologi, serta
kultur dari sputum. Penderita TB biasanya diklasifikasikan berdasarkan hasil pemeriksaan
sputum BTA (penderita BTA positif dan negatif) serta berdasarkan tipe penderita (kasus baru,
relaps, putus obat, gagal obat, kasus kronik, dan kasus bekas TB).
Gejala klinis TB dapat dibagi dua, yaitu gejala lokal sesuai organ yang terkena, umumnya organ
paru berupa gejala respiratorik pada kasus TB paru serta gejala sistemik. Gejala respiratorik yang
terjadi sangat bervariasi dari mulai tidak ada gejala gangguan pernapasan sampai yang cukup
berat tergantung luas daerah lesi. Gejala respiratorik biasanya berupa batuk dari lebih atau sama
dengan dua minggu, batuk darah, sesak nafas, serta nyeri dada. Sedangkan gejala sistemik
(sirkulasi umum) yang muncul biasanya berupa demam subfebris (panas badan sumer-sumer),
malaise (mudah lelah, kecapekan), keringat malam, anoreksia (tidak adanya keinginan makan
dan minum), dan penurunan berat badan.

Pada pemeriksaan fisik biasanya ditemui konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia,
suhu tubuh demam, badan kurus atau berat badan menurun. Untuk pemeriksaan fisik khusus,
acapkali kelainan yang ditemukan tergantung dengan luas kelainan struktur paru yang terkena.
Pemeriksaan penunjang darah kurang mendapat perhatian, karena hasilnya kadang meragukan,
tidak sensitif dan tidak spesifik.
Pemeriksaan radiologis berupa rontgen dada merupakan standar
pemeriksaan untuk menemukan lesi tuberculosis yang umumnya lokasinya ditemukan pada
apeks paru (segmen lobus atas), tetapi dapat juga mengenai lobus bawah atau didaerah hilus
yang menyerupai tumor paru. Pemeriksaan sputum adalah yang terpenting karena dengan
ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberculosis sudah dapat ditegakkan. Disamping itu,
pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah
diberikan. Pemeriksaan ini mudah dan murah sehingga dapat dikerjakan di lapangan. Tetapi
kadang-kadang tidak mudah untuk mendapat sputum, terutama pasien yang tidak batuk atau
batuk non produktif. Cara pengambilan sputum dilakukan tiga kali dengan pembagian sewaktu,
pagi, dan sewaktu.

Secara umum, pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,


mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan, dan mencegah terjadinya resistensi
kuman. Prinsip pengobatan pada penyakit TB (baik TB pada paru maupun TB ekstra paru)
berupa terapi farmakologis dengan dua kategori OAT (Obat Anti Tuberculosis), terapi suportif,
serta terapi pembedahan. Tatalaksana pengobatan TB pada keadaan khusus, misalnya klien
dengan HIV/AIDS adalah sama seperti pasien lainnya, tidak ada perbedaan dari segi efektifitas
OAT dan harus selalu diingat untuk mendahulukan pengobatan TB disertai penerapan Universal
Precaution. Pemberian OAT pada sebagian orang bisa menimbulkan efek samping yang dapat
mengganggu proses pengobatan. Efek samping yang terjadi ringan dan berat seperti gatal,
sindrom flu, mual, tidak nafsu makan, kaki kesemutan, gangguan kesimbangan, gangguan
penglihatan, sampai terjadi hepatitis imbas pemberian obat.

Penyakit TB paru yang tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi dini dan
lanjut. Komplikasi dini yang dapat terjadi seperti pleuritis (radang selaput pembungkus paru),
efusi pleura (cairan luar paru), empiema (nanah luar paru), laringitis (infeksi tenggorokan),
dengan komplikasi lanjutan berupa obstruksi jalan nafas, kerusakan parenkim, gagal nafas,
korpulmonale (gagal jantung kanan), dan karsinoma paru (tumor ataupun kanker).

Penyakit TB paru adalah penyakit TB yang paling sering ditemui dan merupakan penyakit
menular yang dapat dicegah dan diobati, sehingga deteksi dini dan penanganan yang
komprehensif sangat penting untuk mendapatkan pengobatan yang optimal. Mengingat
pemberian OAT memerlukan jangka waktu yang lama serta efek samping yang bisa terjadi,
edukasi terhadap penderita dan keluarganya memiliki peran penting untuk mendapatkan
pengobatan yang optimal. Tak lupa bahwa aspek yang terpenting adalah pencegahan dengan
menjaga kondisi kesehatan, memperbaiki hygienis pribadi dan lingkungan, mendapatkan
profilaksis TB, menggunakan masker jika diperlukan dan edukasi yang berkesinambungan.
Rujukan Pustaka :

1. Amin Z, Bahar A. Tuberkulosis Paru. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,


Simadibrata M, Setiati S. editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. edisi keempat. Jakarta.
Pusat penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2006. hal. 998-1003.
2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan
penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta. 2006.
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis. edisi kedua. Jakarta. 2006.
4. http://www.who.int/topics/tuberculosis/en/
5. http://www.who.int/tb/challenges/hiv/en/index.html
6. http://en.wikipedia.org/wiki/Tuberculosis
7. http://whqlibdoc.who.int/hq/1996/WHO_TB_96.200_SEA.pdf
8. http://www.stoptb.org/events/world_tb_day/2009/

*Bahan Ini Disampaikan Pada Diskusi Bulanan Yakita, 21 Nopember 2009

********

Filed under: Medical Corner | Tagged: basil tahan asam, bukan batuk biasa, Mycobacterium
tuberculosis, tb paru

Rayakan Hari AIDS Sedunia 2009 Dengan Menciptakan Akses Untuk Semua Penatalaksanaan
Kusta di Indonesia

2 Responses

1.

Cahya, on 4 December 2009 at 7:54 AM Said:

Belakangan ini malah jadi seperti emerging disease, entah bagaimana ke depannya. Apa
karena lingkungan yang semakin rusak? Atau karena belum efektifnya penanganan yang
ada saat ini.

Reply

pramesemara, on 19 January 2010 at 2:17 AM Said:


Bener bg ada fenomena unit dgn boomingnya emerging disease disertai
bangkitnya re-emerging disease.penyebab yg utama krn manusia itu sendiri yg
merusak lingkungannya.Rusaknya keseimbangan segit

Latar belakang
Micobacterium tuberculosis (TB) telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia, menurut WHO sekitar 8 juta
penduduk dunia diserang TB dengan kematian 3 juta orang per tahun (WHO, 1993). Di negara berkembang
kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan
95% penderita TB berada di negara-negara berkembang Dengan munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia jumlah
penderita TB akan meningkat. Kematian wanita karena TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan,
persalinan serta nifas (WHO). WHO mencanangkan keadaan darurat global untuk penyakit TB pada tahun 1993
karena diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB.
Di Indonesia TB kembali muncul sebagai penyebab kematian utama setelah penyakit jantung dan saluran
pernafasan. Penyakit TB paru, masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hasil survey kesehatan rumah
tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukkan bahwa tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah
penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada semua golongan usia dan nomor I dari golongan
infeksi. Antara tahun 1979 ? 1982 telah dilakukan survey prevalensi di 15 propinsi dengan hasil 200-400 penderita
tiap 100.000 penduduk.
Diperkirakan setiap tahun 450.000 kasus baru TB dimana sekitar 1/3 penderita terdapat disekitar puskesmas, 1/3
ditemukan di pelayanan rumah sakit/klinik pemerintahd an swasta, praktek swasta dan sisanya belum terjangku
unit pelayanan kesehatan. Sedangkan kematian karena TB diperkirakan 175.000 per tahun.
Penyakit TB menyerang sebagian besar kelompok usia kerja produktif, penderita TB kebanyakan dari kelompok
sosio ekonomi rendah. Dari 1995-1998, cakupan penderita TB Paru dengan strategi DOTS (Directly Observed
Treatment Shortcourse Chemotherapy) -atau pengawasan langsung menelan obat jangka pendek/setiap hari- baru
mencapai 36% dengan angka kesembuhan 87%. Sebelum strategi DOTS (1969-1994) cakupannya sebesar 56%
dengan angka kesembuhan yang dapat dicapai hanya 40-60%. Karena pengobatan yang tidak teratur dan
kombinasi obat yang tidak cukup dimasa lalu kemungkinan telah timbul kekebalan kuman TB terhadap OAT (obat
anti tuberkulosis) secara meluas atau multi drug resistance (MDR).

Definisi :
Penyakit Tuberkulosis: adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium
Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
Kuman Tuberkulosis :
Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu taha terhadap asam pada pewarnaan, Oleh karena itu
disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant,
tertidur lama selama beberapa tahun.

Cara Penularan :
Sumber penularana adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman
keudara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada
suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran
pernapasan. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat
menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran linfe,saluran napas,
atau penyebaran langsung kebagian-nagian tubuh lainnya.
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin
tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak
negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.
Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup
udara tersebut.

Resiko Penularan :
Resiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi
dan berfariasi antara 1 ? 2 %. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %, berarti setiap tahun diantara 1000
penduduk, 10 (sepuluh) orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi
penderita TB, hanya 10 % dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TB. Dari keterangan tersebut diatas,
dapat diperkirakan bahwa daerah dengan ARTI 1 %, maka diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 100
(seratus) penderita tuberkulosis setiap tahun, dimana 50 % penderita adalah BTA positif. Faktor yang
mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita TB adalah daya tahan tubuh yang rendah; diantaranya
karena gizi buruk atau HIV/AIDS.

Riwayat terjadinya Tuberkulosis

Infeksi Primer :
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil
ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di
alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan
diri di Paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran linfe akan membawa kuma TB ke kelenjar
linfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai
pembentukan kompleks primer adalah 4 ? 6 minggu.
Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas
seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB.
Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-
kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan,
yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai
terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.

Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TB) :


Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya
karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis
pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.
Komplikasi Pada Penderita Tuberkulosis :
Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut :

Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok
hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas.
Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
Bronkiectasis dan Fibrosis pada paru.
Pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru.
Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya.
Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).
Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit.
Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk
darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT
tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simptomatis. Bila perdarahan berat, penderita harus dirujuk ke
unit spesialistik.

Perjalanan Alamiah TB yang Tidak Diobati :


Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50 % dari penderita TB akan meninggal, 25 % akan sembuh sendiri
dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 25 % sebagai ?kasus Kronik? yang tetap menular (WHO 1996).

Pengaruh Infeksi HIV :


Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular Immunity), sehingga jika
terjadi infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan
mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah penderita TB akan meningkat,
dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.
Gejala - gejala Tuberkulosis
Gejala Umum :
Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih.
Gejala Lain Yang Sering Dijumpai :
Dahak bercampur darah.
Batuk darah.
Sesak napas dan rasa nyeri dada.
Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam
walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.

Penemuan pederita Tuberkulosis (TB)


Penemuan Penderita Tuberkulosis Pada Orang Dewasa.
Penemuan penderita TB dilakukan secara Pasif, artinya penjaringan tersangka penderita dilaksanakan pada mereka
yang datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan. Penemuan secara pasif tersebut didukung dengan
penyuluhan secara aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan cakupan
penemuan tersangka penderita. Cara ini biasa dikenal dengan sebutan Passive Promotive Case Finding
Selain itu, semua kontak penderita TB paru BTA positif dengan gejala sama, harus diperiksa dahaknya. Seorang
petugas kesehatan diharapkan menemukan tersangka penderita sedini mungkin, mengingat tuberkulosis adalah
penyakit menular yang dapat mengakibatkan kematian.Semua tersangka penderita harus diperiksa 3 spesimen
dahak dalam waktu 2 hari berturut-turut, yaitu sewaktu ? pagi ? sewaktu (SPS).
Penemuan Penderita Tuberkulosis Pada Anak.
Penemuan penderita tuberkulosis pada anak merupakan hal yang sulit. Sebagian besar diagnosis tuberkulosis anak
didasarkan atas gambaran klinis, gambaran radiologis dan uji tuberkulin.

Diagnosis Tuberkulosis (TB)


Diagnosis Tuberkulosis Pada Orang Dewasa.
Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak
secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif.
Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau
pemeriksaan spesimen SPS diulang.
Kalau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita diidagnosis sebagai penderita TB BTA positif.
Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan lain, misalnya biakan.
Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain, misalnya biakan.
Bila tiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya kotrimoksasol atau Amoksisilin)
selama 1 ? 2 minggu. Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan
dahak SPS :
Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif.
Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemriksaan foto rontgen dada, untuk mendukung diagnosis TB.
- Bila hasil rontgen mendukung TB, diagnosis sebagai penderita TB BTA negatif rontgen positif.
- Bila hasil ropntgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB.

UPK yang tidak memiliki fasilitas rontgen, penderita dapat dirujuk untuk difoto rontgen dada.

ALUR DIAGNOSIS TUBERKULOSIS PARU PADA ORANG DEWASA


Di Indonesia, pada saat ini, uji tuberkulin tidak mempunyai arti dalam menentukan diagnosis TB pada orang
dewasa, sebab sebagian besar masyarakat sudah terinfeksi dengan Mycobacterium Tuberculosis Karena tingginya
prevalensi TB. Suatu uji tuberkulin positif hanya menunjukkan bahwa yang bersangkutan pernah terpapar dengan
Mycobacterium Tuberculosis . Dilain pihak, hasil uji tuberkulin dapat negatif meskipun orang tersebut menderita
tuberkulosis. Misalnya pada penderita HIV / AIDS, malnutrisi berat, TB milier dan Morbili.

Refleksi Hari TBC Sedunia


Setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai hari Tuberkulosis (TBC) sedunia. Tahun ini peringatan hari TBC sedunia
bertemakan "Every Breath Counts, Stop TB Now!". Tema ini menekankan pada kata "breath" yang tidak hanya
berarti pernapasan, tetapi juga merupakan pusat dari segala aktivitas manusia. Sehingga, rusaknya "breath"
karena TBC akan mengakibatkan rusaknya segala aktivitas manusia. Tema ini sekali lagi mengingatkan kita akan
bahaya TBC dan urgensi pemberantasannya. Dalam rangka memperingati hari TBC ini juga dilakukan "2nd Stop
TBC Partners", forum dan kampanye Stop TBC untuk 2004-2005 yang diselenggarakan di New Delhi.

Pembunuh massal
Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan TBC adalah
bekteri pembunuh massal. WHO memperkirakan bakteri ini membunuh sekitar 2 juta jiwa setiap tahunnya. Antara
tahun 2002-2020 diperkirakan sekitar 1 miliar manusia akan terinfeksi. Dengan kata lain pertambahan jumlah
infeksi lebih dari 56 juta tiap tahunnya. Biasanya 5-10 persen di antara infeksi berkembang menjadi penyakit, dan
40 persen di antara yang berkembang menjadi penyakit berakhir dengan kematian.
Jika dihitung, pertambahan jumlah pasien TBC akan bertambah sekitar 2,8-5,6 juta setiap tahun, dan 1,1-2,2 juta
jiwa meninggal setiap tahun karena TBC. Perkiraan WHO, yakni 2 juta jiwa meninggal tiap tahun, adalah
berdasarkan perhitungan ini. Angka ini adalah angka yang besar, karena 2-4 orang terinfeksi setiap detik, dan
hampir 4 orang setiap menit meninggal karena TBC ini. Kecepatan penyebaran TBC bisa meningkat lagi sesuai
dengan peningkatan penyebaran HIV/AIDS dan munculnya bakteri TBC yang resisten terhadap obat.
Selain itu migrasi manusia juga mempercepat penyebaran TBC. Di Amerika Serikat, hampir 40 persen dari
penderita TBC adalah orang yang lahir di luar negeri. Mereka imigrasi ke Amerika dan menjadi sumber penyebaran
TBC. Begitu juga dengan meningkatnya jumlah pengungsi akibat perang dengan lingkungan yang tidak sehat
sehingga memudahkan penyebaran TBC. Diperkirakan sebanyak 50 persen dari pengungsi di dunia berpeluang
terinfeksi TBC.
Di kawasan Asia Tenggara, data WHO (http:www.whosea.org) menunjukan bahwa TBC membunuh sekitar 2.000
jiwa setiap hari. Dan sekitar 40 persen dari kasus TBC di dunia berada di kawasan Asia Tenggara. Dua di antara
tiga negara dengan jumlah penderita TBC terbesar di dunia, yaitu India dan Indonesia, berada di wilayah ini.
Indonesia berada di bawah India, dengan jumlah penderita terbanyak di dunia, diikuti Cina di peringkat kedua.
Dibandingkan dengan penyakit menular lainnya, TBC juga menjadi pembunuh nomor satu di kawasan ini, di mana
jumlahnya 2-3 kali jumlah kematian yang disebabkan oleh HIV/AIDS yang berada di peringkat kedua. Sementara
itu, penyakit tropis seperti demam berdarah dengue (DBD) tidak sampai sepersepuluhnya. Kita bisa
membayangkan betapa seriusnya masalah TBC ini.
Karena itu, perlu kita sadari kembali bahwa TBC adalah penyakit yang sangat perlu mendapat perhatian untuk
ditanggulangi. Karena bakteri mycobacterium tuberculosis sangat mudah menular melalui udara pada saat pasien
TBC batuk atau bersin, bahkan pada saat meludah dan berbicara. Satu penderita bisa menyebarkan bakteri TBC ke
10-15 orang dalam satu tahun.
Berdasarkan data Rumah Sakit "Prof DR Sulianti Saroso" (http:www.infeksi.com), di Indonesia tiap tahun terdapat
583 ribu kasus dan 140 ribu di antaranya meninggal dunia. Jika dihitung, setiap hari 425 orang meninggal akibat
TBC di Indonesia. Kalau 1 orang pasien bisa menularkan ke 10 orang, pada tahun berikutnya jumlah yang tertular
adalah 5,8 juta orang. Karena itu, jelaslah bahwa TBC adalah pembunuh massal yang harus diberantas.

Terapi TBC
Karena yang menjadi sumber penyebaran TBC adalah penderita TBC itu sendiri, pengontrolan efektif TBC
mengurangi pasien TBC tersebut. Ada dua cara yang tengah dilakukan untuk mengurangi penderita TBC saat ini,
yaitu terapi dan imunisasi. Untuk terapi, WHO merekomendasikan strategi penyembuhan TBC jangka pendek
dengan pengawasan langsung atau dikenal dengan istilah DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse
Chemotherapy). Dalam strategi ini ada tiga tahapan penting, yaitu mendeteksi pasien, melakukan pengobatan, dan
melakukan pengawasan langsung.
Deteksi atau diagnosa pasien sangat penting karena pasien yang lepas dari deteksi akan menjadi sumber
penyebaran TBC berikutnya. Seseorang yang batuk lebih dari 3 minggu bisa diduga mengidap TBC. Orang ini
kemudian harus didiagnosa dan dikonfirmasikan terinfeksi kuman TBC atau tidak. Sampai saat ini, diagnosa yang
akurat adalah dengan menggunakan mikroskop. Diagnosa dengan sinar-X kurang spesifik, sedangkan diagnosa
secara molekular seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) belum bisa diterapkan.
Jika pasien telah diidentifikasi mengidap TBC, dokter akan memberikan obat dengan komposisi dan dosis sesuai
dengan kondisi pasien tersebut. Adapun obat TBC yang biasanya digunakan adalah isoniazid, rifampicin,
pyrazinamide, streptomycin, dan ethambutol. Untuk menghindari munculnya bakteri TBC yang resisten, biasanya
diberikan obat yang terdiri dari kombinasi 3-4 macam obat ini.
Dokter atau tenaga kesehatan kemudian mengawasi proses peminuman obat serta perkembangan pasien. Ini
sangat penting karena ada kecendrungan pasien berhenti minum obat karena gejalanya telah hilang. Setelah
minum obat TBC biasanya gejala TBC bisa hilang dalam waktu 2-4 minggu. Walaupun demikian, untuk benar-benar
sembuh dari TBC diharuskan untuk mengkonsumsi obat minimal selama 6 bulan. Efek negatif yang muncul jika
kita berhenti minum obat adalah munculnya kuman TBC yang resisten terhadap obat. Jika ini terjadi, dan kuman
tersebut menyebar, pengendalian TBC akan semakin sulit dilaksanakan.
DOTS adalah strategi yang paling efektif untuk menangani pasien TBC saat ini, dengan tingkat kesembuhan
bahkan sampai 95 persen. DOTS diperkenalkan sejak tahun 1991 dan sekitar 10 juta pasien telah menerima
perlakuan DOTS ini. Di Indonesia sendiri DOTS diperkenalkan pada tahun 1995 dengan tingkat kesembuhan 87
persen pada tahun 2000 (http:www.who.int). Angka ini melebihi target WHO, yaitu 85 persen, tapi sangat
disayangkan bahwa tingkat deteksi kasus baru di Indonesia masih rendah. Berdasarkan data WHO, untuk tahun
2001, tingkat deteksi hanya 21 persen, jauh di bawah target WHO, 70 persen. Karena itu, usaha untuk medeteksi
kasus baru perlu lebih ditingkatkan lagi.

Imunisasi
Pengontrolan TBC yang kedua adalah imunisasi. Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyaki
TBC. Vaksin TBC, yang dikenal dengan nama BCG terbuat dari bakteri M tuberculosis strain Bacillus Calmette-
Guerin (BCG). Bakteri ini menyebabkan TBC pada sapi, tapi tidak pada manusia. Vaksin ini dikembangkan pada
tahun 1950 dari bakteri M tuberculosis yang hidup (live vaccine), karenanya bisa berkembang biak di dalam tubuh
dan diharapkan bisa mengindus antibodi seumur hidup. Selain itu, pemberian dua atau tiga kali tidak berpengaruh.
Karena itu, vaksinasi BCG hanya diperlukan sekali seumur hidup. Di Indonesia, diberikan sebelum berumur dua
bulan.
Imunisasi TBC ini tidak sepenuhnya melindungi kita dari serangan TBC. Tingkat efektivitas vaksin ini berkisar
antara 70-80 persen. Karena itu, walaupun telah menerima vaksin, kita masih harus waspada terhadap serangan
TBC ini. Karena efektivitas vaksin ini tidak sempurna, secara global ada dua pendapat tentang imunisasi TBC ini.
Pendapat pertama adalah tidak perlu imunisasi. Amerika Serikat adalah salah satu di antaranya. Amerika Serikat
tidak melakukan vaksinasi BCG, tetapi mereka menjaga ketat terhadap orang atau kelompok yang berisiko tinggi
serta melakukan diagnosa terhadap mereka. Pasien yang terdeteksi akan langsung diobati. Sistem deteksi dan
diagnosa yang rapi inilah yang menjadi kunci pengontorlan TBC di AS.
Pendapat yang kedua adalah perlunya imunisasi. Karena tingkat efektivitasnya 70-80 persen, sebagian besar
rakyat bisa dilindungi dari infeksi kuman TBC. Negara-negara Eropa dan Jepang adalah negara yang menganggap
perlunya imunisasi. Bahkan Jepang telah memutuskan untuk melakukan vaksinasi BCG terhadap semua bayi yang
lahir tanpa melakukan tes Tuberculin, tes yang dilakukan untuk mendeteksi ada-tidaknya antibodi yang dihasikan
oleh infeksi kuman TBC. Jika hasil tes positif, dianggap telah terinfeksi TBC dan tidak akan diberikan vaksin.
Karena jarangnya kasus TBC di Jepang, dianggap semua anak tidak terinfeksi kuman TBC, sehingga diputuskan
bahwa tes Tuberculin tidak perlu lagi dilaksanakan.
Bagaimana dengan Indonesia? Karena Indonesia adalah negara yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak,
agaknya masih perlu melaksanakan vaksinasi BCG ini. Dengan melaksanakan vaksinasi ini, jumlah kasus dugaan
(suspected cases) jauh akan berkurang, sehingga memudahkan kita untuk mendeteksi pasien TBC, untuk
selanjutnya dilakukan terapi DOTS untuk pasien yang terdeteksi. Kedua pendekatan, yaitu vaksinasi dan terapi
perlu dilakukan untuk memberantas TBC dari bumi Indonesia.
: Andi Utama (Peneliti Puslit Bioteknologi-LIPI dan Pemerhati Masalah Kesehatan)

PERANGI TBC :
10 HAL TENTANG TBC DAN PENANGGULANGANNYA.
10 FAKTA PENTING MENGENAI SITUASI TBC DI INDONESIA
Tiap tahun terdapat 583.000 kasus TBC di Indonesia
Secara nasional, TBC ?membunuh? kira-kira 140.000 orang setiap tahun
Setiap hari 425 orang meninggal akibat TBC di Indonesia.
Indonesia merupakan ?penyumbang? kasus TBC ke-3 di Dunia, setelah RRC dan India.
Tingkat resiko untuk terserang TBC di Indonesia berkisar antara 1,7 % - 4,4 % ( menurut data 1972-1987 ).
Sekitar pasien TBC di Indonesia tergolong dalam usia produktif.
Tahun 1995, pemerintah Indonesia mulai mengadopsi starategi DOTS (Directly Observed Tratment Short-Course)
untuk menanggulangi TBC.
Tahun 1996, obat TBC di Puskesmas diberikan dalam bentuk Kombipak.
Tahun 1999 merupakan dimulainya era penting dalam penanggulangan TBC di Indonesia, karena dibentuknya
GERDUNAS-TBC (Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TBC) yang merupakan wujut nyata kemitraan dengan
berbagai sektor yang terkait dalam penanggulangan TBC di Indoensia.
Penelitian ekonomi kesehatan di Indonesia menemukan bahwa jika pengobatan dapat diterapkan secara dini,
setiap US$ 1 yang untuk program penanggulangan TBC, maka akan dapat menghemat US$ 55 dalam waktu 20
tahun.

10 FAKTA PENTING MENGENAI TBC


Tiap tahun selalu terdapat peningkatan jumlah penderita TBC yang tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
TBC membunuh lebih banyak kaum muda dan wanita dibandingkan penyakit menular lainnya.
Terdapat sekitar 2 sampai 3 juta orang meninggal akibat TBC setiap tahun. Sesungguhnya setiap kematian akibat
TBC itu bisa dihindari.
Setiap detik, ada 1 orang yang meninggal akibat tertular TBC.
Setiap 4 detik, ada yang sakit akibat tertular TBC.
Setiap tahun. 1 % dari seluruh populasi di seluruh dunia terjangkit oleh penyakit TBC.
Sepertiga dari jumlah penduduk di dunia ini sudah tertular oleh kuman TBC (walaupun) belum terjangkit oleh
penyakitnya.
Penderita TBC yang tidak berobat dapat menularkan pentakit kepada sekitar 10 ? 15 orang dalam jangka waktu 1
tahun.
Seperti halnya flu, kuman TBC menyebar di udara pada saat seseorang yang menderita TBC batuk dan bersin,
meludah atau berbicara.
Kuman TBC biasanya menyerang paru-paru.

10 FAKTA PENTING MENGENAI TBC & PERPINDAHAN PENDUDUK


Sekitar 50 % dari jumlah pengungsi di seluruh dunia kemungkinan telah tertular TBC, Setiap tahunnya, lebih dari
17.000 orang pengungsi menderita sakit akibat TBC.
Populasi pengungsi menghadapi peningkatan masalah akibat TBC; jumlah pengungsi dan pelarian di seluruh dunia
telah berlipat 9 kali selama 20 tahun terakhir.
Penderita TBC yang tidak dirawat dapat menyebarkan penyakitnya secara cepat, terutama di lingkungan
penampungan dan kamp pengungsi, Amatlah sulit memberikan perawatan TBC bagi penduduk yang berpindah-
pindah.
WHO merekomendasikan bahwa TBC harus menjadi prioritas utama, sesegera mungkin setelah fase darurat bagi
para pengungsi itu berlalu.
Turisme, perjalanan antar-negara dan migrasi menunjang terjadinya penyebaran kuman TBC.
Di banyak negara industri maju, paling tidak setengah dari jumlah kasus TBC, ditemukan pada orang-orang yang
lahir di negara lain.
Di Amerika Serikat, 1/3 dari jumlah kasus TBC, ditemukan pada orang yang tempat kelahirannya bukan di AS
Jumlah kasus TBC di AS diantara orang-orang yanglahirnya bukan di AS, senantiasa meningkat setiap tahun.
Kaum gelandangan di negara maju merupakan golongan yang resiko tertular TBC-nya semakin meningkat.
Pada tahun 1995, dilaporkan bahwa hampir 30 % dari populasi gelandangan di San Francisco (AS) dan sekitar 25
% dari populasi gelandangan di London (Inggris) telah tertular oleh kuman TBC ? jauh lebih tinggi daripada rata-
rata nasional di kedua negara tersebut.

10 FAKTA PENTING MENGENAI TBC & PEREMPUAN


TBC merupakan penyakit menular paling ganas yang menyerang dan membunuh kaum perempuan.
Lebih dari 900 juta wanita di seluruh dunia tertular oleh kuman TBC. 1 juta diantaranya akan meninggal dan 2,5
juta akan segera menderita penyakit tersebut pada tahun ini, Perempuan yang menderita TBC ini berusia antara
15 ? 44 tahun.
TBC merupakan penyakit pembunuh yang paling mematikan bagi perempuan muda usia.
TBC memiliki andil sekitar 9 % dari kematian berusia 15-44 tahun, dibandingkan penyebab kematian lainnya
(akibat perang:4%,HIV:3%,dan penyakit jantung:3 % ).
Perempuan dalam usia reproduksi lebih rentan terhadap TBC dan lebih mungkin terjangkit oleh penyakit TBC
dibandingkan pria dari kelompok usia yang sama.
Wanita pada kelompok usia reproduksi juga beresiko lebih tinggi terhadap penuaran HIV.
Di sebagian negara Afrika, jumlah perempuan yang terjangkit TBC lebih besar dibandingkan jumlah penderita pria.
TBC menyebabkan jumlah kematian lebih besar bagi wanita dibandingkan kematian akibat melahirkan.
Di beberapa bagian dunia, stigma atau rasa malu akibat TBC menyebabkan terjadinya isolasi, pengucilan dan
perceraian bagi kaum wanita.
Di beberapa bagian dunia, pergerakan kaum perempuan sedang mengusahakan adanya upaya lebih baik
penanggulangan penyakit TBC.

APAKAH DOTS ITU ?


DOTS atau kependekan dari Directly Observed Treatment, Short-course adalah strategi penyembuhan TBC jangka
pendek dengan pengawasan secara langsung.
Dengan menggunakan startegi DOTS, maka proses penyembuhan TBC dapat secara cepat.
DOTS menekankan pentingnya pengawasan terhadap penderita TBC agar menelan obatnya secara teratur sesuai
ketentuan sampai dinyatakan sembuh.
Strategi DOTS memberikan angka kesembuhan yang tinggi, bisa sampai 95 %. Startegi DOTS direkomendasikan
oleh WHO secara global untuk menanggulangi TBC.

Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen, yaitu :


o Adanya komitmen politis dari pemerintah untuk bersungguh-sungguh menanggulangi TBC.
o Diagnosis penyakit TBC melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopis
o Pengobatan TBC dengan paduan obat anti-TBC jangka pendek, diawasi secara langsung oleh PMO (Pengawas
Menelan Obat).
o Tersedianya paduan obat anti-TBC jangka pendek secara konsisten.
o Pencatatan dan pelaporan mengenai penderita TBC sesuai standar.

Bank dunia menyatakan strategi DOTS merupakan strategi kesehatan yang paling ?cost effective?.
Bangladesh : Dengan strategi DOTS, angka kesembuhan mampu mencapai sekitar 80 %.
Maldives : Angka kesembuhan mencapai angka sekitar 85 % berkat strategi DOTS.
Nepal : Setelah menggunakan DOTS, angka kesembuhan mencapai 85 % - sebelumnya hanya mencapai 50 %.
RRC : Tingkat kesembuhan mencapai 90 % dengan DOTS.

Tanggal dibuat : 22/03/2005 . 08:32


Revisi terakhir : 03/02/2007 . 12:23
Kategori : PENYAKIT
Halaman pernah dibaca 154278 kali

Berbicara soal penyakit TBC di Indonesia agaknya masih belum basi. Masalah penyakit

TBC di mana-mana dunia demikian majemuknya sehingga buat kita di negara yang masih

banyak tertinggal, juga dalam bidang kesehatan, harus diakui masih tetap belum kunjung tuntas

terselesaikan. Bukan saja ihwal pencapaian keberhasilan upaya pengobatannya semata, terlebih

upaya mencegahnya pun kita masih lemah.

Penanggulangan penyakit TBC tak cukup hanya perihal ketersediaan obat. Tak pula

cukup soal kerterjangkauan, dan bagaimana kemudahan obat didapat. Terlebih apakah obat tertib
dikonsumsi untuk waktu yang tidak pendek. Angka kepatuhan minum obat menentukan

kesembuhan pasien, sekaligus keberhasilan menekan angka TBC nasional. Dan ini satu yang

masih menjadi kendala kita.

Lebih dari itu, urusan TBC tak selesai hanya dengan obat. Faktor pendukung lain,

termasuk apakah asupan menu harian pengidapnya sudah cukup bergizi? Memadaikah

kandungan menu berprotein, terutama protein hewani, yang berasal dari susu, daging, dan telur?

Dan satu yang jangan boleh dilupakan, apakah kondisi rumah sudah menunjang kesembuhan

pasien juga.

Cukup memadaikah ventilasi, pencahayaan matahari, dan lantai yang seharusnya bebas

dari dahak, serta senantiasa terjaga kebersihannya. Kondisi lemahnya ekonomi rata-rata keluarga

pasien merupakan penghambat lain dalam menyelesaikan jangkitan selain tetap membengkaknya

kasus lama TBC di Indonesia. Cemaran basil TBC dari dahak masih mengancam masyarakat kita

sehingga angka kejadian TBC masih terbilang tinggi.

Cukup banyak pengidap TBC kita yang gagal diobati, dan berkeliaran di sekitar kita,

mengancam siapa saja termasuk usia kanak-kanak. Kita tahu kelompok kanak-kanak tergolong

rentan tertular TBC. Di tempat-tempat publik, seperti di dalam bus kota, kereta api, kendaraan

umum, pasar, bioskop. puskesmas, dan rumah sakit sendiri, kebanyakan masyarakat, termasuk

kelompok anak-anak, bertemu dengan pengidap TBC yang membawa basil di paru-parunya, siap

menyebarkannya ke lingkungan sekitarnya. Bisa jadi mereka kasus TBC yang tak tersentuh

pengobatan sehingga berpotensi menjadi sumber penular lewat dahak, batuk dan bersinnya ke

udara sekitar.
Bersama dahak penderita TBC yang dibuang sembarangan, basil TBC mungkin saja

mencemari lantai gedung bioskop, trotoar kota, atau di lingkungan sekolah sendiri, kalau bukan

di sekitar rumah penderita. Dahak berbasil TBC yang mengering kemudian terbang ke udara siap

mencemari paru-paru orang di sekitarnya. Dan ini masih menjadi sisi masalah TBC kita. Dahak

TBC masih diludahkan sembarangan. Dan ini merupakan sumber penularan TBC yang perlu

disingkirkan.

Ekonomi keluarga penderita TBC yang papa, berpendidikan rendah, menu bergizi

rendah, dan kemudahan serta keterjangkauan dalam berobat, menjadi rantai masalah yang mesti

diputus. Untuk itu perlu ikut campur bukan saja pihak layanan medik, terlebih kondisi otonomi

daerah sendiri kini dituduh mengendurkan perhatian pemerintah terhadap upaya meredam

masalah TBC di Indonesia. Ketika target MDGs sudah disusun dan diikrarkan, kita sendiri masih

terengah-engah mengejar ketertinggalan bagaimana bisa kuat menekan angka TBC kita yang

masih tergolong buruk.

Buku bertajuk Ancaman TBC pada Anak Indonesia seperti yang sedang Anda baca ini,

salah satu bentuk sumbangsih untuk banyak pihak di negeri kita. Buku yang ingin membantu

semua orang memahami sekaligus mendorong untuk menolong diri sendiri ketika pemerintah

saja ternyata tak cukup perkasa mengatasi masalah TBC di negeri seluas ini.

Keluarga dengan TBC, apalagi jika diidap pihak kepala keluarga sebagai pencari nafkah,

melemahkan pendapatan keluarga sekaligus kualitas hidup semua anggota keluarga. TBC

sekadar diidap oleh kelompok anak saja pun sudah menurunkan kualitas hari depan keluarga.

Mengapa?
Oleh karena penyakit TBC menghambat bukan saja pertumbuhan anak, melainkan juga

laju perkembangannya. Anak dengan TBC tak sempurna tumbuh-kembangnya. Barang tentu ada

yang kurang, ada yang hilang, ada yang tak memadai dari yang seharusnya anak bakal menjadi.

Hal ini mestinya tak boleh terjadi, karena sejatinya jangkitan TBC bisa dicegah.

Buku karya dr. Genis Ginanjar ini cukup komprehensif mengupas semua seluk-beluk

permasalahan TBC bukan saja yang memprihatinkan di Indonesia, melainkan yang menjadi

urusan global juga. Bagi banyak pihak, kehadiran buku ini membukakan alasan tambahan,

bahwa penyakit TBC bukan urusan kecil buat bangsa kita. Dampak sosialnya melebar ke mana-

mana.

Bahwa untuk menciptakan manusia unggul sebagaimana cita-cita MDGs, seperti

disinggung dalam buku ini, perencanaan setiap keluarga hendaknya sudah harus diawali sejak

anak masih di kandungan mula. Bagaimana agar setiap balita tidak sampai terjangkit TBC

dengan cara mudah dan murah.

Kelemahan yang acap terjadi karena pendidikan kita rata-rata belum optimal

memberdayakan masyarakat buat mampu hidup sehat, dan mampu terbebas dari terjangkit TBC.

Termasuk menjadikan setiap ibu mampu memikul mandat membesarkan anak dengan benar.

Penyuluhan kesehatan kita juga tidak bertambah nyaring dari waktu ke waktu. Itu maka

kesadaran masyarakat untuk minta divaksinasi TBC sebagai cara paling mudah dan murah

mencegahnya, juga tidak sepenuhnya tumbuh. Padahal sudah disebut, masyarakat kita masih

sangat terancam tertular basil TBC dari sanitasi yang masih buruk oleh dahak berbasil TBC yang

tercecer di mana-mana.
Menjadi terjangkit TBC gara-gara abai pada imbauan bagaimana mudah dan murah

mencegahnya, patutlah disesalkan, dan perlu diperbaiki. Masyarakat tak mengira dampak buruk

TBC bisa sejauh itu bagi negara selain buat keluarga juga. Buku ini ingin mengingatkannya.

Bahwa bagi orang dewasa, TBC menurunkan produktivitas. Bagi anak, berpotensi menunrunkan

kualitas sumber daya manusia kelak. Maka jika yang keliru itu terus dibiarkan berkembang,

angka kualitas hidup kita masih terus sukar untuk bangkit.

Sekali lagi kehadiran buku ini memberi sumbangsih besar buat banyak pihak. Bagaimana

setiap keluarga dibukakan mata untuk abai pada urusan TBC di negerinya. Abai terhadap

masalah TBC bukan saja akan merugikan pasien dan keluarga yang tertimpa, melainkan juga

terhadap nasib bangsa juga. Masyarakat perlu diberi tahu untuk mampu terhindar dari penularan

dan terjangkit TBC yang sebetulnya tak perlu terjadi itu.

Dr. Genis Ginanjar sebagai penulis buku ini ingin membantu agar urusan TBC di

Indonesia, terhadap kelompok anak-anak khususnya, harus dilihat sebagai bagian terpenting dari

terciptanya anak bangsa yang berkualitas, melihat begitu luas aspek TBC yang dikupasnya.

Mudah-mudahan kehadiran buku ini menjadikan masalah TBC ke depan bukan lagi perongrong

bagi anak-anak Indonesia.

Kita menginsafi, sebagian besar permasalahan kenapa TBC sukar sekali diselesaikan,

lebih lantaran lemahnya komunikasi, informasi, dan edukasi yang disampaikan kepada

masyarakat. Kuatnya informasi dan edukasi seperti yang sedang diusung buku ini, saya percaya
bakal besar peranannya buat ikut meningkatkan kualitas bangsa sejak masih di awal usia kanak-

kanak mula.

Semoga saja akan begitu jadinya.