Está en la página 1de 60

BAB I

PENDAHULUAN

A. latar Belakang

Tujuan pembangunan kesehatan yang telah tercantum pada Sistem

Kesehatan Nasional adalah suatu upaya penyelenggaraan kesehatan yang

dilaksanakan oleh bangsa Indonesia guna mendapatkan kemampuan hidup

sehat bagi setiap masyarakat agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang

optimal yang mana dikatakan bahwa peningkatan derajat kesehatan

masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu lingkungan, pelayanan

kesehatan, tindakan serta bawaan (congenital). Hidup sehat merupakan hak

yang dimilki oleh setiap manusia yang ada didunia ini, akan tetapi diperlukan

berbagai cara untuk mendapatkannya (Anonim, 2010).

Menurut UU No 36 Tahun 2009 kesehatan merupakan hak asasi

manusia dan sekaligus investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa.

Untuk itu diselenggarakan pembangunan kesehatan secara menyeluruh dan

berkesinambungan, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan,

dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan

masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai sinvestasi bagi pembangunan

sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Untuk

mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat,

diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dalam bentuk upaya kesehatan

perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat.

1
Beberapa macam metode kontrasepsi yang dapat digunakan adalah

metode sederhana, hormonal, kontrasepsi tanpa hormonal, kontrasepsi dalam

rahim dan kontrasepsi mantap (Saifuddin, 2009). Salah satu kontrasepsi yang

paling diminati sekarang adalah kontrasepsi hormonal, yaitu obat yang

mengandung preparat estrogen dan progesterone. Kontrasepsi hormonal

tersedia dalam sejumlah bentuk yang berbeda yaitu pil, suntikan,

implan(varney, 2012). Salah satu Kontrasepsi hormonal adalah jenis suntik 1

bulan dan 3 bulan. Dan yang sering dipakai 1 bulan karena mempunyai

keunggulan utama adalah kesederhanaan cara pemberian serta durasi kerja

yang lama(Anna, 2012). Akan tetapi tidak jarang Akseptor KB 1 bulan

mengeluhkan berbagai efek samping dari KB suntik tersebut diantaranya

adalah penambahan Berat badan. Pertambahan berat badan sebenarnya ini

jarang disebabkan oleh progesteron dosis rendah, tetapi mungkin menjadi

masalah bagi sebagian kecil pemakai estrriol dan turunan progesterone.

Pertambahan ringan sebesar 1-2 kg sering kemudian menjadi stabil setelah

pemakaian dilanjutkan tetapi sejumlah kecil wanita terus mengalami

pertambahan berat badan moderat selama mereka memakai metode tersebut.

Mekanisme utama tampaknya adalah peningkatan nafsu makan disertai

peningkatan penimbunan simpanan lemak, walaupun mungkin juga terdapat

efek anabolik ringan (Anna, 2012).

Menurut data tahun 2010 jumlah Akseptor KB di Puskesmas

lamongan sebanyak 1499 0rang, 760 (50,71%) diantaranya menggunakan KB

suntik. Sedangkan di BPS Ny. Yuliana Kabupaten lamongan jumlah akseptor

2
KB 105 orang, 63 (60%) diantaranya menggunakan KB suntik, dari jumlah

tersebut 18 (28,57%) menggunakan KB suntik 3 bulan dan 45 (71,42%)

menggunakan suntik 1 bulan. Berdasarkan data survey awal yang dilakukan

penelitian pada tanggal 29 oktober 2011 dari 15 akseptor KB suntik 1 bulan

didapatkan data 10 (66,67%) menyatakan mengalami penambahan Berat

badan atau tambah gemuk. Dari jumlah tersebut, 7 (70%) orang menyatakan

berat badanya meningkat setelah pemakaian lebih dari satu tahun dan 3 (30%)

orang menyatakan berat badanya meningkat setelah pemakaian kurang dari

satu tahun dengan Rata-rata kenaikan berat badanya mencapai 2,3 kg. Dari

data tersebut didapatkan bahwa banyak akseptor KB yang mengalami

kenaikan berat badan setelah pemakaian KB suntik 1 bulan.

Faktor yang mempengaruhi perubahan berat badan akseptor KB

suntik adalah adanya hormon progesteron yang kuat sehingga merangsang

hormon nafsu makan yang ada di hipotalamus. Dengan adanya nafsu makan

yang lebih banyak dari biasanya tubuh akan kelebihan zat gizi. Kelebihan gizi

oleh hormon progesteron dirubah menjadi lemak dan disimpan di bawah kulit.

Perubahan berat badan ini akibat adanya penumpukan lemak yang berlebih

hasil sintesa dari karbohidrat menjadi lemak (Mansjoer, 2013).

Kegemukan atau bertambahnya berat badan akseptor KB suntik selain

disebabkan oleh faktor hormonal juga disebabkan faktor yang lain diantaranya

yaitu faktor genetik, faktor lingkungan, faktor psikis, faktor obat-obatan, dan

aktivitas fisik (Anna, 2005). Kegemukan cenderung diturunkan, sehingga

diduga memiliki penyebab genetik, terapi anggota keluarga tidak hanya berbagi

3
gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong

terjadinya kegemukan.

Faktor lingkungan (perilaku/gaya hidup) juga memegang peranan yang cukup

berarti. Faktor psikis merupakan apa yang ada dalam pikiran seseorang bisa

mempengaruhi kebiasaan makan karena banyak orang yang memberikan reaksi

terhadap emosinya dengan makan. Obat-obatan tertentu (misalnya steroid dan

beberapa anti depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan. Aktifitas

fisik yang kurang kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari

meningkatnya angka kejadian obesitas. Seseorang cenderung yang

mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak memerlukan aktifitas fisik yang

seimbang akan mengalami obesitas atau kegemukan. Dengan penimbunan

lemak yang berlebihan dari pada yang diperlukan untuk fungsi tubuh akan

membawa dampak atau merupakan faktor resiko untuk terjadinya berbagai

jenis penyakit degeneratif, seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung

koroner, reumatik, dan berbagai jenis penyakit keganasan (kanker) dan

gangguan kesehatan lain (Arif mansjoer, 2010).

Metode suntikan KB telah menjadi bagian gerakan keluarga berencana

nasional serta peminatnya makin bertambah. Tingginya minat pemakai

suntikan KB oleh karena aman, sederhana, efektif, tidak menimbulkan

gangguan, dan dapat dipakai pada pascapersalinan (Manuaba,2010).

Tingginya minat pemakai suntikan KB di Indonesia dapat dilihat dari evaluasi

hasil pencapaian program keluarga berencana nasional. Jumlah peserta baru

KB suntik di Jawa Timur pada Tahun 2011 mencapai 695.296 peserta atau

4
sudah melebihi target yang telah ditentukan yaitu sebesar 662.100 peserta.

Sedangkan di Surabaya sendiri jumlah peserta baru KB suntik pada ahun

2011mencapai 52.118 peserta atau 60,61% dari seluruh metode kontrasepsi. Ini

menunjukkan bahwa alat kontrasepsi suntik masih menjadi favorit masyarakat

di Indonesia termasuk di Surabaya. (BKKBN, 2011).Namun, masih banyak

penggunaan alat kontrasepsi suntik yang salah atau tidak memperhatikan

aspek-aspek penting kontrasepsi suntik sehingga masih ada kejadian

kehamilan/komplikasi tidak tertangani pada akseptor KB suntik . Selain itu

juga masih banyak kejadian drop out pada akseptor KB, terutama KB

progestin, akibat adanya efek samping yang tidak dimengerti oleh akseptor.

Hal ini dapat diperbaiki dengan pemberian edukasi, konseling, dan peningkatan

keterampilan penyedia layanan, yang juga dapat meningkatkan penerimaan

akseptor terhadap alat kontrasepsi (Wulansari, Pita & Huriawati Hartanto,

2012). Oleh karena itu dibutuhkan asuhan kebidanan dan konseling yang tepat

untuk meminimalisir terjadinya kejadian yang tidak diinginkan dari pemakaian

kontrasepsiterutama kontrasepsi suntik progest

Saat ini banyak sekali pasangan yang ingin mengatur jumlah anak dan jarak

kehamilan tetapi mereka tidak mau menggunakan kontrasepsi. Alasannya

sangat beragam, yaitu mulai takut gemuk jika menggunakanKontrasepsisuntik,

takut perdarahan jika menggunakan IUD, takut sulit hamil lagi jika sudah

berhentiKontrasepsidan penolakan dari suami jika menggunakan kondom

dengan alasan kenikmatan berkurang (Anggraini, 2009).

5
Keputusan Presiden nomor 20 tahun 2000 tentang Badan Koordinasi

Keluarga Berencana Nasional (BK KONTRASEPSIN), secara tegas

menggariskan bahwa program Keluarga Berencana Nasional dan

Pembangunan Keluarga Sejahtera dimaksudkan untuk mempercepat

terwujudnya keluarga yang berkualitas, maju, mandiri, dan sejahtera yaitu

Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (BK KONTRASEPSIN, 2001).

Tujuan ini adalah salah satu visi dan misi yang mendukung keberhasilan

program keluarga berencana nasional untuk mewujudkan keluarga yang

berkualitas tahun 2015 (Anggraeni M.D. dan Hartati, 2009).

Pemilihan jenis Kontrasepsi yang digunakan oleh wanita biasanya

mempertimbangkan pengaruh metode tersebut terhadap fungsi reproduksi

sekaligus kesejahteraan umum. Salah satu alasan penghentian atau perubahan

penggunaanKontrasepsi adalah efek samping yang dirasakan. Sampai saat ini

tidak ada satupun alatKontrasepsiyang bebas dari kegagalan, efek samping

serta komplikasi.Kontrasepsisuntik merupakan metode yang paling disukai

masyarakat. Adapun alasan utama digunakannya suntik karena mempunyai

kemanjuran yang tinggi, mudah mendapatkannya dan penggunaannya efektif.

Sampai saat ini belum tersedia satu metodeKontrasepsiyang benar-benar 100%

ideal atau sempurna (Hartanto, 2003 dalam Anggraini, 2009).

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 dilaksanakan

oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Badan Kependudukan

dan Keluarga Berencana Nasional (BKKONTRASEPSIN) dan Kementerian

Kesehatan ditemukan data pemakaian alatKontrasepsipada wanita kawin

6
kelompok umur 15-19 tahun dan 45-49 tahun lebih rendah dibandingkan

mereka yang berumur 20-44 tahun. Wanita muda cenderung untuk memakai

alat Kontrasepsi modern jangka pendek seperti suntikan dan pil

KONTRASEPSI, sementara mereka yang lebih tua cenderung untuk memakai

Kontrasepsi jangka panjang seperti IUD dan sterilisasi wanita.

PenggunaanKontrasepsiantara tahun 1991 sampai 2012. Terlihat adanya

peningkatan dalam angka prevalensiKontrasepsidari 50 persen pada tahun 1991

menjadi 62 persen pada tahun 2012 (BPS, 2013).

Metode suntik mempunyai angka kegagalan secara teori 0,25 % dan

mempunyai efek samping gangguan haid, berat badan bertambah, sakit kepala

dan pada sistem kardio vaskuler efeknya sangat sedikit (Hartanto, 2003).

Walaupun mempunyai daya guna tinggi dan pelaksanaannya mudah,

Kontrasepsi suntikan mempunyai efek samping terutama mengganggu siklus

menstruasi (Anggraini, 2009). Fenomena yang timbul dari

pemberianKontrasepsi suntik adalah banyaknya keluhan dari akseptor tentang

terjadinya perubahan menstruasi yang tidak teratur, spoting, dan berat badan

naik (BKKONTRASEPSIN, 2005). Amenore yang lama dan perdarahan yang

lama merupakan sebab utama dari ketidakpuasan akseptor. Perdarahan ireguler

tersebut menyebabkan 20 25% akseptor menghentikan suntikannya

(Hartanto, 2013).

Data survey awal kunjungan peserta akseptor Kontrasepsi suntik di

RSUD Sam Ratulangi Tondano Minahasa sebanyak 189 orang. Hasil

wawancara awal dengan 6 ibu akseptor Kontrasepsi suntik, mengatakan bahwa

7
siklus menstruasi mengalami gangguan dimana tidak setiap bulan menstruasi,

adanya perdarahan sedikit-sedikit diluar siklus mentruasi. Hal ini membuat

ketidaknyamanan penggunaan bagi ibu yang menggunakanKontrasepsisuntik.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka penulis tertarik melakukan

penelitian dengan judul hubungan Penggunaan Kontrasepsi Suntik Satu

Bulan dan Tiga Bulan Dengan Perubahan Siklus Menstruasi Pada Wanita

Usia Subur Di RSUD Sam Ratulangi Tondano Minahasa.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah penelitian tersebut di atas maka dapat di

rumuskan adalah; Bagaimana hubungan penggunaan Kontrasepsi suntik satu

bulan dan tiga bulan dengan perubahan siklus menstruasi pada wanita usia

subur di RSUD Sam Ratulangi Tondano Minahasa?

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan umum

Mengetahui hubungan penggunaan Kontrasepsi suntik satu bulan dan tiga

bulan dengan perubahan siklus menstruasi pada wanita usia subur di RSUD

Sam Ratulangi Tondano Minahasa.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui perubahan siklus menstruasi pada penggunaan Kontrasepsi

Suntik satu bulan di RSUD Sam Ratulangi Tondano Minahasa

b. Mengetahui perubahan siklus menstruasi pada penggunaan Kontrasepsi

suntik tiga bulan di RSUD Sam Ratulangi Tondano Minahasa

8
c. Mengetahui hubungan penggunaan Kontrasepsi suntik satu bulan dan tiga

bulan dengan perubahan siklus menstruasi pada wanita usia subur di

RSUD Sam Ratulangi Tondano Minahasa

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai referensi untuk meningkatkan ilmu pengetahuan melalui

penelitian yang laian di masa yang akan dating

2. Instansi Tempat Penelitian

Sebagai data dasar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan terutama

dalam melakukan asuhan keperawatan pada wanita subur terutama

menggunakan kontrasepsi

3. Bagi Mahasiswa

Sebagai informasi dasar untuk penelitian berikutnya agar dapat

dikembangkan lebih luas serta dapat digunakan sebagai sumber informasi

ilmu pengetahuan, terutama informasi yang berhubungan dengan

penggunaan Kontrasepsi suntik pada wanita subur.

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kontrasepsi Suntik

1. Kontrasepsi Suntik

Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra

berarti melawan atau mencegah, sedangkan konsepsi adalah

pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma yang

mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah

menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya

pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Untuk itu, berdasarkan

maksud dan tujuan kontrasepsi, maka yang membutuhkan kontrasepsi

adalah pasangan yang aktif melakukan hubungan seks dan kedua-duanya

memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki kehamilan

(Suratun, 2008).

Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan.

Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen.

Penggunaan kontrasepsi merupakan variabel yang mempengaruhi fertilitas

(Prawirohardjo, 2005 B) Kontrasepsi atau antikonsepsi (conception

control) adalah cara untuk mencegah terjadinya konsepsi, alat atau obat-

obatan (Mochtar, 2012).

10
KONTRASEPSI adalah upaya yang dilakukan manusia untuk

mengatur secara sengaja kehamilan dalam keluarga secara tidak melawan

hukum dan moral Pancasila untuk kesejahteraan keluarga. Tujuan

Keluarga Berencana adalah membentuk keluarga bahagia dan sejahtera

sesuai dengan keadaan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara

pengaturan kelahiran anak, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan

ketahanan dan kesejahteraan keluarga agar dapat memenuhi kebuhan

hidupnya (Maritalia D., 2012).

a. Pengertian Kontrasepsi Suntik

Jenis Kontrasepsi kombinasi adalah 25 mg Depo Medroksi

progresteron Asetat dan 5 mg Estrogen Sipionat yang diberikan injeksi

I.M sebulan sekali (Cylofem) dan 50 mg Noretidron Enantat dan 5 mg

Estrodiol Valerat yang diberikan injeksi I.M. sebulan sekali (Arum

D.N.S. dan Sujiyatini, 2011).

Maritalia D. (2012), mengatakan bahwa Kontrasepsi suntik alat

Kontrasepsi yang digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan

dengan cara yang hampir sama dengan metode pil. Kontrasepsi suntik

atau injeksi adalah suntikan hormon yang mencegah kehamilan. Setiap

satu atau tiga bulan sekali, wanita yang memilih alat Kontrasepsi ini

harus bersedia siduntik dibokongnya untuk memasukan obat yang

berisi hormon estrogren dan progesterone.

Kontrasepsi suntik tersedia dalam dua pilihan, yaitu 1 bulan dan 3

bulan. Pada suntikan 1 bulan mengandung hormon yang lebih besar

11
dibandingkan suntikan 1 bulan, sehingga sering mengakibatkan

terhentinya siklus menstruasi yang biasanya terjadi sebulan sekali

(Nirwana A.B., 2011).

b. Jenis Kontrasepsi Suntik

Jenis Kontrasepsi suntik terdiri atas (Arum D.N.S. dan Sujiyatini,

2011):

1) Kontrasepsi Suntik 3 Bulan. Jenis Suntikan Kontrasepsi ini

mengandung hormon Depo Medroxyprogesterone Acetate

(hormon progestin) dengan volume 150 mg hormone progestin

menginduksi sintesis protein melalui reseptor intrasel. Alat

Kontrasepsi ini diberikan setiap 3 bulan atau 12 Minggu. Suntikan

pertama diberikan 7 hari pertama saat periode menstruasi Anda,

atau 6 minggu setelah persalinan. Jenis Suntikan Kontrasepsi ini

ada yang dikemas dalam cairan 1ml atau 3ml

2) Kontrasepsi Suntik 1 Bulan, adalah jenis Suntikan Kontrasepsi

yang diberikan 1 bulan sekali. Dengan pemberian suntikan pertama

sama dengan suntik 3 bulan, yaitu setelah 7 hari pertama periode

menstruasi, atau 6 minggu setelah melahirkan. Alat Kontrasepsi ini

mengandung kombinasi hormon Medroxyprogesterone Acetate

(hormon progestin) dan Estradiol Cypionate (hormon estrogen).

Hormone estrogen menginduksi sintesis protein spesifik melalui

efek androgen. (Belajar Mudah Farmakologi, EGC 2012).

12
c. Cara Kerja

Cara kerja Kontrasepsi suntik menurut Arum D.N.S. dan Sujiyatini

(2011).

1) Menekan ovaluasi

2) Membuat lendir serviks menjadi kental sehingga penetrasi sperma

terganggu

3) Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implantasi

terganggu

4) Menghambat transportasi

d. Efektifitas

Sangat efektif sebelum tahun pertama penggunaan (Arum D.N.S. dan

Sujiyatini, 2011).

e. KeuntunganKontrasepsi

Keuntungan Kontrasepsi suntik menurut Arum D.N.S. dan Sujiyatini

(2011), yaitu:

1) Risiko terhadap kesehatan kecil

2) Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri

3) Tidak perlu pemeriksaan dalam

4) Jangka panjang

5) Efek samping sangat kecil

Keuntungan Kontrasepsi suntik menurut Nirwana A.B. (2011), yaitu:

1) Dapat digunakan oleh ibu yang menyusui

2) Tidak perlu dikonsumsi setiap hari atau dipakai saat ingin

13
berhubungan intim

3) Darah mentruasi lebih sedikit dan mengurangi kram pada saat

menstruasi

f. Keuntungan Non Kontrasepsi

Keuntungan non Kontrasepsi menurut (Arum D.N.S. dan Sujiyatini,

2011), yaitu:

1) Mengurangi jumlah perdarahan

2) Mengurangi nyeri saat haid

3) Mencegah anemia

4) Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan kanker

endometrium

5) Mengurangi penyakit payudara jinak dan kista ovarium

6) Mencegah kehamilan ektropik

7) Melindungi klien dari jenis-jenis tertentu penyakit radang panggul

8) Pada keadaan tertentu dapat diberikan pada perempuan usia

perimenopause.

g. Kerugian

Kerugian Kontrasepsi suntik menurut Arum D.N.S. dan Sujiyatini,

(2011), yaitu:

1) Terjadi perubahan pada pola haid, seperti tidak teratur, perdarahan

bercak/spotting, atau perdarahan selang sampai 10 hari

2) Mual sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan seperti ini

akan hilang setelah suntikan kedua atau ketiga

14
3) Efektivitasnya berkurang bila digunakan bersamaan dengan obat-

obat

4) Dapat terjadi efek samping serius

5) Bercak- bercak cokelat di kulit

6) Penambahan berat badan

7) Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular

seks

8) Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah

penghentian pemakaian.

Kerugian Kontrasepsi suntik menurut Nirwana A.B. (2011), yaitu:

1) Dapat mengurangi siklus haid

2) Kekurangan suntik Kontrasepsi adalah dapat menyebabkan

kenaikan berat badan pada wanita

3) Tidak melindungi dari penyakit menular seksual.

2. Akseptor KB menurut sasarannya

Akseptor KB menurut sasarannya terbagi menjadi tiga fase yaitu

a. Fase menunda kehamilan

Masa menunda kehamilan pertama, sebaiknya dilakukan oleh pasangan

yang istrinya belum mencapai usia 20 tahun. Karena umur dibawah 20

tahun adalah usia yang sebaiknya tidak mempunyai anak dulu karena

berbagai alasan. Kriteria kontrasepsi yang diperlukan yaitu kontrasepsi

dengan pulihnya kesuburan yang tinggi, artinya kembalinya kesuburan

dapat terjamin 100%. Hal ini penting karena pada masa ini pasangan belum

15
mempunyai anak, serta efektifitas yang tinggi. Kontrasepsi yang cocok dan

yang disarankan adalah pil KB, AKDR dan cara sederhana.

b. Fase mengatur/menjarangkan kehamilan

Periode usia istri antara 20-30 tahun merupakan periode usia paling baik

untuk melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara kelahiran

adalah 24 tahun. Umur terbaik bagi ibu untuk melahirkan adalah usia

antara 20-30 tahun. Kriteria kontrasepsi yang perlukan yaitu : efektifitas

tinggi, reversibilitas tinggi karena pasangan masih mengharapkan punya

anak lagi, dapat dipakai 34 tahun sesuai jarak kelahiran yang

direncanakan, serta tidak menghambat produksi air susu ibu (ASI).

Kontrasepsi yang cocok dan disarankan menurut kondisi ibu yaitu : AKDR,

suntik KB, Pil KB atau Implan

c. Fase mengakhiri kesuburan/tidak hamil lagi

Sebaiknya keluarga setelah mempunyai 2 anak dan umur istri lebih dari 30

tahun tidak hamil lagi. Kondisi keluarga seperti ini dapat menggunakan

kontrasepsi yang mempunyai efektifitas tinggi, karena jika terjadi

kegagalan hal ini dapat menyebabkan terjadinya kehamilan dengan resiko

tinggi bagi ibu dan anak. Disamping itu jika pasangan akseptor tidak

mengharapkan untuk mempunyai anak lagi, kontrasepsi yang cocok dan

disarankan adalah metode kontap, AKDR, Implan, Suntik KB dan Pil KB

(Suratun, 2008).

d. Syarat-Syarat Kontrasepsi

Hendaknya Kontrasepsi memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

16
a. Aman pemakaiannya dan dapat dipercaya

b. Efek samping yang merugikan tidak ada

c. Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan

d. Tidak mengganggu hubungan persetubuhan

e. Tidak memerlukan bantuan medik atau kontrol yang ketat selama

pemakaiannya

f. Cara penggunaannya sederhana

g. Harganya murah supaya dapat dijangkau oleh masyarakat luas

h. Dapat diterima oleh pasangan suami istri (Mochtar, 2012).

Cara-cara kontrasepsi

Cara-cara kontrasepsi dapat dibagi menjadi beberapa metode :

a. Pembagian menurut jenis kelamin pemakai

1) Cara atau alat yang dipakai oleh suami (pria)

2) Cara atau alat yang dipakai oleh istri (wanita)

b. Menurut pelayanannya

1) Cara medis dan non-medis

2) Cara klinis dan non-klinis

c. Pembagian menurut efek kerjanya

1) Tidak mempengaruhi fertilitas

2) Menyebabkan infertilitas temporer (sementara)

3) Kontrasepsi permanen dengan infertilitas menetap

d. Pembagian menurut cara kerja alat/cara kontrasepsi

17
1) Menurut keadaan biologis: senggama terputus, metode kalender, suhu

badan dll

2) Memakai alat mekanis : kondom, diafragma,

3) Memakai obat kimiawi : spermisida

4) Kontrasepsi intrauterina : IUD

5) Hormonal : pil KB, suntikan KB, dan alat kontrasepsi bawah kulit

(AKBK)

6) Operatif : tubektomi dan vasektomi

f. Pembagian umum dan banyak dipakai adalah

1) Metode merakyat : senggama terputus, pembilasan pasca senggama,

perpanjangan masa laktasi

2) Metode tradisional : pantang berkala, kondom, diafragma dan spermisida

3) Metode modren a) Kontrasepsi hormonal : pil KB, suntik KB, alat

kontrasepsi bawah kulit.

b) Kontrasepsi intrauterina : IUD

4) Metode permanen operasi : tubektomi pada wanita dan vasektomi pada

pria (Mochtar, 2012).

2. Siklus Menstruasi

a. Pengertian

1) Siklus menstruasi adalah suatu daur kejadian yang terjadi pada

ovarium dimana menghasilkan perubahan bukan hanya pada

uterus, tetapi juga pada tubuh wanita saraca keseluruhan. Siklus ini

18
terutama diatus oleh kelenjar hipofisis anterior yang mengadakan

rangsangan pada gonad (Hani U. Dkk., 2010).

2) Mentruasi adalah pelepasan dinding rahim yang disertai dengan

perdarahan dan terjadi setiap bulannya. Menstruasi sebenarnya

merupakan gejala biologi yang alami, progresif dan positif sebagai

tanda dari kematangan seksual (Nirwana A.B., 2011)

3) Menstruasi adalah perdarahan periodik pada uterus yang dimulai

sekitar 14 hari setelah ovulasi (Hani U. Dkk., 2010)

b. Fase Dari Siklus Menstruasi

Seseorang wanita biasanya mengalami menstruasi pertama pada usia

13 tahun yang memadai telah masuk masa pubertas. Berdasarkan

perubahan pada endometrium, terdapat beberapa fase pada siklus

menstruasi (Hani U. Dkk., 2010), yaitu :

1) Fase Menstruasi

Dimulai sejak hari pertama pengeluaran darah menstruasi, biasanya

berlangsung 5-7 hari.

2) Fase Proliferasi

Berlangsung sekitar hari ke 5 sampai terjadinya ovulasi

3) Fase Ovulasi

Ada yang mengatakan bahwa fase ini merupakan bagian dari fase

proliferasi tetapi disebut ovulasi, biasanya terjadi 14 hari sebelum

menstruasi bulan berikutnya.

4) Fase Sekresi

19
Setelah terjadi ovulasi, maka foliker de Graff berubah menjadi

korpus luteum yang akan dipelihara oleh LH. Korpus ini akan

menghasilkan hormon progresteron dalam jumlah tinggi yang

berfungsi untuk membuat dinding endometrium sekret dan semakin

berkelok-kelok untuk memfasilitasi jika terjadi pembuahan sebagai

tempat nidasi hasil konsepsi.

c. Gangguan Menstruasi

1) Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya haid (hipermenoroe

atau menoraghia dan hipomenore)

2) Kelainan siklus mentrusi (polimenoroe, oligomenore dan amenore)

3) Perarahan diluar menstruasi (mentroragia)

4) Gangguan haid yang ada hubungan dengan menstruasi (ketegangan

prahid dan dismenore).

d. Perubahan Menstruasi Pada Kontrasepsi Suntik

Efek samping alat Kontrasepsi suntik banyak dijumpai di

masyarakat. Tidak sedikit dari akseptor alat Kontrasepsi suntik yang

menanyakan keluhan-keluhan atau efek samping alat Kontrasepsi

suntik, padahal mereka telah mengikuti atau menggunakan alat

Kontrasepsi suntik cukup lama. Penggunaan alat Kontrasepsi suntik

mempunyai efek samping di antaranya adalah perubahan siklus

menstruasi meliputi amenorea dan spotting, meningkatnya atau

menurunnya berat badan, mual, pusing, dan muntah (Abdul Bari

Saifuddin, 2012). Beberapa akseptor Kontrasepsi suntik sering

20
mengalami perubahan siklus menstruasi dan terjadi perdarahan sedikit-

sedikit (spoting). Kelainan menstruasi merupakan sebab utama dari

penghentian pemakaian Kontrasepsi suntik, keuntungan suatu metode

Kontrasepsi dapat mempengaruhi akseptor dalam pemakaian metode

kontrasepsi. Fenomena yang timbul dari pemberian Kontrasepsi suntik

adalah banyaknya keluhan dari akseptor tentang terjadinya perubahan

menstruasi yang tidak teratur, spoting, dan berat badan naik

(BKKONTRASEPSIN, 2012).

Tidak sedikit dari akseptor alat Kontrasepsi suntik yang

menanyakan keluhan-keluhan atau efek samping

alatKontrasepsisuntik, padahal mereka telah mengikuti atau

menggunakan alat Kontrasepsi suntik cukup lama. Penggunaan alat

Kontrasepsi suntik mempunyai efek samping di antaranya adalah

perubahan siklus menstruasi meliputi amenorea dan spotting,

meningkatnya atau menurunnya berat badan, mual, pusing, dan muntah

Amenorea dan Spotting ini terjadi terutama selama beberapa bulan

pertama pemakaian, tetapi hal ini bukanlah masalah serius, dan

biasanya tidak memerlukan pengobatan. Tetapi apabila spotting terus

berlanjut atau setelah tidak haid, namun kemudian terjadi perdarahan,

maka perlu dicari penyebab perdarahan itu. Perlu diingat bahwa

penyebab perdarahan abnormal pada para pemakai alat Kontrasepsi ini

sangat jarang dibandingkan dengan perdarahan di luar siklus dan

bercak darah atau spotting yang berkaitan dengan metode itu sendiri.

21
Terjadinya gangguan haid pada pemakaian Kontrasepsi steroid yang

hanya berisi preparat progesteron belum jelas, namum berbagai

penelitian menunjukan bahwa perubahan tersebut disebabkan oleh

karena terjadinya lonjakan-lonjakan estrogen secara sporadik dan

turunnya atau rendahnya kadar estrogen secara persisten. Secara

farmakologi medroxy progesterone acetate (MPA) akan langsung

diikat oleh reseptor progesteron di endometrium dan akan menghalangi

pengaruh estrogen pada endometrium, sehingga di tingkat perifer

keseimbangan pengaruh estrogenprogesteron akan terganggu (Abdul

Bari Saifuddin, 2012).

3. Wanita Usia Subur

Wanita usia subur ( WUS ) adalah wanita yang keadaan organ

reproduksinya berfungsi dengan baik antara umur 20-45 tahun. Pada

wanita usia subur ini berlangsung lebih cepat dari pada pria. Puncak

kesuburan ada pada rentang usia 20-29 tahun. Pada usia ini wanita

memiliki kesempatan 95% untuk hamil. Pada usia 30-an persentasenya

menurun hingga 90%. Sedangkan memasuki usia 40, kesempatan hamil

berkurang hingga menjadi 40%. Setelah usia 40 wanita hanya punya

maksimal 10% kesempatan untuk hamil. Masalah kesuburan alat

reproduksi merupakan hal yang sangat penting untuk diketahui. Dimana

dalam masa wanita subur ini harus menjaga dan merawat personal hygiene

yaitu pemeliharaan keadaan alat kelaminnya dengan rajin

22
membersihkannya oleh karena itu WUS dianjurkan untuk merawat diri

(Suparyanto, 2011).

B. FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN

KONTRASEPSI

1. Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil "tahu" dan ini terjadi setelah orang melakukan

pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui

panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa

dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh melalui mata dan

telinga (Notoatmojo, 2010).

Pengetahuan adalah merupakan hasil mengingat suatu hal, termasuk

mengingat kembali kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja

maupun tidak sengaja dan ini terjadi setelah orang melakukan kontak atau

pengamatan terhadap suatu obyek tertentu (Mubarok, dkk, 2007).

2. Tingkatan Pengetahuan

Menurut Rogers, pengetahuan di cakup di dalam domain kognitif 6

tingkatan (Notoatmojo, 2010), yaitu:

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari

sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat

kembali (recall) terhadap situasi yang sangat spesifik dari seluruh bahan

yang di pelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, ini

adalah merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.

23
b.Memahami (Comprehention)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi

tersebut secara benar.

c. Aplikasi (Application)

Aplikasi adalah kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari

pada situasi dan kondisi nyata. Aplikasi dapat diartikan sebagai

penggunaan hukum-hukum, rumus-rumus, metode-metode, prinsip dan

sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

d.Analisis (Analysis)

Suatu kemampuan menjabarkan materi atau kedalam komponen-

komponen tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut, dan masih ada

kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat diteliti dari

penggantian kata seperti dapat menggambarkan (menurut bagian),

membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

e. Sintesis (Syntesis)

Menunjukkan kepada suatu komponen untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam satu bentuk keseluruhan yang

baru. Merupakan kemampuan menyusun, merencanakan, meringkaskan,

menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan

yang ada.

24
f. Evaluasi (Evaluation)

Berkaitan dengan kemampuan melakukan justifikasi atau penelitian

terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian berdasarkan suatu

kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang

telah ada misalnya : dapat membandingkan antara anak-anak yang cukup

gizi dengan anak-anak yang kekurangan gizi.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Karena dari

pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh

pengetahuan akan lebih langgeng dibandingkan dengan perilaku yang

tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (2010) mengungkapkan

bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di

dalam diri seseorang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:

1) Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus objek.

2) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini

sikap subjek sudah mulai timbul.

3) Evalution (menimbang-nimbang) terhadap baik atau buruknya stimulus

tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik

lagi.

4) Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan

apa yang dikehendaki oleh stimulus.

25
5) Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus (Notoatmodjo,

2010).

2. Batasan Sikap

1.Pengertian

Sikap adalah merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup

terhadap suatu stimulus atau objek ( Notoatmojo, 2010).

2. Komponen Sikap

Menurut Azwar (2008) komponen sikap terdiri atas 3 bagian yang saling

menunjang yaitu :

a. Komponen kognitif, merupakan representasi apa yang dipercaya oleh

individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotipe

yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan

(opini) terutama apabila menyangkut masalah suatu problem yang

kontroversial.

b.Komponen afektif, merupakan perasaan yang menyangkut aspek

emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam

sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan

terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap

seseorang komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki

seseorang terhadap sesuatu.

c. Komponen konatif, merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu

sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang dan berisi tendensi atau

26
kecenderungan untuk betindak / bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-

cara tertentu serta berkait dengan objek yang dihadapinya adalah logis

untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan dalam

bentuk tendensi perilaku.

3.Tingkatan sikap

Sikap terdiri dari berbagai tingkatan, yakni (Azwar, 2008) :

a. Menerima (receiving)

menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan

stimulus yang diberikan (obyek).

b. Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan

tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap karena merupakan suatu

usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan.

c. Menghargai (valuting)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang

lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

d. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala

risiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi.

4.Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi sikap, yaitu faktor internal individu

dan faktor eksternal individu (Azwar, 2008):

a. Faktor Internal Individu terdiri dari:

27
1) Emosi dalam diri individu, kadang kadang suatu bentuk sikap

merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai

semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme ego.

2) Intelegensia, seseorang dengan intelegensia yang tinggi akan dapat

memutuskan sesuatu yang dapat mengambil tindakan / sikap yang tepat

saat menghadapi suatu masalah.

3) Pengalaman pribadi, apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut

membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulasi sosial.

4) Kepribadian, orang dengan kepribadian terbuka akan berbeda dalam

mengambil sikap dengan orang yang berkepribadian saat menghadapi

situasi yang sama.

5) Konsep diri, seseorang yang memiliki konsep diri yang baik, akan

mengambil sikap yang positif saat menghadapi suatu masalah / situasi

berbeda dengan orang yang memiliki konsep rendah diri.

b. Faktor eksternal individu

1) Institusi atau lembaga pendidikan atau lembaga agama, lembaga

pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai

pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan

dasar pengertian dan konsep moral dari diri individu.

2) Kebudayaan, kebudayaan dimana kita hidup dan didasarkan mempunyai

pengaruh yang besar terhadap sikap. Ahli psikologi terkenal, Burrhus

Frederic Skiner sangat menekankan pengaruh lingkungan (termasuk

kebudayaan) dalam membentuk pribadi seseorang.

28
3) Lingkungan, lingkungan yang kondusif dimana masyarakatnya sangat

terbuka dan mudah menerima hal-hal baru akan membuat seseorang akan

mengambil sikap positif yang tepat sesuai yang diinginkan.

4) Media massa, sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa

seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai

pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang.

5) Orang lain yang dianggap penting, orang lain disekitar kita merupakan

salah satu diantara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita.

Seseorang yang kita anggap penting, seseorang yang kita harapkan

persetujuannya bagi setiap gerak tingkah dan pendapat kita, seseorang

yang tidak ingin kita kecewakan, atau seseorang yang berarti khusus untuk

kita (significant others), akan lebih banyak mempengaruhi pembentukan

sikap kita terhadap sesuatu.

6) Situasi, dua orang yang sedang menghadapi masalah yang sama tetapi

dalam situasi yang berbeda maka sikap yang diambil tidak akan sama.

4. Ekonomi

Ekonomi adalah sebuah kegiatan yang biasa menghasilkan uang. Ekonomi

juga cakupan urusan keuangan rumah tangga (Depdiknas, 2002). Tingkat

ekonomi mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi. Hal ini disebabkan

karena untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang diperlukan akseptor

harus menyediakan dana yang diperlukan.

29
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ekonomi adalah ilmu mengenai

azas - azas produksi, distribusi dan pemakaian barang - barang serta

kekayaan, pemanfaatan uang, tenaga, waktu dan sebagainya yang berharga.

Penggolongan Masyarakat dalam Stratifikasi, berdasarkan dalam stratifikasi

status sosial ekonomi dibedakan menjadi 3 tingkatan yaitu : Upper Class

(Tingkat Atas), Middle class (Tingkat Menengah), Lower Class (Tingkat

Bawah).

5. Usia

Usia adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan. (Depdiknakes, 2002). Usia

yang dimaksud disini adalah usia akseptor KB. Usia mempengaruhi akseptor

dalam penggunaan alat kontrasepsi. Dari faktor - faktor usia dapat ditentukan

fase - fase. Usia kurang 20 tahun, fase menunda kehamilan; usia antara 20 -

30 tahun, fase menjarangkan kehamilan; usia antara 30 tahun lebih, fase

mengakhiri kehamilan. (Hartanto, 2012).

6. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang

atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya

pengajaran dan pelatihan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia 2000). Sedangkan

Menurut beberapa ahli salah satunya adalah Dictionory of Education

menjelaskan bahwa pendidikan adalah proses dimana seseorang

mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk - bentuk tingkah laku lainnya

di dalam masyarakat dimana ia hidup, proses sosial dimana orang dihadapkan

pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang

30
datang dari sekolah) sehingga dia dapat memperoleh, mengalami

perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum

(Dasar - Dasar Kependidikan Ihsan Fuad, 2012).

Adapun jenjang pendidikan akseptor yang diteliti :

a. Pendidikan Dasar (SD).

b. Pendidikan Menengah (SMP dan SMA).

c. Pendidikan Tinggi (Perguruan Tinggi).

Hampir dapat dipastikan kemampuan menyediakan fasilitas pendidikan

semakin terbatas menyediakan fasilitas terbatas maka seharusnya jumlah yang

memanfaatkan harus terkendali dengan jalan Keluarga Berencana.

7. Dukungan Suami dan Keluarga

Mendapatkan dukungan dan kritik dari keluarga, teman sekerja, tokoh

masyarakat, tokoh agama, juga dari petugas kesehatan sendiri adalah faktor

yang memperkuat (kadang - kadang memperlunak) untuk terjadinya perilaku

tertentu. Kane (1988) dalam Friedman (1988) mengidentifikasi dukungan

sosial keluarga sebagai suatu proses hubungan antara keluarga dan

lingkungan.

Menurut Friedman (2010) orang yang hidup dalam lingkungan yang bersifat

suportif, kondisinya jauh lebih dari pada mereka yang tidak memiliki

keuntungan seperti ini. Dukungan sosial keluarga mengacu kepada dukungan

-dukungan sosial yang dipandang oleh anggota keluarga sebagai suatu yang

dapat diakses / diadakan untuk keluarga (dukungan sosial bisa / tidak

digunakan, tapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat

31
mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika

diperlukan).

Dukungan sosial keluarga dapat berupa :

a. Dukungan sosial keluarga internal, seperti dukungan dari suami, istri /

dukungan dari keluarga kandung.

b. Dukungan sosial keluarga eksternal, yaitu dukungan keluarga eksternal bagi

keluarga inti (dalam jaringan kerja sosial keluarga).

Baik keluarga inti maupun keluarga besar berfungsi sebagai sistem

pendukung bagi angota - anggotanya. Caplan (2012) dan Friedman (2012)

menerangkan bahwa keluarga memiliki fungsi suportif, termasuk di dalamnya

adalah :

a. Dukungan Informasional

Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan disseminator yaitu

penyebar informasi tentang dunia.

b. Dukungan Penilaian

Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik, membimbing

dan menengahi perpecahan masalah dan sebagai sumber serta validator

identitas keluarga.

c. Dukungan Instrumental

Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit.

d. Dukungan Emosional

Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan

pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi.

32
8. Keluarga Berencana

Menurut World Health Organisation (WHO) expert committee 1997: keluarga

berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk

menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang

memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol

waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta

menentukan jumlah anak dalam keluarga (Suratun, 2008).

Keluarga berencana menurut Undang-Undang no 10 tahun 1992 (tentang

perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah

upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui

pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan

ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan

sejahtera (Arum, 2008).

Keluarga berencana adalah suatu usaha untuk menjarangkanjumlah dan jarak

kehamilan dengan memakai kontrasepsi (Mochtar, 1998). Secara umum

keluarga berencana dapat diartikan sebagai suatu usaha yang mengatur

banyaknya kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak positif bagi ibu,

bayi, ayah serta keluarganya yang bersangkutan tidak akan menimbulkan

kerugian sebagai akibat langsung dari kehamilan tersebut. Diharapkan dengan

adanya perencanaan keluarga yang matang kehamilan merupakan suatu hal

yang memang sangat diharapkan sehingga akan terhindar dari perbuatan untuk

mengakhiri kehamilan dengan aborsi (Suratun, 2008).

33
2. Tujuan Keluarga Berencana

Gerakan KB dan pelayanan kontrasepsi memiliki tujuan:

a. Tujuan demografi yaitu mencegah terjadinya ledakan penduduk dengan

menekan laju pertumbuhan penduduk (LLP) dan hal ini tentunya akan

diikuti dengan menurunnya angka kelahiran atau TFR (Total Fertility

Rate) dari 2,87 menjadi 2,69 per wanita (Hanafi, 2002). Pertambahan

penduduk yang tidak terkendalikan akan mengakibatkan kesengsaraan dan

menurunkan sumber daya alam serta banyaknya kerusakan yang

ditimbulkan dan kesenjangan penyediaan bahan pangan dibandingkan

jumlah penduduk. Hal ini diperkuat dengan teori Malthus (1766-1834)

yang menyatakan bahwa pertumbuhan manusia cenderung mengikuti deret

ukur, sedangkan pertumbuhan bahan pangan mengikuti deret hitung.

b. Mengatur kehamilan dengan menunda perkawinan, menunda kehamilan

anak pertama dan menjarangkan kehamilan setelah kelahiran anak pertama

serta menghentikan kehamilan bila dirasakan anak telah cukup.

c. Mengobati kemandulan atau infertilitas bagi pasangan yang telah menikah

lebih dari satu tahun tetapi belum juga mempunyai keturunan, hal ini

memungkinkan untuk tercapainya keluarga bahagia.

d. Married Conseling atau nasehat perkawinan bagi remaja atau pasangan

yang akan menikah dengan harapan bahwa pasangan akan mempunyai

pengetahuan dan pemahaman yang cukup tinggi dalam membentuk

keluarga yang bahagia dan berkualitas.

34
e. Tujuan akhir KB adalah tercapainya NKKBS (Norma Keluarga Kecil

Bahagia dan Sejahtera) dan membentuk keluarga berkualitas, keluarga

berkualitas artinya suatu keluarga yang harmonis, sehat, tercukupi

sandang, pangan, papan, pendidikan dan produktif dari segi ekonomi

(Suratun, 2008).

3. Sasaran program KB

a. Sasaran Langsung

Pasangan usia subur yaitu pasangan yang wanitanya berusia antara 15 - 49

tahun, Karena kelompok ini merupakan pasangan yang aktif melakukan

hubungan seksual dan setiap kegiatan seksual dapat mengakibatkan

kehamilan. PUS diharapkan secara bertahap menjadi peserta KB yang

aktif lestari sehingga memberi efek langsung penurunan fertilisasi

(Suratun, 2008).

b. Sasaran Tidak Langsung

1) Kelompok remaja usia 15 - 19 tahun, remaja ini memang bukan

merupakan target untuk menggunakan alat kontrasepsi secara langsung

tetapi merupakan kelompok yang beresiko untuk melakukan hubungan

seksual akibat telah berfungsinya alat-alat reproduksinya. Sehingga

program KB disini lebih berupaya promotif dan preventif untuk

mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan serta kejadian

aborsi.

2) Organisasi-organisasi, lembaga-lembaga kemasyarakatan, instansi-

instansi pemerintah maupun swasta, tokoh-tokoh masyarakat (alim

35
ulama, wanita, dan pemuda), yang diharapkan dapat memberikan

dukungannya dalam pelembagaan NKKBS (Hartanto, 2004).

3) Sasaran wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi

(Prawirohardjo, 2012 A).

4. Manfaat Usaha KB dipandang dari segi kesehatan

Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah

satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang

semakin tinggi akibat kehamilan yang dialami wanita (Suratun, 2008).

9. Pengertian Pasangan Usia Subur

Pasangan usia subur yaitu pasangan yang wanitanya berusia antara 15-49

tahun, Karena kelompok ini merupakan pasangan yang aktif melakukan

hubungan seksual dan setiap kegiatan seksual dapat mengakibatkan

kehamilan. PUS diharapkan secara bertahap menjadi peserta KB yang aktif

lestari sehingga memberi efek langsung penurunan fertilisasi (Suratun, 2008).

Pasangan usia subur yaitu pasangan yang istrinya berumur 15-49 tahun atau

pasangan suami-istri berumur kurang dari 15 tahun dan sudah haid atau istri

berumur lebih dari 50 tahun tetapi masih haid (datang bulan) (BKKBN,

2009).

10. Perilaku

Perilaku dapat dibatasi sebagai keadaan jiwa untuk berpendapat,berpikir,dan

lain sebgainya yang merupakan refleksi dari berbagai macam aspek,baik fisik

maupun non fisik. Pengertian umum perilaku adalah segala perbuatan atau

tindakan yang dilakukan oleh makhluk hidup (Soekidjo Notoatmodjo

36
1987:1). Perilaku menurut (Robert Y Kwick 1972) menyatakan perilaku

adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat di amati dan

bahkan dipelajari. Perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang

dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika,

kekuasaan, persuasi,dan/genetika.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku

1. Genetika

2. Sikap, adalah suatu ukuran tingkat kesukaan terhadap perilaku tertentu

3. Norma social, pengaruh tekanan social

4. Kontol perilaku peribadi, adlah kepercayaan seseorang mengenai sulit

tidaknya melakukan suatu perilaku.

37
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESA PENELITIAN

A. KERANGKA KONSEP

Berdasarkan landasan teori, maka kerangka kerja pada penelitian ini adalah

Sebagai berikut:

Variabel Independent Variabel Dependent

Teratur

Pengunaaan Perubahan
Kontrasepsi Suntik Siklus
Mentruasi Pada
Wanita Usia
Subur
1 Bulan
Tidak
3 Bulan Teratur

Keterangan

: yang diteliti

38
B. Hipotesis

Ha :

Ada hubungan penggunaan Kontrasepsisuntik satu bulan dengan

perubahan siklus menstruasi pada wanita usia subur di RSUD Sam

Ratulangi Tondano Minahasa

39
C. DEFINISI OPERASIONAL

Tabel 2. Definisi Operasional


No. Variabel Definisi Operasional Alat Skala Hasil Ukur
ukur Ukur
1 V. Independent : Skore 1:

Penggunaan Seorang ibu yang kuisioner Ordinal Kontrasepsi Suntik

Kontrasepsi menggunakan 1 bulan.

Suntik Satu Bulan Kontrasepsi suntikan satu Skore 2

atau Tiga Bulan bulan dan tiga bulan, :KontrasepsiSuntik

3 bulan

2 V.Dependent :

Perubahan Siklus

Menstruasi Pada Suatu keadaan dimana kuisioner Nominal Skore : 2

Wanita Usia Subur terjadi perubahan siklus Teratur

menstruasi berupa Skore 1 :

amenore ialah selama Tidak Teratur

menggunakan

Kontrasepsisuntik tidak

turun menstruasi atau

spotting ialah selama

menggunakanKontraseps

isuntik ada bercak darah

sedikit- sedikit diluar

siklus menstruasi.

40
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah desain penelitian komparatif

dengan rancangan case control, dimana peneliti melakukan pengukuran pada

variabel dependen terlebih dahulu (efek), sedangkan variabel independen

ditelusuri secara retrospektif untuk menentukan ada tidaknya faktor (variabel

independen) yang berperan (Nursalam, 2008).

B. POPULASI DAN SAMPEL

1. Populasi

Populasi pada penelitian ini yaitu semua wanita usia subur yang

menggunakan alatKontrasepsisuntik, sebanyak 189 orang di RSUD Sam

Ratulangi Tondano Minahasa

2. Sampel

Sampel pada penelitian ini yaitu semua wanita usia subur yang

menggunakan alat Kontrasepsi suntik Dimana penentuan jumlah sampel

menggunakan rumus Arikunto (2009), yaitu 20-25%.

Sampel = 20% x 189

= (20 : 100) x 189

= 0,20 x 189

= 37,8 responden

= 38 responden

41
Sampel yang akan disertakan dalam penelitian adalah yang memenuhi

kriteria sebagai berikut:

a. Kriteria Inklusi

1) Wanita usia subur yang pengguna alat Kontrasepsi suntik untuk 1

bulan dan 3 bulan.

2) Wanita usia subur yang berkunjung di RSUD Sam Ratulangi

Tondano Minahasai.

3) Bersedia menjadi responden

b. Kriteria Eksklusi

1) Wanita usia subur yang tidak menggunakan Kontrasepsi dengan

alasan kesehatan atau ingin memiliki anak

2) Tidak hadir pada saat penelitian

C. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

1. Tempat penelitian telah dilaksanakan di RSUD Sam Ratulangi Tondano

Minahasa

2. Waktu penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan januari 2015

D. INSTRUMEN PENELITIAN

Instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner.

1. Kuesioner untuk menilai penggunaanKontrasepsisunti menggunakan

kriteria sebagai berikut:

Diberi kode 1 : jika menggunakanKontrasepsisuntik 1 bulan

Diberi kode 2 : jika menggunakanKontrasepsisuntik 3 bulan.

42
2. Kuesioner untuk menilai perubahan siklus menstruasi yaitu menggunaka

kriteria sebagai berikut

Amenore : jika selama menggunakanKontrasepsisuntik tidak turun

menstruasi

Spotting : jika selama menggunakanKontrasepsisuntik ada bercak-

bercak darah sedikit-sedikit diluar siklus mentruasi

E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Setelah kuesioner diisi sebagai hasil wawancara dengan responden, akan

dilihat kelengkapan pengisiannya yang meliputi :

1. Editing yaitu untuk melakukan pengecekan pengisian kuesioner apakah

jawaban yang ada dalam kuesioner lengkap, jelas, relevan dan konsisten.

2. Coding yaitu kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data

berbentuk angka atau bilangan.

3. Processing yaitu pemprosesan data yang di lakukan dengan cara di entry

data dari kuesioner ke paket komputer.

4. Cleaning yaitu membersihkan data yang merupakan kegiatan pengecekan

kembali data yang sudah di entri apakah ada kesalahan atau tidak.

F. ANALISA DATA

Agar lebih bermakna data yang telah di beri skore di analisa dengan uji

statistik. Analisa data dilakukan dengan dua tahap yaitu :

1. Analisa Univariat adalah analisa data di lakukan dengan menggunakan

daftar pertanyaan untuk distribusi frekuensi dari data demografi responden

43
dan masing-masing variabel independent dan dependen kemudian di

interprestasikan.

2. Analisa Bivariat dengan menggunakan Uji Chi-Square

G. Etika Penelitian

1. Informed Consent

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan

responden penelitian dengan memberikan lembaran persetujuan.

2. Anonimity (tanpa nama)

Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan

dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau

mencantumkan nama responden pada lembaran alat ukur dan hanya

menuliskan kode pada lembaran persetujuan pengumpulan data atau

hasil penelitian yang disajikan.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Hasil penelitian yang didapatkan harus memberikan jaminan kerahasiaan

hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya

(Hidayat A.A.A., 2007).

44
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Bari Saifuddin (2006), Gambaran Pengetahuan Tentang Perubahan Siklus


Menstruasi Pada Akseptor Kontrasepsi Suntik
http://www.skripsikesehatan. blogspot.com,

Anggraini M.D. dan Hartati (2009), Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh


Terhadap Perubahan Pola Menstruasi Pada Akseptor KB Suntik Depo
Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) di wilayah kerja Puskesmas
Sokaraja I Purwokerto, http://www.repository .unri.ac.id, diaskses 4
September 2013

Arum D.N.S. dan Sujiyatini (2011), Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini,


Penerbit Nuha Medika, Yogyakarta.

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (2003). Data Hasil Kegiatan


Program KB Nasional Kota Purwokerto sampai dengan Bulan Desember.,
http://www.bkkbn.org., diakses 4 September 2013

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (2001). Terwujudnya Keluarga


Yang Berkualitas., http://www.bkkbn.org., diakses 4 September 2013

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, (2005). Alat Kontrasepsi.,


http://www.bkkbn.org., diakses 4 September 2013

Badan Pusat Statistik (2013), Survey Demografi Dan Kesehatan Indonesia Tahun
2012, Laporan.

Hartanto, H. (2003), Keluarga Berencana dan Kontrasepsi, Pustaka Sinar


Harapan, Cetakan III, Jakarta.

Hani U. Dkk. (2010), Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan Fisiologi, Penerbit


Salemba Medika, Jakarta

Hidayat A.A.A. (2007), Riset Keperawatan Dan Teknik Penulisan Ilmiah,


Salemba Medika, Jakarta

Maritalia D. (2012), Asuhan kebidanan Nifas dan Menyusui, Penerbit Pustaka


Pelajar, Yogyakarta.

Manuaba I.G.B, 2001, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga


Berencana Untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta.

45
Nirwana A.B. (2011), Kapita Selekta Kehamilan, Medical Book, Penerbit Nuha
Medika, Yogyakarta.

Nirwana A.B. (2011), Psikologi Kesehatan Wanita, Remaja-Menstruasi-Menika-


Hamil-Nifas dan Menyusui, Medical Book, Penerbit Nuha Medika,
Yogyakarta.

Notooatmodjo S. (2003), Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-Prinsip Dasar,


Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Nursalam (2008), Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian ilmu


Keperawatan, Pedoman skripsi, tesis dan intrumen Penelitian keperawatan,
Salemba Medika, Jakarta

Suparyanto (2011), Pengertian Wanita Usia Subur, http://www.medistra.com,


diakses 8 September 2013

46
KUESIONER PENELITIAN

PERBEDAAN PENGGUNAAN KB SUNTIK SATU BULAN DAN TIGA

BULAN DENGAN PERUBAHAN SIKLUS MENSTRUASI PADA WANITA

USIA SUBUR DI RSUD SAMRATULANGI TONDANO

Marlya Kartika Laihan

InisialResponden :

Umur : ..tahun

Pendidikan : Tingkat Dasar (SD SMP)


Tingkat Menengah (SMA/SMU/SMK Sederajat)
Tingkat Tinggi (PerguruanTinggi)

Penggunaan KB Suntik 3 bulan terakhir : 1 Bulan


3 Bulan

SiklusMentruasi:
Amenore : jika selama menggunakan kontrasepsi suntik tidak turun

menstruasi

Spotting : jika selama menggunakan kontrasepsi suntik ada

bercak-bercak darah sedikit-sedikit diluar siklus

mentruasi

47
48
Tabel. Distribusi responden berdasarkan pengunaan kontrasepsi

Penggunaan kontrasepsi

Frequency Percent

1 BULAN 22 57,9
KONTRASEPSI
3 BULAN 16 42,1

Total 85 100.0

Pada tabel diatas terlihat bahwa sebagian besar responden mengunakan

kontrasepsi 1 bulan yaitu 22 responden atau 57,9 % sedangkan responden

yang menggunakan kontrasepsi 3 bulan sebanyak 16 responden atau

42,1%. Program KB ini merupakan bagian integral dari pembangunan

nasional yang bertujuan melembagakan norma keluarga kecil bahagia dan

sejahtera.

Program KB saat ini sudah merupakan suatu keharusan dalam upaya

menanggulangi pertumbuhan penduduk dunia umumnya dan penduduk

Indonesia khususnya. Berhasil tidaknya kita melaksanakan Program KB

ini akan menentukan berhasil tidaknya dalam mewujudkan kesejahteraan

bangsa Indonesia. Upaya langsung menurunkan tingkat kelahiran

dilaksanakan melalui program KB, yaitu mengajak pasangan usia subur

49
yang berusia sekitar 15-45 tahun agar memakai alat kontrasepsi. Jumlah

pasangan usia subur yang memakai alat kontrasepsi terus ditingkatkan.

Sedangkan jenis alat kontrasepsi yang dipakai pasangan usia subur

ditingkatkan kepada yang lebih efektif yaitu yang mempunyai pencegahan

kehamilan yang lebih lama. Dengan semakin berkembangnya program KB

yang dicanangkan oleh pemerintah, alat kontrasepsi pun semakin

berkembang. Berbagai pilihan alat kontrasepsi ditawarkan kepada

masyarakat. Dari mulai yang sederhana sampai yang permanen/mantap,

yaitu mulai pil, suntik, spiral dan IUD.

Ada jenis kontrasepsi lain, yaitu vasektomi untuk pria dan tubektomi untuk

wanita. Namun 2 jenis alat kontrasepsi ini masih jarang dipilih oleh

masyarakat, sebab dengan memiliki alat kontrasepsi mantap tersebut maka

seseorang tidak bisa lagi memiliki anak. Menurut data pemerintah (2003)

kontrasepsi suntik paling banyak digunakan oleh wanita di Indonesia

35,2%, pil KB sebanyak 28,1%, IUD 18,8%, implant 12,4% sterilisasi

5,5% dan kontrasepsi lain 1,0%.

Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak

yang diinginkan. Untuk dapat mencapai hal tersebut maka dibuatlah

beberapa cara atau alternatif untuk mencegah ataupun menunda

kehamilan. Cara-cara tersebut termasuk kontrasepsi atau pencegahan

kehamilan dan perencanaan keluarga. Berdasarkan penelitian, terdapat 3.6

juta kehamilan tidak direncanakan setiap tahunnya di Amerika Serikat,

separuh dari kehamilan yang tidak direncanakan ini terjadi karena

50
pasangan tersebut tidak menggunakan alat pencegah kehamilan, dan

setengahnya lagi menggunakan alat kontrasepsi tetapi tidak benar cara

penggunaannya.

Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki

mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur

yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang di

dalam rahim. Kontrasepsi dapat reversible (kembali) atau permanen

(tetap).

Kontrasepsi yang reversible adalah metode kontrasepsi yang dapat

dihentikan setiap saat tanpa efek lama di dalam mengembalikan kesuburan

atau kemampuan untuk punya anak lagi. Metode kontrasepsi permanen

atau yang kita sebut sterilisasi adalah metode kontrasepsi yang tidak dapat

mengembalikan kesuburan dikarenakan melibatkan tindakan operasi.

Metode kontrasepsi juga dapat digolongkan berdasarkan cara kerjanya

yaitu metode barrier (penghalang), sebagai contoh, kondom yang

menghalangi sperma; metode mekanik seperti IUD; atau metode hormonal

seperti pil.

Metode kontrasepsi alami tidak memakai alat-alat bantu maupun hormonal

namun berdasarkan fisiologis seorang wanita dengan tujuan untuk

mencegah fertilisasi (pembuahan). dan efek samping, serta kemauan dan

kemampuan untuk melakukan kontrasepsi secara teratur dan benar. Selain

hal tersebut, pertimbangan kontrasepsi juga didasarkan atas biaya serta

peran dari agama dan kultur budaya mengenai kontrasepsi tersebut. Faktor

51
lainnya adalah frekuensi bersenggama, kemudahan untuk kembali hamil

lagi, efek samping ke laktasi, dan efek dari kontrasepsi tersebut di masa

depan. Sayangnya, tidak ada metode kontrasepsi, kecuali abstinensia (tidak

berhubungan seksual), yang efektif mencegah kehamilan 100%.

Tabel. Distribusi responden berdasarkan keteraturan Menstruasi

Keteraturan Menstruasi

Frequency Percent

Teratur 24 63,2
Keteraturan
Tidak Teratur 14 36,8

Total 85 100.0

Pada tabel diatas terlihat bahwa sebagian besar responden memiliki

keteraturan menstruasi yaitu 24 orang atau 63,2 % dan responden yang

tidak teratur menstruasi sebanyak 14 orang atau 36,8%.

KB IUD dan suntikan mempunyai permasalahan atau efek samping. Efek

samping yang paling utama adalah gangguan pola haidnya. Pemakai KB

IUD, baik copper T atau jenis lainnya sering mengalami perubahan

pada pola haidnya. Lama haid menjadi lebih panjang (beberapa

diantaranya didahului dan diakhiri oleh perdarahan bercak dahulu). Jumlah

haid menjadi lebih banyak dan datangnya haid (siklus) menjadi lebih

52
pendek, sehingga seakan-akan haidnya datang 2 kali dalam kurun waktu 1

bulan (30 hari) (ANONIM 2014)

Panjang siklus bervariasi dari 23 hari atau kurang untuk siklus pendek dan

lebih dari 35 hari untuk siklus panjang (Hartanto, 2003). Pada pemakaian

KB suntik mengalami beberapa permasalahan, yaitu gangguan pola haid,

kenaikan berat badan dan sakit kepala. Gangguan pola haid yang terjadi

tergantung pada lama pemakaian. Gangguan pola haid yang terjadi seperti

perdarahan bercak, perdarahan irreguler, amenore dan perubahan dalam

frekuensi, lama dan jumlah darah yang hilang (Hartanto, 2003).

Menstruasi didefinisikan sebagai perdarahan pervaginam yang terjadi

selama 1 episode setiap siklus dan akan kehilangan darah 40-100 ml.

Gangguan siklus menstruasi biasanya banyak terjadi pada ibu usia subur

akibat dari pemasangan alat kontrasepsi. Pada penggunaan alat kontrasepsi

suntik juga terdapat efek samping yang sering terjadi yaitu gangguan haid,

berat badan yang bertambah, dan sakit kepala. Dari hasil penelitian yang

telah dilakukan di Dusun Geneng Sentul Godean Sleman Yogyakarta pada

32 responden didapatkan jumlah 20 ibu usia subur yang mempunyai siklus

menstruasi pendek (<28 hari) dan 12 ibu yang mempunyai siklus

menstruasi normal (28-35 hari) (Anonim, 2014)

53
Kontrasepsi * Keteraturan Crosstabulation

Keteraturan Total

teratur tidak teratur

Count 19 3 22
1 Bulan
% of Total 50.0% 7.9% 57.9%
Kontrasepsi
Count 5 11 16
3 bulan
% of Total 13.2% 28.9% 42.1%

Count 24 14 38
Total
% of Total 63.2% 36.8% 100.0%

Pada tabel diatas terlihat bahwa responden yang menggunakan kontrasepsi 1

bulan maka keteraturan menstruasi sebanyak 19 responden atau 50% dan tidak

teratur 3 orang atau 7,9%. Responden yang menggunakan kontrasepsi 3 bulan,

keteraturan menstruasi 13,2 % atau 5 orang dan tidak teratur sebanyak 28,9%

atau 14 orang.

Dari hasil analisa statistik dengan Uji Chi-Square menunjukkan bahwa Ho ditolak

yang artinya ada hubungan penggunaan alat kontrasepsi dengan keteraturan

menstruasi dengan nilai X2 hitung sebesar 19,092 (df=2 pada taraf signifikansi

54
5%(0,05) atau X2 tabel sebesar 3,84). Oleh karena X2 hitung lebih dari X2 tabel

(19,092 5,99) maka dapat dinyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan

ada hubungan penggunaan alat kontrasepsi dengan keteraturan menstruasi .

Siklus menstruasi yang terjadi akibat dari pemasangan alat kontrasepsi IUD

dengan kontrasepsi suntik. Menurut hasil penelitian dan dapat dilihat pada tabel 2

diketahui bahwa terdapat perbedaan dari masingmasing siklus menstruasi dan

karakteristik haid yang dialami oleh ibu-ibu yang menggunakan alat kontrasepsi

IUD dan suntik.

Terdapat 100% ibu pengguna alat kontrasepsi IUD yang mempunyai siklus

menstruasi normal. Siklus menstruasi yang normal bisa terjadi akibat dari

produksi hormone estrogen yang cukup (Mediasehat, 2006). Siklus menstruasi

terjadi akibat dari pengaruh kerja hormon estrogen yang dimiliki oleh tiap-tiap

individu. Namun berbeda pada ibu yang menggunakan alat kontrasepsi suntik,

siklus menstruasi yang sering terjadi adalah siklus menstruasi yang pendek yaitu

kurang dari 28 hari. Hal itu disebabkan karena sebagian ibu pengguna alat

kontrasepsi suntik sering mengalami menstruasi yang datang 2x dalam jangka

waktu 1 bulan dan secara otomatis siklus menstruasinya menjadi pendek yaitu

kurang dari 28 hari. Siklus menstruasi pendek (<28 hari) disebabkan oleh

pengaruh kerja hormon estrogen. Akibat pengaruh kerja hormon estrogen, maka

apabila produksi hormon berlebih akan menyebabkan siklus menstruasi menjadi

pendek (Mediasehat, 2006) (Anonim, 2014).

55
KESIMPULAN

1. Dari hasil penelilitian terlihat bahwa bahwa sebagian besar responden

mengunakan kontrasepsi 1 bulan yaitu 22 responden atau 57,9 % sedangkan

responden yang menggunakan kontrasepsi 3 bulan sebanyak 16 responden

atau 42,1%.

2. Dari hasil penelilitian terlihat bahwa sebagian besar responden memiliki

keteraturan menstruasi yaitu 24 orang atau 63,2 % dan responden yang tidak

teratur menstruasi sebanyak 14 orang atau 36,8%.

3. Dari hasil penelilitian terlihat bahwa responden yang menggunakan

kontrasepsi 1 bulan maka keteraturan menstruasi sebanyak 19 responden atau

50% dan tidak teratur 3 orang atau 7,9%. Responden yang menggunakan

kontrasepsi 3 bulan, keteraturan menstruasi 13,2 % atau 5 orang dan tidak

teratur sebanyak 28,9% atau 14 orang.

4. Dari hasil analisa statistik dengan Uji Chi-Square menunjukkan bahwa Ho

ditolak yang artinya ada hubungan penggunaan alat kontrasepsi dengan

keteraturan menstruasi dengan nilai X2 hitung sebesar 19,092 (df=2 pada

taraf signifikansi 5%(0,05) atau X2 tabel sebesar 3,84). Oleh karena X2

hitung lebih dari X2 tabel (19,092 5,99) maka dapat dinyatakan bahwa

56
terdapat hubungan yang signifikan ada hubungan penggunaan alat kontrasepsi

dengan keteraturan menstruasi .

CROSSTABS
/TABLES=Kontrasepsi BY Keteraturan
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ CC CORR
/CELLS=COUNT TOTAL
/COUNT ROUND CELL.

Crosstabs
Notes

Output Created 26-AUG-2014 08:34:58


Comments
Active Dataset DataSet0
Filter <none>
Input Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data File 38
User-defined missing values are
Missing Value Handling Definition of Missing
treated as missing.

57
Statistics for each table are
based on all the cases with valid
Cases Used
data in the specified range(s) for
all variables in each table.
CROSSTABS
/TABLES=Kontrasepsi BY
Keteraturan
/FORMAT=AVALUE TABLES
Syntax
/STATISTICS=CHISQ CC
CORR
/CELLS=COUNT TOTAL
/COUNT ROUND CELL.
Processor Time 00:00:00.00

Elapsed Time 00:00:00.03


Resources
Dimensions Requested 2

Cells Available 174762

[DataSet0]

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Kontrasepsi * Keteraturan 38 100.0% 0 0.0% 38 100.0%

58
Kontrasepsi * Keteraturan Crosstabulation

Keteraturan Total

teratur tidak teratur

Count 19 3 22
1 Bulan
% of Total 50.0% 7.9% 57.9%
Kontrasepsi
Count 5 11 16
3 bulan
% of Total 13.2% 28.9% 42.1%
Count 24 14 38
Total
% of Total 63.2% 36.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig.


sided) sided) (1-sided)

Pearson Chi-Square 12.092a 1 .001


Continuity Correctionb 9.840 1 .002
Likelihood Ratio 12.616 1 .000
Fisher's Exact Test .001 .001
Linear-by-Linear Association 11.774 1 .001
N of Valid Cases 38

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.89.
b. Computed only for a 2x2 table

Symmetric Measures

Value Asymp. Std. Errora Approx. Tb Appr


ox.
Sig.

59
Nominal by Nominal Contingency Coefficient .491 .001
.000
Interval by Interval Pearson's R .564 .136 4.099
c

.000
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation .564 .136 4.099
c

N of Valid Cases 38

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

60