LAPORAN PENDAHULUAN

PERTUSIS

A. Konsep Dasar Medik
1. Defenisi

Pertusis adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan
oleh bakteri Bordetella pertusis. Nama lain penyakit ini
adalah tussis quinta, whooping cough, batuk rejan, batuk 100
hari. (Arif Mansjoer, 2000)
Pertusis adalah penyakit infeksi yang ditandai dengan
radang saluran nafas yang menimbulkan serangan batuk panjang
yang bertubi-tubi, berakhir dengan inspirasi berbising.
(Ramali, 2003)
Pertusis adalah penyakit infeksi akut pada saluran
pernafasan yang sangat menular dengan ditandai oleh suatu
sindrom yang terdiri dari batuk yang bersifat spasmodik dan
paroksismal disertai nada yang meninggi. (Rampengan, 1993)
Pertusis adalah suatu infeksi akut saluran nafas yang
mengenai setiap pejamu yang rentan, tetapi paling sering dan
serius pada anak-anak. (Behrman, 1992)

2. Etiologi

Pertusis pertama kali dapat diisolasi pada tahun 1900 oleh
Bordet dan Gengou, kemudian pada tahun 1906 kuman pertusis
baru dapat dikembangkan dalam media buatan. Genus Bordetella
mempunyai 4 spesies yaitu Bordetella pertusis, Bordetella
Parapertusis, Boredetella Bronkiseptika, dan Bordetella
Avium.
Bordetella pertusis adalah satu-satunya penyebab pertusis
yaitu bakteri gram negatif, tidak bergerak, dan ditemukan
dengan melakukan swab pada daerah nasofaring dan
ditanamkan pada media agar Bordet-Gengou. (Arif Mansjoer,
2000).

3. Patofisiologi

Bordetella pertusis setelah ditularkan melalui sekresi
udara pernafasan kemudian melekat pada silia epitel saluran
pernafasan. Mekanisme pathogenesis infeksi oleh Bordetella
pertusis terjadi melalui empat tingkatan yaitu perlekatan,
perlawanan terhadap mekanisme pertahanan pejamu, kerusakan
local dan akhirnya timbul penyakit sistemik. Pertusis Toxin
(PT) dan protein 69-Kd berperan pada perlekatan Bordetella
pertusis pada silia. Setelah terjadi perlekatan, Bordetella
pertusis, kemudian bermultiplikasi dan menyebar ke seluruh
permukaan epitel saluran nafas. Proses ini tidak invasif oleh
karena pada pertusis tidak terjadi bakteremia. Selama
pertumbuhan Bordetella pertusis, maka akan menghasilkan
toksin yang akan menyebabkan penyakit yang kita kenal dengan
whooping cough.
Toksin terpenting yang dapat menyebabkan penyakit
disebabkan karena pertusis toxin. Toksin pertusis mempunyai 2
sub unit yaitu A dan B. Toksin sub unit B selanjutnya
berikatan dengan reseptor sel target kemudian menghasilkan
sub unit A yang aktif pada daerah aktivasi enzim membrane
sel. Efek LPF menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke
daerah infeksi.
Toxin mediated adenosine diphosphate (ADP) mempunyai efek
mengatur sintesis protein dalam membrane sitoplasma,
berakibat terjadi perubahan fungsi fisiologis dari sel target
termasuk lifosit (menjadi lemah dan mati), meningkatkan
pengeluaran histamine dan serotonin, efek memblokir beta
adrenergic dan meningkatkan aktifitas insulin, sehingga akan
menurunkn konsentrasi gula darah.
Toksin menyebabkan peradangan ringan dengan hyperplasia
jaringan limfoid peribronkial dan meningkatkan jumlah mukos
pada permukaan silia, maka fungsi silia sebagai pembersih
terganggu, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder (tersering
oleh Streptococcus pneumonia, H. influenzae dan
Staphylococcus aureus ). Penumpukan mucus akan menimbulkan
plug yang dapat menyebabkan obstruksi dan kolaps paru.
Hipoksemia dan sianosis disebabkan oleh gangguan pertukaran
oksigenasi pada saat ventilasi dan timbulnya apnea saat
terserang batuk. Terdapat perbedaan pendapat mengenai
kerusakan susunan saraf pusat, apakah akibat pengaruh
langsung toksin ataukah sekunder sebagai akibat anoksia.
Terjadi perubahan fungsi sel yang reversible, pemulihan
tampak apabila sel mengalami regenerasi, hal ini dapat
menerangkan mengapa kurangnya efek antibiotic terhadap proses
penyakit. Namun terkadang Bordetella pertusis hanya
menyebabkan infeksi yang ringan, karena tidak menghasilkan
toksin pertusis.
Cara penularan pertusis, melalui:
a. Droplet infection
b. Kontak tidak langsung dari alat-alat yang terkontaminasi
c. Penyakit ini dapat ditularkan penderita kepada orang lain
melalui percikan-percikan ludah penderita pada saat batuk
dan bersin.
d. Dapat pula melalui sapu tangan, handuk dan alat-alat makan
yang dicemari kuman-kuman penyakit tersebut.

Tanpa dilakukan perawatan, orang yang menderita pertusis
dapat menularkannya kepada orang lain selama sampai 3 minggu
setelah batuk dimulai.

4. Manifestasi Klinis

Menurut Guinto-Ocampo H. (2006), periode inkubasi pertusis
berkisar antara 3-12 hari. Pertussis merupakan penyakit 6
minggu (a 6-week disease) yang dibagi menjadi: stadium
catarrhal, paroxysmal, dan convalescent.
a. Stadium 1
Stadium ini berlangsung 1-2 minggu. Stadium ini
disebut juga catarrhal phase, stadium kataralis, stadium
prodromal, stadium pre-paroksismal.
Stadium ini tidak dapat dibedakan dengan infeksi saluran
pernafasan bagian atas dengan common cold, kongesti nasal,
rinorea, dan bersin, dapat disertai dengan sedikit demam
(low-grade fever), tearing, dan conjunctival suffusion.
Pada stadium ini, pasien sangat infeksius (menular)
namun pertusis dapat tetap menular selama tiga minggu atau
lebih setelah onset batuk. Kuman paling mudah diisolasi
juga pada stadium ini.
Menurut Rampengan (2008), masa inkubasi pertusis 6-10
hari (rata-rata 7 hari), perjalanan penyakitnya
berlangsung antara 6-8 minggu atau lebih. Adapun
manifestasi klinis pada stadium ini adalah:
1) Gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas, yaitu
dengan timbulnya rinore dengan lendir yang cair dan
jernih.
2) Infeksi konjungtiva, lakrimasi.
3) Batuk dan panas yang ringan.
4) Kongesti nasalis
5) Anoreksia

Batuk yang timbul mula-mula pada malam hari, lalu siang
hari, dan menjadi semakin hebat. Sekret banyak, menjadi
kental dan lengket. Pada bayi, lendir mukoid sehingga
menyebabkan obstruksi jalan nafas, dimana bayi terlihat
sakit berat dan iritabel.
b. Stadium 2
Stadium ini berlangsung 2-4 minggu atau lebih.
Stadium ini disebut juga paroxysmal phase, stadium akut
paroksismal, stadium paroksismal, stadium spasmodik.
Penderita pada stadium ini disertai batuk berat yang tiba-
tiba dan tak terkontrol (paroxysms of intense coughing)
yang berlangsung selama beberapa menit. Bayi yang berusia
kurang dari 6 bulan tidak disertai whoop yang khas namun
dapat disertai episode apnea (henti nafas sementara) dan
berisiko kelelahan (exhaustion).
Menurut Rampengan (2008), manifestasi klinis pada
stadium ini adalah:
1) Whoop (batuk yang berbunyi nyaring), sering terdengar
pada saat penderita menarik nafas di akhir serangan
batuk.
2) Batuk 5-10 kali, selama batuk anak tidak dapat bernafas,
dan di akhir serangan batuk anak menarik nafas dengan
cepat dan dalam sehingga terdengar bunyi melengking
(whoop) dan diakhiri dengan muntah.
3) Selama serangan (batuk), muka penderita menjadi merah
atau sianosis, mata tampak menonjol, lidah menjulur
keluar, dan gelisah. Juga tampak pelebaran pembuluh
darah yang jelas di kepala dan leher, petekie di wajah,
perdarahan subkonjungtiva dan sclera, bahkan ulserasi
frenulum lidah.
4) Di akhir serangan, penderita sering memuntahkan lendir
kental.
5) Setelah 1 atau 2 minggu, serangan batuk makin menghebat

c. Stadium 3
Stadium ini berlangsung 1-2 minggu. Stadium ini
disebut juga stadium konvalesens.
Menurut Guinto-Ocampo H. (2006) dan Garna H., et.al.
(2005), pada stadium konvalesens, batuk dan muntah
menurun. Namun batuk yang terjadi merupakan batuk kronis
yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu.
Dapat terjadi petekie pada kepala/leher, perdarahan
konjungtiva, dapat terjadi ronki difus.
Menurut Rampengan (2008), manifestasi klinis pada
stadium ini adalah:
1) Whoop dan muntah berhenti.
2) Batuk biasanya masih menetap dan segera menghilang
setelah 2-3 minggu.
3) Beberapa penderita akan timbul serangan batuk
paroksismal kembali dengan whoop dan muntah-muntah.
Episode ini terjadi berulang dalam beberapa bulan bahkan
hingga satu atau dua tahun, dan sering dihubungkan
dengan infeksi saluran nafas bagian atas yang berulang.

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan sputum
b. Pemeriksaan serologis untuk Bordetella pertussis
c. ELISA
Elisa dapat dipakai untuk menentukan IgM, IgG, dan IgA
serum terhadap “filamentous hemoaglutinin (FHA)” dan
toksin pertussis (TP). nilai IgM-FHA dan IgM-TP serum
tidak bernilai dalam penentuan seropositif oleh karena
menggambarkan respon imun primer dan dapat disebabkan
oleh penyakit atau vaksinasi. IgG langsung terhadap
toksin pertussis merupakan test yang paling sensitif dan
spesifik untuk infeksi akut. IgA-FHA dan IgA-TP kurang
sensitif daripada IgG-TP tetapi sangat spesifik untuk
infeksi natural dan tidak terlihat sesudah imunisasi
pertussis.
d. Leukositosis (15.000-100.000/mm3) dengan limfositosis
absolut selama stadium 1 (catarrhal) dan stadium 2
(paroxysmal).
e. Didapatkan antibodi (IgG terhadap toksin pertusis)
f. Diagnosis pasti dengan ditemukannya organisme Bordetella
pertussis pada apus nasofaring posterior (bahan media
Bordet-Gengou).
g. Polymerase chain reaction (PCR) assay memiliki
keuntungan sensitivitasnya lebih tinggi daripada kultur
pertusis konvensional.
h. Foto toraks
Infiltrat perihiler (perihilar infiltrates), edema (atau
mild interstitial edema) dengan berbagai tingkat
atelektasis yang bervariasi, mild peribronchial cuffing,
atau empiema.Konsolidasi (consolidation) merupakan
indikasi adanya infeksi bakteri sekunder atau pertussis
pneumonia (jarang).Adakalanya pneumothorax,
pneumomediastinum, atau udara di jaringan yang lunak
dapat terlihat.
Radiography tidak diindikasikan pada pasien dengan
tanda-tanda vital (vital signs) yang normal. Vital signs
ini meliputi: tekanan darah, nadi, heart rate,
respiration rate, dan suhu tubuh.
6. Komplikasi

Komplikasi dari pertusis adalah sebagai berikut:
a. Sistem pernafasan
Dapat terjadi otitis media, bronkhitis, bronchopneumonia,
atelektasis yang disebabkan sumbatan mukus,
emfisema, bronkietaksis, dan tuberculosis yang sudah ada
menjadi bertambah berat.
b. Sistem pencernaan
Muntah-muntah yang berat dapat menimbulkan emasiasis (anak
menjadi kurus sekali), prolapsus rectum atau hernia yang
mungkin timbul karena tingginya tekanan intra abdominal,
ulkus pada ujung lidah karena tergosok pada gigi atau
tergigit pada waktu serangan batuk, juga stomatitis.
c. Susunan saraf
Kejang dapat timbul karena gangguan keseimbangan
elektrolit akibat muntah-muntah, kadang-kadang terdapat
kongesti dan edema pada otak, mungkin pula terjadi
perdarahan otak.
d. Lain-lain
Dapat pula terjadi perdarahan lain seperti epistaksis,
hemoptisis dan perdarahan subkonjungtiva.

7. Penatalaksanaan

Menurut Garna, et.al. (2005), terapi pertusis adalah :
a. Suportif
1) Isolasi (1-2 minggu).
2) Mencegah faktor yang merangsang batuk (debu, asap
rokok).
3) Mempertahankan status nutrisi dan hidrasi.
4) Oksigen bila sesak nafas.
5) Pengisapan lendir.
6) Obat untuk mengurangi batuk paroksismal dengan
kortikosteroid (betametason) dan salbutamol (albuterol).
b. Eradikasi bakteri
Pilihan obat yang dapat diberikan adalah :
1) Eritromisin
Dosis: 40-50 mg/Kg berat badan/hari, maksimal 2
gram/hari, p.o., dibagi dalam 4 dosis selama 14 hari.
2) Klaritromisin
Dosis: 15-20 mg/Kg berat badan/hari, maksimal 1
gram/hari, p.o., dibagi dalam 2 dosis selama 7 hari.
3) Azitromisin
Dosis: 10 mg/Kg berat badan/hari, sehari 1x, p.o.,
dibagi selama 5 hari.
4) Kotrimoksasol
Dosis: 50 mg/Kg berat badan/hari, p.o., dibagi dalam 2
dosis, selama 14 hari.
5) Ampisilin
Dosis: 100 mg/Kg berat badan/hari, p.o., dibagi dalam 4
dosis selama 14 hari.

Sedangkan Guinto-Ocampo (2006) mengusulkan penatalaksanaan
pertusis sebagai berikut :

a. Antibiotik
1) Erythromycin
a) Nama Dagang di Amerika: EES, E-Mycin, Eryc, Ery-Tab,
Erythrocin.
b) Mekanisme kerja:
Menghambat pertumbuhan bakteri, dengan menghalangi
disosiasi peptidyl tRNA dari ribosom menyebabkan RNA-
dependent protein synthesis berhenti.
c) Dosis dewasa:
250 mg (erythromycin stearate/base) atau 400 mg
(ethylsuccinate) PO q6h 1 h ac, atau 500 mg
(stearate/base) q12h.
Alternatif lainnya, 333 mg (stearate/base) q8h, dapat
ditingkatkan hingga 4 g/hari tergantung dari beratnya
infeksi.
d) Dosis anak-anak
40-50 mg/kg/hari (stearate/base) PO dibagi qid; tidak
melebihi 2 g/hari.
Garam estolate dapat digunakan pada bayi karena
penyerapan yang lebih efektif.
2) Azithromycin
a) Nama Dagang di Amerika: Zithromax
b) Mekanisme kerja:
Menghambat pertumbuhan bakteri, dengan menghalangi
disosiasi peptidyl tRNA dari ribosom menyebabkan RNA-
dependent protein synthesis berhenti.
c) Dosis dewasa:
500 mg PO pada hari pertama, lalu 250 mg/hari selama 4
hari berikutnya (total 5 hari)
d) Dosis anak-anak
10-12mg/kg/hari PO selama 5 hari.
3) Clarithromycin
a) Nama Dagang di Amerika: Biaxin
b) Mekanisme kerja
Menghambat pertumbuhan bakteri, dengan menghalangi
disosiasi peptidyl tRNA dari ribosom menyebabkan RNA-
dependent protein synthesis berhenti.
c) Dosis dewasa:
500 PO bid untuk 7-10 hari.
d) Dosis anak-anak
15-20 mg/kg PO dibagi bid selama 5-7 hari; tidak
melebihi g/hari.
4) Trimethoprin-sulfamethoxazole
a) Nama Dagang di Amerika:Bactrim, Septra, Cotrim
b) Mekanisme kerja:
Menghambat pertumbuhan bakteri, dengan menghambat
sintesis dihydrofolic acid. Obat alternatif, namun
kemanjurannya (efficacy) belum terbukti untuk pertusis.
c) Dosis dewasa:
160 mg (trimethoprim component) / 800 mg
(sulfamethoxazole component) PO bid selama 7-10 hari
(misalnya: 1 DS tab bid)
d) Dosis anak-anak
<2 bulan: kontraindikasi.
>2 bulan: 6-10 mg/kg/hari (berdasarkan komponen
trimethoprim) PO dibagi q12h untuk 7-10 hari.
b. Vaksin
Imunisasi aktif meningkatkan kekuatan melawan
(resistance) infeksi. Vaksin terdiri dari mikroorganisme
atau komponen seluler yang bertindak sebagai antigen.
Pemberian vaksin menstimulasi produksi antibodi dengan
specific protective properties.
Semua anak berusia kurang dari 7 tahun haruslah
menerima vaksin pertusis. Di Amerika Serikat, vaksin
pertusis acellular direkomendasikan dan biasanya
dikombinasikan dengan diphtheria and tetanus toxoids
(DTaP).
Vaksin tidak dapat mencegah pertusis seluruhnya, namun
terbukti dapat memperingan durasi dan tingkat keparahan
pertusis.
1) DtaP
a) Nama Dagang di Amerika: Tripedia, Certiva, Infanrix.
b) Dosis Dewasa:
0,5 mL IM toksoid tetanus dan difteri (Td) dan dosis
menurut riwayat vaksin.
c) Dosis anak-anak
0,5 mL IM pada usia 2, 4, 6, 15-18 bulan, dan 4-6
tahun. 7-18 tahun jadwal catch-up untuk imunisasi
primer: 0,5 mL IM Td untuk 3 dosis. Berilah jarak 4
minggu di antara dosis pertama dan kedua, dan 6 bulan
di antara dosis kedua dan ketiga; ikuti dengan dosis
booster 6 bulan setelah dosis ketiga (boleh mengganti
Tdap untuk dosis jika usia sesuai)
d) Dosis booster remaja (10-18 tahun): Tdap 0,5 mL IM
sekali, dosis tunggal.
2) Tdap
a) Nama Dagang di Amerika: Adacel, Boostrix.
b) Dosis dewasa:
0,5 mL IM sekali sebagai dosis tunggal, diberikan
melalui musculus deltoideus. Booster dengan Td
direkomendasikan q10y
Lebih dari 65 tahun: tidak diindikasikan.
c) Dosis anak-anak
<10 tahun: tidak diindikasikan.
10-18 tahun: diberikan sesuai dengan dosis dewasa.
Pertussis-specific immune globulin merupakan produk
investigational yang mungkin efektif untuk mengurangi
batuk paroksismal namun masih memerlukan evaluasi
lebih lanjut.
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
DS : - Pasien mengatakan sering batuk-batuk.
DO : - Tampak lemah.
b. Pola nutrisi dan metabolic
DS : - Nafsu makan hilang.
- Mual/muntah.
DO : - Turgor kulit buruk.
- Penurunan massa otot.
- Penurunan BB.
c. Pola eliminasi
DS : - BAB dan BAK lancar.
DO : - Urine berbau amoniak dan berwarna kuning.
d. Pola aktivitas dan latihan.
DS : - Batuk panjang, kelelahan, demam ringan.
DO : - Sesak, kelelahan otot dan nyeri.
e. Pola tidur dan istirahat
DS : - Mudah terbangun.
DO : - Gelisah
f. Pola persepsi kognitif
DS : - Pasien mengatakan komunikasi terhambat akibat
batuknya.
g. DO : - Nyeri
– Mual
h. Pola persepsi dan konsep diri
DO : - Gelisah
i. Pola peran dan hubungan dengan sesame
DO : - dirawat di tempat khusus.
j. Pola reproduksi dan seksualitas
DS : - Penurunan gairah seksual.
DO: - Keadaan umum lemah, ketidakmampuan
beraktivitas.
k. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress
DS : - Pasien mengatakan stres terhadap batuk yang
dialaminya.
DO : - Gelisah.
l. Pola sistem kepercayaan
DS : - Pasien mengatakan mengalami kesejahteraan
spiritual.
DO : - Rajin beribadah.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang bisa muncul :
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
akumulasi secret.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual muntah.
c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
ketidakseimbangan perfusi-ventilasi.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
e. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit.
3. Intervensi Keperawatan

a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
akumulasi secret ditandai dengan :
 Frekuensi nafas tidak normal.
 Batuk dan adanya secret.
 Bunyi nafas tidak efektif.
Hasil Yang Diharapkan :
 Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas
bersih/jelas.
 Mengeluarkan sekret tanpa bantuan.
 Menunjukkan perilaku untuk memperbiki/ mempertahankan
bersihan jalan nafas.
 Berpartisipasi dalam program pengobatan, dalam tingkat
kemampuan/situasi.
Intervensi :
1) Auskultasi bunyi nafas (misal : mengi)
R/ untuk mengidentifikasi adanya obstruksi jalan nafas
yang membahayakan oksigenasi.
2) Kaji /pantau frekuensi pernafasan.
R/ untuk mengetahui adanya penurunan dan peningkatan
frekuensi pernafasan.
3) Berikan pasien posisi semi fowler.
R/ untuk membantu memaksimalkan ekspansi paru.
4) Ajarkan pasien melakukan batuk efektif.
R/ untuk membersihkan jalan nafas dan membantu
komplikasi pernafasan.
5) Anjurkan untuk minum air hangat.
R/ untuk membantu mengencerkan sekret.
6) Kolaborasi dengan dokter dalam hal pemberian obat
antibiotik.
R/ untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan meringankan
batuk.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual muntah, ditandai dengan :
 Penurunan BB
 Kelemahan
 Anoreksia
Hasil Yang Diharapkan : menunjukan peningkatan BB.
Intervensi :
1) Timbang berat badan pasien secara rutin
R/ untuk mengetahui adanya peningkatan berat badan
pasien.
2) Catat status nutrisi.
R/ untuk mengetahui pemasukan makanan.
3) Awasi pemasukan/pengeluaran makanan secara periodik.
R/ berguna dalam mengukur jumlah nutrisi.
4) Anjurkan untuk banyak istirahat.
R/ membantu menghemat energi khususnya bila metabolik
meningkat saat demam.
5) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk meningkatkan komposisi
diit.
R/ memberi bantuan dalam perencanaan diit.
c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
ketidakseimbangan perfusi- ventilasi, ditandai dengan :
 Sianosis
 Hipoksemia
Hasil Yang Diharapkan : Menunjukkan perbaikan ventilasi
dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal
dan tak ada gejala distres pernafasan.
Intervensi :
1) Kaji frekuensi dan kedalaman pernafasan.
R/ berguna dalam evaluasi derajat distres pernafasan dan
kronisnya proses penyakit.
2) Awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa.
R/ sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau
sentral (terlihat sekitar bibir attau daun telinga).
Keabu-abuan dan sianosis sentral mengindikasikan
beratnya hipoksemia.
3) Auskultasi bunyi nafas, caat area penurunan aliran udara
atau bunyi tambahan.
R/ bunyi nafas mungkin redup karena penurunan aliran
udara atau area konsulidasi.
4) Dorong mengeluarkan sputum, pengisapan bila
diindikasikan.
R/ kental, tebal, dan banyaknya sekresi adalah sumber
utama gangguan pertukaran gas pada jalan nafas kecil.
Penghisapan dibutuhkan jika batuk tidak efektif.
5) Kolaborasi dengan dokter dalam hal pengawasan GDA
R/ penurunan kandungan oksigen (PaO2) dan saturasi atau
peningkatan PaCO2 menunjukkkan kebutuhan untuk
intervensi/perubahan program terapi.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
Hasil yang diharapkan :
 Pasien dapat melakukan aktivitas dan memenuhi
 kebutuhannya secara mandiri dalam jangka waktu 5-6 hari.
Intervensi
1) Tingkatkan tirah baring/duduk.
R/ Aktivitas dan posisi duduk tegak diyakini menurunkan
aliran darah ke kaki, yang mencegah sirkulasi optimal
ke sel hati.
2) Lakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif
R/ Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini
dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang
mengganggu periode istirahat.
3) Berikan aktivitas hiburan yang tepat
R/ Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi,
memusatkan kembali perhatian dan dapat meningkatkan
koping.
4) Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran
hati
R/ Menunjukkan kurangnya resolusi/eksaserbasi penyakit
serta memerlukan istirahat lanjut dan mengganti
program terapi.
5) Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan pasien.
R/ dengan di bantu, kebutuhan pasien dapat terpenuhi.
6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian sedative, agen
antiansietas sesuai indikasi.
R/ Membantu dalam manajemen kebutuhan tidur.
e. Hipertermi berhubungan dengan reaksi inflamasi.
Hasil Yang Diharapkan : suhu tubuh kembali dalam keadaan
normal
Intervensi :
1) Monitoring perubahan suhu tubuh.
R/ Suhu tubuh harus dipantau secara efektif guna
mengetahui perkembangan dan kemajuan dari pasien.
2) Mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh dengan
pemasangan secret
R/ Cairan dalam tubuh sangat penting guna menjaga
homeostasis (keseimbangan) tubuh. Apabila suhu tubuh
meningkat maka tubuh akan kehilangan cairan lebih
banyak.
3) Anjurkan pada pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
yang optimal sehingga metabolisme dalam tubuh dapat
berjalan lancer
R/ Jika metabolisme dalam tubuh berjalan sempurna maka
tingkat kekebalan/ sistem imun bisa melawan semua
benda asing (antigen) yang masuk kedalam tubuh.
4) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik guna
mengurangi proses peradangan (inflamasi)
R/ Antibiotik berperan penting dalam mengatasi proses
peradangan (inflamasi)
DAFTAR PUSTAKA

Manjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid
II. Jakarta: Media Aesculapius

Doenges, Marilynn, E. dkk. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan,
Edisi 3. Jakarta: EGC

Ranuh IGN., Suyitno H., Hadinegoro SRS., Kartasasmita CB.,
Ismoedijanto, Soedjatmiko (Ed.). Pedoman Imunisasi di
Indonesia. Edisi Ketiga. Satgas Imunisasi – Ikatan Dokter
Anak Indonesia (IDAI). 2008:144-151.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. F DENGAN PERTUSIS
DI RUANG HCU RSU DR. SAIFUL ANWAR MALANG
TAHUN 2017

Tanggal MRS : 04 - 02 - 2017
Tanggal Pengkajian : 06 - 02 - 2017

1. IDENTITAS KLIEN
Nama : An. F
Umur : 2 Bulan
Jenis kelamin : Laki-laki
Nama ayah/Ibu : Ny. S & Tn. S
Pekerjaan Ayah : Swasta
Pekerjaan Ibu : IRT
Alamat : Suko Anyar Cokro RT 63 RW 63,
Kec. Pakis, Malang
Suku bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Biaya di tanggung oleh : Orang Tua

2. KELUHAN UTAMA SAAT PENGKAJIAN
Ibu klien mengatakan anaknya batuk – batuk

3. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG
Ibu klien mengatakan anaknya kejang selama 30 menit,
batuk-batuk, sesak, demam kemudian dibawa ke RSAU Abd.
Saleh Pakis, kemudian di rujuk ke RSSA pada tanggal 4
Februari 2017 pukul 19.00 WIB. Klien di tempatkan di
ruang Isolasi dengan terapi yang diberikan ceftriaxon
250 mg, antrai 150 mg, ranitidin 10 mg, ondansetron 1
mg.
4. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN
a. Prenatal
Pada saat hamil tidak ada keluhan
b. Natal
Pasien lahir normal, BBL 3200 g, PB 48 cm, tidak ada
penyakit saat lahir
c. Post natal
Tidak pernah kejang dan tidak ada ikterus

5. RIWAYAT MASA LAMPAU
a. Penyakit waktu kecil : Panas, Pilek
b. Pernah di rawat di RS : Sebelumnya tidak pernah di
rawat di Rumah Sakit
c. Obat-obatan yang digunakan : paracetamol
d. Tindakan (operasi) : Tidak pernah melakukan operasi
e. Alergi : Tidak ada alergi obat maupun makanan
f. Kecelakaan : Tidak pernah mengalami kecelakaan
g. Imunisasi : Tidak lengkap

6. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
a. Riwayat yang pernah diderita anggota keluarga :
b. Dalam anggota keluarga tidak ada yang mempunyai sakit
Hipertensi, DM, Kejang dll.
c. Penyakit yang sedang diderita anggota keluarga : Ibu
klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang sakit

7. RIWAYAT SOSIAL
a. Yang mengasuh : Orang tua kandung
b. Hubungan dengan anggota keluarga : Baik
c. Hubungan dengan teman sebaya : Tidak ada respon dengan
teman
d. Lingkungan rumah : Baik
8. KEBUTUHAN DASAR
a. Makanan yang di sukai/ tidak disukai :
Selera : -
Alat makan yang dipakai : OGT, Spuit
Pola makan/jam : 3 x sehari (06.00, 12.00, 17.00)
b. Pola tidur :
Kebiasaan sebelum tidur : Tidak ada
Tidur siang : -
Mandi : Diseka
c. Aktifitas bermain : Bedrest
d. Eliminasi : BAB dan BAK memakai pampers

9. KEADAAN KESEHATAN SAAT INI
a. Diagnosa medis : Pertusis
b. Tindakan operasi : tidak ada
c. Status nutrisi : kurang
d. Status cairan : balance cairan 43,75 – 43,75 = 0
e. Obat-obatan : terlampir
f. Hasil laboratorium : terlampir

10. PENGKAJIAN HEAD TO TOE
a. Kepala
 Rambut : hitam, tumbuh jarang
Kulit kepala : bersih, UUB rata, fontanela mayor
ada
 Mata
Pupil : miosis +, isoskor +
Sklera : tidak ikterik
Konjungtiva : anemis +
Gangguan penglihatan : tidak ada gangguan
penglihatan
 Hidung
Bentuk : simetris
Sekresi : tidak terdapat sekresi
Gangguan penciuman : tidak ada gangguan penciuman
Terpasang ETT
 Mulut
Kebersihan : bersih, tidak ada karies gigi,
terpasang ETT +
 Telinga
Bentuk : simetris
Sekresi : bersih, tidak ada serumen
Gangguan pendengaran : tidak ada gangguan
pendengaran
b. Leher
 Trachea
Palpasi : tidak ada pembesaran vena jugularis
 Glandula tyroid
Inspeksi : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
Palpasi : tidak ada benjolan
c. Dada
 Paru
Inspeksi : simetris, retraksi dinding dada (+)
Palpasi : tidak ada krepitasi
Perkusi : sonor
Auskultasi : ronkhi +, wheezing –
 Jantung
Palpasi : tidak teraba iktus cordis
Auskultasi : S1 tunggal, S2 normal, murmur -,
gallop –
d. Abdomen
Inspeksi : tidak ada asites
Auskultasi : -
Palpasi : tidak teraba massa abdomen
Perkusi : tympani
e. Genetalia : normal
f. Ekstrimitas
 Ekstremitas atas : simetris ka/ki
 Ekstremitas bawah : simetris ka/ki

11. PEMERIKSAAN TINGKAT PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
a. Fisik :
TB : 55 cm
BB : 5.5 kg
Gigi : belum tumbuh gigi
LK : 37 cm
LILA : 13 cm
b. Kemandirian dan bergaul
klien dalam pengawasan orang tua, kemandirian takut di
gendong dengan orang lain, belum bisa bermain dengan
teman.
c. Motorik halus
-
d. Motorik kasar
-
e. Kognitif dan bahasa
Klien hanya bisa menangis

12. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum : jelek
b. GCS : E : 2 V : 2 M : 3
c. Kesadaran : Somnolen
d. Tanda- tanda vital :
Spo2 : 97 %
N : 146 x/mnt
T : 37,8°C
RR : 35 x/mnt
13. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Laboratorium
Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
KIMIA KLINIK
Asam Laktat 4.4 mmol/L Vena :0.5-2.2
Arteri :0.5-1.6
METABOLISME KARBOHIDRAT
Glukosa (POCT) 77 mg/dL
ANALISA GAS DARAH
 pH 7.49
 pCO2 29.4 mmHg 7.35-7.45
 pO2 78.6 mmHg 35-45
 Bikarbonat (HCO3) 22.5 mmol/L 80-100
 Kelebihan Basa (BE) -1.0 mmol/L 21-28
 Saturasi O2 96.6 % (-3)-(+3)
 Hb 11.0 g/dL >95
 Suhu 37.0 ºC
ELEKTROLIT
ELEKTROLIT SERUM
 Natrium (Na) 139 mmol/L 136-145
 Kalium (K) 4.95 mmol/L 3.5-5.0
103 mmol/L 98-106
 Klorida (Cl)

14. TERAPI
a. Injeksi
 Ampi Sulfaktan
ANALISA DATA
NO DATA ETIOLOGI PROBLEM

1. DS : Ibu pasien Suplay O2 menurun Gangguan perfusi
mengatakan panas jaringan serebral
selama 2 hari dan
kejang selama 5x dalam
75 menit
DO:
- k/u jelek
- GCS 1X1
- HR: 104x/mnt
- T : 36,6°C
- RR: Via VTP
- Spo2 : 97 %
- TD : 80/60 mmHg
2. DS: Ibu pasien Penumpukan sekret Ketidakefektifan
mengatakan panas bersihan jalan
selama 2 hari dan nafas
kejang selama 5x dalam
75 menit
DO:
- k/u jelek
- GCS 1X1
- HR: 104x/mnt
- T : 36,6°C
- RR: Via VTP
- Spo2 : 97 %
- TD : 80/60 mmHg
- O2 via ETT + VTP
- Rhonki +
- Akral dingin
3. DS: Ibu pasien Penurunan fungsi Ketidakefektifan
mengatakan panas paru pola nafas
selama 2 hari dan
kejang selama 5x dalam
75 menit
DO:
- k/u jelek
- GCS 1X1
- HR: 104x/mnt
- T : 36,6°C
- RR: Via VTP
- Spo2 : 97 %
- TD : 80/60 mmHg

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan perfusi jaringan serebral b.d suplay O2
menurun
2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d penumpukan
sekret
3. Ketidakefektifan pola nafas b.d penurunan fungsi paru

NURSING CARE PLAN

TGL NO. Perencanaan Rasional
DX Tujuan Intervensi
15/01, 1 Tujuan : setelah dilakukan 1. berikan posisi yang 1. memberikan
17 tindakan keperawatan diharapka nyaman kenyamanan pada
gangguan perfusi jaringan 2. berikan lingkungan pasien
serebral menurun yang tenang 2. memberikan rasa
Kriteria Hasil : 3. pantau tanda-tanda nyaman pada pasien
1. GCS 456 vital 3. mengetahui salah
2. TTV dalam batas normal 4. berikan oksigenasi satu penyebab
- TD = 60-80 mmHg 10 lpm NRBM penurunan perfusi
- N = 120-160 x/ mnt 5. berikan bantuan jaringan serebral
-R = 30-60 x/ mnt VTP 4. memenuhi kebutuhan
-S = 36,5-37,5°C 6. Kolaborasi dengan oksigen dalam jaringan
tim medis dalam 5. membantu
pemberian obat perkembangan paru-
paru untuk bernafas
6. menyetabilkan
kondisi tubuh yang
tidak sesuai
15/01, 2. Tujuan : setelah dilakukan 1. auskultasi bunyi 1. mengetahui adanya
17 tindakan keperawatan nafas tambahan bunyi nafas tambahan
diharapkan ketidakefektifan 2. pertahankan tirah 2. mematenkan jalan
bersihan jalan nafas berkurang. baring dengan posisi nafas
Kriteria Hasil : semi fowler 3. memenuhi kebutuhan
1. tidak ada bunyi tambahan 3. berikan oksigenasi oksigen dalam jaringan
seperti ronkhi, wheezing 10 lpm NRBM 4. membantu
2. tidak terjadi distress 4. berikan bantuan perkembangan paru-
pernafasan VTP paru untuk bernafas
3. dapat bernafas spontan 5. pantau Spo2 5. mengetahui kadar O2
4. RR = 30-60 x/mnt 6. pantau tanda-tanda dalam tubuh
vital 6. mengetahui keadaan
7. kolaborasi dengan umum pasien
tim medis dalam 7. menyetabilkan
pemberianobat kondisi tubuh yang
8. lakukan suction tidak sesuai
8. membersihkan sekret
15/01, 3. Tujuan : setelah di lakukan 1. auskultasi bunyi 1. mengetahui adanya
17 tindakan keperawatan di nafas tambahan bunyi nafas tambahan
harapkan ketidakefektifan pola 2. berikan posisi untuk 2. mematenkan jalan
nafas berkurang membuka ventilasi nafas
Kriteria Hasil : 3. berikan oksigenasi 3. memenuhi kebutuhan
1. pasien tida sesak 10 lpm NRBM oksigenasi dalam
2. dapat bernafas spontan 4. pantau tanda-tanda jaringan tubuh
3. RR = 30-60 x/ mnt vital 4. mengetahui keadaan
5. kolaborasi dengan umum pasien
tim medis dalam 5. menyetabilkan
pemberian obat. kondisi tubuh yang
tidak sesuai.

CATATAN PERKEMBANGAN

TGL No. Implementasi Evaluasi
Dx
15/01,17 1 1. Memberikan posisi yang nyaman S : Ibu pasien mengatakan anaknya
2. Memberikan lingkungan yang tenang belum sadar
3. Memantau tanda-tanda vital O:
4. Memberikan oksigenasi 10 lpm NRBM - k/u jelek
5. Memberikan bantuan VTP - GCS 1X1
6. Berkolaborasi dengan tim medis dalam - HR = 110 x/mnt
pemberian obat - T = 36°C
- Dobutamin 20 mg/kg/mnt - Spo2 = 100%
- NE 0,3 mg/kg/mnt - TD = 82/61 mmHg
- Epineprin 0,7 mg/kg/mnt - RR = Via VTP
- Infus c1:2 30cc/jam A : Masalah Teratasi Sebagian
P : Lanjutkan Intervensi 1-6
15/01,17 2 1. Mengauskultasi bunyi nafas tambahan S : Ibu pasien mengatakan anaknya
2. Mempertahankan tirah baring belum sadar
3. Memberikan oksigenasi 10 lpm NRBM O:
4. Memberikan bantuan VTP - k/u jelek
5. Memantau Spo2 - GCS 1X1
6. Memantau tanda-tanda vital - HR = 110 x/mnt
7. Berkolaborasi dengan tim medis dalam - T = 36°C
pemberian obat - Spo2 = 100%
- Dobutamin 20 mg/kg/mnt - TD = 82/61 mmHg
- NE 0,3 mg/kg/mnt - RR = Via VTP
- Epineprin 0,7 mg/kg/mnt A : Masalah Teratasi Sebagian
- Infus c1:2 30cc/jam P : Lanjutkan Intervensi 1-7
8. melakukan suction

15/01,17 3 1. Mengauskultasi bunyi nafas tambahan S : Ibu pasien mengatakan anaknya
2. Memberikan posisi untuk membuka belum sadar
ventilasi O:
3. Memberikan oksigenasi 10 lpm NRBM - k/u jelek
4. Memantau tanda-tanda vital - GCS 1X1
5. Berkolaborasi dengan tim medis dalam - HR = 110 x/mnt
pemberian obat - T = 36°C
- Dobutamin 20 mg/kg/mnt - Spo2 = 100%
- NE 0,3 mg/kg/mnt - TD = 82/61 mmHg
- Epineprin 0,7 mg/kg/mnt - RR = Via VTP
- Infus c1:2 30cc/jam A : Masalah Teratasi Sebagian
P : Lanjutkan Intervensi 1-5

CATATAN PERKEMBANGAN

TGL No. Implementasi Evaluasi
Dx
16/01,17 1 1. Memberikan posisi yang nyaman S : Ibu pasien mengatakan anaknya
2. Memberikan lingkungan yang tenang belum sadar
3. Memantau tanda-tanda vital O:
4. Memberikan oksigenasi 10 lpm NRBM - k/u jelek
5. Memberikan bantuan VTP - GCS 1X1
6. Berkolaborasi dengan tim medis dalam - HR = 105 x/mnt
pemberian obat - T = 35°C
- Dobutamin 20 mg/kg/mnt - Spo2 = 100%
- NE 0,3 mg/kg/mnt - TD = 42/28 mmHg
- Epineprin 0,7 mg/kg/mnt - RR = Via VTP
- Infus c1:2 30cc/jam A : Masalah Teratasi Sebagian
P : Lanjutkan Intervensi 1-6
16/01,17 2 1. Mengauskultasi bunyi nafas tambahan S : Ibu pasien mengatakan anaknya
2. Mempertahankan tirah baring belum sadar
3. Memberikan oksigenasi 10 lpm NRBM O:
4. Memberikan bantuan VTP - k/u jelek
5. Memantau Spo2 - GCS 1X1
6. Memantau tanda-tanda vital - HR = 105 x/mnt
7. Berkolaborasi dengan tim medis dalam - T = 35°C
pemberian obat - Spo2 = 100%
- Dobutamin 20 mg/kg/mnt - TD = 42/28 mmHg
- NE 0,3 mg/kg/mnt - RR = Via VTP
- Epineprin 0,7 mg/kg/mnt A : Masalah Teratasi Sebagian
- Infus c1:2 30cc/jam P : Lanjutkan Intervensi 1-7

16/01,17 3 1. Mengauskultasi bunyi nafas tambahan S : Ibu pasien mengatakan anaknya
2. Memberikan posisi untuk membuka belum sadar
ventilasi O:
3. Memberikan oksigenasi 10 lpm NRBM - k/u jelek
4. Memantau tanda-tanda vital - GCS 1X1
5. Berkolaborasi dengan tim medis dalam - HR = 105 x/mnt
pemberian obat - T = 35°C
- Dobutamin 20 mg/kg/mnt - Spo2 = 100%
- NE 0,3 mg/kg/mnt - TD = 42/28 mmHg
- Epineprin 0,7 mg/kg/mnt - RR = Via VTP
- Infus c1:2 30cc/jam A : Masalah Teratasi Sebagian
P : Lanjutkan Intervensi 1-5

CATATAN PERKEMBANGAN

TGL No. Implementasi Evaluasi
Dx
17/01,17 1 1. Memberikan posisi yang nyaman S : Ibu pasien mengatakan anaknya
2. Memberikan lingkungan yang tenang belum sadar
3. Memantau tanda-tanda vital O:
4. Memberikan oksigenasi 10 lpm NRBM - k/u jelek
5. Memberikan bantuan VTP - GCS 1X1
6. Berkolaborasi dengan tim medis dalam - HR = 110 x/mnt
pemberian obat - T = 33°C
- Dobutamin 20 mg/kg/mnt - Spo2 = 96%
- NE 0,3 mg/kg/mnt - TD = 78/50 mmHg
- Epineprin 0,7 mg/kg/mnt - RR = via VTP
- Infus c1:2 30cc/jam A : Masalah Teratasi Sebagian (APS)
P : Hentikan Intervensi
17/01,17 2 1. Mengauskultasi bunyi nafas tambahan S : Ibu pasien mengatakan anaknya
2. Mempertahankan tirah baring belum sadar
3. Memberikan oksigenasi 10 lpm NRBM O:
4. Memberikan bantuan VTP - k/u jelek
5. Memantau Spo2 - GCS 1X1
6. Memantau tanda-tanda vital - HR = 110 x/mnt
7. Berkolaborasi dengan tim medis dalam - T = 33°C
pemberian obat - Spo2 = 96%
- Dobutamin 20 mg/kg/mnt - TD = 78/50 mmHg
- NE 0,3 mg/kg/mnt - RR = Via VTP
- Epineprin 0,7 mg/kg/mnt A : Masalah Teratasi Sebagian(APS)
- Infus c1:2 30cc/jam P : Hentikan Intervensi

17/01,17 3 1. Mengauskultasi bunyi nafas tambahan S : Ibu pasien mengatakan anaknya
2. Memberikan posisi untuk membuka belum sadar
ventilasi O:
3. Memberikan oksigenasi 10 lpm NRBM - k/u jelek
4. Memantau tanda-tanda vital - GCS 1X1
5. Berkolaborasi dengan tim medis dalam - HR = 110 x/mnt
pemberian obat - T = 33°C
- Dobutamin 20 mg/kg/mnt - Spo2 = 96%
- NE 0,3 mg/kg/mnt - TD = 78/50 mmHg
- Epineprin 0,7 mg/kg/mnt - RR = Via VTP
- Infus c1:2 30cc/jam A : Masalah Teratasi Sebagian(APS)
P : Hentikan Intervensi

RESUME

Nama : An. D Jenis Kelamin : Laki-laki
No. Register : 11325718 Tanggal Pengkajian : 15-01-17
Umur : 11 Bulan Ruang : HCU (Anak )
Dx Medis : Epileptikus
S : Ibu pasien mengatakan demam 1 hari SMRS dan kejang 10x 2-5 menit
O :
- k/u lemah - Mukosa bibir kering
- kesadaran samnolent - N : 100x/mnt
- GCS 345 - RR : 40x/mnt
- Akral dingin - S : 35,6°C
A : Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
P : 1. Batasi pengunjug
2. berikan lingkungan yang nyaman
3. berikan posisi yang nyaman
4. pantau tanda-tanda vital
5. berikan oksigenasi 8 lpm NRBM
6. kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat
I : 1. membatasi pengunjug
2. memberikan lingkungan yang nyaman
3. memberikan posisi yang nyaman
4. memantau tanda-tanda vital
5. memberikan oksigenasi 8 lpm NRBM
6. berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat

E :
S : Ibu pasien mengatakan keadaan anaknya sudah membaik
O:
- k/u lemah - Mukosa bibir kering
- kesadaran CM - N : 100x/mnt
- GCS 456 - RR : 30x/mnt
- Akral dingin - S : 36,6°C
A: Masalah Teratasi Sebagian
P: Lanjutkan Intervensi 4,5 & 6
RESUME

Nama : An. Z Jenis Kelamin : Perempuan
No. Register : 11306820 Tanggal Pengkajian : 15-01-17
Umur : 1 Tahun Ruang : HCU (Anak)
Dx Medis : Tetralogi of falcot & Community aiqured of pneumonia

S : Ibu pasien mengatakan anaknya batuk, pilek, dan sesak
O :
- k/u lemah - N : 104 x/mnt
- tampak pucat - RR : 38x/mnt
- sianosis + - S : 36°C
- retraksi intercoste + - Spo2 : 70 %
A : Ketidakefektifan pola nafas
P : 1. Monitor pola nafas, hitung dan catat frekuensi pernafasan
2. monitor tanda-tanda distres pernafasan
3. berikan posisi semi fowler
4. berikan oksigenasi 2 lpm
5. lakukan nebulizer tiap 4 jam sekali (pz)
6. kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat
I : 1. memonitor pola nafas, hitung dan catat frekuensi pernafasan
2. memonitor tanda-tanda distres pernafasan
3. memberikan posisi semi fowler
4. memberikan oksigenasi 2 lpm
5. melakukan nebulizer tiap 4 jam sekali (pz)
6. berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat
- Ampicillin 250 mg
- Chlorampenicol 125 mg
E :
S : Ibu pasien mengatakan batuk, pilek, dan sesak pada anaknya berkurang
O:
- k/u lemah - N : 118 x/mnt
- tampak pucat - RR : 34x/mnt
- sianosis + - S : 36,3°C
- retraksi intercoste + - Spo2 : 82 %
A: Masalah Teratasi Sebagian
P: Lanjutkan Intervensi 1,2,5,& 6

RESUME

Nama : An. S Jenis Kelamin : Laki-laki
No. Register : 11325993 Tanggal Pengkajian : 18-01-17
Umur : 7 Tahun Ruang : HCU (Anak)
Dx Medis : DHF

S : Ibu pasien mengatakan anaknya sesak dan nyeri perut
O :
- k/u lemah - Hb 10,80 g/dl - Trombosit 9 10³/ul
- tampak pucat - Eritrosit 38400000/ul - N : 92x/mnt
- konjungtiva anemis - leukosit 8,31 10³/ul - RR : 24x/mnt
- mukosa bibir kering - Hematokrit 31,80 % - S : 38,6°C
A : Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
P :1. Berikan posisi yang nyaman
2. berikan oksigenasi 2 lpm nasal kanul
3. monitor tanda-tanda vital
4. monitor tanda-tanda infeksi
5. berikan transfusi albumin
6. kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat
I : 1. memberikan posisi yang nyaman
2. memberikan oksigenasi 2 lpm nasal kanul
3. memonitor tanda-tanda vital
4. memonitor tanda-tanda infeksi
5. memberikan transfusi albumin
6. berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat
E :
S : Ibu pasien mengatakan anaknya demam
O:
- k/u lemah - Hb 10,80 g/dl - Trombosit 9 10³/ul
- tampak pucat - Eritrosit 38400000/ul - N : 112x/mnt
- konjungtiva anemis - leukosit 8,31 10³/ul - RR : 30x/mnt
- mukosa bibir kering - Hematokrit 31,80 % - S : 37°C
A: Masalah Belum Teratasi
P: Lanjutan Intervensi 1-6

RESUME

Nama : An. P Jenis Kelamin : Perempuan
No. Register : 11325805 Tanggal Pengkajian : 17-01-17
Umur : 1 Tahun Ruang : HCU ( Anak)
Dx Medis : Anemia Hemolitik

S : Ibu pasien mengatakan anaknya demam selama kurang lebih 4 hari, dan pucat.
O :
- k/u lemah - Hb 5,20 g/dl - Trombosit 504
10³/ul
- tampak pucat - Eritrosit 311000000/ul - N : 101x/mnt
- mukosa bibir kering - Leukosit 20,10 10³/ul - S : 36,5°C
- akral dingin - Hematokrit 18,50% - R : 24x/mnt
A : Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
P : 1. Berikan posisi yang nyaman
2. berikan oksigenasi 2 lpm nasal kanul
3. monitor tanda-tanda vital
4. monitor tanda-tanda infeksi
5. berikan nebulizer 2 jam sekali (ventolin)
6. berikan transfusi PRC 100 cc
7. kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat
I : 1. memberikan posisi yang nyaman
2. memberikan oksigenasi 2 lpm nasal kanul
3. memonitor tanda-tanda vital
4. memonitor tanda-tanda infeksi
5. memberikan nebulizer 2 jam sekali (ventolin)
6. memberikan transfusi PRC 100 cc
7.berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat
 ampicillin 200 mg
 multivitamin syrup
E :
S : Ibu pasien mengatakan demam pada anaknya sudah turun, masih pucat.
O:
- k/u lemah - Hb 5,20 g/dl - Trombosit 504
10³/ul
- tampak pucat - Eritrosit 311000000/ul - N : 115x/mnt
- mukosa bibir kering - Leukosit 20,10 10³/ul - S : 36,6°C
- akral dingin - Hematokrit 18,50% - R : 24x/mnt
A: Masalah Teratasi Sebagian
P: Lanjutkan Intervensi 3,4,5&7
RESUME

Nama : An. A Jenis Kelamin : Perempuan
No. Register : 11325818 Tanggal Pengkajian : 16-01-17
Umur : 1 Bulan Ruang : HCU (Anak)
Dx Medis : Pneumonia

S : Ibu pasien mengatakan anaknya batuk, sesak kurang lebih 2 minggu.
O :
- k/u lemah - N : 110x/mnt
- cuping hidung + - R : 50x/mnt
- retraksi intercoste + - S : 37°C
- Spo2 97%
A : Ketidaefektifan pola nafas
P : 1. Monitor pola nafas, hitung dan catat frekuensi pernafasan
2. monitor tanda-tanda distres pernafasan
3. berikan posisi yang nyaman bagi pasien
4. berikan oksigenasi 0,5 lpm
5. lakukan nebulizer tiap 6 jam sekali ( ventolin)
6. kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat
I : 1. Memonitor pola nafas, hitung dan catat frekuensi pernafasan
2. memonitor tanda- tanda distres pernafasan
3. memberikan posisi yang nyaman bagi pasien
4. memberikan oksigenasi 0,5 lpm
5. melakukan nebulizer tiap 6 jam sekali (ventolin)
6. berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat
E :
S : Ibu pasien mengatakan batuk dan sesak anaknya berkurang
O:
- k/u lemah - N : 122 x/mnt
- cuping hidung + - RR : 48x/mnt
- retraksi intercoste + - S : 36,8°C
- Spo2 98 %
A: Masalah Belum Teratasi
P: Lanjutkan Intervensi 1,2,5 & 6

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful