Está en la página 1de 4

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai akuntan pemerintah

mempunyai peranan yang penting dengan dikeluarkannya UU 17/2003 tentang

Keuangan Negara, UU No 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara, UU No

15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan

Negara, dan UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Republik

Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 menyebutkan bahwa pemerintah daerah

diwajibkan untuk menyampaikan laporan keuangan sebagai

pertanggungjawaban telah berakhirnya tahun anggaran, yang disusun dan

disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) dan wajib

diaudit oleh BPK. SAP menjadi pedoman untuk menyatukan persepsi antara

penyusun, pengguna, dan auditor. Pemeriksaan laporan keuangan daerah oleh

BPK bertujuan untuk menjamin kewajaran informasi keuangan yang disajikan

dalam laporan keuangan pemerintah daerah.

Dalam melaksanakan audit terhadap laporan keuangan pemerintah daerah

dan memberikan opini atas kewajarannya sering dibutuhkan judgment

(Zulaikha, 2006). Judgment sebagai proses kognitif yang merupakan perilaku

pemilihan keputusan. Dalam membuat suatu judgment, auditor akan

mengumpulkan berbagai bukti relevan dalam waktu yang berbeda dan

kemudian mengintegrasikan informasi dari bukti-bukti tersebut. Jamilah, dkk.

(2007) menjelaskan bahwa judgment merupakan suatu proses yang terus


2

menerus dalam perolehan informasi (termasuk umpan balik dari tindakan

sebelumnya), pilihan untuk bertindak atau tidak bertindak, serta penerimaan

informasi lebih lanjut oleh auditor. Dalam menjalankan profesinya sebagai

auditor, seorang akuntan diatur oleh suati kode etik akuntan dimana dalam

pasal ayat 1 (2) kode etik Akuntan Indonesia mengamanatkan bahwa setiap

anggota harus memperhatikan integritas dan objektivitas dalam menjalankan

tugasnya mempertahankan integritas, ia akan jujur, tegas dan tanpa pretensi.

Sedangkan dengan mempertahankan objektivitas, ia akan bertindak adil tanpa

dipengaruhi pihak tertentu atau kepentingan lainnya. Seorang auditor dalam

pada kejadian-kejadian masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Standar

Profesi Akuntan Publik (SPAP) pada seksi 341 menyebutkan bahwa audit

judgment atas kemampuan kesatuan dalam mempertahankan kelangsungan

hidup perusahaan harus didasarkan pada ada tidaknya kesangsian dalam diri

seorang auditor terhadap kemampuan suatu usaha untuk mempertahankan

kelangsungan hidup dalam satu periode sejak tanggal laporan keuangan

auditan.

Audit Judgment merupakan tugas yang dilakukan oleh seorang auditor,

dalam membuat judgment. Auditor seringkali dipengaruhi oleh banyak faktor,

baik bersifat teknis maupun non teknis. Aspek perilaku individu sebagai salah

satu faktor yang banyak mempengaruhi pembuatan audit judgment, saat ini

semakin banyak menerima perhatian dari para praktisi akuntansi maupun dari

akademis. Namun demikian, meningkatnya perhatian tersebut tidak diimbangi

dengan pertumbuhan penelitian tidak menjadi fokus utama (Mayer, 2001


3

dalam Siti Jamilah, 2007). Cara pandang yang berbeda oleh seorang auditor

dapat mempengaruhi suatu hasil dalam melakukan tanggung jawab dan risiko

audit yang dihadapi sehubungan dengan judgment yang dibuatnya.

Proses pengambilan keputusan merupakan suatu keadaan yang sangat

rawan, apabila auditor tidak dapat mengendalikan dirinya terhadap peristiwa

atau kejadian yang terjadi pada dirinya, apalagi ditambah pekerjaan audit yang

begitu kompleks maka auditor dikhawatirkan akan terpengaruh dalam dengan

peran penting dan tanggung jawab auditor, maka kebijakan dan keandalan

auditor dalam menentukan kewajaran atas laporan keuangan dangat diperlukan

sehingga auditor dituntut untuk berada dalam kendali (in control) atas dirinya

serta tanggung jawab terhadap citra profesi dengan tetap berpegang teguh

terhadap prinsip-prinsip untuk menghindari terjadinya kecurangan-kecurangan

atas laporan keuangan. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi auditor

dalam menanggapi dan mengevaluasi informasi ini antara lain meliputi

pengetahuan dan pengalaman auditor, seberapa besar pengetahuan dan

pengalaman akan mempengaruhi pekerjaannya dalam mengaudit laporan

keuangan, faktor lain adalah locus of control auditor dalam merasakan

hubungan kontijensi antara tindakan dan hasil yang mereka peroleh dalam

melakukan pemeriksaan.

Seorang yang percaya bahwa suatu hal tergantung pada usaha keras yang

dilakukan cenderung memiliki internal locus of control, sedangkan seseorang

yang menganggap bahwa suatu hasil ditentukan oleh faktor luar didirinya lebih

memiliki eksternal locus of control. Mudrack (1993) dalam Kurnia (2002)


4

menyatakan bahwa individu yang mempunyai locus of control eksternal

cenderung untuk melakukan tindakan maipulatif, dibandingkan dengan

individu yang mempunyai locus of control internal.