Está en la página 1de 57

SUSUNAN

KEPENGURUSAN
Pelindung:
Prof. Dr. dr Kusharisupeni M.Sc

Pimpinan redaksi
Aidah Auliyah, S.Gz

Sekretaris Umum
Friska Arthalina T

Dewan redaksi
Tony Arjuna, S.Gz
Adila Prabasiwi, SKM
Saskia Piscesa, S.Gz
Mutia Imro A ,S.Gz
Mutia Anggun Sayekti Rujito
Lini Anisfatus Sholihah
Fadilla Ajani

Tata letak dan ilustrasi jurnal


Fitya Shafira
Apriyan Pratama

Keuangan
Mega Dwi Kartika

Promosi
Ratu Tatya Rachman
Adila Fahmida Saptari
Novia Akmaliyah
Rudianto
Desy Prima Lestari
Mief Qurani
Baiq Fitria
Rio Aditya

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [i]


DAFTAR ISI
1. Faktor risiko asupan fe, inhibitor kalsium dan jarak kelahiran terhadap kejadian
osteoporosis pada ibu hamil di klinik nurani godean
(presentasi oral pada simposium gizi nasional fk ugm, 15 oktober 2011)

Sandy ardiansyah, tri siswati, elza ismail, nur dwi handayani 1

2. Pengaruh pemberian nata de coco terhadap kadar kolesterolldl dan hdlpada tikus
hiperkolesterolemi

Diyan yunanto setyaji ..... 12

3. Hubungan asupan makanan dan faktor lain dengan obesitas pada pegawai unit
pelayanan gizipelayanan kesehatan sint carolus jakarta tahun 2012
Herlin mey sartika hutajulu .... 20

4. Hubungan antara karakteristik siswa, pengetahuan, media massa dan teman sebaya
dengan konsumsi makanan jajanan pada siswa sma negeri 68 jakarta tahun 2012

Imam aulia 29

5. Dampak komposisi minuman berenergi bagi tubuh

katondio bayumitra wedya . 36

6. Perbedaan tingkat konsumsi energi, protein, dan zat gizi mikro antara balita stunted
dan non-stunted di kelurahan kartasura, kecamatan kartasura, kabupaten sukoharjo

Punto tyas aditya putra .. 41

7. Hubungan Faktor Resiko Obesitas dengan Rasio Lingkar Pinggang Pinggul Mahasiswa
FKM UI Tahun 2011

agus hidayatulloh, ery irawan, faizal firdaus, fitriatul isnaini, nurul fadhilah, riefyan adhi,
santosa aji nurcahya dan syafira rembulan sari ................................................................ 48

[ii] BIMGI | Volume 1 | November 2012


PENELITIAN

FAKTOR RISIKO ASUPAN FE, INHIBITOR


KALSIUM DAN JARAK KELAHIRAN
TERHADAP KEJADIAN OSTEOPOROSIS
PADA IBU HAMIL DI KLINIK NURANI GODEAN
(Presentasi Oral pada Simposium Gizi Nasional FK UGM, 15 Oktober 2011)

Sandy Ardiansyah1, Tri Siswati2, Elza Ismail3, Nur Dwi Handayani4


1. Jurusan Gizi Potekkes Kemenkes Yogyakarta (sandy_ahligizi@ymail.com, 081367766648)
2. Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta (tiur_gizi_yogya@yahoo.com, 081227614547)
3. Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
4. Ahli Gizi RSUP Dr Sardjito Yogyakarta

ABSTRAK
Osteoporosis bisa terjadi ketika seorang perempuan sedang hamil atau menyusui. Wanita yang sedang
hamil harus mempunyai asupan Fe, kalsium yang lebih bagi perkembangan janin. Faktor inhibitor penyerapan
kalsium adalah zat organik yang dapat bersenyawa dengan kalsium membentuk garam yang tidak larut, antara
lain konsumsi asam oksalat, natrium dan serat. Jarak kelahiran yang pendek juga dapat memngaruhi risiko
osteoporosis, karena ibu belum mempunyai waktu yang cukup untuk mengembalikan kesehatan setelah
persalinan sebelumnya. Penelitian case-control ini dilakukan di Klinik Nurani Godean pada tahun 2011 dengan
tujuan mengetahui faktor risiko asupan Fe, inhibitor kalsium dan jarak kelahiran terhadap kejadian osteoporosis
pada ibu Hamil. Sebanyak 90 ibu hamil terdiri dari 30 osteoporosis dan 60 non osteoporosis diteliti sebagai
sampel. Data yang diteliti meliputi asupan Fe, inhibitor kalsium, jarak kelahiran, dan Bone Mineral Density.
Sebagian besar ibu hamil osteoporosis terjadi pada trimester III (60%), mempunyai asupan Fe berisiko (93,3%),
asupan asam oksalat berisiko (53,3%), asupan natrium yang berisiko (56,7%), asupan serat berisiko (56,7%)
dan jarak kelahiran berisiko (3,3%). Sebagian besar ibu hamil non osteoporosis terjadi pada trimester II (35%)
dan trimester III (33,3%), mempunyai asupan Fe berisiko (91,7%), asupan asam oksalat berisiko (30%), asupan
natrium berisiko (45%), asupan serat berisiko (48,3%) dan jarak kelahiran berisiko (1,7%).
Kata Kunci : Asupan Fe, Inhibitor Kalsium, Jarak Kelahiran, Osteoporosis

ABSTRACT
Osteoporosis happened when a woman is pregnant or lactating. Pregnant women must have more
iron intake, more calcium intake for development babies inside. A factor that inhibitors calcium absorption
is the presence of organic substances that can be compound with calcium to form insoluble salts, such as the
consumption of oxalic acid, sodium and fiber. Birth space of near can also being the risk of osteoporosis, the
mother which no time to recover health after child birth.
Observasional research with design of case-control study. Research conducted at Klinik Nurani Godean.
There are 90 sample pregnant women such as 30 pregnant women as osteoporosis and 60 pregnant women as
non osteoporosis. As data research iron intake, calcium inhibitor, birth space, and Bone Mineral Density.
Most pregnant women with osteoporosis happen in the third trimester (60%), iron consumption risk
(93,3%), oxalic acid consumption risk (53,3%), sodium consumption risk (56,7%), fiber consumption risk
(56,7%) and birth space risk (3,3%). After that, the majority of pregnant women on non-osteoporosis happen
in the second trimester (35%) and the third trimester (33,3%), iron consumption risk (91,7%), oxalic acid
consumption risk (30%), sodium consumption risk (45%), fiber consumption risk (48,3%) and birth space risk
(1,7%).
Keywords : Iron intake, Calcium inhibitor, Birth space, Osteoporosis

BIMGI | volume 1 | November 2012 [1]


B im g i | B er k a la I lm i ah M a h as is wa G i zi

A. Latar Belakang Pada umumnya pencegahan osteoporosis


melalui diet yang dianjurkan adalah meningkatkan
konsumsi makanan sumber kalsium dan vitamin D.
Hidup sehat, bugar, dan tetap aktif
Namun, penelitian terkini menunjukkan bahwa zat
merupakan dambaan banyak orang. Namun seiring
besi berperan untuk mempertahankan kepadatan
dengan bertambahnya usia, fungsi organ tubuh pun
mineral tulang yang berkaitan dengan fungsinya
berangsur-angsur menurun dan berakibat timbulnya
pada sintesis kolagen (protein berserat pada
berbagai penyakit, salah satunya adalah kepadatan
jaringan ikat, tulang, tulang rawan) yang merupakan
tulang1. Osteoporosis didefinisikan sebagai
komponen kunci tulang. Zat besi berperan sebagai
kepadatan mineral tulang (Bone Mineral Density)
kofaktor (komponen-komponen nonprotein enzim)
yang kurang dari -2,5 SD dibawah rata-rata, hingga
bagi enzim-enzim yang terlibat dalam sintesis
saat ini wanita muda di Indonesia belum diketahui
kolagen1.
secara pasti, namun risiko terjadinya osteoporosis
Osteoporosis bisa terjadi ketika seorang
cukup tinggi. Menurut penelitian Badan Litbang
wanita sedang hamil atau menyusui. Perempuan
Depkes Tahun 2005, 1 dari 3 wanita dan 1 dari 5 pria
yang sedang mengandung akan kehilangan lebih
memiliki kecenderungan menderita osteoporosis2.
banyak kalsium karena asupan yang dibutuhkan dua
Berdasarkan analisis data dari Puslitbang
kali asupan normal. Jika asupan tidak terpenuhi,
Gizi dan Makanan Kemenkes RI, Daerah Istimewa
maka janin akan menyerap asupan kalsium ibunya.
Yogyakarta (DIY) menempati urutan tertinggi
Kasus ini ditemukan ketika masa trimester ketiga
ke-3 (23,5%) setelah Sumatra (27,7%) dan Jawa
(usia kehamilan 6-9 bulan)7 . Penelitian
Tengah (24,02%)3 dalam hal penderita
8
Kumar pada 233 wanita hamil untuk dinilai densitas
osteoporosis. Pada penelitian pendahuluan yang
mineral tulang dan hasilnya dianalisis dengan T-
dilakukan oleh Ramayulis tahun 2005 tentang
Score untuk insiden massa tulang normal,
kepadatan tulang di Jakarta dengan subyek
osteopenia, dan osteoporosis pada dua kelompok
penelitian 1503 wanita yang berusia antara 20-65
yang berbeda yaitu primigravidas (riwayat
tahun selama tahun 2005 (26 februari-11 desember
melahirkan satu kali) dan multigravidas (riwayat
2005) didapatkkan hasil
melahirkan lebih dari satu kali) diperoleh hasil
; 331 orang (22%) dinyatakan osteoporosis, 532
bahwa dari 233 wanita hamil,
orang (35,4%) dinyatakan osteopenia dan 640 orang
23,6% memiliki cadangan tulang normal, 41,6%
(42,6%) mempunyai kepadatan tulang baik 4.
adalah osteopenia dan 34,8% osteoporosis.
Kalsium merupakan salah satu
Paritas merupakan salah satu faktor risiko
makromineral dan unsur mineral terbanyak yang
osteoporosis karena pembentukan kerangka tulang
dibutuhkan oleh tubuh manusia yaitu kurang lebih
janin akan mengambil 3% kalsium tulang ibu.
800 mg pada orang dewasa dan ditambah 400
Selama kehamilan trimester pertama kurang lebih 5
mg pada kondisi hamil5. Salah satu faktor yang
mmol/hari (200 mg/hari) kalsium diperlukan untuk
menghalangi (inhibitor) penyerapan kalsium adalah
pertumbuhan janin. Jarak kelahiran yang optimal
adanya zat organik yang dapat bersenyawa dengan
dapat memberikan kesempatan bagi ibu untuk
kalsium membentuk garam yang tidak larut antara
memperbaiki kesehatan setelah melahirkan adalah
lain konsumsi serat yang berlebihan penggunaan
2 tahun9.
garam yang berlebihan juga menjadi pemicu
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
penghambat karena garam akan memaksa kalsium
faktor risiko asupan Fe, inhibitor kalsium dan jarak
keluar dari tubuh yang terbuang melalui urin. Asam
kelahiran terhadap kejadian osteoporosis pada ibu
oksalat yang berlebihan juga dapat membentuk
hamil di Klinik Nurani Godean.
senyawa kalsium oksalat yang tidak larut sehingga
tidak dapat diserap oleh tubuh6.

[2] BIMGI | volume 1 | November 2012


F a k t o r R i s i k o A s u p a n F e, I n h i b i t o r K a l s i u m , d a n J a r a k K e l a h i r a n t e r h a d a p O s t e o p o r o s i s p a d a B um i l

A. Metode pendidikan ibu akan mempengaruhi sikap dan keterampilan


dalam menerapkan prinsip gizi12. Tingkat pendidikan yang
Penelitian ini merupakan penelitian lebih tinggi akan memudahkan seseorang untuk menyerap
kuantitatif dengan metode observasional dan informasi dan mengimplementasikan kesehatan dan gizi13.
rancangan penelitian studi kasus-kontrol. Observasi Berdasarkan status pekerjaan, sebagian besar ibu
dimulai dengan pendefinisian individu-individu hamil tidak bekerja yaitu 56,7% osteoporosis dan 60% yang non
sebagai kasus atau kontrol, kemudian ditelusuri ke osteoporosis. Sedangkan menurut usia kehamilan, sebagian
belakang untuk mengamati riwayat karakteristik besar ibu hamil yang menjadi responden kehamilannya 7-9
atau paparan yang diduga mengakibatkan terjadinya bulan (trimester III) sebesar 60% osteoporosis dan pada
penyakit osteoporosis10. ibu hamil yang non osteoporosis pada kehamilan trimester
Penelitian dilakukan di Klinik Nurani I (31,7%) dan III (33,3%). Usia kehamilan mempengaruhi
Godean tahun 2011. Sebanyak 90 ibu hamil terdiri kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil diantaranya Fe. Rentang
dari 30 osteoporosis dan 60 non osteoporosis diteliti kehamilan dimulai dari trimester II merupakan umur
sebagai sampel. Data yang dikumpulkan meliputi kehamilan dengan tingkat kebutuhan dan penyerapan Fe yang
asupan Fe, inhibitor kalsium (asupan asam oksalat, tinggi12.
natrium dan serat), jarak kelahiran, dan kepadatan Seluruh data karakteristik responden yang telah
tulang. diuraikan sebelumnya berdasarkan umur, trimester kehamilan,
Data asupan zat gizi dikumpulkan dengan pendidikan, dan pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 1.
metode FFQ Semikuantitatif dan dianalisis dengan
nutrisurvey dan CD Menu (program komputer Tabel 1. Karakteristik Responden
untuk mencari nilai suatu bahan pangan). Kepadatan Osteoporosis Non Osteoporosis
Variabel
tulang diukur dengan Quantitative Ultrasound Bone n=30 % n=60 %
Densitometry. Analisis data meliputi deksriptif dan Umur
a. 20 35 tahun 26 86,7 57 95
statistik untuk mencari nilai odds ratio dari masing- b. > 35 tahun 4 13,3 3 5
masing variabel. Tingkat pendidikan
a. Tamat SD/MI
b. Tamat SMP/ 1 3,3 0 -
SLTP/MTS 1 3,3 1 1,7
B. Hasil dan Pembahasan c. Tamat SMA/ 17 56,7 36 60
SLTA/MA 11 36,7 23 38,3
1. Karakteristik Responden d. Tamat
Akademi/PT
Responden berjumlah 90 orang yang Pekerjaan
a. Tidak bekerja 17 56,7 30 50
terbagi menjadi 30 kasus dan 60 kontrol. Sebagian
b. Buruh 0 - 1 1,7
besar ibu hamil yang osteoporosis berumur 20 35 c. Guru 3 10 3 5
tahun yaitu 86,7% dan sebanyak 95% ibu hamil d. Karyawan 10 33,3 24 40
yang non osteoporosis. Batasan umur sehat untuk swasta 0 - 2 3,33
e. PNS
masa reproduksi adalah antara 20 35 tahun, karena
Usia kehamilan
pada usia ini seorang wanita telah siap secara fisik a. Trimester I 3 10 19 31,7
dan psikis untuk melahirkan11. b. Trimester II 9 30 21 35
c. Trimester III 18 60 20 33,3
Karakteristik ibu hamil berdasarkan
pendidikan, sebagian besar mempunyai pendidikan
tamat SMA/SLTA/MA sebesar 56,7% pada kasus
osteoporosis dan 60% pada non osteoporosis. Tingkat

BIMGI | volume 1 | November 2012 [3]


B im g i | B er k a la I lm i ah M a h as is wa G i zi

2. Asupan Fe produksi hemoglobin yang ada dalam darah. Fe


juga mencegah terjadinya anemia, sehingga ibu
Rata-rata asupan Fe responden yang hamil memiliki batas anjuran Fe lebih banyak
berasal dari makanan adalah 14,9 8,8 mg/hari dibandingkan dengan sebelum hamil14.
(61,1% AKG) dengan rentang 4,3 68 mg/hari.
Secara rinci rata-rata asupan Fe dapat dilihat
3. Asupan Inhibitor Kalsium
pada tabel 2.
a. Asam Oksalat

Tabel 2. Rata-rata Asupan Fe Rata-rata asupan asam oksalat ibu


Osteoporosis Non Osteoporosis
Asupan Fe Total hamil adalah 159,1 195,7 mg/hari. Rata-rata
n=30 n=60
Mean SD (mg/hari) 13,9 4,8 15,4 10,3 14,9 8,8 asupan asam oksalat pada osteoporosis dan
Minimal (mg/hari) 6,2 4,3 4,3
Maksimal (mg/hari) 26 68 68 non osteoporosis dapat dilihat pada Tabel 3.
% AKG 57,9 64,2 61,1

Bila dikelompokkan menjadi 2 Tabel 3. Rata-rata Asupan Asam


kelompok, yakni asupan risiko (80% AKG = Oksalat
Osteoporosis Non Osteoporosis
<24 mg/hari) dan tidak berisiko (80% AKG = Asupan Asam Oksalat Total
n=30 n=60
24 mg/hari) maka kedua kelompok ibu hamil MeanSD (mg/hari)
Minimal (mg/hari)
236,3 275,8 120,4 125,7
2,7 3,5
159,1 195,7
2,7
osteoporosis dan non osteoporosis mempunyai Maksimal (mg/hari) 1289 575,2 1289

asupan yang kurang dari 24 mg/hari. Masing- Berdasarkan Tabel 3, diperoleh rata-
masing sebesar 93,3% dan 91,7%. Secara rinci rata asupan asam oksalat ibu hamil sebagai
dapat dilihat pada Gambar 1. kasus osteoporosis adalah 236,3 275,8
dengan rentang 2,7 1289 mg. Ibu hamil yang
100 93,3 91,7
Non-osteoporosis diperoleh nilai rata-rata
80
asupan asam oksalat sebesar 120,4 125,7
60
denganrentang nilai 3,5 - 575,2 mg.
40

20
Sebagian besar ibu hamil
6,7 8,3
osteoporosis mempunyai asupan asam oksalat
0
Osteoporosis Non Osteoporosis yang berlebih yaitu rata-rata dari asupan ibu
Risiko (< 24 mg/hari) Tidak Risiko ( 24 mg/hari)
hamil dalam penelitian >159 mg/hari sebesar
53,3% sedangkan pada ibu hamil yang non
Gambar 1. Distribusi Asupan Fe osteoporosis sebagian besar mempunyai
Sebagian besar ibu hamil yang asupan yang tidak berisiko (70%). Secara rinci
osteoporosis mempunyai asupan Fe yang berisiko dapat dilihat pada Gambar 2.
(93,3%). Asupan Fe rata-rata ibu hamil yang 70
70

berasal dari asupan makanan yaitu 57,9% AKG 60 53,3


50 46,7
dan masih berada dibawah angka kecukupan 40
30
gizi (AKG), mengakibatkan terjadinya proses 30
20
penyerapan Fe yang kurang optimal. 10
Asupan Fe yang berisiko atau kurang 0
Osteoporosis Non Osteoporosis
akan membuat proses pengaturan tulang
Risiko (> 159 mg/hari) Tidak Risiko ( 159 mg/hari)
melalui enzim menjadi terganggu sehingga
mengakibatkan tulang menjadi rapuh.1 Selain
itu, pada ibu hamil, Fe berfungsi membantu Gambar 2. Distribusi Asupan Asam
Oksalat
[4] BIMGI | volume 1 | November 2012
F a k t o r R i s i k o A s u p a n F e, I n h i b i t o r K a l s i u m , d a n J a r a k K e l a h i r a n t e r h a d a p O s t e o p o r o s i s p a d a B um i l

Sebesar 53,3% ibu hamil yang osteoporosis


mempunyai asupan asam oksalat berisiko yaitu 60 56.7 55
asupan lebih dari 159 mg/hari sedangkan 46,7% 50 45
43.3
asupan ibu hamil tidak berisiko. Hal ini disebabkan 40
karena konsumsi makanan ibu hamil yang tidak 30

seimbang dan kurang beraneka ragam, sehingga 20

menyebabkan banyak makanan yang dikonsumsi 10


0
yang mengandung inhibitor kalsium yaitu asam Osteoporosis Non Osteoporosis
oksalat.Penelitian Mahyuddin15 mendapatkan
hasil rata-rata asupan oksalat pada responden )> 350 mg/hari(Risiko ) 350 mg/hari(Tidak Risiko
sebesar 4,4 mg dengan rentang 0,119 6,93 mg.
Responden yang mempunyai asupan asam oksalat Gambar 3. Distribusi Asupan Natrium
berlebih sebesar Sebagian besar ibu hamil yang osteoporosis
42,9% menderita osteoporosis. mempunyai asupan natrium yang berisko atau lebih dari
Hal ini terjadi dikarenakan tingginya 350 mg/hari sebesar 56,7%. Hal ini dikarenakan konsumsi
tingkat konsumsi sayuran dan buah. Asam oksalat asupan natrium yang tinggi yang banyak berasal dari garam
yang ada dalam berbagai makanan nabati cenderung dapur (NaCl).
membentuk garam kalsium oksalat yang tidak mampu Konsumsi garam yang tinggi akan merugikan
diserap usus sehingga akan menghambat terjadinya kesehatan tulang. Natrium memaksa kalsium keluar dari
penyerapan kalsium16. tubuh melalui air kencing secara berlebihan. Oleh karena
itu perlu diperhatikan makanan yang dikonsumsi. Makanan
yang asin dapat merugikan kesehatan antara lain menaikkan
b. Natrium
tekanan darah, jantung, ginjal menaikkan berat badan serta
Rata-rata asupan natrium ibu hamil adalah menambah pembuangan kalsium17
350,6 190,6 mg/hari. Rata-rata asupan natrium pada
osteoporosis dan non osteoporosis dapat dilihat pada c. Serat
Tabel 4.
Rata-rata asupan serat ibu hamil adalah 10,9 3,4
Tabel 4. Rata-rata Asupan Natrium
Non
Osteoporosis Osteoporosis Total gram/hari. Secara rinci rata-rata asupan serat osteoporosis
Asupan Natrium
n=30 n=60 dan non osteoporosis dapat dilihat pada Tabel 5.
MeanSD(mg/hari) 376,8 194,8 337,5 188,8 350,6 190,6
Minimal (mg/hari) 115,9 38,3 38,3
Maksimal (mg/hari) 872,9 967 967 Tabel 5. Rata-rata Asupan Serat

Sebagian besar ibu hamil yang osteoporosis Non


Osteoporosis
mempunyai asupan natrium yang berlebih yaitu Asupan Serat Osteoporosis Total
n=30
n=60
berdasarkan rata-rata asupan natrium ibu hamil dalam Mean SD (g/hari) 11,6 3,6 10,5 3,2 10,9 3,4
Minimal (g/hari) 7,1 5,2 5,2
penelitian sebesar 350 mg/hari. Sebanyak 56,7% ibu Maksimal (g/hari) 25,2 20,1 25,2
hamil osteoporosis mempunyai asupan natrium yang
Berdasarkan Tabel 5 diperoleh rata-rata asupan
berisiko sedangkan 55% ibu hamil non osteoporosis
serat ibu hamil osteoporosis 11,6 3,6 dengan rentang
tidak berisiko. Secara rinci dapat dilihat pada Gambar
nilai 7,1-25,2 gram/hari. Ibu hamil yang non osteoporosis
3.
diperoleh rata-rata asupan serat sebesar 10,5 3,2 dengan
rentang nilai 5,2-20,1 gram/hari. Sebagian besar ibu hamil
yang osteoporosis mempunyai asupan serat yang berisiko
(56,7%) sednagkan non osteoporosis yang tidak berisiko
sebesar 51,7%. Secara rinci dapat dilihat pada Gambar 4.

BIMGI | volume 1 | November 2012 [5]


B im g i | B er k a la I lm i ah M a h as is wa G i zi

60 56.7 Tabel 6 Rata-rata Jarak kelahiran


51.7 Osteoporosis Non Osteoporosis
50 48.3
43.3 Jarak Kelahiran Total
n=30 n=60
40 Mean SD (tahun) 0,53 1,94 0,67 2,12 0,62 2,05
30 Maksimal (tahun) 9 12 12
20
10 Berdasarkan Tabel 6, diperoleh rata-rata
0 jarak kelahiran ibu hamil yang osteoporosis adalah
Osteoporosis Non Osteoporosis 0,53 1,94 dengan rentang nilai 0 - 9. Ibu hamil
yang non osteoporosis diperoleh rata-rata jarak
Risiko (> 10 gram/hari) Tidak Risiko ( 10 gram/hari)
kelahiran sebesar 0,67 2,12 dengan rentang nilai
Gambar 4 Distribusi Asupan Serat 0 12 tahun. Secara rinci daoat dilihat pada Gambar
Sebesar 56,7% ibu hamil yang osteoporosis 5.

96.7 98.3
100
10 gram/hari yang didapatkan dari nilai rata-rata
responden penelitian. Hal ini dikarenakan asupan 80

konsumsi serat berlebihan. 60

Penelitian Mahyudin15 menyatakan 40

3.3 1.7
osteoporosis sebanyak 20%. Serat yang berlebihan 0
akan menurunkan absorbsi kalsium karena serat Osteoporosis Non Osteoporosis

menurunkan waktu transit makanan di dalam


Risiko (< 2 tahun) Tidak Risiko (0 dan 2 tahun)
saluran cerna5.
Serat merupakan bagian dari makanan
Gambar 5. Distribusi Jarak kelahiran
yang tidak dapat dicerna secara enzimatis sehingga
Sebagian besar ibu hamil yang osteoporosis
bukan sebagai sumber makanan. Saraswati18,
mempunyai jarak kelahiran tidak berisiko (96,7%).
menyatakan bahwa meskipun serat terbukti banyak
Sedangkan, ibu hamil yang non osteoporosis juga
manfaatnya bagi kesehatan, tetapi konsumsi yang
mempunyai jarak kelahiran yang tidak berisiko
berlebihan dapat mengganggu penyerapan kalsium
(98,3%).
dan sejumlah vitamin. Pernyataan ini sejalan
dengan Hartono16 menyatakan bahwa terlalu
5. Kepadatan mineral tulang /
banyak konsumsi serat justru akan menimbulkan
gangguan pencernaan seperti, kembung, mulas, Bone Mineral Density (BMD) Ibu
diare serta menurunkan penyerapan mineral Hamil
termasuk kalsium yang dibutuhkan oleh tubuh.
Berdasarkan pengukuran BMD terhadap
4. Jarak Kelahiran 90 responden, diperoleh rata-rata T-Score -0,43
1,21 dengan rentang nilai -2,60 - 2,50. Secara rinci
Rata-rata jarak kelahiran ibu hamil adalah rata-rata nilai T-Score responden berdasarkan BMD
0,62 2,05 tahun. Berikut merupakan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 7:
rata-rata jarak kelahiran osteoporosis dan non
osteoporosis dapat dilihat pada Tabel 6.

[6] BIMGI | volume 1 | November 2012


F a k t o r R i s i k o A s u p a n F e, I n h i b i t o r K a l s i u m , d a n J a r a k K e l a h i r a n t e r h a d a p O s t e o p o r o s i s p a d a B um i l

Tabel 7. Distribusi BMD Berdasarkan tabel 8 kriteria asupan Fe


T-score BMD Osteoporosis Non Osteoporosis Total yang berisiko bila < 24mg/hari dan tidak berisiko
Mean SD -1,73 0,50 0,210,91 -0,431,21
Minimal -2,60 -0.90 -2,60 bila 24mg/hari. Sebagian besar ibu hamil
Maksimal -1,00 2,50 2,50 yang mempunyai asupan Fe berisiko merupakan
osteoporosis (93,3%) dan ibu hamil memiliki asupan
Berdasarkan Tabel 7, diperoleh rata-rata
yang tidak berisiko namun osteoporosis (6,7%).
nilai T-Score ibu hamil yang osteoporosis adalah
-1,73 0,50 dengan rentang nilai -3,00 hingga Sedangkan, ibu hamil yang non osteoporosis,
-1,00. Ibu hamil yang non osteoporosis diperoleh sebesar 91,7% ibu hamil yang mempunyai asupan
rata-rata nilai T-Score sebesar 0,21 0,90 dengan Fe berisiko serta 8,3% memiliki asupan Fe yang
retang nilai -0,9 - 2,50.
tidak berisiko.
Hartono16 menyatakan kepadatan
Berdasarkan hasil analisis faktor risiko,
tulang mencapai puncak (Peak Bone Mass) kira-
didapatkan nilai OR (Odd ratio) adalah sebesar
kira pada usia pertengahan 30 tahun dimana saat
1,27 (OR:1,27, 95% 0,232 - 6,979) yang artinya
itu terjadi kemunduran tulang. Oleh karena itu
adalah asupan Fe yang berisiko atau kurang akan
diperlukan konsumsi kalsium sejak dini yang
mengakibatkan terjadinya osteoporosis sebanyak
harus tercukupi karena kalsium merupakan
1,27 lebih besar bila dibandingkan dengan asupan
elemen penting dan utama dalam pembentukan
Fe yang tidak berisiko.
serta pemeliharaan tulang.
Peran Fe dalam pengaturan tulang yaitu
Dalam penelitian Mahyuddin15 nilai rentang
membantu tulang dengan cara mengatur enzim
T-Score -2,5 SD hingga -3,1 SD. Berdasarkan
yang menagkibatkan tulang menjadi lebih kuat.
hasil penelitian pada pasien di Balai Pemeriksaan
Selain itu, pada ibu hamil Fe berfungsi membantu
Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali,
produksi hemoglobin yang ada dalam darah. Fe
79,4% dari 34 responden tidak mengalami
juga mencegah terjadinya anemia, sehingga ibu
osteoporosis. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian
hamil memiliki batas anjuran Fe lebih banyak
besar responden mampu menjaga tingkat kepadatan
dibandingkan dengan sebelum hamil1.
tulang.

7. Asupan Asam oksalat dan


6. Asupan Fe dan Osteoporosis
Osteoporosis
Kepadatan mineral tulang dipengaruhi
Asam oksalat merupakan salah satu zat
secara langsung oleh asupan zat gizi. Terutama ibu
penghambat dalam hal tercapainya kebutuhan
hamil yang memerlukan asupan zat gizi lebih bila
kalsium yang masuk ke dalam tubuh. Apabila
dibandingkan dengan wanita dewasa yang tidak
zat tersebut berlebihan di dalam tubuh ibu hamil
sedang hamil, karena intake asupan juga dibutuhkan
dan diabaikan saja maka kebutuhan kalsium di
untuk sang janin. Asupan Fe ibu hami dapat dilihat
dalam tubuh tidak akan tercukupi karena terjadi
pada tabel 8.
penghambatan. Asupan asam oksalat ibu hamil
dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 8. Asupan Fe Ibu Hamil

Non
Osteoporosis
Osteoporosis
Asupan Fe X2 P OR CI 95%
n % n %

Risiko 28 93,3 55 91,7 0,232-


Tidak Risiko 2 6,7 5 8,3 6,979
Total 30 100 60 100

BIMGI | volume 1 | November 2012 [7]


B im g i | B er k a la I lm i ah M a h as is wa G i zi

Tabel 9 Asupan Asam Oksalat Ibu Hamil tulang sehingga mengakibatkan terjadinya
Non kerapuhan tulang. Natrium yang sifatnya
Osteoporosis
Asupan Asam Osteoporosis CI
X2 P OR sebagai penghambat akan memaksa
Oksalat n % n % 95%
kalsium keluar dari tubuh melalui urin
Risiko 16 53,3 18 30 1,079- apabila konsumsi natrium berlebihan.
0,227 0,03 2,66
Tidak Risiko 14 46,7 42 70 6,593 Berikut merupakan, jumlah asupan natrium
Total 30 100 60 100 pada ibu hamil pada Tabel 10.

Berdasarkan Tabel 9, kriteria asupan asam Tabel 10. Asupan Natrium Ibu Hamil
oksalat yang berisiko bila 159mg/hari dan tidak Non
Osteoporosis
risiko bila < 159mg/hari. Sebesar 53,3% ibu hamil Osteoporosis CI
Asupan Natrium X2 P OR
n % N % 95%
yang osteoporosis mempunyai asupan asam oksalat
berisiko dan 46,7% ibu hamil mempunyai asupan tidak Risiko 17 56,7 27 45 0,661-
0,11 0,30 1,59
berisiko. Sedangkan ibu hamil yang non osteoporosis, Tidak Risiko 13 43,3 33 55 3,866
sebesar 30% ibu hamil memiliki asupan asam oksalat Total 30 100 60 100
berisiko dan 70% tidak berisiko.
Hasil uji statistik terhadap analisis faktor Berdasarkan tabel 10, kriteria asupan
risiko, didapatkan nilai OR sebesar 2,66 berarti asupan natrium yang berisiko bila 350 mg/hari dan tidaK
asam oksalat berisiko atau berlebihan mengakibatkan berisiko bila < 350 mg/hari. Sebesar 56,7% ibu hamil
kejadian osteoporosis ibu hamil sebesar 2,66 (OR: yang mengonsumsi natrium berisiko merupakan
2,66, 95% 1,079 - 6,593) kali bila dibandingkan osteoporosis dan 43,3% ibu hamil yang memiliki
dengan ibu hamil yang memiliki asupan asam oksalat asupan natrium tidak berisiko juga osteoporosis.
tidak berisiko. Sebagian besar ibu hamil non osteoporosis yang
15
Hasil penelitian Mahyuddin menunjukkan mempunyai asupan natrium tidak berisiko sebesar
bahwa responden yang osteoporosis mempunyai 55%. Natrium adalah mineral makro utama yang
42,9% asupan asam oksalat yang berlebih sedangkan dalam cairan ekstraselular, 35-40% natrium ada di
63% responden mempunyai asupan asam oksalat lebih dalam kerangka manusia. Sumber natrium yang
namun tidak mengalami osteoporosis. Hal ini dapat tinggi adalah garam dapur (NaCl).
terjadi karena tingkat konsumsi terhadap sayuran Hasil uji statistik terhadap analisis faktor
daun dan buah yang banyak terdapat kandungan asam risiko, didapatkan nilai (OR: 1,59 95% 0,661 - 3,866)
oksalat. yang artinya apabila OR>1 adalah mempertinggi
Osteoporosis terjadi karena tingginya asupan risiko yaitu asupan natrium yang berisiko atau
asam oksalat yang mampu mengikat mineral kalsium berlebih akan menyebabkan kejadian osteoporosis
menjadi garam kalsium oksalat yang tidak mampu pada ibu hamil sebesar 1,97 kali dibandingkan
diserap oleh usus karena sifatnya yang tidak mampu dengan konsumsi asupan natrium yang tidak
larut dalam air. Kekurangan ini ditunjang dengan berisiko.
kurangnya mengonsumsi lauk hewani16.
9. Asupan Serat dan Osteoporosis
8. Asupan Natrium dan Osteoporosis
Menurut Almatsier5, serat menurunkan
Menurut Tjandra17 makanan absorpsi kalsium, diduga karena serat menurunkan
yang asin selain tidak baik untuk tekanan waktu transit makanan di dalam saluran cerna
darah, jantung dan ginjal juga akan sehingga mengurangi kesempatan untuk absorpsi
mengakibatkan terjadinya pembuangan kalsium. Asupan serat ibu hamil dapat dilihat tabel 11.
kalsium dalam

[8] BIMGI | volume 1 | November 2012


F a k t o r R i s i k o A s u p a n F e, I n h i b i t o r K a l s i u m , d a n J a r a k K e l a h i r a n t e r h a d a p O s t e o p o r o s i s p a d a B um i l

Tabel 11. Asupan Serat Ibu Hamil 10. Jarak Kelahiran dan
Non Osteoporosis
Osteoporosis
Osteoporosis CI
Asupan Serat X2 P OR
n % n % 95%
Jarak kelahiran adalah perhitungan dalam
Risiko 17 56,7 29 48,3 0,579- tahun anak terakhir dengan anak sebelumnya. Jarak
0,079 0,462 1,39
Tidak Risiko 13 43,3 31 51,7 3,377 kelahiran ibu hamil dapat dilihat pada tabel 12.
Total 30 100 60 100
Tabel 12. Jarak Kelahiran Ibu Hamil
Berdasarkan tabel 11, kriteria asupan Non
Osteoporosis
Jarak Osteoporosis CI
serat yang berisiko bila 10 mg/hari dan tidak X2 P OR
Kelahiran n % n % 95%
risiko bila < 10 mg/hari. Sebesar 56,7% ibu hamil
yang memiliki asupan serat berisko merupakan Risiko 1 3,3 1 1,7 0,123-
0,053 0,618 2,03
osteoporosis dan 43,3% mempunyai asupan yang Tidak Risiko 29 96,7 59 98,3 33,69
tidak berisiko. Sedangkan, sebagian besar ibu hamil Total 30 100 60 100
yang non osteoporosis mempunyai asupan berisiko
Berdasarkan tabel 12, kriteria jarak
sebesar 48,3% dan 51,7% tidak berisiko.
kelahiran yang berisiko adalah < 2 tahun dan tidak
Hasil uji statistik terhadap analisis faktor risiko bila ibu hamil primigravida dan lebih dari
risiko, didapatkan nilai (OR: 1,39, 95% 0,579 2 tahun. Sebesar 96,7% ibu hamil osteoporosis
3,377) artinya ibu hamil yang memiliki asupan mempunyai jarak kelahiran tidak berisiko
termasuk primigravida yang belum mempunyai
serat berisiko atau lebih akan menyebabkan
jarak kelahiran. Sedangkan 98,3% ibu hamil non
kejadian osteoporosis sebesar 1,39 kali lebih besar osteoporosis mempunyai jarak kelahiran juga tidak
dibandingkan dengan asupan serat yang tidak berisiko.
berisiko. Hasil uji statistik terhadap analisis faktor
Hasil penelitian ini sejalan dengan risiko, didapatkan nilai OR sebesar 2,03 (OR: 2,03
penelitian Mahyudin15 yaitu tidak ada 95% 0,123 - 33,69), berarti OR>1 mempertinggi
responden osteoporosis yang mempunyai asupan faktor risiko yaitu jarak kelahiran yang berisiko
serat yang berlebih. Namun, 3,7% responden akan menyebabkan terjadinya kejadian osteoporosis
mempunyai asupan serat yang berlebih tetapi tidak sebesar 2,03 kali bila dibandingkan dengan jarak
osteoporosis. Hal ini mungkin dikarenakan adanya kelahiran yang tidak berisiko pada ibu hamil.
keseimbangan asupan serat dengan makanan Penelitian Kosnayani19 yang
sumber kalsium. Menurut Hartono16, terlalu bertujuan mengetahui hubungan paritas terhadap
banyak konsumsi serat dapat menimbulkan risiko kepadatan tulang wanita pascamenopouse,
gangguan pencernaan seperti penurunan didapatkan hasil bahwa responden pernah
penyerapan beberapa mineral termasuk kalsium melahirkan anak sebanyak tiga kali dengan
yang benar-benar diperlukan oleh tulang kita, diare, rentang 0 8. Setiap kenaikan kelahiran satu
kembung serta mulas. Konsumsi serat sehari-hari orang anak, maka kepadatan tulang akan
harus dikombinasi dengan produk hewani, berkurang sebanyak 1,5.10-2 g/cm2. Selain
ancaman kerapuhan tulang akibat kurangnya kalsium berpengaruh terhadap kepadatan tulang, jarak
dapat diminimalkan. kelahiran dan paritas juga berpengaruh terhadap
status gizi pada balita seperti penelitian Maidar9
menyatakan bahwa jarak kelahiran yang kurang
optimal cenderung mengalami underweight dan
wasted.
Jarak kelahiran optimal akan memberikan
kesempatan bagi ibu untuk memberi perhatian,

BIMGI | volume 1 | November 2012 [9]


B im g i | B er k a la I lm i ah M a h as is wa G i zi

perawatan dan kasih sayang sebagai kebutuhan asupan kalsium dan Fe setelah proses
psikologi dan sosial anak sehingga meningkatkan persalinan.
pertumbuhan dan perkembangan anak. Di samping
itu, jarak kelahiran dekat akan berdampak pada
E. Ucapan Terima Kasih
status gizi dan kesehatan ibu11.

Penulis mengucapkan terimakasih yang


C. Kesimpulan sebesar-besarnya kepada Tri Siswati SKM, M.Kes
dan Dra. Elza Ismail, M.Kes yang telah meluangkan
Ibu hamil dengan asupan Fe yang kurang
waktu dan memberikan bimbingan demi
mempunyai risiko untuk menderita osteoporosis
kesempurnaannya penelitian ini. Tak lupa kami
sebesar 1,27 kali dibandingkan asupan Fe yang
ucapkan terimakasih kepada Nur Dwi Handayani,
cukup, ibu hamil dengan asupan asam oksalat
S.SiT yang telah berkenan menjadi penguji dalam
yang lebih mempunyai risiko untuk menderita
penelitian ini. Ucapan terimakasih juga kami
osteoporosis sebesar 2,66 kali dibandingkan
sampaikan kepada dr. Ahmad Priyadi, Sp.OG
asupan asam oksalat yang cukup, ibu hamil
beserta seluruh staff Klinik Nurani Godean, Sleman
dengan asupan natrium yang lebih mempunyai
serta seluruh responden yang dengan kesediaannya
risiko untuk menderita osteoporosis sebesar 1,59
menjadi subjek dalam penelitian ini.
kali dibandingkan asupan natrium yang cukup, ibu
hamil dengan asupan serat yang lebih mempunyai
risiko untuk menderita osteoporosis sebesar 1,39 F. Daftar Pustaka
kali dibandingkan asupan serat yang cukup dan ibu
hamil dengan jarak kelahiran yang dekat mempunyai 1. Junaidi, Iskandar. Osteoporosis. Jakarta : PT
Bhuana Ilmu Populer. 2007.
risiko untuk menderita osteoporosis sebesar 2,03
2. Depkes RI, News Letter. 1 dari 3 Wanita dan 1
kali dibandingkan jarak kelahiran yang cukup. dari 5 Pria Memiliki Kecenderungan Menderita
Osteoporosis. No.09, Edisi September. 2005.
3. Waspada.co.id. 2003. Serba-serbi Kesehatan.
D. Saran h ttp://wa spa d a .co .id /s e rba -se rbi/
kesehatan/artikel. Diakses pada tanggal 28
Desember 2010.
Banyak faktor yang berhubungan dengan 4. Ramayulis, Rita. Tesis : Hubungan Asupan
faktor risiko kejadian osteoporosis pada ibu hamil. Vitamin, Mineral,dan Rasio Asupan Kalsium
dan Fosfor dengan Kepadatan Mineral tulang
Faktor tersebut saling terkait antara satu dengan Kalkaneus Perempuan. Yogyakarta : FK UGM.
yang lain, sehingga saran yang dapat peneliti berikan 2008.
5. Almatsier, Sunita. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.
adalah : Jakarta : Gramedia. 2004.
1. Meningkatkan asupan Fe dari yang 6. Waluyo, Srikandi.2009. 100 Questions
berasal dari makanan disamping ada & Answers. Jakarta : PT Elex Media
Komputindo.
penambahan suplemen. 7. Tjahjadi, Vicynthia. Mengenal, Mencegah,
2. Agar tidak terjadi interaksi penghambat Mengatasi Silent Killer Osteoporosis. Semarang
: Pustaka Widyamara. 2009.
pada inhibitor kalsium (asam oksalat,
8. Kumar, Priti. 2005. Bone Morbidity in
natrium dan serat) maka disarankan Pregnant Women. The Journal of Obstetrics and
untuk mengimbangi dengan konsumsi Gynecology India. Vol. 55, No. 5 : September/
October 2005.
sumber pangan yang beraneka ragam. 9. Maidar, Tesis : Hubungan Jarak Kelahiran
3. Memperhatikan pengaturan waktu jarak dengan Status Gizi Balita di Kabupaten
Purworejo Provinsi Jawa Tengah. Yogyakarta :
kelahiran anak untuk mempersiapkan
FK UGM. 2006.
kesehatan ibu dalam hal mengembalikan 10. Sastroasmoro dan Ismael. Dasar-Dasar

[10] BIMGI | volume 1 | November 2012


F a k t o r R i s i k o A s u p a n F e, I n h i b i t o r K a l s i u m , d a n J a r a k K e l a h i r a n t e r h a d a p O s t e o p o r o s i s p a d a B um i l

Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta : CV


Agung Seto. 2002.
11. Kristiyanasari, W.. Gizi Ibu Hamil. Yogyakarta
: Nuha Medika. 2010
12. Susilo, Joko dan Hadi Hamam. Hubungan
Asupan Zat Besi dan Inhibitornya Sebagai
Prediktor Kadar Hemoglobin Ibu Hamil
di Kabupaten Bantul Provinsi DIY. Jurnal
Kedokteran Masyarakat XVIII. 2002.
13. Atmarita, Tatang S., Falah. Analisis Situasi
Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Makalah pada
Widyakarya Pangan Nasional Pangan dan Gizi
VIII. 2004.
14. Lukmasari, Winda Yulia. Skripsi : Perbedaan
Pola Konsumsi Inhibitor Fe Pada Ibu Hamil
Anemia dan Non Anemia di Wilayah Kerja
Puskesmas Gamping II Yogyakarta. Poltekkes
Kemenkes Yogyakarta. 2010.
15. Mahyuddin, Zulfah. Skripsi : Hubungan Antara
Asupan Kalsium, Vitamin D, dan Inhibitor
Kalsium dengan Osteoporosis di Balai
Pemeriksaan Kesehatan Masyarakat Dinkes
Kabupaten Boyolali-Jawa Tengah. Jurusan Gizi
DIV : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. 2006.
16. Hartono, Muljadi. Mencegah & Mengatasi
Osteoporis. Jakarta : Pustaka Pembangunan
Swadaya Nusantara. 2000.
17. Tjandra, Hans. Segala Sesuatu yang Harus
Anda Ketahui tentang Osteoporosis. Jakarta :
PT. Gramedia Pustaka Utama. 2009.
18. Saraswati, Idayu. Klinik Keluarga Terapi
Osteoporosis. Jakarta : Progres. 2003.
19. Kosnayani, Ai Sri. Tesis : Hubungan Asupan
Kalisum, Aktivitas Fisik, paritas, INdeks Massa
Tubuh, dan Kepadatan Tulang pada Wanita
Menopause. Semarang : FK UNDIP. 2007.

BIMGI | volume 1 | November 2012 [11]


Pengaruh pemberian nata de coco terhadap kadar kolesterolldl dan hdlpada tikus
hiperkolesterolemi

PENGARUH PEMBERIAN NATA DE COCO TERHADAP KADAR


KOLESTEROLLDL DAN HDLPADA TIKUS HIPERKOLESTEROLEMI

Oleh: Diyan Yunanto Setyaji1


1
Mahasiswa, Program Studi Ilmu gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro,Semarang

Abstrak

Pendahuluan:Tingginya kadar kolesterol LDL dan penurunan kolesterol HDL


meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler. Diet efektif menurunkan kadar
kolesterol LDL, salah satunya dengan peningkatan asupan serat melalui konsumsi
nata de coco. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nata de coco
terhadap kadar kolesterol LDL dan HDL pada tikus hiperkolesterolemi.
Metode: Rancangan penelitian eksperimensebenarnya jenis pre-post test desain
randomized control groups terhadap 30 ekor tikus Sprague Dawley
hiperkolesterolemi yang dibagi acak 5 kelompok. Tikus diberi nata de coco kering
personde dosis 0,88 g; 1,76 g; 2,65 g; dan 3,53 g per 200 g berat badan per hari.
Kadar kolesterol diperiksa melalui perhitungan dan metode CHOD-PAP. Data
dianalisis dengan uji paired t-test dan Anova pengukuran berulang dan uji LSD
pada tingkat kepercayaan 95%.
Hasil:Pemberian nata de coco dosis 3,53 g menurunkan kadar kolesterol LDL dari
135,83 mg/dl menjadi 20,45 mg/dl dan dalam dosis 1,76 g, 2,65 g, dan 3,53 g
meningkatkan kadar kolesterol HDL dari 49,51 mg/dl, 50,59 mg/dl, dan 49,73 mg/dl
menjadi 67,20 mg/dl, 74,30 mg/dl, dan 82,58 mg/dl.
Kesimpulan:Pemberian nata de coco selama dua minggu pada dosis 3,53 g
mampu menurunkan kadar kolesterol LDL sebesar 115.38 mg/dl dan mampu
meningkatkan kadar kolesterol HDL sebesar 32,85 mg/dl.
Kata kunci:nata de coco, serat pangan, hiperkolesterolemi

Abstract

Introduction:The rising of LDL cholesterol level and the HDL cholesterol level
declined to increase cardiovascular disease risk. Diet is the most efective method
to decrease the LDL cholesterol level by increase dietary fiber intake withnata de
cocos intake. Thus a study was to prove the effect of nata de coco of different
dosages on LDL and HDL cholesterol of hypercholesterolemic rats.
Methods:An true experimental study using control group with pre and post test
design was carried out to already made-hypercholesterolemic Sprague Dawley
rats. They received 0,88 g/d, 1,76 g/d, 2,65 g/d, and 3,53 g/d dried nata de coco.
LDL and HDL cholesterol were measured before and after the treatment, using
CHOD-PAP methods respectively. Data were analyzed using paired t-test and
repeated measurement Anova, followed by LSD at 95% confidence level.
Results: The present of nata de coco dosages in 3,53 gwas able significantly to
reduce the LDL cholesterol from 135,83 mg/dl to 20,45 mg/dl and increase the HDL
cholesterol from 49,51 mg/dl, 50,59 mg/dl, and 49,73 mg/dl to 67,20 mg/dl, 74,30
mg/dl, and 82,58 mg/dl of the experiment rats.
Conclusion:There was decreasing concentration of LDL cholesterol 115.38
mg/dland was increasing concentration of HDL cholesterol 32,85 mg/dl after given
dried nata de coco in 3,53 g per day during 14 days.
Key words: nata de coco, dietary fiber, hypercholesterolemia

[12] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Bimgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GIzi

PENDAHULUAN butirat yang kemudian masuk sirkulasi darah


Hiperkolesterolemia merupakan kondisi menuju hati, kemudian propionat akan
dimana kolesterol darah meningkat melebihi menghambat kerja enzim HMG-KoA
ambang normal yang ditandai dengan reduktase yang menghambat sintesis
9-12
meningkatnya kadar LDL, trigliserida, dan kolesterol di hati.
kolesterol total. Kadar kolesterol total yang
normal dalam plasma orang dewasa adalah Penelitian secara laboratoris pada tikus
sebesar 120- 200 mg/dl, sedangkan Sprague Dawley dengan memberikan oat-
hiperkolesterolemia terjadi bila konsentrasi bran selama 20 hari dalam dosis pemberian
kolesterol total 240 mg/dl, LDL 160 mg/dl, 8-10% mampu menurunkan kolesterol serum
1
dan trigliserida 150 mg/dl. Tingginya kadar dan kolesterol hepar. Penelitian pada tikus
kolesterol LDL dan rendahnya kadar Sprague Dawley dengan memberikan tepung
kolesterol HDL dapat meningkatkan risiko jambu biji sebesar 16% dari total pakan
aterosklerosis dan penyakit kardiovaskuler.
2 mampu menurunkan kadar kolesterol total,
Kematian akibat penyakit jantung dan kolesterol LDL, dan trigliserida serum secara
pembuluh darah sebesar 26,3%, sedangkan signifikan serta meningkatkan kadar kolesterol
4
kematian akibat penyakit jantung dan HDL meskipun tidak bermakna.
pembuluh darah di rumah sakit di Indonesia Berdasarkan uraian diatas, diteliti
3
pada tahun 2005 sebesar 16,7%. pengaruh pemberian nata de coco terhadap
Faktor risiko terjadinya hiperkoleste- kadar kolesterol LDL dan HDL pada hewan
rolemia antara lain pola diet sehari-hari, jenis percobaan yaitu tikus yang telah dibuat
4
kelamin, umur, dan genetik. Pengaturan pola hiperkolesterolemia. Secara khusus penelitian
diet dilakukan dengan mengurangi konsumsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan
lemak total dan lemak jenuh serta perubahan kadar kolesterol HDL dan LDL
meningkatkan asupan serat. PERKI pada tikus hiperkolesterolemia sebelum dan
(Perhimpunan Kardiologi Indonesia) sesudah diberi nata de coco dengan dosis
menyarankan asupan serat 25-30 g/hari untuk 0,88 g; 1,76 g; 2,65 g; dan 3,53 g selama dua
kesehatan jantung dan pembuluh darah, minggu serta menganalisis perbedaan
sedangkan rata-rata konsumsi serat perubahan kadar kolesterol HDL dan LDL
penduduk Indonesia adalah 10,5 g tiap antar kelompok perlakuan. Diharapkan hasil
harinya.
5,6
Serat dapat diperoleh dari penelitian ini dapat dipakai sebagai dasar
sumber alami seperti serealia, untuk melakukan pengkajian pengaruh
kacang-kacangan, sayur, dan buah pemberian atau konsumsi nata de coco
maupun dari produk pangan terhadap kadar kolesterol HDL dan LDL pada
olahan seperti nata de coco.Nata de coco manusia.
dihasilkan dari fermentasi air kelapa oleh
bakteri Acetobacter Xylinum.
7
Nata de METODE PENELITIAN
coco mengandung sejumlah serat larut Penelitian bersama ini merupakan
dan tak rancangan true eksperimen jenis pre-post test
larut air seperti selulosa, hemiselulosa, dan desain randomized control groups pre-post
13
lignin dengan jumlah serat pangan total design. Variabel bebas pada penelitian
sebesar 20,45% per 100 gr berat kering. ini
adalah dengan pemberian nata de coco
Mekanisme hipokolesterolemi nata de dalam berbagai dosis sedangkan variabel
coco terjadi dalam beberapa cara, antara lain tergantung dalam penelitian ini adalah kadar
melalui mekanisme penundaan pengosongan profil lipid serum tikus hiperkolesterolemia
lambung dan berkurangnya sekresi insulin yang meliputi kadar kolesterol LDL (Low
yang diikuti dengan penghambatan kerja Density Lipoprotein) dan kadar kolesterol HDL
8
enzim HMG-KoA reduktase; serat larut (High Density Lipoprotein).
air akan mengikat lemak, protein, dan
karbohidrat yang mengakibatkan proses Sampel yang digunakan adalah tikus
pencernaan dan penyerapan lemak menjadi jantan Sprague Dawleyberjumlah 30 ekor
8
terganggu; serat larut air akan dengan umur 8 minggu dan berat badan rata-
mengikat asam rata 150-200 g yang diperoleh dari
kenodeoksikolat yang akan laboratorium Pusat Studi ITB Bandung.
menghambat kerja enzim HMG-KoA Setelah diadaptasikan pada kandang
8
reduktase; lignin dan pektin akan percobaan selama 1 minggu, tikus dibuat
mengikat asam empedu dan membentuk hiperkolesterol dan selanjutnya dibagi secara
formasi misel yang selanjutnya akan acak menjadi 5 kelompok. Satu kelompok
9
rantai pendek bersama
diekskresikan seperti asetat,
feses; propionat, dan
dan serat sebagai kontrol negatif dengan empat
pangan di kolon akan difermentasikan
BIMGI | Volume 1 | November 2012
menghasilkan asam lemak
[13]
Pengaruh pemberian nata de coco terhadap kadar kolesterolldl dan hdlpada tikus
hiperkolesterolemi

kelompok sebagai kelompok perlakuan. standar yang disertai dengan pemberian nata
Perhitungan jumlah sampel minimal de coco kering yang diberikan secara sonde.
menggunakan rumus besar sampel
experimental dan didapatkan besar sampel Nata de coco dipisahkan dari airnya dan
minimal 5 ekor. Dalam penelitian ini masing- dihancurkan dengan blender kemudian
masing kelompok terdiri atas 6 ekor. dijemur selama 2 hari di bawah sinar
Penentuan subjek setiap kelompok dilakukan matahari. Nata de coco yang telah mengering
dengan simple random sampling. Di dalam dipotong sesuai dosis masing-masing
penelitian ini digunakan tiga jenis pakan yang perlakuan kemudian dilarutkan pada air
diberikan terhadap hewan percobaan yakni hangat. Pemberian secara sonde ini dilakukan
pakan standar, pakan hiperkolesterol, dan dua kali sehari, masing-masing separuh dari
pakan standar disertai nata de coco yang dosis. Hal ini dilakukan mengingat kapasitas
diberikan secara sonde dalam berbagai dosis lambung tikus yang kecil. Dosis yang
sebagai pakan perlakuan. Pakan standar dan diberikan sebagai perlakuan adalah 0,88 g,
pakan hiperkolesterol diberikan 20 g per hari 1,76 g, 2,65 g, dan 3,53 g per 200 g berat
dan air minum secara ad libitum. Pakan badan per hari. Pemberian dosis ini
hiperkolesterol menggunakan campuran berdasarkan anjuran kebutuhan serat sehari-
pakan standar dengan 10% minyak babi dan hari manusia sebesar 20 - 35g yang telah
1% kristal kolesterol yang dicampur secara dikonversi menjadi dosis untuk hewan coba
homogen, dibentuk pelet, dan dikeringkan. sesuai dengan berat badannya dan
Pakan perlakuan menggunakan pakan disesuaikan dengan kandungan serat dalam
nata de coco.
Kadar profil lipid standard diambil Dilakukan analisis data secara deskriptif
setelah satu minggu pemberian pakan yang disajikan dalam bentuk tabel setelah
standar. Kadar profil lipid awal dilakukan uji normalitas data menggunakan
(hiperkolesterolemi) diambil setelah dua Kolmogorov-Smirnov test. Perubahan profil
minggu pemberian pakan hiperkolesterol, lipid sebelum dan setelah perlakuan diuji
sedangkan kadar profil lipid akhir (setelah
diberikan perlakuan) didapat setelah dua
minggu pemberian pakan perlakuan. Kadar
kolesterol HDL ditentukan dengan metode
CHOP-PAP. Kadar kolesterol LDL didapat dari
perhitungan kadar total kolesterol-kadar
kolesterol HDL-1/5 kadar trigliserida. Kadar
kolesterol setiap kelompok setelah diberi
pakan hiperkolesterol dikatakan sudah
mencapai hiperkolesterolemi jika peningkatan
kadar kolesterol telah mencapai lebih dari dua
kali dari kadar sebelumnya dan sebagai
acuan adalah peningkatan kadar kolesterol
LDL setelah pemberian pakan hiperkolesterol
selama dua minggu. Hal ini sesuai dengan
standar protokol dalam penelitian laboratorik.
Tabel 1. Tabel Kandungan Pakan Standar
Kandungan Jumlah
Air Maks 12%
Protein kasar Min 15%
Lemak kasar 3-7%
Serat kasar Maks 6%
Abu Maks 7%
dengan t-test, dan perbedaan pengaruh dari
Kalsium 0,9-1,1%
masing-masing kelompok perlakuan dianalisis
Fosfor 0,6-0,9%
dengan Repeated Measurement Anova yang
kemudian dilanjutkan dengan uji LSD dan
menggunakan program komputer.

[14] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Bimgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GIzi

HASIL PENELITIAN enam minggu. Hal ini juga sesuai dengan


penelitian pada tikus dengan rata-rata kadar
Profil Lipid awal dan sesudah Pemberian kolesterol LDL awal sebesar 34 mg/dl menjadi
Pakan Hiperkolesterol 58,3 mg/dl setelah pemberian pakan
4
Sebelum dilakukan perlakuan hiperkolesterol selama 30 hari , dan penelitian
pemberian nata de coco, 30 ekor tikus dibagi pada tikus dengan kadar kolesterol LDL awal
sebesar 13,9 mg/dl menjadi 59,2 mg/dl
menjadi 5 kelompok dan masing-masing
setelah pemberian pakan hiperkolesterol
dikondisikan dalam keadaan 14
hiperkolesterolemi dengan pemberian pakan selama sembilan hari.
campuran dari pakan standar dan 10% Kadar Kolesterol LDL setelah Pemberian Nata
minyak babi dan 1% kristal kolesterol yang de Coco
dicampur secara homogen, dibentuk pelet,
dan dikeringkan. Pakan standar diberikan Tabel 3 menunjukkan kandungan serat
selama satu minggu sedangkan untuk pakan pada 100 g nata de coco. Hasil ini diperoleh
dari uji proksimat di laboratorium Universitas

hiperkolesterol diberikan selama dua minggu. Katholik Soegyopranoto, Semarang.


Tabel 3. Kandungan Serat Nata de
Coco
Berdasarkan data pada tabel 2, ternyata
pemberian pakan hiperkolesterol Komponen Kandungan per 100 g
meningkatkan kadar serum kolesterol LDL Serat bahan
dan menurunkan kadar kolesterol HDL secara
sangat bermakna. Rata-rata peningkatan Basah Kering
kadar kolesterol LDL pada setiap Serat kasar 1,11 % 7,27%
kelompokperlakuan setelah pemberian pakan
hiperkolesterol selama dua minggu lebih dari NDF 3,12% 20,45%
450% atau lebih dari 110 mg/dl, sedangkan
penurunan kadar kolesterol HDL di semua ADF 1,52 % 9,96%
kelompok perlakuan lebih dari 21% atau lebih
Lignin 0,44% 2,92%
dari 13 mg/dl. Peningkatan kadar kolesterol
LDL setelah pemberian pakan hiperkolesterol Substansi pektat - -
telah mencapai kondisi hiperkolesterolemia
pada hewan coba sesuai dengan hasil Selulosa 1,07% 7,03%
penelitian pada tikus Sprague Dawley dengan
rata-rata kadar kolesterol LDL awal sebesar Hemiselulosa 1,60% 10,48%
9,52 mg/dl menjadi 49,08 mg/dl setelah Total serat 3,12% 20,45%
pemberian pakan hiperkolesterol selama pangan

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [15]


Pengaruh pemberian nata de coco terhadap kadar kolesterolldl dan hdlpada tikus hiperkolesterolemi

Kadar kolesterol LDL pada kelima secara nyata setelah pemberian nata de coco
kelompok diukur setelah dua minggu pemberian selama dua minggu sedangkan kelompok
perlakuan. Data profil lipid antar kelompok kontrol mengalami penurunan kadar kolesterol
perlakuan yang didapat kemudian dianalisis HDL sebesar 4.14% atau sekitar 2.1 mg/dl.
perbedaannya dengan menggunakan uji statistik Peningkatan kadar kolesterol HDL yang paling

Repeated Measurement Anova dilanjutkan bermakna terjadi pada kelompok perlakuan P4


dengan uji LSD. yang mendapatkan nata de coco 3,53 g yaitu
sebanyak 32.85 mg/dl atau sekitar 66.05%.
Tabel 4 menunjukkan adanya penurunan
kadar kolesterol LDL pada kelompok perlakuan PEMBAHASAN
P1, P2, P3, dan P4 secara nyata setelah
pemberian nata de coco selama dua minggu Profil Lipid awal dan sesudah Pemberian Pakan
sedangkan kelompok kontrol mengalami Hiperkolesterol
kenaikan kadar kolesterol sekitar 4%. Penurunan Pemberian pakan hiperkolesterol ke setiap
paling bermakna berdasarkan uji LSD terjadi kelompok mampu memberikan perubahan kadar
pada kelompok P4 yang mendapatkan nata de kolesterol, baik pada kadar kolesterol LDL
coco sebanyak 3,53 g yaitu sebesar 115.38 maupun kadar kolesterol HDL. Rata-rata
mg/dl atau sekitar 84,94%. peningkatan kadar kolesterol LDL pada setiap
kelompok perlakuan setelah pemberian pakan
Kadar Kolesterol HDL setelah Pemberian Nata hiperkolesterol selama dua minggu adalah lebih
de Coco dari 110 mg/dl atau lebih dari 450%, sedangkan
Seperti pada pengukuran kadar kolesterol penurunan kadar kolesterol HDL di semua
LDL, kadar kolesterol HDL pada kelima kelompok perlakuan lebih dari 13 mg/dl atau
kelompok diukur setelah dua minggu pemberian lebih dari 21% dari kadar kolesterol semula.
perlakuan. Data profil lipid antar kelompok
perlakuan yang didapat kemudian dianalisis Peningkatan kadar kolesterol LDL setelah
perbedaannya dengan menggunakan uji statistik pemberian pakan hiperkolesterol telah mencapai
Repeated Measurement Anova yang kemudian kondisi hiperkolesterolemia pada hewan coba
dilanjutkan dengan uji LSD. sesuai dengan hasil penelitian pada tikus
Sprague Dawley dengan rata-rata kadar
Tabel 5 menunjukkan adanya peningkatan kolesterol LDL awal sebesar 9,52 mg/dl menjadi
kadar kolesterol HDL pada P1, P2, P3, P4 49,08 mg/dl setelah pemberian pakan

[16] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Bimgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GIzi

hiperkolesterol selama enam minggu. Hal ini terkandung di dalam nata de coco. Tiap 100 g
juga sesuai dengan penelitian pada tikus dengan nata de coco kering yang digunakan sebagai
rata-rata kadar kolesterol LDL awal sebesar 34 variabel bebas dalam penelitian ini mengandung
mg/dl menjadi 58,3 mg/dl setelah pemberian 20,45% serat pangan. Penelitian di Amerika
4
pakan hiperkolesterol selama 30 hari , dan mengatakan bahwa dengan mengonsumsi
penelitian pada tikus dengan kadar kolesterol sereal 50 g sehari akan menurunkan kolesterol
LDL awal sebesar 13,9 mg/dl menjadi 59,2 mg/dl total sebesar 19% dan kolesterol LDL 23%,
setelah pemberian pakan hiperkolesterol selama karena kandungan serat larut air pada sereal
14 20
sembilan hari. yang cukup tinggi, yaitu sekitar 14%. Kadar
kolesterol serum menurun 10-20% ketika
Meningkatnya kadar kolesterol LDL terdapat peningkatan asupan serat dari pangan
setelah diberi pakan hiperkolesterol selama dua 21
kaya serat larut air. Serat pangan dapat
minggu dikarenakan tingginya kadar kolesterol menurunkan sekitar 14% kolesterol LDL pada
dan asam lemak jenuh dalam pakan orang yang hiperkolesterolemia dan sekitar 10%
hiperkolesterol. Asupan lemak merupakan faktor pada orang yang normokolesterolemia.
11

penting yang menentukan konsentrasi kolesterol


dalam darah. Pengaruh tersebut tergantung dari Sebuah penelitian melaporkan bahwa di
komposisi asam lemak yang ada di dalam lipid dalam usus halus, serat larut air dapat
15
tersebut. Dalam penelitian ini digunakan lemak meningkatkan viskositas dan mempengaruhi
22
babi yang mengandung asam lemak berantai proses pencernaan dan penyerapan makanan.
panjang. Penelitian tentang asupan lemak jenuh, Penelitian lain mengatakan bahwa serat larut air
PUFA, dan kolesterol terhadap respon kadar mampu menurunkan konsentrasi kolesterol
kolesterol, setiap asupan lemak jenuh 1% dari plasma darah pada hewan coba tikus, hamster,
23,24
total energi sehari diprediksi dapat dan babi. Pemberian makanan yang
meningkatkan 2,7 mg/dl kadar plasma mengandung serat larut air akan mempengaruhi
16,17
kolesterol. aktifitas enzim yang berperan dalam biosintesis
kolesterol dan asam empedu.
Penurunan kadar kolesterol HDL
disebabkan oleh kondisi hiperkolesterolemia dan Terdapat beberapa mekanisme penurunan
2
faktor genetik. Asam lemak jenuh ganda kadar kolesterol LDL oleh serat pangan, antara
di dalam pakan hiperkolesterol menyebabkan lain serat mampu mengubah absorbsi dan
penurunan kadar kolesterol HDL dengan cara metabolisme asam empedu; serat dapat
menekan sintesis kolesterol HDL melalui memodifikasi absorbsi dan metabolisme lipid;
penurunan kadar apoprotein A-1 yang asam lemak rantai pendek sebagai hasil dari
merupakan prekursor untuk pembentukan HDL. fermentasi serat mempengaruhi metabolisme
Hipertrigliseridemia meningkatkan katabolisme kolesterol dan lipoprotein; dan serat dapat
apoprotein A-1 HDL dengan menambah mengubah insulin atau konsentrasi hormon lain
21
trigliserida sementara mengurangi kolesterol atau sensitifitas jaringan terhadap hormon.
18,19
ester di dalam inti HDL.
Peningkatan kadar kolesterol LDL yang
Kadar Kolesterol LDL setelah Pemberian Nata terjadi pada kelompok kontrol setelah pemberian
de Coco pakan standar selama dua minggu menunjukan
Pemberian nata de coco selama dua bahwa perubahan pakan belum mampu
minggu pada setiap kelompok perlakuan mampu memberikan perubahan kadar kolesterol ke arah
memberikan pengaruh yang bermakna. Masing- yang positif karena kadar kolesterol LDL semula
masing dosis pemberian nata de coco di semua yang terlalu tinggi akibat pemberian pakan
kelompok memberikan pengaruh yang nyata hiperkolesterol selama dua minggu sebelumnya.
terhadap kadar kolesterol LDL sedangkan
kelompok kontrol mengalami kenaikan kadar Kadar Kolesterol HDL setelah Pemberian Nata
kolesterol sekitar 4% atau sebesar 5.43 mg/dl. de Coco
Penurunan kadar kolesterol LDL yang paling Semua kelompok perlakuan yang
signifikan dan mampu kembali ke kadar mendapat nata de coco masing-masing dalam
kolesterol standar dicapai oleh kelompok dosis 0,88 g; 1,76 g; 2,65 g; dan 3,53 g
perlakuan pemberian nata de coco sebanyak menunjukan adanya peningkatan kadar
3,53 gr per 200 g berat badan per hari yaitu kolesterol HDL secara nyata sedangkan
sebesar 115.38 mg/dl atau sekitar 84,94% kelompok kontrol mengalami penurunan kadar
dimana rata-rata kadar kolesterol LDL standard kolesterol HDL sebesar 4.14% atau sekitar 2.1
pada kelompok tersebut adalah 21,44 mg/dl. mg/dl. Peningkatan kadar kolesterol HDL yang
paling signifikan yang mampu kembali ke kadar
Penurunan kadar kolesterol LDL kolesterol standar dicapai oleh kelompok
dipengaruhi oleh adanya serat pangan yang perlakuan dengan dosis pemberian nata de

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [17]


Pengaruh pemberian nata de coco terhadap kadar kolesterolldl dan hdlpada tikus hiperkolesterolemi

coco1,76 g, 2,65 g, dan 3,53 g per 200 g berat M.Kes yang telah membimbing dalam kegiatan
badan per hari yaitu sebesar 17,69 mg/dl, 23,71 penelitian.
mg/dl, dan 32,85 mg/dl atau sekitar 35,73%,
46,86%, dan 66,05% dimana rata-rata kadar
DAFTAR RUJUKAN
kolesterol HDL standar pada ketiga kelompok
tersebut adalah 63,19 mg/dl, 64,38 mg/dl, dan 1. Montgomery R, Dryer RL, Conway TW,
70,68 mg/dl. Spector AA. Biokimia Suatu Pendekatan
Peningkatan kadar kolesterol HDL Berorientasi Kasus. Jilid 2. Edisi ke-4. Alih
mungkin disebabkan oleh adanya kenaikan Bahasa oleh Ismadi M. Yogyakarta: Gadjah
apolipoprotein A dengan mekanisme yang belum Mada University Press; 1983.
dapat diketahui dengan jelas. Apolipoprotein A 2. Krummel DA. Medical Nutrition Therapy in
merupakan salah satu protein pendukung Cardiovaskuler Disease. In: Mahan LK,
18
terbentuknya partikel HDL. Kolesterol Escott-stump S. Krauses Food, Nutrition,
HDL th
and Diet Therapy 12 Edition. Philadelphia:
mempunyai mekanisme tersendiri, kadarnya di WB Saunders Company; 2008. 833-64.
dalam serum lebih dipengaruhi oleh faktor
genetik dan jenis kelamin. Penelitian lain yang 3. Andreas A. Aspek Medis Penyakit Jantung
menggunakan serat pangan dari produk oat dan Pembuluh Darah. Dalam : Pertemuan
memiliki kemampuan menurunkan serum Ilmiah Nasional ke-3; 2007 juli 19-21;
kolesterol LDL dan meningkatkan secara Semarang. Asosiasi Dietisien Indonesia
21
perlahan serum kolesterol HDL. DPD Jawa Tengah; 2007.
Penurunan kadar kolesterol HDL yang 4. Maryanto S, Fatimah SM. Pengaruh
terjadi pada kelompok kontrol setelah pemberian Pemberian Jambu Biji (Psidium guajava L)
pakan standar selama dua minggu menunjukan pada Lipid Serum Tikus (Sprague Dawley)
bahwa kondisi hiperkolesterolemi masih Hiperkolesterolemi. Media Medika
berlangsung dan mempengaruhi kadar Indonesiana 2004; 39 (2): 105-111.
kolesterol HDL.
5. Nainggolan O dan Adimunca C. Diet Sehat
KESIMPULAN dengan Serat. Cermin Dunia Kedokteran
2005; 147: 43-6.
Pemberian nata de coco dalam dosis 3,53
g per 200 g berat badan per hari menurunkan 6. Jahari A.B, Sumarno I. Epidemiologi
kadar kolesterol LDL dari 135,83 mg/dl menjadi Konsumsi Serat di Indonesia. Majalah Gizi
20,45 mg/dl atau sekitar 84,94% sedangkan Indonesia 2001; 25: 37-56.
pada dosis 1,76 g, 2,65 g, dan 3,53 g per 200 g
berat badan per hari mampu meningkatkan 7. Pambayun R. Teknologi Pengolahan Nata
kadar kolesterol HDL dari 49,51 mg/dl, 50,59 de Coco. Yogyakarta: Kanisius; 2005.
mg/dl, dan 49,73 mg/dl menjadi 67,20 mg/dl,
8. Groff LJ, Gropper SS. Advanced Nutrition
74,30 mg/dl, dan 82,58 mg/dl atau sekitar rd
and Human Metabolism 3 ed. US:
35,73%, 46,86%, dan 66,05%.
Wadsworth; 2000: 106-22.
SARAN 9. Lupton JR, Turner D. Dietary Fiber. In :
Perlu kiranya dirintis uji pemberian nata de Biochemical and Physiological Aspect of
coco pada manusia, karena sudah terbukti Human Nutrition. London: WB Saunders
penelitian terhadap hewan coba pemberian serat Company; 2000.
nata de coco mampu menurunkan kadar LDL
dan secara epidemiologis tidak ditemukan efek 10. Prangdimurti E, Palupi NS, Zakaria FR.
toksik terhadap hewan coba. Metode Evaluasi Nilai Biologis Karbohidrat
dan Lemak. Bandung: Departemen Ilmu
Tingginya prevalensi hiperkoleste-rolemia dan Teknologi Pangan Fateta IPB; 2007.
dan adanya hubungan erat dengan terjadinya
penyakit jantung koroner, maka serat pangan 11. Hernawati. Peranan Berbagai Sumber Serat
dalam nata de coco dapat digunakan untuk dalam Dinamika Kolesterol pada Individu
mengatur tingginya kadar kolesterol LDL pada Hiperkolesterolemi dan
orang dengan hiperkolesterolemi. Normokolesterolemi. Bandung: Jurusan
Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan
UCAPAN TERIMA KASIH Indonesia; 2007.
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa 12. Tala ZZ. Manfaat Serat bagi Kesehatan.
dan terima kasih kepada Ibu Tatik Mulyati, DCN., Medan: Departemen Ilmu Gizi Fakultas

[18] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Bimgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GIzi

Kedokteran Universitas Sumatera Utara; in Hybrid F1B Hamsters. Eur J Nutr 2002;
2009. 41: 19-26.
13. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar 24. Fernandez ML, W ilson TA, Conde K,
Metodologi Penelitian Klinis. Bagian Ilmu Vergara-Jimenez M, Nicolosi RJ. Hamster
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
and Guinea Pigs Differ in Their Plasma
Universitas Indonesia, Jakarta. 2008: 109-
25. Lipoprotein Cholesterol Distribution when
Fed Diets Varying in Animal Protein,
14. Yuniastuti A. Pengaruh pemberian susu Soluble Fiber, or Cholesterol Content. J.
fermentasi lactobacillus casei galur shirota Nutr 1999;
terhadap kadar fraksi lipid serum tikus
hiperkolesterolemi. Tesis Program Pasca
Sarjana Magister Ilmu Biomedik. FK UNDIP
Semarang. 2004.
15. Gotto AM, W ittels EH. Diet, kolesterol,
lipoprotein serum, dan PJK. Dalam:
Andrianto P, editor. Pencegahan Penyakit
Jantung Koroner. Jakarta: EGC; 1994.
16. Mayes PA. Sintesis, Pengangkutan, dan
Ekskresi Kolesterol. Dalam: Murray RK,
Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW,
th
editor. Biokimia harper 25 ed. Jakarta:
EGC; 2003.
17. Soeharto I. Serangan Jantung dan Stroke.
Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama,
2004. 51 5
18. Stryer L. Cholesterol Metabolism and Blood
th
Lipoprotein by Biochemistry 4 ed. Stanford
University: WH Freeman and company;
1995: 525-44.
19. Voet D, Voet JG. Lipids and Membranes.
nd
Biochemistry 2 . New York: John Wiley &
Sons Inc; 1995: 318-26.
20. Sugano M, Ikeda I, Imaizumi K, Lu YF.
Dietary Fiber and Lipid Absorption. In:
Kritchevsky D, Bonfield C and Anderson
JW, editor. Dietary Fiber; Chemistry,
Physiology, and Health Effects. New York:
Plenum Press; 1990. 137-153.
21. Anderson JW, Deakins DA, Bridges SR.
Soluble Fiber, Hypocholesterolemic Effects
and Proposed Mechanisms. In: Kritchevsky
D, Bonfield C and Anderson JW, editor.
Dietary Fiber; Chemistry, Physiology, and
Health Effects. New York: Plenum Press;
1990. 339-358.
22. Marounek M, Synytsya A, Capikova J,
Sirotek K. Assay of Availability of Amidated
Pectins for Colonic Microorganisms (In
Czech). Chem Listy 2005; 99: 591-93.
23. Terpstra AHM, Lapre JA, De Vries HT,
Beynen AC. The Hypocholesterolemic
Effect of Lemon Peels, Lemon Pektin, and
The Waste Stream Material of Lemon Peels

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [19]


Hubungan asupan makanan dan faktor lain dengan obesitas pada pegawai unit pelayanan
gizipelayanan kesehatan sint carolus jakarta tahun 2012

HUBUNGAN ASUPAN MAKANAN DAN FAKTOR LAIN DENGAN OBESITAS


PADA PEGAWAI UNIT PELAYANAN GIZIPELAYANAN KESEHATAN SINT
CAROLUS JAKARTA TAHUN 2012
Oleh: Herlin Mey Sartika Hutajulu 1
1
Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Indonesia, Jalan Universitas Indonesia Kampus UI Depok, Depok,
16424, Indonesia

Abstrak

Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran dan hubungan asupan


makanan (asupan energi, karbohidrat, protein dan lemak) dan faktor lain
(karakteristik responden, kebiasaan sarapan pagi, faktor genetik, aktivitas fisik, dan
durasi waktu tidur) dengan obesitas berdasarkan persen lemak tubuh pada
pegawai Unit Pelayanan Gizi Pelayanan Kesehatan Sint Carolus (PKSC) Jakarta
Tahun 2012. Penelitian menggunakan studi deskriptif dengan disain penelitian
potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan total populasi, dengan sampel
penelitian sebanyak 57 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran
langsung status gizi (berat badan, tinggi badan, dan persen lemak tubuh),
wawancara menggunakan kuesioner penelitian dan form recall 2x24 jam. Analisis
data meliputi analisis univariat dan analisis bivariat. Analisis bivariat dilakukan
dengan 2 jenis uji statistik yaitu Uji Korelasi dan Uji Beda Dua Mean (Uji T). Hasil
penelitian menunjukkan rata-rata Persen Lemak Tubuh (PLT) pegawai adalah
31,92 (SD 14,60). Rata-rata asupan energi adalah 78,74% energi Angka
Kecukupan Gizi (AKG). Hasil analisis bivariat menunjukkan karakteristik responden
(jenis kelamin dan umur), asupan energi dan asupan karbohidrat, dan kebiasaan
sarapan pagi memiliki hubungan signifikan dengan obesitas (p<0,05). Asupan
protein, asupan lemak, faktor genetik, aktivitas fisik, dan durasi waktu tidur tidak
memiliki hubungan signifikan dengan obesitas (p>0,05).
Kata kunci: persen lemak tubuh, asupan makanan, obesitas

Abstract
Research was aimed to know the description and the relationship of food intake
(energy, carbohydrate, protein and fat intake) and other factors (individual
characteristics, breakfast habits, genetic factors, physical activity, and duration of
sleep time) with obesity based on percent body fat of Nutritional Care Employees
at Sint Carolus Jakarta Health Care in 2012.The study used descriptive study with
cross sectional design. Sampling was conducted using total population, with
sample study as many as 57 respondents. The data was collected through direct
measurements of nutritional status (weigh, height and percent body fat), interviews
using questionnaires and the 2x24-hour food recall method. Data analysis included
univariate and bivariate analysis. Bivariate analysis performed with two types of
statistical tests, Correlation Analysis and Independent Samples T-Test. The study
result showed that mean of body fat percentage of employees was 31.92% (SD
14.60). The average energy intake was 78.74% recommended daily allowance
(RDA) energy. Results of bivariate analysis showed characteristics of respondents
(gender and age), energy intake, carbohydrate intake and breakfast frequency
have a significant relation with obesity (p<0.05). Protein intake, fat intake, genetic
factor, physical activity and sleep duration does not have a significant relation with
obesity (p>0.05).
Keywords: body fat percentage, food intake, obesity
[20] BIMGI | Volume 1 | November 2012
BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GI zi

PENDAHULUAN Pegawai Unit Pelayanan Gizi PKSC Jakarta tahun


2012 baik laki-laki maupun perempuan; sedangkan
Obesitas, yang merupakan faktor risiko kriteria eksklusi yaitu: (1) Pegawai perempuan yang
kunci dalam rangkaian terjadinya penyakit tidak sedang hamil maupun menyusui, (2) Pegawai yang
menular dan penyakit kronik yang berperan sakit (dirawat atau mendapat cuti sakit), dan (3)
meningkatkan tingginya angka kematian, telah Pegawai yang merencanakan cuti tahunan dan cuti
menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Data besar ketika penelitian dilakukan.
tahun 2008 menunjukkan bahawa sebanyak 1,5
miliar penduduk dewasa mengalami overweight; Variabel penelitian meliputi variabel
lebih dari 200 juta laki-laki dan hampir 300 juta dependen dan variabel independen. Variabel
1
perempuan mengalami obesitas. Prevalensi dependen adalah obesitas (persen lemak tubuh),
obesitas di Indonesia meningkat dari 10,3% (2007) sedangkan variabel independen adalah karakteristik
2,3
menjadi 11,7% (2010). Prevalensi obesitas individu (jenis kelamin dan umur), asupan makanan
tinggi pada kelompok dewasa (>18 tahun) yang (asupan energi, karbohidrat, protein dan lemak),
bekerja kebiasaan sarapan pagi, faktor genetik, aktivitas fisik
sebagai PNS/TNI/Polri/Pegawai, pada laki-laki dan durasi waktu tidur.
3
(17,5%) dan perempuan (19,4%). Penelitian
4
Wahyuningrum pada pegawai Instalasi Gizi RSUPN Penelitian menggunakan data primer. Data
Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta menunjukkan status gizi dikumpulkan melalui penimbangan berat
2
bahwa prevalensi obesitas (IMT>27 kg/m ) sebesar badan (Seca), pengukuran tinggi badan (microtoise),
25%. dan penilaian persen lemak tubuh (BIA Omron).
Data aktivitas fisik melalui pengisian kuesioner
5
Instalasi Gizi merupakan tempat bekerja Baecke, et al. , dan data karakteristik individu dan
petugas gizi yang diharapkan mampu mencapai dan faktor-faktor lain melalui pengisian kuesioner
mempertahankan status gizi yang optimal. penelitian. Data asupan makanan didapatkan
Keberagaman jabatan dan jenis pekerjaan bukan melalui wawancara food recall 2x24 jam yang
menjadi masalah untuk memiliki status gizi yang dilakukan secara tidak berturut-turut, hari kerja dan
normal, sehingga dapat melaksanakan aktivitas hari libur.
kerja dengan baik dan menjadi contoh yang baik
bagi lingkungan di tempat kerja maupun masyarakat Analisis data penelitian meliputi analisis
umum, ditinjau dari status gizi. Studi awal di Unit univariat dan analisis bivariat. Analisis univariat
Pelayanan Gizi Pelayanan Kesehatan Sint Carolus dilakukan berdasarkan bentuk data: data kategorik
(PKSC) Jakarta mendapatkan informasi prevalensi (jenis kelamin dan faktor genetik) dan data numerik
obesitas pada pegawai sebesar 27%. (umur, asupan makanan, kebiasaan sarapan pagi,
aktivitas fisik, dan durasi waktu tidur). Analisis
bivariat dilakukan dengan dua jenis uji statistik yaitu
Uji Korelasi dan Uji Beda Dua Mean (Uji T).
METODE Pengolahan data asupan makanan (food recall)
dilakukan menggunakan Nutrisurvey 2007.
Penelitian dilaksanakan di Unit Pelayanan
Gizi PKSC yang berlokasi di Jl. Salemba Raya
No.41 Senen, Jakarta Pusat. Penelitian
menggunakan disain penelitian potong lintang (cross HASIL
sectional). Proses pengumpulan data dilakukan
pada tanggal 4-21 April tahun 2012. Distribusi Pegawai berdasarkan Jenis Data
Kategorik
Populasi studi penelitian adalah seluruh
pegawai Unit Pelayanan Gizi PKSC Jakarta tahun Distribusi pegawai berdasarkan jenis
2012, baik yang berstatus pegawai tetap, tenaga kelamin tidak merata, pegawai perempuan
tidak tetap atau perjanjian kerja waktu tertentu sebanyak 42 orang (73,7%) dan pegawai laki-laki 15
(PKWT), dan tenaga harian lepas (THL), yang orang (26,3%). Pegawai yang tidak memiliki anggota
berada di lokasi penelitian saat pengambilan data keluarga yang obesitas berjumlah 39 orang (68,4%),
dilakukan. Besar sampel dari populasi berjumlah 59 dan pegawai yang memiliki anggota keluarga yang
orang. obesitas 18 orang (31,6%). Distribusi pegawai
berdasarkan jenis data kategorik seperti pada Tabel
Pengambilan sampel menggunakan total 1.
populasi, artinya seluruh responden yang berada di
lokasi penelitian yang telah memenuhi kriteria inklusi
menjadi sampel penelitian, sehingga didapatkan
sampel penelitian sebanyak 57 orang. Adapun
kriteria inklusi eksklusi adalah: kriteria inklusi yaitu
BIMGI | Volume 1 | November 2012 [21]
Hubungan asupan makanan dan faktor lain dengan obesitas pada pegawai unit pelayanan gizipelayanan
kesehatan sint carolus jakarta tahun 2012

perempuan mengalami obesitas. Diketahui 5 orang


(9%) pegawai yang memiliki faktor genetik obesitas
Tabel 1. Distribusi Pegawai berdasarkan dan 12 orang (21%) pegawai yang tidak memiliki
Jenis Data Kategorik faktor genetik obesitas mengalami obesitas.
Variabel Jumlah Persenta
se Hubungan antara PLT menurut jenis kelamin
dan faktor genetik pada pegawai Unit Pelayanan
Jenis kelamin Gizi PKSC Jakarta seperti pada Tabel 3. Rata-rata
Laki-laki 15 26,3 PLT pegawai laki-laki 23,41% (SD 9,56), dan
Perempuan 42 73,7 pegawai perempuan 34,96% (SD 7,02). Hasil uji
Total 57 100,0 statistik menunjukkan ada perbedaan yang
signifikan rata-rata PLT pegawai laki-laki dan
Faktor Genetik
perempuan (p=0,0005).
Ya 18 31,6
Tidak 39 68,4
Total 57 100,0

Distribusi PLT pegawai menurut jenis


kelamin dan faktor genetik berdasarkan Gallagher,
6
et al., seperti pada Tabel 2. Sebanyak 3 orang (5%)
pegawai laki-laki dan 12 orang (21%) pegawai

Tabel 2. Distribusi PLT Pegawai Menurut Jenis Kelamin dan Faktor Genetik

Persen Lemak Tubuh (PLT)


Variabel Total
Underfat Healthy Overfat Obesitas
N % N % N % N % N %
Jenis Kelamin
Laki-laki 2 4 3 5 7 12 3 5 15 26
Perempuan 1 2 14 25 15 26 12 21 42 74
Total 3 6 17 30 22 38 15 26 57 100
Faktor Genetik
Ya 2 4 7 12 5 9 5 9 19 34
Tidak 1 2 10 17 15 26 12 21 38 66
Total 3 6 17 29 20 35 17 30 57 100

Tabel 3. Distribusi Rata-rata PLT Menurut Jenis Kelamin dan Faktor Genetik

Variabel Mean SD P value N

Jenis kelamin
Laki-laki 23,41 9,56 0,0005* 15
Perempuan 34,96 7,02 42
Faktor Genetik
Ya 29,03 11,33 0,109 18
Tidak 33,26 7,91 39

[22] BIMGI | Volume 1 | November 2012


BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GI zi

Keterangan: *Signifikan (p < 0,05)

Rata-rata PLT pegawai yang memiliki faktor 100% AKG sebanyak 47 orang (82%).
genetik obesitas 29,03% (SD 11,33), dan pegawai Rata-rata asupan lemak 99,55% energi AKG
yang tidak memiliki faktor genetik obesitas 33,26% (SD 31,96). Pengelompokan asupan lemak
(SD 7,91). Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada berdasarkan AKG 2004 diketahui pegawai dengan
perbedaan yang signifikan rata-rata PLT pegawai asupan lemak > 25% energi AKG sebanyak 27
yang memiliki faktor genetik obesitas dan pegawai orang (47%) dan asupan lemak 25% energi AKG
yang tidak memiliki faktor genetik obesitas sebanyak 30 orang (53%).
(p=0,109). Rata-rata berat badan pegawai adalah 62,4
kg (SD 15); rata-rata TB pegawai adalah 153,4 cm
Distribusi Pegawai berdasarkan Jenis Data (SD 7,9); rata-rata IMT 26,5 kg/m
2
(SD 5,7);
Numerik dan
rata-rata PLT 31,92% (SD 9).
Rata-rata umur pegawai adalah 42,42
Berdasarkan standar nilai IMT Depkes
tahun. Pengelompokan umur berdasarkan AKG
(2003), pegawai status gizi kurus 4 orang (7%),
2004 diketahui pegawai usia 19-29 tahun sebanyak
normal 21 orang (37%), overweight 6 orang (10%),
7 orang (12%), usia 30-49 tahun sebanyak 30 orang
dan obesitas 26 orang (46%). Pengelompokan PLT
6
(53%) dan usia 50-64 tahun sebanyak 20 orang berdasarkan Gallagher, et al. diketahui pegawai
(35%).
7 underfat 3 orang (5%), normal 17 orang (30%),
overfat 22 orang (39%), dan obesitas 15 orang
Rata-rata asupan energi pegawai adalah
74,78% energi AKG (SD 20,96). Pengelompokan (26%). Distribusi pegawai berdasarkan jenis data
asupan energi berdasarkan AKG 2004 diketahui numerik seperti pada Tabel 4.
pegawai dengan asupan energi > 100% AKG
sebanyak 10 orang (18%) dan asupan energi

Tabel 4. Distribusi Pegawai berdasarkan Jenis Data Numerik


Variabel Mean SD N. Skewness Min Maks 95% CI
Umur 42,42 10,95 -2,02 19 56 39,52 45,33
Asupan Energi 74,78 20,96 0,03 29,15 131,77 73,18 84,30
Asupan Karbohidrat 77,82 19,32 2,33 46,77 134,63 72,69 82,94
Asupan Protein 92,75 29,27 2,87 42,70 191,50 84,98 100,51
Asupan Lemak 99,55 31,96 0,61 36,84 167,76 91,07 108,03
Kebiasaan Sarapan Pagi 2,6 3 2,1 07 1,8 3,3
Aktivitas Fisik 7,91 0,94 1,88 6,38 10,25 7,66 8,16
Durasi Waktu Tidur 6,2 1,4 -0,77 2,0 9,5 5,9 6,6
Berat Badan 62,4 15 3,5 40,1 116,2 58,5 66,2
Tinggi Badan 153,4 7,9 1,3 139,6 168,7 151,3 155,5
Indeks Massa Tubuh 26,5 5,7 1,4 16,8 41,6 25,0 28,1
Persen Lemak Tubuh 31,92 9 -2,65 4,70 45,90 29,47 34,37

Distribusi PLT pegawai menurut umur, hubungan yang signifikan (p=0,0005).


asupan makanan, kebiasaan sarapan pagi, aktivitas Hubungan berpola negatif ditunjukkan
fisik dan durasi waktu tidur berdasarkan Gallagher, antara variabel asupan makanan (asupan energi,
et al., seperti pada Tabel 5.Hubungan antara PLT karbohidrat, protein dan lemak) dan PLT pegawai,
menurut umur, asupan makanan, kebiasaan artinya semakin bertambah asupan makanan maka
sarapan pagi, aktivitas fisik, dan durasi waktu tidur nilai PLT semakin menurun. Hasil uji statistik
pada pegawai Unit Pelayanan Gizi PKSC Jakarta menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara
seperti pada Tabel 6. PLT dengan asupan energi (p=0,021) dan asupan
Terdapat hubungan kuat dan berpola positif karbohidrat (p=0,048). Tidak ada hubungan yang
antara variabel umur dan PLT, artinya semakin signifikan antara PLT dengan asupan protein
bertambah umur maka nilai PLT semakin (p=0,071) dan asupan lemak (p=0,134).
meningkat. Hasil uji statistik menunjukkan ada

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [23]


Hubungan asupan makanan dan faktor lain dengan obesitas pada pegawai unit pelayanan gizipelayanan
kesehatan sint carolus jakarta tahun 2012

Tabel 5. Distribusi PLT Pegawai Menurut Umur, Asupan Makanan,


Kebiasaan Sarapan Pagi dan Durasi W aktu Tidur

Persen Lemak Tubuh (PLT)


Variabel Total
Underfat Healthy Overfat Obesitas
N % N % N % N % N %
Umur
19 29 tahun 2 4 6 10 0 0 0 0 8 14
30 49 tahun 1 2 7 12 13 23 8 14 29 51
50 64 tahun 0 0 5 9 10 17 5 9 20 35
Total 3 6 18 31 23 40 13 23 57 100
Asupan Energi
> 100% AKG 2 4 5 9 2 4 1 2 10 17
100% AKG 1 2 12 21 18 32 16 28 47 83
Total 3 6 17 30 20 36 17 30 57 100
Asupan Karbohidrat
> 60% Energi AKG 2 4 3 5 1 2 2 4 8 15
60% Energi AKG 1 2 14 24 19 33 15 26 49 85
Total 3 6 17 29 20 35 17 30 57 100
Asupan Protein
> 100% Protein AKG 3 5 7 12 4 7 5 9 19 33
100% Protein AKG 0 0 10 18 16 28 12 21 38 67
Total 3 5 17 30 20 35 17 30 57 100
Asupan Lemak
> 25% Energi AKG 3 5 9 16 7 12 7 12 26 45
25% Energi AKG 0 0 8 14 13 23 10 18 31 55
Total 3 5 17 30 20 33 17 30 57 100
Kebiasaan Sarapan Pagi
1 kali/minggu 0 0 5 9 14 24 10 18 29 51
2 3 kali/minggu 0 0 4 7 1 2 7 12 12 21
4 kali/minggu 3 5 8 14 5 9 0 0 16 28
Total 3 5 17 30 20 35 17 30 57 100
Aktivitas Fisik
Indeks 5,6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Indeks > 5,6 7,9 1 2 12 21 14 24 7 12 34 59
Indeks > 7,9 2 4 5 9 6 10 10 18 23 41
Total 3 6 17 30 20 34 17 30 57 100
Durasi Waktu Tidur
< 7 jam 2 4 12 21 11 19 10 17 35 61
7 jam 1 2 1 2 4 7 6 10 12 21
> 7 jam 0 0 4 7 4 7 2 4 10 18
Total 3 6 17 30 19 33 18 31 57 100

[24] BIMGI | Volume 1 | November 2012


BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GI zi

Hubungan kuat dan berpola negatif antara hubungan sangat lemah dan berpola negatif antara
variabel kebiasaan sarapan pagi dan PLT pegawai variabel aktivitas fisik dan PLT pegawai artinya
artinya semakin meningkat frekuensi kebiasaan semakin meningkat aktivitas fisik maka nilai PLT
sarapan pagi maka nilai PLT semakin menurun. semakin menurun. Hasil uji statistik menunjukkan
Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang tidak ada hubungan yang signifikan (p=0,948).
signifikan (p=0,0005). Tidak ada hubungan atau

Tabel 6. Analisis Korelasi PLT Menurut


Umur dan Faktor Lain

Variabel Nilai Korelasi (r) P value

Umur 0,525 0,0005*


Asupan Energi -0,305 0,021*
Asupan Karbohidrat -0,246 0,048*
Asupan Protein -0,241 0,071
Asupan Lemak -0,201 0,134
Keb.Sarapan Pagi -0,579 0,0005*
Aktivitas Fisik -0,009 0,948
Durasi Waktu Tidur -0,078 0,564

Keterangan: *Signifikan (p < 0,05)

Hubungan lemah dan berpola negatif antara pertumbuhan dan akumulasi massa otot. Remaja
variabel durasi waktu tidur dan PLT pegawai artinya laki-laki rata-rata mengalami kenaikan BB 9
semakin bertambah durasi waktu tidur maka nilai kg/tahun. Lemak tubuh menurun selama masa
PLT semakin menurun. Hasil uji statistik remaja, sehingga pada akhir masa pubertas rata-
9
menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan rata lemak tubuh sekitar 12%.
(p=0,564).

PEMBAHASAN Hubungan antara Umur dan Obesitas


9
Hubungan antara Jenis Kelamin dan Obesitas Brown, et al. , menyebutkan terjadi
perubahan berat dan komposisi tubuh secara
Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan dramatis pada masa remaja hingga dewasa. Rata-
yang signifikan rata-rata PLT pegawai berjenis rata lean body mass turun dari 80% menjadi 74%
kelamin laki-laki dan perempuan (p=0,0005). dan rata-rata lemak tubuh meningkat dari 16%
8
Didukung oleh penelitian H. Ito, et al. , ada menjadi 27% sampai usia dewasa. Penelitian H. Ito,
8
perbedaan yang signifikan rata-rata PLT laki-laki dan et al. , menunjukkan ada perbedaan yang signifikan
perempuan di Jepang yang diukur menggunakan rata-rata PLT laki-laki dan perempuan dewasa di
DEXA. Menurut penelitian tersebut rata-rata PLT Jepang untuk setiap kelompok umur. Rata-rata PLT
laki-laki membentuk garis melengkung atau laki-laki usia 20-29 tahun (18,76,6 %) meningkat
berbentuk huruf U terbalik, artinya rata-rata PLT usia 40-49 tahun (23,55,8 %) dan berangsur turun
menurun seiring bertambah usia. Berbeda pada ketika usia 70-79 tahun (21,76,3%). Rata-rata PLT
perempuan, rata-rata PLT membentuk garis lurus, perempuan usia 20-29 tahun (28,47,0%)
artinya semakin bertambah usia, rata-rata PLT meningkat sampai usia 70-79 tahun (35,98,4%),
semakin meningkat. peningkatan terjadi seiring bertambahnya usia.
Perempuan akan mengalami pertambahan Proses penuaan juga berhubungan dengan
massa jaringan bebas lemak (lean body mass)44% perubahan komposisi tubuh, mencakup perubahan
dan pertambahan lemak tubuh 120% pada masa lean body mass, lemak dan otot. Rata-rata terjadi
pubertas. Selama pubertas, remaja perempuan penurunan 15% massa lemak bebas pada usia 50
akan mengalami pertambahan massa lemak tubuh tahun. Perubahan tersebut berkaitan dengan
sekitar 1,14 kg/tahun sampai usia 15-16 tahun. menurunnya tingkat aktivitas fisik, asupan makanan
Berbeda pada laki-laki, puncak pertambahan berat dan perubahan hormonal pada perempuan.
9

badan (BB) bertepatan dengan puncak

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [25]


Hubungan asupan makanan dan faktor lain dengan obesitas pada pegawai unit pelayanan
gizipelayanan kesehatan sint carolus jakarta tahun 2012

Hubungan antara Asupan Makanan dan Perubahan nafsu makan akan berpengaruh
Obesitas pada pertambahan berat tubuh dan menjadi
faktor risiko terjadinya penyakit kronis seperti
Asupan energi merupakan akumulasi diabetes melitus dan penyakit
dari total asupan zat gizi makro yaitu asupan 11 12
kardiovaskular. Sinha, et al. , menyebutkan
karbohidrat, protein dan lemak. Analisis kebiasaan melewatkan jadwal makan
korelasi yang dilakukan pada masing-masing berhubungan dengan keadaan kelebihan berat
zat gizi makro menunjukkan ada hubungan badan. Kebiasaan melewatkan sarapan pagi
yang signifikan (p=0,0005). Keeratan dan makan berlebih di malam hari telah
hubungan sangat kuat dan berpola positif (r terbukti menjadi penyebab terjadinya
karbohidrat=0,825; r protein=0,786; dan r kelebihan berat badan.
lemak=0,798). Hal ini berarti bahwa semakin
meningkat asupan energi maka semakin
meningkat asupan karbohidrat, protein dan
lemak. Dapat diasumsikan bahwa asupan Hubungan Faktor Genetik dan Obesitas
karbohidrat, protein dan lemak yang berlebih Penelitian-penelitian telah
akan menyebabkan asupan energi tinggi membuktikan ada hubungan antara faktor
sehingga berat badan dan PLT akan genetik dan obesitas dengan memaparkan
meningkat. berbagai jenis gen dan mediator gen lainnya
Namun hasil yang berbeda didapat- yang berpengaruh terhadap kejadian
13-15
kan dari penelitian pegawai Unit Pelayanan obesitas. Hal penting yang perlu tetap
Gizi PKSC Jakarta. Hubungan yang berpola diingat adalah faktor genetik bukan
negatif ditunjukkan pada hasil korelasi asupan merupakan faktor independen sebab faktor
makanan dengan PLT. Hal ini mungkin genetik memiliki pengaruh yang besar pada
dipengaruhi oleh aktivitas fisik. Skor aktivitas faktor perilaku seperti perilaku makan dan
16
fisik yang diklasifikasikan berdasarkan aktivitas fisik.
10
Kamso dalam 3 kategori yaitu Ketidakmampuan membuktikan
aktivitas ringan (indeks 5,6), aktivitas fisik adanya hubungan antara faktor genetik dan
sedang (indeks 5,6-7,9) dan aktivitas obesitas dalam penelitian ini mungkin
fisik berat (indeks > 7,9), maka aktivitas disebabkan oleh instumen dan desain
fisik pegawai penelitian yang digunakan serta penilaian
Unit Pelayanan Gizi PKSC Jakarta termasuk subjektif responden terhadap tingkat
dalam kategori aktivitas fisik sedang (60%) kegemukan pada orang tua dan saudara
dan aktivitas fisik berat (40%). kandungnya. Pengelompokkan nilai PLT
Hasil analisis uji korelasi antara pegawai Unit Pelayanan Gizi PKSC Jakarta
6
asupan makanan dan aktivitas fisik didapatkan
keeratan hubungan lemah dan berpola positif berdasarkan Gallagher, et al. diketahui
(r asupan energi=0,032; r asupan karbohidrat responden yang memiliki faktor genetik
=0,057; r asupan protein=0,037; dan r asupan obesitas mengalami obesitas sebanyak 4
lemak=0,185), artinya semakin meningkat orang (22%), sedangkan responden yang
asupan makanan maka semakin meningkat tidak memiliki faktor genetik obesitas
aktivitas fisik. Berdasarkan hasil tersebut mengalami obesitas sebanyak 13 orang
dapat diasumsikan bahwa peningkatan (33%).
asupan makanan (asupan energi, karbohidrat,
protein dan lemak) juga diimbangi dengan
peningkatan aktivitas fisik sehingga tidak Hubungan antara Aktivitas Fisik dan
menyebabkan peningkatan PLT. Obesitas
Keseluruhan aktivitas fisik mengarah
pada pengeluaran energi dan pemeliharaan
Hubungan Kebiasaan Sarapan Pagi dan kesehatan. Rendahnya aktivitas fisik dapat
Obesitas memperburuk kekuatan, daya tahan, yang
Hasil uji statistik menunjukkan ada berkaitan juga dengan keseimbangan.Aktivitas
hubungan yang signifikan (p=0,0005). fisik akan membangun lean body mass,
Kebiasaan melewatkan sarapan pagi membantu memelihara keseimbangan dan
9
berkaitan dengan rendahnya kualitas makan fleksibilitas.
secara keseluruhan sebab terjadi perubahan Ketidakmampuan untuk membuktikan
sejumlah mekanisme fisiologis dalam tubuh adanya hubungan antara aktivitas fisik dan
seperti regulasi atau pengaturan nafsu makan. PLT dalam penelitian ini mungkin disebabkan

[26] BIMGI | Volume 1 | November 2012


BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GI zi

oleh instumen yang digunakan. Kuesioner Saran yang dapat diberikan


5
Baecke, et al., digunakan berdasarkan hasil penelitian adalah sebagai
mengindentifikasi aktivitas fisik laki-laki berikut: (1) Pemeriksaan kesehatan pegawai
dan perempuan di dilakukan setiap tahun meliputi pemeriksaan
Belanda pada kelompok umur 19-21 tahun, laboratorium lengkap. Pemantauan status gizi
24-26 tahun, dan 29-31 tahun. Sedangkan pegawai dilakukan secara berkala, misalkan
10
pengkategorian skor aktivitas fisik Kamso melakukan pengukuran nilai IMT yaitu dengan
dilakukan pada kelompok usia lanjut. menimbang BB (kg) dan TB (cm),
pemeriksaan PLT, dll. Pemantauan status gizi
Hubungan antara Durasi Waktu Tidur dan penting sebagai tindakan pencegahan
Obesitas terhadap risiko terkena penyakit kronis dan
juga meningkatkan produktivitas kerja; (2)
Kelenjar hipotalamus selain berfungsi Mengadakan penyuluhan dan konsultasi bagi
dalam pengaturan asupan makanan, pegawai bersama ahli gizi mengenai informasi
keseimbangan energi dan metabolisme, juga gizi seimbang, pola hidup sehat, dan
berhubungan dengan proses pengaturan pemantauan status gizi; (3) Pembuatan media
waktu tidur. Neuron dalam hipotalamus komunikasi informasi dan edukasi (KIE) yang
menghasilkan orexin, yaitu neurotransmiter berisi pemantauan status gizi, pola hidup
yang berperan mengatur nafsu makan dan sehat dan gizi seimbang. Media tersebut dapat
kekuatan untuk terjaga. Penyimpangan orexin berupa poster yang ditempel di tempat makan
akan memberikan peluang terjadinya obesitas pegawai (KMP) atau ruang Unit Pelayanan
17
disebabkan durasi waktu tidur. Gizi yang berfungsi untuk memberikan
Analisis data persen lemak tubuh informasi sehingga timbul kesadaran untuk
pegawai menunjukkan prevalensi obesitas menerapkan pola hidup sehat.
lebih tinggi pada pegawai dengan durasi
waktu tidur < 7 jam yaitu 10 orang (17%)
dibandingkan durasi waktu tidur 7 jam
DAFTAR RUJUKAN
sebanyak 6 orang (10%) dan durasi waktu
tidur > 7 jam sebanyak 2 orang (4%). 1. World Health Organization. Overweight
and Obesity Fact Sheet. World Health
KESIMPULAN Organization Regional Office for South-
East Asia: Department of Sustainable
Berdasarkan hasil analisis statistik
Development and Healthy Enviroments;
diperoleh kesimpulan penelitian sebagai
2011
berikut: (1) Rata-rata PLT pegawai Unit
2. Riset Kesehatan Dasar. Laporan Nasional
Pelayanan Gizi PKSC Jakarta Tahun 2012
Hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia.
adalah 31,92% (SD 14,60). Diketahui pegawai
Jakarta: Badan Penelitian dan
underfat 3 orang (5%), normal 17 orang
Pengembangan Kesehatan Departemen
(30%), overfat 22 orang (39%), dan obesitas
Kesehatan, Republik Indonesia; 2007.
15 orang (26%), (2) Rata-rata asupan energi
3. Riset Kesehatan Dasar. Laporan Nasional
pegawai Unit Pelayanan Gizi PKSC Jakarta
Hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia.
Tahun 2012 adalah 78,74% energi AKG.
Jakarta: Badan Penelitian dan
Asupan energi terendah 29,15% energi AKG
Pengembangan Kesehatan Departemen
dan tertinggi 131,77% energi AKG. Rata-rata
Kesehatan, Republik Indonesia; 2010.
asupan karbohidrat adalah 77,82% energi
4. Wahyuningrum, Sri Rejeki. Faktor-faktor
AKG; rata-rata asupan protein adalah 92,75%
yang Berhubungan dengan Indeks Massa
protein AKG; rata-rata asupan lemak adalah
Tubuh (IMT) Pegawai Instalasi Gizi
99,55% energi AKG, (3) Faktor-faktor yang
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
berhubungan signifikan dengan PLT pada
Tahun 2000 [Skripsi]. Peminatan Gizi
pegawai Unit Pelayanan Gizi PKSC Tahun
Kesehatan Masyarakat: Fakultas
2012 adalah faktor karateristik individu (jenis
Kesehatan Masyarakat Universitas
kelamin dan umur), asupan energi, asupan
Indonesia; 2000.
karbohidrat, dan kebiasaan sarapan pagi.
5. Baecke, Jos AH., Burema, Jan., Frijters,
Sedangkan faktor-faktor yang tidak
Jan E.R. A Short Questionnaire for The
berhubungan signifikan dengan PLT adalah
Measurement of Habitual Physical Activity
asupan protein, asupan lemak, faktor genetik,
in Epidemiological Studies. The American
aktivitas fisik dan durasi waktu tidur.
Journal of Clinical Nutrition. 1982;36: 936-
942.
SARAN
6. Gallagher, D., Heymsfield, Steven. B.,
Heo, Moonseong., Jebb, Susan A.,
BIMGI | Volume 1 | November 2012 [27]
Hubungan asupan makanan dan faktor lain dengan obesitas pada pegawai unit pelayanan
gizipelayanan kesehatan sint carolus jakarta tahun 2012

Murgatroyd, Peter R., & Sakamoto, Yoichi.


Healthy Percentage Body Fat Ranges: An
Approach for Developing Guidelines
Based on Body Mass Index. The American
Journal of Clinical Nutrition. 2000;72: 694- 11. Timlin, Maureen T & Pereira, Mark A.
701. Breakfast Frequency and Quality in The
7. Departemen Kesehatan Republik Etiology of Adult Obesity and Chronic
Indonesia. Pedoman Umum Gizi Diseases. Nutrition Reviews. 2007;65(6):
Seimbang (PUGS) 2004 berdasarkan 268-281.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik 12. Sinha, Ashish & Kling, Scott. A Review of
Indonesia Nomor: Adolescent Obesity: Prevalence, Etiology,
1593/Menkes/SK/XI/2005 tentang Angka and Treatment. Obesity Surgery.
Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan 2009;19:113-120.
bagi bangsa Indonesia. 2005. 13. Palou, A., Serra, F., Bonet, M. L., & Pic,
8. H Ito, A. Ohshima, N Ohto, M Ogasawara, C. Obesity: Molecular Bases of A
M Tsuzuki, K Takao, Chijii, H Tanaka, & K Multifactorial Problem. European Journal
Nishioka. Original Communication of Nutrition. 2000;39:127-144.
Relation Between Body Composition and 14. Ichihara, S., & Yamada, Y. Genetic Factors
Age in Healthy Japanese Subjects. for Human Obesity. Cellular and Molecular
European Journal of Clinical Nutrition. Life Sciences. 2008;65:1086-1098.
2001;55:462470. 15. Smith, Graham. Fat: A Family Affair:
9. Brown, Judith E., Issacs, Janer S., Krinke, Genetic and Enviromental Factors in
U. Beate., Murtaugh, Maureen A., Overweight, Obesity. Pharmacy News.
Sharbaugh, Carolyn., Stang, Jamie., & 2008.
Wooldridge, Nancy H. Nutrition Through 16. Thirlby, Richard C., & Randall, James. A
nd
The Life Cycle. 2 ed. United States Genetic Obesity Risk Index for Patients
of With Morbid Obesity. Obesity Surgery.
America: Wadrworth, Thomson Learning; 2002;12:25-29.
2005. 17. Patel, Sanjay R., Malhotra, Atul., W hite,
10. Kamso, Sudijanto. Nutritional Aspects of David P., Gottlieb, Daniel J., & Hu, Frank
Hypertension in The Indonesian Elderly (A B. Association between Reduced Sleep
Community Study in 6 Big Cities) and Weight Gain in Women. American
[Dissertation]. Leading to Doctorate Journal of Epidemiology. 2006;164: 947-
Degree in Nutrition, Post Graduate 954.
Program University of Indonesia; 2000.

[28] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Hubungan antara karakteristik siswa, pengetahuan, media massa dan teman sebaya dengan
konsumsi makanan jajanan pada siswa sma negeri 68 jakarta tahun 2012

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK SISWA, PENGETAHUAN, MEDIA


MASSA DAN TEMAN SEBAYA DENGAN KONSUMSI MAKANAN JAJANAN
PADA SISWA SMA NEGERI 68 JAKARTA TAHUN 2012
1
Imam Aulia
1
Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
Indonesia, Depok

Abstrak
Perkembangan zaman berperan terhadap perubahan pola konsumsi
masyarakat. Salah satunya adalah kebiasaan mengkonsumsi makanan jajanan telah
menjadi kebiasaan di kalangan remaja. Konsumsi makanan jajanan yang berlebihan
akan berdampak pada meningkatnya resiko obesitas. Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa banyak faktor yang berhubungan dengan frekuensi konsumsi makanan jajanan.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang
berhubungan dengan frekuensi konsumsi makanan jajanan pada remaja. Desain
penelitian yang digunakan adalah cross sectional yang dilakukan di SMA Negeri 68
Jakarta pada bulan April 2012. Sampel dalam penelitian ini adalah 188 siswa kelas X
dan XI SMA Negeri 68 Jakarta yang didapatkan dengan metode cluster sampling.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengisian kuesioner mandiri dan wawancara
food recall 24 jam. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi Square. Hasil analisis univariat
menunjukkan bahwa 52,1% responden sering mengonsumsi makanan jajanan. Hasil
analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna (p-value <
0,05)antara jenis kelamin, kebiasaan sarapan, media massa dan teman sebaya dengan
frekuensi konsumsi makanan jajanan pada remaja. Tidak ada hubungan bermakna
antara uang saku dan tingkat pengetahuan dengan frekuensi konsumsi makanan
jajanan.
Kata Kunci : konsumsi makanan jajanan, remaja, media massa, dan teman sebaya

Abstract
The timescontribute tochanges inconsumption patterns. One is thehabit of
eatingstreet foodhas become ahabitamong adolescents.Excessiveconsumption
ofstreetfoodswillresult in increasedrisk of obesity. Variousstudies have
shownthatmanyfactors related to thefrequency ofconsumption ofstreet food.
Therefore,this studyaimed todetermine the factorsassociated with thefrequency ofstreet
foodconsumptionin adolescents. The designstudy is acrosssectional
whichconductedinSenior High School68Jakarta inApril 2012. The sample inthis study
is188studentsat class X andXISenior High School68Jakartaobtainedby the method
ofclustersampling. Datacollectionis done byself-administered questionnaireandinterviews
24-hour food recall. Data analysis usedin this study isunivariate
andbivariateanalysisusingChiSquaretest. The results ofunivariate
analysisshowedthat52.1% of respondentsfrequently eatstreet foods. The results
ofbivariate analysisshowedthat therewas a significant
associationbetweengender,breakfasthabits, mass media,and peerswith thefrequency
ofstreet foods consumptionin adolescents. There was nosignificantrelationshipbetween
pocket money andknowledge level withfrequency ofstreet foods consumption.
ResearcherssuggesttoSenior High
School68Jakartatoconducteducationandcounselingabout nutritionand street foodsto
bemoreselective in theireatingstreet foods.
Keywords: street foods consumption, adolescents, mass media, and peers.

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [29]


BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GIzi

PENDAHULUAN Pusat tahun 2012. Sedangkan sampel dari


penelitian ini adalah siswa kelas X atau XI di
Makanan jajanan merupakan makanan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 68
siap saji atau dimasak terlebih dahulu dan Jakarta dengan kriteria inklusi : (1) berstatus
dijajakan oleh penjaja makanan atau pedagang sebagai siswa aktif pada tahun ajaran 2011/2012
1
keliling di tempat-tempat umum. Makanan dan (2) bersedia menjadi responden serta hadir
jajanan telah menjadi bagian yang tidak dapat pada saat penelitian dilakukan. Sedangkan
terpisahkan dari masyarakat. Berdasarkan data kriteria eksklusi : (1) Siswa X dan XI yang masuk
hasil survei Sosial Ekonomi Nasional yang telah dalam kelas internasional dan (2) Siswa yang
dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (2011) tidak masuk sekolah pada saat penelitian
menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran dilakukan.
penduduk perkotaan per kapita per bulan untuk
pembelian makanan jajanan telah meningkat dari Jumlah sampel dalam penelitian ini
9,48% pada tahun 1999 menjadi 12,79% pada dihitung berdasarkan rumus uji hipotesis dua
2
tahun 2010. Sementara itu, menurut proporsi populasi dengan hipotesis dua arah
3 dengan derajat kepercayaan 95% dan kekuatan
penelitian yang dilakukan oleh Fuadiyati di
Semarang menunjukkan bahwa remaja di uji sebesar 80%. Dari hasil perhitungan
dalam kota mengonsumsi makanan jajanan didapatkan besar sampel minimal yang
sebanyak 18,9 kali dalam seminggu, digunakan dalam penelitian ini adalah 81 orang,
sedangkan remaja di lalu dengan mempertimbangkan desain efek
pinggiran kota mengonsumsi makanan jajanan maka jumlah sampel tersebut dikalikan 2 menjadi
sebanyak 9,7 kali dalam seminggu. 162 orang sampel minimal.
Remaja dalam mengonsumsi makanan Teknik pengambilan sampel yang
jajanan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. digunakan dalam penelitian ini adalah cluster
4
Menurut Notoatmodjo dalam Putriantini , sampling. Alasan penggunaan teknik ini adalah
terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi pihak sekolah hanya akan memberikan beberapa
konsumsi makanan jajanan yaitu faktor internal kelas untuk memenuhi jumlah sampel yang akan
5
dan faktor eksternal. Menurut Silvis , yang diteliti dan semua siswa pada setiap kelas harus
termasuk faktor internal adalah pengetahuan, dijadikan sampel, sehingga peneliti mengacak
kepercayaan, dan body image sedangkan yang atau mengundi kelas yang akan dijadikan
termasuk faktor eksternal adalah kebudayaan, sampel.
faktor sosial-ekonomi, orang tua dan keluarga,
teman sebaya, serta media massa. Selain itu, Variabel dalam penelitian ini meliputi
6
Rahayu dan W idiyanti menyebutkan variabel dependen dan variabel independen.
bahwa kebiasaan sarapan pagi juga Variabel dependen adalah frekuensi konsumsi
dapat mempengaruhi makanan jananan, sedangkan variabel
kebiasaan mengonsumsi independen adalah karakteristik individu (jenis
makanan jajanan. kelamin, uang saku, dan kebiasaan sarapan),
tingkat pengetahuan, paparan media massa, dan
Oleh karena itu, perlu dilakukan teman sebaya.
penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui
faktor-faktor yang behubungan khususnya Penelitian menggunakan data primer
karakteristik siswa (jenis kelamin, uang saku, dan yaitu data frekuensi konsumsi makanan jajanan,
kebiasaan sarapan), pengetahuan, teman karakteristik individu (jenis kelamin, uang saku,
sebaya, dan media massa dengan konsumsi dan kebiasaan sarapan), tingkat pengetahuan,
makanan jajanan pada siswa SMA. paparan media massa, dan teman sebaya. Data
asupan makanan jajanan didapatkan melalui
wawancara 24 hours recall food recall.
METODE
Analisis data yang digunakan dalam
Penelitian ini merupakan penelitian penelitian ini meliputi analisis univariat dan
kuantitatif dengan menggunakan metode cross analisis bivariat. Analisis univariat bertujuan
sectional yang dilaksanakan di Sekolah untuk mengetahui gambaran dari dependen dan
Menengah Atas (SMA) Negeri 68 Jakarta, Jalan independen.. Analisis bivariat bertujuan untuk
Salemba Raya 18, Senen, Jakarta Pusat pada mengetahui ada tidaknya hubungan antara
bulan April 2012. Populasi target dari penelitian
ini adalah seluruh siswa/i SMA Negeri 68 Jakarta

[30] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Hubungan antara karakteristik siswa, pengetahuan, media massa dan teman sebaya dengan
konsumsi makanan jajanan pada siswa sma negeri 68 jakarta tahun 2012

variabel independen dengan variabel dependen. Besar 142 72,3


Uji statistik yang digunakan dalam analisis ini Kecil 46 27,7
adalah Chi Square. Pengolahan data asupan
makanan (food recall) dilakukan menggunakan Total 188 100,0
Nutrisurvey 2007.
Sebagian besar responden (72,3%)
memperoleh uang saku yang besar dalam satu
hari. Hanya sebesar 27,7% yang meroleh uang
saku kecil.

HASIL

1. Frekuensi Konsumsi Makanan Jajanan


4. Kebiasaan Sarapan
Tabel 1. Distribusi Responden berdasarkan
Frekuensi Konsumsi Makanan Jajanan Tabel 4. Distribusi Responden berdasarkan
Kebiasaan Sarapan
Variabel Jumlah Persent
ase Variabel Jumlah Persent
Frekuensi Jajan ase
Sering 98 52,1 Kebiasaan Sarapan
Jarang 90 47,9 Tidak Rutin 92 48,9
Total 188 100,0 Rutin 96 51,1
Total 188 100

Distribusi responden lebih banyak siswa yang


sering mengonsumsi makanan jajanan (52,1%) Distribusi responden menunjukkan tidak
dibandingkan dengan siswa yang jarang dalam terdapat perbedaan yang jauh antara responden
mengonsumsi makanan jajanan (47,9%). yang rutin mengonsumsi sarapan (51,1%)
dengan responden yang tidak rutin mengonsumsi
2. Jenis Kelamin sarapan.

Tabel 2. Distribusi Responden berdasarkan Jenis 5. Tingkat Pengetahuan


Kelamin
Tabel 5. Distribusi Responden berdasarkan
Variabel Jumlah Persentase Tingkat Pengetahuan

Jenis Kelamin Variabel Jumlah Persent


Laki-laki 79 42 ase
Perempuan 109 58 Tingkat Pengetahuan
Total 188 100 Kurang 130 69,1
Baik 58 30,9
Distribusi responden lebih banyak yang Total 188 100,0
berjenis kelamin perempuan (58%) dibandingkan
dengan responden berjenis kelamin laki-laki
(42%). Distribusi responden lebih banyak yang
berpengetahuan kurang (69,1%) dibandingkan
3. Jumlah Uang Saku responden yang berpengetahuan baik (30,9%).

Tabel 3. Distribusi Responden berdasarkan 6. Pengaruh Media Massa


Jumlah Uang Saku
Tabel 6. Distribusi Responden berdasarkan
Variabel Jumlah Persent Pengaruh Media Massa
ase
Variabel Jumlah Persent
Uang Saku ase

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [31]


BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GIzi

Pengaruh Media
Massa
Ada Pengaruh 104 55,3 Distribusi responden yang mengonsumsi
makanan jajanan karena terpengaruh oleh iklan
Tidak makanan pada media massa (55,3%) lebih
84 44,7
AdaPengaruh banyak dibandingkan dengan responden yang
Total 188 tidak terpengaruh (44,7%).
100,0

7. Pengaruh Teman Sebaya Tidak 23 12,2


AdaPengaruh
Tabel 7. Distribusi Responden berdasarkan Total 188 100,0
Pengaruh Teman Sebaya

Variabel Jumlah Persent


Distrubusi responden yang tergolong
terpengaruh oleh teman sebayanya (87,8%) lebih
ase
banyak dibandingkan responden yang tergolong
Pengaruh Teman tidak terpengaruh oleh teman sebayanya
Sebaya (12,2%).
Ada Pengaruh 165 87,8

8. Hasil Analisis Bivariat

Tabel 8
Hasil Analisis Bivariat

Frekuensi Jajan OR
Variabel p-value (95% CI)
Sering Jarang
Jenis Kelamin (n = 188)
Laki-laki 50 (63,3%) 29 (36,7%) 2,191
0,014* (1,210-3,967)
Perempuan 48 (44,0%) 61 (56,0%)

Jumlah Uang Saku


(n = 188)
Besar 79 (55,6%) 63 (44,4%) 1,782
19 (41,3%) 27 (58,7%) 0,128 (0,908-3,496)
Kecil

Kebiasaan Sarapan
(n = 188)
Tidak Rutin 56 (60,9%) 36 (39,1%) 2,000
0,028* (1,118-3,577)
Rutin 42 (43,8%) 54 (56,2%)

Tingkat Pengetahuan
(n = 188)
Kurang 68 (52,3%) 62 (47,7%) 1,024
1.000 (0.551-1,902)
Baik 30 (51,7%) 28 (48,3%)

Pengaruh Media Massa


(n = 188)
Ada Pengaruh 63 (60,6%) 41 (39,4%) 2,151
0,015* (1,198-3,863)
Tidak Ada Pengaruh 35 (41,7%) 49 (58,3%)

[32] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Hubungan antara karakteristik siswa, pengetahuan, media massa dan teman sebaya dengan
konsumsi makanan jajanan pada siswa sma negeri 68 jakarta tahun 2012

Pengaruh Teman Sebaya (n =


188)
Ada Pengaruh 94 (57,0%) 71 (43,0%) 6,289
0,001 (2,049-19,301)
Tidak Ada Pengaruh 4 (17,4%) 19 (82,6%)
*)
Keterangan : hubungan bermakna signifikan (p-value<
0,05)
hubungan yang bermakna antara kebiasaan
PEMBAHASAN sarapan dengan frekuensi responden dalam
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang bermakna anatara jenis mengkonsumsi makanan jajan. Secara teori,
kelamin dengan frekuensi konsumsi makanan seseorang yang tidak mengonsumsi sarapan
jajanan. Secara teori, jenis kelamin memiliki pagi akan membeli makanan jajanan untuk
hubungan dengan konsumsi makanan jajanan, mengisi perut yang lapar. Menurut W ardlaw dan
seperti yang dikemukakan oleh Bothmer dan 11
Hampl , seseorang yang tidak mengonsumsi
7
Fridlund Mereka mengatakan bahwa sarapan dan makan siang secara teratur akan
karakteristik individu seperti jenis kelamin cenderung lebih sering mengonsumsi makanan
memiliki hubungan yang cukup erat dengan jajanan untuk memenuhi kebutuhan mereka akan
kebiasaan mengonsumsi makanan jajanan, makanan. Sama halnya dengan Altmatsier
12
dimana laki-laki akan lebih sering untuk yang menyatakan bahwa individu tertentu akan
mengonsumsi makanan jajanan yang tidak sehat. mengonsumsi makanan jajanan ketika ia berada
8
Teori ini juga didukung oleh Soyer et al yang di luar rumah secara berlebihan jika ia tidak
menyatakan bahwa laki-laki juga lebih suka dan mengonsumsi sedikitpun makanan di pagi hari.
sering mengonsumsi makanan diantara jam
makan utama daripada perempuan. Oleh karena Hasil penelitian menunjukkan bahwa
itulah, dalam penelitian ini laki-laki lebih tidak ada hubungan yang bermakna antara
cenderung senang untuk mengonsumsi makanan tingkat pengetahuan responden dengan
jajanan. frekuensi konsumsi makanan
jajanan.Ketidakbermaknaan hubungan tersebut
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dapat disebabkan beberapa alasan yaitu menurut
13
tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penelitian Cho et al , individu yang memiliki
jumlah uang saku dengan frekuensi konsumsi pengetahuan baik bukan berarti memiliki perilaku
makanan jajanan. Ketidakbermaknaan hubungan yang baik pula dan sebaliknya individu dengan
pada analisis tersebut dapat dipengaruhi oleh pengetahuan buruk memiliki perilaku yang buruk.
beberapa faktor, seperti menurut penelitian Hal ini membuat pengetahuan tidak dapat
9
Estetika ,faktor yang dapat menjadi penyebab berhubungan langsung dengan konsumsi
terjadinya ketidabermaknaan antara uang saku makanan jajanan karena konsumsi makanan
dan konsumsi makanan jajanan adalah harga jajanan tersebut merupakan perilaku yang
makanan jajanan yang tidak terlalu mahal atau tercipta akibat interaksi individu tersebut dengan
dapat dikatakan harga makanan jajanan dapat lingkungan disekitarnya. Penelitian tersebut juga
14
dijangkau oleh semua kalangan. Oleh karena itu, didukung oleh Stang dan Story yang
meskipun uang saku yang diterima oleh siswa menyatakan bahwa konsumsi makanan pada
merupakan jumlah kecil, ia tetap bisa membeli individu berhubungan erat dengan perilaku
makanan jajanan yang ada disekitarnya. Namun individu. Namun secara teori, menurut Horst et
demikian, secara teori, menurut Thoha dalam 15
10
al individu dengan pengetahuan rendah
Febry mengatakan bahwa setiap siswa lebih cenderung mengonsumsi makanan jajanan
memperoleh uang dari orang tuanya masing- yang
masing. Tujuan dari orang tua memberikan uang tidak sehat dibandingkan dengan individu yang
saku kepada anaknya adalah untuk memenuhi memiliki pengetahuan tinggi. Hal tersebut juga
16
kebutuhan anaknya dalam hal kebutuhan jajan didukung oleh teori Benjamin et al yang
dan kebutuhan lain seperti membeli alat tulis, mengatakan bahwa pemilihan makanan
transport dan lain-lain. Namun demikian, seseorang dipengaruhi oleh pengetahuan yang
kebanyakan pada anak sekolah biasanya uang dimilikinya, khususnya pengetahuan mengenai
saku lebih diprioritaskan untuk membeli makanan gizi.
jajanan. Hal ini dikarenakan dengan membeli
makanan jajanan maka dapat memenuhi Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada
kebutuhannya dalam menjalani aktivitas sehari- hubungan yang bermakna antara pengaruh
hari. media massa dengan frekuensi konsumsi
makanan jajanan. Secara teori, menurut Harris et
17
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada al iklan makanan pada media massa
memiliki
potensi yang kuat dalam mempengaruhi

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [33]


BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GIzi

seseorang untuk mengonsumsi makanan jajanan Setiarini Msc selaku dosen pembimbing, dosen
di antara jam makan utama. Iklan makanan dapat beserta staff Departemen Gizi Kesehatan
mempengaruhi emosi seseorang untuk Masyarakat Universitas Indonesia, SMA Negeri
mengonsumsi makanan tersebut dengan 68 Jakarta, serta seluruh mahasiswa Program
menggunakan pesan-pesan dalam iklan tersebut Studi Gizi Universitas Indonesia angkatan 2008.
dan model-model yang menarik perhatian
konsumen. DAFTAR RUJUKAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1. Draper, Alizon. 1996. Street Food In


terdapat hubungan yang bermakna antara Developing Countries : The Potential For
pengaruh teman sebaya dengan frekuensi Micronutrient Fortification. London School of
konsumsi makanan jajanan. Secara teori, Hygiene and Tropical Medicine.
Coleman
18
menyatakan bahwa seorang 2. Badan Pusat Statistik. 2011. Survei Sosial
remaja Ekonomi Nasional. www.bps.go.id
membutuhkan teman dalam kehidupannya dan 3. Fuadiyati, Nur. 1999. Pola Konsumsi
teman tersebut akan saling mempengaruhi Makanan Jajanan dan Status Gizi Remaja Di
termasuk didalamnya kebiasaan dan frekuensi Dalam Dan Pinggiran Kota Semarang (Studi
mengonsumsi makanan ringan atau jajanan. Kasus Pada Siswa SMU Kesatrian 2 Dan
Dixey et al
19
juga menambahkan bahwa SMU 2 Unggaran) [Skripsi]. Semarang :
pengaruh teman sebaya tersebut akan lebih kuat Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas
daripada pengaruh keluarganya dikarenakan Kesehatan Masyarakat, Universitas
remaja akan lebih mendengarkan pendapat dari Dipenogoro.
teman-teman dibandingkan keluarganya sendiri. 4. Putriantini. 2010. Hubungan Pengetahuan
dan Sikap Mengenai Pemilihan Makanan
KESIMPULAN Jajanan Dengan Perilaku Anak Memilih
Makanan Di SDIT Muhammaditah Al Kautsar
Berdasarkan hasil analisis statistik Gampang Kartasura [Skripsi]. Surakarta :
diperoleh kesimpulan bahwa lebih banyak Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan,
responden yang sering mengonsumsi makanan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
jajanan yaitu sebesar 52,1%. Dari hasil analisis 5. Silvis, Katherine A. 2002. Determinants Of
bivariate didapatkan bahwa tedapat hubungan Adolescent Snacking Behavior. Georgia : The
yang bermakna antara jenis kelamin, kebiasaan University of Georgia.
sarapan, pengaruh media massa dan pengaruh 6. Rahayu, W iwit dan Erni Widiyanti. 2003.
teman sebaya dengan frekuensi konsumsi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebiasaan
makanan jajanan. Sedangkan tidak terdapat Mengkonsumsi Makanan Jajanan Pada Anak
hubungan yang bermakna antara jumlah uang Balita Di Kota Surakarta. Jurnal Pendidikan
saku dan tingkat pengetahuan dengan frekuensi dan Pembelajaran ; Vol 3, No. 2 : 99-104.
konsumsi makanan jajanan 7. von Bothmer, Margareta I. dan Fridlund,
Bengt. 2005. Gender Differences in Health
SARAN Habits and in Motivation for a Healthy
Lifestyle Among Swedish University Students.
1. Sebaiknya diadakan kerjasama antara pihak
Nursing and Health Sciences; Vol. 7 : 107-
sekolah dengan pengelola kantin agar
memperhatikan makanan jajanan yang akan 118.
dijual dari segi kandungan gizi, sehingga 8. Soyer, Meral Turk et al. 2008. Effects of
siswa tidak hanya memperoleh makanan Social Determinants on Food Choice And
yang mengenyangkan tetapi juga Skipping Meals Among Turkish Adolescents.
memperoleh makanan yang bergizi. Asia Pacific Journal Clinical Nutrition 2008; 17
2. Pihak sekolah dapat memberikan edukasi (2) : 208-215.
9. Estetika, Shinta Laras. 2007. Faktor-Faktor
kepada siswanya mengenai gizi dan
Yang Berhubungan Dengan Frekuensi
makanan jajanan yang sebaiknya dikonsumsi
Konsumsi Fast Food Pada Mahasiswa
dikarenakan masih banyak siswa yang
Program S1 Reguler Angkatan 2006 Di
memiliki pengetahuan kurang mengenai gizi
Universitas Indonesia [Skripsi]. Depok :
dan makanan jajanan.
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
3. Para siswa sebaiknya tidak mudah
Indonesia.
terpengaruh oleh iklan makanan dan teman
10. Febry, Fatmalina. 2006. Penentuan
dalam memilih dan mengonsumsi makanan
Kombinasi Makanan Jajanan Tradisional
jajanan.
Harapan Untuk Memenuhi Kecukupan Energi
UCAPAN TERIMA KASIH Dan Protein Anak Sekolah Dasar Di Kota
Palembang [Tesis]. Semarang : Universitas
Pada kesempatan ini peneliti Dipenogoro.
mengucapkan terima kasih kepada Ir. Asih

[34] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Hubungan antara karakteristik siswa, pengetahuan, media massa dan teman sebaya dengan
konsumsi makanan jajanan pada siswa sma negeri 68 jakarta tahun 2012

11. Wardlaw, Gordon M. dan Jeffrey S. Hampl. Obesity-Related Dietary Behaviors in Youth.
2007. Perspectives In Nutrition. Seventh Health Education Researc ; Vol. 22 : 203-226.
Edition. USA : Mc Graw Hill Company. 16. Benjamin et al. 2004. Food Consumption in
12. Almatsier, Sunita dkk. 2011. Gizi Seimbang Antigua and Baruda : Qualitative Analysis of
Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : PT Dietary Patterns in Adolescents. Eastern
Gramedia Pustaka Utama. Mediterranean Health Journal : Vol. 37 No. 2.
13. Cho, EA et al. 2010. Snack Consumption 17. Harris, Jennifer L. et al. 2009. Priming Effects
Behavior and Nutrition Knowledge among of Television Food Advertising on Eating
Elmentary School Students in Siheung-si. Behavior. Health Psychology NIH Public
Korean Journal Community Nutrition ; 15(2) : Access ; 28(4) : 404-413.
169-179. 18. Coleman, J. C. 1980. Friendship and The
14. Stang dan M. Story. 2005. Guidelines for Peer Group in Adolescence. New York: Wiley.
Adolescent Nutrition Service. 19. Dixey, Rachael et al. 2000. Healthy Eating for
http://www.epi.umn.edu/let/pubs/adol_book.sh Young People in Europe. Eastren
tm Mediterranean Health Journal.
15. Horst, K. Van der et al. 2007. A Systematic www.emro.who.int
Review of Environmental Correlates of

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [35]


Dampak komposisi minuman berenergi bagi tubuh

DAMPAK KOMPOSISI MINUMAN BERENERGI BAGI TUBUH

Oleh: Katondio Bayumitra Wedya1


1
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Program Studi Gizi, Universitas Indonesia

Abstrak

Produkproduk minuman berenergi banyak sekali bermunculan akhirakhir ini.


Konsumen dijanjikan khasiat yang mampu memberi energi lebih untuk menjalani aktivitas
atau membuat segar sepanjang hari di dalam setiap botol, kaleng atau sachet-nya.
Biasanya yang menggemari minuman jenis ini adalah anakanak, remaja, dan para
pekerja kasar. Minuman berenergi adalah soft drinks yang mengandung banyak stimulan,
vitamin, dan suplemen lainnya. Produk minuman berenergi asal Austria, Red Bull pada
tahun 1997, menjadi minuman berenergi paling populer di Amerika. Red Bull sendiri
mengandung 80 mg kafein per 8 ons. Red Bull memicu munculnya produk minuman
sejenis, seperti Adrenaline Rush, Jolt, No Fear, dan Rockstar. Produkproduk ini
mengandung kafein lebih dari 500 mg per delapan ons untuk beberapa minuman
berenergi baru. Minuman berenergi adalah minuman tak beralkohol yang mengandung
bahanbahan yang dapat meningkatkan energi. Bahan utamanya adalah gula dan kafein.
Bahan lainnya adalah vitamin, asam amino, guarana, karnitina, inositol, ginseng, asam
glutamat, ginkgo biloba, royal jelly, yohimbe, dan lainlain. Kekhawatiran akan bahaya
kesehatan terus meningkat dengan memperhatikan komposisi pada minuman berenergi
dan efek potensial negatif pada kesehatan terhadap konsumsinya, seperti jantung yang
berdebar, serangan jantung, dan masalah cardiac arrest, merujuk kepada penulis artikel
pada jurnal medikal Pediatrics. Penelitian ini mencoba untuk meneliti efek dari konsumsi
minuman berenergi terhadap kesehatan tubuh manusia. Metode yang digunakan adalah
metode literatur. Menurut sebuah survei yang dilakukan di Rosario pada tahun 2005
dengan mengambil sampel sebanyak 211 jiwa, didapatkan hasilnya, jika dilihat dari jenis
kelaminnya, jumlah konsumen minuman berenergi paling banyak adalah laki-laki
dibanding wanita. Lalu, jika dilihat dari status perkawinan maka penduduk yang lajang
atau habis bercerai lebih tertarik untuk mengonsumsi minuman berenergi. Kemudian,
orang yang bekerja ternyata lebih tertarik untuk mengonsumsi minuman berenergi
dibanding dengan yang tidak bekerja.

Kata Kunci: minuman, kafein, gula, energi

Abstract

Energy drinks products popping up a lot today. Consumers were promised benefits who
are able to give more energy to live activity or make fresh throughout the day in every
bottle, cans or sachet. Usually, this type of drink is fond by children, adolescents, and
rude workers. Energy drinks are soft drinks usually containing large amounts of
stimulants, vitamins, and other supplements. In 1997 Red Bull, an Austrian import,
became, Americas first popular energy drink. It contained 80 milligrams (mg) of caffeine
in eight ounces. Red Bull started a frenzy of copycat beverages, such as Adrenaline
Rush, Jolt, No Fear, and Rockstar. These contained caffeine levels up to 500 mg in eight
ounces for some novelty high-energy beverages. Energy drinks are nonalcoholic
beverages containing purportedly energy-enhancing ingredients. The Primary ingredients
are sugar and caffeine. Other ingredients may include vitamins, amino acids, guarana,
carnitine, inositol, ginseng, glutamic acid, ginkgo biloba, royal jelly, and yohimbe, among
others. Concerns have been raised regarding the ingredients in energy drinks and their
potential negative effects on health following consumption, including heart palpitations,
seizures, and cardiac arrest, according to the authors of an article in the medical journal
Pediatrics. This research attempts to examine the effects of energy drinks' consumption
to the health of the human body. The method used is literature method. According to a

[36] BIMGI | Volume 1 | November 2012


BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GIzi

survey in Rosario, 2005 with taking samples as much as 211 people, obtained the result
that the most energy drinks consumers are men compared to women if seen from the
sex. Then, if seen from marital status then the residents who are single or divorced is
more interested in consuming energy drinks. Then, people who work turned out to be
more interested in consuming energy drinks compared to not working.

Key words: beverage, caffeine, sugar, energy

PENDAHULUAN Kematian atletatlet setelah mengonsumsi


minuman berenergi menyebabkan larangan
Produkproduk minuman berenergi
konsumsi di beberapa negara. The American
hampir ada di seluruh dunia. Banyak penduduk
Association of Poison Control Centers mulai
dunia yang menggemari minuman jenis ini, salah
memantau tentang overdosis minuman berenergi
satunya karena rasanya yang enak. Selain itu,
dan efek samping nasional. Hasilnya, selama
konsumen juga dijanjikan khasiat yang mampu
periode 3 bulan pada tahun 2010 ditemukan 677
memberi energi lebih untuk menjalani aktivitas
kasus, yang kebanyakan korbannya adalah
atau membuat segar sepanjang hari di dalam
setiap botol, kaleng atau sachet-nya. Biasanya anakanak dibawah umur 6 tahun.
yang menggemari minuman jenis ini adalah Beberapa profesional di bidang medikal
anakanak, remaja, dan para pekerja kasar. berpendapat untuk memperingatkan pembacaan
label tentang kemungkinan efek negatif minuman
Mereka yang sering mengonsumsi [1]
berenergi.
minuman berenergi biasanya tidak tahu efek
samping dari minuman berenergi itu sendiri. Konsumen minuman berenergi tentunya
Terkadang mereka yang sudah tahu, justru sangat beragam, baik pria atau wanita, yang
cenderung mengabaikan efek samping tersebut. sudah bekerja maupun yang tidak. Menurut
sebuah survei yang dilakukan di Rosario pada
tahun 2005 dengan mengambil sampel sebanyak
[7]
PEMBAHASAN 211 jiwa, didapatkan hasilnya sebagai berikut:
Minuman Berenergi dan Bahayanya
Minuman berenergi adalah salah satu Tabel1 - distribusi numerik dan persentase
jenis soft drinks yang mengandung banyak variabel sosiodemografik dalam total sampel,
stimulan, vitamin, dan suplemen lainnya. Produk berdasarkan konsumsi minuman berenergi
[7]
minuman berenergi asal Austria, Red Bull pada (n=211). Rosario, 2005
tahun 1997, menjadi minuman berenergi paling
populer di Amerika. Red Bull sendiri mengandung
80 mg kafein per 8 ons. Red Bull memicu
munculnya produk minuman sejenis, seperti
Adrenaline Rush, Jolt, No Fear, dan Rockstar.
Produkproduk ini mengandung kafein lebih dari
500 mg dalam delapan ons untuk beberapa
minuman berenergi baru. Stimulan lain di dalam
minuman berenergi adalah glucuronolactone dan
taurin. Banyak juga minuman berenergi yang
mengandung jumlah kandungan gula melebihi
jumlah maksimal rekomendasi harian dapat
meningkatkan risiko munculnya gangguan
[1]
kesehatan pada tubuh.
Konsumsi minuman berenergi pada
remaja dan orang dewasa muda meningkat dari
24% pada tahun 2001 ke 56 % pada tahun 2008.
Kekhawatiran akan bahaya kesehatan terus
meningkat dengan memperhatikan komposisi
pada minuman berenergi dan efek potensial
negatif pada kesehatan terhadap konsumsinya,
seperti jantung yang berdebar, serangan jantung,
dan masalah cardiac arrest, merujuk kepada
penulis artikel pada jurnal medikal Pediatrics.

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [37]


Dampak komposisi minuman berenergi bagi tubuh

Berdasarkan tabel di atas, jika dilihat dari jenis Mencampur beberapa stimulan berbeda
kelaminnya, jumlah konsumen minuman (kafein, guarana, kola nuts, yerba mate)
berenergi paling banyak adalah laki-laki dapat mengintensifkan efek mereka dan
dibanding wanita. Lalu, jika dilihat dari status menjadi tidak aman.
perkawinan maka penduduk yang lajang atau
habis bercerai lebih tertarik untuk mengonsumsi Pemberhentian konsumsi minuman
minuman berenergi. Kemudian, orang yang berenergi dan berkafein berat secara tiba
bekerja ternyata lebih tertarik untuk tiba dapat menyebabkan penarikan kafein.
mengonsumsi minuman berenergi dibanding Penarikan gejala termasuk sakit kepala,
dengan yang tidak bekerja, dan sisanya dapat suasana hati yang tak menentu dan
dilihat pada tabel. kesulitan berkonsentrasi.
[2]
Acton (2011) mengutip temuan
riset, Komposisi Minuman Berenergi
minuman berenergi: bahaya kesehatan baru [3]
untuk remaja, telah didiskusikan dalam laporan
baru. Merujuk pada sebuah studi dari Amerika Boyle dan Roth (2012) juga menyatakan
Serikat, bahaya kesehatan baru untuk remaja bahwa minuman berenergi adalah minuman tak
adalah efek negatif kesehatan dari mengonsumsi beralkohol yang mengandung bahanbahan
minuman berenergi. Remaja yang mengonsumsi yang dapat meningkatkan energi. Bahan
minuman tipe ini pada jumlah dan tingkat yang utamanya adalah gula dan kafein. Bahan lainnya
mengkhawatirkan. adalah vitamin, asam amino, guarana, karnitina,
inositol, ginseng, asam glutamat, ginkgo biloba,
Efek spesifik yang dirasakan oleh para royal jelly, dan yohimbe, dan lainlain.
remaja adalah gelisah, gugup, pusing, sulit fokus, [3]
sulit berkonsentrasi, gangguan pencernaan, dan Berikut adalah miniglossary mengenai
insomnia. Penyedia perawatan kesehatan bahanbahan yang terdapat di dalam minuman
melaporkan bahwa mereka melihat efek lanjutan berenergi:
dari konsumsi minuman berenergi, seperti Kafein: Stimulan sistem gugup pusat.
dehidrasi, detak jantung yang cepat, cemas,
kejang, akut mania, dan stroke. Artikel ini adalah Karnitin: Disintesis dari asam amino lisin
review literatur yang komprehensif pada efek dan metionin dalam jumlah cukup untuk
kesehatan minuman berenergi. Temuan dari memenuhi kebutuhan banyak orang;
artikel ini mengindikasikan butuhnya intervensi menolong tubuh untuk mengubah asam
pendidikan sebagai pemberi informasi kepada lemak menjadi energi.
para remaja tentang konsekuensi mengonsumsi Kreatin: Asam amino yang disintesis di
minuman yang ada ini, ditulis oleh N. dalam tubuh; digunakan sebagai suplemen
[2]
Pennington dan kolega, Universitas Ohio. makanan untuk meningkatkan massa tubuh
[3]
Boyle dan Roth (2012) menyatakan dan kekuatan; jumlah yang ditambahkan
beberapa kekhawatiran gizi dan kesehatan dalam minuman berenergi terlalu sedikit
terhadap penggunaan minuman berenergi: untuk didapatkan manfaatnya.
Minuman berenergi yang tidak teregulasi Ginkgo biloba: Tumbuhan yang digunakan
oleh Food and Drug Administration. Banyak untuk pengobatan dalam beberapa kondisi,
jumlah dan campuran bahanbahannya termasuk kelelahan dan gagal memori.
dapat digunakan tanpa terbukti secara aman
Ginseng: Tumbuhan yang digunakan untuk
dan efektif.
mendukung kesehatan secara keseluruhan
Tingkatan kafein ditemukan dalam banyak dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh;
minuman berenergi yang tidak cocok untuk penelitian belum cukup konklusif untuk
anak anak dan orangorang yang sensitif membuktikan klaim kesehatannya.
terhadap kafein.
Asam Glutamat: Asam amino non-esensial
Mencampur minuman berenergi dengan yang ditemukan dalam jaringan tanaman
alkohol meningkatkan resiko aritmia jantung. dan binatang; digunakan untuk
mengintensifkan rasa bumbu.
Penggunaan minuman berenergi sebelum
atau saat melakukan olahraga dapat Guarana: Ramuan kimiawi yang setara
menyebabkan gugup, berkunangkunang, dengan kafein.
dan mual.
Inositol: Pertama kali diidentifikasikan dalam
Kafein adalah diuretik dan dapat menjadi kumpulan vitamin B; Tipe gula
kontra-produktif untuk menggantikan cairan (berhubungan dengan glukosa) ditemukan
yang hilang selama berolahraga.

[38] BIMGI | Volume 1 | November 2012


BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GIzi

disintesis di dalam tubuh dan banyak Vitamin B: Lebih dari 35 mg Niasin (B3)
makanan. dapat menyebabkan pembilasan kulit.
Asupan 3000 mg atau lebih dapat
Kola nut: Ramuan kimiawi yang setara
mengakibatkan keracunan hati. Sedangkan,
dengan kafein.
lebih dari 100 mg vitamin B6 dapat
Piruvat: Dapat melawan kelelahan dan menyebabkan masalah saraf sensoris
membakar lemak. (sensasi terbakar) atau lesi (luka) pada kulit.
Royal Jelly: Substansi yang disekresikan Glucuronolactone: Walau tak ada efek
dari kelenjar saliva lebah madu; samping yang dapat dilaporkan, tetapi tetap
menyediakan makanan untuk semua larva ada perdebatan mengenai keamanannya
muda dan satusatunya makanan larva yang mana membuat Kanada, Inggris,
yang akan berkembang menjadi ratu lebah. Jerman, dan Prancis mengizinkannya tanpa
Dapat disalahartikan untuk memberi energi resep.
extra dan untuk memiliki sifat restoratif; Berikut ini saya paparkan komposisi
dapat berpotensial menimbulkan bahaya bahanbahan yang terkandung di dalam Verve
untuk seseorang yang menderita alergi. Energy Drink. (Gambar 1)
[6]

Yerba Mate: Ramuan kimiawi yang setara Di dalam minuman ini terlihat jumlah
dengan kafein. campuran mineral yang terdapat di dalamnya,
Yohimbe: Disebutsebut sebagai afrodisiak serta mineral apa saja yang ada di dalamnya.
(zat perangsang nafsu birahi), Kita tahu bahwa jika kita mengonsumsi mineral
menyembuhkan semua disfungsi seksual; dalam dosis berelebih dapat membahayakan
juga diklaim dapat mengubah massa tubuh, tubuh. Kita tahu jika terlalu banyak mengonsumsi
massa otot, atau performa olahraga ketika makanan dan minuman yang mengandung
dikombinasikan dengan resistance training. mineral timah maka akan dapat menyebabkan
Padahal, dalam penelitian tidak ada dari anemia. Konsumsi mineral aluminium berlebih
kandungan zat tersebut ditemukan dapat merusak sel otak (menyebabkan
keberadaannya. Alzheimer), kerusakan DNA, disfungsi ginjal dan,
kanker payudara.
Selain bahan bahan yang sudah
disebutkan di atas, sesuai dengan yang tertulis
[3]
dalam buku Boyle dan Roth (2012) , masih ada
bahanbahan lain yang terkandung di dalam
minuman berenergi, diantaranya:
Gula: Banyak minuman berenergi yang
mengandung banyak gula yang berasal dari
jagung berfruktosa (fructose corn syrup)
dan/atau gula tebu. Beberapa menggunakan
nama kreatif untuk membuat versi gula
mereka yang terlihat lebih sehat, seperti jus
tebu alami atau mereka menyebutnya
glukosa. Minuman dengan kadar gula
tinggi dihubungkan dengan obesitas
epidemik dan peningkatan secara drastis
penderita diabetes tipe 2. Gula dalam
minuman energi menyebabkan insulin paku
yang kemudian menimbulkan perasaan
seperti menabrak (crash like feeling).
Taurin: Tidak ada efek samping dari taurin di
dalam minuman berenergi yang telah
didokumentasikan. Beberapa Negara
(Prancis, Denmark, dan Norwegia) melarang
adanya minuman berenergi karena konten
Taurin di dalamnya, tapi kini telah
dinyatakan bahwa mengonsumsi taurin itu
aman berdasarkan tanggal masa
berlakunya.

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [39]


Dampak komposisi minuman berenergi bagi tubuh

Sumber: http://www.energyfiend.com/verve-energy- SARAN


drink-the-biggest-ingredients-list-ever
Setelah atau sebelum berolahraga atau
selama melakukan aktivitas biasa, lebih baik
mengonsumsi air putih saja yang jelas lebih
sehat daripada mengonsumsi minuman
berenergi yang jelas memiliki efek samping yang
tidak baik bagi kesehatan tubuh.

DAFTAR PUSTAKA
1. Smith, AF. Fast Food and Junk Food: An
Encyclopedia of W hat We Love to Eat.
Santa Barbara (CA): Greenwood; 2011.
Perhatikan jumlah ekstrak Guarana yang 2. Acton, QA, editor. Issues in Nursing by
terdapat di dalamnya, yaitu mencapai 200 mg Specialty: 2011 Edition. Atlanta (GA)
yang menghasilkan 80 mg kafein. Ini adalah ScholarlyEditions; 2012.
jumlah yang tidak biasa, dimana kualitas 3. Boyle MA, Roth SL. Personal Nutrition. 7th
Guarana yang paling baik sekalipun hanya ed. Belmont (CA). Yolanda Cossio; 2012.
mengandung kafein sekitar 22% atau dalam hal 4. http://www.energyfiend.com/energy-drink-
ini menghasilkan 44 mg kafein. side-effects (diakses 6 Agustus 2012)
5. http://www.smallcrab.com/kesehatan/898-
mineral-berbahaya-jika-asupan-berlebihan
KESIMPULAN (diakses 9 Agustus 2012)
6. http://www.energyfiend.com/verve-energy-
Dari pembahasan di atas, dapat diambil
drink-the-biggest-ingredients-list-ever
kesimpulan bahwa minuman berenergi tidak
(diakses 9 Agustus 2012)
disarankan untuk dikonsumsi terlebih dalam
7. http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_ar
jumlah yang banyak. Hal itu didasarkan atas
ttext&pid=S0104-11692008000700009 oleh
komposisi bahanbahan yang terkandung
Martha Carmen Ballistreri dan Clarissa
didalamnya dan efek yang ditimbulkan jika
Mendona Corradi-Webster (web diakses 9
mengonsumsinya.
Agustus 2012)

[40] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Perbedaan tingkat konsumsi energi, protein, dan zat gizi mikro antara balita stunted dan non-stunted
di kelurahan kartasura, kecamatan kartasura, kabupaten sukoharjo

PERBEDAAN TINGKAT KONSUMSI ENERGI, PROTEIN, DAN ZAT GIZI MIKRO


ANTARA BALITA STUNTED DAN NON-STUNTED DI KELURAHAN
KARTASURA, KECAMATAN KARTASURA, KABUPATEN SUKOHARJO

Punto Tyas Aditya Putra1


1
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Abstrak
Usia balita adalah masa kritis dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas
karena dua tahun pertama kelahiran merupakan periode optimal pertumbuhan dan
perkembangan sel otak. Pada kelompok umur inilah prevalensi balita kurus (wasting)
dan balita pendek (stunting) mencapai angka tertinggi.Kekurangan gizi pada usia balita
ini meliputi kurang energi dan protein serta kekurangan zat gizi seperti vitamin A, zat
besi, yodium dan zink. Prevalensi balita pendek nasional adalah 35,6%. Penelitian ini
bertujuan untuk menentukan perbedaan tingkat konsumsi energi, protein, dan zat gizi
mikro antara balita stunted dan non-stunted di Kelurahan Kartasura, Kecamatan
Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan studi observasi dengan
pendekatan cross sectional. Partisipan terdiri dari 35 balita stunted dan 35 balita non-
stunted yang sesuai dengan kriteria inklusi. Penilaian status gizi dan z-score dilakukan
melalui pengukuran tinggi dengan menggunakan papan bayi dan microtoice. Data
asupan makanan dinilai melalui wawancara dengan menggunakan food recall yang
dikumpulkan secara . Tes statistik pada penelitian ini meliputi Independent Sample T test
dan Mann Whitney Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
tingkat konsumsi energi (p=0,001), protein (p=0,007), Fe (p=0,000), dan vitamin A
(p=0,001) antara balita stunted dan non-stunted.
Kata kunci: asupan energi, Fe, protein, stunted, vitamin A, Zn.

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [41]


BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GIzi

PENDAHULUAN memiliki nilai z-score <-1 SD. Adapun kriteria


inklusi yaitu anak tidak cacat secara fisik,
Masa balita merupakan masa yang kritis
bersedia menjadi responden dalam penelitian ini,
dalam upaya menciptakan sumberdaya manusia
untuk balita yang stunting menggunakan
yang berkualitas, karena pada dua tahun
indikator z-score <-2 SD dan untuk balita yang
pertama pasca kelahiran merupakan masa
non stunting menggunakan indikator z-score >-1
pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak
SD. Untuk kriteria eksklusi yaitu sakit atau
yang optimal. Pada kelompok umur inilah
meninggal selama pengambilan data, berpindah
prevalensi balita kurus (wasting) dan balita
tempat dan mengundurkan diri.
pendek (stunting) mencapai angka tertinggi.
Sampel dihitung menggunakan rumus
Kekurangan gizi pada usia balita ini
Sastroasmoro (1995) dengan proporsi anak
meliputi kurang energi dan protein serta
stunting sebesar 24,16 % (berdasarkan data
kekurangan zat gizi seperti vitamin A, zat besi,
Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo tahun
yodium dan zink (Hadi, 2005). Stunting yang
2010). Perhitungan besar sampel tersebut adalah
terjadi pada balita disebabkan oleh beberapa
sebagai berikut:
faktor, diantaranya akibat gangguan
pertumbuhan dalam kandungan, kurang gizi
mikro, asupan energi yang kurang dan infeksi.
Jika hal ini terjadi pada usia balita, maka
menyebabkan gangguan pertumbuhan (Bhutta et
Keterangan
al, 2008).
n : Jumlah sampel
Prevalensi stunting di dunia masih tinggi,
dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh P1 : Proporsi pada kelompok stunting
Luter et al (2010) yang menemukan prevalensi (0.24)
stunting pada tahun 2008 sebesar 29,8%,
P2 : Proporsi pada kelompok non
sedangkan prevalensi nasional balita pendek
stunting (0.76)
(stunting) adalah 35,6% (Depkes, 2010).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten d : Ketepatan absolute (0.20)
Sukoharjo pada tahun 2010 di Kecamatan
Kartasura terdapat 72 (24,16%) dari 300 balita : Tingkat kemaknaan (1.96)
mengalami stunting (Dinkes Sukoharjo, 2010).
Hal ini yang menjadikan alasan bagi penulis
untuk melakukan penelitian tentang perbedaan Data identitas responden dan data
tingkat konsumsi energi, protein dan zat gizi asupan makan sampel diperoleh dengan
mikro antara anak balita stunting dan non wawancara langsung kepada responden. Data
stunting di Kelurahan Kartasura, Kecamatan asupan makan diambil dengan menggunakan
Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. form recall sebanyak 3 hari tidak berturut-turut.
Pengukuran panjang badan untuk anak usia 1-2
tahun menggunakan baby board, sedangkan
METODE PENELITIAN untuk anak usia > 2 tahun penggukuran tinggi
badan menggunakan microtoice. Data panjang
Jenis penelitian ini adalah observasional badan dan tinggi badan diambil pada awal
dengan pendekatan Cross Sectional. Penelitian penelitian.
dilakukan selama 8 bulan dimulai bulan Juli 2011
sampai dengan Februari 2012 di Kelurahan Jumlah pangan yang dikonsumsi
Kartasura, Kecamatan Kartasura, Kabupaten kemudian dibandingkan dengan Angka
Sukoharjo. Kecukupan Gizi (AKG) 2004. Tingkat konsumsi
pangan akan dikategorikan menjadi jika lebih
Populasi pada penelitian ini adalah anak >120% AKG, normal 90-199% AKG, ringan 80-
balita usia 1-5 tahun baik laki-laki maupun 89% AKG, kurang 70-79% AKG dan defisit <70%
perempuan yang bertempat tinggal di Kelurahan AKG.
Kartasura, sebanyak 414 balita yang terdiri dari
361 balita normal dan 53 balita stunting dari 11 HASIL DAN PEMBAHASAN
posyandu yang terdapat di Kelurahan Kartasura. 1. Distribusi Tingkat Konsumsi Energi
Dari 361 balita normal sebanyak 211 balita
memiliki nilai z-score >-1 SD dan 150 balita

[42] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Perbedaan tingkat konsumsi energi, protein, dan zat gizi mikro antara balita stunted dan non-stunted
di kelurahan kartasura, kecamatan kartasura, kabupaten sukoharjo

Berdasarkan Gambar 1 didapatkan data konsumsi protein kurang dari 80% AKG, memiliki
bahwa tingkat konsumsi energi defisit pada resiko terjadinya KEP ringan dan sedang sebesar
balita stunting lebih besar dari pada asupan 6,9 kali lebih besar dibandingkan dengan anak
balita non stunting. Tingkat konsumsi energi yang mengkonsumsi protein lebih dari 80% AKG.
defisit pada balita stunting sebesar 26% dan
3. Distribusi Tingkat Konsumsi Fe
untuk balita non stunting sebesar 11%. Hal ini
Berdasarkan Gambar 3 didapatkan data
dapat terjadi karena konsumsi energi melalui
bahwa tingkat konsumsi Fe defisit pada balita
makanan kurang dibandingkan dengan energi
stunting lebih besar dari pada asupan balita non
yang dikeluarkan. Bila terjadi pada bayi dan
stunting. Tingkat konsumsi Fe defisit pada balita
anak-anak, maka akan menyebabkan gangguan
pertumbuhan (Almatsier, 2005).

2. Distribusi Tingkat Asupan Protein


Berdasarkan Gambar 2 didapatkan data
bahwa tingkat konsumsi protein defisit pada
balita stunting lebih besar dari pada asupan
balita non stunting. Asupan protein defisit pada
balita stunting sebesar 17% dan untuk balita non
stunting sebesar 3%. Menurut Budiyanto (2002)
kebiasaan makan yang tidak cukup mengandung
kalori dan protein akan menyebabkan terjadinya
defisiensi protein dan kalori atau kombinasi
keduanya yang akhirnya akan menyebabkan
Kurang Energi Protein (KEP).
Penelitian Adi (2005) di Semarang
menyebutkan bahwa hubungan antara tingkat
BIMGI | Volume 1 | November 2012 [43]
BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GIzi

stunting sebesar 74% dan untuk balita non 6. Perbedaan Tingkat Konsumsi Energi
stunting sebesar 31%. Hal ini dapat disebabkan
tidak adanya atau tidak tersedianya Fe di dalam
diet atau makanan (Linder, 2010).

4. Distribusi Tingkat Konsumsi Zn


Berdasarkan Gambar 4 didapatkan data
bahwa tingkat konsumsi Zn defisit pada balita
stunting lebih besar dari pada asupan balita non
stunting. Tingkat konsumsi Zn defisit pada balita
stunting sebesar 97% dan untuk balita non
stunting sebesar 43%. Hal ini dapat disebabkan
oleh kurangnya Zn di dalam makanan, defisiensi
protein atau karena tingkat pengeluaran Zn dari
tubuh yang meningkat (Linder, 2010).

Antara Balita Stunting dan Non Stunting


Rata-rata tingkat konsumsi energi pada
balita stunting di Kelurahan Kartasura sebesar
sebesar 76,42% AKG yang masuk dalam kriteria
tingkat konsumsi kurang, sedangkan untuk balita
non stunting untuk tingkat konsumsi energi
sebesar 90,04% AKG atau termasuk dalam
kategori tingkat konsumsi normal. Berdasarkan
hasil uji statistik dengan menggunakan uji
Independent Sample T Test, didapatkan dengan
p-value sebesar 0,001 yang berarti ada
perbedaan tingkat konsumsi energi antara anak
5. Distribusi Tingkat Konsumsi Vitamin A stunting dan non stunting di wilayah Kelurahan
Berdasarkan Gambar 9 didapatkan data Kartasura.
bahwa tingkat konsumsi vitamin A defisit pada Penelitian ini sejalan dengan
balita stunting lebih besar dari pada asupan penelitian yang dilakukan oleh Sari et al (2009) di
balita non stunting.Tingkat konsumsi vitamin A Kecamatan Rungkut Surabaya antara tingkat
defisit pada balita stunting sebesar 63% dan konsumsi energi dengan status gizi balita
untuk balita non stunting sebesar 29%. menurut indeks TB/U menunjukkan hubungan
Kekurangan vitamin A ini dapat merupakan yang bermakna. Ini dapat diartikan bahwa tingkat
kekurangan primer akibat kurang konsumsi, atau konsumsi energi dapat berpengaruh terhadap
kekurangan sekunder karena gangguan status gizi balita menurut TB/U atau
penyerapan dan penggunaannya dalam tubuh, menunjukkan bahwa balita tersebut pendek
kebutuhan yang meningkat (Almatsier, 2005). (stunting). Selain itu balita dengan asupan energi

[44] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Perbedaan tingkat konsumsi energi, protein, dan zat gizi mikro antara balita stunted dan non-stunted
di kelurahan kartasura, kecamatan kartasura, kabupaten sukoharjo

yang kurang akan berisiko 2,52 kali lebih besar 54,62% AKG yang masuk dalam kriteria tingkat
mengalami stunting dibandingkan dengan balita konsumsi defisit sedangkan untuk balita non
yang asupan energinya normal (Hidayati et al, stunting untuk tingkat konsumsi Fe sebesar
2010). 92,46% AKG atau termasuk dalam kategori
tingkat konsumsi normal. Berdasarkan hasil uji
7. Perbedaan Tingkat Konsumsi Protein
statistik dengan menggunakan uji Independent
Antara Balita Stunting dan Non Stunting
Sample T Test, didapatkan dengan p-value
Rata-rata tingkat konsumsi protein pada
sebesar 0,000 yang berarti ada perbedaan
balita stunting di Kelurahan Kartasura sebesar
tingkat konsumsi Fe antara anak stunting dan
106,67% AKG yang masuk dalam kriteria tingkat
non stunting di wilayah Kelurahan Kartasura.
konsumsi normal, sedangkan untuk balita non
stunting tingkat konsumsi energi sebesar Penelitian ini sejalan dengan penelitian
129,67% AKG atau termasuk dalam kategori yang dilakukan oleh Hidayati et al (2010)
tingkat konsumsi lebih. Berdasarkan hasil uji menyatakan bahwa ada perbedaan antara
statistik dengan menggunakan uji Independent asupan Fe pada anak stunting dan non stunting
Sample T Test, didapatkan dengan p-value di wilayah kumuh perkotaaan.

sebesar 0,007 yang berarti ada perbedaan Hubungantimbalbalikantarakeadaangizidengank


tingkat konsumsi protein antara anak stunting ejadianinfeksi jugadiungkapkanolehBahletal.
dan non stunting di wilayah Kelurahan Kartasura. (1998)yaitukekurangangizi
berhubunganeratdengantingginyakejadiandanke
Penelitian ini sejalan dengan penelitian
seriusandiaredan ISPA,sehinggaanak-anakyang
yang dilakukan oleh Hidayati et al (2010)
menderitakekurangangiziakan
menyatakan bahwa ada perbedaan antara
mengalamipenurunandayatahantubuh.
asupan protein pada anak stunting dan non
stunting di wilayah kumuh perkotaaan. Menurut 9. Perbedaan Tingkat Konsumsi Zn Antara
Asrar et al (2009) tentang penelitiannya di Balita Stunting dan Non Stunting
Kabupaten Maluku Tengah, yang menyebutkan Rata-rata tingkat konsumsi Zn pada
bahwa ada hubungan antara asupan protein balita stunting dan non stunting di Kelurahan
yang rendah dengan status gizi pendek (stunting) Kartasura tidak jauh berbeda, keduanya masuk
pada anak balita. Balita yang asupan proteinnya dalam kategori tingkat konsumsi defisit. Tingkat
kurang akan berisiko memiliki status gizi pendek konsumsi Zn pada anak stunting sebesar 41,43%
3,7 kali lebih besar dibandingkan dengan balita AKG dan untuk balita non stunting sebesar
yang memiliki asupan protein cukup. 55,68% AKG. Berdasarkan hasil uji statistik
dengan menggunakan uji Independent Sample T
8. Perbedaan Tingkat Konsumsi Fe Antara
Test, didapatkan dengan p-value sebesar 0,000
Balita Stunting dan Non Stunting
yang berarti ada perbedaan tingkat konsumsi Zn
Rata-rata tingkat konsumsi Fe pada
antara anak stunting dan non stunting di wilayah
balita stunting di Kelurahan Kartasura sebesar
Kelurahan Kartasura.

BIMGI | Volume 1 | November 2012 [45]


BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GIzi

Penelitian ini sejalan dengan penelitian 105,63% sedangkan rata-rata tingkat konsumsi
Hidayati et al (2010) bahwa balita dengan energi, protein, Fe, Zn, vitamin A balita non
asupan Zn yang kurang akan berisiko 2,67 kali stunting masing-masingadalah adalah 90,04% ,
lebih besar mengalami stunting dibandingkan 129,67%, 92,46%, 55,68%, dan 134,85%.
dengan balita yang asupan Zn yang normal.
Kaitan antara Zn dengan pertumbuhan adalah Zn Adanya perbedaan antara tingkat
berperan dalam pembelahan dan pertumbuhan konsumsi energi, protein, Fe, Zn dan Vitamin A
sel serta stabilitas fungsi berbagai jaringan, antara balita stunting dan non stunting di
sehingga menjadikan seng sebagai zat gizi mikro Kelurahan Kartasura Kecamatan Kartasura
yang esensial untuk mempertahankan kesehatan Kabupaten Sukoharjo.
seseorang secara optimal (Hidayat, 2011). DAFTAR ACUAN
Suplementasi Seng dan Besi pada bayi
1. Adi, MU. 2005. Pendugaan Hubungan
yang dilakukan oleh Purwaningsih (2001) di
Antara Kurang Gizi Pada Balita dengan
Indramayu Jawa Barat didapatkan hasil bahwa
Kurang Energi Protein Ringan dan Sedang
kombinasi seng-besi mempunyai nilai tambah
Di Wilayah Puskesmas Sekaran Kecamatan
dalam peningkatan pertumbuhan linier terutama
Gunungpati Semarang. Skripsi. Fakultas
bayi laki-laki stunting, dibandingkan suplementasi
Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas
seng atau besi tersendiri.
Negri Semarang.
10. Perbedaan Tingkat Konsumsi Vitamin A 2. Almatsier, S. 2005. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.
antara Balita Stunting dan Non Stunting Gramedia: Jakarta.
Rata-rata tingkat konsumsi vitamin A 3. Arsar, M., Hadi, H., Boediman, D. 2009.
pada balita stunting di Kelurahan Kartasura Pola Asuh, Pola Makan, Asupan Zat Gizi
sebesar 105,63% AKG yang masuk dalam dan Hubungannya dengan Status Gizi Anak
kriteria tingkat konsumsi normal, sedangkan Balita Masyarakat Suku Nuaulu di
untuk balita non stunting tingkat konsumsi energi Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku
sebesar 134,85% AKG atau termasuk dalam Tengah Provinsi Maluku. Jurnal. i-
kategori tingkat konsumsi lebih. Berdasarkan lib.ugm.ac.id/jurnal/download.php?dataId
hasil uji statistik dengan menggunakan uji Mann =10760. Diakses 8 Mei 2011
Whitney Test, didapatkan dengan p-value 4. Astari, LD. 2006. Faktor-Faktor Yang
sebesar 0,001 yang berarti ada perbedaan Berpengaruh Terhadap Kejadian Stunting
tingkat asupan vitamin A antara anak stunting Anak Usia 6-12 Bulan Di Kabupaten Bogor.
dan non stunting di wilayah Kelurahan Kartasura. Tesis. Pascasarjana. Institut Pertanian
Bogor.
Penelitian ini sejalan dengan penilitian
5. Bahl,R.,Bhandari,N.,Hambidge,KM.,Bhan,M
Astari (2006) di Bogor, bahwa konsumsi vitamin
K, 1998. Plasma
A pada kelompok anak normal lebih tinggi
ZinkasaPredictorofDiarrhealandRespiratory
dibandingkan dengan kelompok anak yang
MorbidityinChildrenin
stunting. Penelitian lain yang dilakukan oleh
UrbanSlumSetting.AmJClinNutr,68:414s-7s
Kirkwood et al (1996) dimana suplementasi
6. Bhutta, ZA., et al. 2008. Maternal and Child
vitamin A dapat mengurangi mortalitas dan
Undernutrition 3, What works? Interventions
morbiditas yang parah secara substansial pada
for Maternal and Child Undernutrition and
usia 6-59 bulan. Menurut Suhardjo (2002) infeksi
Survival, www.find-docs.com. Diakses 22
dapat menimbulkan gizi kurang melalui berbagai
April 2011
mekanismenya dan antara status gizi dengan
7. Budiyanto, MAK. 2002. Gizi dan Kesehatan.
infeksi terdapat interaksi bolak-balik.
UMM Press: Malang
KESIMPULAN 8. Depkes. 2010. Laporan Hasil Riset
Kesehatan Dasar (RISKESDAS). Badan
Rata-rata tingkat konsumsi energi, Penelitian dan Pengembangan Kesehatan:
protein, Fe, Zn, vitamin A balita stunting yang Jakarta
dibandingkan dengan AKG masing-masingadalah 9. Dinkes Kabupaten Sukoharjo. 2010. PSG
76,42%, 106,67%, 54,62%, 41,43%, dan 2010 Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG)

[46] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Perbedaan tingkat konsumsi energi, protein, dan zat gizi mikro antara balita stunted dan non-stunted
di kelurahan kartasura, kecamatan kartasura, kabupaten sukoharjo

Balita. Sukoharjo. Morbidity Of Bangladeshi Infants In Urban


10. Hadi, H. 2005. Pidato Pengukuhan Guru Slums. Am J Clin Nutr 76:14018. Diakses
Besar-Beban Ganda Masalah Gizi dan 12 Mei 2011
Implikasinya terhadap Kebijakan 20. Pudjiadi,S.2003.
Pembangunan Kesehatan nasional. UGM. IlmuGiziKlinikPadaAnak.(ed.4),PenerbitFK
Yogyakarta. www.gizi.net. Diakses 18 April UI.Jakarta.
2011. 21. Purwaningsih, E. 2001. Pengaruh
11. Hadi, H., Stoltzfus, RJ., Dibley,MJ., Moulton, Suplementasi Seng dan Besi Terhadap
LH., West, KP., Kjolhede,CL., Sadjimin, T. Pertumbuhan, Perkembangan Psikomorik
2000. Vitamin A supplementation selectively dan Kognitif Bayi: Uji Lapangan Di
improves the linear growth of Indonesian Indramayu, Jawa Barat. Karya Ilmiah.
preschool children: results from a Universitas Diponegoro.
randomized controlled trial. Am J Clin Nutr 22. Rimawati, Y. 2005. Hubungan Morbiditas
71:50713. Diakses 18 April 2011 Dan Stimulasi Dengan Tumbuh Kembang
12. Hidayat, Adi. 2011. Seng (Zink): Esensial Anak Balita Berstatus Gizi Baik Dan
Bagi Kesehatan. Universitas Trisakti. Penderita Kurang Energi Protein (Kep) Di
www.univmed.org/wp- Kota Bogor. Skripsi. Fakultas Pertanian.
content/uploads/2011/.../Vol.18_no.1_3.pdf. Institut Pertanian Bogor
Diakses 1 April 2012 23. Sari, D., Suhartini., dan Utomo B. 2009.
13. Hidayati, L., Prasetyaningrum, J., dan Hubungan Tingkat Konsumsi Energi Dan
Manaf, Z. 2010. Ragam Jajanan Anak dan Protein Terhadap Status Gizi Balita Dengan
Kontribusi Jajanan terhadap Kecukupan Indek Bb/U, Tb/U Dan Bb/Tb.
Energi dan Zat Gizi Anak Malnutrisi di isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/110916_2085-
Lingkungan Kumuh Perkotaan. Makalah 028X.pdf. Diakses 28 Maret 2012
pada Seminar Keamanan Produk Pangan 24. Sudiman, H. 2008. Orasi Pengukuhan
Lokal : Mewujudkan Generasi Sehat dan Profesor Riset Bidang Gizi Masyarakat
Cerdas. 9 Maret 2010. Surakarta : Prodi Gizi Tantangan Litbang Lintas Disiplin dalam
FIK Universitas Muhammadiyah Penanggulangan Masalah Kemiskinan,
Surakarta. Kelaparan dan Gizi Kurang Di Indonesia.
14. Kirkwood, BR., et al. 1996. Effect of vitamin Depkes.
A supplementation on the growth of young www.litbang.depkes.go.id/update/orasi/Orasi
children in northern Ghana. . Am J Clin Nutr Herman.pdf. Diakses 17 Agustus 2011
63-773-81. Diakses 6 Mei 2012 25. Suhardjo. 2002. Perencanaan Pangan dan
15. Linder, MC. 2010. Biokimia Nutrisi dan Gizi. Bumi Aksara. Jakarta
Metabolisme dengan Pemakaian secara
Klinis. UI Press: Jakarta.
16. Luter, CK., Chaparro, CM., Munoz, S. 2010.
Progress Towards Millennium Development
Goal 1 In Latin America And The Caribbean:
The Importance Of The Choice Of Indicator
For Undernutrition.
http://www.who.int/bulletin/volumes/89/1/10-
078618/en/. Diakses 6 Juni 2011
17. Nasution, E. 2000. Efek Suplementasi Zink
dan Fe pada Status Gizi Anak Stunting Usia
6-24 bulan di Kabupaten Kebumen Jawa
Tengah. Tesis. Pascasarjana. Universitas
Gajah Mada. Yogyakarta.
18. Nugrohowati, A.K. 2010. Pengaruh
penambahan fe pada suplementasi vitamin
a terhadap kadar ferritin anak usia 2-5 tahun
dengan status gizi kurang di kelurahan
Semanggi kota Surakarta. Tesis.
Pascasarjana. Universitas Sebelas Maret
Surakarta. www.find-docs.com. Diakses 31
Desember 2010
19. Osendarp, SJM., Santosham, M., Black,
RE., W ahed, MA., Raaij, JMAV., Fuchs, GJ.
2002. Effect Of Zink Supplementation
Between 1 And 6 mo Of Life On Growth And
BIMGI | Volume 1 | November 2012 [47]
Hubungan Faktor Resiko Obesitas dengan Rasio Lingkar Pinggang Pinggul Mahasiswa FKM UI
Tahun 2011

Hubungan Faktor Resiko Obesitas dengan Rasio Lingkar Pinggang Pinggul


Mahasiswa FKM UI Tahun 2011
1 1 1 1 1
Oleh: Agus Hidayatulloh , Ery Irawan , Faizal Firdaus , Fitriatul Isnaini , Nurul Fadhilah ,
1 1 1
Riefyan Adhi , Santosa Aji Nurcahya dan Syafira Rembulan Sari
1
Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Abstrak

Obesitas merupakan status gizi berlebih pada manusia. Obesitas sentral merupakan salah satu
jenis obesitas dengan penumpukan lemak di bagian abdominal tubuh. Obesitas sentral
berperan besar pada perkembangan penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler,
diabetes, dan lainnya menjadi lebih cepat. Salah satu indikator pengukuran obesitas sentral
adalah pengukuran rasio lingkar pinggang pinggul (RLPP). Penelitian ini menggunakan metode
cross-sectional untuk meneliti hubungan RLPP beresiko (RLPP laki-laki=0,9 dan
perempuan=0,8) dengan 5 jenis faktor resiko obesitas yaitu jenis kelamin, pengetahuan,
pendapatan, usia dan Indeks Massa Tubuh (IMT). Dari hasil penelitian, usia merupakan faktor
berpengaruh paling besar pada RLPP beresiko dan pengetahuan merupakan faktor yang tidak
memiliki hubungan dengan RLPP beresiko.

Kata kunci: obesitas sentral, faktor resiko obesitas, RLPP, penyakit degeneratif

Abstract

Obesity is an abnormality in human nutritional status. Central obesity is one kind of obesity with
high-numbered abdominal fat deposity. Central obesity has a big role in degenerative disease
depelovment such as cardiovascular disease, diabetics, and many others disease. Waist-to-hip
ratio (WHR) is one kind of central obesity measurement indicator. This research uses cross-
sectional method to analyze the correlation between risked WHR (males=0,9 and females=0,8)
and five risk factors of central obesity such as sex, knowledge, income, age and Body Mass
Index (BMI). This research results age as the most influencing factor to risked WHR and
knowledge as the less influencing factor which has no correlation with risked WHR.

Keywords: Central obesity, obesity risk factors, WHR, degenerative disease

PENDAHULUAN

Seiring dengan berkembangnya monosodium glutamate dan tartrazine


zaman, urbanisasi dan modernisasi dengan kadar yang tinggi. Junk food hampir
semakin berkembang. Urbanisasi dan tidak mengandung protein, vitamin serta
modernisasi ini menyebabkan perubahan serat yang sangat dibutuhkan tubuh.
pola dan gaya hidup masyarakat terutama
di daerah perkotaan. Perubahan pola dan Tanpa kita sadari, pengonsumsian
gaya hidup yang dapat kita lihat salah makanan jenis ini dapat membawa kita
satunya adalah banyak tempat-tempat menuju penyakit degeneratif. Penyakit
makan cepat saji yang menjual Junk degeneratif adalah istilah medis untuk
Food. Junk food adalah makanan yang menjelaskan suatu penyakit yang muncul
memiliki kadar nutrisi yang sangat rendah. akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh
Jenis makanan ini mengandung lemak yaitu dari keadaan normal menjadi lebih
jenuh (saturated fat), garam dan gula, serta buruk. Penyakit yang masuk dalam
bermacam-macam additive seperti kelompok ini antara lain diabetes melitus,

[48] BIMGI | Volume 1 | November 2012


BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GI zi

stroke, jantung koroner, kardiovaskular, adalah 23,8%. Prevalensi nasional


obesitas, dislipidemia dan sebagainya. Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur
Penyakit degeneratif yang tidak menular ini 15 Tahun adalah18,8%. Sebanyak 17
sejak beberapa dasawarsa silam telah provinsi mempunyai prevalensi Obesitas
menjadi permasalahan yang cukup serius Sentral Pada PendudukUmur 15 tahun
bagi banyak negara di seluruh dunia. diatas prevalensi nasional, yaitu Sumatera
World Health Organization (WHO) Utara, Bengkulu, Bangka Belitung,
mengatakan bahwa penyakit degeneratif ini Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat,
telah menambah peliknya kondisi Jawa Timur, Banten, Bali,Kalimantan
kesehatan sebagian negara di dunia, yang Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah,
selama ini telah dihimpit permasalahan Sulawesi Selatan, Gorontalo,Maluku Utara,
banyaknya kasus penyakit menular dan Papua Barat, dan Papua
infeksi yang tergolong non degeneratif.
Terdapat berbagai metode
Obesitas merupakan salah faktor pengukuran antropometri tubuh yang dapat
resiko yang meningkatkan kemungkinan digunakan sebagai skreening obesitas.
seseorag individu mengalami penyakit Metode tersebut antara lain pengukuran
degeneratif. Obesitas dapat membawa kita indeks massa tubuh, lingkar pinggang,
pada diabetes, hipertensi, stroke dan lingkar panggul, lingkar lengan, serta
penyakit kardiovaskular lainnya. Ada perbandingan lingkar pinggang dan lingkar
banyak faktor-faktor risiko yang dapat panggul. Lingkar pinggang merupakan
menyebabkan obesitas. Beberapa faktor- pengukur distribusi lemak abdominal yang
faktor tersebut adalah umur, jenis kelamin, mempunyai hubungan erat dengan indeks
kondisi sosial ekonomi, asupan makanan massa tubuh (Bell et al., 2001). Studi
dan status gizi. Prevalensi nasional Farmingham (2007) memperlihatkan bahwa
Obesitas Umum Pada Penduduk umur 15 peningkatan lingkar pinggang merupakan
Tahun berdasarkan Riskesdas tahun 2007 prediktor sindroma metabolik yang lebih
adalah 10,3%. Sebanyak 12 provinsi baik dibandingkan indeks massa tubuh.
mempunyai prevalensi Obesitas Umum (Sjostrom., 2001). Seseorang yang memiliki
Pada Penduduk Umur 15 Tahun diatas rasio lingkar pinggang panggul yang tinggi,
prevalensi nasional, yaitu Bangka Belitung, memiliki risiko lebih tinggi terkena stroke.
Kepulauan Riau,DKI Jakarta, Jawa Barat, Hal ini mengindikasikan bahwa lingkar
Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi pinggang dan panggul sebagai salah satu
Utara, SulawesiTengah, Gorontalo, Maluku indeks distribusi lemak tubuh bagian atas
Utara, Papua Barat, dan Papua. dan bawah mungkin dapat digunakan untuk
mengidentifikasi individu dengan kelebihan
Berdasarkan perbedaan menurut berat badan dan obesitas. Penelitian ini
jenis kelamin menunjukkan, bahwa ingin mengetahui hubungan faktor-faktor
prevalensi nasional Obesitas Umum Pada risiko obesitas dengan rasio lingkar
Laki-Laki Umur 15 Tahun adalah 13,9%, pinggang dan panggul pada kalangan
sedangkan prevalensi nasional Obesitas mahasiswa Fakultas Kesehatan
Umum Pada Perempuan Umur 15 Tahun Masyarakat Universitas Indonesia.
badan, berat badan dan RLPP. Alat dan
bahan yang digunakan untuk pengukuran
METODE PENELITIAN adalah timbangan badan SECA (ketelitian
0,1kg), pengukur tinggi badan microtoa
Penelitian ini merupakan penelitan (ketelitian 0,1cm) dan pita RLPP (ketelitian
deskriptif dengan desain studi cross- 0,1cm).
sectional. Populasi adalah seluruh Saat pengukuran berat badan,
mahasiswa FKM UI angkatan 2011 dan responden diminta untuk melepas alas kaki,
program pasca sarjana. Diambil total 54 mengeluarkan semua barang dari kantong,
sampel, 23 laki-laki dan 31 perempuan. badan tegak serta pandangan mata lurus
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini ke depan. Pengukuran tinggi badan oleh
adalah karakteristik individu (umur, jenis microtoa yang digantung pada dinding yang
kelamin, pengetahuan gizi, kondisi ekonomi lurus dan tidak bergoyang. Responden juga
dan status gizi). Pengukuran dilakukan diminta untuk melepaskan alas kaki,
dengan menggunakan kuesioner pandangan mata lurus ke depan, serta
danpengukuran antropometri seperti tinggi dipastikan belakang tumit, lutut, bokong,

[49] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Hubungan Faktor Resiko Obesitas dengan Rasio Lingkar Pinggang Pinggul Mahasiswa FKM UI
Tahun 2011

bahu dan kepala responden menempel ke Berdasarkan tabel 1, jumlah laki-


dinding. Pita ditarik ke bawah sampai laki yang memiliki RLPP beresiko sebanyak
menyentuh bagian atas subjek dan dibaca 4 orang (17,4 %) dan tidak beresiko
skala yang ditunjukkan. Pengukuran RLPP sebanyak 19 orang (82,6 %), kemudian
dilakukan secara terpisah laki-laki dan jumlah perempuan yang memiliki RLPP
perempuan. Rasio pinggang diperoleh dari beresiko sebanyak 18 orang (58,1 %) dan
mencari tulang supra illiac dan tulang rusuk tidak beresiko sebanyak 13 orang (41,9 %).
paling bawah. Ukur dengan pita berapa Jenis kelamin dan RLPP memiliki
jarak antara kedua titik tersebut, lalu bagi hubungan dengan P value 0,006 (P<0,05).
dua. Dari titik ini kita dapat mendapatkan Dengan nilai OR 0,15, maka resiko
lingkar pinggang dengan melingkarkan pita perempuan untuk memiliki RLPP beresiko
ukur. Linkag pinggul kita peroleh dengan sebesar 6,67 kali (1/0,15) lebih besar
mencari puncak bokong dan melingkarkan dibanding laki-laki. Jumlah sampel dengan
pita ukur. RLPP didapat dengan membagi pengetahuan kurang yang memiliki RLPP
lingkar pinggang dengan lingkar panggul. beresiko sebanyak 2 orang (33,3 %) dan
tidak beresiko sebanyak 4 orang (66,7 %),
HASIL kemudian jumlah sampel dengan
pengetahuan baik yang memiliki RLPP
Tabel 1. Rerata nilai RLPP, IMT dan beresiko sebanyak 20 orang (41,7 %) dan
Pengetahuan Gizi Responden (N = 55) tidak beresko sebanyak 28 orang (58,3 %).
Pengetahuan dan RLPP tidak memiliki
Variabel Mea Media SD Min- hubungan dengan P value 0,695 (P>0,05).
n n Mak
s Jumlah sampel dengan
RLPP 0,80 0,800 0,0 0,69- pendapatan lebih dari 2 juta yang memiliki
9 6 0,95 RLPP beresiko sebanyak 14 orang (73,7
2
IMT (kg/m ) 22,5 22,4 3,8 16,2- %) dan tidak beresiko sebanyak 5 orang
7 32,3 (26,3 %), kemudian jumlah sampel dengan
Pengetahua 88,3 90 10 60- pendapatan kurang dari sama dengan 2
n 100 juta yang memiliki RLPP beresiko sebanyak
7 orang (20,6 %) dan tidak beresiko
sebanyak 27 orang (79,4 %). Pendapatan
Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan dan RLPP memiliki hubungan dengan P
RLPP (N = 55) value 0,0001 (P<0,05). Dengan nilai OR
10,8, maka resiko orang dengan
Risiko tinggi peRnisdiakpoartaen dleabhih dari 2 juta untuk memiliki
OR
Variabel obesitas RLPo Pbebseitraesiko sebP esvaar lu1e0,8 kali 95le%biC hI
N % N dibanding
besar % orang dengan pendapatan
Jenis kelamin kurang dari sama dengan 2 juta.
Laki-laki 4 17.4 19 82,6 0,006* 0,15
Perempuan 18 58,1 13 Jum4la1h,9sampel dengan usi0a,0l4e-b0i,h55
Pengetahuan dari 39 tahun yang memiliki RLPP beresiko
Kurang 2 33,3 seb 4anyak 766o ,7rang (07,76,985 %) dan tid-ak
Baik 20 41,7 be2r8esiko se5b8a,3n yak 2 orang (22,2 %),
Pendapatan (dalam ribuan) kemudian jumlah sampel dengan usia
> 2.000 14 73,7 an5 tara 20 h2in6g,3ga 390t, h 0u 01n* yang me1 m0il,i8ki
< 2.000 7 20,6 RL2P 7P beres7ik9o,4 sebanyak 10 oran2g,8(95-8 4,08,29
Usia (tahun) %) dan tidak beresiko sebanyak 7 orang
7 77,8 (412,2 %), se2rt2a,2jumlah0s,0a0m1p*el dengan1u6s,1ia
> 39
di bawah 19 tahun yang memiliki2,R 5-L1P0P 1,4
10 58,8 be7 resiko seb 4a 1n,2yak 5 0o,0
ra1n2g* (17,9 %)6,d5a7n
20-39
tidak beresiko sebanyak 23 orang (812,6,17-% 25).,77
<19 5 17,9 Us2i3a memil8ik2i,1hubungan dengan RLPP
2
IMT (kg/m ) beresiko dengan P value 0,001 (P<0,05)
Underweight 0 0 pa8 da usia lebi8h dari 390t,a0h7u9n dan dengan P
Overweight 10 71,4 val4ue 0,0122(8P,< 60,05) p0a,0d7a2 usia 20 hingga
Normal 12 37,5 3920tahun. N 6i2la,5i OR pada usia 39 tahun
sebesar 16,1, berarti resiko orang dengan

[50] BIMGI | Volume 1 | November 2012


BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GI zi

usia lebih dari 39 tahun untuk memiliki perubahan postur tubuh menjadi bungkuk
RLPP beresiko sebesar 16,1 kali lebih dan mengakibatkan dorongan di bagian
besar dibanding dengan orang yang abdomen sehingga cut off point RLPP
berusia di bawah 19 tahun, resiko ini wanita mengalami kenaikan.
meningkat dari nilai OR 6,57 untuk orang
yang berusia 20 sampai 39 tahun, yang 2.2 Hubungan RLPP dengan
berarti orang yang berusia 20 sampai 39 Pengetahuan
tahun memiliki resiko 6,57 kali lebih besar
dibanding orang yang berusia di bawah 19 Pengetahuan mengenai nutrisi
tahun. dapat menjadi pedoman yang baik untuk
menjaga kesehatan tubuh dan menjaga
Tidak ada sampel dengan IMT berat tubuh yang ideal. Berdasarkan
underweight yang memiliki RLPP beresiko beberapa penelitian, pengetahuan bersifat
dan jumlah sampel dengan IMT eksponensial terhadap tingkat kesehatan.
underweight yang memiliki RLPP tidak Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin
beresiko sebanyak 8 orang (8 %), mudah untuk menerima konsep tentang
kemudian jumlah sampel dengan IMT hidup sehat secara, mandiri, kreatif dan
overweight yang memiliki RLPP beresiko berkesinambungan sehingga memperkecil
sebanyak 10 orang (71,4 %) dan tidak kemungkinan kelebihan gizi (Suhardjo,
beresiko sebanyak 4 orang (28,6 %) serta 1996).
jumlah sampel dengan IMT normal yang Pengetahuan berdasarkan buku
memiliki RLPP beresiko sebanyak 12 orang gizi kesehatan masyarakat dari Michael j.
(37,5 %) dan tidak beresiko sebanyak 20 Gibney et al juga menyatakan pentingnya
orang (62,5 %). IMT tidak memiliki upaya promotif dalam menangani obesitas
hubungan dengan RLPP beresiko dengan dengan cara memberikan pegetahuan
P value 0,079 (P>0,05) pada IMT mengenai citra tubuh yang positif,
underweight dan P value 0,072 (P>0,05) pentingnya aktivitas, dan kemampuan
pada IMT overweight. menyaring informasi dari media massa.
Dalam penelitian, didapati tidak ada
hubungan antara RLPP dengan
pengetahuan. Hal ini mungkin disebabkan
BAHASAN karena sampel yang diambil adalah
mahasiswa FKM yang mendapatkan
2.1 Hubungan RLPP dengan Jenis pengetahuan tentang gizi selama berkuliah,
Kelamin sedangkan kondisi RLPP beresiko
terbangun sejak saat manusia lahir. Hal ini
Pada penelitian kali ini, perempuan dapat menyebabkan bias dalam hasil
beresiko 6,67 kali lebih besar untuk penelitian yang didapat.
memiliki RLPP beresiko dibandingkan
dengan laki-laki. Pada perempuan usia Selain itu, faktor yang mungkin
subur, terjadi penyimpanan lemak di menyebabkan tidak adanya hubungan
daerah-daerah tertentu. Penyimpanan antara RLPP dengan pengetahuan adalah
lemak ini biasanya terjadi di daerah tertentu rendahnya aplikasi terhadap pengetahuan-
untuk melindungi organ-organ penting pengetahuan yang dimiliki. Sebuah studi di
reproduksi sehingga memperbesar Jepang menggunakan dua tipe soal pada
perempuan untuk memiliki RLPP beresiko. anak SD dimana soal-soal pertama berisi
Menurut, M. Cnop et al wanita tentang pertanyaan dasar yang teoritis dan
memiliki kadar adiponektin dan leptin yang soal kedua berisi tentang kasus-kasus
lebih tinggi sehingga memiliki lemak dalam kehidupan sehari-hari yang mungkin
subkutan yang lebih tinggi juga dibanding terjadi. Didapatkan 82% murid mengerjakan
1
laki-laki . Hal tersebut didukung oleh soal-soal tipe pertama dengan benar dan
pendapat Kuk et al yang menyatakan hanya 63% murid yang menjawab soal
bahwa pengaruh hormonal dapat kedua dengan benar. hal ini menunjukkan
meningkatkan cut-off point RLPP pada lemahnya pelajar dalam mengaplikasikan
2
wanita yang mengalami menopause. ilmu yang didapat.
Produksi hormone pada masa menopause
seperti estrogen dapat berakibat pada

[51] BIMGI | Volume 1 | November 2012


Hubungan Faktor Resiko Obesitas dengan Rasio Lingkar Pinggang Pinggul Mahasiswa FKM UI
Tahun 2011

2.3 Hubungan RLPP dengan Pendapatan 2.4 Hubungan RLPP dengan Usia

Menurut Hadiyati, et al peningkatan Berdasarkan indikator obesitas


pendapatan juga dapat mempengaruhi melalui cut off point RLPP yang telah
pemilihan jenis dan jumlah makanan yang ditetapkan, didapatkan adanya hubungan
dikonsumsi. Peningkatan kemakmuran di antara usia dengan status obesitas. Hasil
masyarakat yang diikuti oleh peningkatan penelitian ini ditemukan hubungan (p =
pendidikan dapat mengubah gaya hidup 0.001) yaitu dengan prosentase 77.8 % dari
dan pola makan tradisional ke pola makan 9 orang dinyatakan beresiko obesitas. Hasil
makanan praktis dan siap saji yan dapat penelitian ini sejalan dengan riset nasional
menimbulkan mutu gizi yang tidak Depkes 2007. Pada kelompok usia yang
3
seimbang . Pola makan praktis dan siap lebih tua mengalami perubahan secara
saji terutama di kota-kota besar di fisiologis termasuk komposisi tubuh. Pada
Indonesia, dan jika dikonsumsi secara tidak kelompok usia tua, terjadi deposisi lemak
rasional akan menyebabkan kelebihan tubuh sehingga komposisi lemak tubuh
masukan kalori yang akan menimbulkan semakin meningkat sementara lean body
4
obesitas. mass menurun. Hal ini berhubungan
dengan penurunan kebutuhan energi basal
Peningkatan pendapatan pada sebesar 100 kkal/dekade. Sehingga
kelompok masyarakat tertentu terutama di semakin tua usia seseorang maka berat
perkotaan menyebabkan perubahan pola badan meningkat sejalan dengan
makan. Pola makan tradisional yang menurunnya BMR.
tadinya tinggi karbohidrat, tinggi serat
kasar, dan rendah lemak berubah ke pola
makan baru yang rendah karbohidrat,
rendah serat kasar dan tinggi lemak 2.5 Hubungan RLPP dengan IMT
sehingga menggeser mutu makanan ke
arah tidak seimbang. Perubahan pola Penelitian ini menunjukkan tidak
makan ini depercepat oleh makin kuatnya adanya hubungan antara RLPP dengan
arus budaya makan asing yang disebabkan IMT dengan P value pada kategori
oleh kemajuan teknologi informasi dan underweight dan overweight melebihi 0,05.
globalisasi ekonomi. Perbaikan ekonomi Menurut Tschoukalova et al, IMT
juga menyebabkan berkurangnya aktivitas merupakan kategori pengukuran yang
fisik bagi masyarakat tertentu. Perubahan membandingkan berat badan secara
pola makan dan aktivitas fisik ini keseluruhan dengan tinggi badan tanpa
mengakibatkan semakin banyaknya memperhatikan distribusi lemak tubuh.
penduduk golongan tertentu mengalami RLPP sendiri merupakan rasio lingkar
masalah gizi lebih berupa kegemukan dan pinggang pinggul yang tentunya
obesitas.
5 dipengaruhi oleh simpanan lemak di daerah
.7
pinggang dan panggul Dengan kata
Pola umum perilaku konsumen lain, orang yang memiliki IMT rendah
terhadap makanan jadi (jajanan) adalah dapat memiliki RLPP beresiko apabila
bahwa semakin tinggi pendapatan semakin simpanan
besar proporsi pengeluaran untuk makanan lemak pinggang dan panggulnya
jadi dari jumlah total pengeluaran pangan. meningkatkan RLPP dan tentunya memiliki
Sekitar seperlima pengeluaran pangan resiko lebih besar terhadap penyakit
rumah tangga di perkotaan pada tahun degeneratif. Hal ini juga berlaku sebaliknya
1996 dialokasikan untuk makanan jadi, ketika orang dengan IMT yang tinggi tetapi
sedangkan di pedesaan sekitar distribusi lemaknya tidak terpusat di bagian
seperdelapan dari total pengeluaran pinggang dan panggul sehingga memiliki
pangan. Pengeluaran untuk makanan jadi RLPP yang tidak beresiko.
(termasuk fast food) di kota-kota besar
seperti Jakarta dan Yogyakarta lebih besar Sementara itu, Price et al
lagi yaitu sekitar seperempat dari total menyatakan bahwa IMT dan RLPP tidak
pengeluaran pangan.
5 dapat berdiri sendiri sebagai indikator
obesitas yang dapat memicu penyakit
8
degeneratif.

[52] BIMGI | Volume 1 | November 2012


BImgi | Be rkala IlmIah MahasIswa GI zi

IMT merupakan indikator umum status gizi DAFTAR RUJUKAN


seseorang yang dapat dikategorikan pada
underweight, normal, overweight dan 1. Cnop, M, et al. Relationship of
obese, sementara itu RLPP merupakan adiponectin to body fat distribution,
indikator pengukuran distribusi lemak di insulin sensitivity and plasma
daerah pinggang dan panggul yang dapat lipoproteins: evidence for
memicu obesitas sentral yang dapat independent roles of age and sex.
memicu penyakit degeneratif. Diabetologia. 2003.
2. L. Kuk, Jennifer, et al. Waist
circumference and abdominal
adipose tissue distribution:
KESIMPULAN influence of age and sex. American
Journal of Clinical Nutrition. 2005.
Berdasarkan penelitian ini, faktor 3. Hadiyanti, N.S., Irawan, R., dan
yang paling besar untuk mempengaruhi Hidayat, B. 2006. Obesitas Pada
RLPP beresiko adalah usia dengan nilai Anak. http://www.pediatrik.com/
OR 16,1 untuk orang dengan usia di atas (diakses pada 9 Januari 2012)
39 tahun, artinya seseorang yang berusia di 4. Virgianto, G., dan Purwaningsih, E.,
atas 39 tahun memiliki resiko 16,1 kali lebih 2006. Konsumsi Fast Food
besar untuk terkena RLPP beresiko yang Sebagai Faktor Risiko Terjadinya
menjadi indikator obesitas sentral. Hal ini Obesitas Pada Remaja.
dikarenakan oleh deformasi tulang http://www.m3undip.org/ (diakses
belakang yang mulai membungkuk pada 9 Januari 2012)
sehingga mendorong bagian abdominal 5. Almatsier. Prinsip Dasar Ilmu Gizi,
tubuh menjadi lebih maju dan menjadi Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
tempat penumpukan lemak. Pengetahuan 2003.
tidak memiliki hubungan dengan RLPP 6. Budianto, J., Hardiansyah, A.W.,
beresiko, hal ini juga berarti bahwa aplikasi dan Deden, H.A. Strategi Menuju
pengetahuan dari pendidikan atau informasi Perilaku Makan Sehat dan
yang didapat masih cukup rendah sehingga Implikasinya Pada Perencanaan
pola makan yang terbentuk dapat Kesehatan Pangan dalam
mengakibatkan peningkatan lemak sentral Widyakarya Nasional Pangan dan
di bagian abdominal tubuh. Gizi VI, Jakarta. 1998.
7. Tschoukalova, Yourka D, et al..
Subcutaneous adipocyte size and
body fat distribution. American
SARAN
Journal of Clinical Nutrition. 2008.
Untuk orang yang berusia di atas 8. Price, Gill M, et al. Weight, shape,
39 tahun, resiko kejadian RLPP yang and mortality risk in older persons:
berujung pada obesitas sentral dapat elevated waist-hip ratio, not high
dikurangi dengan menjaga kesehatan body mass index, is associated
tulang sehingga deformasi tulang belakang with a greater risk of death.
dapat dicegah. Selain itu, orang berusia di American Journal of Clinical
atas 39 tahun harus mulai mengontrol Nutrition. 2006.
asupan lemaknya karena perubahan
hormonal pada usia tersebut dapat
mempengaruhi penyimpanan lemak sentral
di bagian abdominal tubuh. Aplikasi
pengetahuan dari pendidikan dan informasi
yang didapat juga harus ditingkatkan, agar
pengetahuan mengenai pola konsumsi
dapat bermanfaat untuk mencegah
penumpukan lemak sentral yang bisa
meningkatkan RLPP dan menyebabkan
obesitas sentral.

[53] BIMGI | Volume 1 | November 2012