Está en la página 1de 4

ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN

PERAN GLOBAL TERHADAP PEMBENTUKAN KEBIJAKAN KESEHATAN

1. Latar Belakang

Kuivusola (2006) mengingatkan bahwa salah satu dampak globalisasi adalah ancaman
terhadap berbagai kebijakan kesehatan setiap negara. WHO (1998) serta Yach and Bettecher (1998)
melihat globalisasi selain bisa berdampak negatif atau merupakan ancaman, tetapi juga memberikan
peluang. Sehingga WHO sebagai organisasi sedunia menganjurkan hendaknya masing-masing negara
sesuai dengan situasi dan kondisi negara masing-masing mengidentifikasi mana dampak negatif dan
mana peluang. Pesan singkatnya adalah kurangi dampak negatif dan cari peluang positif. Dengan kata
lain globalisasi merupakan pedang bemata dua (Achmadi, 2008).

Dengan adanya dampak yang berbeda dan beranekaragam, oleh karena itu, globalisasi
menimbulkan tantangan konseptual dalam mencoba untuk menganggap perubahan menjadi
konteks kebijakan. Memang benar bahwa kebijakan kesehatan terus akan dilanda oleh
tantangan yang akrab dengan kemiskinan, ketimpangan dan keterbatasan sumber daya. Tidak
ada yang kurang, sebuah perputaran global pada tantangan ini semakin jelas, yang timbul
dari jangkauan geografis (extensitas), kepadatan dan intensitas keterkaitan yang menandai
globalisasi beberapa dekade terakhir (Held et al. 1999).
Keterkaitan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini mengarah ke ketidakjelasan
dari berbagai batas, yang mungkin dipimpin terutama oleh perubahan peran dari negara. Dari
periode yang relatif sama antara batas-batas teritorial negara dan kapasitasnya untuk
menjalankan wewenang yang berdaulat atas populasi negeri, hal itu secara luas menentang
bahwa pengeroposan yang meningkat dari batas nasional mengikis kekuasaan negara (Elkins
1995). Menurut Reinicke dan Witte (1999), dampaknya belum terasa begitu banyak pada
kedaulatan formal maupun 'eksternal' (yaitu hak untuk memerintah wilayah yang dimaksud)
sebagai kedaulatan 'internal' (yaitu kemampuan untuk mengartikulasikan dan mengejar
kebijakan domestik). Hubungan antara globalisasi dan negara ditandai oleh kontinuitas dan
perubahan. Negara tetap menjadi aktor utama dalam hubungan internasional dengan
tanggung jawab yang jelas bagi pembuatan kebijakan umum termasuk kebijakan kesehatan.
Karena ketidakjelasan dari sektor publik dan swasta, konteks untuk pembuatan
kebijakan kesehatan sedang dibentuk oleh keterkaitan yang lebih besar antara kesehatan dan
sektor lain (misalnya lingkungan, perdagangan, tenaga kerja). Dengan faktor-faktor penentu
kesehatan semakin menyebar, integrasi domain kebijakan sebelumnya yang berbeda menjadi
penting. Kebutuhan untuk intersektoral kerjasama lebih dekat, tentu saja, telah menyerukan
lebih banyak dekade dalam komunitas bantuan pembangunan.

Peran Globalisasi Terhadap Kebijakan Kesehatan


1. Globalisasi dikaitkan dengan peningkatan volume, intensitas dan keleluasaan pergerakan
barang,manusia, ide,keuangan,dan penyakit menular lintas negara(internasionalisasi)
2. Globalisasi kadangkala merujuk pada penghilangan batasan-batasan perdagangan yang membuat
pergerakan secara lebih luas bisa dilakukan(liberalisasi)
3. Gejala menuju homogenisasi budaya (universalisasi)
4. pemusatan nilainilai dan kebijakankebijakan negara Barat,modern dan terutama dari Amerika
Serikat (McDonalisasi).
5. Meningkatnya mobilitas profesional kesehatan dati suatu negara kenegara lain
6. Membawa keterkaitan bidang kebijakan yang berbeda kedalam fokus yang lebih tajam,
mendorong para pembuat kebijakan untuk menemukan situasi saling menguntungkan yang
meningkatkan hasil kebijakan untuk semua sektor yang bersangkutan.

Kerjasama tradisional antar negara dalam bidang kesehatan International Health Regulations
(IHR) :
Aturanaturan Kesehatan Internasional yang diterima oleh seluruh anggota WHO ditahun 1969
memberikan gambaran mengenai bagaimana negaranegara telah bekerjasama untuk negaranegara
telah bekerjasama untuk mengatasi masalah bersama.

Bentuk Kerjasama lain


Bilateral: sering melibatkan dimensi politik dan organisasi tersebut bisa menggunakan dukungan
mereka untuk mengejar sejumlah tujuan Contoh: United States Agency for International Development
(USAID), Swedish Inernational Develoment Agency (SIDA)
Kerjasama modern dalam kesehatan global Penekanan khusus diletakkan pada masyarakat sipilg
lobal,perusahaan transnasional dan kemitraan publik dengan pihakswasta secara global

Ada 4 macam kerjasama antarnegara di bidang layanan kesehatan, yaitu Cross-border trade,
Consumption abroad, Commercial presence, dan Natural presence.
1. Cross Border Trade

Cross border trade didefinisikan sebagai transaksi jasa kesehatan dimana antara dokter dan
pasien tidak bertemu secara langsung atau tatap muka. Cross border trade ini pada akhir-akhir ini
berkembang dalam bidang telediagnosa/teleradiology. Bagaimana mekanismenya??Biasanya sistem
ini digunakan dalam telediagnostik/teleradiology ini. Contohnya adalah misalnya di Amerika dalam
suatu proses pelayanan kesehatan digunakan pemeriksaan penunjang berupa CT-scan atau X-ray.
Hasil dari CT-scan maupun X-ray ini dihasilkan dalam bentuk file digital yang hasilnya akan
dikirimkan ke negara lain, misalnya India. Di India, tentunya dengan rumah sakit yang sudah kontrak
kerja sama, radiolognya akan membaca hasil CT-scan maupun X-ray tersebut dan hasil pembacaannya
akan dikirimkan lagi secara digital ke Amerika

2. Consumption Abroad

Comsumption abroad merupakan suatu metode penggunaan jasa kesehatan dimana penduduk
suatu negara memakai jasa pelayanan kesehatan di negara lain. Hal ini sedang sangat marak terjadi di
Indonesia. Dari hasil penelitian dan survei pada tahun 2006 didapatkan bahwa lebih dari 65 % pasien
di rumah sakit di Malaysia berasal dari Indonesia. Lalu jika dibandingkan dengan jumlah orang-orang
Indonesia yang berobat ke Singapura dan Malaysia maka trennya sekarang adalah semakin tahun,
jumlah orang Indonesia yang berobat ke Malaysia semakin bertambah sementara orang-orang yang
berobat ke Singapura semakin lama semakin berkurang. Namun jika dilihat dari biaya kesehatan yang
didapat, Singapura malah semakin tahun mendapatkan biaya yang meningkat dari hasil jasa
kesehatannya dan jauh lebih besar dari pendapatan Malaysia yang stagnan. Hal ini dapat disimpulkan
alasan orang Indonesia berobat ke Malaysia adalah karena pelayanan yang bagus dan ditambah lagi
biaya pengobatan yang murah. Dari hasil lain yang didapat bahwa rakyat Indonesia menghabiskan
lebih dari 1 juta Dolar US untuk biaya pengobatan ke luar negeri.

3.Commercial Presence

Commercial presence diartikan sebagai munculnya rumah sakit atau penyedia kesehatan
dengan kepemilikan dari asing. Istilah kasarnya adalah pihak asing/luar negeri mulai membuat jasa
pelayanan kesehatan ke suatu negara. Ini merupakan efek langsung dari perdagangan bebas dan
tergantung dari kerjasama bilateral yang dilakukan oleh suatu negara. Dalam perkembangannya,
bukan hanya penyediaan jasa kesehatan saja tetapi mulai berkembang pada institusi/pendidikan
kedokteran asing yang di bangun di suatu negara. Hal ini biasanya muncul karena adanya kesepakatan
antar 2 negara. Misalnya Indonesia meminta kepada Australia agar ada masyarakat Indonesia yang
diperbolehkan mengenyam pendidikan kedokteran di Australia dan sebagai gantinya Australia
meminta agar diijinkan membuat Fakultas Kedokteran di Indonesia.
4. Natural Presence

Natural presence diartikan sebagai keberadaan alami suatu tenaga kesehatan di negara lain.
Dalam bahasa sederhananya adalah tenaga-tenaga kesehatan yang bekerja di luar negeri. Tercatat
bawa negara-negara Asia tenggara, termasuk Indonesia, merupakan negara yang paling banyak
mengirimkan tenaga kesehatannya keluar negeri terutama ke negara-negara Timur Tengah. Hal ini
terjadi karena kesempatan untuk mendapatkan gaji lebih baik di luar negeri dan bagi negara luar
negeri, tenaga kerja Indonesia merupakan tenaga kerja yang murah.