Está en la página 1de 5

Elang Jawa merupakan satwa endemik yang persebarannya terbatas

di Pulau Jawa. Saat ini keberadaan Elang Jawa di alam sudah jarang
ditemukan, yang menjadikan satwa ini sebagai satwa yang tergolong
langka dan dilindungi negara. Adanya aktifitas pengalihan fungsi hutan
menjadi lahan permukiman dan pertanian mengakibatkan pengurangan
lahan hutan dan fragmentasi habitat yang menyebabkan penyebaran
Elang Jawa yang terbatas (Rahman, 2012). Penyebaran yang terbatas
mengakibatkan terkonsentrasinya populasi pada wilayah tertentu yang
meningkatnya resiko perkawinan sedarah. Akibat terjadinya perkawinan
sedarah memungkinkan keragaman genetik menjadi menurun
menyebabkan penurunan daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan
(Frankham, 1999).

Ancaman lain yang menyebabkan populasi Elang Jawa menurun


adalah perburuan dan perdagangan ilegal. Populasi Elang Jawa yang
hilang di alam lebih dari 50% dikarenakan oleh perburuan dan
penangkapan liar untuk perdagangan (WCU, 2015). Pengambilan Elang
Jawa di alam untuk memenuhi permintaan pasaran, tidak sebanding
dengan laju perkembangbiakanya, sehingga jika terus dibiarkan maka
populasi Elang Jawa akan semakin menurun dan akan meningkatkan
peluang menuju kepunahan (Rahman, 2012).

Elang brontok adalah satwa Indonesia yang dilindungi (Saaroni dkk.


2000; Basuki dkk. 2005), namun penyempitan habitat, perburuan, dan
perdagangan ilegal, membuat keberadaannya di alam terus menurun
(Crosby, 2003; Basuki dkk. 2005). Elang brontok peliharaan sering
diperlakukan tidak baik oleh pemiliknya, seperti kondisi kandang dan
pemberian pakan yang tidak sesuai, sehingga menimbulkan perilaku yang
tidak sesuai dengan perilaku alaminya.

Elang Brontok menurut IUCN (The International Union for


Conservation of Nature) terdaftar pada status konservasi resiko rendah
(Least Concern), kategori Appendix II menurut CITES (The Convention on
International Trade in Endangered Species) dan dilindungi oleh pemerintah
Indonesia untuk jaminan pelestariannya di alam berdasarkan Undang-
undang No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya hayati dan
ekosistemnya (Suaka Elang 2012 ).

Penelitian mengenai perilaku harian elang brontok di lokasi


rehabilitasi perlu dilakukan sebagai dasar penentuan pelepasliaran,
karena kepustakaan mengenai perilaku harian elang brontok masih sangat
terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perilaku harian elang
brontok di kandang PPSC, dan memperoleh faktor faktor penentu
keputusan untuk melepasliarkan elang brontok. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perilaku harian elang
brontok di kandang pre release dan rehabilitasi, serta menjadi salah satu
dasar penentu keputusan pelepasliaran elang brontok ke habitat alaminya
(Hadi Pasito,dkk. 1788).

Pertimbangan keputusan pelepas liaran elang brontok didasarkan


pada hasil analisis perilaku berburu, bertengger, terbang, dan interaksi.
Data hasil pengamatan masing-masing perilaku tersebut dihitung nilainya,
kemudian dibandingkan dengan skala acuan. Individu dinyatakan layak
dilepasliarkan jika mempunyai nilai rataan baik atau baik sekali (Hadi
Pasito,dkk. 1788).

Habitat bersarang merupakan aspek penting dalam kegiatan


pelestarian burung pemangsa dari keterancaman degradasi habitat.
Sarang merupakan sesuatu yang sengaja atau tidak disengaja dibangun
untuk tempat berkembang biak dan tempat tidur (Alikodra 2011).
Berdasarkan hasil penelitian, habitat bersarang Elang Brontok di kawasan
Taman Nasional Gunung Halimun Salak-Bogor (Fauziah 2014) berada pada
wilayah hutan pegunungan, terdapat pohon tinggi, topografi miring dan
dekat dengan sumber air. Beberapa Elang Brontok terpantau terbang dan
bertengger di beberapa tipe habitat di Siak belum diketahui keberadaan
sarangnya. Berdasarkan Prawiradilaga et al. (2003), Elang Brontok
tersebut kemungkinan bersarang pada pohon khusus di kawasan
berpohon tinggi dan menyesuaikan dengan perubahan lanskep Siak yang
terus mengalami degradasi.
DAFTAR PUSTAKA

Alikodra, H.S. 2010. Pengelolaan Satwaliar. Yayasan Penerbit Fakultas


Kehutanan IPB. Bogor.

Crosby, M. J. 2003. Menyelamatkan Burung-burung Asia yang Terancam


Punah : Panduan untuk Pemerintah dan Masyarakat Madani (Edisi
Indonesia). BirdLife International. Cambridge, UK. 69.

Fauziah, R. 2014. Habitat sarang elang brontok (Nisaetus cirrhatus) di


kawasan resort Salak 1 Taman Nasional Gunung Halimun- Salak
(TNGHS) [skripsi]. Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah Jakarta, Jakarta.

Frankham, R. 1999. Quantitative Genetic In Conservation Biology. Genetics


Research Committe, 74: 237-244.

Hadi Pasito,dkk. 1788. PERILAKU HARIAN ELANG BRONTOK (Nisaetus


cirrhatus Gmelin,) DI PUSAT PENYELAMATAN SATWA CIKANANGA,
SUKABUMI. Prodi Biologi, FMIPA Universitas Pakuan, Bogor.

IUCN. 2010. IUCN Red List of Threatened Species. Version 2010.4.


Retrieved 12/10/2010,
URL:http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/142530/0.
Diakses 17 mei 2017

Prawiradilaga, D.M., T. Muratte, A. Muzakkir, T. Inoue, Kuswandono, A.A.


Supriatna, D. Ekawati, M. Yayat A, Hapsoro, T. Ozawa, dan N.
Sakaguchi. 2003. Panduan Survei Lapangan dan Pemantauan
Burung-Burung Pemangsa. Biodiversity Conservation Project-JICA.
Jakarta.

Rahman, Z. 2012. Garuda Mitos dan Faktnya Indonesia. Bogor: Raptor


Indonesia.

Saaroni, Y., R. Szer, P. F. Nurwatha. 2000. Jenis-jenis Burung Dilindungi


yang Sering Diperdagangkan. YPAL. Bandung. 9, 54.
Suaka Elang. 2010. Annual report [laporan kegiatan]. Suaka Elang Raptor
Sanctuary. Bogor.

WCU. 2015. Perdagangan Satwa Liar Semakin Menghawatirkan . (Online).


(http:// www. wildlifecrimesunit. org/tabid/0/language/en-US/
Default. aspx? Search= elang%20 jawa), diakses pada tanggal 16
mei 2017.