Está en la página 1de 7

ANDILKAH TAX AMNESTY

TERHADAP PEMBANGUNAN DAN REFORMASI PERPAJAKAN


KEDEPAN?
Tax Amnesti
Amnesti pajak adalah kebijakan pemerintah yang diberikan kepada
pembayar pajak tentang forgiveness / pengampunan pajak. Pajak yang
dihapuskan tersebut meliputi penghapusan pajak terutang, penghapusan sanksi
administrasi perpajakan, dan juda penghapusan sanksi pidana di bidang
perpajakan atas harta yang diperoleh pada tahun 2015 dan sebelumnya yang
belum dilaporkan dalam SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan). Amnesti pajak ini
dapat dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi, Wajib Pajak Badan, Wajib
Pajak yang bergerak di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dan
Orang Pribadi atau Badan yang belum menjadi Wajib Pajak.
Menurut "UU No 11 Tahun 2016 Tentang Pengampunan Pajak" Tax Amnesty
adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi
administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara
mengungkap Harta dan membayar Uang Tebusan sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang ini.

Evaluasi Tax Amnesti


Pada bulan Maret lalu, tax amnesty telah berhasil dilaksanakan. Dan pada
periode 3 tersebut, terdapat 104,3 triliun harta yang telah dilaporkan, dan ada
uang tebusan sebanyak 2,1 milyar. Dari total perolehan dana tax amnesty pada
periode ke tiga tersebut, menurut Sri Mulyani, kita masih jauh dari target yang
diharapkan, yaitu 165 triliun. Lalu bagaimanakah pada tax amnesty periode-
periode sebelumnya?. Pada periode pertama tax amnesty, target yang hendak
dicapai adalah Rp 165 triliun. Sedangkan realisasinya adalah Rp 97,3 triliun, atau
59 persen dari target yang telah ditetapkan. Sementara itu, jumlah Wajib Pajak
yang belum melaporkan SPT masih sebanyak 68.422 orang, msekipun tax
amnesty pada periode pertama ini dapat menjaring setidaknya 11.920 Wajib
Pajak. Padahal, sebelum tax amnesty periode pertama ini hanya ada 7.899 orang
Wajib Pajak baru. Artinya, tax amnesty pada periode pertama ini berhasil
mendorong adanya Wajib Pajak baru. Kemudian, pada periode kedua tax
amnesty, Dirjen Pajak mencatat sebesar 103,31 triliun atau baru 62,6 persen
dari target Rp 165 triliun. Dengan capaian periode pertama sebesar Rp92,99
triliun, realisasi penerimaan uang tebusan pada periode II hanya Rp10,32 triliun
atau sekitar 9,98 persen dari total raupan uang tebusan. Sementara dari sisi
repatriasi, total komitmen aset yang dipulangkan oleh WP per akhir Desember
tercatat Rp141 triliun atau hanya naik sekitar Rp10,99 triliun dari komitmen
sepanjang periode pertama Rp130,01 triliun. Capaian ini masih jauh di bawah
target yang sebelumnya digadangkan pemerintah Rp1.000 triliun. Dashboard DJP
mencatat, dari sisi jumlah peserta jumlah WP yang memohon amnesti pajak di
periode II tak sebanyak periode I. Sepanjang periode I, program ini telah diikuti
393.358 WP dengan mengumpulkan 398.727 SPH. Sementara, pada periode II
jumlahnya hanya 239.296 WP, dengan jumlah SPH sebanyak 271.671 SPH.
Menurut Dirjen Pajak, menurunnya partisipasi WP karena sebagian WP telah
mengikuti tax amnesty pada periode pertama dengan tarif yang sedikit, sebelum
akhirnya pada periode kedua, tarif tax amnesty dinaikkan oleh Dirjen Pajak.
Dengan adanya data dan fakta yang telah disodorkan di atas, telah
dicapai kesimpulan bahwa tax amnesty kurang sekali mencapai target yang
ditetapkan dan masih banyak WP yang belum melaporkan uang dan asetnya.
Tentu ini menjadi evaluasi bagi kita, terutama pada Direktorat Jenderal Pajak,
apakah dengan adanya tax amnesty ini dapat meningkatkan kepatuhan WP atau
tidak. Karena masih belum maksimal dalam pengumpulan dana tax amnesty, hal
ini dapat menjadi pelajaran bagi kita tentang pentingnya pengawasan pajak.
Dengan adanya pengawasan pajak ini, tentu akan meningkatkan kepatuhan
Wajib Pajak. Adapun pengawasan pajak ke depan dapat dilaksanakan dalam
berbagai cara, yaitu dengan melakukan sistem pengawasan dan pembinaan
Wajib Pajak.

Pengawasan Pajak Kedepan


Sistem pajak yang dianut oleh Indonesia adalah Self Assassement, dimana
WP menghitung, memperhitungkan, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang
kepada fiskus. Fungsi pengawasan memegang peranan sangat penting dalam
sistem self assessment, karena tanpa pengawasan dalam kondisi tingkat
kepatuhan Wajib Pajak masih rendah, mengakibatkan sistem tersebut tidak akan
berjalan dengan baik, sehingga Wajib Pajak pun akan melaksanakan kewajiban
pajaknya dengan tidak benar dan pada akhirnya penerimaan dari sektor pajak
tidak akan tercapai. Adapun pengawasan tersebut dapat dilakukan dengan cara
melakukan penyelidikan serta pemeriksaan pajak serta dengan mengadakan
sistem pertukaran data dari negara lain (AeoI). Pertama, dalam penyelidikan dan
pemeriksaan tersebut dilakukan apabila fiskus mengindikasi adanya
penyelewengan pajak di lapangan dan kantor. Dengan adanya kita dapat
mengetahui WP mana yang bermasalah serta WP mana yang patuh terhadap
peraturan pajak.
Kemudian, yang kedua adalah dengan mengadakan perjanjian dengan
negara lain mengenai pertukaran data aset dan harta WP yang memiliki usaha di
negara tersebut atau biasa disebut dengan AEoI (Automatic Exchange of
Information). Dengan adanya AeoI tersebut, harapannya ke depan adalah ada
transparansi dana dan aset WP dari usahanya di negara lain, sehingga dalam
segi penerimaan pajak, terdapat tambahan dana. Tidak hanya itu, dengan
adanya AeoI ini juga, fiskus dapat mengetahui persebaran WP Indonesia di
negara-negara lain, sehingga hal ini tentu dapat dipetakan. Dari langkah-langkah
pengawasan pajak tersebut, harapannya penerimaan pajak akan meningkat
dengan adanya transparansi pajak, serta WP menjadi patuh dalam membayar
pajak.
Indonesia sebagai salah satu negara anggota G20 menunjukkan
komitmennya dengan berencana mengadaptasi sistem Standard Automatic
Exchange of Financial Account Information in Tax Matters yang mulai berlaku di
tahun 2017-2018. Produk utama dalam pelaksanaan Automatic Exhange of
Financial Account Information in Tax Matters adalah dihasilkannya suatu basis
data yang sistematis dan memiliki jangkauan berskala global. Sejalan dengan
program tersebut, maka pemerintah harus memiliki suatu sistem basis data yang
memadai agar dapat dipetukarkan dengan negara lainnya.
Tax amnesty merupakan jalan yang dapat ditempuh pemerintah untuk
memenuhi kebutuhan akan basis data. Pertukaran informasi untuk tujuan pajak
antar negara tidak mungkin dapat dilakukan tanpa adanya kerjasama dari WP.
Saat ini konsep pertukaran informasi global memberikan penekanan bahwa
individu maupun korporasi tidak hanya bersikap pasif dan menunggu kebenaran
informasi finansial maupun non-finansial dirinya diungkap oleh pemerintah,
sebaliknya ada baiknya individu dan korporasi dapat menunjukkan tanggung
jawabnya dengan secara aktif dalam mengungkap kebenaran informasi finansial
maupun non-finansial yang dimilikinya kepada para stakeholder. Melalui tax
amnesty WP dapat melaporkan harta kekayaannya yang sesungguhnya secara
sukarela. Selanjutnya, informasi mengenai WP tersebut akan dihimpun oleh
pemerintah ke dalam sistem basis data.
Sebelumnya Amerika Serikat (AS) melalui otoritas pajaknya, Internal
Revenue Services (IRS) telah menerapkan sistem pertukaran informasi digital
yang berada di bawah naungan Foreign Account Tax Compliance (FATCA). FATCA
mengharuskan otoritas keuangan dan perbankan negara lain melaporkan
informasi transaksi keuangan pada rekening milik warga negara AS yang berada
di negara lain. Transaksi keuangan yang dimaksud berupa pemasukan sebesar
30% dari bunga atau dividen yang bersumber dari AS. Melalui program ini,
diketahui banyak WP AS yang menyembunyikan uangnya di negara Swiss.
Semejak itu, lebih dari 50.000 WP berpartisipasi dalam limited-amnesty program
dan telah membayar lebih dari 7 miliar dolar AS yang berkaitan dengan aset luar
negeri yang tidak dilaporkan. Hal ini menunjukkan bahwa limited-amnesty
program di AS efektif dalam menghimpun basis data, bahkan penerimaan negara
pun bertambah.
Merujuk pada data tersebut, kebijakan tax amnesty yang akan diterapkan
di Indonesia dengan basis data haruslah bisa mendongkrak penerimaan
pendapatan dari sektor pajak. Untuk mempersiapkan hal tersebut, tentu
pemerintah Indonesia harus mau tak mau mengubah regulasi-regulasi yang tidak
sejalan dengan sistem pengumpulan dana basis data. Salah satu regulasi
perbankan yang tidak sesuai dengan penerapan sistem basis data (AEOI) pada
tax amnesty adalah UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang kewajiban Bank dalam
merahasiakan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya.
Oleh karena itu, dibutuhkan sinkronisasi antar regulasi yang terkait dengan
penerapan AEOI. Tanpa adanya sinkronisasi regulasi tersebut, penerapan sistem
basis data yang akan diterapkan pada tax amnesty tidak dapat terlaksana
dengan baik.
Kemudian, poin penting lain yang perlu disoroti dalam penerapan sistem
basis data pada tax amnesty adalah landasan hukum. Terkait dengan landasan
hukum untuk memastikan bahwa FATCA dan CRS dapat diimplementasikan
secara efektif, saat ini, Pemerintah melalui Menteri Keuangan telah menerbitkan
peraturan tata cara pertukaran informasi di bidang perpajakan melalui Peraturan
Menteri Keuangan Nomor PMK-60/PMK.03/2014 tentang Tata Cara Pertukaran
Informasi sebagaimana telah diubah terakhir dengan PMK-125/PMK/010/2015
(PMK-125/2015) yang didasarkan pada Pasal 32A UU PPh terkait kewenangan
pemerintah membentuk perjanjian internasional di bidang perpajakan.
Sementara itu, otoritas terkait yaitu Otoritas Jasa Keuangan selaku regulator jasa
keuangan juga akan menerbitkan peraturan terkait pemberian informasi nasabah
asing terkait perpajakan dengan negara mitra.
Ketentuan domestik di bidang perpajakan untuk mengadakan perjanjian
dengan pemerintah negara lain adalah Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008
(UU PPh). Kewenangan pemerintah untuk membuat perjanjian internasional di
bidang perpajakan dilaksanakan dalam rangka menghindari pemajakan
berganda dan mencegah pengelakan pajak.
Sesuai Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang
Perjanjian Internasional (UU Perjanjian Internasional), pengesahan P3B antara
Pemerintah Indonesia dengan pemerintah Negara mitra perjanjian dilakukan
melalui Keputusan Presiden. Adapun di banyak P3B yang telah ditandatangani
dan diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia memuat klausul pertukaran informasi.
Dengan demikian, sepanjang P3B telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia,
maka pelaksanaan teknis pertukaran informasi akan mengacu pada klausul
dalam P3B.
Dalam konteks pertukaran informasi antara Pemerintah Indonesia dengan
Pemerintah Amerika Serikat, Pasal 26 ayat (4) P3B Indonesia-Amerika Serikat
berbunyi sebagai berikut:
The exchange of information shall be either on a routine basis or on request
with reference to particular case. The competent authorities of the contracting
state may agree on the list of information which shall be furnished on a routine
basis.
Ketentuan ini menjadi dasar hukum untuk membuat perjanjian pertukaran
informasi secara otomatis (routine basis) terkait FATCA dengan Pemerintah AS
yaitu Inter-Governmental Agreement (IGA) Model 1B. Tujuan dari ketentuan
FATCA-IGA sebagaimana dinyatakan dalam Judul Perjanjian IGA adalah untuk
meningkatkan international tax compliance dan untuk mengimplementasikan
FATCA. Implementasi FATCA dilakukan melalui pelaporan informasi keuangan oleh
pihak ketiga (lembaga keuangan) secara otomatis.

Tantangan RPJMN 2015-2019


Kontribusi Tax Amnesty dalam RPJMN 2015-2019 ini sangat diharapkan
sekali mengingat tantangan yang dihadapi pada periode ini sangatlah kompleks.
Tiga pokok utama mengenai peningkatan sumber daya alam, sumber daya
manusia, dan pencapaian IPTEK yang meningkat adalah pokok masalah yang
akan sangat banyak apabila dijabarkan satu per satu. Akan tetapi dalam
penyusunan konsep rancangan RPJMN 2015-2019 dijelaskan bahwa ketersediaan
infrastruktur yang mendukung merupakan tanntangan awal dalam mendorong
tercapainya pada tiga pokok masalah utama tadi. Infrastruktur juga merupakan
hal yang sangat penting mengingat kelancaran logistik juga ditentukan oleh hasil
dari maksimalnya infrastruktur yang dibangun. Tentunya untuk pembiayan-
pembiayaan pada pembangunan infrastruktur tidaklah sedikit. Pemerintah juga
tidak bisa bergantung pada penarikan pajak masyarakat Indonesia yang ada di
dalam negeri. Dengan pembangunan infrastruktur yang merata perlu adanya
sokongan dana yang merata pula. Penarikan dana repatriasi diharapkan juga
mampu mengurangi beban biaya pemerintah yang berasal dari pajak
masyarakat yang ada di Indonesia.
Pajak yang berasal dari orang Indonesia yang berada di luar negeri perlu
mendapatkan pengawalan yang maksimal agar dana tersebut dapat membantu
pembiayaan infrastruktur di Indonesia. Program Tax Amnesty yang digulirkan
pemerintah diharapkan memiliki peran vital terhadap RPJMN 2015-2019 yang
mengacu pada pembangunan nasional. Hal tersebut dapat meningkatkan
penerimaan negara, mengurangi utang luar negeri, dan menggenjot sarana
logistik apabila pembangunan yang dilaksanakan dapat tercapai. Selain
membahas mengenai tantangan terhadap aspek infrastruktur, kelemahan sendi
perekonomian bangsa juga merupakan salah satu tantangan bangsa ini.
Lemahnya sendi-sendi perekonomian bangsa yang terlihat dari persoalan
keejahteraan yang belum merata, kemiskinan, dan kesenjangan pendidikan
merupakan masalah yang harus diperhatikan. Contoh-contoh dari masalah
tersebut seringkali muncul ketika kondisi keuangan Indonesia kurang sehat.
Negara sudah kebingungan dalam mencari dana untuk menutupi atau
memberikan subsidi dari masalah-masalah perekonomian bangsa. Dengan
pengelolaan Tax Amnesty yang baik, masalah pendanaan tersebut dapat dibantu
oleh penarikan dari dana repatriasi ini. Seluruh masyarakat Indonesia berharap
Tax Amnesty tidak hanya dimanfaatkan untuk membiayai infrastruktur saja,
tetapi terkait kemiskinan, kesejahteraan, dan pendidikan. Masalah-masalah
tersebut merupakan dari segelintir masalah yang sering kita lihat, belum lagi
masalah-masalah ekonomi yang lainnya. Semua warga Indonesia sangat
berharap pemerintah baik pusat maupun daerah dapat berkolaborasi dalam
mengelola dana Tax Amnesty untuk memecahkan masalah dan tantangan yang
ada di skema RPJMN 2015-2019. Dalam hal ini sebagai wajib pajak juga harus
patuh terhadap program Tax Amnesty ini, artinya kontribusi Tax Amnesty
terhadap RPJMN 2015-2019 tidak akan berhasil jika tidak ada kesadaran dari
wajib pajak sendiri. Sebaik apapun rencana dan skema yang dibuat mengenai
kontribusi Tax Amnesty tehadap pembangunan di Indonesia, tetapi wajib
pajaknya sendiri masih belum timbul kesadaran, rencana ini sulit untuk
direalisasikan.

Kolaborasi Tax Amnesty dengan RPJMN 2015-2019 pada


Sektor SDM, SDA, dan IPTEK
Dasar pembangunan jangka menengah Indonesia telah ditekankan di
dalam RPJMN yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM, pengelolaan
SDA yang baik, dan perkembangan IPTEK yang semakin meningkat. Tidak
dipungkiri juga bahwa keberhasilan tiga aspek tersebut harus didukung oleh
infrastruktur yang baik, keadaan keuangan yang sehat, dan tata kelola anggaran
yang transparan. Selain itu, pada peningkatan SDM sendiri memiliki agenda
utama yaitu revolusi mental yang tujuannya setiap insane manusia dapat
berpartisipasi dalam memecahkan berbagai persoalan ekonomi di Indonesia.
Penciptaan kualitas SDM yang baik tidak mudah untuk dilakukan. Perlu proses
panjang dan pemerintah juga perlu memberikan fasilitas pendidikan yang
terjangkau bagi anak bangsa. Sejauh ini masih banyak institusi pendidikan yang
mematok harga tinggi dalam pembiayaan sarana dan prasarana institusi
tersebut. Masyarakat berharap pemerintah terus memberikan subsidi terhadap
permasalahan ini. Dengan adanya anggaran yang dikucurkan dari penarikan Tax
Amnesty, setidaknya pemerintah memiliki anggaran tambahan untuk
memberikan subsidi terhadap salah satu agenda RPJMN 2015-2019 ini. Apabila
kita mundur kebelakang, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementrian Keuangan
telah menyatakan dari hasil periode I Tax Amnesty penerimaan uang tebusan
mencapai Rp97,2 triliun. Dari jumlah tersebut, deklarasi harta mencapai Rp4.500
triliun dan repatriasi Rp137 triliun. Dari pernyataan dan data tersebut, kucuran
dana tersebut sangat diharapkan mampu digunakan untuk memperbaiki kualitas
SDM di Indonesia. Perbaikan tersebut dapat dilakukan dengan meberikan
pelatihan, pengajaran, ataupun perluasan lapangan kerja. Lebih dari Rp80 triliun
sudah pasti dikantongi oleh Indonesia. Hal tersebut menjadi sebuah kesempatan
dalam menguji apakah kontribusi Tax Amnesty dapat berbuat banyak dalam
peningkatan kualitas SDM di Indonesia. Diharapkan dengan penerimaan dari
periode I, II, dan III Tax Amnesty, pemerintah juga dapat berperan penuh dalam
mengelola dana tebusan ini sebaik mungkin bagi kebermanfaatan rakyat
Indonesia untuk bersama-sama menuju cita-cita RPJMN 2015-2019 pada aspek
peningkatan SDM.

Selain membahas mengenai peningkatan SDM, RPJMN 2015-2019 juga


perlu memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengelolaan SDA dan
penguasaan IPTEK. Dewasa ini kurangnya kemandirian bangsa di Indonesia
dalam mengelola SDA yang ada dikarenakan oleh faktor kurangnya penguasaan
IPTEK. Rendahnya penguasaan IPTEK di Indonesia juga dapat disebabkan oleh
kurangnya kualitas SDM di Indonesia. Dalam hal ini, kontribusi Tax Amnesty
kembali dipertanyakan. Yang menjadi pertanyan adalah apakah dana repatriasi
ini dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan SDA
dan penguasaan IPTEK di Indonesia. Setelah memaparkan hasil perolehan dari
Tax Amnesty periode I, program Tax Amnesty periode II dengan tarif tebusan 3
persen juga telah berakhir pada 31 Desember 2016 lalu. DJP Kementrian
Keuangan juga telah mencatat total ada 638.023 surat pernyataan harta (SPH)
dengan jumlah harta yang dilaporkan sebesar Rp4.295,8 triliun. Dari angka
tersebut, jumlah dana repatriasi mencapai Rp141 triliun, Walaupun capaian itu
masih dianggap rendah, akan tetapi periode ini juga memberikan dana segar
bagi keuangan Indonesia. Hal tersebut kembali menciptakan kondisi yang bisa
membuat kontribusi Tax Amnesty terhadap RPJMN 2015-2019 ini bisa
direalisasikan. Kucuran dana dari dua periode Tax Amnesty tersebut perlu
dikelola secara tepat dan teliti, mengingat besarnya dana yang diterima dari
wajib pajak. Apalagi dengan adanya tambahan kucuran dana dari periode III Tax
Amnesty yang dapat menambah anggran untuk merealisasikan RPJMN 2015-
2019. Dengan adanya suntikan-suntukan dana dari Tax Amnesty tersebut,
diharapkan peningkatan pengelolaan SDA dapat dilakukan dengan maksimal.
Peningkatan pengelolaan SDA tersebut sebaiknya ditunjang oleh penguasaan
IPTEK oleh anak bangsa Indonesia dan tidak bergantung pada penguasaan IPTEK
dari warga asing.

Langkah untuk menanyakan kontribusi Tax Amnesty untuk RPJMN 2015-


2019 juga merupakan salah satu bagian dari reformasi perpajakan. Hal tersebut
berkaitan dengan apa sesungguhnya fungsi dari penarikan Tax Amnesty untuk
bangsa ini. Penarikan suatu pajak dewasa ini diharapkan tidak hanya terpaku
dalam pembiayaan pada sektor infrastruktur saja. Penarikan pajak saat ini sudah
harus bisa dimanfaatkan untuk membantu dalam pembiayaan pada sektor lain.
Dengan adanya niat dan usaha untuk mereformasi perpajakan, diharapkan
seluruh masyarakat Indonesia mampu mendukung langkah ini. Reformasi
perpajakan tidak akan pernah terwujud apabila seluruh komponen bangsa tidak
bersatu dalam menjalankannya. Sejalan dengan reformasi perpajakan, kita
paham bahwa pembangunan yang dilakukan Indonesia terus berlanjut dan
berkesinambungan. Pembangunan tersebut dilakukan baik melalui peningkatan
sumber daya manusia, sumber daya alam, IPTEK maupun pajak itu sendiri.
Namun, untuk mengimplementasikannya membutuhkan anggran yang tidak
sedikit. Pada kesimpulannya, salah satu cara untuk mendapatkan anggaran
tersebut adalah dengan melakukan penarikan uang dari wajib pajak baik yang
ada di dalam maupun di luar negeri. Hampir seluruh pendapatan negara berasal
dari penarikan pajak. Oleh karena itu, agar tercapainya kontribusi Tax Amnesty
terhadap RPJMN 2015-2019 dapat direalisasikan, diharapkan pemerintah dan
pihak yang berwenang dapat memaksimalkan momentum program penarikan
pajak ini. Dengan terealisasinya kolaborasi tersebut diharapkan langkah ini
menjadi awal dalam mereformasi perpajakan bahwa pendapatan yang berasal
dari penarikan pajak dapat berkontribusi pada RPJMN 2015-2019 dalam
mendukung pembangunan di Indonesia.