Está en la página 1de 7

ARTIKEL

TRAGEDI MINAMATA MENGANCAM PERAIRAN


INDONESIA

Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan mata kuliah
Pengantar Ilmu Lingkungan Program Studi Teknik Perancangan dan Konstruksi
Mesin

Disusun oleh:
Rido Ramanda 131234027

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


2017
TAGEDI MINAMATA MENGANCAM PERAIRAN
INDONESIA

Tragedi Minamata di Jepang

Minamata disease adalah salah satu dampak yang tidak diduga dan
harapkan akibat ulah manusia mencemari lingkungan. Tahun 1960-an, merkuri
digunakan secara luas pada proses industri seperti untuk produksi kertas dan
plastik. Pabrik plastik di area Minamata, Jepang, secara rutin membuang limbah
merkuri ke perairan di sekitar pantai. Meskipun merkuri diketahui sebagai zat
yang beracun, tidak ada yang khawatir karena menganggap laut begitu luas.
Namun, bakteri-bakteri yang ada di sekitar pabrik mengubah merkuri tersebut
menjadi zat methane mercury yang jauh lebih beracun, yang akhirnya tertimbun
tahun demi tahun di ekosistem pantai. Merkuri itu secara biologis terkonsentrasi
karena terus menerus berputar dalam siklus rantai makanan mulai dari
phytoplankton (tanaman mikroskopis) sampai zooplankton (binatang kecil), ikan
kecil dan ikan besar, sampai akhirnya dimakan manusia. Tidak ada yang sadar
bahwa konsentrasi merkuri pada ikan lebih dari 1.000.000 kali lipat dari
konsentrasi merkuri yang ada di air laut. Penduduk yang selamat dari kematian
akibat penyakit ini, mengalami kerusakan neurologis parah dan mengakibatkan
kelainan bentuk pada bayi.

Ketika ikan yang terkontaminasi merkuri diketahui sebagai penyebab


penyakit ini, penduduk lokal menuntut pabrik tersebut untuk bertanggung jawab.
Setelah beberapa tahun, pemerintah akhirnya memerintahkan pabrik untuk
menghentikan pembuangan merkuri, namun merkuri dalam jumlah besar yang
sudah terlanjur ada di ekosistem pantai terus menerus bersirkulasi dalam jejaring
makanan. Kurang lebih butuh waktu 50 tahun sebelum ikan-ikan di Minamata
aman untuk dikonsumsi lagi. Kejadian dramatis ini akhirnya mendorong
penghilangan merkuri dari industri skala besar, meskipun merkuri sampai saat ini
masih dipakai untuk penambangan emas di Afrika , Amerika Latin dan Asia, atau
bahkan masih dipakai di kosmetik2 yang kita pakai.

1
Pencemaran Merkuri di Perairan Indonesia Lebih Dahsyat dari Minamata

Di Indonesia sendiri pencemaran zat kimia, pembuangan limbah2 pabrik


ke pantai, laut dan sungai, sampai saat ini masih terjadi di Indonesia. Menurut
Agus Pambagio sebagai Pemerhati Kebijakan Publik dan Perlindungan Konsumen
dalam artikel detiknews1, pencemaran merkuri di perairan Indonesia lebih dahsyat
dari Minamata. Merkuri pada prinsipnya ada di udara dan beberapa bahan yang
ada disekitar kita, akan tetapi sumber terbesar (37%) berasal dari pertambangan
emas skala kecil dan ilegal. Banyak dari merkuri yang dilepaskan ke alam
dihasilkan oleh Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) ilegal, misalnya di
Poboya Sulawesi Tengah, Gunung Botak di Pulau Buru, Cisitu, Cibeber di Lebak
Banten, dan Bombana di Sulawesi Tenggara.

Contoh kasus pada pulau Buru menurut sumber ANTARA News 2, Peneliti
masalah lingkungan Universitas Pattimura (Unpati) Ambon, Yus Male
mengatakan, di pulau Buru sendiri aktivitas penambangan emas ilegal di kawasan
Gunung Botak, Kecamatan Wamsait, Kabupaten Buru sejak tahun lalu telah
membawa ancaman bagi masyarakat akibat banyak sungai tercemar limbah kimia
beracun.

1 https://news.detik.com/kolom/d-3440402/tragedi-minamata-mengancam-
indonesia

2 http://www.antarasulsel.com/berita/43187/peneliti--sungai-di-pulau-buru-makin-
tercemar

2
Gambar 1 Kondisi Penambangan Pulau Buru
Sumber: foto.okezone.com
"Penggunaan ratusan atau ribuan mesin tromol untuk memisahkan logam
mulia dari material batu dan pasir dengan bahan dasar air raksa atau bahan kimia
lainnya jadi pemicu utama makin tingginya tingkat pencemaran," kata Yus Male
di Ambon. Kondisi pencemaran lingkungan, terutama air sungai yang mengalir di
sekitar kawasan Wamsait dan bermuara di Teluk Kayeli ini diketahui setelah
dilakukannya penelitian sejumlah sampel yang diambil dari lokasi penambangan.

Gambar 2 Pencemaran yang dilakukan di pulau Buru


Sumber: http://www.kemendagri.go.id

3
Pencemaran pada pulau Buru kini sudah terlihat jelas dampaknya. Menurut
Tribun-Maluku.com3 : Kematian beberapa ekor buaya dewasa yang selama ini
menghuni hutan bakau di pesisir Teluk Kayeli, Kabupaten Buru diduga kuat
akibat pencemaran air karena ulah para penambang ilegal di Gunung Botak yang
menggunakan bahan kimia berbahaya seperti sianida.

"Warga menemukan sedikitnya lima ekor buaya dewasa berukuran panjang


sekitar dua meter yang mati mengenaskan," kata Ketua Lembaga Swadaya
Masyarakat Aliansi Indonesia Kabupaten Buru, Putra Baman, yang dihubungi dari
Ambon.

Selain buaya yang ditemukan mati, ternak milik masyarakat seperti ayam
juga bernasib serupa dan siput yang hidup di areal hutan bakau dan biasanya
dicari warga untuk dikonsumsi juga sudah tidak ditemukan. Menurut dia, lima
ekor buaya ini ditemukan tewas di sekitar sungai Suket (Teluk Kayeli) sebelah
barat Desa Kayeli.

Gambar 3 Buaya yang mati di Pulau Buru


Sumber: tribun-maluku.com

Yus Male mengatakan pada antaranews4, pihaknya telah mengambil


sampel dari lokasi Gunung Botak berupa tanah, air dan sedimen sungai serta
3 http://www.tribun-maluku.com/2015/11/kematian-buaya-pulau-buru-diduga-
akibat.html

4 http://www.antarasulsel.com/berita/43187/peneliti--sungai-di-pulau-buru-makin-tercemar

4
beberapa jenis biota di muara sungai seperti kerang-kerangan, kepiting serta ikan.
"Hasil penelitian sampel ini sungguh mengejutkan karena ada peningkatan
konsentrasi mercury yang sangat signifikan," katanya.

Ironisnya potensi pendapatan Pemerintah per tahun dari sektor PESK


ilegal tersebut di atas menguap entah kemana (sumber: Laporan dan Rekomendasi
Survey Masalah Merkuri di P. Buru : Medicuss Foundation bekerjasama dengan
Kodam Pattimura, Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan serta
Pemerintah Daerah Maluku). Sayang negara tidak mendapatkannya karena
penambang atau investor tidak membayar pajak, uang mengalir ke pribadi
investor asing yang membawa devisa keluar maupun pribumi yang merupakan
pencari rente. Namun negara harus menanggung biaya kerusakan kesehatan
masyarakat dan kerusakan lingkungan akibat pencemaran logam berat seperti
merkuri sangat sangat sangat besar.

Langkah yang Harus Dilakukan oleh Pemerintah

Menurut Agus Pambagio pada detiknews5, Kalaupun semua data di atas


benar, seharusnya Pemerintah menyikapi hal tersebut dengan cerdas melalui
pembuatan peraturan perundang - undangan yang memadai khusus dalam
membina para PESK ilegal supaya tidak menggunakan logam berat (Hg) yang
dibuang begitu saja ke sungai dan laut, namun harus dicarikan pengganti yang
harganya tidak berbeda jauh dengan Hg.

Kedua, harus dibuatkan peraturan perundang-undangan yang terkait


dengan insentif yang akan di dapat oleh Pemerintah Daerah dan aparat penegak
hukum jika mereka dapat melakukan pengawasan yang sangat ketat terkait dengan
perambahan lahan, pencemaran lingkungan, kesehatan masyarakat dan pembagian
hasil yang jelas. Namun jika gagal (termasuk ikut melindungi dan mengelola
PESK ilegal), maka sanksi berat harus dijatuhkan ke mereka.

5 (https://news.detik.com/kolom/d-3440402/tragedi-minamata-mengancam-
indonesia),

5
Ketiga, PESK ilegal harus ditata dengan baik dan ketat. Selain itu perlu
dicarikan lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat penambang di sektor lain,
misalnya melalui program kehutanan sosial yang ada di Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan (Pemerintah sudah mengalokasikan 12,7 juta Ha untuk
hutan sosial).

Jika tidak dilakukan pengaturan dan pengawasan yang ketat terkait dengan
PESK ilegal, maka Indonesia akan mengalami kerugian yang besarnya tak
terhingga di sektor sumber daya manusia, lingkungan hidup dan ekonomi.
Misalnya, Program pariwisata yang mengandalkan keindahan bahari akan hancur
karena tidak ada lagi turis mancanegara yang mau menyelam dan berkegiatan di
laut jika laut kita tercemar merkuri dan logam berat lainnya. Industri perikanan
kita juga akan hancur karena tidak ada lagi yang akan membeli ikan kita karena
mengandung Hg dan sebagainya.