Está en la página 1de 1

BAB IV

ANALISA KASUS

Penegakan diagnosis cidera kepala berat berdasarkan hasil anamnesis,


pemeriksaan fisik dan penunjang. Pada anamnesis didapatkan pasien terjatuh
dengan kecepatan yang tinggi dan kepala kiri membentur aspal serta helm yang
digunakan pasien terlepas dan pasien tidak sadarkan diri selama 20 menit
kemudian sadar dan kembali tidak sadar diri, pasien juga terdapat pembengkakan
pada daerah wajah. Pada trauma kepala dimana mekanisme trauma berperan
penting dalam mendiagnosis dan memperkirakan oragan apa saja yang terkena.
Pasien dengan peredarah epidural dan subdural terdapat lucid interval diamana
periode sadar diantara dua fase tidak sadar. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
pupi anisokor dimana pupil kiri berdilatasi hal ini menandakan terjadi penekan
nervus III yang diakibatkan oleh lesi supra tentorial. Penuruna kesadarah dapat
terjadi karena peningkatan TIK yang tinggi yang menimbulkan herniasi dan
menekan sistem ARAS.
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada trauma kepala adalah CT-scan
dan rotgen cervical hal ini untuk memastikan apakah ada perdarahan EDH atau
SDH serta kelainnan pada cervical. Pada pasien ditemukan herniasi subflacin ke
kanan, EDH lobus temporalis kiri, SDH frontoparietal kiri serta fraktur pada
tulang wajah. dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang di dapatkan
diagnosis Cidera kepala berat Post kraniotomi atas indikasi SDH+EDH Fraktur
tulang wajah dan close fraktur klavikula siniesta.
Penanganan pasien trauma kepala dengan memperhatikan ABCD pada
pasien didapatkan Airway : terpasang ETT, Breathing: menggunakan ventilator,
Circulation: akral hangat, CRT <2, tekanan darah 163/92, nadi 95 x/menit, Spo2:
100%, Disability : GCS 3, E1M1Vett apabila ABC tertangani maka dilakukan
terapi medikamentosa dengan prinsip menurunkan TIK. Pasien diberikan Manitol
4 x 125 mg IV, Fenitoin 3x100mg IV, Ceftriaxone 2 x 1gr IV, Ketorolac 3 x 30 mg
IV, Ranitidine 2 x 50 mg IV.