Está en la página 1de 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Wacana baru akuntansi Syariah tidak hadir dalam suasana yang vakum (vacuum
condition), tetapi distimulasikan oleh banyak faktor yang berinteraksi begitu konfleks, non-
linier, dinamis, dan berkembang. Faktor faktor seperti : kondisi perubahan sistem politik,
ekonomi, sosial, budaya, peningkatan kesadaran keagamaan, semangat revival,
perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan dan pertumbuhan pusat-pusat studi, dan
lain-lainnya dari umat islam, semuannya berinteraksi secara konfleks dan akhirnya
melahirkan paradigma syariah dalam dunia perakuntansian.
Dasar pijakan ekonomi Islam seperti telah difatwakan oleh ulama Al-Lajnah Ad-Daa-
imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta Saudi Arabia adalah muamalah yang berdasarkan
syariat, yaitu dengan mengembangkan harta melalui cara-cara yang dihalalkan oleh Allah
Taala, sesuai dengan kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan muamalah syariyyah, yang
didasarkan pada hukum pokok, boleh dan halal dalam berbagai muamalah, dan menjauhi
segala yang diharamkan oleh Allah Taala darinya.
Bangkitnya akuntansi syariah di Indonesia tidak hanya karena terpicu terjadinya
skandal akuntansi sebuah perusahaan telekomunikasi yang berbasis di Amerika Serikat,
WorldCom beberapa tahun silam. Tetapi akuntan syariah muncul sejalan dengan adanya
kesadaran untuk bekerja lebih jujur, adil dan tidak bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan
Al-Hadist.
Amin Musa menjelaskan, bangkitnya sistem akuntansi syariah itu dilatar-belakangi
banyaknya transaksi dengan dasar syariah, baik yang dilakukan lembaga bisnis syariah
maupun non syariah. Dengan animo itu, perlu adanya pengaturan atau standar untuk
pencatatan, pengukuran, maupun penyajian sehingga para praktisi dan pengguna keuangan
mempunyai standar yang sama dalam akuntansinya, kata salah satu angota Komite
Akuntansi Syariah (KAS) kepada Akuntan Indonesia di Jakarta, belum lama ini.
Akuntansi syariah, pada tataran ontology dan epistemology terdapat kesepahaman
antar para pakar akuntansi bahwa akuntansi syariah berbeda dengan akuntansi konvensional.
Namun, dalam tataran metodologi masih ada perbedaan pandangan di kalangan pakar
akuntansi syariah Perbedaan tersebut sangat mudah diketahui dengan cara membaca hasil

2
dari karya-karya (tulisan) terkait akuntansi syariah baik tulisan tingkat internasional
maupun skala nasional.
Tulisan tersebut merupakan hasil gagasan (ide) sebagai cerminan perjalanan
perumusan akuntansi syariah. Selain itu, banyak pengetahuan dan pemahaman masyarakat
akademisi atau praktisi- yang dibangun dari tulisantulisan tersebut. Selain itu, tulisan tersebut
sering digunakan sebagai referensi bagi dosen maupun pengembangan penelitian akuntansi
syariah. Oleh karena itu, hadirnya tulisan tersebut sangat menentukan persepsi masyarakat
tentang konsep/teori akuntansi syariah.
Sejarah akuntansi syariah (baca akuntansi zakat), sebenarnya sudah lama lahir. Jika
diruntut, sejak ada perintah untuk membayar zakat itu. Adanya perintah membayar zakat
itulah mendorong pemerintah untuk membuat laporan keuangan secara periodik Baitul Maal,
sementara para pedagang muslim atau produsen muslim wajib menghitung hartanya
(assetnya) apakah sudah sesuai dengan nishabnya (batas harta yang harus dibayarkan).
Penghitungan dengan sistem akuntan syariah itu di Indonesia belum terbiasa.
Maklum, Bank Mualamat saja, sebagai Bank Syariah Islam pertama di Indonesia baru berdiri
pada awal Nopember 1991. Itu artinya akuntan syariah baru akan lahir setelah puluhan tahun
bank itu berdiri. Tetapi fenomena munculnya transaksi syariah, usaha syariah di kalangan
pebisnis Indonesia, kini telah mendorong lahirnya para akuntan syariah untuk lebih
mendalami masalah audit di bidang zakat dan bentuk perdagangan lainnya secara syariah
Islam.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah tentang Sejarah
dan Pemikiran Akuntansi Syariah. Untuk memberikan kejelasan makna serta menghindari
meluasnya pembahasan, maka dalam makalah ini hanya menjelaskan pandangan terhadap
Mata Kuliah Akuntansi Syariah termasuk aspek :

1. Bagaimana sejarah lahirnya Akuntansi Syariah ?


2. Bagaimana perkembangan awal akuntansi dan akuntansi syariah ?
3. Bagaimana perkembangan pemikiran Akuntansi Syariah ?
4. Bagaimana Prosedur dan Istilah yang digunakan akuntansi syariah ?
5. Bagaiman Prinsip-prinsip umum akuntansi Syariah ?
6. Apa perbedaan dan hubungan akuntansi konvensional (modern) dan akuntansi syariah ?

1.3 Tujuan

2
Pada dasarnya penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum
dan khusus. Tujuan umum dalam penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu
tugas Mata Kuliah Akuntansi Syariah. Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini
adalah :

1. Mengetahui sejarah lahirnya Akuntansi Syariah.


2. Mengetahui perkembangan awal akuntansi dan akuntansi syariah.
3. Mengetahui perkembangan pemikiran Akuntansi Syariah.
4. Mengetahui Prosedur dan Istilah yang digunakan akuntansi syariah.
5. Mengetahui Prinsip-prinsip umum akuntansi Syariah.
6. Mengetahui perbedaan dan hubungan akuntansi konvensional (modern) dan akuntansi
syariah.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Lahirnya Akuntansi Syariah (Islam)


Suatu pengkajian selintas terhadap sejarah Islam menyatatakan bahwa
akuntansi dalam Islam bukanlah merupakan seni dan ilmu yang baru, sebenarnya
bisa dilihat dari peradaban Islam yang pertama yang sudah memiliki Baitul Mal
yang merupakan lembaga keuangan yang berfungsi sebagai Bendahara Negara
serta menjamin kesejahteraan sosial. Masyarakat Muslim sejak itu telah memiliki
akuntansi yang disebut Kitabat Al-Amwal
( Pencatat uang ) Dipihak lain istilah akuntansi disebutkan dalam beberapa karya
tulis umat Islam. Tulisan ini muncul lama sebelum double entry ditemukan oleh
Lucas Pacioli di Italy pada tahun 1949.

2.2 Perkembangan Awal Akuntansi

Pada awalnya akuntansi merupakan bagian dari ilmu pasti, yaitu bagian dari
ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah hukum alam dan perhitungan
yang bersifat memiliki kebenaran absolut. Sebagian bagian dari ilmu pasti yang
perkembangannya bersifat akumulatif, maka setiap penemuan metode baru dalam
akuntansi akan menambah dan memperkaya ilmu akuntansi tersebut. Bahkan
pemikir akuntansi pada awal perkembangannya merupakan seoranng ahli
matematika seperti Luca Paciolli dan Musa Al-khawarizmy.

Penemuan metode baru dalam akuntansi senantiasa mengalami penyesuaian


dengan kondisi setempat, sehingga dalam prkembangan selanjutnya, ilmu akuntansi
lebih cenderung menjadi bagian dari ilmu sosial (social science), perubahan ilmu
akuntansi dari bagian ilmu pasti menjadi ilmu sosial lebih disebabkan oleh faktor-
faktor perubahann dalam masyarakat yang semula dianggap sebagai sesuatu yang
konstan,

3
Islam memandang akuntansi tidak sekadar ilmu yang bebas nilai untuk
melakukan pencatatan dan pelaporan saja, tetapi juga sebagai alat untuk menjalankan
nilai-nilai islam (islamic value) sesuai ketentuan syariah.

Perkembangan akuntansi, dengan dominan arithmatic quality nya, sangat


ditopang oleh ilmu lain khususnya arithmatic, algebra, mathematics, alghorithm pada
abad ke-9 M.ilmu ini lebuh dahulu berkembang sebelum perkembangan bahasa. Ilmu
penting ini ternyata dikembangkan oleh filosofi Islam yang terkenal yaitu Abu Yusuf
Yakub bin Ishaq Al Kindi lahir tahun 801 M. Juga Al Karki (1020) dan Al-
khawarizmy yang merupakan asal kata dari alGorithm, algebra jga berasal dari kata
arab yaitu al Jabr

2.2.1 Sejarah Akuntansi Konvensional

Dari sejak zaman prasejarah, keluarga memiliki perhitungan tersendiri untuk


mencatat makanan dan pakaian yang harus mereka persiapkan dan mereka gunakan
pada saat musim dingin. Ketika masyarakat mulai mengenal
adanyapedaganganmaka pada saat yang sama mereka telah mangenal konsep nilai
(value) dan mulai mengenal sistem moneter (monetary system). Bukti tentang
pencatatan (book keeping) tersebut dapat di temukan dari mulai kerajaan babilonia
(4500 SM), Firaun mesir dan kode-kode Hammurabi (2250 SM) sebagaimana
ditemukan adanya kepingan pencatatan akuntansi di Ebla, Syria Utara.
Saat ini kita hanya mengenal luca Paciolli sebagai bapak Akuntansi Modern.
Paciolli, seorang ilmuan dan pengajar di bebarapa universitas yang lahir di Tuscany
Italia pada tahun 1445, merupakan orang yang di anggap menemukan persamaan
akuntansi untuk pertama kali pada tahun 1494 dengan bukunya: Summa de
Arithmetica Geometria et Proportionalita (A Review of Arithmetic, Geometry and
Proportions).
Pada buku tersebut, terdapat penjelasan mengenai buku besar telah termasuk
mengeni aset, modal,hutang,pendapatan dan beban. Mengenai ayat jurnal penutup
(closing entris) dan menggunakan neraca saldo (trial balance) untuk mengetahui
saldo buku besar (legerd).

4
Sebenarnya Luca pacioelli bukanlah orang yang menemukan doble entry
book keeping system, mengingat sytem tersebut telah melakukan sejak adanya
perdagangan antara venice dan genoa pada awal abad ke-13 M setelah terbukanya
jalur perdagangan antara timur tengah dan kawasan mediterania. Bahkan, pada tahun
1340 bendahara kota massri telah melakukan pencatatan dalam bentuk double entry.
Majunya peradaban sosial budaya masyarakat arab waktu itu tidak hanya
pada aspek ekonomi atau perdagangan saja, tetapi juga pada proses transformasi
ilmu pengetahuan yang berjalan dengan baik. Selain aljabar, al khawarizmi
(logaritma) juga telah berkembang ilmu kedokteran dari ilmu ibnu sina (avicenna),
kimia karya besar ibnu rusyd (averos), ilmu ekonomi (ibnu khaldun).

2.2.2 Perumusan Teori Akuntansi Konvensional


Teori akuntansi konvensional dinyatakan baik secara verbal maupun
matematis. Perumusan teori akuntansi dimulai dari abstraksi (tidak nyata/
unrealworld abstraction) yang ada dalam pikiran manusia. Supaya lebih bermanfaat,
hasil pikiran tersebut kemudian dihubungkan dengan praktik akuntansi.
Secara umum, teori akuntansi yang dibangun dapat diterima jika memiliki
kriteria kebenaran di antaranya dogmatics basis, self-evident basis, dan Scientific
basis. Teori akuntansi konvensional yang dibentuk dengan kontruksi di atas sangat
tergantung pada realita praktik akuntansi itu sendiri. Perumusan teori yang
bersumber pada praktik akuntansi berusaha menarik kesimpulan umum dari
pengamatan dan pengukuran praktik akuntansi. Metode ini disebut dengan proses
induksi. Namun, proses induktif tetap terkait erat dengan proses deduktif karena
proses deduktif memberikan petunjuk pemilihan data yang akan diteliti.

Hal senada juga disampaikan oleh Ahmed Belkaoui yang menjelaskan bahwa
perumusan teori akuntansi konvensional yang paling dikenal menggunakan
metodologi deskriptif. Metode ini muncul sebagai konsekuensi atas keyakinan
bahwa akuntansi merupakan seni yang tidak dirumuskan.

2.3 Perkembangan Akutansi Syariah


Perkembangan akuntansi syariah teerdiri atas zaman perkembangan islam dan zaman
empat khalifah.

5
2.3.1 Zaman Awal Perkembangan Islam

Pendeklarasian negara islam di Madinah (tahun 622 M atau bertepatan dengan tahun
1 H) di dasari oleh konsep bahwa seluruh muslim adalah bersaudara tanpa
memandang ras, warna kulit dan golongan, sehingga seluruh kegiatan kenegaraan di
lakukan secara bersama dan gotong royong di kalangan para muslim. Hal ini di
mungkinkan karena yang baru saja berdiri tersebut hampir tidak memiliki
pemasukan atau pengeluaran. Muhammad Rasullulah SAW bertindak sebagai
seorang kepala negara yang juga merangkap sebagai Ketua Mahkama Agung, Mufyi
Besar, dan Panglima Perang Tertinggi juga penanggung jawab administrasi negara.

Telah menjadi tradisi, bahwa bangsa Arab melakukan 2 kali perjalanan


khalifah perdagangan, yaitu musim dingin dengan tujuan perdagangan ke Yaman dan
musim panas dengan tujuan ke As-Syam (sekarang Syria, Lebanon, Jordania,
Palestina dan Israel).

Dalam perkembangan selanjudnya, ketika ada kewajiban zakat dan


ushr (pajak pertanian dari muslim), dan perluasan wilayah sehingga dikenal
adanya jizyah (pajak perlindungan dari nonmuslim) dan kharaj ( pajak hasil
pertanian dari non muslim), maka Rasullulah mensirikan baitul Maal pada awal abad
ke-7.

Konsep ini cukup maju pada zaman tersebut dimana seluruh penerimaan
dikumpulkan secara terpisah dengan pimpinan Negara dan baru akan dikeluarkan
untuk kepentingan Negara walaupun disebutkan pengelolaan baitul maal masih
sederhana, tetapi nabi telah menunjukan petugas qadi, ditambah para sekertaris dan
pencatat administrasi pemerintahan

2.3.2 Zaman Empat Khalifah

Pada pemerintahan Abu Bakar, pengelolaan Baitul Maal masih sangat sederhana di
mana peneriamaan dilakukan secara seimbang sehingga hampir tidak pernah ada
sisa.

6
Perubahan sistem administrasi yang sangat signifikan di era kepemimpinan
Khalifah Umar bin Khattab dengan memperkenalkan istilah Diwan oleh Saad bin
Abi Waqqas (636 M).

Khalifah Umar bin Khatab menunjuk beberapa orang pengelola dan pencatat
dari persia yang mengawasi pmbukuan Baitul Maal. Pendiriandiwan berasal dari
usulan Homozan-seorang tahanan Persia dan menriama islam-dengan menjelaskan
sistem administrasi yang dilakukan oleh Raja Sasania.

Hal ini kembali menunjukan bahwa akuntansi dari satu lokasi ke lokasi lain
sebagai akibat deri hubungan antara masyarakat. Selain itu juga Baitul Maal juga
sudah tidak terpusat lagi di Madinah tetapi juga di daerah-daerah taklukan islam.

Fungsi akuntansi telah di lakukan oleh berbagai pihak dalam islam


seperti:Al-Amel,Mubashor, Al-Kateb, namun yang paling terkenal adalah Al-
Kateb yang menunjukan orang yang bertanggung jawab untuk meniliskan dan
mencatat informasi baik keuangan maupun non keuangan. Sedangkan khusus
akuntan di kenal juga dengan nama Muhasabah/muhtasib yang menunjukan orang
yang bertanggung jawab melakukan perhitungan.

Muhtasib adalah orang yang bertanggung jawab atas lembaga Al Hisba.


Muhtasib bisa juga menyangkut pengawasan pasar yang bertanggung jawab tidak
hanya masalah ibadah. Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa muhtasib adalah
kewajiban publik. Muhtasib ini beretugas menjalaskan bagai mna tindakan yang
tidak pantas dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan. Al-Hisba tidak
bertanggung jawab kepada eksekutif.

Muhtasib memiliki kekuasaan yang luas, termasuk pengawasan harta,


kepentingan sosial, pelaksanaan ibadah pribadi, dan pemeriksaan transaksi bisnis.
Akram Khan memberikan 3 (tiga) kawajiban muhtasib, yaitu:

1. Pelaksanaan hak Allah termasuk kegiatan ibadah: semua jenis shalat, pemiliharan
masjid.

2. Pelaksanaan hak-hak masyarakat: kebenaran timbangan, kejujuran bisnis.

7
3. Palaksanaan yang berkaitan dengan kebudayaan: menjaga kebersihan jalan, lampu
jalan, bangunan yang mengganggu masyarakat dan sebagainya.

Pada zaman khalifah sudah di kenal Keuangan Negara. Kedaulatan Islam


telah memiliki departemen-departemen atau di sebut dengan diwan, ada Diwan
Pengeluaran (Diwan An-nafkat) , Militer (Diwan Al jayash), pengawasan,
pemungutan hasil dan sebagainya. Diwan Pengawasan Keuangan disebut Diwan al
Kharaj yang bertugas mengawais semua yang berhubungan dengan penghasilan.
Pada zaman Khalifah Mansur di kenal Khitabat al Rasul was sir,yang memilihara
pencatat rahasia. Untuk menjamin dilaksanakanya hukum maka di bentuk Shahib Al
Shurta.

Di sisi lain ada juga fungsi lain muhtasib dalam bidang pelayanan umum
(public services) misalnya pemeriksaan kesehatan, suplai air, memastikan orang
mislinmendapat tunjangan, bangunan yangmau roboh, memeriksa kelayakan
pembangunan rumah, ketidaknyamanan dan keamanan berlalu lintas, jalan kaki
manjaga keamanna dan kebersihan pasar. Dari berbagai fungsi shahib al shurta dan
muhtasib ini dapat disimpulkan bahwa fungsi utamanya adalah untuk mencegah
pelanggaran terhaadap hukum baik hukum sipil maupun hukum agama. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa akuntansi islam adlah menyangkut semua praktik kehidupannya
lebih luas tidak hanya menyangkut praktik ekonomi dan bisnis sebagaimana dalam
sistem kapitalis.

2.4 Sekilas Prosedur dan Istilah yang Digunakan

Dari uraian diatas diketahui bahwa pelaksanaan akuntansi pada negara islam terjadi
terutama adanya dorongan kewajiban zakat, yang harus dikelola dengan baik melalui
baitul maal. Dokumentasi yang pertama kali dilakukan olehAL-Mazenderany (1363
M) mengenai praktik akuntansi pemerintahan yang dilakukan selama Dinasti Khan II
pada buku Risalah Falakiyah Kitabus Siyakat. Namun, dokumentasi yang baik
mengenai sistem akuntansi negara islam tersebut pertama kali dilakukan oleh Al-
Khawarizmy pada tahun 976 M.

Kontribusi besar yang diberikan oleh Al-Khawarizmy adalah membuat sistem


akuntansi dan pencatatan dlam negara Islam dan membaginya dalam beberapa jenis

8
daftar. Beiau juga bersama dengan penjelasan dari Al-Mazendarany-menjelaskan
tentang sistem akuntansi termasuk tujuan serta praktik yang terjadi.

Tujuan sistem akuntansi adalah untuk memastikan akuntabilitas , mendukung


proses pengambilan keputusan serta maempermudah proses evaluasi atas program
yang telah selesai. Tujuan ini tidak hanya berlaku dipemerintahan tetapi juga pada
perusahaan. Orientasi sistem akuntansi ini adalah melaporkan kegiatan yang
menghasilkan laba/rugi atau surplus/defisit, dan menyelesaikan seluruh kebutuhan
dari negara, namun perthitungan dari sistem akuntansi ini masih memasukkan
transaksi yang bersifat moneter dan nonmoneter.

Ada tujuh hal khusus dalam sistem akuntansi yang dijalankan oleh negara
Islam sebagaimana dijelaskan oleh Al-Khawarizmy dan Al-Mazendary (Zaid,1999),
yaitu :

1. Sistem akuntansi untuk kebutuhan hidup, sistem ini dibawah koordinasi


seorang manajer

2. Sistem akuntansi untuk ktem akuntansi unruk proyek pembangunan yang


dilakukan oleh pemerintah

3. Sistem akuntansi untuk pertanian merupakan sistem yang berbasis non-moneter

4. Sistem akuntansi gudang merupakan sistem untuk mencatat pembelian barang


negara

5. Sistem akuntansi mata uang, sistem ini telah dilakukan oleh negara islam
sebelum abad ke 14 M

6. Sistem akuntansi peternakan merupakan sistem untuk mencatat seluruh


binatang ternak

7. Sistem akuntansi perbendaharaan merupakan sistem untuk mencatat


penerimaan dan pengeluaran harian negara baik dalam nilai atau barang

Pencatatan dalam negara islam telah memiliki prosedur yang wajib diikuti,
serta pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan atas aktivitas dan
menemukan surplus dan defisit atas pencatatan yang tidak seimbang. Jika ditemukan

9
kesalahan maka orang yang bertanggung jawab harus menggantinya. Hal ini
merupakan salah satu bentuk pengendalaian internal, penerapan prosedur audit serta
akuntansi berbasis pertanggungjawaban sendiri dimana allah mengetahui seluruh
pikiran dan perbuatan semua makhluk-Nya. Prosedur yang harus dilakukan adalah
sebagai berikut.

1. Transaksi harus dicatat setelah terjadi

2. Transaksi harus dikelompokkan berdasarkan jenisnya (nature)

3. Penerimaan akan dicatat di sisi sebelah kanan dan pengeluaran akan dicatat di
sebelah iri

4. Pembayaran harus dicatat dan diberikan penjelasan yang memadai di sisi kiri
halaman

5. Pencatatan transaksi harus dilakukan dan dijelaskan secara hati-hati

6. Tidak diberikan jarak penulisan di sisi sebelah kiri, da harus diberi garis
penutup

7. Koreksi atas transaksi yang telah dicatat tidak boleh dengan cara menghapus
atau menulis ulang

8. Jika akun telah ditutup, maka kana diberi tanda tentang hal tersebut

9. Seluruh transaksi yang dicatat di buku jurnal akan dipindahkan pada buku
khusu berdasarkan pengelompokan transaksi

10. Orang yang melakukan pencatatan untuk pengelompokan berbeda dengan


orang yang melakukan pencatatan harian

11. Saldo diperoleh dari selisih

12. Laporan harus disusun setiap bulan dan setiap tahun

13. Pada setiap akhir tahun, laporan yang disampaikan oleh Al Katebharus
menjelaskan seluruh informasi secara detail barang dan dana yang berada dibawah
wewenangya

10
14. Laporan tahunan yang disusun AL Kateb akan diperiksa dan dibandingkan
dengan tahun sebelumnya dan akan disimpan di Diwan Pusat

Dihubungkan dengan prosedur tersebut, terdapat beberapa istila sebagai berikut.

1. Al-Jaridah merupakan buku untuk mencatat transaksi yang dalam bahasa arab
berarti koran atau jurnal. Istilah ini pertama kalli disebut oleh Al-Mazendarany
(1363) dan Ibnu Khaldun (1378), dan al-jaridah ini perlu di-cap dengan stempel
sultan. Al-Jaridah sendiri telah ada ketika masa Daulah Bani Umayyah dan
dikembangkan ketka Daulah Bani Abbasiyah, dengan beberapa bentuk jurnal khusus
(Lasheen 1973), seperti berikut ini.

Jaridah Al-Kharaj, digunakan untuk berbagai jenis zakat seperti pendapatan


yang berasal dari tanah, tanaman dan binatang ternak.
Jaridah Annafakat, digunakan untuk mencatat jurnal pengeluaran.
Jaridah Al-Maal, digunakan untuk mencatat jurnal pendanaan yang berasal
dari penerimaan dan pengeluaran zakat.
Jaridah Al-Musadereen, digunakan untuk mencatat jurnal pendanaan khusus
berupa perolehan dana dari individu yang tidak harus taat dengan hukum
islam seperti : orang nonmuslim. Al Jaridah ini dibawah Diwan Al-
Musadereen.

2. Daftar Al Yaumiyah (Buku Harian/dalam bahsa Persia dikenal dengan nama :


Ruznamah) Daftar sendiri didefinisikan sebagai a stiched or bound booklet, or
register, more especially an account or letter-book used in administrative offices
(Siswantoro, 2003). Daftar tersebut digunakan sebagai dasar untuk pwmbuatan Ash-
Shahed (jurnal voucher). Jurnal voucher merupakan tanggung jawab al kateb dan
disetujui oleh pimpinan Diwan dan Menteri. Setelah itu baru dapat digunakan dan
dicatat. Jika membutuhkan maka copy dari ash-shahed akan dikirim ke pusat dan
dapat digunakan sebagai dasar untuk pemeriksaan.

Bentuk umun dari Daftar diantaranya adalah sebagai berikut.

11
1. Daftar Attawjihat : Buku yang digunakan oleh mencatat anggaran
pembelanjaan. Baik berbentuk Mukarriyah (anggaran operasional) maupun
Itlakiyah (anggaran untu pos diskresi dan raja)
2. Daftar Attahwilat: Buku yang untuk mencatat keluar masuknya dana antara
wilayah dan pusat pemerintahan.

Al-Khawarizmy membagi beberapa jenis daftar (Siswantoro, 2003) sebagai berikut.

1. Kaman al-kharadj yang merupakan dasar-dasar survei


2. Al-Awardj menunjukkan daftar utang per individu beserta daftar pembayaran
cicilan.
3. Al-Ruznamadj atau buku harian yaitu melakukan pencatatan untuk
pembayaran dan penerimaan setiap hari
4. Al-Khatma merupakan laporan pendapatan dan pengeluaran per bulan.
5. Al-Khatma Al-Djamia merupakan laporang tahunan.
6. Al-Taridj merupakan tambahan catatan untuk menunjukkan kategori secara
keseluruhan
7. Al-Arida merupakan 3 kolom jurnal yang totalnya terdapat diklom ketiga.
8. Al-Baraa merupakan penerimaan pembayaran dari pembayar pajak
9. Al-Muwafaka wal-djamaa merupakan akuntansi yang komprehensif
disajikan oleh amil. Apabila hasilnya benar maka ditandatangani oleh
muwafaka, sedangkan apabila terdapat perbedaan disebut dengan muhasaba

Sedangkan orang yang memperkenalkan istilah daftar kepada tentara adalah Abu
Muslin yang pada akhirnya menjadi pedoman di masa dinasti Abbasiyah. Namun
demikian, ada perbedaan dengan sistem reguler yang diusulkan oleh Al-
Khawarizmy. Pembagian akuntansi untuk kantor militer (diwan al-djaysh), Al
Khawarizmy membagi menjadi :

1. Al-Djarida Al-Sawda, merupakan daftar nama prajurit, silsilah, asal suku dan
deskripsi fisik yang selalu disiapkan setiap tahun.
2. Radja merupakan daftar permintaan yang dikeluarkan oleh muti (pimpinan)
untuk tentara tertentu didaerah terpencil.
3. Al-Radja Al Djamia merupakan permintaan umum yang dikeluarkan oleh muti
untuk akun umum (tama)
4. Al-Sakk, permintaan persediaan untuk akun umum yang menunjukkan
pembayaran dengan nomor dan jumlah serta tanda dari pihak yang memiliki
otoritas.

12
5. Al-Mudmara,, permintaan persediaan yang dikeluarkan selama periode akun
umum.
6. Al-Istikrar, merupakan persediaan yang dikeluarkan selama periode akun umum.
7. Al-Muwasafa, adalah daftar yang menunjukkan lingkungan dan penyebab
terjadinya perubahan pada lingkungan.
8. Al-Djarida Al-Musadjadjala adalah register yang tersegel.
9. Al-Fihrist, adalah daftar persediaan yang terdapat pada Diwan
10. Al-Dastur, copy umum atas beberapa draft.

3. Beberapa jenis laporan keuangan di antaranya :

Al-Khitmah : Merupakan laporan yang dibuat setiap akhir bulan yang


menunjukkan total penerimaan dan pengeluaran. Al-Khitmah dalam bahasa
aranb berarti: lengkap atau akhir, dan dapat juga disiapkan untuk akhir tahun.
Al khitmah walauopun biasa digunakan untuknlaporan bulanan pemerintah
juga biasa digunakan oleh para pedagang muslim dengan tujuan untuk
nmengetahui besarnya keuntungan sebagai dasar perhitungan zakat.
Al Khitmah Al Jameeah : Merupakan laporan yang disiapkan oleh Al Khateb
tahunan dan diberikan kepada atasannya (biasa disebut Al Mawafaka
Penerima) berisi : pendapatan,beban, dan surplus /defisit setiap akhir tahun.
Al Khitmah Al Jameeah dalam bahasa Arab berarti laporan akhir yang
lengkap.
Bentuk Al Khitmah Al Jameeah (Lasheen, 1973) Adalah sebagai berikut

Al Khitmah Al Jameeah
Untuk Penerimaan dan Pengeluaran
Selama Periode Muharram s.d. Dzulhijjah Tahun ....... H

Disiapkan oleh Dibantu oleh Diperiksa oleh Disetujui oleh


Sumber Dana
Pendapatan pada Periode Berjalan
b. Pajak dari Sejak Tanggal.................... xxxx
c. Pendapatan Lain
xxxx
Sub Total
xxxx

13
Ditambah
a. Sisa dari periode yang lalu
xxxx
b. Penjualan xxxx
c. Rekonsilliasi dan Denda xxxx
d. Pinjaman xxxx
e. Pemindahan Dana
xxxx
f. Tagihan yang tidak dapat tertagih
xxxx
Al Fadalakah (Total)
xxxx
Penggunaan Dana
a. Transfer ke Diwan lain xxxx
b. Pembelian yang dilakukan Diwan
xxxx
c. Beban lain xxxx
(xxxx)
Al Haseel (Saldo)
xxxx

Bentuk perhitungan dan laporan zakat akan dikelompokkan padaa laporann


keuangan terbagi dalam tiga kelompok, yaitu :

Ar-Raj Minal Mal (yang dapat tertagih)


Ar-Munkasir Minal Mal (Piutang tidak tertagih) dan
Al- Mutadhir Wal Mutahayyer Wal Mutaakkid (piutang yang sulit dan
piutang bermasalah sehingga tidak tertagih).

Penerapan akuntansi pada waktu itu tidak terepas sistem perdagangan yang
dikenal dengan konsep mudharabah. Perintah syariah yang termaktub dalam (QS
2:282), mewajibkan pencatatan dan pemeriksaan (praktik akuntansi dan audit)
dengan baik dan benar, (QS 11:85) yang mewajibkan muslim untuk melakukan
proses penakaran atau timbangan dengan benar, yang pada prinsipnya sesuai
dengan prinsip-prinsip akuntasni yaitu reability dan verifiability serta untuk
tujuab perhitungan zakat.

14
Pada perhitungan zakat, utuang diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan
kemampuan bayar, yaitu :

a. Arraej Minal Mal (collectible debts)


b. AlMunkase Minal Mal (Uncollectible debts)
c. Al Mutaadher wal Mutahayyer (complicated atau doubtful debts)

2.5 Prinsip Umum Akuntansi Syariah


Dalam system akuntansi terdapat nilai pertanggungjawaban, keadilan, dan
kebenaran.ketiganya menjadi prinsip dasar yang universal. sedikit uraian ketiga
prisip tersebut terdapat dalam Al-quran surat Albaqarah:282:

a. Prinsip Pertanggungjawaban
Prinsip Pertanggungjawaban (accountability) merupakan konsep yang tidak asing
lagi yang berkaitan dengan konsep amanah. Implikasi dalam bisnis dan akuntansi
adalah bahwa individu yang terlibat dalam praktik bisnis harus selalu melakukan
pertanggungjawaban apa yang diamanatkan dan diperbuat kepada pihak terkait.

b. Prinsip keadilan
Prinsip keadilan tidak hanya merupakan nilaiyang sangat penting dalam etika
kehidupan sosialdanbisni, tetapi juga merupakan nilaiyang secara inheren melekat
dalam fitra manusia.berarti manusia memiliki kapasitas dan energy untuk berbuat
adil dalam setiap aspek kehidupan.

c. Prinsip kebenaran
Prinsip kebenaran tidak bisa di pisahkan dari prinsip keadilan karena aktivitas ini
akan dapat dilakukan dengan baik apabila dilandaskan pada nilai kebenaran.
Kebenaran ini dapat menciptakan keadilan dalam mengakui, mengukur, dan
melaporkan transaksi-transaksi ekonomi.

2.6 Hubungan Akuntansi Modern dan Akuntansi Islam


Perkembangan ilmu pengetahuan termasuk system pencatatan pada zaman
dinasti abbaslah (750-1258 M) sudah sedemikian maju, sementara pada kurun waktu
yang hampir bersamaan. Eropa masih berada dalam periode the dark age dari sini,
kita dapat melihat hubungan antara luca paciolli dan akuntansi islam. Pada tahun

15
1429 M angka dilarang digunakan oleh pemerintah italia. Luca paciolli selalu tertarik
untuk belajar tentang hal tersebut serta belajar dari alberti seorang ahli matematika
yang belajar dari pemikir arab dan selalu menjadikan karya pisah sebgai rujukan.
Alasan teknis yang mendukung hal tersebut adalah : luca paciolli mengatakan
bahwa setiap transaksi harus dicatat dua kali disisi sebalah kredit dan disisi sebelah
debit. Dengan kata lain bahwa pencatatan harus diawali dengan menulis sebelah
kredit dan di sebelah debit. Penelitian tentang sejarah dan perkembangan akuntansi
memang perlu di kaji lebih dalam lagi mengingat masih dipertanyakan bukti-bukti
otentik/langsung tentang hal tersebut bagaimana diungkapkan oleh napier.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Akuntansi bukanlah suatu profesi baru, dalam bentuk yang sangat sederhana
telah dilakukan pada zaman sebelum masehi. Luca Piciolli dengan bukunya tahun
1494 M dengan bukunya: Summa de Arithmetica Geometri Proporsionalita (A
Review of Arithmetic, Geometry and Proportions) pada tahun 1494 Mmenerangkan
mengenai double entry book keeping sehingga ditetapkan sebagai penemu akuntansi
modern.
Lahirnya sebuah paradigma dapat dipahami sebagai bagian dari siklus hukum
tuhan (sunnatullah). Akuntansi modern mulai dipertanyakan dan diragukan
kesahihannya. Dimasa yang akan datang akuntansi modern tidak menutuyp
kemungkinan akan diganti oleh akuntansi alternatif, yaitu Akuntansi Syariah, yang
sudah tampak sebagai bayi yang baru lahir.
Akuntansi syariah memiliki tujuan alternatif yang ideal, yaitu: menciptakan
realitas tauhid. Realitas ini adalah realitas sosial yang mengandung jaringan kuasa

16
ilahi yang mengikat dan memilin kehidupan manusia dalam ketundukkan pada
tuhan. Untuk sampai pada tujuan ini diperlakukan instrument untuk membangun dan
menbentuk Akuntansi Syariah, yaitu dengan cara epistemologi dan metodologi
syariah.

3.2. Saran
Telah jelas bagi kita, bahwa akuntansi merupakan sesuatu yang bermanfaat
dalam kehidupan kita. Utamanya dala kehidupan ekonomi dan bisnis. Dilihat dari
perkembangannya, memang bnyak hal yang perlu disesuaikan, seiring dengan
perubahan masyarakat yang sedang berubah. Kendatipun harus memelihara harus
memelihara dan mempertahankan sifat tehnisnya dalam memberikan informasi yang
relevan dan terpercaya. Oleh karena itu, implikasi akuntansi secara bertanggung
jawab, adil dan benar merupakan nilai yang essensial dalam akuntansi dan kedua
model akuntansi syariah, yaitu: akuntansi filosofis-teoritis dan akuntansi syariah
praktis, keduannya dapat berjalan seiring sejalan yang secara positif dapat kita
pandang sebagai proses pengayaan (enrichment) pada perbendaharaan akuntansi
syariah

DAFTAR PUSTAKA

Amir, Baso. 2009. Sejarah Perkembangan Akuntansi Syariah. Online: himasi.blogspot.com


Muhammad. 2008. Pengantar Akuntansi Syariah. Jakarta: Salemba Empat.
Nurhayati, Sri dan Wasilah. 2009. Akuntansi Syariah Di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.
Soedjais, Zaenal, dkk. 2008. Akuntansi Syariah Apa yng ditakutkan. Jakarta; Akuntansi
Indonesia.
Suwiknyo, Dwi. 2007. Teori Akuntansi Syariah di Indonesia. La Riba Jurnal Ekonomi Islam.

17
18