Está en la página 1de 53

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Administrasi Pendidikan
1. Pengertian Administrasi
Memahami administrasi pendidikan secara keseluruhan, maka perlu

terlebih dahulu membahas titik awal pengertian tersebut, yaitu

administrasi. Pengertian dasar tentang administrasi itu akan merupakan

tumpuan pemahaman administrasi pendidikan seutuhnya. Secara

sederhana administrasi itu berasal dari kata latin ad dan ministro. Ad

mempunyai arti kepada dan ministro beraarti melayani. Secara bebas

dapat diartikan bahwa administrasi itu merupakan pelayanan atau

pengabdian terhadap subjek tertentu. Administrasi dalam arti sempit

adalah aktivitas ketatausahaan, berupa penyusunan dan pencatatan

keterangan yang diperoleh secara sistematis.


Administrasi dalam arti luas yaitu upaya mencapai tujuan secara

efektif dan efisien dengan memanfaatkan orang-orang dalam suatu pola

kerjasama. Identik dengan organisasi yaitu sistem kerjasama antara dua

orang atau lebih yang secara sadar dimaksudkan untuk mencapai tujuan.

Sub sistem dari organisasi itu sendiri, dengan unsur, tujuan, orang-orang,

sumber dan waktu. Upaya agar semua unsur organisasi bisa berfungsi

secara efektif dan efisien, produktif dan optimal. Pendidikan adalah usaha

sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia, baik

di dalam maupun di luar sekolah.

2. Ruang Lingkup Administrasi Pendidikan


Cakupan administrasi pendidikan tidak hanya sekedar administrasi

sekolah atau administrasi pembelajaran. Pandangan demikian adalah

7
pandangan yang sempit. Administrasi pendidikan lebih luas dari itu,

meskipun muara semua kebijakannya adalah sekolah atau satuan

pendidikan pada semua jenjang dan jenis. Jadi administrasi pendidikan ada

pada tataran pengambil kebijakan dan pada tataran satuan pendidikan.

Administrasi pendidikan pada tataran pemerintah baik pusat maupun

daerah berkaitan dengan anggaran pendidikan, standar kurikulum, standar

ketenagaan, akreditasi sekolah, dan pelayanan kebutuhan sekolah sebagai

pendidikan formal maupun pendidikan non formal yaitu pendidikan luar

sekolah serta pendidikan kedinasan. Administrasi pendidikan pada satuan

pendidikan berkaitan dengan penerapan teori-teori pendidikan dalam

pelayanan belajar, teknik-teknik konseling belajar, manajemen sekolah,

dan semua kegiatan yang mendukung dan memperlancar aktivitas-aktivitas

satuan pendidikan untuk mencapai tujuan.


Ruang lingkup administrasi dapat pula ditinjau dari bidang

garapannya. Administrasi pendidikan dalam operasionalnya memiliki

bidang garapan yaitu program pendidikan, murid atau peserta didik,

personil lembaga pendidikan, kantor dan fasilitas lembaga pendidikan,

keuangan lembaga pendidikan, pelayanan bantuan lembaga pendidikan,

hubungan lembaga dan masyarakat.


Ruang lingkup materi kajian administrasi pendidikan.bersumber

dari pemikiran bawa sekolah merupakan suatu sistem sosial. Sekolah

sebagai sistem sosial memiliki empat elemen atau subsistem penting,

yaitu struktur, individu, budaya, dan politik. Perilaku organisasi

merupakan fungsi dari interaksi elemen-elemen ini dalam konteks

pengajaran dan pembelajaran. Lingkungan juga merupakan aspek penting

8
dari kehidupan organisasi; lingkungan tidak hanya menyediakan sumber

bagi sistem tersebut tetapi juga menyediakan kendala dan peluang lainnya.
3. Unsur unsur Administrasi
a. Manajemen keuangan perguruan tinggi
b. Manajemen Kurikulum perguruan tinggi
c. Manajemen kesiswaan perguruan tinggi
d. Manajemen personalia perguruan tinggi
e. Sarana - prasarana perguruan tinggi
f. Layanan khusus perguruan tinggi
g. Hubungan perguruan tinggi dengan masyarakat

B. Manajemen Kurikulum
1. Pengertian Kurikulum
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan

mengenai isi bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman

untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar. Kurikulum dipandang

sebagai program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk

mencapai tujuan pendidikan. Apabila masyrakat dinamis, kebutuhan anak

didik pun akan dinamis sehingga tidak terasing dalam masyarakat. Sebab,

masyarakat berubah berdasarkan kebutuhan.


Kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan

pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara

penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman

penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi. (Pasal 1

Butir 6 Kemendiknas No.232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan

Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa).


2. Komponen Kurikulum
Merujuk pada fungsi kurikulum dalam proses pendidikan yang

menjadi alat mencapai tujuan pendidikan, sebagai alat pendidikan

kurikulum mempunyai komponen-komponen penunjang yang saling

mendukung satu sama lain. Para pemiikir pendidikan mempunyai ragam

dalam menentukan jumlah komponen tersebut, meskipun pada dasarnya

9
pemahaman dan pengertiannya hampir sama. Menurut Subhandijah (2013)

membagi komponen kurikulum kedalam tujuan, isi atau materi, organisasi

atau strategi media dan komponen proses belajar mengajar.


a. Komponen Tujuan
Tujuan merupakan hal paling penting dalam proses pendidikan

meliputi tujuan domain kognitif, domain efektif dan domain

psikomotor. Domain kognitif adalah tujuan yang diinginkan yanga

mengarah pada pengembangan akal dan intelektual anak didik,

sedangkan tujuan domain psikomotor adalah tujuan yang mengarah

pada keterampilan jasmani anak didik. Tujuan yang ada secara integral

dalam rangka memperoleh lulusan (output) pendidikan yang relevan

dengan tujuan pendidikan nasional. Jika dibuat secara berurutan,

tujuan pendidikan tersebut adalah sebagai berikut.


b. Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan pendidikan yang paling

tinggi dalam hoerarki tujuan-tujuan pendidikan yang ada, yang

bersifat ideal dan umum yang dikaitkan dengan falsafah Pancasila.

Menurut undang-undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan

Naisonal, tujuan pendidikan Nasional adalah untuk menciptakan

manusia Indonesia yang beriman, bertakwa terhadap Tuhan Yang

Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan

keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang

mantap, mandiri dan memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan

dan kebangsaan.
c. Tujuan Institusional
Tujuan institusional merupakan tindak lanjutdari tujuan pendidikan

nasional. Sistem pendidikan Indonesia memiliki jenjang yang

10
melembaga pada suatu tingkatan. Tiap lembaga memiliki suatu tujuan

pendidikan yang disebut tujuan institusional. Keberadaan tujuan

pendidikan mesti menggambarkan kelanjutan dan memiliki relevansi

yang kuat dengan tujuan pendidikan. Keberadaan tujuan pendidikan

mesti menggambarkan kelanjutan dan memiliki relevansi yang kuat

dengan tujuan pendidikan nasional.


1) Komponen Isi dan Struktur Program/Materi
Komponen isi dan struktur program/materi merupakan materi yang

diprogramkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah

ditetapkan. Isi dan materi yang dimaksud biasanya berupa materi

bidang studi. Bidang studi tersebut disesuaikan dengan jenis,

jenjang dan jalur pendidikan yang ada dan bidang studi tersebut

biasanya telah dicantumkan atau dimuatkan dalam struktur

program kurikulum suatu sekolah.


2) Komponen Media/Sarana-Prasarana
Media merupakan saran-prasarana dalam mengajar. Sarana dan

prasarana atau media merupakan alat bantu untuk memudahkan

dalam mengaplikasikan isi kurikulum agar lebih mudah dimengerti

oleh anak didik dalam proses belajar mengajar.


3) Komponen Strategi Belajar Mengajar
Dalam proses belajar mengajar, seorang pendidik perlu memahami

suatu strategi. Strategi menunjuk pada suatu pendekatan metode

dan peralatan mengajar yang diperlukan dalam pengajaran. Strategi

pengajaran lebih lanjut dapat dipahami sebagai cara yang dimiliki

oleh seorang pendidik dalam proses belajar mengajar.


4) Komponen Proses Belajar Mengajar
Komponen ini tentunya sangatlah penting dalam proses pengajaran

atau pendidikan. Tujuan akhir dari proses belajar mengajar adalah

11
terjadinya perubahan dalam tingkah laku anak. Komponen ini juga

punya kaitan erat dengan suasana belajar di ruangan kelas maupun

di luar kelas. Berbagai upaya pendidik untuk menumbuhkan

motivasi dan kreativitasan dalam belajar, baik didalam kelas

maupun individual (diluar kelas) merupakan suatu langkah yang

tepat.
5) Komponen Evaluasi/Penilaian
Untuk melihat sejauh mana keberhasilan dalam pelaksanaan

kurikulum, diperlukan evaluasi. Mengingat komponen evaluasi

berhubungan erat dengan komponen lainnya, cara penilaian atau

evaluasi ini akan menentukan tujuan kurikulum, materi atau bahan

serta proses belajar mengajar.


3. Jenis-jenis kurikulum
Dalam menyusun kurikulum, sangatlah tergantung pada asas

organisatoris, yaitu bentuk penyajian bahan pelajaran atau organisasi

kurikulum. Berikut ini adalah tiga pola organisasi atau jenis-jenis

kurikulum.
a. Separated Subject Curriculum
Kurikulum ini dipahami sebagai kurikulum mata pelajaran yang

terpisah satu sama lainnya. Kurikulum mata pelajaran terpisah

berarti kurikulumnya dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-

pisah yang kurang mempunyai keterkaitan dengan mata pelajaran

lainnya. Konsekuensinya, anak didik harus semakin banyak

mengambil mata kuliah. Tyler dan Alexander menyebutkan bahwa

jenis kurikulum ini digunakan dengan school subject. Hingga saat

ini kurikulum jenis ini masih banyak didapatkan di berbagai

lembaga pendidikan. Kurikulum ini terdiri dari mata-mata

12
pelajaran yang tujuan pelajarannya adalah ank didik harus

menguasai bahan dari tiap-tiap mata pelajaran yang telah

ditentukan secara logis, sistematis dan mendalam. Kurikulum mata

pelajaran dapat menetapkan syarat-syarat minimum yang harus

dikuasai anak sehingga anak didik bisa naik kelas.


b. Correlated Curriculum
Kurikulum jenis ini mengandung makna bahwa sejumlah mata

pelajaran dihubungkan antara yang satu dengan yang lain sehingga

ruang lingkup bahan yang tercakup semakin luas. Masih banyak

cara lain menghubungkan pelajaran dalam kegiatan kurikulum.

Korelasi tersebut dengan memerhatikan tipe korelasinnya yaitu

sebagai berikut.
1) Korelasi okasional/insedental, maksudnya korelasi didasarkan

secara tiba-tiba atau insedental. Misalnya, pada pelajaran

sejarah dapat dibicarakan tentang geografi dan tumbuh-

tumbuhan.
2) Korelasi etis, yang bertujuan mendidik budi pekerti sehingga

konsentrasi-konsentrasi pelajarannya dipilih pendidikan agama.

Misalnya, pada pendidkan agama itu dbicarakan cara-cara

menghormati tamu, orang tua, tetangga, kawan dan lain

sebagainya.
3) Korelasi sistematis. Korelasi ini biasanya direncanakan oleh

guru. Misalnya, bercocok tanam padi dibahas didalam geografi

dan ilmu tumbuh-tumbuhan.


c. Broad Fields Curriculum
Tylor dan Alxander (2011) menyebutkan dengan sebutan The

Broad Field of Subject Matter, Broad Fields menghapuskan batas-

batas dan menyatukan mata pelajaran (subject matter) yang

13
berhubungan dengan erat. Hilda Taba mengatakan bahwa the

Broad Fields curriculum is essentialy an effort to automatization of

curriculum adalah usaha meningkatkan kurikulum dengan

mengkobinasikan beberapa mata ajar). Sebagai contoh, sejarah,

geografi, ilmu ekonomi dan ilmu politik disatukan menjadi Ilmu

Pengetahuan Sosial (IPS). Soetopo mengemukakan bahwa

keunggulan kurikulum broad field adalah adanya kombinasi mata

pelajaran sehingga manfaatnya akan semakin dirasakan dan

memungkinkan adanya mata pelajaran yang kaya akan pengertian

dan mementingkan prinsip dasar serta generalisasi (Abdullah,

2013). Sedangkan kelemahannya hanya memberikan pengetahuan

secara sketsa, abstrak dan kurang logis dari suatu mata pelajaran.
d. Integrated Curriculum
Kurikulum terpadu merupakan suatu produk dari usaha

pengintegrasian bahan pelajaran dari berbagai macam pelajaran.

Integrasi diciptakan dengan memusatkan pelajaran pada masalah

tertentu yang memerlukan solusinya dengan materi atau bahan

berbagai disiplin atau mata pelajaran. Integrated Curriculum

mempunyai ciri yang sangat fleksibel dan tidak menhendaki hasil

belajar yang sama dari semua anak didik, guru, orang tua dan anak

didik merupakan komponen-komponen yang bertanggung jawab

dalam proses pengembangannya. Disisi lain kurikulum ini

mengalami kesulitan bagi peserta didik terutama apabila dipandang

dari ujian atau tes akhir atau masuk uniform. Sebagai persiapan

14
studi pergururan tinggi yang memerlukan pemeikiran logis dan

sistematis, kurikulum inia akan mengalami kekakuan


4. Peranan Kurikulum
Kurikulum sebagai program pendidikan yang telah direncanakan

secara sistematis mengemban peranan sebagai berikut :


a. Peranan Konservatif
Salah satu tanggung jawab kurikulum adalah mentransmisikan dan

menafsirkan warisan sosial kepada generasi muda. Dengan

demikian sekolah sebagai suatu lembaga sosial dapat

mempengaruhi dan membina tingkah laku para siswa dengan

nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat, sejalan dengan

peranan pendidikan sebagai suatu proses sosial. Karena pendidikan

itu sendiri pada hakekatnya berfungsi pula menjembatani antara

siswa dengan orang dewasa di dalam proses pembudayaan yang

semakin berkembang menjadi lebih kompleks, dan disinilah

peranan kurikulum turut membantu proses tersebut.


b. Peranan Kritis / Evaluatif
Kebudayaan senantiasa berubah dan institusi pendidikan tidak

hanya mewariskan kebudayaan yang ada, melainkan juga menilai,

memilih unsur-unsur kebudayaan yang akan diwariskan. Dalam hal

ini, kurikulum turut aktif berpartisipasi dalam kontrol sosial dan

menekankan pada unsur berpikir kritis. Niali nilai sosial yang

tidak sesuai lagi dengan keadaan masa mendatang dihilangkan dan

diadakan modifikasi dan perbaikan, sehingga kurikulum perlu

mengadakan pilihan yang tepat atas dasar kriteria tertentu.


c. Peran Kreatif,
Kurikulum melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dan konstruktif,

dalam arti mencipta dan menyusun sesuatu yang baru sesuai

15
dengan kebutuhan masa sekarang dan masa yang akan datang

dalam masyarakat. Guna membantu setiap individu

mengembangkan semua potensi yang ada padanya, maka

kurikulum menciptakan pelajaran, pengalaman, cara berpikir,

kemampuan dan keterampilan yang baru yang dapat bermanfaat

bagi masyarakat.
5. Fungsi Kurikulum.
Secara umum fungsi kurikulum adalah sebagai alat untuk membantu

peserta didik untuk mengembangkan pribadinya ke arah tujuan

pendidikan. Menurut Alexander Inglis, fungsi kurikulum meliputi :


a. Fungsi Penyesuaian, karena individu hidup dalam lingkungan ,

sedangkan lingkungan tersebut senantiasa berubah dan dinamis,

maka setiap individu harus mampu menyesuaikan diri secara

dinamis. Dan di balik lingkungan pun harus disesuaikan dengan

kondisi perorangan, disinilah letak fungsi kurikulum sebagai alat

pendidikan menuju individu yang well adjusted.


b. Fungsi Integrasi, kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi

yang terintegrasi. Oleh karena individu itu sendiri merupakan

bagian integral dari masyarakat, maka pribadi yang terintegrasi itu

akan memberikan sumbangan dalam rangka pembentukan atau

pengintegrasian masyarakat.
c. Fungsi Deferensiasi, kurikulum perlu memberikan pelayanan

terhadap perbedaan-perbedaan perorangan dalam masyarakat. Pada

dasarnya deferensiasi akan mendorong orang berpikir kritis

dankreatif, dan ini akan mendorong kemajuan sosial dalam

masyarakat.

16
d. Fungsi Persiapan, kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar

mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk jangkauan yang lebih

jauh atau terjun ke masyarakat. Mempersiapkan kemampuan

sangat perlu, karena sekolah tidak mungkin memberikan semua

apa yang diperlukan atau semua apa yang menarik minat mereka.
e. Fungsi Pemilihan, antara keperbedaan dan pemilihan mempunyai

hubungan yang erat.Pengakuan atas perbedaan berarti pula

diberikan kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang

dinginkan dan menarik minatnya. Ini merupakan kebutuhan yang

sangat ideal bagi masyarakat yang demokratis, sehingga kurikulum

perlu diprogram secara fleksibel.


f. Fungsi Diagnostik, salah satu segi pelayanan pendidikan adalah

membantu dan mengarahkan para siswa agar mereka mampu

memahami dan menerima dirinya sehingga dapat mengembangkan

semua potensi yang dimiliki.Ini dapat dilakukan bila mereka

menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimiliki melalui

eksplorasi dan prognosa. Fungsi kurikulum dalam mendiagnosa

dan membimbing siswa agar dapat mengembangkan potensi siswa

secara optimal.
6. Prinsip Pengembangan Kurikulum
a. Relevansi
Dalam oxford advanced Dictionary of Current English, kata

relevansi atau relevan mempunyai arti (closely) connected with

what happening, yaitu kedekatan hubungan dengan apa yang

terjadi. Apabila dikaitkan dengan pendidikan, berarti perlunya

kesesuaian antara (program) pendidikan dengan tuntutan

kehidupan masyarakat. pendidikan dikatakan relvan bila hasil yang

17
diperoleh akan berguna bagi kehidupan seseorang. Soetopo (1993)

dan Subandijah (1993) dalam Abdullah (2013) mengungkapkan

sebagai berikut :
1) Pertama, relevansi pendidikan dengan lingkungan anak didik.

Relevansi ini memilih arti bahwa dalam pengembangan

kurikulum, termasuk alam menentukan bahan pengajaran,

hendaknya disesuaikan dengan kehidupan nyata anak didik.

Sebagai contoh, sekolah yang berada di perkotaan anak

didiknya ditawarkan hal yang aktual, seperti polusi pabrik, arus

perdagangan yang ramai, kamcetan lalu lintas dan lain-lain.


2) Kedua, relevansi pendidikan dengan kehidupannya yang akan

datang materi atau bahan yang diajarkan kepada anak didik

hendaklah memberi manfaat untuk persiapan masa depan anak

didik. Karenannya keberadaan kurikulum disini bersifat

antisipasi dan memiliki nilai prediksi secara tajam dan

perhitungan.
3) Ketiga, relevansi pendidikan dengan dunia kerja. Semua orang

tua mengaharapkan anaknya dapat bekerja sesuai dengan

pengalaman pendidikan yang dimilikinya. Begitu juga halnya

dengan anak didik, ia berharap agar dapat mandiri dan

memiliki sumber daya ekonomi yang pantas dengan modal

ilmu pengetahuannya. Karennya kurikulum dan proses

pendidikan tersebut sedapat mungkin dapat diorientasikan ke

dunia kerja, tentunya menurut jenis pendidikan sehingga

nantinya pengetahuan teoritik dari bangku sekolah dapat

diaplikasikan dengan baik dalam dunia kerja.

18
4) Keempat, relevansi pendidikan dengan ilmu pengetahuan.

Kemajuan pendidikan juga membuat maju ilmu pengetahuan

dan tekhnologi. Program pendidikan (kurikulum) hendaknya

mampu memeberi peluang pada ank didik untuk

mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, selalu

mengembangkannya dan tidak cepat berpuas diri, serta selalu

siap menjadi pelopor dalam penemuan dan pengmbangan ilmu

pengetahuan.
b. Efektivitas
Prinsip efektivitas yang dimaksud adalah sejauh mana perencanaan

kurikulum dapat dicapai sesuai dengan keinginan yang telah

ditentukan. Dalam proses pendidikan, efektivitasnya dapat dilihat

dari dua sisi.


1) Pertama, efektivitas mengajar pendidikan berkaitan dengan

sejauh mana kegiatan belajar mengajar yang telah direncanakan

dapat dilaksanakan dengan baik.


2) Kedua, efektivitas belajar anak didik, berkaitan dengan sejauh

mana tujuan-tujuan pelajaran yang diinginkan telah dicapai

melalui kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan.


Efektivitas belajar mengajar dalam dunia pendidikan

mempunyai keterkaitan erat antara pendidik dan anak didik.

Kepincangan salah satunya akan membuat terhambatnya

pencapaian tujuan pendidikan atau efektifitasnya proses belajar

mengajar tidak tercapai. Faktor pendidik dan anak didik serta

perangkat-perangkat lainnya yang bersifat operasional, sangat

penting dalam hal efektivitas proses pendidikan atau

pengembangan kurikulum

19
c. Efisiensi
Efisiensi proses belajar mengajar akan tercipta, apabila usaha,

biaya, waktu dan tenaga yang digunakan untuk menyelesaikan

program pengajaran tersebut sangat optimal dan hasilnya bisa

seoptimal mungkin, tentunya dengan pertimbangan yang rasional

dan wajar.
d. Kesinambungan
Prinsip kesinambungan dalam pengembangan kurikulum

emnunjukan adanya keterikatan antara tingkat pendidikan, jenis

program pendidikan dan bidang studi .


e. Fleksibilitas
Didalam kurikulum fleksibilitas dibagi menjadi dua macam.
1) Pertama, fleksibilitas dalam emilih program pendidikan.

Maksudnya, bentuk pengadaan program=program pilihan yang

dapat berbentuk jurusan, program spesialisasi ataupun program

pendidikan keterampilan yang dapat dipilih siswa atas dasar

kemampuan dan minatnya.


2) Kedua, flesibilitas dalam pengembangan program pengajaran.

Fleksibilitas disini maksudnya adalah dalam bentuk

memberikan kesempatan kepada para pendidik dalam

mengembangkan sendiri program-program pengajaran dengan

berpatok pada tujuan dan bahan pengajaran didalam kurikulum

yang masih bersifat umum.


f. Berorientasi tujuan
Prinsip berorientasi tujuan berarti bahwa sebelum bahan

ditentukan, langkah yang diperlu dilakukan oleh seseorang

pendidik adalah menentukan tujuan terlebih dahulu. Hal ini

dilakukan agar semua jam dan aktivitas pengajaran yang

dilaksanakan oleh pendidik maupun anak didik dapat betul-betul

20
teraarah kepada tercapainya tujuan pendidikan yang telah

ditetapkan (Abdullah,2003). Dengan adanya kejelasan tujuan,

pendidik diharapkan dapat menetukan secara tepat metode

mengajar, alat pengajaran dan evaluasi.

7. Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) adalah suatu konsep

kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan

(kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga

hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap

seperangkat kompetensi tertentu. Dengan demikian, implementasi

kurikulum dapat menumbuhkan tanggung jawab, dan partisipasi peserta

didik untuk belajar menilai dan mempengaruhi kebijakan umum (public

policy), serta memberanikan diri berperan serta dalam berbagai kegiatan,

baik di sekolah maupun dimasyarakat.

Kurikulum Berbasis kompetensi (KBK) diilhami dari kata

kompetensi. Menurut Nurhadi (2003:80) dasar pemikiran untuk

menggunakan konsep kompetensi dalam kurikulum adalah: 1) kompetensi

berkenaan dengan kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai

konteks ; 2) kompetensi menjelaskan pengalaman belajar yang dilalui

siswa untuk menjadi kompeten; 3) kompeten merupakan hasil belajar

yang menjelaskan hal-hal yang dilakukan siswa setelah melalui proses

pembelajaran.

Kompetensi merupakan sesuatu yang ingin dimiliki siswa dan

komponen utama yang harus dirumuskan dalam pembelajaran memiliki

21
peran penting harus menentukan arah pembelajaran. Kompetensi yang

jalas akan memberikan petunjuk yang jelas pula terhadap materi yang

dipelajari, penetapan metode dan media pembelajaran, serta member

petunjuk terhadap penilaian. Oleh karena itu setiap kompetensi harus

merupakan peroaduan dari pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai

dasar yang didefenisikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (jalan,

2001: 76).

Kompetensi yang dikuasai peserta didik perlu dinyatakan

sedemikian rupa agar dapat dinilai, sebagai wujud hasil belajar peserta

didik yang mengacu pada pengalaman langsung. Peserta didik perlu

mengetahui tujuan belajar dan tingkat-tingkat penguasaan yang akan

digunakan sebagai criteria pencapaian secara eksplisit, dikembengkan

berdasarkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, dan memiliki kontribusi

terhadap kompetensi-kompetensi yang sedang dipelajari. Penilaian

terhadap kompetensi perlu dilakukan secara objektif, berdasarkan kinerja

didik dengan bukti penguasaan mereka terhadap suatu kompetensi sabagai

hasil belajar.

Menurut Gordon (1988) dalam Mulayasa (2004:77) beberapa

aspek yang terkandung dalam konsep kompetensi adalah sebagai berikut:

Pengetahuan (knowledge) yaitu kesadaran dalam bidang kognitif;

a. Pemahaman (understanding), yaitu kedalam kognitif dan akfektif yang

dimiliki oleh indifidu;


b. Kemampuan (skill) adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk

melakukan individu tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya;

22
c. Nilai (value) adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan

secara phisikologis telah menyatu dalam diri seseorang;


d. Sikap (attitude) yaitu perasaan atau reaksi terhadap suatu rangsangan

yang datang dari luar ; dan


e. Minat (interest) adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan

sesuatu pekerjaan.

Dalam rumusan Depdiknas (2003) dikemukakan bahwa kurikulum

berbasis kompetensi (KBK) adalah pengembangn kurikulum yang bertitik

tolak dari kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh siswa setelah

menyelesaikan pendidikan yang meliputi pengetahuan, keterampilan, nilai

dan pola piker serta bertindak sebagai refleksi dari pemahaman dan

penghayatan dari apa yang dipelajari siswa (Rosyada, 2004: 48).

8. Karakteristik
Nurhadi (2003:99) menyatakan bahwa Kurikulum Berbasis

Kompetensi memeliki karateristik sebagai berikut :


a. Kurikulum Berbasis Kompetensi menekankan pada usaha pencapaian

kompetensi siswa, bukan hanya menguasai matari pelajaran.


b. Kurikulum dapat dikembangkan dan dieperdalam dan disesuikan

dengan potensi siswa.


c. Kurikulum Berbasis Kompetensi memusatkan pada siswa.
d. Berorientasi pada proses belajar mengajar dan output.
e. Pendekatan dan metode yang digunakan adalah berfariasi dan

kontekstual.
f. Guru bukan hanya menjadi sumber pengetahuan, siswa dapat belajar

dari berbagai sumber.


g. Teks book bukan hanya menjadi sumber belajar.
h. Pendidikan seumur hidup terdiri dari :
1) belajar bagaimana mengetahui
2) belajar bagaimana menjadi
3) belajar bagaimana berbuat
4) belajar bagaimana hidup bersama

23
Selanjutnya, dalam penyusunan silabus pembelajaran, sanjaya

(2005:26) mengemukakan komponen-komponen yang adadalam silabus

adalah:

a. kompetensi dasar, sebagai patokan oleh guru dalam mengelola

pembelajaran
b. hasil belajar, merupakan gambaran kemauan siswa dalam memenuhi

suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam kompetensi dasar


c. indicator, merupakan kompetensi dasar yang lebih spesifik
d. langkah pembelajaran, memuat rangkayan kegiatan yang harus

dilakukan guru secara berurutan untuk mencapai target yang harus

dicapai
e. Alokasi waktu, untuk mempelajari suatu materi pelajaran
f. Sarana dan sumber belajar

Penilaian, merupakan serangkaian kegiatan untuk mempeoleh,

menganalisis dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar yang

dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan.

9. Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi


Kurikulum tidak hanya sekedar instruksi pembelajaran yang

disusun oleh pemerintah untuk diterapkan disekolah masing-masing. Salah

satu unsure penting dalam menerapkan KBK sangat tergantung pada

pemahaman guru untuk menarapkan strategis pembelsjaran kontekstual

didalam kelas. Akan tetapi, fenomena yang ada menunjukan sedikitnya

pemahaman guru mengenai strategi ini. Oleh karena itu diperlukan suatu

model pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kontekstual yang

mudah dipahami dan mudah diterapkan dikelas secara sederhana.

24
Dalam kurikulum berbasis kompetensi, guru dapat menggunakan

strategi pelajaran kontekstual dengan memperhatikan beberapa

hal,menurut Nurhadi (2003) antara lain:

a. Pembelajaran berbasis masalah


Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, siswa lebih

dahulu diminta untuk berovserfasi suatu fenomena terlebihdahulu.

Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan

yang muncul. Setelah itu, tugas guru adalah merangsang siswa untuk

berfikir kritis untuk memecahkan suatu masalah.


b. Manfaat siswa untuk memperoleh pengalaman belajar
Guru member penguasaan yang dapat dilakukan diberbagai konteks

lingkungan siswa antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat.

Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi

siswa untuk belajar diluar kelas.


c. Memberi aktifitas kelompok
Aktifitas kelompok secara dapat memperluas perspektif serta

membangun kecakapan intektual untuk berhubungan dengan orang

lain. Maka guru dapat menyusun kelompok yang terdiri dari tiga, lima,

maupun delapan siswa sesuai dengan tingkat kesilitan penugasan.


10. Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Salah satu inti pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK)

adalah sekolah dibebaskan untuk mengembangkan kurikulum, namun

tetap berpedoman pada kurikulum standar yang disusun oleh Depdiknas.

Menurut Mulyasa (2002:95) garis besar penerapan kurikulu

berbasis kompetensi mencakup dua kegiatan pokok, yaitu: pengwnbangan

program, dan pelaksanaan pembelajaran,

a. Perencanaan Pembelajaran

25
Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) mencakup

Pencakup program tahunan, program semester, program modul(pokok

bahasan), program mingguan dan tahunan.


1) Program tahunan
Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran

untuk setip kelas, yang dikembangkan oleh guru mata pelajar.


2) Program semester
Program ini berisikan garis-garis mengenai hal-hal

yang hendak dilaksanakan dan ingin dicapai dalam semester

tersebut.
3) Program modul
Program ini atau pokok bahasan pada umunya dikembangkan

disetiap kompetensi dan pokok bahasan yang akan disampaikan.


4) Program mingguan dan harian
Program ini merupakan penjabaran dari program semester dan

program modul. Melelui program ini dapat diketahui tujuan-tujuan

yang telah dicapai dan yang perlu diulang bagi setiap peserta didik.
5) Program pengayaan remedial
Program ini merupakan pelengkap dari program mingguan dan

harian. Berdasarkan hasil analisis terhadap kegiatan beljar, dan

terhadap tugas-tugas modul, hasil tes dapat di peroleh tingkat

kemampuan belajar setiap peserta didik.


b. Pelaksanaan Pembelajaran
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara

peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan

prilaku kea rah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali

factor yang mempengaruhi, baik factor internal yang datang dari

individu, maupun factor eksternal yang datang dari lingkungan.


Menurut Mulyasa (2004) dalam Kurikulum Berbasis

Kompetensi adalah sebagai berikut.

1) Kegiatan awal atau pembukaan

26
Kegiataan awal atau pembukaan pembelajaran berbasis kompetensi

mencakup pembinaan keakrabaan dan pre tes (tes awal). Tahap

pembinaan keakraban bertujuan untuk mengkondisikan para

peserta didik siap melakukan kegiatan belajar.


2) Kegiatan inti atau pembentukan kompetensi
Kegiatan ini antara lain mencakup penyampaian informasi tentang

bahan belajar, membahas materi standar untuk memperoleh

kompetensi peserta didik, serta melakukan tukar pengalaman dan

pendapat dalam membahas materi standar atau memecahkan

masalah yang di hadapi bersama.


3) Kegiatan akhir atau penutup
Pada umumnya pembelajaran akhir dengan post test, sama dengan

pre tes, post tes juga memiliki banyak kegunaan, terutama dalam

mengukur keberhasilan pembelajaran.


c. Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi hasil belajar dalam implementasi kurikulum berbasis

kompetensi dilakukan dengan nilai kelas, tes kamampuan dasar,

penilayan akhir suatu pendidikan,sertifikasi dan penilaian program.


1) Penilaian kelas
Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum

dan ujian akhir. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses

pembelajaran dalam bahasan dan kompetensi tertentu, ulangan

harian minimal dilakukan tiga kali dalam setiap semester.


2) Tes Kemampuan Dasar
Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan

membaca, menulis, dan menghitung yang diperlukan dalam rangka

memperbaiki program pembelajaran (program remedial). Tes

kemampuan dilakukan minimal sekali dalam setahun.


3) Penilaian akhir suatu pendidikan dan sertifika

27
Pada setiap akhir semester dan tahun pelajaran dilakukan kegiatan

penilaian guna mendapatkan gambaran secara utuh dan

menyeluruh mengenai ketuntasan peserta didik dalam suatu waktu

tertentu.

11. Kurikulum Berbasis Inti

a. Pengertian Kurikulum Inti (Core Curriculum)

Menurut Caswell, seperti dikutip dalam Nasution (1993: 115),

definisi kurikulum inti adalah sebagai berikut : "A continous, careful

planned series of experience which are based on significant personal

and social problems and which involve learning of common concern to

all youth".

Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri

kurikulum inti adalah:

1) Kurikulum inti merupakan rangkaian pengalaman yang saling

berkaitan
2) Direncanakan secara terus menerus sebelum dan selama dijalankan
3) Berdasarkan pada masalah-masalah yang dihadapi
4) Berdasarkan pribadi dan sosial
5) Diperuntukan bagi semua siswa, karenanya termasuk pendidikan

umum.

Banyak dari berbagai pengertian tersebut dapat

membingungkan kita. Atas dasar itu, Romine mencoba menyusun

perumusan yang lebih komprehensif. Ia menyatakan bahwa: "The core

curriculum, core program, or core course may be defined as the part of

the total curriculum objectives, which is scheduled for proportionally

longer blocks of time".

28
Perumusan Romine ini terlihat lebih lengkap dan tidak

memerlukan penjelasan lebih lanjut. Meskipun demikian, jika kita rinci

perumusan tersebut mengandung sejumlah hal yang perlu mendapat

perhatian, yaitu:

1) Kurikulum inti merupakan bagian dari keseluruhan kurikulum

yang diperuntukkan bagi semua siswa


2) Kurikulum inti bermaksud mencapai tujuan pendidikan umum
3) Kurikulum inti disusun dari garis-garis pelajaran namun tidak

secara ketat (bersifat luwes)


4) Kurikulum inti disusun untuk jangka waktu yang lebih lama

Pada umumnya kurikulum inti memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Ciri-ciri pokok (essential characteristics)


a) Core pelajaran meliputi pengalaman-pengalaman yang penting

untuk pertumbuhan dan perkembangan semua siswa.


b) Core program berkenaan dengan pendidikan umum (general

education) untuk memperoleh bermacam-macam hasil (tujuan

pendidikan)
c) Berbagai kegiatan dan pengalaman core disusun dan diajarkan

dalam bentuk kesatuan, tidak dibatasi oleh garis-garis

pelajaran yang terpisah


d) Core program diselenggarakan dalam jangka waktu yang lebih

lama
2) Ciri-ciri umum
a) Perencanaan oleh guru-guru secara kooperatif
b) Pengalaman-pengalaman belajar disusun dalam unit-unit

yang luas dan komprehensif berdasarkan tantangan, minat,

kebutuhan dan masalah dari kalangan siswa dan masyarakat

sekitarnya
c) Core pelajaran menggunakan proses demokratis

29
d) Banyak dari core program yang dikaitkan dengan

bimbingan dan pengajaran. Dalam hal ini, guru mempunyai

tanggung jawab bimbingan terhadap the core class


e) Core program secara lebih luas menggunakan sumber

pengajaran yang luas, dan prosedur pengajaran yang lebih

fleksibel dan variatif


f)Penggunaan teknik problem solving dalam core program
g) Guru dan murid saling mengenal satu sama lain dengan

lebih baik, sehingga memudahkan pemberian pelayanan

terhadap perbedaan individual


h) Penilaian dilakukan dengan bermacam bentuk serta

dikerjakan secara kontinu dan menyeluruh


i) Pengalaman-pengalaman belajar bersifat fungsional serta

melibatkan banyak kegiatan dan tanggung jawab terhadap

para siswa
j) Core program didominasi oleh usaha yang bertujuan untuk

memperbaiki pengajaran

Kurikulum inti disebut juga sebagi kurikulum nasional,

karena disusun dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan

nasional yaitu menciptakan para lulusan menjadi manusia

Indonesia seutuhnya (UUSPN No. 2 Tahun 1989, pasal 4) yang

tentunya selalu memperhatikan pada kebutuhan siswa dan

kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan

nasional, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuh.

12. Dasar Pelaksanaan Kurikulum Inti/Nasional

30
Didalam pelaksanaan kurikulum terdapat banyak faktor yang harus

dipertimbangkan untuk mencapai tujuan dari kurikulum tersebut adapun

didalam penyusunannya kurikulum mempunyai landasan yaitu:

a. Landasan Ideal
Berupa UUD 1945, pancasila dan Tap MPR tentang GBHN dalam

rangka mewujudkan tujuan pembangunan nasional dan tujuan

pendidikan nasional.
b. Landasan Hukum
Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 29 tahun 1990

tentang pendidikan menengah, keputusan mendikbud Nomor

060/U/1993 tentang kurikulum sebagaimana tercantum dalam

landasan, program pengembangan kurikulum.


c. Landasan Teori
Berupa buku landasn program dan pengembangan kurikulum yang

memuat tentang pedoman dalam pengembangan kurikulum dn buku

pelaksanaan kurikulum terdiri atas pedoman kegiatan belajar mengajar

untuk setiap mata pelajaran.


13. Komponen-Komponen Dalam Kurikulum Inti
Kurikulum inti atau nasional didalam penyusunannya juga harus

sesuai dengan tingkatan pendidikan masing-masing. Seperti kurikulum

nasional pada pendidikan dasar terdiri dari:


a. Pendidikan pancasila
b. Pendidikan agama
c. Pendidikan kewarganegaraan
d. Bahasa Indonesia
e. Membaca dan menulis
f. Matematika
g. Kerajinan tangan dan kesenian
h. Menggambar
i. Pendidikan jasmani

Komponen-komponen sebagai dasar dalam penyusunan

kurikulum inti terdiri dari tujuan, isi metode (teknik penyampaian dalam

31
proses belajar mengajar), evaluasi program. Menurut Tyler, kurikulum

menyangkut hal-hal berikut:

a. Tujuan yang akan dicapai


b. Isi materi apa yang harus diprogramkan untuk mencapai tujuan tersebut
c. Bagaimana isi kurikulum itu diorganisasikan
d. Bagaimana mengetahui bahwa tujuan yang akan dicapai dimiliki peserta

didik
14. Asas-Asas Penyusunan Kurikulum Inti
Menurut (Prof. Drs. H. Dakir : 2010) asas-asas penyusun kurikulum inti

yaitu,
a. Asas Filosofis
Asas filosofis dalam penyusunan kurikulum, berarti bahwa penyusun

kurikulum hendaknya berdasarkan dan terarah pada falsafat bangsa

yang dianut. Filsafat atau falsfah berasal dari bahasa Yunani:

philosopis, philo, philos, philein yang berarti cinta, pencinta,

mencintai, sedang sophia berarti kebijaksanaan, wisdom, kearifan,

nikmat, hakikat, kebenaran. Ada berbagai pengertian filsafat, yaitu

sebagai berikut:
1) Filsafat dalam arti proses atau produk
2) Filsafat sebagai ilmu atau pandangan hidup
3) Filsafat dalam arti terori atau praktis

Tujuan pendidikan tidak terlepas dengan unsur filosofis seperti

mendidik anak untuk menjadi manusia yang baik didalam masyarakat.

Kata baik ini pada hakikatnya ditentukan oleh nilai, cita-cita atau

filsafat yang dianut guru, orang tua, masyarakat, negara dan dunia

maka filsafat menentukan tujuan yang dicapai dengan alat yang

disebut kurikulum.

b. Asas Psikologi
Asas psikologi berarti kegiatan yang mengacu pada hal-hal

yang bersifat psikologi. Asas ini terdiri dari dua asas yaitu: (a)

32
Psikologi belajar, Bahwa setiap anak dapat di didik untuk menguasai

pelajaran, menerima norma-norma dan dapat mempelajari bermacam

keterampilan dan (b) Psikologi anak, Memberikan kesempatan belajar

kepada anak, agar dapat mengembangkan bakatnya. Karena sudah

sewajarnya jika anak sendiri yang menjadi faktor dalam pembinaan

kurikulum yang tak dapat diabaikan.


c. Asas Sosiologi (masyarakat)

Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki berbagai

gejala sosial hubungan antar individu dengan individu, antar golongan,

lembaga sosial yang disebut juga ilmu masyarakat.Anak itu tidak

hidup seorang diri, namun senantiasa hidup didalam suatu masyarakat.

Disitu ia harus memenuhi tugas sebagai anak maupun sebagai orang

dewasa dengan penuh tanggung jawab. Ia akan menerima jasa dari

masyarakat, dan ia juga harus menyumbang baktinya kepada

masyarakat. Karena akan harus hidup dalam masyarakat, masyarakat

pun harus dijadikan sebagai faktor yang harus dipertimbangkan dalam

pembinaan kurikulum.

d. Asas Organisator

Asas ini membahas tentang bentuk penyajian bahan pelajaran,

seperti tidak mengadakan batas-batas diantara berbagai mata pelajaran.

Sesuai dengan keberadaannya, kurikulum inti/nasional ini

diaplikasikan pada semua jenis menurut jenjangnya, yang bertujuan

untuk mencapai tujuan pendidikan nasional indonesia.

C. Standar Nasional Pendidikan Tinggi Tahun 2015

33
1. Pengertian Standar Pedidikan Tinggi

Standar Nasional Pendidikan Tinggi, adalah satuan standar yang

meliputi Standar Nasional Pendidikan, ditambah dengan Standar Nasional

Penelitian, dan Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat. Standar

Nasional Pendidikan, adalah kriteria minimal tentang pembelajaran pada

jenjang pendidikan tinggi di perguruan tinggi di seluruh wilayah hukum

Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional Penelitian adalah

kriteria minimal tentang sistem penelitian pada perguruan tinggi yang

berlaku di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat adalah kriteria minimal

tentang sistem pengabdian kepada masyarakat pada perguruan tinggi yang

berlaku di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(Peraturan Menteri Riset, Teknologi Dan Pendidikan Tinggi Republic

Indonesia Nomor 44 Tahun 2015).

Standar Nasional Pendidikan Tinggi wajib:

a. Dipenuhi oleh setiap perguruan tinggi untuk mewujudkan tujuan

pendidikan nasional

b. Dijadikan dasar untuk pemberian izin pendirian perguruan tinggi dan

izin pembukaan program studi

c. Dijadikan dasar penyelenggaraan pembelajaran berdasarkan

kurikulum pada program studi

d. Dijadikan dasar penyelenggaraan penelitian dan pengabdian kepada

masyarakat

34
e. Dijadikan dasar pengembangan dan penyelenggaraan sistem

penjaminan mutu internal

f. Dijadikan dasar penetapan kriteria sistem penjaminan mutu eksternal

melalui akreditasi.

Standar Nasional Pendidikan Tinggi sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 2 ayat (1) wajib dievaluasi dan disempurnakan secara

terencana, terarah, dan berkelanjutan, sesuai dengan tuntutan

perubahan lokal, nasional, dan global oleh badan yang ditugaskan

untuk menyusun dan mengembangkan Standar Nasional Pendidikan

Tinggi.

2. Tujuan Standar Nasional Pendidikan Tinggi

a. Menjamin tercapainya tujuan pendidikan tinggi yang berperan

strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan ilmu

pengetahuan dan teknologi dengan menerapkan nilai humaniora serta

pembudayaan dan pemberdayaan bangsa Indonesia yang

berkelanjutan

b. Menjamin agar pembelajaran pada program studi, penelitian, dan

pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh perguruan

tinggi di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia

mencapai mutu sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam Standar

Nasional Pendidikan Tinggi

c. Mendorong agar perguruan tinggi di seluruh wilayah hukum Negara

Kesatuan Republik Indonesia mencapai mutu pembelajaran,

penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat melampaui kriteria

35
yang ditetapkan dalam Standar Nasional Ruang Pendidikan Tinggi

secara berkelanjutan

3. Lingkup Standar Nasional Pendidikan Pasal 5

a. Standar Kompetensi Lulusan merupakan kriteria minimal tentang

kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan

dan keterampilan yang dinyatakan dalam rumusan capaian

pembelajaran lulusan

b. Standar kompetensi lulusan yang dinyatakan dalam rumusan capaian

pembelajaran lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan

sebagai acuan utama pengembangan standar isi pembelajaran, standar

proses pembelajaran, standar penilaian pembelajaran, standar dosen

dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana pembelajaran,

standar pengelolaan pembelajaran, dan standar pembiayaan

pembelajaran.

c. Rumusan capaian pembelajaran lulusan sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) wajib:

1) mengacu pada deskripsi capaian pembelajaran lulusan KKNI; dan

2) memiliki kesetaraan dengan jenjang kualifikasi pada KKNI.

4. Standar Isi Pembelajaran pasal 8 tahun 2015

Standar isi pembelajaran merupakan kriteria minimal tingkat

kedalaman dan keluasan materi pembelajaran.

a. Kedalaman dan keluasan materi pembelajaran sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) mengacu pada capaian pembelajaran lulusan.

36
b. Kedalaman dan keluasan materi pembelajaran pada program profesi,

spesialis, magister, magister terapan, doktor, dan doktor terapan, wajib

memanfaatkan hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada

masyarakat.

5. Tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran pada pasal 9 sebagai

berikut :

a. Tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) untuk setiap program pendidikan,

dirumuskan dengan mengacu pada deskripsi capaian pembelajaran

lulusan dari KKNI.

b. Tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) sebagai berikut:

1) lulusan program diploma satu paling sedikit menguasai konsep

umum, pengetahuan, dan keterampilan operasional lengkap;

2) lulusan program diploma dua paling sedikit menguasai prinsip

dasar pengetahuan dan keterampilan pada bidang keahlian tertentu;

3) lulusan program diploma tiga paling sedikit menguasai konsep

teoritis bidang pengetahuan dan keterampilan tertentu secara

umum;

4) lulusan program diploma empat dan sarjana paling sedikit

menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan dan keterampilan

tertentu secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam

bidang pengetahuan dan keterampilan tersebut secara mendalam;

37
5) lulusan program profesi paling sedikit menguasai teori aplikasi

bidang pengetahuan dan keterampilan tertentu;

6) lulusan program magister, magister terapan, dan spesialis paling

sedikit menguasai teori dan teori aplikasi bidang pengetahuan

tertentu; dan

7) lulusan program doktor, doktor terapan, dan subspesialis paling

sedikit menguasai filosofi keilmuan bidang pengetahuan dan

keterampilan tertentu.

Tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran sebagaimana

dimaksud pada ayat (2) bersifat kumulatif dan/atau integratif. Tingkat

kedalaman dan keluasan materi pembelajaran sebagaimana dimaksud

pada ayat (2) dituangkan dalam bahan kajian yang distrukturkan dalam

bentuk mata kuliah.

6. Standar Proses Pembelajaran pasal 10

Standar proses pembelajaran merupakan kriteria minimal tentang

pelaksanaan pembelajaran pada program studi untuk memperoleh

capaian pembelajaran lulusan.

Standar proses sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup:

a. karakteristik proses pembelajaran;

b. perencanaan proses pembelajaran;

c. pelaksanaan proses pembelajaran; dan

d. beban belajar mahasiswa.

7. Masa dan Beban belajar mahasiswa tertuang dalam pasal 15

38
Beban belajar mahasiswa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2)

huruf d, dinyatakan dalam besaran sks. (2) Semester merupakan satuan

waktu proses pembelajaran efektif selama paling sedikit 16 (enam belas)

minggu, termasuk ujian tengah semester dan ujian akhir semester. (3)

Satu tahun akademik terdiri atas 2 (dua) semester dan perguruan tinggi

dapat menyelenggarakan semester antara. (4) Semester antara

sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diselenggarakan:

a. Selama paling sedikit 8 (delapan) minggu;

b. Beban belajar mahasiswa paling banyak 9 (sembilan) sks;

c. Sesuai beban belajar mahasiswa untuk memenuhi capaian

pembelajaran yang telah ditetapkan.

Apabila semester antara diselenggarakan dalam bentuk

perkuliahan, tatap muka paling sedikit 16 (enam belas) kali termasuk

ujian tengah semester antara dan ujian akhir semester antara.

Pasal 16 (1) Masa dan beban belajar penyelenggaraan program

pendidikan:

a. Paling lama 2 (dua) tahun akademik untuk program diploma satu,

dengan beban belajar mahasiswa paling sedikit 36 (tiga puluh enam)

sks

b. Paling lama 3 (tiga) tahun akademik untuk program diploma dua,

dengan beban belajar mahasiswa paling sedikit 72 (tujuh puluh dua)

sks

39
c. Paling lama 5 (lima) tahun akademik untuk program diploma tiga,

dengan beban belajar mahasiswa paling sedikit 108 (seratus delapan)

sks

d. Paling lama 7 (tujuh) tahun akademik untuk program sarjana, program

diploma empat/sarjana terapan, dengan beban belajar mahasiswa

paling sedikit 144 (seratus empat puluh empat) sks

e. Paling lama 3 (tiga) tahun akademik untuk program profesi setelah

menyelesaikan program sarjana, atau program diploma empat/sarjana

terapan, dengan beban belajar mahasiswa paling sedikit 24 (dua puluh

empat) sks

Program profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e

diselenggarakan sebagai program lanjutan yang terpisah atau tidak terpisah

dari program sarjana, atau program diploma empat/sarjana terapan.

Perguruan tinggi dapat menetapkan masa penyelenggaraan program

pendidikan kurang dari batas maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat

(1).

Pasal 17 (1) 1 (satu) sks pada proses pembelajaran berupa kuliah, responsi,

atau tutorial, terdiri atas:

a. Kegiatan tatap muka 50 (lima puluh) menit per minggu per semester;

b. Kegiatan penugasan terstruktur 60 (enam puluh) menit per minggu per

semester; dan

c. Kegiatan mandiri 60 (enam puluh) menit per minggu per semester.

(2) 1 (satu) sks pada proses pembelajaran berupa seminar atau bentuk

lain yang sejenis, terdiri atas kegiatan tatap muka 100 (seratus) menit

40
per minggu per semester dan kegiatan mandiri 70 (tujuh puluh) menit

per minggu per semester.

Perhitungan beban belajar dalam sistem blok, modul, atau bentuk

lain ditetapkan sesuai dengan kebutuhan dalam memenuhi capaian

pembelajaran. Satu sks pada proses pembelajaran berupa praktikum,

praktik studio, praktik bengkel, praktik lapangan, penelitian, pengabdian

kepada masyarakat, dan/atau proses pembelajaran lain yang sejenis, 170

(seratus tujuh puluh) menit per minggu per semester.

Beban belajar mahasiswa program diploma dua, program diploma

tiga, program diploma empat/sarjana terapan, dan program sarjana yang

berprestasi akademik tinggi, setelah 2 (dua) semester pada tahun akademik

yang pertama dapat mengambil maksimum 24 (dua puluh empat) sks per

semester pada semester berikut. Mahasiswa berprestasi akademik tinggi

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan mahasiswa yang

mempunyai indeks prestasi semester (IPS) lebih besar dari 3,00 (tiga koma

nol nol) dan memenuhi etika akademik. Mahasiswa berprestasi akademik

tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan mahasiswa yang

mempunyai indeks prestasi semester (IPS) lebih besar dari 3,50 (tiga koma

lima nol) dan memenuhi etika akademik.

8. Standar Penilaian Pembelajaran pasal 19

Standar penilaian pembelajaran merupakan kriteria minimal tentang

penilaian proses dan hasil belajar mahasiswa dalam rangka pemenuhan

capaian pembelajaran lulusan. Penilaian proses dan hasil belajar

mahasiswa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup:

41
a. Prinsip penilaian

b. Teknik dan instrumen penilaian;

c. Mekanisme dan prosedur penilaian;

d. Pelaksanaan penilaian;

e. Pelaporan penilaian; dan

f. Kelulusan mahasiswa.

Prinsip penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2)

huruf a mencakup prinsip edukatif, otentik, objektif, akuntabel, dan

transparan yang dilakukan secara terintegrasi. Prinsip edukatif

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penilaian yang

memotivasi mahasiswa agar mampu:

a. Memperbaiki perencanaan dan cara belajar

b. Meraih capaian pembelajaran lulusan.

Prinsip otentik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan

penilaian yang berorientasi pada proses belajar yang berkesinambungan

dan hasil belajar yang mencerminkan kemampuan mahasiswa pada saat

proses pembelajaran berlangsung. Prinsip objektif sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) merupakan penilaian yang didasarkan pada standar yang

disepakati antara dosen dan mahasiswa serta bebas dari pengaruh

subjektivitas penilai dan yang dinilai. Prinsip akuntabel sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) merupakan penilaian yang dilaksanakan sesuai

dengan prosedur dan kriteria yang jelas, disepakati pada awal kuliah, dan

dipahami oleh mahasiswa. Prinsip transparan sebagaimana dimaksud pada

42
ayat (1) merupakan penilaian yang prosedur dan hasil penilaiannya dapat

diakses oleh semua pemangku kepentingan.

Teknik penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2)

huruf b terdiri atas observasi, partisipasi, unjuk kerja, tes tertulis, tes lisan,

dan angket. Instrumen penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19

ayat (2) huruf b terdiri atas penilaian proses dalam bentuk rubrik dan/atau

penilaian hasil dalam bentuk portofolio atau karya desain. Penilaian sikap

dapat menggunakan teknik penilaian observasi. Penilaian penguasaan

pengetahuan, keterampilan umum, dan keterampilan khusus dilakukan

dengan memilih satu atau kombinasi dari berbagi teknik dan instrumen

penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

Hasil akhir penilaian merupakan integrasi antara berbagai teknik

dan instrumen penilaian yang digunakan. Mekanisme penilaian

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat 2 huruf c, terdiri atas:

a. Menyusun, menyampaikan, menyepakati tahap, teknik, instrumen,

kriteria, indikator, dan bobot penilaian antara penilai dan yang dinilai

sesuai dengan rencana pembelajaran

b. Melaksanakan proses penilaian sesuai dengan tahap, teknik, instrumen,

kriteria, indikator, dan bobot penilaian yang memuat prinsip penilaian

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20;

c. Memberikan umpan balik dan kesempatan untuk mempertanyakan hasil

penilaian kepada mahasiswa; dan

d. Mendokumentasikan penilaian proses dan hasil belajar mahasiswa

secara akuntabel dan transparan.

43
Prosedur penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2)

huruf c mencakup tahap perencanaan, kegiatan pemberian tugas atau soal,

observasi kinerja, pengembalian hasil observasi, dan pemberian nilai akhir.

Prosedur penilaian pada tahap perencanaan sebagaimana dimaksud pada

ayat (2) dapat dilakukan melalui penilaian bertahap dan/atau penilaian

ulang. Pelaksanaan penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat

(2) huruf d dilakukan sesuai dengan rencana pembelajaran. Pelaksanaan

penilaian sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat dilakukan oleh:

a. Dosen pengampu atau tim dosen pengampu;

b. Dosen pengampu atau tim dosen pengampu dengan mengikutsertakan

mahasiswa; dan/atau

c. Dosen pengampu atau tim dosen pengampu dengan mengikutsertakan

pemangku kepentingan yang relevan.

Pelaporan penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2)

huruf e berupa kualifikasi keberhasilan mahasiswa dalam menempuh suatu

mata kuliah yang dinyatakan dalam kisaran:

a. Huruf A setara dengan angka 4 (empat) berkategori sangat baik

b. Huruf B setara dengan angka 3 (tiga) berkategori baik;

c. Huruf C setara dengan angka 2 (dua) berkategori cukup;

d. Huruf D setara dengan angka 1 (satu) berkategori kurang; atau

e. Huruf E setara dengan angka 0 (nol) berkategori sangat kurang.

Perguruan tinggi dapat menggunakan huruf antara dan angka antara

untuk nilai pada kisaran 0 (nol) sampai 4 (empat). Hasil penilaian

diumumkan kepada mahasiswa setelah satu tahap pembelajaran sesuai

44
dengan rencana pembelajaran. Hasil penilaian capaian pembelajaran

lulusan di tiap semester dinyatakan dengan indeks prestasi semester (IPS).

Hasil penilaian capaian pembelajaran lulusan pada akhir program studi

dinyatakan dengan indeks prestasi kumulatif (IPK). Indeks prestasi

semester (IPS) sebagaimana dimaksud pada ayat 4 dinyatakan dalam

besaran yang dihitung dengan cara menjumlahkan perkalian antara nilai

huruf setiap mata kuliah yang ditempuh dan sks mata kuliah bersangkutan

dibagi dengan jumlah sks mata kuliah yang diambil dalam satu semester.

Indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagaimana dimaksud pada ayat

(5) dinyatakan dalam besaran yang dihitung dengan cara menjumlahkan

perkalian antara nilai huruf setiap mata kuliah yang ditempuh dan sks mata

kuliah bersangkutan dibagi dengan jumlah sks mata kuliah yang diambil

yang telah ditempuh.

Pasal 25 ayat (1) Mahasiswa program diploma dan program sarjana

dinyatakan lulus apabila telah menempuh seluruh beban belajar yang

ditetapkan dan memiliki capaian pembelajaran lulusan yang ditargetkan

oleh program studi dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) lebih besar atau

sama dengan 2,00 (dua koma nol nol). Kelulusan mahasiswa dari program

diploma dan program sarjana dapat diberikan predikat memuaskan, sangat

memuaskan, atau pujian dengan kriteria:

a. Mahasiswa dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan apabila

mencapai indeks prestasi kumulatif (IPK) 2,76 (dua koma tujuh enam)

sampai dengan 3,00 (tiga koma nol nol);

45
b. Mahasiswa dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan

apabila mencapai indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,01 (tiga koma nol

satu) sampai dengan 3,50 (tiga koma lima nol); atau

c. Mahasiswa dinyatakan lulus dengan predikat pujian apabila mencapai

indeks prestasi kumulatif (IPK) lebih dari 3,50 (tiga koma nol).

Mahasiswa yang dinyatakan lulus berhak memperoleh:

a. Ijazah, bagi lulusan program diploma, program sarjana, program

magister, program magister terapan, program doktor, dan program

doktor terapan

b. Sertifikat profesi, bagi lulusan program profesi

c. Sertifikat kompetensi, bagi lulusan program pendidikan sesuai dengan

keahlian dalam cabang ilmunya dan/atau memiliki prestasi di luar

program studinya

d. Gelar

e. Surat keterangan pendamping ijazah, kecuali ditentukan lain oleh

peraturan perundang-undangan.

f. Sertifikat profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b

diterbitkan oleh perguruan tinggi bersama dengan Kementerian,

Kementerian lain, Lembaga Pemerintah Non Kementerian, dan/atau

organisasi profesi.

g. Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c

diterbitkan oleh perguruan tinggi bekerja sama dengan organisasi

profesi, lembaga pelatihan, atau lembaga sertifikasi yang terakreditasi.

8. Standar Dosen dan Tenaga Kependidikan

46
Pasal 26 tentang Standar dosen dan tenaga kependidikan merupakan

kriteria minimal tentang kualifikasi dan kompetensi dosen dan tenaga

kependidikan untuk menyelenggarakan pendidikan dalam rangka

pemenuhan capaian pembelajaran lulusan.

a. Dosen wajib memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi pendidik,

sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk

menyelenggarakan pendidikan dalam rangka pemenuhan capaian

pembelajaran lulusan sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 5.

b. Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan

tingkat pendidikan paling rendah yang harus dipenuhi oleh seorang

dosen dan dibuktikan dengan ijazah.

c. Kompetensi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan

dengan sertifikat pendidik, dan/atau sertifikat profesi.

d. Dosen program diploma satu dan program diploma dua harus

berkualifikasi akademik paling rendah lulusan magister atau magister

terapan yang relevan dengan program studi.

e. Dosen program diploma satu dan program diploma dua sebagaimana

dimaksud pada ayat (4) dapat menggunakan instruktur yang

berkualifikasi akademik paling rendah lulusan diploma tiga yang

memiliki pengalaman relevan dengan program studi dan paling rendah

setara dengan jenjang 6 (enam) KKNI.

f. Dosen program diploma tiga dan program diploma empat harus

berkualifikasi akademik paling rendah lulusan magister atau magister

terapan yang relevan dengan program studi.

47
g. Dosen program diploma tiga dan program diploma empat sebagaimana

dimaksud pada ayat (6) dapat menggunakan dosen bersertifikat profesi

yang relevan dengan program studi dan berkualifikasi paling rendah

setara dengan jenjang 8 (delapan) KKNI.

h. Dosen program sarjana harus berkualifikasi akademik paling rendah

lulusan magister atau magister terapan yang relevan dengan program

studi.

i. Dosen program sarjana sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dapat

menggunakan dosen bersertifikat yang relevan dengan program studi

dan berkualifikasi paling rendah setara dengan jenjang 8 (delapan)

KKNI.

j. Dosen program profesi harus berkualifikasi akademik paling rendah

lulusan magister atau magister terapan yang relevan dengan program

studi dan berpengalaman kerja paling sedikit 2 (dua) tahun.

k. Dosen program profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (10) dapat

menggunakan dosen bersertifikat profesi yang relevan dengan program

studi dan memiliki pengalaman kerja paling sedikit 2 (dua) tahun serta

berkualifikasi paling rendah setara dengan jenjang 8 (delapan) KKNI.

9. Beban kerja dosen

Pasal 28 SNPT 2015 menyebutkan bahwa beban kerja dosen antara lain:

a. Penghitungan beban kerja dosen didasarkan antara lain pada:

1) Kegiatan pokok dosen mencakup:

a) Perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian proses pembelajaran

b) Pelaksanaan evaluasi hasil pembelajaran

48
c) Pembimbingan dan pelatihan

d) Penelitian, dan

e) Pengabdian kepada masyarakat

2) Kegiatan dalam bentuk pelaksanaan tugas tambahan

3) Kegiatan penunjang.

Beban kerja pada kegiatan pokok dosen sebagaimana dinyatakan

pada ayat (1) huruf a disesuaikan dengan besarnya beban tugas tambahan,

bagi dosen yang mendapatkan tugas tambahan. Beban kerja dosen sebagai

pembimbing utama dalam penelitian terstuktur dalam rangka penyusunan

skripsi/ tugas akhir, tesis, disertasi, atau karya desain/seni/ bentuk lain

yang setara paling banyak 10 (sepuluh) mahasiswa. Beban kerja dosen

mengacu pada nisbah dosen dan mahasiswa. Nisbah dosen dan mahasiswa

sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Menteri.

Pasal 29 ayat (1) Dosen terdiri atas dosen tetap dan dosen tidak

tetap. Ayat (2) Dosen tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

merupakan dosen berstatus sebagai pendidik tetap pada 1 (satu) perguruan

tinggi dan tidak menjadi pegawai tetap pada satuan kerja atau satuan

pendidikan lain. Jumlah dosen tetap pada perguruan tinggi paling sedikit

60% (enam puluh persen) dari jumlah seluruh dosen. Jumlah dosen tetap

yang ditugaskan secara penuh waktu untuk menjalankan proses

pembelajaran pada setiap program studi paling sedikit 6 (enam) orang.

Dosen tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (4) wajib memiliki keahlian

di bidang ilmu yang sesuai dengan disiplin ilmu pada program studi.

49
Pada Pasal 30 ayat (1) menyatakan bahwa tenaga kependidikan

memiliki kualifikasi akademik paling rendah lulusan program diploma 3

(tiga) yang dinyatakan dengan ijazah sesuai dengan kualifikasi tugas

pokok dan fungsinya. Tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) dikecualikan bagi tenaga administrasi. (3) Tenaga administrasi

sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memiliki kualifikasi akademik paling

rendah SMA atau sederajat. (4) Tenaga kependidikan yang memerlukan

keahlian khusus wajib memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan

bidang tugas dan keahliannya.

10. Standar Sarana dan Prasarana Pembelajaran

Dalam SNPT 2015 pasal 31 menyebutkan bahwa standar sarana

dan prasarana pembelajaran merupakan kriteria minimal tentang sarana

dan prasarana sesuai dengan kebutuhan isi dan proses pembelajaran dalam

rangka pemenuhan capaian pembelajaran lulusan. Pasal 32 ayat (1)

Standar sarana pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 paling

sedikit terdiri atas:

a. Perabot

b. Peralatan pendidikan

c. Media pendidikan

d. Buku, buku elektronik, dan repositori

e. Sarana teknologi informasi dan komunikasi

f. Instrumentasi eksperimen

g. Sarana olahraga

h. Sarana berkesenian

50
i. Sarana fasilitas umum

j. Bahan habis pakai, dan

k. Sarana pemeliharaan, keselamatan, dan keamanan.

Jumlah, jenis, dan spesifikasi sarana sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) ditetapkan berdasarkan rasio penggunaan sarana sesuai dengan

karakteristik metode dan bentuk pembelajaran, serta harus menjamin

terselenggaranya proses pembelajaran dan pelayanan administrasi

akademik.

Pasal 33 ayat (1) Standar prasarana pembelajaran sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 31 paling sedikit terdiri atas:

a. Lahan

b. Ruang kelas

c. Perpustakaan

d. Laboratorium/studio/bengkel kerja/unit produksi

e. Tempat berolahraga

f. Ruang untuk berkesenian

g. Ruang unit kegiatan mahasiswa

h. Ruang pimpinan perguruan tinggi

i. Ruang dosen

j. Ruang tata usaha, dan

k. Fasilitas umum.

Fasilitas umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf k meliputi:

a. Jalan

b. Air

51
c. Listrik

d. Jaringan komunikasi suara, dan

e. Data

Lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) huruf a

harus berada dalam lingkungan yang secara ekologis nyaman dan sehat

untuk menunjang proses pembelajaran. Lahan pada saat perguruan tinggi

didirikan wajib dimiliki oleh penyelenggara perguruan tinggi. Pedoman

mengenai kriteria prasarana pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 33 ayat (1) huruf a sampai dengan huruf k ditetapkan oleh Direktur

Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan.

Pasal 36 menyebutkan bahwa:

a. Bangunan perguruan tinggi harus memiliki standar kualitas minimal

kelas A atau setara.

b. Bangunan perguruan tinggi harus memenuhi persyaratan keselamatan,

kesehatan, kenyamanan, dan keamanan, serta dilengkapi dengan

instalasi listrik yang berdaya memadai dan instalasi, baik limbah

domestik maupun limbah khusus, apabila diperlukan.

c. Standar kualitas bangunan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) dan ayat (2) didasarkan pada peraturan menteri yang

menangani urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum.

Pasal 37 membahas tentang sarana dan prasarana meliputi:

a. Perguruan tinggi harus menyediakan sarana dan prasarana yang dapat

diakses oleh mahasiswa yang berkebutuhan khusus.

b. Sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:

52
1) Pelabelan dengan tulisan Braille dan informasi dalam bentuk suara;

2) Lerengan (ramp) untuk pengguna kursi roda;

3) Jalur pemandu (guiding block) di jalan atau koridor di lingkungan

kampus;

4) Peta/denah kampus atau gedung dalam bentuk peta/denah timbul;

dan

5) Toilet atau kamar mandi untuk pengguna kursi roda.

c. Pedoman mengenai sarana dan prasarana bagi mahasiswa yang

berkebutuhan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan

oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan.

11. Standar Pengelolaan Pembelajaran

Standar pengelolaan pembelajaran merupakan kriteria minimal

tentang perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pemantauan dan

evaluasi, serta pelaporan kegiatan pembelajaran pada tingkat program

studi. Standar pengelolaan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) harus mengacu pada standar kompetensi lulusan, standar isi

pembelajaran, standar proses pembelajaran, standar dosen dan tenaga

kependidikan, serta standar sarana dan prasarana pembelajaran.

Pasal 39 menyatakan tentang:

a. Pelaksana standar pengelolaan dilakukan oleh Unit Pengelola program

studi dan perguruan tinggi.

b. Unit Pengelola program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

wajib:

53
1) Melakukan penyusunan kurikulum dan rencana pembelajaran

dalam setiap mata kuliah

2) Menyelenggarakan program pembelajaran sesuai standar isi,

standar proses, standar penilaian yang telah ditetapkan dalam

rangka mencapai capaian pembelajaran lulusan

3) Melakukan kegiatan sistemik yang menciptakan suasana akademik

dan budaya mutu yang baik

4) Melakukan kegiatan pemantauan dan evaluasi secara periodik

dalam rangka menjaga dan meningkatkan mutu proses

pembelajaran; dan

5) Melaporkan hasil program pembelajaran secara periodik sebagai

sumber data dan informasi dalam pengambilan keputusan

perbaikan dan pengembangan mutu pembelajaran.

Perguruan tinggi dalam melaksanakan standar pengelolaan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib:

a. Menyusun kebijakan, rencana strategis, dan operasional terkait

dengan pembelajaran yang dapat diakses oleh sivitas akademika

dan pemangku kepentingan, serta dapat dijadikan pedoman bagi

program studi dalam melaksanakan program pembelajaran;

b. Menyelenggarakan pembelajaran sesuai dengan jenis dan program

pendidikan yang selaras dengan capaian pembelajaran lulusan;

c. Menjaga dan meningkatkan mutu pengelolaan program studi dalam

melaksanakan program pembelajaran secara berkelanjutan dengan

sasaran yang sesuai dengan visi dan misi perguruan tinggi;

54
d. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kegiatan program

studi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran;

e. Memiliki panduan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi,

pengawasan, penjaminan mutu, dan pengembangan kegiatan

pembelajaran dan dosen; dan

f. Menyampaikan laporan kinerja program studi dalam

menyelenggarakan program pembelajaran paling sedikit melalui

pangkalan data pendidikan tinggi.

D. Kalender Akademik
1.Pengertian Kalender Akademik
Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang

diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun

ajaran. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan

pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran. Kalender pendidikan

mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu

pembelajaran efektif dan hari libur.


Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan

pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.

Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk

setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. Waktu pembelajaran

efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah

jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran termasuk muatan lokal,

ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri. Waktu libur

adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran

terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat

55
berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun

pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar

nasional, dan hari libur khusus.


2.Aspek-aspek Kalender Pendidikan
Perguruan Tinggi diberi kebebasan untuk merubah bahkan

merombak total kalender pendidikan dari pusat. Perubahan dan perombakan

disesuaikan dengan kondisi sekolah. Kalender pendidikan yang baik harus

memuat beberapa aspek berikut :


a. Permulaan tahun Pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan

pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.

Permulaan tahun pelajaran telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu pada

bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya.
b. Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran

untuk setiap tahun pelajaran. Perguruan Tinggi dapat mengalokasikan

lamanya minggu efektif belajar sesuai dengan keadaan dan

kebutuhannya.
c. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap

minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran

termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan

pengembangan diri.
d. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan

pembelajaran terjadwal. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan

Keputusan Menteri Pendidikan Nasional atau Menteri Agama dalam hal

yang terkait dengan hari raya keagamaan, Kepala Daerah tingkat

Kabupaten / Kota atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat

menetapkan hari libur khusus.

56
e. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester,

libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum

termasuk hari hari besar nasioanl dan hari libur khusus.


f. Libur jeda tengah semester, jeda antar semester dan libur akhir tahun

pelajaran digunakan untuk persiapan kegiatan dan administrasiakhir dan

awal tahun pelajaran


g. Hari Hari libur umum atau nasional atau penetapan hari serentak untuk

setiap jenjang dan jenis pendidikan disesuaikan dengan Peraturan

Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota.

Menurut kurikulum 2011 kalender akademik harus memenuhi unsur

dibawah ini :

1. Penerimaan peserta didik


2. Registrasi
3. Pengenalan program studi (PPS)
4. Perkuliahan dan praktik
5. Pelaksanaan evaluasi
6. Yudisium
7. Libur
8. Wisuda.

E. Jadwal Mata Kuliah


Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggara pendidikan

tinggi. Ujung tombak kegiatan pembelajaran di Perguruan Tinggi berada di

Program Studi. Program studi harus mampu mengatur diri sendiri serta

memberikan pelayanan prima. Dalam upaya meningkatkan efisiensi,

efektivitas, transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan program studi

maka perlu adanya Sistem Informasi Akademik.


Sistem Informasi Akademik. merupakan suatu sistem yang dirancang

dan dikembangkan sedemikian rupa dan terdiri dari sejumlah komponen

seperti Kurikulum, Dosen, Mahasiswa, Silabus, KRS, KHS, Nilai, dan lain

57
sebagainya yang saling berinteraksi, saling bekerjasama membentuk suatu

sistem.
Salah satu komponen penting dalam kegiatan pembelajaran adalah

Jadwal Perkuliahan. Jadwal Perkuliahan adalah daftar yang memuat atau

berisi nama mata kuliah, dosen pengampu mata kuliah, waktu, ruang

perkuliahan dan lain sebagainya. Jadwal Perkuliahan harus sudah tersedia

sebelum kegiatan pelaksanaan perkuliahandilaksanakan. Membangun Jadwal

Perkuliahan untuk suatu program studi yang besar memang merupakan suatu

pekerjaan yang kompleks, sehingga dalam pelaksanaanya sering terjadi

tabrakan jam, ruang, dosen mempunyai jadwal yang sama untuk mata kuliah

yang berbeda, mahasiswa mengikuti perkuliahan pada waktu yang sama pada

mata kuliah yang berbeda dan lain sebagainya. Hal ini jika dilihat sepintas

merupakan masalah sepele, namun jika dibiarkan bukan tidak mungkin akan

sangat berpengaruh pada kegiatan akademik secara keseluruhan. Oleh karena

itu Jadwal Perkuliahan sebaiknya dimasukkan sebagai bagian dari program

Sistem Informasi Akademik dan tidak berdiri sendiri.


Dengan demikian menyiapkan sistem manajemen data untuk

menghimpun, menyimpan, mendokumentasikan dan menggandakan data

Jadwal Perkuliahan merupakan suatu hal yang penting untuk

dilaksanakan. Pertanyaan yang muncul yakni bagaimana disain data

awal yang perlu disiapkan untuk membangun program Jadwal Perkuliahan

serta bagaimana merancang program Jadwal Perkuliahan terintegrasi

dengan Sistem Informasi Akademik. Merancang desain Data awal Program

Jadwal Perkuliahan. Data awal merupakan data-data yang perlu dipersiapkan

sekaligus merupakan data acuan untuk merancang format tampilan input

58
data. Untuk membuat Jadwal Perkuliahan dibutuhkan data penunjang. Data

tersebut meliputi data kurikulum dan data dosen. Data kurikulum terdiri dari

Mata kuliah, kode mata kuliah, semester, sks, nomor indeks mata kuliah,

keterangan mata kuliah.

59