Está en la página 1de 26

SKENARIO

Lidah dan gusi bewarna kehitaman

Seorang pasien laki-laki berusia 25 tahun datang berobat ke drg di RSGM Yarsi. Pasien
mengeluh lidah dan gusi depan bewarna kehitaman. Dari hasil anamnesis tidak ada keluhan rasa
nyeri namun pasien merasa penampilannya terganggu. Kesehatan umum pasien baik. Kondisi ini
sudah dialami sejak usia remaja, pasien memiliki riwayat merokok hingga sekarang. Hasil
pemeriksaan klinis tampak lesi makula pada hampir seluruh dorsal lidah dan attached gingiva
anterior rahang atas dan bawah yang bewarna coklat kehitaman. Dokter gigi menduga diagnosis
kerja kasus adalah smokers melanosis.

IDENTIFIKASI KATA SULIT

Kata sulit
1. Makula
2. Smokers melanosis

Pengertian
1. Makula adalah suatu noda atau stain yang lain dengan sekelilingnya pada mukosa dan rata
dengan sekitarnya.
2. Smokers melanosis adalah pigmentasi melanin yang abnormal dan jinak.

PERTANYAAN
1. Apa etiologi dan faktor predisposisi dari smokers melanosis?
2. Apa saja klasifikasi dari pigmentasi?
3. Bagaimana gambaran klinis dari smokers melanosis?
4. Bagaimana proses penegakkan diagnosis kerja, diagnosis banding dan prognosis?
5. Bagaimana perawatan untuk penderita smokers melanosis?
6. Bagaimana pandangan islam tentang hukum merokok?

JAWABAN
1. Etiologi smokers melanosis adalah kandungan nikotin dalam rokok mempengaruhi
peningkatan pigmen melanin dalam rongga mulut dan faktor predisposisinya yaitu kebiasaan
merokok, kebersihan mulut dan faktor usia.

1
2. Macam-macam klasifikasi dari pigmentasi
a. Pigmentasi karena obat.
b. Pigmetasi rasial.
c. Black hairy tongue.
d. Penyakit Addison.
e. Penyakit Peutez-Jeghers.
f. Pigmentasi karena deposit eksogen: tato amalgam dan pigmentasi logam berat.
g. Neoplasma: tumor neuroektodemal pada bayi, nevi dan melanoma.
h. Lesi jinak yang berasal dari melanosis: macula oral melatonik, cafe-au-lait-macula,
lentigo, pigmentasi fisiologis, smokers melanosis, ephelis dan vitiligo.
3. Lesi terlihat sebagai bercak depapilasi eritematosa, berbatas jelas, dikelilingi oleh tepi lesi
yang berwarna putih dan lebih tinggi sedikit dibandingkan sekitarnya. Multiple, biasanya
ditemukan pada dorsum lidah. Lesi ini bersifat asimtomatik, dapat muncul bersama fisur.
4. Gambaran klinis dari smokers melanosis yaitu terlihat pigmentasi bewarna cokelat, multipel
dan biasanya pada gingiva bagian anterior mandibula.
5. Cara penegakkan diagnosis
a. Anamnesis: lesi sudah berapa lama, sedang sakit atau tidak, keganasan dan kebiasaan
buruk.
b. Pemeriksaan klinis: terlihat makula, berbatas difus dan bewarna cokelat kehitaman.
c. Diagnosis banding: pigmentasi normal, melanoma.
d. Prognosis: tergantung pada keganasan.
6. Perawatan pada pasien smokers melanosis adalah dilaser dan berhenti merokok.
7. Hukum merokok dalam pandangan islam adalah makruh.

SKEMA

PIGMENTASI

DEFINISI KLASIFIKASI

2
WARNA PENYEBAB LOKASI

ENDOGEN EKSOGEN LOKAL DIFUS

FISIOLOG PATOLOGI SISTEMIK LOKAL


I

EARLY PREDOMINANTLY
ONSET ADULT ONSET

SASARAN BELAJAR

1. Memahami dan menjelaskan pigmentasi


1.1. Definisi
Pigmentasi rongga mulut dapat berupa pigmentasi fisiologis dan pigmentasi patologis
yang dapat menjadi keganasan. Lesi pigmentasi rongga mulut berhubungan dengan
meningkatnya produksi pigmen melanin.1

1.2. Klasifikasi
1.2.1. Berdasarkan penyebab
I. Endogen
a. Fisiologis
1. Fordyces spot

3
Definisi
Kelenjar sebaseus yang ektopik dan secara klinis terlihat seperti macula atau
papula yang berukuran kecil bewarna putih kekuningan. Ditemukan di berbagai
lokasi pada rongga mulut.2
Etiologi
Kelenjar sebaseus yang ektopik.2
Gambaran klinis
Terlihat seperti macula atau papula yang berukuran kecil bewarna putih
kekuningan. Ditemukan di berbagai lokasi pada rongga mulut. Biasanya pada
bagian vermilion bibir atas, retromolar dan mukosa bukal.2
Perawatan
Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala, sehingga permintaan pengobatan
tidak tinggi. Tetapi pada beberapa pasien, menginginkan perawatan dengan alasan
estetik. Laser CO2 dan oral isotretionis dapat dipertimbangkan sebagai
pengobatan.2
Diagnosis banding
Lichen planus.2

2. Pigmentasi fisiologis

4
Pigmentasi fisiologis tampak dari depan dan lateral kiri dan kanan.

Definisi
Suatu pigmentasi gelap yang menyeluruh dan konstan pada mukosa mulut
umumnya pada orang berkulit gelap.3
Etiologi
Keadaan tersebut merupakan keadaan fisiologis yang diakibatkan bertambahnya
melanin, yaitu suatu pigmen yang terletak dalam lapisan basal mukosa dan lamina
propria.3
Gambaran klinis
a. Daerah yang umum untuk mengamati pigmentasi ini adalah pada bagian
gingiva cekat.
b. Seringkali tampak seperti pita yang diffuse, gelap dengan batas jelas, simetris
dan tanpa gejala.
c. Daerah lain yang dapat terkena adalah mukosa pipi, palatum keras, bibir dan
lidah.3
Diagnosis banding
Penyakit Addison dan smokers melanosis.3

b. Patologis
1. Sindrom Peutz-Jeghers

5
Definisi
Sindrom Peutz-Jeghers adalah kelainan yang diturunkan secara genetik, jarang
terjadi, memiliki ciri khas berupa pigmentasi mukokutaneus dan poliposis
intestinal.4
Etiologi
Diturunkan secara autosomal dominan.4
Gambaran klinis
Manifestasi oral merupakan temuan diagnostik yang penting, terdiri dari makula
atau spot berwarna cokelat atau hitam, berbentuk oval atau bulat, dengan diameter
1-10 mm. Bagian yang sering terkena adalah kulit disekitar bibir, bibir, mukosa
pipi dan lidah. Lesi kulit jumlahnya banyak, biasanya terletak di perioral, berupa
bercak berwarna gelap. Tanda lainnya yang juga sering ditemukan adalah polip
intestinal (hemartoma), biasanya terdapat di jejenum dan ileum.4
Diagnosis banding
Ephelides, lentigo, pigmentasi fisiologis dan penyakit Addison.4
Perawatan
Suportif, pada beberapa kasus diperlukan tindakan bedah.4

2. Penyakit Addison

6
Definisi
Penyakit Addison merupakan insufisiensi hormon adrenal kortikosteroid yang
langka.4
Etiologi
Destruksi korteks adrenal, biasanya disebabkan oleh penyakit autoimun, infeksi,
tumor dan amiloidosis.4
Gambaran klinis
Manifestasi oralnya sering terjadi dan muncul lebih awal, berupa pigmentasi difus
atau bercak berwarna cokelat tua, akibat produksi pigmen melanin. Daerah yang
umunya terlibat adalah mukosa pipi, palatum, bibir dan gingiva.4
Diagnosis banding
Pigmentasi fisiologis, pigmentasi akibat penggunaan obat, sindrom Peutz-
Jeghers.4
Perawatan
Pemberian steroid.4

3. Melanoma maligna

7
Etiologi dan patogenesis
Berlawanan dengan melanoma maligna kulit, dimana pemaparan hebat terhadap
radiasi ultraviolet matahari merupakan faktor resiko yang sudah diketahui, tidak
ada faktor predisposisi yang telah diketahui untuk melanoma intraoral.4
Gambaran klinis
Melanoma maligna mungkin berkembang pada mukosa yang secara normal atau
pada daerah berpigmen yang ada sebelumnya. Hampir semua kasus melanoma
berisi beberapa derajat pigmentasi. Lesi bisa pipih atau nodular, bergantung fase
pertumbuhan tumor. Sifat klinis yang menunjukkan melanoma meliputi variasi
warna dari hitam ke merah, ukuran lebih besar dari 1 cm, dengan batas tidak
teratur atau tidak jelas.4
Diagnosis
Pemeriksaan histopatologis material biopsi penting untuk diagnosis.4
Perawatan
Perawatan berdasarkan doseksi radikal daerah yang terkena dikombinasi dengan
deseksi limfonodi. Kemotrapi sering digunakan, disertai dengan terapi imun.
Prognosis berdasarkan tipe histologis melanoma dan kedalaman invasi tumor ke
jaringan sekitarnya. Tumor dengan invasi yang dalam ke dalam jaringan ikat
mempunyai prognis jelek. Berbeda dengan melanoma kutan, yang tingkat
kesintasan 5 tahun adalah 65%, prognosis laju survival melanoma oral jelek,
dengan sekitar 20%. Faktor yang berhubungan dengan prognosis melanoma oral

8
yang jelek dibandingkan pigmentasi kutan meliputi deteksi terlambat,
kompleksitas eksisi dan merupakan penyakit keturunan yang lebih agresif. Selain
itu, melanoma oral sering disertai keterlibatan limfonodi, paru-paru dan hati, pada
saat dilakukan deteksi.4

4. Sarkoma Kaposi

Definisi
Sarkoma kaposi adalah neoplsma ganas, kemungkinan berasal dari sel endotel.4
Etiologi
Kemungkinan virus herpes tipe 8, imunosupresi.4
Gambaran klinis
Dikenal empat tipe sarkoma kaposi:
1. Klasik: tipe ini lebih umum dijumpai pada orang Yahudi dan orang
Mediterania lainnya, terutama melibatkan kulit, kadang mukosa mulut,
biasanya ditemukan pada laki-laki berusia 60 tahun ke atas.
2. African (endemik): tipe ini terutama melibatkan kulit dan nodus limfatik,
jarang melibatkan mukosa mulut.
3. Terkait-imunosupresi (iatrogenik): tipe ini terjadi pada pasien penerima
transplantasi organ, dan dapat bersifat agresif. Mukosa mulut jarang terkena.
4. Terkait AIDS (epidemik): tipe ini mempunyai insiden yang tinggi pada pasien
AIDS terutama melibatkan kulit, nodus limfatik, viscera, dan sering kali

9
melibatkan mukosa mulut.4
Lesi kulit tampak sebagai makula multipel atau soliter, nodula atau tumor
berwarna merah tua atau biru tua. Daerah yang umumnya terkena adalah kaki,
tangan, hidung dan telinga. Gambaran lesi oral tampak sebagai bercak multipel
atau soliter, berwarna merah atau merah kecoklatan, atau berupa plak yang
menonjol ataupun tumor. Bagian yang paling sering terkena adalah palatum dan
gingiva, diikuti oleh mukosa pipi, lidah dan bibir.4
Diagnosis banding
Granuloma piogenikum, granuloma sel raksasa perifer, angiomatosis basilaris,
hemangioma dan angiosarkoma.4
Perawatan
Interferon, kemoterapi, radioterapi, atau bedah eksisi untuk lesi yang kecil dan
terlokalisasi.4

5. Nevus Melanostik ( Nevus Berpigmen )

Blue nevus

Definisi dan etiologi


Istilah nevus dalam pengertian genetik, berarti malformasi kongenital. Digunakan
sebagai rujukan untuk melanosit, istilah ini merujuk pada neoplasm jinak dari
melanosit yang bersifat dapatan atau kongenital. Nevus melanositik dapat
jungtional, kompenen, atau intramukosal. Nevi jungstional berisi melanosit yang
seluruhannya dalam epitel, nevus kompoun, berisi melanosit hanya di jaringan

10
ikat. Nevus tipe keempat, yang disebut nevus biru, tersusun atas sel kumparan
berpigmen yang terletak pada jaringan ikat. Nevi jungtional masak menjadi nevi
intramukosa melalui tahap kompoun. Oleh karena itu, nevi jungtional paling
umum pada anak-anak, sedangkan nevi intramukosal pada dewasa. Pada kulit,
risiko transformasi malignan nevi melanotik ke melanoma tidak sepenuhnya
diketahui. Melalui beberapa studi telah diketahui bahwa sepertiga melanoma
berisi nevus melanosit yang ada sebelumnya. Tetapi, telah disepakati bahwa pada
beberapa situasi nevus melanotik mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk
mengalami tranformasi ganas, seperti pada individu dengan banyak nevi atipikal
dan riwayat melanoma dalam keluarga. Belum ditentukan apakah melanotik
dapatan padamulut pada dasarnya lesi prekursor melanoma oral. Nevi atipikal
tidak dilaporkan terjadi didalam mulut.4
Gambaran klinis
Sema nevus melanotik oral tampak sebagai lesi berwarna cokelat atau biru,
bergantung pada tipe atau kedalaman malanin. Lesi mempunyai pewarnaan yang
seragam, berbatas jelas dan sering kali diameternya kurang dari 0,5 cm. Baik nevi
jungtional maupun intramukosa tampak dasar tetapi nevi kompoun terlihat agak
meninggi. Variasi dalam warna, batas yang tidak jelas, ulserasi, dan ukuran yang
lebih besar adalah sifat yang harus segera dipertimbangkan sebagai melanoma
ganas.4
Diagnosis
Diagnosis hanya dapat dibuat berdasarkan penampilan histologis dari material
biopsi.4
Perawatan
Karena sering kali tidak mungkin membedakan nevi dapat dengan lesi berpigmen,
termasuk melanoma, semua nevi harus dibiopsi untuk menegakkan diagnosis.
Kebanyakan lesi kecil dan oleh karena itu, dapat di biopsi eksisional. Apabila
diagnosis sudah ditentukan, tindak lanjut klinis yang melibatkan catatan
fotografik harus dilakukan karena masih belum jelas apakah lesi akan mengalami
transformasi ganas.4
6. Jaundice

11
Definisi
Kata ikterus (jaundice) berasal dari kata Perancis jaune yang berarti kuning.
Iketerus adalah perubahan warna kulit, sklera mata atau jaringan lainnya
(membran mukosa) yang menjadi kuning karena pewarnaan oleh bilirubin yang
meningkat kadarnya dalam sirkulasi darah. Iketerus dan jaundice adalah
perubahan warna kuning yang terjadi mata (sklera) dan kulit akibat penimbunan
pigmen empedu dan kolestasis yang ditandai dengan retensi sistemik dan tidak
hanya bilirubun namun zat-zat larut lain yang dikeluarkan melalui empedu. Bila
kadar bilirubin >1,5 mg/ 100 cc, maka pada jaringan elastik kulit dan membran
mukosa mulai terdapat penimpunan bilirubin dan akan terlihat kekuning-
kuningan.5
Patofisiologis
Ada 5 fase dalam patofisiologis iketerus dan jaundice, yaitu:
1. Fase pembentukan bilirubin
2. Transport plasma
3. Liver uptake
4. Konjugasi, dan
5. Ekskresi bilirubin.5
Etiologi
Penyebab jaundice adalah peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang
menyebabkan perubahan warna kulit dan mukosa mulut. Keadaan ini tampak
pertama kali di dalam sklera.5
Gambaran klinis
Lethari (lemas), tidakingin mengisap, fases berwarna seperti dempul, urin
berwana gelap.5
Diagnosis
Diagnosis ditegakan daengan mengukur kadar bilirubin dalam serum.5

12
II. Eksogen
a. Sistemik
1. Pigmentasi karena obat

Definisi
Pigmentasi yang terjadi akibat penggunaan obat, disebabkan oleh meningkatnya
produksi melanin atau deposisi metabolit obat.6
Etiologi
Obat antimalaria, tranquilizer, minosiklin dan chloroquine.6
Gambaran klinis
Makula atau plak berwarna cokelat atau hitam dengan tepi tidak beratur atau
melanosis yang difus. Daerah yang sering terkena adalah mukosa pipi, lidah,
palatum dan gingiva.6
Diagnosis banding
Pigmentasi normal, penyakit Addison, sindrom Peutz Jeghers.6
Perawatan
Tidak diperlukan perawatan.6

2. Bismuthis

13
Bismuthism. Gingiva menunjukkan garis hitam yang disebabkan deposisi bismuth

Etiologi
Bismuth biasanya digunakan dalam obat-obat diare non spesifik (suppositoria)
dan pengobatan sifilis (bentuk garam) yang jika digunakan dalam jangka waktu
panjang akan mengakibatkan endapan difus dari dari logam tersebut dalam gusi.3
Gambaran klinis
Mulut bau logam, ANUG, gingivostomatitis. Ulserasi dangkal, besar dan sakit.
Warna biru kehitaman. Pigmentasi bismuth jarang terlihat pada anak-anak atau
wanita selama kehamilan. Diagnosa ditegakkan dengan paper taste yang
disisipkan pada sulkus gusi dan pemeriksaan lab (urin).3
Perawatan
Kebersihan rongga mulut.3

3. Lead poisoning (keracunan timah)

Etiologi
Penyerapan timah hitam ini sering melalui saluran pencernaan dan paru-paru.
Biasa terjadi pada pekerja pabrik. Keracunan timah akan mempengaruhi sistem
saraf pusat dan perifer juga pada gastrointestinal (mual, muntah, kolik) dan efek

14
paling serius dari timah adalah lead enchepalophaty (retardarsi mental, cerebral
palsy dan kejang).6
Gambaran Klinis
Gejala yang penting adalah rasa logam pada mulut. Tanda-tanda pada mulut yang
terlihat bila keracunan berat dan akut dan kebersihan mulutnya buruk maka
terdapat garis timah atau lead line. Garis ini berwarna hitam abu-abu dan terdapat
sepanjang margin gingival.6
Diagnosa
Keracunan timah berupa pengukuran kadar timah dalam darah 95% timah hitam
dalam darah ditemukan dalam eritrosit dan secara radiografi tulang menunjukan
gangguan metabolisme kalsium yang terjadi akibat aktivitas timah pada proses
osteoklasik dan resorpsi kalsium.6
Perawatan
Dengan menjauhkan penderita dari sumber elemen toksik, pemberian EDTA
(Calcium Edetate) atau penicilamin (kasus akut).6

4. Mercuryalism (ptyalism)
Etiologi
Akibat kontak dalam pekerjaan, overdosis dari obat-obatan, upaya bunuh diri,
pengobatan sendiri dengan senyawa merkuri. Merkuri dapat diserap dengan cepat
melalui inhalasi, ditelan, injeksi, dan dioleskan.3
Gejala umum
Meliputi kolik intestinal, diare, sakit kepala, insomnia, tremor jari-jari. Gejala di
ginjal menunjukkan intoksikasi yang parah dan dapat menyebabkan kematian.
Kontak yang lama dan terus menerus dapat mengakibatkan perubahan neurologik
yang permanen.3

Gambaran klinis
Manifestasi oral berupa suatu peningkatan yang mencolok dari aliran saliva yang
kental sekali (ciri khas merkurialism), hot mouth, rasa gatal dan rasa metalik,
bibir kering, pecah-pecah dan bengkak, lidah membengkak, kelenjar ludah dan
limfe membesar. Pigmentasi keabu-abuan yang pucat dan difus dari gingiva
alveolar terkadang terlihat, juga terdapat ulserasi pada mukosa mulut, palatum dan
tenggorokan.3
Diagnosa
Didiagnosa berdasarkan anamnesa.3

15
Perawatan
Perawatan sistemik meliputi bed rest dan program diet yang sesuai dengan
kerusakan ginjalnya. Th/ dari lesi mulut mengikuti terapi ANUG.3

5. Argyria
Etiologi
Penggunaan perak sebagai obat (nasal drops, gastritis).3
Gejala dan gambaran klinis
Rasa sakit, pigmentasi pada kulit, warna abu-abu kehitaman (state grey, ungu atau
biru, kadang terlihat berkilau metallic luster) dan pada intraoral pigmentasi
pada gingiva dan mukosa mulut.3
Diagnosa
Didiagnosa melalui anamnesa (riwayat pekerjaan) dan biopsi.3
Perawatan
Penggunaan obat dihentikan, injeksi Na tiosulfat 6%, kalium ferrosianida.3

6. Auric stomatitis
Etiologi
Penggunaan emas sebagai obat dalam bentuk garam aurum. Reaksi toksik berupa
dermatitis atau stomatitis (ulserasi, vesikel). Garam-garam emas digunakan dalam
terapi rheumatoid artritis, lupus eritematosus, leprosi dan lesi dermatologi lainnya
yang resisten terhadap bentuk terapi yang lazim.3
Diagnosa
Diagnosa ditegakkan berdasarkan riwayat pemberian senyawa emas untuk
kepentingan terapi (anamnesa).3
Perawatan
Penghentian terapi obat, secara paliatif dengan obat kumur yang mengandung
alkali lemah.3

7. Arsenic
Etiologi
Keracunan arsen pada polusi pabrik atau pengobatan yang dilakukan.3
Gambaran klinis
Gastritis kronis dan kolitis sering menjadi satu-satunya gejala yang nampak.
Keratosis telapak tangan dan kaki biasa dijumpai. Dermatitis, pigmentasi dan
ulserasi dari kulit dapat terjadi akibat terapi arsenic yang lama dan terus menerus
misalnya dengan larutan Fowlers. Gejala intraoral berupa mulut terasa kering dan
sakit, warna merah pada mukosa mulut.3

16
Perawatan
Obat kumut (diklonin solution) dan anestesi topical.3

b. Lokal
1. Tato amalgam (agirosis fokal)

Etiologi
Berasal dari terjebaknya amalgam pada luka jaringan lunak, seperti soket
pencabutan atau abrasi gingiva dari bur yang berputar.7
Gambaran Klinis
Lokasinya biasanya di gingiva daerah posterior dekat restorasi amalgam yang
besar atau emas cor, juga terlihat pada lingir tak bergigi, mukosa vestibulum,
palatum, mukosa bukal dan dasar mulut. Berbentuk macula dengan ukuran kurang
dari 10 mm, warnanya abu-abu gelap sampai biru kehitaman, bentuknya tidak
beraturan, batas jelas.7
Perawatan
Bisa dengan operasi dan biopsi.7

2. Gravit tattoo

17
Etiologi
Luka karena grafit pensil (implantasi grafit), setelah adanya trauma yang
membuat ujung pensil terbenam ke dalam mukosa.7
Gambaran Klinis
Lokasinya sering di bibir dan palatum. Berbentuk makula fokal berwarna abu-
abu, ukurannya kurang dari 10 mm. Tepinya regular dan berbatas jelas.7
Perawatan
Bisa dengan biopsi.7

1.2.2. Berdasarkan warna8


Lesi warna
Pyrogenic granuloma merah, biru
Peripheral ossifying granuloma merah, biru
Peripheral giant cell granuloma merah, biru
Mucocele biru
Mucoepidermoid carcinoma biru
Acinic cell carcinoma biru
Lymphoma biru, ungu
Vascular leiomyoma merah, biru
Metastatic cancer merah, biru
Fordyce ganule kuning
Lipoma kuning
Granular cell tumor kuning

18
1.2.3. Berdasarkan lokasi
I. Lokal
1. Tato amalgam

Definisi
Deposisi (tato) amalgam merupakan kelainan mulut yang sering terjadi.9

Etiologi
Pigmentasi pada rongga mulut dapat disebabkan oleh bahan restorasi gigi seperti
amalgam. Lesi ini menunjukkan partikel amalgam yang mengendap dengan
manifestasi seperti timbulnya makula yang berwarna terang dan kehitaman.9
Gambaran klinis
Biasanya terdapat pada gingiva yang berdekatan dengan restorasi amalgam.
Warnanya digambarkan sebagai warna hitam, biru, abu-abu atau kombinasi dari
ketiganya. Kebanyakan lesi ini bersifat asimtomatis dan tertutupi selama
pemeriksaan gigi. Fragmentasi amalgam yang tertanam dalam mukosa mulut dan
umumnya menstimulasi nevi atau melanomas secara klinis. Secara histologis
amalgam terlihat berupa granul-granul amalgam dan partikel-partikelnya akan
ditemukan umumnya pada lamina propria namun kadang-kadang juga terdapat di
submukosa.9
Diagnosis banding
Nevi berpigmen, freckles, melanoma, pigmentasi normal dan tato akibat
penggunaan bahan mengandung metal.9
Perawatan
Tidak diperlukan perawatan.9

2. Pigmentasi nevi

19
Definisi
Nevi seluler berpigmen, merupakan malformasi jinak melanosit dan sel-sel
nevus yang umumnya terjadi di kulit, tetapi jarang ditemukan di mukosa mulut.9

Etiologi
Kelainan perkembangan. Lesi berasal dari melanosit dan sel nevus dari krista
neuralis.9
Gambaran klinis
Pigmnetasi nevi ini terdapat pada intramukosa dan jaringan ikat yang terlihat
sebagai batasan pada vermillon bibir dan gingiva. Lesi biasanya berwarna abu-
abu, coklat atau kebiru-biruan berupa makula dan bersifat asimtomatis.9
Diagnosis banding
Ephelis, lentigo, melanoma dan tato amalgam.9
Perawatan
Biasanya tidak ada perawatan yang dilakukan. Namun, pada beberapa kasus ada
yang dilakukan bedah eksisi konservatif.9

3. Makula melanotik oral

Definisi
Disebut juga ephleis, melanosis, lentigo, solitary labial lentigo, makula melanotik
labial dan makula melanotik oral.9
Gambaran klinis
Batas vermillon bibir bawah merupaka daerah yang paling sering terlihat
dibandingkan mukosa bukal, palatum dan gingiva. Warna lesi ini biasanya abu-
abu, coklat, biru, hitam atau kombinasi dari warna-warna ini. Secara histologi,

20
menunjukan pigmentasi melanin yang meningkat pada lapisan sel dasar tanpa
peningkatan jumlah melanosit namun sebaliknya epidermis dalam keadaan
normal.9

4. Pigmentasi menyeluruh
Etiologi
Pigmentasi menyeluruh ini biasanya melibatkan hampir keseluruhan daerah
gingiva. Adapun yang termasuk pigmentasi menyeluruh ini adalah akibat:
1. Genetik yaitu pigmentasi melanin idiopatik (pigmentasi rasial atau fisiologis),
Peutz-Jegher syndrome, Laugier-Hunziker syndrome, miksozoma kompleks,
pigmentasi bercak, aktivitas endokrin yang berlebihan, Carney syndrome,
Leopard syndrome dan profusi lentiginosis.
2. Obat-obatan yaitu obat anti-malaria seperti chloroquine dan quinidine,
antimikroba, minosiklin, amiodaron, klorpromazin, ACTH, zidovudine,
ketoconazole, methyldopa, basulphan, menthol, obat kontrasepsi, paparan
logam berat.
3. Edokrin yaitu penyakit Addison, Albright syndrome, Akantosis nigrikans,
kehamilan dan hiperparatiroidisme.
4. Paska inflamasi yaitu penyakit periodontal dan repigmentasi gingiva paska
operasi.
5. Keadaan lain seperti haemochromatosis, neurofibromatosis menyeluruh,
incontinenti pigmenti, penyakit Whipples, penyakit Wilson, penyakit
Gaucher, HIV, Thalessemia, pigmented gingival cyst dan defisiensi nutrisi.9

II. Difus
a. Early onset
1. Sindrom Peutz-Jeghers

Etiologi
Gangguan autosomal dominan.10
Gambaran klinis

21
Makula hiperpigmentasi perioral dan pada mukosa labial atau bukal jarang pada
anggota gerak atas atau bawah. Polip gastro intestinal biasanya jinak dan berada
pada usus kecil, merupakan predisposisi dari intususepsi.10
Diagnosa
Bedakan dengan pigmentasi ras dan bercak-bercak merah pada wajah (epulis).10
Perawatan
Lakukan pemotongan untuk pemeriksaan histologi.10

b. Predominantly adult onset


1. Penyakit Addison

Etiologi
Penyebabnya hipoadrenalisme autoimun kadang-kadang bisa terjadi pada
penderita AIDS.10
Gambaran Klinis
Hiperpigmentasi terutama pada daerah yang memiliki pigmen terutama trauma.
Di mulut terlIhat pigmentasi kecoklatan dari gingival. Di kulit terdapat
hiperpigmentasi areola dan genital pada anggota gerak dan daerah trauma.
Kadang-kadang disertai penyakit autoimun lainnya.10
Pemeriksaan
Tekanan darah, elektrolit plasma dan kadar kortisol serta respon terhadap ACTH
(test sinakten).10
Perawatan
Terapi penggantian fludrokortison dan kortikosteroid.10

2. Kaporsi sarkoma

22
Etiologi
Tidak jelas. Neoplasma endhotelial ganas sering berhubungan dengan AIDS dan
mungkin juga dengan infeksi sitomegalivirus.10
Gambaran klinis
Lesi tahap awal berupa macula yang merah, keunguan atau cokelat. Tahap lanjut
lesi berubah menjadi nodular, yang luas serta menyebar yang luas dan terulserasi.
Kaposi sarcoma pada dasarnya menyerang palatum, walaupun dapat juga
mengenai daerah mulut lainnya.10
Pemeriksaan
Biopsi untuk mempertegas diagnosa, bedakan dengan lesi pigmentasi lainnya
terutama hemangioma dan purpura.10
Perawatan
Ditujukan untuk menghilangkan faktor predisposisi, radioterapi.10

3. Drug-induced pigmentation
Etiologi
Berbagai macam obat kadang-kadang menimbulkan pigmentasi, seringkali
melalui mekanisme yang tidak diketahui. Hormone adrenokortokotropik (ACTH)
dapat menimbulkan pigmentasi melalui aktifitas seperti MSH (neoplasma
pembentuk ACTH bekerja dengan cara serupa). Berbagai logam berat misalnya
timah dapat menimbulkan garis pigmentasi karena membentuk deposit sulfida
pada poket gingiva. Obat-obatan masa sekarang yang dapat menimbulkan
pigmentasi adalah anti malarial, busulfan, fenotiasin, ACTH dan kontrasepsi
oral.10

23
Gambaran klinis
Berbagai macam warna berupa bercak atau terlokalisisr menurut penyebabnya.10
Pemerikasaan
Riwayat penggunaan obat diagnosa yaitu bedakan dengan penyebab pigmentasi
lainnya.10
Perawatan
Hentikan obat penyebab.10

1.3. Pembahasan skenario


Smokers melanosis

Definisi
Melanosis pada perokok atau melanosis yang terkait pada kebiasaan merokok, adalah
pigmentasi melanin yang abnormal dan jinak pada mukosa mulut.4
Etiologi
Mengisap rokok yang menstimulasi pigmentasi.4
Gambaran klinis
Lesi terlihat sebagai daerah pigmen berwarna cokelat, multiple, biasanya terletak pada
gingival labial bagian anterior pada mandibula. Pigmentasi yang terjadi pada mukosa
pipi dan palatum terkait dengan kebiasaan merokok yang menggunakan pipa. Intensitas
pigmentasi berhubungan dengan durasi dan dosis yang digunakan. Wanita lebih sering
terkena.4
Diagnosis banding
Pigmentasi normal, pigmentasi karena obat, nevi berpigmen.4
Perawatan
Tidak ada perawatan yang menganjurkan dengan menghentikan kebiasaan merokok,
dapat membuat pigmentasi normal kembali.4

2. Pandangan islam tentang hukum merokok


Tembakau yang merupakan bahan baku rokok telah dikenal oleh umat Islam pada akhir abad

24
ke-10 Hijriyah, yang dibawa oleh para pedagang Spanyol. Semenjak itulah kaum muslimin
mulai mengenal rokok. Sebagian kalangan berpendapat bahwa merokok hukumnya boleh.
Mereka berdalil bahwa segala sesuatu hukum asalnya mubah kecuali terdapat dalil yang
melarangnya, berdasarkan firman Allah:


Dia-lah Allah, yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (QS. Al
Baqarah: 29).

Ayat di atas menjelaskan bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah di atas bumi ini halal
untuk manusia termasuk tembakau yang digunakan untuk bahan baku rokok.
Sanggahan: Berdalil dengan ayat ini tidak kuat, karena segala sesuatu yang diciptakan Allah
hukumnya halal bila tidak mengandung hal-hal yang merusak dan membahayakan tubuh.

Sementara rokok mengandung ribuan racun yang secara kedokteran telah terbukti merusak
dan membahayakan kesehatan. Bahkan membunuh penggunanya secara perlahan, padahal
Allah telah berfirman:

Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu. (QS. An-Nisaa: 29).

Lebih dari itu, mengapa tidak ada dalil khusus yang melarang rokok? karena rokok baru ada
500 tahun yang lalu, dan tidak dikenal di masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, para
sahabat, tabiin, tabi tabiin, maupun ulama penulis hadis setelahnya. Bagaimana mungkin
akan dicari dalil khusus yang melarang rokok? Sebagian kalangan yang lain berpendapat
bahwa merokok hukumnya makruh, karena orang yang merokok mengeluarkan bau tidak
sedap. Hukum ini diqiyaskan dengan memakan bawang putih mentah yang mengeluarkan bau
yang tidak sedap. Sebagaimana ditunjukkan dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:


Barang siapa yang memakan bawang merah, bawang putih (mentah) dan karats, maka
janganlah dia menghampiri masjid kami, karena para malaikat terganggu dengan hal yang
mengganggu manusia (yaitu bau tidak sedap). (HR. Muslim).

Sanggahan: Analogi ini sangat tidak kuat, karena dampak negatif dari rokok bukan hanya
sekedar bau tidak sedap. Lebih dari itu menyebabkan berbagai penyakit berbahaya
diantaranya kanker paru-paru. Mengingat keterbatasan ulama masa silam dalam memahami

25
dampak kesehatan ketika morokok, mereka hanya melihat bagian luar yang nampak saja.
Itulah bau rokok dan bau mulut perokok.

DAFTAR PUSTAKA

1. Veeresh, M., Nandakumar, H., Harshitha. Smockers Melanosis of the buccal mucosa; a
case report. Department of Oral and Maxillofacial Surgery, Krishnadevaraya College of
dental Sciences.
2. Ji Hyun Lee, M.D., Clinicopathologic Manifestations of Patients with Fordyces Spots,
2012, hal 103-105.
3. Michael Glick. Burkets Oral Medicine 12 Ed. Peoples Medical Publishing House.2015
4. G. Laskaris. Atlas Saku Penyakit Mulut. Ed 2. Jakarta: EGC. 2013.
5. Regezi, Sciubba, Jordan. Oral Pathologi: Clinical Pathologic Correlation. Elsevier
Science (USA): All right reserved. 2003.
6. P. Langalais, Robert. Craig S. Miller, Jill S. Nield-gehrig. 2013. Atlas Berwarna Lesi
Mulut yang Sering Ditemukan Edisi 4. Jakarta: EGC.
7. Martin S. Greenberg, Michael Glick, Jonathan A. Ship. Burkets Oral Medicine. 11th Ed.
Ontario: BC Decker Inc. 2008. P. 79, 82.
8. Greenberg, Martin S., Glick, Michael. Ship, Jonathan A. Burkets Oral Medicine 11th
edition. BC Decker Inc: Hamilton. 2008. p. 109.
9. Cicek Y, Ertas U. The Normal and Pathological Pigmentation of Oral Mucous Membrane:
A Review The Journal Contemporary Dental Practice 2003;4:76-86.
10. Scully, C and Caoson. R. A, 1991. Atlas Bantu Kedokteran Gigi. Penyakit
Mulut, Jakarta: Hipokrates.

26