Está en la página 1de 8

MEMPERJUANGKAN RUANG PEREMPUAN dalam PERKAWINAN

Ayu Ratih

"Marriage as a long conversation. When marrying, one should ask oneself this question: Do you
believe that you will be able to converse well with this woman into your old age? Everything else
in marriage is transitory, but the most time during the association belongs to conversation."
Friedrich Nietzsche1

Perkawinan mungkin salah satu praktek kebudayaan yang paling mengundang upaya perumusan
dari berbagai kalangan dalam suatu masyarakat. Kegiatan yang dibayangkan, bahkan dipercayai,
sebagai perwujudan ideal hubungan cinta antara dua individu belaka telah menjadi urusan
banyak orang atau institusi, mulai dari orang tua, keluarga besar, institusi agama sampai negara.
Orang bisa tidak punya pandangan sendiri tentang soal-soal politik atau ekonomi, tetapi hampir
dapat dipastikan ia berani ungkapkan pendapatnya tentang perkawinan, sekaligus menilai apakah
sebuah perkawinan pantas dilaksanakan atau tidak. Namun, pandangan pribadi ini pada saatnya
akan terpangkas oleh batas-batas yang ditetapkan keluarga, masyarakat, maupun ajaran agama
dan hukum negara sehingga niat tulus menjalin ikatan hati, membangun kedirian masing-masing
dalam ruang bersama, tak pelak lagi tersendat, atau seringkali terkalahkan.

Kamus pun sebagai buku acuan publik yang paling sederhana tak lepas dari kepungan wacana
dominan, sambil berusaha memberi tempat pada beragam praktek perkawinan yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, misalnya, mencantumkan 3
padanan kata untuk “kawin”, yaitu “menikah, bersetubuh (dalam ragam cakapan), berkelamin
(untuk hewan)”, yang diikuti dengan deretan istilah kawin, mulai dari “kawin acak” sampai
“kawin suntik”. Sedangkan definisi perkawinan sendiri ditegaskan kemudian melalui kata
“nikah”, yaitu “perjanjian resmi antara pria dan wanita untuk membentuk keluarga”.2 Dalam
kamus bahasa Inggris “marriage” [perkawinan] ditegaskan sebagai: “the union of a man and
woman by a ceremony in law” [persatuan seorang laki-laki dan perempuan melalui sebuah
upacara menurut hukum] dan “the state of being so united” [keadaan sedemikian bersatunya].3

Walaupun dalam kenyataannya ada berbagai praktek perkawinan sepanjang sejarah berbagai
komunitas, gagasan tentang perkawinan yang terpelihara kuat justru bertumpu pada kepercayaan
bahwa tugas utama manusia adalah berkembangbiak demi kelestarian umat manusia secara
umum. Tugas ini kemudian dilembagakan melalui peresmian hubungan laki-laki dan perempuan
oleh institusi agama dan negara untuk mendirikan keluarga. Lebih jauh lagi, demi keteraturan
sistem pewarisan dan keamanan kekayaan keluarga menurut garis ayah dari generasi ke generasi,
makna keluarga pun semakin dipersempit menjadi pembentukan keluarga batih dengan laki-laki
sebagai pemimpinnya.4
1
Pepatah (aphorism) no. 406 dalam Human, All Too Human: A Book for Free Spirits, Section 7 – Woman and
Child, (1878), http://users.compaqnet.be/cn127103/Nietzsche_human_all_too_human/sect7_Woman_and_child.htm
2
Drs. Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Jakarta: Modern English Press, 1991)
3
Longman Dictionary of Contemporary English (England: Longman Group Ltd., 1983)
4
Ada berbagai penjelasan tentang latar belakang muncul dan bertahannya gagasan keluarga batih. Pendekatan
Marxist melihat hubungan erat antara pembentukan keluarga dan penataan sistem kepemilikan seiring dengan
perkembangan kapitalisme. Teks utama yang menjadi acuan adalah Friedrich Engels, The Origin of the Family,
Private Property, and the State (New York: Penguin Books, 1986). Pendekatan feminis lebih menyoroti tendensi
Gagasan dominan tentang perkawinan dan keluarga ini kemudian melahirkan kaidah-kaidah
keramat yang mencegah orang punya bayangan lain tentang bentuk perhubungan akrab antar
manusia. Dan, aturan main itu menyiratkan paradoks. Di satu sisi, perkawinan dianggap sebagai
satu tahapan memanusia yang melambangkan kedewasaan dan kewarasan. Di lain sisi, tugas-
tugas yang dibebankan ke lembaga ini seringkali demikian menjerat sehingga mengancam
kewarasan dan kedewasaan individu-individu yang terlibat di dalamnya. Lebih jauh lagi, tumbuh
di tengah masyarakat yang mengunggulkan laki-laki sebagai pemimpin kehidupan, kaidah-
kaidah perkawinan secara khusus dipakai untuk mengendalikan gerak perempuan. Dua pokok
perkara yang akan disoroti dalam tulisan ini: pertama, dengan penunjukan laki-laki sebagai
pencari nafkah utama dan perempuan sebagai ibu dan pengurus rumah tangga terjadilah
pembagian ruang bergerak yang membuat perempuan terperangkap di rumah untuk waktu tak
terbatas; kedua, segregasi ruang secara seksual ini berpengaruh terhadap pola komunikasi antara
suami-istri dan cara pandang terhadap hubungan antar manusia pada umumnya.

Bertahan sambil Memperluas Ruang Gerak


Begitu perempuan masuk dalam lembaga perkawinan deretan pekerjaan yang berjudul
“melahirkan, mengurus anak, suami dan rumah tangga” sudah menanti. Jenis pekerjaan yang
terkandung dalam kata “mengurus” bisa bervariasi, tergantung dari jumlah pembantu yang
disewa oleh sebuah rumah tangga. Tetapi pada pokoknya tugas-tugas tersebut akan mengikat
badan, hati dan pikiran perempuan ke rumah sejak ia bangun pagi hingga malam hari, bahkan
mungkin menerobos mimpinya pula. Walaupun sebagian kerja fisik, seperti berbelanja,
membersihkan rumah, atau memasak kebanyakan didelegasikan ke pembantu, tujuan akhir
seluruh pekerjaan ini, yaitu menciptakan suasana rumah tangga yang tenang, tentram dan penuh
cinta kasih demi kesehatan fisik dan mental suami, menuntut kesigapan dan kesiagaan istri
sepanjang waktu. Semua berlangsung teratur dengan asumsi beginilah seharusnya kehidupan
berkeluarga yang normal dan alamiah.

Keteraturan ini pada saatnya mencapai titik jenuh. Dengan tanggung jawab sebagai perawat
kesejahteraan keluarga, pengalaman dan pengetahuan kebanyakan istri terbatas pada masalah
kerumahtanggaan dan keluarga. Maka, muncullah stereotip bahwa perempuan gemar bergunjing,
hanya peduli soal-soal “kecil”, dan yang paling telak, tidak rasional. Sang suami yang sudah
lelah seharian mengurus soal-soal “besar” tak tertarik pada cerita tentang tukang sayur yang
menipu, suami tetangga main gila, atau anak ketahuan menyontek. Ia pilih bergunjing dengan
kawanannya atau bercengkerama dengan perempuan yang lebih “berpengalaman”. Memang
kadangkala karena desakan kebutuhan ekonomi istri diperbolehkan bekerja di luar rumah. Tapi
ini tidak membebaskannya dari kewajiban yang utama. Selain itu, kalau sampai terjadi
ketidakberesan di rumah, kesalahan ditimpakan pada sang istri.

laki-laki untuk mendominasi perempuan di wilayah seksual sebagai dasar pendirian institusi patriarkal, seperti
diajukan teks klasik Kate Millet, Sexual Politics (London: Sphere, 1971). Sedangkan pendekatan yang mencoba
menengahi kedua terdahulu melihat bahwa bukan kapitalisme dan patriarki yang melanggengkan gagasan dominan
tentang keluarga tapi ideologi kaum borjuis Eropa tentang “kekeluargaan dan kerumahtanggaan” yang terus-
menerus direproduksi sepanjang sejarah bukan hanya oleh laki-laki tapi juga perempuan. Untuk yang terakhir lihat
Michèle Barret, Women’s Oppression Today: Problems in Marxist Feminist Analysis (London: Verso, 1980),
terutama bab 6.
2
Banyak perempuan yang merasa tersiksa dengan pembatasan peran mereka. Namun, kebanyakan
istri mencoba menyelami makna pelayanan dan melacak kiat hidup berumahtangga, apakah itu
dari ibunya, konsultan pernikahan di media massa, atau pendakwah berbagai agama yang
semakin mereproduksi gagasan konservatif tentang perkawinan dan keluarga. Perempuan tidak
selalu punya tempat berlari. Perceraian tidak selalu dilihat sebagai pilihan terbaik, apalagi kalau
suami tidak melakukan kesalahan fatal, seperti menyeleweng atau main pukul, dan mereka
secara finansial tergantung pada suami5.

Ulasan di bawah ini menggambarkan upaya beberapa perempuan memperluas ruang geraknya
dan memberi makna berbeda pada perkawinan mereka. Awalnya mereka adalah ibu rumah
tangga yang tidak bekerja di luar rumah dan merasa bahwa kehidupan perkawinan mereka baik-
baik saja. Namun, seiring dengan perubahan politik di negeri ini, mereka terlibat dalam kegiatan
sosial sejumlah organisasi kemanusiaan dan mulai mengalami hambatan bergerak dari para
suami mereka. Para suami ini melihat bahwa kegiatan mereka di luar rumah tidak berguna bagi
keluarga terutama karena kegiatan itu tidak menghasilkan uang dan membuat para istri “berani
melawan suami”. Suami merasa perlu menertibkan tingkah laku si istri dengan menetapkan
berbagai aturan yang mengubah rumah menjadi penjara, seperti digambarkan dalam cerita
berikut ini6:

Aku boleh pergi setelah dia berangkat ke kantor. Tapi jam 4 sore, aku harus ada di rumah. Setelah
suamiku pulang, aku temani dia makan malam dan dengarkan dia bicara. Kalau aku coba ceritakan
pengalamanku hari itu, atau share pikiranku, dia tidak dengarkan, dan pergi begitu saja, nonton
tivi. Kalau sudah malam, bahkan untuk telpon atau terima telpon dari temanku seorganisasi sulit.

Ketika ‘jam malam’ dilanggar, muncul keributan-keributan kecil yang berbuntut penutupan
akses ke fasilitas yang memungkinkan sang istri berhubungan dengan dunia luar:
Gara-gara dia marah aku sering ke kantor organisasi, aku ngga boleh keluar lagi. HPku diambil
dan diumpetin. Padahal aku beli HP itu dari hasil menabung honorariumku yang tidak banyak
jumlahnya.

Sebelum aku ada masalah dengan dia, uang semua dikasih ke aku dan aku yang mengelola. Tapi
setelah aku pergi seminggu ikut training di Jogja, uang ngga lagi dikasih ke aku. Aku ngga tahu
lagi soal uang, dan pernah suatu kali aku ngga punya uang sama sekali.

Keberanian istri untuk mengajukan pendapat, berdebat, atau sekedar mempertahankan posisi
rupanya menimbulkan rasa terancam di pihak suami dan mereka berbalik mengancam:
Kalau dia lagi waras, aku ceritain apa yang aku lakukan di luar rumah. Tapi, kalau warasnya
hilang, ditanya lagi walaupun sudah diceritain berkali-kali. “Ngapain aja sih loe? Kok bisa sampai
malam begini”. Aku pikir satu soalnya: ngga ada uangnya. “Loe itu ngapain ngabisin waktu. Loe
5
Ada banyak juga contoh kasus dimana kenyamanan yang dijamin oleh status sosial dan ekonomi suami seringkali
membuat istri lebih memilih mereproduksi gagasan perkawinan yang dominan dan keluarga sakinah daripada
menjalani kehidupannya sendiri secara merdeka. Lihat Emily James Putnam, The Lady, (Chicago: University of
Chicago Press, 1970) “When it is flatly put to her that she cannot become a human being and yet retain her
privileges as a non-combatant, she often enough decides for etiquette”. (p. 251)
6
Seluruh kutipan cerita para istri dalam tulisan ini diperoleh melalui rekaman wawancara lisan dan tulisan melalui
email dengan 10 perempuan yang berdomisili di Jakarta pada 18-20 Februari 2002. Atas permintaan mereka penulis
sepakat untuk tidak mengungkapkan identitas mereka dan keterangan tentang institusi tempat mereka bekerja.

3
juga susah, dan duit loe juga ngga banyak. Hasilnya cuma berani ngelawan, protes sama suami.
Kalau kerja itu ada uangnya, loe kejer, boleh”.
“Kalau kamu masih tetap ngelawan begitu, kamu ngga boleh keluar. Kamu ngga boleh ke
organisasimu. Kamu harus keluar dari organisasi itu, kalau ngga kita cerai aja”.

Suamiku juga bilang, “Aku bisa gerakin kawan-kawanku. Aku bisa hadapkan mereka dengan
perempuan-perempuan. Gampanglah yang kayak begitu. Apalagi kita semua juga sebel sama
aktifis-aktifis”.

Sikap polisional yang dilakukan suami didasari oleh kecemasan akan perubahan, bukan hanya
dalam diri si istri, tetapi juga dalam tatanan rumah. Ada rasa terganggu dengan munculnya
ketegangan di rumah. Bagi suami rumah merupakan suaka dari dunia yang tidak bersahabat. Ia
harapkan kenyamanan dan kehangatan, sedangkan bagi istri rumah sudah menjadi penjara.
Mereka berbagi ruang yang sama, namun sebetulnya belum tentu mereka berbagi makna yang
sama atas ruang tsb. Yang menarik, di kalangan istri tercetus keinginan memiliki ruang pribadi di
dalam rumah:
Hal yang termewah itu! Kalau bisa punya ruangan sendiri dan orang lain ngga boleh masuk, aduh
enak sekali. Mereka kan menganggap apa pun sama-sama kalau sudah suami istri. Misalnya aku
sedang jengkel sama dia, aku di dalam kamar kunci pintu saja dia marah kok. “Kamu ngapain sih
di kamar? Tuh lihatin tuh anakmu!” Terus aja pintu diketok-ketok, pokoknya ngga dibiarkan aku
untuk sendiri.

Kalau aku sampai punya ruangan sendiri, wah bisa ribut. Pasti itu. Perubahan-perubahan kecil aja
marah, apalagi buat ruang sendiri. Bayangannya, kalau kita pengen sendiri, pasti kita punya pacar,
atau punya simpenan lain. Sampai situ aja pikirannya…. Jadi, harus kelihatan gitu lho gerak-gerik
kita, kita ngapain.

Suami tidak sendirian dalam usahanya menertibkan sang istri dan mengembalikan ketentraman
rumah tangganya, tidak pula ia bebas dari tekanan. Keluarga besar dan masyarakat akan terus-
menerus mengingatkan tugasnya sebagai “kepala keluarga” yang punya wewenang penuh
mengatur tata laku sang istri. Sementara si istri pun terombang-ambing antara keyakinan akan
hak-haknya sebagai manusia dan ketakutan berhadapan dengan gugatan keluarga dan
masyarakat:

Kadang-kadang kalau aku pulang sudah agak malam, aku mulai deg-degan. Aduh, mudah-
mudahan tetanggaku jangan ada yang keluar. Kalau ada yang keluar, duh ngga enak ya nanti
diomongin, terus suamiku denger. Jadi aku buka pagarnya pelan-pelan. Kadang-kadang aku jahat
juga, berdoa mudah-mudahan hujan, jadi ngga ada orang di luar.

Di tengah kepungan aturan, para istri yang mulai menikmati kekayaan pengalamannya tidak
menyerah begitu saja. Mereka ambil langkah-langkah taktis laiknya seorang narapidana yang
mencoba membujuk sang sipir untuk perjuangkan akses ke luar penjara. “Siasat” seperti ini
kadangkala dianggap gerak mundur dan mencemarkan gambaran ideal perkawinan, tapi istri tak
punya pilihan lain:

Tapi entar ya kita baik-baik, peluk-peluk dikit, lihat situasi, biarpun di dalam sini rasanya sudah
muak gitu ya, tapi aku butuh untuk keluar, untuk eksistensi aku, kan? Yah, ada permainan yang
gitu-gitulah. Karena pikirannya cuma terbatas di situ-situ aja: seks dan uang. Kalau kita seksnya
baik, boleh keluar. Kalau kita keluar ada uangnya, ok. Jadi standar aja. Kasihan sebetulnya cuma
punya pikiran segitu. Tapi mereka ngga mau sih ada perubahan.
4
Mencari Makna Baru Perkawinan

Para istri sebenarnya tidak menikmati ‘permainan’ narapidana dan sipir penjara ini karena
mereka tetap berharap bahwa perkawinan seharusnya dilandasi cinta dan kepercayaan. Mereka
mulai mencoba berbagai cara untuk mendesakkan gagasan-gagasan yang lebih maju dalam
rumah tangga mereka. Dan, lambat laun mereka menyadari bahwa bagi mereka yang terpenting
bukan sekedar memperoleh kebebasan pribadi, tetapi lebih jauh lagi menumbuhkan kesadaran
akan kesetaraan hubungan suami-istri dan kedirian sebagai manusia:

Dia bersikap begitu lebih karena tuntutan keluarga dan masyarakat. Aku berusaha ngomong ke
dia, “Kamu itu kerja jangan hanya karena tuntutan masyarakat, karena kamu merasa kepala
keluarga, tapi kamu sebagai manusia yang harus punya eksistensi”. Itu dia ngga bisa terima. “Saya
tetap kepala keluarga”. Padahal aku sudah bilang, “Kalau kamu tetap dengan pikiran seperti itu,
beban kamu berat sekali”.

Kita berstrategi. Kalau mukanya lagi dilipet tujuh, ya kita baik-baik, sambil masukin pelan-pelan
ide-ide baru. Terus ada lagi nih, misalnya kita muncul di majalah atau di koran, sengaja ditunjukin
biar dia baca. Ada juga tuh buku-buku tentang gender atau hasil pelatihan dari mana gitu, kita
geletakin aja di atas meja. Ya, kadang dibaca, kadang engga. Tapi nanti kita ajakin ngomong-
ngomong soal itu, ya cape sih sebenernya.

Dalam usahanya menghadapi gugatan suami terhadap pekerjaan yang tidak menghasilkan
uang, para istri ini kemudian mencoba memberi makna pada kegiatan mereka. Mereka
melihat arti penting solidaritas dan mendorong suami untuk tidak memikirkan
pemenuhan kebutuhan pribadi semata:
Aku kan waktu itu seneng baca buku Tan Malaka. Aku geletakin, dia mulai baca dan dia
selesaikan 3 jilid. Kita jadi sering ngobrol soal Tan Malaka. Dan dia jadi berubah, lebih care sama
lingkungan. Tadinya dia tuh ngga mau bantu-bantuin orang. Tapi kayak kemarin tuh ada korban
banjir, dia sendiri yang udah mulai buka posko-posko.

Membandingkan dengan pengalamannya bekerja di organisasi kemanusiaan, para istri ini


melihat bahwa dalam kesehariannya suami mereka tidak banyak melakukan kegiatan yang
menyenangkan dan terlalu berarti untuk pengembangan intelektual dirinya. Mereka bekerja
lebih banyak sebagai kewajiban. Ketika pengetahuan dan pengalaman istri bertambah, dan
mereka begitu menikmatinya, mereka berharap agar sang suami pun akan tertarik untuk
mengimbanginya, bukannya merasa terancam. Mereka sangat menekankan keinginan untuk
bisa berhubungan dan “berbicara seperti teman” dengan suami mereka.
Ada dua hal yang tampaknya membuat para istri ini bersikukuh dengan posisi mereka.
Pertama, mereka melihat bahwa dalam kesehariannya para suami sebenarnya tidak
mengerjakan hal-hal yang terlalu berarti untuk pengembangan dirinya sebagai manusia.
Setelah usai bekerja, sehari-hari mereka hanya duduk-duduk nonton televisi, main computer
game, dan menjadi polisi rumah tangga. Ketika mereka menyadari bahwa pengetahuan
politik dan intelektual para istri berkembang, mereka merasa tertinggal dan mulai mencegah
gerak kemajuan ini dengan menghindari percakapan yang akan menunjukkan ketidaktahuan
mereka. Hampir semua istri mengatakan bahwa ketika mereka berhenti mendebat, kemarahan
suami mereda.
5
Kedua, para istri juga melihat ada kontradiksi antara kekhawatiran para suami akan
pandangan keluarga dan masyarakat dengan ketidakpedulian para suami terhadap masalah
keluarga dan kemasyarakatan. Para suami keberatan menangani pekerjaan mengurus anak
dan rumah tangga dan menganggap kegiatan istri dalam organisasi sosial sebagai pekerjaan
yang sia-sia. Kalaupun para suami akhirnya bersedia menangani pekerjaan rumah tangga dan
mengijinkan istri berkegiatan di luar rumah, mereka memperhitungkannya sebagai pemberian
kredit budi baik yang setiap saat bisa dituntut pengembaliannya.

Membayangkan Kebersamaan yang Berbeda

Pengalaman para istri berbenturan dengan batas-batas tradisional perkawinan dengan sendirinya
menimbulkan pikiran untuk melepaskan diri dari lembaga tsb. Namun, bagi mereka perceraian
bukan pilihan yang menjanjikan juga. Kenyataan bahwa mereka mempunyai sejumlah anak dan
secara ekonomi tergantung pada suami membuat mereka berpikir ulang untuk mengambil
langkah ini. Mereka juga mengkhawatirkan bahwa perceraian akan memisahkan mereka dari
anak-anak, padahal mereka meragukan kemampuan para suami mendidik anak-anak dengan
nilai-nilai yang lebih demokratis dan manusiawi. Selain itu, ada ketakutan bahwa kecaman dari
keluarga besar dan masyarakat akan dilekatkan ke anak dan berpengaruh pada perkembangan
kemandirian anak itu sendiri, terutama anak perempuan.

Keterlibatan mereka dalam organisasi yang menekankan kebersamaan dan kesetaraan ternyata
menumbuhkan bayangan yang berbeda tentang perkawinan pun keluarga. Sekali lagi yang jadi
idaman mereka bukanlah kebebasan pribadi semata, melainkan kedirian sebagai manusia dalam
ruang gerak yang disepakati bersama. Selain itu, keprihatinan mereka terhadap nasib perempuan
yang terhimpit oleh kesulitan ekonomi dan tekanan suami mendorong mereka untuk membangun
kekuatan ekonomi bersama sambil membuka ruang perempuan yang lebih leluasa, seperti yang
digambarkan ibu di bawah ini:

Setelah banjir, aku mulai buka catering sama temen-temen perempuan di kampungku, untuk sama-
sama cari rejeki lah. Sedikit demi sedikit aku kumpulin, dan ibu-ibu itu juga menikmati. Kalau di
sana suaminya rata-rata ngga kerja. Kita suka sharing kalau sudah selesai masak tentang para
suami kita. Ibu-ibu ini sering mengeluhkan suaminya yang tidur melulu. Tapi gimana anak mereka
sudah besar-besar masa mau ditinggalin. Ya udah dijalanin aja idup kaya’ begini. Rata-rata semua
bilang begitu. Aku sedih sebenernya. Aku ingin menyadarkan mereka tapi aku juga ngga tahu
kalau mereka sadar nanti akibatnya kaya’ gimana?

Dilema serupa ini dialami bukan saja oleh para istri yang sedang memperjuangkan ruang yang
lebih demokratis dalam perhubungan suami-istri. Perempuan yang sudah melalui perceraian pun
masih kesulitan membayangkan bentuk perhubungan seperti apa yang akan menjamin kedirian
mereka sebagai manusia perempuan. Simak penuturan dua ibu tunggal di bawah ini:

Makanya aku suka berkhayal dan bercanda dengan teman-teman yang tahu posisiku. Aku mau
kawin dengan laki-laki yang mau terima diriku apa adanya, baik, kaya, ngga' punya keluarga, beri
banyak kebebasan buat aku untuk melakukan apapun aktifitas yang aku mau, dan katanya itu
mustahil. … Tapi aku bisa terima bahwa cinta atas dua orang memang tak selalu harus diakhiri
dengan sebuah perkawinan. Karena sudah banyak yang mengalami hal itu. Aku harap, aku bisa
seperti itu.
6
Aku kebayang kawin tapi aku ngga mau suaminya, mau anaknya, gitu lho. Gimana caranya? Kawinin
orang, tapi hanya kepengen punya keluarga tapi ngga pengen punya suami. Itu yang menarik. Jadi,
punya anak banyak, dekat dengan ibu, kakak, adik, tapi ngga harus lengkap ada suami, istri, anak.
Mungkin bukan kawinnya, ya. Pokoknya bisa merasa nyaman di dalamnya.
Bayangan para perempuan ini sebenarnya bukan angan-angan belaka. Ada banyak contoh kasus
yang menunjukkan bahwa ketika laki-laki bersedia menjalankan tugas-tugas rumah tangga,
pertalian suami-istri justru memperkaya kemampuan masing-masing individu yang berada di
dalamnya. Lebih jauh lagi, perlu dipertimbangkan beberapa pengalaman membangun keluarga
yang lepas dari ide atomisasi keluarga batih dan ketergantungan pada figur bapak sebagai kepala
keluarga. Apa pun pilihannya, usaha memperluas ruang perempuan dalam perkawinan tidak bisa
dipisahkan dari desakan terhadap laki-laki untuk bersikap lebih fleksibel terhadap lembaga
perkawinan dan keluarga itu sendiri. Mereka menilai bahwa kalau memang pendapat masyarakat
begitu penting, seharusnya para suami tidak terlalu terobsesi dengan kesempurnaan keluarganya
sendiri, tetapi juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.

Penutup
Laiknya praktek-praktek kebudayaan lain, perkawinan sudah menjadi medan pertarungan
gagasan. Perkawinan, di luar makna persetubuhan itu sendiri, tidak seperti lazim dipahami orang,
bukanlah sesuatu yang biologis atau alamiah, dan terbuka untuk dimaknai siapa pun. Masalahnya
memang reproduksi gagasan dominan tentang perkawinan dan kaitannya dengan pembentukan
keluarga begitu intensif dan menyeluruh. Ini membuat banyak pihak yang memilih untuk larut
dalam alur yang sudah jelas aturan mainnya atau menolak sama sekali institusi yang ada dengan
menciptakan ruang-ruang pribadi yang terjaga kenyamanannya secara sosial dan ekonomi.
Persoalan berikutnya, tidak semua orang, terutama perempuan, berada dalam posisi sosial dan
ekonomi yang memungkinkannya untuk membuat pilihan kedua. Dalam posisi seperti ini
seringkali pilihan satu-satunya adalah terus memperjuangkan perluasan makna dan ruang gerak
bersama dengan kaumnya sambil mempersiapkan tatanan alternatif yang bisa menjamin
kediriannya sebagai manusia.***

Ayu Ratih menyelesaikan S2 di University of Wisconsin-Madison, USA, di bidang Sejarah dan


Perbandingan Sastra Asia Tenggara. Sehari-hari aktif di Jaringan Kerja Budaya (JKB) dan Tim
Relawan untuk Kemanusiaan (TRK), Jakarta.

Referensi:

Barret, Michèle, Women’s Oppression Today: Problems in Marxist Feminist Analysis


(London: Verso, 1980)

Engels, Friedrich, The Origin of the Family, Private Property, and the State (New York:
Penguin Books, 1986)

Estés, Clarissa Pinkola, Women Who Run with the Wolves: Myths and Stories of the Wild
Woman Archetype (New York: Ballantine Books, 1992)

7
Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, Peranan Keluarga Kristiani (Jakarta:
Penerbit Obor, 1994)

Mujtaba’, Saifuddin, Isteri Menafkahi Keluarga? (Surabaya: Pustaka Progressif, 2001)

Schneir, Miriam, (ed.), Feminism: The Essential Historical Writings (New York: Vintage
Books, 1994)