Está en la página 1de 4

JAKARTA WATER WORLD

Oleh Ayu Ratih

Sebagian besar masyarakat perkampungan Jakarta sulit melihat hujan besar sebagai
berkah. Setelah musim kering yang panjang, mereka mungkin sedikit lega ketika hujan
mulai turun dan mengurangi rasa pengap dan panas di lingkungan mereka. Tapi begitu
permukaan air kali bergerak naik mendekati jalan, mereka harus bersiap-siap
mengungsikan harta benda mereka, dan kemudian, diri mereka sendiri.

Aneh memang. Selama ini di sekolah kita diajarkan, “Air adalah sumber penghidupan.”
Dalam berbagai penelitian ilmu sosial disimpulkan, “Sungai melahirkan peradaban.”
Soalnya -- seperti di kebanyakan kota besar di negeri ini -- yang mengaliri kali bukan air
bersih, bukan hanya air, tetapi juga lumpur dan sampah. Jadi, ketika di awal 2002 media
massa nasional heboh memberitakan “Jakarta terendam air”, hingga muncul ungkapan
seorang kawan, “Jakarta Water World”, harap dibayangkan bahwa air itu tidak polos-
polos saja melabrak si ibu kota. Bersamanya muncul “sejarah” buangan masyarakat
Jakarta, mulai dari gelas aqua, onderdil motor, bangkai kucing, sampai tinja.

Bagi warga perkampungan miskin Jakarta – atau istilah kerennya “the urban poor” –
banjir sudah menjadi semacam ritual tahunan. Seperti diungkapkan Rinto, seorang aktifis
kemanusiaan yang lahir dan besar di Kampung Prumpung Sawah, “Sudah rutin. Kita
tinggal nunggu jadwal saja”. Mereka juga punya takaran sendiri untuk menentukan
apakah “ritual” kali ini termasuk kecil atau besar. “Kalau air cuma selutut, atau malah
sepinggang, sih makanan harian. Nah, begitu sampai ke dada, siap-siap ngungsi lah,”
lanjut Rinto.

Kampung Prumpung Sawah, di daerah Cipinang Besar Utara, yang berbatasan dengan
Kali Cipinang, awalnya bukan daerah banjir. Ibu Sundari, 58 tahun, yang kutemui di
rumah Rinto, menuturkan, “Waktu saya pindah ke sini pada 1968 masih banyak tanah
lapang dan kalinya jernih.” Lima tahun kemudian setiap kali hujan deras air mulai
menggenang di jalanan depan rumahnya. Setelah itu hampir setiap 10 tahun kali meluap
dan merendam perkampungan itu antara 1 minggu sampai sebulan. “Itu bekas lumpur
banjir tahun kemarin,” Ibu Sundari menjelaskan sambil menunjuk ke dinding putih
kusam bergurat kecoklatan. “Setiap habis banjir ya rumah dicat lagi,” lanjutnya.

Berbagai cara dilakukan warga kampung untuk menyambut ritual ini. Yang kebetulan
punya uang lebih berulang kali menaikkan lantai rumahnya supaya lebih tinggi dari jalan,
atau membangun rumah bertingkat. Jangan heran jika kita memasuki rumah di daerah
banjir dengan mudah kita bisa menyentuh atap dengan kepala. Yang penghasilannya pas-
pasan atau mengontrak rumah petak, mempersiapkan semacam mezzanine sederhana
dengan lembar plywood di bawah atap. Tempat tidur susun, biasanya dari pipa besi
murahan, merupakan barang berharga, karena begitu air mencapai pinggang, mereka bisa
langsung naik ke “tingkat 2”.

Waktu kutanyai bagaimana orang menjaga harta bendanya di daerah itu, Rinto
menjelaskan, “Biasanya orang berusaha membatasi jumlah dan jenis barang yang
dimiliki.” Yang paling cepat diselamatkan umumnya barang-barang elektronik yang bisa
dijinjing, seperti televisi, tape dan radio. Selebihnya, “Ya, dibiarin aja. Makanya kalau
habis banjir tukang reparasi kulkas dan Sanyo [pompa air] laku keras. Sukur-sukur kalau
barangnya ngga hanyut, masih bisa ketemu,” lanjut Rinto sambil tertawa panjang.

***

Kunjunganku ke Kampung Prumpung Sawah tak lengkap tanpa menengok Kali


Cipinang, si pencipta sejarah. Dari rumah Rinto jaraknya kira-kira 100 meter, melalui
gang-gang pengap yang cukup untuk 2 motor saja. Rumah-rumah dengan luas antara 50
sampai 100 meter, beratap rendah, berjajar rapat sehingga sinar matahari pun sekelebat
saja tampak. Ada beberapa rumah yang tampak lebih mapan berpagar besi dan diberi
“tanggul” di bagian depannya [istilah yang dipakai di kampung itu untuk menyebut
tembok menonjol penahan air]. Di kiri-kanan jalan beton ada got dangkal selebar 30 cm
yang multi guna. Seorang anak balita dengan santai berak di got itu berhadap-hadapan
dengan ibunya yang sedang mencuci baju di atas papan cuci kayu. Di sisi mereka ada air
bersih seember.

Gang yang berliku-liku ini berujung di jalan setapak menuju bantaran kali. Dari pangkal
kelokan gang terakhir tampak air kali kecoklatan mengalir lancar. Permukaannya cukup
tinggi karena awal tahun ini hujan sering turun. Bau busuk sampah segera menyambutku.
Di sepanjang bantaran kali berjajar rumah-rumah semi permanen yang tambal sulam
antara lembaran tripleks berlainan warna, dinding bata tak berlapis, dan seng berkarat.
Kami ambil posisi di depan WC/KM umum yang dibangun kokoh dengan suplai air
bersih dari PAM. Tapi, tepat di pinggiran kali ada pula kakus-kakus umum berderet yang
ditutup seng bekas. “Kalau pakai WC umum kan bayar 300 perak, Mbak,” Rinto rupanya
menangkap kebingunganku. Tak ada air memang di kakus gratis itu. “Biasanya orang tua
bawa air secukupnya untuk cebok. Kalau anak kecil mah pulang aja habis beol, cuci di
rumah,” urai Rinto.

Tak putus kutatap aliran coklat pekat itu. Dari seberang kali terdengar suara gitar listrik
mengaum ala musik heavy metal. Dua anak remaja tanggung sedang berlatih di beranda
yang menghadap ke kali. Aku teringat cerita kawan-kawan dari Sanggar Akar, anak-anak
jalanan pemain musik, yang ikut tim evakuasi korban banjir di daerah Penas Lama
setahun lalu. Mereka membuat rakit penyelamat darurat dari beberapa jerigen dan botol
aqua yang dirangkai dengan kayu-kayu bekas dan dikendalikan dengan tampar. Dengan
“kapal tongkang” inilah mereka memindahkan paling tidak 50 jiwa dari perkampungan
Penas Lama ke Sanggar Akar.

Simak pengalaman Dede Ambon ini: “Gue sambil berenang mendorong kapal tongkang.
Sambil merasakan dinginnya air gue coba bergerak-gerak sambil memeluk sebatang kayu
yang gue jadikan tiang untuk mengikat tali. Sebelum sampai ke tiang listrik dekat tong
sampah, gue mencoba melawan arus yang gue rasa amat deras sekali. Di situ juga ada
sebuah tembok yang jebol akibat pukulan derasnya air yang membuat arus menjadi lebih
kuat. Hampir saja gue dan Sandi masuk ke dalam situ. Untung saja ada tali yang
sebelumnya sudah dipasang kawan-kawan lain. ... Kapal berhasil mengangkut enam
orang”.

Pertama kali aku mendengar kawan-kawan ini mengucapkan kata “berenang”, yang
langsung terbayang olehku semacam yang biasa dilakukan orang di kolam renang, di
danau atau lautan yang berair jernih dan landai. Melihat Kali Cipinang, imajinasi
tradisionalku tentang “berenang” kacau-balau. B E R E N A N G di “lautan” sampah,
sambil berendam lumpur? Mau pakai gaya apa?

Lamunanku terputus oleh suara benda melayang di atas kepalaku: plastik kresek berisi
sampah yang dilontarkan ke kali dari rumah di belakang tempat kami berdiri. “Begitu itu,
Mbak, orang buang sampah ke kali, tapi nanti waktu banjir balik lagi tuh sampah ke
rumah kita. Akrab dah pokoknya!” Rinto tertawa lagi.

Sembari berjalan balik ke rumah Rinto, ia menjelaskan bahwa penyebab utama banjir
adalah pengelolaan sampah yang buruk. Soal ini dihadapi kampungnya, begitu juga
kampung-kampung kumuh lainnya di Jakarta. Warga kampung bukannya tak paham soal
ini, seperti sering diduga para pengamat sosial, tapi memang tak tersedia banyak pilihan
bagi mereka. “Habis, mau buang sampah ke mana lagi? Mau dibakar di rumah tak ada
pekarangan. Salah-salah rumah sendiri kebakar. Dibawa ke TPA [tempat pembuangan
sampah umum yang dikelola Pemda], dimintain duit sama petugas di sana. Ya, paling
murah dibuang ke kali”.

***

Kami kembali ngobrol di rumah Rinto dengan Ibu Sundari. Aku masih ingin tahu lebih
banyak bagaimana mereka menyelamatkan diri ketika banjir datang. Beberapa bulan
yang lalu aku dengar ada pelatihan antisipasi banjir yang diselenggarakan oleh sebuah
LSM ternama.

“Wah, ngga usah pakai training segala, Mbak. Kita mah sudah tahu begitu banjir harus
buat apa wong sudah tahunan kejadian begini, kok,” sahut Ibu Sundari dengan lemah
lembut.

“Yang pertama diselamatkan pasti orang tua, anak-anak dan perempuan. Rata-rata tahu
itu dan anak muda, terutama yang laki-laki, kebanyakan bisa berenang, ya karena banjir
itu,” sambung Rinto.

Rumah-rumah yang memiliki loteng biasanya jadi tempat penampungan para tetangga
yang tak bisa lagi tinggal di rumahnya. “Setahun lalu kira-kira ada 20an orang, dengan
barang-barangnya, di rumah kami. Mereka tinggal lebih dari 1 minggu,”Ibu Sundari
bercerita. Yang tidak tertampung lagi di rumah, diungsikan ke areal kuburan Cipinang
yang tanahnya lebih lapang dan tinggi daripada kampung itu.

Saat banjir besar bantuan air minum, makanan kering dan obat-obatan sangatlah berarti.
Karena kalau tidak, para ibu harus ke pasar. Sebenarnya pasar tidak terlalu jauh dari
kampung, tapi karena banjir mereka terpaksa berjalan di tengah air sambil berpegangan
dengan tali yang direntangkan mengikuti kelak-kelok gang. “Basah-basah, nyeker kita ke
pasar juga. Malah biasanya dapat murah karena pedagangnya kasihan sama kita-kita yang
kena banjir,” kenang Ibu Sundari.

Percakapan tentang banjir sudah berakhir. Tapi aku masih termangu-mangu


membayangkan kegigihan masyarakat kampung ini berunding dengan alam yang tak
ramah, dan masih bisa menertawakan kesialan mereka. Sementara, sejak banjir besar
2002 entah sudah berapa program pemerintah dan LSM dicanangkan: mulai dari
antisipasi banjir, penganggulangan paska banjir, sampai advokasi galak menuntut
mundurnya Pak Gubernur. Ibu-ibu di Suara Ibu Peduli yang juga mengalami banjir di
kampung mereka pernah berkomentar soal program-program ini, “Yang nyampe ke kita
mah poster waspada banjir doang! Dikasih selebaran lagi, isinya petunjuk tertulis
langkah-langkah mengatasi banjir.” Lagi-lagi mereka tertawa berderai-derai.

Jakarta, 14 April 2003

Ayu Ratih, aktif di Jaringan Kerja Budaya (JKB), Jakarta