Está en la página 1de 11

BAB I

PENGERTIAN WUDHU DAN KETETAPAN HUKUMNYA


Wudhu dapat dibaca dengan dua cara, yang pertama dengan
meletakkan di huruf wau yang dapat berarti sesuatu yang
digunakan untuk berwudhu atau tempatnya. Sedangkan bila dibaca
dengan logat yang selama ini kita sering dengar yaitu wudhu
dengan
di huruf wau , yang dapat diartikan sebagai
perbuatan yang dapat membolehkan untuk sholat, thowaf, dan
membaca al Quran[1]. Ini adalah pengertian wudhu yang
dirumuskan oleh sebagian ulama terutama madzhab al Imam as
Syafii yang banyak dimuat dalam kitab-kitab yang merujuk kepada
madzhab ini. Dalam beberapa naskah kitab wudhu dikatakan
berasal dari kalimat yang berarti baik, bagus, dan bersih,
dengan sebab itulah wudhu untuk sholat dinamai wudhu karena
wudhu tersebut dapat membersihkan orang yang wudhu dan dapat
membuatnya menjadi baik atau bagus. Adapun secara syari wudhu
adalah sebuah ibadah yang menggunakan air pada beberapa
anggota badan yang dikhususkan dengan tata-cara khusus dan
dengan niat khusus[2].
Dalam pensyariatan wudhu kita bisa mengambil tiga dasar
pengambilan hukum, yaitu al Quran surah al Maidah ayat ke-6
yang berbunyi :









6. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan
shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah
kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu

junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit[403] atau dalam perjalanan atau
kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu
kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik
(bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak
menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan
nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Dan hadits Nabi SAW yang telah tetap keshahihannya


menurut ulama hadits, yang berbunyi :

Dan Ijma ulama, yaitu dengan tidak ada perbedaan pendapat


yang dinukil tentang pensyariatan wudhu, walaupun memang
ditemukan ikhtilaf pada masalah naqli-nya yang akan menimbulkan
pebedaan pendapat, yang akan dibicarakan dalam bab masalah
rukun-rukun wudhu, sunnah-sunnah, dan hal-hal yang dapat
membatalkan wudhu.

BAB II
FARDHU-FARDHU WUDHU
Fardhu adalah ketetapan atau rukun yang harus dilakukan
oleh orang yang berwudhu agar wudhunya sah, adapun dasar
hukum fardhu wudhu adalah surah al Maidah ayat ke-6 yang telah
kami sebutkan diatas, menurut madzhab al Imam Abu Hanifah
fardhu wudhu hanya teringkas pada empat hal yang disebutkan
dalam ayat tersebut, yaitu membasuh wajah, membasuh tangan
sampai kedua siku, mengusap / menyapu kepala, membasuh kaki
sampai dua mata kaki, dan menurut madzhab ini jika seseorang
hanya melakukan terbatas dengan apa yang disebutkan pada ayat
tersebut, maka wudhunya sah dan otomatis sholatnyapun sah dan
boleh melakukan segala sesuatu perbuatan yang memerlukan
wudhu untuk membolehkannya.
Dalam masalah fardhu wudhu, seluruh ulama telah sepakat
bahwa fardhu wudhu adalah yang telah disebutkan dalam ayat
tersebut, sebagaimana telah dikutip diatas bahwa madzhab
Hanafiyah tidak menambahkan fardhu-fardhu tersebut sedikitpun.
Menurut madzhab al Imam Malik bin Anas ( Malikiyah ) fardhu
wudhu terdiri dari tujuh hal; yaitu niat, membasuh wajah,
membasuh dua tangan sampai dua siku-nya, menyapu seluruh
kepala, membasuh kaki sampai dua mata kaki-nya, muwalat
yaitu berturut-turut, dalam artian dilakukan bersambung dari satu
anggota basuhan ke anggota yang lain tanpa ada jeda waktu yang
lama, yang terakhir menggosok ( ) anggota wudhu disetiap
basuhannya. Sedangkan menurut madzhab al Imam asy Syafii,
fardhu wudhu terdiri dari enam hal yaitu pertama niat sebagaimana
madzhab malikiyah meletakkan niyat dalam bagian fardhu wudhu,
adapun dalil yang digunakan adalah surah al Bayyinah ayat ke 5
yang ber bunyi :

5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan


memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595],
dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian
Itulah agama yang lurus.


Dan hadits masyhur yang berbunyi :

Ini adalah pendapat yang diutarakan oleh Imam Syafii, Imam


Malik, Imam Ahmad, dan Abu Tsaur. Antara madzhab Imam Malik
dan Imam Syafii berakuran dalam masalah niat baik secara
pengertian, tatacara niyat, waktu, dan tempat niat, namun
keduanya berbeda faham pada dua masalah yaitu pada masalah
bertepatannya dengan membasuh muka, dalam madzhab Syafiiyah
niat harus diucapkan dalam hati berbarengan ketika membasuh
muka dan jika tidak, maka wudhu yang dilakukan tidak sah,
sedangkan dalam madzhab Malikiyah hal tersebut tidak disyaratkan
dalam niyat wudhu apakah harus berbarengan dengan membasuh
muka, maupun diucapkan terlebih dahulu sebelum memulai
berwudhu tetapi jarak yang tercipta antara niyat dan pekerjaan
wudhu tetap dianggap , artinya tidak terlalu jauh dan masih
dalam hitungan uruf atau kebiasaan.
Masalah yang kedua adalah arah dari niyat tersebut, menurut
madzhab Syafiiyah; niyat mengangkat hadats dalam wudhu tidak
sah secara mutlak dan ini sema dengan apa yang diutarakan oleh
madzham Malikiyah, bahkan niyat itu sah menurut qoul shahih.
Adapun untuk orang atau keadaan yang mendapatkan udzur seperti
orang yang senantiasa berhadats, maka orang tersebut
diperbolehkan berwudhu dengan niyat untuk memperbolehkannya
untuk sholat, menyentuh mushhaf dan hal lainnya yang
membutuhkan wudhu, atau orang tersebut berniat untuk
menunaikan kefardhu-an wudhu . Dan hal itu
dikarenakan hadatsnya tidak mampu terangkat atau hilang dengan
wudhu, bila seseorang berwudhu dengan niat untuk mengangkat
hadats maka hadats tersebut tidak mampu terangkat, karena
( pembuat syariat, Allah SWT dan Nabi SAW )
Syaari

menetapkan wudhu untuk memperbolehkan sholat dan hal


lainnya[3].
Kedua membasuh muka dengan batasan-batasan yang telah
kita ketahui, yang ketiga membasuh kedua tangan beserta dua sikunya, keempat menyapu sebagian kepala walaupun sedikit, ini
berbeda dengan pendapat yang diutarakan oleh Madzhab Malikiyah
dan Imam Malik yang mengatakan bahwa menyapu kewajiban
menyapu kepala adalah seluruh kepala karena ayatnya berbunyi





yang menunjukkan bahwa kepala dalam ayat ini

adalah mutlak kepala, dalam kaidah ushul fiqh disebutkan

yang artinya apabila sesuatu disebutkan dalam

bentuk mutlak, maka yang dimaksud adalah bagian yang sempurna,


maka dengan ini mereka berpendapat bahwa kepala yang dimaksud
adalah kepala secara keseluruhan, dalam kitab Bidayah al Mujtahid
karya Imam Ibnu Rusydi dikatakan : Imam Syafii, sebagian Ashhab
Malik, dan Imam Abu Hanifah berpendapat, bahwa kefardhuan
dalam menyapu kepala adalah sebagian kepala, dan diantara
Ashhab Malik ada yang membatasi sebagian dengan sepertiga, dan
ada pula diantara mereka yang menbatasi dengan dua pertiga[4].
Menurut Imam Abu Hanifah, yang dimaksud kepala dalam ayat ini
adalah seperempat bagian kepala, karena setelah kata-kata



diiringi dengan huruf ba ( )yang berfaidah yaittu berarti
menempelkan, dan ke-ilshokan-an tersebut memberi tahu bahwa
yang dimaksud dalam ayat itu adalah seperempat[5]. Menurut
Imam Syafii, yang dimaksud kepala adalah sebagiannya, karena
beliau madzhab ini berpendapat bahwa huruf ba ( )yang ada di
awal kata
berfaidah yang berarti membagi-bagi

menjadi bagian, dan juga sebagaimana yang telah dipraktekkan
oleh Nabi SAW dalam hadits shohih, bahwa Nabi SAW pernah hanya
menyapu ujung rambutnya atau ubun-ubun ( jambul
/ [) 6].
Adapun pendapat Imam Ahmad bin Hanbal pada masalah ini ada
dua riwayat, yang pertama sesuai dengan pendapat Imam Syafii,
yang kedua sesuai dengan Imam Malik, sebagaimana telah ditahqiq
oleh al Kharaqi rahimahullahu tala[7]. Fardhu wudhu yang kelima

menurut Imam Syafii, adalah membasuh kaki, yang keenam tertib,


artinya beraturan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam al
Quran dan hadits Nabi SAW.
Adapun fardhu-fardhu wudhu menurut madzhab Imam Ahmad
bin Hanbal ( hanabilah ) itu ada enam hal., yaitu seperti apa yang
telah kami sebutkan di atas, yaitu yang tertera dalam surah al
Maidah ayat ke-6, namun mereka menambahkan dua hal; yaitu
tartib dan muwalat di akhir fardhu-fardhu wudhu, namun tanpa ada
kefardhuan niat di awalnya.
BAB III
SUNNAH-SUNNAH WUDHU
Dalam pendefinisan sunnah, ada beberapa pendapat diantara
para ulama madzhab, diantara mereka ada yang berpendapat
bahwa sunnah, mandub, mustahab, dan fadhilah adalah satu
beberapa kata yang memiliki persamaan makna yaitu sesuatu yang
jika dilakukan akan menghasilkan pahala untuk yang melakukannya
dan tidak akan dikenakan siksa bagi yang meninggalkannya. Ada
juga yang berpendapat bahwa sunnah berbeda dengan mandub dan
mustahab, karena adanya tuntutan dari orang yang menguatkan (
) dan atas setiap keadaan, maka orang yang melakukannya

diberi pahala dan bagi yang meninggalkannya tidak dikenakan


adzab, ada juga yang setelah ia berpendapat bahwa empat kata
tersebuut berbeda membagi sunnah menjadi dua yaitu muakkad
dang air muakkad, bagi orang yang meninggalkan sunnah muakkad
mendapatkan hukuman dengan tidak mendapatkan syafaat Nabi
SAW di hari kiamat kelak sekalipun memang tidak dikenakan adzab
neraka[8].
Dalam penetapan sunnah-sunnah wudhu masih banyak
perdebatan yang terjadi diantara para ulama terutama para imam
madzhab dalam beberapa masalah yang masih diperdebatkan
kedudukannya apakah sunnah, atau syarat, atau fardhu.
Diantaranya adalah mencelubkan kedua tangan kedalam bejana
sebelum berwudhu, diantara ulama yang berpendapat bahwa itu

pekerjaan sunnah adalah Imam Syafii dan Imam Malik itu pun jika
yakin bahwa tangan tersebut suci, ada juga yang pendapat yang
mengatakan bahwa pekerjaan itu mustahab dan pendapat ini juga
diriwayatkan dari pendapat Imam Malik. Menurut Daud az Zhohiri
dan kalangan Ashhab-nya perbuatan itu wajib sebagai peringatan
bagi yang tidur dimalam hari[9]. Adapun hadits yang berkaitan
dengan masalah ini adalah :













[10]





Dalam kitab Mishbah az Zholam karangan Syeikh Moh.

Muhajirin Amsar ad Dary dikatakan bahwa larangan ini ditujukan


kepada penduduk Hijaz yang memang terbiasa beristinja dengan
batu dan daerah mereka adalah daerah yang sangat panas,
sehingga ketika mereka tidur akan bercucuran keringat dan keringat
tersebut mengalir ke dubur yang hanya di-istinja-kan dengan batu,
maka bisa dikatakan tempat itu adalah tempat yang mutanajjis, dan
larangan ini bersifat littahrim. Tetapi larangan ini tidak diarahkan
untuk orang yang terbiasa beristinja dengan menggunakan air. Dan
taqrir hukum dari masalah ini tidak hanya dikhususkan kepada
orang yang bangun tidur akan tetapi lebih difokuskan bagi orang
yang ragu dengan keadaan tangannya[11].
Diantara hal-hal yang diperdebatkan oleh alim ulama adalah
masalah berkumur ( ) dan istinsyaq dalam wudhu, ada tiga
pendapat masyhur dalam masalah ini; yang pertama keduanya
sunnah sebagai mana yang diutarakan oleh Imam Syafii, Malik, dan
Abu Hanifah. Pendapat yang kedua, keduanya fardhu ini dilontarkan
oleh Ibnu Abi Layla dan sekelompok pengikut Daud az Zahohiry,
pendapat yang ketiga mengatakan bahwa istinsyaq fardhu dan
berkumur sunnah, ini dikatakan oleh Abu Tsaur, Abu Ubaidah, dan
sekelompok pengikut az Zahohiry. Perbedaan pendapat ini didasari
dengan adanya hadits-hadits yang menyebutkan berkumur sebagai
tata cara pelaksanaan wudhu, apabila ada yang perpendapat bahwa
itu hanya tambahan saja maka keduanya sunnah, karena kalau

wajib pasti akan ada pertentangan dengan nash al Quran-nya,


dengan demikian sudah jelas bahwa hadits tersebut ingin
mengecualikan dua hal tersebut sebagai sunnah wudhu[12].
Dalam penetapan sunnah-sunnah wudhu juga dibicarakan
tentang bilangan basuhan maupun sapuhan, dalam perintah di ayat
temtang wudhu memang tidak dijelaskan apakah sunnah melebihi
satu kali basuhan ? tapi hadits-hadits shahih yang menjelaskan
tatacara berwudhu nabi pun sudah cukup menjelaskan bahwa
semua yang melebihi dari satu, baik itu dua maupun tiga adalah
sunnah, karena kalimat amr ( perintah ) hanya menuntut satu kali.
Yang menjadi permasalahan adalah dalam jumlah sapuhan kepala,
Imam Syafii berpendapat bahwa jika seseorang berwudhu dari awal
masing-masing tiga kali, maka ketika menyapu kepala pun tiga kali
sapuhan. Perbedaan ini bersumber pada hadits yang warid dari
Sayyidina Utsman RA yang berwudhu secara keseluruhan sebanyak
tiga kali basuhan tapi hanya sekali usapan dikepala, dan ada hadits
yang tidak bersumber dari beliau yang berisikan tatacara
seluruhnya tiga kali basuhan dan tiga kali sapuhan, Imam Syafii
mempermudah dengan mewajibkan untuk menerima rwayat-riwayat
ini baik yang satu, dua, ataupun tiga kali karena seluruhnya
bersumber pada hadits shahih[13].
Sebagian masyarakat muslim Indonesia menganggap bahwa
telinga termasuk salah satu fardhu wudhu, namun hal itu masih
diperdebatkan oleh para alim ulama. Menurut sebagian ulama
membasuh telinga termasuk rukun wudhu dan mereka mentawilkan
pendapat ini adalah pendapat Imam Malik, begitupun menurut Abu
Hanifah dan Ashhabnya namun beliau mengatakan bahwa telinga
dapat dibasuh dengan air sisa basuhan kepala berbeda dengan
Imam Malik yang berpendapat fardhu namun dengan air yang baru.
Menurut Imam Syafii keduanya bukanlah fardhu namun sunnah
wudhu dan harus menggunakaan air yang baru. Dalam kitab
Mishbah diterangkan bahwa yang mengisyaratkan untuk
menggunakan air yang baru adalah ; Imam Syafii, Malik, Ahmad bin

Hanbal. Dan hadits yang tertera dalam kitab ini menguatkan


pendapat golongan madzhab Hanafiyah :



[14]
pokok perdebatan dalam masalah ini adalah apakah hadits
yang berbunyi :


Apakah hadits itu menjadi penjelas dari mujmalnya al Quran
atau tidak ? bagi yang mengatakan tidak berarti tidak bisa
memasukkan telinga dalam fardhu wudhu karena akan ada itirodh
antara ayat dan hadits, bagi yang berpendapat hadits itu adalah
penjelas ayat tentang wudhu yang telah disebutkan diatas maka
bias menempatkan telinga sebagai salah satu fardhu wudhu, namun
kami tidak bisa mengambil keputusan-keputusan yang valid karena
dalam Bidayah al Mujtahid karangan Imam Ibnu Rusydy, banyak
didapati pendapat-pendapat yang hanya sebuah tawil-tawil kepada
salah seorang imam empat madzhab.
Pada masalah tartib wudhu yang dinyatakan oleh Imam Syafii
wajib ada beberapa pendapat, diantaranya seperti yang dikatakan
oleh Imam Abu Hanifah, Malik, golongan ashhab Imam Malik yang
modern, ats Tsaury, dan Daud az Zhohiry. Sedangkan yang
sependapat dengan Imam Syafii adalah Imam Ahmad bin Hanbal
dan Abu Ubaid. Sebab perbedaan pendapat ini terpusat pada huruf
wau dalam ayat tentang wudhu apakah berfaidah tartib dan nasaq
( tersusun ) seperti yang dikatakan oleh ulama Kufah ataukah hanya
bersifat menjama saja, seperti yang diutarakan oleh ulama Bashrah
? inilah yang menjadi perbedaan pendapat antara alim ulama, maka
jikalau kita lebih condrong ke pendapat ulama Kufah maka tertib
adalah sebuah fardhu wudhu. Terlebih ada hadits nabi yang
berbunyi

yang seakan memperjelas bahwa tartib

dalam wudhu itu merupakan salah satu fardhu wudhu. Adapun


muwalat yang diklaim oleh Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal
sebagai sebuah fardhu pun juga diperdebatkan oleh para ulama,

menurut Imam Syafii dan Abu Hanifah Muwalat adalah sebuah


pekerjaan sunnah, sebab perbedaan ini pun didasari pada huruf
athof tadi, yaitu , karena ada yang berpendapat tersebut
mengathofkan kalimat-kalimat yang beriringan dan menempel
maka dengan ini muwalat itu salah satu fardhu wudhu. Namun ada
yang berpendapat bahwa tersebut mengathokan kalimat
perkalimat dalam ayat wudhu dalam keadaan longgar artinya
tiding menempelkan satu dengan yang lainnya, sebagian kaum
menggunakan hadits :


[15]

jika kita tinjau hadits ini, kita dapat fahami bahwa muwalat
bukan termasuk salah satu fardhu wudhu.

BAB IV
HAL-HAL YANG MEMBATALKAN WUDHU
Diantara hal-hal yang dapat membatalkan wudhu ialah :
hilang akal, dan tidur termasuk dalam hal ini namun ada
pengecualian bagi tidur yang duburnya tidak terangkat artinya
keadaannya tetap. Dalam masalah ini ada delapan pendapat[16].
haidh, dengan redaksi hadits :
dan bisa difahami wudhu pun menjadi batal.
keluar madzi, dengan redaksi hadits :
bertemunya dua kulit laki-perempuan yang kedunya lain
mahrom dan keduanya sedah mukallaf, dalam hal ini ada beberapa
pendapat karena membicarakan hadits :


Imam Abu Ahnifah berpandapat mengecup indentik dengan
bersentuhannya kulit terledih bertemunya dua khitan ( kelamin )
dan dari hadits ini bias difahami bahwa bersentuhan kulit antara
perempuan tidak membatalkan wudhu, karena yang dimaksud
dalam ayat



adalah jima menurut Imam Abu Hanifah.
Menurut Imam Malik jika dengan syahwat batal dan jika tidak maka
tidak batal, ini seperti yang diutarakan oleh Imam Ahmad bin
Hanbal, menurut Imam Syafii bersentuhannya kulit laki-laki dan
perempuan baik dengan syahwat maupun tidak tetap mwmbatalkan
wudhu, karena beliau mengartikan
dalam ayat diatas muthlak

bersentuhan. keluar sesuatu dari salah satu dua jalan baik dalam
bentuk padat, gas, cair, menyentuh dzakar, walaupun ada hadits
yang menyatakan tidak apa-apa dalam arti tida perlu berwudhu,
tapi dating hadits selanjutnya yang menyatakan harus berwudhu,
hadits ini menasakh hadits yang sebelumnya, karena Ibnu Hajar al
Asqalani mempunyai karateristik penyusunan seperti demikian