Está en la página 1de 1

JAKARTA (gemaislam) Mencermati perkembangan kehidupan kemasyarakatan

dan kebangsaan akhir-akhir ini, khususnya terkait adanya rencana Aksi Damai
Bela Islam III, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan
Tausyiah Kebangsaan.

Pernyataan yang ditandatangani oleh Ketua Umum MUI KH. Maruf Amin dan
Sekretaris Jenderal Dr. Anwar Abbas tersebut disampaikan saat konferensi pers di
Gedung MUI Pusat, Jl. Proklamasi 51, Jakarta, Selasa (22/11/2016).

Berikut poin lengkap Tausyiah Kebangsaan Dewan Pimpinan MUI:

MUI menghimbau masyarakat agar dalam ikhtiar memperjuangkan aspirasinya


dilakukan melalui saluran demokrasi, seperti lobi, perundingan, musyawarah
dengan para pihak pengambil kebijakan, baik eksekutif, termasuk aparat
keamanan dan penegak hukum maupun legislatif serta bisa menyampaikan
pernyataan pendapat melalui pers dan media komunikasi lainnya karena hal
tersebut dinilai lebih efektif dan memberikan citra positif bagi pendidikan
demokrasi di Indonesia.
Apabila terpaksa hendak melakukan demokrasi, MUI menghimbau agar dilakukan
dengan sopan, tertib, damai, akhlaqul karimah, serta mematuhi peraturan yang
berlaku.
Terkait dengan rencana aksi pada 2 Desember 2016 yang antara lain akan di
ajukan oleh GNPF MUI, maka MUI memandang perlu untuk menegaskan bahwa
GNPF MUI bukanlah merupakan bagian dari Dewan Pimpinan MUI, dan tidak ada
hubungan struktural formal apapun juga antara DP MUI dengan baik GNPF MUI.
MUI meminta apabila terdapat kelompok masyarakat tetap melakukan aksi demo
pada 2 Desember 2016 hal tersebut hendaknya dilakukan dengan tidak
menggunakan atribut atau logo atau simbol-simbol MUI.
MUI juga mengingatkan peserta unjuk rasa agar tetap fokus pada tema
penegakan hukum kasus penistaan agama serta tidak menyimpang untuk tujuan
lainnya yang tidak sesuai dengan semangat menjaga kebhinekaan dan keutuhan
NKRI.
MUI menghimbau kepada pihak kepolisian dan aparat keamanan lainnya,
hendaknya dalam menghadapi para peserta unjuk rasa tetap mengedepankan
pendekatan persuasif, dialogis, professional, dan proporsional menghindari
penggunaan kekerasan.