Está en la página 1de 12

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS KEBUDAYAAN DI PENJARA BERDASARKAN PENDEKATAN


IMPORTATION DAN INDIGENOUS

MAKALAH UJIAN AKHIR SEMESTER


SOSIOLOGI KEPENJARAAN DI INDONESIA
KELAS 2015 DR. Drs. ARTHUR JOSIAS SIMON RUNTURAMBI, M. Si.

A YOSEPH WIHARTONO
1306459796

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


PROGRAM SARJANA REGULER
DEPARTEMEN KRIMINOLOGI
DEPOK
DESEMBER 2015

I. PENDAHULUAN
I. I. LATAR BELAKANG MASALAH
Clear (2005) menjelaskan bahwa sama seperti kelompok-kelompok sosial di luar penjara
yang mengembangkan sistem nilai dan normanya masing-masing, orang-orang di penjara
juga memiliki sistem nilai dan norma sendiri yang membentuk perilaku mereka dalam
menghadapi sesama narapidana atau pun sipir, serta bagaimana mereka dapat bertahan di
dalam penjara. Sebenarnya terdapat beberapa istilah yang merujuk pada pengertian
kebudayaan yang ada di dalam penjara, seperti prison folklore, prison society, prison culture,
prison subculture, hingga inmate code. Dalam tulisan ini, penulis memilih menggunakan
konsep inmate code untuk menjelaskan kebudayaan yang ada di dalam penjara. Tujuan dari
pemilihan konsep inmate code adalah untuk membahas sistem nilai dan norma yang
berkembang di dalam penjara, hal tersebut berpengaruh terhadap relasi antarnarapidana serta
terbentuknya perilaku narapidana dan terbentuknya kelompok-kelompok di dalam penjara.
Sementara prison subculture (dalam Stohr, 2011) adalah sekumpulan subkebudayaan dengan
norma, nilai, kepercayaan, tradisi, dan bahkan bahasa, cenderung lahir ketika seseorang
terisolasi dari kebudayaan dominan dan ketika anggota tersebut secara rutin dan intens
dengan anggota penjara lainnya dalam periode waktu tertentu. Oleh karena itu, institusi tital
adalah lingkungan yang sempurna bagi narapidana untuk menciptakan subkebudayaan.
Kedua deifini tersebut cenderung sama karena melihat bahwa narapidana memiliki sistem
nilai dan norma sehingga melahirkan suatu kebudayaan tersendiri di penjara.
Clear menjelaskan bahwa inmate code adalah sistem nilai dan norma yang
berkembang di antara para narapidana di dalam penjara. Inmate code membantu para
narapidana untuk menjadi solid menghadapi sipir. Graham Sykes (dalam Clear, 2005)
merangkum beberapa nilai dan norma yang terkandung dalam inmate code, di antaranya
ialah:
1. Jangan mengganggu kepentingan tahanan lain. Jangan berkhianata, jangan usil, dan
jangan suka mengadu.
2. Jangan bertengkar dengan narapidana lain.
3. Jangan eksploitasi sesama narapidana. Jika Selalu menepati janji, tidak mencuri dari
sesama narapidana, dan tidak pamrih.
4. Jagalah dirimu sendiri. Jangan terlihat lemah, merengek, mengadu pada sipir. Jadilah
seorang pria dan kuat.

5. Jangan percaya pada sipir. Sipir adalah pembual.


Di dalam penjara juga terdapat beragam sistem nilai dan norma yang unik dan berbeda dari
dunia di luar penjara yang juga menentukan karakteritik penghuni penjara. Oleh karena ada
begitu beragamnya persepsi mengenai nilai dan norma di dalam penjara, maka di penjara juga
terdapat berbagai tipe kelompok yang memiliki karakteristik yang khas. Misalnya, Jackson
(1965) merumuskan beberapa tipe karakterisitik masyarakat penghuni penjara, karakteristik
tersebut dibagi berdasarkan latar belakang hidup para narapidana yang merepresentasikan
perilakunya dalam kehidupan sosial di penjara, yaitu:
1. The non-criminal group: Terdiri dari orang-orang yang hanya melanggar pidana satu
kali, tanpa motif mencari keuntungan melalui profesi ilegal, salah satu contoh
penyebabnya ialah membunuh karena konflik personal. Orang-orang ini tidak terlibat
dalam dunia kriminal, di dalam penjara mereka cenderung tidak berperilaku ilegal
dalam beradaptasi.
2. Thief: Terdiri dari para pelaku aktivitas ilegal yang profesional, jumlahnya di penjara
biasanya sangat sedikit. Melakukan tindakan pidana untuk mendapatkan keuntungan,
tetapi bukan sebagai gaya hidup krimial. Selain itu, mereka biasanya juga tidak
berteman dengan orang-orang dengan gaya hidup kriminal.
3. Convict: Terdiri dari orang-orang dengan gaya hidup kriminal, jumlah terbanyak di
penjara sekaligus teridiri dari para residivis. Sering terlibat dalam perseturuan di
penjara, memiliki hierarki, dan melakukan kekerasan seksual. Umumnya memiliki
kelompok tersendiri sehingga membentuk gang di penjara. Selain itu, menurut Hanser
(2013), kelompk ini adalah orang-orang yang menempati hierarki tertinggi di penjara
sehingga cenderung untuk dihormati oleh narapidana lainnya.
Pembagian yang dirumuskan Jackson tersebut mendukung pendekatan importation theory,
sebab tipe narapidana ditentukan oleh latar belakang hidup dan pelanggarannya sebelum
masuk ke dalam penjara. Sementara Hanser (2013) menambahkan:
4. Snitch: Julukan yang diberikan pada sebagian kecil narapidana yang suka
membeberkan perilaku narapidana lainnya kepada sipir. Misalnya jika ada narapidana
lain yang menyelundupkan obat-obatan terlarang ke dalam penjara atau pun berbagai
bentuk pelanggaran lainnya yang disembunyikan. Dalam hierarki, snitch merupakan
salah satu kasta yang paling rendah di penjara. Orang-orang seperti mereka biasanya

cukup langka dan tidak dihargai oleh sesama narapidana lainnya. Keberadaan mereka
di dalam penjara biasanya cukup rawan dan rentan, sebab apabila terjadi keributan
atau kerusuhan di dalam penjara, mereka adalah orang-orang yang menjadi target
utama.
5. Kebudayaan sipir: Tidak hanya narapidana saja yang memiliki karakteristik, sipirpun
juga memiliki. Sipir yang ditugaskan untuk berjaga di high-maximum security
cenderung berperilaku lebih brutal terhadap narapidana dibandingkan medium dan
low security. Hal tersebut berkaitan dengan tuntuan indigenous model dari sistem
pemenjaraan.
Terdapat dua asumsi dasar yang menjelaskan dari mana terbentuknya kebudayaan di penjara
sehingga membentuk karakteristik kelompok-kelompok di dalam penjara. Berdasarkan
gambaran Hanser (2013) dua asumsi tersebut yaitu, important theory dan indigenous model.
1. Importation theory menjelaskan bahwa subkebudayaan di dalam penjara adalah
budaya yang dibawa dari luar penjara oleh para narapidana yang sebelum masuk ke
penjara telah mengembangkan nilai dan norma di jalanan. Oleh karena itu, perilaku
yang ada di dalam penjara memiliki kemiripan dengan perilaku kriminal yang ada di
luar penjara. Latar belakang mayoritas narapidana memiliki dampak yang cukup besar
sehingga memengaruhi bagaimana para narapidana berperilaku di dalam penjara.
Penyebab utamanya ada dua, pertama karena proses sosialisasi di luar penjara
biasanya terjadi dalam jangka waktu yang lama bagi para narapidana sehingga
menjadi lebih tertanam cara perperilaku yang dahulu; kedua, lingkungan penjara telah
menciptakan perilaku yang mewakili pelanggaran sebelumnya, misalnya seperti
perilaku jalanan yang cenderung mengarah pada kekerasan. Oleh karena itu,
narapidana-narapidana yang masuk ke dalam penjara membawa perilaku kriminal dari
jalanan ke penjara sehingga representasi budaya yang ada di penjara mewakili nilainilai dari jalanan.
2. Sementara indigenous model menjelaskan hal yang sebaliknya, model ini menjelaskan
bahwa para narapidana di lingkungan penjara beradaptasi dengan sistem nilai dan
norma yang telah ada sebelumnya. Tujuan mengikuti sistem nilai dan norma tersebut
adalah untuk mengurangi penderitaan para narapidana terhadap lima hal, yaitu (1)
kehilangan kemerdekaan; (2) kehilangan benda-benda dan pelayanan yang tersedia di
masyarakat; (3) kehilangan hubungan heteroseksual (seksual dan non-seksual), (4)

kehilangan keamanan diri, dan; (5) kehilangan otonomi. Hal-hal tersebut biasanya
terjadi pada para narapidana yang biasanya menjalani masa tahanan dalam jangka
waktu lama di penjara (Misalnya, narapidana yang menjalani hukuman seumur hidup
atau yang menjalani hukuman hingga puluhan tahun). Oleh karena itu, Johnson dan
Dobrzanska (dalam Hanser, 2013), menjelaskan bahwa mereka melakukan aktivitas
rutin yang memungkinkan mereka menemukan makna dan tujuan selama mereka
hidup di dalam penjara.
I. II. PERMASALAHAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk membahas sistem nilai dan norma manakah
yang lebih berpengaruh di dalam penjara sebagai sistem nilai dan norma yang mewakili
kebudayaan penjara, apakah nilai dan norma yang berasal dari pendekatan importation atau
kah indigenous model.
Selain itu, tulisan ini juga bermaksud untuk mengkaji bagaimana sistem nilai dan
norma tersebut masuk ke dalam penjara, tujuan dari sistem nilai dan norma tersebut, serta
pengaruh apa saja yang ditimbulkan dari sistem nilai dan norma tersebut.

II. TINJAUAN KEPUSTAKAAN


Sumber: L. Thomas Winfree, Jr, Greg Newbold, dan S. Houston Tubb, III. Prisoner
Perspectives on Inmate Culture in New Mexico and New Zeland: A Descriptive Case
Study. The Prison Journal 2002; 82; 213.
Salah satu temuan yang ada dalam penelitian ini mendukung asumsi importation theory yang
menjelaskan bahwa nilai dan norma yang ada di dalam penjara berasal dari latar belakang
narapidana sebelum masuk ke penjara, begitu juga dengan perlakuan terhadap sesama
narapidana dipengaruhi oleh pelanggaran yang dilakukannya sebelum masuk ke penjara.
Pada penelitian yang dilakukan di salah satu penjara di Amerika Serikat ini, ditemukan bahwa
munculnya homophobia pada sebagian kelompok narapidana berasal dari narapidana
perempuan dan kulit hitam yang pada memiliki latar belakang homophobia di luar penjara
Selain itu, ia menemukan bahwa stratifikasi sosial dan perlakuan terhadap sesama
narapidana yang ada di dalam penjara juga ditentukan oleh latar belakang pelanggaran
narapidana. Ia menemukan bahwa status sosial para narapidana di dalam penjara tidak setara,
mereka hanya diperlakukan secara setara di dalam kelompok peer-nya. Mereka berpendapat
bahwa pelaku kekerasan seksual (pemerkosa, pelaku pelecahan, dan pedofil) memiliki
hierarki paling rendah. Di dalam penjara, mereka menerima perlakuan yang negatif dan
rawan terhadap tindakan agresif sesama narapidana. Sapp dan Vaughn mengurutkan 10
peringkat

narapidana

di

dalam

masyarakat

penjara

berdasarkan

latar

pelanggarannya yang berpengaruh pada perlakuan yang mereka alami di, yaitu:
1. Robber
2. Pengedar narkotika
3. Pembunuh
4. Burglars
5. Pelaku penyerangan
6. Thieves
7. Pemerkosa-pembunuh
8. Pemerkosa
9. Pelaku incest
10. Pedofil

belakang

Selain temuan yang berkaitan dengan importation theory, mereka juga mendapati
sistem nilai dan norma lainnya. Mereka menjelaskan bahwa narapidana tidak homogen dan
hidup dalam berbagai kelompok-kelompok yang berbeda yang juga dipengaruhi oleh latar
belakang ras, usia, dan etnis. Misalnya yang ia temui dalam penelitian ini adalah kelompok
New Mexico dan New Zealand di penjara Amerika Serikat yang mereka teliti. Di dalam subkebudayaan, narapidana melihat bagaimana mereka melihat dirinya sendiri dan sesama
narapidana lainnya.
Temuan pada kelompok New Mexico dan New Zealnd ialah budaya penjara
mengadopsi negativitik dan anti-institusional kode. Ia menjelaskan bahwa kode sosial
memiliki fungsi yang menguntungkan bagi narapidana karena dapat meminimalisir
penolakan sosial, selain itu para narapidana juga sepakat bahwa kode sosial dapat
membangun solidaritas sosial di dalam penjara.
Temuan selanjutnya adalah mengenai perlakuan kedua kelompok narapidana tersebut
terhadap sipir. Kelompok New Meksiko cenderung untuk selalu menjaga jarak dengan sipir.
Menurut pandangan mereka, sipir cenderung menginginkan narapidana untuk mengkhianati
narapidana lainnya. Sementara New Zealanders, memiliki pandangan yang lebih positif.
Sumber: Mandeep K. Dhami, Peter Ayton, dan George Loewenstein. Adaptation to
Imprisonment, Indigenous model or Imported? Criminal Justice and Behavior, Vol. 34
No. 8, August 2007.
(http://www.cmu.edu/dietrich/sds/docs/loewenstein/adaptPrisonment.pdf)
Sementara dalam penelitian ini, Mandeep etc. menemukan bahwa para narapidana lebih
cenderung menceritakan perasaan depresinya karena merindukan keluarga, teman, kebebasan
dibandingkan dengan pengalaman kekerasan di dalam penjara. Perasaan-perasaan depresi itu
cenderung membawa para narapidana untuk beradaptasi dengan nilai dan norma di penjara
dengan tujuan untuk melupakan perasaan-perasaan deresi tersebut.
Oleh karena itu, narapidana cenderung mulai untuk berpartisipasi mengikuti programprogram di dalam penjara, bersosialisasi dengan narapidana lainnya, berinteraksi dengan
sipir, hingga menganut aturan-aturan di dalam penjara. Sebenarnya kedua pendekatan
tersebut kompatibel karena kehidupan sebelum dipenjara dapat membentuk bagaimana
pengalaman narapidana menjadi suatu deprivasi. Dalam tulisan ini mereka setuju bahwa
kedua pendekatan tersebut memang dapat muncul secara bersamaan, mereka memberikan

suatu sintesa bahwa importation theory bukanlah prediktor utama yang menentukan sistem
nilai dan norma di penjara, tetapi juga aturan yang dibuat oleh administrasi penjara. Bahkan
mereka menyimpulkan bahwa faktor importation justru menyebabkan kekerasan di dalam
penjara dibanding dengan indigenous model.

III. ANALISIS PERDEBATAN KONSEPTUAL


Narapidana adalah sebutan bagi mereka yang telah diadili dan menjalani hukuman di penjara
(kebebasannya dirampas karena telah melakukan tindak pidana)1. Penjara merupakan institusi
sosial yang dirancang untuk menahan narapidana, di dalamnya terdapat proses desosialisasi
(pencabutan diri) yang kemudian dilanjutkan dengan proses resosialisasi (identitas diri yang
baru)2 yang merupakan bentuk sosialisasi sekunder, yaitu proses sosialisasi seseorang ke
dalam sektor baru dari dunia objektif masyarakatnya 3. Hal tersebut dilakukan kepada
narapidana agar ia siap kembali lagi ke dalam masyarakat. Proses sosialisasi tersebut
dinamakan sebagai institusi total, yang berarti suatu tempat tinggal yang di dalamnya
sejumlah individu dalam situasi sama, terputus dari masyarakat yang lebih luas untuk suatu
jangka waktu tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkungkung dan diatur secara
formal4.
Seperti telah dibahas pada bab pendahuluan, terdapat kontradiksi apakah importation
theory atau kah indigenous model yang merepresentasikan kebudayaan di dalam penjara.
Oleh karena itu, dalam pembahasan bab III ini penulis akan menyajikan perbandingan kasus
berdasarkan kedua pendekatan tersebut.
Pertama-tama bab ini terlebih dahulu menyajikan kasus mengenai indigenous model.
Cristopher Hensley etc. (2003) dalam kajiannya mengenai bahasa argot dan seksualitas di
1merriam-webster.com (http://www.merriam-webster.com/dictionary/prisoner)
2The SAGE Glossary of the Social and Behavioral Sciences. [Ed. Larry E. Sullivan.
Thousand Oaks, CA: SAGE Reference, 2009. hlm. 403-404]

3Berger, Peter L. dan Thomas Luckmann. 1967. The Social Contruction of Reality: A
Treatise in the Sociology of Knowledge. New York: Anchor Books. hlm. 130.

4Goffman, Erving. 1959. Asylums: Essays on the Social Situation of Mental Patients and
Other Inmates. New York: Anchor Books. hlm. xiii.

penjara menjelaskan bahwa narapidana di penjara mengembangkan suatu subkebudayaan


dengan kode-kode tertentu dalam berperilaku, berperan, hingga berbahasa. Kode untuk
berperilaku tersebut mengandung nilai dan norma yang terstruktur secara informal di antara
narapidana. Kode tersebut secara langsung berhubungan dengan proses sosialisasi dan
adaptasi dalam kehidupan di penjara. Di dalam temuan penelitian ini, mereka menjelaskan
bahwa bahasa argot memiliki peran terhadap aktivitas seksual di dalam penjara yang
disamarkan dalam kode-kode bahasa untuk mendeskripsikan orientasi dan julukan bagi
orang-orang tertentu. Julukan argot kepada suatu peran seksual dapat menentukan hierarki
orang tersebut. Di akhir, mereka menyimpulkan bahwa bahasa argot tersebut merupakan
bagian dari subkebudayaan yang merefleksikan suatu organisasi, bahasa, dan status hierarki.
Untuk dapat bertahan di dalam penjara (narapidana dengan hierarki kasta bawah rentan dan
rawan menerima kekerasan), narapidana harus belajar menolak norma dari masyarakat di luar
sana dan mengadopsi aturan normatif yang baru di dalam penjara.
Temuan dari Cristopher Hensley etc. di salah satu penjara Amerika Serikat tersebut
menunjukan bahwa nilai dan norma indigenous model cenderung merepresentasikan seluruh
kehidupan sosial di penjara, bahkan menentukan status hierarki seseorang. Di akhir bahkan
mereka menyimpulkan bahwa untuk dapat bertahan di dalam penjara seseorang harus
melepaskan nilai dan norma dari luar penjara untuk dapat beradaptasi. Dengan kata lain,
temuan mereka ini mendukung indigenous model sebagai nilai yang merepresentasikan
kebudayaan di dalam penjara.
Sebaliknya terdapat kasus lain yang justru merepresentasikan bahwa kebudayaan di
dalam penjara adalah representasi dari dunia di luar penjara, tak lain pendekatan ini ialah
importation theory. Charles W. Thomas (1977) menjelaskannya dalam konteks yang agak
berbeda, yaitu penggunaan obat-obatan trlarang di dalam penjara. Di akhir penelitiannya, ia
menemukan bahwa narapidana yang menggunakan obat-obatan terlarang di penjara memang
memiliki latar belakang pengguna sebelum masuk ke penjara. Oleh karena itu, pelanggaran
yang dilakukan di dalam penjara masih merepresentasikan kebiasaan mereka sebelum masuk
ke dalam penjara.
Penulis sendiri pernah melakukan suatu observasi dan wawancara mendalam terhadap
seorang anak didik lembaga pemasyarakatan (Andikpas) di Lembaga Permasyarakatan
(Lapas) Anak Tangerang pada akhir Oktober 2015. Pada wawancara tersebut, penulis
menemukan bahwa di lapas anak pun sudah tercipta suatu kebudayaan dengan berbagai

sistem aturan nilai dan normanya. Temuan ini agaknya mendukung model indigenous model,
sebab terdapat relasi konflik antar koridor lapas dan juga konflik antar andikpas baru dengan
andikpas yang lama. Informan saat itu memberikan keterangan bahwa ia menerima saja
diperlakukan sebagai subordinat ketika baru masuk lapas anak, sebab jika ia menerima
perlakuan tersebut nantinya ia akan diterima oleh Andikpas lainnya.
Selain itu, informan menjelaskan bahwa konflik antar koridor dapat terjadi apabila
salah seorang Andikpas dari koridor lain melintasi koridor tersebut, meskipun sedang piket
untuk menyapu dan mengepel. Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa agar seorang
Andikpas dapat bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan di Lapas Anak, ia harus
menerima nilai dan norma yang ada di dalam lapas Anak sehingga tidak mengalami konflik
dan penolakan sosial.
Berdasarkan temuan penelitian sebelumnya yang membahas menganai importation
theory dan indigenous model, dan juga observasi dan wawancara mendalam yang dilakukan
oleh penulis, maka belum dapat disimpulkan pendekatan manakah yang lebih berpengaruh
dalam merepresentasikan nilai dan norma di dalam penjara. Hochstellar & DeLisa (dalam
Hanser, 2013) memiliki kedua argumen bagi kedua pendekatan tersebut. Ia menyimpulkan
bahwa faktor utama yang menentukan pendekatan internal (indigenous model) ataukah
eksternal (importation theory) yang memengaruhi perilaku narapidana dapat diukur
berdasarkan partisipasi mereka pada kelompok-kelompok sosial di penjara.

IV. KESIMPULAN
Faktor importation theory dan indigenous model masing-masing merepresentasikan asal-usul
sistem nilai dan norma yang berlaku antarnarapidana pada kehidupan sosial di penjara, akan
tetapi tidak dapat ditentukan pendekatan mana yang memiliki pengaruh lebih besar. Hal
tersebut dikarenakan bergantung pada konteks di mana penjara tersebut berada, sebab tidak
semua kebudayaan di dalam penjara merepresentasikan hal yang sama.
Dalam bab kesimpulan ini, penulis sepakat terhadap penelitian-penelitian sebelumnya
bahwa importation theory dan indigenous model menciptakan aturan nilai dan norma, akan
tetapi penulis belum dapat menunjukan pendekatan mana yang intensitasnya lebih besar di
penjara. Hal tersebut dikarenakan memang benar adanya (berdasarkan argumen Hanser,
2013) bahwa narapidana sebelum masuk ke dalam penjara memiliki pemaknaan yang
melekat terhadap nilai-nilai jalanan sehingga ketika ia masuk ke penjara dan bergabung
dengan orang-orang yang memiliki latar belakang yang sama, maka nilai yang dibangun oleh
kelompok tersebut adalah nilai-nilai jalanan. Akan tetapi sebaliknya, berdasarkan Christopher
Hensley etc. (2003), justru untuk dapat bertahan di dalam penjara seorang narapidana harus
melepaskan nilai dan norma yang ada di luar penjara dan beradaptasi dengan nilai-nilai yang
ada di dalam penjara.

V. DAFTAR KEPUSTAKAAN
Jurnal:
Bruce Jackson. Prison Folklore. The Journal of American Folklore, Vol. 78, No. 310 (Oct.
Dec., 1965), pp. 317-329.
Charles W. Thomas. Theoretical Perspectives on Prisonization: A Comparison of the
Importation and Deprivation Models. Journal of Criminal Law and Criminology,
Volume 68, Article 7, Issue 1 March, Spring 1977.
Christopher Hensley, Jeremy Wright, Richard Tewksbury, dan Tammy Castle. The Evolving
nature of Prison Argot and Sexual Hierarchies. The Prison Journal. 2003, 83: 289.
L. Thomas Winfree, Jr, Greg Newbold, dan S. Houston Tubb, III. Prisoner
Perspectives on Inmate Culture in New Mexico and New Zeland: A Descriptive Case
Study. The Prison Journal 2002; 82; 213.
Mandeep K. Dhami, Peter Ayton, dan George Loewenstein. Adaptation to Imprisonment,
Indigenous model or Imported? Criminal Justice and Behavior, Vol. 34 No. 8, August
2007.
Buku:
Clear, Todd; Cole, George; & Reisig, Michael. 2005. American Corrections Edition 7th.
Cengage Learning.
Hanser, Robert D. 2013. Introduction to Corrections. SAGE Publications, Inc. (Chaper 10)
Stohr, Mary K. 2011. Corrections: The Essentials. SAGE Publications, Inc. (Chapter 7)