Está en la página 1de 22

BAB I

PENDAHULUAN

Di Indonesia, infeksi HIV merupakan salah satu masalah kesehatan utama


dan salah satu penyakit menular yang dapat mempengaruhi kematian ibu dan
anak. Human Immunodeficiency Virus (HIV) telah ada di Indonesia sejak kasus
pertama ditemukan yaitu pada tahun 1987. Lebih dari 90% kasus anak terinfeksi
HIV, ditularkan melalui proses penularan dari ibu ke anak atau Mother To Child
Hiv Transmission (MTCT). Virus HIV dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi
HIV kepada anaknya selama kehamilan, saat persalinan dan saat menyusui.1
Penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya cenderung
meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah perempuan HIV positif yang
tertular baik dari pasangan maupun akibat perilaku yang berisiko. Laporan Kasus
HIV dan AIDS Kementerian Kesehatan RI tahun 2011 menunjukkan cara
penularan tertinggi terjadi akibat hubungan seksual beresiko, diikuti penggunaan
jarum suntik tidak steril; dengan jumlah pengidap AIDS terbanyak pada kategori
pekerjaan ibu rumah tangga. Hal ini juga terlihat dari proporsi jumlah kasus HIV
pada perempuan meningkat dari 34% (2008) menjadi 44% (2011), selain itu juga
terdapat peningkatan HIV dan AIDS yang ditularkan dari ibu HIV positif ke
bayinya.2
Saat ini, kurang dari 10% ibu hamil yang terinfeksi HIV di negara
berkembang menerima profilaksis antiretroviral (ARV) untuk pencegahan
penularan

HIV

dari

ibu-ke-bayi

(prevention

of

mother-to-child

transmission/PMTCT). Serupa dengan orang dewasa, anak yang terinfeksi HIV


menanggapi ART dengan baik. Tetapi, pengobatan semacam ini paling efektif
apabila dimulai sebelum anak jatuh sakit (artinya, sebelum pengembangan
penyakit lanjut). Tanpa ARV, pengembangan infeksi HIV sangat cepat pada bayi
dan anak. Di rangkaian miskin sumber daya, kurang lebih 30% anak terinfeksi
HIV yang tidak diobati meninggal sebelum ulang tahunnya yang pertama dan
lebih dari 50% meninggal sebelum mereka mencapai usia dua tahun. Infeksi HIV
pada anak yang tidak diobati juga mengakibatkan pertumbuhan yang tertunda dan

keterbelakangan mental yang tidak dapat disembuhkan oleh ARV. Oleh karena itu
penting untuk mendiagnosis bayi yang terpajan HIV sedini mungkin untuk
mencegah kematian, penyakit dan penundaan pertumbuhan dan pengembangan
mental.2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus RNA dari
subfamili retrovirus. Infeksi HIV dapat menimbulkan defisiensi kekebalan
tubuh sehingga menimbulkan gejala berat yang disebut dengan AIDS
(acquired immunodeficiency syndrome).1
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah suatu penyakit
yang ditimbulkan sebagai dampak berkembang biaknya virus HIV (Human
Immunodeficiency Virus) didalam tubuh manusia, yang mana virus ini
menyerang sel darah putih (sel CD4) sehingga mengakibatkan rusaknya
sistem kekebalan tubuh. Hilangnya atau berkurangnya daya tahan tubuh
membuat penderita mudah sekali terjangkit berbagai macam penyakit
termasuk penyakit ringan sekalipun.1
2.2 EPIDEMIOLOGI
AIDS pada anak pertama kali dilaporkan oleh Oleske, Rubinstein dan
Amman pada tahun 1983 di Amerika Serikat. Sejak itu laporan jumlah AIDS

pada anak di Amerika makin lama makin meningkat. Pada bulan Desember
1989 di Amerika telah dilaporkan 1995 anak yang berumur kurang dari 13
tahun yang menderita AIDS dan pada bulan Maret 1993 terdapat 4.480 kasus.
Jumlah ini merupakan l,5 % dari seluruh jumlah kasus AIDS yang dilaporkan
di Amerika. Di Eropa sampai tahun 1988 terdapat 356 anak dengan AIDS.
Kasus infeksi HIV terbanyak pada orang dewasa maupun anak-anak tertinggi
di dunia adalah di Afrika terutama negara-negara Afrika Sub-Sahara.1
Kasus AIDS pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1987
pada seorang WNA di Bali. Sejak itu HIV/AIDS di Indonesia telah
dilaporkan hampir di semua provinsi kecuali Sulawesi Tenggara. Setelah
selama 13 tahun sejak dilaporkannya kasus pertama2
2.3 ETIOLOGI
Virus HIV termasuk kedalam famili Retrovirus sub famili
Lentivirinae. Virus famili ini mempunyai enzim yang disebut reverse
transcriptase. Enzim ini menyebabkan retrovirus mampu mengubah informasi
genetiknya kedalam bentuk yang terintegrasi di dalam informasi genetik dari
sel yang diserangnya. Jadi setiap kali sel yang dimasuki retrovirus membelah
diri, informasi genetik virus juga ikut diturunkan. Virus HIV akan menyerang
Limfosit T yang mempunyai marker permukaan seperti sel CD4+, yaitu sel
yang membantu mengaktivasi sel B, killer cell, dan makrofag saat terdapat
antigen target khusus. Sel CD4+ adalah reseptor pada limfosit T yang menjadi
target utama HIV. HIV menyerang CD4+ baik secara langsung maupun tidak
langsung. Secara langsung, sampul HIV yang mempunyai efek toksik akan
menghambat fungsi sel T. secara tidak langsung, lapisan luar protein HIV
yang disebut sampul gp120 dan anti p24 berinteraksi dengan CD4+ yang
kemudian akan menghambat aktivasi sel yang mempresentasikan antigen 2
2.4 PENULARAN
Transmisi HIV secara umum dapat terjadi melalui empat jalur, yaitu :
1. Kontak seksual:

HIV terdapat pada cairan mani dan sekret vagina yang akan ditularkan
virus ke sel, baik pada pasangan homoseksual atau heteroseksual.
2. Tranfusi:
HIV ditularkan melalui tranfusi darah balk itu tranfusi whole
blood, plasma, trombosit, atau fraksi sel darah Iainnya.
3. Jarum yang terkontaminasi:
Transmisi dapat terjadi karena tusukan jarum yang terinfeksi atau bertukar
pakai jarum di antara sesama pengguna obat-obatan psikotropika.
4. Transmisi vertikal (perinatal):
Yaitu sekitar 50-80% baik intrauterine, melalui plasenta, selama
persalinan melalui pemaparan dengan darah atau secret jalan lahir,
maupun yang terjadi setelah lahir (pasca natal) yaitu melalui air susu ibu
(ASI).2
2.5 PATOFISIOLOGI
Infeksi HIV terutama berpengaruh pada sel CD4+ dan sel monosit
atau sel makrofag. Setelah sel terkena infeksi, maka RNA virus sampul
terlepas, dan membentuk DNA transkrip rangkap dua, yang ditransfer ke sel
DNA host, dan terjadilah perusakan system imunologi baik humoral ataupun
selular. Kemudian bersama dengan cytokin yang dipengaruhi akan
mempengaruhi fungsi makrofag, B limfosit dan T Limfosit. Sedangkan
hipergamaglobulinemia yang terdeteksi pada saat kehamilan, disebabkan
karena aktivasi poliklonal B sel akibat pengaruh HIV. Perusakan sel B,
mengakibatkan pembentukan antibodi sekunder lemah, dan respons terhadap
vaksinasi buruk. Defek sel mediated juga terjadi, sehingga mudah terjadi
infeksi oportunis seperti jamur, Pneumonia Carinii Pneumositis (PCP), dan
diare kronik.3
Mekanisme utama infeksi HIV adalah melalui perlekatan selubung
glikoprotein virus gp 120 pada molekul CD4. Molekul ini merupakan
reseptor dengan afinitas paling tinggi terhadap protein selubung virus.
Partikel HIV yang berikatan dengan molekul CD4 kemudian masuk ke dalam

sel hospes melalui fusi antara membran virus dengan membran sel hospes
dengan bantuan gp 41 yang terdapat pada permukaan membran virus3

Gambar 1. Proses pengikatan HIV dengan reseptor sel T


HIV menggunakan CD4 untuk masuk ke dalam host sel T dengan cara
mengikat gp120 pada CD4. Keterikatan menciptakan pergeseran dalam
konformasi gp120 HIV yang memungkinkan untuk mengikat ke co-reseptor
untuk diekspresikan pada sel inang. HIV menyisipkan peptida fusi ke dalam
sel host yang memungkinkan membran luar virus untuk berfusi dengan
membran sel.3
Sekali virion HIV masuk ke dalam sel, maka enzim yang terdapat
dalam nukleoprotein menjadi aktif dan memulai siklus reproduksi virus.
Nukleoprotein inti virus menjadi rusak dan genom RNA virus akan
ditranskripsi menjadi DNA untai ganda oleh enzim reverse transcriptase dan
kemudian masuk ke nukleus. Enzim integrase akan mengkatalisa integrasi

antara DNA virus dengan DNA genom dari sel hospes. Bentuk DNA integrasi
dari HIV disebut provirus, yang mampu bertahan dalam bentuk inaktif selama
beberapa bulan atau beberapa tahun tanpa memproduksi virion baru 4.
Partikel virus yang infeksius akan terbentuk pada saat sel limfosit T
teraktivasi. Aktivasi sel T CD4+ yang telah terinfeksi HIV akan
mengakibatkan aktivasi provirus juga. Aktivasi ini diawali dengan transkripsi
gen struktural menjadi mRNA kemudian ditranslasikan menjadi protein virus.
Karena protein virus dibentuk dalam sel hospes, maka membran plasma sel
hospes akan disisipi oleh glikoprotein virus yaitu gp 41 dan gp 120. RNA
virus dan protein core kemudian akan membentuk membran dan
menggunakan membran plasma sel hospes yang telah dimodifikasi dengan
glikoprotein virus, membentuk selubung virus dalam proses yang dikenal
sebagai budding. Pada beberapa kasus aktivasi provirus HIV dan
pembentukan partikel virus baru dapat menyebabkan lisisnya sel yang
terinfeksi 4.

Gambar 2. Patogenesis HIV.


Virion terikat dengan dengan bagian luar sel dan bergabung dengan
sel kemudian protein inti dan dua benang RNA virus masuk ke sel. DNA
doublestranded (provirus) termigrasi ke inti sel melepas sampulnya

berintegrasi dengan DNA sel . Provirus selanjutnya menjadi (7A) laten.


Proses dapat berlangsung perlahan (7B) atau secara cepat sehingga terjadi
lisis atau ruptur dari sel (7C).

Pada saat limfosit yang terinfeksi HIV menjadi aktif, misalnya infeksi
yang berulang, maka terjadilah apoptosis dan lisis dari sel-sel host. Karena
CD4+ limfosit merupakan respon imun yang penting terhadap keadaan zatzat patogen, maka apabila jumlah CD4+ dibawah 200/mm3 rentan terhadap
infeksi oportunis ataupun keganasan. Pada permulaan infeksi, virus
menyerang sel dendritik, dan terjadi viremia, kemudian sel limfosit terseeded.
Imun respons dari host terangsang, viremia menghilang, dan 80% penderita
mengalami infeksi asimtomatik, dan 20% mengalami penyakit yang
progresif. Pada penderita yang asimtomatik, proses berkisar 10 tahun,
kemudian dengan adanya infeksi oportunis, kematian terjadi dalam 5 tahun4.
2.6 Menentukan Status HIV Bayi.
Kelainan atau gejala yang muncul biasanya tampak pada umur 1 tahun
(23 %) sampai dengan 4 tahun (40 %). Beberapa gejala klinik yang muncul
seperti BBLR, infeksi saluran nafas berulang, PCP (Pneumocystis carinii
Pneumonia), sinusitis, sepsis, moniliasis berulang, hepatosplenomegali, febris
yang tidak diketahui penyebabnya, encefalopati (50%-90%) gejala ini terjadi
sebelum obat anti Retrovirus dipergunakan5.
Jika pada tes konfirmasi antibodi HIV positif, maka pemeriksaan HIV
PCR DNA pada bayi harus dilakukan. Jika HIV PCR DNA pada bayi positif,
profilaksis ARV harus dihentikan dan bayi segera dirujuk ke spesialis HIV
pediatrik untuk konfirmasi diagnosis dan pengobatan infeksi HIV dengan
terapi kombinasi standar antiretroviral. Bayi yang terinfeksi HIV juga harus
menerima

kemoprofilaksis

terhadap

PCP

dengan

trimetoprim-

sulfametoksazol (TMP) oral dimulai pada usia 4-6 minggu5.

2.7.1 DIAGNOSIS HIV/AIDS PADA BAYI DAN ANAK


A. GEJALA
Gambaran klinis infeksi HIV pada anak sangat bervariasi. Beberapa anak
dengan HIV-positif menunjukkan keluhan dan gejala terkait HIV yang berat pada
tahun pertama kehidupannya. Anak dengan HIV-positif lainnya mungkin tetap
tanpa gejala atau dengan gejala ringan selama lebih dari setahun dan bertahan
hidup sampai beberapa tahun. Disebut Tersangka HIV apabila ditemukan gejala
berikut, yang tidak lazim ditemukan pada anak dengan HIV-negatif.4
Gejala yang menunjukkan kemungkinan infeksi HIV:

Infeksi berulang: tiga atau lebih episode infeksi bakteri yang lebih berat (seperti pneumonia, meningitis,
sepsis, selulitis) pada 12 bulan terakhir.
Thrush: Eritema pseudomembran putih di langit-langit mulut, gusi dan mukosa pipi. Pasca masa neonatal,
ditemukannya thrush tanpa pengobatan antibiotik, atau berlangsung lebih dari 30 hari walaupun telah diobati,
atau kambuh, atau meluas melebihi bagian lidah, kemungkinan besar merupakan infeksi HIV. Juga khas
apabila meluas sampai di bagian belakang kerongkongan yang menunjukkan kandidiasis esofagus
Parotitis kronik: pembengkakan parotid uni atau bilateral selama 14 hari, dengan atau tanpa diikuti rasa
nyeri atau demam.
Limfadenopati generalisata: terdapat pembesaran kelenjar getah bening pada dua atau lebih daerah ekstra
inguinal tanpa penyebab jelas yang mendasarinya.
Hepatomegali tanpa penyebab yang jelas: tanpa adanya infeksi virus yang bersamaan seperti sitomegalovirus.
Demam yang menetap dan/atau berulang: demam (> 38 C) berlangsung 7 hari, atau terjadi lebih dari sekali
dalam waktu 7 hari.
Disfungsi neurologis: kerusakan neurologis yang progresif, mikrosefal, perkembangan terlambat, hipertonia
atau bingung (confusion).
Herpes zoster.

Dermatitis HIV: Ruam yang eritematus dan papular. Ruam kulit yang khas meliputi infeksi jamur yang
ekstensif pada kulit, kuku dan kulit kepala, dan molluscum contagiosum yang ekstensif.
Penyakit paru supuratif yang kronik (chronic suppurative lung disease). 4
Gejala yang umum ditemukan pada anak dengan infeksi HIV, tetapi juga lazim ditemukan pada anak sakit
yang bukan infeksi HIV adalah :
Otitis media kronik: keluar cairan/nanah dari telinga dan berlangsung 14 hari

Diare Persisten: berlangsung 14 hari

Gizi kurang atau gizi buruk: berkurangnya berat badan atau menurunnya pertambahan berat badan secara
perlahan tetapi pasti dibandingkan dengan pertumbuhan yang seharusnya, sebagaimana tercantum dalam
KMS. Tersangka HIV terutama pada bayi berumur <6 bulan yang disusui dan gagal tumbuh. 4
Gejala atau kondisi yang sangat spesifik untuk anak dengan infeksi HIV positif :

pneumocystis pneumonia (PCP), kandidiasis esofagus, lymphoid interstitial pneumonia (LIP) atau sarkoma kaposi.
Keadaan ini sangat spesifik untuk anak dengaan infeksi HIV. Fistula rekto-vaginal yang didapat pada anak perempuan
juga sangat spesifik tetapi jarang.

Sedangkan klasifikasi WHO pada anak ialah :


Stadium Klinis 1
Tanpa gejala (asimtomatis)
Limfadenopati generalisata persisten

Stadium Klinis 3
Malanutrisi sedang tanpa alasan jelas tidak
membaik dengan terapi baku
Diare terus-menerus tanpa alasan (14 hari atau
lebih)
Demam terus-menerus tanpa alasan (di atas
37,5C, sementara atau terus-menerus, lebih
dari 1 bulan)
Kandidiasis oral terus-menerus (setelah usia 68 minggu)
Oral hairy leukoplakia (OHL)
Gingivitis atau periodonitis nekrotising
berulkus yang akut
Tuberkulosis pada kelenjar getah bening
Tuberkulosis paru
Pneumonia bakteri yang parah dan berulang
Pneumonitis limfoid interstitialis bergejala
Penyakit paru kronis terkait HIV termasuk
brokiektasis
Anemia (<8g/dl),>

Stadium Klinis 2
Hepatosplenomegaly persisten tanpa alasani
Erupsi papular pruritis
Infeksi virus kutil yang luas
Moluskum kontagiosum yang luas
Infeksi jamur di kuku
Ulkus mulut yang berulang
Pembesaran parotid persisten tanpa alasan
Eritema lineal gingival (LGE)
Herpes zoster
Infeksi saluran napas bagian atas yang berulang atau kronis
(ototis media, otore, sinusitis, atau tonsilitis)
Stadium Klinis 4ii
Wasting yang parah, tidak bertumbuh atau malanutrisi yang
parah tanpa alasan dan tidak menanggapi terapi yang baku
Pneumonia Pneumosistis (PCP)
Infeksi bakteri yang parah dan berulang (mis. empiema,
piomisotis, infeksi tulang atau sendi, atau meningitis, tetapi
tidak termasuk pneumonia)
Infeksi herpes simpleks kronis (orolabial atau kutaneous
lebih dari 1 bulan atau viskeral pada tempat apa pun)
Tuberkulosis di luar paru
Sarkoma Kaposi
Kandidiasis esofagus (atau kandidiasis pada trakea, bronkus
atau paru)
Toksoplasmosis sistem saraf pusat (setelah usia 1 bulan)
Ensefalopati HIV
Infeksi sitomegalovirus: retinitis atau infeksi CMV yang
mempengaruhi organ lain, yang mulai pada usia lebih dari 1
bulan)
Kriptokokosis di luar paru (termasuk meningitis)
Mikosis diseminata endemis (histoplasmosis luar paru,
kokidiomikosis)
Kriptosporidiosis kronis
Isosporiasis kronis
Infeksi mikobakteri non-TB diseminata
Limfoma serebral atau non-Hodgkin sel-B
Progressive multifocal leucoencephalopathy (PML)

Nefropati bergejala
bergejala terkait HIV

terkait

HIV

atau

B. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tes antibodi (Ab) HIV (ELISA atau rapid tests)
Uji antibodi HIV mendeteksi adanya antibodi HIV yang diproduksi
sebagai bagian respons imun terhadap infeksi HIV. Pada anak usia >18
bulan, uji antibodi HIV dilakukan dengan cara yang sama seperti
dewasa Uji antibodi HIV dilakukan usia >18 bulan karena antibodi
maternal yang ditransfer secara pasif selama kehamilan, dapat
terdeteksi sampai umur anak 18 bulan.4
Tes virologis
Tes virologis untuk RNA atau DNA yang spesifik HIV merupakan
metode yang paling dipercaya untuk memastikan diagnosis HIV pada
anak dengan usia < 18 bulan, dibutuhkan uji virologi HIV yang dapat
memeriksa virus atau komponennya. Jika bayi muda masih mendapat
ASI dan tes virologis RNA negatif, perlu diulang 6 minggu setelah
anak benar-benar disapih untuk memastikan bahwa anak tidak
terinfeksi HIV.4.
CD4+
Adalah parameter terbaik untuk mengukur imunodefisiensi yang
digunakan bersamaan dengan penilaian klinis. CD4+ dapat menjadi
petunjuk dini progresivitas penyakit karena, nilai CD4+ menurun
lebih dahulu dibandingkan kondisi klinis. Pemantauan CD4+ dapat
digunakan untuk memulai pemberian ARV atau penggantian obat.

10

kardiomiopati

Makin muda umur, makin tinggi nilai CD4+. Untuk anak <5 tahun
digunakan persentase CD4+. Bila >5 tahun, persentase CD4+ dan nilai
CD4+ absolut dapat digunakan. Ambang batas kadar CD4+ untuk
imunodefisiensi berat pada anak > 1 tahun sesuai dengan risiko
mortalitas dalam 12 bulan (5%).

2.7.2

Tes Diagnostik Untuk Infeksi HIV Pada Bayi


1. HIV Antibodi pada anak umur > 18 bulan dilakukan dengan metode
ELISA IgG anti HIV Ab, dapat ditransfer melalui plasenta pada
Trimester III. Bila hasil positif sebelum umur 18 bulan, mungkin
antibodi dari ibunya.
2. VIRUS : HIV PCR DNA dari darah perifer pada waktu lahir, dan umur
3-4 bulan. Bila umur 4 bulan hasil negatif bayi bebas HIV, bila HIV
PCV RNA positif BIHA positif terkena HIV. Pengujian virologi
pada awal kelahiran dapat dipertimbangkan untuk bayi yang baru lahir
beresiko tinggi infeksi HIV, contohnya seperti bayi yang lahir dari ibu
yang terinfeksi HIV yang tidak menerima perawatan prenatal, ART
prenatal, atau yang memiliki viral load HIV> 1.000 copies / mL
mendekati ke waktu kelahiran. Sebanyak 30% -40% dari bayi yang
terinfeksi HIV dapat diidentifikasi dari usia 48 jam. Sampel darah dari
tali pusar tidak boleh digunakan untuk evaluasi diagnostik karena
kontaminasi dengan darah ibu. Definisi yang pasti telah diusulkan
untuk membedakan didapatkannya infeksi HIV selama periode
intrauterin atau dari periode intrapartum. Bayi yang memiliki tes
virologi positif pada atau sebelum usia 48 jam dianggap memiliki
infeksi awal (yaitu, intrauterin), sedangkan bayi yang memiliki tes

11

virologi negatif selama minggu pertama kehidupan dan tes positif


berikutnya dianggap memiliki infeksi setelahnya (yaitu, intrapartum).
3. CD4 count rendah (normal 2500-3500/ml pada anak, Dewasa 7001000/ml).
4. P24 Antigen test sudah kurang dipakai untuk diagnostik, karena
dipandang kurang sensitif terutama untuk bayi. Knuchel dkk
membandingkan sensitivitas tes tersebut antara DBS (dried blood
spot) dan plasma. Mereka menemukan bahwa tes tersebut mempunyai
spesifisitas 100% dan tidak ada perbedaan hasil secara kuantitatif
antara DBS dan plasma. Mereka juga membandingkan hasil tes antigen
p24 dengan viral load HIV dan menemukan korelasi yang positif,
tetapi koefisien korelasi tersebut rendah (r = 0,67). Sensitivitas tes HIV
p24 dibandingkan dengan tes viral load HIV adalah kurang lebih 90%.
Hal ini berarti bahwa tes untuk menskrining bayi yang terpajan HIV
akan menghasilkan hampir 10% bayi yang salah didiagnosis sebagai
tidak terinfeksi. Penggunaan PCR HIV DNA-RNA memiliki sensitiitas
100% pada plasma5.

2.8 Pencegahan Transmisi Vertikal


1. Pencegahan Primer
Pendekatan yang paling efektif untuk mencegah transmisi vertikal adalah
pencegahan pada wanita usia subur. Konseling sukarela, rahasia dan
pemeriksaan darah adalah cara pencegahan wanita HIV secara dini.
2. Pencegahan sekunder
A. Pemberian antiretrovirus secara profilaksis
Akhir-akhir ini telah terbukti bahwa pemberian profilaksis zidovudin
dalam jangka waktu lebih singkat cukup efektif asalkan bayi tidak
diberikan ASI, oleh karena obat tersebut tidak dapat mencegah transmisi

12

melalui ASI. Saat ini penelitian membuktikan bahwa pemberian satu kali
Nevirapin pada saat persalinan kepada ibu dan kemudian dilanjutkan
dengan pemberian satu kali pada bayi pada usia 48-72 jam setelah lahir
dapat menurunkan transmisi vertikal sebanyak 50% bila dibandingkan
dengan pemberian zidovudin oral waktu intrapartum pada bayi selama 1
minggu. Kombinasi dua obat antiretroviral atau lebih ternyata sangat
mengurangi transmisi vertikal apalagi bila dikombinasi dengan persalinan
melalui section caesarea serta tidak memberikan ASI. Efek samping
penggunaan antiretroviral ini masih dalam penelitian.
B. Pertolongan persalinan oleh petugas terampil
Pertolongan persalinan sebaiknya oleh tenaga kesehatan yang terampil
dengan meminimalkan prosedur yang invansif dan menetapkan universal
precaution untuk mencegah transmisi HIV.
C. Pembersihan jalan lahir
Pembersihan jalan lahir dengan menggunakan chlorhexidine dengan
konsentrasi cukup pada saat intrapartum diusulkan sebagai salah satu cara
yang dpat menurunkan insiden transmisi HIV intrapartum antara ibu ke
anak. Selain menurunkan transmisi vertikal HIV tindakan membersihkan
jalan lahir ini dapat menurunkan morbiditas ibu dan bayi serta mortalitas
bayi.
D. Persalinan dengan SC
Suatu metaanalisis pada limabelas buah penelitian yang melibatkan 7800
pasangan ibu-anak membuktikan bahwa bati yang dilahirkan secara SC

13

yang dilakukan sebelum ketuban pecah mempunyai kejadian transmisi


vertikal jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan kelahiran pervagina.
Sebuah penelitian klinik yang dilakukan dengan randomisasi membuktikan
bahwa pada bayi yang dilahirkan dengan cara SC transmisi vertikal HIV
adalah 1,8%, sedangkan yang lahir pervaginam transmisi vertikal adalah
10,6%.

E. Menjaga kesehatan ibu


Makanan ibu penting. Gangguan gizi ibu dapat merusak intergritas mukosa
usu dan memudahkan transmisi. Selain vit.A, riboflavin dan mikronutrien
lain dapat mempertahankan integritas mukosa usus5.

2.9 Manajemen Bayi dengan Ibu HIV


2.9.1

Manajemen Umum
1. Bayi yang dilahirkan ibu dengan HIV positif maka :
a.

Hormati kerahasiaan ibu dan keluarganya, dan lakukan


konseling pada keluarga;

b.

Rawat bayi seperti bayi yang lain, dan perhatian khususnya


pada pencegahan infeksi;

c.

Bayi tetap diberi imunisasi rutin, ada senter yang tidak


langsung memberi BCG;

d.

Bila terdapat tanda klinis defisiensi imun yang berat, jangan


diberi vaksin hidup (BCG, OPV, Campak, MMR). Pada waktu

14

pulang, periksa DL, hitung Lymphosit T, serologi anti HIV, PCR


DNA/RNA HIV.
2.
3.
2. Beri dukungan mental pada orang tuanya
3. Anjurkan suaminya memakai kondom, untuk pencegahan penularan
infeksi3

2.9.2 Manajemen Khusus


Bayi dengan infeksi HIV mempunyai jumlah virus yang tinggi dan
akan menurun seiring dengan meningkatnya imunologinya. Saran dari
beberapa senter di AS, terapi pada satu tahun pertama untuk anak yang
dicurigai HIV, diharapkan tumbuh imunologi secara normal, karena bila
terapi menunggu umur lebih dari satu tahun berdasarkan jumlah CD4+ dan
Load Virus maka hal ini dikatakan kurang spesifik. Pengobatan harus
dimulai pada bayi yang menunjukkan gejala simtomatis atau yang
menunjukkan jumlah sel CD4+ yang rendah, tanpa melihat umur3
Terapi Anti Retrovirus
Tanpa pemberian Antiretrovirus, 25% bayi dengan ibu HIV positif
akan tertular sebelum dilahirkan atau pada waktu lahir, dan 15%
tertular melalui ASI :
a. Tentukan apakah ibu sedang mendapat pengobatan Antiretrovirus
untuk HIV, atau mendapatkan pengobatan antiretroviral untuk
mencegah transmisi dari ibu ke bayinya. Tujuan pemberian
Antiretroviral terapi adalah untuk menekan HIV viral load sampai

15

tidak terdeteksi dan mempertahankan jumlah CD4+ sel sampai


mencapai lebih dari 25%.
b. Kelola bayi dan ibu sesuai dengan protokol dan kebijakan yang
ada, tujuannya untuk Profilaksis :

Bila ibu sudah mendapat ARV(Antiretrovirus) atau


Zidovudine (AZT) 4 minggu sebelum melahirkan, maka
setelah lahir bayi diberi AZT 2 mg/kg berat badan per
oral tiap 6 jam selama 6 minggu, dimulai sejak bayi umur
12 jam. Hal ini dapat mengurangi resiko terjadinya HIV
dari 25% menjadi 8%.

Bila ibu sudah mendapat Nevirapine (NVP) dosis tunggal


selama proses persalinan dan bayi masih berumur kurang
dari 3 hari, segera beri bayi Nevirapine dalam suspensi 2
mg/kg berat badan secara oral masa usia 48-72 jam dosis
tunggal.

Untuk mencegah PCP, berikan TMP 2,5 mg/kgBB 2x


sehari, pemberian 3 kali seminggu, diberikan sejak bayi
umur 6 minggu sampai diagnosis HIV dapat disangkal,
karena peak onset PCP adalah pada umur 3-9 bulan.

Jadwalkan pemeriksaan tindak lanjut dalam 2 minggu


untuk

menilai

masalah

pemberian

minum

dan

pertumbuhan bayi (lihat Pemeriksaan Tindak Lanjut)3.

Pemberian Minum

16

Penularan HIV-1 dapat terjadi dari konsumsi susu ASI dari


perempuan yang terinfeksi HIV. Di Amerika Serikat dan Kanada, di
mana formula bayi aman dan tersedia, seorang yang ibu terinfeksi
harus disarankan untuk tidak menyusui bahkan jika dia menerima ART
(terapi anti Retrovirus). Menghindari secara total untuk menyusui (dan
susu sumbangan) oleh perempuan yang terinfeksi HIV tetap menjadi
satu-satunya mekanisme dimana pencegahan penularan HIV melalui
ASI dapat dipastikan2.
Salah satu rekomendasi Konsesus Genewa pada Oktober 2006
adalah Ibu terinfeksi HIV dianjurkan menyusui eksklusif selama 6
bulan kecuali jika pengganti ASI memenuhi AFASS sebelumnya, Bila
pengganti ASI mencapai AFASS, dianjurkan untuk tidak memberikan
ASI yang mana hal ini menjadi Pedoman Nasional Pencegahan
Penularan HIV dan ibu ke bayi.4
AFASS merupakan kepanjangan dari:
A : ACCEPTABLE

: mudah diterima

F : FEASIBLE

: mudah dilakukan

A : AFFORDABLE

: terjangkau

S : SUSTAINABLE

: berkelanjutan

S : SAFE

: aman penggunaannya

Mudah diterima berarti, tidak ada hambatan sosial budaya bagi ibu
untuk memberikan susu formula pada bayinya. Mudah dilakukan Ibu
dan keluarga, mereka mempunyai cukup waktu, pengetahuan, dan
ketrampilan yang memadai untuk menyiapkan dan memberikan susu
formula kepada bayi . Harganya terjangkau Ibu dan keluarga sehingga
mereka mampu membeli susu formula. Susu formula harus diberikan
setiap hari dan malam selama usia bayi dan diberikan dalam bentuk

17

segar, serta suplai dan distribusi susu formula dijamin keberadaannya


artinya keberadaan susu formula tersebut berkelanjutan. Juga tidak
kalah penting Susu formula harus disimpan secara benar, higienis dan
kadar nutrisi cukup, disuapkan dengan tangan dan peralatan bersih,
serta tidak berdampak peningkatan penggunaan susu formula pada
masyarakat (SPILL OVER) yang berarti Save atau Aman.6
Ibu dengan HIV positif dihadapkan pada dua pilihan sulit,
menyusui dengan belum mengerti tehnik menyusuinya sehingga
ternjadi MTCT (mother-to-child transmission), tidak menyusui dan
tidak AFASS sehingga bayi menjadi kurang gizi, diare, atau
pneumonia. Konseling pemberian makan bayi pada ibu HIV dapat
membantu ibu HIV menentukan pilihan yang terbaik untuk bayinya 6.
Dikarenakan penularan HIV-1 melalui proses menyusui selalu
ada terjadi, dan karena menghindari proses menyusui adalah sulit
dilakukan dalam banyak situasi tertentu, maka penting untuk
mengidentifikasi faktor risiko guna merancang rencana intervensi
untuk mencegah transmisi sesuai dengan faktor risiko6.

2.9.3 Tatalaksana Di Ruang Perawatan Dan Setelah Pulang


Pemeriksaan darah PCR DNA/RNA dilakukan pada umur 1, 2, 4, 6
dan 18 bulan. Diagnosis HIV ditegakkan apabila pemeriksaan PCR
DNA/RNA HIV POSITIP dua kali berturut selang satu bulan, bila keadaan
demikian ditemukan, mulai diberikan pengobatan Antiretrovirus. Koordinasi
petugas Kesehatan Rumah Sakit dengan petugas setempat, karena bayi-bayi
tersebut rawan untuk terjadinya infeksi.

a.

Setelah lahir hari 1

18

1.)

Tidak diberi ASI, berikan susu formula biasa.

2.)

Pengobatan profilaksis
(a.)

Bila ibu mendapat pengobatan antiretrovirus


(ARV) semasa hamil dan intrapartum, AZT diberikan untuk bayi
mulai usia 12 jam selama 6 minggu.

(b.)

Bila

ibu

mendapat

pengobatan

ARV

intrapartum saja, atau tidak mendapat ARV, selain AZT untuk bayi
diberi juga nevirapin (NVP) dosis tunggal dalam masa usia 48-72
jam.
(c.)

Dosis ARV untuk bayi sesuaikan dengan Tabel


2.

(d.)

Lapor tim BIHA IKA7

Tabel 2. Dosis obat Antiretrovirus

Menurut laporan studi yang dilakukan Connor dkk, pada wanita


hamil dengan penyakit HIV bergejala ringan dan tidak ada pengobatan

19

sebelumnya dengan obat antiretroviral selama kehamilan, pemberian obat


yang terdiri dari AZT yang diberikan ante partum dan intra partum pada
ibu dan bayi baru lahir selama enam minggu mengurangi risiko penularan
HIV ibu-bayi dengan sekitar dua pertiga7.
b. Sebelum bayi dipulangkan
1.)

Pemeriksaan laboratorium darah tepi lengkap (Hb,


leukosit, trombosit, hitung jenis leukosit)

2.)

Imunisasi rutin kecuali BCG, bila terdapat tanda


klinis defisiensi imun berat tidak diberikan vaksin polio hidup3

2.10 Prognosis
Tujuh puluh puluh delapan persen (78%) bayi yang terinfeksi HIV sudah
akan menunjukkan gejala klinis menjelang umur 2 tahun dan biasanya 3-4
tahun kemudian meninggal7

20

BAB III
KESIMPULAN
1. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang
menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS
(Acquired Immunodeficiency Syndrome). Artinya bahwa HIV berbeda
dengan AIDS tetapi HIV memungkinkan untuk menjadi pencetus
terjadinya AIDS.
2. Pada ibu HIV atau daerah dimana Prevalensi HIV tinggi, maka proses
kelahiran disarankan dengan operasi sesar, dengan tujuan membiarkan
lapisan amnion tetap intak selama mungkin agar penularan HIV perinatal
terhindar.
3. Tidak ada tanda-tanda spesifik HIV yang dapat ditemukan pada saat lahir.
4. Bila terinfeksi pada saat peripartum,tanda klinis dapat ditemukan pada
umur 2-6 minggu setelah lahir. Tetapi tes antibodi baru dapat dideteksi
pada umur 18 bulan atau HIV PCR DNA sejak umur 1 hari sampai 6 bulan
untuk menentukan status HIV bayi.
5. Manajemennya meliputi perawatan bayi seperti bayi yang lain, dengan
perhatian pada pencegahan infeksi dan cara pemberian minum; bayi tetap
diberi imunisasi rutin, kecuali terdapat tanda klinis defisiensi imun yang
berat, jangan diberi vaksin hidup.
6. Pada waktu pulang diberikan Antiretrovirus profilaksis (tergantung status
pemberian antiretrovirus ibu), dan dilakukan pemeriksaan darah PCR
DNA/RNA pada umur 1, 2, 4, 6 dan 18 bulan. Bila pemeriksaan PCR
DNA/RNA HIV positif dua kali berturut selang satu bulan mulai diberikan
pengobatan Anti Retrovirus

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Soedarmo S S, Garna H, Hadinegoro S R, Satari H I. Human Imunodeficiency


Virus. Dalam: Soedarmo S S, Garna H, Hadinegoro S R, Satari H I. Buku Ajar
Infeksi & Pediatri Tropis. Edisi ke-2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta:
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2008. 243 247.
2. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
Faktor risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Dalam: Pratomo H. et al. (eds).
Pedoman pencegahan penularan HIV dari ibu dan bayi. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI, 2006; 13-16.
3. W orld Health Organization. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak Di
Rumah Sakit Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama Di
Kabupaten/Kota. 2010. Anak dengan HIV/AIDS 224-245
4. Menkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.51 Tahun
2013 tentang Pedoman Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke anak . 2013.
08-10
5. Sari Pediatri, Vol.4, No.4. Maret 2003 : 180-185. Tatalaksana Bayi dan Ibu
Pengidap HIV/AIDS.
6. Ram Yogev, Ellen Gould Chadwick. Acquired Immunodeficiency Syndrome :
Behrman RE, Kliegman RM Jenson HB (editor). Nelson test book of
pediatrics. Edisi ke-17. Philadelpia: Saunders; 2004: 1109-1121
7. Departemen Kesehatan Repubil Indonesia. Pedoman Tatalaksana dan Anti
Terapi Antiretroviral Pada Anak Indonesia. 2008

22