Está en la página 1de 2

HOMOSEKSUALITAS DAN TEMUAN SAINS MODERN

Oleh:
Nanda Nabilah Ubay
153112620120100

UNIVERSITAS NASIONAL
FAKULTAS BIOLOGI
2016/2017

Dalam 5 bulan terakhir, ramai saya temui di Facebook status dan link berita
yang menyoal LGBT. Sebagian besar isinya penolakan, mulai dari kaum agamis,
pejabat setingkat menteri, psikolog, sampai guru besar IPB bidang ketahanan keluarga.
Yang terakhir ini belakangan sedang ramai, karena disertai gugatan ke MK menuntut
homoseksual dipenjara maksimal 5 tahun berapapun usianya.
Saya sendiri setelah menjerumuskan diri ke Fakultas Biologi dan mempelajari
perkembangan biologi modern, akhirnya saya meyakini bahwa perilaku homoseksual
adalah nature bukan nurture. It was given, not socially constructed, dan normal
berdasarkan sains.
Dari sudut pandang ilmu biologi modern, setidaknya ada tiga variabel yang bisa
digunakan sebagai dasar dalam menentukan identitas seksual seseorang, yaitu: jenis
kelamin, gender, dan orientasi seksual. Kebanyakan orang berjenis kelamin laki-laki
gendernya maskulin dan orientasi seksualnya perempuan, dan sebaliknya. Yang tidak
demikian juga ada, tapi bukan berarti orang yang tidak sama dengan kebanyakan lantas
dilabeli abnormal atau menyimpang.
Pada manusia, adanyanya gen SRY pada kromosom Y menjadi penentu jenis
kelamin laki-laki, sedangkan ketidakhadiran gen itu membuatnya jadi perempuan.
Dapat juga terjadi kombinasi antara kromosom X dan Y yang langka, menyebabkan
kromosom Y tanpa gen SRY dan X dengan gen SRY. Hasilnya adalah XX male dan XY
female. Ini hanya secuil yang saya pahami dari kuliah genetika, yang saya jadikan
pedoman untuk tidak mudah menghakimi orang lain yang berbeda.
Lebih lanjut, saya meyakini orientasi seksual bukan hal yang bisa dibuat-buat
atau dipengaruhi, tapi masalah struktur otak. Hal ini telah dibuktikan di berbagai riset
biologi. Melalui berbagai penelitian tentang sirkuit orientasi seksual pada otak laki-laki
dan perempuan. Didapatkan perbedaan struktur anatomi dan fungsional antara yang
homoseksual dan heteroseksual. Dan itu bukanlah sesuatu yang dapat diubah atau
disembuhkan. Ia adalah elemen natural yang tidak bisa dihilangkan melalui konseling
atau terapi jiwa sekalipun. Berikut ini saya sertakan salah satu artikel dari dr. Ryu Hasan
yang dapat dijadikan acuan untuk memahami orientasi seksual dari sudut pandang
neurosains http://www.qureta.com/post/jenis-kelamin-gender-dan-orientasi-seksual