Está en la página 1de 62

FILSAFAT ILMU

PENDAHULUAN
Secara historis filsafat merupakan induk ilmu, dalam perkembangannya
ilmu makin terspesifikasi dan mandiri, namun mengingat banyaknya masalah
kehidupan yang tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat menjadi tumpuan
untuk menjawabnya. Filsafat memberi penjelasan atau jawaban substansial
dan radikal atas masalah tersebut. Sementara ilmu terus mengembangakan
dirinya dalam batas-batas wilayahnya, dengan tetap dikritisi secara radikal.
Proses atau interaksi tersebut pada dasarnya merupakan bidang kajian
Filsafat Ilmu, oleh karena itu filsafat ilmu dapat dipandang sebagai upaya
menjembatani jurang pemisah antara filsafat dengan ilmu, sehingga ilmu
tidak menganggap rendah pada filsafat, dan filsafat tidak memandang ilmu
sebagai suatu pemahaman atas alam secara dangkal.
Pada dasarnya filsafat ilmu merupakan kajian filosofis terhadap hal-hal
yang berkaitan dengan ilmu, dengan kata lain filsafat ilmu merupakan upaya
pengkajian dan pendalaman mengenai ilmu (Ilmu Pengetahuan/Sains), baik
itu ciri substansinya, pemerolehannya, ataupun manfaat ilmu bagi kehidupan
manusia. Pengkajian tersebut tidak terlepas dari acuan pokok filsafat yang
tercakup dalam bidang ontologi, epistemologi, dan axiologi dengan berbagai
pengembangan dan pendalaman yang dilakukan oleh para akhli.
A. PENGERTIAN FILSAFAT
Perkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata
Yunani philosophia yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar
katanya ialah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut
pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta
kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyata luas
sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi
pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual,
pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan
dalam memutuskan soal-soal praktis (The Liang Gie, 1999).
Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang
telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam
Soeparmo, 1984), secara harafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan.
Maksud sebenarnya adalah pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang
paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala
aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan.
Menurut Surajiyo (2010:1) secara etimologi kata filsafat, yangg dalam
bhs Arab dikenal dengan istilah falsafah dan dalam Bahasa Inggris di kenal
dengan istilah philoshophy adalah dari Bahasa Yunani philoshophia terdiri
atas kata philein yang berarti cinta (love) dan shopia yang berarti
kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi istilah filsafat berarti cinta
kebijaksanaan (love of wisdom) dalam arti yang sedalam-dalamnya. Dengan
demikian, seorang filsuf adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan.
Secara terminologi, menurut Surajiyo (2010: 4) filsafat adalah ilmu
pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam
dengan menggunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat bukan
mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, tetapi yang dicari adalah
hakikat dari sesuatu fenomena. Hakikat adalah suatu prinsip yang
menyatakan sesuatu adalah sesuatu itu adanya. Filsafat mengkaji sesuatu
yang ada dan yang mungkin ada secara mendalam dan menyeluruh. Jadi
filsafat merupakan induk segala ilmu.

Susanto (2011: 6) menyatakan bahwa menurut Istilah, filsafat adalah


ilmu pengetahuan yang berupaya mengkaji tentang masalah-masalah yang
muncul dan berkenaan dengan segala sesuatu, baik yang sifatnya materi
maupun immateri secara sungguh-sungguh guna menemukan hakikat
sesuatu yang sebenarnya, mencari prinsip-prinsip kebenaran, serta berpikir
secara rasional-logis, mendalam dan bebas, sehingga dapat dimanfaatkan
untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan
manusia.
Kalau menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang
pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592497 S.M.), yakni seorang ahli matematika yang kini lebih terkenal dengan
dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras
menganggap dirinya philosophos (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang
sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang
yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah
Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran
filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran
filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta
untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The
Liang Gie, 1999).
Menurut sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap
yang ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta
kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju
dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah
kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk
mendapatkan kebenaran (Soeparmo, 1984).
Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran.
Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejalagejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia
makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh filsafat secara
memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento Wibisono dkk. (1997),
dengan melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Dengan
demikian, tidak semua persoalan itu harus persoalan filsafat.
B. PENGETIAN DAN HAKEKAT ILMU
Menurut Burhanudin Salam (2005:10) Ilmu dapat merupakan suatu
metode berpikir secara obyektif dalam menggambarkan dan memberi makna
terhadap dunia fuktual dan berprinsip untuk mengorganisasikan dan
mensistematisasikan common sense. Sehingga definisi ilmu pengetahuan
adalah kumpulan pengetahuan yang benar-benar disusun dengan sistematis
dan metodologis untuk mencapai tujuan yang berlaku universal dan dapat
diuji atau diverifikasi kebenarannya. Secara filosofis, semua kajian yang
menelaah secara kritis dan analitis tentang dasar-dasar teoritis pengetahuan
secara menyeluruh adalah epistemology atau teori pengetahuan (theory of
knowledge; Erkentnistheorie). Istilah ini berasal dari bahasa yunani yaitu
episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Secara
harfiah episteme berarti pengetahuan sebagai upaya untuk menempatkan
sesuatu tepat pada kedudukannya.
The Liang Gie (1987) (dalam Surajiyo, 2010) memberikan pengertian
ilmu adalah rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu
metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai
dunia ini dalam berbagai seginya, dan keseluruhan pengetahuan sistematis
yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.

a)
b)
c)

1)

2)

3)

Secara filosofis, semua kajian yang menelaah secara kritis dan analitis
tentang dasar-dasar teoritis pengetahuan secara menyeluruh adalah
epistemology atau teori pengetahuan (theory of knowledge; Erkentnistheorie).
Istilah ini berasal dari bahasa yunani yaitu episteme yang berarti
pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Secara harfiah episteme berarti
pengetahuan sebagai upaya untuk menempatkan sesuatu tepat pada
kedudukannya.
Sebagai cabang ilmu filsafat, epistemologi pada hakikatnya merupakan
suatu kajian Filosofis yang bermaksud mengkaji masalah umum secara
menyeluruh dan mendasar untuk menemukan ciri-ciri umum dan hakiki dari
pengetahuan manusia. Membahas Bagaimana pengetahuan itu pada
dasarnya diperoleh dan dapat diuji kebenarannya?, manakah ruang lingkup
dan batasan-batasan kemampuan manusia untuk mengetahui?, serta
membahas pengandaian-pengandaian dan syarat-syarat logis yang
mendasari adanya pengetahuan dan memberi pertanggung jawaban secara
rasional terhadap klaim kebenaran dan objektivitasnya. Sehingga
epistemologi merupakan disiplin ilmu yang bersifat :
Evaluative, yaitu menilai apakah teori yang digunakan dapat dipertanggung
jawabkan secara nalar atau tidak.
Normative, yaitu menentukan tolok ukur kebenaran atau norma dalam
bernalar.
Kritis, yaitu menguji penalaran cara dan hasil dari pelbagai akal (kognitif)
manusia untuk dapat ditarik kesimpulan.
Adapun cara kerja metode pendekatan epistemologi adalah dengan
cara bagaimana objek kajian itu didekati atau dipelajari. Cirinya adalah
dengan adanya berbagai macam pertanyaan yang diajukan secara umum
dan mendasar dan upaya menjawab pertanyaan yang diberikan dengan
mengusik pandangan dan pendapat umum yang sudah mapan. Dengan
tujuan agar manusia bisa lebih bertanggung jawab terhadap jawaban dan
pandangan atau pendapatnya dan tidak menerima begitu saja pandangan
dan pendapat secara umum yang diberikan.
Berdasarkan cara kerja atau metode yang digunakan, maka
epistemologi dibagi menjadi beberapa macam. Berdasarkan titik tolak
pendekatannya secara umum, epistemologi dibagi menjadi 3, yaitu:
Epistemologi metafisis
Epistemologi metafisis adalah pemikiran atau pengandaian yang berasal dari
paham tertentu dari suatu kenyataan lalu berusaha bagaimana cara
mengetahui kenyataan itu. Kelemahan dari pendekatan ini adalah hanya
menyibukkan diri dalam mendapatkan uraian dari masalah yang dihadapi
tanpa adanya pertanyaan dan tindakan untuk menguji kebenarannya.
Epistemologi skeptis
Epistemologi skeptis lebih menekankan pada pembuktian terlebih dahulu dari
apa yang kita ketahui sampai tidak adanya keraguan lagi sebelum
menerimanya sebagai pengetahuan. Kelemahan dari pendekatan ini adalah
sulitnya mencari jalan keluar atau keputusan.
Epistemologi kritis
Pada Epistemologi ini tidak memperioritaskan Epistemologi manapun, hanya
saja mencoba menanggapi permasalahan secara kritis dari asumsi, prosedur
dan pemikiran, baik pemikiran secara akal maupun pemikiran secara ilmiah,
dengan tujuan untuk menemukan alasan yang rasional untuk memutuskan
apakah permasalahan itu bisa diterima atau ditolak.
Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan atau sistem
yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan
manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut
berdasarkkan penjelasan yang ada dengan metode tertentu. Dalam hal ini,

a.

b.

1)
2)

ilmu mempunyai struktur dalam menjelaskan kajiannya. Struktur ilmu


menggambarkan bagaimana ilmu itu tersistematisir, terbangun atau
terkonstruksi dalam suatu lingkungan (boundaries), di mana keterkaitan
antara unsur-unsur nampak secara jelas. Struktur ilmu merupakan A scheme
that has been devided to illustrate relationship among facts, concepts, and
generalization, yang berarti struktur ilmu merupakan ilustrasi hubungan
antara fakta, konsep serta generalisasi. Dengan keterkaitan tersebut akan
membentuk suatu bangun kerangka ilmu tersebut. sementara itu, definisi
struktur ilmu adalah seperangkat pertanyaan kunci dan metode penelitian
yang akan membantu untuk memperoleh jawabannya, serta berbagai fakta,
konsep, generalisasi dan teori yang memiliki karakteristik yang khas yang
akan mengantarkan kita untuk memahami ide-ide pokok dari suatu disiplin
ilmu yang bersangkutan. Dengan demikian nampak dari dua pendapat di atas
bahwa terdapat dua hal pokok dalam suatu struktur ilmu, yaitu:
A body of Knowledge (kerangka ilmu) yang terdiri dari fakta, konsep,
generalisasi, dan teori yang menjadi ciri khas bagi ilmu yang bersangkutan
sesuai dengan lingkungan (boundary) yang dimilikinya. Kerangka ilmu terdiri
dari unsur-unsur yang berhubungan, dari mulai yang konkrit (berupa fakta)
sampai ke level yang abstrak (berupa teori), semakin ke fakta maka semakin
spesifik, sementara semakin mengarah ke teori maka semakin abstrak
karena lebih bersifat umum.
A mode of inquiry, yaitu cara pengkajian atau penelitian yang mengandung
pertanyaan dan metode penelitian guna memperoleh jawaban atas
permasalahan yang berkaitan dengan ilmu tersebut.
Terkadang, pengetahuan dan ilmu disama artikan, bahkan terkadang
dijadikan kalimat majemuk yang mempunyai arti tersendiri. Padahal, jika
kedua kata tersebut dipisahkan, akan mempunyai arti sendiri dan akan
tampak perbedaannya.
Ilmu adalah pengetahuan. Jika dilihat dari asal katanya, pengetahuan
di ambil dari bahasa inggris yaitu knowledge, sedangakan ilmu dari kata
science dan peralihan dari kata arab ilm atau alima (ia telah mengetahui)
sehingga kata jadian ilmu berarti juga pengetahuan. Dari pengertian ini dapat
diambil kesimpulan bahwa ditinjau dari segi bahasa, antara pengetahuan dan
ilmu mempunyai sinonim arti, namun jika dilihat dari segi arti materialnya
(kata pembentuknya) maka keduanya mempunyai perbedaan.
Dalam encyclopedia Americana, di jelaskan bahwa ilmu (science)
adalah pengetahuan yang besifat positif dan sistematis. The Liang Gie
mengutip Paul Freedman dari buku The Principles Of Scientific Research
dalam Amsal Bakhtiar.(2008:91) memberi batasan definisi ilmu, yaitu suatu
bentuk proses usaha manusia untuk memperoleh suatu pengetahuan baik
dimasa lampau, sekarang, dan kemudian hari secara lebih cermat serta
suatu kemampuan manusia untuk menyesuaikan dirinya dan mengubah
lingkungannya serta merubah sifat-sifatnya sendiri, sedangkan menurut
Carles Siregar masih dlam dalam Amsal Bakhtiar.(2008:91) menyatakan
bahwa ilmu adalah proses yang membuat pengetahuan.
Ilmu dapat memungkinkan adanya kemajuan dalam pengetahuan sebab
beberapa sifat atau ciri khas yang dimiliki oleh ilmu. Burhanudin Salam
(2005:23-24)mengemukakan beberapa ciri umum dari pada ilmu,
diantaranya:
Bersifat akumulatif, artinya ilmu adalah milik bersama. Hasil dari pada ilmu
yang telah lalu dapat digunakan untuk penyelidikan atau dasar teori bagi
penemuan ilmu yang baru.
Kebenarannya bersifat tidak mutlak, artinya masih ada kemungkinan
terjadinya kekeliruan dan memungkinkan adanya perbaikan. Namun perlu
diketahui, seandainya terjadi kekeliruan atau kesalahan, maka itu bukanlah

kesalahan pada metodenya, melainkan dari segi manusianya dalam


menggunakan metode itu.
3) Bersifat obyektif, artinya hasil dari ilmu tidak boleh tercampur pemahaman
secara pribadi, tidak dipengaruhi oleh penemunya, melainkan harus sesuai
dengan fakta keadaan asli benda tersebut
C.

PENGERTIAN FILSAFAT ILMU DAN TUJUAN MEMPELAJARI FILSAFAT


ILMU
Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam
berbagai buku maupun karangan ilmiah lainnya. Menurut The Liang Gie
(1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalanpersoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun
hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu
merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan
pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh
antara filsafat dan ilmu.
Sehubungan dengan pendapat tersebut serta sebagaimana pula yang
telah digambarkan pada bagian pendahuluan dari tulisan ini bahwa filsafat
ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari
filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu
berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan
pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk
mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie
J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang
selalu berubah.
Filsafat ilmu menurut Surajiyo (2010 : 45), merupakan cabang filsafat
yang membahas tentang ilmu. Tujuan filsafat ilmu adalah mengadakan
analisis mengenai ilmu pengetahuan dan cara bagaimana ilmu pengetahuan
itu diperoleh. Jadi filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri
pengetahuan ilmiah dan cara memperolehnya. Pokok perhatian filsafat ilmu
adalah proses penyelidikan ilmiah itu sendiri.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya
pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik.
Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja
kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan
manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).
Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar
tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke
bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian
setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk
masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat
dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk
memahami hakekat dari sesuatu ada yang dijadikan objek sasarannya,
sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang
filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami
apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Lebih lanjut Koento Wibisono (1984), mengemukakan bahwa hakekat
ilmu menyangkut masalah keyakinan ontologik, yaitu suatu keyakinan yang
harus dipilih oleh sang ilmuwan dalam menjawab pertanyaan tentang apakah
ada (being, sein, het zijn) itu. Inilah awal-mula sehingga seseorang akan
memilih pandangan yang idealistis-spiritualistis, materialistis, agnostisistis
dan lain sebagainya, yang implikasinya akan sangat menentukan dalam
pemilihan epistemologi, yaitu cara-cara, paradigma yang akan diambil dalam
upaya menuju sasaran yang hendak dijangkaunya, serta pemilihan aksiologi

a)
b)
c)
d)
1)
2)

3)

1)
2)
3)
4)

yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam


seseorang mengembangkan ilmu.
Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut Poespoprodjo (dalam
Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa perspektif-perspektif ilmu,
kemungkinan-kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar ilmu,
simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain sebagainya, yang vital bagi
penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, dikatakan bahwa dengan filsafat
ilmu, kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasan
metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah
dalam konteks dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang
ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya.
Adapun tujuan mempelajari filsafat ilmu menurut Amsal Bakhtiar
(2008:20) adalah:
Mendalami unsur-unsur pokok ilmu sehingga secara menyeluruh kita dapat
memahami sumber, hakekat dan tujuan ilmu.
Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmudi
berbagai bidang sehingga kita dapat gambaran tentang proses ilmu
kontemporermsecara historis.
Menjadi pedoman untuk membedakan studi ilmiah dan non ilmiah.
Mempertegas bahwa persoalan antara ilmu dan agama tidak ada
pertentangan.
Bagi mahasiswa dan peneliti, tujuan mempelajari filsafat ilmu adalah
seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat memahami persoalan ilmiah dengan
melihat ciri dan cara kerja setiap ilmu atau penelitian ilmiah dengan cermat
dan kritis.
seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat melakukan pencarian kebenaran
ilmiah dengan tepat dan benar dalam persoalan yang berkaitan dengan
ilmunya (ilmu budaya, ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu keperawatan, ilmu
hukum, ilmu sosial, ilmu ekonomi dan sebagainya) tetapi juga persoalan yang
menyangkut seluruh kehidupan manusia, seperti: lingkungan hidup, peristiwa
sejarah, kehidupan sosial politik dan sebagainya.
Seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat memahami bahwa terdapat dampak
kegiatan ilmiah (penelitian) yang berupa teknologi ilmu (misalnya alat yang
digunakan oleh bidang medis, teknik, komputer) dengan masyarakat yaitu
berupa tanggung jawab dan implikasi etis. Contoh dampak tersebut misalnya
masalaheuthanasia dalam dunia kedokteran masih sangat dilematis dan
problematik, penjebolan terhadap sistem sekuriti komputer, pemalsuan
terhadap hak atas kekayaaan intelektual (HAKI) , plagiarisme dalam karya
ilmiah.
D. HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DENGAN ILMU-ILMU LAIN
Filsafat adalah induk dari ilmu penegtahuan. Ilmu ilmu khusus
merupakan bagian dari filsafat. Karena obyek filsafat sangat umum (seluruh
kenyataan), sedangkan ilmu membutuhkan obyek material yang khusus,
mengakibatkan berpisahnya ilmu dari filsafat (namun tidak berarti
hubungannya putus). Ciri ciri yang dimilki oleh setiap ilmu, menimbulkan
batas - batas yang tegas antar masing masing ilmu. Disinilah filsafat
bertugas :
Berusaha menyatupadakan masing masing ilmu
Mengatasi spesialisasi
Merumuskan pandangan yang didasarkan atas pengalaman manusia
Mengatur hasil hasil berbagai ilmu khusus ke dalam sesuatu pandangan
hidup dan pandangan dunia yang tersatupadukan (integral), komperhensif,
dan konsisten. (Komprehensif : tidak ada satu bidang yang berada di luar

jangkuan filsafat, Konsisten : uraian kefilsafatan tidak menyusun pendapat


pendapat yang saling berkontradiksi
Hubungan timbak balik antara ilmu dan filsafat, bahwa ilmu dapat
menyediakan bahan berupa fakta fakta yang sangat penting bagi
perkembangan ide filsafat, sehingga sejalan dengan pengetahuan ilmiah.
Filsafat ilmu secara kritis menganalisis konsep konsep dasar dan
memeriksa asumsi asumsi dari ilmu ilmu untuk memperoleh arti
validitasnya, sehingga hasil yang dicapai mempunyai landasan yang kuat.
Meskipun secara historis antara ilmu dan filsafat pernah merupakan suatu
kesatuan, namun dalam perkembangannya mengalami divergensi, dimana
dominasi ilmu lebih kuat mempengaruhi pemikiran manusia, kondisi ini
mendorong pada upaya untuk memposisikan ke duanya secara tepat sesuai
dengan batas wilayahnya masing-masing, bukan untuk mengisolasinya
melainkan untuk lebih jernih melihat hubungan keduanya dalam konteks lebih
memahami khazanah intelektuan manusia
Harold H. Titus mengakui kesulitan untuk menyatakan secara tegas dan
ringkas mengenai hubungan antara ilmu dan filsafat, karena terdapat
persamaan sekaligus perbedaan antara ilmu dan filsafat, disamping
dikalangan ilmuwan sendiri terdapat perbedaan pandangan dalam hal sifat
dan keterbatasan ilmu, dimikian juga dikalangan filsuf terdapat perbedaan
pandangan dalam memberikan makna dan tugas filsafat.
Adapaun persamaan (lebih tepatnya persesuaian) antara ilmu dan
filsafat adalah bahwa keduanya menggunakan berfikir reflektif dalam upaya
menghadapi/memahami fakta-fakta dunia dan kehidupan, terhadap hal-hal
tersebut baik filsafat maupun ilmu bersikap kritis, berfikiran terbuka serta
sangat konsern pada kebenaran, disamping perhatiannya pada pengetahuan
yang terorganisisr dan sistematis.
Sementara itu perbedaan filsafat dengan ilmu lebih berkaitan dengan
titik tekan, dimana ilmu mengkaji bidang yang terbatas, ilmu lebih bersifat
analitis dan deskriptif dalam pendekatannya, ilmu menggunakan observasi,
eksperimen dan klasifikasi data pengalaman indra serta berupaya untuk
menemukan hukum-hukum atas gejala-gejala tersebut, sedangkan filsafat
berupaya mengkaji pengalaman secara menyeluruh sehingga lebih bersifat
inklusif dan mencakup hal-hal umum dalam berbagai bidang pengalaman
manusia, filsafat lebih bersifat sintetis dan sinoptis dan kalaupun analitis
maka analisanya memasuki dimensi kehidupan secara menyeluruh dan utuh,
filsafat lebih tertarik pada pertanyaan kenapa dan bagaimana dalam
mempertanyakan masalah hubungan antara fakta khusus dengan skema
masalah yang lebih luas, filsafat juga mengkaji hubungan antara temuantemuan ilmu dengan klaim agama, moral serta seni.
Dengan memperhatikan ungkapan di atas nampak bahwa filsafat
mempunyai batasan yang lebih luas dan menyeluruh ketimbang ilmu, ini
berarti bahwa apa yang sudah tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat
berupaya mencari jawabannya, bahkan ilmu itu sendiri bisa dipertanyakan
atau dijadikan objek kajian filsafat (Filsafat Ilmu), namun demikian filsafat dan
ilmu mempunyai kesamaan dalam menghadapi objek kajiannya yakni berfikir
reflektif dan sistematis, meski dengan titik tekan pendekatan yang berbeda.
Hubungan filsafat dengan ilmu pengetahuan dapat dirumuskan sebagai
berikut:
1) Filsafat mempunyai objek yang lebih luas, sifatnya universal, sedangkan ilmuilmu pengetahuan objeknya terbatas, khusus lapangannya saja.
2) Filsafat hendak memberikan pengetahuan, insight/pemahaman lebih dalam
dengan menunjukan sebab-sebab yang terakhir, sedangkan ilmu
pengetahuan juga menunjukkan sebab-sebab tetapi yang tak begitu
mendalam.

a)
b)
c)
d)

a)
b)
c)
d)

E. FILSAFAT PENDIDIKAN
Menurut Muhmidayeli. (2011: 35) Filsafat pendidikan adalah upaya
menerapkan kaidah-kaidah berpikir filsafat dalam ragam pencarian solusi
berbagai ragam problem kependidikan yang akan melahirkan pemikiran utuh
tentang pendidikan yang tentunya merupakan langkah penting dalam
menemukan teori-teori tentang pendidikan. Menurut John Dewey dalam
Jalaluddin dan Idi (2007: 19 21) filsafat pendidikan merupakan suatu
pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut
daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju tabiat
manusia.
Sedangkan Menurut Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany dalam
Muhmidayeli. (2011: 35), filsafat pendidikan adalah pelaksanaan pandangan
filsafat dan kaidah-kaidah filsafat dalam bidang pengalaman kemanusiaan
yaang disebut dengan pendidikan.
Filsafat pendidikan bersandarkan pada filsafat formal atau filsafat
umum. Dalam arti bahwa masalah-masalah pendidikan merupakan karakter
filsafat. Masalah-masalah pendidikan akan berkaitan dengan masalahmasalah filsafat umum, seperti:
Hakikat kehidupan yang baik, karena pendidikan akan berusaha untuk
mencapainya;
Hakikat manusia, karena manusia merupakan makhluk yang menerima
pendidikan;
Hakikat masyarakat, karena pendidikan pada dasarnya merupakan suatu
proses sosial;
Hakikat realitas akhir, karena semua pengetahuan akan berusaha untuk
mencapainya.
Selanjutnya al-Syaibany (1979) mengemukakan bahwa terdapat
beberapa tugas yang diharapkan dilakukan oleh seorang filsuf pendidikan, di
antaranya:
Merancang dengan bijak dan arif untuk menjadikan proses dan usaha-usaha
pendidikan pada suatu bangsa;
Menyiapkan generasi muda dan warga negara umumnya agar beriman
kepada Tuhan dengan segala aspeknya;
Menunjukkan peranannya dalam mengubah masyarakat, dan mengubah
cara-cara hidup mereka ke arah yang lebih baik;
Mendidik akhlak, perasaan seni, dan keindahan pada masyarakat dan
menumbuhkan pada diri mereka sikap menghormati kebenaran, dan caracara mencapai kebenaran tersebut.
Filsuf pendidikan harus memiliki pikiran yang benar, jelas, dan
menyeluruh tentang wujud dan segala aspek yang berkaitan dengan
ketuhanan, kemansiaan, pengetahuan kealaman, dan pengetahuan sosial.
Filsuf pendidikan harus pula mampu memahami nilai-nilai kemanusiaan yang
terpancar pada nilai-nilai kebaikan, keindahan, dan kebenaran.
Gandhi HW (2011: 84) setelah mengkaji makna filsafat pendidikan dari
berbagai ahli Ia menyatakan bahwa: Filsafat pendidikan tidak lain adalah
penerapan upaya metodis filsafat untk mempersoalkan konsepsi-konsepsi
yang melandasi upaya-upaya manusia di dalam membangun hidup daan
kehidupannya untuk menjadi semakin baik dan berkualitas. Sedangkan
upaya-upaya filsafat dalam mempersoalkan adalah guna mengarahkan
penyelenggaraan pendidikan pada kondisi-kondisi etika yang diidealkan.
Dalam makna lain, filsafat pendidikan adalah flsifikasi pendidikan, baik dlm
makna teoritis konseptual maupun makna praktis-pragmatis yang
menggejala.
.

F. HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DENGAN PENDIDIKAN DAN FILSAFAT


PENDIDIKAN
1. Hubungan Filsafat Ilmu Dengan Pendidikan
Hubungan filsafat ilmu dengan pendidikan. Filsafat ilmu merupakan
telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakekat ilmu
(Benny Irawan, 2011:49) Filsafat ilmu bertujuan mengadakan analisis
mengenai ilmu pengetahuan dan cara bagaimana ilmu pengetahuan itu
diperoleh. Jadi filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan
ilmiah dan cara memperolehnya Sebaliknya realita seperti pengalaman
pendidik menjadi masukan dan pertimbangan bagi filsafat ilmu untuk
mengembangkan pemikiran pendidikan. Hubungan fungsional antara filsafat
ilmu dengan pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1) Filsafat ilmu, merupakan satu cara pendekatan yang dipakai dalam
memecahkan problematika pengembangan ilmu pendidikan dan menyusun
teori-teori pendidikan oleh para ahli.
2) Filsafat ilmu, berfungsi memberi arah bagi pengembangan teori pendidikan
yang telah ada dan memilki relevansi dengan kehidupan yang nyata.
3) Filsafat ilmu dan pendidikan mempunyai hubungan saling melengkapi, yang
dapat bermakna bahwa realita pendidikan dapat mengembangkan filsafat
ilmu, dan filsafat ilmu itu sendiri dapat membantu realita perkembangan
pendidikan.
2. Hubungan Filsafat Ilmu dengan Filsafat Pendidikan
Pandangan filsafat pendidikan sama peranannya dengan landasan
filosofis yang menjiwai seluruh kebijaksanaan pelaksanaan pendidikan.
Antara filsafat dan pendidikan terdapat kaitan yang sangat erat. Filsafat
mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat, sedangkan
pendidikan berusaha mewujudkan citra tersebut.
Filsafat pendidikan mengadakan tinjauan yang luas mengenai realita,
antara lain tentang pandangan dunia dan pandangan hidup. Konsep-konsep
mengenai ini dapat menjadi landasan penyusunan konsep tujuan dan
metodologi pendidikan. Di samping itu, pengalaman pendidik dalam
menuntun pertumbuhan dan perkembangan anak akan berhubungan dan
berkenalan dengan realita. Semuanya itu dapat digunakan oleh flsafat
pendidikan
sebagai
bahan
pertimbangan
dan
tinjauan
untuk
memngembangkan diri.
Filsafat ilmu dengan filsafat pendidikan memiliki hubungan yang sangat
erat. Bagi perkembangan filsafat pendidikan, filsafat ilmu merupakan
landasan filosofis yang menjiwai pengembangan ilmu pendidikan dan teoriteori pendidikan. Filsafat ilmu mencoba memberikan dasar bagi
pengembangan filsafat pendididkan dalam kerangka mengembangkan ilmu
pendidikan dan teori-teori pendidikan.
Selain itu, hubungan filsafat ilmu dengan filsafat pendidikan juga dapat
dimaknai bahwa filsafat ilmu mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk
dan arah dalam pengembangan ilmu pendidikan (pedagogic) maupun teoriteori pendidikan baik dari segi ontologi (tujuan), epistemologi (metode),
maupun axiologi (nilai).
G.

KEBERADAAN MANUSIA DI DUNIA DARI PENCIPTAAN AWAL HINGGA


TUJUAN AKHIR
Manusia merupakan mahluk yang diciptakan Allah SWT. Karena kita
diciptakan, maka sudah tentu kita harus menjalani kehidupan ini sesuai
dengan misi penciptaan itu sendiri, yaitu apa yang dinyatakan oleh Allah
dalam Al-Quran : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk
beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzaariyaat : 56)

Apa itu ibadah ?. Menurut bahasa, Ibadah berarti Thaat. Sedangkan


menurut istilah, Ibadah punya dua makna. Pertama, Ibadah dalam arti
khusus, yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhan-Nya, seperti shalat,
zakat, shaum, haji, dan jihad. Kedua, Ibadah dalam arti umum, yaitu
menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dalam
berbagai aspek kehidupan. Wal hasil, yang harus diperbuat manusia dalam
kehidupannya di dunia ini adalah Ibadah.
Perlu ditegaskan di sini, bahwa ibadah sesungguhnya bukanlah sekedar
aktifitas ritual seperti sholat, shaum, dll. Ini adalah pandangan yang keliru dan
membahayakan. Yang tepat, bahwa ibadah adalah seluruh amal perbuatan
manusia yang dilakukan sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Amal
perbuatan manusia bisa memiliki nilai rohani, nilai manusiawi, nilai akhlaq,
atau nilai materi.
Allah SWT telah memerintahkan kepada manusia untuk senantiasa
melaksanakan apa-apa yang diajarkan/diperintahkan oleh Rasul, dan
meninggalkan apa-apa yang di larangnya, sebagaimana firman-Nya : Apa
yang
diberikan/diperintahakan
Rasul
kepadamu
maka
terimalah/laksanakanlah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (Al-Hasyr 7)
Selain itu Rasulullah SAW juga bersabda : Siapa saja yang
mengerjakan suatu amal perbuatan, yang tak ada perintah kami atasnya,
maka perbuatan itu tertolak. (HR. Muslim). Oleh karena itulah, kita perlu
mengkaji dan mendalami Islam, agar bisa melakukan semua gerak langkah
dan aktivitas kita, sesuai dengan aturan-aturan Allah SWT, sehingga
senantiasa memiliki nilai ibadah di sisi-Nya.
Tujuan akhir hidup manusia menurut Islam adalah mendapatkan
kebahagiaan hakiki. Perlu disadari bahwa kehidupan akhirat itulah
sesungguhnya kehidupan yang hakiki. Allah SWT berfirman : ...Katakanlah :
Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itulah lebih baik untuk
orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun (An
Nisaa 77) Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.
Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (Al Alaa 17-18)
Allah menciptakan alam semesta (termasuk manusia) tidaklah dengan
palsu dan sia-sia (QS. As-Shod ayat 27). Segala ciptaan-Nya mengandung
maksud dan manfaat. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang paling mulia,
sekaligus sebagai khalifah di muka bumi, manusia harus meyadari terhadap
tujuan hidupnya. Dalam konteks ini, al-Quran menjelaskan, bahwa manusia
memiliki bebrapa tujuan hidup, diantaranya adalah : pertama, Menyembah
Kepada Allah (Beriman) Allah Swt. menjelaskan dalam firman-Nya, bahwa
tujuan hidup manusia adalah semata-mata untuk mengabdi (beribadah)
kepada-Nya (QS. Adz-Dzariyat ayat 56 dan QS. Al-Bayyinah ayat 5). Kedua,
Memanfaatkan Alam Semesta (Beramal) Manusia adalah puncak ciptaan dan
makhluk Allah yang tertinggi (QS. at-Tien ayat 4). Sebagai makhluk tertinggi,
disamping menjadi hamba Allah, manusia juga dijadikan sebagai khalifah
atau wakil Tuhan dimuka bumi (QS. al-Isra ayat 70). Di samping itu, Allah
juga menegaskan bahwa manusia ditumbuhkan (diciptakan) dari bumi dan
selanjutnya diserahi untuk memakmurkannya (QS. Hud ayat 16 dan QS. alAnam ayat 165). Dengan demikian, seluruh urusan kehidupan manusia dan
eksistensi alam semesta di dunia ini telah diserahkan oleh Allah kepada
manusia, Ketiga, Membentuk Sejarah Dan Peradaban (Berilmu) Allah
menciptakan alam semesta ini dengan pasti dan tidak ada kepalsuan di
dalamnya (QS. Shod ayat 27). Oleh Karena itu, alam memiliki eksistensi yang
riil dan obyektif, serta berjalan mengikuti hukum-hukum yang tetap
(sunnatullah). Di samping itu, sebagai ciptaan dari Dzat yang merupakan
sebaik-baiknya pencipta (QS. al-Mukminun ayat 14), alam semesta

mengandung nilai kebaikan dan nilai keteraturan yang sangat harmonis. Nilai
ini diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia, khususnya bagi
keperluan perkembangan sejarah dan peradabannya (QS. Luqman ayat 20).
Oleh karena itu, salah satu tujuan hidup manusia menurut al-Quran di muka
bumi ini adalah melakukan penyelidikan terhadap alam, agar dapat
dimengerti hukum-hukum Tuhan yang berlaku di dalamnya, dan selanjutnya
manusia memanfaatkan alam sesuai dengan hukum-hukumnya sendiri, demi
kemajuan sejarah dan peradabannya.
A. Hakekat Manusia
1. Manusia : Pandangan Antropologi
Menurut Koentjaraningrat, antropologi adalah ilmu tentang manusia.
Dalam perkembangannya di Amerika, antropologi dipakai dalam arti yang
sangat luas, karena meliputi baik bagian-bagian fisik maupun sosial dari ilmu
tentang manusia. Pada bahasan selanjutnya akan dikemukakan mengenai
manusia dalam pandangan antropologi.
Para ahli biologi pada abad ke-19-an menyimpulkan bahwa manusia
merupakan mahluk hidup yang terbentuk dari jutaan sel.
Pada awalnya di dunia ini hanya ada satu sel yang kemudian
berkembang dan mengalami percabangan-percabangan. Percabangan ini
mengakibatkan adanya variasi mahluk hidup di dunia ini. Menurut Charles
Darwin dalam teori Evolusinya, manusia merupakan hasil evolusi dari kera
yang mengalami perubahan secara bertahap dalam waktu yang sangat lama.
Dalam perjalanan waktu yang sangat lama tersebut terjadi seleksi alam.
Semua mahluk hidup yang ada saat ini merupakan organisme-organisme
yang berhasil lolos dari seleksi alam dan berhasil mempertahankan dirinya.
Para ahli biologi yang menyimpulkan bahwa semua mahluk hidup di
dunia berasal dari suku primat yang terbagi menjadi 2 cabang yaitu
Anthropoid dan Prosimii. Berdasarkan klasifikasi tersebut, manusia
ditempatkan pada subsuku Anthropoid yang dibagi menjadi 3 infrasuku yaitu,
Infrasuku
Ceboid,
infrasuku
Cercopithedoid
dan
infrasuku
Hominoid. Infrasuku Hominoid terbagi kedalam 3 keluarga yaitu Pongidae,
Ramapithecas dan Hominidae. Manusia berada pada percabangan kaluarga
Hominidae. Keluarga Hominidae menggabungkan manusia purba jenis
Pithecanthropus dengan Homo Neanderthal dan dengan manusia sekarang
atau Homo Sapiens. Jenis Homo Sapiens yang ada sampai saat ini terdiri
dari 4 ras yaitu ras Negroid, Caucasoid, Mongoloid dan Austrloid
(http://hanykpoespyta.wordpress.com/
2008/04/19/manusia-antarapandangan-antropologi-dan-agama-islam).
Dapat disimpulkn bahwa manusia dalam pandangan Antropologi
terbentuk dari satu sel sederhana yang mengalami perubahan secara
bertahap dengan waktu yang sangat lama (evolusi). Berdasarkan teori ini,
manusia dan semua mahluk hidup di dunia ini berasal dari satu moyang yang
sama. Nenek moyang manusia adalah kera. Teori Evolusi yang dikenalkan
oleh Charles Darwin ini akhirnya meluas dan terus dipakai dalam antropologi.
2. Manusia : Pandangan Ilmu Sosial (sosiologi)
Konsep manusia dalam Sosiologi belum sepenuhnya melihat manusia
sebagai suatu makhluk yang utuh dan mandiri. Menurut Bapak ahli Sosiologi
modern, Agus Comte. Pandangan beliau banyak dipengaruhi oleh Louis de
Bonald, Seorang filsuf Perancis yang lahir pada tahun 1875.
Comte berpendapat bahwa masyarakatlah yang menentukan individu.
Baginya Manusia itu ada untuk masyarakat dan masyarakatlah yang
menentukan segala-galanya. Comte melihat bahwa manusia adalah non

rational. Oleh karena itu menurutnya Individual Liberty justru akan


menimbulkan bahaya bagi keutuhan masyarakat itu sendiri. Demikian juga
dalam masyarakat, tak seorangpun dapat berpendapat lain dari pada apa
yang telah diputuskan oleh golongan tertinggi masyarakat itu, yaitu The
Intellectual Scientific Religious Group. Ini berarti bahwa manusia adalah
hanya suatu bagian dari masyarakat. Ia hidup dalam masyarakat tetapi ia
tidak dapat mengarahkan masyarakat sesuai dengan keinginannya. Dalam
pendidikan manusia diibaratkan suatu benda kosong dan adalah tugas
masyarakat untuk mengisinya dengan norma-norma atau nilai-nilai yang
dapat membuat masyarakat ini berbuat secara lebih terarah dalam artian
tidak menggangu sistem. Oleh karena itu Sosialisasi dalam kehidupan
manusia
dipandang
sangat
penting.
(http://pohanrangga.blogspot.com/2012/11/hakekat-manusia-dari-segisosiologi.html)
Bagi Indonesia, konsep manusia yang diberikan oleh Comte sulit untuk
diterima, karena konsep tersebut terlalu memberikan porsi yang besar pada
masyarakat, sedangkan individu tidak diberi kesempatan untuk aktif
melakukan kegiatan kemasyarakatan. Pemerintah Indonesia bertujuan
membentuk manusia seutuhnya, artinya melihat manusia tidak hanya
sekedar menerima nilai-nilai masyarakat saja, tetapi ia juga dapat
menciptakan nilai-nilai baru dan menyampaikannya pada masyarakat. Oleh
karena itu partsipasi seluruh rakyat dalam proses pembangunan adalah
sangat penting dan diperlukan.
Hakikat manusia dilihat dari sosiologi tidak lepas dari manusia secara
individu dan manusia dalam artian masyarakat. Manusia sebagai individu
mempunyai ciri bebas, unik dituntut untuk mengikuti masyarakat yang
mempunyai sifat memaksa terhadap anggota masya-rakatnya. Individu
memiliki ciri interpretatif, artinya individu tersebut memiliki persepsi atau cara
pikir tersendiri mengenai sesuatu. Ketika ia diajarkan sebuah nilai dan norma
dalam sebuah masyarakat, individu tersebut tidak sekedar menerimanya
begitu saja, ia menggunakan kemampuannya dalam menginterpretasikan
nilai tersebut. Sehingga jika terdapat kekurangan dalam nilai dan norma
tersebut individu bisa melengkapinya
3. Manusia : Pandangan Ilmu Pendidikan
Pendapat yang umumnya dikenal dalam pendidikan Barat mengenai
mungkin tidaknya manusia dididik terangkum dalam tiga aliran filsafat
pendidikan. Aliran-aliran tersebut adalah nativisme, empirisme, dan
konvergensi.
Menurut
nativisme,
manusia
tidak
perlu
dididik,
sebab
perkembangan manusia sepenuhnya oleh bakat yang secara alami sudah
ada pada dirinya. Sedangkan menurut penganut empirisme adalah
sebaliknya. Perkembangan dan pertumbuhan manusia sepenuhnya
ditentukan oleh lingkungannya. Dengan demikian aliran ini memandang
pendidikan
berperan
penting
dan sangat
menentukan
arah
perkembangan manusia (Jalaluddin dan Ali Ahmad Zen, 1996:52). Adapun
aliran ketiga, yaitu konvergensi merupakan perpaduan antara kedua
pendapat tersebut. Menurut mereka memang manusia memiliki
kemampuan dalam dirinya (bakat/potensi), tetapi potensiitu hanya dapat
berkembang jika ada pengarahan pembinaan sertabimbingan dari luar
(lingkungan). Harus ada perpaduan antara faktor dasar (potensi dan bakat)
dan ajar (bimbingan). Perkembangan seorang manusia tidak hanya
ditentukan oleh kemampuan potensi bakat yang dibawanya. Tanpa ada
intervensi dari luar (lingkungan) bakat/potensi seseorang tak mungkin
berkembang dengan baik.

1)
2)
3)
4)

Pendidikan adalah humanisasi, yaitu upaya memanusiakan manusia


atau upaya membantu manusia agar mampu mewujudkan diri sesuai dengan
martabat kemanusiaan. Sebab manusia menjadi manusia yang sebenarnya
jika ia mampu merealisasikan hakikatnya secara total maka pendidikan
hendaknya merupakan upaya yang dilaksanakan secara sadar dengan
bertitik tolak pada asumsi tentang hakikat manusia.
Pendapat yang umumnya dikenal dalam pendidikan Barat mengenai
mungkin tidaknya manusia dididik terangkum dalam tiga aliran filsafat
pendidikan. Aliran-aliran tersebut adalah nativisme, empirisme, dan
kovergensi.
Menurut
nativisme,
manusia
tidak
perlu
dididik,
sebab
perkembangan manusia sepenuhnya oleh bakat yang secara alami sudah
ada pada dirinya. Sedangkan menurut penganut empirisme adalah
sebaliknya. Perkembangan dan pertumbuhan manusia sepenuhnya
ditentukan oleh lingkungannya. Dengan demikian aliran ini memandang
pendidikan
berperan
penting
dan sangat
menentukan
arah
perkembangan manusia (Jalaluddin dan Idi, Abdullah. 2007:52). Adapun
aliran ketiga, yaitu konvergensi merupakan perpaduan antara kedua
pendapat tersebut. Menurut mereka memang manusia memiliki
kemampuan dalam dirinya (bakat/potensi), tetapi potensi itu hanya dapat
berkembang jika ada pengarahan pembinaan serta bimbingan dari luar
(lingkungan). Harus ada perpaduan antara faktor dasar (potensi dan bakat)
dan ajar (bimbingan). Perkembangan seorang manusia tidak hanya
ditentukan oleh kemampuan potensi bakat yang dibawanya. Tanpa ada
intervensi dari luar (lingkungan) bakat/potensi seseorang tak mungkin
berkembang dengan baik.
Salah satu konsep kependidikan yang banyak dianjurkan pada
lembaga-lembaga pendidikan guru umumnya menggambarkan pendidikan
sebagai bantuan pendidik untuk membuat subjek didik menjadi dewasa.
Manusia yang belum dewasa, proses perkembangan kepribadiannya menuju
pembudayaan maupun proses pematangan disebut sebagai objek pendidikan
( individu yang dibina ).
Hakikat manusia sebagai subjek didik mengandung arti sebagai berikut:
Manusia bertanggung jawab atas pendidikannya sesuai wawasan pendidikan
seumur hidup
Manusia punya potensi baik fisik maupun psikis yang berbeda-beda
Manusia adalah insane yang aktif
Masalah jasmani dan rohani
Manusia adalah mahluk Ciptaan tuhan yang paling sempurna, manusia
mempunyai keistemewaan dibanding dengan mahluk lain, dan
kesempurnaan ini dapat meningkatkan kehidupannya. Pada awalnya
manusia cenderung melakukan pendidikan pada dirinya sendiri dengan
berusaha mengerti dan mencari hakikat kepribadian siapa diri mereka
sebenarnya. Dengan berfikir atau bernalar, merupakan suatu bentuk kegiatan
akal manusia melalaui pengetahuan yang diterima melalui panca indra diolah
dan ditunjukkan untuk mencapai suatu kebenaran. Sesuai dengan makna
filsafat yaitu sebagai ilmu yang bertujuan untuk berusaha memahami semua
yang timbul dalam keseluruhan lingkup pengalan manusia, maka manusia
memerlukan ilmu dalam mewujudkan pemahamn tersebut (Dr. jamaluddin,
filsafat pendidikan, 1997).
Manusia Mahkuk Pengetahuan
Manusia berbeda dengan mahluk lainnya. Manusia lahir dengan potensi
kodratnya yaitu Cipta, Rasa, dan Karsa. Cipta adalah kemampuan spiritual,
yag secara khusus mempersoalkan nilai kebenaran. Rasa adalah

kemampuan spiritual yang mempersoalkan nilai Keindahan. Sedangkan


Karsa adalah kemampuan spiritual yang secara khusus mempersoalkan nilai
kebaikan. Ketiga jenis nilai tersebut dibingkai dalam sebuah ikatan system,
selanjutnya dijadikanlah landasan dasar untuk mendirikan filsafat hidup,
menentukan Landasan Hidup, dan mengatur sikap dan perilaku hidup agar
senantiasa terarah ke pencapaian tujuan hidup.
Manusia Mahluk Berpendidikan
Dengan kemampuan pengetahuan manusia yang benar, manusia
berusaha menjaga dan mengembangkan kelangsungan hidupnya. Manusia
berusaha mengamalkan pengetahuannya di dalam perilaku sehari-hari. Sejak
lahir, seorang manusia sudah terlibat langsung dalam kegiatan pendidikan
dan pembelajaran. Dia dirawat, dijaga, dididik, dan dilatih oleh orang tua,
keluarga, dan masyarakat menuju tingkat kedewasaan dan kematangan,
sampai terbentuk potensi kemandirian dalam mengelola kelangsungan
hidupnya. Kegiatan pendidikan dan pembelajaran tersebut diselenggarakan
secara Konvensional (alami) menurut pengalaman hidup, sampai cara-cara
formal yang metodik dan sistematik institusional (pendidikan di sekolah),
menurut kemampuan konseptik-rasional.
4. Manusia : Pandangan Filsfat Ilmu
Pandangan filsafat terhadap manusia dapat dipandang dari beberapa
sudut pandang yakni dari:
a) Teori Descendensi
Beberapa ahli filsafat berbeda pemikiran dalam mendefinisikan manusia.
Manusia adalah makhluk yang concerned (menaruh minat yang besar)
terhadap hal-hal yang berhubungan dengannya, sehingga tidak ada hentihentinya selalu bertanya dan berpikir.
Aristoteles (384-322 SM), seorang filosof besar Yunani mengemukakan
bahwa manusia adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan
pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal-pikirannya. Juga manusia
adalah hewan yang berpolitik (zoonpoliticon, political animal), hewan yang
membangun masyarakat di atas famili-famili menjadi pengelompokkan yang
impersonal dari pada kampung dan negara. Manusia berpolitik karena ia
mempunyai bahasa yang memungkinkan ia berkomunikasi dengan yang lain.
Dan didalam masyarakat manusia mengenal adanya keadilan dan tata tertib
yang harus dipatuhi. Ini berbeda dengan binatang yang tidak pernah
berusaha memikirkan suatu cita keadilan.
Berdasarkan Thomas Hobbes, manusia disebut Homo homini lupus artinya
manusia yang satu serigala manusia yang lainnya (berdasarkan sifat dan
tabiat)
Nafsu yang paling kuat dari manusia adalah nafsu untuk mempertahankan
diri, atau dengan kata lain, ketakutan akan kehilangan nyawa.
Menurut Nietsche, bahwa manusia sebagai binatang kekurangan (a shortage
animal). Selain itu juga menyatakan bahwa manusia sebagai binatang yang
tidak pernah selesai atau tak pernah puas (das rucht festgestelte tier). Artinya
manusia tidak pernah merasa puas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut Julien, bahwa manusia manusia tak ada bedanya dengan hewan
karena manusia merupakan suatu mesin yang terus bekerja (de
lamittezie). Artinya bahwa dari aktivitas manusia dimulai bangun tidur sampai
ia tidur kembali manusia tidak berhenti untuk beraktivitas.
Menurut Ernest Haeskel, bahwa manusia merupakan (animalisme), tak ada
sanksi bahwa segala hal manusia sungguh-sungguh ialah binatang beruas
tulang belakang yakni hewan menyusui. Artinya bahwa tidak diragukan lagi
manusia adalah sejajar dengan hewan yang menyusui.

Menurut William Ernest, bahwa manusia adalah hewan yang berfikir dalam
istilah totalitas, dan hewan yang berjiwa. Artinya manusia mempunyai akal
pikiran untuk memikirkan segala hal dan manusia memiliki jiwa.
Menurut Adi Negara bahwa alam kecil sebagian alam besar yang ada di atas
bumi. Sebagian dari makhluk yang bernyawa, sebagian dari bangsa
antropomoker, binatang yang menyusui, akan tetapi makhluk yang
mengetahui keadaan alamnya, yang mengetahui dan dapat menguasai
kekuatan alam di luar dan di dalam dirinya (lahir dan batin).
Kesimpulannya:
1) Menurut teori descendensi bahwa meletakkan manusia sejajar dengan
hewan berdasarkan sebab mekanis.
2) Keistimewaan ruhaniyah manusia dibandingkan dengan hewan terlihat dalam
kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir, berpolitik,
mempunyai kebebasan/kemerdekaan, memiliki sadar diri, mempunyai norma,
tukang bertanya atau tegasnya manusia adalah makhluk berbudaya.
3) Manusia mempunyai aktivitas yang hampir sama dengan aktivitas yang
dilakukan oleh hewan.
b) Aliran Metafisika
Metafisika berasal dari bahasa Yunani Meta ta physica yang dapat diartikan
sesuatu yang ada di balik atau di belakang benda-benda fisik.
Menurut Prof. S. Takdir Alisyahbana, metafisika ini dibagi menjadi dua
golongan besar, yaitu : (1) yang mengenai kuantitas (jumlah) dan (2) yang
mengenai kualitas (sifat).Yang mengenai kuantitas terdiri atas (a)monisme,
(b) dualisme, dan (c) pluralisme. Monisme adalah aliran yang
mengemukakan bahwa unsur pokok segala yang ada ini adalah esa (satu).
Dualisme adalah aliran yang berpendirian bahwa unsur pokok yang ada ini
ada dua, yaitu roh dan benda. Pluralisme adalah aliran yang berpendapat
bahwa unsur pokok hakikat kenyataan ini banyak. Yang mengenai kualitas
dibagi juga menjadi dua bagian besar, yakni (a) yang melihat hakikat
kenyataan itu tetap, dan (b) yang melihat hakikat kenyataan itu sebagai
kejadian.Yang termasuk golongan pertama (tetap) ialah: Spiritualisme, yakni
aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat roh. Materialisme, yakni
aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat materi. Yang termasuk
golongan kedua (kejadian) ialah: Mekanisme, yakni aliran yang
berkeyakinan bahwa kejadian di dunia ini berlaku dengan sendirinya menurut
hukum sebab-akibat. Aliran teleologi, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa
kejadian yang satu berhubungan dengan kejadian yang lain, bukan oleh
hukum sebab-akibat, melainkan semata-mata oleh tujuan yang sama.
Pandangan filsafat terhadap aliran metafisika adalah memandang sesuatu
yang ada pada diri manusia yakni sebagai berikut:
1) Serba zat: manusia terdiri dari sel yang mengacu pada materialisme /
sesuatu yang nyata / ada. Beranggapan yang sesungguhnya ada hanya
materi saja yang bisa ditangkap oleh pancaindera.
2) Serba ruh: identik dengan jiwa, mencakup ingatan, imajinasi, kemauan,
perasaan, penghayatan.
Jadi, asal manusia dari suatu yang ada dan tak bergantung dari yang lain.
Hakikat manusia ialah dari ruh yang ditiupkan oleh Tuhan. Artinya manusia
tersusun dari zat yang ada dengan diberikannya ruh oleh Tuhan sehingga
menyebabkan manusia dapat hidup. Manusia mempunyai fisik yaitu
jasadnya. Selain jasad manusia juga mempunyai ruh atau yang tidak dapat
ditangkap oleh panca indera yakni berhubungan dengan jiwa mencakup
ingatan, gagasan, imajinasi, kemauan, perasaan dan penghayatan.
c) Psikomatik

Memandang manusia hanya terdiri atas jasad yang memiliki kebutuhan untuk
menjaga keberlangsungannya artinya manusia memerlukan kebutuhan
primer (sandang, pangan dan papan) untuk keberlangsungan hidupnya.
Manusia terdiri dari sel yang memerlukan materi cenderung bersifat duniawi
yang diatur oleh nilai-nilai ekonomi (dinilai dengan harta / uang) artinya
manusia memerlukan kebutuhan duniawi yang harus dipenuhi, apabila
kebutuhan tersebut sudah terpenuhi maka mereka akan merasa puas
terhadap pencapaiannya.
Manusia juga terdiri dari ruh yang memerlukan nilai spiritual yang diatur oleh
nilai keagamaan (pahala). Dalam menjalani kehidupan duniawi manusia
membutuhkan ajaran agama, melalui ceramah keagamaan untuk memenuhi
kebutuhan rohaninya.
Manusia sempurna jika mengembangkan unsur rasionalitas, kesadaran, akal
budi, spritualitas, moralitas, sosialitas, kesesuian dengan alam.
1) Rasionalitas
Secara etimologis rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalism.
Kata ini berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti akal. A.R. Lacey7
menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya rasionalisme adalah sebuah
pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi
pengetahuan dan pembenaran. Sementara itu, secara terminologis aliran ini
dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus
diberi peranan utama dalam penjelasan. Ia menekankan akal budi (rasio)
sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan
bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi.
Pola pikir secara rasionalisme
Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang
menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian,
logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma,
atau ajaran agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi
dan tujuan dengan humanisme dan atheisme, dalam hal bahwa mereka
bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus sosial dan
filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul. Meskipun begitu, ada
perbedaan dengan kedua bentuk tersebut: Humanisme dipusatkan pada
masyarakat manusia dan keberhasilannya. Rasionalisme tidak mengklaim
bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah lainnya.
Ada rasionalis-rasionalis yang dengan tegas menentang filosofi humanisme
yang antroposentrik. Atheisme adalah suatu keadaan tanpa kepercayaan
akan adanya Tuhan atau dewa-dewa; rasionalisme tidak menyatakan
pernyataan apapun mengenai adanya dewa-dewi meski ia menolak
kepercayaan apapun yang hanya berdasarkan iman. Meski ada pengaruh
atheisme yang kuat dalam rasionalisme modern, tidak seluruh rasionalis
adalah atheis.
2) Kesadaran
Manusia dikatakan manusia sempurna apabila manusia mempunyai
kesadaran hidup. Kesadaran berarti manusia melakukan segala sesuatu atas
dorongan dari diri sendiri bukan paksaan dari orang lain.Kesadaran adalah
keadaan seseorang di mana ia tahu/mengerti dengan jelas apa yang ada
dalam pikirannya. Sedangkan pikiran bisa diartikan dalam banyak makna,
seperti ingatan, hasil berpikir, akal, gagasan ataupun maksud/niat.
Sebagai gambaran untuk memperjelas, misalnya ada seorang anak melihat
balon. Keadaan melihat tersebut yang ia sadari sendiri itu dinamakan
kesadaran. Sedangkan balon yang ia lihat yang menimbulkan anggapan
besar atau berwarna hijau disebut pikiran (persepsi). Reaksi bagus dan indah
sehingga anak tersebut suka adalah bentuk dari perasaan. Kemudian reaksi

pikiran yang menginginkan balon tersebut itu yang dimaksud dengan


niat/kehendak/maksud. Kata pikiran bermakna sangat luas sehingga ada
yang menggunakannya dalam konteks sebagai niat atau kehendak.
3) Akal budi
Akal budi yang baik akan mengarahkan manusia ke jalan yang lurus.
Mungkin pada suatu saat manusia akan mundur atau menyimpang salah
jalan. Tetapi akal budi inilah yang akan berupaya meluruskan kembali jalan
hidup kita.Akal budi ini adalah anugerah terbesar dari Tuhan untuk manusia.
Inilah yang membedakan kita dengan hewan atau bahkan dengan tumbuhan.
Dengannya kita dapat mempelajari dan mendalami keimanan. Dengan iman
inilah manusia dengan akal budinya mampu mengenali Tuhan.
Tetapi banyak orang yang tertipu karena keterbatasan akal budinya dan
menganggap pikiran manusia berseberangan dengan iman. Tetapi yang
benar adalah iman itu sebagai penuntun akal budi agar perjalanan hidup
manusia tidak menyimpang alias salah jalan. Dan dengan akal budi kita
dapat memperdalam iman. Dengan iman, manusia mampu mengenal Tuhan
dan berjalan lurus menuju kepada-Nya.
4) Spiritualitas
Dalam beberapa literatur dijelaskan bahwa kata "spiritual" itu diambil dari
bahasa Latin, Spiritus, yang berarti sesuatu yang memberikan kehidupan
atau vitalitas. Dengan vitalitas itu maka hidup kita menjadi lebih "hidup".
Spiritus ini bukan merupakan label atau identitas seseorang yang diterima
dari / diberikan oleh pihak luar, seperti agama, melainkan lebih merupakan
kapasitas bawaan dalam otak manusia. Artinya, semua manusia yang lahir ke
dunia ini sudah dibekali kapasitas tertentu di dalam otaknya untuk
mengakses sesuatu yang paling fundamental dalam hidupnya. Jika
kapasitas itu digunakan / diaktifkan, maka yang bersangkutan akan memiliki
vitalitas hidup yang lebih bagus. Kapasitas dalam otak yang berfungsi untuk
mengakses sesuatu yang paling fundamental itulah yang kemudian
mendapatkan sebutan ilmiyah, seperti misalnya: Kecerdasan Spiritual (SQ),
Kecerdasan Hati (Heart Intelligence), Kecerdasan Transendental, dan lainlain.
Spiritual di dalam diri kita selalu mendorong untuk menemukan makna hidup
yang lebih dalam, nilai-nilai fundamental yang lebih bermanfaat, kesadaran
akan adanya tujuan hidup yang lebih panjang, dan peran yang dimainkan
oleh makna, nilai, dan tujuan itu dalam tindakan, strategi dan proses berpikir.
5) Moralitas
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Nurudin, 2001) moral berarti
ajaran baik-buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap,
kewajiban, dan sebagainya; akhlak, budi pekerti, susila. Sedangkan
bermoral adalah mempunyai pertimbangan baik buruk, berakhlak baik.
Menurut Immanuel Kant (Magnis Suseno, 1992), moralitas adalah hal
kenyakinan dan sikap batin dan bukan hal sekedar penyesuaian dengan
aturan dari luar, entah itu aturan hukum negara, agama atau adat-istiadat.
Selanjutnya dikatakan bahwa, kriteria mutu moral seseorang adalah hal
kesetiaanya pada hatinya sendiri. Moralitas adalah pelaksanaan kewajiban
karena hormat terhadap hukum, sedangkan hukum itu sendiri tertulis dalam
hati manusia. Dengan kata lain, moralitas adalah tekad untuk mengikuti apa
yang dalam hati disadari sebagai kewajiban mutlak.
6) Sosialitas
Sosialisasi mengacu pada suatu proses belajar seorang individu yang akan
mengubah dari seseorang yang tidak tahu menahu tentang diri dan
lingkungannya menjadi lebih tahu dan memahami. Agen sosialisasi meliputi
keluarga, teman bermain, sekolah dan media massa. Keluarga merupakan
agen pertama dalam sosialisasi yang ditemui oleh anak pada awal

perkembangannya. Kemudian kelompok sebaya sebagai agen sosialisasi di


mana si anak akan belajar tentang pengaturan peran orang-orang yang
berkedudukan sederajat. Sekolah sebagai agen sosialisasi merupakan
institusi pendidikan di mana anak didik selama di sekolah akan mempelajari
aspek kemandirian, prestasi, universalisme serta spesifisitas. Agen
sosialisasi yang terakhir adalah media massa di mana melalui sosialisasi
pesan-pesan dan simbol-simbol yang disampaikan oleh berbagai media akan
menimbulkan berbagai pendapat pula dalam masyarakat.
Dalam rangka interaksi dengan orang lain, seseorang akan mengembangkan
suatu keunikan dalam hal perilaku, pemikiran dan perasaan yang secara
bersama-sama akan membentuk self.
7) Keselarasan dengan alam
Hubungan antara manusia dengan alam atau hubungan manusia dengan
sesamanya, bukan merupakan hubungan antara penakluk dan yang
ditaklukkan, atau antara tuhan dengan hamba, tetapi hubungan kebersamaan
dalam ketundukan kepada Allah SWT. Manusia diperintahkan untuk
memerankan fungsi kekhalifahannya yaitu kepedulian, pelestarian dan
pemeliharaan. Berbuat adil dan tidak bertindak sewenang -wenang kepada
semua makhluk sehingga hubungan yang selaras antara manusia dan alam
mampu memberikan dampak positif bagi keduanya. Oleh karena itu manusia
diperintahkan untuk mempelajari dan mengembangkan pengetahuan alam
guna menjaga keseimbangan alam dan meningkatkan keimanan kepada
Allah SWT. Itu merupakan salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah SWT
B. Makna Filsafat, Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan, Filsafat Ilmu dan
Filsafat Pendidikan
1. Pengertian Filsafat
Perkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata
Yunani philosophia yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar
katanya ialah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut
pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta
kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyata luas
sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi
pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual,
pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan
dalam memutuskan soal-soal praktis (The Liang Gie, 1999).
Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang
telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam
Soeparmo, 1984), secara harafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan.
Maksud sebenarnya adalah pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang
paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala
aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan.
Menurut Surajiyo (2010:1) secara etimologi kata filsafat, yangg dalam
bhs Arab dikenal dengan istilah falsafah dan dalam Bahasa Inggris di kenal
dengan istilah philoshophy adalah dari Bahasa Yunani philoshophia terdiri
atas kata philein yang berarti cinta (love) dan shopia yang berarti
kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi istilah filsafat berarti cinta
kebijaksanaan (love of wisdom) dalam arti yang sedalam-dalamnya. Dengan
demikian, seorang filsuf adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan.
Secara terminologi, menurut Surajiyo (2010: 4) filsafat adalah ilmu
pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam
dengan menggunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat bukan
mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, tetapi yang dicari adalah
hakikat dari sesuatu fenomena. Hakikat adalah suatu prinsip yang
menyatakan sesuatu adalah sesuatu itu adanya. Filsafat mengkaji sesuatu

yang ada dan yang mungkin ada secara mendalam dan menyeluruh. Jadi
filsafat merupakan induk segala ilmu.
Susanto (2011: 6) menyatakan bahwa menurut Istilah, filsafat adalah
ilmu pengetahuan yang berupaya mengkaji tentang masalah-masalah yang
muncul dan berkenaan dengan segala sesuatu, baik yang sifatnya materi
maupun immateri secara sungguh-sungguh guna menemukan hakikat
sesuatu yang sebenarnya, mencari prinsip-prinsip kebenaran, serta berpikir
secara rasional-logis, mendalam dan bebas, sehingga dapat dimanfaatkan
untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan
manusia.
Kalau menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang
pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592497 S.M.), yakni seorang ahli matematika yang kini lebih terkenal dengan
dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras
menganggap dirinya philosophos (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang
sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang
yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah
Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran
filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran
filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta
untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The
Liang Gie, 1999).
Menurut sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap
yang ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta
kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju
dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah
kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk
mendapatkan kebenaran (Soeparmo, 1984).
Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran.
Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejalagejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia
makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh filsafat secara
memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento Wibisono dkk. (1997),
dengan melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Dengan
demikian, tidak semua persoalan itu harus persoalan filsafat.
2. Pengetian Pengetahuan
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau
disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada
deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara
Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna. Dalam pengertian lain,
pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia
melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang
menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu
yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika
seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan
pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan
pemahaman dan potensi untuk menindaki; yang lantas melekat di benak
seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif
terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala
informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau
bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan
untuk mengarahkan tindakan. Ini lah yang disebut potensi untuk menindaki.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Pengetahuan)

Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun,


baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan
adalah informasi yang berupa common sense, tanpa memiliki metode, dan
mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang
menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan
pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan
tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji
lebih dahulu. Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan
berdasarkan pengalaman belaka (Supriyanto, 2003).
Dilihat dari asal katanya, pengetahuan berasal dari kata tahu.
Pengetahuan menandakan bahwa seseorang telah mengerti mengenai
sesuatu. Misalnya ibu A telah membaca sebuah artikel mengenai jerawat
kemudian tahu bahwa jeruk nipis adalah salah satu obat jerawat yang alami.
Pengetahuan ibu A tersebut tidak bisa disebut sebagai ilmu. Untuk
mendapatkan ilmu seseorang harus belajar lebih detail misalnya dengan
mengetahui tipe-tipe kulit, penyebab jerawat, penanganan kulit berjerawat
berdasarkan jenisnya. Jenis-jenis jerawat, proses penyembuhan jerawat, zatzat yang dibutuhkan untuk menumpas factor penyebab jerawat, dan
sebagainya. Tentunya yang dapat memahami detail jerawat tersebut adalah
dokter kulit.

3. Pengetian Dan Hakekat Ilmu Pengetahuan


Menurut Burhanudin Salam (2005:10) Ilmu dapat merupakan suatu
metode berpikir secara obyektif dalam menggambarkan dan memberi makna
terhadap dunia fuktual dan berprinsip untuk mengorganisasikan dan
mensistematisasikan common sense. Sehingga definisi ilmu pengetahuan
adalah kumpulan pengetahuan yang benar-benar disusun dengan sistematis
dan metodologis untuk mencapai tujuan yang berlaku universal dan dapat
diuji atau diverifikasi kebenarannya. Secara filosofis, semua kajian yang
menelaah secara kritis dan analitis tentang dasar-dasar teoritis pengetahuan
secara menyeluruh adalah epistemology atau teori pengetahuan (theory of
knowledge; Erkentnistheorie). Istilah ini berasal dari bahasa yunani yaitu
episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Secara
harfiah episteme berarti pengetahuan sebagai upaya untuk menempatkan
sesuatu tepat pada kedudukannya.
The Liang Gie (1987) (dalam Surajiyo, 2010) memberikan pengertian
ilmu adalah rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu
metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai
dunia ini dalam berbagai seginya, dan keseluruhan pengetahuan sistematis
yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.
Secara filosofis, semua kajian yang menelaah secara kritis dan analitis
tentang dasar-dasar teoritis pengetahuan secara menyeluruh adalah
epistemology atau teori pengetahuan (theory of knowledge; Erkentnistheorie).
Istilah ini berasal dari bahasa yunani yaitu episteme yang berarti
pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Secara harfiah episteme berarti
pengetahuan sebagai upaya untuk menempatkan sesuatu tepat pada
kedudukannya.
Sebagai cabang ilmu filsafat, epistemologi pada hakikatnya merupakan
suatu kajian Filosofis yang bermaksud mengkaji masalah umum secara
menyeluruh dan mendasar untuk menemukan ciri-ciri umum dan hakiki dari
pengetahuan manusia. Membahas Bagaimana pengetahuan itu pada
dasarnya diperoleh dan dapat diuji kebenarannya?, manakah ruang lingkup
dan batasan-batasan kemampuan manusia untuk mengetahui?, serta

membahas pengandaian-pengandaian dan syarat-syarat logis yang


mendasari adanya pengetahuan dan memberi pertanggung jawaban secara
rasional terhadap klaim kebenaran dan objektivitasnya. Sehingga
epistemologi merupakan disiplin ilmu yang bersifat :
d) Evaluative, yaitu menilai apakah teori yang digunakan dapat dipertanggung
jawabkan secara nalar atau tidak.
e) Normative, yaitu menentukan tolok ukur kebenaran atau norma dalam
bernalar.
f) Kritis, yaitu menguji penalaran cara dan hasil dari pelbagai akal (kognitif)
manusia untuk dapat ditarik kesimpulan.
Adapun cara kerja metode pendekatan epistemologi adalah dengan
cara bagaimana objek kajian itu didekati atau dipelajari. Cirinya adalah
dengan adanya berbagai macam pertanyaan yang diajukan secara umum
dan mendasar dan upaya menjawab pertanyaan yang diberikan dengan
mengusik pandangan dan pendapat umum yang sudah mapan. Dengan
tujuan agar manusia bisa lebih bertanggung jawab terhadap jawaban dan
pandangan atau pendapatnya dan tidak menerima begitu saja pandangan
dan pendapat secara umum yang diberikan.
Berdasarkan cara kerja atau metode yang digunakan, maka
epistemologi dibagi menjadi beberapa macam. Berdasarkan titik tolak
pendekatannya secara umum, epistemologi dibagi menjadi 3, yaitu:
4) Epistemologi metafisis
Epistemologi metafisis adalah pemikiran atau pengandaian yang berasal dari
paham tertentu dari suatu kenyataan lalu berusaha bagaimana cara
mengetahui kenyataan itu. Kelemahan dari pendekatan ini adalah hanya
menyibukkan diri dalam mendapatkan uraian dari masalah yang dihadapi
tanpa adanya pertanyaan dan tindakan untuk menguji kebenarannya.
5) Epistemologi skeptis
Epistemologi skeptis lebih menekankan pada pembuktian terlebih dahulu dari
apa yang kita ketahui sampai tidak adanya keraguan lagi sebelum
menerimanya sebagai pengetahuan. Kelemahan dari pendekatan ini adalah
sulitnya mencari jalan keluar atau keputusan.
6) Epistemologi kritis
Pada Epistemologi ini tidak memperioritaskan Epistemologi manapun, hanya
saja mencoba menanggapi permasalahan secara kritis dari asumsi, prosedur
dan pemikiran, baik pemikiran secara akal maupun pemikiran secara ilmiah,
dengan tujuan untuk menemukan alasan yang rasional untuk memutuskan
apakah permasalahan itu bisa diterima atau ditolak.
Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan atau sistem
yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan
manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut
berdasarkkan penjelasan yang ada dengan metode tertentu. Dalam hal ini,
ilmu mempunyai struktur dalam menjelaskan kajiannya. Struktur ilmu
menggambarkan bagaimana ilmu itu tersistematisir, terbangun atau
terkonstruksi dalam suatu lingkungan (boundaries), di mana keterkaitan
antara unsur-unsur nampak secara jelas. Struktur ilmu merupakan A scheme
that has been devided to illustrate relationship among facts, concepts, and
generalization, yang berarti struktur ilmu merupakan ilustrasi hubungan
antara fakta, konsep serta generalisasi. Dengan keterkaitan tersebut akan
membentuk suatu bangun kerangka ilmu tersebut. sementara itu, definisi
struktur ilmu adalah seperangkat pertanyaan kunci dan metode penelitian
yang akan membantu untuk memperoleh jawabannya, serta berbagai fakta,
konsep, generalisasi dan teori yang memiliki karakteristik yang khas yang

c.

d.

4)
5)

6)

akan mengantarkan kita untuk memahami ide-ide pokok dari suatu disiplin
ilmu yang bersangkutan. Dengan demikian nampak dari dua pendapat di atas
bahwa terdapat dua hal pokok dalam suatu struktur ilmu, yaitu:
A body of Knowledge (kerangka ilmu) yang terdiri dari fakta, konsep,
generalisasi, dan teori yang menjadi ciri khas bagi ilmu yang bersangkutan
sesuai dengan lingkungan (boundary) yang dimilikinya. Kerangka ilmu terdiri
dari unsur-unsur yang berhubungan, dari mulai yang konkrit (berupa fakta)
sampai ke level yang abstrak (berupa teori), semakin ke fakta maka semakin
spesifik, sementara semakin mengarah ke teori maka semakin abstrak
karena lebih bersifat umum.
A mode of inquiry, yaitu cara pengkajian atau penelitian yang mengandung
pertanyaan dan metode penelitian guna memperoleh jawaban atas
permasalahan yang berkaitan dengan ilmu tersebut.
Terkadang, pengetahuan dan ilmu disama artikan, bahkan terkadang
dijadikan kalimat majemuk yang mempunyai arti tersendiri. Padahal, jika
kedua kata tersebut dipisahkan, akan mempunyai arti sendiri dan akan
tampak perbedaannya.
Ilmu adalah pengetahuan. Jika dilihat dari asal katanya, pengetahuan
di ambil dari bahasa inggris yaitu knowledge, sedangakan ilmu dari kata
science dan peralihan dari kata arab ilm atau alima (ia telah mengetahui)
sehingga kata jadian ilmu berarti juga pengetahuan. Dari pengertian ini dapat
diambil kesimpulan bahwa ditinjau dari segi bahasa, antara pengetahuan dan
ilmu mempunyai sinonim arti, namun jika dilihat dari segi arti materialnya
(kata pembentuknya) maka keduanya mempunyai perbedaan.
Dalam encyclopedia Americana, di jelaskan bahwa ilmu (science)
adalah pengetahuan yang besifat positif dan sistematis. The Liang Gie
mengutip Paul Freedman dari buku The Principles Of Scientific Research
dalam Amsal Bakhtiar.(2008:91) memberi batasan definisi ilmu, yaitu suatu
bentuk proses usaha manusia untuk memperoleh suatu pengetahuan baik
dimasa lampau, sekarang, dan kemudian hari secara lebih cermat serta
suatu kemampuan manusia untuk menyesuaikan dirinya dan mengubah
lingkungannya serta merubah sifat-sifatnya sendiri, sedangkan menurut
Carles Siregar masih dlam dalam Amsal Bakhtiar.(2008:91) menyatakan
bahwa ilmu adalah proses yang membuat pengetahuan.
Ilmu dapat memungkinkan adanya kemajuan dalam pengetahuan sebab
beberapa sifat atau ciri khas yang dimiliki oleh ilmu. Burhanudin Salam
(2005:23-24)mengemukakan beberapa ciri umum dari pada ilmu,
diantaranya:
Bersifat akumulatif, artinya ilmu adalah milik bersama. Hasil dari pada ilmu
yang telah lalu dapat digunakan untuk penyelidikan atau dasar teori bagi
penemuan ilmu yang baru.
Kebenarannya bersifat tidak mutlak, artinya masih ada kemungkinan
terjadinya kekeliruan dan memungkinkan adanya perbaikan. Namun perlu
diketahui, seandainya terjadi kekeliruan atau kesalahan, maka itu bukanlah
kesalahan pada metodenya, melainkan dari segi manusianya dalam
menggunakan metode itu.
Bersifat obyektif, artinya hasil dari ilmu tidak boleh tercampur pemahaman
secara pribadi, tidak dipengaruhi oleh penemunya, melainkan harus sesuai
dengan fakta keadaan asli benda tersebut

4. Pengertian Filsafat Ilmu


Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam
berbagai buku maupun karangan ilmiah lainnya. Menurut The Liang Gie
(1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalanpersoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun

hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu
merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan
pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh
antara filsafat dan ilmu.
Sehubungan dengan pendapat tersebut serta sebagaimana pula yang
telah digambarkan pada bagian pendahuluan dari tulisan ini bahwa filsafat
ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari
filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu
berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan
pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk
mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie
J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang
selalu berubah.
Filsafat ilmu menurut Surajiyo (2010 : 45), merupakan cabang filsafat
yang membahas tentang ilmu. Tujuan filsafat ilmu adalah mengadakan
analisis mengenai ilmu pengetahuan dan cara bagaimana ilmu pengetahuan
itu diperoleh. Jadi filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri
pengetahuan ilmiah dan cara memperolehnya. Pokok perhatian filsafat ilmu
adalah proses penyelidikan ilmiah itu sendiri.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya
pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik.
Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja
kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan
manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).
Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar
tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke
bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian
setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk
masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat
dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk
memahami hakekat dari sesuatu ada yang dijadikan objek sasarannya,
sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang
filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami
apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Lebih lanjut Koento Wibisono (1984), mengemukakan bahwa hakekat
ilmu menyangkut masalah keyakinan ontologik, yaitu suatu keyakinan yang
harus dipilih oleh sang ilmuwan dalam menjawab pertanyaan tentang apakah
ada (being, sein, het zijn) itu. Inilah awal-mula sehingga seseorang akan
memilih pandangan yang idealistis-spiritualistis, materialistis, agnostisistis
dan lain sebagainya, yang implikasinya akan sangat menentukan dalam
pemilihan epistemologi, yaitu cara-cara, paradigma yang akan diambil dalam
upaya menuju sasaran yang hendak dijangkaunya, serta pemilihan aksiologi
yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam
seseorang mengembangkan ilmu.
Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut Poespoprodjo (dalam
Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa perspektif-perspektif ilmu,
kemungkinan-kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar ilmu,
simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain sebagainya, yang vital bagi
penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, dikatakan bahwa dengan filsafat
ilmu, kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasan
metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah
dalam konteks dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang
ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya.
Adapun tujuan mempelajari filsafat ilmu menurut Amsal Bakhtiar
(2008:20) adalah:

e) Mendalami unsur-unsur pokok ilmu sehingga secara menyeluruh kita dapat


memahami sumber, hakekat dan tujuan ilmu.
f) Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmudi
berbagai bidang sehingga kita dapat gambaran tentang proses ilmu
kontemporermsecara historis.
g) Menjadi pedoman untuk membedakan studi ilmiah dan non ilmiah.
h) Mempertegas bahwa persoalan antara ilmu dan agama tidak ada
pertentangan.
Bagi mahasiswa dan peneliti, tujuan mempelajari filsafat ilmu adalah
4) seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat memahami persoalan ilmiah dengan
melihat ciri dan cara kerja setiap ilmu atau penelitian ilmiah dengan cermat
dan kritis.
5) seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat melakukan pencarian kebenaran
ilmiah dengan tepat dan benar dalam persoalan yang berkaitan dengan
ilmunya (ilmu budaya, ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu keperawatan, ilmu
hukum, ilmu sosial, ilmu ekonomi dan sebagainya) tetapi juga persoalan yang
menyangkut seluruh kehidupan manusia, seperti: lingkungan hidup, peristiwa
sejarah, kehidupan sosial politik dan sebagainya.
6) Seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat memahami bahwa terdapat dampak
kegiatan ilmiah (penelitian) yang berupa teknologi ilmu (misalnya alat yang
digunakan oleh bidang medis, teknik, komputer) dengan masyarakat yaitu
berupa tanggung jawab dan implikasi etis. Contoh dampak tersebut misalnya
masalaheuthanasia dalam dunia kedokteran masih sangat dilematis dan
problematik, penjebolan terhadap sistem sekuriti komputer, pemalsuan
terhadap hak atas kekayaaan intelektual (HAKI) , plagiarisme dalam karya
ilmiah.
5. Filsafat Pendidikan
Menurut Muhmidayeli. (2011: 35) Filsafat pendidikan adalah upaya
menerapkan kaidah-kaidah berpikir filsafat dalam ragam pencarian solusi
berbagai ragam problem kependidikan yang akan melahirkan pemikiran utuh
tentang pendidikan yang tentunya merupakan langkah penting dalam
menemukan teori-teori tentang pendidikan. Menurut John Dewey dalam
Jalaluddin dan Idi (2007: 19 21) filsafat pendidikan merupakan suatu
pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut
daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju tabiat
manusia.
Sedangkan Menurut Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany dalam
Muhmidayeli. (2011: 35), filsafat pendidikan adalah pelaksanaan pandangan
filsafat dan kaidah-kaidah filsafat dalam bidang pengalaman kemanusiaan
yaang disebut dengan pendidikan.
Filsafat pendidikan bersandarkan pada filsafat formal atau filsafat
umum. Dalam arti bahwa masalah-masalah pendidikan merupakan karakter
filsafat. Masalah-masalah pendidikan akan berkaitan dengan masalahmasalah filsafat umum, seperti:
e) Hakikat kehidupan yang baik, karena pendidikan akan berusaha untuk
mencapainya;
f) Hakikat manusia, karena manusia merupakan makhluk yang menerima
pendidikan;
g) Hakikat masyarakat, karena pendidikan pada dasarnya merupakan suatu
proses sosial;
h) Hakikat realitas akhir, karena semua pengetahuan akan berusaha untuk
mencapainya.

e)
f)
g)
h)

Selanjutnya al-Syaibany (1979) mengemukakan bahwa terdapat


beberapa tugas yang diharapkan dilakukan oleh seorang filsuf pendidikan, di
antaranya:
Merancang dengan bijak dan arif untuk menjadikan proses dan usaha-usaha
pendidikan pada suatu bangsa;
Menyiapkan generasi muda dan warga negara umumnya agar beriman
kepada Tuhan dengan segala aspeknya;
Menunjukkan peranannya dalam mengubah masyarakat, dan mengubah
cara-cara hidup mereka ke arah yang lebih baik;
Mendidik akhlak, perasaan seni, dan keindahan pada masyarakat dan
menumbuhkan pada diri mereka sikap menghormati kebenaran, dan caracara mencapai kebenaran tersebut.
Filsuf pendidikan harus memiliki pikiran yang benar, jelas, dan
menyeluruh tentang wujud dan segala aspek yang berkaitan dengan
ketuhanan, kemansiaan, pengetahuan kealaman, dan pengetahuan sosial.
Filsuf pendidikan harus pula mampu memahami nilai-nilai kemanusiaan yang
terpancar pada nilai-nilai kebaikan, keindahan, dan kebenaran.
Gandhi HW (2011: 84) setelah mengkaji makna filsafat pendidikan dari
berbagai ahli Ia menyatakan bahwa: Filsafat pendidikan tidak lain adalah
penerapan upaya metodis filsafat untk mempersoalkan konsepsi-konsepsi
yang melandasi upaya-upaya manusia di dalam membangun hidup daan
kehidupannya untuk menjadi semakin baik dan berkualitas. Sedangkan
upaya-upaya filsafat dalam mempersoalkan adalah guna mengarahkan
penyelenggaraan pendidikan pada kondisi-kondisi etika yang diidealkan.
Dalam makna lain, filsafat pendidikan adalah flsifikasi pendidikan, baik dlm
makna teoritis konseptual maupun makna praktis-pragmatis yang
menggejala.

SIMPULAN
Filsafat ilmu merupakan cabang filsafat yang membahas tentang ilmu.
Tujuan filsafat ilmu adalah mengadakan analisis mengenai ilmu pengetahuan
dan cara bagaimana ilmu pengetahuan itu diperoleh. Jadi filsafat ilmu adalah
penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara memperolehnya.
Pokok perhatian filsafat ilmu adalah proses penyelidikan ilmiah itu sendiri.
Tujuan mempelajari filsafat ilmu pada dasarnya adalah untuk
memahami persoalan ilmiah dengan melihat ciri dan cara kerja setiap ilmu
atau penelitian ilmiah dengan cermat dan kritis.
Hubungan filsafat dengan ilmu pengetahuan lain adalah bahwa Filsafat
mempunyai objek yang lebih luas, sifatnya universal, sedangkan ilmu-ilmu
pengetahuan objeknya terbatas, khusus lapangannya saja. Selain itu Filsafat
hendak memberikan pengetahuan, insight/pemahaman lebih dalam dengan
menunjukan sebab-sebab yang terakhir, sedangkan ilmu pengetahuan juga
menunjukkan sebab-sebab tetapi yang tak begitu mendalam.
Keberadaan manusia di dunia sesuunguhnya sebagai mahluk yang
diciptakan Allah SWT yang diberi kemampuan untuk berpikir (akal),
sedangkan tujuan akhir hidup manusia menurut Islam adalah mendapatkan
kebahagiaan hakiki. Sebagai mahluk yang berpikir (memiliki akal) itulah yang
menyebabkan manusia berfilsafat.
Filsafat dapat dimaknai sebagai ilmu pengetahuan yang berupaya
mengkaji tentang masalah-masalah yang muncul dan berkenaan dengan
segala sesuatu, baik yang sifatnya materi maupun immateri secara sungguhsungguh guna menemukan hakikat sesuatu yang sebenarnya, mencari
prinsip-prinsip kebenaran, serta berpikir secara rasional-logis, mendalam dan
bebas, sehingga dapat dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan

1.
2.
3.

4.
a)

b)

5.
6.
7.

8.
9.

masalah-masalah dalam kehidupan manusia. Sedangkan ilmu dapat


dimaknai sebagai suatu metode berpikir secara obyektif dalam
menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia fuktual dan berprinsip
untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense.
Sedangkan Filsafat pendidikan dapat dimaknai sebagi upaya
menerapkan kaidah-kaidah berpikir filsafat dalam ragam pencarian solusi
berbagai ragam problem kependidikan yang akan melahirkan pemikiran utuh
tentang pendidikan yang tentunya merupakan langkah penting dalam
menemukan teori-teori tentang pendidikan.
Antara filsafat ilmu, dengan pendidkan dan dengan filsafat pendidikan
memimiliki hubungan yang saling melengkapi. Filsafat ilmu dapat membantu
perkembangan pendidikan dan filsafat pendidikan. Di lain pihak,
perkembangan pendidikan dan filsafat pendidikan dan membantu
perkembangan Filsafat Ilmu.
Manusia dalam pandangan Antropologi terbentuk dari satu sel sederhana
yang mengalami perubahan secara bertahap dengan waktu yang sangat
lama (evolusi).
Konsep manusia dalam Sosiologi adalah mahluk sosial, yakni mahluk yang
tidak dapat hidup tanpa bantu orang lain.
Konsep Manusia menurut ilmu pendidikan adalah individu yang memiliki
kemampuan dalam dirinya (bakat/potensi), tetapi potensi itu hanya dapat
berkembang jika ada pengarahan pembinaan serta bimbingan dari luar
(lingkungan).
Manusia menurut pandangan filsafat ilmu, dapat dilihat dari teori descendensi
dan Metafisika
Menurut teori descendensi: 1) manusia sejajar dengan hewan berdasarkan
sebab mekanis; 2) Keistimewaan ruhaniyah manusia dibandingkan dengan
hewan terlihat dalam kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang
berpikir, berpolitik, mempunyai kebebasan/kemerdekaan, memiliki sadar diri,
mempunyai norma, tukang bertanya atau tegasnya manusia adalah makhluk
berbudaya.
Menurut Metafisika. Asal manusia dari suatu yang ada dan tak bergantung
dari yang lain. Hakikat manusia ialah dari ruh yang ditiupkan oleh Tuhan.
Artinya manusia tersusun dari zat yang ada dengan diberikannya ruh oleh
Tuhan sehingga menyebabkan manusia dapat hidup. Manusia mempunyai
fisik yaitu jasadnya. Selain jasad manusia juga mempunyai ruh atau yang
tidak dapat ditangkap oleh panca indera yakni berhubungan dengan jiwa
mencakup ingatan, gagasan, imajinasi, kemauan, perasaan dan
penghayatan.
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada
secara mendalam dengan menggunakan akal sampai pada hakikatnya.
(Surajiyo,2010:4)
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari
oleh seseorang
Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan atau sistem yang
bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia
melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut
berdasarkkan penjelasan yang ada dengan metode tertentu.
Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan
mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan
ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia (The Liang Gie,1999)
Filsafat pendidikan adalah upaya menerapkan kaidah-kaidah berpikir filsafat
dalam ragam pencarian solusi berbagai ragam problem kependidikan yang
akan melahirkan pemikiran utuh tentang pendidikan yang tentunya

merupakan langkah penting dalam menemukan teori-teori tentang pendidikan


(Muhmidayeli., 2011)
DAFTAR PUSTAKA
Amsal Bakhtiar. 2008. Filsafat Ilmu (edisi revisi). Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Frondizi, Resieri. 2001. Pengantar Filsafat Nilai (Terjemahan oleh: Cuk Ananto
Wijaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gandhi, Teguh Wangsa. 2011. Filsafat Pendidikan: Madzab-Madzab Filsafat
Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Jalaluddin & Idi, Abdullah. 2007. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan
Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Group.
Knight, George R. 2007. Filsafat Pendidikan (Terjemahan oleh: Mahmud Arif).
Yogyakarta: Gama Media.
Muhmidayeli. 2011. Filsafat Pendidikan. Bandung: Refika Aditama.
Muslih, Muhammad. 2005. Filsafat Umum: Dalam Pemahaman Praktis.
Yogyakarta: Belukar.
Salam, Burhanuddin . 2005. Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Guru
dapat dihormati oleh masyarakat karena kewibawaannya, sehingga masayarakat tidak
meragukan figur guru. Masyarakat percaya bahwa dengan adanya guru, maka dapat
mendidik dan membentuk kepribadian anak didik mereka dengan baik agar
mempunyai

intelektualitas

yang

tinggi

serta

jiwa

kepemimpinan

yang

bertanggungjawab. Jadi dalam pengertian yang sederhana, guru dapat diartikan


sebagai orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Sedangkan
guru dalam pandangan masyarakat itu sendiri adalah orang yang melaksanakan
pendidikan ditempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan yang formal
saja tetapi juga dapat dilaksanakan dilembaga pendidikan non-formal seperti di
masjid, di surau / mushola, di rumah dan sebagainya.
Seorang guru mempunyai kepribadian yang khas. Di satu pihak guru harus
ramah, sabar, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan dan menciptakan
suasana aman. Akan tetapi di lain pihak, guru harus memberikan tugas,mendorong
siswa untuk mencapai tujuan, menegur, menilai, dan mengadakan koreksi. Dengan
demikian, kepribadian seorang guru seolah-olah terbagi menjadi 2 bagian. Di satu
pihak bersifat empati, di pihak lain bersifat kritis. Di satu pihak menerima, di lain
pihak menolak. Maka seorang guru yang tidak bisa memerankan pribadinya sebagai
guru, ia akan berpihak kepada salah satu pribadi saja. Dan berdasarkan hal-hal
tersebut, seorang guru harus bisa memilah serta memilih kapan saatnya berempati
kepada siswa, kapan saatnya kritis, kapan saatnya menerima dan kapan saatnya
menolak. Dengan perkatan lain, seorang guru harus mampu berperan ganda. Peran
ganda ini dapat di wujudkan secara berlainan sesuai dengan situasi dan kondisi yang
di hadapi.
Tugas guru sebagai suatu profesi, menuntut kepada guru untuk
mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Mendidik, mengajar, dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai
suatu profesi. Tugas guru sebagai pendidik, meneruskan dan mengembangkan nilainilai hidup kepada anak didik. Tugas guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Tugas guru
sebagai pelatih berarti mengembangkan ketrampilan dan menerapakannya dalam
kehidupan demi masa depan anak didik. Guru juga mempunyai kemampuan, keahlian
atau sering disebut dengan kompetinsi profesional. Kompetensi profesional yang
dimaksud tersebut adalah kemampuan guru untuk menguasai masalah akademik yang

sangat berkaitan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar, sehingga kompetensi


ini mutlak dimiliki guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar.
B.

Rumusan masalah
a. Bagaimana cara meningkatkan profesionalitas guru serta apa yang harus dilakukan
oleh seorang guru agar mempunyai kepribadian yang baik di mata anak didik dan
masyarakat ?
b. Bagaimana cara meningkatkan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan anak
didik ?
c. Apa yang harus dilakukan guru dalam proses pengajaran agar proses belajar
mengajar menjadi efektif ?
C. Tujuan
a. Untuk meningkatkan profesionalitas guru dan membentuk kepribadian seorang guru
yang baik.
b. Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan anak didik.
c. Agar guru dapat melaksanakan proses pengajaran dengan lancar dan efektif.

BAB II
GURU DAN TUGAS-TUGASNYA
A. Definisi Guru dan tugas-tugasnya
Dalam dunia pendidikan, istilah guru bukanlah hal yang asing. Guru adalah
seorang yang memiliki seperangkat koleksi nilai dan kemampuan yang lebih, dimana
dengan koleksi itu dia dapat merubah tantangan menjadi peluang. Dan guru juga
merupakan pendidik atau agen pembelajaran (learning agent) dengan memiliki peran
sebagai fasilitator, motifator, pemacu, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta
didik. Menurut pandangan lama , guru adalah sosok manusia yang apatut digugu dan
ditiru . Digugu dalam arti segala ucapannya dapat dipercayai . Ditiru berarti segala
tingkah lakunya harus dapat menjadi contoh atau teladan bagi masyarakat . Menurut
kamus umum bahasa indonesia, guru di artikan sebagai orang yang pekerjaannya
mengajar dan di maknai sebagai tugas profesi.
Definisi guru menurut pandangan para ahli, yaitu Guru jabatan, dan pekerjaan
yang memerlukan keahlian khusus. Dan pekerjaan seorang guru tidak bisa di lakukan
oleh sembarang orang di luar bidang kependidikan, meskipun kenyataannya masih di
dapati guru yang berasal dari luar bidang kependidikan (menurut pandangan Moh.
Uzer Usman, 1992:4). Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam suatu
proses belajar mengajar, yang berperan serta dalam usaha untuk membentuk sumber

daya manusia yang potensial di bidang pembangunan (Sardiman, 2001:123). Guru


adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan
murid-murid, baik secara individual maupun secara klasikal, baik di sekolah maupun
di luar sekolah (Djamarah, 1994:33). Jadi, pengertian guru secara khusus dapat di
artikan sebagai seorang pengajar di sekolah negeri ataupun swasta yang mempunyai
kemampuan berdasarkan latar belakang pendidikan formal minimal bersetatus
sarjana, dan telah mempunyai ketetapan hukum yang sah sebagai guru berdasarkan
undang-undang guru yang berlaku di Indonesia. Sedangkan arti guru secara umum
adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Tugas guru merupakan suatu proses mendidik, mengajar, dan melatih peserta
didik. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup (afektif).
Mengajar berarti menruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi
(kognitif). Melatih berarti mengembangkan keterampilan para siswa (psikomotorik).
Ketiga tugas guru tersebut harus terintegrasi menjadi satu kesatuan dan tidak terpisahpisah dalam melaksanakan tugas mengajar, seorang guru tidak bisa mengabaikan
nilai-nilai kehidupan dan keterampilan. Guru mengajarkan ilmu pengetahuan dan
teknologi, tetapi tidak menyampingkan nilai-nilai penggunaan ilmu dan teknologi
tersebut. Demikian juga dalam melatih para siswa, seorang guru tidak bisa

1.

mengabaikan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik.


Seorang guru di tuntut mempunyai beberapa kemampuan sebagai berikut:
Berwawasan luas, menguasai bidang ilmu, dan mampu mentransfer atau

2.

menerangkan kembali kepada siswa.


Mempunyai sikap dan tingkah laku atau kepribadian yang patut di teladani sesuai

3.

a.

dengan nilai-nilai kehidupan atau values yang di anut masyarakat dan bangsa.
Memilki keterampilan sesuai bidang ilmu yang di milikinya.
Disamping memiliki tugas utama sebagai pendidik, pengajar, pembimbing dan
pelatih, maka tugas utama guru menurut Depdikbud (1984:7)
Tugas profesional yaitu mendidik dalam rangka menyumbangkan kepribadian,
mengajar dalam rangka menyeimbangkan kemampuan berpikir, kecerdasan, dan
melatih dalam rangka membina ketrampilan. Untuk dapat melaksanakan tugas
mengajar dengan baik guru harus memiliki kemampuan profesional yaitu

terpenuhinya 10 kompetensi guru yang meliputi


Menguasai bahan ajar
Mengelola program belajar mengajar
Mengelola kelas
Menggunakan media atau sumber belajar
Menguasai landasan pendidikan
Mengelola interaksi belajar mengajar
Menilai prestasi belajar mengajar
Mengenal fungsi bimbingan dan penyuluhan

b.

Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah


Memahami dan menafsirkan hasil penelitian guna keperluan pengajaran.
Tugas manusiawi, yaitu membina anak didik dalam rangka meningkatkan dan
mengembangkan martabat diri sendiri, kemampuan manusia yang optimal, serta

c.

pribadi yang mandiri.


Tugas kemasyarakatan, yaitu dalam rangka mengembangkan terbentuknya
masyarakat indonesia yang berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar 1945.

B. KEMAMPUAN PROFESIONAL
Kemampuan, keahlian atau sering disebut dengan kompetensi profesional guru
sebagaimana dikemukakan oleh Piet

A. Sahartian dan Ida Alaida adalah

kompetensi profesional guru yaitu kemampuan penguasaan akademik atau mata


pelajaran yang diajarkan dan terpadu dengan kemampuan mengajarnya sekaligus
sehingga guru itu memiliki wibawa akademis.
Pada dasarnya, terdapat seperangkat tugas yang harus dilaksanakan oleh guru
berhubungan dengan profesinya sebagai pengajar, tugas guru ini sangat berkaitan
dengan kompetensi profesionalnya. Pada hakikatnya guru merupakan profesi, yang
mana profesi itu sendiri merupakan pekerjaan yang didasarkan pada pendidikan
intelektual khusus, yang bertujuan memberi pelayanan dengan terampil kepada orang
lain dengan mendapat imbalan tertentu . Sedangkan profesional sering diartikan
sebagai suatu keterampilan teknis yang berkualitas tinggi yang dimiliki oleh
seseorang. (Iskandar,2009)
Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme , yaitu guru yang
profesional adalah guru yang berkemampuan (kompeten). Oleh karena itu,
kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan wewenang
guru dalam menjalankan profesi keguruannya dengan kemampuan yang tinggi.
Sebagai keharusan dalam mewujudkan sekolah berbasis pengetahuan yaitu
pemahaman tentang pembelajaran, kurikulum, dan perkembangan manusia termasuk
gaya belajar membutuhkan seorang guru yang profesional.
Berdasarkan Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, Bab
IV kualifikasi dan kompetensi, pasal 6 menyebutkan bahwa guru dan dosen wajib
memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran yang sehat
jasmani dan rohani, memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional, serta memiliki sertifikat profesi. Persyaratan keikutsertaan untuk
memperoleh sertifikasi profesi, dijelaskan lebih jauh dalam pasal 7 ayat (1) yang
berbunyi kualifikasi akademik guru diperoleh melalui pendidikan tinggi program
sarjana (S1) atau program diploma empat (D4)
Berikut ini Beberapa alasan mendasar guru harus profesional menurut Iskandar
2009:

1. Guru bertanggung jawab menyiapkan sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas,


beriman, bertakwa, dan berilmu pengetahuan serta memahami teknologi
2. Karena guru bertanggung jawab bagi kelngsungan hidup suatu bangsa.Menyiapkan
seorang pelajar untuk menjadi seorang pemimpin masa depan. Student today leader
tomotrrow
3. Karena guru bertanggung jawab atas keberlangsungan budaya dan peradaban suatu
generasi. Change of attitude and behavior
Kompetensi Guru juga merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan
perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh Guru dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, dinyatakan bahwa kompetensi yang harus
dimiliki oleh Guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan
profesi. Berikut akan dijelaskan tentang ke- Empat kompetensi diatas :
1.

Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman
peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Secara
substantif kompetensi ini mencakup kemampuan pemahaman terhadap peserta didik,
perancangan

dan

pelaksanaan

pembelajaran,

evaluasi

hasil

belajar,

dan

pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang


dimilikinya.
Secara rinci masing-masing elemen kompetensi pedagogik tersebut dapat dijabarkan
menjadi subkompetensi dan indikator esensial sebagai berikut:
a. Memahami peserta didik. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial:
memamahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan
kognitif, memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian;
dan mengidenti- fikasi bekal-ajar awal peserta didik.
b. Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidik-an untuk
kepentingan

pembelajaran.

Subkompetensi

ini

memiliki

indikator

esensial:

menerapkan teori belajar dan pembelajaran; menentukan strategi pembelajaran


berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi
ajar; serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
c. Melaksanakan pembelajaran. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial:
menata latar (setting) pembelajaran; dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
d. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran. Subkompe-tensi ini memiliki
indikator esensial: melaksanakan evaluasi (assess-ment) proses dan hasil belajar
secara berkesinambungan dengan berbagai metode; menganalisis hasil penilaian

proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level);
dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program
pembelajaran secara umum.
e. Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: memfasilitasi peserta
didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik; dan memfasilitasi peserta
didik untuk mengem-bangkan berbagai potensi nonakademik.
2.

Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan
kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi
peserta didik, dan berakhlak mulia. Secara rinci setiap elemen kepribadian tersebut
dapat dijabarkan menjadi sub kompetensi dan indikator esensial sebagai berikut:
a. Memiliki kepribadian yang mantap dan stabil. Subkompetensi ini memiliki
indikator esensial: bertindak sesuai dengan norma hukum; bertindak sesuai dengan
norma sosial; bangga sebagai pendidik; dan memeliki konsistensi dalam bertindak
sesuai dengan norma.
b. Memiliki kepribadian yang dewasa. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial:
menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja
sebagai pendidik.
c. Memiliki kepribadian yang arif. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial:
menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan
masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
d. Memiliki kepribadian yang berwibawa. Subkompetensi ini memiliki indikator
esensial: memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan
memiliki perilaku yang disegani.
e. Memiliki akhlak mulia dan dapat menjadi teladan. Subkompetensi ini memiliki
indikator esensial: bertindak sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka
menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.
3. Kompetensi Profesional
Kompetensi professional merupakan kemampuan yang berkenaan dengan
penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan mendalam yang
mencakup penguasaan substansi isi materi kurikulum matapelajaran di sekolah dan
substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut, serta menambah
wawasan keilmuan sebagai guru.
Secara rinci masing-masing elemen kompe-tensi tersebut memiliki subkompetensi
dan indikator esensial sebagai berikut:

a. Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi. Subkompetensi


ini memiliki indikator esensial: memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum
sekolah; memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar; memahami hubungan konsep antarmata pelajaran terkait; dan
menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.
b. Menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk me-nambah
wawasan dan memperdalam pengetahuan/materi bidang studi.
4. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial berkenaan dengan kemampuan pendidik sebagai bagian
dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik,
sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat
sekitar.
Kompetensi ini memiliki subkompetensi dengan indikator esensial sebagai
berikut :
a. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik.
Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: berkomunikasi secara efektif dengan
peserta didik.
b. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan
tenaga kependidikan. c. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan
orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.
C. Kematangan Kepribadian guru
Setiap guru mempunyai kepribadian masing-masing sesuai ciri-ciri pribadi
yang mereka miliki. Ciri-ciri inilah yang membedakan seorang guru dengan guru
lainnya. Kepribadian menurut Zakiah Daradjat (1980) dalam Sagala, Syaiful 2009
disebut sebagai sesuatu yang abstrak , sukar dilihat secara nyata , hanya dapat
diketahui lewat penampilan, tindakan, dan ucapan ketika menghadapi persoalan.
Kepribadian mencakup semua unsur baik fisik maupun psikis. Dalam tindakannya,
ucapan, cara bergaul, berpakaian, dan dlam menghadapi setiap persoalan atau
masalah, baik yang ringan maupun yang berat.oleh karena itu, masalah kepribadian
adalah suatu hal yang sangat menentukan tinggi rendahnya kewibawaan seorang guru
dalam pandangan anak didik atau masyarakat. Dengan kata lain, baik tidaknya
seseorang ditentukan oleh kepribadian. Lebih baik lagi seorang guru, masalah
kepribadian merupakan factor-faktor yang menentukan terhadap keberhasilan
melaksanakan tugas sebagai pendidik. Kepribadian dapat menentukan apakan guru
menjadi pendidik dan Pembina yang baik ataukan akan menjadi perusak atau
penghancur bagi hari depan anak didik, terutaman bagi anak didik yang masih kecil

(tingkat sekolah dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa
(tingkat remaja).
Jadi pengertian kepribadian adalah unsur yang menentukan keakraban
hubungan guru dengan anak didik.sebagai teladan, guru harus memeliki kepribadian
yang dapat dijadikan profil dan idola, seluruh kehidupannya adalah figure yang
berwibawa. Itulah kesan terhadap guru sebagai sosok yang ideal. Sedikit saja guru
berbuat yang tidak atau kurang baik, akan mengurangi kewibawaanya dan
karismapun secara berlahan lebur dari jati diri. Karena itu, kebribadian adalah
masalah yang sangat sensitife sekali. Penyatuan kata dan perbuatan dituntut dari guru,
bukan lain perkataan dengan perbuatan.
Kematangan kebribadian guru meliputi:
1. Mengenal fisik
Dalam pengembangan diri seseorang perlu mengenal fisik. Dengan
mengenal identitas diri, kelebihan, dan kekurangan maka ia akan mengetahuai arah
pengembangan dirinya.
2. Mengenal kebribadian
Disinilah letak perubahan seseorang karenadia berada dalam dirinya.
Seorang ahli biologii mengatakan bahwa kita bisa merubah seseorang jika kita tidak
mengetahui dasar kebribadiannya.
3. Mengenal bakat
Menurut Horwad Garner, seorang fisiologi sekaligus peneliti telah
menemukan sebuah teori tentang multiple intelgence (kecerdasan ganda) yang
mnyatakan, bahwa dalam diri manusia banyak terdapat potensi yang perlu
dikembangkannya.
Untuk menjadi guru yang memiliki kepribadian dengan melatih diri dalam

kegiatan yang dapat menciptakan kepribadian yang sempurna yaitu:


Percaya diri
Berpenampilan rapi
Selalu tersenyum
Berperilaku sopan
Mengucapan salam setiap masuk ruangan
Menjaga kebersihan
Dan adapun kriteria kepribadian yang lain diantaranya meliputi :
1. Perluasan perasaan diri maksudnya adalah, seorang guru perlu terlibat dalam
berbagai aktifitas. Aktifitas itu sangat besar nilainya dari pada suatu pendapatan yang
diperoleh semakin banyak terlibat dalam kegiatan maka ia akan semakin sehat secara
psikologis.
2. Hubungn diri yang hangat dengan orang lain, orang yang sehat secara psikologis
mampu memperlihatkan keintiman terhadap orang tua, anak, patner, teman akrab. Ia
akan merasakan perkembangan diri semakin baik.
3. Kematangan Emosional, sifat dari kepribadian yang sehat adalah: penerimaan diri,
menerima emosi manusia, mampu mengontrol emosi sendiri, sabar terhadap
kekecewaan.

4. Orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif, dapat menerima realitas
apa adanya
5. Keterampilan-keterampilan dan tugas-tugas, keberhasilan dalam pekerjaan
menunjukan perkembangan keterampilan dan bakat tertentu suatu tingkat
kemampuan.
6. Pemahaman Diri, dapat memahami kepribadian, watak, Mengenal bakat-bakat
alamiah yang dimiliki serta punya gambaran atau konsep yang jelas tentang diri
sendiri dengan segala kekuatan dan kelemahannya.
7. Filsafat hidup yang mempersatukan.
D. Kemampuan guru berkomunikasi dalam proses pengajaran
1.

Proses Komunikasi
Dalam proses komunikasi terdapat komponen-komponen dasar sebagai berikut:
pertama pengirim pesan (sender). Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide
untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan dapat dipahami oleh orang
yang menerima pesan sesuai dengan yang dimaksudkannya. Kedua Pesan, Pesan
adalah informasi yang akan disampaikan atau diekspresikan oleh pengirim pesan.
Pesan dapat verbal atau non verbal dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik
dan jelas. Materi pesan dapat berupa: informasi, ajakan, rencana kerja, pertanyaan
dan sebagainya. Ketiga Simbol atau isyarat, Pada tahap ini pengirim pesan membuat
kode atau simbol sehingga pesannya dapat dipahami oleh orang lain. Biasanya
seorang guru menyampaikan pesan dalam bentuk kata-kata, gerakan anggota badan.
Keempat adalah media atau penghubung adalah alat untuk menyampaikan pesan
seperti : TV, radio, surat kabar, papan pengumuman, telepon dan lainnya. Kelima
adalah mengartikan kode atau isyarat. Setelah pesan diterima melalui indera maka
penerima pesan harus dapat mengartikan simbol atau kode dari pesan tersebut,
sehingga dapat dipahami. Keenam adalah penerima pesan, Penerima pesan adalah
orang yang dapat memahami pesan dari pengirim meskipun dalam bentuk kode atau
isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksud oleh pengirim. Ketujuh adalah
balikan. Balikan adalah isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan
dalam bentuk verbal maupun non verbal.

2.

Komunikasi dalam Pembelajaran


Pembelajaran merupakan suatu proses komunikasi. Komunikasi adalah proses
pengiriman informasi dari guru kepada siswa untuk tujuan tertentu. Komunikasi
dikatakan efektif apabila komunikasi yang terjadi menimbulkan arus informasi dua
arah, yaitu dengan munculnya feedback dari pihak penerima pesan. Kualitas
pembelajaran dipengaruhi oleh efektif tidaknya komunikasi yang terjadi di dalamnya.
Tujuan pendidikan akan tercapai jika prosesnya komunikatif Keberhasilan

pembelajaran harus didukung oleh komponen-komponen instruksional yang terdiri


dari pesan berupa materi belajar, penyampai pesan yaitu guru, bahan untuk
menuangkan pesan, peralatan yang mendukung kegiatan belajar, teknik atau metode
yang sesuai, serta latar atau situasi yang kondusif bagi proses pembelajaran.
Belajar membutuhkan interaksi, hal ini menunjukan bahwa proses pembelajaran
merupakan proses komunikasi, artinya didalamnya terjadi proses penyampaian pesan
dari seorang guru kepada siswa. Pesan yang dikirimkan biasanya berupa informasi
atau keterangan dari guru sebagai sumber pesan. Pesan tersebut diubah dalam bentuk
sandi-sandi atau lambang-lambang seperti kata-kata, bunyi-bunyi, gambar dan
sebagainya. Melalui saluran (channel) seperti OHP, film, dan lain sebagainya. pesan
diterima oleh siswa melalui indera (mata dan telinga) untuk diolah, sehingga pesan
yang disampaikan oleh guru dapat diterima dan dipahami oleh siswa.
Komunikasi efektif dalam pembelajaran merupakan proses transformasi pesan
berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dari guru sebagai komunikator kepada siswa
sebagai komunikan, dimana siswa mampu memahami maksud pesan sesuai dengan
tujuan yang telah ditentukan, dengan demikian dapat menambah wawasan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih
baik. Guru adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap berlangsungnya
komunikasi yang efektif dalam pembelajaran, sehingga guru dituntut memiliki
kemampuan berkomunikasi yang baik agar menghasilkan proses pembelajaran yang
efektif.
3.

Kemampuan Guru dalam Komunikasi Pembelajaran


Proses belajar mengajar akan senantiasa merupakan proses kegiatan interaksi
antara dua unsur manusiawi di mana siswa sebagai pihak yang belajar dan guru
sebagai pihak yang mengajar. Proses itu sendiri merupakan mata rantai yang
menghubungkan antara guru dan siswa sehingga terbina komunikasi yang memiliki
tujuan yaitu tujuan pembelajaran.
Di dalam komunikasi pembelajaran, tatap muka seorang guru mempunyai peran
yang sangat penting di dalam kelas yaitu peran mengoptimalkan kegiatan belajar. Ada
tiga kemampuan esensial yang harus dimiliki guru agar peran tersebut terealisasi,
yaitu kemampuan merencanakan kegiatan, kemampuan melaksanakan kegiatan dan
kemampuan mengadakan komunikasi. Ketiga kemampuan ini disebut generic
essensial. Ketiga kemampuan ini sama pentingnya, karena setiap guru tidak hanya
mampu merencanakan sesuai rancangan, tetapi harus terampil melaksanakan kegiatan
belajar dan terampil menciptakan iklim yang komunikatif dalam kegiatan
pembelajaran.

Iklim komunikatif yang baik dalam hubungan interpersonal antara guru dengan
guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa merupakan kondisi yang
memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif, karena setiap
personal diberi kesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan di dalam kelas sesuai
dengan kemampuan masing-masing. Sehingga timbul situasi sosial dan emosional
yang menyenangkan pada tiap personal, baik guru maupun siswa dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Dalam menciptakan iklim komunikatif guru hendaknya memperlakukan siswa
sebagai individu yang berbeda-beda, yang memerlukan pelayanan yang berbeda pula,
karena siswa mempunyai karakteristik yang unik, memiliki kemampuan yang
berbeda, minat yang berbeda, memerlukan kebebasan memilih yang sesuai dengan
dirinya dan merupakan pribadi yang aktif. Untuk itulah kemampuan berkomunikasi
guru dalam kegiatan pembelajaran sangat diperlukan.
Adapun usaha guru dalam membantu mengembangkan sikap positif pada siswa
misalnya dengan menekankan kelebihan-kelebihan siswa bukan kelemahannya,
menghindari kecenderungan untuk membandingkan siswa dengan siswa lain dan
pemberian insentif yang tepat atas keberhasilan yang diraih siswa. Kemampuan guru
untuk bersikap luwes dan terbuka dalam kegiatan pembelajaran bisa dengan
menunjukkan sikap terbuka terhadap pendapat siswa dan orang lain, sikap responsif,
simpatik, menunjukkan sikap ramah, penuh pengertian dan sabar. Dengan terjalinnya
keterbukaan, masing-masing pihak merasa bebas bertindak, saling menjaga kejujuran
dan saling berguna bagi pihak lain sehingga merasakan adanya wahana tempat
bertemunya kebutuhan mereka untuk dipenuhi secara bersama-sama.
Kemampuan guru untuk tampil secara bergairah dan bersungguh-sungguh
berkaitan dengan penyampaian materi di kelas yang menampilkan kesan tentang
penguasaan materi yang menyenangkan. Karena sesuatu yang energik, antusias, dan
bersemangat memiliki relevansi dengan hasil belajar. Perilaku guru yang seperti itu
dalam proses belajar mengajar akan menjadi dinamis, mempertinggi komunikasi
antar guru dengan siswa, menarik perhatian siswa dan menolong penerimaan materi
pelajaran.
Kemampuan

guru

untuk

mengelola

interaksi

siswa

dalam

kegiatan

pembelajaran berhubungan dengan komunikasi antara siswa, usaha guru dalam


menangani kesulitan siswa dan siswa yang mengganggu serta mempertahankan
tingkah laku siswa yang baik. Agar semua siswa dapat berpartisipasi dan berinteraksi
secara optimal, guru mengelola interaksi tidak hanya searah saja yaitu dari guru ke
siswa atau dua arah dari guru ke siswa dan sebaliknya, melainkan diupayakan adanya
interaksi multi arah yaitu dari guru ke siswa, dari siswa ke guru dan dari siswa ke
siswa. Jadi semua kemampuan guru di atas mengarah pada penciptaan iklim

komunikatif yang merupakan wahana atau sarana bagi tercapainya tujuan


pembelajaran yang optimal.
Posisi guru dan anak didik boleh berbeda tetapi keduanya tetap seiring dan
setujuan, bukan seiring tetapi tidak setujuan, Oleh karena itu guru harus mempunyai
kemampuan dalam berkomunikasi dengan anak didiknya, adapun cara guru dalam
berkomunikasi dengan anak didiknya yaitu sebagai berikut :
Mengajar merupakan suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan
sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi belajarmengajar (Nasution, 1982.8) sedangkan pengajaran bukanlah sesuatu yang terjadi
secara kebetulan, melainkan adanya kemampuan guru yang dimiliki tentang dasardasar mengajar yang baik. (Gagne & Brig,1979:19) Sedangkan menurut Moh Uzer
Usman(1990:1).dalam Suryosubroto 2009, proses belajar mengajar adalah suatu
proses yang mengandung serangkain perbuartan guru dan siswa atas dasar hubungan
timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.
Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan formal dengan guru
sebagai pemegang utama. Jadi, keberhasilan proses belajar mengajar sangat
ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Dari
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa mengajar pada hakikatnya adalah
melakukan kegiatan belajar, sehingga proses belajar-mengajar dapat berlangsung
secara efektif dan efisien.
Didalam proses pengajaran seorang guru profesional harus memiliki 5 tugas
pokok diantaranya :
a. Merencanakan kegiatan pembelajaran
Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran, seorang guru di tuntut membuat
perencanaan pembelajaran. Fungsi dari perencanaan pembelajaran itu adalah untuk
mempermudah guru dalam melaksanakan tugas selanjutnya.
b. Melaksanakan kegiatan pembelajaran
Melaksanakan kegiatan pembelajaran merupakan salah satu aktifitas inti guru di
sekolah. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, seorang guru harus benarbenar siap materi, siap mental, siap metodologi, siap media, dan siap strategi
pembelajaran. Hal ini akan di dapat apabila sebelumnya guru melaksanakan langkah
pertama, yaitu membuat perencanaan pembelajaran dengan cermat. Guru juga harus
pandai menggunakan teknologi pembelajaran sehingga menarik bagi siswa.
c. Mengevaluasi hasil pembelajaran
Kegiatan evaluasi ini di maksudkan untuk mendapatkan umpan balik atau feed
back atas kegiatan pembelajaran yang di lakukan. Dengan evaluasi, guru dapat
mengetahui apakah siswa telah mencapai standar kompetensi yang di tetapkan
ataupun sudah di tetapkan. Selain itu, evaluasi juga di maksudkan untuk mengetahui
efektifitas pembelajaran yang di lakukan guru. Tanpa kegiatan evaluasi, seorang guru

tidak mungkin dapat mengetahui perkembangan siswa dan dirinya dalam proses
pembelajaran.
d. Menindaklanjuti hasil pembelajaran
Setelah dilakukan evaluasi, seorang guru dituntut melakukan upaya perbaikan dan
pengayaan. Perbaikan dilakukan bagi siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar,
sedangkan pengayaan dilakukan terhadap siswa yang sudah mencapai ketuntasan
belajar tetapi dipandang perlu untuk meningkatkan kemampuannya.
e. Melakukan bimbingan dan konseling
Tidak semua siswa mengalami pertumbuhan dan perkembangan belajar dan
psikologis yang stabil. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pembimbing atau
konselor, guru dituntut memiliki kemampuan sebagai konselor. Guru harus pandai
mengarahkan siswa untuk dapat menemukan permasalahannya dan menemukan jalan
pemecahan oleh siswa itu sendiri.

BAB III
ANALISIS MASALAH DAN SOLUSI
A.

Permasalahan
Guru merupakan sosok manusia yang patut dipercaya dan ditiru, ucapannya
dapat dipercaya dan tingkah lakunya harus bisa menjadi contoh atau teladan bagi
masyarakat, selain itu guru sebagai tugas profesi yang bertugas dalam mengajar,
mendidik, dan melatih anak didik dalam pendidikan formal, tetapi dalam
melaksanakan tugasnya seringkali ada guru yang tingkah laku dan ucapannya tidak
dapat dipercaya dan ditiru karena tidak bisa memerankan tugasnya sebagai seorang
guru dengan baik. Dan pada kenyataannya disekeliling kita banyak terdapat guru
yang tidak mencerminkan kepribadian sebagai seorang guru yang baik, guru yang
sudah tersertifikasipun belum tentu dikatakan sebagai guru yang profesional karena
dalam kemampuan berkomunikasi dengan anak didik kurang maksimal dan dalam
menerangkan proses belajar mengajar terkadang ada guru yang belum menguasai
materi yang disampaikannya. Misalnya saja di dunia barat, seorang guru kadangkadang hanya bertugas mengajar saja. Masalah nilai-nilai hidup tidak disentuh,
bahkan sama sekali tidak diperdulikan. Bagi mereka, yang penting siswa dapat
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, diluar cakupan tersebut guru tidak mau
tahu. tetapi di indonesia tidak demikian, karena negara kita menganut azas
keterpaduan antara ilmu pengetahuan dan teknologi, nilai-nilai hidup dan ketrampilan
dalam pendidikan.
Seharusnya sebagai seorang guru mempunyai kepribadian yang baik yang bisa
memberi contoh kepada anak didiknya agar anak didiknya menjadi lebih baik, tetapi
dalam kenyataanya di indonesia masih saja ditemukan kepribadian buruk guru yang

kerap kita jumpai di sekolah-sekolah, meskipun hal tersebut disadari oleh setiap guru,
namun dalam praktiknya guru memiliki kepribadian yang tidak baik, contohnya :
sering meninggalkan kelas disaat jam pelajaran, tidak menghargai siswa, pilih kasih
terhadap siswa, kurang persiapan dalam pembelajaran, menyuruh siswa menyuruh
menulis di papan tulis, tidak disiplin, kurang memperhatikan siswa, dan matrealistis.
Solusi
Agar dapat meningkatkan kepribadian guru yang baik dan tingkat
profesionalitas yang tinggi serta kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan anak
didik maka diperlukan beberapa cara,yaitu:
1. Guru harus berfikir pro-aktif
Orang pro-aktif tidak berteriak gelap saat menghadapi suasana gelap, namun
akan berupaya membuat suasana gelap menjadi terang meskipun hanya dengan
menyalakan sebuah lilin, artinya guru harus selalu aktif dalam segala aktifitasnya
baik itu disekolah dan kehidupan bermasyarakat.
2. Memiliki tujuan (visi dan misi) yang jelas
Manusia tanpa tujuan ibarat layang-layang yang putus talinya atau seperti perahu
tanpa nahkoda. Artinya seorang guru harus mempunyai tujuan yang jelas supaya
dalam mengajar tidak asal-asalan, guru harus mengemban visi dan misi, yaitu
membangun masa depan bangsa dan negara serta umat manusia.
3. Pandai membuat dan menentukan skala prioritas
Perioritas utama bagi guru adalah masa depan anak didiknya, bukan kepentingan
pribadi dan kelompoknya.
4. Berfikir menang-menang
Dalam pola hubungan dan komunikasi guru berfikir menang-menang, ia tidak
akan membiarkan dirinya dirugikan tetapi ia pun tidak mau merugikan orang lain.
5. Senang bekerjasama
Guru mengembangkan kemitraan dalam menunaikan tugasnya ia tidak
memandang dirinya sebagai orang super, ia juga tidak memandang peserta didiknya
lemah. Tetapi ia memandang setiap manusia sebagai sosok yang memiliki potensi dan
mampu memberdayakan potensi yang dimilikinya untuk meraih sukses.
6. Memperhatikan orang lain.
Guru memberikan perhatian yang lebih terhadap siswa dan profesinya oleh
karena itu guru menanam investasi kebaikan pada siswa dan tugas profesinya.
7. Selalu belajar sepanjang waktu
Guru menyadari bahwa belajar merupakan tuntutan mutlak agar pemikiran dan
ilmunya tetap tajam. Sehingga ilmu yang didapatkannya selalu bertambah dan terus
berkembang sepanjang masa.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Guru adalah seorang yang memiliki seperangkat koleksi nilai dan kemampuan
yang lebih, dimana dengan koleksi itu dia dapat merubah tantangan menjadi peluang.
Tugas guru merupakan suatu proses mendidik, mengajar, dan melatih peserta didik.
Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup (afektif).
1.

Seorang guru di tuntut mempunyai beberapa kemampuan sebagai berikut:


Berwawasan luas, menguasai bidang ilmu, dan mampu mentransfer atau

menerangkan kembali kepada siswa.


2. Mempunyai sikap dan tingkah laku atau kepribadian yang patut di teladani sesuai
dengan nilai-nilai kehidupan atau values yang di anut masyarakat dan bangsa.
3. Memilki keterampilan sesuai bidang ilmu yang di milikinya.
secara umum ada 10 kompetensi dasar yang diperlukan seorang guru dalam
menjalankan tugas mengajar yaitu sebagai berikut : Menguasai bahan ajar, Mengelola
program belajar mengajar, Mengelola kelas, Menggunakan media atau sumber
belajar, Menguasai landasan pendidikan, Mengelola interaksi belajar mengajar,
Menilai prestasi belajar mengajar, Mengenal fungsi bimbingan dan penyuluhan,
Mengenal dan menyelenggaran administrasi sekolah, Memahami dan menafsirkan
hasil penelitian guna keperluan pengajaran.
Setiap guru mempunyai kepribadian masing-masing sesuai ciri-ciri pribadi
yang mereka miliki. Yang mana kepribadian itu sendiri adalah unsur yang
menentukan keakraban hubungan guru dengan anak didik.sebagai teladan, guru harus

memeliki kepribadian yang dapat dijadikan profil dan idola, seluruh kehidupannya
adalah figure yang berwibawa.
guru harus mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi dengan anak
didiknya, adapun cara guru dalam berkomunikasi dengan anak didiknya yaitu sebagai
berikut (Djamarah,2010): Korektor, Inspirator, Informator, Organisator, Motivator,
Inisiator, Fasilitator, Pembimbing, Demonstrator, Pengelola kelas, Mediator,
Supervisor, dan Evaluator.
Didalam proses pengajaran seorang guru profesional harus memiliki 5 tugas
pokok diantaranya: Merencanakan kegiatan pembelajaran, Melaksanakan kegiatan
pembelajaran, Mengevaluasi hasil pembelajaran, Menindaklanjuti hasil pembelajaran,
Melakukan bimbingan dan konseling
B.

Saran
Guru memiliki kedudukan yang terhormat karena guru merupakan pahlawan
tanpa tanda jasa yang patut untuk dihormati, oleh karena itu sebagai seorang guru
harus selalu menjaga sikap dan kepribadiaannya dengan baik agar menjadi contoh
bagi anak didik dan masyarakat.
Sumber daya manusia harus lebih ditingkatkan agar generasi baru yang
nantinya akan menjadi seorang guru (calon guru) menjadi guru yang lebih
professional dan berkualitas.
Guru juga harus mengurangi kebiasaan buruk yang sering dilakukan antara
lain : sering meninggalkan kelas disaat jam pelajaran, tidak menghargai siswa, pilih
kasih terhadap siswa, kurang persiapan dalam pembelajaran, menyuruh siswa
menyuruh menulis di papan tulis, tidak disiplin, kurang memperhatikan siswa, dan
matrealistis.
Untuk itu mari kita tingkatkan mutu pendidikan nasional dengan
memprioritaskan guru yang benar-benar professional dan berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002.
A.M. Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada. 2001.
Agung, Iskandar. (2009). Uji keandalan dan kesahihan indeks activity of daily
living Barthel untuk mengukur status fungsional dasar pada usia lanjut
di RSCM

KONSEP PEMBELAJARAN PAUD


Pengertian dan Karakteristik Anak Usia Dini
Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa
pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan
kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan
melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam
memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1
Ayat 14).
Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini
merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan
kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia
di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia
dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang
seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan
dan perkembangan tersebut.
Ada berbagai kajian tentang hakikat anak usia dini, khususnya anak TK
diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough (dalam
Masitoh dkk., 2005: 1.12 1.13) sebagai berikut.
1. Anak bersifat unik.
2. Anak mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan.
3. Anak bersifat aktif dan enerjik.
4. Anak itu egosentris.
5. Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak
hal.
6. Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang.
7. Anak umumnya kaya dengan fantasi.
8. Anak masih mudah frustrasi.
9. Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak.
10. Anak memiliki daya perhatian yang pendek.
11. Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial.
12. Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman.
Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini
Prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini berbeda dengan prinsip-prinsip
perkembangan fase kanak-kanak akhir dan seterusnya. Adapun prinsipprinsip perkembangan anak usia dini menurut Bredekamp dan Coople (Siti
Aisyah dkk., 2007 : 1.17 1.23) adalah sebagai berikut.

1. Perkembangan aspek fisik, sosial, emosional, dan kgnitif anak saling


berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
2. Perkembangan fisik/motorik, emosi, social, bahasa, dan kgnitif anak
terjadi dalam suatu urutan tertentu yang relative dapat diramalkan.
3. Perkembangan berlangsung dalam rentang yang bervariasi antar anak
dan antar bidang pengembangan dari masing-masing fungsi.
4. Pengalaman awal anak memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda
terhadap perkembangan anak.
5. Perkembangan anak berlangsung ke arah yang makin kompleks,
khusus, terorganisasi dan terinternalisasi.
6. Perkembangan dan cara belajar anak terjadi dan dipengaruhi oleh
konteks social budaya yang majemuk.
7. Anak adalah pembelajar aktif, yang berusaha membangun
pemahamannya tentang tentang lingkungan sekitar dari pengalaman
fisik, social, dan pengetahuan yang diperolehnya.
8. Perkembangan dan belajar merupakan interaksi kematangan biologis
dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
9. Bermain merupakan sarana penting bagi perkembangan social,
emosional, dan kognitif anak serta menggambarkan perkembangan
anak.
10. Perkembangan akan mengalami percepatan bila anak berkesempatan
untuk mempraktikkan berbagai keterampilan yang diperoleh dan
mengalami tantangan setingkat lebih tinggi dari hal-hal yang telah
dikuasainya.
11. Anak memiliki modalitas beragam (ada tipe visual, auditif, kinestetik,
atau gabungan dari tipe-tipe itu) untuk mengetahui sesuatu sehingga
dapat belajar hal yang berbeda pula dalam memperlihatkan hal-hal
yang diketahuinya.
12. Kondisi terbaik anak untuk berkembang dan belajar adalam dalam
komunitas yang menghargainya, memenuhi kebutuhan fisiknya, dan
aman secara fisik dan fisiologis.
Pendidikan Anak Usia Dini
Jalur Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa
pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang
ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki
kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003
(Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional) Bab I Pasal 1 Ayat 14).

Dalam pasal 28 ayat 3 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional


dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal
berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudathul Athfal, atau bentuk lain yang
sederajat.
Satuan Pendidikan Anak Usia Dini
Satuan pendidikan anak usia dini merupakan institusi pendidikan anak usia
dini yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia lahir sampai
dengan 6 tahun. Di Indonesia ada beberapa lembaga pendidikan anak usia
dini yang selama ini sudah dikenal oleh masyarakat luas, yaitu:
Taman Kanak-kanak (TK) atau Raudhatul Atfal (RA)
TK merupakan bentuk satuan pendidikan bagi anak usia dini pada jalur
pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan bagi anak usia 4
sampai 6 tahun, yang terbagi menjadi 2 kelompok : Kelompok A untuk anak
usia 4 5 tahun dan Kelompok B untuk anak usia 5 6 tahun.
Kelompok Bermain (Play Group)
Kelompok bermain berupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini
pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program
pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia 2 sampai
dengan 4 tahun (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 23)
Taman Penitipan Anak (TPA)
Taman penitipan anak merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia
dini pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program
pendidikan sekaligus pengasuhan dan kesejahteraan anak sejak lahir sampai
dengan usia 6 tahun. TPA adalah wahana pendidikan dan pembainaan
kesejahteraan anak yang berfungsi sebagai pengganti keluarga untuk jangka
waktu tertentu selama orang tuanya berhalangan atau tidak memiliki waktu
yang cukup dalam mengasuh anaknya karena bekerja atau sebab lain
(Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 24).
Landasan Pendidikan Anak Usia Dini
Landasan Yuridis Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam Amandemen UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 dinyatakan bahwa Setiap
anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak
atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Dalam UU NO. 23 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat 1 tentang Perlindungan Anak
dinyatakan bahwa Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan
pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat
kecerdasarnya sesuai dengan minat dan bakatnya.
Dalam UU NO. 20 TAHUN 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1,
Pasal 1, Butir 14 dinyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu
upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan
usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk
membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak

memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Sedangkan pada


pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa (1)
Pendidikan Anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan
dasar, (2) Pendidkan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur
pendidkan formal, non formal, dan/atau informal, (3) Pendidikan anak usia
dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat, (4)
Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan non formal: KB, TPA, atau bentuk
lain yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini jalur pendidikan informal:
pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan,
dan (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut
dengan peraturan pemerintah.
Landasan Filosofis Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memanusiakan manusia. Artinya
melalui proses pendidikan diharapkan terlahir manusia-manusia yang baik.
Standar manusia yang baik berbeda antar masyarakat, bangsa atau
negara, karena perbedaan pandangan filsafah yang menjadi keyakinannya.
Perbedaan filsafat yang dianut dari suatu bangsa akan membawa perbedaan
dalam orientasi atau tujuan pendidikan.
Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa
pembentukan manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu
menjadikan manusia indonesia seutuhnya.Bangsa Indonesia juga sangat
menghargai perbedaan dan mencintai demokrasi yang terkandung dalam
semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang maknanya berbeda tetapi satu. Dari
semboyan tersebut bangsa Indonesia juga sangat menjunjung tinggi hak-hak
individu sebagai mahluk Tuhan yang tak bisa diabaikan oleh siapapun. Anak
sebagai mahluk individu yang sangat berhak untuk mendaptkan pendidikan
yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Dengan pendidikan
yang diberikan diharapkan anak dapat tumbuh sesuai dengan potensi yang
dimilkinya, sehingga kelak dapat menjadi anak bangsa yang diharapkan.
Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa
pembentukan manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu
menjadikan manusia indonesia seutuhnya Sehubungan dengan pandangan
filosofis tersebut maka kurikulum sebagai alat dalam mencapai tujuan
pendidikan, pengembangannya harus memperhatikan pandangan filosofis
bangsa dalam proses pendidikan yang berlangsung.
Landasan Keilmuan Pendidikan Anak Usia Dini
Konsep keilmuan PAUD bersifat isomorfis, artinya kerangka keilmuan PAUD
dibangun dari interdisiplin ilmu yang merupakan gabungan dari beberapa
displin ilmu, diantaranya: psikologi, fisiologi, sosiologi, ilmu pendidikan anak,
antropologi, humaniora, kesehatan, dan gizi serta neuro sains atau ilmu
tentang perkembangan otak manusia (Yulianai Nurani Sujiono, 2009: 10).
Berdasarkan tinjauan secara psikologi dan ilmu pendidikan, masa usia dini
merupkan masa peletak dasar atau fondasi awal bagi pertumbuhan dan
perkembangan anak. Apa yang diterima anak pada masa usia dini, apakah
itu makanan, minuman, serta stimulasi dari lingkungannya memberikan
kontribusi yang sangat besar pada pertumbuhan dan perkembangan anak
pada masa itu dan berpengaruh besar pertumbuhan serta perkembangan
selanjutnya.

Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya


dengan perkembangan struktur otak. Dari segi empiris banyak sekali
penelitian yang menyimpulkan bahwa pendidikan anak usia dini sangat
penting, karena pada waktu manusia dilahirkan, menurut Clark (dalam Yuliani
Nurani Sujono, 2009) kelengkapan organisasi otaknya mencapai 100 200
milyard sel otak yang siap dikembangkan dan diaktualisasikan untuk
mencapai tingkat perkembangan optimal, tetapi hasil penelitian menyatakan
bahwa hanya 5% potensi otak yang terpakai karena kurangnya stimulasi
yang berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi otak.
Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini
Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan
berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Secara khusus tujuan pendidikan anaka usia dini adalah (Yuliani Nurani
Sujiono, 2009: 42 43):
1. Agar anak percaya akan adanya Tuhan dan mampu beribadah serta
mencintai sesamanya.
2. Agar anak mampu mengelola keterampilan tubuhnya termasuk
gerakan motorik kasar dan motorik halus, serta mampu menerima
rangsangan sensorik.
3. Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif
dan dapat berkomunikasi secara efektif sehingga dapat bermanfaat
untuk berpikir dan belajar.
4. Anak mampu berpikir logis, kritis, memberikan alasan, memecahkan
masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.
5. Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan social, peranan
masyarakat dan menghargai keragaman social dan budaya serta
mampu mngembangkan konsep diri yang positif dan control diri.
6. Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, berbagai bunyi, serta
menghargai karya kreatif.
Prinsip-prinsip Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini pelaksanaannya menggunakan prinsip-prinsip
(Forum PAUD, 2007) sebagai berikut.
Berorientasi pada Kebutuhan Anak
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada
kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan
upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek
perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual,
bahasa, motorik, dan sosio emosional.
Belajar melalui bermain

Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak
untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil
kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.
Menggunakan lingkungan yang kondusif
Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan
menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang
dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.
Menggunakan pembelajaran terpadu
Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran
terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus menarik
dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini
dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah
dan jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.
Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui berbagai
proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong
diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin diri.
Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar
Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar
atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik /guru.
Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar
Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap,
dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep
dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatankegiatan
yang berluang .
Referensi
Masitoh dkk. (2005) Strategi Pembelajaran TK. Jakarta: 2005.
Patmonodewo, Soemiarti. (2003) Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta:
Rineka Cipta.
Siti Aisyah dkk. (2007) Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan
Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sujiono, Yuliani Nurani. (2009) Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.
Jakarta: PT Indeks.

Perkembangan dan Pertumbuhan Kepribadian


BAB

I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi individu, baik
sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku J.P.
Chaplin, 1979) psikologi perkembangan merupakan ilmu yang
mempelajari karakteristik setiap fase-fase perkembangan. Dalam
penulisan makalah ini untuk mengetahui karakteristik perkembangan fase
remaja, hal-hal apa saja yang mempengaruhi psikologi perkembangan
pada
fase
remaja.
Dewasa ini psikologi sangat dibutuhkan dalam setiap manusia khususnya
bagi seorang pelajar (ABG) maupun pada orang dewasa. oleh karena itu
khususnya bagi psikolog haruslah tau apa arti dari perkembangan dan
kepribadian itu, agar dalam memberikan solusi kepada klien bisa
menempatkan pada sasaran yang sesuai, karena, dalam perkembangan
dan kepribadian pada setiap manusia merupakan bantuan untuk
memberikan kepada siswa dalam menemukan pribadi, mengenal
lingkungan dan merencanakan masa depan yang lebih baik. Pemberian
bantuan ini dapat dilakukan dengan melalui berbagai cara, salah satu
bahan yang bisa dipakai, misalnya diberikan kesempatan untuk membaca
dan menelaah sebuah buku tentang sopan santun, cara belajar efektif,
tata tertib dan sebagainya. Psikologi juga memiliki sebutan yang beragam
dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Psikologi ini tujuannya agar
para siswa dapat mewujudkan diri sebagai pribadi yang mandiri,
bertanggungjawab, pelajar kreatif, dan pekerja produktif dan dapat
menerapkan perkembangan yang terjadi pada kepribadian seseorang.
Oleh karena itu agar lebih jelas tentang memahami perkembangan dan
kepribadian pada seseorang, maka kami akan mengulas lebih lanjut
tentang perkembangan dan kepribadian pada seseorang tersebut.
B.
RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka pertmasalahan dapat
dirumuskan
sebagai
berikut
:
1.
Apa
arti
dari
psikologi
perkembangan?
2.
Apa
arti
dari
psikologi
kepribadian?
3. Faktor apa saja yang menjadikan psikologi perkembangan dan
kepribadian?
C.
TUJUAN
1. Untuk mengetahui apa arti dari psikologi perkembangan.
2.
Untuk
mengetahui
apa
arti
dari
psikologi
kepribadian.
3. Untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadikan psikologi
perkembangan
dan
kepribadian.
BAB
PERKEMBANGAN

DAN

II
KEPRIBADIAN

1.
PERKEMBANGAN
a)
Pengertian
Perkembangan
Obyek psikologi perkembangan adalah perkembangan manusia sebagai
pribadi. Para ahli psikologi juga tertarik akan masalah seberapa jauhkah
perkembangan manusia tadi dipengaruhi oleh perkembangan masyarakat
(Van den Berg, 1986; Muchow, 1962).namun perhatian psikologi
perkembangan yang utama tertuju pada perkembangan manusianya
sebagai person, dan masyarakat merupakan tempat berkembangnya
person
tadi.

Pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses kearah yang lebih


baik atau sempurna dan tidak begitu saja dapat di ulang lagi.
Perkembangan menunjuk ada perubahan yang bersifat tetap dan tidak
dapat
di
putar
kembali
(Werner,
1969).
Perkembangan juga berkaitan daengan belajar khususnya mengenai isi
proses perkembangan, apa yang berkembang berkaitan dengan perilaku
belajar. Dengan demikian perkembangan dapat diartikan sebagai proses
yang kekal dan tetap yang menuju kea rah suatu organisasi pada tingkat
intergrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pemasakan dan
belajar. Suatu devinisi yang relevan yang dikemukakan oleh Monks
sebagai berikut : Perkembangan psikologis merupakan suatu proses yang
dinamis. Dalam proses tersebut sifat individu dan sifat lingkungan
menentukan tingkah laku apa yang akan menjadi actual dan terwujud.
Contoh
Perkembangan
:
1.
Tingginya
badan
pada
diri
seseorang.
2. Berkembangnya daya pikir seseorang, yaitu dari masa kanak-kanak
menjadi
dewasa.
3. berkembangnya teknologi-teknologi canggihdi seluruh dunia.
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957)
sebagai berikut : Perkembangan sejalan dengan prinsip ortho genetic,
bahwa perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang
berdiferensiasi sampai ke keadaan dimanadiferensiasi, artikulasi, dan
integrasi, meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi itu diartikan
sebagai prinsip totalitas pada diri anak, bahawa dari penghayatan
totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya menjadi semakin nyata dan
bertambah
jelas
dalam
kerangka
keseluruhan.
Pada anak prasekolah dan taman kanak-kanak tampak adanya
diskontinuitas, sedang pada kelompok umur yang lebih tinggi sampai
dengan
mahasiswa
menunjukkan
kontinuitas.
Menurut Nagel (1957) Perkembangan merupakan pengertian dimana
terdapat struktur yang terorganisasikan dan mempunyai fungs-fungsi
tertentu, o;eh karena itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam
organisasi maupun da;am bentuk, akan mengakibatkan perubahan fungsi.
Menurut Schneirla (1957), Perkembangan adalah perubahan-perubahan
progesif dalam organisasi organisme, dan organisme inidilihat sebagai
system fungsional dan adaptif sepanjang hidupnya. Perubahan-perubahan
progresif ini meliputi dua faktor yakni kematangan dan pengalaman.
Spiker (1966), Mengemukakan dua macam pengertian yang harus
dihubungkan
dengan
perkembangan
yaitu
:
1. Ortogenetik, yang berhubungan dengan perkembangan sejak
terbentuknya individu yang baru dan seterusnya sampai dewasa.
2. Filogenetik, yakni perkembangan dari asal usul manusia sampai
sekarang ini. Perkembangan perubahan fungsi sepanjang masa hidupnya
menyebabkan perubahan tingkah laku dan perubahan ini juga terjadi
sejak permulaan adanya manusia, jadi perkembangan ortogenetik
,engarah ke suatu tujuan khusus sejalan dengan perkembangan
evolusiyang
mengarah
kepada
kesempurnaan
manusia.
Bijou dan Baer (1961) Mengemukakan perkembangan psikologis adalah
perubahan progesif yang menunjukkan cara organisme bertingkah laku
dan berinteraksi dengan lingkungan. Interaksi yang dimaksud ini disisni
adalah apakah suatu jawaban tingkah laku akan diperlihatkan atau
tidak,tergantung dari perangsang-perangsang yang ada di lingkungannya.
Rumusan ini lain tentang arti perkembangan yang dikemukakan oleh
Libert, Paulus, dan Strauss (Singgih, 1990:31) yaitu bahwa Perkembangan
adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu ssebagai
fungsi
kematangan
dan
interaksi
dengan
lingkungan.
Istilah
perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenai
gejala-gejala psikologis yang menampak. Perkembangan dapat juga
dilikiskan debagai suatu proses yang kekal dan tetap yang menuju kearah

suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan


proses pertumbuhan, kematangan, dan belajar (Monks, 1984:2)
b)
Tugas-tugas
Perkembangan
Perkembangan merupakan proses yang menggambarkan perilaku
kehidupan sosial psikologi manusia padapasisi yang harmonisdi dalam
lingkungan masyarakat yang lebih luas dan komplek. Oleh Havighurst
perkembangan tersebut dinyatakan sebagai tugas yang harus di pelajari,
dijalani, dan dikuasai oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya,
atau dengan perkataan lain perjalanan hidup manusia ditandai dengan
berbagai tugas perkembangan yang harus di tempuh.pada jenjang
kehidupan remaja, seseorang telah berada pada posisi yang cukup
kompleks, dimana ia telah banyak menyelesaikan tugas-tugas
perkembangan, seperti misalnya, mengatasi sifat tergantung pada orang
lain, memahami norma pergaulan dengan teman sebaya, dan lain-lain.
Dengan demikian para remaja menjalani tugas mempersiapkan diri untuk
dapat hidup dewasa, dalam arti mampu manghadapi masalah-masalah,
bertindak dan bertanggungjawab sendiri. Oleh karena itu, tugas
perkembangan pada masa remaja ini di pusatkan pada upaya untuk
menanggulangi
sikap
dan
pola
perilaku
kekanak-kanakan
Tugas-tugas perkembangan tersebut oleh Havighurst dikaitkan dengan
fungsi belajar, karena pada hakikatnya perkembangan kehidupan manusia
dipandang sebagai upaya untuk mempelajari norma kehidupan dan
budaya masyarakat agar ia mampu melakukan penyesuaian diri dengan
baik
dan
didalam
kehidupan
nyata.
Oleh karena itu, jenis tugas perkembangan remaja itu pada dasarnya
mencakup segala persiapan diri untuk memasuki jenjang dewasa, yang
intinya bertolak dari tugas perkembangan fisik dan tugas perkembangan
sosio-psikologis. Havighurst (Garrison, 1956:14-15) mengemukakan 10
jenis
tugas
perkembangan
remaja,
Yaitu
:
1. Mencapai hubungan dengan teman lawan jenisnya secara lebih
memuaskan
dan
matang.
2. Mencapai perasaan seks dewasa yang diterima seacara sosial.
3. Menerima keadab badannya dan menggunakannya secara efektif.
4.
mencapai
kebebasan
emosianal
dari
orang
dewasa.
5.
Mencapai
kebebasan
ekonomi.
6.
Memilihdan
menyiapkan
suatu
pekerjaan.
7.
Menyiapkan
perkawinan
dan
kehidupan
berkeluarga.
8. Mengembangkan keterampilan dan konsep intelektual yang perlu bagi
warga
Negara
yang
kompeten.
9. Menginginkan dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jaawab
secara
social
10. Mencapai suatu perangkat nilai yang digunakan sebagai pedoman
tingkah
laku.
Tugas-tugas tersebut pada dasarnya tidak dapat terpisahkan secara pilah,
karena remaja itu adalah pribadi yang utuh. Dilihat dari perkembangan
kehidupan secarta menyeluruh, pertumbuhan dan perkembangan dimasa
remaja relatif berjalan secara singkat. Hal ini dapat bertambah sulit bagi
remaja yang sejak masa anak-anak telah memiliki konsep yang
mengagungkan penampilan diri pada waktu dewasa nanti. Oleh karena
itu, tidak sedikit remaja bertingkah kurang baik dan kurang tepat.
c)
Hakekat
Perkembangan.
Kalau kita perhatikan segala sesuatu yang berada di sekitar kita, baik
kehidupan manusia, binatang, flora, fauna maupun benda-benda
anorganing, kita akan melihat satu hal yang abadi, yaitu selalu adanya
perubahan. Segalanya selalu berubah, lambat atau cepaat, berulud
penyusutan, pertumbuhan maupun perkembangan, menurut sifat dan
kodratnya masing-masing. Semuanya berubah, tidak satupun yang kekal
abadi
kecuali
ketidakabadian
itu
sendiri.
Hal ini berlaku juga dalam menghadapi pertumbuhan pemuda, secara

psikhophisis. Aspek-aspek yang berkembang dari kehidupan manusia,


yaitu pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang hidup dalam
keadaan
:
1. Psikhophisis, yang berarti manusia adalah makhluk yang hidup dalam
kesatuan
dua,
secara
jasmaniah
dan
rohaniah.
2. Sosioindividuil, yang berarti manusia adalah makhluk yang hidup dalam
kesatuan
dua,
social
dan
individual.
3. Culturilreligious, yang berarti manusia adalah makhluk yang hidup
dalam kesatuan dua, dicipta (oleh Maha Pencipta) dan mencipta
(kebudayaan).
Semua sifat itu dan semua aspek tersebut berkembang seluruhnya secara
simultan
selama
mendapat
kesempatan
dan
sejauh
masih
memungkinkan, menurut irama variasi dan isinya sendiri-sendiri.
d.
Beberapa
Teori
Proses
Perkembangan
Teori pertama yang tertua adalah yang diajukan oleh seorang psikolog
Jerman yang bernama JOHANN FRIEDERISCHE HERBART berpendapat
bahwa terjadinya perkembangan adalah oleh karena adanya unsur-unsur
yang berasosiasi, sehingga sesuatu yang semula bersifat simple (unsure
yang sedikit) makin lama makin banyak dan kompleks. Herbart
berpendapat demikian, karena teorinya bahwa anak baru lahir keadaan
jiwanya masih bersih. Sejak alat inderanya dapat menangkap sesuatu
yang datang dari luar, maka alat indera itu mengirimkan gambar atau
tanggapan ke dalam jiwanya. Makin banyak tangkapan, makin banyak
pula
tanggapan.
Teori kedua GESTALT ( WILHWLM WUNDT) berpendapat bahwa proses
perkembangan bukan berlangsung dari sesuatu yang komkpleks,
melainkan berlangsung dari sesuatu yang bersifat global (menyeluruh
tetapi samara-samar)ke makin lama makin dalam keadaan jelas, nampak
bagian-bagian
keseluruhan
itu.
Teori ketiga JAMES MARK BALDWIN berpendapat bahwa, proses
perkembangan itu adalah proses sosialisasi dari sifat individualis. Dalam
bentuk imitasi yang berlangsung dengan adaptasi dan seleksi. Adaptasi
dan seleksi berlangsung atas dasar hokum efek (law of effect) tingkah
;laku
pribadi
seseorang
adalah
hasil
peniruan
(imitasi)
Teori keempat adalah teori Freudism (SIGMUND FREUD) dalam
mengemukakan teorinya, ia menggunakan sebagai contoh :Pada masa
bayi, manusia belum bermoral kemudian sudah memiliki moral secara
heterogen, dan akhirnya memiliki moral dengan norma yang ditetapkan
sendiri secara autonom. Proses pemilikan moral dari heterogen ke moral
autonom ini disebut internalisasi. Sebab norma moral tersebut ditentukan
sendiri oleh manusoia dengan menggunakan factor internnya.
Ia
menyusun
teorinya
atas
empat
azas,
yaitu
:
1.
Azas
biologis,
2.
Azas
ketidak
berdayaan,
3.
Azas
keamanan,
dan
4.
Azas
eksplorasi.
e.
Teori
Tentang
Fase-fase
Perkembangan
ARISTOTELES membagi fase-fase itu menjadi atas 7 tahun, sehingga dari
masa anak-anak sampai dewasa, terbagi atas 3septennia, yaitu:
0

7
tahun
=
masa
kanak-kanak
7

14
tahun
=
masa
anak
sekolah
14

21
tahun
=
masa
pubertas.
Masa peralihan antara masa anak sekolah sampai masa pubertas,
dinamakan masa pueral. Masa ini berlangsung dari umur 12 tahun sampai
umur
14
tahun.
Sifat-sifat
fase
ini
adalah
:
1.
2.
3.

tidak
mulai

mau
akan

diperlakukan
sadar

sebagai
anak
lagi,
akan
dirinya
sendiri,
pemberani,

4.
5.
6.
7.
8.
9.
Masa
a.

dinamis,
berbicara
dan
berbuat
serba
keras,
gemar
mengusik
dan
bertengkar,
ingin
selalu
dikagumi,
mulai
melakukan
sosialisasi
eksploratif,
ingin
mendapatkan
penghargaan.
pubertas
Masa
anak
anak
Masa
anak
anak

itu

berlangsung
Prepubertas
:
12-13
:
13-14
Pubertas
:
13-18
:
14-18

:
:
Bagi
wanita
tahun
Bagi
laki-laki
tahun
b.
:
Bagi
wanita
tahun
Bagi
laki-laki
tahun
c.
Masa
Adolesen
Bagi
anak
wanita
:
18-21
tahun
Bagi
anak
laki-laki
:
19-23tahun
f.
Faktor-faktor
Yang
Mempengaruhi
Perkembangan
Manusia
Secara umum perkembangan manusia selalui dipengarihi oleh factor luar
dan factor dalam, factor indogen dan factor eksogen, factor extern dan
intern.
Dalam hal ini K.H. DEWANTARA menggunakanistilah factor ajar bagi factor
extern atau exsogen dan istilah dasar untuk factor indogen atau factor
intern. Pendapat terakhir yang sampai sekarang dapat diterima oleh
orang banyakpun masih merupakan suatu teori. Yakni teori yang
dikemukakan oleh seorang psikolog dari Jerman bernama WILLIAM STERN.
Dalam hai ini ia berpendapat bahwa, apabila kedua factor tersebut
masing-masing diganbarkan sebagai garis yang bertemu pada suatu titik
dan membentuk sudut tertentu, maka titik itu dapat digambarkan sebagai
pribadi seseorang, garis datar sebagai factor dasar, dan garis lain sebagai
factor ajar, maka pribadi orang tersebut akan berkembang melalui garis
diagonal yang dapat dibuat dalam jajaran genjangdari kedua garis
tersebut.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Dalam menerima teori itupun kita masih harus sependapat bahwa :
1. tiap-tiap orang membawa factor dasar yang tidak sama.
2. tiap-tiap orang tridak selalu dalam factor extern yang sama pula.
3. tiap-tiap sudut dibentuk oleh kedua garis tersebutpun tidak sama.
4. faktor manakah yang lebih kuat antara keduanya yang tidak sama.
Hal ini di buktikan dengan suatu contoh, bahwa sekalipun ada dua anak
kembar dari satu telur, yang berkembang dalam lingkungan yang sama,
oleh asuhan dari orang tuanya yang sama, dengan makanan ataupun
pemeliharaan yang sama, namun karena terjadi pertengkaran antara
keduanyasehingga yang seorang tercungkil matanya, maka terjadilah
pribadi yang berlainan. Yang tercungkil matanya tumbuh menjadi seorang
introvert dan yang lain menjadi ekstrovert. Hal ini terjadi karena si
tercungkil matanya itu menjadi seorang pemuda, karena cacatnya,
merasa rendah diri, kemudian menyendiri, mengasingkan diri dari orang
banyak, dsb. Sebaliknya, si pencukil mata, tumbuh menjadi pemuda yang
garang,
suka
mengembara
dan
ekstrovert.
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
perkembangan
:
1. Pembawaan, pada waktu lahir anak membawa kemungkinan untuk
merealisasi
potensi
yang
ada
pada
anak.
2. Lingkungan, alam sekitar tempat manusia hidup, dan dalam
hubungannya dengan alam sekitar tersebut orang yangbersangkutan
menunjukkan
reaksi.
3. Kemauan bebas / Ego, baru mngambil peranan pada suatu taraf

perkembangan tertentu, bila yang bersangkutan telah mengetahui


perbedaan
antara
baik
dan
buruk.
4. Takdir / Nasib, masa atau periode atau kejadian penting yang dialami
pada suatu ketika turut menentukan perkembangan hidup seseorang.
g. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan yang kurang normal
pada
organisme
ada
bermacam-macam,
yaitu
:
Pertama, faktor-faktor yang terjadi sebelum lahir. Umpamanya, Peristiwa
kekurangan nutrisi pada ibu dan janin, janin terkene virus, keracunan
semasa bayi ada dalam kandungan, terkene inveksi oleh bakteri syphilis,
terkene penyakit gabag, TBC, kolera, tifus, gondok, sakit gula, dan lainlain.
Kedua, faktor ketika lahir atau saat kelahiran. Factor ini antara lain adlah
intracranial haemorage atau pendarahan pada bagian kepala bayi yang
disebabkan oleh tekanan dari dinding rahim ibu sewaktu ia dilahirkan dan
oleh efek susunan saraf pusat, karena proses kelahiran bayi dilakukan
dengan
bantuan
tang
(Tangver-lossing).
Ketiga, faktor yang dialami bayi setelah lahir. Antara lain oleh kerena
pengalaman traumatic pada kepala, kepala bagian dalam kepala terluka
karena kepala bayi terpukul atau mengalami serangan sinar matahari.
Infeksi pada otak atau selaput otak, misalnyapenyakit cerebral meningitis,
gabag, malaria tropika, dypteria, dll. Semua penyebab tersebut diatas
mengakibatkan
pertumbuhan
bayi
sangat
terganggu.
Keempat, faktor psikologis antara lain oleh bayi ditinggalkan ibu, ayah dan
kedua orang tuanya. Sebab itu ialah anak-anak dititipkan pada suatu
lembaga, seperti rumah sakit, rumah yatim piatu, yayasan perawatan
bayi, dll. Sehingga mereka kurang sekali mendapat perawatan jasmaniah
dan cinta kasih orang tua. Anak-anak tersebut mengalami kehampaan
psikis, kering dari perasaan sehingga mengakibatkan kelambatan
pertumbuhan pada semua fungsi jasmaniah. Pertumbuhan fisik
mempengeruhi peerkembangan psikologis, demikian juga sebaliknya
faktor
psikologis
dapat
mempengaruhi
pertumbuhan
fisik.
Jadi , istilah pertumbuhan dimaksudkan pertumbuhan dalam ukuranukuran
badan
dan
fungsi-fungsi
biologis.
2.
KEPRIBADIAN
a)
Pengertian
Kepribadian
Kata kepribadian (Personality) sesungguhnya berasal dari kata latin
yaitu persona. Pada mulanya, kata persona ini menunjukkan pada topeng
yang biasa digunakan oleh pemain sandiwara di zaman Romawi dalam
memainkan peranan-peranannya. Pada saat itu, setiap pemain
memainkan peranannya masing-masing sesuai dengan topeng yang
dikenakannya. Lambat laun, kata (Personality) berubah menjadi satu
istilah yang mengacu pada gambaran social tertentu yang diterima oleh
individu dari kelompok atau masyarakatnya, kemudian individu tersebut
diharapkan bertingkah laku sesuai dengan social (peran) yang
diterimanya
(Koswara,
1991:10).
Dalam penelitian kepribadian, terdapat berbagai istilah, seperti motif,
sifat, dan temperamen, yang menunjuk kekhasan permanent pada
perseorangan
(Berry,
et
al.,
1999
:141).
Pengertian atau definisi mengenai kepribadian yang bias dikemukakan
sedemikian banyaknya, lebih dari enam dasawarsa lalu, Allport (1971)
dalam bukunya Personality mendaftarkan tidak kurang dari lima puluh
definisi yang berbeda dan sejak itu jumlahnya kian bertambah banyak.
Allport
mendefinisikan
kepribadian
sebagai
berikut
:
Personality is the dynamic organization whitin the individual of those
psychophysical system that determine his unique adjustments to his
environment (Artinya : Kepribadian adalah organisasi-organisasi dinamis
dari system-sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-

caranya yang unik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.)


Dengan demikian berdasarkan devinisi diatas kepribadian memiliki
beberapa
unsur,
yakni
sebagai
berikut
:
1. Kepribadian itu merupakan organisasi yang dinamis. Dengan kata lain
ia
tidak
statis,
tetapi
senantiasa
berubah
setiap
saat.
2. Organisasi tersebut terdapat dari dalam individu, jadi tidak meliputi halhal
yang
berbeda
di
luar
diri
individu.
3. Organisasi itu berdiri atas system psikis, yang menurut Allport meliputi
antara lain sifat dan bakat serta system fisik (Anggote dan organ-organ)
yang
saling
terkait.
4. Organisasi itu menentukan corak penyesuaian diri yang unik dari tiap
individu
terhadap
lingkungan.
Definisi deterministic mengenggap kepribadian sebagai keadaan internal
individu sebagai organisasi proses dan struktur dalam diri seseorang.
Kepribadian adalah apa yang menentukan perilaku dalam situasi yang
ditetapkan dan dalam kesadaran jiwa yang ditetapkan (Cattel, 1965 : 27).
Seperti yang dikemukakan Allport Kepribadian terletak dibalik tindakan
tertentu dan dalam individu dan system yang menyusunkepribadian
dalam segala hal adalah kecenderungen yang menentukan (Allport,
1971).
Jika
didefinisikan
seperti
itu,
kepribadian
adalah
:
1. Seperangkat kecenderungan kecondongan internal yang terorganisasi
untuk
berperilaku
dengan
cara
tertentu.
2. Keberadaan tersendiri yang disimpulkan dari perilaku, bukan yang
langsung
dapat
diamati.
3. Agar stabil dan konsistem dalam perjalanan waktu dan dipicu oleh
rangsangan
yang
fungsinya
sepadan.
4. Kekuatan yang menjadi penengah diantara penghargaan seseorang
kepada
dunia
dan
kegiatan
dalam
suatu
situasi.
5. Membantu individu dalam menyaring realitas, mengungkapkan
perasaan, dan mengidentifikasikan diri kepada orang lain.
Para Psikolog dan filsuf nampaknya mulai sepakat bahwa manifestasi
kepribadian
dapat
dilihat
dari
:
1.
Kenyataan
yang
bersifat
biologis
(Umwelt).
2.
Kenyataanpsikologis
(Eigenwelt).
3.
Kenyataan
social
(Mitwelt).
Ketiga pernyataan ini menggejala menjadi satu kesatuan yang disebut
dengan kepribadian. Pandangan seperti diatas tidak jauh berbeda dengan
yang pernah dinyatakan oleh seorang psikolog termuka Gordon W. Allport
(1897-1967) : Kepribadian adalah organisasi dinamis dari sistim-sistim
psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesusiannya yang unik
terhadap
lingkungan.
Kata dinamis menunjukkan bahwa kepribadian dapat berubah ubah, dan
antar berbagai komponen kepribadian (yaitu sistim-sistim psikofisik)
terdapat hubungan yang erat. Hubungan-hubungan itu terorganisir
sedsemikian rupa sehingga secara bersama-sama mempengaruhi polapola perilakunya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Definisi
psikologis
dari
kepribadian
Kepribadian itu merupakan sistim dari semua tingkah laku seseorang yang
unik, terintegrasikan dan yang terorganisasikan. Sistim tingkah laku ini
merupakan respon-respon yang komplek seperti cara seseorang melijat
dunia, tujuan-tujuannya dan interesse-interessenya, apa yang ia sukai dan
tak sukai, kemampuannya untuk berbuat sesuatu, cara-cara ia
memecahkan persoalan-persoalan tertentu, bagaimana pandangannya
terhadap seseorang dan apa yang ia inginkan dari kehidupannya. Semua
tingkah lakuknya, termasuk pola-pola tingkah laku yang langsung atau
tidak dapat dilihat meliputi sistim tingkahlaku yang terorganisasikan,
inilah
yamg
disebut
dengan
kepribadian.
Tiap aspek dari kepribadian ini bukanlah merupakan suatu elemen yang
dapat dijumlahkan atau dikurangkan dari individu itu secara sederhana

Ada tiga masalah penting yang perlu diperhatikan dalam perkembangan


kepribadian
seseorang
:
1. Perkembangan itu relative cukup stabil, terutama yang menyangkut
pola-pola
penyesuaian
social,
2. Bagaimana pandangan pribadi yang berkembang itu tentang diri
pribadinya sendiri, karena di dalam konsep-konsep, yang dipelajarinya
terdapat konsep tentang dirinya sebagai pribadi, bagaimana konsep itu
telah terbentuk, bagaimana konsep itu mempengaruhi perubahan perilaku
dan
interaksi
social.
3. Bagaimana bentuk proses sosialisasi yang mempengaruhi kelesterian
dan kesetabilan perkembangan kepribadian yang bersangkutan.
b.
Tipe-tipe
kepribadian
Pada dasarnya setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda satu
sama lain. Penelitian memgenai kepribadian manusia sudah dilakukan
paraahli sejak dulu kala. Kita mengenal Hippocrates dan Galenus (400 SM
dan 175 M) yang mengemukakan bahwa manusia dapat dibagi menjadi
empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada di dalam tubuhnya.
1. Melanzholicus (melankolisi) yaitu orang-orang yang banyak empedu
hitamnya. Sehingga orang-orang dengan tipe ini selalu bersikap murung
atau
muram
psimistis,
dan
selalu
menaruh
rasa
curiga.
2. Sangunicus (Sanguinisi) yakni orang-orang yang banyak darahnya.
Sehingga tipe orang-orang ini selalu menunjukkan wajah yang berseriseri,
periang
atau
selalu
gembira
dan
bersikap
optimistis.
3. Flegmuticus (Flegmatisi) yaitu orang yang banyak lendirnya. Prang ini
sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis,
pembawaannya
tenang,
pendiriannya
tidak
mudah
berubah.
4. Cholercus (kolerisi) yakni yang banyak empedu kunimgnya. Orang tipe
ini bertubuh besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar
mengendalikan
diri,
sifatnya
garang
dan
agresif.
Eduard Spranger, ahli ilmu jiwa dari Jerman, mencoba mengadakan
penyelidikan kepribadian manusia dengan cara lain. Ia mengadakan
penggolongan tipe manusiaberdasarkan sikap manusia itu terhadap nilai
kebudayaan yang hidup di dalam masyarakat. Nilai kebudayaan itu di
baginya menjadi enam golongan, yaitu : politik, ekonomi, social, seni,
agama, dan teori. Berdasarkan hal tersebut, ia membagi kepribadian
manusia
menjadi
enam
golongan.
1. Manusia politik. Yakni, orang bertipe politik ini memiliki sifat suka
menguasai
orang
lain.
2. Manusia ekonomi. Yakni, suka bekerja dan mencari untung merupakan
sifat-sifat
yang
paling
dominan
pada
tipe
oang
ini.
3. Manusia social. Yakni, orang bertipe social memiliki sifat-sifat suka
mengabdi
dan
berkorban
untuk
orang
lain.
4. Manusia seni. Yakni, jiwa orang yang bertipe ini selalui dipengarruhi
oleh
nilai-nilai
keindahan.
5. Manusia agama. Yakni, bagi mereka yang lebih penting dalam hidup
ialah
mengabdi
kepada
Tuhan
Yang
Maha
Esa.
6. Manusia teori. Yakni, sifat-sifat manusia ini antara lain suka berfikir,
berfilsafat,
dan
mangabdi
pada
imu.
c.
Faktor
yang
membentuk
kepribadian
Faktor lain yang besar pengaruhnya terhadap kepribadian adalah hasil
hubungan kita dengan lingkungan, atau pengalaman, para ahli
membedakan dua macam pengalaman yang mempengaruhi kepribadian
manusia,
yaitu
:
a. Pengalaman Umum, yaitu pengalaman yang dihayati oleh hampir
semua anggota masyarakat atau bahkan oleh semua manusia.
Pengalaman ini manjadi bagian diri seseorang yang sama dengan banyal
orang
lain
di
sekitarnya.
b. Pengalaman Unik, Setiap orang mempunyai pengalaman-pengalaman
yang hanya pernah dialami oleh dirinya sendiri.karena sejak lahir

seseorang anak sudah membawa cirri-ciri tertentu serta kecenderungankecenderungan tertentu, maka reksinya terhadap lingkungan terhadapnya
bersifat khas. Pengalaman unik ini menentukan bagian darinya yang
bersifat
khas,
unik,
dan
tak
ada
duanya.
d.
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
kepribadian
seseorang.
Pribadi manusia itu dapat berubah, itu berarti bahwa pribadi manusia itu
mudah atau dapat di pengaruhi oleh sesuatu. Karena itu ada usaha
mandidik pribadi, membentuk pribadi, membentuk watak, atau mendidik
watak anak. Yang artinya adalah nerusaha untuk memperbaiki kehidupan
anak yang nampak kurang baik, sehingga menjadi baik. Misalnya, anak
malas,
dapat
berubah
menjadi
rajin,
dll.
e.
Manfaat
pengetahuan
psikologi
kepribadian
Yang dapat merasakan manfaat mengetahui pribadi seseorang, terutama
adalah orang atau pribadi itu sendiri. Caranya adalah dengan
berintropeksi yaitu dengan melihat kepada diri sendiri. Dengan demikian
akan dapat selalu mengintropeksi kekeliruan-kekeliruan yang telah
diperbuatnya.
Oleh karena itu psikologi kepribadian ini dimasukkan, sebagai salah satu
psikologi khusus yang harus dipelajari oleh setiap calon guru, manfaatnya
adalah
sebagai
berikut
:
1. Agar guru dapat mengenal sifat-sifat anak-anaknya masing-masing
sehingga
pelayanannya
dapat
mudah
diterima
si
anak.
2. Guru mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk memberikan
pembinaan lebih jauh dan mendalam terhadap bakat dan kegemaran
anak-anaknya, yaitu demi kehidupan anak di kemudian hari.
3. Dengan mengenal sifat-sifat si anak seorang anak dapat mencegah
kemungkinan
timbulnya
frustasi
bagi
anak.
4. Dengan mengetahui keadan pribadi anak, guru akan dapat dengan
tepat melakukannya, menolongnya, yang diharapkan si anak dapat
segera
dapat
diserahi
tanggung
jawab
sendiri.
5. Dengan mengenal anak itu, guru akan terhindar dari kemungkinan
timbul
konflik
dengan
anak-anaknyasendiri.
BAB
PENUTUP

III

A.
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan dan
kepribadian
adalah
sebagai
berikut
:
1.
Pengertian
Perkembangan
:
Pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses kearah yang lebih
baik atau sempurna dan tidak begitu saja dapat di ulang lagi.
Perkembangan menunjuk ada perubahan yang bersifat tetap dan tidak
dapat
di
putar
kembali
2.
Pengertian
Kepribadian:
Kepribadian adalah organisasi-organisasi dinamis dari system-sistem
psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik
dalam
menyesuaikandiri
dengan
lingkungannya.
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam
hubungan sosial. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai
kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang dilingkungannya.
Faktor lingkungan keluarga merupakan faktor yang paling mempengaruhi
perkembangan sosial anak, semakin bagus tata cara keluarga, maka
perkembangan
sosial
anak
juga
semakin
bagus.
Perkembangan sosial juga sangat mempengaruhi kepribadian anak, anak
yang mempunyai daya intelegensi yang tinggi, perkembangan sosial yang
baik
pada
umumnya
memiliki
kepribadian
yang
baik.
B. Saran

Adapun beberapa saran yang dapat kami sampaikan yaitu :


1. Berikanlah bimbingan juga pengarahan tambahan atau lebih kepada
siswa bila diperlukan untuk mencapai perkembangan yang maksimal.
2. Lakukanlah secara continue / berkesinambungan untuk mengetahui
keadaan
kepribadian
siswa.
3. Lakukanlah beberapa teknik tes atau non-tes yang bisa memecahkan
masalah
yang
dihadapi
siswa.
BAB IV

DAFTAR

PUSTAKA

Knoers, Monks,
Universitas

dkk.

2006., Psikologi
Gajah

Perkembangan,
Mada.

Yogyakarta :

Sunarto, Perkembangan Peserta Didik, Jakarta : PT Rineka Cipta.


Sujanto Agus. 1927. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Aksara Baru.
Sobur

Alex.

2003.

Psikologi

Umum.

Bandung

:Pustaka

Setia.

Partowisastro Koestoer. Dinamika Dalam Psikologi Pendidikan. Jakarta :


Penerbit
Erlanga
.
Soeitoe
Samuel.
Psikologi
EkonomiUniversitas Indonesia.

Pendidikan.

Jakarta

Fakultas

JENIS-JENIS KEBUTUHAN ANAK USIA SD


Dorongan atau motif Keadaan di dalam diri pribadi seseorang yang
merupakan pemicu dalam melakukan suatu perbuatan untuk mencapai
suatu tujuan .
Thomson : Need/kebutuhan untuk menunjuk suatu drive atau dorongan.
Kebutuhan individu dapat dibedakan menjadi 2 kelompok :
1.Kebutuhan Fisiologis
2.Kebutuhan Psikologis
Kebuhan menurut Maslow ada 7 aspek kebutuhan :
1.Kebutuhan Fisiologis : rasa lapar,haus,dsb.
2.Kebutuhan akan rasa aman :
3.Kebutuhan rasa cinta dan rasa memiliki
4.Kebutuhan akan penghargaan
5.Kebutuhan estetik
6.Kebutuhan mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya
7.Kebutuhan aktualisasi diri
Menurut Landgren
1.Kebutuhan jasmaniah termasuk keamanan dan pertahanan diri
2.Kebutuhan Perhatian dan kasih sayang
3.Kebutuhan untuk memiliki
4.Kebutuhan aktualisasi diri.
DeCecco dan Grawford mengajukan 4 peranan Guru untuk memberikan
dan meningkatkan motivasi siswa, yaitu :
1.Membangkitkan semangat siswa
2.Memberikan harapan yang realistis
3.Memberikan insentif
4.Memberi pengarahan
Hurlock : bahwa dalam pemenuhan beberapa kebutuhan anak, disiplin
dapat digunakan.
MODUL 4
KEGIATAN BELAJAR 1
KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH MENENGAH
A.PERKEMBANGAN FISIK/JASMANI
Pada usia 11-12 tahun tinggi badan anak laki-laki dan wanita tidak jauh
berbeda,pada usia 12-13 tahun pertambahan tinggi badan anak wanita
lebih cepat dibandingkan laki-laki, tetapi pada usia 14-15 tahun anak lakilaki akan mengejarnya, sehingga usi 18-19 tahun tinggi badan anak lakilaki jauh dari wanita lebih tinggi sekitar 7 s/d 10 cm.
Abin Syamsudin Makmun > Memetakan Profil perkembangan fisik dan
perilaku psikomotorik antara remaja awal dengan remaja akhir.
Menurut Urie Bronfenbrenner : ada 4 tingkatan pengaruh lingkungan yang
merentang dari lingkungan :
1) Pengaruh sistem Mikro,yaitu lingkungan kehidupan sehari-hari, seperti
lingkungan sekolah,rumah,sekolah.
2) Pengaruh lingkungan Sistem Meso,yaitu Keterkaitan antarvariasi
tingkatan sistem yang melibatkan individu di dalamnya.
3) Pengaruh lingkungan Sistem Exo, yaitu pengaruh institusi lingkungan
yang lebih besar
4) Pengaruh lingkungan yang paling luas adalah pengaruh sistem makro
Ada 3 faktor dominan yang mempengaruhi perkembangan siswa SLTP dan
SMU yaitu pembawaan,lingkungan dan waktu.
KEGIATAN BELAJAR 2
PERBEDAAN INDIVIDU DAN KEBUTUHAN ANAK USIA SEKOLAH MENENGAH
Perbedaan individu usia sekolah menengah dibedakan berdasarkan dalam
kemampuan potensial ( potensial ability ) dan kemampuan nyata ( actual
ability ).
Perbedaan individual siswa sekolah menengah secara rinci
1) Perbedaan dalam intelegensi

Intelegensi adalah kemampuan umum seseorang dalam memecahkan


masalah dengan cepat,tepat dan mudah.
Indikator perilaku inteligen menurut Whiterington :
1.Kemudahan dalam menggunakan bilangan
2.Efisiensi dalam berbicara
3.Kecepatan dalam pengamatan
4.Kemudahan dalam mengingat
5.Kemudahan dalam memahami hubungan
6.Imajinasi.
Vernon menjelaskan tentang intelegensi dalam 3 kategori,yaitu
biologis,psikologis dan operasional.
Thurstone : teori uni faktor yaitu bahwa intelegensi merupakan faktor
yang tunggal.Spearman mengenalkan teori 2 faktor ,yaitu faktor
kemampuan guru(general factor) dan Bakat (specific factor ).
Guilford Teori Multifaktor : adanya 150 faktor kemampuan manusia.
Howard Gardner memperkenalkan teori Multiple intelegences,yaitu bahwa
intelegensi manusia terdiri 8 intelegensi( bahasa,Logis-matematika,tilikan
ruang,body kinesthetic,musik,antarpribadi,intrapribadi,dan natralist).
Murray mengelompokkan kebutuhan menjadi 2 kelompok besar
1.Viscerogenic adalah kebutuhan secara fisiologis
2.Psychogenic adalah kebutuhan sosial/social motives