Está en la página 1de 10

A.

CONTOH KASUS
1. Membeli atau Membuat Sendiri:
PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) berencana membeli dua pembangkit listrik
tenaga air (PLTA) milik PT. Inalum (Indonesia Asahan Alumunium), yaitu PLTA Sigura-gura
dan PLTA Tangga, untuk mengatasi krisis listrik di Sumatera Utara. Saat ini sistem
kelistrikan di Sumut defisit 200 Mw (megawatt) sehingga membutuhkan pasokan listrik
tambahan. Untuk mengatasi krisis tersebut sementara ini, PLN dan Inalum menyepakati
perjanjian peningkatan tukar daya listrik sebesar 90 Mw selama enam minggu. Selain itu,
pemadaman bergilir juga terus dilakukan demi penghematan energi listrik.
Wacana pembelian dua pembangkit milik Inalum tersebut muncul seiring akan
habisnya kontrak Jepang dengan Inalum pada tahun 2013 nanti. Inalum adalah proyek
kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan investor asal Jepang yang tergabung dalam
Nippon Asahan Alumunium Co.Ltd (NAA). Jepang memiliki 58,87% saham, sedangkan
Pemerintah Indonesia punya 41,13%.
Mengenai biaya pembelian dua PLTA Inalum berkapasitas 600 MW tersebut
diperkirakan akan menelan biaya sebesar US$400 juta atau setara Rp 4 triliun. Alternatif
lainnya adalah dengan membangun sendiri pembangkit listrik tenaga air baru di wilayah
Sumut, yang diestimasikan memerlukan dana Rp 2 triliun untuk satu PLTA berkapasitas 300
MW. Itu belum termasuk biaya izin dan survey. Sedangkan Rp 4 triliun pembelian PLTA
Inalum itu sudah tinggal pakai.
Berikut adalah informasi-informasi diferensial yang diperlukan dalam proses
pengambilan keputusan, apakah membangun sendiri atau membeli PLTA PT. Inalum:
Kapasitas pembangkit yang dimiliki PLN di Sumut saat ini hanya 900-1.000 MW.
Kebutuhan listrik saat beban (pukul 18.00-23.00) mencapai 1.200 MW. Oleh karena itu,
masyarakat Sumut selalu mengalami pemadaman listrik bergilir. Kondisi itu berdampak
pada ekonomi karena banyak pabrik yang tutup atau mengurangi jam produksinya.
Rumah tangga juga mengeluh karena peralatan elektroniknya cepat rusak akibat listrik
sering mati tiba-tiba.
Pembangunan pembangkit listrik baru akan memakan waktu antara 3-5 tahun dalam
proses konstruksinya, sehingga PLTA ini baru bisa dinikmati 3-5 tahun lagi. Sedangkan
PLTA Inalum akan dapat langsung pakai dan dapat mengatasi permasalahan kurangnya
pasokan listrik di Sumut.
Kapasitas terpasang dua PLTA Inalum mencapai 604 MW, kapasitas puncak 513 MW
dan kapasitas pasti sebesar 426 MW. Sedangkan kebutuhan pasokan tambahan listrik di
Sumut hanya 200 MW lagi. Nantinya akan ada idle capacity akibat tidak terpakainya
sebagian kapasitas PLTA tersebut. Namun, hal ini dalam beberapa waktu ke depan akan
mendatangkan keuntungan karena dapat mengakomodasi peningkatan kebutuhan
pemakaian listrik di masa mendatang.
Dana untuk membangun Pembangkit Listrik baru (2 T) lebih murah dibandingkan
membeli PLTA Inalum (4 T).

Di bawah ini kami sajikan kalkulasi estimasi pendapatan dan biaya diferensial selama
lima tahun ke depan pada masing-masing alternatif keputusan sebagai pertimbangan
kuantitatif dalam pengambilan keputusan:

A. Alternatif Pembelian Pembangkit Listrik PT. INALUM


(dalam juta rupiah)

Tahun

Pendapatan

Biaya
Depresiasi

Biaya
Operasional
dan
Maintenance

Beban
Bunga

Total Laba
Bersih
sebelum
pajak

Peningkatan
Pajak

Cash
Inflow

PVIF,n

PV Cash
Inflow

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)=(2)-(3)-(4)(5)

(7)= (6)*25%

(8)=(2)-(4)(5)-(7)

(9)

(10)=(8)/ (9)

2013

880.000

120.000

160.000

120.000

480.000

120.000

480.000

1,06000

452.830

2014

880.000

120.000

160.000

97.397

502.603

125.651

496.952

1,12360

442.285

2015

880.000

120.000

160.000

74.117

525.883

131.471

514.412

1,19102

431.911

2016

880.000

120.000

160.000

50.138

549.862

137.466

532.397

1,26248

421.708

2017

880.000

120.000

160.000

25.436

574.564

143.641

550.923

1,33823

411.681

4.400.000

600.000

800.000

367.089

2.632.911

658.228

2.574.684

Keterangan :
1. Pendapatan
Asumsi daya yang diproduksi adalah dengan perkiraan pendapatan untuk PLTA 3 MW =
Rp 1.100.000.000,-/bulan, daya yang disuplai untuk memenuhi kebutuhan listrik di
Sumatera Utara sebesar 200 MW, maka pendapatan yang diterima per tahun adalah
(200MW/3MW)x Rp 1.100.000.000x 12 = Rp 880 Miliar.
2. Biaya Depresiasi
Asumsi masa manfaat 30 tahun dengan sisa manfaat 10 %, maka biaya depresiasi per
tahun adalah (Rp. 4 Triliun x 90%)/30 = Rp 120 Miliar
3. Biaya Operasional & Maintenance
Perkiraan biaya operasional untuk PLTA 3 MW = Rp 200.000.000,-/Bulan, maka biaya
operasional & maintenance per tahun adalah (200MW/3MW)x Rp 200.000.000x 12 = Rp
160Miliar.
4. Beban Bunga
Asumsi Suku Bunga per tahun adalah 3% dan masa pinjaman selama 5 tahun, maka
Beban Bunga per tahun adalah:
(dalam juta rupiah)

Pinjama
n Awal Bunga
Tahun

Nilai
Pinjaman
Akhir
Tahun

Angsura
n

2.160.416

(1)
4.000.00
0
3.246.58
2
2.470.56
2
1.671.26
1
847.981

(2)=(1)*3
%

(3)=(1)+(
2)

(4)

120.000

4.120.000

873.418

97.397

3.343.980

873.418

74.117

2.544.679

873.418

50.138

1.721.399

873.418

25.436

873.418

873.418
4.367.08
9

*Perhitungan Angsuran:
Present
Value

Angsuran [PVIFA 3%; 5


th]
Present Value
[PVIFA 3%; 5 th]

Angsuran

Angsuran

4 Triliun
4.579707

Angsuran

Rp 873,418 Miliar

Dengan alternatif pembelian pembangkit listrik PT. Inalum, dari tabel di atas dapat terlihat
akan memberikan total pendapatan selama 5 tahun sebesar Rp. 2.160.416.000.000 (present
value).
B. Alternatif Membangun Sendiri Pembangkit Listrik
Pekerjaan
Desk Study
Field Survey
Pengenalan lapangan. Pengenalan dengan
Pemerintah Daerah dan masyarakat setempat.
Pengukuran awal.
Pre Feasibility Study
Perhitungan awal.
Licensing
Perizinan ke Pemerintah Daerah, Direktorat
Jenderal LPE / Menteri ESDM dll.
Feasibility Study
Topography. Hydro Meteorology. Geological
Condition. Legal Frame Work. License. Tariff.
Power Market. Project Layout / Basic Design.
Power & Energy Production. Project Sizing.
Civil Work. Mechanical Electrical. Transmission
Systems. Contraction Planning. Project
Costing. Economic Analysis. Financial Analysis.
Risk Analysis. Conclusion & Recommendation.
Land Acquisition & Construction 300 MW

Biaya
Rp.
Rp.

10.000.000,25.000.000,-

Rp.

50.000.000,-

Rp.
Rp.

15.000.000,900.000.000,-

Rp.

2.100.000.000.00

Biaya rata-rata pembebasan lahan dan


kontruksi pembangkit listrik per 1 MW = Rp.
7.000.000.000,-.
Biaya konstruksi sangat tergantung kepada
ukuran bendungan, lokasi pembangkit,
panjang pipa pesat, kapasitas turbin dll.
Maintaining & Office
Suku cadang. Pemeliharaan. Perbaikan.
Transportasi. Komunikasi. SDM. Kantor.
Manajemen.

Rp.

200.000.000,-

2.101.2
00.000.000

Total
(sumber data: www.listriktenagaair.com)

Biaya
Operasional
dan
Maintenance

Beban
Bunga

Total Laba
Bersih
sebelum
pajak

Peningkatan
Pajak

Cash
Inflow
(Outflow)

PVIF,n

PV Cash
Inflow
(Outflow)

(4)

(5)

(6)=(2)-(3)-(4)(5)

(7)= (6)*25%

(8)=(2)-(4)(5)-(7)

(9)=PVIF,6%

(10)=(8)/ (9)

Tahun

Pendapatan

Biaya
Depresiasi

(1)

(2)

(3)

2013

63.036

(63.036)

(15.759)

(47.277)

1,06000

(44.601)

2014

51.163

(51.163)

(12.791)

(38.372)

1,12360

(34.151)

2015

38.934

(38.934)

(9.733)

(29.200)

1,19102

(24.517)

2016

880.000

63.036

160.000

26.337

630.627

157.657

536.006

1,26248

424.567

2017

880.000

63.036

160.000

13.361

643.603

160.901

545.738

1,33823

407.807

1.760.000

126.072

320.000

192.831

1.121.097

280.274

966.895

Keterangan :
Asumsi masa pembangunan adalah 3 tahun, sehingga pada tahun ke empat (2006) baru bisa
difungsikan.
1. Pendapatan
Asumsi daya yang diproduksi adalah dengan perkiraan pendapatan untuk PLTA 3 MW =
Rp 1.100.000.000,-/bulan, daya yang disuplai untuk memenuhi kebutuhan listrik di
Sumatera Utara sebesar 200 MW, maka pendapatan yang diterima per tahun adalah
(200MW/3MW)x Rp 1.100.000.000x 12 = Rp 880 Miliar.
2. Biaya Depresiasi
Nilai Aktiva
Rp 2.101.200.000.000,Nilai residu (10%)
Rp 210.120.000.000,1.891.080.000.000,Beban depresiasi per tahun Rp
63.036.000.000,*estimasi umur manfaat aktiva 30 tahun
3. Biaya Operasional & Maintenance
Perkiraan biaya operasional untuk PLTA 3 MW = Rp 200.000.000,-/Bulan, maka biaya
operasional & maintenance per tahun adalah (200MW/3MW)x Rp 200.000.000x 12 = Rp
160Miliar.

729.105

4. Beban Bunga
Asumsi dilakukan pinjaman pada awal pembangunan Pembangkit Listrik senilai aktiva,
yaitu Rp 2.101.200.000.000, dengan Suku Bunga per tahun adalah 3% dan masa
pinjaman selama 5 tahun, maka Beban Bunga per tahun adalah:
(dalam juta rupiah)

(2)=(1)*3
%

Nilai
Pinjaman
Akhir
Tahun
(3)=(1)+(
2)

63.036

2.164.236

458.806

51.163

1.756.593

458.806

38.934

1.336.720

458.806

26.337
13.361

904.251
458.806

Pinjama
n Awal Bunga
Tahun
(1)
2.101.20
0
1.705.43
0
1.297.78
6
877.913
445.445

Angsura
n
(4)

458.806
458.806
2.294.03
4
Dengan alternatif PLN membangun sendiri pembangkit listriknya, dari tabel di atas dapat
terlihat akan memberikan total pendapatan di tahun 2017 sebesar Rp. 729.105.000.000,(present value). (Nilai buku aktiva di akhir tahun 2017 setelah 2 tahun masa pakai adalah
sebesar Rp 1.975.128.000.000)
Dengan demikian, bila keputusan membeli akan mendatangkan pendapatan diferensial yang
lebih besar dibandingkan membangun sendiri, dan dengan mempertimbangkan berbagai
informasi kualitatif, maka sebaiknya diambil keputusan untuk membeli 2 PLTA milik PT.
Inalum.
Tabel Perbandingan
N Uraian
o
1 Pendapatan selama 5 tahun (2013-2017)
2 Biaya Operasional & Maintenance
selama 5 tahun
3 Beban Bunga
4 Penambahan Pajak

Beli PLTA
Inalum
4.400.000
(800.
000)

(dalam juta rupiah)


Membangun sendiri
1.760.000
(320.
000)
(192.831)

6 Cash Inflow

(367.089)
(658.228
)
2.574.
684

7 Present Value Cash Inflow

2.160.416

729.105

(280.
274)
966.
895

8 Biaya Depresiasi selama 5 tahun

(600.000)

9 Total
10 Pembayaran pinjaman

(126.072)

1.560.416

603.033

(4.000.000)

(2.101.200)

11 Book Value pada akhir 2017

3.400.
000

1.975.
128

960.
Benefit

416

476.
961

2. Menambah dan Mengurangi Kantor


Contoh Kasus Pembentukan Kantor Baru
Pada pertengahan 2010, KPKNL Sorong merupakan satuan kerja vertikal di bawah DJKN
yang memiliki 21 orang pegawai (1 Kepala Kantor, 5 Kepala Seksi dan 15 orang pelaksana).
Wilayah kerja KPKNL Sorong meliputi 12 kota dan kabupaten sebagai berikut:
KPKNL Sorong 17103

Kota Sorong
Kabupaten Sorong
Kabupaten Sorong Selatan
Kabupaten Raja Ampat
Kabupaten Maybrat
Kabupaten Tambraw
Kabupaten Manokwari
Kabupaten Teluk Bintuni
Kabupaten Teluk Wondama
Kabupaten Fakfak
Kabupaten Kaimana
Kabupaten Mimika

KPPN Sorong
KPPN Sorong
KPPN Sorong
KPPN Sorong
KPPN Sorong
KPPN Sorong
KPPN Manokwari
KPPN Manokwari
KPPN Manokwari
KPPNFakfak
KPPNFakfak
KPPNTimika

Dari 12 kota dan kabupaten tersebut pada tahun 2010 KPKNL harus melayani 623 Satker
penerima DIPA APBN yang tersebar di wilayah tersebut(jumlah tersebut merupakan 2 kali
jumlah yang dilayani pada tahun 2007 dikarenakan adanya pemekaran Provinsi Papua Barat
dan otonomi daerah). Salah satu layanan yang diberikan adalah layanan rekonsiliasi data
BMN dan SAI semester I dan II Satuan Kerja, di mana laporan rekonsiliasi ini termasuk
sebagai salah satu syarat diberikannya opini Wajar Tanpa Pengecualian. Waktu rekonsiliasi
adalah tanggal 1 - 10 Juli 20xx (untuk laporan semester I) dan tanggal 1- 14 Januari 20xx
(untuk laporan semester II dan tahunan). Adapun Norma waktu layanan rekonsiiasi adalah 30
menit, di mana seksi Pengelolaan Kekayaan Negara (PKN) yang melakukan fungsi
rekonsiliasi terdiri dari 3 orang pelaksana (golongan II). Sehingga dapat dilakukan
perhitungan sebagai berikut:

waktu kerja Senin - Kamis


allowance

= {(07.30 - 12.15) + (13.00 - 17.00)} - 25% time

= ( 4 jam 45 menit + 4 jam) - 25%


= 525 menit - (25% x 525 menit)
= 393,75 menit (dibulatkan 390 menit)

waktu kerja Jum'at


allowance

= {(07.30 - 11.30) + (13.15 - 17.00)} - 25% time


= ( 4 jam + 3 jam 45 menit) - 25%
= 465 menit - (25% x 465 menit)
= 348 menit (dibulatkan 360 menit)

Maka jumlah normal rekonsiliasi yg bisa dilakukan 1 pegawai pada hari Senin - Kamis
adalah = 13 (390/30) rekonsiliasi dan pada hari jum'at adalah 12 rekonsiliasi (360/30). Serta
pada tanggal 1 - 10 Juni 20xx terdapat kemungkinan minimum terdapat 2 hari libur (1x sabtu
+ minggu) dan maksimum 4 hari libur (2x sabtu + minggu) sehingga meskipun hari libur
minimum (2 hari) dan jum'at 1 pegawai dapat melakukan 13 rekonsiliasi maka jumlah yang
normal rekonsiliasi dapat dilakukan KPKNL selama 8 hari kerja dengan 3 orang pegawai
adalah:
Jumlah Rekon Normal

= 8 hari x 3 pegawai x 13 berkas rekonsiliasi


= 312 berkas rekonsiliasi

Maka jelas terdapat overload beban kerja pada seksi PKN KPKNL Sorong. Padahal layanan
penyampaian laporan rekonsiliasi tepat waktu termasuk indikator kerja utama (IKU) KPKNL.
Adapun selain permasalahan tersebut ternyata terdapat pula masalah berupa minimnya Satuan
Kerja yang datang melakukan rekonsiliasi dikarenakan buruknya topografi Papua
menyebabkan perjalanan antar kota harus dilakukan melalui jalan udara/laut sehingga biaya
perjalanan dinas yang dikeluarkan besar dan belum semua satuan kerja memiliki alokasi
anggaran untuk perjalanan ini (mayoritas Satuan Kerja yang melakukan rekon tepat waktu
adalah satker vertikal KD/KP, sedangkan SKPD DK,TP, dan UB cenderung terlambat
melakukan pelaporan) sehingga pejabat satuan kerja enggan melakukan perjalanan dinas.
Menghadapi permasalahan ini Seksi PKN mengajukan beberapa alternatif kebijakan pada
Kepala Kantor terkait usaha mencapai target IKU dalam rekonsiliasi semster I Tahun
Anggaran 2010 antara lain:
1. Memohon tambahan Pegawai baik Outsourcing ataupun Insourcing
Dengan adanya tambahan pegawai maka jumlah berkas yang dapat diselesaikan seksi
PKN selama waktu rekonsiliasi tentu dapat ditingkatkan
Berhubung masa pelaporan telah dekat dan pengajuan pegawai mungkin memakan
banyak waktu (sehingga pada saat pelaporan mungkin penambahan pegawai
insourcing belum dapat dipenuhi) maka untuk periode ini pegawai outsource/alih daya

dari seksi lain pun sangat dihargai guna membantu meringankan beban kerja seksi
PKN yang melonjak di bulan Juli dan Januari.
2. Mengirim pegawai sebagai perwakilan KPKNL di KPPN
KPKNL mendekatkan layanan ke pelanggan sehingga jumlah pelanggan yang
terjaring dengan pelayanan 1 atap bersama KPPN lebih banyak sehingga
diharapkan target IKU dapat tercapai
KPKNL telah menjalin hubungan yang baik dengan pihak RRI, sehingga
pengumuman melalui RRI dapat dilakukan secara cuma-cuma
Harus mengirimkan surat pemberitahuan kepada Satuan Kerja yang berada di luar
Kota dan Kabupaten Sorong (440 Satuan Kerja) sehingga diperlukan biaya
tambahan berupa pencetakan dan pengiriman surat di mana PT. Pos Indonesia
sendiri mengenakan tarif Rp. 10.000,- untuk tiap surat ini berarti KPKNL harus
mengeluarkan Rp. 4.400.000,- hanya untuk mengirimkan surat.
Berikut disajikan perhitungan biaya tambahan yang harus dikeluarkan KPKNL
Sorong bila menjalankan alternatif ini:
Biaya Tiket Pesawat untuk 2 org pegawai PP = 2 x 2 x 1.500.000,-* Rp. 6.000.000,Uang Saku Harian Pegawai = 2 x 10 x Rp 400.000,-**
Uang Hotel = 2 x 9 x Rp 370.000 **
Biaya Pengiriman Surat = 440 x Rp 10.000
Total Biaya Tambahan yang dikeluarkan

Rp. 8.000.000,Rp. 6.660.000,Rp. 4.400.000,Rp. 24.040.000,-

*(1 standby di SOQ 1 ke MKW dan 1 ke FAQ, pada Juli dan Januari harga tiket
mahal dikarenakan tingginya permintaan yang didorong tingginya
jumlahperjalanan dinas, Rp. 1.500.000,- merupakan pagu tertinggi SBU pesawat
domestik ekonomi)
** Sesuai SBU 2010, PNS golongan II
Sebagai tambahan informasi umumnya pegawai seksi lain banyak yang
mengajukan menjadi penggembira dinas sehingga bila dituruti biaya perjalanan
dinas dapat membengkak tapi bila tidak dituruti maka moral pegawai tersebut di
kantor menurun
3. Membuka layanan e-rekonsiliasi
Dengan berkembangnya Teknologi Informasi maka rekonsiliasi dimungkinkan
dilakukan elektronik. Di mana satuan kerja hanya perlu mengirim data sesuai format
yang diminta KPKNL kemudian KPKNL akan mengirimkan hasil rekonsiliasi (atau
pemberitahuan penolakan bila terdapat permasalahan)berupa file PDF kepada Satuan
Kerja agar dapat dicetak sebanyak 3 rangkap dan ditandatangani Kuasa Pengguna
Anggaran masing-masing Satker untuk kemudian dikirim kembali ke KPKNL untuk
ditandatangani petugas dan kepala KPKNL dan 1 rangkap berkas dikirim kembali
kepada Satker. Berarti perjalanan dinas dapat ditiadakan dan hanya disubtitusikan
dengan biaya persuratan yang relatif jauh lebih murah. Bila layanan ini dapat
dimaksimalkan dan seluruh Satker yang berada di luar kota dan kabupaten Sorong
mampu memanfaatkana layanan ini maka, dengan asumsi seluruh 440 satker luar kota

dan kab Sorong semestinya mengirim KPA/pegawainya ke Sorong untuk melakukan


rekonsiliasi selama 4 hari maka dengan program ini negara mampu menghemat:
Uang tiket Pesawat= 440 satker x 2(PP) x Rp 1.500.000
Uang Saku Harian Pegawai= 440 satker x 4 malam x Rp 400.000
Uang Hotel= 440 satker x 3 malam x Rp 370.000
Total Penghematan Biaya Dinas

Rp. 1.320.000.000,Rp
704.000.000,Rp
488.400.000,Rp 2.512.000.000,-

Penghematan ini memiliki potensi dapat menjadi lebih besar, sebab seringkali yang
berangkat dinas adalah KPA (golongan III/IV) yang berarti uang hotel dan uang saku
harian dapat berlipat. Selain itu KPA umumnya membawa serta seorang staf yang
berarti uang dinas satker yang dihitung di atas dapat berlipat ganda. Maka program ini
diyakini memiliki potensi untuk menghemat biaya perjalanan dinas hingga lebih dari
Rp. 5.000.000.000 (Lima Milyar Rupiah)
4. Mengajukan Usulan Membuka Kantor Baru di Manokwari
Di luar dugaan semula, saat terjadi pemekaran provinsi Papua Barat Manokwari bukan
Sorong yang dijadikan sebagai ibukota Provinsi meski saat itu Sorong dirasa lebih siap
menjadi ibukota Provinsi. Akibatnya Manokwari berkembang pesat baik dari segi
ekonomi maupun birokrasi, pada tahun 2010 Kabupaten Manokwari sendiri telah
memiliki 200 satker aktif penerima DIPA APBN (didorong oleh berkembangnya Satker
Dekonsentrasi DK Provinsi) ini berarti 1/3 pelanggan KPKNL Sorong berada di
Manokwari, selain informasi tersebut juga terdapat beberpa informasi relevan lainnya
antara lain:
a. Telah terdapat permintaan dari Gubernur Papua Barat memohon dibangunnya kantor
vertikal DJKN di Manokwari, dalam hal ini Pemerintah Provinsi memberikan
dukungan dengan menyediakan tanah di daerah kompleks baru Kantor Gubernur
(daerah Arfai).
b. KPP Pratama Manokwari belum memiliki gedung sendiri (saat ini masih sewa) serta
dengan dipindahnya kompleks Gubernur maka KPPN Manokwari berada cukup jauh
dari kompleks kantor satuan kerja. Hal ini membuka kemungkinan untuk
dibangunnya Gedung Keuangan Negara (GKN) Manokwari di mana beban
pembangunan dan manfaat gedung dapat dibagi antara Setjen Kemenkeu, DJP,
DJPb dan DJKN.
c. Pada tahun 2009 dari 60 sengketa aset yang ditangani KPKNL Sorong yang
berujung pada beracara di Pengadilan. 47 Kasus terjadi di wilayah juridiksi
Pengadilan Negeri Manokwari. Begitu pula di tahun 2010 trend sebagian besar
kasusu terjadi di wilayah juridiksi PN Manokwari terus berlanjut, sehingga seksi
Hukum dan Informasi KPKNL harus mengeluarkan biaya lebih (perjalanan dinas)
untuk menyelesaiakan perkara dibandingkan apabila telah dibuka KPKNL
Manokwari. Perbedaan biaya dinas beracara di pengadilan dapat dilihat dari
perhitungan berikut:
Perjalanan Dinas Kilat (Hari pertama berangkat, hari kedua sidang, hari ketiga
pulang) dilakukan oleh pegawai golongan II

Uang Tiket Pesawat= 2(PP) x Rp 1.500.000,Uang Harian Pegawai = 3 hari x Rp 400.000,Uang Hotel = 2 malam x Rp 370.000,Biaya minimum beracara di PN Manokwari

Rp 3.000.000,Rp 1.200.000,Rp
740.000,Rp 4.940.000,-

Biaya perjalanan dinas dalam kota 1 hari x 1 pegawai


(Uang Harian)
Rp 110.000,Minimal biaya yang dapat dihemat untuk tiap kali sidang Rp 4.830.000,Perlu diketahui umumnya yang dikirim beracara di pengadilan adalah pegawai golongan
III yang memiliki pendidikan dan/atau pengalaman lebih di ranah hukum (S1 Hukum dan
yang lebih tinggi diutamakan, dan S1 saat menjadi pegawai akan menjadi golongan IIIa)
sehingga biaya yang dapat dihemat diperkirakan lebih tinggi
Namun anggaplah KPKNL melakukan usaha minimalis untuk menghemat dana dan
dengan asumsi tetap terjadi 47 sidang di PN Manokwari setip tahunnya maka negara
setidaknya dapat menghemat = 47 x Rp 4.830.000,- = Rp 227.010.000,Begitu pula seksi lelang dan seksi piutang negara juga memiliki beberapa kegiatan yang
mengharuskan melakukan perjalanan dinas di Manokwari, sehingga dengan dibukanya
KPKNL Manokwari biaya dinas KPKNL Sorong akan dapat ditekan.
Keempat alternatif ini seluruhnya dianggap memiliki merit lebih banyak dibanding biaya
relevan, sehingga top manajemen DJKN pun akhirnya menyetujui seluruh usulan tersebut
untuk dilaksanakan.

Sumber : https://www.academia.edu/4148142/PAPER_PENGAMBILAN_KEPUTUSAN