Está en la página 1de 9

Evaluasi Program Cakupan Imunisasi Tetanus Toxoid pada Ibu Hamil

di Pusat Kesehatan Masyarakat Batujaya Kabupaten Karawang


Periode Juni 2015 sampai dengan Mei 2016
Yolanda Kesuma
112014236
Program Profesi Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Terusan Arjuna No.6, Kebon Jeruk, Telp: 021-5666951
Alamat korespondensi: yoalndakesuma@yahoo.com

Salah satu indikator kesehatan suatu negara dapat dinilai dari Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian Neonatus (AKN) . Menurut data SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia), AKI
pada tahun 2012 adalah 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini kurang lebih tiga kali lebih besar
dari tujuan MDG 2015. Angka Kematian Neonatus (AKN) adalah angka kematian pada bayi usia 0
28 hari, meskipun angka ini menurun hingga pada tahun 2012 tercatat oleh SDKI sebesar 19 per
kelahiran hidup, namun angka ini berkontribusi terhadap 56% dari keseluruhan kematian bayi
sehingga ini merupakan suatu masalah.1 Salah satu pencegahan kematian akibat tetanus pada maternal
dan neonatal adalah dengan imunisasi ibu dengan vaksin tetanus. Kasus tetanus neonatorum
berdasarkan status imunisasi ibu hamil , dari tahun 2007-2011 yang paling besar terjadi pada ibu
hamil yang tidak di imunisasi. Dari 114 kasus Tetanus Neonatorum di Indonesia, sebesar 67 kasus
(58%) terjadi pada ibu hamil yang tidak divaksinasi. Di puskesmas Batujaya, target pemberian
imunisasi TT pada ibu hamil sebesar 90%, tetapi pencapaian program ini hanya 79.6%. Berdasarkan
masalah tersebut, maka dilakukan evaluasi program cakupan pemberian imunisasi tetanus toxoid 2+
pada ibu hamil di puskesmas Batujaya, kabupaten Karawang periode Juni 2015 sampai dengan Mei
2016 dengan membandingkan cakupan dengan tolok ukur menggunakan pendekatan sistem. Dari
evaluasi ditemukan masalah yaitu cakupan pemberian imunisasi tetanus toxoid 2+ sebesar 79.6% dan
cakupan penyuluhan kelompok sebesar 100%. Penyebab masalah ini antara lain belum pernah
dilakukan penyuluhan kelompok mengenai imunisasi TT, tidak tersedianya leaflet atau poster untuk
sosialisasi, jadwal imunisasi di puskesmas yang tidak tetap serta skrining TT ibu hamil tidak
menggunakan panduan pertanyaan penapisan. Dengan demikian, diharapkan puskesmas agar dapat
mengoptimalkan tenaga kesehatannya serta kader untuk memberikan bimbingan, membuat media
sosialisasi, dan mengoptimalkan penyuluhan kelompok.
Kata kunci

: Imunisasi, Tetanus Toxoid, Ibu Hamil

Pendahuluan

(TM) adalah tetanus pada kehamilan

Salah satu indikator kesehatan


suatu negara dapat dinilai dari Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian
Menurut

Neonatus
data

Demografi

(AKN)

SDKI
dan

(Survei
Kesehatan

Indonesia), AKI pada tahun 2012


adalah 359 per 100.000 kelahiran
hidup. Angka ini kurang lebih tiga
kali lebih besar dari tujuan MDG
2015

yaitu

102

kelahiran.
Neonatus

per

Angka
(AKN)

100.000
Kematian

adalah

angka

kematian pada bayi usia 0 28 hari,


meskipun angka ini menurun hingga
pada tahun 2012 tercatat oleh SDKI
sebesar 19 per kelahiran hidup,
namun
terhadap
kematian

angka
56%
bayi

ini

berkontribusi

dari

keseluruhan

sehingga

merupakan suatu masalah.1


Tetanus pada maternal
neonatal

merupakan

ini

dan

dalam

minggu

setelah

melahirkan.2
Saat ini kematian akibat tetanus
pada maternal dan neonatal dapat
dengan

mudah

dicegah

dengan

persalinan dan penanganan tali pusat


yang higienis, dan / atau dengan
imunisasi ibu dengan vaksin tetanus.
Upaya

mengeliminasi

Maternal

dan

Tetanus

Neonatal

(TMN)

bertujuan mengurangi jumlah kasus


tetanus pada maternal dan neonatal
hingga ke tingkat dimana TMN tidak
lagi

menjadi

masalah

utama

kesehatan masyarakat. TMN dapat


dieliminasi yaitu ditunjukkan oleh
jumlah kasus tetanus yang kurang
dari satu per 1000 kelahiran hidup di
setiap kabupaten. Secara operasional,
status

ini dapat diukur dengan

tingkat pencapaian imunisasi serta


dan

penyebab

kematian yang paling sering terjadi


akibat persalinan dan penanganan
tali pusat tidak bersih. Tetanus
ditandai dengan kaku otot yang nyeri
yang disebabkan oleh neurotoxin
yang dihasilkan oleh Clostridium
tetani pada luka anaerob (tertutup).
Tetanus neonatorum (TN) adalah
tetanus pada bayi usia hari ke 3 dan

pertolongan persalinan oleh tenaga


kesehatan.2
Pada
tahun

2013,

WHO

memperkirakan, 49.000 bayi baru


lahir meninggal akibat TN, terdapat
penurunan 94% dari situasi pada
akhir 1980-an. Pada 2008 terdapat
46

negara

yang

masih

belum

eliminasi TMN, salah satunya adalah


Indonesia.
upaya

Sebelum

eliminasi

TN,

pengenalan
Indonesia

28 setelah lahir dan Tetanus maternal


2

merupakan salah satu negara dengan

Metode

kasus tertinggi di Asia.3


Di Indonesia, kasus TN pada

1. Penentuan besar sasaran ibu hamil.

tahun

2007-2011

menyebabkan

kematian bayi sekitar 50-60%. Tahun


2010-2012 kasus tetanus neonatorum
mulai mengalami penurunan, namun
masih tinggi. Pada tahun 2010

Sasaran ibu hamil adalah jumlah semua


ibu hamil di wilayah dalam kurun
waktu 1 tahun. Ibu hamil menjadi
sasaran imunisasi TT untuk melindungi
ibu dan bayi dari tetanus. Besar sasaran
ibu hamil didapat dari

terdapat 147 kasus dengan cakupan


TT2+ sebanyak 70,0 % dan tahun
2011 terdapat 114 kasus dengan
cakupan TT2+ sebanyak 63,6 %.

1,10 x angka kelahiran kasar x jumlah


penduduk
2. Penghitungan kebutuhan logistik.

Pada tahun 2011, provinsi yang

Logistik imunisasi terdiri dari vaksin,

mempunyai kasus TN sebanyak 15

Auto Disable Syringe (ADS),

provinsi, dimana kasus yang paling

safety box. Dalam menghitung jumlah

banyak

Banten

kebutuhan vaksin perlu diperhatikan

sebanyak 38 kasus kemudian Jawa

jumlah sasaran, target cakupan, dan

Timur sebanyak 22 kasus ,dan

dosis efektif.

adalah

Kalimantan
kasus.

provinsi

Barat

sebanyak

13

dan

Kebutuhan = jumlah sasaran x target cakupan

IP vaksin

Kasus

tetanus

neonatorum

berdasarkan status imunisasi ibu

Alat suntik yang dipergunakan dalam

hamil , dari tahun 2007-2011 yang

pemberian imunisasi adalah alat suntik

paling besar terjadi pada ibu hamil

yang akan mengalami kerusakan setelah

yang tidak di imunisasi. Dari 114

sekali

kasus

Syringe/ADS). Ukuran ADS

Tetanus

Neonatorum

di

Indonesia, sebesar 67 kasus (58%)

pemakaian

(Auto

Disable
untuk

vaksin TT adalah 0,5 ml.

terjadi pada ibu hamil yang tidak


divaksinasi.

Kurangnya

hasil

cakupan imunisasi TT lengkap pada

Kebutuhan alat suntik = jumlah sasaran x target


cakupan

ibu hamil berarti akan mengurangi

Safety

keberhasilan

menampung

alat

dalam melindungi ibu hamil dan

pelayanan

imunisasi

bayi dari penyakit tetanus.4

dimusnahkan. Safety box ukuran 2.5

program

imunisasi

box

digunakan
suntik

untuk
bekas
sebelum

liter mampu menampung 50 alat suntik


bekas,

sedangkan

ukuran

o Pada saat pengiriman maupun di

liter

tempat

pelayanan,

vaksin

menampung 100 alat suntik bekas.

disimpan dalam vaccine carrier

Limbah imunisasi selain alat suntik

dengan 4 kotak dingin cair.

bekas tidak boleh dimasukkan ke dalam

Jangan gunakan es batu/kotak

safety box.

dingin

beku.

Pembekuan

merusak vaksin TT. Lindungi


3. Pendistribusian vaksin.

vaksin dari cahaya matahari

Pemerintah bertanggung jawab dalam

langsung dan sumber panas.

pendistribusian

sampai

Pastikan vaksin TT yang belum

Pendistribusian

terbuka selalu berada di dalam

ketingkat

logistik

provinsi.

selanjutnya merupakan tanggung jawab


pemerintah daerah secara berjenjang

vaccine

carrier

selama

dengan mekanisme diantar oleh level

pelayanan.
o Vaksin yang bisa dipakai adalah

yang lebih atas atau diambil oleh level

vaksin yang belum kedaluarsa

yang lebih bawah, tergantung kebijakan

dengan kondisi VVM A atau B

masing-masing

daerah.

Seluruh

distribusi vaksin dari pusat sampai ke


tingkat

pelayanan,

dan tidak pernah beku.


o Sementara menunggu sasaran
datang, vaksin yang telah dibuka

harus

disimpan di antara busa (spons)

mempertahankan kualitas vaksin tetap


tinggi

agar

mampu

pada vaccine carrier. Vaksin

memberikan

berikutnya dibuka setelah vaksin

kekebalan yang optimal kepada sasaran.

sebelumnya

habis

terpakai.

Jangan mengisi vaksin ke dalam

4. Penyimpanan vaksin.
Untuk menjaga kualitas vaksin tetap

semprit sebelum sasaran siap

tinggi

untuk disuntik.

sejak

didistribusikan
(atau

diterima
ketingkat

digunakan),

sampai
berikutnya

vaksin

harus

disimpan pada suhu yang ditetapkan,


yaitu +20C s/d +80C untuk vaksin TT.

6. Penapisan sederhana status TT ibu


hamil
o Penapisan

dilakukan

berdasarkan riwayat imunisasi


5. Rantai dingin vaksin TT di lapangan
o Vaksin TT disimpan pada suhu 20

yang tercatat pada status pasien


maupun berdasarkan ingatan.

80 C.
4

o Apabila data imunisasi saat bayi


tercatat pada kartu imunisasi
atau buku KIA maka riwayat
imunisasi TT pada saat bayi
dapat diperhitungkan.
o Tidak

adanya

panduan

pertanyaan

untuk

penapisan/skrining
o Perhatikan interval

minimum

sifatnya

lebih

memantau

kuantitas

program. Prinsip PWS:


o Memanfaatkan data yang ada dari
laporan cakupan imunisasi.
o Menggunakan indikator sederhana.
o Dimanfaatkan untuk mengambil
keputusan setempat.
o Teratur dan tepat waktu setiap
bulan.
o Sebagai umpan balik untuk dapat

untuk

mengambil tindakan.
o Membuat grafik yang jelas dan

menentukan status TT ibu hamil.

menarik untuk masing masing

yang

dianjurkan

o Untuk ibu hamil yang sudah


mencapai status T5 tidak perlu

indikator

di

atas,

untuk

memudahkan analisa.

lagi mendapat imunisasi TT saat


hamil.

10. Pencatatan dan Pelaporan


Pencatatan dan pelaporan

7. Pelayanan imunisasi.
Pelayanan imunisasi dapat dilakukan di

program
peranan

imunisasi
penting

dalam

memegang
dan

sangat

dalam gedung ( Puskesmas) atau di

menentukan.

luar gedung ( Posyandu).

pelayanan imunisasi juga menjadi

8. Penyuluhan imunisasi.
Penyuluhan dapat dilakukan

Selain

menunjang

dasar untuk membuat perencanaan


baik

dan evaluasi. Alat alat pencatat

secara perorangan maupun kelompok

dasar yang harus dimiliki puskesmas :


o Buku register imunisasi
o Kartu Imunisasi
o Buku stock vaksin
o Buku grafik pencatatan suhu
o Sistem untuk menindak lanjuti

agar ibu hamil memahami kegunaan


imunisasi TT.
9. Pemantauan imunisasi TT.
Dengan pemantauan kita dapat menjaga

drop out

agar masing-masing kegiatan sejalan


dengan ketentuan program. Pemantauan
dilakukan menggunakan Pemantauan
Wilayah Setempat (PWS) berfungsi
untuk

meningkatkan

cakupan,

jadi

Hasil
Tabel 1. Data Cakupan Penampisan Sederhana Status Imunisasi Tetanus Toxoid
pada Ibu Hamil di Puskesmas Batujaya Periode Juni 2015 sampai dengan Mei
2016
Sasaran
Hasil
Dilakukan setiap kali kunjungan ibu hamil Dilakukan setiap kali kunjungan ibu hamil
saat ANC

namun belum ada pencatatan dan pelaporan


khususnya

Tabel 2. Data Cakupan Imunisasi Tetanus Toxoid 2+ Ibu Hamil di Puskesmas


Kecamatan Batujaya Periode Juni 2015 hingga Mei 2016
Sasaran

Juni

Juli

Agst

Sept

Okt

Nov

Des

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Bumil

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2015

2016

2016

2016

2016

2016

2661

7.5%

5.4%

6.0%

6.4%

6.2%

9,1%

8.4%

5.8%

6.2%

6.6%

5.5%

6.5%

Tabel 3. Data Cakupan Penyuluhan Perorangan Imunisasi TT Ibu Hamil di


Puskesmas Kecamatan Batujaya Periode Juni 2015 hingga Mei 2016
Sasaran
Hasil
Dilakukan setiap kali kunjungan ibu Dilakukan setiap kali kunjungan ibu
hamil saat ANC

hamil saat ANC

Tabel 4. Data Cakupan Penyuluhan Kelompok Imunisasi TT Ibu Hamil di


Puskesmas Kecamatan Batujaya Periode Juni 2015 hingga Mei 2016
Sasaran
Dilakukan 1 kali / bulan (12x/tahun)

Hasil
Tidak pernah dilakukan

Total

79.6%

Diskusi
Terdapat 2 masalah utama
dilakukan evaluasi, yaitu:

untuk ibu hamil atau wanita usia

setelah

Masalah 1
Cakupan imunisasi TT2+ ibu hamil hanya

Dibuatkan Kartu TT Seumur Hidup

subur.
Dibuatkannya jadwal imunisasi TT
yang tetap di puskesmas, idealnya dua

mencapai 79.6% dengan besar masalah

kali seminggu sehingga ibu yang tidak

10.4%.
Penyebab :
Tidak tersedianya leaflet dan poster

sempat

yang berguna untuk mensosialisasikan


mengenai imunisasi TT pada ibu hamil

kepada masyarakat.
Tidak tersedianya Kartu TT Seumur
Hidup untuk ibu hamil atau wanita usia

posyandu
imunisasi

bisa
TT

di

puskesmas.
Dibuatkan panduan pertanyaan untuk
skrining sederhana status TT ibu

hamil.
Para

bidan

penyuluhan
kelompok

desa

melakukan

perorangan
mengenai

atau

kepentingan

1 kali seminggu sehingga semuanya

imunisasi tetanus toxoid kepada ibu

harus dilaksanakan pada saat jadwal

hamil di daerah setempat. Diharapkan

posyandu.
Tidak tersedianya panduan pertanyaan

penyuluhan

yang

disesuaikan

dengan

untuk skrining sederhana status TT ibu

pendidikan ibu hamil, sehingga akan

hamil.
Belum

terbentuknya

pernah

dilaksanakannya

kelompok

imunisasi TT pada ibu hamil.


Ibu hamil tidak melakukan imunisasi
takut.
Ibu
hamil

tidak

tahu

kapan

pelaksanaan posyandu.
Penyelesaian masalah :
Dibuat leaflet dan poster mengenai
pentingnya imunisasi TT pada ibu
hamil sehingga tidak hanya ibu hamil

keinginan

diberikan
tingkat
pada

ibu

hamil untuk datang rutin ke posyandu

mengenai

karena alasan ketidaktahuan dan alasan

mendapatkan

subur.
Jadwal imunisasi TT hanya dilakukan

penyuluhan

ke

atau puskesmas.
Menyebarluaskan

pelaksanaan

posyandu melalui ketua RT atau kader


1 minggu sebelum pelaksanaan, lalu 3
hari sebelum pelaksanaan, 1 hari
sebelum pelaksanaan, dan pada hari
pelaksanaan. Sehingga tidak ada ibu
hamil yang terlewatkan pelayanan
posyandu di wilayahnya.

melainkan seluruh lapisan masyarakat

Masalah 2
Cakupan penyuluhan kelompok mengenai

juga mengetahui kegunaan imunisasi

imunisasi TT pada ibu hamil tidak tercapai

ini.
7

karena tidak pernah dilaksanakan dengan

Kabupaten Karawang periode Juni tahun

besarnya masalah 100%.


Penyebab :
Tidak
pernah
dilaksanakannya

2015 sampai dengan Mei tahun 2016 tidak

penyuluhan

kelompok

mengenai

imunisasi TT pada ibu hamil oleh


tenaga kesehatan baik di posyandu

maupun di puskesmas.
Materi penyuluhan mengenai imunisasi
TT tidak selalu dibawakan pada saat

pelaksanaan posyandu.
Penyelesaian masalah :
Menyusun pembagian tugas dan
tanggung jawab secara jelas dan

dapat dilakukan dengan baik karena tidak


tersedianya kartu status TT seumur hidup
ibu hamil serta tidak tersedianya panduan
pertanyaan untuk penapisan sederhana
status TT ibu hamil.
Daftar Pustaka
1. Kementrian

Kesehatan

RI.

Profil

kesehatan Indonesia 2012. Jakarta:

pelaksanaan

Kementrian Kesehatan RI; 2013.


2. Kementrian Kesehatan RI. Eliminasi

penyuluhan, rincian tugas, serta

tetanus maternal dan neonatal. Volume

membuat jadwal penyuluhan secara

1. Jakarta: Pusat Data dan Informasi

tertulis

mengenai

teratur.

Kesehatan; 2012. h.1-2,8-9,17


3. World Health Organization. Maternal

Kesimpulan

and

Dari hasil evaluasi program Imunisasi

neonatal

[online].

tetanus

2015.

elimination.

Diunduh

dari:

tetanus toxoid ibu hamil yang dilakukan

http://www.who.int/immunization/disea

dengan

di

ses/MNTE_initiative/en/ . 23 Maret

Puskesmas Kecamatan Batujaya, periode

2016.
4. Kementrian Kesehatan RI. Situasi dan

cara

pendekatan

sistem

Juni 2015 hingga Mei 2016 belum berjalan


dengan baik melihat berbagai masalah

analisis

imunisasi.[online].

2014.

yang ditemui sebagai berikut :

Diunduh

1. Cakupan imunisasi TT2+ ibu hamil

http://www.pusdatin.kemkes.go.id/reso

hanya mencapai 79.6% dengan besar

urces/download/pusdatin/infodatin/info

dari:

kelompok

datin-imunisasi.pdf, 23 Maret 2016


5. Departemen Kesehatan RI. Definisi

mengenai imunisasi 1 kali setiap bulan

operasional. [online]. 2015. Diunduh

belum tercapai dengan besar masalah

dari:

100%.
Selain itu penapisan sederhana status

http://www.depkes.go.id/resources/dow

masalah 10.4%.
2. Cakupan
penyuluhan

nload/pusdatin/lain-lain/DEFINISI

TT ibu hamil di Puskesmas Batujaya,


8

%20OPERASIONAL%20PROFIL
%20KES%202015.pdf, 05 April 2016.