Está en la página 1de 16

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas

Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk


Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

ANALISIS DAMPAK PERATURAN DANA KAMPANYE PILKADA


UNTUK MEWUJUDKAN DANA KAMPANYE YANG
TRANSPARAN DAN AKUNTABEL
Ira Novita
Tata Kelola Pemilu FISIP Universitas Andalas
Email: el_khaira@yahoo.com

Abstrak
Kehadiran Undang-undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan
Walikota menjadi sebuah harapan baru dan optimisme untuk pemilihan Kepala Daerah.
Salah satu kemajuan dari Undang Undang ini adalah poin pengaturan tentang kampanye.
Undang-undang ini untuk pertama kalinya mengatur pembiayaan kampanye oleh negara;
dan untuk pertama kalinya juga mengatur tentang pembatasan dana kampanye.
Pengaturan dana kampanye selain berfungsi untuk mencegah masuknya dana-dana yang
terlarang, menjaga independensi para kontestan terhadap pemberi bantuan dana
dikemudian hari, memberikan kesetaraan dan kesempatan yang sama untuk setiap
kontestan untuk berkompetisi, juga memberikan kesempatan kepada rakyat untuk
mengawasi dana kampanye dan memberikan penilaian untuk memilih atau tidak. Makalah
ini memberikan pemaparan terhadap praktek peraturan dana kampanye di Indonesia
dalam rangka mewujudkan tata kelola dana kampanye yang tranparan dan akuntabel
untuk mewujudkan penyelenggaraan Pilkada yang Langsung Umum Bebas Rahasia Jujur
dan Adil. Analisis dilakukan terhadap praktek Undang-undang Nomor 8 Tahun 2015
sebagai payung hukum dan Peraturan Komisi Pemilihan (PKPU) Nomor 8 Tahun 2015
yang berfungsi sebagai pelaksana amanah Undang-Undang, mengisi kekosongan
peraturan yang belum terakomodir, serta menjadi petunjuk teknis guna mengatasi
kesulitan penerapan peraturan dilapangan. Melalui studi perpustakaan ditemukan bahwa
didalam prakteknya masih ditemui masalah-masalah seperti kualitas laporan yang masih
asal-asalan, pelaksanaan audit laporan dana kampanye yang bersifat audit kepatuhan
masih belum bisa menelurusi kondisi sebenarnya, pengendalian pengeluaran yang kerap
dilanggar, serta hasil audit yang diumumkan setelah pelaksanaan pemilihan ternyata tidak
bisa menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat untuk memilih atau tidak. Hasil sidang
DKPP dalam kasus Pilkada Pasaman Barat yang memberikan sanksi peringatan kepada
anggota KPU karena dinyatakan terbukti melakukan pelanggaran kode etik berupa
ketidaktertiban administrasi yang menyebabkan timbulnya berbagai syakwasangka yang
secara tidak langsung mendegradasi kepercayaan dan kehormatan Penyelenggara Pemilu
seharusnya tidak terjadi jika proses audit terjadi pada pra, saat dan setelah masa
pemilihan.
Keywords: Aturan dana kampanye, Transparansi, Akuntabilitas
Biografi Singkat: (hanya di abstrak untuk keperluan buku acara)
Ira Novita SE, Bekerja di Komisi Pemilihan Umum Kota Payakumbuh. Sarjana Ekonomi
UNPAD dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Program Magister Konsentrasi Tata

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

Kelola Pemilu FISIP UNAND. Fokus kajian tentang dana kampanye dan Penyelenggara
Pemilu
1. PENDAHULUAN
Negara Indonesia dalam perkembangan nya menuju konsolidasi demokrasi berusaha
terus dmenyempurnakan pengaturan tentang Dana kampanye dari undang-undang ke
undang-undang. UU No. 2 tahun 2011 sebagai perubahan UU No. 2 tahun 2008
menyebutkan beberapa poin penting, salah satunya perubahan pasal 39 menyebutkan:
Pengelolaan keuangan partai politik diatur lebih lanjut dalam AD ART diubah menjadi (1)
Pengelolaan keuangan partai politik dilakukan secara transparan dan akuntabel. Tuntutan
untuk mewujudkan akuntabilitas dan transparansi diatur lebih lanjut pada poin:
(2)Pengelolaan keuangan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaudit oleh
akuntan publik dan diumumkan secara periodik. Ayat selanjutnya menyebut bagaimana
partai politik setidaknya harus memberikan laporan realisasi anggaran partai politik, laporan
neraca, dan arus kas
Kehadiran Undang-undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati,
dan Walikota Menjadi Undang Undang menjadi sebuah harapan baru dan optimisme untuk
mengatur pemilihan Kepada Daerah. Salah satu kemajuan dari Undang Undang ini adalah
poin pengaturan tentang kampanye. Pertama, undang-undang ini untuk pertama kalinya
mengatur pembiayaan kampanye oleh negara; kedua, untuk pertama kalinya juga mengatur
tentang pembatasan dana kampanye.
Didalam prakteknya ternyata banyak ditemukan bahwa para kandidat yang berlaga
didalam pemilihan kepala daerah tidak mengindahkan aturan main yang ada, sengaja
mencari celah untuk dapat melanggar, serta tidak memberikan perhatian dalam pengelolaan
dana kampanyenya. Penelitian ini mencoba melakukan analisis terhadap praktek aturan
hukum Dana Kampanye Pilkada yang berlaku saat ini dan melihat kesesuaian aplikasinya
dengan tujuan peraturan, outputnya dihasilkan rekomendasi perbaikan terhadap aturan Dana
Kampanye sehingga kedepan mampu dirumuskan tata kelola dana kampanye yang
tranparan dan akuntabel guna mewujudkan penyelenggaraan Pilkada yang Langsung Umum
Bebas Rahasia Jujur dan Adil.
2. TINJAUAN PUSTAKA
Negara-negara di dunia terus berusaha menyempurnakan berbagai jenis peraturan
tentang keuangan politik dan kampanye dalam usaha mewujudkan demokrasi yang substansi
tanpa menghambat tumbuhnya demokrasi. Buku Pedoman Pengawasan Keuangan Politik,
Pelatihan Deteksi dan Penegakan oleh International Foundation for Electoral Systems
(IFES)1 mengklasifikasikan peraturan yang mengatur keuangan politik dan kampanye ini ke
dalam:
1.
Kondisi-kondisi keuangan yang mengatur pencalonan sebagai pejabat
pemerintahan
2.
Meningkatkan transparansi keuangan melalui pengungkapan (laporan keuangan)
3.
Larangan sebagian bentuk sumbangan dan pengeluaran
4.
Batas sumbangan dan pengeluaran
5.
Ketentuan pembiayaan/subsidi oleh APBN

1 Buku Pedoman Pengawasan Keuangan Politik, Pelatihan Deteksi dan Penegakan. 2013. International Foundation
for Electoral Systems (IFES). Washington: IFES.

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

6.

Memastikan fasilitas negara tidak dipergunakan untuk menguntungkan atau


merugikan partai politik atau kandidat mana punBatas sumbangan dan
pengeluaran
7.
Peraturanperaturan untuk menghilangkan praktek jual-beli suara dan hal-hal
sejenis akibat pengaruh dari orang lain
8.
Penegakan bentuk-bentuk peraturan di atas
Pengaturan dana kampanye Pemilu setidaknya harus memuat prinsip-prinsip sebagai
berikut2: 1. Menjaga kesetaraan bagi peserta Pemilu (political equality). 2. Membuka
kesempatan yang sama untuk dipilih (popular participation). 3. Mencegah pembelian
nominasi, pencukongan calon, dan pengaruh kontributor/interest group terhadap calon
(candidacy buying). 4. Membebaskan pemilih dari tekanan kandidat atau partai dari imingiming dukungan keuangan (vote buying). 5. Mencegah donasi ilegal atau dana hasil korupsi
atau kejahatan lainnya. Oleh karenanya, menurut Teten Masduki, diperlukan standar
pengaturan dana kampanye yang terdiri dari pembatasan belanja yang realistis dan
sumbangan, larangan terhadap praktek-praktek korupsi dan ilegal, larangan bagi jenis-jenis
pengeluaran dansumbangan/sumber tertentu (asing, perusahaan komersial, tidak jelas
identitasnya, dan lainsebagainya), penggunaan identitas/sumber dana kampanye, pengaturan
subsidi pemerintahdan pemakaian fasilitas pemerintah, pemisahan rekening parpol dan
rekening dana kampanye, dan audit dan transparansi dana kampanye (audit dan public
disclosure).
Masalah utama dana kampanye adalah dari mana uang tersebut berasal dan bagaimana
cara mendapatkannya. Sumbangan dari perseorangan dan badan usaha berpotensi menitipkan
masalah dikemudian hari berupa politik balas budi. Peraturan dana kampanye harus
menerapkan beberapa ketentuan dasar untuk mencegah konflik kepentingan, mencegah
prasangka terhadap kegiatan partai politik dan calon, menjamin transparansi asal usul
sumbangan dan memberikan kesempatan bagi semua kontestan untuk bisa berkompetisi
secara adil dan setara. Peraturan yang dibuat harus bisa mencegah partai politik dan calon
pejabat eksekutif (terpilih) tersandera dalam mengambil kebijakan dan keputusan pada saat
menduduki jabatan pasca pemilu nanti.
A. Aspek Pengaturan Dana Kampanye:
Pengaturan dana kampanye menjadi salah satu isu krusial dalam proses pemilu (electoral
Process), setiap negara mempunyai regulasi dan arahan yang berbeda sesuai dengan
kebutuhan dan sistem Pemilu yang digunakan. IDEA International (2003)3 menyebut
beberapa materi pokok pengaturan dana kampanye yang dipraktikkan di beberapa negara
demi menjamin penerapan prinsip transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana kampanye:
Pendanaan dari negara: Pembayaran subsidi langsung kepada para kandidat atau partai
politik dari dana negara dengan bentuk-bentuk utama dari pendanaan negara secara tidak
langsung adalah sebagai berikut: Waktu siaran gratis, penggunaan fasilitas negara dan
pegawai pemerintah; hibah dari negara untuk yayasan-yayasan partai; dan keringanan
pajak.

2 Teten Masduki, Urgensi Pengawasan Dana Kampanye Pemilu, Jakarta 29 November 2008.
3 International Institute for Democracy and Electoral Asistence (IDEA). 2002. Standar-

standar Internasional Pemilihan Umum: Pedoman Peninjauan Kembali Kerangka Hukum


Pemilu. Jakarta: International IDEA.

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

Sumbangan pendanaan swasta: Bentuk-bentuk utama dari pendanaan swasta adalah


sebagai berikut: Iuran anggota; sumbangan perorangan untuk partai politik atau kandidat;
pendanaan oleh lembaga-lembaga seperti perusahaan besar, serikat buruh, dll
Pengendalian Pengeluaran: Kerangka hukum dapat menentukan pengeluaran biaya
pemilu partai dan kandidat supaya ada pemerataan kesempatan untuk mencapai
keberhasilan.
Persyaratan pelaporan dan pengungkapan: Dengan adanya pembatasan sumbangan
atau pengeluaran kampanye, tidak berarti mengensampingkan pelaporan dan
pengungkapan yang terbuka. Kerangka hukum harus mewajibkan pelaporan berkala dalam
jangka waktu yang wajar atas semua sumbangan yang diterima dan pengeluaran yang
dilakukan oleh kontestan pemilu. Hukuman harus sesuai dengan tingkat pelanggaran,
selain itu undang-undang itu juga harus memperbolehkan publik untuk mengakses laporan
sumbangan dan pengeluaran kampanye sehingga isinya dapat dibaca oleh partai lain yang
berkepentingan, para kandidat dan pemilih.
Kemudian untuk mengukur kepatuhan calon terhadap aspek-aspek pengaturan dana
kampanye ini maka dilakukamlah audit terhadap laporan dana kampanye. Audit merupakan
sebuah cara yang kuat untuk mendeteksi dan menegakkan peraturan-peraturan tentang hal-hal
yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh partai politik dan kandidat dengan keuangan
mereka meskipun demikian, penerapan audit tidak menjamin akurasi laporan keuangan yang
diserahkan oleh partai politik dan kandidat, dan dengan demikian tidak menjamin transparansi
seutuhnya. Pengawasan publik masih dibutuhkan, terutama untuk membangun kepercayaan
pada sistem pengawasan keuangan politik. Beberapa tantangan dalam pelaksanaan audit
adalah persoalan netralitas Auditor, mahalnya biaya yang harus dikeluarkan, apalagi dengan
model audit yang diinginkan untuk bisa melihat akuntabilitas dana kampanye, serta
mekanisme audit yang dilaksanakan harus bisa mengakomodir kemampuan partai/calon
dengan kemampuan dan anggaran yang kecil.4
Menurut Ramlan Surbakti, secara lebih detil aspek yang diatur dalam dana kampanye ini
menyangkut sumber dana kampanye, wujud dana kampanye, batas maksimal sumbangan dari
berbagai pihak yang diizinkan memberikan sumbangan, jumlah maksimal pengeluaran
kampanye, persyaratan tentang identitas penyumbang dan asal-usul sumbangan, tata cara
pembukuan dana kampanye yang harus terpisah dari pembukuan penerimaan dan pengeluaran
partai untuk kegiatan nonkampanye, pencatatan penerimaan dalam bentuk uang pada rekening
khusus dana kampanye, mekanisme pelaporan penerimaan dan pengeluaran kampanye,
persyaratan Kantor Akuntan Publik (KAP) yang akan ditunjuk oleh KPU untuk mengaudit
laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye, mekanisme kerja KAP, prosedur audit,
larangan, dan sanksi5
B. Regulasi Dana Kampanye dalam Aturan Perundangan Pemilu Indonesia
Di Indonesia sendiri, sejak pemilu pertama tahun 1955, Pemilu pada Orde Lama, hingga
pemilu terakhir yang diselenggarakan oleh pemerintahan Orde Baru pada tahun 1997, isu
dana kampanye belum mendapatkan perhatian yang proporsional dalam berbagai peraturan
yang mengatur tentang pemilu, baru pada pemilu tahun 1999 yaitu Pemilu pertama Pada masa

4 Pedoman Pengawasan Keuangan Politik, Pelatihan Deteksi dan Penegakan oleh International Foundation for Electoral Systems
(IFES) pada tahun 2013
5 Ramlan Surbakti, Didik Supriyanto, dan Topo Santoso. 2008. Perekayasaan Sistem Pemilu untuk Tata Politik Demokratis,
Partnershif for Governance Reform Indonesia, Jakarta,

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

Orde Reformasi, aturan pemilu di Indonesia akhirnya mengakomodir pengaturan tentang dana
kampanye, dan kemudian digunakan untuk Pemilu pada tahun-tahun selanjutnya.
Ketentuan-ketentuan dana kampanye dalam undang-undang pemilu pasca Perubahan
UUD 1945 tercantum dalam: UU no 3 /1999, UU No 12/2003, UU No 10/2008, UU No
8/2012 untuk pemilu legislatif; UU No 23/2003 dan UU No 42/2008 untuk pemilu presiden,
dan UU No 32/2004 untuk pilkada Secara umum mengatur tentang:
1. Sumber dana kampanye yang berasal dari partai politik, calon,
dan sumbangan tidak mengikat;
2. Batasan sumbangan perseorangan dan perusahaan;
3. Jenis sumbangan yang dilarang;
4. Laporan daftar penyumbang;
5. Audit dana kampanye;
6. Mekanisme pelaporan dana kampanye, dan
7. Sanksi atas pelanggaran ketentuan dana kampanye.
Walaupun setelah orde reformasi pengaturan Dana Kampanye ini telah menjadi bagian
yang selalu ada dalam setiap UU Pemilu/Pemilukada dan sekilas materi pengaturan dana
kampanye sudah mencukupi. Akantetapi jika dicermati, pengaturan dana kampanye dalam
undang-undang masih mengandung banyak kekurangan dan kelemahan: batasan sumber dana
belum diatur secara jelas, jumlah dan jenis belanja kampanye tidak diatur, mekanisme
pelaporan masih belum memudahkan, sistem audit yang belum memberikan ruang untuk
menginvestigasi realisasi penerimaan dan pengeluaran dana kampanye, dan ketiadaan sanksi
tegas bagi pelanggar.
Kekurangan dan banyaknya celah untuk mengakali aturan tentang Dana Kampanye ini
kemudian mulai disempurnakan dengan hadirnya Undang-undang Nomor 8 Tahun 2015.
Beberapa hal baru yang dimuat dalam undang-undang ini antara lain: Pertama UndangUndang ini menyebut tujuh metode kampanye yang bisa dilakukan didalam Pasal 65 ayat (2)
bahwa metode kampanye huruf c), d), e), dan f) difasilitasi oleh KPU Propinsi / KPU
Kabupaten/Kota yang didanai APBD yang aturan nya lebih lanjut diatur dengan Peraturan
KPU. Jadi, kampanye dalam bentuk debat publik, penyebaran bahan kampanye kepada
umum, pemasangan alat peraga, dan iklan media massa, kini dibiayai negara, sedangkan
partai politik dan pasangan calon hanya membiayai dua bentuk kampanye yaitu pertemuan
terbatas dan pertemuan tatap muka dan dialog. Kedua, untuk pertamakali nya undang-undang
Pilkada mengatur tentang pembatasan dana kampanye. Hal ini tertulis dalam Pasal 74 ayat (9)
Pembatasan dana Kampanye Pemilihan ditetapkan oleh KPU Provinsi dan KPU
Kabupaten/Kota dengan mempertimbangkan jumlah penduduk, cakupan/luas wilayah dan
standar biaya daerah.
3. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitan ini adalah penelitian kualitatif
dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif adalah suatu proses
penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu
fenomena sosial dan masalah manusia. Penelitian kualitatif menekankan pada makna,
penalaran, defenisi suatu situasi tertentu, meneliti hal-hal yang berhubungan dengan
kehidupan sehari-hari. (Iskandar, 2009 : 11).
Pendekatan deskriptif bertujuan memaparkan pengaturan Dana Kampanye dan praktek
pelaksanaannya dalam kampanye pemilihan kepada daerah. Pemaparan pengaturan dan
praktek tersebut kemudian menjadi dasar analisis terhadap masalah-masalah pengaturan dan

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

praktek Dana Kampanye di lapangan. Analisis terhadap fakta dilakukan untuk mengetahui
praktek pengelolaan Dana Kampanye yang dilakukan Partai Politik atau kontestan, dan
dugaan kecurangan yang dilakukan oleh Partai Politik/konstestan dalam usaha mencapai
tujuan pemenangan kepala daerah
Untuk pengumpulan data dilakukan studi pustaka meliputi telaah terhadap teori dan
konsep dana kampanye yang digagas sejumlah ahli dan lembaga-lembaga terkait pemilu,
praktek pengelolaan dana kampanye pilkada, perbandingan terhadap praktek pengaturan
dana kampanye dibeberapa negara dan pengalaman pemilu-pemilu sebelumnya serta hasil
dari penelitian sejenis mengenai pengaturan dana kampanye Pilkada.

4. TEMUAN DAN PEMBAHASAN


1. Sumber Dana:
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Penelitian dan Pengembangan KP K 6
terhadap 794 pasangan calon yang mengikuti Pilkada 9 Desember 2015 (terdiri atas Calon
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di 8 Pemprov, 34 Pemkot, dan 217 Pemkab)
menyatakan bahwa mayoritas Paslon menerima sumbangan untuk menutupi kesenjangan
antara harta kas dan pengeluaran Pilkada, Sumbangan yang diterima tidak semua dilaporkan
kedalam LPSDK, Cakada menyadari bahwa terdapat konsekuensi saat menerima sumbangan,
Konsekuensi sumbangan akan dibayarkan berupa kemudahan perijinan, kemudahan akses
menjabat di pemerintah, kemudahan ikut serta dalam lelang, keamanan dalam menjalankan
bisnis, mendapatkan akses dalam menentukan kebijakan/peraturan daerah dan mendapatkan
bantuan kegiatan social/hibah
Secara terperinci Koordinator Nasional JPPR Masykurddin Hafis menyatakan 7 ada
beberapa modus yang ditemukan dalam pelanggaran sumbangan dana kampanye dalam
Pilkada serentak 2015 Modus pertama, adalah sumbangan perseorangan yang melebihi
batas yang telah ditentukan oleh UU dan PKPU, yakni batas maksimal sumbangan
perseorangan kepada paslon senilai Rp. 50 juta. "Namun, ada sumbangan dari
perseorangan untuk calon kepala daerah Kabupaten Seluma (Bengkulu) Mufran Imron
sebesar Rp. 75 juta. Ada kelebihan Rp. 25 juta. Di dalam LPSDK-nya jelas, sumbangan
dari seorang bernama Muliadi berupa barang-barang nilainya Rp. 75 juta,".
Modus yang kedua adalah pecah sumbangan dari dua atau lebih perusahaan yang
bernaung di bawah satu group perusahaan, contohnya sumbangan untuk calon kepala
daerah petahana Wali Kota Balikpapan H. Rizal Effendi yang menerima sumbangan
sebesar Rp. 2 miliar dari enam penyumbang korporasi. Keenam perusahaan tersebut,
antara lain PT Barokah Gemilang Perkasa (Rp. 500 juta) dan PT. Barokah Bersaudara
Perkasa (Rp. 500 juta), PT Cindara Pratama Lines (Rp. 300 juta), PT Hana Lines (Rp. 250
juta), PT Mandar Ocean (Rp. 250 juta), dan PT Pers. Pely Sinar Pasific (Rp. 200 juta.
6 Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK. 2016. Studi Potensi Benturan Kepentingan dalam Pendanaan
Pilkada, Jakarta.
7 http://www.beritasatu.com/nasional/322745-jppr-temukan-pelanggaran-sumbangan-dana-kampanye-di-9daerah.html

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

"Padahal, enam perusahaan ini berinduk di bawah dua group perusahaan saja, yakni
Cindarata Pratama Lines Group dan Batokah Group yang masing-masing menyumbang
sebesar Rp. 1 miliar,"
Modus ketiga, adalah menyebutkan identitas fiktif untuk alamat perusahaan
penyumbang. Hal serupa masih terjadi pada perusahaan penyumbang calon Wali Kota
Balikpapan H. Rizal Effendi. Setelah melakukan verifikasi lokasi alamat dua perusahaan
penyumbang terbesarnya, yakni PT Barokah Gemilang Perkasa dan PT Bersaudara
Perkasa, lokasinya tidak dapat ditemukan di alamat yang tertera dalam LPSDK.
Serta modus keempat, terjadi di Tangerang Selatan di mana sumbangan perseorangan
dari Indra kepada calon kepala daerah Tangsel Airin Rachmini Diany, indentitasnya tidak
sesuai dengan yang dilaporkan. Sehingga ketika nomor yang bersangkutan
dihubungi sebagaimana tertera dalam laporan, ternyata nomor tersebut bukan nomor
Indra.
Hal lain yang dalam realisasinya belum diatur dan menjadi celah pelanggaran dana
kampanye adalah dana kampanye dari calon/kontestan. Melalui pintu dana kampanye dari
calon para kontestan bisa memasukkan dana dengan jumlah tidak terbatas kedalam dana
kampanyenya, disini diperlukan audit yang mendalam untuk bisa memastikan bahwa dana
yang dimasukkan adalah benar dari kontestan, bukan dana dari pihak lain yang sengaja
dititipkan dan kemudian disamarkan. Kolaborasi KPU dengan PPATK bisa melacak
keabsahan sumber dana ini. (tambahkan hasil penelitian Transaksi Tunai)
Realitas ini tentu saja menyatakan bahwa dalam prakteknya calon tetap saja belum
konsisten dalam menjalankan aturan dana kampanye, dan yang paling mengerikan, sekalipun
mereka menyadari konsekwensi dibalik tindakanya, hal ini ternyata tidak menyurutkan
mereka untuk tetap mencari celah dalam mengumpulkan dana sebanyak munkin. Marcin
Walecki menyatakan bahwa masalah utama dalam korupsi pemilu berkaitan dengan masalah
keuangan -dalam hal ini pengumpulan modal pemenangan. Secara umum, pendanaan politik
yang korup dikumpulkan kandidat atau partai, dimana mereka melakukan operasi keuangan
untuk keuntungan partai politik, kelompok kepentingan, atau kandidat dengan cara tidak
benar atau tidak sah.
Mencermati besarnya usaha partai dalam mengumpulkan dana, perlu dikembangkan
alternatif-alternatif penggalangan dana yang bisa dilakukan. Dalam studi yang dilakukan
USAID (2003), disebutkan ada beberapa sumber pembiayaan partai politik: pertama,
pembiayaan yang bersumber dari party membership dues dan income generating activities.
Kedua, pembiayaan partai politik dan kampanye yang digalang oleh small/ medium donors.
Ketiga, donasi dari para pemilik modal besar;. Keempat, dana yang bersumber dari elected
officials dan Appointee's salary subcharge. Kelima, dana-dana "gelap" yang digalang para
kandidat dari sumber dana negara seperti: "setoran" BUMN dan dana "non budgeter" yang
diperoleh secara legal. Keenam, dan yang bersumber dari subsidi negara. Ketujuh, dana yang
berasal dari kantong pribadi para kandidat.
Salah satu sumber pembiayaan dana kampanye yang menarik untuk dikembangkan adalah
melalui pembiayaan oleh small/medium donor misal-nya dibukanya iklan di media massa
yang memberikan kesempatan bagi pendukung partai politik dan kontestan untuk
menyumbangkan dana bagi aktivitas partai politik yang didukungnya seperti yang dilakukan
relawan Kawan Ahok yang melakukan cara kreatif dalam menggalang dana dengan menjual
merchandise berupa kalender, atau yang sering dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera
mengoptimalkan sumber pendanaan dari internal partai dengan memungut sumbangan wajib

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

Pemilu dari kader partai berupa Gerakan Lima Puluh Ribu (Galibu) atau Gasibu (Gerakan
Sepuluh Ribu). Hal-hal legal dan kreatif seperti ini harus menjadi model baru dalam
penggalangan dana di Indonesia, karena selain bisa mendapatkan dana dengan cara yang
legal, ini bisa menjadi sarana kampanye dan sosialisasi politik secara tidak langsung, bisa
dipastikan orang yang memberikan dana adalah orang yang akan memberikan hak politik nya
kepada kontestan.
Salah satu hal yang harus dicermati dari penggalangan dana ini adalah tentang
akuntabilitas sumber dana. Pengumpulan dana secara massal memberikan tantangan cukup
berat dalam pencatatan penyumbang, mengingat banyak nya daftar penyumbang dengan
nominal yang kecil tetapi tetap harus transparan dan akuntable, karena model penggalangan
dana semacam ini justru bisa jadi bumerang jika sistem administrasi data penyumbang nya
tidak bagus.
2. Pengendalian Pengeluaran Dana Kampanye
UU Pilkada mensyaratkan untuk dana kampanye dibatasi jumlahnya. Hal ini untuk
memberikan kesetaraan dan keadilan bagi semua kontestan. Pembatasan jumlah pengeluaran
Dana kampanye secara otomatis akan membatasi jumlah maksimal penerimaan yang boleh
digalang, yang pada akhirnya akan bisa membatasi masuknya aliran-aliran dana secara tidak
terbatas dan disinyalir memiliki politik hutang budi dibelakangnya. Melalui pengaturan
pengeluaran Dana Kampanye pemerintah berusaha untuk menggiring kontestan/parpol untuk
melakukan kampanye secara lebih sehat dan lebih berorientasi kepada bagaimana
mengkampanyekan visi misi dan program kerja kontestan kedepan. Model-model kampanye
yang disinyalir berbiaya mahal dan cenderung memberikan euforia sesaat kepada pemilih
serta rayuan-rayuan melalui pemberian barang dan uang secara sistematis diharapkan mulai
berkurang.
Akan tetapi didalam prakteknya kembali ditemukan manipulasi terhadap jumlah
pengeluaran yang sebenarnya dengan jumlah pengeluaran yang dilaporkan, hasil penelitian
KPK menyatakan bahwa terjadinya kesenjangan antara dana kampanye yang dikeluarkan
paslon dengan batasan dana yang diatur KPU menunjukkan bahwa batasan dana kampanye
yang ditetapkan KPU tidak efektif. Kondisi tersebut terjadi karena hingga saat ini tidak ada
sanksi yang dikenakan kepada paslon jika yang bersangkutan melakukan pelanggaran
terhadap batasan dana kampanye yang ditetapkan
Dalam hal efektifitas pengendalian pengeluaran dana kampanye penulis mencoba
membandingkan total dana kampanye yang digunakan sebelum dan sesudah adanya aturan
pembatasan dana kampanye dalam UU no 8 tahun 2015 serta Peraturan KPU no 08 tahun 2015
dengan data sebagai berikut:
Tabel 1.
Dana Kampanye Pasangan Calon Pemilihan Gubernur Sumbar 2010
Item
Pengeluaran

Fauzi Bahar
Y. Dahlan

I Prayitno M.Kasim

E. Irzal Asrul yukur:

M. RahmanA. Munandar:

EdiwarmanHusni Hadi:

6.120.050.000 5.033.606.500 2.989.468.035


Sumber: KPU Provinsi Sumatera Barat

2.049.581.278

1.534.026.105

Tabel 2.
Dana Kampanye Pasangan Calon Pemilihan Gubernur Sumbar 2015
Item

Fauzi Bahar-M.Kasim

I Prayitno -Nasrul A

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

Pengeluaran
Sumber: KPU Provinsi Sumatera Barat

6.982.701.218

7.007.542.500

Komisi Pemilihan Umum Sumatera Barat pada Pilkada Gubernur Sumatera Barat yang
dilakukan pada Desember 2015 yang lalu melalui koordinasi dengan Tim sukses dan
pasangan calon menghasilkan keputusan bahwa batasan pengeluaran Dana Kampanye adalah
sebesar Rp 15.006.550.000. Satu sisi hal ini adalah sebuah kemajuan besar karena sudah ada
aturan untuk pembatasan yang dilakukan dengan kesepakatan bersama, akan tetapi dari sisi
nominal, ketika ditelisik lebih dalam, efisiensi dan efektifitas dari pembiayaan bentuk
kampanye oleh APBD, ternyata ditemukan ketidaksingkronan ralisasi dengan amanah UU.
Jika pada Pilkada 2010 yang keseluruhan model kampanye dibiayai sendiri, maka realisasi
Dana Kampanye berada diangka rata-rata 5 M. Agak cukup janggal jika pada Pilkada 2015
yang sebagian besar model kampanye Pilkada sudah dibiayai APBD, akan tetapi pembatasan
pengeluaran Dana Kampanye disetting pada angka yang sangat tinggi yaitu 15 M.
Agar pembatasan dana kampanye bisa menjadi efektif efisien, dan bisa menjadi sistem
yang mengatur lajunya pembelanjaan Dana Kampanye, maka diperlukan formula yang lebih jitu
sehingga bisa menghasilkan nominal pembatasan Pengeluaran Dana Kampanye yang lebih
mendekati realisasi, baik dari sisi history ataupun dari sisi konten. Untuk itu penulis
menyarankan dilakukan juga hitung-hitungan dari sisi ekonomi yang melibatkan para ekonom.
Kemudian beberapa hal krusial yang jumlah nya signifikan akan tetapi belum dibahas
dalam aturan dana kampanye pemilukada adalah mengenai biaya saksi dan biaya pencalonan
oleh calon kepala daerah/kontestan yang harus menyetorkan sejumlah uang kepada partai
politik. Diakui oleh partai politik dan calon kepala daerah bahwa ada sejumlah biaya yang harus
disetorkan kepada partai politik oleh calon kandidat kepala daerah yang mendaftarkan dirinya
ke partai politik untuk mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Ada yang menyebut biaya
tersebut sebagai biaya administrasi, biaya pembelian formulir, atau biaya perahu 8. Nominal
jumlah yang harus disetorkan dalam biaya pencalonan adalah bervariasi, mulai dari puluhan juta
hingga ratusan juta bahkan miliaran, tergantung pada kebijakan partai politik masing-masing,
semakin besar partai politik dan semakin kuat basis suara partai. Kondisi seperti ini menjadikan
biaya politik sangat mahal dan cenderung berpotensi untuk terjadi kecurangan dan praktek
politik uang.
3. Persyaratan Pelaporan dan Pengungkapan
Pelaporan Dana Kampanye
Masalah umum yang ditemui dalam pelaporan Dana Kampanye ini adalah, bahwa
kontestan/partai politik tidak siap dalam pengelolaan laporan dana kampanye. Dana kampanye
ternyata tidak dikelola layaknya sebuah pendanaan profesional yang butuh tenaga
profesional/berpengalaman untuk mengelolanya. Hampir secara umum ditemui bahwa yang
membuat laporan Dana Kampanye tidak mempunyai pengalaman dan keilmuan tentang
keuangan, walaupun KPU dalam peraturan nya sudah memberikan rekomendasi untuk
menggunakan staf khusus yang mempunyai pengalaman dibidang akuntansi. Selain masalah
keabsahan dana yang didapat, dan penggunaan secara benar untuk pembiayaan, ternyata laporan
dana kampanye menjadi momok yang menakutkan dan dianggap memberatkan. Hal ini semakin
memperburuk kualitas laporan yang akan dihasilkan, baik secara substansi laporan ataupun
8 Wulandari, Lia. Dana Kampanye Pemilu di Indonesia: Isu Krusial yang Cenderung Terabaikan. Jurnal
Pemilu & Demokrasi, edisi 3: 55-78

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

administrasi pencatatan. Disisi lain ini menjadi peluang bagi KPU untuk bisa mensederhanakan
format laporan Dana kampanye namun substansi laporan tetap terpenuhi
Pengaturan dana kampanye harus menegaskan bahwa partai politik, calon dan organisasi
yang berhubungan dengan partai politik dan calon, wajib membuat catatan pembukuan
keuangan. Pencatatan sumber-sumber dana yang diterima oleh partai harus dibuat secara jelas
termasuk jumlah dan identitas penyumbang di atas jumlah tertentu. Partai juga diwajibkan untuk
menyerahkan laporan dana kampanye sebelum, selama dan setelah pemilu, dan
mengumumkannya kepada publik mengenai jumlah dan identitas penyumbang tersebut. 9
Akan tetapi hasil penelitian yang dilakukan KPK memberikan catatan berbeda tentang
Ketaatan dan Kejujuran Cakada dalam Pelaporan sebagai barikut:
1. Pengeluaran aktual Pilkada lebih besar dari Harta Kekayaan pada LHKPN, Laporan
Penerimaan dan Pengeluaran Dana Kampanye (LPPDK), dan Laporan Penerimaan
Sumbangan Dana Kampanye (LPSDK)
2. Tingkat kepatuhan pelaporan rendah dan isi laporan dimungkinkan tidak jujur dan
tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya,
3. Tidak efektifnya sebagian besar Peraturan mengenai Pilkada terutama terkait
Pendanaan (Undang-undang maupun Peraturan KPU) dalam hal kepatuhan, akurasi
maupun penegakan sanksi10
Ketidakmampuan kontestan mengelola dana kampanye ini mengisaratkan
ketidakmampuan manajerial secara umum, bagaimana seseorang akan bisa mengelola daerah
dengan anggaran sedemikian besar dan komplek, jika untuk mengelola sebuah keuangan yang
bersifat even saja mereka tidak sukses. Buruk nya pengelolaan laporan dana kampanye ini bisa
jadi karena sterotip yang berlaku selama ini, bahwa pelaporan dana kampanye bukanlah hal
yang krusial. 11 Hal ini sejalan pula dengan hasil penelitian yang dilakukan Jaringan Pendidikan
Pemilih untuk Rakyat (JPPR) yang melakukan pemantauan dana kampanye pada Desember
2015 yang lalu. Penelitian JPPR menemukan bahwa penyusunan laporan LPPDK oleh pasangan
calon tidak disiapkan jauh-jauh hari.
Pasangan calon lebih memilih untuk menyusun laporan setelah seluruh kegiatan
kampanye selesai daripada menyusun laporan dana kampanye secara bertahap dan
berkelanjutan. 12 untuk itu diperlukan adanya aturan yang tegas yang akan mengarahkan
kontestan secara berkala dan konsisten menyusun laporan dana kampanye dan melaporkan
sesuai dengan periode yang telah ditetapkan13. Selain itu, fungsi laporan berkala ini adalah
untuk mencegah tampilnya pasangan calon yang tidak bertanggungjawab: tidak membuat
laporan dana kampanye karena tidak terpilih. Sebagaimana diketahui, dalam pilkada-pilkada
sebelumnya sebagian besar pasangan calon yang kalah bersaing tidak membuat laporan dana
kampanye.
Keterbukaan:
9 Didik Supriyanto (Editor), Lia Wulandari, Armanda Pransiska, Dan Catherine Natalia. Dana
Kampanye Pilkada
10Komisi Pemilihan Umum. 2016. Studi Potensi Benturan Kepentingan dalam Pendanaan Pilkada Jakarta.
11 Seknas Fitra. Naskah Rekomendasi: Kebijakan Anggaran Pemilihan Umum Kepala Daerah,
Efisien dan Demokratis. Jakarta: Seknas Fitra, 2011.
12 Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR,) Persoalan Dana Kampanye 2015, hasil pemantauan dana
kampanye kepada 27 pasangan calon di 9 daerah Pilkada.
13 Didik Supriyanto (Editor), Lia Wulandari, Armanda Pransiska, Dan Catherine Natalia. Dana Kampanye
Pilkada: Pengaturan Teknis Tentang Sumbangan, Pengeluaran, Dan Pelaporan Berdasarkan UU No 1/2015 Juncto
Uu No 8/2015. Jakarta, Perludem, 2015

10

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

Satu lagi persoalan krusial yang seringkali diabaikan selama ini adalah disclosure
regulation atau ketentuan untuk mengumumkan hasil laporan dana kampanye atau membuka
akses bagi masyarakat untuk mengetahui informasi tersebut. Masalah dana kampanye adalah
persoalan sensitif bagi partai politik dan calon legislatif, banyak di antaranya yang berpendapat
bahwa dana kampanya adalah masalah dapur masing-masing yang tidak perlu dicampuri dan
diatur secara ketat atau masyarakat tidak perlu tahu. Padahal, salah satu hak rakyat untuk
mendapatkan informasi yang jelas mengenai dana kampanye terutama sumber pendanaan serta
penggunaannya.
Keterbukaan informasi dana kampanye, menuntut kedua belah pihak untuk transparan.
Baik KPU sebagai penyelenggara ataupun calon sebagai peserta. Menurut Donal, berkaca pada
Pilkada 2015, KPU tidak mempunyai standar dalam penyebarluasan informasi soal laporan dana
kampanye. Pada Pilkada 2015, hanya sebagian KPU darah yang membuka data tersebut, Donal
mengatakan selama ini selalu saja ada manipulasi dalam penerimaan maupun pengeluaran dana
kampanye. Ia berharap Bawaslu semakin tegas dengan memberikan sanksi pembatalan
pasangan calon. "Itu penting dilakukan agar membuat kandidat tidak lagi berani melakukan
manipulasi pencatatan pengeluaran dana kampanye," ujar Donal. Dengan terbukanya data
laporan dana kampanye, lanjut dia, publik dapat mengetahui ada atau tidaknya manipulasi dana
kampanye.
Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat mendesak para calon kandidat Kepala
Daerah Kabupaten Aceh Barat, yang bertarung dalam pemilu tahun 2012 untuk
mempublikasikan dana kampanye kepada publik. Hal ini penting dilakukan agar publik dapat
melakukan pengawasan terhadap dana kampanye. Muliyadi koordinator GeRAK Aceh Barat,
mengatakan kepada DiliputNews.com, dapat mencegah terjadinya penyimpangan dan
kecurangan dana kampanye dalam pelaksanaan pemilu serta persaingan yang tidak sehat antar
calon dalam meraih dukungan rakyat. Disamping itu publikasi dana kampanye secara transparan
juga dapat mencegah terjadinya permainan politik uang (money politics) dan pencucian uang
(money laundry. Publikasi dana kampanye olah kandidat merupakan indikator bentuk
kejujuran dan sikap transparans, yang dilakukan oleh pasangan calon Kepala Daerah. Hal ini
senada dengan imbauan Anggota Badan Pengawas Pemilu Lampung Ali Sidik bahwa calon
kepala Daerah dan wakil kepala daerah bisa berinisiatif menyampaikan laporan dana kampanye
secara rutin kepada publik. Hal ini untuk menunjukkan komitmen kepala daerah mewujudkan
pemilukada yang transparan dan akuntabel, Ali sidik mengapresiasi jika ada pasangan calon
berinisiatif melaporkan perkembangan dana kampanye yang masuk le rekeningnya secara rutin
ke publik
Prinsip transparansi bertujuan untuk memberikan informasi kepada publik tentang
penyumbang dana, jumlah sumbangan dan jenis belanja kampanye yang dilakukan oleh partai
politik dan calon baik selama maupun setelah kampanye. Informasi itu penting bagi masyarakat
untuk mengetahui dan mengontrol pengaruh uang terhadap partai politik dan pejabat-pejabat
terpilih dalam perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan di pemerintahan pascapemilu.
UU Pemilihan pasal 75 ayat (4) disebutkan bahwa KPU, KPU Provinsi, dan KPU
Kabupaten/Kota mengumumkan hasil pemeriksaan dana Kampanye Pemilu kepada publik
paling lambat 3 (tiga) hari setelah diterimanya laporan hasil pemeriksaan. Namun, tidak diatur
secara jelas bagaimana caranya mengumumkan laporan hasil pemeriksaan tersebut, kewajiban
untuk menyampaikan hasil audit ini hanyalah kepada pasangan calon aja. Sehingga masingmasing KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota mengumumkan hasil laporan tersebut
dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kreatifitas dan kemampuan anggaran masingmasing.

11

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

Mengingat signifikansi publikasi laporan dana kampanye ini, seharusnya publikasi hasil
audit pasangan calon ini bisa tersedia dan diakses oleh masyarakat umum secara luas dan
terutama para pemangku kepentingan. Keterbukaan informasi Dana Kampanye akan
memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memantau dan mengawasi akuntabilitas dana
kampanye tersebut, untuk itu diperlukan media yang tepat, yang bisa menjangkau masyarakat
secara luas dengan tidak ada rintangan berarti. sehingga peran masyarakat dan kelompok
kepentingan untuk mengawasi bisa terfasilitas. Perlu dipertimbangkan mekanisme untuk bisa
mengkoordinasikan pihak-pihak yang akan fokus terhadap isu-isu kunci dari laporan ini seperti
LSM dan Media
Indonesia sebagai negara pengakses facebook/internet nomor 2 terbesar di dunia
seharusnya bisa memanfaatkan kondisi ini untuk mewujudkan Dana Kampanye yang
transparansi dan akuntable. Kesuksesan KPU dalam memanfaatkan internet untuk melakukan
cek DPT secara Online, transparansi hasil penghitungan suara melalui kegiatan scan C1 yang
telah mendapat apresiasi dari banyak pihak seharusnya bisa diduplikasikan juga untuk
mempublikasikan setiap periodesasi pelaporan Dana Kampanye. Hal ini memberikan
kesempatan kepada masyarakat secara luas untuk melaksanakan hak politiknya mengawasi dan
memberikan penilaian serta yang lebih jauh lagi melaporkan jika melihat ada penyimpangan
dalam dana kampanye yang dilaporkan
Audit Laporan Dana Kampanye
Ideal nya proses audit laporan Dana Kampanye pasangan calon adalah poin penting
yang akan menentukan apakah pengelolaan Dana Kampanye kontestan akuntable atau tidak,
apakah ada sumbangan dari pihak yang dilarang, jumlah sumbangan yang melebihi batas,
pembelanjaan yang melebihi batas maksimal, indikasi masuknya aliran dana-dana korupsi, serta
dana-dana siluman dan item belanja yang menuju kepada politik transaksional. sayangnya, hal
ini masih belum bisa diterapkan, karena proses Audit yang dilakukan Kantor Akuntan Publik
(KAP) saat ini belum memfasilitasi untuk melakukan audit seperti ini, Aturan Dana kampanye
yang sudah cukup maju ternyata tidak diikuti dengan kemajuan aturan terhadap proses audit
nya. disisi lain KPU hanya bertanggungjawab untuk menerima dan memeriksa kelengkapan
laporan. Hal ini membuat laporan hasil audit hanya sekedar basa basi, dan tidak bergigi.

Tabel 3.
Pelaksanaan Audit Dana Kampanye Pasangan Calon Pemilihan Gubernur Sumbar 2015

Sumber: Bahan Bimtek Pelaporan Dana Kampanye Pemilihan Kepala Daerah & Wakil Kepala Daerah KPU

12

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) dan Kelompok Kerja Nasional Pengawasan
Partisipasi Dana Kampanye menyebutkan enam persoalan audit dana kampanye dalam pilkada
serentak 2015 "Persoalan pertama, audit dana kampanye tidak disertai dengan anggaran yang
wajar atau memadai. Dilihat dari besarannya, anggaran audit dana kampanye sangat tidak wajar
atau sangat rendah, persoalan ini memunculkan kekhawatiran kualitas hasil audit dana
kampanye jauh di bawah standar dan tidak profesional.
Persoalan kedua, audit dana kampanye tidak disertai dengan proses audit yang
komprehensif. Akuntan Publik (AP) hanya melakukan audit atas laporan dana kampanye yang
disampaikan pasangan calon. Untuk itu, pemilihan atau penunjukan KAP sebaiknya dilakukan
sebelum masa kampanye dimulai. "AP yang ditunjuk harus melakukan tugas di lapangan (on the
spot) selama masa kampanye berlangsung dengan melakukan sampling atas seluruh aktivitas
kampanye yang dilakukan oleh pasangan calon,"
Persoalan ketiga, lanjut Anton, adalah tidak adanya kontrol audit dana kampanye.
Hingga saat ini belum diatur kontrol atas pelaksanaan audit dana kampanye yang dilakukan oleh
KAP. Padahal KAP sangat potensial tidak melakukan audit dengan baik dan sesuai standar.
"Selama ini, kontrol terhadap KAP di seluruh Indonesia dilakukan oleh Departemen Keuangan
c.q. PPPK dan IAPI selaku satu-satunya asosiasi profesi yang menaungi para akuntan publik
Indonesia. Namun pada kenyataannya, belum ada mekanisme kontrol atas pelaksanaan audit
dana kampanye khususnya pada pelaksanaan pilkada,"
Persoalan keempat, persoalan audit dana kampanye dapat berdampak buruk pada
profesi akuntan publik dan KAP serta akuntabilitas audit dana kampanye. "Ini kemudian
berdampak pada hasil audit yang bisa saja tidak memenuhi standar dan tidak dapat
dipertanggungjawabkan," terangnya. Persoalan kelima, adalah audit dana kampanye hanya
melakukan audit kepatuhan dan administrasi sehingga tidak menyentuh hal-hal substansial
salam pengelolahan dana kampanye oleh pasangan calon. KAP atau AP tidak memiliki ruang
yang cukup untuk melakukan penelusuran penerimaan dan penggunaan dana kampanye karena
KAP dan AP baru dilibatkan pada laporan dana akhir kampanye.
Persoalan terakhir adalah penunjukan dan pemilihan KAP untuk audit dana kampanye
dilakukan dengan penunjukan langsung secara tertutup sehingga sangat rawan ada transaksi
terlarang antara oknum KPU di tingkat daerah dengan KAP,"

5. KESIMPULAN DAN SARAN


Masa kampanye bagi sebagian konstestan Pemilihan Kepada Daerah merupakan tahapan
yang penting yang harus dioptimalkan dalam mengisinya. Ketidak berfungsian mesin partai
politik dalam mengedukasi dan mendekatkan diri dengan masyarakat selama ini membuat
masa kampanye dijadikan sebagai shortcut untuk mempengaruhi perilaku memilih, sehingga
berbagai carapun ditempuh pada masa ini, termasuk menggunakan uang sebagai daya tarik
paling efektif.
Agar masa kampanye menjadi sarana yang efektif untuk mempengaruhi perilaku
memilih masyarakat, masa kampanye harus diisi dengan hal-hal yang subtantif, menjadi
media bagi para kontestan untuk saling beradu visi misi, program dan kreatifitas, bukan
sekedar mempengaruhi pemilih dengan rayuan materi dan nominal uang, maka harus ada
aturan main yang jelas, memfasilitasi secara adil dan bersifat memaksa untuk dilaksanakan.

13

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

Aturan hukum dana kampanye pemilihan Kepala Daerah diatur dalam UU Nomor 8
Tahun 2015 dalam aplikasi nya dilapangan masih ditemukan beberapa celah yang harus terus
disempurnakan antara lain:
1. Kontestan perlu diedukasi tentang urgensi dana kampanye yang transparan dan
akuntabel, serta perlu diback-up oleh Sumber Daya Manusia yang paham dan mampu
untuk melaksanakan tatakelola keuangan kampanye secara baik dan benar, sehingga
menjadi gambaran kemampuan kontestan dalam mengelola sumber daya daerah pada
masa yang akan datang jika terpilih nantinya.
2. Diperlukan mekanisme pengaturan lebih rinci tentang pembatasan sumber dana
kampanye yang berasal dari pendanaan calon/kontestan sendiri, agar tidak menjadi
celah untuk masuknya dana-dana titipan yang tidak bertanggungjawab. Termasuk
mekanisme untuk membandingkan dengan harta kekayaan yang dimiliki, hal ini bisa
dilakukan dengan melibatkan PPATK melalui penelusuran Laporan Harta Kekayaan
calon.
3. Perlu dikaji ulang metode pembatasan jumlah pengeluaran dana kampanye agar
mendapatkan jumlah yang mampu mengakomodir azas efektif dan efisien, termasuk
memperhitungkan mekanisme kampanye yang sudah difasilitasi APBD.
4. Untuk memperbaiki kekurangan kualitas dan kedalaman laporan Dana Kampanye oleh
calon/konstestan, bisa dilakukan dengan memperpendek periodesasi laporan dana
kampanye salah satunya dengan berkala setiap bulan, disatu sisi hal ini dapat membantu
pasangan calon dalam menyusun laporan lengkap atau akhir. Sebab, dalam proses
penyusunan dan penyampaian laporan berkala, pasangan calon akan dipaksa belajar dan
berlatih dalam menyempurnakan laporan, sehingga secara tidak langsung akan mampu
membuat laporan akhir sesuai dengan aturan.
5. Untuk memperkuat model transparansi diperlukan badan khusus yang diberi
kewenangan untuk menindaklanjuti laporan masyarakat, yang masuk dan bekerja tidak
dibatasi waktu (adhoc), bisa saja dari KPU, Bawaslu atau ada badan/fungsi khusus yang
fokus untuk masalah ini. Berkaca kepada negara lain contohnya USA, permasalahan
yang timbul dari dana kampanye bisa dilaporkan kapan saja sepanjang masa, tidak
terbatas selama masa kampanye/Pemilu. Hal ini diperlukan karena untuk penelurusan
Dana Kampanye akan membutuhkan waktu yang panjang, sementara waktu kampanye
hingga pasangan calon terpilih ditetapkan itu cukup pendek.
6. Pengaturan Dana Kampanye perlu diawasi oleh semua stakeholder pemilihan,
penggunaan media internet untuk media transparansi diharapkan akan memberikan
banyak daya ungkit untuk menciptakan Dana Kampanye Pilkada yang transparan dan
akuntabel. Dengan anggaran yang terbatas, optimalisasi penggunaan web dan media
KPU pada seluruh tingkatan untuk mempublis laporan dana kampanye dan laporan hasil
audit dana kampanye adalah hal mutlak yang harus dilakukan.
7. Bentuk pengawasan mengenai dana kampanye harus diperketat guna menjamin
akuntabilitas laporan yang telah dilaporkan oleh parpol peserta pemilu. Dimana jika ada
laporan yang masuk menemui suatu kejanggalan, mekanisme pelaporannya harus lebih
dipermudah guna memproses laporan kejanggalan tersebut.
Dengan prosedur
pelaporan yang dibuat lebih mudah, badan khusus pengawasan Dana Kampanye ini bisa
diberi kewenangan untuk melakukan audit investigasi ataupun audit faktual jika
dibutuhkan, termasuk tentang jadwal pengaduan dan pemprosesan yang tidak terbatas
hanya pada masa pemilu yang pendek.

14

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

8. Kontestan/ Partai politik dengan tata kelola dana kampanye yang buruk hampir pasti
akan gagal dalam mengelola negara dan pemerintahan. Oleh karena itu, sanksi-sanksi
terhadap pelanggaran peraturan dana kampanye harus ditegakkan. Sanksinya tidak
harus berupa hukuman pidana atau denda, tetapi juga sanksi adminstrasi. Sanksi pidana
hanya mengenai pengurus partai politik, calon atau anggota tim kampanye; sedangkan
sanksi administrasi sangat efektif mengenai partai politik sebagai organisasi dan orang
yang berhasrat menjadi calon anggota legislatif dan calon pejabat eksekutif. Misalnya
sanksi tidak bisa mengikuti pemilu bagi partai politik dan calon yang tidak membuka
daftar penyumbang dan membuat laporan dana kampanye, akan memaksa partai politik
dan calon membuat daftar penyumbang dan laporan dana kampanye. Sebab jika tidak,
mereka tidak bisa mengikuti pemilu berikutnya
6. DAFTAR PUSTAKA
1. Didik Supriyanto, Topo Santoso, Aswanto, Veri Junaidi dan Rosalita Chandra. 2011.
Menata Kembali Pengaturan Pemilukada. Jakarta: Perludem,
2. Didik Supriyanto (Editor), Lia Wulandari, Armanda Pransiska, Dan Catherine
Natalia. 2015. Dana Kampanye Pilkada: Pengaturan Teknis Tentang Sumbangan,
Pengeluaran, Dan Pelaporan Berdasarkan UU No 1/2015 Juncto Uu No 8/2015.
Jakarta: Perludem.
3. Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK. 2016. Studi Potensi Benturan
Kepentingan dalam Pendanaan Pilkada, Jakarta: KPK
4. International Institute for Democracy and Electoral Asistence (IDEA). 2002.
Standar-standar Internasional Pemilihan Umum: Pedoman Peninjauan Kembali
Kerangka Hukum Pemilu. Jakarta: International IDEA.
5. Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR,). 2015. Persoalan Dana
Kampanye 2015, hasil pemantauan dana kampanye kepada 27 pasangan calon di 9
daerah Pilkada. Jakarta.
6. KD Edwing and Samuel Issachardoff (eds). 2006. Party Funding and Campaign
Financing in International Perspektive, Oregon: Hart Publishing.
7. Pramono Anung Wibowo. 2013. Mahalnya Demokrasi, Memudarnya Ideologi:
Potret Komunikasi Politik Legislator, Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
8. Ramlan Surbakti, Didik Supriyanto, dan Topo Santoso. 2008. Perekayasaan Sistem
Pemilu untuk Tata Politik Demokratis, Partnershif for Governance Reform Indonesia,
Jakarta,
9. Seknas Fitra.. 2011. Naskah Rekomendasi: Kebijakan Anggaran Pemilihan Umum
Kepala Daerah, Efisien dan Demokratis. Jakarta: Seknas Fitra
10. Terabaikan. Jurnal Pemilu & Demokrasi, edisi 3: 2012
11. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
12. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur,
Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-undang.
13. Undang-undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-undang
Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang
undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota
Menjadi Undang Undang.
14. Bahan Bimtek Pelaporan Dana Kampanye Pemilihan Kepala Daerah oleh KPU

15

Seminar Nasional II FISIP Universitas Andalas


Penguatan Ilmu Sosial dan Humaniora Untuk
Perbaikan
Karakter Bangsa Indonesia

15. http://www.beritasatu.com/nasional/322745-jppr-temukan-pelanggaran-sumbangandana-kampanye-di-9-daerah.html

16