Está en la página 1de 7

POTENSI PEMILIH PEMULA PADA

PEMILU
Disusun Oleh :
Hasnah Rahmawati K 21060112083021
PSD III Teknik Elektro
Universitas Diponegoro Semarang
2014/2015
I
LATAR BELAKANG MASALAH
Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan ritual politik 5 tahunan di Indonesia. Bentuknya bisa
berupa pemilihan presiden, anggota legislatif -- DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi dan DPRD
Kabupaten/Kota. Juga wali kota, bupati, hingga gubernur. Dari pelaksanaan agenda rutin ini,
selalu saja yang menjadi pokok persoalan, sebelum hingga usai pelaksanaan, yakni Daftar
Pemilih Tetap (DPT). Meski pemilih hanya dijadikan objek bukan subjek, namun keberadaan
mereka sangatlah penting dalam setiap pemilu. Maka sangat wajar jika keputusan mengenai
DPT selalu berlarut-larut. Bahkan usai pe milihan pun, DPT tetap saja dijadikan salah satu
dasar pengajuan gugatan dari para calon yang kalah.
Sudah mahfum diketahui para pemilihyang merupakan warga negara berusia 17 tahun pada
hari pemungutan suara atau sudah menikah serta tidak kehilangan hak pi lih. Karena itu, para
calon pemimpin di daerah maupun di pusat, berlomba-lomba agar para pemilih potensial
yang mereka miliki masuk dalam DPT.
Dari pemilih tersebut, salah satu yang cukup signifikan yakni pemilih pemula atau para
pemilih yang baru pertama kali mengikuti seremoni pemilihan 5 tahunan tersebut. Jika
merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), diperkirakan angka pemilih pemula pada
2014 kemarin adalah mencapai 15 persen dari total pemilih.
Jika perkiraan persentase tersebut dianggap sama dengan pemilih pemula khususnya di
Samarinda, maka terdapat sekitar 75 ribu hingga 90 ribu pemilih pemula dari jumlah DPT
yang diperkirakan mencapai angka 500 hingga 600 ribu atau setara 7 hingga 9 kursi di DPRD
Samarinda dari total 45 kursi yang diperebutkan. Melihat jumlah kursi tersebut memang
kurang signifikan, namun di DPRD Samarinda, jumlah itu sama dengan 1 fraksi. Karena itu,
mau tidak mau, suka tidak suka, para calon berlomba-lomba berusaha merebut simpati para
pemilih pemula.
II

Rumusan Masalah
Dalam penulisan artikel ini, penulis bermaksud menguraikan Siapakah yang dimaksud
pemilih pemula dalam pemilu?, Faktor apa saja yang memengaruhi pemilih pemula dalam
menggunakan hak pilihnya?, Apa saja dampak yang dialami sebagai pemilih pemula?, Halhal apa saja yang harus dilakukan oleh KPU agar pemilih pemula mempunyai pandangan
yang luas tentang pemilu dan kandidat-kandidat yang akan dipilih?
III
PEMBAHASAN
Pemilih Pemula
Berdasarkan UU No. 10 tahun 2008 dalam Bab IV pasal 19 ayat 1 dan 2 serta pasal 20men
yebutkan bahwa yang dimaksud dengan pemilih pemula adalah warga Indonesiayang pada
hari pemilihan atau pemungutan suara adalah Warga Negara Indonesiayang sudah genap
berusia 17 tahun dan atau lebih atau sudah/pernah kawin yangmempunyai hak pilih, dan
sebelumnya belum termasuk pemilih karena ketentuanUndang-Undang Pemilu.
Data dari komisioner KPU Pusat menyebutkan bahwa jumlahpemilih pemula pada Pemilu
2014 kemarin yang berusia 17 sampai 20 tahun sekitar14 juta orang, sedangkan yang berusia
20 sampai 30 tahun sekitar 45,6 juta jiwa.Dari data tersebut, pemilih pemula merupakan
pemilih yang dinilai sangatpotensial.
Pemilih pemula sebagai bagian dari seluruh pemilih di Indonesia yang memiliki peran besar
bagi kemajuan bangsa tidak boleh menganggap remeh dunia politik, khususnya partisipasi
mereka dalam pemilihan umum.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Pemilih Pemula Menentukan Pilihannya
Ada beberapa faktor yang memengaruhi pemilih pemula dalam menentukan pilihannya dalam
pemilu.Menurut Nursal (2006 : 72) faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut :
1.Social Imagery atau Citra Sosial (Pengelompokan Sosial)
2. Identifikasi Partai
3.Emotional Feeling (Perasaan Emosional)
4.Candidate Personality (Citra Kandidat)
5.Issues and Policies (Isu dan Kebijakan Politik)
6.Current Events (Peristiwa Mutakhir)
7.Personal Events (Peristiwa Personal)
8.Epistemic Issues (Faktor-faktor Epistemik)

Selain faktor faktor diatas, media massa juga sangat berpengaruh terhadap penentuan pilihan
bagi pemilih pemula. Media massa membe ntuk opini publik sehingga pemilih pemula
cenderung memilih berdasarkan iklan politik dan bukan rekam jejak calon. "Jika tidak hatihati memang orientasi pemilih pemula akan digiring pada salah satu peserta pemilu sehingga
menjadi kerugian besar," jelas s e orang mahasiswi UGM yang melakukan penelitian. Dari
penelitian tersebut juga terungkap, 60 persen pemilih pemula itu belum pernah memperoleh
sosialisasi pemilu 2014. Selain itu, 65 persen pemilih pemula menyatakan tidak mengetahui
jumlah parpol peserta pe milu.(13/4/2014)
2.3 Dampak yang Dialami Pemilih Pemula
Pemilih pemula dalam Pemilu 2014 yang mayoritas siswa sekolah menengah umum
(SMA/MA) di Yogyakarta ikut menjadi sasaran politik uang oleh calon legislatif maupun
aktivis partai.Survei terbaru dari Pu sat Studi Hukum Konstitusi Fakultas Hukum Universitas
Islam Indonesia menunjukkan sebanyak 18,88 persen pemilih pemula telah ditembus oleh
sogokan uang dan bentuk lainnya selama musim kampanye Pemilu 2014.Kordinator survei
Anang Zubaidy menyatakan responden semuanya siswa, tidak masuk kategori simpatisan
partai.
Temuan adanya siswa yang juga calon pemilih menerima sogokan menunjukkan sasaran
politik uang tidak terbatas simpatisan partai, siswa yang polos ikut disasar. Pelaku money
politik seperti melempar dadu (spekulasi, red) sehingga pemilih pemula ikut menjadi sasaran
(politik uang), kata dia, Senin (7/4/2014).
Responden survei sebanyak 980 siswa dari 15 SMA/MA di Kota dan empat kabupaten di
Yogyakarta, pelaksanan survei 10-24 Maret 2014. Satu dari spuluh pertanyan
survey,tentang menerima pemberian uang selama musim kampanye, 81,12 persen siswa
menyatakan tidak pernah, sisanya mengaku pernah menerima hadiah dari tim sukses maupun
calon legislatif.
Sikap para siswa usai menerima hadiah dari caleg beragam. Sikap paling menonjol menerima
tetapi tidak melaporkan ke pengawas atau petugas pemilihan umum (35.75 persen), disusul
melaporkan ke pengawas/petugas pemilihan umum (23,66 persen), menerima sekaligus
melaporkan ke pengawas (5 persen), menerima lalu menyumbangkan ke orang lain (1.88
persen). Sikap lainnya sebanyak 33 persen meliputo menerima dan menabung uang dari
hadiah, menerima tetapi tidak memilih orangnya, memilih pemberi uang, menerima dan
menolak terpengaruh hadiah tetapi takut melaporkan pemberi.
Ketika ditanya sikap mereka terhadap politik uang, mayoritas siswa yang menjadi responden
(85.10 persen) sepakat pelaku harus diberantas, alasannya merusak moral dan politik, dosa.
Pemborosan, menyebablan ketidakadilan.
Adapun minoritas siswa menjawab politik uang boleh dan biarkan saja sebanyak 2.96 persen
responden, dengan alasan penegak hukum sulit membuktikan tind ak pidana politik uang,
masyarakat membutuhkan, tuntutan bagi caleg merebut suara, tidak melanggar hak asasi.
Anang Zubaidy yang menjabat Ketua Pusat Studi Hukum Konstitusi Fakultas Hukum UII,
menyatakan fenomena pemilih pemula menjadi sasaran politik uang tim sukses maupun caleg
sebagai pendidikan politik yang tidak baik.

Tindakan gratifikasi kepada calon pemilih tersebut, menurut dia, sebagai cerminan
komunikasi yang buruk antar calon dan tim sukses. Caleg mencurigai lawan politik menebar
uang, maka ia me lakukan tindakan serupa dengan asumsi jika tidak ikut bisa kalah atau tidak
meraih suara memadai.
Menyangkut efektivitas caleg atau tim sukses nyawer ke pemilih pemula, menurut dia
besar kemungkinan tidak efektif. Asumsi dia bahwa pemilih pemula sebagai kategori pemilih
idealis, yang masih memilah siapa caleg yang memadai, ketika mendapatkan tim sukses dan
caleg nyawer ke mereka justru mendorong mereka tidak memilih alias golput.
Politik uang bisa menjadikan mereka (siswa sebaga pemilih pemula) malas ke TPS (tempat
pemungutan suara). Pengalaman Pemilu 2004, para pemilih pemula menunjuk pemilu tidak
jurdil maka mereka mlas mencoblos.
Dia menduga uang caleg untuk nyawer siswa-siswa pemiluh pemula hanya melayang dan
menyebabkan mereka habis uangnya, sementara pemiluh pemula tidak memilih pemberi
uang.
2.4 Hal-Hal yang Harus Dilakukan KPU agar Pemilih Pemula Memiliki Pandangan yang
Luas Tentang Pemilu dan Kandidat-Kandidat yang akan Dipilih
Perilaku pemilih pemula yang cenderung tidak peduli dan labilterhadap dunia politik yang
menyebabkan kesadaran berpolitik kurang danmengakibatkan partisipasi dalam pemilihan
umum menjadi rendah. Hal tersebutperlu segera diatasi oleh KPU sebagai lembaga pemilihan
umum di Indonesia, sebab pemilih pemula penting karena apa yang menjadi pengalaman
pertama akan tertanam bagus di dalam otak mereka.
Pendidikan politik untuk pemilih pemula sebagian besar diperoleh dari informasi mediamassa
yang cenderung menampilkan sisi buruk dari perilaku elite politik dan inimempengaruhi
minat pemilih pemula. Hal ini mengakibatkan pendidikan politikbagi pemilih pemula
menjadi tidak optimal dan seharusnya di hindari olehpelaku-pelaku media massa yang tidak
hanya mencari keuntungan saja.
Pendidikan politik (civil education) yang terstruktur dan kontinu bagi pemilihpemula perlu
digelar untuk meningkatkan partisipasi dalam pelaksanaan pemilu.Kebijakan ini penting
untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalampelaksanaan pemilu khususnya pemilih
pemula dengan menggunakan hak suaranya
Hal i ni juga menjadi investasi bagi KPU untuk pemlihan selanjutnya agar menciptakan
pemilih pemula yang mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap kehidupan politik di
Indonesia.
Pemanfaatan media sosial sebagai sarana sosialisasi mempunyai banyak
keuntungan,diantaranya ialah biaya yang relatif murah, bisa diakses oleh semua kalangan,dan
tidak terbatas ruang dan waktu. Hal ini menjadi potensial untuk sarana sosialisasi, baik
dilakukan oleh KPU maupun yang dilakukan oleh partai politik.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus meningkatkan sosialisasi pemilu kepada pemilih
pemula. Sebab, sosialisasi kepada pemilih pemula dinilai masih minim. Menurut Anggota
Komisi II DPR Arif Wibowo, KPU harus lebih gencar dalam menyosialisasikan programnya

kepada pemilih pemula itu. Pas alnya, pemilih pemula pada Pemilu 2014 memiliki potensi
suara sangat besar. Kalau ada sekitar 14 juta jiwa (pemilih pemula) itu sudah hampir
setengah kursi Senayan. Fokus kepemiluan itu wewenang KPU, termasuk keharusan
sosialisasi terhadap pemilih pemula, kata Arif, Ahad (28/7).Memang, menurut Arif, partai
politik (parpol) dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk turut serta
menyosialisasikan pemilu. Tetapi sebagai penyelenggara pemilu yang telah diamanatkan
Undang-Undang, KPU harus melakukan sup ervisi untuk mengoptimalkan sosialisasi. Selain
itu, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga bisa melakukan upaya pengawasan dini dengan
kelibatkan keikutsertaan pemilih pemula, seperti pelajar dan mahasiswa.
Komisioner KPU Ferry Kurnia Rizkiyansyah mengatakan, dalam daftar pemilih sementara
(DPS) tercatat jumlah pemilih pemula mencapai 14 juta jiwa. Pemilih pemula untuk usia 17
sampai 20 tahun ada 14 juta. Untuk usia 20-30 ada 45,6 juta, kata Ferry.
Menurut Ferry, pemilih pemula mayoritas memiliki rentang u sia 17-21 tahun, kecuali karena
telah menikah. Dan, mayoritas pemilih pemula adalah pelajar (SMA), mahasiswa, dan
pekerja muda. Pada Pemilu 2004 ada 50.054.460 juta pemilih pemula dari jumlah 147.219
juta jiwa pemilih dalam pemilu.Jumlah itu mencapai 34 p ersen dari keseluruhan pemilih
dalam pemilu.
Jumlah tersebut lebih besar daripada jumlah perolehan suara parpol terbesar pada waktu itu,
yaitu Partai Golkar yang memperoleh suara 24.461.104 (21,62 persen) dari suara sah.
Sedangkan pada Pemilu 2009, potensi suara pemilih pemula tetap signifikan.
Untuk melakukan sosialisasi tehadap pemilih pemula, KPU dikatakan Ferry telah memulai
kerja sama dengan Forum Rektor. Kerja sama ini untuk melakukan program sosialisasi,
seperti Goes to Campus. KPU juga bekerja sama dengan LSM pemantau pemilu dalam
menggiatkan pendidikan politik bagi pemilih pemula. Bahkan, KPU mengoptimalksan
sosialisasi melalui media internet dan jejaring social, seperti Twitter dan Facebook.
Di pihak lain, sejumlah partai mulai berlomba merebut simpati pemilih pemula. Partai
Persatuan Pembangunan (PPP), misalnya, sudah mengincar suara pemilih pemula sebagai
lumbung suara di pemilu 2014.
Jumlah pemilih pemula saat ini mencapai 25 persen dari total jumlah warga Indonesia yang
tercatat sebagai daftar pemilih sementara atau DPS. Dengan jumlahnya yang banyak tersebut
harus diberikan pembelajaran politik yang baik,kata Ketua DPP PPP Reni Marlinawati.
Menurut Reni, untuk bisa meraup suara pemula, pihaknya sering melakukan diskusi publik
yang pesertanya p emilih pemula. Ini untuk memberikan pembelajaran bagaimana cara
memilih partai dan calon legislatif yang tepat sesuai hati nurani mereka. Selain itu, pemberian
pembelajaran politik dengan cara tatap muka dan berkomunikasi langsung dengan para
pemilih pemu la. Cara ini diharapkan bisa mendongkrak suara PPP.
PPP menilai, strategi dialogis mendekati pemilih pemula akan lebih efektif ketimbang
kampanye terbuka mengandalkan popularitas, seperti artis. Pemilih pemula ini perlu
mendapatkan pembelajaran politik yan g baik. Jangan sampai menjadi skeptis atau
percayanya seseorang terhadap hal yang masih belum terbukti kebenarannya apalagi sampai
apatis yang bisa menurunkan citra politik dan politisi di negeri ini, kata Reni.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan ialah :
1.Berdasarkan UU No. 10 tahun 2008 dalam Bab IV pasal 19 ayat 1 dan 2 serta pasal
20 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pemilih pemula adalah warga Indonesia yang
pada hari pemilihan atau pemungutan suara adalah Warga Negara Indonesia yang sudah
genap berusia 17 tahun dan atau lebih atau sudah/pernah kawin yang mempunyai hak pilih,
dan sebelumnya belum termasuk pemilih karena ketentuan Undang-Undang Pemilu.
2.faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut :
1.Social Imagery atau Citra Sosial (Pengelompokan Sosial)
2. Identifikasi Partai
3.Emotional Feeling (Perasaan Emosional)
4.Candidate Personality (Citra Kandidat)
5.Issues and Policies (Isu dan Kebijakan Politik)
6.Current Events (Peristiwa Mutakhir)
7.Personal Events (Peristiwa Personal)
8.Epistemic Issues (Faktor-faktor Epistemik)
3.Dampak yang dialami oleh pemilih pemula yang sering dialami ialah menjadi sasaran
politik uang.
4.Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus meningkatkan sosialisasi pemilu kepada pemilih
pemula. Sebab, sosialisasi kepada pemilih pemula dinilai masih minim. Sosialisasi dapat
dilakukan melalui media massa, road to campus , dll.
3.2 Saran
Penulis memohon maaf, menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan, oleh karena itu penulis memerlukan saran yang membangun agar penyusunan
makalah berikutnya bisa lebih baik.
REFERENSI
Primoraharahap, 9 april 2014, media politik-mempengaruhi atau dipengaruhi, Kompasiana
online.

Rosit,M., 10 April 2013, Melirik Potensi Pemilih Pemula Pada Pemilu 2014,
Citizen6,Liputan6.com.
optimalisasiperan-pemilih-pemula-hadapi-pemilu-2014, berita antara sulsel online.
Al-Hamzah, Zaky, 29 Juli 2013, Sosialisasi pada Pemilih Pemula Minim, Republika online.
Nasrullah, Muhammad, 2 April 2014, Potensi Pemilih Pemula, Tribunnews.com.
Met, 21 Juli 2013, Pentingnya Potensi Pemilih Pemula di Pemilu 2014, Koran Kaltim Online.
7 April 2014, Pemilih Pemula jadi Sasaran Politik Uang, PikiranRakyat.com
Puspitarini, Margaret, 13 Maret 2014 Survei UGM: 65% Pemilih Pemula Buta Parpol &
Pemilu, Okezone.