Está en la página 1de 11

Evaluasi Program Pengawasan Jamban Keluarga di Wilayah Kerja

Puskesmas Pedes Kabupaten Karawang


Periode Januari sampai dengan Desember 2015
Novitalia
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
lianovitalianovitalia@gmail.com
Abstrak
Tantangan pembangunan sanitasi di Indonesia adalah masalah sosial budaya dan perilaku
penduduk yang terbiasa buang air besar (BAB) di sembarang tempat, khususnya ke badan
air yang juga digunakan untuk mencuci, mandi dan kebutuhan higienis lainnya. Hasil studi
Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) 2006 menunjukan 47%
masyarakat masih berperilaku dari buang air di sembarang tempat (BABS) ke sungai,
sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka. Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa
rumah tangga di Indonesia menggunakan fasilitas BAB milik sendiri (76,2%), milik
bersama (6,7%), dan fasilitas umum (4,2%).Meskipun sebagian besar rumah tangga di
Indonesia memiliki fasilitas BAB, masih terdapat rumah tangga yang tidak memiliki
fasilitas BAB sehingga melakukan BAB sembarangan, yaitu sebesar 12,9%. Proporsi
rumah tangga yang menggunakan fasilitas BAB milik sendiri di perkotaan lebih tinggi
(84,9%) dibandingkan di perdesaan (67,3%); sedangkan proporsi rumah tangga BAB di
fasilitas milik bersama dan umum maupun BAB sembarangan di perdesaan (masingmasing 6,9%, 5,0%, dan 20,8%) lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan (6,6%,
3,5%, dan 5,1%). Maka dilakukan evaluasi program dengan metode pengumpulan data,
analisis data, dan pengolahan data dengan cara membandingkan cakupan hasil program
terhadap tolak ukur yang telah ditetapkan dan menemukan penyebab masalah dengan
menggunakan pendekatan sistem. Dari hasil evaluasi didapatkan dua masalah yaitu
cakupan hasil pengawasan/inspeksi sarana jamban dengan besar masalah 47,77% dan
cakupan presentasi penduduk dengan akses fasilitas sanitasi yang layak/jamban sehat
dengan besar masalah 69,38%. Penyebab masalah yaitu pengawasan jamban yang tidak
maksimal, kurangnya koorodinasi antara penanggung jawab dengan koordinator program,
kurangnya kegiatan penyuluhan kepada masyarakat desa tentang jamban, dan kurangnya
kerja sama lintas sektoral dengan pemerintah setempat.
Kata kunci : BABS, Puskesmas Pedes, Evaluasi Program, Cakupan Pengawasan Jamban.
Abstract
Development challenges of sanitation in Indonesia is a cultural and social problems and
behavior of people accustomed to defecate in any place, especially to the body of water
that is also used for washing, bathing and other hygienic needs. The study Indonesia
Sanitation Sector Development Program (ISSDP) in 2006 showed 47% of people still
behave defecate in any place (Babs) into rivers, fields, pools, gardens and open spaces.

Riskesdas data in 2013 showed that the households in Indonesia using the facility own
(76.2%), the common property (6.7%), and public facilities (4.2%). Although the vast
majority of households in Indonesia have facilities BAB there is still a household that does
not have the facilities to perform defecation BAB, at 12.9%. The proportion of households
using its own facilities toilet higher in urban areas (84.9%) than in rural areas (67.3%);
while the proportion of households defecate in the commons and public facilities as well
as defecation in rural areas (respectively 6.9%, 5.0% and 20.8%) higher than in urban
areas (6.6%, 3, 5%, and 5.1%). So the program evaluation conducted by the method of
data collection, data analysis, and data processing by comparing the results of program
coverage with the benchmarks have been set and find the cause of the problem by using a
systems approach. The evaluation results obtained are two problems, namely coverage
results supervision / inspection means big problems latrine with 47.77% and coverage of
population with access presentation adequate sanitation facilities / latrines healthy with
69.38% of the problems. The cause of the problem, namely the supervision of latrines is
not the maximum, the lack coordination between the person in charge of the program
coordinators, lack of extension services to rural people about the pit, and the lack of intersector cooperation with local authorities.
Keywords: ODF, Puskesmas Pedes, Program Evaluation, Monitoring Coverage toilets.

Latar Belakang
Menurut Hendrik L Blum,
derajat kesehatan seseorang ataupun

yang salah satunya melalui cakupan


pengawasan

sarana

jamban

yang

masyarakat dipengaruhi oleh empat

merupakan sanitasi dasar.1,2


Tantangan
pembangunan

faktor,

45%,

sanitasi di Indonesia adalah masalah

kesehatan

sosial budaya dan perilaku penduduk

keturunan 5%.1 Status

yang terbiasa buang air besar (BAB)

yaitu

lingkungan

perilaku 30%, pelayanan


20% dan
kesehatan

akan

tercapai

secara

di sembarang tempat, khususnya ke

optimal bila keempat faktor tersebut

badan air yang juga digunakan untuk

secara

mencuci,

bersama-sama

mempunyai

mandi

dan

kebutuhan

kondisi yang optimal. Lingkungan

higienis lainnya. Buruknya kondisi

mempunyai pengaruh yang paling

sanitasi

besar

kesehatan

penyebab kematian anak di bawah 3

mendorong

tahun yaitu sebesar 19% atau sekitar

mencanangkan

100.000 anak meninggal karena diare

wajib

setiap tahunnya.3
Hasil
studi

terhadap

derajat

masyarakat.

Hal

pemerintah

untuk

program

kesehatan

ini

seperti

program upaya kesehatan lingkungan

merupakan

Sanitation Sector

salah

satu

Indonesia
Development

Program (ISSDP) 2006 menunjukan

Evaluasi program ini dilaksanakan

47% masyarakat masih berperilaku

dengan pengumpulan data, pengolahan

dari buang air di sembarang tempat

data, dan analisis data sehingga dapat

(BABS) ke sungai, sawah, kolam,

digunakan

untuk

kebun dan tempat terbuka. Kondisi

permasalahan

pelaksanaan

tersebut

pengawasan

berkontribusi

terhadap

menjawab

jamban

di

program
Puskesmas

tingginya angka kejadian diare di

Pedes periode Januari sampai dengan

Indonesia. Data angka kejadian diare

Desember

nasional pada tahun 2006 sebesar 423

membandingkan cakupan hasil program

per seribu penduduk pada semua

terhadap

umur dan 16 provinsi mengalami

ditetapkan dan menemukan penyebab

Kejadian Luar Biasa (KLB) diare

masalah

dengan Case Fatality Rate (CFR)

pendekatan sistem.

2015
tolak

dengan
ukur

dengan

yang

cara
telah

menggunakan

sebesar 2,52.3
Tujuan Umum

Sumber Data

Untuk

mengetahui

Sumber data dalam evaluasi

permasalahan program pengawasan

ini diambil, berasal dari data

jamban dan penyelesaian masalah di

tersier, yaitu:

UPTD

Puskesmas

Pedes

periode

1. Laporan

Pembangunan

Januari sampai dengan Desember

Kesehatan

UPTD

Puskesmas

2015.

Pedes Kecamatan Pedes Tahun


2015.

Sasaran

2. Profil

Masyarakat
Puskesmas

di

wilayah

Kecamatan

kerja

Kesehatan

UPTD

Puskesmas Pedes.

Pedes,

3. Laporan Data Dasar Penyehatan

Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada

Lingkungan, UPTD Puskesmas

periode

Pedes, Kecamatan Pedes Periode

Januari

Desember 2015.

sampai

dengan

Januari sampai Desember 2015.


4. Laporan Bulanan Data Dasar

Metode

Penyehatan Lingkungan, UPTD

Puskesmas

Pedes,

Periode

sudah memenuhi syarat


Penyuluhan hanya

Januari sampai Desember 2015


5. Data demografi Puskesmas Pedes

Pengawasan/inspeksi

dilakukan 2 kali

sarana jamban

dalam 1 tahun

Pencatatan dan

Tidak dibuat

pelaporan

pemetaan sarana

(+)

(+)

Kecamatan Pedes Tahun 2015.

jamban yang
memenuhi syarat
(-)

Pembahasan Masalah
Pengawasan/inspek
si sarana jamban
hanya dilakukan 2

Masalah Menurut Variabel Keluaran


No
1

Variabel

Tolak Ukur (%)

Cakupan hasil

kali dalam sebulan


Ada pencatatan

Pencapaian
(%)
39.17

75

setiap akhir
minggu dan

pengawasan/inspeksi sarana
2

pelaporan setiap

jamban keluarga
Cakupan jamban keluarga yang

75

22.96

awal bulan

memenuhi syarat

Masalah Menurut Variabel Proses

Masalah Menurut Variabel Masukan


No
1

Tolak Ukur
Dibentuk struktur

Pencapaian
Struktur organisasi

organisasi, kepala

sudah jelas namun

puskesmas sebagai

koordinasi di lintas

penanggung jawab

program dan lintas

program

program, melimpahkan

sektoral antar

pengawasan

kekuasaan kepada

petugas pelaksana

koordinator program

program
pengawasan

Variabel
Tenaga

Tolak Ukur
Tersedianya
petugas

Pencapaian
Ada 1 orang tenaga

(Man)

sebagai koordinator dan

yang

pelaksana

sebagai koordinator
dan

program

pengawasan
yang

jamban

terampil

di

bidangnya

No
1

Variabel
Pengorganisasian

merangkap
pelaksana

jamban,

Masalah
(+)

tetapi

kerjanya

kurang

(programmer), kemudian

optimal

karena

melakukan koordinasi

jamban belum

dengan pelaksana program


Sesuai dengan rencana dan

optimal

beliau

berlatar

belakang

sebagai

Pelaksanaan

metode yang telah

Dana

Tersedianya dana yang

perawat
Ada, tetapi tidak

Tidak dapat

ditetapkan dilaksanakan

(Money)

berasal dari BOK

jelas

diukur

secara berkala:

Sarana

Sanitarian kit

perincian dananya
Tidak ada

(+)

Pendataan 1 kali setahun

(Material)

Infocus

Ada

Layar

Ada

Leaflet

Tidak ada

Lembar balik

Tidak ada

Metode

besar

Poster

Tidak ada

Formulir wawancara

Ada

Buku pedoman

Ada

Alat tulis

Ada

Sarana transportasi dinas


Pendataan

Ada
Pendataan

(Method)

dan

Masalah
(+)

Pengawasan/inspeksi

sekali
Pengawasan/inspe

bulan

ksi dilakukan

yang memenuhi syarat 1


tahun sekali
Melakukan penyuluhan 12
kali dalam 1 tahun
Pencatatan dan pelaporan

(-)

dilakukan 1 tahun

dilakukan 8 kali dalam 1

Pemetaan sarana jamban

(+)

Pendatan telah

hanya 2 kali
dalam 1 bulan
Belum dilakukan

(+)

pemetaan jamban
Penyuluhan yang

(+)

dilakukan hanya 2
kali dalam 1

dilakukan tetapi

tahun
Pencatatan dan

hanya terbatas pada


jumlah jamban

pelaporan sudah

yang ada dan

dilakukan

(+)

jumlah jamban
yang memenuhi
Penyuluhan mengenai
sarana jamban yang
memenuhi syarat
kesehatan yang
dilakukan di dalam dan
di luar gedung
Pemetaan jamban yang

syarat. Tidak ada

(+)

pendataan
mengenai jenis
(-)

jamban
3

Pengawasan

Pencatatan dan pelaporan

Pencatatan

setiap bulan/tahunan

dilakukan tiap

(-)

secara berkala tentang

akhir minggu dan

kegiatan pengawasan

pelaporan setiap

jamban ke tingkat

awal bulan

Penyelesaian Masalah

Kabupaten

Masalah
I.
Kurangnya cakupan pengawasan

Rapat bulanan hasil


pencapaian program
pengawasan jamban

jamban : Cakupan hasil


Adanya rapat

pengawasan/inspeksi sarana

bulanan

jamban 39.17% dari target 75%


(-)

II.

Masalah Menurut Variabel Lingkungan


No
1

Variabel
Fisik

Tolak Ukur
Lokasi

Pencapaian
Semua lokasi dapat

dengan akses fasilitas sanitasi

Masalah
(-)

dijangkau dengan
sarana trasportasi

yang layak/jamban sehat :

yang ada
Bila musim hujan

Cakupan presentasi jamban yang

jalanan becek dan

memenuhi syarat yaitu 22.96%

banjir namun

Iklim

masih bisa dilalui


Kondisi geografis

dari target 75% dengan besar

(-)

tidak

masalah 69.38%

mempengaruhi
kegiatan program
Kondisi geografis

Penyebab masalah 1 dan II antara lain :


Masukan

(-)
2

Non Fisik

Keadaan sosial

Sebagian besar

ekonomi

penduduk

(+)

A. Tenaga (Man)

Kecamatan Pedes

Ada

bermata pecaharian
sebagai petani dan

orang

tenaga

yang

merangkap sebagai koordinator

miskin.
Tingkat

dan

pelaksana

pengawasan

masyarakat tentang
kesehatan

jamban,

program
tetapi

kerjanya kurang optimal karena

lingkungan masih
(+)

rendah
Perilaku

wilayah kerja yang luas/jumlah

masyarakat yang
Perilaku masyarakat

termasuk penduduk

pengetahuan
Tingkat pengetahuan

dengan besar masalah 47.77%


Kurangnya cakupan penduduk

KK yang banyak dan petugas

masih BAB
sembarangan

bukan merupakan orang yang


terampil di bidangnya karena

(+)

petugas memiliki latar belakang


Masalah Menurut Variabel Umpan Balik
No
1

Variabel
Umpan Balik

Tolak Ukur
Rapat kerja bulanan

Pencapaian
Adanya rapat bulanan

untuk membahas laporan

dengan Kepala

kegiatan evaluasi

Puskesmas Pedes

program yang

mengenai laporan

dilaksanakan

kegiatan evaluasi
program

(-)

sebagai perawat.
B. Dana (Money)

Dana dari BOK tersedia, namun

jenis jamban tidak masuk

tidak jelas besar dan perincian

dalam pendataan
Belum dilakukan pemetaan

jamban
Penyuluhan yang dilakukan

dananya.
C. Sarana (Material)
Tidak lengkapnya sarana yang
digunakan

untuk

membantu

Program Sarana Jamban Keluarga


terutama dalam hal penyuluhan,
seperti
poster

leaflet,
yang

lembar

balik,

mengenai

sarana

hanya 2 kali dalam 1 tahun


Lingkungan
Non Fisik

Sebagian besar penduduk


bermata pencaharian sebagai
petani dan termasuk

jamban atau perilaku stop BABS.

penduduk miskin. Hal

D. Metode (Method)

tersebut akan mempengaruhi

Pendataan terhadap jenis jamban

penduduk untuk memiliki

tidak dilakukan, tidak dibuatnya

sarana jamban yang

pemetaan sarana jamban.

memadai.
Tingkat

Proses
A. Pengorganisasian
Struktur organisasi sudah jelas
namun koordinasi di lintas

masyarakat tentang kesehatan

program dan lintas sektoral antar

pengetahuan

lingkungan masih rendah


Perilaku masyarakat yang
masih BAB sembarangan

petugas pelaksana program


Penyelesaian masalah I dan II antara
lain :
- Tenaga : Menambah jumlah

pengawasan jamban belum


optimal.
B. Pelaksanaan
Pengawasan/inspeksi

kader/petugas
hanya

membantu

yang

dapat

pelaksanaan

dilakukan 2 kali dalam 1

program pengawasan jamban di

bulan
Pendataan

daerah

yang

dilakukan

hanya terbatas jumlah rumah,


jumlah jamban yang ada dan
jumlah

jamban

yang

memenuhi syarat sedangkan

UPTD

Puskesmas

Pedes. Selain itu juga dapat


dilakukan pelatihan terhadap
petugas

yang

menjalankan

program kesehatan lingkungan

agar lebih trampil lagi. Juga

berkala

dilakukan pelatihan kader-kader

tinggalnya.
Pengorganisasian

di

masyarakat

agar

meringankan

dapat

penanggung

jawab

dengan
program,

koordinator dengan pelaksana

terhadap

dana

yang

telah

serta

diterima

dan

yang

telah

koordinasi lintas program dan

digunakan kepada Puskesmas,

lintas sektoral seperti mengikuti

selain itu juga mencari sumber-

rapat

sumber dana yang

baru di

kecamatan bekerja sama dengan

Puskesmas untuk menambah

promosi kesehatan, bidan desa,

dibutuhkan.
Sarana : Petugas kesehatan

masyarakat

untuk

menjalankannya, untuk masalah


pendanaan,

petugas

memasukkannya

ke

dapat
dalam

pendataan dana pengeluaran.


Metode : Melakukan pendataan
terhadap
pemetaan

jenis

jamban

yang

dan

mingguan

desa

dan

kader dan sebagainya.


Pelaksanaan

lebih sering minimal 1 minggu

membuat poster, leaflet atau


selebaran yang dapat membantu

mengoptimalkan

Pengawasan/inspeksi dilakukan

lingkungan lebih aktif untuk

tempat
:

koordinator

lingkungan.
Dana : Dilakukan pembukuan

pemasukan dana jika memang


-

daerah

Meningkatkan koordinasi antara

pekerjaan

pelaksana program kesehatan


-

di

1 kali
Lingkungan

non

fisik

Dilakukan penyuluhan secara


intensif dengan meningkatkan
frekuensi
hanya

penyuluhan

1x

dalam

tidak
bulan,

bervariasi dengan memberikan


contoh sarana jamban yang
memadai

dan

yang

tidak

memenuhi

memenuhi syarat di lapangan.

syarat dan melatih kader-kader

Penyuluhan tentang pentingnya

dari tiap-tiap desa yang ada

sarana jamban sehat dengan

untuk

melakukan

kesehatan.

Penyuluhan

dan

diharapkan

menambah

pengetahuan

masyarakat

dapat

pengawasan/inspeksi

pemetaan sarana jamban secara

sehingga mengubah sikap dan

Desember

perilaku

sebanyak 2 kali.

dalam

hal

BABS.

Mulai mensosialisasikan dan


menerapkan

sistem

program

2015

Cakupan

terdata
hasil

pengawasan/inspeksi

sarana

STBM yang salah satu pilarnya

jamban 39.17% dari target 75%

adalah ODF atau stop BABS.

periode Januari sampai dengan


Desember 2015.

Kesimpulan

Cakupan presentasi jamban yang

Menurut hasil evaluasi program yang

memenuhi syarat yaitu 22.96%

telah dilakukan maka dapat disimpulkan

dari target 75% periode Januari

program pengawasan sarana jamban

sampai dengan Desember 2015

keluarga

di

Puskesmas

Pedes,

kecamatan Pedes, kabupaten Karawang,


Jawa Barat periode Januari hingga
Desember

2015

dikatakan

berhasil

tetapi hasil yang dicapai belum sesuai


dengan

tolok

ukur

yang

Saran
Saran bagi kepala Puskesmas sebagai
penanggung jawab program:
Memantau (supervise) kegiatan
pengawasan

telah

dengan

ditentukan. Dari hasil kegiatan program,

dan pelaksana program mengenai

di wilayah kerja Puskesmas

lingkungan

6411, jumlah sarana jamban

memberdayakan

yang memenuhi syarat adalah


diketahui.

kendala apa saja yang ditemui.


Memotivasi petugas kesehatan

dengan Desember 2015 adalah

1472, namun jenis jamban tidak

untuk
masyarakat

dalam inspeksi jamban keluarga.


Menggalakkan promosi kesehatan
untuk memberikan penyuluhan

Penyuluhan
jamban

membandingkan

juga bertanya kepada pemegang

Jumlah sarana jamban yang ada


Pedes periode Januari sampai

cara

keluarga

dengan hasil tahun sebelumnya,

didapatkan :

jamban

yang

tentang

sarana

dilakukan

di

wilayah kerja Puskesmas Pedes


periode Januari sampai dengan

yang intensif kepada masyarakat


tentang pentingnya sanitasi yang
layak/jamban sehat.

Saran

bagi

pemegang

program

pengawasan jamban sehat


Meningkatkan koordinasi

dan

berkala

jenis

program PHBS (Perilaku Hidup

wilayah

Bersih dan Sehat), bidan desa dan

memiliki akses fasilitas sanitasi

sebagainya.

yang layak/jamban sehat.

dan

Mengoptimalkan

kecamatan,

melakukan

pelatihan dan memotivasi untuk


memberdayakan

kader

masyarakat dalam pengawasan


jamban sehat dan kegiatan BABS
pada

daerah

sektoral).
Melakukan

tersebut

(lintas

perincian

dana

terhadap dana yang diterima dan


dana

yang

dikeluarkan

jamban

untuk

kerja

Besar

melihat

yang

harapannya

belum

semoga

melalui saran di atas dapat membantu


berjalannya

program

pengawasan

jambanpada periode yang akan datang


sehingga

dapat

keberhasilan

mencapai

sesuai

tingkat

target

yang

diharapkan.

Daftar Pustaka
1. Notoadmodjo

S.

Kesehatan

untuk

Masyarakat Ilmu dan Seni. Edisi

pengawasan jamban sehat.


Melakukan penyuluhan/pemicuan

revisi 2011. Jakarta: Rineka Cipta.

kepada masyarakat yang ada di


lingkungan
sehingga

tempat

tinggalnya

penyuluhan

yang

intensif dapat tercapai di setiap

tempat

kerjasama lintas program dengan

mengikuti rapat mingguan desa

daerah

tinggalnya.
Melakukan pendataan meliputi

kerjasama lintas sektoral seperti

di

desa.
Mengumpulkan

dan

melatih

kader-kader dari tiap-tiap desa

2011
2. Dinas

Kesehatan

Propinsi

Barat. Buku Kumpulan Peraturan


dan

Pedoman

Teknis

Kesehatan

Lingkungan. Propinsi Jawa Barat.


2014
3. Sanitasi total berbasis masyarakat,

yang ada untuk dapat melakukan

2015.

pengawasan/inspeksi

www.sanitasi.net/sanitasi-total-

dan

pemetaan sarana jamban secara

Jawa

Diunduh

dari

berbasis-masyarakat.html 20 April
2015, 17.35 WIB

4. RISKESDAS 2013. Riset kesehatan


dasar.

2013.

Penelitian

Jakarta

Badan

Kementrian

Perencanaan

Pengembangan

Pembangunan Nasional / Badan

Kesehatan Kementrian Kesehatan RI

Perencanaan Pembangunan Nasional

.h.89-91

(BAPPENAS) .h. 71-2

5. Chaniago
Surbakti

dan

Indonesia 2014. 2015. Jakarta :

AA,
S,

Sardjunani

Prawiradinata

N,
RS,

Suharti, dkk. Laporan pencapaian


tujuan pembangunan Milenium di

6. Suparmin S. Pembuangan tinja dan


limbah cair. 2002. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC .h. 65-8