Está en la página 1de 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Usus buntu dalam bahasa Latin disebut sebagai Appendix vermiformis,
organ ini ditemukan pada manusia, mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil.
Pada awalnya organ ini dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai
fungsi, tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ
imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu
kekebalan tubuh) yang memiliki/berisi kelenjar limfoid.
Appendicitis merupakan nama penyakit yang menyerang usus buntu.
Appendicitis terjadi ketika appendix, nama lain dari usus buntu telah meradang
dan membuatnya rentan pecah, ini termasuk darurat medis serius. Operasi
dilakukan untuk penyembuhan radang usus yang membengkak. Bila terjadi gejala
usus buntu dalam waktu tiga hari berturut-turut, penderita harap segera
menghubungi dokter atau datang ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan
medis sehingga bisa langsung dioperasi, akan tetapi jika gejala usus buntu
dibiarkan lebih dari satu minggu, maka perawatan medis serius sangat diperlukan
untuk meredakan radang usus yang terjadi sebelum penderita melakukan operasi
penyembuhan.
Dari uraian diatas dapat di pahami bahwa appendix atau yang sering
disebut usus buntu ini adalah organ yang kecil yang menempel pada usus kita
memang bukan organ yang vital tetapi bila dilihat dari komplikasi yang terjadi
setelah appendix ini terkena infeksi atau ruksak maka akan menjadi peradangan

( appendicitis ) yang dapat membahayakan nyawa karena sistem pencernaan dan


organ lain dalam rongga perut dapat terjadi infeksi bila tidak di tangani.
Hubungan dengan ilmu keperawatan sangat terlihat bagaimana cara mengatasi
klien dengan masalah penyakit appendicitis ini dapat menjadi acuanperawat unuk
menganalisa tindakan yang tepat. Maka dari itu penjelasan yang lebih lanjut dapat
di uraikan lebih detail pada makalah ini
B. TUJUAN PENULISAN
Untuk memahami konsep dan teori appendicitis
Untuk mengetahui perjalanan penyakit appendicitis
Untuk mengimplementasikan konsep kebutuhan dasar manusia pada
pasien dengan penyakit appendicitis
Untuk menganalisa diagnosa keperawatan pada pasien appendicitis
Untuk memahami asuhan keperawatan pada kasus appendicitis
C. RUMUSAN MASALAH
Apa yang dimaksud penyakit usus buntu atau appendicitis ?
Bagaimana perjalanan penyakit appendicitis ?
Konsep kebutuhan dasar manusia apa yang di terapkan ?
Diagnosa dan tindakan keperawatan apa yang mungkin muncul pada

klien appendicitis ?
Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan indikasi
appendicitis ?

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian Appendicitis
Appendicitis adalah infeksi yang terjadi di umbai cacing, penyebab paling
umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dari rongga abdomen, adalah
penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat. (Smelzer,dkk,2002).

Appendicitis adalah peradangan dari appendiks, dan penyebab abdomen


akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki laki
maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki laki umur 10 samapai 30
tahun. (Arif Mansjoer,2002,hal 307).
Apendisitis merupakan inflamasi di apendiks yang dapat terjadi tanpa
penyebab yang jelas, setelah obstruksi apendiks oleh feses atau akibat terpuntirnya
apendiks atau pembuluh darahnya (Corwin, 2009)
Dari pengertian diatas dapat disumpulkan bahwa appendicitis adalah
peradangan dari appendiks vermi formis dan merupakan penyebab paling sering
timbul kadang tanpa disertai oleh penyebab yang pasti.
B. Etiologi
Appendisitis biasanya disebabkan oleh :
1. Penyumbatan lumen appendiks oleh hyperplasia folikel limpoid.
2. Fekalit ( masa feces yang keras )
3. Benda asing (biji-bijian atau yang lain )
4. Striktur ( Pelekukan/terpuntirnya apendiks )
5. Obstifasi
6. Tumor.
7. Makanan yan rendah serat
C. Klasifikasi
1. Apendisitis akut
Adalah inflamasi appendix yang menyebabkan gangguan cerna tetapi
belum terjadi perforasi, app akut dapat terjadi karena
b.
Fekalit
c. Benda asing
d.
Tumor.
Adanya obstruksi mengakibatkan cairan mukosa yang diproduksi tidak
dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin meningkatkan tekanan di dalam
membran sehingga menyebabkan tekanan intra mukosa juga semakin tinggi.
Tekanan yang tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding
apendiks sehingga terjadi peradangan yang menghasilkan pus / nanah pada
dinding apendiks.
2. Appendisitis Purulenta.

Appendisitis purulenta ini terjadi saat terdapat obstruksi pada saluran cerna
menekan lumen usus sehingga Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada
apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding
appendiks menimbulkan infeksi sehingga mukosa appendiks terinfeksi. Pada
appendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat.
Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di
titik Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan
defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda
peritonitis umum. Maka yang membedakan apendiksitis ini terjadi reio infeksi
yang menyebar sampai ke pertonium
3. Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi semua
syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik
apendiks secara makroskopikdan mikroskopik, dan keluhan menghilang satelah
apendektomi.
Kriteria mikroskopik apendiksitis kronik adalah fibrosis menyeluruh
dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan
parut dan ulkus lama dimukosa, dan infiltrasi sel inflamasi kronik. Insidens
apendisitis kronik antara 1-5 persen.
4. Apendissitis rekurens
Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan nyeri
berulang di perut kanan bawah yang mendorong dilakukan apeomi dan hasil
patologi menunjukan peradangan akut. Kelainan ini terjadi bila serangn
apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun, apendisitis tidak perna
kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fribosis dan jaringan parut. Resiko untuk

terjadinya serangn lagi sekitar 50 persen. Insidens apendisitis rekurens biasanya


dilakukan apendektomi yang diperiksa secara patologik.
D. Anatomi Fisiologi

Appendix adalah suatu organ yang terletak menempel pada usus besar
ceacum (sekum) berbentuk seperti caacing berrongga seperti pipa. Secara
anatomis appendiks disebut appendics vermiformis (app) atau umbai cacing
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu secara normal
dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran
lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendicitis.
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh (GALT) yang terdapat disepanjang
saluran cerna termasuk appendiks ialah Ig-A). Imunoglobulin ini sangat efektif
sebagai pelindung terhadap infeksi yaitu mengontrol proliferasi bakteri, netralisasi
virus, serta mencegah penetrasi enterotoksin dan antigen intestinal lainnya.
Namun, pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab
jumlah jaringan sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna
dan seluruh tubuh.
E. Patofisiologi
Manifestasi Klinik
Manifestasi Klinik yang biasanya timbul pada appendisitis adalah :
1. Nyeri perut pada kuadran kanan bawah.
2. Demam ringan.
3. Mual.

4. Muntah.
5. Hilang nafsu makan.
6. Konstipasi.
7. Kadang kadang diare.
F. Pemeriksaan Penunjang
1.

Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan

diagnosa apendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat
ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan
karena adanya udara dan cairan. Kadang ada fecolit (sumbatan). pada keadaan
perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma.
2. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis
untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang.
Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih
tinggi lagi. Hb (hemoglobin) nampak normal. Laju endap darah (LED) meningkat
pada keadaan apendisitis infiltrat. Urine rutin penting untuk melihat apa ada
infeksi pada ginjal.

G. Kemungkinan data anamnesa


Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese, ada 4 hal yang penting
adalah :
a.

Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian


menjalar ke perut kanan bawah.

b.

Muntah oleh karena nyeri viseral.


6

c.

Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus).

d.

Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit,
menghindarkan pergerakan, di perut terasa nyeri.
H. Kemungkinan data Hasil Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan fisik keadaan umum

klien

tampak

sakit

ringan/sedang/berat.
2) Sirkulasi : Takikardia. Biasanya karena perforasi
3) Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
4) Aktivitas/istirahat : Malaise.
5) Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang.
6) Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan
atau tidak ada bising usus.
7) Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar titik Mc. Burney,
adanya nyeri tekan dan nyeri lepas Nyeri pada kuadran kanan
bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
8) Demam lebih dari 38 C
9) Data psikologis klien nampak gelisah.
I. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan:

Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis), kerusakan jaringan


Tujuan dan kriteria hasil :
Setelah dilakukan tinfakan keperawatan selama . Pasien tidak mengalami nyeri,
dengan kriteria hasil:
Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan
tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen
nyeri
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
Tanda vital dalam rentang normal
Tidak mengalami gangguan tidur
INTERVENSI
1. Lakukan

RASIONAL
pengkajian

nyeri

secara 1. Pengkajian sebagai data awal keperawatan

komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,


durasi, frekuensi, kualitas
2. Observasi
reaksi
nonverbal
ketidaknyamanan
3. Kaji tipe dan

sumber

nyeri

dari

mengidentifikasi masalah klien


2. Reaksi non verbal dapat menjadi pengkajian
data awal jika observasi verbal kurang

nampak
untuk 3. Tipe dan sumber nyeri dapat terjadi secara

menentukan intervensi
psikologi atau karena penyakit
4. Ajarkan tentang teknik non farmakologi: 4. Dengan teknik distraksi relaksasi dapat
napas dala, relaksasi, distraksi, kompres
hangat/ dingin
5. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri

mengalihkan persepsi nyeri, komprs hangat


dapat membuat vasodilatasi dan mengurangi
nyeri
5. Analgetik dapat menghentikan persepsi nyeri

akut di hipo thalamus dengan mengurangi


pengeluaran mediator nyeri di syaraf perifer
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Berhubungan
dengan :
Ketidakmampuan untuk memasukkan atau mencerna nutrisi oleh karena
faktor biologis, psikologis atau ekonomi.
Tujuan dan kriteria hasil :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..... dapat di tentukan hasil
Berat badan bertahan atau naik
Turgor kulit baik, klien mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara cukup.
Tidak ada tanda tanda malnutrisi
INTERVENSI

RASIONAL

1. Kaji masukan makanan dan kandungan


nutrisi

dapat menjadi acuan perkembangan

3. Berikan informasi yang tepat tentang


kebutuhan nutrisi
5. Minimalkan

2. Observasi kandungan dan asupan nutrisi

faktor

4. Informasi yag tepat dapat diterima oleh


klien untuk pencapaian nutrisi yang

yang

dapat

menimbulkan mual dan muntah

seimbangan
6. Faktor pencetus distensi seperti makanan
yang bersifat asam, pedas, terlalu panas
dan dingnin dapat menambah reaksi

7. Anjurkan makan sedikit tapi sering

nyeri dan inflamasi


8. Dengan pemberian asupan makanan
yang sedikit tapi sering dapat memenuhi
kebutuhan nutrisi dengan mengurangi

9. Kolaborasi pemberian asupan makanan


lunak tinggi serat

perasaan mual
10. Dengan tekstur makanan yang lunak
dapat mudah diserap tubuh dan serat

dapat

menetralisir

asam

lambung

berlebih.
3. Kecemasan sehubungan dengan ancaman statu kesehatan
Tujuan dan kriteria hasil :
Kopping terhadap cemas teratasi, menunjukan respon kecemasan
berkurang
Mampu mengungkapkan gejela cemas
Expresi wajah bahasa tubuh dan tingkat aktivitias menunjukan tanda
kecemasan berkurang.
INTERVENSI

RASIONAL

1. Kaji faktor penyebab cemas


2. Gunakan pendekatan yang menenangkan
3. Berikan informasi faktual mengenai
diagnosis, tindakan prognosis
4. Instruksikan
pada
pasien
menggunakan tehnik relaksasi
5. Kolaborasi
pemberian obat
cemas:........

1. Faktor

penyebab

dapat

menjadi

observasi kecemasan
2. Pendekatan yang menenangkan seperti

untuk

teurapeutik akan membuat klien merasa

anti

diperhatikan.
3. Faktual yang terjadi pada klien dapat
diterima

dengan

pendekatan

yang

perlahan dan informasi yang tepat akan


mengurangi kecemasan
4. Relaksasi dapat menurunkan

kerja

reseptor kewaspadaan di otak sehangga

cemas berkurang
5. Anti ansietas bekerja pada otak untuk

relaksasi secara farmakologik, sehingga


pasien dapat tenang.

10

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. N DENGAN GANGGUAN
NYAMAN NYERI SEHUBUNGAN DENGAN APPENDICITIS AKUT
DI RUANG TOPAZ RSU Dr. SELAMET GARUT
A.

Pengkajian

1.

Biodata klien

Nama

: TN. N

Umur

: 60 Tahun

Jenis kelamin

: laki-laki

Alamat

: Cicurug Karangpawitan

Agama

: islam

Pendidikan

:-

Pekerjaan

:-

Suku bangsa

: sunda indonesia

No cm

: 72 62 38

Tanggal masuk

: 15-12-2014

Tanggal pengkajian

: 15-12-2014

2.

Biodata pengangguang jawab

Nama

: Ny. E

Umur

: 40 Th

Alamat

: Karangpawitan

11

Jenis kelamin

: perempuan

Pejerjaan

: pedagang wiraswasta

Hubungan dengan klien

: anak klien

3.

Keluhan utama

Klien mengeluh nyeri perut kanan bawah


B.

Riwayat kesehatan

1.

Riwayat kesehatan sekarang


Awalnya 7 hari sebelum masuk rumah sakit, nyeri muncul tiba-tiba setelah

sebelumnya beraktifitas lalu berobat ke puskesmas dan dirujuk ke rumah sakit


umum. Klien mengalami nyeri karena peradangan di umbai cacing, nyeri
dirasakan berat dengan skala 4 dari 0-5 hingga klien pingsan. Nyeri itu di rasakan
pada perut kanan bawah tidak menjalar tetapi dirasakan setiap saat.
2.

Riwayat kesehatan dahulu


Klien mengatakan tidak pernah merasakan nyeri yang dirasanya. Tetapi

klien pernah ada riwayat gagal ginjal tahun lalu tetapi sembuh tanpa oprasi.
3.

Riwayat kesehatan keluarga


Klien mengatakan di kluarganya tidak terdapat riwayat penyakit yang

berhubungan dan memperberat seperti Diabetes melitus, tetapi klien sangat suka
minum kopi terlalu banyak.
C.

Pemeriksaan fisik

a.

Keadaan umum :

Kesadaran

: Compos Mentis

Penampilan umum

: rapih, bersih, nampak letih

12

TTM

: T : 110/70
P : 74X/ m

b.

Pemeriksaan fisik head to toe

Rambut

R : 20X/ m
S : 37OC

Warna rambut

: hitam beruban

Penyebaran

: merata

Keadaan rambut

: bersih, tidak ada luka, dan sedikit rontok


: tidak terdapat tonjolan

Kulit kepala

Lesi

: tidak ada lesi

benjolan

: tidak ada benjolan

Kebersihan

:tidak ada kutu, cukup bersih

Tekstur

: kasar

Kulit

Warna
Tekstur

: sawo matang kecoklatan, tidak tampak sianosis


: halus agak kasar

Kelembaban

: agak kering

Turgor kulit

: kurang baik ditandai setelah di cubit kulit kembali > 2


detik

Pitting Oedema

: baik ditandai kulit di tekan kembali < 2 detik

6. Kuku
Warna
Tekstur

: transparan, tidak terjadi sianosis


: halus

13

Bentuk

: cembung sudut 160o

CRT

: setelah kuku di tekan pengisian kapiler < 2 detik

7. Kepala
Bentuk

: oval

Pergerakan

: dapat di gerakan ke segala arah

Kebersihan

: bersih tidak terdapat lesi

Keluhan

: tidak ada

8. Mata
Bentuk

: tidaka ada tonjolan tonometri

Kesimetrisan

: simetris antara kanan dan kiri

Konjungtika

: merah muda, agak pucat

Seklera

: putih

Refleks pupil

: miosis terhadap cahaya mengecil

Gerakan mata

: dapat di gerakan ke segala arah

Fungsi penglihatan

: baik, ditandai dengan dapat membaca dan dapat


menggerakan bola mata ke segala arah serta lapang
pandang baik

Kebersihan

: tidak terdapat purulen dan secret

Lakrimal

: tidak terjadi edema

9. Telinga
Kesimetrisan

: simetris kanan dan kiri

Kebersihan

: bersih tidak terdapat serumen berlebih

14

Fungsi

: baik ditandai dengan dapat menjawab pertanyaan perawat


dengan tepat dan cepat

10. Hidung
Lubang hidung

: simetris kanan dan kiri

Warna

: tidak terjadi kemerahan

Mukosa

: lembab

Kebersihan

: bersih tidak terdapat sekret berlebih

Fungsi penciuman

: baik ditandai dengan dapa mebedakan bau alkohol

11. Mulut
Warna bibir

: kecoklatan

Tekstur bibir

: agak kasar

Warna lidah

: merah muda

Stomatitis

: tidak ada

Mukosa

: lembab

Jumlah gigi

: 28

Keadaan gigi

: kokoh

Fungsi pengecapan

: baik ditandai dapat merasakan makan

12. Leher
JVP

: tidak terjadi peninggian

KGB

: tidak terdapat edema

Limfoid

: tidak ada benjolan limfoid

Refleks vagus

: tidak ada displagia

13. Thorax

15

Kesimetrsan

: dada kanan dan kiri simetris

Respirasi

: 20 x/m

Expansi

: pergerakan seimbang kanan dan kiri

Bunyi nafas

: vaskuler

Vibrasi

: bergetar seimbang kanan dan kiri

Bunyi jantung

: reguler

Frekuensi jantung

: 74x/m

14. Abdomen
Bentuk permukaan

: datar

Bising usus

: meningkat > 10 x/m

Warna

: tidak terjadi kekuningan

Nyeri

: terdapat nyeri tekan dan nyeri lepas area kanan bawah

Perkusi

: tidak terjadi distensi abdomen dan hepato megali

Berat badan

: saat di kaji 55 kg sebelum sakit >60

15. Genitelia
Klien mengatakan tidak ada keluhan pada genitelia
16. Extermitas
Atas : tangan kanan terpasang infus dan tangan kiri dapat digerakan tanpa bantuan
Tidak ada oedema
Bawah : kaki kanan dan kiri sering kelelahan terkadang di bantu karena faktor
degeneratif
Rom extermitas :atas 4|5 bawah 4|4
D. Pola aktivitas

16

No

pola aktivitas

sebelum sakit

saat sakit

17

makan :
Jenis
Frekuensi
Porsi
Cara
Keluhan
minum :
Jenis
frekuensi
jumlah
cara
keluhan
eliminasi
BAB
frekuensi
warna
konsistensi
bau
cara
keluhan
BAK
frekuensi
warna
bau
cara
jumlah
keluhan
istirahat
tidur siang :
lama
kualitas
tidur malam :
lama
kualitas

lauk pauk, nasi dll


3x/porsi
1 porsi
mandiri
tidak ada

BNTKTP
2x/hari
1/2 porsi
dibantu
mual

air putih, kopi


6-7gelas / hari
2100 cc
mandiri
tidak ada

air putih
4-5 gelas /hari
1500 cc
dibantu
tidak ada

1 x/ hari
kuning khas
lunak agak keras
khas feces
mandiri
tidak ada

belum pernah
sulit BAB

2-3 x per hari


kuning bening
khas urine
mandiri
1000cc
tidak ada

2 x/hari
kuning pekat
khas urine
dibantu
1000cc
tidak ada

jarang
-

1-2 jam
kurang nyenyak

7-8 jam
nyenyak

5-6 jam
kurang nyenyak

E. Data Psikososial dan spiritual


1. Data Psikososial
Klien menuturkan sangat cemas akan keaadan nya nampak adanya
sikap gelisah dan tidak nyaman

18

Klien menuturkan tidak ada masalah sosial mudah berinteraksi dengan


orang lain kestabilan emosi baik
2. Data Spiritual
Klien menuturkan beragama islam dan selalu melaksanakan sholat 5
waktu
F. Data penunjang
1. Diagnosa medis : Appendicitis akut + sindrom dispepsia
2. Data pemeriksaan Laboratorium
No
1
2
3
4
5

Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
Interpretasi
Hemoglobin
12,9 G/Dl
12,0-16,0 G/Dl
Normal
Hematoktrit
37% 35-47 %
Normal
Leukosit
11,61 /Mm3
3,800-10.000 /Mm3
Leukositosis
Trombosit
319.000 / Mm3
150.000-440.000/Mm3 Normal
Eritrosit
4.13 Juta/Mm3
3.6 - 5.8 Juta/Mm3
Normal
3. USG dan RONTGEN
Abdomen kanan bawah area inginualis dextra terdap pembesaran masa
appendic, peradangan belum perporasi.
4. Therapi Docter
Omeprazole, @1x1 iv ondansentrone @3x1 IV
Infus RL@ 20 tpm diazepam oral 2x1
Ketrolak @2x1IV
Cefotaxime inf 500mg @2x1
G. Analisa data
No

Symptom

Etiologi

Problem

19

DS : klien mengeluh nyeri


pada perut kanan bawah

Nyeri akut
Obstruksi / Tumor / Infeksi

DO :
Peradangan Appendiks

17. Nyeri tekan dan lepas


area kanan bawah
18. Skala nyeri 4 dari 0-5
19. Leukosit meningkat
20. Klien
tampak
meringis

Merangrang Membran
Mukosa
Pelepasan Mediator Nyeri
Bradikirin, Histamin,
Prostaglandin, Sitokinin

Hiphothalamus

Persepsi Nyeri

20

DS : klien mengeluh mual,

infeksi

dan tidak nafsu makan

kurang

dari kebutuhan
Peradangan pada
appendiks

Do :
21. Mual muntah
22. Bising

Nutrisi

pengeluara pus dan


lumen berlebih

usus

meningkat > 10 x/m


23. Penurunan BB 5 kg
24. Konstifasi

obstruksi parsial

penyerapan
makanan terhambat

bising usus
meningkat

gerakan peristaltik
balik

refluks esopagus

mual muntah

nafsu makan
berkurang

nutrisi tidak
terpenuhi

21

Ds : klien mengeluh cemas


Akan keadaanya
Do : klien nampak cemas
Reaksi non verbal gelisah

Peradangan
Appendiks

Kecemasan

indikasi
bedah biopsi
Appendiks

Klien nampak meringis

prosedur
pembedahan
kurang
pengetahuan
ansietas
meningkat

gelisah

H. Diagnosa Keperawatan dan Prioritas masalah


1. Nyeri akut sehubungan dengan agen injuri peradangan pada appendiks
DS : klien mengeluh nyeri pada perut kanan bawah
DO :Nyeri tekan dan lepas area kanan bawah
25. Skala nyeri 4 dari 0-5
26. Leukosit meningkat
27. Klien tampak meringis
2. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan sehubungan dengan
terganggunya penyerapan nutrisi
DS : klien mengeluh mual, dan tidak nafsu makan
Do :
- Mual muntah
- Bising usus meningkat > 10 x/m
- Penurunan BB 5 kg

22

- Konstifasi
3. Cemas sehubungan dengan ancaman status kesehatan tentang prosedur
pembedahan.
Ds : klien mengeluh cemas
Akan keadaanya
Do : klien nampak cemas
Reaksi non verbal gelisah
Klien nampak meringis.

CATATAN PERKEMBANGAN
NO

TANGGAL

DX

17 12 2014 I

17 12 2014 II

CATATAN

PELAKSAN
A
Diky rinaldi

S: Klien masih mengeluh nyeri


O : skala nyeri 3 dari 0-5
Nyeri tekan
A: nyeri akut berhubungan dengan
peradangan appendiks
P: observasi TTV
Observasi nyeri
Berikan kompres hangat
Anjurkan teknik distraksi relaksasi
- berikan analgetik Keterolax
@2x1 amp IV
I : observasi TTV
Observasi nyeri
Memberikan analgetik Keterolax
2x1 hari /amp
E : masalah teratasi sebagian
R : lanjutkan intervensi
S : klien masih mengeluh mual
Diky Rinaldi
muntah
O : bissing usus meningkat >10
x /m
Klien nampak mual, muntah
setiap kali makan
Asupan makan porsi 3x/hari
Wajah masih Pucat
A:
Nutrisi kurang dari kebutuhuan
sehubungan dengan terganggunya

23

17 12 2014 III

18 12 2014 I

18 12 2014 II

penyerapan nutrisi
P:
Kaji asupan makan
Pantau berat badan
Hindari makanan yang pedas dan
asam
Anjurkan makan sedikit tapi
sering
I:
Mengkaji asupan makan
Menganjurkan makan sedikit tapi
sering
Memberi asupan makan BN
TKTP
E : masalah teratasi sebagian
R : lanjutkan inter vensi
S : klien sudah nampak tidak
Diky rinaldi
cemas
O : klien paham akan informasi
Reaksi cemas menurun
A : cemas sehubungan dengan
ancaman status kesehatan teratasi
S: Klien masih mengeluh nyeri
Diky rinaldi
O : skala nyeri 3 dari 0-5
Nyeri tekan dan nyeri lepas
A: nyeri akut berhubungan dengan
peradangan appendiks
P: observasi TTV
Observasi nyeri
Berikan kompres hangat
Anjurkan teknik nafas dalam
- berikan analgetik Keterolax
@2x1 amp IV
I : observasi TTV
Observasi nyeri
Memberikan analgetik Keterolax
2x1 hari /amp
E : masalah teratasi sebagian
R : lanjutkan intervensi
S : klien masih mengeluh mual
pada saat makan
O : bissing usus >10 x /m
-Klien nampak mual
24

19 12 2014

19 12 2014 II

-Asupan makan 1 porsi 2x/hari


-sudah nampak tidak pucat
A:
Nutrisi kurang dari kebutuhuan
sehubungan dengan terganggunya
penyerapan nutrisi
P:
Kaji asupan makan
Pantau berat badan
Hindari makanan yang pedas dan
asam
Anjurkan makan sedikit tapi
sering
I:
Mengkaji asupan makan
Menganjurkan makan sedikit tapi
sering
Memberi asupan makan BN
TKTP
E : masalah teratasi sebagian
R : lanjutkan inter vensi
S: Klien masih mengeluh nyeri
Diky rinaldi
O : skala nyeri 2 dari 0-5
Terdapat nyeri tekan
A: nyeri akut berhubungan dengan
peradangan appendiks
P: observasi TTV
Observasi nyeri
Berikan kompres hangat
Anjurkan teknik distraksi relaksasi
- berikan analgetik Keterolax
@2x1 amp IV
I : observasi TTV
Observasi nyeri
Memberikan analgetik Keterolax
2x1 hari /amp
E : masalah teratasi sebagian
R : lanjutkan intervensi
S : klien mengatan mual
Diky Rinaldi
berkurang
O : bissing usus 10 x /m
Asupan makan 1 porsi 3x/hari

25

A:
Nutrisi kurang dari kebutuhuan
sehubungan dengan terganggunya
penyerapan nutrisi teratasi
P:
Kaji asupan makan
Pantau berat badan
Hindari makanan yang pedas dan
asam
Anjurkan makan sedikit tapi
sering
I:
Mengkaji asupan makan
Menganjurkan makan sedikit tapi
sering
Memberi asupan makan BN
TKTP
E : masalah teratasi sebagian
R : lanjutkan inter vensi
Daftar Pustaka
Chang, Ester. 2010. Patofisiologi: Aplikasi Pada Praktik Keperawatan. Jakarta:
EGC
Corwin, Elizabeth J. 2010. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Hidayat, A. Aziz alimul. 2009. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta:
Diagnosa Keperawatan Nanda NIC & NOC 2002

Mengetahui,

26

Mahasiswa

Pembimbing

Diky Rinaldi

Iwan Shalahuddin, SKM, M.Mkes

NIM : 34403313089

NIP : ................................................

27