Está en la página 1de 450

THREE ACT TRAGEDY

by Agatha Christie

TRAGEDI TIGA BABAK


Alihbahasa: Mareta Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan kedua: Agustus 1995

BABAK PERTAMA KECURIGAAN

BAB I

MR. SATTERTHWAITE duduk di teras Crow's Nest dan memandang pemilik rumah, Sir Charles Cartwright, yang sedang mendaki jalan setapak dari arah laut. Crow's Nest adalah sebuah bungalo modern. Bangunan itu tidak mempunyai ciri-ciri kuno, misalnya atap kayu, gable, dan lengkungan-lengkungan yang disukai pembuat-pembuat rumah, tapi merupakan sebuah bangunan sederhana, kokoh, putih, dengan ukuran menyesatkan karena jauh lebih besar dari yang kelihatan. Namanya disesuaikan dengan letaknya yang ada di ketinggian, menghadap Pelabuhan Loomouth. Salah satu sudut teras terlindung pagar kuat, berbatasan langsung dengan laut yang jauh di bawah. Lewat jalan darat, Crow's Nest hanya satu mil dari kota. Jalan itu menjorok ke daratan, lalu berkelok-kelok naik sampai ke bukit yang tinggi di atas laut. Dengan berjalan kaki, bungalo itu bisa dicapai

dalam waktu tujuh menit lewat jalan setapak curam yang sedang dilalui Sir Charles Cartwright saat itu. Sir Charles adalah laki-laki setengah baya dengan tubuh tegap dan kulit kecokelatan. Ia memakai celana flanel tua berwarna abu-abu dan sweater putih. Gayanya berjalan seperti menggelinding dan tangannya setengah terkepal pada waktu berjalan. Sembilan dari sepuluh orang akan mengatakan, "Pasti pensiunan angkatan laut." Orang kesepuluh dari mereka yang lebih cermat pasti ragu-ragu, sebab ada yang tidak sesuai dengan pernyataan itu. Lalu mungkin akan timbul suatu gambaran-dek sebuah kapal, tapi bukan kapal sungguhan-sebuah kapal yang terkait pada tirai tebal dan seorang lelaki, Charles Cartwright, berdiri di atas dek itu, dengan cahaya menyinari dirinya, tapi bukan cahaya matahari, dan tangan yang setengah tergenggam, sikap yang luwes

dan suara-suara pelaut Inggris dan suara orang baik-baik yang enak-dengan nada agak dibesarkan. "Tidak," kata Charles Cartwright. "Rasanya aku tak bisa memberi jawaban untuk pertanyaan itu." Dan tirai tebal itu pun diturunkan, lampulampu menyorot terang, orkestra memainkan lagu terakhir, gadis-gadis dengan pita besar menghias rambut mereka, berkata, "Cokelat? Limun?" Babak pertama Panggilan Laut dengan Charles Cartwright sebagai Komandan Vanstone pun berakhir. Dari tempat duduknya, Mr. Satterthwaite memandang ke bawah dan tersenyum. Mr. Satterthwaite seorang ahli seni drama bertubuh kecil, seorang snob yang menyenangkan dan suka bersikap tegas, sering terlibat dalam pesta-pesta dan kegiatan sosial kalangan atas. Kata-kata "dan Mr. Satterthwaite" selalu menjadi

ujung daftar tamu banyak undangan. Mr. Satterthwaite pengamat yang tajam dan cerdas. Ia bergumam sekarang, sambil menggelengkan kepala, "Kurasa tidak. Kukira tidak." Di teras terdengar suara langkah kaki, dan ia pun menoleh. Laki-laki bertubuh besar dan berambut abu-abu yang menarik kursi lalu duduk itu seolah-olah mempunyai cap profesi yang tertera jelas di wajahnya yang cerdas dan ramah. "Dokter" dan "Harley Street". Sir Bartholomew Strange adalah orang yang sangat sukses dalam profesinya. Ia spesialis penyakit saraf yang terkenal dan baru-baru ini menerima anugerah gelar bangsawan. Ia menarik kursinya ke dekat Mr. Satterthwaite dan berkata, "Apa yang kaukira tidak, eh? Coba ceritakan." Sambil tersenyum, Mr. Satterthwaite mengalihkan pandangan ke bawah, pada

sosok yang sedang mendaki jalan setapak itu dengan cepat. "Kurasa Sir Charles tidak akan selamanya puas dalam... eh... pembuangan." "Ya Tuhan, tentu saja!" sahut kawan bicaranya sambil tertawa dan melemparkan kepalanya ke belakang. "Aku sudah kenal dia sejak kecil. Kami samasama sekolah di Oxford dulu. Dan dia tetap saja begitu. Dia aktor yang lebih baik dalam kehidupan pribadinya daripada di atas panggung! Charles selalu bersandiwara. Memang begitu-sudah mendarah daging. Istilahnya, dia tak pernah keluar dari sebuah ruangan; dia 'mengakhiri satu babak', dan biasanya dia harus punya peran baik. Dia juga suka ganti-ganti peran. Dua tahun lalu dia pensiun dari panggung-katanya ingin menikmati hidup sederhana di desa, jauh dari keramaian kota, dan mewujudkan impiannya tinggal di dekat laut. Dia datang

ke sini dan mendirikan tempat ini. Beginilah idenya tentang sebuah pondok desa sederhana. Dengan tiga kamar mandi dan perlengkapan mutakhir! Aku pun punya pikiran sama, Satterthwaite. Kurasa ini tak akan lama. Bagaimanapun, Charles manusia. Dia memerlukan penonton. Dua atau tiga pensiunan kapten, segerombol wanita tua, dan seorang pendeta-itu tidak cukup. Kurasa 'laki-laki sederhana dengan cintanya pada laut' akan habis dalam enam bulan. Terus terang, kurasa dia akan bosan dengan peran itu. Mungkin selanjutnya dia akan menjadi seorang laki-laki capek di Monte Carlo atau seorang tuan tanah di pegunungan-dia sangat pandai memainkan perannya itu. Ya, itu." Dokter itu berhenti. Bicaranya memang panjang. Matanya memancarkan rasa sayang dan perasaan setengah geli ketika memandang lelaki di bawah sana. Dua

menit lagi lelaki itu pasti sudah sampai di depan mereka. "Tapi," Sir Bartholomew melanjutkan, "kelihatannya kita keliru. Ada sesuatu yang menarik. Sesuatu yang sederhana dalam hidup ini." "Orang yang suka bersandiwara biasanya sulit diterka," kata Mr. Satterthwaite. "Walaupun jujur, orang sulit menerimanya dengan serius." Dokter itu mengangguk. "Ya. Betul," katanya sambil merenung. Sambil menyapa riang, Charles Cartwright muncul di tangga teras. "Mirabelle luar biasa," katanya. "Seharusnya kau ikut, Satterthwaite." Mr. Satterthwaite menggelengkan kepala. Ia sudah terlalu sering menderita ketika menyeberangi Channel-Selat Inggris-dan tahu kekuatan perutnya di laut. Ia telah memperhatikan Mirabelle dari jendela kamarnya pagi itu. Angin cukup baik untuk berlayar, dan Mr. Satterthwaite

bersyukur tetap berpijak di daratan yang kering. Sir Charles minta minum. "Kau seharusnya ikut, Tollie," katanya pada temannya. "Bukankah separo umurmu kaupakai untuk duduk di Harley Street, menasihati para pasienmu bahwa ombak laut baik untuk kesehatan mereka?" "Keuntungan dokter," sahut Sir Bartholomew, "adalah tak perlu mengikuti nasihatnya sendiri." Sir Charles tertawa. Tanpa sadar ia masih memainkan peran seorang pelaut yang bebas. Ia memang pria tampan, dengan proporsi tubuh indah dan wajah penuh humor. Rambut yang mulai memutih di pelipisnya membuatnya tambah menarik. Ia memang kelihatan seperti dulupertama, pria terhormat, kemudian aktor. "Kau pergi sendiri?" tanya si Dokter. "Tidak." Sir Charles berpaling untuk mengambil minuman dari seorang pelayan

berpakaian rapi yang mengulurkan nampan. "Aku punya pembantu. Si Egg." Ada sesuatu, sebuah tekanan pada suaranya, yang membuat Mr. Satterthwaite menatapnya dengan tajam. "Miss Lytton Gore? Dia tahu cukup banyak tentang pelayaran, ya, kan?" Sir Charles tertawa agak sedih. "Dia berhasil membuatku merasa seperti orang darat, tapi aku mampu juga karena bantuannya." Bermacam-macam pikiran berkelebat dalam kepala Mr. Satterthwaite: "Apa benar... Egg Lytton Gore... Barangkali itu sebabnya Charles masih belum bosan dengan tempat ini. Gadis itu memang menarik." Sir Charles melanjutkan, "Laut-ah, begitu indah. Tak ada duanya. Matahari, angin, dan laut. Dan sebuah gubuk sederhana untuk pulang."

Ia memandang senang pada bangunan putih di belakangnya yang dilengkapi dengan tiga kamar mandi, air dingin dan panas di semua kamar tidur, sistem pemanasan sentral yang mutakhir, peralatan listrik terbaru, dan staf rumah tangga yang terdiri atas pelayan kamar, pelayan rumah, koki, dan pelayan dapur. Interpretasi Sir Charles tentang hidup sederhana barangkali terlalu berlebihan. Seorang wanita jangkung dan tidak menarik muncul dari dalam rumah dan mendekati mereka. "Selamat pagi, Miss Milray." "Selamat pagi, Sir Charles. Selamat pagi." Ia menoleh dan menganggukkan kepala sedikit pada kedua laki-laki lainnya. "Ini menu untuk makan malam. Barangkali ada yang perlu diganti?" Sir Charles mengambilnya dan bergumam, "Coba lihat. Melon cantaloupe, borsch soup, mackerel segar, grouse, souffle

Surprise, canape Diane... Tidak, sudah bagus, Miss Milray. Semua akan datang dengan kereta pukul 16.30." "Saya sudah memberi instruksi pada Holgate. Oh ya, Sir Charles, kalau Anda tidak keberatan, saya juga ingin ikut makan malam nanti." Sir Charles kelihatan terkejut, tapi ia berkata dengan sopan, "Tentu saja, Miss Milray. Saya akan senang, tapi, eh..." Miss Milray dengan tenang menjelaskan, "Kalau tidak, semuanya akan berjumlah tiga belas di meja makan. Dan banyak orang yang masih percaya takhayul." Dari nada suaranya, bisa disimpulkan bahwa Miss Milray tidak akan peduli apabila harus makan bertiga belas di satu meja makan setiap malam. Ia melanjutkan, "Saya kira semuanya sudah diatur. Saya telah memberitahu Holgate bahwa mobilnya untuk menjemput Lady Mary

serta Mr. dan Mrs. Babbington. Betul begitu?" "Persis. Itulah yang ingin saya katakan pada Anda." Dengan senyum tipis yang agak angkuh di wajah buruknya, Miss Milray meninggalkan mereka. "Dia memang wanita luar biasa," kata Sir Charles penuh tekanan. "Aku takut suatu kali nanti dia akan datang dan menggosokkan gigiku." "Efisiensi dalam wujud manusia," kata Strange. "Dia sudah enam tahun bekerja padaku," kata Sir Charles. "Pertama-tama sebagai sekretarisku di London, dan di sini, dia menjadi semacam pimpinan rumah tangga yang dihormati. Dia mengatur segalanya. Dia melakukan tugas-tugasnya dengan tepat, seperti jam. Dan sekarang dia akan pergi." "Kenapa?"

"Dia bilang," Sir Charles menggosok hidungnya dengan sikap ragu-ragu, "katanya dia punya ibu yang invalid. Aku sendiri tak percaya. Wanita seperti dia pasti tak punya ibu. Dia bisa tiba-tiba muncul dari sebuah dinamo. Pasti ada hal lain." "Bisa jadi," kata Sir Bartholomew. "Aku dengar omongan orang." "Omongan?" sang aktor bertanya penuh rasa ingin tahu. "Omongan apa?" "Charles, kau kan tahu apa artinya omongan." "Maksudmu omongan tentang dia-dan aku? Dengan wajah seperti itu? Dan seumur dia?" "Barangkali dia belum lima puluh." "Ya, barangkali." Sir Charles mempertimbangkan pernyataan itu. "Tapi ini serius, Tollie. Apa kau pernah memperhatikan wajahnya? Memang matanya dua, hidungnya satu, dan mulutnya juga, tapi itu bukan seraut wajah- wajah wanita. Orang yang paling

suka gosip pun tak akan menghubungkan suatu skandal dengan wajah seperti itu." "Kau menganggap enteng imajinasi perawan tua Inggris." Sir Charles menggelengkan kepalanya. "Aku tak percaya. Ada sesuatu yang membuat Miss Milray disegani orang, yang pasti diketahui perawan tua Inggris. Dia baik, terhormat, dan berguna. Aku selalu memilih sekretaris yang berpenampilan biasa." "Kau bijaksana." Sir Charles diam beberapa menit. Untuk mengalihkannya, Sir Bartholomew bertanya, "Siapa yang datang nanti sore?" "Angie." "Angela Sutcliffe? Bagus." Mr. Satterthwaite mencondongkan badan ke depan, penuh rasa ingin tahu, siapa saja tamu yang diundang. Angela Sutcliffe adalah aktris terkenal, tidak lagi muda, tapi masih populer dan dikagumi orang.

Mereka menyukainya karena kemampuannya bicara dan daya tariknya. Orang menganggapnya pengganti Ellen Terry. "Lalu suami-istri Dacres." Mr. Satterthwaite mengangguk lagi. Mrs. Dacres adalah Ambrosine, Ltd.-sebuah perusahaan garmen yang sukses. Di dalam program-program akan terlihat: "Pakaian Miss Blank dalam babak pertama adalah kreasi Ambrosine, Ltd., Brook Street." Suaminya, Kapten Dacres, adalah penjudi berat yang gemar bertaruh di arena balap kuda. Ia menghabiskan banyak waktu di tempat-tempat seperti itu. Bertahuntahun yang lalu ia ikut babak Grand National. Pernah terjadi keributan-tak seorang pun benar-benar tahu-tapi beritanya sudah tersebar ke mana-mana. Tak ada pemeriksaan atau penjelasan, tapi begitu nama Freddie Dacres disebut,

orang-orang akan menaikkan alis mereka sedikit. "Lalu Anthony Astor, si penulis naskah drama." "Tentu," kata Mr. Satterthwaite. "Dia menulis One Way Traffic. Aku melihatnya dua kali. Benar-benar sukses." Ia agak senang menunjukkan pada temannya bahwa ia tahu, Anthony Astor adalah wanita. "Ya," kata Sir Charles. "Aku lupa namanya yang sebenarnya-Wills, barangkali. Aku cuma pernah bertemu sekali dengannya. Aku mengundangnya untuk menyenangkan Angela. Itu orang-orang yang kuundang malam nanti." "Dan orang sini?" tanya Dokter. "Oh, orang sini? Suami-istri Babbington; dia pendeta, orangnya baik. Tidak terlalu kaku, dan istrinya sangat baik. Dia mengajari aku berkebun. Mereka akan datang kemari-serta Lady Mary dan Egg. Sudah... Oh ya, ada seorang pemuda.

Namanya Manders. Seorang wartawan atau apa. Ganteng. Itu saja undangannya." Mr. Satterthwaite memang orang yang praktis. Ia segera menghitung. "Miss Sutcliffe, satu; suami-istri Dacres, tiga; Anthony Astor, empat; Lady Mary dan putrinya, enam; Pak Pendeta dan istrinya, delapan; pemuda itu, sembilan; kita, dua belas. Kalau bukan kau, pasti Miss Milray yang salah hitung, Charles." "Pasti bukan Miss Milray," kata Sir Charles yakin. "Dia tak pernah salah. Sebentar. Ya, wah-kau benar. Terlewat satu tamu. Namanya lolos dari ingatanku." Ia tertawa geli. "Orang yang sulit dipuaskan. Dia orang paling angkuh yang pernah kukenal." Mata Mr. Satterthwaite berkedip. Ia berpendapat orang yang paling sombong adalah aktor. Dan ia pun tak mengecualikan Sir Charles Cartwright. Apa yang baru saja dikatakan Sir Charles

sangat menarik baginya. "Siapa orang egois ini?" tanyanya. "Orang aneh," kata Sir Charles. "Tapi terkenal. Barangkali kau pernah dengar namanya. Hercule Poirot. Orang Belgia." "Si detektif," kata Mr. Satterthwaite. "Aku pernah bertemu dengannya. Pribadinya luar biasa." "Dia memang unik," kata Sir Charles. "Aku belum pernah bertemu dia," kata Sir Bartholomew, "tapi cukup banyak dengar tentang dia. Dia sudah pensiun, kan? Barangkali cerita-cerita yang banyak kudengar itu sebagian hanya legenda. Hm, moga-moga tak ada tindak kriminal akhir pekan ini." "Kenapa? Karena ada detektif di antara kita? Jangan memasang kereta di depan kuda, Tollie!" "Ya-karena itu adalah salah satu teoriku." "Apa teorimu, Dok?" tanya Mr. Satterthwaite.

"Kejadian mendatangi manusia, bukan sebaliknya. Kenapa ada orang yang hidupnya mengasyikkan dan ada yang membosankan? Karena lingkungannya? Sama sekali tidak. Orang bisa saja pergi ke ujung dunia dan tidak terjadi apa-apa atas dirinya. Padahal terjadi pembunuhan massal satu minggu sebelum dia datang dan gempa bumi sehari setelah dia pergi, dan kapal yang tadinya akan dinaikinya ternyata tenggelam. Orang lain yang tinggal di Balham dan pergi ke kota setiap hari mengalami sesuatu. Dia terlibat dalam komplotan pemeras, gadis-gadis cantik, dan bandit-bandit bersepeda motor. Ada orang-orang yang punya tendensi tenggelam dalam kapal karam walaupun mereka hanya berada di danau buatan. Ada saja yang terjadi pada mereka. Begitu juga dengan orang-orang seperti Hercule Poirot. Mereka tak perlu pergi

mencari tindak kriminal. Kejahatan itu sendiri yang datang pada mereka." "Kalau begitu," kata Mr. Satterthwaite, "barangkali baik juga kalau Miss Milray makan dengan kita, supaya jumlahnya tidak tiga belas." "Hm," kata Sir Charles ramah, "kau boleh mengalaminya kalau suka, Tollie. Aku hanya ingin mengajukan satu syarat-aku tak ingin jadi mayat." Sambil tertawa, mereka bertiga masuk ke dalam rumah.

BAB II

YANG paling menarik perhatian Mr. Satterthwaite adalah manusia. Tapi ia lebih tertarik pada wanita daripada pria.

Sebagai laki-laki jantan, Mr. Satterthwaite sangat paham soal wanita. Ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya bisa mengerti seorang wanita dengan baik. Banyak wanita sering membuka hati padanya, tapi tidak menerimanya dengan serius. Kadangkadang ia sedih karena hal itu. Ia selalu merasa berada di kursi penonton dan melihat pertunjukan, tapi tak pernah berada di panggung dan ikut main. Tapi sebenarnya peran penonton memang cocok untuknya. Malam ini ia duduk di ruangan besar yang menghadap teras. Dekornya dibuat oleh sebuah perusahaan modern, menjadi seperti sebuah kabin kapal yang mewah. Ia sangat tertarik dan memperhatikan warna cat rambut Cynthia Dacres. Kelihatannya warna baru-baru datang dari Paris, ia menebak-nebak-warna bronze kehijauan yang aneh tapi enak dilihat.

Sulit mengatakan bagaimana penampilan Mrs. Dacres malam itu. Wanita itu tinggi, dengan bentuk tubuh yang memang cocok untuk saat-saat seperti itu. Leher dan lengannya terlihat cokelat. Sulit mengatakan apakah warna cokelat itu asli didapat dari sinar matahari yang tercurah di musim panas di pedesaan itu. Rambut bronze kehijauan itu jelas ditata oleh penata rambut terbaik di London. Alis matanya dicabut, bulu matanya dihitamkan, wajahnya dipoles makeup halus dan indah, dan bibirnya dihiasi lipstik yang melengkung tidak mengikuti garis bibirnya-semua menambah kesempurnaan gaun malamnya yang berwarna biru gelap berpotongan sederhana, tapi kelihatannya- walaupun sebenarnya tidak-dari bahan luar biasa, yaitu bahan yang tampak kusam sekaligus menampilkan kilau-kilau tersembunyi.

"Wanita cerdik," kata Mr. Satterthwaite sambil memandang wanita itu dengan kagum. "Bagaimana ya orangnya?" Kali ini yang ia maksud adalah pikirannya, bukan tubuhnya. Kata-kata Cynthia Dacres bernada lamban. Pada saat itu ia berkata, "Ah, kurasa itu tak mungkin. Maksudku, sesuatu itu bisa mungkin atau tidak. Yang ini tidak mungkin. Hanya merasuk." Kata itu memang tepat. Segalanya kelihatan "merasuk" saat itu. Sir Charles mengguncang-guncang koktail sambil bicara pada Angela Sutcliffe, wanita jangkung berambut abu-abu dengan mulut nakal dan mata indah. Dacres sedang bicara dengan Bartholomew Strange. "Setiap orang tahu apa yang terjadi pada Ladisbourne. Semua tahu." Laki-laki kecil berkulit kemerahan dan berwajah licik itu bicara dengan suara

tinggi. Kumisnya pendek dan matanya agak kecil. Di samping Mr. Satterthwaite duduk Miss Wills, pengarang One Way Traffic yang dianggap sebagai drama paling berani dan bagus di London. Miss Wills bertubuh jangkung dan kurus, dagunya tertarik ke belakang, dan rambutnya yang berombak kelihatan sangat jelek. Ia memakai kacamata tanpa gagang dan bajunya dari bahan sifon hijau yang kelihatan kedodoran. Suaranya tinggi dan tidak mengesankan. "Saya ke Prancis Selatan," katanya. "Tapi sebenarnya saya tidak terlalu menikmati. Sama sekali tidak ramah. Tapi tentu saja berguna untuk pekerjaan saya. Saya perlu tahu apa-apa yang terjadi." Mr. Satterthwaite berpikir, "Kasihan. Karena sukses, dia terpisah dari rumahnya-sebutan untuk pondokan di Bournemouth. Itulah sebenarnya tempat

yang dia sukai." Laki-laki itu kemudian berpikir tentang perbedaan antara karyakarya tulis dan penulisnya. Kesan jantan yang mewarnai drama-drama Anthony Astor-di mana itu bisa didapat pada pribadi Miss Wills? Akhirnya ia melihat mata biru pucat di balik kacamata tanpa gagang itu memang sangat cerdas. Mata itu sekarang terarah padanya dan memberikan penilaian yang membuatnya bingung. Kelihatannya Miss Wills sedang mempelajari dirinya baik-baik. Sir Charles sedang menuang koktail. "Saya ambilkan Anda koktail," kata Mr. Satterthwaite sambil berdiri. Miss Wills tertawa. "Saya tidak keberatan kalau diberi," katanya. Pintu terbuka dan Temple mengumumkan kedatangan Lady Mary Lytton Gore, Mr. dan Mrs. Babbington, serta Miss Lytton Gore.

Mr. Satterthwaite memberikan koktail pada Miss Wills, lalu menyelinap mendekati Lady Mary Lytton Gore. Ia memang pengagum gelar bangsawan. Selain snob, Mr. Satterthwaite menyukai wanita-wanita lembut, dan Lady Mary memang termasuk golongan itu. Sebagai janda yang tidak terlalu kaya dengan seorang anak berumur tiga tahun, ia datang ke Loomouth dan menempati sebuah pondok kecil, ditemani seorang pelayan setia. Wanita itu tinggi kurus, kelihatan lebih tua dari umurnya yang lima puluh tahun. Ekspresi wajahnya manis dan agak malu-malu. Ia sangat menyayangi anak perempuannya, tapi agak khawatir dengannya. Hermione Lytton Gore, yang entah kenapa dipanggil Egg, amat berbeda dari ibunya. Ia sangat penuh vitalitas. Dalam penilaian Mr. Satterthwaite, gadis itu tidak cantik, tapi jelas sangat menarik. Dan

menurutnya, hal yang membuatnya menarik adalah vitalitasnya. Ia kelihatan dua kali lebih hidup daripada orang-orang lain di ruangan itu. Rambutnya hitam, matanya abu-abu, dan tinggi tubuhnya sedang. Ada sesuatu pada rambutnya yang digelung di tengkuk, pada pandangan matanya yang lurus, pada lekukan pipinya dan cara tertawanya yang menimbulkan kesan muda dan penuh vitalitas. Ia berdiri dan bicara pada Oliver Manders yang baru saja datang. "Aku tidak mengerti kenapa kau bosan berlayar. Kau dulu kan suka sekali." "Egg, orang kan tumbuh dewasa." Ia menaikkan alis matanya. Oliver Manders adalah pemuda tampan berumur kira-kira 25 tahun. Ada yang sedikit aneh pada wajah tampannya. Sesuatu yang... bukan Inggris... sesuatu yang asing?

Ada orang lain yang memperhatikan Oliver Manders. Seorang laki-laki berkepala seperti telur dengan kumis yang kelihatan asing. Mr. Satterthwaite mengenalinya sebagai Mr. Hercule Poirot. Laki-laki kecil itu amat ramah, dan Mr. Satterthwaite menilai ia terlalu melebih-lebihkan sikap asingnya. Matanya yang kecil dan bersinar seolah-olah berkata, "Anda ingin saya membantu? Melawak untuk Anda? Bien, silakan!" Tapi saat ini tak ada sinar pada mata Hercule Poirot. Ia kelihatan murung dan agak sedih. Mr. Stephen Babbington, pendeta di Loomouth, datang mendekati Lady Mary dan Mr. Satterthwaite. Umurnya sekitar enam puluh, matanya ramah dan baik, sikapnya agak malu. Ia berkata pada Mr. Satterthwaite, "Kami beruntung punya warga seperti Sir Charles. Dia sangat baik dan murah hati.

Tetangga yang menyenangkan. Pasti Lady Mary setuju." Lady Mary tersenyum. "Saya menyukainya. Sukses hidupnya tidak membuatnya manja, walaupun"-senyumnya bertambah lebar "dalam banyak hal dia masih kekanak-kanakan." Seorang pelayan mendekat dengan nampan berisi koktail. Mr. Satterthwaite berpikir, wanita memang tak bisa berhenti bersikap keibuan. Karena masih merupakan generasi Victoria, ia sangat menyetujui sikap seperti itu. "Ibu boleh minum koktail," kata Egg tibatiba, dengan gelas di tangan. "Satu gelas saja." "Terima kasih, Sayang," kata Lady Mary menurut. "Saya rasa," kata Mr. Babbington, "istri saya membolehkan saya minum satu gelas juga." Ia tertawa perlahan dan sopan.

Mr. Satterthwaite melirik Mrs. Babbington yang sedang bicara serius dengan Sir Charles mengenai soal memupuk. Matanya bagus, pikirnya. Mrs. Babbington bertubuh besar dan tidak rapi. Ia kelihatan kuat dan tak berpikiran picik. Charles Cartwright memang benar. Ia wanita yang baik. "Maaf," kata Lady Mary sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. "Siapa wanita yang Anda ajak bicara ketika kami datang tadi? Itu, yang berbaju hijau." "Dia Anthony Astor-penulis naskah drama." "Apa? Wanita pucat itu? Oh," ia kemudian sadar, "ah, saya memang keterlaluan! Tapi ini benar-benar kejutan. Dia tidak kelihatan... maksud saya, dia kelihatan seperti pengasuh anak yang tidak cekatan." Deskripsi penampilan Miss Wills memang cocok, sehingga Mr. Satterthwaite

tertawa. Mr. Babbington memperhatikan sekelilingnya dengan mata ramah yang tidak terlalu awas. Ia mencicipi koktailnya dan batuk-batuk sedikit. Dia tidak biasa minum koktail, pikir Mr. Satterthwaite geli. Mungkin koktail agak berbau modern baginya, tapi dia tak suka. Mr. Babbington memaksa minum sekali lagi. Ia meneguk dengan ekspresi aneh dan berkata, "Apakah wanita itu? ...Oh..." Tangannya memegangi lehernya. Suara Egg Lytton Gore terdengar nyaring, "Oliver, kau memang keterlaluan..." "Tentu saja. Itu rupanya. Bukan asingYahudi!" pikir Mr. Satterthwaite. Cocok sekali mereka berdua. Sama-sama muda dan menarik, serta suka ribut. Suatu tanda yang sehat. Perhatiannya beralih karena suara di dekatnya. Mr. Babbington berdiri, badannya bergoyang ke kiri ke kanan. Wajahnya aneh.

Suara Egg yang nyaringlah yang menarik perhatian orang-orang di ruangan itu, walaupun pada saat itu Lady Mary sudah berdiri dan mengulurkan tangannya dengan sikap khawatir. "Lihat," kata Egg. "Mr. Babbington sakit." Sir Bartholomew Strange melangkah mendekat dengan cepat, disangganya Mr. Babbington dan dipapahnya pria itu ke sofa di sisi ruangan. Yang lain mengelilingi dan ingin membantu, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dua menit kemudian Strange menegakkan diri dan menggelengkan kepala. Ia bicara terus terang, karena tahu tak ada gunanya bertele-tele. "Kasihan. Dia meninggal."

BAB III

"BISA ke sini sebentar, Satterthwaite?" Sir Charles menjulurkan kepalanya ke luar pintu. Satu setengah jam telah lewat. Keributan telah usai, diganti ketenangan. Lady Mary membawa Mrs. Babbington yang menangis ke luar ruangan dan akhirnya mengantarnya pulang. Miss Milray sangat efisien dengan teleponnya. Dokter setempat datang dan memeriksa. Makan malam sederhana disajikan. Setelah itu, dengan persetujuan bersama, para tamu masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Mr. Satterthwaite baru akan kembali ke kamarnya ketika Sir Charles memanggilnya dari pintu ruang kapal, tempat terjadinya peristiwa kematian itu. Mr. Satterthwaite masuk sambil menekan rasa takutnya. Ia tak suka melihat kematian. Karena tak lama lagi ia pun

mungkin dapat giliran. Tapi kenapa ia berpikir tentang hal itu? "Aku masih kuat hidup dua puluh tahun lagi," kata Mr. Satterthwaite pada dirinya sendiri dengan gagah. Satu-satunya orang lain di ruangan itu adalah Bartholomew Strange. Ia mengangguk lega melihat kedatangan Mr. Satterthwaite. "Orang yang baik," katanya. "Kita bisa melakukannya dengan Satterthwaite. Dia mengerti hidup." Dengan heran Mr. Satterthwaite duduk di sebuah kursi dekat si Dokter. Sir Charles berjalan mondar-mandir. Ia lupa sikap tangan yang setengah mengepal dan tidak kelihatan seperti pelaut lagi. "Charles tidak suka," kata Sir Bartholomew. "Maksudku, tentang kematian Babbington yang malang." Mr. Satterthwaite berpendapat bahwa pernyataan itu tidak tepat. Tentu saja tak seorang pun "suka" pada kejadian yang

baru saja terjadi. Tapi ia tahu Strange punya maksud lain. "Sangat menyedihkan," kata Mr. Satterthwaite dengan hati-hati. "Betulbetul menyedihkan," katanya, bulu kuduknya meremang. "Hm-ya, agak menyakitkan," kata Dokter. Aksen profesinya muncul dalam suaranya. Cartwright berhenti mondar-mandir. "Pernah lihat orang meninggal seperti itu, Tollie?" "Tidak," kata Sir Bartholomew. "Belum pernah. Tapi," ia menambahkan beberapa saat kemudian, "aku memang tak pernah melihat kematian sebanyak yang kauduga. Seorang spesialis saraf tidak membunuh banyak pasien. Dia menjaga agar pasien tetap hidup dan mendapat uang dari mereka. Aku yakin MacDougal lebih sering melihat orang mati daripada aku." Dokter MacDougal adalah dokter di Loomouth yang dipanggil Miss Milray.

"Dia tidak melihat Babbington meninggal. Babbington sudah mati waktu dia datang. Kitalah yang bercerita padanya. Dia bilang Babbington kena serangan mendadak. Dia sudah tua dan kesehatannya kurang baik. Aku tidak puas." "Barangkali dia juga tidak puas," lawan bicaranya mengomel. "Tapi seorang dokter harus mengatakan sesuatu. 'Serangan' memang kata yang bagus-tak ada artinya, tapi memuaskan pikiran awam. Babbington sendiri memang sudah tua dan kesehatannya belakangan ini memang terganggu. Istrinya pernah cerita begitu. Barangkali ada suatu kelemahan yang tidak diketahui." "Apakah itu serangan khas?" "Khas apa?" "Khas untuk penyakit tertentu?" "Kalau kau pernah belajar ilmu kedokteran," kata Sir Bartholomew, "kau

akan tahu kasus tipikal seperti itu tak pernah ada." "Apa sebenarnya yang ingin kaukatakan?" tanya Mr. Satterthwaite pada Sir Charles. Cartwright tidak menjawab. Ia membuat isyarat samar dengan tangannya. Strange geli dan tertawa kecil. "Charles tidak tahu apa yang akan dikatakannya," katanya. "Pikirannya sedang berbelok pada kemungkinan-kemungkinan dramatis." Sir Charles membuat isyarat kesal. Wajahnya serius, penuh pikiran. Ia menggelengkan kepalanya sedikit dengan sikap linglung. Sebuah gambar muncul di kepala Mr. Satterthwaite. Gambar itu menjadi jelas. Aristide Duval, kepala agen rahasia, membongkar jaringan ruwet Kabel Bawah Tanah. Pada menit berikutnya ia jadi yakin. Sir Charles berjalan pincang tanpa ia sadari. Aristide Duval memang dikenal sebagai si Pincang.

Sir Bartholomew melanjutkan komentarnya dengan terus terang, mengomentari kecurigaan Sir Charles, "Ya, apa yang kaucurigai, Charles? Bunuh diri? Pembunuhan? Siapa mau membunuh seorang pendeta tua yang begitu baik? Fantastis sekali. Bunuh diri? Hm, barangkali ada alasannya. Mungkin kita bisa membayangkan alasan kenapa dia bunuh diri." "Alasan apa?" Sir Bartholomew menggelengkan kepalanya perlahan. "Bagaimana mungkin kita menebak rahasia pikiran manusia? Satu ide-seandainya Babbington diberitahu dia menderita penyakit yang tak bisa disembuhkan, kanker misalnya. Itu bisa jadi motif. Barangkali dia tak ingin istrinya menyaksikan penderitaannya yang berkepanjangan. Ini cuma gagasan, tentu

saja. Setahu kita, tak ada alasan bagi Babbington untuk menghabisi dirinya." "Aku tidak berpikir tentang bunuh diri," kata Sir Charles. Sekali lagi Bartholomew Strange tertawa pelan. "Benar, Charles. Idemu bukan sesuatu yang ada di luar kemungkinan. Kau menginginkan sensasi-racun baru yang tak bisa dilacak dalam koktail." Sir Charles menyeringai. "Rasanya aku tidak menginginkan itu. Kau ingat, akulah yang mencampur koktail itu, Tollie." "Serangan tiba-tiba seorang maniak? Untuk kita, barangkali tanda-tandanya tertunda. Tapi kita semua akan mati sebelum fajar menyingsing besok." "Leluconmu tak lucu, tapi...," Sir Charles menyela marah. "Aku sebenarnya tidak sedang melucu," kata si Dokter. Suaranya berubah, sedih dan simpatik.

"Aku tidak bercanda dengan kematian Babbington. Aku cuma mencemooh idemu, Charles, karena... ya, karena aku tak ingin kau menyakiti orang tanpa sadar." "Menyakiti?" tanya Sir Charles. "Kau mengerti maksudku, Satterthwaite?" "Kurasa aku bisa menebak," kata Mr. Satterthwaite. "Begini, Charles," lanjut Sir Bartholomew, "kecurigaanmu yang tak berdasar itu gampang beredar. Suatu ide samar sekalipun tentang adanya ketidakberesan atau penyelewengan bisa menyakitkan Mrs. Babbington. Aku tahu hal semacam itu pernah satu atau dua kali terjadi. Kematian yang tiba-tiba, lalu beberapa lidah asal bicara, dan akhirnya gosip menyebar ke mana-mana. Gosip-gosip itu terus berkembang dan tak seorang pun bisa menyetopnya. Kau lihat kan, Charles, betapa kejam dan tak perlu hal seperti itu? Kau terlalu memanjakan imajinasimu

dan membuatnya berkembang ke arah halhal yang spekulatif." Sebuah kesadaran baru muncul di wajah sang aktor. "Aku memang tidak berpikir sejauh itu," katanya. "Kau memang baik, Charles, tapi kau suka membiarkan imajinasimu lari ke manamana. Coba pikir sekarang. Apa kau percaya ada orang-siapa pun dia-yang ingin membunuh laki-laki tua tak berdosa itu?" "Kurasa tidak," kata Charles. "Ya, seperti yang kaukatakan, itu aneh. Maaf, Tollie, tapi ini bukannya berimajinasi. Aku punya perasaan kuat bahwa ada sesuatu yang tidak beres." Mr. Satterthwaite batuk-batuk kecil. "Boleh aku menambahkan? Mr. Babbington tiba-tiba sakit beberapa saat setelah masuk ruangan dan tepat setelah minum koktail. Kebetulan aku melihat mukanya yang kesakitan ketika dia minum. Kupikir

itu karena dia tidak biasa dengan minuman itu. Tapi seandainya dugaan Sir Bartholomew benar-bahwa Mr. Babbington barangkali sengaja bunuh diri-kurasa itu masih mungkin. Tapi ide tentang pembunuhan... rasanya tak masuk akal." "Aku merasa hal itu bisa terjadi, walaupun tak mungkin-bahwa Mr. Babbington memasukkan sesuatu ke dalam gelasnya tanpa kita ketahui. Rasanya tak ada barang-barang yang disentuh dalam ruangan ini. Gelas-gelas koktail itu masih di tempatnya. Ini gelas Mr. Babbington. Kurasa sebaiknya Sir Bartholomew membawa gelas itu untuk dianalisis isinya. Itu bisa dilakukan diam-diam, tanpa menyebabkan keributan." Sir Bartholomew berdiri dan mengambil gelas itu. "Benar," katanya. "Aku akan bercanda denganmu, Charles, dan aku akan bertaruh

sepuluh pound bahwa tak ada apa-apa dalam gelas itu kecuali gin dan vermouth. " "Oke," kata Sir Charles. Lalu ia menambahkan sambil tersenyum sedih, "Sebenarnya kau juga ikut bertanggung jawab atas imajinasiku kali ini." "Aku?" "Ya. Tadi pagi kau bicara tentang kriminalitas. Kau bilang si Hercule Poirot adalah orang yang selalu dicari oleh kriminalitas. Tak lama setelah dia datang, ada kematian yang mencurigakan. Tentu saja pikiranku segera melayang ke pembunuhan." "Hm, bagaimana kalau...," kata Mr. Satterthwaite, lalu berhenti. "Ya," kata Charles Cartwright. "Aku tadi juga berpikir tentang itu. Apa pendapatmu, Tollie? Bisakah kita bertanya padanya bagaimana pendapatnya tentang ini? Maksudku, apakah itu etis?" "Alasan yang bagus," gumam Mr. Satterthwaite.

"Aku tahu etika medis, tapi aku tak tahu tentang etika detektif." "Kita tak bisa menyuruh seorang penyanyi profesional untuk bernyanyi," gumam Mr. Satterthwaite. "Bisakah kita meminta seorang detektif profesional untuk menyelidiki? Ya. Ini bagus." "Hanya pendapat," kata Sir Charles. Terdengar ketukan halus di pintu, dan wajah Hercule Poirot muncul dengan ekspresi minta maaf. "Eh, masuklah!" seru Sir Charles sambil meloncat berdiri. "Kami baru saja bicara tentang Anda." "Saya takut kalau-kalau mengganggu." "Sama sekali tidak. Ayo minum." "Terima kasih, tidak usah. Saya jarang minum wiski. Kalau ada sirop... " Tapi sirop tidak termasuk daftar Sir Charles tentang cairan yang bisa diminum. Setelah tamunya duduk, sang aktor langsung bicara ke pokok persoalannya.

"Saya tidak perlu bertele-tele," katanya. "Kami baru saja bicara tentang Anda, M. Poirot, dan... dan apa yang terjadi malam ini. Apakah ada yang tidak beres tentang hal itu?" Alis mata Poirot naik. Ia berkata, "Tidak beres? Apa maksud Anda-tidak beres?" Bartholomew Strange berkata, "Teman saya ini punya ide, jangan-jangan Babbington dibunuh orang." "Padahal Anda tidak berpikir begitu?" "Kami ingin tahu pendapat Anda." Poirot berkata sambil berpikir, "Dia memang sakit, dengan sangat tibatiba-sangat mendadak." "Ya, begitu." Mr. Satterthwaite menerangkan teori bunuh diri dan pendapatnya sendiri agar gelas koktail itu dianalisis. Poirot mengangguk setuju. "Ya, itu tak ada salahnya. Sebagai orang yang tahu banyak soal-soal kemanusiaan,

sulit rasanya percaya ada orang yang ingin menyingkirkan seorang laki-laki yang baik dan ramah. Juga motivasi bunuh diri itu rasanya masih sulit diterima. Tapi gelas koktail itu akan menunjukkan pada kita nanti." "Dan hasil analisis itu kira-kira apa?" Poirot mengangkat bahu. "Saya? Saya hanya bisa menebak. Anda ingin saya menebak hasil analisis itu?" "Ya." "Saya kira mereka akan menemukan sisa dry Martini yang enak." Ia membungkuk pada Sir Charles. "Untuk meracuni orang dengan koktail-salah satu dari begitu banyak gelas yang diedarkan-yah, ini merupakan teknik yang amat sangat sulit. Dan kalau pendeta yang baik itu ingin bunuh diri, saya rasa dia tak akan melakukannya dalam sebuah pesta. Itu akan menunjukkan dia tidak memikirkan orang lain. Padahal setahu saya, Mr.

Babbington orang yang penuh perhatian pada orang lain." Ia diam. "Karena Anda bertanya, itulah pendapat saya." Mereka semua diam sesaat. Lalu Sir Charles menarik napas panjang. Ia membuka sebuah jendela dan memandang ke luar. "Angin telah bertiup ke satu arah," katanya. Si pelaut muncul kembali, dan detektif agen rahasia lenyap. Tapi dalam pengamatan Mr. Satterthwaite yang cermat, Sir Charles berdiam sejenak setelah meninggalkan peran yang tak dimainkannya itu.

BAB IV

"YA, tapi apa pendapat Anda, Mr. Satterthwaite? Pendapat Anda sendiri?" Mr. Satterthwaite menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia tak bisa menghindar. Egg Lytton Gore memojokkannya di sudut dermaga pemancingan. Wanita-wanita muda ini memang tak kenal ampun dan menakutkan. "Rupanya Sir Charles yang menyebabkan Anda berpikir begitu," katanya. "Tidak. Ide itu memang sudah ada. Sudah ada sejak awal. Sungguh mengerikan, sangat tiba-tiba." "Dia sudah tua. Dan kesehatannya buruk..." Egg memotong dengan cepat, "Omong kosong. Dia sakit saraf dan rematik. Itu tidak menyebabkan orang jatuh dan mendapat stroke tiba-tiba. Dia tak pernah dapat stroke. Dia tipe orang yang lembut dan lemah, tapi akan hidup sampai umur sembilan puluhan. Apa pendapat Anda tentang pemeriksaan itu?"

"Kelihatannya semua... normal." "Apa pendapat Anda tentang bukti-bukti Dokter MacDougal? Semua serba teknis, deskripsi tentang organ tubuh, tapi apa Anda tidak merasa dia menyembunyikan sesuatu di balik keterangannya yang bertubi-tubi? Yang dia katakan kuranglebih begini-tak ada yang menunjukkan kematian itu bukan disebabkan oleh hal yang wajar. Dia tidak mengatakan kematian itu disebabkan oleh sesuatu yang wajar." "Kau ingin memerinci secara detail?" "Dialah sebenarnya yang melakukannya. Dia bingung, tapi dia tak tahu mesti bagaimana meneruskannya. Jadi, dia berpaling pada keterangan yang sangat medis. Apa pendapat Sir Bartholomew Strange?" Mr. Satterthwaite mengulangi sebagian dari apa yang pernah dikatakan dokter dari London itu.

"Hanya melecehkan?" tanya Egg dengan kening berkerut. "Tentu saja. Dia sangat hati-hati. Saya rasa dokter top dari Harley Street harus begitu." "Tak ada apa-apa dalam gelas koktail kecuali gin dan vermouth, " Mr. Satterthwaite mengingatkannya. "Kelihatannya itu sudah bisa membereskan persoalan. Tapi sesuatu yang terjadi setelah pemeriksaan membuat saya bertanya." "Sesuatu yang dia katakan pada Anda?" Mr. Satterthwaite mulai menikmati rasa ingin tahu gadis ini. "Bukan pada saya-pada Oliver-Oliver Manders. Dia datang malam itu, tapi Anda barangkali lupa." "Ah, saya ingat dia. Teman baik Anda?" "Dulu. Sekarang kami bertengkar terus. Dia sudah bekerja, ikut pamannya di kota, dan dia menjadi... agak besar kepala. Selalu bilang ingin jadi wartawan. Dia

memang bisa menulis cukup baik. Tapi sekarang ini, itu tak lebih dari omongan. Dia ingin kaya. Rasanya semua orang jadi menjijikkan kalau sudah bicara soal uang. Bukankah begitu, Mr. Satterthwaite?" Kemudaan gadis itu muncul sekarangkasar, congkak, dan kekanak-kanakan. "Nak," kata Mr. Satterthwaite, "banyak orang menjijikkan karena banyak hal." "Pada umumnya manusia memang bejat," kata Egg, menyetujui dengan riang. "Karena itu, saya benar-benar sedih karena kasus Mr. Babbington. Sebab dia begitu baik. Dia menyiapkan saya untuk sidi. * (* penerimaan menjadi anggota resmi Gereja Protestan) Walaupun urusan itu agak tidak masuk akal, dia sangat baik. Mr. Satterthwaite, saya percaya pada kekristenan-bukan seperti ibu yang selalu membawa-bawa buku kecil dan ikut kebaktian pagi dan sebagainya, tapi secara logis saja dan dari sudut sejarah. Gereja

memang sibuk dengan tradisi Pauline-bisa dibilang gereja itu berantakan. Tapi kekristenan sendiri tidak apa-apa. Karena itu, saya tak bisa jadi komunis seperti Oliver. Dalam prakteknya, kepercayaan kami akan searah-semua untuk semua, kepemilikan, dan sebagainya. Tapi perbedaannya... saya tak perlu menjelaskannya. Tapi keluarga Babbington itu benar-benar Kristen, mereka tidak curiga, tidak menyumpahi, dan tak pernah jahat pada orang lain atau makhluk lain. Mereka baik, dan Robin..." "Robin?" "Anak mereka. Dia dulu pergi ke India dan terbunuh di sana. Saya... saya menyukainya." Egg mengejap-ngejapkan matanya. Pandangannya terarah ke laut. Lalu perhatiannya kembali ke Mr. Satterthwaite dan keadaan saat itu.

"Jadi, saya memang merasa sangat terpukul dengan kejadian ini. Seandainya ini bukan kematian yang wajar..." "Anakku!" "Saya menganggapnya aneh. Dan Anda harus mengakuinya!" "Tapi Anda sendiri mengakui keluarga Babbington tak punya musuh di dunia ini." "Itulah anehnya. Saya tak bisa menemukan motif yang masuk akal." "Fantastis! Dan tak ada apa-apa di dalam koktail." "Barangkali ada orang yang menusuknya dengan jarum suntik." "Barangkali racun panah orang Indian Amerika Selatan," kata Mr. Satterthwaite berolok-olok. Egg menyeringai. "Itulah. Barang bagus yang tak bisa diketahui jejaknya. Oh, sudahlah. Anda tahu lebih baik tentang hal itu. Barangkali suatu hari nanti Anda menemukan kami benar." "Kami?"

"Sir Charles dan saya." Wajah gadis itu agak merah. Mr. Satterthwaite berpikir dengan katakata dan ukuran generasinya, ketika buku Kutipan untuk Segala Kesempatan bisa ditemukan dalam setiap rak buku: Lebih dari dua kali usianya. Dijahit dengan luka lama di pipi, Penuh memar dan kulit cokelat, gadis itu mengangkat matanya. Dan mencintai pria itu dengan cinta yang membawa petaka. Ia agak malu pada dirinya sendiri karena memikirkan kutipan itu. Tak banyak yang mendalami Tennyson sekarang ini. Dan lagi, walaupun Sir Charles berkulit gelap, ia tidak punya bekas luka, dan Egg Lytton Gore, walaupun gadis yang sehat, sama sekali tidak kelihatan bisa hancur karena cinta dan hanyut dalam sampan, mengikuti aliran sungai. Tak ada tanda-tanda kepribadian seperti Lily Maid dari

Astolat-seperti yang digubah Tennyson. Yang seperti itu tak ada padanya. "Kecuali," pikir Mr. Satterthwaite, "kemudaannya." Gadis-gadis selalu tertarik pada laki-laki setengah baya yang punya masa lalu menarik. Egg pun tak terkecuali. "Kenapa dia menikah?" tanya Egg tiba-tiba. "Hm," kata Mr. Satterthwaite, lalu diam. Jawabannya kalau dikeluarkan secara kasar akan berbunyi, "Waspada." Tapi ia tahu bahwa kata itu tak bisa diterima oleh Egg Lytton Gore. Sir Charles telah mempunyai banyak affair dengan wanita, aktris, dan lainnya, tapi ia selalu bisa membebaskan diri dari ikatan perkawinan. Dan Egg jelas menginginkan penjelasan yang lebih romantis. "Gadis yang meninggal karena paru-paru itu-seorang aktris yang namanya diawali huruf R-dia kan amat sayang padanya?"

Mr. Satterthwaite teringat pada wanita yang disebutkan itu. Memang ada gosip yang mengaitkan Charles Cartwright dengan namanya, tapi hanya sekilas, dan Mr. Satterthwaite tidak yakin Sir Charles tetap sendirian hanya karena ingin setia pada kenangan akan wanita itu. Mr. Satterthwaite diam saja. "Saya rasa dia punya banyak affair, " kata Egg. "Hm... barangkali," kata Mr. Satterthwaite yang berpandangan kuno. "Saya senang dengan laki-laki yang begitu," kata Egg. "Itu menunjukkan mereka tidak aneh." Mr. Satterthwaite yang berpandangan kuno merasa terpukul. Ia tak bisa berkata apa-apa. Egg tidak melihat pria itu merasa tak enak. Ia melanjutkan bicaranya dengan santai, "Sir Charles itu lebih pintar dari yang Anda kira. Dia memainkan macam-macam

peran, mendramatisasi diri sendiri, tapi di balik itu otaknya sangat cerdas. Dia bisa mengemudikan perahu lebih baik dari yang dia ceritakan atau yang Anda dengar. Kalau mendengar dia bicara, Anda mengira dia sedang memainkan suatu peran, tapi sebenarnya tidak. Sama juga dengan urusan ini. Anda pikir semua ini terjadi untuk menimbulkan efek tertentu, sehingga dia bisa memerankan dirinya sebagai detektif yang hebat. Saya rasa dia memainkannya dengan baik." "Bisa jadi," Mr. Satterthwaite sependapat. Nada suaranya menunjukkan perasaannya dengan jelas. Egg langsung menghantam dan mengekspresikannya dengan katakata, "Tapi menurut Anda Kematian Seorang Pendeta tidak terlalu seru. Hanya sebuah Lnsiden yang Tak Seharusnya Terjadi di Pesta Makan Malam. Sebuah kecelakaan

biasa dalam suatu kegiatan sosial. Apa pendapat M. Poirot? Dia seharusnya tahu." "M. Poirot menasihatkan agar kami menunggu hasil analisis koktail, tapi dia berpendapat segalanya baik-baik saja." "Oh, baiklah," kata Egg. "Dia sudah tua. Sudah harus istirahat." Mr. Satterthwaite mengedipkan matanya. Egg melanjutkan bicaranya tanpa menyadari kekasarannya, "Ayo ikut saya pulang. Anda bisa minum teh dengan Ibu. Dia bilang suka pada Anda." Mr. Satterthwaite menerima undangan itu. Diam-diam ia merasa tersanjung. Setelah tiba, Egg langsung menelepon Sir Charles dan memamitkan tamunya. Mr. Satterthwaite duduk di sebuah ruang tamu kecil dengan perabot bersih dan terawat, walaupun tua. Ruangan itu ruangan zaman Victoria, seperti yang dibayangkan Mr. Satterthwaite tentang ruangan seorang wanita.

Percakapannya dengan Lady Mary menyenangkan. Bukan percakapan berat, tapi mereka menyukainya. Mereka bicara tentang Sir Charles. Apakah Mr. Satterthwaite kenal baik dengan Sir Charles? Tidak terlalu dekat, jawab Mr. Satterthwaite. Ia pernah punya bisnis dengan salah satu pertunjukan Sir Charles beberapa tahun yang lalu. Sejak itu mereka berteman. "Dia punya daya tarik yang kuat," kata Lady Mary sambil tersenyum. "Saya maupun Egg merasakannya. Saya rasa Anda juga tahu, saat ini Egg sedang menderita hero worship. "* (* tergila-gila pada tokoh idola) Mr. Satterthwaite ingin tahu, apakah sebagai ibu, Lady Mary tak merasa kerepotan dengan hero worship itu. Tapi kelihatannya tidak. "Egg hanya melihat sebagian kecil dunia ini," katanya sambil menarik napas. "Kami

begitu miskin. Salah seorang sepupu saya pernah mengajaknya ke kota dan menunjukkan serta membelikan beberapa barang. Tapi sejak itu dia tak pernah pergi jauh dari tempat ini, kecuali untuk beberapa kunjungan. Saya merasa orang muda seharusnya banyak keluar, melihat, serta bertemu banyak orang dan tempatterutama orang. Kalau tidak, hm, kurang pergaulan kadang-kadang sangat berbahaya." Mr. Satterthwaite sependapat. Ia berpikir tentang Sir Charles dan pergi berlayar, tapi rupanya bukan itu yang ada dalam pikiran Lady Mary, sebagaimana diungkapkannya kemudian. "Kedatangan Sir Charles sangat berpengaruh pada Egg. Dia memperluas cakrawalanya. Di sini tidak banyak orang muda, terutama pemuda. Saya khawatir Egg nanti menikah dengan seseorang hanya karena dia tak mengenal orang lain."

Mr. Satterthwaite mempunyai intuisi tajam. "Maksud Anda Oliver Manders?" Wajah Lady Mary menjadi merah dan heran. "Oh, Mr. Satterthwaite. Anda begitu cepat tanggap! Saya memang berpikir tentang dia. Dia dan Egg sering bersamasama. Saya memang kuno, tapi saya tidak suka beberapa pendapatnya." "Pemuda harus menentukan pandangan mereka," kata Mr. Satterthwaite. Lady Mary menggelengkan kepala. "Saya sangat khawatir. Tentu saja mereka serasi; saya kenal dia dengan baik, pamannya yang mengajaknya bekerja amat kaya. Tapi bukan itu. Saya memang tolol, tapi..." Ia menggelengkan kepala dan tak kuasa menjelaskan lebih lanjut. Mr. Satterthwaite jadi merasa dekat. Ia berkata dengan tenang dan santai,

"Tapi Anda pasti juga tak suka kalau anak Anda menikah dengan orang yang umurnya dua kali lipat." Jawaban Lady Mary membuatnya terkejut. "Mungkin itu lebih aman. Kalau Anda melakukan hal itu, setidaknya Anda tahu posisi Anda. Laki-laki seumur itu biasanya tidak lagi gila-gilaan, dan tidak akan melakukannya kemudian." Sebelum Mr. Satterthwaite sempat menanggapi, Egg sudah datang. "Kenapa lama sekali?" tanya ibunya. "Aku bicara dengan Sir Charles. Dia sedang sendiri." Ia berpaling dan merajuk pada Mr. Satterthwaite. "Anda tidak cerita tamu-tamu itu sudah pulang." "Mereka pulang kemarin-semuanya, kecuali Sir Bartholomew Strange. Dia akan pulang besok, tapi dia mendapat telegram tadi pagi. Salah seorang pasiennya dalam keadaan kritis."

"Sayang," kata Egg. "Sebenarnya saya ingin menyelidiki tamu-tamu itu. Barangkali ada petunjuk." "Petunjuk tentang apa, Sayang?" "Mr. Satterthwaite tahu. Oh, sudahlah, tak apa-apa. Oliver masih ada di sini. Kita ajak dia. Dia punya otak kalau lagi mau." Ketika Mr. Satterthwaite sampai di Crow's Nest, tuan rumahnya sedang duduk di teras sambil memandangi laut. "Halo, Satterthwaite. Baru minum teh dengan keluarga Lytton Gore, ya?" "Ya. Kau tidak keberatan, kan?" "Tentu saja tidak. Egg telepon. Aneh gadis itu." "Menarik," kata Mr. Satterthwaite. "Hm, ya, kurasa begitu." Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir. "Kalau saja aku tidak datang ke tempat terkutuk ini," katanya tiba-tiba dengan nada pahit.

BAB V

Mr. SATTERHWAITE berpikir. "Dia kena batunya." Tiba-tiba saja ia merasa kasihan pada tuan rumahnya. Pada umur 52, Charles Cartwright si periang, si tampan yang membuat banyak orang patah hati, telah jatuh cinta. Dan rupanya ia sendiri menyadari akan menemui kekecewaan. Anak muda suka pada anak muda. "Gadis-gadis tidak akan suka pada orang tua," pikir Mr. Satterthwaite. "Egg memang mendemonstrasikan perasaannya pada Sir Charles. Tapi dia pasti tak akan berbuat begitu kalau benar-benar cinta padanya. Yang dituju pasti si Manders yang masih muda itu."

Mr. Satterthwaite biasanya punya pandangan tajam dalam asumsi-asumsinya. Tapi barangkali ada satu hal yang lepas dari perhitungannya, karena ia sendiri tidak menyadarinya. Yaitu nilai tambah yang diberikan karena usia. Bagi Mr. Satterthwaite yang sudah tua, kenyataan bahwa Egg lebih memilih seorang laki-laki setengah baya daripada seorang pemuda sangat tidak masuk akal. Baginya usia muda merupakan anugerah yang sangat berarti. Ia bertambah yakin ketika Egg menelepon sehabis makan malam dan minta izin untuk "berkonsultasi" sambil membawa Oliver. Tentu saja ia membolehkan gadis itu mengajak seorang pemuda tampan bermata gelap dan berbulu mata lentik, yang gaya berjalannya ringan namun penuh keyakinan. Pemuda itu memang serasi dengan Egg, tapi sikapnya secara keseluruhan skeptis.

"Bisakah Anda bercerita?" katanya pada Sir Charles. "Egg terbiasa dengan hidup sehat di desa, dan itu membuatnya menjadi gadis yang energik. Tahu tidak, Egg, seleramu kekanak-kanakankriminalitas, sensasi, dan sebagainya." "Anda skeptis, Manders?" "Hm, begini, Sir. Bagi saya memang fantastis kalau ada ide yang menyatakan kematian pak tua yang baik hati itu disebabkan hal yang tidak wajar." "Kurasa Anda benar," kata Sir Charles. Mr. Satterthwaite menolehkan kepalanya. Peran apa yang sedang dimainkan Charles Cartwright malam ini? Bukan bekas pelaut, bukan detektif internasional. Peran baru yang belum diketahuinya. Dan Mr. Satterthwaite terkejut sendiri ketika mengetahui peran itu. Sir Charles sedang memainkan peran yang kurang penting. Kurang penting dibanding dengan peran Oliver Manders.

Ia duduk dengan kepala dalam bayangbayang, memperhatikan kedua anak muda itu, Egg dan Oliver, ketika mereka berdebat-Egg dengan sikap berapi-api, sedangkan Oliver kalem-kalem saja. Sir Charles kelihatan lebih tua dari biasanya-tua dan letih. Kadang-kadang Egg menarik dia ke dalam pembicaraan, tapi responsnya tidak ada. Mereka pulang pukul sebelas. Sir Charles keluar ke teras bersama mereka dan menawarkan senter untuk menuruni jalanan kecil berbatu. Tapi senter itu tak diperlukan. Cahaya bulan yang terang membantu mereka malam itu. Mereka pergi, dan suara mereka terdengar semakin samar. Terang bulan atau tidak, Mr. Satterthwaite tak akan ambil risiko kedinginan. Ia kembali ke ruang kapal. Sir Charles masih ada di teras.

Ketika masuk, ia mengunci jendela di belakangnya, berjalan ke meja samping, serta menuang wiski dan soda. "Satterthwaite," katanya, "aku besok mau pergi dari sini-untuk selama-lamanya." "Apa?" seru Mr. Satterthwaite kaget. Suatu kegembiraan samar muncul di wajah Charles Cartwright ketika ia tahu akibat perkataannya. "Itu Satu-satunya Hal yang Bisa Dilakukan, " katanya, jelas berbicara dalam huruf-huruf besar. "Aku akan jual tempat ini. Apa artinya ini bagiku, tak seorang pun akan tahu." Suaranya jatuh, berdengung dengan efektif. Setelah mengalah menjadi orang kedua, ego Sir Charles muncul kembali. Ini merupakan adegan penolakan besar yang sering kali dimainkannya dalam drama serba-serbi. Mengembalikan istri laki-laki lain, menolak gadis yang dicintainya. Terdengar nada sembrono dalam ucapannya berikut,

"Hentikan kerugian; itu satu-satunya jalan. Yang muda untuk yang muda. Mereka memang diciptakan, yang satu untuk yang lain. Aku akan mundur." "Ke mana?" tanya Mr. Satterthwaite. Aktor itu memberikan jawaban tak pasti. "Ke mana saja. Aku tak peduli." Lalu ia menambahkan dengan suara berbeda, "Barangkali Monte Carlo." Dan menambahkan lagi untuk membuat antiklimaks, "Di jantung padang pasir atau di tengah kematian, semua sama saja. Bagian terdalam seorang manusia ialah kesendirian, kesepian. Aku selalu kesepian." Ini jelas baris terakhir sebelum pemain keluar dari panggung. Ia mengangguk pada Satterthwaite, lalu pergi meninggalkan ruangan. Mr. Satterthwaite berdiri, siap mengikuti sang tuan rumah pergi tidur.

"Tapi pasti bukan jantung padang pasir," pikirnya geli. Paginya Sir Charles minta maaf pada Mr. Satterthwaite karena ia harus ke kota. "Jangan buru-buru pergi. Kau akan tinggal sampai besok, kan? Kau akan ke Harbertons di Tavistock. Mobilku akan mengantarmu ke sana. Karena telah membuat keputusan, aku tak akan menoleh kembali. Aku tak akan menoleh kembali." Sir Charles menegakkan kedua bahunya dengan gagah, menjabat tangan Mr. Satterthwaite dengan penuh semangat, dan menyerahkannya pada Miss Milray yang cekatan. Miss Milray kelihatannya siap menghadapi situasi, seperti biasanya. Ia tidak menunjukkan rasa heran atau emosi terhadap keputusan Sir Charles yang mendadak. Mr. Satterthwaite juga tidak ditanggapinya secara luar biasa. Baik kematian yang tiba-tiba ataupun

perubahan rencana yang mendadak tak bisa mengguncangkan Miss Milray. Ia menerima apa pun yang terjadi sebagai suatu fakta dan akan menghadapi persoalan itu dengan cara efisien. Ia menelepon agen rumah, mengirim telegram ke luar negeri, dan sibuk mengetik. Mr. Satterthwaite melarikan diri dari situasi yang begitu efisien dengan berjalan-jalan ke dermaga. Ia sedang berjalan mondarmandir tanpa tujuan ketika tiba-tiba tangannya dipegang seseorang. Ketika berbalik, ia berhadapan dengan seorang gadis berwajah pucat. "Apa maksudnya semua ini?" tanya Egg menuntut jawab. "Semua apa?" jawab Mr. Satterthwaite. "Semua orang di desa sudah tahu Sir Charles akan pergi-dia akan menjual Crow's Nest." "O ya, benar." "Apa dia akan pergi?"

"Dia sudah pergi." "Oh!" Egg melepaskan tangannya. Tibatiba ia kelihatan seperti anak kecil yang disakiti hatinya. Mr. Satterthwaite tak tahu harus berkata apa. "Dia pergi ke mana?" "Ke luar negeri. Prancis Selatan." "Oh!" Ia masih tetap tak tahu apa yang harus dikatakan. Sebab jelas ia melihat lebih dari sekadar hero worship. Dengan kasihan ia mencoba mengingat-ingat katakata penghibur yang sesuai, tapi ketika gadis itu bicara, ia jadi terkejut. "Wanita sialan mana yang menyebabkannya?" tanya Egg dengan galak. Mr. Satterthwaite memandangnya, mulutnya ternganga heran. Egg menggandeng lengannya lagi dan mengguncangkannya keras-keras.

"Anda pasti tahu!" serunya. "Yang mana? Yang rambut abu-abu atau satunya?" "Oh, saya tak tahu apa maksudmu." "Anda tahu! Pasti tahu! Pasti karena wanita. Dia menyukai saya-itu saya tahu. Salah satu dari kedua wanita yang hadir malam itu pasti tahu dan berniat merebut dia dari saya. Saya benci wanita. Kucing licik. Anda perhatikan gaunnya? Yang rambutnya hijau? Mereka membuat saya geram karena iri. Wanita dengan gaun seperti itu punya daya pikat-Anda pasti tidak membantah hal ini. Dia sudah tua dan jelek, tapi peduli apa? Dia membuat orang lain jadi seperti perempuan kampung. Apa dia orangnya? Atau yang berambut abu-abu? Dia menarik-itu bisa dilihat. Dia memanggilnya Angie. Pasti bukan wanita yang seperti kol layu itu. Yang menor atau si Angie?" "Ah, rupanya ide-ide luar biasa telah memasuki kepalamu. Dia... eh... Charles

Cartwright sama sekali tidak tertarik pada kedua wanita itu." "Saya tak percaya. Tapi mereka pasti tertarik padanya." "Tidak... tidak. Kau keliru. Semua itu hanya imajinasi. Kau pasti salah mengerti." "Kalau begitu, kenapa dia pergi seperti itu?" Mr. Satterthwaite berdehem. "Barangkali... dia berpikir... eh... itu yang terbaik?" Egg memandangnya dengan tajam. "Maksud Anda sayalah yang menyebabkannya?" "Hm, barangkali begitu." "Hm, barangkali saya agak terlalu demonstratif, ya? Laki-laki tidak suka dikejar-kejar, kan? Ibu benar rupanya. Anda pasti tak bisa membayangkan betapa manisnya dia kalau bicara soal laki-laki. Selalu disebut dengan sebutan pihak ketiga-begitu kuno dan sopan. 'Laki-laki

tidak dikejar-kejar, seorang gadis harus memberi kesempatan pada laki-laki untuk mengejarnya.' Bukankah ini ekspresi yang manis-'memberi kesempatan pada laki-laki untuk mengejarnya'? Kedengarannya seperti kebalikan dari artinya. Sebetulnya itulah yang dikerjakan Charles-mengejar. Dia pergi menjauhi saya. Dia takut. Tapi sialnya saya tak bisa mengejarnya. Kalau saya mengejar, dia pasti lari ke Afrika atau ke tempat lain." "Hermione," kata Mr. Satterthwaite, "apa kau serius dengan Sir Charles?" Gadis itu memandangnya dengan mata tak sabar. "Tentu saja." "Bagaimana dengan Oliver Manders?" Egg mengusir Oliver Manders dengan gelengan kepala. Ia melamun. "Bagaimana kalau saya menulis surat padanya? Tak usah yang menakutkan. Hanya hal-hal yang biasa diobrolkan gadis.

Supaya dia tenang, tidak ketakutan." Gadis itu mengerutkan kening. "Tolol benar saya. Ibu pasti bisa menangani soal ini dengan lebih baik. Orang-orang kuno itu tahu trik-triknya. Saya keliru selama ini. Saya pikir dia perlu didorong. Dia kelihatan... hm... kelihatan perlu bantuan. Anda tahu," ia tiba-tiba berpaling pada Mr. Satterthwaite, "apa dia melihat saya mencium Oliver tadi malam?" "Saya tak tahu. Kapan?" "Di terang bulan. Ketika kami menuruni jalanan kecil itu. Saya pikir dia masih ada di teras, melihat saya dan Oliver -hm, saya pikir itu akan membuatnya penasaran. Karena dia menyukai saya. Saya yakin itu." "Bukankah itu menyakitkan Oliver?" Egg menggelengkan kepala penuh keyakinan. "Sama sekali tidak. Oliver berpikir seorang gadis pasti merasa beruntung kalau dia cium. Memang tak baik buat

kesombongannya. Tapi orang kan tak bisa mau semuanya. Saya cuma ingin memanasmanasi Charles. Akhir-akhir ini dia agak lain-lebih banyak diam." "Nak," kata Mr. Satterthwaite, "saya rasa engkau tak mengerti kenapa Sir Charles pergi begitu mendadak. Dia pikir kau suka pada Oliver. Dia pergi karena tak ingin sakit hati." Egg menoleh dan memutar badannya. Ia memegang bahu pria itu dan memandangnya dengan tajam. "Benarkah? Apa benar begitu? Oh, bodohnya saya!" Tiba-tiba ia melepaskan Mr. Satterthwaite dan berjalan di sampingnya dengan gerakan meloncat-loncat. "Kalau begitu, dia akan kembali," katanya. "Dia akan kembali. Kalau tidak..." "Kalau tidak, bagaimana?" Egg tertawa. "Saya akan membuatnya kembali. Lihat saja nanti."

Rasanya memang ada perbedaan dalam kata-kata. Egg dan lily maid dari Astolat punya banyak kesamaan, tapi Mr. Satterthwaite merasa cara Egg akan lebih praktis dari cara yang dipakai Elaine, dan kematian karena patah hati tak akan terjadi.

BABAK KEDUA KEPASTIAN

BAB VI

Mr. SATTERHWAITE datang ke Monte Carlo. Pesta-pesta yang banyak didatangi sudah lewat. Riviera pada bulan

September merupakan tempat yang menyenangkan baginya. Ia duduk di taman, menikmati matahari sambil membaca koran Daily Mail dua hari lalu. Tiba-tiba sebuah nama menarik perhatiannya: "Strange". "Kematian Sir Bartholomew Strange". Ia membaca artikel Dengan rasa duka kami umumkan kepergian Sir Bartholomew Strange, spesialis saraf terkenal. Sir Bartholomew mengadakan suatu pesta untuk menjamu teman-teman di tempat tinggalnya, di Yorkshire. Sir Bartholomew kelihatan sehat dan kematiannya terjadi dengan tiba-tiba setelah makan malam. Ia sedang bercakap-cakap dengan teman-temannya dan minum segelas anggur ketika mendapat stroke dan meninggal sebelum memperoleh pertolongan medis. Sir

Bartholomew akan selalu dikenang. Ia adalah... Kalimat itu diikuti dengan deskripsi karier Sir Bartholomew. Mr. Satterthwaite membiarkan koran itu meluncur dari tangannya. Ia sangat terkesan. Bayangan dokter itu melintas di benaknya-besar, riang, dan sangat sehat. Dan sekarang mati. Ada kata-kata tertentu dalam koran itu yang terpisah dari konteksnya dan melayang-layang di benak Mr. Satterthwaite. "Minum segelas anggur... stroke... meninggal sebelum memperoleh pertolongan medis...." Anggur, bukan koktail, tapi anehnya mengingatkannya akan peristiwa kematian di Cornwall. Mr. Satterthwaite seolaholah melihat lagi wajah pendeta tua yang kesakitan itu. Seandainya itu...

Ia mengangkat kepalanya dan melihat Sir Charles berjalan melintasi rerumputan ke arahnya. "Satterthwaite, wah, luar biasa! Kau memang orang yang paling ingin kutemui saat ini. Sudah lihat berita tentang Tollie yang malang?" "Aku baru saja membacanya." Sir Charles duduk di sampingnya. Ia masih memakai pakaian pelayarnya. Ia tak lagi mengenakan celana flanel abu-abu dan sweater tuanya. Kini ia kapten sebuah yacht yang berpengalaman dari Prancis Selatan. "Satterthwaite, Tollie dalam keadaan sehat. Dia tidak sakit dan tak punya penyakit. Apakah aku orang bodoh yang suka berimajinasi? Urusan ini apa tidak mengingatkanmu pada... pada..." "Pada urusan di Loomouth? Ya, memang. Tapi bisa saja kita keliru. Persamaannya barangkali cuma di kulit. Bagaimanapun,

kematian mendadak memang bisa terjadi karena bermacam-macam sebab." Sir Charles mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata, "Aku baru dapat surat dari Egg Lytton Gore." Mr. Satterthwaite tersenyum tertahan. "Yang pertama dari dia?" Sir Charles tidak curiga. "Tidak. Aku dapat surat tak lama setelah sampai di sini. Isinya biasa, sekadar berita. Aku tidak membalasnya. Aku tak berani. Gadis itu pasti tak tahu apa-apa, tapi aku tak mau jadi orang tolol." Mr. Satterthwaite menutup mulutnya yang masih tersenyum. "Dan yang ini?" tanyanya. "Ini lain. Imbauan minta tolong." "Imbauan minta tolong?" Alis mata Mr. Satterthwaite tertarik ke atas. "Dia ada di sana-di rumah itu-ketika ada kejadian itu."

"Maksudmu dia menginap di rumah Sir Bartholomew Strange ketika tuan rumahnya meninggal?" "Ya." "Apa yang dia katakan?" Sir Charles mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya. Ia ragu-ragu sejenak, lalu memberikannya pada Mr. Satterthwaite. "Sebaiknya kaubaca sendiri." Mr. Satterthwaite membukanya dengan penuh rasa ingin tahu. Sir Charles, Saya tak tahu kapan surat ini akan sampai. Mudah-mudahan dapat cepat sampai. Saya begitu khawatir dan tak tahu harus berbuat apa. Saya rasa Anda pasti membaca berita itu di koran-bahwa Sir Bartholomew Strange sudah meninggal. Dan ia meninggal dengan cara yang sama seperti Mr. Babbington. Ini pasti bukan kebetulan-pasti bukan. Saya sangat khawatir.

Apakah Anda tidak dapat pulang dan melakukan sesuatu? Rasanya kasar saya mengucapkan hal ini-tapi Anda dulu pernah curiga dan tak seorang pun mau mendengar Anda. Dan sekarang, kawan Anda yang terbunuh. Kalau Anda tidak pulang, tak seorang pun akan menemukan hal yang sebenarnya. Saya percaya Anda bisa melakukannya. Saya sangat yakin. Dan ada satu hal lagi. Saya sangat mengkhawatirkan seseorang. Dia tak ada hubungannya dengan soal itu, tapi barangkali ada juga. Oh, saya tak bisa menjelaskannya di surat. Anda bisa pulang, kan? Anda bisa menemukan kebenaran itu. Saya percaya. Yang terburu-buru, EGG.

"Hm," kata Sir Charles tak sabar. "Agak acak-acakan. Tapi bisa dimaklumi. Dia menulis terburu-buru. Bagaimana?" Mr. Satterthwaite melipat surat itu pelan-pelan dan berpikir sejenak sebelum menjawab. Ia setuju bahwa surat itu acak-acakan, tapi pasti tidak ditulis dalam keadaan terburu-buru. Ia berpendapat surat itu justru merupakan hasil pemikiran yang hati-hati. Surat itu dibuat untuk memancing keangkuhan, sikap ksatria, dan sportivitas Sir Charles. Karena mengenal Sir Charles dengan baik, Mr. Satterthwaite tahu surat itu merupakan pancingan yang berhasil. "Siapa kira-kira yang dia maksud dengan 'seseorang' dan 'dia'?" tanyanya. "Kurasa Manders." "Kalau begitu, dia juga ada di pesta itu?" "Tentunya. Aku tak tahu kenapa. Tollie tak pernah bertemu dengannya, kecuali di

pestaku dulu. Kenapa dia memintanya datang, aku tak tahu." "Apa dia sering mengadakan pesta-pesta seperti itu?" "Tiga atau empat kali setahun. Selalu mengadakan pesta pada peringatan St. Leger." "Dia sering menghabiskan waktunya di Yorkshire?" "Punya sanatorium besar atau rumah perawatan, atau apalah namanya. Dia membeli Melfort Abbey-sebuah bangunan kuno yang kemudian dipugarnya dan diubahnya menjadi sanatorium." "Hm." Mr. Satterthwaite diam sejenak, lalu berkata, "Siapa saja ya yang datang di pesta itu?" Sir Charles menjawab, barangkali tentang itu ada beritanya di koran lainnya. Mereka kemudian mencari-cari koran lain. "Ini dia," kata Sir Charles. Ia membaca keras-keras,

"Sir Bartholomew Strange mengadakan pesta di rumahnya seperti biasa, untuk memperingati St. Leger. Di antara para tamu ada Lord dan Lady Eden, Lady Mary Lytton Gore, Sir Jocelyn dan Lady Cambell, Kapten dan Mrs. Dacres, serta Miss Angela Sutcliffe, aktris terkenal. " Sir Charles dan Mr. Satterthwaite berpandangan. "Suami-istri Dacres dan Angela Sutcliffe," kata Sir Charles. "Tidak ada Oliver Manders." "Coba kita baca Continental Daily Mail hari ini," kata Mr. Satterthwaite. "Barangkali ada berita tambahan." Sir Charles memandang koran itu sekilas. Tiba-tiba ia menjadi tegang. "Dengar ini, Satterthwaite." "Kematian Sir Bartholomew Strange. Dalam pemeriksaan atas kematian Sir Bartholomew Strange hari ini diputuskan bahwa penyebab kematian adalah

keracunan nikotin. Belum ada bukti yang menunjukkan bagaimana atau siapa yang melakukan peracunan itu. " Ia mengernyitkan dahi. "Keracunan nikotin. Kedengarannya agak terlalu halus-bukan hal yang biasa dilakukan untuk membuat orang stroke. Aku tak mengerti." "Apa yang akan kaulakukan?" "Aku lakukan? Aku akan memesan tempat di Blue Train malam ini." "Hm, aku juga akan pesan tempat kalau begitu," kata Mr. Satterthwaite. "Kau?" Sir Charles memutar badannya dan kelihatan heran. "Aku menyukai hal-hal seperti ini," kata Mr. Satterthwaite merendah. "Aku pernah punya... eh... sedikit pengalaman. Di samping itu, aku juga kenal kepala polisi daerah itu-Kolonel Johnson. Itu akan membantu." "Bagus!" seru Sir Charles. "Kita pesan tempat sekarang." Mr. Satterthwaite berpikir,

"Gadis itu berhasil. Dia membuat Sir Charles kembali. Dia sudah mengatakan itu. Aku tak tahu apa semua suratnya benar." Yang jelas, Egg Lytton Gore seorang oportunis. Ketika Sir Charles pergi memesan tempat, Mr. Satterthwaite berjalan-jalan di taman. Pikirannya masih penuh dengan persoalan Egg Lytton Gore. Ia mengagumi akal dan semangat gadis itu, tapi sikap kunonya tak bisa menerima kenyataan bahwa seorang wanita bisa mengambil langkah-langkah inisiatif dalam urusan cinta. Mr. Satterthwaite seorang pengamat yang cermat. Di tengah renungannya tentang wanita secara umum dan Egg Lytton Gore secara khusus, ia tak bisa menahan untuk berkata pada diri sendiri, "Hm, di mana aku pernah melihat bentuk kepala yang khas seperti itu?"

Pemilik kepala itu sedang duduk di kursi sambil melamun. Ia seorang laki-laki kecil dengan kumis terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. Seorang anak Inggris yang tampak kesal sedang berdiri di dekatnya. Mula-mula ia berdiri dengan kaki sebelah. Lalu dengan kaki yang lain, dan akhirnya menyepaknyepakkan kakinya ke tanaman bunga di dekat situ. "Jangan begitu, Sayang," kata ibunya yang sedang asyik membaca majalah mode. "Aku tidak ada kegiatan," kata si anak. Laki-laki kecil itu menolehkan kepalanya ke arah si wanita, dan Mr. Satterthwaite pun mengenalinya. "M. Poirot," katanya, "senang sekali berjumpa dengan Anda." M. Poirot berdiri dan membungkuk. "Enchante, Monsieur. " Mereka bersalaman dan Mr. Satterthwaite duduk.

"Kelihatannya semua orang ada di Monte Carlo. Belum setengah jam yang lalu saya bertemu Sir Charles Cartwright. Sekarang Anda." "Sir Charles? Dia juga ada di sini?" "Dia berpesiar terus dengan perahu. Anda tahu dia telah menjual rumahnya yang di Loomouth, kan?" "Ah, tidak. Saya tidak tahu. Kenapa, ya?" "Saya tak tahu. Dia bekerja keras, lalu sakit sebentar dan harus istirahat. Tapi saya rasa dia bukan tipe orang yang suka tinggal di tempat sepi dan mengucilkan diri terus-menerus." "Ah, benar. Saya sependapat dengan Anda dalam hal ini. Saya heran karena hal lain. Kelihatannya Sir Charles punya alasan khusus untuk tinggal di Loomouth-alasan yang menyenangkan. Apakah saya benar? Demoiselle mungil yang namanya lucu itu?" Matanya bersinar lembut. "Oh, jadi Anda tahu?"

"Tentu saja. Saya tahu. Hati saya sangat sensitif untuk hal-hal seperti itu-saya kira Anda juga. Dan la jeunesse selalu mengharukan." Ia menarik napas panjang. "Saya kira," kata Mr. Satterthwaite, "Anda benar tentang Sir Charles. Itu yang menyebabkan dia pergi dari Loomouth. Dia melarikan diri." "Dari Mademoiselle Egg? Tapi kan jelas gadis itu mencintainya? Kenapa dia lari?" "Ah," kata Mr. Satterthwaite, "Anda tidak mengerti keruwetan orang-orang Anglo-Saxon rupanya." M. Poirot mengikuti cara berpikirnya sendiri. "Tentu saja," katanya, "memburu memang tindakan bagus. Lari dari seorang wanita. Nanti dia akan mengejar. Dengan pengalamannya yang banyak, Sir Charles pasti tahu itu." Mr. Satterthwaite agak heran.

"Saya rasa tidak begitu," katanya. "Kenapa Anda berada di sini? Liburan?" "Setiap hari saya liburan sekarang. Saya sudah sukses. Saya kaya. Saya pensiun. Sekarang saya jalan-jalan, melihat dunia." "Bagus," kata Mr. Satterthwaite. "N'est-ce pas?" "Mama," kata anak kecil Inggris itu, "apa tak ada yang bisa kulakukan?" "Sayang," jawab ibunya dengan agak kesal, "bukankah menyenangkan pergi ke luar negeri dan menikmati sinar matahari?" "Ya. Tapi tak ada yang bisa kukerjakan." "Kau bisa lari-lari dan main sendiri. Pergi dan main sana ke laut." "Maman, " kata seorang anak Prancis yang tiba-tiba muncul, "joue avec moi. " Seorang ibu Prancis memandang anaknya dari balik buku. "Amuse-toi avec ta balle, Marcelle." Anak itu menurut. Ia memainkan bolanya sambil merengut. "Je m 'amuse, " kata

Hercule Poirot dengan ekspresi aneh di wajahnya. Lalu, seolah-olah menjawab pertanyaan yang dibacanya di wajah Mr. Satterthwaite, ia berkata, "Ah, ya. Anda punya persepsi yang tajam. Memang seperti yang Anda pikirkan." Ia diam satu atau dua menit, lalu berkata, "Waktu kecil, saya amat miskin. Kami bersaudara banyak. Kami harus berjuang untuk hidup. Saya masuk kesatuan polisi. Saya bekerja keras. Pelan-pelan saya naik. Nama saya mulai dikenal. Saya mulai mempunyai reputasi internasional. Akhirnya saya pensiun. Lalu perang pecah. Saya terluka. Saya sampai di Inggris dalam keadaan lemah dan menyedihkan sebagai pengungsi. Seorang wanita yang baik hati dengan ramah menerima saya. Dia meninggal; secara tak wajar; bukan, dia dibunuh. Eh bien, saya mengerahkan segala kemampuan untuk menyelidiki. Saya

gunakan sel-sel kelabu saya sebaik mungkin. Saya menemukan pembunuhnya. Ternyata itu belum selesai. Saya bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Lalu mulailah karier kedua saya-yaitu agen penyelidik swasta di Inggris. Saya berhasil memecahkan persoalan-persoalan yang sulit dan luar biasa. Ah, saya jadi hidup! Psikologi manusia memang luar biasa. Saya menjadi kaya. 'Suatu hari nanti,' begitu saya berkata pada diri sendiri, 'aku akan punya uang yang kuperlukan. Semua mimpiku akan menjadi kenyataan.'" Ia meletakkan tangannya pada lutut Mr. Satterthwaite. "Kawan, hati-hatilah apabila mimpi-mimpi Anda jadi kenyataan. Anak itu juga punya mimpi pergi ke luar negeri. Dia merasa penuh gairah karena akan melihat segala sesuatu yang lain. Anda mengerti?" "Saya mengerti," kata Mr. Satterthwaite, "Anda

tidak sedang bersenang-senang." Poirot mengangguk. "Persis." Ada saat-saat Mr. Satterthwaite kelihatan seperti Puck. Seperti saat ini misalnya. Wajahnya yang kecil dan keriput bergetar tak terkendali. Ia ragu-ragu. Haruskah? Atau tak usah? Pelan-pelan ia membuka koran yang masih dipegangnya. "Anda sudah baca ini, M. Poirot?" Ia menunjukkan paragraf yang dimaksudnya dengan jari telunjuknya. Laki-laki Belgia kecil itu mengambil koran tersebut. Mr. Satterthwaite memperhatikannya membaca. Tak ada perubahan pada wajahnya, tapi ia merasa badan laki-laki itu menegang seperti anjing terrier yang mengendus lubang tikus. Hercule Poirot membaca artikel itu dua kali, lalu melipat koran tersebut dan mengembalikannya pada Mr. Satterthwaite.

"Menarik," katanya. "Ya. Kelihatannya Sir Charles Cartwright yang benar dan kita keliru." "Ya," kata Poirot. "Ya, kelihatannya kita salah. Saya menyukainya, kawan. Saya tak bisa percaya seorang laki-laki tua yang begitu baik dan ramah dibunuh orang. Hm, barangkali saya memang salah. Walaupun kematian yang ini mungkin kebetulan. Kebetulan memang ada dan terjadi-juga yang paling luar biasa. Saya, Hercule Poirot, telah melihat dan mengalami kebetulan-kebetulan yang mencengangkan." Ia diam, lalu melanjutkan, "Insting Sir Charles mungkin benar. Dia seniman-sensitif, mudah dipengaruhi. Dia lebih bisa merasakan daripada berpikir logis. Cara seperti itu dalam kehidupan memang sering membuat semua jadi berantakan, tapi kadang-kadang bisa

dibenarkan. Di mana Sir Charles sekarang?" Mr. Satterthwaite tersenyum. "Saya bisa menjawab pertanyaan itu. Dia ada di kantor Wagons-Lits. Dia dan saya akan kembali ke Inggris malam ini." "Aha!" Poirot sengaja memberi tekanan khusus pada seruannya. Matanya yang cerah, cerdas, nakal, dan ingin tahu bertanya. "Alangkah bersemangatnya Sir Charles kita. Kalau begitu, dia benarbenar mau memainkan peran itu- peran polisi amatir? Atau ada alasan lain?" Mr. Satterthwaite tidak menjawab. Tetapi Poirot menarik kesimpulan dari sikap pria itu. "Hm," katanya. "Mata gadis yang bercahaya itu rupanya. Bukan hanya peristiwa kriminal ini rupanya yang memanggil dia." "Gadis itu menyuratinya," kata Mr. Satterthwaite, "meminta dia kembali."

Poirot mengangguk. "Hm, saya tak mengerti sekarang..." Mr. Satterthwaite menyela, "Anda tak mengerti gadis Inggris modern? Itu tidak aneh. Saya sendiri tidak selalu bisa memahami mereka. Gadis seperti Miss Lytton Gore..." Kali ini Poirot yang menyela, "Maaf. Anda salah mengerti. Saya bisa memahami Miss Lytton Gore dengan baik. Saya pernah bertemu yang seperti itubanyak. Anda menganggapnya bertipe modern, tapi bagaimana saya mengatakannya? Sudah kuno." Mr. Satterthwaite agak tersinggung. Ia merasa hanya dirinya yang bisa memahami Egg. Orang asing gila ini tak tahu apa-apa tentang wanita Inggris. Poirot masih bicara. Nada suaranya seperti orang melamun. "Pengetahuan tentang sifat manusia bisa berbahaya."

"Berguna," Mr. Satterthwaite membetulkan. "Barangkali. Tergantung dari mana sudut pandangnya." "Hm," kata Mr. Satterthwaite ragu-ragu sambil berdiri. Ia agak kecewa. Ia telah melempar umpan, tapi ikan itu belum muncul. Ia merasa pengetahuannya akan sifat manusia keliru. "Selamat berlibur, kalau begitu." "Terima kasih." "Kalau Anda ke London kapan-kapan, saya harap Anda bisa singgah di tempat saya." Ia mengeluarkan kartunya. "Ini alamat saya." "Anda sangat baik, Mr. Satterthwaite. Saya akan senang." "Selamat berpisah, kalau begitu." "Selamat berpisah dan... bon voyage. " Mr. Satterthwaite berjalan pergi. Poirot memandangnya sesaat, lalu menatap lurus ke depan, ke Laut Tengah yang biru.

Ia duduk begitu kira-kira sepuluh menit. Anak Inggris itu datang lagi. "Aku sudah melihat laut, Ma. Apa yang akan kulakukan sekarang?" "Pertanyaan yang mengagumkan," kata Hercule Poirot. Ia berdiri dan berjalan pergi perlahan-ke arah kantor Wagons-Lits.

BAB VII

Sir CHARLES dan Mr. Satterthwaite duduk di kamar kerja Kolonel Johnson. Kepala polisi itu seorang laki-laki besar berwajah merah dengan suara keras dan sikap ramah. Ia menyambut Mr. Satterthwaite dengan gembira dan jelas tampak senang bisa

berkenalan dengan Charles Cartwright yang terkenal. "Istri saya senang melihat drama. Dia salah seorang-bagaimana orang Amerika menyebutnya?-fans Anda. Ya, fans. Saya sendiri suka nonton drama. Pertunjukan yang bagus. Ada juga pertunjukanpertunjukan panggung yang... huh!" Sir Charles sadar akan kebenaran katakata itu. Ia sendiri tak pernah memainkan peran yang terlalu berani, tapi hanya mengikuti sikapnya yang luwes dan menarik. Ketika akhirnya mereka mengatakan tujuan kedatangan mereka, Kolonel Johnson pun segera menyampaikan apa yang diketahuinya dan menyanggupi untuk membantu sebisanya. "Kawan Anda, ya? Kasihan... kasihan. Ya, dia memang populer di sini. Sanatoriumnya sangat dikenal. Kecuali itu, Sir Bartholomew warga masyarakat terhormat dan ahli top yang sedang ada di

puncak karier. Dia baik, murah hati, populer. Sulit percaya ada orang yang tega membunuhnya. Tapi kelihatannya memang itulah yang terjadi- pembunuhan. Tak ada petunjuk adanya maksud bunuh diri. Kecelakaan juga tidak mungkin." "Satterthwaite dan saya baru saja pulang dari luar negeri," kata Sir Charles. "Kami hanya membaca secuil berita di sana-sini dari koran." "Dan tentunya Anda ingin tahu yang sebenarnya. Hm, saya akan menceritakan kejadian itu secara keseluruhan. Saya kira tak perlu diragukan lagi kepala pelayan itu harus kita cari. Dia orang baru. Dia bekerja pada Sir Bartholomew baru dua minggu. Setelah kejadian itu dia hilanglenyap begitu saja. Kelihatannya aneh, kan? Eh, apa?" "Anda tak tahu ke mana dia pergi?" Wajah Kolonel Johnson yang memang merah itu bertambah merah.

"Anda pasti menganggap itu kelalaian kami. Memang kelihatannya seperti itu. Orang ini tentunya juga diperiksa, sama seperti yang lain. Dia menjawab pertanyaan kami dengan memuaskan, memberi nama agen di London yang menempatkannya. Majikannya yang terakhir Sir Horace Bird. Sangat sopan dan tidak gugup. Kemudian dia pergi, dan kami memeriksa rumah itu. Orang-orang saya sudah mencari di semua sudut, tapi mereka tak menemukannya." "Luar biasa," kata Satterthwaite. "Tapi lucu juga," kata Sir Charles sambil berpikir-pikir. "Rasanya yang dia lakukan itu sangat tolol. Sebetulnya dia kan tidak dicurigai. Tapi dengan menghilang, orang malah curiga padanya." "Benar. Dan tak ada harapan untuk lari. Deskripsi orang itu telah diedarkan. Kita tunggu waktunya saja."

"Aneh," kata Sir Charles. "Saya tidak mengerti." "Oh, sebabnya sudah jelas. Dia takut. Tiba-tiba bingung." "Biasanya orang yang berani membunuh juga punya kemampuan duduk tenang sesudahnya." "Tergantung, tergantung. Saya tahu para kriminal. Banyak yang kecil nyalinya. Dia pikir dia dicurigai, lalu lari." "Apa Anda sudah mengecek cerita tentang dirinya?" "Tentu saja, Sir Charles. Itu memang pekerjaan rutin. Agen London itu membenarkannya. Dia punya referensi tertulis dari Sir Horace Bird yang memberinya rekomendasi bagus. Sir Horace sendiri sekarang di Afrika Barat." "Jadi, referensi itu mungkin palsu?" "Benar," kata Kolonel Johnson dengan senang pada Sir Charles, seperti kepala sekolah memberi selamat pada muridnya

yang pandai. "Tentu saja kami telah mengirim telegram pada Sir Horace, tapi mungkin perlu sedikit waktu untuk mendapat jawaban. Dia sedang bersafari." "Kapan orang itu menghilang?" "Pagi hari setelah kematian. Ada seorang dokter yang hadir dalam pesta itu-Sir Jocelyn Cambell-saya dengar dia ahli racun. Dia dan Davis-ahli di daerah inimemang memastikan kasus itu, dan kami segera diberitahu. Malam itu kami mewawancarai setiap orang. Dan Ellisnama kepala pelayan itu-masuk ke kamarnya malam itu. Paginya dia tak ada lagi. Tempat tidurnya belum dipakai." "Dia menyelinap pergi malam itu?" "Kelihatannya begitu. Salah seorang tamu yang tinggal di situ-Miss Sutcliffe, aktris itu-Anda tahu dia barangkali?" "Tentu saja." "Miss Sutcliffe memberitahu kami. Dia bilang orang itu keluar lewat jalan

rahasia." Ia bersin sebentar. "Kedengarannya seperti cerita Edgar Wallace, tapi rupanya memang ada lorong rahasia. Sir Bartholomew bangga dengan lorong itu. Dia menunjukkannya pada Miss Sutcliffe. Ujung lorong itu tembus di sebuah rumah rusak yang jaraknya kirakira setengah mil." "Itu merupakan kemungkinan," Sir Charles setuju. "Tapi, apakah kepala pelayan itu tahu?" "Ya, itulah persoalannya. Istri saya selalu bilang, pelayan biasanya tahu segalanya. Kelihatannya dia benar." "Saya dengar racunnya adalah nikotin," kata Mr. Satterthwaite. "Benar. Tidak biasa, jarang sekali terjadi. Saya dengar, pada perokok berat seperti dokter itu, memang bisa timbul komplikasi berbahaya. Maksud saya, dokter itu mungkin saja meninggal karena keracunan

nikotin, tapi kematiannya wajar. Tapi kejadiannya begitu mendadak." "Bagaimana peracunan itu dilakukan?" "Kami tidak tahu," kata Kolonel Johnson. "Itulah hal paling lemah dalam kasus ini. Menurut bukti-bukti medis, racun itu pasti ditelan beberapa menit sebelum dokter itu meninggal." "Saya dengar mereka minum anggur?" "Ya, betul. Kelihatannya racun itu ada di dalam anggur. Tapi ternyata tidak. Kami menganalisis gelasnya. Isinya hanya anggur. Gelas-gelas anggur lainnya tentu juga diperiksa. Tapi semua ada di sebuah nampan di dapur, belum dicuci, dan tak sebuah pun berisi sesuatu yang mencurigakan. Apa yang dia makan juga sama dengan yang dimakan para tamu. Sup, ikan bakar, kentang, cokelat souffle, telur ikan. Kokinya sudah bekerja selama lima belas tahun padanya. Kelihatannya

tak mungkin dia meminum racun itu, tapi barang itu ada di dalam perutnya. Sulit." Sir Charles berpaling pada Mr. Satterthwaite. "Hal yang sama," katanya penuh semangat, "sama seperti yang itu." Ia berpaling lagi pada kepala polisi itu. "Saya harus cerita. Pernah terjadi kematian di rumah saya di Cornwall..." Kolonel Johnson kelihatan tertarik. "Saya kira saya pernah mendengar cerita itu. Dari seorang gadis-Miss Lytton Gore." "Ya, waktu itu dia hadir di sana. Dia bercerita pada Anda?" "Ya. Dia yakin pada teorinya. Tapi, Sir Charles, saya tak percaya pada teori itu. Karena tidak menjelaskan kepergian pelayan itu. Apa pelayan Anda juga menghilang?" "Oh, tidak. Dia pelayan wanita." "Bagaimana kalau dia laki-laki yang menyamar?"

Sir Charles tersenyum ketika membayangkan Temple yang rapi dan feminin itu. Kolonel Johnson juga tersenyum minta maaf. "Hanya gagasan ngawur saja," katanya. "Itu karena saya tak bisa yakin dengan teori Miss Lytton Gore. Saya dengar yang meninggal itu pendeta tua. Siapa yang ingin membunuh pendeta seperti itu?" "Justru itulah yang membuat bingung," kata Sir Charles. "Saya kira ini cuma kebetulan. Tapi kepala pelayan yang menghilang itu harus dicurigai. Bisa jadi dia memang pembunuh. Sayang kami tak bisa menemukan sidik jarinya. Ada ahli sidik jari yang melihatlihat kamar dan dapurnya, tapi tak bisa menemukannya." "Kalau pembunuh itu benar si pelayan, motif apa yang mendorongnya berbuat begitu?"

"Itulah salah satu kesulitan kami," kata Kolonel Johnson. "Orang itu barangkali ada di sini dengan maksud mencuri, dan Sir Bartholomew mungkin menangkap basah." Baik Sir Charles maupun Mr. Satterthwaite dengan sopan tidak berkomentar. Kolonel Johnson sendiri kemudian merasa alasan yang dikemukakannya tidak kuat. "Kenyataannya, kita hanya bisa berteori. Kalau kita sudah bisa menangkap John Ellis dan tahu siapa dia sebenarnya serta apakah dia pernah dipenjara sebelumnya, barangkali motifnya akan menjadi jelas." "Tentunya Anda telah memeriksa suratsurat dan dokumen-dokumen Sir Bartholomew, ya?" "Tentu saja, Sir Charles. Kami telah memberi perhatian penuh pada sisi itu dalam kasus ini. Saya harus mengenalkan Anda pada Inspektur Crossfield yang

menangani kasus ini. Dia bisa dipercaya. Saya menunjukkan padanya, dan dia langsung setuju, bahwa profesi Sir Bartholomew barangkali ada hubungannya dengan kematian itu. Seorang dokter tahu banyak rahasia profesional. Dokumendokumen Sir Bartholomew ternyata disimpan rapi. Miss Lyndon, sekretarisnya, bersama-sama Crossfield memeriksa dokumen-dokumen itu." "Dan tak ada apa-apa?" "Tak ada yang mencurigakan, Sir Charles." "Apa ada barang yang hilang dari rumahperhiasan, perak-barang-barang seperti itu?" "Tidak, sama sekali tidak." "Siapa-siapa saja yang tinggal di rumah itu?" "Saya punya daftar... eh, mana, ya? Ah, saya rasa ada di Crossfield. Anda harus bertemu dengan Crossfield. Sebenarnya sekarang ini saya sedang menunggu-nunggu

dia untuk melapor..." Terdengar suara bel. "Ah, itu dia barangkali." Inspektur Crossfield berbadan besar dan tegap. Bicaranya pelan, tapi matanya yang biru kelihatan tajam. Ia memberi hormat pada atasannya, lalu diperkenalkan pada kedua tamu itu. Seandainya Mr. Satterthwaite datang sendiri, barangkali ia akan kesulitan menghadapi Crossfield. Ia tidak terlalu acuh pada seorang tamu dari London yang datang sebagai amatir yang punya "ide". Tapi Sir Charles lain. Inspektur Crossfield mempunyai rasa hormat yang kekanak-kanakan pada daya tarik panggung. Ia pernah melihat Sir Charles dalam dua pertunjukan. Tapi sekarang ia berhadapan langsung dengan pemain pujaannya-dan itu membuatnya ramah dan terbuka. "Saya pernah melihat Anda di London, sungguh, dengan istri saya. Kami nonton

Lord Aintree's Dilemma-itu dramanya. Orang penuh sesak, dan kami dapat tempat di bawah. Sebelumnya kami harus antre dua jam. Tapi istri saya bersikeras. Dia bilang, 'Aku harus melihat Sir Charles Cartwright dalam Lord Aintree's Dilemma.' Waktu itu di Pall Mall Theatre." "Ah," kata Sir Charles, "saya sudah pensiun dari panggung sekarang. Saya bekerja terlalu keras dan akhirnya sakit dua tahun yang lalu. Tapi orang-orang Pall Mall masih ingat nama saya." Ia mengeluarkan sebuah kartu dan menulis beberapa kata di atasnya. "Ini bisa Anda berikan pada orang di loket, kalau Anda dan istri Anda ke kota. Mereka akan memberikan dua tempat duduk terbaik." "Oh, terima kasih sekali, Sir Charles. Anda begitu baik. Terima kasih." Setelah itu, Inspektur Crossfield seperti sebuah lilin di tangan sang aktor.

"Kasus ini aneh. Belum pernah saya menangani keracunan nikotin. Juga Dokter Davis." "Saya selalu berpikir ini akibat penyakit yang disebabkan karena terlalu banyak merokok." "Terus terang, saya juga berpikir begitu. Tapi dokter bilang alkaloid murni merupakan cairan tak berbau dan beberapa tetes saja bisa membunuh orang." Sir Charles bersiul. "Barang poten." "Benar. Padahal barang itu dipakai seharihari. Misalnya untuk pencampur obat penyemprot mawar. Dan tentu saja bisa disaring dari tembakau biasa." "Mawar," kata Sir Charles. "Hm, di mana saya dengar..." Ia mengernyitkan dahi, lalu menggelengkan kepala. "Ada yang baru yang perlu dilaporkan, Crossfield?" tanya Kolonel Johnson.

"Tak ada yang pasti, Sir. Ada laporan bahwa buron kita, Ellis, terlihat di Durham, Ipswich, Balham, Land's End, dan beberapa tempat lainnya. Tapi semua itu harus disaring." Ia kembali menghadap ke kedua tamunya. "Pada waktu deskripsi seorang buron diumumkan, orang itu seolah-olah kelihatan di semua tempat di Inggris." "Bagaimana deskripsinya?" tanya Sir Charles. Johnson mengambil selembar kertas. "John Ellis, tinggi sedang, agak bungkuk, rambut abu-abu, cambang kecil, mata hitam, suara serak, gigi atas patah dan kelihatan bila dia tersenyum, tak ada tanda-tanda atau karakteristik khusus." "Hm," kata Sir Charles. "Sangat biasa, kecuali cambang dan giginya. Cambang itu pasti sudah hilang sekarang, dan sulit menyuruhnya tersenyum."

"Persoalannya," kata Crossfield, "tak seorang pun memperhatikan sesuatu. Kesulitan saya adalah bagaimana cara mendapat deskripsi yang amat samar dari pembantu-pembantu. Selalu begitu. Saya punya deskripsi tentang satu orang yang sama, dan orang menyebutnya tinggi, kurus, pendek, gemuk, sedang, tegap, ramping. Tak seorang pun dalam umur lima puluhan menggunakan matanya sebaikbaiknya." "Anda yakin benar, Inspektur, Ellis-lah pelakunya?" "Kalau tidak, kenapa dia lari? Tak ada penjelasan lain rasanya." "Memang sulit," kata Sir Charles sambil berpikir. Mr. Satterthwaite mengulangi pertanyaan tentang dokumen Bartholomew Strange yang telah ditanyakan Sir Charles. "Tak ada apa-apa, Sir. Semua kelihatannya bersih dan tak perlu dicurigai." "Ya,

betul," kata Johnson. "Saya sendiri juga memeriksanya. Tapi tak ada apa-apa." "Rasanya saya pernah melihat sekretaris Tollie," kata Sir Charles. "Gadis itu biasa, tapi sangat efisien." "Betul. Seorang gadis yang baik dan sangat efisien. O ya, kami juga memeriksa agenda Sir Bartholomew. Sebetulnya catatan biasa. Saya simpan di sini." "Oh." Sir Charles mengulurkan tangannya dengan cepat. Inspektur itu memberinya sebuah buku hijau kecil yang agak kumal. Mr. Satterthwaite mengintip dari balik bahu Sir Charles ketika pria itu membukabuka halaman buku tersebut. Tulisannya dengan pensil, seperti ini: Sale Mr. Lathom. Anggur bagus. Harus pergi. Beritahu L supaya beli alas meja. Rasanya semua bersih. Istirahat segera.

Catatan-pecat si tukang kebun bodoh. Kenapa dia tidak menanam tulip rapatrapat? Tulisan terakhir bertanggal sehari sebelum ia meninggal. Begini bunyinya: Aku khawatir tentang M-ada yang tidak beres. Beritahu L per sofa lepas. "L ialah Miss Lyndon," kata Inspektur. "Dan M?" "Kami tidak tahu. Barangkali salah seorang pasiennya." Sir Charles kemudian minta daftar orangorang yang ada di tempat pesta malam itu. Daftarnya seperti berikut: Martha Leckie, juru masak. Beatrice Church, pelayan utama. Doris Cocker, pelayan biasa. Victoria Ball, pelayan kamar. Violet Bassington, pelayan dapur.

Semuanya sudah lama bekerja pada almarhum dan mempunyai karakterkarakter yang baik. Mrs. Leckie sudah bekerja lima belas tahun. Gladys Lyndon, sekretarisnya yang berumur 33, telah bekerja selama tiga tahun pada Sir Bartholomew Strange. Ia tak bisa memberikan informasi tentang motif pembunuhan itu. Tamu: Lord dan Lady Eden, Cadogan Square, London. Sir Jocelyn dan Lady Cambell, Harley Street, London. Miss Angela Sutcliffe, Cantrell Mansions, London, S. W. 3. Kapten dan Mrs. Dacres, St. John 's House, London, W. 1. Mrs. Dacres mempunyai usaha di Ambrosine, Ltd., Bruton Street, London.

Lady Mary dan Miss Hermione Lytton Gore. Rose Cottage, Loomouth. Miss Muriel Wills, Upper Cathcart Road, Tooting. Mr. Oliver Manders, Messrs. Speir & Ross, Old Broad Street, E. C. "Hm," kata Sir Charles. "Yang ada di Tooting ini tidak masuk koran. Si Manders ada di sini juga." "Itu karena kebetulan saja," kata Inspektur Crossfield. "Sepeda motor pemuda ini menabrak sebuah dinding dekat rumah itu. Dan Sir Bartholomew yang kenal dia memintanya tinggal malam itu." "Ah. Sembrono amat," kata Sir Charles ringan. "Memang begitu kejadiannya," kata Inspektur. "Dia pasti minum terlalu banyak-itu membuatnya menabrak dinding. Saya tidak tahu, apa dia sadar waktu itu."

"Terlalu banyak alkohol, kelihatannya," kata Sir Charles. "Ya, saya pikir juga alkohol." "Hm, terima kasih, Inspektur. Apa kami bisa melihat-lihat rumah itu, Kolonel Johnson?" "Tentu saja. Tapi rasanya takkan banyak yang dapat Anda pelajari lagi." "Ada orang di sana?" "Hanya para pelayan. Tamu-tamu pulang segera setelah pemeriksaan, dan Miss Lyndon telah kembali ke Harley Street." "Kami boleh juga bertemu Dr. Davis?" tanya Mr. Satterthwaite. "Bagus." Mereka memperoleh alamat dokter itu, dan setelah mengucapkan terima kasih pada Kolonel Johnson, mereka pergi.

BAB VIII

KETIKA mereka sedang dijalan, Sir Charles berkata, "Apa pendapatmu, Satterthwaite?" "Bagaimana dengan kau sendiri?" tanya Mr. Satterthwaite. Ia senang menyimpan pendapatnya sampai saat terakhir. Tapi Sir Charles tidak begitu. Ia berkata dengan simpati, "Mereka keliru, Satterthwaite. Mereka cuma memikirkan pelayan itu. Pelayan itu berbuat sesuatu-ergo, pelayan itu adalah pembunuh. Tidak cocok. Tidak cocok. Kita tak bisa mengesampingkan kematian satunya-yang terjadi di rumahku." "Kau masih menganggap keduanya berhubungan?" Mr. Satterthwaite menanyakan hal itu, walaupun jawabannya telah ada dalam hatinya. "Ah, jelas ada hubungannya. Semua menunjuk ke arah itu. Kita harus

menemukan faktor yang sama-orang yang berada di kedua pesta itu." "Ya," kata Mr. Satterthwaite. "Dan itu bukan hal sederhana seperti yang diperkirakan orang. Ada cukup banyak faktor yang sama. Hampir semua orang yang datang ke pestamu ada di tempat ini." Sir Charles mengangguk. "Tentu saja aku tahu itu. Tapi kau tahu deduksi apa yang bisa diambil dari hal itu?" "Aku kurang mengerti, Cartwright." "Ah, kan jelas sekali. Kauanggap itu kebetulan? Tidak. Memang disengaja. Kenapa semua orang yang ada di kematian pertama ada pula di kematian kedua? Kebetulan? Pasti tidak. Itu direncanakanrencana Tollie." "Oh!" kata Mr. Satterthwaite. "Ya, bisajadi." "Itu pasti. Kau tidak mengenal Tollie sebaik aku, Satterthwaite. Dia suka merahasiakan rencananya dan juga amat sabar. Selama aku mengenalnya, dia tak

pernah memberikan pendapat serampangan. "Babbington dibunuh seseorang-ya, dibunuh, aku tak mau memperluas istilahdia dibunuh di rumahku pada suatu malam. Tollie mengejekku, karena aku curiga. Tapi sebetulnya dia sendiri juga curiga. Dia tak mengatakan hal itu, itu bukan caranya. Tapi diam-diam dia membentuk sebuah kasus. Aku tak tahu kasus apa itu. Tapi kurasa bukanlah kasus yang ditujukan pada satu orang saja. Dia yakin salah satu dari orang-orang itu bertanggung jawab atas tindak kriminal itu, dan dia membuat rencana. Boleh dikatakan suatu tes, untuk mengetahui siapa orangnya." "Bagaimana dengan tamu-tamu lain? Suami-istri Eden atau Cambell?" "Kamuflase. Itu membuat tujuan sebenarnya jadi tersamar." "Dan apa kira-kira rencana itu?"

Sir Charles mengangkat bahu-isyarat asing yang dibesar-besarkan. Ia menjadi Aristide Duval, otak agen rahasia itu. Kaki kirinya tiba-tiba timpang. "Bagaimana aku tahu? Aku bukan tukang sulap. Aku tak bisa menebak. Tapi jelas ada rencana. Rencana itu tidak jalan karena si pembunuh satu tingkat lebih pandai dari yang diperkirakan Tollie. Dia memukul lebih dulu." "Laki-laki?" "Bisa juga wanita. Yang lebih suka memakai senjata racun biasanya wanita." Mr. Satterthwaite diam. Sir Charles berkata, "Ayolah, kau tak setuju? Atau kau lebih setuju dengan opini publik. 'Pelayan itu orangnya. Dia yang membunuh.'" "Apa penjelasanmu tentang pelayan itu?" "Aku belum berpikir. Kurasa dia tak berarti. Aku bisa membuat cerita tentang dia." "Misalnya?"

"Seandainya polisi memang benar; Ellis seorang kriminal profesional, bekerja sama dengan-misalnya saja- komplotan perampok. Ellis mendapat posisi itu dengan surat-surat keterangan palsu. Lalu Tollie dibunuh. Bagaimana posisi Ellis? Seseorang dibunuh, dan di rumah itu ada orang yang sidik jarinya disimpan Scotland Yard dan dikenal mereka. Tentu saja dia takut dan lari." "Tapi lorong rahasia itu?" "Peduli amat dengan lorong rahasia. Dia kabur dari rumah itu ketika salah seorang polisi penjaga itu ngantuk." "Itu memang lebih bisa diterima." "Jadi, apa pendapatmu?" "Pendapatku?" kata Mr. Satterthwaite. "Oh, sama dengan pendapatmu. Sejak awal sudah sama. Menurut pendapatku, pelayan itu hanya kambing hitam untuk mengalihkan perhatian. Aku yakin Sir

Bartholomew dan Babbington yang malang itu dibunuh orang yang sama." "Salah seorang tamu?" "Salah seorang tamu." Mereka diam sejenak. Lalu Mr. Satterthwaite bertanya sambil lalu, "Yang mana menurut pendapatmu?" "Ya Tuhan. Bagaimana aku tahu?" "Tentu saja engkau tidak tahu," kata Mr. Satterthwaite pelan. "Kupikir kau punya ide-tak perlu yang muluk-muluk atau ilmiah. Sekadar tebakan." "Wah, aku tak tahu." Ia diam sebentar, lalu berkata, "Kalau kita pikir-pikir, rasanya tak mungkin salah seorang dari mereka yang melakukannya." "Kurasa teorimu benar," kata Mr. Satterthwaite. "Maksudku, tentang orang-orang yang tak punya faktor sama. Kau, aku, dan Mrs. Babbington, misalnya. Juga si Manders. Dia tak perlu diperhitungkan."

"Manders?" "Ya. Kedatangannya ke situ kan kebetulan saja. Dia tidak diminta atau diundang ke situ. Jadi, dia bebas dari kecurigaan." "Juga penulis naskah drama itu-Anthony Astor." "Tidak. Dia juga datang. Miss Muriel Wills dari Tooting." "Oh, dia. Aku lupa nama aslinya Wills." Ia mengernyitkan dahi. Mr. Satterthwaite memang pandai membaca pikiran orang. Ia memperkirakan dengan cukup tepat apa yang melintas di benak sang aktor. Ketika temannya bicara, Mr. Satterthwaite diamdiam memuji dirinya sendiri. "Kau benar, Satterthwaite. Kurasa yang diundangnya bukan hanya orang-orang yang dicurigai, sebab Lady Mary dan Egg kan juga di sana. Kurasa dia ingin membuat reproduksi kasus yang pertama. Dia mencurigai seseorang, tapi juga memerlukan saksi-saksi untuk meyakinkan hal itu. Begitulah kira-kira."

"Ya. Begitu kira-kira," kata Tuan Satterthwaite setuju. "Pada saat ini, orang baru bisa melihat patokan-patokan umum saja. Baiklah. Keluarga Lytton Gore keluar dari grup itu; juga kau, aku, Mrs. Babbington, serta Oliver Manders. Tinggal siapa? Angela Sutcliffe?" "Angie? Ya Tuhan. Dia kawan lama Tollie." "Kalau begitu, suami-istri Dacres. Sebenarnya kau kan curiga pada mereka. Terus terang sajalah." Sir Charles memandangnya. Mr. Satterthwaite kelihatan seperti orang yang menang bertaruh. "Aku memang mencurigai mereka," kata Sir Charles pelan-pelan, "karena mereka lebih masuk akal daripada yang lain. Sebenarnya aku tidak terlalu kenal mereka. Tapi rasanya aku juga tak bisa mengerti kenapa Freddie Dacres yang dedengkot taruhan pacuan kuda itu, atau Cynthia, yang terkenal dengan desain

baju-baju mahalnya ingin membunuh seorang pendeta tua yang tak berdosa." Ia menggelengkan kepala, kemudian wajahnya berubah cerah. "Oh ya, si Wills. Aku hampir lupa. Apa sih yang membuat orang cenderung melupakannya? Dia memang orang yang paling sulit dijelaskan." Mr. Satterthwaite tersenyum. "Kupikir dia seperti yang dikatakan Burns, 'Seorang anak di antaramu menulis.' Kurasa Miss Wills seperti itu. Dia orang yang sibuk mencatat. Ada mata tajam di balik kacamatanya. Kurasa hal-hal yang perlu diketahui dalam urusan ini telah diketahui Miss Wills." "Benarkah?" kata Sir Charles ragu-ragu. "Pokoknya sekarang kita makan siang. Setelah itu, kita ke sana untuk melihatlihat atau mencari sesuatu di situ." "Kau kelihatannya senang dengan urusan ini, Satterthwaite," kata Sir Charles sambil

mengedipkan matanya. "Penyelidikan kasus kejahatan bukan barang baru bagiku," kata Mr. Satterthwaite. "Suatu kali, ketika mobilku rusak dan aku terpaksa menginap di penginapan terpencil..." Ia tak melanjutkan ceritanya. "Aku ingat," kata Sir Charles dengan suara tinggi dan jelas, membawakan suara seorang aktor, "ketika aku keliling pada tahun 1921..." Sir Charles menang.

BAB IX

TAK ada yang lebih tenang dan damai dari halaman dan gedung Melfort Abbey seperti terlihat oleh kedua laki-laki itu pada suatu sore di bulan September yang cerah.

Sebagian dari biara itu merupakan bangunan abad kelima belas. Bangunan itu dipugar dan ditambah dengan satu sayap baru. Sanatorium yang baru tidak kelihatan dari rumah itu, karena punya halaman sendiri. Sir Charles dan Mr. Satterthwaite diterima oleh Mrs. Leckie, juru masak yang berbaju hitam dan menangis tersedu-sedu. Ia sudah kenal Sir Charles, dan kepadanyalah sebagian besar ceritanya ditujukan. "Anda pasti tahu apa artinya bagi saya, Sir. Kematian Dokter. Polisi di mana-mana, menyelinap di sana-sini. Mereka juga memeriksa tempat-tempat sampah. Dan pertanyaan-pertanyaan-mereka tak berhenti bertanya-tanya. Oh, saya tak tahan lagi rasanya. Tuan Dokter-beliau pendiam dan tenang seperti biasa. Beatrice dan saya pasti ingat benar, walau saya dua tahun lebih dulu bekerja di sini

dibandingkan dia. Dan polisi itu-dia begitu ribut dan kasar. Saya tak tahu apa dia inspektur polisi atau bukan." Mrs. Leckie diam, menarik napas, dan melepaskan diri dari pembicaraan konyol itu. "Pertanyaan tentang para pelayan yang ada di rumah ini-padahal mereka semua baik-baik, walaupun Doris suka bandel dan saya harus mengingatkannya paling tidak sekali seminggu; dan Vickie yang suka tidak sopan-tapi anak-anak muda itu memang begitu. Apa yang bisa diharapkan dari mereka? Ibu mereka tidak memberikan pendidikan cukup. Tapi mereka gadis baik-baik, dan tak seorang polisi pun bisa membuat saya mengatakan yang sebaliknya. 'Ya,' kata saya padanya, 'jangan dikira saya mau mengatakan hal yang memberatkan gadis-gadis itu. Mereka gadis baik-baik, dan kalau Anda mencurigai mereka melakukan pembunuhan, itu jahat namanya.'"

Mrs. Leckie diam. "Mr. Ellis itu lain. Saya tak tahu apa-apa tentang dia dan tak bisa menjawab pertanyaan tentang dia. Dia datang dari London dan masih asing di tempat ini. Dia datang ketika Mr. Baker berlibur." "Baker?" tanya Mr. Satterthwaite. "Mr. Baker dulu kepala pelayan Sir Bartholomew. Dia sudah tujuh tahun bekerja di sini. Dia sering ada di London, di Harley Street. Anda ingat dia?" tanyanya pada Sir Charles yang kemudian mengangguk. "Sir Bartholomew biasa membawanya ke sini kalau ada pesta. Tapi dia sakit-sakitan belakangan ini. Jadi, Sir Bartholomew memberinya libur, membayari liburannya di suatu tempat dekat Brighton. Dokter sungguh baik hati. Dan beliau untuk sementara menyewa tenaga Mr. Ellis. Jadi, saya tak bisa cerita apa-apa, walaupun seperti ceritanya, Mr. Ellis selalu bekerja pada keluarga baik-

baik. Dia sendiri juga kelihatan berpendidikan." "Tak ada yang aneh tentang dia?" tanya Sir Charles berharap. "Ah, aneh rasanya yang Anda katakan tadi, sebab saya merasa ya dan tidak." Sir Charles memberi semangat dan Mrs. Leckie melanjutkan, "Saya tak tahu persis apa itu, tapi ada sesuatu..." "Biasanya begitu setelah ada kejadian," pikir Mr. Satterthwaite. Walaupun tak suka polisi, Mrs. Leckie tidak menolak ideide. Kalau Ellis ternyata kriminal, Mrs. Leckie pasti telah melihat sesuatu. "Pertama-tama, dia suka menyendiri, tidak terbuka. Oh, sangat sopan-amat sangat sopan-karena dia sudah biasa dengan keluarga-keluarga baik-baik. Tapi dia selalu menyendiri, lebih banyak tinggal di kamarnya. Tapi dia... ah, saya tak tahu

bagaimana mengatakannya, saya yakin... dia... dia, ada sesuatu..." "Anda tak curiga dia bukan kepala pelayan betulan?" tanya Mr. Satterthwaite. "Oh, dia kelihatan berpengalaman, Sir. Dia banyak tahu-juga tentang orang-orang terkenal di masyarakat." "Misalnya?" tanya Sir Charles halus. Tapi Mrs. Leckie jadi lupa dan bingung. Ia tak akan bergosip tentang soal-soal pelayan, tidak baik. Supaya Mrs. Leckie tidak kagok, Mr. Satterthwaite berkata, "Barangkali Anda bisa menjelaskan seperti apa dia." Wajah Mrs. Leckie menjadi cerah. "Ya, tentu, Sir. Dia kelihatan terhormatbercambang, agak bungkuk, rambut abuabu. Dia juga mulai gemuk-itu yang membuatnya khawatir. Tangannya juga agak gemetar, tapi bukan karena hal yang Anda bayangkan. Dia tidak suka minumtidak seperti kebanyakan orang yang saya

tahu. Matanya sedikit lemah, saya rasa. Sinar terang membuat matanya sakit, mengeluarkan air. Kalau keluar dengan kami, dia memakai kacamata, tapi kalau sedang bertugas, tidak." "Tak ada tanda-tanda khas?" tanya Sir Charles. "Bekas luka? Jari yang putus? Atau tanda-tanda bawaan?" "Oh, tidak, Sir, tak ada." "Hm, cerita-cerita detektif itu begitu luar biasa," kata Sir Charles, menarik napas. "Dalam fiksi selalu ada ciri-ciri yang menonjol." "Ada giginya yang hilang," kata Mr. Satterthwaite. "Saya rasa begitu. Tapi saya tak pernah melihatnya." "Bagaimana sikapnya pada malam itu?" tanya Mr. Satterthwaite dengan agak kaku. "Wah, saya tidak bisa cerita, Sir. Saya sibuk di dapur waktu itu. Saya tak punya

waktu untuk memperhatikan macammacam hal." "Ya, ya, tentu saja." "Ketika mendengar Tuan meninggal, kami kaget sekali dan menangis. Saya menangis tak berhenti. Juga Beatrice. Para pelayan yang masih muda, walaupun merasa seru, juga bingung. Tentu saja Mr. Ellis yang masih baru itu tidak bingung seperti kami. Tapi dia sangat baik. Dia menyuruh saya dan Beatrice minum anggur untuk mengurangi kekagetan kami. Tak tahunya dia sendirilah yang ternyata buronan itu..." Mrs. Leckie tak kuasa meneruskan katakatanya. Matanya bersinar marah. "Dia menghilang malam itu juga, saya dengar." "Ya, Sir. Dia masuk kamarnya seperti kami semua, dan pagi harinya dia sudah tak ada. Itulah sebabnya polisi memburunya." "Ya, ya, memang tolol. Anda tahu kira-kira bagaimana dia meninggalkan rumah?"

"Sama sekali tidak. Rasanya polisi mengawasi rumah ini sepanjang malam dan mereka tidak melihatnya pergi- tapi namanya juga orang. Biarpun polisi, ya sama saja, walaupun tampangnya seram." "Saya dengar ada lorong rahasia," kata Sir Charles. Mrs. Leckie mendengus. "Itu yang dikatakan polisi." "Apa memang ada?" "Saya memang pernah dengar," kata Mrs. Leckie hati-hati. "Anda tahu dari mana awalnya?" "Tidak tahu, Sir. Lorong rahasia sendiri tidak apa-apa, tapi bukan hal yang baik untuk dibicarakan di antara pelayan. Mereka akan berpikir untuk menyelinap keluar lewat jalan itu. Gadis-gadis pelayan keluar-masuk lewat pintu belakang." "Bagus, Mrs. Leckie. Saya rasa Anda bijaksana." Wajah Mrs. Leckie cerah mendengar pujian Sir Charles.

"Apa kami bisa bertanya-tanya pada pembantu-pembantu lainnya?" "Tentu saja, Sir. Tapi mereka tak bisa cerita lebih banyak daripada saya." "Oh, saya tahu. Maksud saya, kami tak ingin tanya-tanya tentang Ellis. Lebih penting tentang Sir Bartholomew sendirisikapnya malam itu, dan sebagainya. Anda tahu, kan dia teman saya." "Ya, saya tahu. Saya mengerti, Sir. Ada Beatrice dan Doris. Dia melayani di meja makan." "Ya, saya ingin bicara dengan Doris." Tapi Mrs. Leckie mengutamakan senioritas. Yang muncul pertama adalah Beatrice Church, pelayan rumah yang lebih senior. Ia seorang wanita tinggi kurus dengan mulut menciut, serta kelihatannya agresif dan terhormat. Setelah menanyakan beberapa hal yang tak penting, Sir Charles menanyakan sikap para tamu pada

malam naas itu. Apa mereka sangat bingung dan sedih? Apa yang mereka katakan atau lakukan? Beatrice jadi bersemangat. Ia senang menceritakan tragedi itu. "Miss Sutcliffe sangat terpukul. Dia wanita yang hangat. Pernah menginap di sini sebelumnya. Saya menanyakan apa dia mau minum sedikit brendi atau secangkir teh, tapi dia tak mau. Dia minum aspirin. Katanya dia yakin takkan bisa tidur. Tapi esok paginya, ketika saya mengantarkan sarapannya, dia tidur seperti anak kecil." "Dan Mrs. Dacres?" "Saya rasa tak ada hal yang bisa membuatnya bingung." Dari nada suaranya, sepertinya Beatrice tak suka pada Cynthia Dacres. "Dia cuma ingin segera pergi. Katanya usahanya bisa berantakan. Kata Mr. Ellis, dia pembuat baju terkenal di London."

Bagi Beatrice, pembuat baju berarti "dagang", dan ia menganggap rendah hal itu. "Dan suaminya?" Beatrice mendengus. "Menenangkan dirinya dengan brendi. Atau barangkali justru tidak menenangkan." "Bagaimana dengan Lady Mary Lytton Gore?" "Sangat baik," suaranya melembut. "Nenek saya pernah bekerja pada ayahnya di istana. Kata orang, semasa mudanya dia cantik. Walaupun tidak kaya, dia kelihatan terhormat, dia sangat baik. Tak pernah membuat susah dan bicaranya selalu manis. Putrinya juga baik. Mereka tidak terlalu kenal Mr. Bartholomew, tapi mereka sedih dengan kejadian itu." "Miss Wills?" Beatrice menjadi kaku lagi. "Rasanya saya tak bisa mengatakan bagaimana perasaan Miss Wills tentang kejadian itu."

"Bagaimana pendapat Anda tentang dia?" tanya Sir Charles. "Ayolah, Beatrice. Masa Anda tak bisa cerita. Biasa sajalah." Tanpa diduga, senyum merekah di wajah Beatrice. Sikap Sir Charles yang kekanakkanakan itu terasa lucu. Beatrice pun tidak kebal terhadap daya tarik yang dirasakan penonton penggemar Sir Charles setiap malam. "Saya tak tahu apa yang Anda ingin saya katakan." "Bagaimana pendapat dan perasaan Anda tentang Miss Wills?" "Tak ada... tak ada, Sir. Tentu saja dia tidak..." Beatrice ragu-ragu. "Teruskan, Beatrice." "Hm, dia memang tidak sekelas dengan yang lain, Sir. Saya tahu dia memang begitu-dari sananya," kata Beatrice dengan sopan. "Tapi dia melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan wanitawanita terhormat. Dia mengintip, ingin tahu, dan suka ikut campur."

Sir Charles berusaha keras mendapat penjelasan atas pernyataan itu, tapi Beatrice tetap bicara samar-samar. Miss Wills suka mengintip, mengintai. Tapi ketika disuruh memberi contoh, ia tak bisa. Ia hanya mengulang-ulang, mengatakan Miss Wills mengintip dan menyelidiki hal-hal yang bukan urusannya. Akhirnya mereka menyerah dan Mr. Satterthwaite berkata, "Mr. Manders katanya tiba-tiba datang?" "Ya, benar. Dia mengalami kecelakaan dengan sepeda motornya-dekat pintu gerbang luar sana. Dia bilang beruntung karena terjadinya di sini. Kamar-kamar memang sudah penuh semua, tapi Miss Lyndon menyediakan tempat tidur di ruang kerja." "Apa orang-orang lain heran melihat dia?" "Oh ya. Tentu saja, Sir." Ketika ditanya pendapatnya tentang Ellis, Beatrice tak bisa berkata apa-apa. Ia tak

banyak berhubungan dengan Ellis. Caranya lari dari rumah itu memang jelek. Ia pun tak tahu kenapa Ellis mencelakakan tuannya. Tak seorang pun tahu. "Bagaimana Tuan Dokter? Apa dia senang merencanakan pesta itu? Apa ada rencana tertentu?" "Tuan sangat gembira. Tersenyum-senyum sendiri, seolah-olah punya rahasia lucu. Saya bahkan mendengar Tuan bercanda dengan-atau mencemooh-Mr. Ellis, padahal Tuan tak pernah begitu dengan Mr. Baker. Tuan biasanya sedikit keras pada pelayanpelayan. Dia baik, tapi tidak banyak bicara." "Apa yang mereka bicarakan?" tanya Mr. Satterthwaite ingin tahu. "Saya sudah lupa, Sir. Mr. Ellis datang pada Tuan dengan membawa pesan telepon, dan Tuan bertanya apa namanamanya sudah betul. Mr. Ellis menjawab dengan yakin-tentu saja dengan sikap

hormat. Tuan Dokter tertawa sambil berkata, 'Kau memang baik, Ellis, kepala pelayan kelas satu. Eh, Beatrice, apa pendapatmu?' Saya terkejut karena Tuan bicara seperti itu-tidak seperti biasanyasaya tak tahu mau bilang apa." "Dan Ellis?" "Dia kelihatan tidak begitu suka. Seolaholah dia tidak biasa dengan hal seperti itu. Dia sepertinya kaku." "Pesan telepon itu apa isinya?" tanya Sir Charles. "Pesan itu? Oh, itu dari sanatorium. Tentang seorang pasien yang datang ke sana dan berhasil melewati perjalanan dengan baik." "Ingat nama pasien itu?" "Namanya aneh, Sir," kata Beatrice raguragu. "Kalau tidak salah, Mrs. de Rushbridger-seperti itu kira-kira." "Ah, ya," kata Sir Charles penuh pengertian. "Pasti sulit menerima nama seperti itu lewat telepon. Baik, terima kasih,

Beatrice. Bolehkah kami bicara dengan Doris sekarang?" Ketika Beatrice sudah keluar, Sir Charles dan Mr. Satterthwaite berpandangan. "Miss Wills mengintip dan menyelidik. Kapten Dacres mabuk. Mrs. Dacres tidak menunjukkan emosi. Ada sesuatu di sini? Sedikit sekali." "Ya, cuma begitu," kata Mr. Satterthwaite sependapat. "Kita harap Doris bisa memberi lebih banyak." Doris seorang wanita berumur tiga puluh, sopan, dan bermata hitam. Ia senang bicara. Ia sendiri tak yakin Mr. Ellis terlibat dalam peristiwa itu. Ia terlalu terhormat. Polisi mengatakan ia penjahat biasa. Tapi Doris yakin ia bukan orang jahat. "Anda yakin dia kepala pelayan biasa yang jujur?" tanya Sir Charles. "Bukan biasa, Sir. Dia tidak seperti kepala-kepala pelayan lain yang pernah

saya kenal. Caranya mengatur pekerjaannya lain." "Tapi Anda beranggapan bukan dia yang meracuni Tuan?" "Oh, Sir, saya tak tahu bagaimana dia bisa melakukan hal itu. Saya melayani di meja dengan dia. Dan dia tak akan bisa menaruh sesuatu dalam makanan Tuan tanpa saya lihat." "Dan minumannya?" "Dia berkeliling mengedarkan anggur. Pertama-tama sherry dengan sup, lalu hock dan claret. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Kalau ada sesuatu dalam anggur itu, pasti semua tamu akan keracunan-atau setidaknya tamu-tamu yang minum anggur. Rasanya Tuan tidak makan atau minum sesuatu yang lain dari apa yang dimakan dan diminum tamu. Juga anggur. Semua tamu pria minum anggur. Dan beberapa tamu wanita." "Gelas-gelas anggur itu disingkirkan dengan satu nampan?"

"Ya, Sir. Saya memegangi nampannya dan Mr. Ellis meletakkan gelas-gelas di atasnya, lalu saya membawa nampan ke belakang. Gelas-gelas itu masih ada ketika polisi datang memeriksa. Gelas-gelas anggur masih ada di meja. Dan polisi tidak menemukan apa-apa." "Anda yakin Tuan tidak minum atau makan sesuatu yang tidak dimakan atau diminum tamu-tamu lainnya?" "Setahu saya tidak, Sir. Ya, saya tahu itu." "Tak ada tamu yang memberinya sesuatu untuk dimakan?" "Oh, tidak, Sir." "Anda tahu tentang adanya lorong rahasia, Doris?" "Salah seorang tukang kebun pernah memberitahu saya. Ujungnya ada di hutan, dekat bangunan tua yang sudah bobrok. Tapi saya belum pernah melihat apa-apa di rumah ini." "Ellis tak pernah bicara

tentang soal itu?" "Oh, tidak, Sir. Saya yakin dia tak tahu tentang hal itu." "Menurut pendapat Anda, siapa yang membunuh Tuan Dokter, Doris?" "Saya tak tahu, Sir. Rasanya sulit dipercaya ada orang yang tega membunuh Tuan. Saya kira kecelakaan." "Hm, terima kasih, Doris." "Seandainya tak ada kasus kematian Babbington," kata Sir Charles setelah Doris keluar, "kita bisa mencurigai gadis itu. Dia cukup cantik. Dan melayani di meja.... Tidak, tidak cocok. Babbington dibunuh. Dan lagi, Tollie tak pernah memperhatikan gadis-gadis cantik. Dia memang begitu." "Tapi umurnya 55," kata Mr. Satterthwaite sambil merenung. "Kenapa kau bilang begitu?" "Itu umur saat seorang lelaki bisa lupa daratan karena seorang gadis, walaupun sebelumnya dia tak pernah begitu."

"Omong kosong, Satterthwaite. Aku... eh... juga mau 55." "Ya, ya," kata Mr. Satterthwaite. Dipandangnya Sir Charles dengan mata berkedip nakal. Sir Charles tertunduk. Ia kelihatan bingung.

BAB X

"BAGAIMANA kalau kita lihat kamar Ellis?" tanya Mr. Satterthwaite, setelah memuaskan diri melihat wajah Sir Charles menjadi merah karena malu. Aktor itu langsung menyambar ide yang membelokkan persoalan itu. "Bagus, bagus. Aku baru saja mau usul." "Tentu saja polisi telah memeriksanya dengan saksama."

"Polisi..." Aristide Duval mengenyahkan pikiran tentang polisi dengan sebal. Karena ingin melupakan rasa malunya, ia menyebut peran barunya dengan bersemangat. "Polisi-polisi itu bodoh," katanya kasar. "Apa yang mereka cari di kamar Ellis? Bukti-bukti kesalahan. Kita akan mencari bukti-buktinya dengan mengamati Ellis yang tampaknya tak berdosa itu. Suatu hal yang sama sekali lain." "Kau yakin Ellis tidak bersalah dalam hal ini?" "Kalau kita benar tentang Babbington, Ellis pasti tak bersalah." "Ya, di samping itu..." Mr. Satterthwaite tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia akan mengatakan bahwa seandainya Ellis pembunuh profesional yang dikenali Sir Bartholomew, dan kemudian membunuhnya sebagai akibatnya, seluruh kejadian itu benar-

benar suatu kejadian yang buruk. Untunglah ia ingat Sir Bartholomew teman Charles Cartwright. Sekilas kamar Ellis tak menjanjikan apaapa. Tak mungkin menemukan hal penting di sana. Baju-baju yang digantung di lemari maupun dilipat dalam laci semua rapi. Baju-baju itu potongannya bagus dan buatan macam-macam penjahit. Jelas baju pemberian orang dalam situasi yang berbeda-beda. Baju-baju dalamnya pun kelihatan begitu. Sepatu-sepatunya disemir dan dijajar rapi. Mr. Satterthwaite mengambil sebuah sepatu bot dan bergumam, "Sembilannomor sembilan." Memang tak ada jejak kaki dalam kasus itu, tapi itu tak berarti sepatu itu tak ada gunanya. Jelas kelihatan bahwa ketika pergi, Ellis masih mengenakan baju kerjanya. Mr. Satterthwaite menunjukkan hal ini pada

Sir Charles sebagai fakta yang agak luar biasa. "Siapa pun akan berganti dengan baju biasa dalam keadaan seperti itu." "Ya. Aneh juga kelihatannya. Hampir seperti... walaupun itu aneh... seolah-olah dia tidak pergi ke mana-mana. Tapi tentunya tidak begitu." Mereka melanjutkan pemeriksaan. Tak ada surat, tak ada dokumen, kecuali sebuah guntingan koran tentang penyembuhan penyakit katimumul dan sebuah artikel tentang perkawinan seorang putri bangsawan yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Di situ ada satu bundel kertas penyerap tinta dan sebotol tinta kecil di meja samping. Tak ada pennya. Sir Charles mengambil penyerap tinta itu dan menempelkannya ke kaca, tapi tanpa hasil. Satu halamannya terlihat sudah sering

dipakai, acak-acakan, dan tintanya kelihatan sudah lama. "Dia tak pernah menulis surat sejak datang kemari atau tidak menyerapkan tintanya," kata Mr. Satterthwaite menyimpulkan. "Ini penyerap tinta tua. Ah, ya." Ia menunjuk ke tulisan "L. Baker" yang hampir-hampir tak terbaca. "Kurasa Ellis belum memakainya sama sekali." "Aneh, ya?" kata Sir Charles. "Apa maksudmu?" "Pria biasanya menulis surat." "Kecuali jika dia kriminal." "Ya. Barangkali kau benar. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, yang membuatnya lari seperti itu. Tapi pokoknya dia tidak membunuh Tollie." Mereka sibuk memeriksa lantai, mengangkat karpet, memeriksa kolong tempat tidur. Tak ada apa-apa di situ,

kecuali noda tinta di dekat perapian. Kamar itu kosong. Mereka meninggalkan kamar itu dengan agak malu. Semangat mereka sebagai detektif langsung berkurang. Barangkali di benak mereka terlintas pikiran bahwa di buku-buku cerita semua teratur dengan lebih baik. Mereka bicara sebentar dengan beberapa pelayan junior yang takut pada Mrs. Leckie dan Beatrice Church. Tapi mereka tak memberikan harapan apa-apa. Akhirnya keduanya pergi. "Bagaimana, Satterthwaite, ada sesuatu yang menarik?" kata Sir Charles ketika mereka berjalan melintasi taman, menuju mobil Mr. Satterthwaite yang diparkir di dekat pintu masuk. Mr. Satterthwaite berpikir. Ia tak bisa menjawab dengan terburu-buru, apalagi kalau ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Mengakui apa yang mereka

lakukan sia-sia tidaklah baik. Ia menimbang-nimbang bukti-bukti yang dikatakan para pelayan. Informasi mereka benar-benar tak bernilai. Seperti baru saja dikatakan Sir Charles, mereka hanya tahu Miss Wills mengintip dan menyelidiki, Miss Sutcliffe bingung, Mrs. Dacres sama sekali tak peduli, dan Kapten Dacres mabuk. Rasanya tak ada apa-apa, kecuali kalau kelakuan Freddie Dacres merupakan akibat dari rasa bersalah. Tapi Mr. Satterthwaite tahu Freddie Dacres memang sering mabuk. "Bagaimana?" ulang Sir Charles tak sabar. "Tak ada apa-apa," Mr. Satterthwaite mengakui dengan enggan, "kecuali... kecuali dari kliping koran itu kita bisa menarik kesimpulan, si Ellis itu sakit katimumul." Sir Charles tersenyum masam. "Deduksi yang masuk akal. Apa lanjutannya?" Mr. Satterthwaite mengaku tidak tahu. "Satusatunya yang lain," katanya, lalu ia diam.

"Ya? Teruskan saja, barangkali ada gunanya." "Rasanya aneh cara Sir Bartholomew mencemooh kepala pelayannya seperti yang diceritakan pelayan itu. Rasanya kok aneh." "Ya, aneh," kata Sir Charles penuh tekanan. "Aku kenal Tollie dengan baiklebih baik dari kau-dan dia bukan orang yang suka bercanda. Dia tak akan bicara seperti itu, kecuali... kecuali untuk alasan tertentu, saat dia tidak dalam keadaan normal. Kau benar, Satterthwaite; itu satu hal penting. Jadi, ke mana arahnya?" "Hm...," Mr. Satterthwaite mulai. Tapi jelas pertanyaan Sir Charles tak perlu dijawab. Ia bukan ingin mendengar pendapat Mr. Satterthwaite, tapi ingin mengeluarkan pendapatnya. "Kau ingat ketika insiden itu terjadi, Satterthwaite? Setelah Ellis menyampaikan pesan telepon itu. Kurasa

kita bisa menyimpulkan pesan lewat telepon itulah yang membuat Tollie geli. Kau masih ingat, kan? Aku bertanya pada pelayan itu tentang isi pesan itu." Mr. Satterthwaite mengangguk. "Ya, dia bilang seorang wanita bernama Mrs. de Rushbridger datang ke sanatorium," katanya, untuk menunjukkan ia juga menaruh perhatian terhadap hal itu. "Tidak terlalu seru kedengarannya." "Benar. Tapi kalau alasan kita benar, pasti ada sesuatu dalam pesan itu." "Ya... a," kata Mr. Satterthwaite ragu-ragu. "Tentunya," kata Sir Charles, "kita harus mencari tahu, apa sesuatu yang penting itu dan yang terkandung dalam pesan tersebut. Barangkali itu kode yang terdengar biasa, tapi sebenarnya punya arti lain. Kalau Tollie menyelidiki kasus kematian Babbington, hal itu mungkin ada hubungannya. Barangkali, misalnya, dia justru akan mengupah detektif swasta

untuk menemukan fakta-faktanya. Orang itu mungkin memberitahu dia bahwa kecurigaannya memang terbukti. Lalu dia menelepon dan mengatakan pesan khusus itu; kalimat yang tidak berarti apa-apa bagi orang lain. Hal itu bisa menjelaskan sikapnya yang luar biasa gembira. Juga kenapa dia bertanya pada Ellis apakah nama itu betul, karena dia sendiri tahu sebenarnya nama itu tak ada. Sebetulnya dia sendiri menunjukkan sikap kurang seimbang, yang terjadi bila orang berhasil dalam sesuatu." "Kauanggap tak ada orang yang bernama Mrs. de Rushbridger?" "Kurasa kita harus mengeceknya dulu." "Bagaimana?" "Kita bisa ke sanatorium sekarang dan bertanya pada pimpinannya." "Bisajadi dia akan berpikir ini aneh." Sir Charles tertawa.

"Biar aku yang melakukannya," katanya. Mereka berbelok ke arah sanatorium. Mr. Satterthwaite berkata, "Bagaimana denganmu, Cartwright? Ada yang aneh menurut pendapatmu? Dari kunjungan kita ke rumah, maksudku." Sir Charles menjawab perlahan, "Ya, ada sesuatu. Sialnya, aku tak ingat apa itu." Mr. Satterthwaite memandangnya heran. Yang dipandang hanya mengernyitkan dahi. "Bagaimana aku bisa menjelaskannya? Ada sesuatu-sesuatu yang saat itu kurasa tidak beres, atau aneh-tapi aku tak sempat berpikir tentang hal itu tadi. Aku menyimpannya saja dalam pikiranku." "Dan sekarang kau tak ingat?" "Tidak. Waktu itu aku hanya berpikir 'Ini aneh.'" "Apa mungkin waktu menanyai para pelayan? Pelayan yang mana?" "Aku tak ingat lagi. Tambah kupikir, tambah lupa aku. Barangkali kalau dibiarkan akan ingat sendiri nanti."

Mereka sampai di sanatorium, sebuah bangunan modern bercat putih, yang dipisahkan dari taman dengan pagar. Mereka melewati pintu pagar itu dan memijat bel depan serta minta bertemu dengan pimpinannya. Pimpinan sanatorium itu seorang wanita jangkung setengah baya, berwajah cerdas, dan tampak cekatan. Ia pernah mendengar Sir Charles adalah kawan almarhum Sir Bartholomew Strange. Sir Charles menjelaskan bahwa ia baru saja pulang dari luar negeri dan terkejut mendengar kematian kawannya. Ia juga curiga atas kejadian tersebut dan telah datang ke rumah untuk melihat dan bertanya-tanya. Wanita itu menyatakan dengan halus arti kepergian Sir Bartholomew bagi mereka dan kariernya yang baik sebagai dokter. Sir Charles sendiri ingin tahu bagaimana selanjutnya nasib sanatorium itu. Pimpinan itu

mengatakan Sir Bartholomew punya dua partner, keduanya dokter yang mempunyai reputasi, dan yang satu tinggal di sanatorium. "Bartholomew memang bangga dengan tempat ini," kata Sir Charles. "Ya. Perawatannya merupakan sukses besar." "Banyak kasus-kasus saraf, ya?" "Benar." "Itu mengingatkan saya pada seseorang di Monte Carlo yang punya hubungan dengan seseorang di sini. Saya lupa namanyanamanya aneh-Rushbridger-Rushbridgerseperti itu kira-kira." "Maksud Anda Mrs. de Rushbridger?" "Ya, betul. Apa dia di sini?" "Oh, ya. Tapi saya kira dia tak bisa menemui Anda-untuk sementara ini. Dia sedang menjalani istirahat total yang amat ketat." Wanita itu tersenyum. "Tak boleh terima surat atau tamu dulu." "Wah.

Mudah-mudahan sakitnya tidak terlalu serius." "Dia mengalami gangguan saraf yang agak berat-kehilangan ingatan dan letih mental yang berat. Oh, dia bisa pulih kembali pada waktunya nanti." Wanita itu tersenyum penuh keyakinan. "Sebentar. Rasanya saya pernah dengar Tollie-Sir Bartholomew-bicara tentang dia. Dia teman sekaligus pasiennya, kan?" "Bukan, Sir Charles. Setidaknya, Dokter tak pernah bilang begitu. Dia baru saja datang dari Hindia Barat. Sebenarnya lucu. Para pelayan sulit mengingat namanya-pelayan kamar di sini agak bodoh. Dia datang dan bilang pada saya, 'Mrs. Hindia Barat sudah datang.' Saya rasa nama itu memang agak berbau Hindia Barat, tapi memang kebetulan saja dia baru datang dari Hindia." "Ya, memang agak lucu. Suaminya ada?" "Dia masih di sana."

"Ah, ya, ya. Saya pasti keliru dengan orang lain. Itu merupakan kasus yang menarik bagi Pak Dokter." "Kasus amnesia sebenarnya cukup banyak. Tapi kasus-kasus seperti itu selalu menarik perhatian orang-orang medis maksud saya variasinya. Jarang ada dua kasus yang sama." "Buat saya semua aneh. Baiklah kalau begitu. Terima kasih kami bisa ngobrol sebentar. Tollie selalu bangga dengan Anda. Dia sering bicara tentang Anda," kata Sir Charles berbohong. "Oh, terima kasih. Syukurlah." Muka wanita itu menjadi merah. "Dia begitu baik. Kami benar-benar kehilangan. Kami semua terkejut-seperti mau pingsan rasanya. Pembunuh! 'Siapa sih yang tega membunuh Dokter Strange?' kata saya. Luar biasa. Kepala pelayan itu benar-benar kurang ajar. Saya harap polisi bisa

menangkapnya. Dan tanpa motif atau apaapa." Sir Charles menggelengkan kepala dengan sedih, lalu pamit. Mereka keluar dan berjalan ke arah mobil. Sebagai balas dendam karena terpaksa diam selama percakapan di sanatorium tadi, Mr. Satterthwaite menunjukkan perhatiannya pada tempat Oliver Manders mendapat kecelakaan. Ia menanyai penjaga gerbang yang sudah tua dan yang bicaranya pelan. Ya, itulah tempatnya, dindingnya retak. Pemuda itu naik sepeda motor. Tidak, ia tak melihat kecelakaan itu. Tapi ia mendengarnya. Lalu keluar dan melihat. Pemuda itu berdiri-tepat di tempat tuan yang satunya itu berdiri. Kelihatannya ia tidak terluka. Hanya kelihatan sedih memandangi sepeda motornya yang berantakan. Ia menanyakan nama tempat itu, dan ketika mendengar itu rumah Sir

Bartholomew Strange, ia bilang, 'Untung,' lalu berjalan ke rumah itu. Pemuda itu kalem, kelihatan capek. Bagaimana sampai terjadi kecelakaan itu, si penjaga gerbang tak tahu. Tapi memang kadang-kadang hal yang tak disangka bisa terjadi. "Kecelakaan yang aneh," pikir Mr. Satterthwaite. Ia memperhatikan jalan yang lebar dan lurus itu. Tak ada tikungan, tak ada persimpangan, tak ada hal yang bisa membuat pengendara motor terpaksa menabrak dinding yang tingginya tiga meter. Ya, kecelakaan aneh. "Apa yang kaupikirkan, Satterthwaite?" tanya Sir Charles ingin tahu. "Tak ada," kata Mr. Satterthwaite. "Tak ada apa-apa." "Memang aneh," kata Sir Charles. Ia juga memandang tempat terjadinya kecelakaan itu dengan bingung. Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi.

Mr. Satterthwaite sibuk berpikir. Mrs. de Rushbridger... teori Cartwright tidak jalan; itu bukan pesan dalam bentuk kode. Orangnya ada. Mungkinkah ada sesuatu yang berhubungan dengan wanita itu sendiri? Mungkinkah ia saksi? Ataukah ia merupakan kasus yang menarik, sehingga Bartholomew Strange menunjukkan sikap seperti itu? Apakah ia wanita cantik? Jatuh cinta pada usia 55-seperti diperhatikan Mr. Satterthwaite berkalikali-memang bisa mengubah karakter manusia. Hal itu barangkali membuatnya suka bercanda, walaupun sebelumnya ia pendiam. Renungannya terusik. Sir Charles mencondongkan badannya ke depan. "Satterthwaite," katanya, "kau tidak keberatan kalau kita kembali?" Tanpa menunggu jawaban, ia langsung memberi perintah. Mobil itu berjalan pelan, berhenti, dan sopir mulai mengganti

arah. Satu-dua menit kemudian mereka melaju dijalan, ke arah berlawanan. "Ada apa?" tanya Mr. Satterthwaite. "Aku baru ingat hal yang kuanggap aneh," kata Sir Charles. "Noda tinta di lantai kamar kepala pelayan itu."

BAB XI

Mr. SATTERTHWAITE memandang kawannya dengan heran. "Noda tinta? Apa maksudmu, Cartwright?" "Kau masih ingat?" "Aku memang ingat ada noda tinta." "Kau ingat posisinya?" "Tidak, bagaimana tepatnya tidak." "Dekat perapian." "Ya. Aku ingat sekarang."

"Bagaimana noda itu bisa terjadi, Satterthwaite?" Mr. Satterthwaite berpikir sejenak. "Noda itu tidak terlalu besar," katanya. "Pasti bukan karena tumpah dari botol. Kemungkinannya, menurut pendapatmu, orang itu menjatuhkan penanya di situ. Kau ingat tidak, di kamar itu tak ada pena." ("Dia akan tahu aku juga memperhatikan hal-hal seperti itu," pikir Mr. Satterthwaite.) "Jadi, jelas dia memang punya pena, walaupun tak ada bukti dia pernah menulis." "Ya, benar, Satterthwaite. Ada noda tinta di situ." "Dia mungkin tak pernah menulis," kata Mr. Satterthwaite. "Barangkali dia cuma menjatuhkan penanya di lantai." "Tapi pasti tak akan ada noda, kecuali jika tutup pena itu dibuka."

"Kau benar," kata Mr. Satterthwaite. "Tapi aku tidak melihat keanehan apa-apa dalam hal itu." "Barangkali memang tak ada yang aneh," kata Sir Charles. "Aku tak bisa bilang apaapa sampai aku kembali ke tempat itu dan melihatnya sendiri." Mereka berbelok masuk ke pintu pagar. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah. Sir Charles membelokkan kecurigaan penghuni rumah akan kedatangannya kembali dengan mengatakan pensilnya ketinggalan di kamar Ellis. Setelah berhasil mengusir Mrs. Leckie yang siap membantu, Sir Charles menutup pintu kamar Ellis dan berkata, "Sekarang kita lihat apakah aku orang tolol, atau memang ada sesuatu dalam ideku." Menurut pendapat Mr. Satterthwaite, alternatif pertama lebih mungkin, tapi ia terlalu sopan untuk mengatakan hal itu. Ia

duduk di tempat tidur dan memandang kawannya. "Ini dia nodanya," kata Sir Charles sambil menunjuk dengan kakinya. "Tepat di bawah papan pembatas dinding, di arah yang berlawanan dengan meja tulis. Dalam situasi apa orang menjatuhkan pena di tempat itu?" "Kita bisa menjatuhkan pena di mana saja," kata Mr. Satterthwaite. "Memang bisa saja melemparkannya ke seberang ruangan," kata Sir Charles setuju. "Tapi orang biasanya tidak memperlakukan penanya seperti itu. Aku tak tahu. Pena bertinta buatku sangat menyebalkan. Suka kering tintanya, tidak keluar pada waktu kita sedang memerlukan. Barangkali inilah jawabannya. Ellis marah dan berkata, 'Sialan,' sambil melempar penanya." "Kurasa bisa ada banyak penjelasan," kata Mr. Satterthwaite. "Dia mungkin

meletakkan penanya di atas perapian, lalu pena itu jatuh." Sir Charles melakukan eksperimen dengan pensil. Ia membiarkan pensil itu menggelinding di ujung perapian. Pensil itu jatuh ke lantai kira-kira satu meter dari noda tinta, terus menggelinding ke dalam perapian yang memakai gas. "Hm," kata Mr. Satterthwaite, "apa penjelasannya?" "Aku sedang mencarinya." Dari tempat duduknya, Mr. Satterthwaite menyaksikan pertunjukan yang menyenangkan. Sir Charles mencoba menjatuhkan pensilnya sambil berjalan ke arah perapian. Ia mencoba duduk di ujung tempat tidur dan menulis di situ, lalu menjatuhkan pensil. Agar pensil itu dapat jatuh di tempat noda itu, ia harus duduk atau berdiri merapat ke dinding dalam posisi yang tak menyenangkan.

"Itu tak mungkin," kata Sir Charles keras. Ia berdiri memandang dinding, noda tinta, dan perapian. "Seandainya dia membakar kertas," katanya sambil berpikir. "Tapi orang tidak membakar kertas di perapian yang dinyalakan dengan gas." Tiba-tiba Sir Charles menarik napas panjang. Satu menit kemudian, Mr. Satterthwaite menyaksikan profesi Sir Charles dalam gambaran hidup. Charles Cartwright menjadi Ellis, si kepala pelayan. Ia duduk di meja tulis. Ia kelihatan penuh rahasia, sesekali mengangkat mata dan melirik ke kiri ke kanan. Tiba-tiba ia seperti mendengar sesuatu. Mr. Satterthwaite bahkan bisa menebak apa kira-kira yang didengarlangkah kaki sepanjang lorong. Laki-laki itu merasa bersalah. Ia meloncat dengan kertas di satu tangan dan pena di tangan

lainnya. Ia cepat-cepat berjalan ke perapian, kepalanya setengah menoleh, masih dalam sikap waspada, mendengarkan, setengah takut. Ia mencoba menyelipkan kertas ke dalam perapian yang menyala. Supaya dapat menggunakan kedua tangannya, ia melemparkan penanya dengan tak sabar. Pensil Sir Charles jatuh tepat di noda tinta. "Bravo!" seru Mr. Satterthwaite memberi aplaus. Begitu bagus pertunjukan itu, sehingga ia mendapat kesan memang itulah sebenarnya yang dilakukan Ellis. "Begitulah kira-kira," kata Sir Charles, kembali menjadi dirinya dan bicara dengan suara merendah. "Kalau dia mendengar polisi, atau orang yang dikiranya polisi datang, dan harus menyembunyikan apa yang ditulisnya-nah, di mana dia akan menyembunyikannya? Bukan di laci atau di

bawah kasur. Kalau polisi menggeledah kamar, pasti segera ditemukan. Dia tak punya waktu untuk mengangkat papan lantai. Tempat di balik perapian itu yang paling tepat." "Yang kemudian harus kita lakukan," kata Mr. Satterthwaite, "ialah mengecek apakah ada sesuatu yang tersembunyi di balik perapian." "Tepat. Tapi bisa saja yang dia takutkan tidak terjadi, dan dia bisa mengambil kembali benda-benda itu. Tapi siapa tahu. Kita lihat saja." Sir Charles membuka baju hangatnya dan menggulung lengan bajunya, lalu bertiarap di lantai sambil mengintip celah di perapian. "Ada sesuatu di bawah sana," katanya melapor. "Warnanya putih. Bagaimana mengambilnya? Kita perlu benda semacam jepit topi wanita."

"Zaman sekarang wanita tidak memakai jepit topi," kata Mr. Satterthwaite sedih. "Barangkali bisa pakai pisau lipat." Tapi ternyata tidak bisa. Akhirnya Mr. Satterthwaite keluar dan meminjam jarum rajut dari Beatrice. Walaupun pelayan itu ingin tahu kenapa Mr. Satterthwaite meminjam benda itu, rasa sopan santun mencegahnya menanyakan hal itu. Jarum rajut itu membawa hasil. Sir Charles menarik kira-kira enam gumpalan kertas yang kelihatannya dimasukkan ke dalam perapian dengan tergesa-gesa. Dengan menggebu-gebu ia dan Mr. Satterthwaite meluruskan lembaranlembaran itu. Kertas-kertas itu ternyata merupakan beberapa konsep surat yang ditulis dengan tulisan kecil dan rapi. Yang pertama isinya:

Ini suatu pernyataan bahwa penulis tak ingin menyebabkan hal-hal yang tidak enak dan mungkin kekeliruan akan apa yang dilihatnya malam ini, tapi... Di sini penulis jelas tidak puas dan mulai menulis lagi: John Ellis, kepala pelayan, dengan senang hati bersedia menjalani wawancara sehubungan dengan tragedi malam ini, sebelum pergi ke polisi dengan informasi yang diketahuinya... Orang itu kelihatannya masih belum puas dan mencoba menulis lagi: John Ellis, kepala pelayan, mempunyai beberapa fakta tentang kematian dokter itu. Ia belum memberikan fakta-fakta itu pada polisi...

Pada konsep yang lain, penggunaan bentuk orang ketiga tunggal sudah ditinggalkan: Aku sangat memerlukan uang. Seribu pound akan membereskan persoalanku. Ada beberapa hal yang bisa kukatakan pada polisi, tapi aku tak ingin membuat ribut... Yang terakhir kelihatan lebih terbuka: Saya tahu bagaimana dokter itu meninggal. Saya belum mengatakan apaapa pada polisi. Kalau Anda bersedia menemui saya... Surat yang ini putus dengan cara berbeda-beda; setelah kata "saya", pena bergoyang dan lima kata terakhir buram dan hurufnya membengkok. Rupanya waktu menulis surat itulah Ellis mendengar suara yang membuatnya khawatir. Ia meremas

kertas itu dan cepat-cepat menyembunyikannya. Mr. Satterthwaite menarik napas. "Selamat, Cartwright," katanya. "Instingmu tentang noda tinta itu ternyata benar. Bagus. Sekarang kita lihat di mana kita berada." Ia diam sesaat. "Seperti kita perkirakan, Ellis rupanya memang penjahat. Dia bukan pembunuh, tapi tahu siapa pembunuhnya, dan dia siap memeras orang itu, laki-laki atau perempuan." "Laki-laki atau perempuan," kata Sir Charles. "Menyebalkan juga kita tak tahu yang mana. Kenapa dia tidak memulai suratnya dengan 'Sir' atau 'Madam' saja. Ellis kelihatannya cukup artistik. Dia susah payah menulis banyak surat pemerasan. Kalau saja ada satu petunjuksatu petunjuk kecil yang sederhanamisalnya pada siapa surat itu ditujukan."

"Tak apa," kata Mr. Satterthwaite. "Kita sudah mendapat kemajuan. Kau sendiri yang mengatakan apa yang ingin kaucari dalam kamar ini adalah bukti ketidakterlibatan Ellis. Kita sudah menemukannya. Surat-surat ini menunjukkan dia tidak terlibat. Dia memang penjahat, tapi bukan pembunuh Sir Bartholomew Strange. Orang lain yang melakukannya. Orang yang juga membunuh Babbington, kelihatannya. Kurasa polisi terpaksa akan sependapat dengan kita." "Kau akan memberitahu mereka tentang ini?" suara Sir Charles menunjukkan rasa tak puas. "Kurasa kita tak bisa membiarkannya. Kenapa?" "Hm..." Sir Charles duduk di tempat tidur. Dahinya berkerut. "Bagaimana aku harus mengatakannya? Pada saat ini kita tahu sesuatu yang tak diketahui orang lain. Polisi sedang mencari Ellis. Mereka pikir dialah pembunuhnya. Setiap orang tahu

polisi menganggap dia pembunuhnya. Jadi, si pembunuh yang sesungguhnya merasa aman. Dia-entah laki-laki entah perempuan-tak akan jadi sembrono, tapi dia akan merasa aman. Bukankah sayang kalau kita mengaduk-aduk situasi itu? Bukankah ini merupakan kesempatan untuk kita? Maksudku kesempatan kita untuk mencari hubungan antara Babbington dan salah satu dari orang-orang itu. Mereka tak tahu ada orang yang menghubungkan kematian ini dengan kematian Babbington. Mereka tak akan curiga. Ini kesempatan satu dalam seribu." "Ah, aku mengerti," kata Mr. Satterthwaite. "Aku setuju. Ini kesempatan. Tapi sama saja, kurasa kita tak bisa melakukannya. Kewajiban kita sebagai warga negara ialah melaporkan penemuan ini dengan segera pada polisi. Kita tak punya hak untuk menyimpannya sendiri."

Sir Charles memandangnya dengan sorot mata aneh. "Kau memang contoh warga negara yang baik, Satterthwaite. Aku tahu hal yang ortodoks itu harus dilakukan. Tapi aku bukanlah warga negara yang baik. Rasanya aku takkan merasa terlalu bersalah kalau menyimpannya sampai satu atau dua hari lagi. Cuma satu-dua hari, kan? Tidak? Baiklah, aku menyerah. Kita harus menghormati hukum dan peraturan." "Johnson adalah kawanku," Mr. Satterthwaite menjelaskan, "dan dia amat baik-membolehkan kita ikut-ikut tahu, memberi informasi lengkap, dan sebagainya." "Oh, kau benar," kata Sir Charles. "Benar. Hanya saja, cuma aku rupanya yang punya pikiran untuk mencari-cari di bawah perapian itu. Hal itu tak terpikir oleh polisi-polisi tolol itu. Tapi sudahlah.

Terserah kau saja, Satterthwaite. Jadi, di mana Ellis sekarang, kira-kira?" "Kurasa," kata Mr. Satterthwaite, "dia mendapat apa yang dicarinya. Dia diupah untuk menghilang, dan dia menghilang dengan baik." "Ya," kata Sir Charles, "kurasa itulah penjelasannya." Ia gemetar. "Aku tak suka kamar ini, Satterthwaite. Ayo keluar."

BAB XII

Sir CHARLES dan Mr. Satterthwaite sampai di London kembali esok malamnya. Wawancara dengan Kolonel Johnson harus dilakukan dengan taktis. Inspektur

Crossfield tidak terlalu gembira, sebab "orang-orang biasa" itu menemukan sesuatu yang seharusnya ditemukan dirinya dan bawahannya. Ia berusaha tidak kehilangan muka. "Bagus sekali, Sir. Saya akui saya memang tak pernah berpikir untuk memeriksa tempat itu. Terus terang, saya ingin tahu apa yang membuat Anda mencari sesuatu di tempat itu." Kedua laki-laki itu memang tidak bercerita secara mendetail tentang teori mereka yang didasarkan pada setitik noda tinta. "Hanya melongok-longok," itulah yang dikatakan Sir Charles. "Tapi Anda berhasil," kata inspektur itu, "walaupun apa yang Anda temukan tidak terlalu mengejutkan bagi saya. Memang bisa dimengerti kalau Ellis bukan pembunuhnya, dia pasti menghilang karena sebab-sebab tertentu. Saya sudah lama

juga berpikir, bisajadi pemerasan merupakan profesinya." Satu hal memang muncul karena penemuan tersebut. Kolonel Johnson bermaksud mengadakan komunikasi dengan polisi Loomouth. Kematian Stephen Babbington harus diperiksa. "Dan kalau mereka menemukan dia juga meninggal karena keracunan nikotin, si Crossfield akan terpaksa mengakui kedua kematian itu berhubungan," kata Sir Charles ketika mereka ngebut ke London. Ia masih kesal karena terpaksa menyerahkan penemuannya kepada polisi. Mr. Satterthwaite menghiburnya dengan mengatakan informasi itu tak akan dipublikasikan pada wartawan. "Orang yang bersalah tak akan khawatir, dan pencarian Ellis tetap dilakukan." Sir Charles mengakui hal itu benar. Setelah sampai di London, Sir Charles berkata pada Mr. Satterthwaite bahwa ia

akan menghubungi Egg Lytton Gore. Surat gadis itu ditulis dari sebuah alamat di Belgrave Square. Ia berharap gadis itu masih ada di sana. Mr. Satterthwaite menyetujui hal itu dengan sikap sungguh-sungguh. Ia sendiri ingin bertemu Egg. Sir Charles memang berjanji akan menelepon gadis itu begitu mereka sampai di London. Egg ternyata masih di situ. Ia dan ibunya tinggal di rumah saudara mereka dan baru akan kembali ke Loomouth seminggu kemudian. Egg dengan mudah diajak keluar untuk makan malam dengan kedua pria itu. "Tentunya dia tak bisa datang ke tempat ini," kata Sir Charles sambil memandang berkeliling flatnya yang mewah. "Ibunya tak akan senang. Kita bisa saja mengundang Miss Milray, tapi rasanya tak perlu. Terus terang, Miss Milray membuatku jadi kaku dan kagok. Dia

begitu efisien, sehingga aku jadi rendah diri." Mr. Satterthwaite menawarkan rumahnya. Akhirnya mereka memutuskan makan di Berkeley. Setelah itu, kalau Egg suka, mereka bisa melanjutkan obrolan di suatu tempat. Mr. Satterthwaite seketika melihat gadis itu tampak lebih kurus, matanya kelihatan lebih besar, dan dagunya lebih tegas. Mukanya pucat dan di bawah matanya terlihat lingkaran-lingkaran. Tapi daya tariknya tetap sama, begitu pula semangatnya yang kekanak-kanakan. Ia berkata pada Sir Charles, "Saya tahu Anda pasti datang." Nada suaranya berbunyi, "Karena kau sudah tiba, semuanya pasti beres." Mr. Satterthwaite berpikir, "Tapi dia tak yakin Sir Charles akan datang; dia sama sekali tak yakin. Dia begitu khawatir. Banyak pikiran." Dan ia berpikir lagi,

"Apakah Sir Charles tidak merasa? Aktor biasanya sensitif. Apa dia tak tahu gadis itu mencintainya setengah mati?" Situasi ini aneh, pikirnya. Bahwa Sir Charles jatuh cinta pada gadis itu, sudah jelas terlihat. Gadis itu pun mencintainya. Dan hubungan di antara mereka-hubungan yang mendekatkan mereka-adalah tindak kriminal ganda yang luar biasa. Mereka tak banyak bicara selama makan. Sir Charles bercerita tentang pengalamannya di luar negeri. Egg bercerita tentang Loomouth. Mr. Satterthwaite membuat mereka bicara lagi ketika pembicaraan mulai tersendatsendat. Setelah selesai makan malam, mereka pergi ke rumah Mr. Satterthwaite. Rumah Mr. Satterthwaite ada di Chelsea Embankment. Rumah besar itu berisi banyak karya seni. Di situ banyak lukisan, patung, porselen Cina, tembikar

prasejarah, gading, miniatur dan perabotan Chippendale dan Heppelwhite asli. Terasa suasana matang serta penuh pengertian di situ. Tapi Egg Lytton Gore tidak melihat apaapa. Ia melemparkan mantel malamnya di sebuah kursi dan berkata, "Nah, sekarang ceritakan semuanya." Ia mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Sir Charles menceritakan pengalaman mereka di Yorkshire, dan menarik napas dalam-dalam ketika pria itu menjelaskan tentang penemuan suratsurat pemerasan itu. "Apa yang terjadi setelah itu hanya bisa kita bayangkan," kata Sir Charles mengakhiri. "Barangkali Ellis dibayar untuk menjaga lidahnya, dan kepergiannya justru mendapat bantuan." Tapi Egg menggelengkan kepala. "Oh, tidak," katanya. "Ellis pasti sudah mati."

Kedua laki-laki itu terkejut, tapi Egg begitu yakin dengan idenya. "Tentu saja dia sudah mati. Itu sebabnya dia berhasil menghilang begitu lama, sampai tak seorang pun bisa menemukan jejaknya. Dia tahu terlalu banyak, jadi dia dibunuh. Ellis adalah korban ketiga." Walaupun kedua laki-laki itu tak pernah memikirkan kemungkinan itu sebelumnya, mereka terpaksa mengakui teori itu sangat masuk akal. "Tapi begini," kata Sir Charles. "Memang bisa saja Ellis sudah mati. Persoalannya, di mana mayatnya? Kepala pelayan dengan tubuh seberat itu tentunya harus diperhitungkan." "Saya tak tahu di mana mayatnya," kata Egg. "Pasti banyak tempat." "Justru sebaliknya," gumam Mr. Satterthwaite. "Sulit." "Banyak," ulang Egg. "Coba," katanya, lalu diam sejenak. "Di ruang bawah atap-

banyak ruangan di bawah atap yang tak pernah dilihat orang. Barangkali dia ada di dalam peti di sana." "Kelihatannya tak masuk akal," kata Sir Charles. "Tapi mungkin saja. Mungkin untuk menunda penemuan... eh... atau untuk mengulur waktu." Tapi Egg bukanlah orang yang suka menghindari rasa tak enak. Ia langsung menghadapi hal yang dipikirkan Sir Charles. "Bau busuk menguap ke atas, tidak ke bawah. Keberadaan mayat lebih cepat diketahui apabila diletakkan di ruang bawah tanah, bukan di ruang bawah atap. Dan lagi, kalau orang mencium baunya, pikiran mereka pertama-tama akan tertuju pada tikus-tikus mati." "Kalau teorimu benar, berarti si pembunuh laki-laki. Wanita tak bisa menyeretnyeret mayat seputar rumah. Bagi laki-laki saja susah."

"Ada beberapa kemungkinan lain. Ada sebuah lorong rahasia di sana. Miss Sutcliffe yang cerita pada saya. Dan Sir Bartholomew berjanji akan menunjukkannya pada saya. Pembunuh itu mungkin memberi Ellis uang dan menunjukkan jalan keluar lewat lorong itu. Mereka bersama-sama menyusuri lorong, dan si pembunuh membunuhnya di sana. Seorang wanita bisa melakukan hal itu. Lalu dia bisa meninggalkan mayatnya di situ dan kembali lagi. Tak ada seorang pun tahu." Sir Charles menggelengkan kepala dengan ragu-ragu, tapi ia tidak membantah teori Egg. Mr. Satterthwaite yakin kecurigaan seperti itu telah dirasakannya ketika ia masuk ke kamar Ellis untuk kedua kalinya. Ia teringat Sir Charles yang bergidik. Kemungkinan bahwa Ellis sudah meninggal

pasti muncul dalam pikiran Sir Charles saat itu. Mr. Satterthwaite berpikir, "Kalau Ellis benar telah meninggal, berarti kami berhadapan dengan pembunuh yang amat berbahaya. Ya, orang yang amat berbahaya." Tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Orang yang pernah membunuh tiga kali takkan ragu-ragu membunuh lagi. Mereka dalam bahaya-ketiganya-Sir Charles, Egg, dan ia sendiri. Kalau mereka tahu terlalu banyak... Lamunannya terputus ketika mendengar suara Sir Charles. "Ada satu hal yang tidak kumengerti dalam suratmu, Egg. Kau mengatakan ada seseorang yang dalam bahaya- polisi mencurigainya. Aku tak mengerti kenapa polisi bisa mencurigai seseorang." Mr. Satterthwaite melihat Egg agak bingung. Ia bahkan melihat wajah gadis itu memerah. "Aha," kata Mr. Satterthwaite

pada dirinya sendiri. "Coba lihat apa jawabmu, nona muda." "Saya memang tolol," kata Egg. "Bingung. Saya pikir Oliver, dengan alasan kedatangannya yang seperti itu, akan menimbulkan kecurigaan polisi." Sir Charles menerima penjelasan itu. "Hm, begitu," katanya. Mr. Satterthwaite berbicara. "Apakah alasan itu masuk akal?" katanya. Egg berpaling padanya. "Apa maksud Anda?" "Kecelakaan itu aneh," kata Mr. Satterthwaite. "Saya merasa alasan itu tak masuk akal. Barangkali kau bisa menjelaskan." Egg menggelengkan kepala. "Saya tidak tahu. Saya tak pernah berpikir tentang hal itu. Tapi kenapa Oliver harus berpura-pura mendapat kecelakaan?"

"Barangkali dia punya alasan," kata Sir Charles. "Alasan yang wajar." Ia tersenyum pada Egg. Gadis itu menjadi merah mukanya. "Oh, tidak," katanya. "Tidak." Sir Charles menarik napas panjang. Mr. Satterthwaite merasa kawannya salah menginterpretasikan rasa malu gadis itu. Sir Charles kelihatan lebih tua dan lebih sedih ketika bicara lagi. "Hm, kalau kawan kita Manders tidak dalam bahaya, apa hubungannya dengan saya?" Egg maju ke depan dengan cepat dan memegang lengan mantel Sir Charles. "Jangan pergi lagi. Jangan menyerah. Carilah kebenaran itu-kebenaran itu. Saya kira hanya Andalah yang bisa menemukannya. Anda bisa, dan akan menemukannya." Gadis itu kelihatan sangat serius. Gelombang vitalitas yang ditimbulkannya

seolah-olah masuk dan berputar di dalam ruangan itu. "Kau percaya padaku?" kata Sir Charles. Ia terharu. "Ya, ya, ya. Kita akan menemukan kebenaran itu. Anda dan saya bersamasama." "Dan Satterthwaite." "Tentu saja. Dan Mr. Satterthwaite," kata Egg tanpa antusias. Mr. Satterthwaite tersenyum diam-diam. Ia akan tetap melanjutkan penyelidikan, walaupun Egg tidak mengikutsertakan dirinya. Ia suka misteri, ia suka memperhatikan tingkah laku manusia, dan ia bisa memahami orang-orang yang sedang jatuh cinta. Ketiga hal itu kelihatannya ada dalam kasus yang sedang mereka hadapi. Sir Charles duduk. Suaranya berubah. Ia yang memegang pimpinan dan mengatur sebuah produksi.

"Pertama-tama kita harus menjernihkan situasi. Kita yakin atau tidak bahwa pembunuh Babbington sama dengan pembunuh Bartholomew Strange?" "Ya," kata Egg. "Ya," kata Mr. Satterthwaite. "Apa kita yakin pembunuhan kedua merupakan akibat langsung dari pembunuhan pertama? Maksud saya, apa kita percaya Bartholomew Strange dibunuh dengan tujuan mencegah dia membukakan fakta tentang pembunuhan pertama atau kecurigaannya tentang hal itu?" "Ya," kata Egg dan Mr. Satterthwaite bersama-sama. "Kalau begitu, yang kita selidiki adalah pembunuhan pertama, bukan kedua." Egg mengangguk. "Menurut saya, kita hanya bisa menemukan si pembunuh apabila kita tahu motif pembunuhan pertama. Motif itu

sulit diketahui, karena Babbington orang tua yang lembut, menyenangkan, dan bisa dikatakan tak punya musuh di dunia. Tapi dia terbunuh, dan pasti ada penjelasan untuk itu. Kita harus menemukan penjelasan itu." Ia diam, lalu berkata dengan suaranya yang biasa, "Kita perinci saja kalau begitu. Sebabsebab apa saja yang bisa dijadikan alasan untuk membunuh orang? Pertama, untuk mendapatkan sesuatu." "Balas dendam," kata Egg. "Homicidal mania-pembunuh gila," kata Mr. Satterthwaite. "Crime passionnelsuka tindak kejahatan-tak akan cocok untuk kasus ini. Tapi ada rasa takut." Charles Cartwright mengangguk. Ia mencoret-coret selembar kertas. "Kira-kira itu sudah cukup," katanya. "Pertama, ingin mendapatkan sesuatu. Apa ada yang beruntung dengan kematian

Babbington? Apa dia punya uang atau dia calon ahli waris?" "Saya rasa tidak," kata Egg. "Aku sependapat. Tapi sebaiknya kita dekati Mrs. Babbington untuk mengetahui hal ini." "Lalu balas dendam. Apa Babbington menyakiti seseorang-barangkali pada waktu muda? Apa dia menikahi gadis yang diinginkan laki-laki lain? Kita harus mencari tahu hal itu juga." "Lalu homicidal mania. Baik Babbington maupun Tollie dibunuh orang gila. Kurasa teori itu tak bisa diterapkan. Orang gila pun masih mempunyai hal yang masuk akal dalam kriminalitasnya. Maksudku, seorang gila bisa saja berpikir dia merupakan pilihan Tuhan untuk membunuh dokter atau pendeta, tapi tidak untuk membunuh keduanya. Kurasa kita bisa menghilangkan teori homicidal mania. Yang tinggal adalah ketakutan.

"Terus terang saja, kelihatannya ini yang paling cocok. Babbington tahu sesuatu tentang seseorang, atau dia mengenali seseorang. Dia dibunuh untuk mencegahnya mengatakan sesuatu itu." "Sulit bagiku membayangkan hal apa yang diketahui Mr. Babbington yang membahayakan seseorang yang hadir dalam pesta malam itu." "Barangkali," kata Sir Charles, "dia tahu sesuatu, tapi tak sadar akan hal itu." Ia melanjutkan penjelasannya, "Sulit mengatakan apa yang kumaksud. Seandainya, misalnya-ini hanya contohBabbington melihat seseorang pada suatu tempat tertentu. Sepanjang dia tahu, tak ada salahnya orang itu berada di situ. Tapi seandainya orang itu sedang membuat alibi untuk maksud tertentu, yang menyatakan dia berada di suatu tempat lain yang amat jauh... nah, Babbington bisa saja

menggagalkan rencana itu tanpa maksud apa-apa, hanya karena dia tidak tahu." "Hm, begitu," kata Egg. "Jadi, misalnya ada pembunuhan di London, lalu Babbington melihat si pembunuh itu di Stasiun Paddington, tapi orang itu punya alibi yang menunjukkan dia ada di Leeds waktu pembunuhan itu terjadi. Maka Babbington mungkin saja akan menggagalkan rencana itu." "Itulah yang kumaksud. Tentu saja itu hanya contoh. Bisa saja hal lain yang terjadi. Seseorang yang dijumpainya malam itu yang dikenalnya dengan nama lain." "Mungkin ada hubungannya dengan perkawinan," kata Egg. "Pendeta kan mengawinkan banyak orang. Mungkin ada seseorang yang melakukan bigami." "Atau ada hubungannya dengan kelahiran dan kematian," kata Mr. Satterthwaite.

"Sangat luas kemungkinannya," kata Egg sambil mengerutkan dahi. "Kita harus melihatnya dengan cara lain. Kita mulai dari orang-orang yang datang ke pesta. Kita buat daftar dulu. Siapa-siapa yang datang di rumah Anda, dan siapa-siapa yang datang di rumah Sir Bartholomew." Ia mengambil kertas dan pensil dari Sir Charles. "Suami-istri Dacres. Mereka hadir di kedua pesta itu. Wanita yang seperti kol layu itu-siapa namanya?-Wills. Miss Sutcliffe." "Tak perlu memasukkan Angela dalam daftar itu. Aku sudah lama mengenalnya," kata Sir Charles. Egg mengerutkan kening tak setuju. "Kita tak bisa melakukan hal seperti itu," katanya. "Menyisihkan seseorang karena kita mengenalnya. Kita harus adil. Kecuali itu, saya tak tahu siapa Angela Sutcliffe. Dia bisa saja melakukan hal yang dilakukan

orang lain- kemungkinannya bahkan lebih banyak. Semua aktris punya masa lalu. Secara keseluruhan, saya merasa dialah yang paling punya kemungkinan untuk itu." Ia memandang Sir Charles dengan gagah. Ada jawaban dalam kilatan matanya. "Kalau begitu, kita juga tak bisa menyisihkan Oliver Manders." "Bagaimana mungkin dia melakukannya? Dia begitu sering bertemu dengan Mr. Babbington sebelumnya." "Dia ada di kedua pesta itu, dan alasan kedatangannya agak mencurigakan." "Baik," kata Egg. Ia diam, lalu berkata, "Kalau begitu, saya akan menulis nama Ibu dan nama saya juga. Semuanya ada tujuh orang." "Kurasa..." "Kita melakukannya dengan benar atau tidak sama sekali," kata Egg dengan sorot mata marah. Mr. Satterthwaite memerankan juru damai dengan

menawarkan makanan kecil. Ia membunyikan bel untuk minta minum. Sir Charles berjalan ke sebuah sudut dan mengagumi sebuah patung kepala Negro. Egg mendekati Mr. Satterthwaite dan menyelipkan lengannya, menggandeng pria itu. "Bodoh saya, kenapa jadi panas begini?" gumamnya. "Saya tolol. Tapi kenapa wanita itu diperlakukan lain? Kenapa dia begitu ngotot? Ya ampun. Kenapa saya jadi cemburu begini?" Mr. Satterthwaite tersenyum dan menepuk-nepuk tangannya. "Kecemburuan tak ada gunanya, Nak," katanya. "Kalau kau cemburu, jangan diperlihatkan. O ya, apa kau benar-benar berpikir si Manders itu mungkin dicurigai?" Egg menyeringai, ramah dan kekanak-kanakan. "Tentu saja tidak. Saya sengaja menulis hal itu supaya tidak terlalu mengejutkan dia." Ia menolehkan kepalanya. Sir Charles

masih mengamati kepala Negro itu dengan pandangan sedih. "Saya tak ingin dia merasa dikejar. Tapi saya tak ingin dia berpikir saya mencintai Oliver, karena memang tidak. Kenapa sulit begini, ya? Sekarang dia kembali bersikap 'Kurestui kau, Nak.' Saya tak mau itu." "Sabar," kata Mr. Satterthwaite. "Semuanya akan beres nanti." "Saya tidak sabaran," kata Egg. "Saya ingin semuanya cepat atau cepat sekali." Mr. Satterthwaite tertawa. Sir Charles berbalik dan mendekati mereka. Sambil meneguk minuman, mereka membuat rencana untuk bertindak. Sir Charles akan kembali ke Crow's Nest yang belum laku dijual. Egg dan ibunya akan kembali ke Rose Cottage, lebih cepat dari yang mereka rencanakan. Mrs. Babbington masih tinggal di Loomouth. Mereka akan mencari informasi sebanyak mungkin dari wanita itu, kemudian baru bertindak.

"Kita akan berhasil," kata Egg. "Saya tahu. Kita akan berhasil." Ia membungkuk ke arah Sir Charles dengan mata bersinar. Ia mengulurkan gelasnya dan menyentuh gelas Sir Charles. "Kita minum untuk keberhasilan," kata Egg. Pelan-pelan mata Sir Charles menatap mata Egg, dan ia mengangkat gelasnya ke bibir. "Demi sukses," katanya, "dan masa depan."

BABAK KETIGA PENEMUAN

BAB XIII

MRS. BABBINGTON telah pindah ke pondok nelayan kecil yang tak jauh dari pelabuhan. Ia sedang menunggu adik perempuannya datang dari Jepang dalam enam bulan ini. Ia baru akan membuat rencana masa depan kalau adiknya sudah datang. Pondok itu kebetulan kosong dan ia menyewanya untuk enam bulan. Ia masih takut pergi jauh dari Loomouth karena kehilangan yang begitu mendadak. Stephen Babbington telah melayani gereja St. Petroch, Loomouth, selama tujuh belas tahun. Mereka menikmati tujuh belas tahun yang bahagia dan penuh damai, walaupun putra mereka, Robin, meninggal. Anak-anak yang masih hidup adalah Edward, yang ada di Sri Lanka; Lloyd di Afrika Selatan; dan Stephen, perwira militer di Angola. Mereka sering menulis surat yang hangat dan penuh sayang, tapi

tak seorang pun bisa menawarkan rumah atau menemani ibunya. Margaret Babbington sangat kesepian. Bukan karena ia membuang-buang waktu dengan melamun. Ia masih tetap aktif di gereja (pendeta yang baru belum menikah), dan Margaret menghabiskan banyak waktunya dengan merawat halaman sempit di depan pondoknya. Ia tipe wanita yang menganggap bunga adalah bagian dari hidupnya. Ia sedang merawat tanamannya di halaman sore itu, ketika mendengar derit pintu pagar dan melihat Sir Charles Cartwright masuk bersama Egg Lytton Gore. Margaret tidak heran melihat Egg. Ia tahu gadis itu dan ibunya akan segera kembali. Tapi ia heran melihat Sir Charles. Ia mendengar laki-laki itu telah pergi dan takkan kembali lagi. Koran-koran juga memberitakan apa yang ia lakukan di Prancis Selatan. Di halaman Crow's Nest

ada sebuah papan yang bertuliskan DIJUAL. Tak seorang pun membayangkan ia akan kembali lagi. Tapi nyatanya ia datang kembali. Mrs. Babbington menepis rambut dari dahinya yang kepanasan dan memandang sedih pada tangannya yang kotor penuh tanah. "Saya tak bisa bersalaman," katanya. "Seharusnya saya memakai sarung tangan. Kadang-kadang saya memang memakainya, tapi sarung tangan itu selalu robek. Dengan tangan saja rasanya lebih enak." Ia mengajak mereka masuk rumah. Ruang duduk mungil itu kelihatan nyaman dengan sejumlah hiasan dari kain. Di situ ada foto-foto dan sejumlah jambangan berisi bunga seruni. "Kedatangan Anda sangat mengejutkan, Sir Charles. Saya kira Anda telah meninggalkan Crow's Nest untuk selamanya."

"Saya pikir juga begitu," kata aktor itu terus terang. "Tapi kadang-kadang, Mrs. Babbington, nasib menentukan lain." Mrs. Babbington tidak menanggapi. Ia memandang Egg, tapi gadis itu menahan kata-katanya di bibir. "Begini, Mrs. Babbington. Ini bukan sekadar kunjungan. Sir Charles dan saya ingin membicarakan sesuatu yang serius. Tapi saya... saya tak ingin membuat Anda sedih." Mrs. Babbington memandang gadis itu, lalu ganti memandang Sir Charles. Wajahnya berubah agak keabu-abuan dan sedikit berkerut. "Pertama-tama," kata Sir Charles, "saya ingin bertanya apakah Anda telah menerima informasi itu." Mrs. Babbington menganggukkan kepalanya. "Hm. Mungkin itu akan membuat percakapan kita nanti jadi lebih mudah." "Itukah maksud kedatangan Anda?

Perintah penggalian kembali?" "Ya. Tentunya... sangat menyedihkan bagi Anda." Hatinya melembut mendengar suara Sir Charles yang penuh simpati. "Barangkali tidak apa-apa. Bagi beberapa orang tertentu, penggalian kembali pasti mengerikan, tapi tidak buat saya. Bukan tanah liat mati yang penting bagi saya. Suami saya ada di suatu tempat, penuh damai, tempat tak seorang pun bisa mengganggunya. Bukan, bukan itu. Yang mengejutkan saya adalah ide itu. Ide kematian Stephen bukan kematian yang wajar. Rasanya begitu tak masuk akalsangat tak masuk akal." "Saya mengerti. Anda pasti merasa demikian. Kami sendiri juga merasakan hal yang demikian-pertama-tama." "Apa maksud Anda dengan 'pertamatama', Sir Charles?" "Karena suatu kecurigaan menyelinap di hati saya pada malam kematian suami

Anda, Mrs. Babbington. Seperti Anda, saya pun merasa itu tak mungkin, sehingga saya mengesampingkannya." "Saya juga berpikir begitu," kata Egg. "Anda juga?" tanya Mrs. Babbington. Ia memandang gadis itu dengan heran. "Anda pikir ada orang yang tega membunuh Stephen?" Keraguan dalam suaranya begitu besar, sehingga kedua tamunya tak tahu bagaimana harus melanjutkan. Akhirnya Sir Charles melanjutkan, "Seperti Anda ketahui, Mrs. Babbington, saya pergi ke luar negeri. Ketika masih di Prancis Selatan, saya membaca dari koran tentang kematian teman saya, Sir Bartholomew Strange, dalam situasi yang hampir sama. Saya juga menerima surat dari Miss Lytton Gore." Egg mengangguk. "Saya datang di pesta itu. Menginap di rumahnya. Mrs. Babbington, kejadiannya

sama-persis sama. Dia minum anggur, lalu wajahnya berubah, dan... dan... ya, sama. Dia meninggal dua atau tiga menit kemudian." Mrs. Babbington menggelengkan kepalanya pelan. "Saya tidak mengerti. Stephen! Sir Bartholomew-dokter yang cerdas dan baik! Siapa yang tega menyakiti mereka? Itu pasti kekeliruan." "Sir Bartholomew terbukti keracunan, ingat," kata Sir Charles. "Kalau begitu, ini pasti pekerjaan orang gila." Sir Charles melanjutkan, "Mrs. Babbington, saya ingin benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik peristiwa ini. Dan saya merasa kita tak boleh membuang-buang waktu. Sekali berita tentang penggalian itu tersebar, si penjahat akan menjadi waspada. Untuk menghemat waktu, saya ingin membuat asumsi bahwa kematian Mr. Babbington juga diakibatkan keracunan nikotin.

Pertama-tama, apakah Anda atau Mr. Babbington tahu tentang penggunaan nikotin murni?" "Saya selalu menggunakan larutan nikotin untuk menyemprot mawar. Saya tak tahu larutan itu beracun." "Saya pikir-tadi malam saya membaca hal itu-dalam kedua kasus ini, dipergunakan alkaloid murni. Kasus peracunan dengan nikotin memang tidak biasa." Mrs. Babbington menggelengkan kepala. "Saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang peracunan nikotin. Saya kira hanya pecandu rokok yang mungkin menderita karenanya." "Apa suami Anda merokok?" "Ya." "Coba sekarang Anda jelaskan. Anda tadi menunjukkan rasa heran karena ada orang yang tega membunuh suami Anda. Apakah itu berarti-setahu Anda-dia tak punya musuh?"

"Saya yakin Stephen tak punya musuh. Setiap orang menyukainya. Kadang-kadang orang-orang bahkan memburunya." Ia tersenyum sedih. "Dia memang sudah tua dan kadang-kadang takut pada penemuanpenemuan baru, tapi setiap orang menyukainya. Orang tak bisa tidak menyukai dia." "Apakah Mr. Babbington meninggalkan banyak uang?" "Tidak. Hampir tak ada. Dia tak bisa menabung. Dia memberi terlalu banyak. Saya biasanya marah karenanya." "Dia juga tidak mengharap mendapat sesuatu dari orang lain? Dia bukan ahli waris?" "Oh, tidak. Stephen tak punya banyak kerabat. Dia punya seorang saudara perempuan yang menikah dengan pendeta di Northumberland, tapi mereka miskin. Semua paman dan bibinya sudah meninggal." "Kalau begitu, tak ada orang yang akan mendapatkan sesuatu karena

kematian Mr. Babbington?" "Sama sekali tidak." "Saya ingin kembali pada soal musuh, sebentar saja. Kata Anda Mr. Babbington tak punya musuh. Bagaimana dengan ketika dia masih muda?" Mrs. Babbington tampak skeptis. "Rasanya tidak mungkin. Dia bukan tipe orang yang suka bermusuhan. Dia selalu baik pada orang lain." "Saya tak ingin memberi kesan melodramatis," Sir Charles berkata sambil berdeham-deham karena agak gugup, "tapi... eh... ketika dia bertunangan dengan Anda, misalnya, apa tak ada pihak lain yang kecewa?" Mata Mrs. Babbington bersinar sekejap. "Stephen adalah kurator ayah saya. Dia pemuda pertama yang saya lihat ketika saya pulang setelah menamatkan sekolah. Kami saling jatuh cinta. Kami bertunangan selama empat tahun, lalu dia punya pekerjaan dan tempat tinggal di Kent, dan

kami bisa menikah. Kisah cinta kami sangat sederhana, Sir Charles, dan sangat bahagia." Sir Charles menganggukkan kepala. Kewibawaan Mrs. Babbington yang sederhana itu sangat menarik. Egg menggantikan peran penanya, "Mrs. Babbington, apakah Mr. Babbington pernah bertemu dengan salah seorang tamu di pesta itu sebelumnya?" Mrs. Babbington kelihatan agak heran. "Ibu Anda dan Anda sendiri, lalu Oliver Manders." "Tamu-tamu lainnya?" "Kami pernah melihat Angela Sutcliffe dalam suatu pertunjukan di London lima tahun yang lalu. Stephen dan saya senang karena akan bertemu langsung dengannya." "Anda sebelumnya tak pernah bertemu dengannya?" "Tidak. Kami tak pernah bertemu aktris atau aktor, sampai Sir Charles datang

kemari. Dan itu," kata Mrs. Babbington, "membuat kami merasa menggebu-gebu. Saya kira Sir Charles tidak tahu hal itu merupakan sesuatu yang luar biasa bagi kami. Seperti embusan roman dalam hidup kami." "Anda belum pernah bertemu Kapten dan Mrs. Dacres?" "Apa dia laki-laki kecil dengan wanita berbaju bagus itu?" "Ya." "Tidak. Juga wanita yang satunya-yang menulis drama. Kasihan. Kelihatannya dia tak bisa masuk lingkungan itu." "Anda yakin belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya?" "Saya yakin belum pernah. Dan saya juga yakin Stephen juga belum pernah. Kami selalu melakukan segalanya bersamasama." "Dan Mr. Babbington tidak berkata apaapa pada Anda? Tidak sama sekali,

tentang orang-orang yang akan Anda temui atau yang Anda temui ketika dia telah melihat mereka?" tanya Egg ngotot. "Tidak, tak ada. Kami hanya membayangkan akan menikmati malam yang menarik. Dan ketika kami sampai di sana... hm, tak banyak waktu..." Tiba-tiba wajahnya gemetar. Sir Charles menyela dengan cepat, "Maaf, kami telah mengganggu Anda seperti ini. Tapi kami merasa pasti ada sesuatu. Pasti ada alasan untuk pembunuhan yang begitu brutal dan kejam." "Ya," kata Mrs. Babbington. "Seandainya ini memang suatu pembunuhan, harus ada alasannya. Tapi saya tahu- saya tak bisa membayangkan-alasan apa yang menjadi sebab." Mereka diam sejenak. Lalu Sir Charles berkata,

"Bisakah Anda memberikan gambaran sekilas tentang karier suami Anda?" Mrs. Babbington mempunyai ingatan kuat atas tanggal-tanggal. Demikianlah yang dicatat Sir Charles: Stephen Babbington, lahir di Islington, Devon, 1868. Bersekolah di St. Paul's School dan Oxford. Ditahbiskan di Hoxton, 1891. Dikukuhkan tahun 1892. Jadi kurator di Elsington, Surrey, pada Pendeta Vernon Lorrimer 1894 - 1899. Menikah dengan Margaret Lorrimer, 1899, menjadi pendeta di St. Mary's, Gilling. Pindah ke St. Petroch, Loomouth, 1916. "Ini bisa menjadi petunjuk penyelidikan," kata Sir Charles. "Yang ada hubungannya mungkin ketika Mr. Babbington masih menjadi pendeta di St. Mary's, Gilling. Sejarahnya yang lebih awal mungkin tidak

terlalu berhubungan dengan teman-teman yang datang ke tempat saya." Mrs. Babbington gemetar. "Apa benar salah seorang dari mereka..." "Saya tak tahu harus berpikir apa," kata Sir Charles. "Bartholomew Strange kelihatannya melihat sesuatu atau menebak sesuatu. Dan dia meninggal dengan cara yang sama, dan lima..." "Tujuh," kata Egg. "...dari orang-orang itu juga datang ke pestanya. Salah seorang dari mereka pasti bersalah." "Tapi kenapa?" seru Mrs. Babbington. "Kenapa? Motif apa yang membuat seseorang ingin membunuh Stephen?" "Itu," kata Sir Charles, "yang ingin kami ketahui."

BAB XIV

MR. SATTERTHWAITE datang ke Crow's Nest dengan Sir Charles. Ketika tuan rumah pergi dengan Egg Lytton Gore mengunjungi Mrs. Babbington, Mr. Satterthwaite minum teh dengan Lady Mary. Lady Mary menyukai Mr. Satterthwaite. Walaupun sikapnya lembut, ia mempunyai pandangan tegas tentang siapa yang disukainya dan yang tidak. Mr. Satterthwaite menghirup teh Cina dari sebuah cangkir Dresden dan makan sepotong sandwich mungil sambil mengobrol. Dalam kunjungannya yang terakhir, mereka ternyata mempunyai kenalan dan teman-teman yang sama. Sekarang keduanya bicara tentang mereka, tapi pelan-pelan pembicaraan itu beralih pada hal-hal yang lebih akrab. Mr.

Satterthwaite adalah pribadi yang simpatik; ia mendengarkan keluhan orang lain dan tidak mengganggu mereka dengan persoalannya sendiri. Dalam kunjungannya yang terakhir pun Lady Mary bisa bicara bebas tentang kekhawatirannya akan masa depan anaknya. Dan ia sekarang bicara padanya, seolah-olah pada orang yang sudah bertahun-tahun ia kenal. "Egg itu keras kepala," katanya. "Dia biasa melakukan apa yang disukainya. Sebenarnya saya tak suka melihat dia terlibat dalam urusan yang... menyedihkan ini. Egg pasti akan menertawakan saya. Tapi rasanya itu bukan hal yang pantas dilakukan wanita." Mukanya berubah merah ketika ia bicara. Matanya yang cokelat, lembut, dan jujur memandang Mr. Satterthwaite seperti anak yang minta tolong. "Saya tahu apa yang Anda maksud," katanya. "Terus terang, saya sendiri juga

tidak suka. Saya tahu hal itu merupakan prasangka kuno. Tapi ya... apa boleh buat," ia mengedipkan matanya, "kita tak bisa mengharap gadis-gadis muda itu bisa duduk diam, menjahit, dan menjadi ketakutan mendengar berita pembunuhan seperti itu." "Saya tidak suka berpikir tentang pembunuhan," kata Lady Mary. "Saya tak pernah... tak pernah sekali pun bermimpi akan terlibat dalam urusan ini. Sangat mengerikan." Ia gemetar. "Kasihan Sir Bartholomew." "Anda tidak terlalu mengenal dia?" tanya Mr. Satterthwaite. "Saya cuma bertemu dia dua kali. Yang pertama kira-kira satu tahun yang lalu, ketika dia datang menginap di rumah Sir Charles pada suatu akhir pekan. Dan yang kedua adalah pada malam mengerikan ketika Mr. Babbington meninggal. Saya heran ketika mendapat undangan darinya.

Saya menerimanya karena saya berpikir Egg akan menyukainya. Tak banyak yang bisa saya berikan. Kasihan Egg-apalagi dia agak murung waktu itu, seolah-olah dia tidak tertarik pada apa-apa. Saya pikir pesta di rumah besar begitu akan membuatnya gembira." Mr. Satterthwaite mengangguk. "Coba Anda ceritakan tentang Oliver Manders," katanya. "Saya tertarik pada anak itu." "Saya kira dia cerdas," kata Lady Mary. "Memang semuanya sulit buat dia." Wajahnya merah. Lalu ia menjawab pandangan bertanya Mr. Satterthwaite. Lanjutnya, "Ayahnya tidak menikah dengan ibunya." "Benarkah? Saya tak tahu itu." "Setiap orang di sini tahu. Kalau tidak, saya tak akan bicara tentang hal itu. Mrs. Manders tua, nenek Oliver, tinggal di Dunboyne, rumah besar di jalan ke Plymouth itu. Suaminya pengacara. Anak

laki-lakinya bekerja di sebuah perusahaan di kota. Dia orang kaya. Anak perempuannya cantik, dan terpikat pada laki-laki yang sudah beristri. Pada akhirnya, setelah terjadi banyak keributan, mereka pergi bersama. Tapi istri laki-laki itu tak mau menceraikan suaminya. Gadis itu meninggal tak lama setelah Oliver lahir. Pamannya yang ada di London itu memeliharanya, karena dia tak punya anak. Oliver membagi waktunya untuk paman dan neneknya. Dia selalu ke sini pada liburan musim panas." Ia diam, lalu melanjutkan, "Saya selalu kasihan padanya. Saya pikir sikapnya yang sombong itu hanya dibuatbuat." "Saya tak heran," kata Mr. Satterthwaite. "Hal begitu sangat biasa. Apabila ada orang yang kelihatan memikirkan dirinya sendiri dan selalu menyombong, saya tahu

di baliknya ada rasa rendah diri yang tersembunyi." "Rasanya aneh." "Kompleks rendah diri memang aneh. Crippen, misalnya, dia menderita perasaan itu. Dan bisa menjadi latar belakang terjadinya kriminalitas. Keinginan untuk memaksakan kepribadian seseorang." "Rasanya aneh bagi saya," gumam Lady Mary. Ia kelihatan agak berkerut. Mr. Satterthwaite melihatnya dengan mata sentimentil. Pria itu menyukai tubuhnya yang luwes dengan bahu melekuk halus, mata cokelat yang lembut, dan wajahnya yang tanpa makeup. Ia berpikir, "Dia pasti cantik ketika muda." Bukan kecantikan yang menonjol dan segera menarik perhatian. Bukan kecantikan bunga mawar, tapi kecantikan sekuntum bunga violet yang sederhana namun menawan, yang menyembunyikan

kemanisannya. Pikirannya diam-diam kembali ke masa mudanya. Tanpa sadar ia menceritakan kisah cintanya di waktu muda kepada Lady Mary-satu-satunya kisah cinta yang dialaminya. Kisah cinta yang biasa-biasa saja untuk ukuran sekarang, tapi amat khusus bagi Mr. Satterthwaite. Ia bercerita tentang gadis yang dicintainya, kecantikannya, dan kepergian mereka bersama melihat bunga-bunga bluebell di Kew. Ia bermaksud melamarnya hari itu. Ia sudah membayangkan gadis itu akan membalas perasaannya. Dan kemudian, ketika mereka berdiri berdekatan sambil memandangi bungabunga itu, si gadis bercerita kepadanya. Akhirnya ia tahu bahwa gadis itu mencintai orang lain. Ia menyembunyikan pikiran dan perasaannya serta berganti peran menjadi sahabat setia.

Mungkin itu bukan kisah cinta yang hebat, tapi cerita itu terdengar menarik di ruang Lady Mary yang dilengkapi perabot berlapis kain katun yang sudah pudar warnanya dan hiasan keramik tua. Setelah itu, Lady Mary bercerita tentang kehidupannya sendiri-kehidupan perkawinannya yang tidak begitu bahagia. "Saya dulu gadis tolol-gadis-gadis memang tolol, Mr. Satterthwaite. Mereka begitu percaya pada diri sendiri, yakin mereka tahu yang paling baik. Orang menulis dan bicara banyak tentang insting wanita, tapi saya tak percaya hal itu. Rasanya tak ada sesuatu yang mengingatkan gadis-gadis tentang tipe laki-laki tertentu. Maksud saya dari dalam diri mereka sendiri. Orangtua mereka mengingatkan mereka, tapi tidak mereka hiraukan, mereka tak percaya. Rasanya menyedihkan, tapi seorang gadis justru semakin tertarik kalau ada yang memberitahu bahwa

pacarnya bukan pria baik-baik. Dia merasa cintanya akan bisa mengubah laki-laki itu." Mr. Satterthwaite mengangguk pelan. "Orang biasanya tahu begitu sedikit. Saat dia tahu lebih banyak, sudah terlambat." Lady Mary menarik napas. "Sebenarnya semua salah saya. Keluarga saya tak setuju saya menikah dengan Ronald. Dia dari keluarga baik-baik, tapi reputasinya buruk. Ayah saya dengan terus terang menasihati saya, dan mengatakan dia bukan pemuda baik-baik. Tapi saya tak percaya. Saya pikir dia akan berubah karena dia mencintai saya." Ia diam sesaat, mengenang hal-hal yang telah lewat. "Ronald laki-laki yang menarik. Apa yang dikatakan Ayah tentang dia memang benar. Saya segera melihatnya. Sebetulnya hal itu kuno-tapi dia membuat saya sedih. Ya, dia membuat saya sedih.

Saya selalu takut dengan apa yang terjadi kemudian." Mr. Satterthwaite, yang selalu tertarik pada kehidupan orang lain, menggumamkan tanggapan simpatik yang hati-hati. "Mungkin ini hal yang kejam, Mr. Satterthwaite, tapi saya lega ketika dia menderita pneumonia dan akhirnya meninggal. Bukan karena saya tidak lagi mencintainya-saya tetap mencintai dia sampai meninggal-tapi saya sudah sadar dan tak punya ilusi lagi tentang dirinya. Lalu ada Egg." Suaranya melembut. "Dia sangat lucu. Berguling-guling waktu belajar berdiri. Seperti telur-karena itu dijuluki Egg." Ia diam lagi. "Beberapa buku yang saya baca beberapa tahun terakhir ini membuat saya tenang. Buku-buku tentang psikologi. Buku-buku itu menunjukkan bahwa dalam banyak hal, orang memang sering tak bisa berbuat

apa-apa. Seperti suatu kekusutan. Kadangkadang dalam keluarga yang berpendidikan baik, hal itu terjadi. Waktu masih muda, Ronald mencari uang di sekolah-uang yang sebenarnya tidak dia perlukan. Saya bisa merasakan dia memang tak bisa melawan kebiasaan itu. Dia lahir dengan kekusutan itu." Dengan lembut Lady Mary mengusap matanya dengan saputangan kecil. "Hal itu tak bisa diterima dalam prinsip pendidikan saya," katanya. "Saya diajar bahwa setiap orang tahu membedakan antara salah dan benar. Tapi rupanya tidak selalu begitu." "Pikiran manusia memang suatu misteri," kata Mr. Satterthwaite lembut. "Kita hanya bisa berusaha mengerti. Memang ada pribadi-pribadi yang kurang atau tidak mempunyai kekuatan untuk mengerem. Seandainya saya atau Anda berkata, 'Saya benci seseorang. Mudah-mudahan dia

mati.' Hal itu akan lepas dari pikiran kita begitu kata-kata itu kita ucapkan. Rem itu akan bekerja secara otomatis. Tapi untuk orang-orang tertentu, ide atau obsesi itu jalan terus. Mereka tak melihat apa-apa kecuali realisasi ide itu." "Rasanya," kata Lady Mary, "itu terlalu tinggi untuk saya pahami." "Maaf. Saya memang bicara berdasarkan buku saja." "Maksud Anda, apakah anak-anak muda itu terlalu kurang kontrol sekarang ini?" "Bukan, sama sekali bukan itu maksud saya. Kurang kontrol-saya kira itu bagusbebas mengekspresikan diri. Anda berpikir tentang Miss... Egg." "Saya kira sebaiknya Anda panggil dia Egg saja," kata Lady Mary tersenyum. "Terima kasih. Miss Egg memang kedengarannya agak aneh." "Egg sangat impulsif. Sekali dia memutuskan sesuatu, tak ada yang bisa

menghalanginya. Seperti yang saya katakan tadi, saya tak suka dia terlibat dengan urusan itu. Tapi dia tak mau mendengarkan saya." Mr. Satterthwaite tersenyum mendengar kesedihan pada nada suara Lady Mary. Ia berpikir, "Bagaimana kalau dia tahu minat Egg dalam kriminalitas itu hanya alasan untuk melakukan taktik kuno itu- permainan si wanita mengejar si laki-laki? Ah, Lady Mary pasti cemas kalau tahu yang sebenarnya." "Egg bilang, Mr. Babbington juga diracun. Anda pikir itu benar, Mr. Satterthwaite? Apa itu hanya salah satu kata-kata Egg yang suka gegabah?" "Kita akan tahu pasti setelah penggalian." "Oh, apa akan ada penggalian?" Lady Mary gemetar. "Kasihan Mrs. Babbington! Tak ada yang lebih menyedihkan bagi seorang wanita selain hal seperti itu."

"Anda kenal dekat dengan Mrs. Babbington?" "Ya, tentu saja. Kami bersahabat." "Anda tahu seseorang yang barangkali tidak suka pada Pak Pendeta?" "Tidak." "Dia tak pernah bicara tentang hal itu?" "Tidak." "Hubungan suami-istri itu baik-baik saja?" "Ya. Mereka bahagia. Suami, istri, dan anak-anak. Tentu saja hidup mereka paspasan, dan Mr. Babbington menderita rematik. Itu saja kesulitan mereka." "Bagaimana hubungan Oliver Manders dengan Pak Pendeta?" "Ya..." Lady Mary ragu-ragu. "Bisa dikatakan tidak terlalu baik. Keluarga Babbington kasihan pada Oliver, dan anak itu dulu suka ke tempat mereka, bermainmain dengan anak-anak mereka pada waktu libur, walaupun saya kira dia tidak terlalu akrab dengan mereka. Oliver bukanlah pemuda yang populer. Dia

suka menyombongkan uangnya, sekolahnya, dan kesenangan-kesenangan lain yang diperolehnya di London. Anak laki-laki memang suka begitu." "Ya... bagaimana akhir-akhir ini setelah dia dewasa?" "Saya kira mereka tidak sering bertemu. Oliver pernah bersikap agak kasar pada Mr. Babbington di sini, di rumah saya. Kejadiannya kira-kira dua tahun yang lalu." "Apa yang terjadi?" "Oliver menyatakan pendapatnya yang menyerang kekristenan. Mr. Babbington sangat hormat dan sabar padanya, tapi itu justru membuat Oliver tambah ganas. Dia berkata, 'Semua orang beragama menghinaku karena ayah-ibuku tidak menikah. Barangkali kalian menyebutku anak haram. Hm, aku mengagumi orangorang yang punya keberanian untuk menyatakan apa yang mereka percayai dan aku tak peduli pada apa yang dipikirkan pendeta-pendeta atau para hipokrit

lainnya.' Mr. Babbington tidak menjawab. Tapi Oliver melanjutkan, 'Anda tak mau menjawab itu. Seluruh dunia ini berantakan karena eklesiastisme dan takhayul. Rasanya aku ingin menyapu semua gereja di dunia ini.' Mr. Babbington tersenyum dan berkata, 'Dan pendetanya juga?' Saya kira senyum itulah yang menyakitkan hati Oliver. Dia merasa dianggap main-main. Dia berkata, 'Aku benci semua yang ada di gereja. Keangkuhan, keamanan, kemunafikan. Berantas saja semuanya.' Mr. Babbington tersenyum-senyumnya sangat manis-dan dia berkata, 'Anakku, kalaupun kau bisa menghancurkan semua gereja yang telah dibangun atau direncanakan, kau masih harus berhadapan dengan Tuhan.'" "Lalu dia bilang apa?" "Dia kelihatan terkejut, lalu kembali ke sikap lamanya yang suka menghina, sinis, dan menjengkelkan. "Dia bilang,

'Barangkali apa yang kukatakan tadi tidak terekspresikan dengan baik dan tidak bisa dicerna dengan mudah oleh generasi Anda.'" "Anda tak suka pada Oliver Manders, Lady Mary?" "Saya kasihan padanya," kata Lady Mary membela diri. "Tapi Anda tak setuju dia menikah dengan Egg?" "Tidak." "Kenapa sebenarnya?" "Karena... karena dia tidak baik. Dan karena..." "Ya?" "Karena ada sesuatu pada dirinya yang tidak saya mengerti. Sesuatu yang dingin." Mr. Satterthwaite memandangnya sejenak, kemudian berkata, "Bagaimana pendapat Sir Bartholomew Strange tentang dia? Pernahkah dia bicara tentang Oliver?" "Saya ingat, dia mengatakan Oliver Manders merupakan kasus yang menarik. Katanya anak itu mengingatkannya pada

satu kasus yang sedang ditanganinya di rumah sakitnya. Saya katakan Oliver kelihatan kuat dan sehat. Dan dia berkata, 'Ya, kesehatannya memang baik, tapi dia menuju kehancuran.'" Ia diam, lalu berkata, "Saya rasa Sir Bartholomew dokter yang cerdas." "Kolega-koleganya sangat menghormati dia." "Saya menyukainya," kata Lady Mary. "Pernahkah dia mengatakan sesuatu pada Anda tentang kematian Mr. Babbington?" "Tidak." "Sama sekali tidak?" "Saya rasa tidak." "Menurut Anda-pasti ini sulit bagi Anda, karena Anda tidak terlalu kenal diamenurut Anda, apakah ada sesuatu di dalam pikirannya?" "Dia kelihatan riang, bahkan geli akan sesuatu hal-leluconnya sendiri. Dia mengatakan pada makan malam itu akan membuat kejutan." "Benarkah?"

Mr. Satterthwaite merenungkan hal itu dalam perjalanan pulang. Kejutan apa kira-kira yang akan diberikan Sir Bartholomew pada tamu-tamunya? Apakah memang akan lucu, seperti yang ia perkirakan? Atau sikap riang merupakan topeng dari tujuan yang sulit dikontrol? Apakah ada yang tahu?

BAB XV

"ADA kemajuan?" tanya Sir Charles. Ini merupakan sebuah rapat penting. Sir Charles, Mr. Satterthwaite, dan Egg Lytton Gore duduk di ruang kapal. Mereka sedang rapat. Perapian di ruangan itu menyala, dan di luar angin badai meraung-

raung. Mr. Satterthwaite dan Egg menjawab hampir bersamaan. "Tidak," kata Mr. Satterthwaite. "Ya," kata Egg. Sir Charles memandang mereka bergantiganti. Mr. Satterthwaite memberi isyarat dengan berwibawa bahwa sebaiknya wanita yang bicara lebih dulu. Egg diam sejenak, berpikir. "Kita ada kemajuan," katanya akhirnya. "Kita maju karena belum menemukan apaapa. Kedengarannya tidak masuk akal, tapi sebenarnya tidak. Maksud saya begini. Sebelumnya kita sudah punya bayangan, dan sekarang kita tahu pasti bahwa beberapa bagian dari bayangan itu tidak benar." "Melangkah maju dengan menyingkirkan hal-hal yang tidak benar," kata Sir Charles. "Itulah." Mr. Satterthwaite berdeham.

"Ide kemajuan itu sekarang bisa kita singkirkan," katanya, "rasanya tak ada orang yang-seperti dalam buku-buku detektif-mendapat keuntungan dari kematian Stephen Babbington. Motif balas dendam bisa dikesampingkan. Selain sikapnya yang amat baik dan disukai orang, saya ragu apakah dia cukup penting untuk dimusuhi. Jadi, kembali lagi pada bayangan kita, yaitu ketakutan. Dengan kematian Stephen Babbington, ada seseorang yang memperoleh rasa aman." "Bagus sekali cara Anda mengatakannya," kata Egg. Mr. Satterthwaite kelihatan senang, namun tetap bersikap rendah hati. Sir Charles tampak marah. Seharusnya dialah yang jadi bintang, bukan Satterthwaite. "Persoalannya sekarang," kata Egg, "apa yang akan kita lakukan kemudian-yang benar-benar kita lakukan? Apa kita akan

memata-matai orang? Atau menyamar dan membuntuti mereka?" "Saya tidak suka main jadi orang tua berjenggot, dan saya tak akan melakukannya sekarang." "Lalu apa...," kata Egg memulai. Tapi ada interupsi. Pintu ruangan itu terbuka dan Temple menyerukan, "Mr. Hercule Poirot." M. Poirot masuk dengan wajah berseri sambil menyalami ketiga orang yang terpana keheranan itu. "Bolehkah saya membantu dalam rapat ini?" katanya dengan mata berkedip. "Ini benar rapat, kan?" "Ah, kami senang bertemu Anda kembali," kata Sir Charles setelah sadar dari kekagetannya. Ia menyalami tamunya dengan hangat dan mendorongnya ke sebuah kursi besar yang nyaman. "Dari mana Anda muncul, begini tiba-tiba?"

"Saya mengunjungi kawan baik saya, Mr. Satterthwaite, di London. Mereka bilang dia pergi-ke Cornwall. Eh bien, saya bisa menduga ke mana perginya. Saya langsung naik kereta ke Loomouth. Dan akhirnya saya sampai di sini." "Ya," kata Egg, "tapi kenapa Anda ke sini? Maksud saya," kata Egg dengan muka merah, karena merasa tak sopan, "tentunya Anda datang dengan maksud tertentu." "Saya datang untuk mengakui kesalahan saya," kata Poirot dengan tangan terbuka dan senyum menawan kepada Sir Charles. "Monsieur, di ruangan inilah Anda menyatakan tidak puas. Dan saya berpikir, itu hanya insting dramatis Anda yang bicara. Saya berkata pada diri saya sendiri, 'Dia aktor besar; dia harus selalu memainkan sebuah drama, apa pun risikonya.' Kelihatannya-saya akui-hal ini sangat luar biasa, ada seorang bapak tua

yang baik hati yang meninggal bukan dengan cara wajar. Sekarang pun saya masih belum mengerti bagaimana racun itu bisa masuk ke dalam tubuhnya. Kelihatannya aneh-fantastis. Tapi setelah itu terjadi kematian lain-kematian dalam situasi yang sama, sehingga sulit dikatakan sebagai kebetulan. Tidak. Pasti ada hubungan antara keduanya. Jadi, Sir Charles, saya datang untuk minta maaf karena saya, Hercule Poirot, telah keliru, dan minta agar boleh ikut serta dalam kelompok Anda." Sir Charles membersihkan tenggorokannya dengan agak gugup. Ia kelihatan malu. "Anda baik sekali, M. Poirot. Bagaimana, ya... meminta waktu Anda begitu banyak... saya..." Ia berhenti, kelihatannya tak tahu akan bicara apa. Matanya minta bantuan pada Mr. Satterthwaite.

"Anda sangat baik," kata Mr. Satterthwaite. "Tidak... tidak. Saya bukannya baik. Ini hanya rasa ingin tahu dan... ya, menyinggung harga diri saya. Saya harus memperbaiki kesalahan saya. Waktu saya... itu tak jadi soal. Kenapa saya harus jalan-jalan? Bahasa orang memang berbeda, tapi sifat dasar manusia sama di mana-mana. Tapi tentu saja, kalau saya terlalu mengganggu dan kurang bisa diterima..." Kedua laki-laki itu bicara bersamaan. "Tentu saja tidak." "Ah, tidak." Poirot mengalihkan matanya pada gadis itu. "Dan Anda?" Sejenak Egg tidak berkata apa-apa. Ini memberi kesan yang sama pada ketiga laki-laki itu: Egg tidak ingin bantuan M. Poirot.

Mr. Satterthwaite merasa tahu sebabnya. Ini adalah drama pribadi Sir Charles Cartwright dengan Egg Lytton Gore. Mr. Satterthwaite diperbolehkan ikut hanya sebagai pembantu-orang ketiga yang tidak berperan besar. Tapi Hercule Poirot lain. Ia akan memainkan peran utama. Barangkali Sir Charles pun nantinya akan terpaksa pensiun. Lalu rencana Egg jadi berantakan. Ia memandang gadis itu, kasihan karena kesulitan yang sedang dihadapinya. Kedua laki-laki yang lain tidak mengerti. Tapi dia-dengan kepekaan yang mirip kepekaan kaum wanita-mengerti dilema itu. Egg sedang berjuang merebut kebahagiaannya. Apa yang akan dikatakannya? Lagi pula, apa lagi yang bisa ia katakan? Apa yang ia pikirkan? "Pergi! Pergi! Kedatanganmu merusak segalanya. Aku tak ingin kau ada di sini."

Egg Lytton Gore mengatakan satu-satunya hal yang bisa ia katakan. "Tentu saja," katanya sambil tersenyum kecil. "Kami akan senang sekali."

BAB XVI

"BAGUS," kata Poirot. "Kita semua kolega. Eh bien, saya bisajadi au courantdalam situasi ini." Ia mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Mr. Satterthwaite menceritakan langkah-langkah yang telah mereka ambil sejak kembali ke Inggris. Mr. Satterthwaite narator yang baik. Ia punya kemampuan menciptakan suatu atmosfer dan menghidupkan suatu gambaran. Deskripsinya tentang rumah, pelayan-

pelayan, dan kepala polisi sangat mengagumkan. Poirot menanggapi dengan hangat penemuan Sir Charles akan suratsurat yang belum selesai, yang disembunyikan di celah perapian. "Ah, mais c'est magnifique, gal" serunya senang. "Deduksi dan rekonstruksi itusempurna! Anda seharusnya menjadi detektif besar, Sir Charles. Bukan aktor besar." Sir Charles menanggapi pujian itu dengan kerendahan hati-khas dia. Berkat pengalaman panggungnya yang bertahuntahun, ia mengasah kemahirannya dalam menerima pujian dengan luwes. "Observasi Anda juga tajam," kata Poirot pada Mr. Satterthwaite. "Keramahannya yang tiba-tiba pada kepala pelayan itu." "Apa pendapat Anda mengenai urusan dengan Mrs. Rushbridger itu?" tanya Sir Charles dengan penuh semangat. "Itu

sebuah ide. Ide itu menunjukkan... ya, menunjukkan beberapa hal, bukan?" Tak seorang pun yakin akan beberapa hal itu, tapi tak ada yang mau mengatakannya. Jadi, mereka hanya bergumam. Kemudian Sir Charles ganti bercerita. Ia menjelaskan kunjungannya dengan Egg pada Mrs. Babbington dan hasilnya yang agak negatif. "Anda sudah tahu semua sekarang," katanya. "Anda tahu apa yang kami lakukan. Bagaimana pendapat Anda?" Ia membungkuk ke depan dengan penuh rasa ingin tahu. Poirot diam sejenak. Ketiga orang lainnya memperhatikannya. Akhirnya ia berkata, "Apakah Anda masih ingat, Mademoiselle, gelas anggur yang bagaimana yang dipakai Sir Bartholomew di meja?" Sir Charles menyela ketika Egg menggelengkan kepala. "Saya bisa menceritakan."

Ia berdiri dan berjalan ke lemari, mengambil beberapa gelas sherryyang berat. "Gelas-gelas itu tentu saja agak lain modelnya-lebih bulat-bentuknya lebih sempurna untuk anggur. Dia membelinya di Lammersfield waktu ada obral-satu set gelas. Saya mengagumi gelas-gelas itu. Karena dia tidak memerlukan semuanya, dia berikan beberapa pada saya. Bagus, ya?" Poirot mengambil gelas itu dan mengamatamatinya. "Ya," katanya. "Contoh yang bagus. Saya kira gelas seperti ini yang dipakai." "Kenapa?" seru Egg. Poirot hanya tersenyum padanya. "Ya," katanya, "kematian Sir Bartholomew Strange bisa dijelaskan dengan mudah, tapi kematian Stephen Babbington lebih sulit. Ah, kalau saja terjadi yang sebaliknya!"

"Apa maksud Anda-yang sebaliknya?" tanya Mr. Satterthwaite. Poirot berbalik, memandangnya. "Coba Anda pikirkan. Sir Bartholomew dokter terkenal. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan kematian dokter terkenal. Dokter tahu banyak rahasia, rahasia-rahasia penting. Bayangkan seorang pasien yang ada dalam batas garis kewarasan. Satu kata keluar dari mulut dokter itu, dan orang tersebut akan dikucilkan dunia. Ini godaan bagi otak yang tak seimbang. Seorang dokter bisa punya rasa curiga tentang kematian mendadak salah seorang pasiennya. Ya, banyak motif yang bisa ditemukan pada kematian seorang dokter. "Tadi saya katakan, kalau saja terjadi yang sebaliknya. Seandainya Sir Bartholomew Strange dulu yang meninggal, kemudian Stephen Babbington. Kematian Stephen Babbington mungkin

karena dia melihat sesuatu-mencurigai sesuatu tentang kematian pertama." Ia menarik napas, lalu berkata, "Tapi kita tak bisa punya kasus seperti yang kita inginkan. Kita harus menghadapi sebuah kasus seperti apa adanya. Saya hanya ingin menyarankan satu hal kecil. Saya kira kematian Stephen Babbington bukan kecelakaan-racun itu- seandainya ada racun-sebetulnya ditujukan untuk Sir Bartholomew Strange, tapi keliru diminum orang lain." "Ide yang luar biasa," kata Sir Charles. Tapi wajahnya yang sejenak gembira berubah jadi muram lagi. "Tapi saya kira teori itu tidak jalan. Babbington masuk ke dalam ruangan ini kira-kira empat menit sebelum dia sakit. Selama itu satusatunya minuman atau makanan yang ditelannya hanyalah setengah gelas koktail; dan tak ada apa-apa dalam koktail itu..."

Poirot menyela, "Itu sudah Anda ceritakan. Tapi seandainya, ini kita omong-omong saja, seandainya ada sesuatu dalam koktail itu. Mungkinkah itu ditujukan pada Sir Bartholomew Strange tapi keliru diminum Mr. Babbington?" Sir Charles menggelengkan kepalanya. "Kalau orang kenal baik dengan Tollie, dia tak akan memasukkan racun ke dalam koktailnya." "Kenapa?" "Karena dia tak pernah minum koktail." "Tak pernah?" "Tak pernah." Poirot membuat gerakan jengkel. "Ah, urusan ini salah semua. Rasanya tak masuk akal." "Di samping itu," lanjut Sir Charles, "saya tak bisa membayangkan bagaimana gelas itu bisa tertukar. Temple mengedarkan gelas-gelas itu dengan nampan, dan setiap orang mengambil gelas yang dipilihnya sendiri."

"Benar," gumam Poirot. "Orang tak bisa memaksa orang minum koktail seperti dalam permainan kartu. Seperti apa dia, si Temple ini? Dia pelayan yang tadi membukakan saya pintu?" "Ya, betul. Dia sudah tiga atau empat tahun ikut saya-gadis yang baik, tahu tugasnya. Saya tak tahu asal-usulnya. Tapi Miss Milray pasti tahu." "Miss Milray-dia sekretaris Anda? Wanita jangkung yang agak seperti serdadu itu?" "Memang seperti serdadu," kata Sir Charles setuju. "Saya pernah makan bersama Anda dalam beberapa kesempatan, tapi rasanya belum pernah bertemu dia sampai malam itu." "Biasanya dia tidak makan malam dengan kita. Dia ada karena angka tiga belas saja." Sir Charles menjelaskan dan Poirot mendengarkan dengan penuh perhatian. "Jadi, dia sendiri yang mengusulkan ikut makan malam." Ia diam merenung sampai

satu menit, lalu berkata, "Boleh saya bicara dengan pelayan itu-si Temple?" "Tentu saja." Sir Charles menekan sebuah bel. Jawabannya cepat, "Tuan memanggil?" Temple seorang gadis jangkung berumur 32 atau 33. Ia kelihatan bersih, rambutnya tersisir rapi dan berkilat, tapi tidak cantik. Sikapnya tenang dan efisien. "M. Poirot ingin menanyakan beberapa hal," kata Sir Charles. Temple mengalihkan pandangannya yang angkuh pada Poirot. "Kami sedang bicara tentang malam ketika Mr. Babbington meninggal di sini," kata Poirot. "Kau masih ingat?" "Oh, ya, Sir." "Saya ingin tahu dengan pasti bagaimana koktail itu dihidangkan." "Maaf, Sir." "Saya ingin tahu tentang koktail itu. Apa kau yang mencampurnya?"

"Bukan. Sir Charles suka melakukan hal itu sendiri. Saya yang membawa botolbotolnya-vermuth, gin, dan sebagainya." "Di mana kauletakkan botol-botol itu?" "Di meja sana, Sir." Ia menunjuk sebuah meja dekat dinding. "Nampan dan gelas-gelasnya ada di sana, Sir. Setelah selesai mencampur dan mengocok, Sir Charles menuang koktail itu ke gelas-gelas. Lalu saya membawa nampan itu berkeliling, mengedarkannya pada tamu-tamu." "Apa semua koktail dalam gelas itu kau yang mengulurkannya?" "Sir Charles memberikan satu gelas untuk Miss Lytton Gore, Sir-mereka sedang berbicara pada saat itu. Sir Charles juga mengambil koktail sendiri. Dan Mr. Satterthwaite"-matanya berpindah memandang Mr. Satterthwaite -"datang dan mengambil satu untuk seorang tamu wanita-kalau tak salah Miss Wills." "Betul," kata Mr. Satterthwaite.

"Yang lain saya edarkan. Saya kira setiap tamu mengambil satu, kecuali Sir Bartholomew." "Kau mau mengulangi semuanya, Temple? Kita taruh saja bantal-bantal itu untuk mengganti tamu-tamu. Saya berdiri di sini, saya masih ingat; Miss Sutcliffe di sana." Dengan bantuan Mr. Satterthwaite, mereka membuat rekonstruksi. Mr. Satterthwaite memang teliti. Ia ingat dengan baik di mana setiap orang dalam ruangan itu pada waktu pesta. Lalu Temple mengedarkan gelas-gelas minuman. Mereka memastikan ia mendatangi Mrs. Dacres lebih dulu, lalu Miss Sutcliffe dan Poirot, kemudian Mr. Babbington, Lady Mary, dan Mr. Satterthwaite yang duduk bersama-sama. Ini cocok dengan apa yang diingat Mr. Satterthwaite. Akhirnya Temple disuruh keluar.

"Pah!" seru Poirot. "Tak mungkin. Temple orang terakhir yang memegang koktail itu. Tapi tak mungkin dia memasukkan sesuatu, dan kita tak bisa memaksa orang mengambil koktail tertentu." "Biasanya orang mengambil yang paling dekat," kata Sir Charles. "Teori itu cocok bila kita mengedarkan nampan pertama-tama pada orang itu, tapi itu juga tak bisa dipastikan. Gelas-gelas itu rapat. Sebetulnya tidak bisa dikatakan satu gelas lebih dekat pada seseorang dari gelas lainnya. Tidak. Cara begitu tak bisa dipakai. Mr. Satterthwaite, apa Anda ingat, Mr. Babbington terus memegang gelasnya atau meletakkannya di meja?" "Dia meletakkannya di meja." "Ada yang datang mendekati mejanya setelah itu?" "Tidak, saya orang terdekat dengan dia, tapi saya tidak memasukkan apa-apa ke

dalam koktailnya, walaupun saya bisa melakukannya tanpa diketahui orang lain." Mr. Satterthwaite bicara dengan agak kaku. Poirot cepat-cepat meminta maaf, "Tidak! Tidak! Saya bukannya membuat tuduhan-quelle ideel! Tapi saya ingin meyakinkan fakta-fakta saya. Menurut analisis, tak ada apa-apa di dalam koktail itu. Sekarang, di luar hasil analisis itu, kelihatannya tak mungkin seseorang membubuhkan sesuatu ke dalam koktail. Hasil yang sama dari dua tes yang berbeda. Tapi Mr. Babbington tidak minum atau makan apa-apa. Dan kalau dia diracun dengan nikotin murni, kematian berlangsung cepat. Anda lihat ke mana arahnya?" "Tidak ke mana-mana. Sialan," kata Sir Charles. "Saya tak akan berkata begitu-tidak, saya tak akan mengatakan hal itu. Itu akan memberi ide yang mengerikan- yang saya

harap dan yakin tidak benar. Tidak, tentu saja tidak benar-kematian Sir Bartholomew membuktikannya, tapi..." Ia mengernyitkan dahi dan berpikir. Yang lain memandangnya dengan ingin tahu. Poirot memandang ke atas. "Anda mengerti maksud saya, kan? Mrs. Babbington tidak ada di Melfort Abbey. Karena itu, kita tak bisa mencurigai Mrs. Babbington." "Mrs. Babbington-tapi tak seorang pun bermimpi akan mencurigai dia." Poirot tersenyum. "Tidak? Aneh sekali. Pikiran itu masuk di kepala saya dengan segera-segera. Kalau pria malang itu tidak diracuni lewat koktail, dia pasti diracuni beberapa menit sebelum masuk rumah. Caranya bagaimana? Sebutir kapsul? Barangkali sesuatu untuk mencegah sakit perut. Tapi siapa yang memberikannya? Cuma seorang istri. Siapa, barangkali, yang punya motif

sehingga tak seorang pun curiga terhadap hal itu? Sekali lagi, seorang istri." "Tapi mereka saling mencintai!" seru Egg marah. "Anda sama sekali tak tahu!" Poirot tersenyum manis padanya. "Ya. Itu memang penting. Anda tahu, tapi saya tidak. Saya lihat faktanya tidak menjadi miring karena adanya hal-hal yang telah dipertimbangkan lebih dahulu. Dan saya ingin memberitahukan sesuatu, Mademoiselle. Selama pengalaman saya sebagai detektif, saya menjumpai lima kasus wanita yang dibunuh oleh suami yang sangat mencintai mereka, dan 22 suami yang dibunuh oleh istri yang mencintai mereka. Les femmes, mereka kelihatannya bisa menyembunyikan muka dengan lebih baik." "Anda benar-benar keterlaluan," kata Egg. "Saya tahu suami-istri Babbington tidak begitu. Itu... itu mengerikan."

"Pembunuhan memang mengerikan, Mademoiselle," kata Poirot dengan nada keras. Ia melanjutkan dengan suara lebih ringan, "Tapi saya, yang hanya melihat fakta, setuju bahwa Mrs. Babbington tidak melakukan hal itu. Dia tak ada di Melfort Abbey. Seperti dikatakan Sir Charles, hal itu pasti dilakukan oleh orang yang ada dalam kedua kejadian-satu dari tujuh orang dalam daftar Anda." Mereka diam. "Jadi, sebaiknya bagaimana kita bertindak?" tanya Mr. Satterthwaite. "Anda pasti sudah punya rencana," kata Poirot. Sir Charles berdeham. "Satu-satunya yang bisa kita lakukan kelihatannya adalah melakukan proses eliminasi," katanya. "Maksud saya, mengasumsikan semua orang dalam daftar itu sebagai tersangka, sampai benar-benar terbukti mereka tak bersalah. Maksud

saya, kita harus yakin dulu orang itu mempunyai hubungan dengan Stephen Babbington. Kita harus menggunakan segala akal untuk mengetahui hubungan itu. Kalau tidak ada, kita lanjutkan dengan mengecek tamu-tamu lainnya." "Itu psikologi yang bagus," kata Poirot. "Caranya?" "Itu belum kami bicarakan. Kami akan senang menerima saran dan nasihat Anda, M. Poirot. Barangkali Anda sendiri..." Poirot mengangkat tangannya. "Kawan, jangan minta saya melakukan sesuatu gerakan aktif. Saya selalu yakin, setiap persoalan sebaiknya diselesaikan dengan berpikir. Saya beri nama saja sebagai 'gerakan pasif. Silakan melanjutkan penyelidikan yang sudah dipimpin Sir Charles dengan bagus." "Bagaimana dengan aku?" pikir Mr. Satterthwaite. "Aktor-aktor ini! Semua

menyoroti mereka, dan peran bintang pun mereka mainkan." "Barangkali Anda sewaktu-waktu bisa minta pendapat pengacara. Saya pengacaranya." Ia tersenyum pada Egg. "Bagaimana pendapat Anda, Mademoiselle?" "Bagus," kata Egg. "Saya yakin pengalaman Anda akan sangat membantu kami." Wajah gadis itu kelihatan lega. Ia melirik jam tangannya dan berseru, "Saya harus pulang. Ibu bisa pingsan nanti." "Biar kuantar pulang," kata Sir Charles. Mereka keluar bersama-sama.

BAB XVII

"IKANNYA sudah muncul," kata Hercule Poirot. Mr. Satterthwaite, yang memperhatikan pintu ditutup oleh kedua orang itu, terkejut ketika menoleh memandang Poirot. Pria itu sedang tersenyum dengan wajah agak mencemooh. "Ya, ya. Jangan membantah. Anda dengan sengaja menunjukkan umpan itu pada saya waktu di Monte Carlo. Iya, kan? Anda menunjukkan artikel di koran. Anda berharap saya tertarik, sehingga saya melibatkan diri dalam urusan itu." "Memang benar," kata Mr. Satterthwaite mengaku. "Tapi saya pikir saya gagal." "Tidak, tidak. Anda tidak gagal. Anda pengamat watak manusia yang amat tajam. Saya bosan, seperti anak kecil yang di pantai itu-tak ada yang dia kerjakan. Anda datang tepat pada waktunya-dan memang, banyak tindak kriminal yang ditentukan oleh saat yang tepat. Tapi kita kembali

saja ke domba kita. Tindak kejahatan ini sangat menarik, sangat membingungkan." "Yang mana-pertama atau kedua?" "Hanya ada satu; yang pertama adalah separo dan yang kedua juga separo dari satu tindak kriminal. Separo yang kedua sangat sederhana-motifnya, cara yang digunakannya..." Mr. Satterthwaite menyela, "Rasanya caranya sama-sama sulit. Tak ada racun yang ditemukan dalam anggur, dan makanannya dimakan semua orang." "Tidak, tidak, sama sekali lain. Dalam kasus pertama, kelihatannya tak seorang pun bisa meracuni Stephen Babbington. Kalau mau, Sir Charles bisa saja meracuni salah satu tamunya, tapi bukan tamu tertentu. Temple bisa saja menyelipkan sesuatu ke dalam gelas terakhir, tapi gelas Mr. Babbington bukan gelas terakhir. Pembunuhan Mr. Babbington kelihatannya amat tak masuk akal,

sehingga saya masih merasa mungkin hal itu memang tak masuk akal -jadi, dia memang meninggal secara wajar. Tapi itu akan kita ketahui tak lama lagi. Kasus yang kedua lain. Setiap tamu yang hadir, atau kepala pelayan, atau pelayan lain, bisa saja meracuni Bartholomew Strange. Itu tidak sulit." "Saya tidak melihat...," kata Mr. Satterthwaite. Poirot melaju terus, "Nanti akan saya buktikan pada Anda dengan eksperimen kecil. Kita bicarakan hal yang lebih penting dulu. Nanti akan Anda lihat-dan ketahui. Anda memiliki hati yang penuh simpati dan penuh pengertian. Saya tak akan memainkan peranan anak manja." "Maksud Anda...," kata Mr. Satterthwaite, mulai tersenyum. "Sir Charles harus memainkan peran seorang bintang! Dia sudah terbiasa. Dan

lagi, ada orang lain yang mengharapkan dia memainkan peran itu. Saya tak salah, kan? Keikutsertaan saya dalam urusan ini tidak menyenangkan hati gadis itu." "Anda memang orang yang cepat tanggap, M. Poirot." "Ah, itu kan jelas kelihatan di depan mata! Saya cukup perasa. Saya ingin memberi peluang bagi sebuah kisah cinta, bukan menghalanginya. Anda dan saya-kita harus bekerja sama-untuk kemuliaan Sir Charles Cartwright. Bukan begitu? Bila kasus itu sudah terselesaikan..." "Jika...," kata Mr. Satterthwaite ragu. "Bila! Saya tak akan membiarkannya gagal." "Tak pernah?" tanya Mr. Satterthwaite menyelidik. "Ada saat-saat saya tidak cepat tanggap," kata Poirot dengan penuh wibawa. "Saya tak bisa merasakan kebenaran secepat yang biasa saya rasakan."

"Tapi Anda tak pernah gagal sama sekali?" Desakan Mr. Satterthwaite ini memang sekadar rasa ingin tahu yang sederhana. Ia bertanya-tanya. "Eh, bien, " kata Hercule Poirot. "Suatu waktu. Sudah lama sekali dulu. Ketika saya di Belgia. Kita tak perlu bicara tentang hal itu." Rasa ingin tahu dan kenakalan Mr. Satterthwaite rupanya telah terpuaskan. Ia cepat-cepat mengganti arah pembicaraan, "Ah, ya. Anda tadi bilang, jika kasus ini terpecahkan..." "Sir Charles yang akan menyelesaikannya. Itu penting. Saya hanya akan menjadi gigi sebuah roda bergigi." Ia mengembangkan kedua tangannya. "Sekali-sekali, di sanasini-saya akan berkata sedikit-sedikithanya sedikit kata-kata-petunjuk-tak lebih. Saya tak ingin penghormatan atau kepopuleran. Saya sudah punya."

Mr. Satterthwaite mengamati pria itu dengan rasa ingin tahu. Ia senang melihat kesombongan yang naif dan egoisme yang begitu besar dalam diri laki-laki kecil itu. Tapi ia memang tidak omong kosong. Pria Inggris biasanya bersikap merendah dengan apa yang telah berhasil ia lakukan dengan baik, dan kadang-kadang senang dengan apa yang tidak dikerjakan dengan baik. Tapi pria Latin lebih bisa menghargai kekuatannya sendiri. Kalau memang pandai ia tak perlu mencari alasan untuk menutup-nutupi fakta itu. "Saya ingin tahu," kata Mr. Satterthwaite. "Ini menarik untuk saya ketahui-apa sebenarnya yang ingin Anda dapatkan dari urusan ini? Apakah kasus ini menarik?" Poirot menggelengkan kepala. "Bukan, bukan, bukan itu. Seperti chien de chasse, saya hanya mengikuti penciuman, dan saya menjadi tertarik. Sekali mencium

sesuatu, saya tak bisa membuangnya. Itu memang benar. Tapi ada yang lebih dari itu. Bagaimana saya mengatakannya? Suatu nafsu untuk mengetahui kebenaran. Di dunia ini tak ada yang lebih menimbulkan rasa ingin tahu, lebih menarik, dan lebih indah kecuali kebenaran." Mereka diam sejenak setelah Poirot berkata-kata. Lalu ia mengambil kertas Mr. Satterthwaite yang berisi tujuh nama dan membacanya, "Mrs. Dacres, Kapten Dacres, Miss Wills, Miss Sutcliffe, Lady Mary Lytton Gore, Miss Lytton Gore, Oliver Manders. "Ya," katanya. "Bisa disimpulkan, kan?" "Apanya?" "Urutan nama-nama itu." "Rasanya tak ada yang bisa disimpulkan. Kami menulis nama-nama itu tanpa urutan tertentu."

"Tepat. Daftar itu mulai dengan Mrs. Dacres. Saya menyimpulkan dialah orang yang dianggap paling punya kemungkinan untuk melakukan kejahatan itu." "Bukan yang paling punya kemungkinan," kata Mr. Satterthwaite. "Yang paling kecil-itu kemungkinannya lebih cocok." "Dan kalimat ketiga barangkali lebih cocok. Barangkali dia orang yang Anda sekalian pilih sebagai orang yang punya kemungkinan besar." Mr. Satterthwaite membuka mulutnya tanpa sadar, lalu menatap mata Poirot yang hijau, lembut, dan aneh. Ia tidak jadi mengucapkan kata-katanya dan menggantinya dengan, "Bagaimana, ya? M. Poirot, barangkali Anda benar. Tanpa disadari, itu memang benar." "Saya ingin menanyakan sesuatu, Mr. Satterthwaite."

"Tentu saja, silakan," kata Mr. Satterthwaite sambil merenung. "Dari yang Anda ceritakan, saya mengambil kesimpulan bahwa Sir Charles dan Mrs. Lytton Gore bersama-sama menginterview Mrs. Babbington." "Ya." "Anda tidak pergi bersama mereka?" "Tidak. Tiga orang terlalu ramai." Poirot tersenyum. "Dan barangkali Anda punya keinginan pergi ke tempat lain. Barangkali Anda punya ikan lain untuk digoreng. Anda ke mana, Mr. Satterthwaite?" "Saya minum teh dengan Lady Mary Lytton Gore," jawab Mr. Satterthwaite kaku. "Apa yang Anda bicarakan?" "Dia baik sekali. Mau menceritakan kesulitan-kesulitannya ketika baru menikah." Ia mengulang dengan singkat cerita Lady Mary. Poirot menganggukkan kepala penuh simpati. "Itu memang terjadi-cerita seorang gadis idealis yang

menikah dengan laki-laki brengsek dan tak mau mendengar nasihat orang lain. Apa Anda tidak bicara tentang hal-hal lain? Misalnya saja bicara tentang Oliver Manders?" "Ya, betul." "Dan Anda tahu sesuatu tentang... apa?" Mr. Satterthwaite mengulangi apa yang diceritakan Lady Mary. Lalu ia berkata, "Kenapa Anda bertanya apa kami bicara tentang dia?" "Karena Anda ke sana dengan tujuan itu... jangan protes dulu. Anda mungkin berharap Mrs. Dacres atau suaminya yang melakukan tindak kriminal. Tapi Anda juga berpikir si Manders punya kemungkinan." Ia menenangkan protes Mr. Satterthwaite. "Ya... ya. Anda memang suka diam-diam. Anda punya ide-ide, tapi suka menyimpannya sendiri. Saya bersimpati pada Anda. Saya sendiri juga begitu."

"Saya tidak mencurigainya. Itu aneh. Saya hanya ingin tahu lebih banyak tentang dia." "Sama saja dengan yang saya katakan. Dia adalah pilihan Anda berdasarkan insting. Saya juga tertarik padanya pada waktu pesta di sini itu, karena saya lihat..." "Apa yang Anda lihat?" tanya Mr. Satterthwaite ingin tahu. "Saya lihat paling tidak ada dua orangbarangkali juga lebih-yang memainkan suatu peran. Satu adalah Sir Charles." Ia tersenyum. "Dia memainkan peran seorang perwira angkatan laut; benar, kan? Itu sangat wajar. Seorang aktor besar tak akan berhenti berperan hanya karena dia tidak berada di panggung lagi. Tapi pemuda Manders itu-dia juga memainkan sebuah peran. Peran seorang pemuda yang bosan, walaupun sebenarnya tidak. Dia orang yang penuh semangat hidup. Karena itu, saya melihatnya."

"Bagaimana Anda tahu saya sedang mencari tahu tentang dia?" "Banyak caranya. Anda tertarik pada kecelakaan yang membawanya ke Melfort Abbey malam itu. Anda tidak pergi berkunjung ke tempat Mrs. Babbington dengan Sir Charles dan Miss Lytton Gore. Mengapa? Karena Anda ingin mencari tahu sesuatu yang lain tanpa diketahui orang lain. Anda pergi ke kediaman Lady Mary untuk bertanya tentang seseorang. Siapa? Pasti orang sini. Oliver Manders. Lalu-ini sangat khas-Anda meletakkan namanya di daftar paling bawah. Siapa orang-orang yang paling tidak Anda curigai-Lady Mary dan Miss Egg?-tapi Anda menulis nama Manders setelah nama mereka, karena dialah orang yang Anda incar dan Anda ingin menyimpan hal itu sendiri." "Ya ampun," kata Mr. Satterthwaite. "Apa benar saya seperti itu?"

"Precisement. Penglihatan Anda tajam dan pertimbangan Anda sangat cermat, dan Anda suka menyimpan hasilnya untuk diri Anda sendiri. Opini Anda tentang pribadi manusia merupakan pengetahuan yang tidak akan Anda pamerkan pada orang lain." "Saya kira...," Mr. Satterthwaite memulai, tapi dia terhenti oleh kedatangan Sir Charles. Aktor itu masuk dengan langkah ringan. "Br-r-r," katanya. "Malam yang ganas." Ia menuang wiski campur soda untuk dirinya sendiri. Mr. Satterthwaite dan Poirot tidak mau minum. "Hm," kata Sir Charles, "sekarang kita buat saja rencana penyelidikan. Mana daftar itu, Satterthwaite? Ah, terima kasih. Nah, Pak Penasihat, bagaimana sebaiknya kita melakukannya?" "Apa pendapat Anda sendiri, Sir Charles?"

"Hm, kita bisa membagi-bagi orang untuk tugas yang berbeda. Pembagian tugas. Pertama, ini ada Mrs. Dacres. Egg kelihatannya ingin menangani dia. Dia berpendapat orang yang berbusana begitu sempurna tak akan puas dengan sekadar pujian dari pihak laki-laki. Kelihatannya bagus juga melakukan pendekatan dari sisi profesinya. Satterthwaite dan saya akan melakukan hal yang sama kalau mungkin. Lalu Dacres. Saya kenal beberapa temannya yang sering ikut balap. Kelihatannya ada yang bisa diambil dari mereka. Lalu Angela Sutcliffe." "Itu juga bagianmu, Cartwright," kata Mr. Satterthwaite. "Kau kenal dia dengan baik sekali, kan?" "Ya, karena itu sebaiknya orang lain saja yang menangani dia. Pertama," ia tersenyum sedih, "saya akan dituduh tidak bekerja dengan baik, dan yang kedua... hm, dia teman saya. Kalian mengerti?"

"Parfaitement, parfaitement. Anda pasti merasa tak enak. Sangat bisa dimaklumi. Mr. Satterthwaite yang baik ini -dia akan menggantikan Anda." "Lady Mary dan Egg-tentu saja mereka tidak termasuk. Bagaimana dengan si Manders? Kedatangannya ke tempat Tollie itu karena kecelakaan, tapi rasanya dia tetap perlu diperhitungkan." "Mr. Satterthwaite yang akan menangani dia," kata Poirot. "Tapi, Sir Charles, masih ada yang ketinggalan dalam daftar itu. Miss Murriel Wills masih ketinggalan." "Oh, ya. Nah, kalau Satterthwaite menangani Manders, saya akan ambil Miss Wills. Setuju? Bagaimana, Poirot? Ada saran?" "Tidak, tak ada. Saya akan tertarik mendengar hasilnya." "Tentu saja. Tentu kami akan lapor. Satu hal lagi. Kalau kita bisa mendapatkan foto

orang-orang ini, kita bisa menanyai orang di Gilling." "Bagus," kata Poirot. "Ada satu hal... ah, ya. Teman Anda, Sir Bartholomew. Dia tidak minum koktail, tapi minum anggur, ya?" "Ya. Dia suka anggur." "Aneh juga, ya, dia tidak merasa apa-apa. Nikotin murni seharusnya menimbulkan rasa yang khas, rasa tidak enak." "Barangkali saja tidak ada nikotin di dalam anggur," kata Sir Charles. "Ingat, isi gelas itu sudah dianalisis." "Oh, ya," kata Poirot dengan tololnya. "Tolol saya. Tapi kalau dipakai, nikotin rasanya tidak enak." "Saya tidak tahu apa itu penting," kata Sir Charles pelan. "Musim semi yang lalu, Tollie kena flu berat. Dia jadi kurang peka pada rasa dan penciuman." "Ah, ya," kata Poirot sambil merenung. "Itu yang menyebabkannya. Jadi, ada

alasannya." Sir Charles berjalan ke jendela dan memandang ke luar. "Badai masih bertiup. Saya akan suruh ambil barang-barang Anda, M. Poirot. The Rose and Crown memang bagus untuk para aktris yang antusias, tapi saya rasa Anda menyukai tempat yang lebih bersih dan tempat tidur yang nyaman." "Anda baik sekali, Sir Charles." "Ah, terima kasih. Biar saya urus dulu." Ia keluar ruangan. Poirot memandang Mr. Satterthwaite. "Boleh saya membuat saran?" "Ya?" Poirot membungkuk ke depan dan bicara dengan suara rendah, "Tanyakan pada Manders, kenapa dia membuat kecelakaan tipuan. Katakan polisi mencurigai dia dan perhatikan reaksinya." "Anda pikir..." "Saya belum memikirkan apa-apa. Tapi dalam buku harian itu tertulis: 'Aku khawatir dengan M.' Barangkali saja yang

dimaksud memang Manders. Barangkali juga sama sekali tak ada hubungannya dengan kasus ini." "Kita lihat saja nanti," kata Mr. Satterthwaite. "Ya. Kita lihat nanti."

BAB XVIII

RUANG pamer Ambrosine, Ltd., itu kelihatan pucat. Dindingnya berwarna putih tua, karpetnya yang tebal berwarna netral, hampir tak berwarna. Juga perabotannya. Di sana-sini terpantul cahaya kromium. Di salah satu dinding terdapat lukisan geometris raksasa dalam warna biru dan kuning menyala. Ruang itu didesain oleh Mr. Sydney Sandford, desainer termuda dan terbaru saat itu.

Egg Lytton Gore duduk di sebuah kursi berdesain modern yang mirip dengan kursi pasien dokter gigi, dan memandang wanita-wanita cantik kemilau seperti ular dengan wajah-wajah bosan yang melenggang lewat di depannya. Egg berusaha kelihatan agar uang sejumlah lima atau enam puluh pound untuk sepotong baju tidak terlalu berarti baginya. Mrs. Dacres-seperti biasa, kelihatan cantik dan aneh-sedang menjalankan tugasnya. "Anda suka ini? Lihat simpul di bahu inilucu, ya? Dan garis pinggangnya agak menerawang. Tapi yang merah ini saya tidak terlalu suka. Lebih bagus warna baru-Espanol-sangat menarik. Seperti warna moster dengan campuran sedikit cabe merah. Anda suka ini? Vin Ordinaire, agak aneh, ya? Menerawang dan aneh. Tapi

di zaman sekarang model baju memang santai." "Sulit memilihnya," kata Egg. "Begini," ia berpura-pura membuka rahasia, "sebelumnya saya tak punya uang untuk beli baju-baju. Kami sangat miskin. Saya masih ingat, Anda tampak begitu cantik pada malam di Crow's Nest itu. Jadi saya berpikir, 'Nah, mumpung ada uang, aku mau menemui dan konsultasi dengan Mrs. Dacres. Aku akan minta saran padanya.' Saya benar-benar kagum pada Anda malam itu." "Ah, Anda baik sekali. Saya sebenarnya senang mendandani gadis muda. Gadisgadis tidak seharusnya kelihatan sembarangan dengan pakaian mereka. Anda pasti mengerti maksud saya." "Oh, jadi kau tidak berpakaian sembarangan," pikir Egg kasar. "Seperti ondel-ondel begitu kok."

"Anda punya kepribadian yang menonjol," lanjut Mrs. Dacres. "Jadi, jangan berpakaian terlalu sederhana. Pilih bajubaju bermodel biasa tapi menerawang. Sedikit lain, begitu. Berapa yang Anda perlukan?" "Saya ingin empat gaun malam dan dua baju untuk siang hari, lalu satu atau dua setelan sport-itu dulu." Sikap Mrs. Dacres bertambah manis. Untunglah ia tak tahu bahwa simpanan Egg di bank tinggal lima belas pound dua belas shilling. Itu pun harus dihemat sampai bulan Desember. Bertambah banyak gadis-gadis yang melewati Egg dengan pakaian macammacam. Di sela-sela percakapan tentang pakaian, Egg menyelipkan persoalan lain. "Pasti Anda belum ke Crow's Nest lagi sejak peristiwa itu," katanya. "Ya. Saya tidak bisa. Peristiwa itu sangat mengguncangkan. Dan lagi saya

menganggap terlalu banyak artis di Cornwall. Rasanya mereka aneh di mata saya." "Ya. Urusan itu menyebalkan, ya?" kata Egg. "Padahal Mr. Babbington sangat baik." "Dan sudah tua," kata Mrs. Dacres. "Anda pernah bertemu dia sebelumnya, kan?" "Pak tua itu? Apa iya? Saya lupa." "Kalau tak salah, dia pernah bilang begitu," kata Egg. "Tapi bukan di Cornwall. Kalau tak salah di Gilling." "Apa iya?" Mata Mrs. Dacres menjadi kabur. "Bukan, Marcelle. Saya mau Petite Scandaledengan model Jenny -lalu Patou biru." "Dan luar biasa, ya," kata Egg, "peristiwa peracunan Sir Bartholomew?" "Wah, kata-kata Anda terlalu blak-blakan! Tapi baik juga untuk saya. Banyak wanita datang memesan baju di sini karena ingin mendengar sensasi saja. Nah, model Patou

ini pasti pas buat Anda. Lihat lipit-lipit yang tidak ada gunanya tapi lucu itu; membuat baju ini kelihatan tambah manis. Muda tanpa kelihatan menyebalkan. Ya, kematian Sir Bartholomew memang menjadi berkat buat saya. Sebenarnya saya juga punya kesempatan melakukan pembunuhan itu, lho. Saya lebih suka peran itu. Ada seorang wanita gemuk yang datang dan membelalakkan matanya. Terlalu blak-blakan. Tapi..." Tapi pembicaraannya disela suara beraksen Amerika yang kelihatannya merupakan pelanggan penting. Ketika si Amerika sibuk menguraikan keperluan-keperluannya yang kelihatan macam-macam dan mahal, Egg berhasil menyingkir tanpa mengganggu. Ia meninggalkan pesan pada pegawai muda yang menggantikan Mrs. Dacres melayaninya bahwa ia akan berpikir dulu sebelum memberi keputusan.

Egg melirik jam tangannya ketika muncul di Bruton Street. Pukul 12.40. Tak lama lagi ia mungkin bisa melakukan rencananya yang kedua. Ia berjalan sampai di Berkeley Square, lalu kembali lagi pelan-pelan. Pada pukul satu ia berdiri diam memandang sebuah jendela toko yang memajang barangbarang kesenian Cina. Miss Doris Sims masuk ke Bruton Street dengan cepat dan berbelok ke arah Berkeley Square. Sebelum ia sampai, terdengar sebuah suara. "Maaf," kata Egg, "boleh saya bicara sebentar?" Gadis itu menoleh dan terkejut. "Anda salah seorang gadis model di Ambrosine, kan? Saya melihat Anda tadi pagi. Maaf, ya, tapi saya ingin mengatakan, menurut pendapat saya, perawakan Anda sangat sempurna." Doris Sims tidak

tersinggung. Ia hanya bingung. "Terima kasih, Anda baik sekali," katanya. "Dan Anda juga kelihatannya baik," kata Egg. "Karena itu, saya ingin minta tolong. Anda mau makan siang dengan saya di Berkeley atau Ritz? Saya akan cerita nanti." Setelah ragu-ragu sebentar, Doris Sims setuju. Ia ingin tahu dan ia suka makan enak. Begitu mereka duduk, Egg mulai dengan keterangannya. "Saya harap Anda bisa menyimpan hal ini untuk diri Anda sendiri," katanya. "Begini. Saya dapat pekerjaan- menulis macammacam profesi wanita. Saya ingin Anda menceritakan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan urusan busana." Doris kelihatan agak kecewa, tapi ia menjawab dengan ramah dan memberikan jawaban-jawaban yang berani tentang jam kerja, gaji, hal-hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan di tempat

kerjanya. Egg mencatat hal-hal yang penting di buku catatannya. "Anda sangat baik," katanya. "Saya memang bodoh. Ini merupakan pekerjaan baru bagi saya. Saya sedang bangkrut, tapi hasil tulisan ini nanti akan membantu." Ia melanjutkan lagi, "Saya juga nekat masuk Ambrosine dan berpura-pura ingin membeli baju-baju mahal itu. Sebenarnya uang saku saya untuk membeli baju tinggal beberapa pound saja sampai Natal nanti. Mrs. Dacres pasti marah kalau tahu yang sebenarnya." Doris tertawa. "Pasti." "Bagaimana, apa saya berhasil? Berhasil kelihatan seperti orang yang punya uang banyak?" "Anda sangat berhasil, Miss Lytton Gore. Mrs. Dacres mengira Anda akan memesan banyak baju." "Dia pasti kecewa," kata Egg.

Doris tertawa lagi. Ia menikmati makanannya dan tertarik pada Egg. "Barangkali dia orang kalangan atas," pikirnya. "Tapi dia tak banyak lagak. Dan tingkahnya wajar." Setelah hubungan baik itu berjalan, Egg tak punya banyak kesulitan memancing lawan bicaranya tentang apa saja yang berhubungan dengan bosnya. "Saya pikir Mrs. Dacres itu seperti kucing yang menakutkan. Apa betul?" pancing Egg. "Tak satu pun dari kami menyukainya, Miss Lytton Gore. Itu fakta. Tapi dia pandai dan pintar berbisnis. Tidak seperti para wanita kalangan atas lainnya, yang bangkrut karena pelanggannya tak mau membayar utang. Dia sangat licin dan gigih. Dia memang fair dan seleranya bagus. Dia tahu barang bagus dan pintar memilihkan yang cocok untuk pelanggannya."

"Kalau begitu, uangnya pasti banyak." Mata Doris memancarkan sinar aneh, tapi penuh pengertian. "Ah, saya tak mau berkomentar atau bergosip." "Tentu saja tidak," kata Egg. "Lanjutkan." "Tapi kalau Anda tanya, perusahaan itu tak jauh dari Queer Street. Ada seorang laki-laki Yahudi yang menemui Madam, dan ada satu atau dua hal yang terjadi-saya kira Madam meminjam uang agar usahanya bisa jalan, dengan harapan dagangannya laku. Tapi Madam kadang-kadang kelihatan jelek sekali. Sangat cemas. Saya tak tahu bagaimana wajahnya tanpa makeup. Saya rasa dia sering kali tak bisa tidur." "Suaminya seperti apa?" "Oh, aneh. Bukan orang baik-baik. Kami jarang bertemu dia. Teman-teman tak setuju dengan pendapat saya, tapi saya merasa Madam masih mencintainya. Tentu

saja banyak hal tak enak yang keluar dari mulut." "Misalnya?" tanya Egg. "Ah, saya tak suka mengulang-ulang. Tak pernah." "Tentu saja tidak. Teruskan. Anda tadi bilang..." "Hm, banyak yang dikatakan teman-teman. Tentang seorang pemuda, sangat kaya dan sangat lembek. Bukan bodoh, tapi... ya... gampanganlah. Madam mengejar-ngejar dia setengah mati. Dia mungkin bisa membereskan persoalannya, karena pemuda itu begitu lembek, penurut, tapi tiba-tiba dia disuruh pergi berlayar. Begitu mendadak." "Disuruh siapa? Dokter?" "Ya. Dari Harley Street. Kalau tak salah, dia itu yang dibunuh di Yorkshire-diracun, kata orang." "Sir Bartholomew Strange?" "Ya, benar. Madam juga sedang ada di pestanya waktu itu, dan kami, temanteman, bercanda sendiri, tertawa-tawa dan berkhayal, barangkali Madam yang

melakukan-karena balas dendam! Ya, itu sih cuma lelucon." "Tentu saja. Lelucon gadis-gadis," kata Egg. "Saya mengerti. Saya sendiri berpendapat Mrs. Dacres memang pantas jadi pembunuh-kelihatannya amat kejam." "Ya. Dan suka marah! Kalau dia tidak menahan emosinya, wah, tak ada yang berani mendekat. Orang bilang suaminya saja ketakutan-tidak heran." "Anda pernah dengar dia bicara tentang seseorang bernama Babbington atau suatu tempat bernama Gilling?" "Wah, sulit mengingatnya. Rasanya sih tidak." Doris melihat jamnya dan berseru, "Wah, saya mesti cepat-cepat kembali. Terlambat nanti." "Sampai ketemu. Terima kasih, ya!" "Ah, ini menyenangkan. Sampai ketemu, Miss Lytton Gore. Mudah-mudahan artikel itu sukses. Akan saya cari nanti."

"Usahamu akan sia-sia, kawan," pikir Egg sambil minta bon. Dalam buku catatannya ia menulis: Cynthia Dacres. Diperkirakan dalam kesulitan finansial. Punya temperamen "kejam ". Seorang pemuda yang diperkirakan punya affair dengannya disuruh berlayar oleh Sir Bartholomew Strange. Tidak menunjukkan reaksi apaapa ketika nama Gilling disebut. Ia juga tak pernah bertemu dengan Mr. Babbington sebelumnya. "Tidak banyak yang kudapat," kata Egg pada diri sendiri. "Ada motif untuk melakukan pembunuhan atas Sir Bartholomew, tapi tipis. M. Poirot barangkali bisa memakai info ini. Aku tidak."

BAB XIX

TAPI Egg belum selesai dengan programnya hari itu. Langkah berikutnya adalah pergi ke apartemen suami-istri Dacres. Gedung apartemen itu sebuah bangunan baru yang mahal. Jendelajendelanya kelihatan mewah dan penjagapenjaga pintunya memakai seragam seperti jenderal-jenderal asing. Egg tidak memasuki gedung itu. Ia berjalan mondar-mandir di seberang jalan. Setelah kurang-lebih satu jam, ia menghitung langkahnya sudah mencapai beberapa mil. Saat itu pukul setengah enam. Sebuah taksi melaju dan berhenti di depan apartemen itu. Kapten Dacres keluar dari dalamnya. Egg memberi waktu

tiga menit, lalu ia menyeberang jalan dan masuk ke gedung itu. Ia memijat bel pintu nomor tiga. Kapten Dacres sendiri yang membukakan pintu. Ia kelihatan sedang akan melepas mantel luarnya. "Oh," kata Egg. "Apa kabar? Anda masih ingat saya, kan? Kita pernah bertemu di Cornwall, dan bertemu lagi di Yorkshire." "Ya... ya. Di dua tempat yang terjadi kematian, kan? Silakan masuk, Miss Lytton Gore." "Saya ingin bertemu dengan istri Anda. Bisa?" "Dia masih di Bruton Street, di tokonya." "Ya, saya tahu. Saya tadi ke sana. Saya pikir dia sudah pulang, dan barangkali tidak keberatan kalau saya datangi. Tapi jangan-jangan kedatangan saya akan mengganggunya." Egg diam, mencoba menarik perhatian. Freddie Dacres berkata pada dirinya sendiri, "Gadis manis. Sangat manis." Lalu ia berkata,

"Cynthia tak akan pulang sampai jam enam lebih. Saya baru datang dari Newbury. Menjengkelkan. Saya sedang sial dan cepat-cepat pergi. Kita tunggu saja di klub. Minum-minum dulu." Egg menerima undangan itu, walaupun ia menduga Dacres kelihatannya sudah minum beberapa gelas alkohol sebelumnya. Egg duduk di keremangan tempat minum. Sambil mencicipi Martini, ia berkata, "Menyenangkan juga tempat ini. Saya belum pernah kemari." Freddie Dacres tersenyum ramah. Ia suka gadis-gadis muda dan cantik. Barangkali tidak sesuka hal-hal tertentu lainnya, tapi cukup menyukai hal itu. "Saat-saat yang membingungkan, ya?" katanya. "Maksud saya, di Yorkshire itu. Aneh juga, ya. Seorang dokter diracun. Mengerti maksud saya? Rasanya terbalik, begitu. Dokter kan orang yang meracuni orang lain."

Ia tertawa terkekeh-kekeh, menertawakan leluconnya sendiri, lalu memesan segelas pink gin lagi. "Anda bisa saja," kata Egg. "Saya tak pernah berpikir begitu." "Ah, cuma bercanda," kata Freddie Dacres. "Aneh juga, ya," kata Egg. "Tiap kali kita bertemu, ada kematian." "Ya, memang," kata Kapten Dacres. "Maksud Anda kematian pendeta tua itusiapa namanya-di rumah aktor terkenal itu?" "Ya. Aneh juga caranya meninggal. Begitu mendadak." "Ya. Membuat kacau saja," kata Dacres. "Membuat kitajadi senewen. Orang-orang muncul di mana-mana, dan kita jadi berpikir, 'Giliranku berikutnya.' Huh. Kita jadi merinding." "Anda pernah kenal Mr. Babbington, kan? Di Gilling?"

"Tak pernah ke tempat itu. Tidak. Tak pernah ketemu bapak tua itu. Lucu juga. Dia meninggal seperti si Strange itu. Aneh. Bukan karena dikerjai orang juga, kan?" "Hm. Apa pendapat Anda?" Dacres menggelengkan kepalanya. "Pasti tidak," katanya pasti. "Tak ada orang membunuh pendeta. Kalau dokter lain." "Ya, dokter memang lain," kata Egg. "Tentu saja. Masuk akal. Dokter itu setansetan yang suka campur tangan." Ia menelan sedikit kata-katanya, lalu mencondongkan badannya ke depan. "Tak mau membiarkan orang lain. Tahu maksud saya?" "Tidak," kata Egg. "Mereka meributkan hidup orang lain. Kekuasaannya terlalu besar. Seharusnya dibatasi." "Saya tidak terlalu mengerti maksud Anda." "Nona manis, ini maksud saya. Mereka mengunci hidup orang lain, memenjarakan orang. Mereka jahat. Mengucilkan orang

lain dan menyembunyikan barangbarangnya. Bagaimanapun kita meminta dan memohon, mereka tak akan memberikannya. Sama sekali tak mau tahu penderitaan orang lain. Itu yang namanya dokter." Wajahnya gemetar dan kelihatan menderita. Matanya memandang jauh menerawang. "Neraka... benar-benar neraka! Dan mereka bilang itu penyembuhan! Berpurapura melakukan hal terpuji. Bedebah!" "Apa Sir Bartholomew Strange...," kata Egg hati-hati. Freddie Dacres langsung menyambar, "Sir Bartholomew Strange. Sir Bartholomew sialan. Saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam sanatorium yang amat berharga itu. Kasus-kasus penyakit saraf. Itu kata mereka. Orang ada di dalamnya dan tak bisa keluar. Dan mereka bilang orang-orang itu datang atas

kemauan sendiri. Kemauan sendiri. Hanya karena mereka bisa menguasai orangorang itu pada waktu mereka ketakutan." Ia gemetar sekarang. Mulutnya tiba-tiba melengkung ke bawah. "Saya kalut. Berantakan," katanya dengan nada minta maaf. Ia memanggil pelayan dan menyuruh Egg minum lagi. Ketika gadis itu menolak, ia memesan untuk dirinya sendiri. "Hm. Lebih enak sekarang," katanya sambil menghabiskan isi gelasnya. "Sudah baik sekarang. Urusan brengsek membuat saya gelisah. Saya gelisah. Saya tak boleh membuat Cynthia marah. Dia pesan supaya saya tidak cerita-cerita." Ia mengangguk-anggukkan kepala satu-dua kali. "Tak baik bercerita soal ini pada polisi," katanya. "Mereka akan mengira saya yang menghabisi si Strange. Eh? Anda tahu, kan, pasti ada seseorang yang melakukannya? Salah satu dari kita pasti

telah membunuh dia. Ah, lucu. Yang mana? Siapa? Itu pertanyaannya." "Barangkali Anda tahu?" kata Egg. "Kenapa Anda bilang begitu? Kenapa saya yang tahu?" Ia memandang gadis itu dengan marah dan curiga. "Saya tak tahu apa-apa tentang soal itu. Dan saya tak ingin menjalani perawatan brengsek itu. Apa pun yang dikatakan Cynthia, saya tak akan mau. Dokter itu memang punya rencana-mereka berdua sama-sama punya rencana. Tapi mereka tak akan bisa membodohi saya." Ia menarik badannya. "Saya orang yang kuat, Miss Lytton Gore." "Saya percaya," kata Egg. "O ya, Anda kenal dengan seseorang bernama Mrs. de Rushbridger yang ada di sanatorium?" "Rushbridger? Rushbridger? Rasanya si Strange pernah bicara tentang dia. Soal apa, ya? Ah... apa, ya? Saya lupa." Freddie

Dacres menarik napas dan menggelengkan kepala. "Ingatan saya hilang. Ya, itu dia. Dan saya punya musuh. Banyak musuh. Barangkali mereka sedang mengintai saya sekarang." Ia memandang berkeliling dengan gelisah. Lalu ia mencondongkan badannya ke depan pada Egg. "Apa yang dilakukan wanita itu di kamar saya?" "Wanita mana?" "Wanita berwajah kelinci. Yang menulis drama. Waktu itu esok paginya-setelah kematian itu. Saya baru saja sarapan. Dia keluar dari kamar dan berjalan ke pintu di ujung lorong, masuk ke ruang pelayanpelayan. Aneh, ya? Kenapa dia masuk kamar saya? Apa yang dia kira akan ditemukannya di kamar saya?" Ia mencondongkan badan ke depan dengan sungguh-sungguh. "Atau, menurut Anda, apa yang dikatakan Cynthia memang benar?" "Apa yang dikatakan Mrs. Dacres?"

"Dia bilang saya cuma mengada-ada. Itu katanya." Ia tertawa tak yakin. "Saya memang kadang-kadang suka 'melihat'. Tikus berwarna merah muda, ularsemacam itulah. Tapi melihat wanita kan lain. Saya memang melihat wanita itu. Orang aneh-wanita itu. Matanya menakutkan. Menembus tajam sampai ke dalam." Ia menyandarkan diri di punggung kursi yang empuk. Kelihatannya ia mulai tertidur. Egg berdiri. "Saya harus pergi. Terima kasih, Kapten Dacres." "Jangan berterima kasih. Saya senangsangat senang." Suaranya melemah. "Sebaiknya aku pergi sebelum dia benarbenar tertidur," pikir Egg. Ia keluar dari keremangan ruangan yang penuh asap rokok itu, ke udara malam yang sejuk.

Beatrice, si pelayan, berkata bahwa Miss Wills suka menyelidik dan mengintip. Sekarang ada cerita begini dari mulut Freddie Dacres. Apa yang dicari Miss Wills? Apa yang ia temukan? Mungkinkah Miss Wills tahu sesuatu? Apakah ada sesuatu pada kasus Sir Bartholomew Strange yang agak membingungkan ini? Apa Freddie Dacres diam-diam takut dan membencinya? Kelihatannya mungkin. Tapi dalam hal ini tak ada rasa bersalah karena kasus Babbington. "Aneh rasanya kalau dia tidak mati terbunuh," kata Egg pada dirinya sendiri. Lalu ia menarik napas tertahan ketika matanya membaca kata-kata ini dari koran tak jauh dari situ: HASIL PENGGALIAN KASUS DI CORNWALL. Cepat-cepat ia merogoh uang dan membeli koran itu. Tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita yang kebetulan melakukan

hal yang sama. Ketika Egg minta maaf, barulah ia sadar bahwa wanita itu sekretaris Sir Charles, Miss Milray yang efisien. Mereka berdiri berjajar dan membaca. Ya, berita itu ada di sana. HASIL PENGGALIAN DI CORNWALL. Kata-kata itu menari di depan mata Egg. Analisis atas organ-organ tubuh... nikotin... "Jadi, dia dibunuh," kata Egg. "Ya ampun," kata Miss Milray. "Ini mengerikan... mengerikan." Wajahnya yang kurang menarik itu tambah tidak menarik karena emosinya. Egg memandangnya heran. Ia selalu menganggap Miss Milray kurang manusiawi. "Membuat saya sedih," Miss Milray menjelaskan. "Saya sudah lama mengenalnya." "Mr. Babbington?"

"Ya. Ibu saya tinggal di Gilling, dulu dia pendeta di sana. Sangat menyedihkan." "Ya, tentu saja." "Tapi persoalannya," kata sekretaris Sir Charles, "saya tak tahu harus berbuat apa." Mukanya merah ketika Egg memandangnya dengan heran. "Saya akan menulis ke Mrs. Babbington," katanya cepat. "Tapi rasanya tidak... hm... saya tak tahu mau apa." Bagi Egg, penjelasan itu tidak memuaskan.

BAB XX

"SEBENARNYA Anda ini kawan atau lawan?" Miss Sutcliffe memandang dengan mata mencemooh sambil bicara. Ia duduk di

sebuah kursi berpunggung lurus. Rambut abu-abunya tersisir rapi dan amat pantas untuknya, kakinya menyilang. Mr. Satterthwaite mengagumi kakinya yang indah dan pergelangan kakinya yang ramping. Miss Sutcliffe memang wanita yang sangat menarik, karena tak pernah benar-benar serius. "Apa itu adil?" tanya Mr. Satterthwaite. "Ah, tentu saja adil. Anda datang ke sini untuk mengagumi mata saya yang indah, seperti kata orang Prancis itu, atau sebagai laki-laki jahat yang ingin memompa informasi dari saya tentang pembunuhan-pembunuhan?" "Apa Anda ragu-ragu bahwa alternatif Anda yang pertama yang benar?" tanya Mr. Satterthwaite sambil sedikit membungkukkan badan. "Bisa saja. Anda tipe orang yang kelihatannya halus, tapi bergelimang

darah," kata sang aktris penuh emosi. "Tidak, tidak." "Ya, ya. Yang masih saya ragukan ialah, kalau seseorang dianggap sebagai pembunuh potensial, ini merupakan hinaan atau pujian? Tapi secara keseluruhan, ini suatu pujian." Ia memiringkan kepalanya sedikit dan melepas senyumnya yang amat menawan. Mr. Satterthwaite berpikir, "Makhluk yang menggemaskan." Ia berkata, "Terus terang, Miss, kematian Sir Bartholomew Strange sangat menarik perhatian saya. Barangkali Anda tahu saya pernah mencoba melibatkan diri dalam urusan seperti itu." Ia diam sejenak, barangkali berharap Miss Sutcliffe tahu sedikit tentang kegiatannya. Tapi wanita itu hanya bertanya,

"Saya ingin tahu, apa benar yang dikatakan gadis itu?" "Gadis mana dan apa yang dia katakan?" "Si Lytton Gore itu. Yang sangat terpesona pada Charles. Kasihan si Charles, dia akan melakukannya. Gadis itu mengira lelaki tua di Cornwall itu juga mati terbunuh." "Apa pendapat Anda sendiri?" "Ya, memang kejadiannya sama. Gadis itu cerdas. Oh ya, apa Charles serius?" "Saya kira pendapat Anda tentang soal itu lebih berarti daripada pendapat saya," kata Mr. Satterthwaite. "Anda menjengkelkan dan suka berahasia!" seru Miss Sutcliffe. "Sekarang saya"-ia menarik napas-"benar-benar blak-blakan." Miss Sutcliffe mengerling tajam pada Mr. Satterthwaite. "Saya kenal Charles dengan baik. Saya kenal baik bagaimana laki-laki itu. Kelihatannya dia menunjukkan keinginan

untuk hidup tenang. Dia kelihatan tidak main-main. Dia akan hidup seperti laki-laki biasa. Hm, laki-laki begitu rasanya menjemukan. Tak ada daya tariknya lagi." "Saya justru heran, kenapa Sir Charles belum menikah juga." "Dia memang tak pernah menunjukkan keinginan untuk menikah. Dia bukan tipe seorang suami. Tapi dia laki-laki yang amat menarik." Ia menarik napas panjang. Ada kilatan pada matanya ketika ia memandang Mr. Satterthwaite. "Dia dan saya pernah... hm... apa gunanya menyangkal hal yang telah diketahui orang? Sangat menyenangkan ketika hal itu masih berlangsung. Tapi kami masih tetap teman baik. Saya rasa itu yang menyebabkan si Lytton Gore itu memandang saya dengan garang. Dia curiga saya masih punya perasaan pada Charles. Apa benar? Barangkali ya. Tapi saya belum menuliskan memori saya secara detail seperti teman-

teman saya lainnya. Gadis-gadis modern gampang terkejut. Ibunya pasti tidak. Orang tak akan bisa mengejutkan wanita Zaman Victoria. Mereka tak banyak bicara, tapi selalu memikirkan kemungkinan yang paling jelek." Mr. Satterthwaite hanya berkata, "Saya rasa kecurigaan Anda benar-Egg Lytton Gore keliru menafsirkan sikap Anda." Miss Sutcliffe merengut. "Saya sendiri tak yakin saya tidak cemburu padanya. Kami, kaum wanita, memang seperti kucing. Berkelahi melulu... krk... krk... meong-meong." Ia tertawa. "Kenapa Charles tidak datang dan menasihati saya tentang soal ini? Karena terlalu baik barangkali. Dia pasti mengira saya yang bersalah. Apa saya bersalah? Apa pendapat Anda?" Ia berdiri dan mengulurkan satu tangannya.

"Semua wewangian Arab tak akan mengharumkan tangan kecil ini. " Ia terdiam, lalu tiba-tiba berkata, "Bukan. Saya bukan Lady Macbeth. Bagian saya adalah komedi." "Kelihatannya juga tak ada motif," kata Mr. Satterthwaite. "Benar. Saya suka Bartholomew Strange. Kami berteman. Dan tak ada alasan bagi saya untuk menyingkirkan dia. Karena kami teman, saya ingin berperan aktif memburu si pembunuh. Tolong beritahu saya, apa yang bisa saya lakukan." "Begini, Miss Sutcliffe, barangkali Anda melihat atau mendengar sesuatu yang ada hubungannya dengan kriminalitas itu." "Semua sudah saya ceritakan pada polisi. Tamu-tamu baru saja datang waktu itu. Kematiannya terjadi pada malam pertama." "Kepala pelayan?" "Saya tidak memperhatikan dia." "Ada sikap aneh dari salah seorang tamu?"

"Tidak. Cuma anak itu-siapa?-Manders. Dia muncul begitu mendadak." "Apa Sir Bartholomew kelihatan terkejut?" "Ya, saya kira begitu. Dia berkata pada saya sebelum kami makan malam. 'Kejadian itu aneh-cara baru merusak pagar,' begitu katanya. 'Tapi,' lanjutnya, 'yang dia rusak tembok saya, bukan pagar saya.'" "Sir Bartholomew kelihatan riang?" "Dia amat gembira!" "Bagaimana dengan lorong rahasia yang Anda ceritakan pada polisi itu?" "Kelihatannya berawal dari perpustakaan. Sir Bartholomew berjanji akan menunjukkannya pada saya. Tapi dia keburu meninggal." "Bagaimana dia bisa bicara sampai ke soal itu?" "Kami ngobrol tentang lemari yang baru dibelinya. Saya bertanya, apa ada laci rahasianya. Saya cerita saya suka laci

rahasia. Suka sekali. Dia bilang tidak ada, dia tak punya laci rahasia di rumah itu." "Sir Bartholomew tak pernah menyebutnyebut seorang pasiennya-Mrs. de Rushbridger?" "Tidak." "Anda kenal tempat bernama Gilling?" "Gilling? Gilling? Ah, rasanya tidak. Kenapa?" "Ya... Anda pernah bertemu Mr. Babbington sebelumnya, kan?" "Siapa dia?" "Orang yang meninggal di Crow's Nest." "Oh, Pak Pendeta. Saya sudah lupa namanya. Tidak, saya tak pernah bertemu dia sebelumnya. Siapa yang mengatakan pada Anda saya sudah kenal dia?" "Seseorang yang seharusnya tahu," kata Mr. Satterthwaite blak-blakan. Miss Sutcliffe kelihatan senang. "Pak tua itu. Apa mereka pikir saya punya affair dengannya? Saya harus meluruskan

soal ini. Saya tak pernah melihat dia sebelumnya." Mr. Satterthwaite mau tak mau harus puas dengan pernyataan itu.

BAB XXI

FIVE UPPER CATHCART ROAD, Tooting, kelihatannya kurang pantas sebagai rumah seorang penulis drama satire. Tembok di ruangan tempat Sir Charles menunggu kelihatan kotor, berwarna kecokelatan dengan gambar pohon berbunga kuning di bagian atasnya. Gordennya dari beludru merah, dan banyak foto serta hiasan keramik berbentuk anjing. Telepon yang ada di situ terlindung hiasan boneka bergaun lebar. Di situ banyak meja kecil

dan hiasan-hiasan tembaga berbentuk aneh dari Birmingham, dan dijual sebagai barang kerajinan dari Timur Jauh. Miss Wills masuk ke dalam ruangan tanpa suara, sehingga Sir Charles, yang sedang terpaku melihat boneka panjang yang berbaring di sofa, tidak mendengarnya. Suaranya yang tipis berkata, "Apa kabar, Sir Charles? Wah, ini benar-benar luar biasa." Sir Charles menoleh. Miss Wills mengenakan rok lembut dan mantel yang menggantung di tubuhnya yang tidak luwes. Kaus kakinya agak kusut dan sandalnya bertumit tinggi, terbuat dari kulit. Sir Charles menyalaminya, menerima uluran rokok, dan duduk di sofa dekat boneka panjang itu. Miss Wills duduk di depannya. Cahaya yang masuk lewat jendela dipantulkan kacamatanya yang tak bergagang.

"Aneh rasanya Anda datang kemari," kata Miss Wills. "Ibu saya pasti senang. Dia suka melihat teater, terutama kalau cerita-ceritanya romantis. Dia sering berbicara tentang drama di mana Anda bermain sebagai pangeran, di universitas. Dia pergi melihat pertunjukan siang dan makan cokelat-itu hobinya. Dia sangat menyukainya." "Ah, menyenangkan sekali," kata Sir Charles. "Barangkali Anda belum pernah mengalami bagaimana rasanya masih diingat orang. Ingatan publik biasanya tidak lama." Sir Charles menarik napas panjang. "Dia pasti senang bertemu dengan Anda," kata Miss Wills. "Miss Sutcliffe pernah kemari, dan dia senang sekali bertemu dengannya." "Angela ke sini?" "Ya. Dia akan memainkan drama saya. Anjing Kecil Tertawa. "

"Ah, ya," kata Sir Charles. "Saya sudah baca. Judulnya membuat orang penasaran." "Syukurlah Anda suka. Miss Sutcliffe juga suka. Itu sebuah versi modern dari nyanyian anak-anak-banyak embelembelnya dan tak masuk akal-skandal hey diddle-diddle. Tentu saja semuanya berpusat pada peran yang dimainkan Miss Sutcliffe-semua menari mengitarinya, itu saja." Sir Charles berkata, "Lumayan. Dunia saat ini memang dalam kondisi seperti yang digambarkan lagu anak-anak yang gila. 'Si anjing kecil tertawa melihatnya,' eh?" Dan tiba-tiba ia berpikir, "Tentu saja. Wanita inilah anjing kecil itu. Dia melihat dan tertawa." Cahaya itu beralih dari kacamata Miss Wills. Sir Charles melihat mata biru pucat itu menembusnya dengan tajam. "Wanita

ini punya rasa humor yang kejam," pikir Sir Charles. Ia berkata, "Apa kira-kira Anda tahu kenapa saya datang kemari?" "Hm, saya kira bukan sekadar menjenguk saya," katanya nakal. Sir Charles membandingkan sejenak perbedaan antara kata-kata yang ditulis dan diucapkan. Di kertas, Miss Wills kelihatan cerdas dan sinis; di dalam ucapan ia kedengaran nakal dan tak berdosa. "Sebenarnya Satterthwaite yang mulai," kata Sir Charles. "Dia menganggap dirinya ahli pengamat kepribadian manusia." "Dia memang punya pandangan luas dan tajam tentang manusia," kata Miss Wills. "Saya kira itu memang hobinya." "Dan dia sangat yakin kalau ada sesuatu yang penting untuk diketahui waktu di Melfort Abbey itu, Anda pasti tahu." "Itu yang dia katakan?" "Ya."

"Terus terang, saya memang tertarik," kata Miss Wills pelan. "Karena sebelumnya saya tak pernah mengalami berada di tempat pembunuhan dan begitu dekat. Seorang penulis harus merekam semuanya, kan?" "Saya rasa itu dalil yang amat terkenal." "Jadi, tentu saja saya memperhatikan sebisa saya." Ini rupanya yang dikatakan Beatrice, Miss Wills suka menyelidik dan mengintip. "Tentang tamu?" "Tentang tamu-tamu." "Dan apa yang Anda perhatikan?" Kacamata itu bergeser. "Sebenarnya saya tak menemukan apa-apa. Kalau ada, pasti saya beritahukan pada polisi," katanya. "Tapi Anda memperhatikan banyak hal." "Saya memang begitu. Memperhatikan macam-macam. Lucu juga, ya?" Ia tertawa. "Dan Anda memperhatikan-apa?"

"Oh, tak ada apa-apa. Maksud saya, tak ada yang bisa dianggap penting. Hanya beberapa sikap aneh manusia. Saya pikir, orang itu menarik. Masing-masing sangat khas." "Khas dalam hal apa?" "Khas karena kepribadiannya sendiri. Oh, saya tak bisa menjelaskannya. Saya sulit bicara." Ia tertawa lagi. "Pena Anda lebih berbahaya dari lidah Anda," kata Sir Charles sambil tersenyum. "Terima kasih, Sir Charles." "Ya. Dengan pena di tangan, Anda bisa bersikap tanpa ampun." "Anda jahat, Sir Charles. Saya kira Andalah yang tak kenal ampun pada saya." "Aku harus keluar dari hubungan ini," pikir Sir Charles. Ia berkata, "Jadi, Anda tidak menemukan sesuatu yang konkret, Miss Wills?" "Tidak, tidak. Setidaknya ada satu hal. Sesuatu yang saya lihat dan seharusnya saya laporkan pada polisi, tapi saya lupa."

"Apa itu?" "Kepala pelayan. Di pergelangan tangan kirinya ada semacam tanda, seperti kena strawberry. Saya melihatnya ketika dia menyodorkan sayuran. Saya rasa itu bisa dianggap penting." "Pasti sangat penting. Polisi sedang bekerja keras melacak si Ellis. Ah, Anda benar-benar luar biasa, Miss Wills. Tak ada seorang tamu pun atau seorang pelayan pun yang menyebut-nyebut hal itu." "Biasanya orang tidak menggunakan mata mereka dengan baik, kan?" kata Miss Wills. "Di mana tepatnya tanda itu? Dan seberapa besarnya?" "Coba Anda ulurkan pergelangan Anda." Sir Charles mengulurkan tangannya. "Terima kasih. Di sini letaknya." Miss Wills menunjukkan jarinya dengan yakin.

"Besarnya kira-kira seperti sekeping uang penny, dan bentuknya seperti Australia." "Terima kasih. Itu sangat jelas," kata Sir Charles sambil menarik tangannya dan menutup kancing lengan bajunya. "Apa saya perlu memberitahu polisi?" "Tentu saja. Itu mungkin hal yang paling penting untuk melacak si pembunuh," kata Sir Charles sungguh-sungguh. "Di bukubuku detektif biasanya ada tanda-tanda khusus untuk mengidentifikasi penjahat. Tapi dalam kenyataan kok sulit, ya?" "Dalam cerita-cerita, tandanya biasanya bekas luka," kata Miss Wills. "Tanda yang dibawa sejak lahir juga bagus," kata Sir Charles. Ia kelihatan gembira. "Persoalannya adalah," katanya melanjutkan, "orang biasanya tak bisa dipastikan. Tak ada patokannya." Miss Wills memandangnya dengan wajah bertanya.

"Misalnya Mr. Babbington," lanjut Sir Charles. "Kepribadiannya meragukan. Sulit dipastikan." "Tangannya sangat khas," kata Miss Wills. "Saya sebut saja tangan orang terpelajar. Sedikit cacat karena rematik, tapi jari dan kukunya bagus." "Ah, Anda benar-benar pengamat yang luar biasa. Tapi... tentu saja. Anda sudah kenal dia sebelumnya, kan?" "Kenal Mr. Babbington?" "Ya. Saya ingat dia bilang begitu. Di mana ya, dia pernah kenal Anda?" Miss Wills menggelengkan kepalanya dengan pasti. "Bukan saya. Anda pasti keliru. Saya belum pernah melihat dia sebelum itu." "Ya, pasti suatu kekeliruan. Kalau tak salah di Gilling." Ia memandang Miss Wills dengan tajam, tapi wanita itu kelihatan tenang-tenang saja. "Tidak," katanya. "Anda pernah berpikir ada kemungkinan dia juga dibunuh?"

"Saya tahu Anda dan Miss Lytton Gore berpikir begitu-atau setidaknya Anda yang berpikir begitu." "Oh... dan... eh... apa pendapat Anda?" "Rasanya tak mungkin," kata Miss Wills. Sir Charles bingung karena Miss Wills jelas tak berminat pada pembicaraan itu. Ia membelokkan percakapan. "Apa Sir Bartholomew pernah menyebut-nyebut nama Mrs. de Rushbridger?" "Rasanya tidak." "Dia salah seorang pasien di sanatorium. Menderita tekanan mental dan kehilangan ingatan." "Dia pernah menyebut suatu kasus tentang kehilangan ingatan," kata Miss Wills. "Dia bilang, Anda bisa menghipnotis orang dan mengembalikan ingatan yang hilang itu." "Benarkah? Apa itu punya arti?" Sir Charles mengernyitkan kening, berpikir. Miss Wills diam saja. "Tak ada lagi yang bisa Anda ceritakan? Tentang

tamu-tamu itu?" Sir Charles merasa Miss Wills perlu berpikir sejenak sebelum menjawab. "Tidak." "Tentang Mrs. Dacres? Atau Kapten Dacres? Atau Miss Sutcliffe? Atau Mr. Manders?" Ia memperhatikan wanita itu baik-baik ketika menyebut nama-nama itu satu per satu. Ia merasa mata wanita itu berkejap sekali, tapi ia tidak terlalu yakin. "Rasanya tak ada lagi yang bisa saya ceritakan, Sir Charles." "Oh, baiklah." Ia berdiri. "Satterthwaite pasti kecewa." "Sayang sekali," kata Miss Wills dengan tegas. "Maaf. Saya telah mengganggu Anda. Pasti Anda sedang sibuk menulis." "Memang benar." "Sebuah drama?" "Ya. Terus terang saya berpikir untuk memakai beberapa karakter yang ada di pesta di Melfort Abbey itu." "Apa itu bukan fitnah?"

"Jangan khawatir, Sir Charles. Orang biasanya tidak mengenal diri mereka sendiri." Ia tertawa. "Apabila-seperti yang Anda katakan tadi-orang itu jahat." "Maksud Anda, kita semua mempunyai ide yang berlebihan tentang kepribadian masing-masing dan tidak akan mengenali kepribadian sebenarnya apabila digambarkan secara cukup brutal? Kalau begitu, saya benar rupanya. Anda wanita jahat." Miss Wills tertawa. "Anda tak perlu takut, Sir Charles. Wanita biasanya tidak jahat pada lakilaki, kecuali pada laki-laki tertentu. Mereka hanya jahat pada wanita lain." "Anda rupanya sudah memakai pisau analisis Anda untuk membedah seorang wanita. Yang mana? Ah, barangkali saya bisa menebak. Cynthia bukanlah orang yang dicintai sesama jenisnya."

Miss Wills tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum. Senyum seekor kucing. "Anda biasanya mendiktekan atau menulis sendiri naskah Anda?" "Oh, saya menulisnya, lalu mengirimnya untuk diketik." "Seharusnya Anda punya sekretaris." "Barangkali. Apa Anda masih mempekerjakan Miss... Miss Milray yang pandai itu?" "Ya, masih. Dia pergi sebentar untuk menjenguk ibunya di desa, tapi sekarang sudah kembali. Wanita yang sangat efisien." "Ya, saya kira begitu. Dan agak impulsif." "Impulsif? Miss Milray?" Sir Charles memandang heran. Tak pernah terlintas di benaknya untuk mengasosiasikan impuls dengan Miss Milray,

"Barangkali kadang-kadang saja," kata Miss Wills. Sir Charles menggelengkan kepalanya. "Miss Milray robot yang sempurna. Sampai ketemu lagi, Miss Wills. Maaf saya telah mengganggu Anda. Jangan lupa memberitahu polisi tentang tanda itu." "Tanda di pergelangan tangan kanan kepala pelayan minum? Tidak, saya takkan lupa." "Sampai ketemu. Sebentar! Anda bilang tangan kanannya Tadi Anda bilang tangan kirinya.. " "Masa? Ah, saya memang tolol." "Yang mana yang benar?" Miss Wills mengernyitkan dahi dan setengah menutup matanya. "Sebentar. Saya duduk begitu... dan dia... Anda tidak keberatan memberikan piring tembaga itu, Sir Charles? Pura-pura itu piring sayuran. Sebelah kiri." Sir Charles memberikan piring itu seperti diminta. "Kubis, Madam?"

"Terima kasih," kata Miss Wills. "Saya yakin sekarang. Tangan kirinya, seperti saya katakan mula-mula. Tolol amat saya." "Tidak, tidak," kata Sir Charles. "Kanan dan kiri memang selalu membingungkan." Ia pamit untuk ketiga kalinya. Ketika menutup pintu, ia menoleh ke belakang. Miss Wills tidak melihatnya. Wanita itu berdiri di tempat ia meninggalkannya tadi. Matanya menerawang ke perapian dan bibirnya menyunggingkan senyum puas penuh dengki. Sir Charles terkejut. "Dia tahu sesuatu," katanya pada dirinya sendiri. "Dia pasti tahu sesuatu. Dan dia tak mau mengatakannya-tapi apa yang dia ketahui?"

BAB XXII

DI KANTOR Messrs. Speir & Ross, Mr. Satterthwaite mengatakan ingin bertemu dengan Mr. Oliver Manders dan memberikan kartu namanya. Ia dibawa masuk ke sebuah ruangan kecil. Oliver sedang duduk di belakang meja tulis. Pemuda itu berdiri dan mengulurkan tangan menyalaminya. "Anda baik sekali mau menengok saya," katanya. Nada suaranya menyatakan, "Saya harus mengatakan itu, walaupun sebenarnya saya bosan." Tapi Mr. Satterthwaite tak mudah dipatahkan. Ia duduk, bersin dengan sengaja, dan mengintip dari atas saputangannya sambil berkata, "Baca cerita tadi pagi?" "Maksud Anda berita situasi keuangan yang baru? Hm, dolar..." "Bukan dolar," kata Mr. Satterthwaite. "Kematian. Hasil penggalian di Loomouth.

Babbington ternyata diracun. Dengan nikotin." "Oh, itu. Ya. Saya membacanya. Dan Egg yang energik itu pasti senang. Dia selalu ngotot itu kasus pembunuhan." "Anda tidak tertarik?" "Selera saya tidak kasar. Dan pembunuhan..." Ia mengangkat bahunya. "Begitu keras dan tidak artistik." "Tidak selalu tidak artistik," kata Mr. Satterthwaite. "Tidak? Yah, barangkali memang tidak." "Itu tergantung siapa yang melakukan pembunuhan. Anda misalnya-saya yakinakan melakukannya secara artistik." "Terima kasih, Anda baik sekali," geram Oliver. "Tapi terus terang saja, Nak, saya tidak terlalu terkesan dengan kecelakaan yang Anda buat. Saya kira polisi pun berpendapat sama."

Mereka diam sesaat, lalu terdengar suara pena jatuh ke lantai. Oliver berkata, "Maaf. Saya tidak mengerti." "Ah, pertunjukan Anda yang tidak artistik di Melfort Abbey itu. Saya cuma ingin tahu, kenapa Anda melakukan itu." Mereka diam lagi. Lalu Oliver berkata, "Anda bilang polisi curiga?" Mr. Satterthwaite mengangguk. "Kelihatannya agak mencurigakan, kan?" katanya manis. "Tapi barangkali Anda punya penjelasan yang baik." "Saya punya penjelasan," kata Oliver pelan. "Saya tak tahu penjelasan itu baik atau tidak." "Boleh saya menilainya?" Hening sejenak, lalu Oliver berkata, "Saya ke sana dengan cara begitu atas permintaan Sir Bartholomew sendiri." "Apa?" Mr. Satterthwaite heran.

"Aneh, kan? Tapi itulah yang sebenarnya. Saya menerima surat darinya, dengan saran agar saya membuat kecelakaan dan minta bantuan. Dia bilang tak bisa menerangkan alasannya secara tertulis, tapi akan memberitahu saya pada kesempatan pertama." "Dan dia sudah memberitahu?" "Belum. Saya sampai di sana tepat sebelum makan malam. Dia tidak sendirian. Selesai makan malam dia... dia meninggal." Keletihan tidak lagi terlihat pada sikap Oliver. Matanya yang hitam memandang tajam pada Mr. Satterthwaite. Kelihatannya ia ingin mengetahui reaksi yang ditimbulkan kata-katanya. "Surat itu masih ada?" "Tidak. Sudah saya robekrobek." "Sayang," kata Mr. Satterthwaite datar. "Dan Anda tidak mengatakan apa-apa pada polisi?" "Tidak. Semuanya kelihatan... hm, agak fantastis." "Memang fantastis."

Mr. Satterthwaite menggelengkan kepalanya. Mungkinkah Bartholomew Strange menulis surat seperti itu? Rasanya aneh. Cerita itu punya sentuhan melodramatis yang bertolak belakang dengan sifat dokter itu yang periang dan berakal sehat. Ia memandang pemuda itu. Oliver masih memandanginya, Mr. Satterthwaite berpikir, "Dia ingin tahu, apa aku percaya pada ceritanya." Ia berkata, "Dan Sir Bartholomew tidak menyebutkan alasan permintaannya?" "Sama sekali tidak." "Cerita yang luar biasa." Oliver tidak berkata apa-apa. "Tapi Anda mau memenuhi permintaan itu?" Sikapnya yang lama, seperti orang letih, muncul kembali. "Ya, kelihatannya aneh. Terus terang saja, saya jadi ingin tahu."

"Ada yang lainnya?" tanya Mr. Satterthwaite. "Apa maksud Anda-yang lainnya?" Mr. Satterthwaite sendiri tidak tahu betul apa yang dimaksudnya. Ia hanya bicara secara spontan. "Maksud saya," katanya, "apa ada hal lain yang memberatkan Anda?" Mereka diam. Lalu pemuda itu mengangkat bahu. "Sebaiknya saya ceritakan semua saja. Wanita itu pasti tak akan bisa menahan lidahnya." Mr. Satterthwaite memandang dengan wajah bertanya. "Itu pada pagi hari setelah terjadi pembunuhan. Saya bicara dengan Anthony Astor. Saya mengeluarkan buku catatan saya dan ada sesuatu yang jatuh dari dalamnya. Dia mengambil benda itu dan mengembalikannya pada saya." "Dan benda itu?" "Sialnya, dia melihatnya sebelum mengembalikannya pada saya. Guntingan

koran tentang nikotin-nikotin itu berbahaya, dan sebagainya." "Bagaimana Anda bisa tertarik pada hal itu?" "Sebetulnya saya tidak tertarik. Barangkali sudah lama saya menyimpan guntingan itu, tapi saya tak ingat. Aneh, ya?" Mr. Satterthwaite berpikir, "Ceritanya tidak meyakinkan." "Saya kira dia menceritakan itu pada polisi," lanjut Oliver Manders. Mr. Satterthwaite menggelengkan kepala. "Saya kira tidak. Kelihatannya dia wanita yang... hm, suka menyimpan untuk dirinya sendiri. Dia mengumpulkan pengetahuan." Tiba-tiba Oliver Manders mencondongkan badannya ke depan. "Saya tidak bersalah, Sir-benar-benar tak bersalah." "Saya belum pernah mengatakan Anda bersalah," kata Mr. Satterthwaite samarsamar.

"Tapi ada orang yang mengatakan begituseseorang pasti telah melakukannya. Dan menceritakannya pada polisi." Mr. Satterthwaite menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak." "Kalau begitu, kenapa Anda datang kemari?" "Sebagian karena hasil penyelidikan saya di sana," kata Mr. Satterthwaite dengan sombong. "Dan sebagian karena saran seorang kawan." "Kawan yang mana?" "Hercule Poirot." "Orang itu!" Pernyataan itu langsung keluar dari mulut Oliver. "Apa dia sudah kembali ke Inggris?" "Ya." "Kenapa dia kembali?" Mr. Satterthwaite berdiri. "Kenapa seekor anjing memburu?" tanyanya. Ia puas dengan kata-kata itu. Lalu keluar.

BAB XXIII

HERCULE POIROT duduk di kursinya yang nyaman di kamar mewah Hotel Ritz. Ia mendengarkan. Egg duduk di tangan sebuah kursi, Sir Charles berdiri di depan perapian, dan Mr. Satterthwaite duduk agak jauh, memperhatikan mereka. "Semua gagal," kata Egg. Poirot menggelengkan kepalanya pelan-pelan. "Tidak, tidak. Anda terlalu membesarbesarkan. Tentang hubungan dengan Mr. Babbington, Anda memang tidak mendapat apa-apa. Tapi Anda telah mengumpulkan informasi lain yang lebih baik." "Miss Wills tahu sesuatu," kata Sir Charles. "Saya berani sumpah." "Kapten Dacres juga tak sadar. Mrs. Dacres sedang memerlukan uang, dan Sir

Bartholomew menutup kemungkinan baginya untuk memperoleh uang itu." "Apa pendapat Anda tentang cerita si Manders?" tanya Mr. Satterthwaite. "Kelihatannya aneh dan sama sekali tidak menunjukkan sikap Sir Bartholomew yang biasanya." "Maksud Anda dia bohong?" kata Sir Charles terus terang. "Ada banyak macam kebohongan," kata Hercule Poirot. Ia diam sesaat, lalu berkata, "Miss Wills-apa dia menulis drama untuk Miss Sutcliffe?" "Ya, malam pertamanya nanti Rabu depan." "Ah!" Ia diam lagi. Egg berkata, "Sekarang, apa yang akan kita lakukan?" Laki-laki kecil itu tersenyum padanya. "Hanya ada satu hal yang perlu dilakukanberpikir."

"Berpikir?" seru Egg. Suaranya terdengar sebal. Poirot memandangnya. "Ya, memang itu. Berpikir! Dengan berpikir, semua persoalan bisa diselesaikan." "Apa kita tak bisa melakukan sesuatu?" "Kegiatan untuk Anda, Mademoiselle? Tentu saja banyak yang bisa Anda lakukan. Misalnya Gilling. Tempat Mr. Babbington tinggal cukup lama. Anda bisa melakukan penyelidikan di sana. Anda bilang ibu Miss Milray tinggal di sana dan menderita cacat. Seorang cacat tahu banyak. Dia banyak mendengar dan tidak akan melupakan sesuatu. Coba Anda tanyai dia. Barangkali Anda akan mendapat sesuatu. Siapa tahu?" "Anda sendiri tak akan melakukan apaapa?" tanya Egg ngotot. Poirot mengedipkan matanya.

"Anda ingin saya juga aktif? Eh bien, saya akan melakukan keinginan Anda. Tapi saya tak akan meninggalkan tempat ini. Di sini nyaman. Tapi akan saya ceritakan apa yang akan saya lakukan. Saya akan membuat pesta. Pesta sherry. Itu populer, kan?" "Pesta sherry?" "Precisement. Dan saya akan mengundang Mrs. Dacres, Kapten Dacres, Miss Sutcliffe, Miss Wills, Mr. Manders, dan ibu Anda yang baik, Mademoiselle." "Dan saya?" "Tentu saja. Kita semua termasuk." "Hore!" seru Egg. "Anda tak bisa mengelabui saya, M. Poirot. Ada sesuatu yang akan terjadi pada pesta itu, kan?" "Lihat saja nanti," kata Poirot. "Tapi jangan terlalu berharap, Mademoiselle. Sekarang saya ingin bicara dengan Sir Charles, sebab saya ingin meminta beberapa nasihat."

Ketika sedang berdiri menunggu lift bersama Mr. Satterthwaite, Egg berkata penuh semangat, "Bagus sekali-seperti di buku-buku detektif. Semua orang akan berkumpul. Kemudian dia akan mengatakan siapa yang melakukannya." "Entahlah," kata Mr. Satterthwaite. Pesta sherry itu diadakan Senin malam. Undangan itu diterima semua orang. Miss Sutcliffe yang menawan dan suka blak-blakan itu tersenyum nakal sambil melihat sekelilingnya. "Ini sarang labah-labah, M. Poirot. Dan kami ini lalat-lalat kecil yang sedang masuk perangkap. Saya yakin Anda akan memberikan ringkasan kasus itu, lalu dengan tiba-tiba Anda akan menunjuk saya dan berkata, 'Engkaulah wanita itu,' dan semua orang akan berkata, 'Dia yang melakukannya,' lalu saya akan mencucurkan air mata dan mengaku

karena saya mudah dipengaruhi kata-kata. Oh, M. Poirot, saya takut pada Anda." "Quelle historie!" seru Poirot. Ia sibuk dengan gelas-gelas dan tempat minuman. Ia memberikan segelas sherry pada Miss Sutcliffe sambil membungkuk padanya. "Ini pesta kecil yang akrab. Janganlah kita bicara tentang pembunuhan, darah, dan racun. La, la! Wah, hal itu merusak selera." Ia memberikan segelas sherry pada Miss Milray yang murung, yang menemani Sir Charles dan berdiri dengan wajah menakutkan. "Voila, " kata Poirot setelah selesai membagi-bagi keramahannya. "Mari kita lupakan kejadian yang menyedihkan ketika kita bertemu pertama kali. Kita sambut pesta dengan semangat. Kita makan, minum, dan bersenang-senang karena besok kita mati. Ah, malheur. Saya sebutsebut kematian lagi. Madam," ia membungkuk pada Mrs. Dacres, "boleh

saya memberi ucapan selamat pada Anda dan gaun Anda yang indah?" "Buat kau, Egg," kata Sir Charles. "Cheerio, " kata Freddie Dacres. Setiap orang menggumamkan sesuatu. Kegembiraan itu kelihatannya dipaksakan. Setiap orang berusaha tampak gembira dan tak peduli. Hanya Poirot sendiri yang kelihatan wajar. Ia berkata dengan riang, "Saya lebih memilih sherry daripada koktail dan ini seribu kali lebih baik dari wiski. Ah, quelle horreur, wiski. Tapi dengan minum wiski kita sebenarnya merusak-sangat merusak-selera. Anggur Prancis yang halus-untuk menikmatinya, Anda tak boleh-Ah, qu'est-ce qu'il ya?" Sebuah suara aneh terdengar, seperti suara orang tersedak. Semua mata memandang Sir Charles karena ia berdiri dengan badan limbung dan wajah pucat. Gelas di tangannya jatuh ke karpet. Ia

melangkah seperti orang buta, lalu pingsan. Mereka diam terpaku. Lalu Angela Sutcliffe berteriak dan Egg berjalan ke depan. "Charles!" seru Egg. "Charles!" Ia berusaha maju mendekat. Dengan lembut Mr. Satterthwaite menahannya. "Oh, Tuhan!" jerit Lady Mary. "Jangan lagi!" Angela Sutcliffe berseru, "Diajuga diracun! Mengerikan! Oh, Tuhan. Ini mengerikan!" Tiba-tiba sambil berguling di sofa ia mulai menangis dan tertawa-suaranya mengerikan. Poirot segera menguasai keadaan. Ia berjongkok di dekat pria yang tak berdaya itu. Yang lain mundur ketika ia memeriksa. Ia berdiri dan menjentikkan debu di lutut celananya. Ia memandang berkeliling pada orang-orang itu. Mereka semua diam, hanya terdengar isak tangis Angela Sutcliffe.

"Kawan saya...," Hercule Poirot mulai bicara. Tapi ia tak bisa melanjutkan karena Egg langsung menyelanya, "Tolol! Anda benar-benar sok tahu dan tolol! Pura-pura jago dan tahu segalanya! Sekarang Anda biarkan ini terjadi! Satu pembunuhan lagi! Di depan hidung Anda sendiri! Kalau semua dibiarkan, pasti tak akan terjadi hal ini! Andalah yang membunuh Charles... Anda... Anda... Anda..." Ia diam, tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Poirot menganggukkan kepalanya dengan sedih. "Benar, Mademoiselle. Saya mengakuinya. Sayalah yang membunuh Sir Charles. Tapi, Mademoiselle, saya pembunuh khusus. Saya bisa membunuh, dan saya bisa menghidupkan." Ia berbalik dan dengan

nada suara berbeda, dengan suara biasa sehari-hari, ia berkata, "Sebuah pertunjukan yang luar biasa, Sir Charles. Selamat untuk kehebatan Anda. Barangkali sekarang Anda bersedia membuka tirai." Sambil tertawa aktor itu meloncat berdiri, lalu membungkuk dengan sikap mencemooh. Egg tersentak. "M. Poirot, Anda... Anda keterlaluan!" "Charles!" jerit Angela Sutcliffe. "Kau memang sialan!" "Tapi kenapa..." "Bagaimana..." "Kok..." Poirot meminta mereka diam dengan mengangkat tangannya. "Messieurs, Mesdames, saya mohon maaf pada Anda semua. Sandiwara ini penting untuk membuktikan pada Anda semua, dan juga pada diri saya sendiri, suatu fakta

yang menurut pemikiran saya memang benar. "Begini. Di nampan gelas-gelas ini saya mencampurkan satu sendok teh air biasa. Air itu pura-pura nikotin murni. Gelasgelas ini sama seperti gelas milik Sir Charles Cartwright dan Sir Bartholomew Strange. Karena bentuknya yang berat, setitik cairan tak berwarna yang dimasukkan ke dalamnya jadi tidak kelihatan. Kemudian bayangkan gelas anggur Sir Bartholomew Strange. Setelah diletakkan di meja, seseorang memasukkan sejumlah nikotin murni ke dalamnya. Itu bisa dilakukan siapa sajakepala pelayan, pelayan yang lain, atau tamu yang menyelinap ke ruang makan ketika dia akan turun ke bawah. Makanan pencuci mulut datang, anggur diedarkan, dan gelas diisi. Sir Bartholomew minum, dan dia meninggal.

"Malam ini kita memainkan tragedi ketigatragedi pura-pura. Saya minta Sir Charles memainkan peran korban. Dan dia telah melakukannya dengan luar biasa. Sekarang, seandainya ini bukan pura-pura, tapi sebenarnya... Sir Charles meninggal. Tindakan apa yang akan dilakukan polisi?" Miss Sutcliffe berteriak, "Tentu saja gelas itu." Ia menganggukkan kepala pada gelas yang tergeletak di lantai, yang jatuh dari tangan Sir Charles. "Anda cuma memberi air. Tapi kalau ada nikotinnya..." "Kita anggap saja itu nikotin." Poirot menyentuh gelas itu pelan-pelan dengan ujung kakinya. "Anda berpendapat polisi akan menganalisis gelas ini dan menemukan bekas nikotin?" "Tentu saja." Poirot menggelengkan kepalanya perlahanlahan. "Anda keliru. Tak akan ada nikotin

di situ." Mereka semua terpana memandangnya. "Begini," ia tersenyum, "itu bukanlah gelas yang tadi dipegang Sir Charles." Dengan senyum minta maaf ia mengeluarkan sebuah gelas dari dalam kantong belakang jasnya yang panjang. "Ini gelas yang dipakainya tadi." Ia melanjutkan, "Ini merupakan teori sederhana tukang sulap. Perhatian tak bisa ada di dua tempat pada waktu yang sama. Untuk main sulap, saya harus mengalihkan perhatian ke tempat lain. Memang ada saat yang bagus. Ketika Sir Charles jatuh dan meninggal, setiap mata memandang kepadanya. Setiap orang mendekat ingin melihatnya. Dan tak seorang pun- sama sekali tak ada-yang memperhatikan Hercule Poirot. Pada saat itulah saya mengganti gelas dan tak seorang pun melihatnya.

"Jadi, saya sudah membuktikan satu hal. Ada satu saat seperti itu di Crow's Nest. Ada saat seperti itu di Melfort Abbey. Karena itu, tak ada apa-apa di gelas koktail maupun di gelas anggur." Egg berteriak, "Siapa yang menggantinya?" Sambil memandangnya, Poirot menjawab, "Itu masih kita cari." "Anda tidak tahu?" Poirot mengangkat bahu. Dengan agak ragu, para tamu membuat isyarat untuk pulang. Sikap mereka agak dingin. Mereka merasa telah dibodohi. Dengan isyarat, Poirot meminta mereka tinggal dulu. "Tunggu sebentar. Ada satu hal lagi yang harus saya katakan. Malam ini, terus terang kita telah memainkan sebuah komedi. Tapi komedi itu bisa menjadi tragedi. Dalam kondisi tertentu, si pembunuh akan melakukan serangan

ketiga. Saya ingin mengimbau pada Anda semua. Kalau ada di antara Anda yang tahu sesuatu-sesuatu yang bisa merupakan informasi berharga mengenai kejahatan ini, saya minta agar bicara sekarang. Kalau Anda menyimpan sesuatu pada kondisi ini, itu bisa membahayakan Anda sendiri. Karena itu, saya minta sekali lagi, agar Anda bicara sebelum terlambat." Sir Charles merasa imbauan Poirot secara khusus ditujukan pada Miss Wills. Kalau memang begitu, pasti tak ada hasilnya. Tak seorang pun menjawab atau bicara. Poirot menarik napas. Tangannya turun. "Baiklah kalau begitu. Saya telah memberi peringatan. Saya tak bisa apa-apa lagi. Ingat, tetap diam berarti terancam bahaya." Tapi masih tak ada orang yang bicara. Tamu-tamu itu pun pulang dengan sikap kaku. Egg, Sir Charles, dan Mr. Satterthwaite tetap tinggal.

Egg masih belum memaafkan Poirot. Ia duduk diam, pipinya merah dan matanya marah. Ia tak mau memandang Sir Charles. "Pekerjaan bagus, Poirot," kata Sir Charles memuji. "Mengagumkan," kata Mr. Satterthwaite geli. "Saya tak akan percaya kalau tidak melihat sendiri bagaimana Anda menukar gelas itu." "Itulah," kata Poirot, "saya tidak mengatakannya pada siapa pun. Eksperimen itu adil, hanya dengan cara begitu." "Apakah itu satu-satunya alasan Anda merencanakan pertunjukan tadiuntuk melihat apa bisa dilakukan tanpa diketahui orang lain?" "Yah, tidak sepenuhnya begitu mungkin. Saya punya tinjauan lain." "Apa?" "Saya ingin melihat ekspresi wajah seseorang ketika Sir Charles jatuh dan

meninggal." "Yang mana?" tanya Egg tajam. "Ah, itu rahasia saya." "Dan Anda memperhatikan wajah orang itu?" tanya Mr. Satterthwaite. "Ya." "Jadi?" Poirot tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala. "Anda tak mau memberitahukan apa yang Anda lihat?" Poirot berkata pelan, "Saya melihat ekspresi orang yang sangat heran." Egg menarik napasnya panjangpanjang. "Maksud Anda, Anda tahu siapa pembunuhnya?" "Bisa Anda katakan begitu, Mademoiselle." "Kalau begitu... kalau begitu... Anda tahu semuanya." Poirot menggelengkan kepala. "Tidak. Bahkan sebaliknya. Saya tidak tahu apa-apa sama sekali. Karena saya tidak tahu mengapa Stephen Babbington dibunuh. Kalau saya tak tahu hal itu, saya tak bisa membuktikan apa-apa. Saya tak

bisa tahu apa-apa. Semua tergantung di situ-motif pembunuhan atas Stephen Babbington." Terdengar suara ketukan di pintu, dan seorang pelayan masuk dengan telegram di atas nampan. Poirot membukanya. Wajahnya berubah. Ia memberikan telegram itu pada Sir Charles. Sambil mengintip lewat bahu Sir Charles, Egg membacanya keras-keras,

CEPAT DATANG STOP. ADA INFORMASI BERHARGA TENTANG KEMATIAN BARTHOLOMEW STRANGE. MARGARET DE RUSHBRIDGER

"Mrs. de Rushbridger!" kata Sir Charles. "Kita benar. Dia memang punya kaitan dengan kasus itu." Dan ia menambahkan,

"Margaret-M. Itu inisial pada buku harian Tollie. Akhirnya ada juga kemajuan."

BAB XXIV

SEBUAH diskusi hangat terjadi. Mereka mengambil buku ABC-buku pedoman perjalanan dengan kereta api- dan memutuskan pergi dengan kereta pagi daripada naik mobil. "Akhirnya," kata Sir Charles, "kita bisa membuka bagian misteri ini." "Apa kirakira misteri itu?" tanya Egg. "Wah, sulit dibayangkan. Tapi pasti akan membantu menerangi kasus Babbington. Kalau Tollie dengan sengaja mengumpulkan orang-orang itu, dan aku yakin memang itu yang dia lakukan, kejutan yang akan

dibuatnya pasti ada hubungannya dengan si Rushbridger itu. Rasanya kita bisa membuat asumsi begitu. Bagaimana, M. Poirot?" Poirot menggelengkan kepala dengan sikap bingung. "Telegram ini membuat kasus ini semakin ruwet," gumamnya. "Tapi kita harus cepatsangat cepat." Mr. Satterthwaite tidak melihat perlunya bertindak cepat, tapi dengan sopan menyetujui. "Ya. Kita pergi dengan kereta api paling pagi. Eh... apa kita semua perlu ke sana?" "Sir Charles dan saya sudah berencana mau ke Gilling," kata Egg. "Itu bisa ditunda," kata Sir Charles. "Saya rasa kita tak boleh menunda apa pun," kata Egg. "Tak perlu kita berempat pergi ke Yorkshire. Itu aneh. Terlalu banyak. M. Poirot dan Mr. Satterthwaite bisa pergi ke Yorkshire, Sir Charles dan saya ke Gilling."

"Rasanya saya ingin membereskan urusan Rushbridger ini," kata Sir Charles dengan prihatin. "Saya sudah pernah... bicara dengan kepala perawat sebelumnya. Sudah kenal-begitu kira-kira." "Justru karena itu sebaiknya Anda menjauh," kata Egg. "Anda sudah terlalu banyak bohong. Dan wanita itu sekarang sudah sadar-akan kelihatan nanti Anda berbohong. Saya kira lebih penting kalau Anda pergi ke Gilling. Kalau kita ingin berkomunikasi dengan ibu Miss Milray, dia akan lebih terbuka pada Anda karena tahu anaknya bekerja pada Anda. Dia akan lebih percaya." Sir Charles memandang wajah Egg yang bersinar penuh kesungguhan. "Aku akan ke Gilling," katanya. "Kau benar." "Saya tahu saya benar," kata Egg. "Pengaturan yang bagus," kata Poirot singkat. "Seperti kata Anda, Sir Charles

orang yang paling tepat untuk menanyai Mrs. Milray. Siapa tahu, Anda barangkali menemukan fakta yang jauh lebih penting daripada kami di Yorkshire." Mereka mempersiapkan diri berdasarkan rencana itu. Paginya Sir Charles menjemput Egg dengan mobil, pada pukul sepuluh kurang seperempat. Poirot dan Mr. Satterthwaite telah meninggalkan London dengan kereta. Pagi itu udara cerah dan dihiasi embun tipis. Egg bersemangat ketika mereka berbelok dan melewati jalan pintas berliku yang ditemukan Sir Charles di selatan Sungai Thames. Akhirnya mereka meluncur dengan mulus di sepanjang Jalan Folkestone. Setelah melewati Maidstone, Sir Charles melihat peta. Mereka keluar dari jalan utama, lalu menyusuri jalan-jalan desa yang berkelokkelok. Mereka tiba di tempat tujuan pukul dua belas kurang seperempat.

Gilling adalah desa yang telah ketinggalan zaman. Di situ ada sebuah gereja tua, sebuah rumah pendeta, dua atau tiga toko, sebaris pondok, tiga atau empat bangunan balai desa, dan sebuah taman yang sangat indah. Ibu Miss Milray tinggal di sebuah rumah mungil di depan taman, di seberang gereja. Ketika mobil berhenti, Egg bertanya, "Apa Miss Milray tahu Anda akan menemui ibunya?" "Oh ya, dia menulis surat ke ibunya supaya siap-siap." "Apa itu baik?" "Kenapa tidak?" "Oh, entah, ya. Tapi Anda tidak mengajaknya." "Wah, dia bisa membuatku kaku. Dia sangat efisien. Jangan-jangan nanti dia yang mendesakku." Egg tertawa.

Mrs. Milray ternyata sama sekali lain dari anaknya. Kalau Miss Milray keras, ibunya lembut; kalau Miss Milray persegi, ia bulat; Mrs. Milray wanita yang amat gemuk, terpaku dengan aman di sebuah kursi di dekat jendela, tempat ia memandang dunia luar dengan leluasa. Ia kelihatan gembira menerima kedatangan tamunya. "Anda baik sekali, Sir Charles. Saya sering mendengar tentang Anda dari Violet." Violet-nama itu sama sekali tidak sesuai untuk Miss Milray. "Anda pasti tak tahu, dia begitu mengagumi Anda. Dia sangat senang bekerja pada Anda. Silakan duduk, Miss Lytton Gore. Maaf. Sudah lama saya tak bisa memakai tungkai saya. Kehendak Tuhan, dan saya tidak mengeluh. Lama-lama jadi biasa juga. Barangkali Anda perlu minuman setelah perjalanan yang cukup jauh?"

Baik Sir Charles maupun Egg menolak tawaran itu. Tapi Mrs. Milray tak peduli. Ia menepukkan tangan dengan cara orang Asia, dan teh serta biskuit pun muncul. Sementara mereka mengunyah biskuit dan meneguk minuman, Sir Charles mengatakan maksud kedatangan mereka. "Saya rasa Anda sudah mendengar, Mrs. Milray, tentang kematian tragis Mr. Babbington yang pernah jadi pendeta di sini?" Wanita gemuk itu menganggukkan kepalanya kuat-kuat. "Ya, tentu. Saya telah membaca tentang penggalian itu dari koran. Dan saya tak bisa membayangkan siapa yang tega meracuninya. Pria yang baik; semua orang di sini menyukainya, juga istrinya. Dan anak-anak mereka." "Ya, ini memang misteri yang luar biasa," kata Sir Charles. "Kami semua ikut sedih. Sebetulnya kami ingin menanyakan pada

Anda, barangkali ada hal-hal yang bisa Anda ceritakan, yang akan membantu memecahkan persoalan ini." "Saya? Tapi saya sudah lama tidak bertemu keluarga Babbington-sebentar. Sudah lima belas tahun lebih." "Memang. Tapi beberapa kawan mengatakan barangkali ada hal-hal tertentu di masa lalu yang berkaitan dengan kematiannya." "Rasanya saya tak tahu apa itu. Mereka hidup tenang. Memang mereka kekurangan, dan anaknya banyak." Mrs. Milray bersedia bercerita. Tapi ceritanya tidak mengungkapkan hal-hal yang mungkin membantu. Sir Charles menunjukkan foto yang memuat gambar suami-istri Dacres, potret lama Angela Sutcliffe, dan sebuah gambar Miss Wills yang digunting dari koran dan kelihatan kabur. Mrs. Milray memperhatikan gambargambar itu dengan penuh minat, tapi tidak

menunjukkan tanda-tanda mengenali mereka. "Rasanya saya tak bisa mengatakan ingat mereka. Memang sudah lama, tapi desa ini kecil. Tak banyak kejadian di sini. Gadisgadis Agnew-anak-anak Pak Doktermereka menikah dan keluar dari desa ini. Dokter yang sekarang masih bujangan. Dia punya partner baru yang masih muda. Lalu ada Miss Cayleys yang sudah tua-duduk di bangku besar. Mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan keluarga Richardson-suaminya meninggal dan istrinya pindah ke Wales-lalu orang-orang desa. Tapi tak banyak perubahan di sini. Saya kira Violet bisa cerita sebanyak saya. Dia masih kecil waktu itu dan sering main ke rumah Pak Pendeta." Sir Charles mencoba membayangkan Miss Violet Milray sewaktu masih kecil, tapi tak bisa.

Ia bertanya pada Mrs. Milray, kalau-kalau ia kenal seseorang bernama Rushbridger. Tapi nama itu tak berarti apa-apa bagi nyonya rumah itu. Akhirnya mereka pergi. Langkah berikutnya adalah makan siang seadanya di toko roti. Sir Charles ingin sekali makan di tempat lain, tapi Egg mengatakan barangkali mereka bisa mendengar gosip setempat di situ. "Anda pasti tak akan sakit kalau sekalisekali makan telur rebus dan roti," katanya tajam. "Laki-laki memang suka cerewet dalam soal makanan." "Aku sedih kalau harus makan telur," kata Sir Charles. Wanita yang melayani mereka cukup komunikatif. Ia juga telah membaca berita penggalian itu di koran, dan terkejut karena menyangkut pendeta yang pernah lama tinggal di desa itu. "Saya masih kecil waktu itu," katanya, "tapi saya

ingat dia." Tapi wanita itu tak bisa banyak bercerita tentang dia. Setelah makan, mereka ke gereja dan melihat-lihat catatan kelahiran, perkawinan, dan kematian. Tapi mereka tidak menemukan sesuatu yang berarti. Mereka keluar ke halaman gereja. Egg membaca nama-nama di batu nisan. "Lihat, aneh-aneh, ya, nama orang-orang di sini," katanya. "Ada Stavepenny, lalu ada Mary Ann Sticklepath." "Itu belum apaapa. Namaku lebih aneh," gumam Sir Charles. "Cartwright? Saya kira itu bukan nama yang aneh." "Bukan Cartwright. Itu kan namaku sebagai aktor, tapi yang akhirnya kupakai secara legal." "Siapa nama Anda sebenarnya?" "Ah, itu rahasia." "Apa begitu jelek?" "Bukan jelek, tapi lucu." "Oh, beritahu dong!"

"Tidak, ah," kata Sir Charles tegas. "Ayo dong." "Tidak." "Kenapa?" "Kau akan tertawa." "Nggak deh." "Kau pasti geli." "Nggak, saya janji. Ayo dong." "Kau memang keras kepala, Egg. Kenapa kau amat ingin tahu?" "Karena Anda tak mau memberitahu." "Ah, kau memang anak kecil yang menggemaskan," kata Sir Charles. "Saya bukan anak kecil." "Bukan? Apa benar?" "Beritahu dong," bisik Egg lembut. Sebuah senyum lucu tersungging di mulut Sir Charles. "Baiklah. Baiklah. Dengar, ya. Ayahku namanya Mugg." "Yang benar?" "Iya. Itu benar."

"Hm," kata Egg. "Sedih juga, ya, kalau hidup sebagai Mugg." "Ya. Pasti tak akan baik untuk karierku. Aku masih ingat," kata Sir Charles sambil merenung, "aku berpikir-pikir- waktu itu aku masih muda-aku berpikir untuk memilih nama Ludovic Castiglione. Tapi akhirnya aku memilih nama Inggris, Charles Cartwright." "Nama Anda memang Charles?" "Ya. Ibu dan bapak baptisku memastikan hal itu." Ia ragu-ragu, lalu berkata, "Kenapa kau tidak panggil aku Charles saja tanpa Sir?" "Barangkali nanti." "Kemarin kau sudah memanggil begitu. Waktu... waktu kau mengira aku mati." "Oh, itu." Egg berusaha membuat suaranya tak peduli. Tiba-tiba ia merasa perlu membelokkan percakapan. Ia cepat-cepat berkata,

"Apa ya, yang dikerjakan Oliver hari ini?" "Manders? Kenapa kau memikirkan dia?" Egg berkata, "Saya sangat suka pada Oliver." Ia senang bisa berkata begitu. Ia melirik Sir Charles. Apa ia cemburu? Ia memang mengernyitkan dahinya. Tiba-tiba Egg menyesal. Kasihan Oliver. Tak seharusnya ia menyebut-nyebutnya seperti itu. Ia berkata, "Udara dingin. Kita berangkat saja sekarang." Ia gemetar ketika bicara. Matahari sudah tenggelam. Ia berpikir, "Aneh juga perasaanku. Seperti ada pertanda." Ia gemetar lagi. "Apa mereka menemukan sesuatu, kirakira?" Sir Charles kelihatan linglung. "Mereka? Siapa?" "Di Yorkshire." "Ah," kata Sir Charles, "hari ini rasanya aku tak peduli."

"Charles, Anda biasanya penuh semangat." Tapi Sir Charles tidak lagi memainkan peran detektif terkenal. "Hm, dulu ini memang pertunjukanku. Tapi sekarang sudah kuberikan pada si Kumis Besar. Ini urusannya." "Apa dia sebenarnya tahu siapa yang melakukan kejahatan itu? Katanya dia tahu." "Barangkali tidak. Tapi dia kan harus mempertahankan reputasi profesinya." Egg diam saja. Sir Charles berkata, "Apa yang kaupikir?" "Miss Milray. Sikapnya begitu aneh malam itu. Saya sudah cerita pada Anda. Dia baru saja membeli koran tentang penggalian itu, dan dia bilang tak tahu harus melakukan apa." "Nonsens," kata Sir Charles dengan gembira. "Dia selalu tahu apa yang harus dilakukan." "Yang benar, Charles. Dia betul-betul khawatir."

"Egg, Sayang. Kenapa aku harus pusing karena kekhawatiran Miss Milray? Tak ada yang perlu kupikirkan kecuali hari ini. Peduli amat dengan pembunuhan itu." Mereka sampai di tempat Sir Charles pada waktu minum teh. Miss Milray keluar menyambut mereka. "Ada telegram untuk Anda, Sir Charles." "Terima kasih, Miss Milray." Ia membuka telegram itu dan berseru, "Egg, lihat ini! Dari Satterthwaite!" Ia menyodorkan telegram itu ke tangan Egg. Gadis itu membaca dan membelalakkan matanya lebar-lebar.

BAB XXV

SEBELUM naik kereta, Hercule Poirot dan Mr. Satterthwaite mewawancarai Miss Lyndon, sekretaris Sir Bartholomew Strange. Miss Lyndon sangat bersedia membantu, tapi tak ada hal penting yang bisa diberikannya pada mereka. Dalam buku kasus Sir Bartholomew, nama Mrs. de Rushbridger hanya disebut dalam kaitannya dengan profesinya. Sir Bartholomew tak pernah menyebutnyebut namanya, kecuali jika berhubungan dengan soal perawatan. Kedua orang itu tiba di sanatorium kirakira pukul dua belas. Pelayan yang membukakan pintu kelihatan gembira. Mr. Satterthwaite menanyakan kepala perawat. "Saya tidak tahu apa dia bisa menemui Anda hari ini," kata gadis itu ragu-ragu. Mr. Satterthwaite mengeluarkan sehelai kartu dan menuliskan sesuatu di situ. "Tolong berikan ini padanya."

Mereka akhirnya duduk di ruang tunggu kecil. Lima menit kemudian pintu terbuka dan kepala perawat itu masuk. Ia tidak kelihatan cekatan seperti biasanya. Mr. Satterthwaite berdiri. "Mudah-mudahan Anda masih ingat saya," katanya. "Saya pernah kemari bersama Sir Charles Cartwright, tak lama setelah kematian Sir Bartholomew Strange." "Ya, tentu, Mr. Satterthwaite. Saya masih ingat. Dan Sir Charles menanyakan Mrs. de Rushbridger waktu itu. Rasanya seperti suatu kebetulan saja." "Ini M. Hercule Poirot." Poirot membungkuk, dan perawat itu membalasnya dengan acuh tak acuh. Ia melanjutkan, "Saya tidak mengerti bagaimana Anda bisa memperoleh telegram seperti itu. Semua kelihatan amat misterius. Tentunya tak bisa dikaitkan dengan kematian Pak Dokter. Pasti ada orang gila di sekitar

sini-itu saja yang bisa masuk akal saya. Polisi-polisi ke sini dan macam-macam lainnya. Bikin pusing saja." "Polisi?" tanya Mr. Satterthwaite heran. "Ya, mereka di sini sejak jam sepuluh." "Polisi?" tanya Hercule Poirot. "Barangkali kami bisa bertemu dengan Mrs. de Rushbridger sekarang," kata Satterthwaite. "Dia yang meminta agar kami kemari," Kepala perawat itu menyela, "Oh, Mr. Satterthwaite, Anda belum tahu kalau begitu?" "Tahu apa?" tanya Poirot tajam. "Mrs. de Rushbridger. Dia meninggal." "Meninggal?" seru Poirot. "Mille tonnerres! Ya. Jelas. Jelas sekarang. Seharusnya saya..." Ia diam. "Bagaimana meninggalnya?" "Sangat misterius. Dia mendapat kiriman satu kotak cokelat-cokelat dengan liqueur di dalamnya, dikirim lewat pos. Dia makan

satu; pasti rasanya tak enak, tapi dia cuma terkejut saya kira, lalu dia menelannya. Orang biasanya tak suka mengeluarkan barang yang telah dimakannya." "Oui, oui. Dan benda cair yang tiba-tiba turun ke dalam kerongkongan sulit mengeluarkannya." "Jadi, dia menelannya dan menjerit. Perawat segera datang, tapi tak bisa apaapa. Dia meninggal dua menit kemudian. Lalu dokter memanggil polisi. Mereka datang dan memeriksa cokelat itu. Semua yang ada di lapisan atas telah diolesi racun rupanya. Yang bawah tidak apa-apa." "Dan racun yang dipakai?" "Mereka memperkirakan itu nikotin." "Ya," kata Poirot. "Nikotin lagi. Ini suatu pukulan! Pukulan yang berani!" "Kita sangat terlambat," kata Mr. Satterthwaite. "Kita tak akan tahu sekarang, apa yang akan dia ceritakan. Kecuali... kecuali jika dia mempercayakan

rahasianya pada orang lain." Ia melirik pada kepala perawat. Poirot menggelengkan kepala. "Tak akan ada rahasia. Kita harus mencarinya." "Barangkali kita dapat menanyai salah seorang perawat?" kata Mr. Satterthwaite. "Bisa saja," kata Poirot tanpa banyak berharap. Mr. Satterthwaite berbicara kepada kepala perawat yang segera memanggil dua perawat yang menjaga Mrs. de Rushbridger siang dan malam. Tapi tak seorang pun bisa memberikan informasi. Mrs. de Rushbridger tak pernah menyebut-nyebut kematian Sir Bartholomew, dan mereka pun tak tahu tentang pengiriman telegram itu. Atas permintaan Poirot, mereka diantar ke kamar wanita itu. Mereka bertemu dengan Inspektur Crossfield. Mr. Satterthwaite memperkenalkannya pada Poirot.

Kedua laki-laki itu kemudian mendekati tempat tidur dan berdiri memandang wanita malang itu. Ia berumur empat puluhan, berambut hitam, dan berkulit pucat. Wajahnya tidak damai, tapi masih menunjukkan rasa sakit yang dideritanya. Mr. Satterthwaite berkata pelan, "Kasihan." Ia memandang Hercule Poirot. Ada suatu ekspresi aneh pada wajah orang Belgia kecil itu. Sesuatu yang membuat Mr. Satterthwaite merinding. Ia berkata, "Ada yang tahu dia akan bicara, lalu dia dibunuh. Dia dibunuh untuk mencegahnya bicara." Poirot mengangguk. "Ya, benar." "Dia dibunuh untuk mencegahnya bercerita pada kita apa yang diketahuinya." "Atau yang tidak diketahuinya. Tapi kita jangan membuang waktu. Banyak yang perlu dilakukan. Jangan sampai ada kematian lagi. Kita harus mencegahnya."

Mr. Satterthwaite bertanya, penuh ingin tahu, "Apa hal ini cocok dengan ide Anda tentang identitas si pembunuh?" "Ya, cocok. Tapi saya sadar akan satu hal. Pembunuh ini lebih berbahaya dari yang saya perkirakan. Kita harus hati-hati." Inspektur Crossfield mengikuti mereka keluar kamar dan mendengar cerita tentang telegram yang mereka terima. Telegram itu dikirim dari Kantor Pos Melfort. Setelah dicek di sana, mereka mendapat keterangan bahwa telegram itu dikirim oleh seorang anak laki-laki. Wanita pegawai pos itu ingat karena isinya sangat mengejutkannya, yaitu berkaitan dengan kematian Sir Bartholomew Strange. Setelah makan siang dengan inspektur polisi itu dan mengirim telegram pada Sir Charles, mereka melanjutkan penyelidikan. Pada pukul enam sore, anak laki-laki yang mengirim telegram itu ditemukan. Ia

langsung bercerita. Ia menerima telegram itu dari seorang laki-laki berpakaian rombeng. Orang itu mengatakan telegram tersebut diberikan oleh seorang "wanita gila" di "rumah taman". Ia melemparkannya dari jendela. Telegram itu dibungkus dan diikat dengan dua keping uang setengah crown. Laki-laki itu takut terlibat urusan yang tidak-tidak. Ia pergi ke orang lain. Ia memberikan telegram dan uang pada anak itu, menyuruh anak itu mengambil kembaliannya. Mereka mengerahkan orang untuk mencari laki-laki itu. Karena tak ada lagi yang dilakukan, Poirot dan Satterthwaite kembali ke London. Mereka sampai di London hampir pukul dua belas malam. Egg telah kembali pada ibunya, tapi Sir Charles ada, dan mereka membicarakan keadaan yang mereka hadapi.

"Mon ami, " kata Poirot, "perhatikan saran saya. Hanya satu hal yang bisa menyelesaikan soal ini-sel kelabu kecil yang ada di otak. Untuk bolak-balik pergi ke suatu tempat, berharap orang ini atau orang itu akan membantu kita, cara itu sangat amatir dan aneh. Kebenaran hanya bisa dilihat dari dalam." Sir Charles kelihatan agak skeptis. "Apa yang ingin Anda lakukan, kalau begitu?" "Saya ingin berpikir. Saya ingin minta Anda menyediakan 24 jam untuk berpikir." Sir Charles menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil. "Apa dengan berpikir kita jadi tahu apa sebenarnya yang akan dikatakan wanita itu seandainya dia masih hidup?" "Saya rasa begitu." "Rasanya tak mungkin. Tapi, M. Poirot, silakan Anda bekerja dengan cara Anda. Kalau Anda bisa melihat misteri ini lebih

daripada saya, saya kalah dan mengakuinya. Sementara itu, saya punya ikan lain untuk digoreng." Barangkali ia berharap mendapat pertanyaan, tapi harapan itu kosong. Mr. Satterthwaite memang bersikap waspada, tapi Poirot tetap diam, hanyut dalam pikirannya. "Baiklah, saya agak khawatir dengan Miss Wills," kata sang aktor. "Kenapa dia?" "Pergi." Poirot memandangnya. "Pergi? Pergi ke mana?" "Tak ada yang tahu. Saya berpikir-pikir setelah menerima telegram Anda. Seperti telah saya katakan, saya yakin wanita itu tahu sesuatu yang tidak dikatakannya pada kita. Saya pikir, saya akan coba mengoreknya dari dia. Saya pergi ke rumahnya. Kira-kira jam setengah sepuluh saya sampai di sana. Tapi dia sudah pergi

tadi pagi-ke London. Itu yang dia katakan. Orang-orang di rumah mendapat telegram, mengatakan dia tak akan pulang satu atau dua hari ini, dan memberitahu agar mereka tidak khawatir." "Apa mereka khawatir?" "Ya, saya kira begitu. Dia membawa tas." "Aneh," gumam Poirot. "Ya. Kelihatannya seperti... ah, entahlah. Saya merasa tak enak." "Saya sudah mengingatkan dia," kata Poirot. "Saya telah mengingatkan semua orang. Anda ingat saya bicara, 'Silakan berkata sekarang.'" "Ya, ya. Anda pikir dia juga..." "Saya punya ide," kata Poirot. "Sekarang, sebaiknya itu saya simpan dulu." "Pertama, kepala pelayan, si Ellis. Lalu Miss Wills. Di mana Ellis? Aneh, polisi tak bisa menemukannya." "Mereka tidak mencari mayatnya di tempat yang benar," kata Poirot. "Kalau begitu, Anda setuju

dengan Egg. Anda pikir dia sudah mati?" "Ellis tak akan kelihatan hidup lagi." "Ini benar-benar mimpi buruk!" kata Sir Charles. "Semuanya tak bisa dimengerti!" "Tidak, tidak. Sebaliknya, justru sangat logis dan masuk akal." Sir Charles memandangnya. "Anda berpendapat begitu?" "Tentu saja. Pikiran saya selalu bekerja dengan rapi." "Saya tidak mengerti." Mr. Satterthwaite juga memandang detektif kecil itu dengan penuh ingin tahu. "Kalau begitu, pikiran saya bagaimana?" kata Sir Charles agak tersinggung. "Anda mempunyai pikiran seorang aktor, Sir Charles. Kreatif, orisinal, dan selalu melihat pada nilai-nilai dramatisnya. Mr. Satterthwaite punya pikiran seorang penonton drama; dia memperhatikan karakter, punya kepekaan terhadap situasi. Tapi saya, pikiran saya sangat biasa. Saya hanya melihat fakta, tanpa

perangkap-perangkap dramatis atau lampu sorot." "Jadi, kami serahkan saja ini pada Anda?" "Itulah keinginan saya. Untuk 24 jam." "Mudah-mudahan Anda berhasil. Selamat malam." Ketika mereka keluar bersama, Sir Charles berkata kepada Mr. Satterthwaite, "Orang itu sombong sekali." Suaranya dingin.

BAB XXVI

POIROT tak bisa mempunyai waktu tenang selama 24 jam seperti yang ia inginkan. Pukul sepuluh lewat esok paginya, Oliver Manders mengirimkan kartu namanya dan

minta bertemu dengan Poirot. Ketika Manders masuk, Poirot sedang membuka sebuah bungkusan kecil. Ia meletakkan bungkusan itu dan memandang tamunya dengan wajah bertanya. "Selamat pagi, M. Manders," katanya. "Anda ingin menemui saya?" "Ya." Oliver ragu-ragu, Poirot menarik sebuah kursi. "Silakan duduk. Sekarang kita bisa bicara dengan enak." Oliver menerima tawaran untuk duduk, tapi masih ragu-ragu untuk mulai bicara. "Eh bien?" kata Poirot. "Apa yang Anda cari? Apakah Anda menawarkan bantuan pada saya? Atau Anda memerlukan layanan saya?" "Saya tak tahu," kata Oliver pelan. Lalu tiba-tiba ia membungkuk ke depan dan berkata secara impulsif, "M. Poirot, Anda tidak menyukai saya." Poirot heran. "Lho, kok Anda berpendapat begitu?"

"Ya. Anda tak suka pada saya. Hanya sedikit orang yang menyukai saya. Saya... saya tak tahu kenapa." Semua sikap angkuh dan tak acuhnya lenyap. Sekarang ia bicara seperti seorang pemuda biasa seumurnya. Wajahnya juga tidak menunjukkan ekspresi sinis, tapi menunjukkan rasa kurang percaya diri, bahkan tak berdaya. "Kenapa Anda mengira saya tak suka pada Anda?" tanya Poirot lembut. "Karena kemarin dulu Anda membuat perangkap untuk saya dengan pertunjukan itu." Alis mata Poirot naik lagi. "Kenapa begitu?" Oliver menjawab dengan muram, "Karena dalam hati Anda yakin sayalah yang membunuh Mr. Babbington." "Quelle idee!" "Tidak, Anda berpikir begitu. Saya tahu, banyak yang tidak suka pada saya, tapi saya bukan pembunuh, M. Poirot! Sungguh saya pernah kasar pada dia-sekali, sangat

kasar. Tapi saya sedih setelah itu-kalau Anda percaya. Rasanya ada dua orang di dalam diri saya. Yang satu orang yang kasar, sinis, penuh benci dan lagak. Yang satu tidak begitu. Tapi dia sulit memperlihatkan diri. Oh, Anda pasti mengerti apa yang saya maksud." "Ya, ya. Saya sangat mengerti. Karena saya sudah tua, saya masih belum lupa rasanya jadi orang muda." Ia melanjutkan dengan lembut, "Itu keluhan Anda, mon ami-orang muda. Memang anak muda suka begitu." Dengan menyeringai lucu ia menambahkan, "Pada umur saya, kesibukan itu berubah menjadi mengatur barangbarang di ruang pamer." "Anda mengerti kalau begitu?" kata Oliver lega. Seulas senyum yang benar-benar menawan muncul di wajahnya. "Anda pasti tidak tahu rasanya kalau ada orang yang mau melihat kebaikan, bukan hanya

keburukan." "Anda tidak terlalu bahagia, eh?" Wajah Oliver mengeras. "Tidak." "Dengarkan. Saya ingin memberi nasihat pada Anda. Hidup Anda tergantung pada diri Anda sendiri. Kalau kita selalu merasa pahit, kita tak akan mendapat apa-apa. Bahkan itu akan menjadi bumerang bagi kita sendiri. Selalu begitu. Jadi, tinggalkan saja sebelum terlambat." "Anda benar, M. Poirot. Saya akan melupakan semuanya dan mulai dengan hidup baru." "Bagus." Poirot mengangguk setuju, lalu melanjutkan, "Dan hal berikutnya?" Oliver memandangnya dengan agak heran. "Hal berikutnya?" "Mais oui. Kelihatannya Anda punya sesuatu yang lain, tapi barangkali saya keliru." "Tidak, tidak, Anda benar. Ada lagi. Saya ingin membantu Anda dalam urusan ini.

Anda sudah percaya pada saya. Biar saya membantu Anda." "Membantu saya? Bagaimana caranya?" "Saya tak tahu. Pasti ada hal yang bisa membuat saya berguna. Kelihatannyabarangkali saya keliru-Anda sedang sibuk dengan urusan ini." Ia menunggu jawaban Poirot sambil menahan napas. "Mungkin," kata Poirot, "Anda bisa membantu saya nanti." "Oh, bagus." Oliver menunggu satu atau dua menit, tapi Poirot tidak berkata apa-apa lagi. "Barangkali Anda bisa menunjukkan arah kecurigaan Anda." Hercule Poirot menggelengkan kepala. "Itu... belum. Saya bukan orang yang suka berahasia." Telinga Oliver cukup sensitif untuk menangkap ketegasan dalam suara Poirot. Ia tidak mendesak, tapi pamit dengan ucapan terima kasih.

Ada senyum aneh di wajah Poirot ketika Oliver Manders pergi. Ia bergumam sendiri, "Aku menilainya terlalu rendah." Lalu ia mengambil bungkusan yang belum selesai dibukanya. Pukul 11.20 Egg masuk kamarnya begitu saja. Ia heran melihat detektif terkenal itu sedang membuat rumah dari kartu. Wajah Egg terlihat begitu sebal, sehingga Poirot terpaksa membela diri. "Saya bukannya menjadi kekanak-kanakan dalam umur setua ini, Mademoiselle. Tidak. Pikiran saya terasa bergairah dengan membuat rumah kartu. Ini merupakan kebiasaan lama saya. Yang saya lakukan pertama kali pagi tadi adalah membeli kartu ini. Sayang saya membuat kesalahan. Ini bukan kartu betulan. Tapi boleh juga." Egg memperhatikan rumah kartu di meja itu lebih dekat. Ia tertawa.

"Astaga, mereka menjual Happy Families pada Anda rupanya." "Apa itu-Happy Family?" "Ya. Suatu permainan. Anak-anak TK memainkannya." "Ah, tak apa. Saya bisa membuat rumah dengan cara yang sama." Egg mengambil beberapa kartu dari meja dan memperhatikannya dengan senang. "Master. Bun, itu anak tukang roti-saya sangat menyukainya. Dan ini Mr. Mug, si tukang susu. Oh, kalau saja Sir Charles ada di sini, saya pasti akan menunjukkan gambarnya." "Lho, apa gambar lucu itu gambar Sir Charles, Mademoiselle?" "Namanya." Egg tertawa melihat wajah Poirot yang bingung, lalu ia menjelaskan. Ketika sudah selesai, Poirot berkata, "Ah, c'est ga. Cartwright adalah now de theatre-nama aktornya. Mugg-ah, ya, orang bilang, dalam logat populer itu artinya tolol. Tentu saja

dia mengganti namanya. Tak ada orang yang senang dengan nama Sir Charles Mugg, kan?" Egg tertawa. Ia berkata, "Menjadi Lady Mugg lebih tidak enak lagi." Poirot memandang gadis itu, yang wajahnya berubah jadi merah. "C'est comme ga ? " "Tidak," kata Egg. "Saya tidak mengerti apa yang Anda maksud." Ia cepat-cepat berkata, "Sebenarnya saya datang kemari karena hal ini. Saya khawatir dengan guntingan koran yang jatuh dari dompet Oliver. Yang diambil Miss Wills dan dikembalikan lagi padanya. Rasanya Oliver mengatakan hal yang tidak benar ketika dia bilang seingatnya barang itu tak ada di sana, atau tak pernah ada di sana. Barangkali guntingan itu memang bukan miliknya. Dia menjatuhkan sesuatu, dan wanita itu menggantinya dengan guntingan itu."

"Kenapa dia melakukan itu?" "Karena dia ingin menghindar. Dia menimpakannya pada Oliver." "Maksud Anda, dialah penjahatnya?" "Ya." "Apa motifnya?" "Saya tak punya jawaban untuk itu. Barangkali saja dia gila. Orang-orang pandai biasanya agak gila. Saya tak bisa melihat sebab lain. Terus terang saya tak bisa melihat motif lain pada orang lain juga." "Itulah impasse-nya. Seharusnya saya tak boleh meminta Anda menebak suatu motif. Tapi saya memang terus menanyai diri saya tentang motif di balik kematian Mr. Babbington. Kalau saya bisa menjawabnya, kasus itu selesai." "Anda pikir bukan sekadar kegilaan?" tanya Egg.

"Harus ada motif-motif gila, kalau memang itu yang Anda mau, tapi suatu motif. Itu yang masih saya cari." "Sampai ketemu, kalau begitu," kata Egg. "Maaf mengganggu Anda. Tapi ide itu baru saja muncul. Saya harus buru-buru. Saya mau pergi dengan Charles ke latihan akhir Anjing Kecil Tertawa-drama yang ditulis Miss Mills untuk Angela Sutcliffe. Besok malam pertamanya." "Mon Dieu!" seru Poirot. "Kenapa? Ada sesuatu yang terjadi?" "Ya, memang ada. Sebuah ide. Ide bagus. Oh, saya begitu buta-buta." Egg memandanginya. Poirot tenang kembali, seolah-olah sadar akan sikap eksentriknya. Ia menepuk-nepuk bahu Egg"Anda pikir saya gila. Tidak. Saya mendengar apa yang Anda katakan. Anda akan pergi nonton Anjing Kecil Tertawa.

Miss Sutcliffe main di situ. Pergilah. Jangan pikirkan apa yang saya katakan." Dengan agak ragu-ragu Egg berangkat. Setelah sendiri, Poirot berjalan mondarmandir di kamarnya sambil bergumam sendiri. Matanya bersinar hijau seperti mata kucing. "Mais oui, itu menjelaskan segalanya. Motif yang aneh, sangat aneh, motif yang belum pernah kutemukan sebelumnya, tapi cukup masuk akal, dan dalam kondisi itu sangat wajar. Semua merupakan kasus yang aneh." Ia melewati meja tempat bermain kartu. Rumah-rumahan itu masih di situ. Dengan tangannya ia menyapu roboh rumahrumahan itu dari meja. "Aku tak memerlukan Happy Family lagi," katanya. "Persoalan ini sudah selesai. Tinggal bertindak saja." Ia menyambar topi dan memakai mantelnya. Lalu ia turun dan minta

dipanggilkan taksi. Poirot menyebut alamat apartemen Sir Charles. Setelah sampai, ia membayar taksi dan masuk ke ruang depan. Tak ada penjaga pintu. Sedang mengantar orang naik lift rupanya. Poirot naik tangga. Ketika sampai di lantai dua, pintu apartemen Sir Charles terbuka dan Miss Milray keluar. Ia terkejut ketika melihat Poirot. "Anda!" Poirot tersenyum. "Saya! Enfin, moi!" Miss Milray berkata, "Sir Charles tidak ada. Pergi ke Babylon Theater dengan Miss Lytton Gore." "Saya tidak mencari Sir Charles. Saya mau mengambil tongkat yang ketinggalan." "Oh, begitu. Silakan bel saja. Temple akan mencarikannya. Maaf saya tak bisa menunggu. Saya harus mengejar kereta. Saya mau pulang, menjenguk ibu saya." "Saya mengerti. Silakan, Mademoiselle."

Ia menepi dan Miss Milray lewat dengan cepat, menuruni tangga. Ia membawa tas kerja. Tapi ketika Miss Milray sudah pergi, Poirot kelihatannya lupa pada tujuan kedatangannya. Ia berbalik, lalu turun tangga. Sampai di pintu depan, ia melihat Miss Milray masuk ke sebuah taksi. Sebuah taksi lain datang perlahan. Poirot mengangkat tangan dan taksi itu mendekat. Ia masuk dan menyuruh sopir mengikuti taksi di depannya. Ia tidak heran ketika taksi di depannya meluncur ke utara dan berhenti di Stasiun Paddington, walaupun dari stasiun itu tak ada kereta jurusan Gilling. Poirot berjalan ke loket kelas satu dan minta tiket pulang-balik ke Loomouth. Kereta akan berangkat lima menit lagi. Setelah menaikkan kerah mantelnya untuk menutupi telinganya, Poirot duduk di sudut gerbong kelas satu.

Mereka sampai di Loomouth kira-kira pukul lima. Hari sudah mulai gelap. Poirot agak melindungkan diri dan mendengar Miss Milray disapa seorang penjaga pintu yang ramah. "Oh, Miss, kami tidak mengira Anda datang. Apa Sir Charles juga datang?" Miss Milray menjawab, "Saya datang tanpa rencana. Saya akan kembali besok pagi. Hanya mau mengambil beberapa barang. Tidak, tak usah panggil taksi. Saya akan lewat jalan setapak itu." Langit semakin gelap. Miss Milray berjalan dengan cepat, menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok. Agak jauh di belakangnya, Poirot mengikutinya. Ia berjalan hati-hati, seperti kucing. Setelah sampai di Crow's Nest, Miss Milray mengeluarkan sebuah kunci dari tasnya dan masuk lewat pintu samping; dibiarkannya pintu tetap terbuka. Satu atau dua menit kemudian ia muncul lagi

membawa kunci berkarat dan senter. Poirot menyembunyikan diri di semaksemak. Miss Milray berjalan melewati belakang rumah dan naik ke tempat bersemaksemak. Hercule Poirot mengikutinya. Ia naik terus sampai ke suatu menara batu tua, seperti yang sering terdapat di pantai-pantai. Tempat itu rusak dan tak terawat, tapi ada sebuah gorden di jendelanya yang kotor. Miss Milray memasukkan kunci di pintu kayu yang besar itu. Kunci itu berputar dengan derit keras. Pintu terbuka dengan suara merintih pada engselnya. Miss Milray masuk membawa senter. Poirot mempercepat langkahnya. Ia melewati pintu itu tanpa suara. Cahaya senter Miss Milray menerangi bermacammacam peralatan laboratorium dan tabung-tabung gelas.

Miss Milray mengambil sebuah linggis. Ia mengangkat benda itu di atas gelas-gelas ketika sebuah tangan mencengkeram lengannya. Ia terkejut dan menoleh. Mata hijau Hercule Poirot yang seperti kucing itu memandang tajam padanya. "Anda tak bisa melakukan itu, Mademoiselle," katanya. "Karena yang Anda cari untuk Anda hancurkan adalah barang bukti."

BAB XXVII

HERCULE POIROT duduk di kursi besar. Lampu-lampu dinding telah dimatikan. Hanya sebuah lampu yang menyala, menerangi orang yang duduk di kursi besar itu. Rasanya ada sesuatu yang

simbolik pada situasi itu-ia sendiri yang ada dalam terang, sedangkan tiga orang lainnya, Sir Charles, Mr. Satterthwaite, dan Egg Lytton Gore- pemirsa Poirotduduk dalam gelap. Suara Hercule Poirot seperti melayang. Rasanya ia bicara pada ruangan, bukan kepada para pendengarnya. "Tujuan detektif adalah merekonstruksi suatu tindak kejahatan. Untuk melakukannya, kita harus meletakkan satu fakta di atas fakta lain, seperti membangun rumah kartu. Kalau fakta itu tidak cocok, kalau kartu tidak berimbang, kita harus mulai lagi. Kalau tidak, rumah kartu pasti roboh. "Seperti pernah saya katakan, ada beberapa tipe pikiran; ada pikiran dramatis, pikiran produser, yang melihat efek realitas yang bisa diperoleh dari peralatan mekanis; dan ada pikiran romantis muda; dan akhirnya, kawan, ada

pikiran biasa-pikiran yang melihat-bukan laut biru dan pohon-pohon mimosa, tapi kain bercat yang membentuk pemandangan panggung. "Jadi, mes amis, saya datang ke pembunuhan Stephen Babbington bulan Agustus lalu. Pada malam itu, Sir Charles Cartwright mengatakan Stephen Babbington dibunuh. Saya tidak setuju dengan teori itu. Saya tak bisa percaya bahwa (A) orang seperti Stephen Babbington dibunuh orang, dan (B) kemungkinan memberi racun pada orang tertentu dalam situasi seperti itu. "Sekarang, di sini saya mengakui bahwa Sir Charles benar dan saya salah. Saya salah karena melihat kejahatan ini dari sudut yang keliru. Baru 24 jam yang lalu saya bisa melihatnya dari sudut yang benar. Karena itu, pembunuhan atas Stephen Babbington menjadi masuk akal dan mungkin.

"Tapi saya akan melewatkan hal ini dulu dan membawa Anda berjalan langkah demi langkah lewat jalan setapak yang saya lalui. Kematian Stephen Babbington bisa kita sebut babak pertama drama kita. Tirai panggung turun ketika kita semua pergi dari Crow's Nest. "Babak kedua drama itu dimulai di Monte Carlo, ketika Mr. Satterthwaite menunjukkan pada saya berita tentang kematian Sir Bartholomew. Pada saat itu juga kelihatan bahwa saya keliru dan Sir Charles benar. Baik Stephen Babbington maupun Sir Bartholomew Strange mati dibunuh. Kedua pembunuhan itu merupakan bagian dari satu kejahatan yang sama. Nantinya, pembunuhan ketiga melengkapi seri itu-yaitu pembunuhan atas Mrs. de Rushbridger. "Karena itu, yang kita perlukan adalah teori yang masuk akal, yang akan menghubungkan ketiga kematian itu.

Dengan kata lain, ketiga kejahatan itu dilakukan oleh satu orang yang sama dan untuk keuntungan orang tersebut. "Saya pernah menyatakan bahwa hal yang mencemaskan saya adalah kenyataan bahwa pembunuhan atas Sir Bartholomew Strange terjadi setelah pembunuhan atas Stephen Babbington. Kalau kita perhatikan ketiga peristiwa itu tanpa ditandai waktu dan tempat yang pasti, pembunuhan atas Sir Bartholomew Strange bisa dikatakan sebagai kejahatan utama atau yang pokok, sedangkan yang lain sifatnya kurang utama-yaitu terjadi karena hubungan kedua orang itu dengan Sir Bartholomew Strange. Tapi, seperti yang saya katakan sebelumnya, orang tak bisa mendapat kasus kejahatan seperti yang dia inginkan. Stephen Babbington dibunuh lebih dulu, dan Sir Bartholomew Strange belakangan. Karena itu, kelihatannya kejahatan kedua timbul

sebagai akibat yang pertama, dan karena itu yang harus diperhatikan adalah yang pertama, untuk bisa mengetahui seluruhnya. "Saya masih berpegang pada teori probabilitas, dan saya dengan sungguhsungguh mempertimbangkan kemungkinan adanya kekeliruan. Mungkin sebenarnya yang dituju adalah Sir Bartholomew Strange sebagai korban pertama, tapi yang kena Mr. Babbington. Tapi saya terpaksa menolak teori itu. Siapa pun yang mengenal Sir Bartholomew dengan baik, pasti tahu dia tidak suka minum koktail. "Satu hal lagi: Apakah Stephen Babbington keliru dibunuh, padahal yang dituju seseorang lainnya di antara tamutamu itu? Saya tak bisa menemukan bukti untuk hal ini. Karena itu, saya terpaksa kembali pada kemungkinan pembunuhan atas Stephen Babbington memang sengaja ditujukan padanya, dan saya benar-benar

menghadapi jalan buntu-hal yang kelihatannya tak mungkin terjadi. "Kita harus memulai penyelidikan dengan teori yang paling sederhana dan jelas. Seandainya Stephen Babbington memang meminum racun yang ada dalam koktail, siapa yang punya kesempatan untuk meracuni koktail itu? Sepintas hanya dua orang yang bisa melakukan hal itu, misalnya orang-orang yang menangani minuman itu, yaitu Sir Charles Cartwright sendiri dan si pelayan, Temple. Tapi walaupun keduanya bisa membubuhkan racun itu ke dalam gelas, tak seorang pun punya kesempatan untuk mengulurkan gelas itu ke tangan Mr. Babbington. Temple mungkin bisa melakukannya dengan keterampilan memainkan nampan-tidak mudah, tapi bisa dilakukan. Sir Charles juga bisa melakukannya, yaitu dengan sengaja mengambilkan gelas dan mengulurkannya pada Mr. Babbington.

Tapi hal itu tidak terjadi. Kelihatannya semua terjadi karena kebetulan, yaitu kebetulan Stephen Babbington mengambil gelas itu. "Sir Charles Cartwright dan Temple menangani koktail itu secara langsung. Apa salah satu dari mereka ada di Melfort Abbey? Tidak. Siapa yang punya kesempatan paling baik untuk membubuhkan racun pada gelas Sir Bartholomew? Si kepala pelayan yang menghilang, Ellis, dan salah seorang pelayan. Tapi di sini pun kemungkinan bagi seorang tamu untuk melakukannya tak bisa dikesampingkan. Memang berbahaya, tapi mungkin bagi salah seorang tamu untuk menyelinap ke ruang makan dan memasukkan nikotin ke dalam gelas anggur. "Ketika saya datang lagi ke Crow's Nest, Anda telah mempunyai daftar tamu yang hadir di Crow's Nest maupun di Melfort

Abbey. Terus terang, saya segera membuang jauh-jauh empat nama pertama yang disebut dalam daftar- Kapten dan Mrs. Dacres, Miss Sutcliffe, serta Miss Wills. "Sangat tidak masuk akal bagi mereka berempat untuk mengetahui mereka akan bertemu dengan Stephen Babbington dalam pesta itu. Penggunaan nikotin sebagai racun menunjukkan rencana yang sudah dipikirkan masak-masak, bukan sesuatu yang bisa dilakukan secara mendadak. Ada tiga nama lain dalam daftar itu-Lady Mary Lytton Gore, Miss Lytton Gore, dan Mr. Oliver Manders. Walaupun kelihatan tak masuk akal, ketiganya punya kemungkinan. Mereka punya motif untuk menyingkirkan Stephen Babbington dan memilih pesta itu untuk melaksanakan rencana mereka. "Sebaliknya, saya tak bisa menemukan bukti bahwa mereka melakukan hal itu.

"Saya kira Mr. Satterthwaite berpikiran sama dengan saya, dan dia mencurigai Oliver Manders. Bisa saya katakan pemuda itu orang yang paling dicurigai. Dia menunjukkan kegugupan pada malam di Crow's Nest itu; dia mempunyai pandangan hidup yang negatif karena kesulitan pribadinya; dia punya rasa rendah diri yang amat kuat. Ini sering merupakan penyebab tindak kejahatan; dia berada pada usia yang labil; dia memang pernah bertengkar dengan Mr. Babbington, dan menunjukkan rasa permusuhan padanya. Lalu ada kejadian aneh tentang kedatangannya di Melfort Abbey. Dan kemudian dia menceritakan hal yang tak masuk akal tentang surat dari Sir Bartholomew Strange, lalu ada guntingan koran mengenai peracunan dengan nikotin yang jatuh dari sakunya. Juga ada referensi tentang M dalam buku harian Sir Bartholomew.

"Dengan demikian, Oliver Manders adalah orang yang harus ditulis paling atas pada daftar nama ketujuh orang itu. "Tapi kemudian ada perasaan aneh pada diri saya. Memang jelas dan sangat masuk akal bahwa orang yang melakukan kejahatan itu pasti orang yang berada dalam kedua pesta itu. Dengan kata lain, seseorang yang termasuk dalam daftar ketujuh orang itu. Tapi saya merasa kegamblangan itu direncanakan. Jalan pikiran itu wajar pada seorang yang waras dan berpikiran logis. Saya merasa bukan mencari realitas, tapi pemandangan yang digambarkan dengan sedikit kelicikan. Seorang penjahat yang benar-benar licin pasti tahu bahwa siapa pun yang namanya ada dalam daftar pasti akan dicurigai, dan karenanya dia mengatur agar namanya tidak ada di dalam daftar itu. "Dengan kata lain, pembunuh Stephen Babbington dan Sir Bartholomew Strange

berada dalam kedua pesta itu, tapi kelihatannya tidak begitu. "Siapa yang ada pada pesta pertama dan tidak dalam pesta kedua? Sir Charles Cartwright, Mr. Satterthwaite, Miss Milray, dan Mrs. Babbington. "Mungkinkah salah satu dari mereka berada pada pesta kedua tanpa diketahui orang lain? Sir Charles dan Mr. Satterthwaite berada di Prancis Selatan. Miss Milray ada di London. Mrs. Babbington ada di Loomouth. Dari keempat orang itu, Miss Milray dan Mrs. Babbington yang kelihatannya pantas dicurigai. Tapi bisakah Miss Milray hadir di Melfort Abbey tanpa diketahui tamu lain? Miss Milray mempunyai penampilan khas, sulit dilupakan, dan tak mudah disamarkan. Saya memutuskan tak mungkin Miss Milray berada di Melfort Abbey tanpa dikenali para tamu. Demikian juga Mrs. Babbington.

"Karena hal itu, mungkinkah Mr. Satterthwaite atau Sir Charles Cartwright berada di Melfort Abbey tanpa dikenali? Mr. Satterthwaite punya kemungkinan, tapi bagaimana dengan Sir Charles Cartwright? Ini sulit. Sir Charles seorang aktor yang terbiasa memainkan suatu peran. Tapi peran apa yang dia mainkan? "Lalu saya mempertimbangkan Ellis, kepala pelayan itu. "Ellis orang yang misterius. Dia muncul tiba-tiba dua minggu sebelum kejadian, dan kemudian menghilang dengan sukses. Kenapa Ellis begitu sukses? Karena Ellis memang tidak ada. Ellis adalah papan penghias, gambar, dan hiasan panggung. Ellis tidak nyata. "Mungkinkah itu? Pelayan-pelayan di Melfort Abbey kenal Sir Charles Cartwright, dan Sir Bartholomew Strange kawan dekatnya. Saya bisa melewatkan

pelayan-pelayan itu dengan mudah. Penyamaran sebagai kepala pelayan tidak berbahaya. Kalau mereka mengenalinya, itu bisa dianggap lelucon. Seandainya waktu dua minggu itu lewat tanpa menimbulkan kecurigaan, semuanya aman. Dan saya masih ingat apa yang dikatakan pelayan-pelayan itu tentang Ellis. Dia 'seorang terpelajar', 'bekerja di tempat orang-orang terhormat', dan tahu beberapa skandal penting. Itu mudah. Tapi sebuah pernyataan berarti dari Doris mengatakan, 'Dia melakukan pekerjaannya berbeda dengan kepala-kepala pelayan yang pernah saya kenal.' Ketika pernyataan itu dia ulangi lagi, pernyataan tersebut memberikan konfirmasi pada teori saya. "Tapi Sir Bartholomew Strange lain. Rasanya tak masuk akal dia bisa dibodohi temannya sendiri. Dia pasti tahu penyamaran itu. Apa kita punya bukti

tentang hal tersebut? Ya. Mr. Satterthwaite yang tajam ini menunjukkan hal itu -yaitu kelakarkelakar tajam Sir Bartholomew yang kelihatannya bukan kebiasaannya bila menghadapi pelayan-pelayan, 'Kau memang kepala pelayan top. Iya, kan, Ellis?' Suatu kalimat yang dapat dimengerti apabila pelayan itu adalah Sir Charles Cartwright. "Sebab begitulah Sir Bartholomew memandang persoalan itu. Penyamaran sebagai Ellis adalah lelucon; puncaknya nanti akan terlihat dalam pesta itu. Karena itulah Sir Bartholomew membuat pernyataan akan adanya kejutan, dan itu menjelaskan sikapnya yang riang gembira itu. Perlu diingat bahwa masih ada kesempatan untuk menarik diri. Seandainya salah seorang tamu mengenali Charles Cartwright pada malam pertama di meja makan itu, tak ada kejadian apaapa yang akan menimbulkan kecurigaan.

Tapi tak seorang pun mengenali kepala pelayan setengah baya yang agak bungkuk dengan mata dibuat agak gelap, cambang, dan tanda buatan di pergelangan tangannya. Suatu sentuhan identifikasi yang sangat halus-tapi tidak berarti, karena kurang tajamnya pengamatan orang. Tanda di pergelangan tangan itu sengaja dibuat untuk menjadi ciri Ellis, dan selama dua minggu itu tak seorang pun melihatnya. Satu-satunya yang memperhatikan adalah Miss Wills yang bermata tajam. Ini akan kita bicarakan. "Apa yang terjadi kemudian? Sir Bartholomew meninggal. Kali ini kematian tersebut bukan kematian yang wajar. Polisi datang. Mereka menanyai Ellis dan yang lain. Malam itu Ellis pergi melewati lorong rahasia, berganti menjadi dirinya sendiri, dan dua hari kemudian berjalanjalan di Monte Carlo, siap untuk dikejutkan dengan kematian kawannya.

"Harap Anda ingat, semua ini hanya teori. Saya tak punya bukti yang sebenarnya, tapi segala yang timbul mendukung teori itu. Rumah kartu saya bisa berdiri. Suratsurat pemerasan di kamar Ellis? Kan Sir Charles sendiri yang menemukan! "Bagaimana dengan surat Sir Bartholomew Strange pada Manders untuk mengatur kecelakaan? Mudah sekali bagi Sir Charles untuk menulis surat itu dengan nama Sir Bartholomew. Kalau Manders tidak membuang surat itu, Sir Charles dengan peran Ellis-nya bisa melakukannya pada waktu dia melayani pemuda itu. Demikian juga guntingan koran itu bisa masuk dengan mudah ke dalam dompet pemuda itu. "Dan sekarang kita sampai ke korban ketiga-Mrs. de Rushbridger. Kapan kita pertama kali mendengar tentang dia? Segera setelah pernyataan atau kelakar tentang Ellis sebagai kepala pelayan top

itu. Pernyataan Sir Bartholomew Strange yang tidak biasa itu ditujukan pada Ellis. Dengan cara apa pun, perhatian dan sikap Sir Bartholomew pada si kepala pelayan harus dialihkan. Sir Bartholomew menanyakan pesan apa yang dibawa kepala pelayan itu, yaitu tentang wanita tersebut, pasien dokter itu. Dengan segera Sir Charles menyembunyikan dirinya dan mengalihkan perhatian pada wanita yang tak dikenalnya. Dia pergi ke sanatorium dan menanyai kepala perawat. Dia memburu Mrs. de Rushbridger sebagai jalan untuk menghindar. "Kita harus melihat peran yang dimainkan Miss Wills dalam drama ini. Miss Wills adalah orang yang selalu ingin tahu. Dia tipe orang yang tak bisa menarik perhatian orang-orang sekitarnya. Dia tidak cantik, tidak bisa bicara lancar, bahkan tidak simpatik. Dia biasa. Tapi dia sangat suka memperhatikan dan sangat

cerdas. Dia membalas dendamnya pada dunia dengan pena. Dia bisa memproduksi suatu karakter di atas kertas. Saya tak tahu apakah ada sesuatu pada si kepala pelayan yang membuat Miss Wills curiga, tapi saya percaya dialah satu-satunya orang di meja makan yang memperhatikan si kepala pelayan. Pada pagi hari setelah menyelidik dan mengintip seperti dikatakan para pelayan, dia masuk ke kamar Dacres, mendekati pintu berlapis, dan masuk ke ruang pelayan. Saya rasa itu dia lakukan karena instingnya membawanya menemukan sesuatu. "Dialah satu-satunya orang yang membuat Sir Charles gelisah. Karena itu, Sir Charles ingin dialah yang menangani Miss Wills. Sir Charles merasa tenang dengan hasil wawancara yang dilakukannya, saat Miss Wills mengatakan dia melihat tanda di pergelangan tangan Ellis. Tapi setelah itu terjadilah bencana. Saya kira sampai

pada saat wawancara itu Miss Wills belum menghubungkan Ellis dengan Sir Charles Cartwright. Saya kira dia cuma merasakan adanya kesamaan antara Ellis dan seseorang. Tapi dia seorang pengamat. Ketika piring-piring disajikan, secara otomatis dia memperhatikan. Bukan wajah, tapi tangan orang yang menyajikan piring. "Dia tidak langsung tahu Ellis adalah Sir Charles. Tapi ketika Sir Charles bicara dengannya, tiba-tiba dia tahu Sir Charles adalah Ellis! Jadi, dia berpura-pura minta agar Sir Charles memberikan sepiring sayur. Sebenarnya yang menarik bukanlah apakah tanda itu di tangan kiri atau kanan. Dia ingin mempelajari tangannya-tangantangan yang terjulur dengan posisi yang sama dengan yang dilakukan Ellis. "Dan dia pun tahu. Tapi dia wanita yang aneh. Dia cukup senang dengan sekadar tahu. Di samping itu, dia juga tidak yakin Sir Charles-lah yang membunuh kawannya.

Ya, Sir Charles memang menyamar sebagai kepala pelayan, tapi itu tidak membuatnya otomatis menjadi pembunuh. Banyak orang diam saja, karena kalau bicara akan serba salah. "Jadi, Miss Wills menyimpan sendiri apa yang diketahuinya dan menikmatinya. Tapi Sir Charles khawatir. Dia tak suka melihat ekspresi jahat Miss Wills ketika dia meninggalkan ruang tamunya. Wanita itu tahu sesuatu. Apa? Apa berkaitan dengan dirinya? Dia tak yakin. Tapi dia merasa hal itu ada hubungannya dengan Ellis. Pertama, Mr. Satterthwaite, sekarang Miss Wills. Perhatian harus dialihkan dari titik vital itu. Harus dialihkan ke tempat lain. Dan dia membuat rencana-sederhana, berani, dan menurut pendapatnya, misterius. "Pada hari pesta sherry saya, saya membayangkan Sir Charles bangun pagipagi sekali, pergi ke Yorkshire, menyamar

dengan baju kumal sebagai pengemis, dan memberikan telegram pada seorang anak untuk mengirimkannya. Lalu dia kembali lagi untuk memainkan peran yang saya inginkan dalam drama kecil itu. Dia melakukan satu hal lagi. Dia mengirim sekotak cokelat pada seorang wanita yang belum pernah dilihatnya dan tak dikenalnya. "Anda tahu apa yang terjadi malam itu. Dari sikap Sir Charles yang gelisah, saya yakin Miss Wills mempunyai kecurigaan. Ketika Sir Charles berpura-pura mati, saya memperhatikan wajah Miss Wills. Saya melihat rasa heran di situ. Saya jadi yakin dia memang mencurigai Sir Charles sebagai si pembunuh. Ketika Sir Charles pura-pura mati, dia berpikir deduksinya keliru. "Tapi kalau mencurigai Sir Charles, berarti Miss Wills dalam bahaya. Orang yang sudah membunuh dua kali tak akan

segan membunuh lagi. Saya memberikan peringatan. Malam itu saya menghubungi Miss Wills lewat telepon, dan atas saran saya dia meninggalkan rumah esok paginya. Sejak itu dia tinggal di hotel ini. Kebenaran akan kekhawatiran saya terbukti dengan kepergian Sir Charles ke Tooting esok malamnya, setelah dia kembali dari Gilling. Dia terlambat. Burung itu telah terbang. "Sementara itu, dari sudut pandangnya, rencana itu berjalan baik. Mrs. de Rushbridger punya hal penting yang ingin dia ceritakan. Mrs. de Rushbridger terbunuh sebelum sempat bicara. Begitu dramatis! Seperti cerita detektif, sandiwara, dan film! Sekali lagi semua itu adalah hiasan panggung. "Tapi saya, Hercule Poirot, tak bisa dikelabui. Mr. Satterthwaite bilang, wanita itu dibunuh agar tak bisa bicara. Saya setuju. Dia melanjutkan berkata

bahwa wanita itu dibunuh agar dia tidak bisa menceritakan pada kita apa yang diketahuinya. Saya berkata, 'Atau apa yang tidak diketahuinya.' Mrs. de Rushbridger dibunuh karena dia tak punya hubungan apa-apa dengan kejahatan itu. Sebab itu dia dibunuh untuk mengalihkan perhatian kita. Jadi, Mrs. de Rushbridger yang tak tahu apa-apa dan tak berbuat apa-apa itu dibunuh. "Namun dalam kemenangan yang kelihatannya gemilang itu, Sir Charles melakukan satu kesalahan besar dan kekanak-kanakan! Telegram itu dialamatkan pada saya, Hercule Poirot, di Hotel Ritz. Tapi Mrs. de Rushbridger tak pernah tahu bagaimana hubungan saya dengan kasus itu! Tak seorang pun dari belahan bumi di situ tahu tentang saya. Ini merupakan kekeliruan yang tolol. "Eh bien. Ternyata saya sudah berada di suatu tingkat tertentu. Saya tahu

identitas si pembunuh. Tapi saya belum tahu motif untuk kejahatan yang sesungguhnya. "Saya berpikir. "Dan sekali lagi, kali ini lebih jelas, saya melihat kematian Sir Bartholomew Strange merupakan pembunuhan utama. Apa yang menyebabkan Sir Charles membunuh teman sendiri? Bisakah saya membayangkan suatu motif? Rasanya bisa." Terdengar tarikan napas dalam. Sir Charles Cartwright berdiri pelan dan berjalan ke perapian. Ia berdiri di sana. Tangannya berkacak pinggang dan ia menunduk, memandang Poirot. Mr. Satterthwaite bisa mengatakan sikapnya seperti Lord Englemount yang memandang sebal pada pengacaranya yang telah berani melontarkan tuduhan penipuan padanya. Ia menunjukkan sikap anggun dan menampakkan rasa jijik. Ia seorang

aristokrat yang memandang rendah pada canaille yang rendah. "Imajinasi Anda luar biasa, M. Poirot," katanya. "Rasanya tak ada gunanya mengatakan tak satu pun dari kata-kata Anda itu benar. Saya tak tahu bagaimana Anda berani mengemukakan kebohongan itu. Tapi lanjutkan. Saya tertarik. Apa motif saya membunuh orang yang telah saya kenal sejak kecil?" Hercule Poirot, si borjuis kecil, mendongak pada si aristokrat. Ia bicara tenang dan tegas, "Sir Charles, motif pembunuhan tidak terlalu banyak. Ada ketakutan, ada keinginan memiliki, dan ada wanita. Dalam kasus Anda, kita tak perlu mencari yang lain lagi. Motif Anda untuk membunuh Sir Bartholomew Strange adalah ketakutan." Sir Charles mengangkat bahu. "Dan kenapa saya takut pada teman saya sendiri?"

"Karena," kata Hercule Poirot, "Sir Bartholomew spesialis saraf." Dia diam sesaat, lalu melanjutkan dengan suara lembut, "Ketika ide itu masuk ke kepala saya, saya mulai mencari informasi. Saya membaca file koran-koran. Barangkali Anda masih ingat pernah bercerita di depan Mr. Satterthwaite bahwa Anda telah meninggalkan karier Anda setelah mendapat gangguan saraf karena bekerja terlalu berat. Pernyataan itu terlalu dangkal untuk arti sebenarnya. Saya perhatikan bahwa dalam dua tahun terakhir karier panggung Anda, Anda bermain dalam tiga cerita-kehidupan Napoleon yang dramatis, kehidupan pastoral yang religius di mana Anda bermain sebagai dewa yang menyamar, dan sebuah drama kejahatan di mana Anda bermain sebagai superdiktator yang menguasai dunia. Dalam pidato-pidato

Anda waktu itu terasa adanya egomania. Sedangkan tentang sakitnya Anda tidak terlalu banyak diungkapkan. Hanya ada satu berita bahwa Anda pergi berlayar. Tapi saya tidak menemukan nama Anda dalam daftar nama penumpang-penumpang kapal di perusahaan-perusahaan pelayaran. "Secara tak sengaja, pada saat itu Miss Lytton Gore datang membantu. Dia mengatakan nama Anda yang sebenarnya Mugg. Lalu saya teringat pada satu kalimat-kalimat yang tertulis dalam buku harian Sir Bartholomew, 'Saya khawatir dengan M. Kelihatannya ada yang tidak beres.' M bukanlah kependekan dari Manders ataupun Margaret de Rushbridger ataupun nama orang lain. M adalah dari Mugg-nama yang dikenal Sir Bartholomew sejak dulu. Dan dengan segera saya bisa menemukan konfirmasi teori saya. Pada tanggal ketika Sir Charles dikabarkan akan pergi berlayar,

seorang pasien bernama Charles Mugg diterima di sebuah rumah sakit saraf swasta di Lincolnshire. Saya bisa mengerti alasan-alasan untuk prosedur seperti ituSir Charles Cartwright dikenal staf sanatorium milik Sir Bartholomew. Cara ini dipakai untuk menghindari publikasi. Charles Mugg meninggalkan rumah sakit setelah tinggal selama empat bulan. Tapi saya bisa membayangkan dokter itu belum sepenuhnya puas dengan kondisi mental kawannya. Karena itu, tak mengherankan apabila sikapnya yang selalu mengawasi itu menimbulkan tragedi. "Sakit Sir Charles sebenarnya belum sembuh. Dia hanya menyembunyikannya dengan rapi dari dunia ini. Tapi dia tak bisa terlalu banyak berbuat di hadapan temannya yang berpengalaman. Jadi, sementara Sir Bartholomew tak puas dengan kondisi mental kawannya, Sir

Charles membuat rencana dengan pikirannya yang memang cerdas. "Dia melihat Sir Bartholomew sebagai penghalang kemerdekaannya. Dia yakin Sir Bartholomew merencanakan akan membatasi gerakannya. Jadi, dia merencanakan suatu pembunuhan yang cerdik. "Satu hal yang membuat saya bingung adalah ini. Hubungan antara Sir Charles dan Miss Lytton Gore. Kepada Mr. Satterthwaite dia berpura-pura tak melihat gairah cinta yang dipancarkan kekasihnya. Dia berpura-pura mengira Miss Lytton Gore jatuh cinta pada Mr. Oliver Manders. Tapi laki-laki seperti Sir Charles, yang berpengetahuan luas dan punya pengalaman matang dalam soal wanita, tentunya takkan bisa dikelabui begitu saja. Dia pasti tahu bahwa segalanya jelas. Jadi, kenapa dia bersikap begitu?

"Sangat sederhana. Sir Charles memerlukan alasan untuk meninggalkan Loomouth dan pergi ke luar negeri. Dia memerlukan alasan agar bisa menghindari temannya untuk sementara. Dengan kelihaiannya menciptakan efek dramatis, dia menggunakan alasan romantis itu. Dan hal tersebut menimbulkan rasa simpati orang lain padanya. Itu juga memberinya alasan untuk kembali ke Inggris setelah kematian Sir Bartholomew Strange dan untuk mengambil bagian dalam penyelidikan. Baginya sangat penting untuk mengetahui perkembangan penyelidikan itu." Hercule Poirot diam. Sir Charles tertawa. Tawa yang dalam dan amat geli. "Ah," katanya, "Anda bisa saja." Dan seandainya ada penonton di situ, mereka pasti merasa bahwa ide orang asing ini benar-benar menggelikan. Sir Charles-lah yang kelihatan waras.

"Jadi, saya ini gila?" kata Sir Charles melucu. "M. Poirot, apa Anda yakin itu tidak terbalik? Kita tak akan mengatakan yang gila itu buruk, tapi"-ia menyentuh dahinya-"hanya sedikit miring. Saya akui memang saya pernah sakit, dan atas saran Tollie saya pergi ke rumah sakit swasta untuk dirawat. Tapi kalau Anda menganggap diri saya sebagai maniak pembunuh... wah, itu terlalu berat." Ia diam, lalu melanjutkan bicara, masih dalam nada suara lucu, "Dan Babbington-pendeta yang baik. Apakah dia juga mengatur orang gila?" "Tidak," kata Hercule Poirot. "Alasan pembunuhan Mr. Babbington lain. Pada dasarnya bahkan tak ada alasan." "Sekadar untuk kesenangan?" "Tidak. Sebenarnya lebih dari itu. Saya sadar akan fakta yang menunjukkan bahwa walaupun pada malam itu Anda punya kesempatan untuk membubuhkan nikotin

di gelas koktail, Anda tak bisa yakin betul gelas itu akan sampai pada orang yang Anda tuju. Kemarin, secara tak sengaja, saya tahu sebabnya. Racun itu memang tidak khusus ditujukan pada Stephen Babbington, tapi untuk siapa pun yang ada dalam pesta itu, kecuali dua orang-Anda sendiri dan Sir Bartholomew, yang Anda tahu tidak minum koktail." Mr. Satterthwaite berseru, "Itu tak masuk akal. Apa tujuannya? Sama sekali tak ada." Poirot berbalik memandangnya. Suaranya penuh kemenangan, "Oh ya, ada. Alasannya aneh, sangat aneh. Satu-satunya yang pernah saya temukan selama ini. Pembunuhan Stephen Babbington tak kurang tak lebih adalah suatu latihan akhir." "Apa?" "Ya. Sir Charles ini seorang aktor. Dia mengikuti insting aktornya. Dia mencoba dulu sebelum melakukan yang sebenarnya.

Tak ada kecurigaan yang bisa ditujukan padanya. Tak satu pun dari kematian orang-orang itu memberikan keuntungan berarti baginya, dan lagi, seperti telah diketahui, tak dapat dibuktikan bahwa dia memang sengaja meracun orang tertentu. Dan latihan terakhir itu sukses. Mr. Babbington meninggal. Tak seorang pun curiga akan adanya permainan keji. Semua terserah pada Sir Charles, mau bersikap bagaimana, dan dia senang ketika kita tidak menanggapi hal itu dengan serius. Penggantian gelas itu bisa lewat begitu saja. Dia menjadi yakin bahwa pada pertunjukan sebenarnya nanti, semua akan beres. "Sebagaimana Anda ketahui, kejadian tidak selalu sama dengan yang diharapkan. Pada pembunuhan kedua, hadir seorang dokter yang segera mencurigai adanya peracunan. Pada saat itulah Sir Charles mulai menekankan kematian Babbington.

Kematian Sir Bartholomew pasti ada hubungannya dengan kematian pertama. Perhatian harus diarahkan pada motif pembunuhan Babbington, bukannya pada motif pembunuhan Sir Bartholomew. "Tapi ada satu hal yang tidak disadari Sir Charles. Kewaspadaan Miss Milray. Dia tahu tuannya membuat percobaanpercobaan kimia di menara kebunnya. Miss Milray membayar tagihan-tagihan untuk cairan penyemprot mawar yang hilang. Ketika dia membaca Mr. Babbington meninggal karena keracunan nikotin, otaknya yang cerdas langsung menarik konklusi bahwa Sir Charles telah melakukan penyulingan alkaloid murni dari cairan penyemprot mawar. "Dan Miss Milray tak tahu apa yang harus dia lakukan, karena dia telah mengenal Mr. Babbington sejak kecil, dan dia memendam rasa cinta yang amat dalam-sebagai wanita

yang tidak menarik-pada majikannya yang luar biasa itu. "Akhirnya dia memutuskan untuk menghancurkan peralatan laboratorium tuannya. Sir Charles sendiri begitu yakin akan kesuksesannya, sehingga tak pernah memikirkan hal itu penting baginya. Miss Milray pergi ke Cornwall dan saya mengikutinya." Sekali lagi Sir Charles tertawa. Ia bersikap sebagai orang yang merasa jijik melihat tikus. "Jadi, bukti-bukti yang bisa Anda ajukan adalah beberapa peralatan laboratorium tua?" katanya menghina. "Tidak," kata Poirot. "Ada paspor Anda yang menunjukkan tanggal-tanggal ketika Anda ke luar negeri dan kembali lagi ke Inggris. Tanggal-tanggal itu sesuai dengan periode ketika Ellis sedang bekerja pada Sir Bartholomew." Sampai sejauh itu Egg duduk diam saja, kaku. Tapi sekarang ia bergerak. Terdengar suara tangis kecil

darinya. Sir Charles berpaling kepadanya. "Egg, kau tak percaya cerita konyol ini, kan?" Ia tertawa. Tangannya terkembang. Egg datang pelan-pelan kepadanya, seperti orang dihipnotis. Matanya memandang mata Sir Charles. Dan kemudian, sebelum sampai, ia ragu-ragu. Pandangannya jatuh. Matanya melihat ke kiri dan ke kanan, seolah-olah mencari pegangan. Kemudian, sambil menangis ia berlutut di depan Poirot. "Apa benar? Apa benar?" Poirot meletakkan kedua tangannya ke bahu gadis itu, memegangnya dengan hangat dan tegas. "Itu benar, Mademoiselle." Egg berkata, "Hari itu, waktu kami di desa, saya merasa begitu takut. Saya tak tahu kenapa. Saya hanya merasa takut akan sesuatu. Apakah itu karena... karena..."

"Intuisi wanita, Egg," kata Sir Charles dengan suara mengejek. Ia masih kelihatan tenang. "Begini, Poirot," katanya. "Saya bisa menjelaskan soal paspor itu. Memang kelihatannya memberatkan, tapi ada alasannya." Hercule Poirot berkata dengan nada cepat dan tegas, "Sir Charles, di kamar sebelah ada seorang inspektur polisi dari Scotland Yard dan dua dokter-spesialis-spesialis terkenal penyakit otak." "Anda telah bertindak sejauh itu?" Sir Charles melangkah maju. Wajahnya kelihatan larut dan kembali ke asalnya. Wajah itu berubah marah. Suaranya melengking serak, "Anda menjebak saya! Ya, Anda menjebak saya! Saya tak mau menemui mereka! Ini suatu plot! Persekongkolan! Perangkap! Tapi mereka tak akan bisa menyentuh

saya-tak seorang pun bisa!" Ia menenangkan dirinya. "Saya di atas kalian semua-di atas hukum manusia yang konyol! Ketiga orang itu harus dibunuh, itu harus! Saya menyesali kematian mereka, tapi itu perlu! Perlu dilakukan! Demi keselamatan saya!" Ia berhenti dan memandang Poirot, gerahamnya menahan geram. "Itu tidak benar. Anda cuma menakutnakuti saya. Anda bohong." "Silakan lihat sendiri," kata Hercule Poirot. Sir Charles berjalan, membuka pintu, dan masuk. Mereka mendengar jeritannya dalam suara tinggi dan gumam suara beberapa laki-laki. Poirot berjalan ke pintu, melongok sebentar, lalu menutupnya dengan hati-hati. "Sudah selesai, Mademoiselle," katanya. "Dia akan dirawat. Dan ini ada seorang kawan yang akan menemani Anda pulang."

Ia membuka sebuah pintu lain. Oliver Manders ada di sana. Ia berjalan cepat mendekati Egg dan gadis itu berjalan tersaruk ke arahnya. "Oliver, aku begitu jahat padamu. Jahat. Bawa aku ke Ibu! Oh, bawa aku pulang ke Ibu!" Oliver merangkul gadis itu dan membawanya keluar. "Ya, Sayang, kuantar kau. Ayo." "Oh, mengerikan... mengerikan." "Ya, ya. Tapi semua sudah lewat sekarang. Jangan dipikirkan lagi." "Aku tak bisa lupa. Tak akan lupa." "Ya... nanti pasti bisa. Bisa cepat lupa. Ayo." Egg menurut. Di pintu ia menegakkan tubuh dan melepaskan diri dari pelukan pemuda itu. "Aku tak apa-apa." Poirot memberi isyarat; Oliver Manders kembali lagi ke kamar. "Jaga dia baikbaik," kata Poirot. "Ya. Dialah satu-satunya yang saya sayangi. Anda tahu itu. Cinta saya padanya

membuat saya sinis dan bersikap pahit. Tapi saya lain sekarang. Saya siap. Dan suatu hari nanti barangkali..." "Saya rasa begitu," kata Poirot. "Saya kira dia mulai merasakan hal itu ketika Sir Charles datang dan membuatnya bingung. Hero worship memang berbahaya bagi anak-anak muda. Suatu hari nanti, Egg akan jatuh cinta pada seorang teman dan membangun istana cintanya di atas karang." Poirot memandang pemuda itu dengan rasa sayang ketika ia meninggalkan ruangan. Mr. Satterthwaite membungkuk ke depan dalam posisi duduknya. "M. Poirot," katanya, "Anda memang luar biasa-sangat luar biasa." Poirot bersikap rendah hati. "Ah, bukan apa-apa, bukan apa-apa. Tragedi tiga babak. Sekarang tirainya sudah ditutup." "Maaf," kata Mr. Satterthwaite.

"Ya? Ada sesuatu yang perlu saya terangkan?" "Ada satu hal yang ingin saya tanyakan." "Silakan, silakan." "Kenapa kadang-kadang Anda berbicara dengan bahasa Inggris yang sangat baik dan kadang-kadang tidak?" Poirot tertawa. "Ah, akan saya jelaskan. Memang saya bisa bicara bahasa Inggris dengan baik. Tapi bicara dengan bahasa Inggris yang patahpatah merupakan kekayaan tersendiri. Itu membuat orang menganggap enteng saya. Mereka bilang, 'Hm, orang asing. Bicara benar saja tak bisa.' Dan saya tak ingin menakut-nakuti orang, sebaliknya saya ingin mereka meremehkan saya. Saya juga sombong! Orang Inggris suka berpikir, 'Orang yang suka membesarkan diri pasti tak sebesar itu.' Begitulah cara berpikir orang-orang Inggris. Dan itu sama sekali tidak benar. Jadi, saya sering membuat

orang bersikap sembrono. Kecuali itu," tambahnya, "hal itu telah menjadi kebiasaan saya." "Hm," kata Mr. Satterthwaite, "Anda memang cerdik seperti ular, M. Poirot." Ia diam sejenak, memikirkan kasus itu. "Rasanya saya tak banyak berbuat dalam soal ini," katanya jengkel. "Sebaliknya. Anda memikirkan hal yang penting itu-pernyataan Sir Bartholomew pada kepala pelayan. Anda juga tahu akan pengamatan tajam Miss Wills. Saya kira Anda bisa menyelesaikan kasus ini apabila Anda tidak terlalu bersikap dramatis." Mr. Satterthwaite kelihatan gembira. Tiba-tiba sebuah pikiran masuk ke kepalanya. Wajahnya langsung suram. "Ya Tuhan," serunya, "saya baru sadar! Si jahat itu dan koktail beracunnya! Siapa pun bisa meminumnya. Dan saya juga bisa kena!"

"Ada kemungkinan yang lebih mengerikan lagi, yang belum Anda bayangkan," kata Poirot. "Eh?" "Mungkin saya yang kena," kata Hercule Poirot.

Scan, Konversi, Edit, Spell & Grammar Check: clickers http://facebook.com/DuniaAbuKeisel http://facebook.com/epub.lover http://epublover.wordpress.com