Thalassemia1 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang

REFERAT

THALASSEMIA
Pembimbing: dr. Syaifun Niam Sp.PD

Mahasiswa Intan Soraya 030.05.118

Mahasiswa Intan Soraya 030.05.118 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta

Thalassemia2 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang

Periode 12 November 2012 - 19 Januari 2013

LEMBAR PENGESAHAN
Nama NIM Fakultas Universitas Tingkat Bidang Pendidikan Periode Kepaniteraan Klinik Judul Referat Diajukan Pembimbing : Intan Soraya : 030.05.118 : Kedokteran Umum : Trisakti : Program Pendidikan Profesi Dokter : Ilmu Penyakit Dalam : 12 November 2012 - 19 Januari 2013 : Thalassemia : Januari 2013 : dr. Syaifun Niam, Sp. PD

TELAH DIPERIKSA DAN DISAHKAN TANGGAL :

Mengetahui, Ketua SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kota Semarang, Pembimbing,

Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta

Thalassemia3 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang

Dr. Pujo Hendriyanto, Sp. PD

Dr. Syaifun Niam, Sp. PD

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul "Thalassemia" guna memenuhi salah satu persyaratan dalam menempuh Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti di RSUD Kota Semarang periode 12 November

2012 - 19 Januari 2013. Disamping itu, makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan
bagi pembaca. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, yaitu: 1. Dr. Susi Herawati, M.Kes selaku direktur RSUD Kota Semarang. 2. Dr. Pujo Hendriyanto, Sp. PD selaku Ketua SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kota Semarang. 3. Dr. Syaifun Niam, Sp. PD selaku Pembimbing Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kota Semarang. 4. Dr. Diana Novitasari, Sp.PD 5. Rekan - rekan Anggota Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kota Semarang. Penulis menyadari makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar referat ini dapat menjadi lebih baik. Penulis mohon maaf apabila banyak terdapat kesalahan maupun kekurangan dalam makalah ini.

Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta

Thalassemia4 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri maupun pembaca umumnya.

Semarang, Januari 2013

Intan Soraya

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan 2 Kata 3 Daftar isi 4 BAB I PENDAHULUAN 5 BAB II ISI 1. Definisi 6 2. Epidemiologi 6 Pengantar

Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta

Gejala Klinis (Stadium Thalassemia) 27 7. Klasifikasi 20 6. Pemeriksaan Penunjang 29 9. Komplikasi 32 10. Diagnosis Banding 27 8. Patofisiologi 15 5.Thalassemia5 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang 3. Fisiologi Hematopoesis 10 4. Prognosis 36 BAB III KESIMPULAN 37 Daftar Pustaka 38 Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Terapi 32 11. Skrinning 35 12.

Cooley menyadari bahwa eritroblastemia tidak spesifik dan esensial pada temuan ini sehingga istilah anemia eritroblastik tidak dapat dipakai. yang mana awalnya beliau pikir sebagai anemia eritroblastik. beberapa tipe berbeda dari thalassemia lebih endemik pada area geografis tertentu. Presentasi klinisnya bervariasi dari asimtomatik sampai berat hingga mengancam jiwa. Pada tahun 1925. namun kurang tepat karena sebenarnya kondisi ini dapat ditemukan di mana saja di seluruh dunia. mendeskripsikan suatu tipe anemia berat pada anak-anak yang berasal dari Italia. Riette mendeskripsikan mengenai adanya anemia mikrositik hipokromik ringan yang tak terjelaskan pada anak-anak keturunan Italia pada tahun yang sama saat Cooley melaporan adanya bentuk anemia berat yang akhirnya dinamakan Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Thomas Cooley. seorang spesialis anak dari Detroit. Seperti yang akan dijelaskan selanjutnya.Thalassemia6 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang BAB I PENDAHULUAN Thalassemia adalah kelainan bawaan dari sintesis hemoglobin. suatu keadaan yang disebutkan oleh von Jaksh sebelumnya. diusulkan oleh Whipple. Meskipun Cooley curiga akan adanya pengaruh genetik dari kelainan ini. Di Eropa. namun beliau gagal dalam menginvestigasi orangtua sehat pada anakanak yang mengidap kelainan ini. Dahulu dinamakan sebagai Mediterannian anemia. Namun tak lama kemudian. Beliau menemukan adanya nukleasi sel darah merah yang masif pada sapuan apus darah tepi.

atau insersi nukleotida. Defek genetik yang mendasari meliputi delesi total atau parsial gen globin dan substitusi. BAB II PEMBAHASAN 1. ataupun rantai globin lainnya. Wintrobe di Amerika Serikat melaporkan adanya anemia ringan pada kedua orangtua dari anak yang mengidap anemia Cooley. DEFINISI (1) Thalassemia adalah penurunan kecepatan sintesis atau kemampuan produksi satu atau lebih rantai globin a atau b. Akibatnya. Anemia ini sangat mirip dengan kelainan yang ditemukan Riette. dapat menimbulkan defisiensi produksi sebagian (parsial) atau menyeluruh (komplit) rantai globin tersebut. Baru setelah itu anemia Cooley dinyatakan sebagai bentuk homozigot dari anemia hipokromik mikrositik ringan yang dideskripsikan oleh Riette dan Wintrobe.Thalassemia7 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang mengikutinya namanya. Bentuk anemia berat ini kemudian dilabelisasi sebagai thalassemia mayor dan bentuk ringannya dinamakan sebagai thalassemia minor. delesi. dan emia. Thalassemia adalah sekelompok heterogen anemia hipokromik herediter dengan berbagai derajat keparahan. Kata thalassemia berasal dari bahasa Yunani yaitu thalassa yang berarti ‘laut' (mengarah ke Mediterania). Akibat dari berbagai perubahan ini adalah penurunan atau tidak adanya mRNA bagi satu atau lebih rantai Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . terjadi thalassemia yang jenisnya sesuai dengan rantai globin yang terganggu produksinya. Sebagi tambahan. yang berarti ‘berhubungan dengan darah'.

Timor Tengah.(2) Beberapa tipe thalassemia lebih umum terdapat pada area tertentu di dunia. Kira-kira 100 mutasi yang berbeda telah ditemukan mengakibatkan fenotip thalassemia. India dan Asia Tenggara.000 Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Fakta ini mendukung thalassemia sebagai salah satu penyakit turunan yang terbanyak.000 anak lahir di dunia dengan Thalassemia mayor. Yayasan Thalassemia Indonesia menyebutkan bahwa setidaknya 100.Thalassemia8 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang globin atau pembentukan mRNA yang cacat secara fungsional. Di Indonesia sendiri. 15 juta orang memiliki presentasi klinis dari thalassemia. frekuensinya rendah di Afrika. Thalassemia β memiliki distribusi sama dengan thalassemia α Dengan kekecualian di beberapa negara. talasemia α+ tersebar di Afrika. terbentuk hemoglobin hemotetramer abnormal (β 4 atau γ4) tetapi komponen polipeptida globin mempunyai struktur normal. India dan Asia Tenggara. rantai globin yang disintesis dalam eritrosit thalassemia secara struktural adalah normal. Talasemia αo ditemukan terutama di Asia Tenggara dan kepulauan Mediterania. tidak kurang dari 1. sejumlah Hb abnormal juga menyebabkan perubahan hemotologi mirip thalassemia. HbE yang merupakan varian thalassemia sangat banyak dijumpai di India. Pada umumnya. 2. menyerang hampir semua golongan etnik dan terdapat pada hampir seluruh negara di dunia. Mediterania. Akibatnya adalah penurunan dan supresi total sintesis rantai polipeptida Hb. Angka kariernya mencapai 40-80%. Birma dan beberapa negara Asia Tenggara. tinggi di mediterania dan bervariasi di Timor Tengah. banyak di antara mutasi ini adalah unik untuk daerah geografi setempat. Sebaliknya. Adanya interaksi HbE dan thalassemia β β menyebabkan thalassemia HbE sangat tinggi di wilayah ini. EPIDEMIOLOGI Di seluruh dunia. Pada bentuk thalassemia-α yang berat.

Beberapa laporan pernah mendeskripsikan adanya neonatus dengan thalassemia-α mayor yang bertahan setelah mendapat transfusi intrauterin. diperkirakan sebagai penyebab kondisi klinis yang jarang tersebut. termasuk transfusi darah teratur dan terapi khelasi.5 % pasien thalassemia β homozigot. Sekitar 70-80 pasien baru.2 % pasien thalassemia HbE. dan semua janin yang terkena akan lahir dalam keadaan hydrops fetalis akibat anemia berat. Daerah Penyebaran Thalassemia/Sabuk Thalassemia. serta thalassemia α 1. Sedang mereka yang tergolong thalassemia trait jumlahnya mencapai sekitar 200. datang tiap tahunnya. Terdapat juga laporan kasus yang lebih jarang mengenai neonatus dengan thalassemia-α mayor yang lahir tanpa hydrops fetalis yang bertahan tanpa transfusi intrauterin. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta .com/2010/11/dt-an-def-fe-40x-_cigarcellbyk21.Thalassemia9 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang anak kecil menderita penyakit ini. Pada kasus ini.(2) Mortalitas dan Morbiditas(2) Thalassemia-α mayor adalah penyakit yang mematikan.3%. (4) HYPERLINK "http://drdjebrut. tingginya level Hb Portland. sama dengan penderita thalassemia-β mayor.files. Di RSCM sampai dengan akhir tahun 2003 terdapat 1060 pasien thalassemia mayor yang berobat jalan di Pusat Thalassemia Departemen Anak FKUI-RSCM yang terdiri dari 52. yang merupakan Hb fungsional embrionik.jpg" Gambar 1.000 orang.wordpress. 46. Penderita seperti ini membutuhkan perawatan medis yang ekstensif setelahnya.

Pada kedua orang tua yang memiliki cis-delesi. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . ada beberapa tipe thalassemia yang sering ditemukan pada grup tertentu dibanding dengan yang lain. Penyakit hati. Ras (2) Meskipun thalassemia ditemukan pada semua ras dan etnik grup. meskipun juga ditemukan di bagian dunia yang lain. bayinya bias saja mengalami hydrps fetalis. Mutasi spesifik pada thalassemia sudah dapat discrenning dan didiagnostik kelainannya. atau komplikasi dari terapi khelasi. India. Gagal jantung akibat anemia berat atau iron overload adalah penyebab tersering kematian pada penderita. infeksi fulminan. Thalassemia-β mayor yang berat akan berakibat fatal bila tidak diterapi. Karena alasan ini. infeksi berat yang kronis yang dicetuskan transfusi darah. α thalassemia trait di Afrika is biasanya bukan dari cis-delesi dari kromosom 16. Kerusakan organ akibat iron overload. dimana terjadi komplit absence dari α gene pada salah satu chromosome. merupakan komplikasi yang potensial. β thalassemia biasa ditemukan di Eropa Selatan. atau komplikasi lainnya yang dicetuskan oleh penyakit ini atau terapinya termasuk merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas pada bentuk thalassemia yang berat.Thalassemia10 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Pada pasien dengan berbagai tipe thalassemia-β. mortalitas dan morbiditas bervariasi sesuai tingkat keparahan dan kualitas perawatan. dan Africa. Timur Tengah. α thalassemia biasa ditemukan di Asia Tenggara. tuli. berbeda dengan di Asia Tenggara. mereka yang mendapat terapi yang dirancang dengan baik tetap berisiko mengalami bermacam-macam komplikasi. Mortalitas dan morbiditas tidak terbatas hanya pada penderita yang tidak diterapi. atau infeksi. seperti katarak. hydops fetalis tidak beresiko tinggi oada rang Afrika tetapi beresiko tinggi pada Asia Tenggara.

Gambar 2.keduanya memiliki kemungkinan yang sama Usia (2) Meskipun thalassemia merupakan penyakit turunan (genetik). elektroforesis negatif untuk Hb A. Sapuan apus darah tepi Penyakit Hb H pada neonatus Namun. hipokromasia. produksi rantai globin γ dan penggabungannya ke Hb Fetal dapat menutupi gejala untuk sementara. mikrositosis. Ditemukannya hipokromia dan mikrositosis yang tidak jelas penyebabnya pada neonatus.Thalassemia11 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Sex (2) Baik pria maupun wanita. kelainan klinis pada pasien dengan kasus-kasus yang parah dan temuan hematologik pada pembawa (carrier) tampak jelas pada saat lahir. pada thalassemia-β berat. usia saat timbulnya gejala bervariasi secara signifikan. gejala mungkin tidak jelas sampai paruh kedua tahun pertama kehidupan. sangat mendukung diagnosis. Dalam talasemia. Banyak pasien dengan kondisi thalassemia-β homozigot yang jelas (yaitu. Bentuk thalassemia ringan sering ditemukan secara kebetulan pada berbagai usia. sampai waktu itu. Hampir semua pasien dengan kondisi tersebut dikategzffv orikan sebagai Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . bukti bahwa kedua orang tua terpengaruh) mungkin tidak menunjukkan gejala atau anemia yang signifikan selama beberapa tahun. digambarkan di bawah ini.

Colony forming unit (CFU) sebagai pelopor yang selanjutnya berkembang dan berdiferensiasi dalam memproduksi sel. 3. Sel Stem merupakan satu sel induk (klonal) yang mempunyai kemampuan berdiferensiasi menjadi beberapa turunan. 3. 2.Thalassemia12 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang thalassemia-β intermedia. Situasi ini biasanya terjadi jika pasien mengalami mutasi yang lebih ringan. FISIOLOGI HEMATOPOESIS Maximow (1924) mengemukakan suatu dalil bahwa sel darah berasal dari satu sel induk.(3) Sistem hetgyytg7yyjyj6umatopoitik dibagi menjadi 3. Faktor regulator yang mengatur agar Sistem berlangsung beraturan. yaitu: 1. membelah diri dan memperbaharui populasi sel stem sendiri di bawah pengaruh faktor pertumbuhan hematopoitik. Dalam proses selanjutnya diketahui regulasi hematopoisis sangat kompleks dan factor pertumbuhan yang berfungsi tumpang tindih serta banyak tempat untuk memproduksi factor-faktor tersebut. Sistem hematopoitik mempunyai karakteristik berupa perg5antian sel yang konstan untuk mempertahankan populasi leukosit. Dari penelitianpenelitian tersebut ditetapkan bahwa sel stem ada pada hematopoisis.Hematopoitik membutuhkan perangsang untuk pertumbuhan koloni granulosit dan makrofag yang disebut "Colony Stimulating Fac tor" (CSF) yang merupakan glikoprotein. yaitu gabungan heterozygote for B+ dan B -0 thalssemia. atau gabungan dengan heterozygote yang lain. termasuk organ hematopoitik. Sel Stem (progenitor awal) yang menyokong hematopoiesis. (3) Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . trombosit dan eritrosit. mieloid serta megakariosit. Hal ini kemudian dikembangkan oleh Downey (1938) yang membuat hipotesa dengan konsep hirarki dari sel pluripoten dan selanjutnya Till dan Mc Culloch (1961) menyimpulkan bahwa satu sel induk merupakan koloni yang memperlihatkan diferensiasi multilineage atau pluripoten menjadi eritroid.

CFU-Eo Sel T Sel T leukosit. 17q11-22 Granulosit. neutrofil BFU-E. 5q31 5q31 sel7p15 Sel B. CFU-GEMM Sel B. Sel fibroblas. plasenta. blas leukemik G-CSF fibroblast endotel. blas leukemia monosit progenitor. makrofag. monosit. hepar IL-7 IL-8 IL-9 IL=11 Eritropoietin Sel B Sel T.Makrofag CFU-E. CFU GM. sel endotel. T Sel B. sel eritroid multipoten.CFU-GEMM. T. Fibroblas. blas leukemia IL-4 IL-5 IL-6 Sel B. makrofag. hepatosit epitel Leukosit Leukosit Limfosit Makrofag Ginjal.Thalassemia13 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Dikenal sejumlah sitokin yang mempunyai peranan dalam meningkatkan aktifitas hematopoitik (Tabel 1.sel Sel T. megakariosit eritrosit. sel endotelial.1 Faktor pertumbuhan hematopoiesis serta karakterisitiknya) Faktor Sel Stimulasi Sumber Produksi Lokasi Kromosom CS1 (M-CSF) Monosit Sel endotel. BFU-E. sel sel saraf.5q33-1 fibroblast GM-CSF Granulosit. Sel T 5q23-31 IL-3 Granulosit. CFU-GEMM. BFU-E 8q-12-13 4 5q31 7q11-22 7q11-22 Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . 5q23-31 stem.

Hematopoisis yolk sac (mesoblastik atau primitif ) 2. BFU-E=burst forming unit erithrocyte. CFU -E= colony forming unit erythrocyte. CFU-GEMM= colony forming unit granulocyte. G-CSF= granulocyte colony stimulating factor. erythrocyte. IL=interleukin. CFU-GM= colony forming unit netrophilmacrophage(3) Pembentukan dan asal darah (3) Perkembangan sistem vaskuler dan hematopoisis dimulai pada awal kehidupan embrio dan berlangsung secara paralel / bersamaan sampai masa dewasa mempunyai hubungan dengan lokasi anatomi yang menyokong hematopoisis tersebut. Hematopoisis medular Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Hematopoisis hati (definitif ) 3. Secara garis besar perkembangan hematopoisis dibagi dalam 3 periode: 1.Thalassemia14 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang c-kit figand Progenitor primitif NI NI "stem cell factor" GM-CSF = granulocyte macrophage colony stimulating factor. macrophage monocyte.

Sel induk hematopoisis mulai berkelompok dalam hati janin pada masa gestasi 5-6 minggu dan pada masa gestasi 8 minggu blood island mengalami regresi. (3) Hematopoisis hati (Definitif) Hematopoisis hati berasal dari sel stem pluripoten yang berpindah dari yolk sac. produksi sitokin dan komponen merangsang adhesi dari matrik ekstraseluler dan ekspresi pada reseptor. Perubahan empat hematopoisis dari yolk sac ke hati dan kemudian sumsum tulang mempunyai hubungan dengan regulasi perkembangan oleh lingkungan mikro.Thalassemia15 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Gambar 3. hematopoisis sudah terbentuk dalam hati. Selanjutnya eritrosit dan megakariosit dapat diidentifikasi dalam yolk sac pada masa gestasi 16 hari. masih dalam hati adalah walaupun ditemukan Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Mulamula terbentuk dalam blood island yang merupakan pelopor dari sistem vaskuler dan hematopoisis. IL-3. Hematopoisis yang terutama eritropoisis.1985) Hematopoisis Yolk Sac (mesoblastik atau primitif) Sel darah dibuat dari jaringan mesenkim 2-3 minggu selelah fertilisasi. Pada masa gestasi 9 minggu. Sel induk primitif hematopoisis berasal dari mesoderm mempunyai respons terhadap faktor pertumbuhan antara lain eritropoetin. Hematopoiesis prenatal dan postnatal (dikutip dari Hasan R. IL-6 dan faktor sel stem.

tampak pelopor hematopoetik terdapat di limpa. 1985) Hematopoisis medular Merupakan periode terakhir pembentukan sistem hematopoisis dan dimulai sejak masa gestasi ulan. Hematopoisis hati mencapai puncaknya pada masa gestasi 4-5 bulan kemudian mengalami regresi perlahan-lahan. kelenjar limfe dan ginjal.Thalassemia16 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang sirkulasi granulosit dan trombosit. Ruang medular terbentuk dalam tulang rawan dan tulang panjang dengan proses reabsorpsi. semua rongga sumsum tulang diisi jaringan hematopoitik yang aktif dan sumsum tulang penuh berisi sel darah. Pada masa pertengahan kehamilan. (3) Sel mesenkim yang mempunyai kemampuan untuk membentuk sel darah Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . (3) Gambar 4. sedangkan hepar tidak berfungsi membuat sel darah lagi. thymus. Perkembangan embrional dan fetal serta ontogeni hematopoesis ( dikutip dari Hasan. Pada masa gestasi 32 minggu sampai lahir. Dalam perkembangan selanjutnya fungsi pembuatan sel darah diambil alih oleh sumsum tulang.

hematopoisis terdapat pada tulang (skeletal) dan ekstraskeletal dan pada waktu lahir hematopoisis terutama pada skeletal. Sesuai dengan Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . skull (tulang tengkorak kepala) dan jarang yang berlokasi pada humerus dan femur. Perpindahan lokasi anatomi hematopoisis disertai perpindahan populasi sel sampai ini belum dapat diketahui mekanismenya. dikenal sebagai sistem retikuloendotelial. anemia pernisiosa. limpa. hematopoisis yang aktif terutama pada sumsum tulang termasuk bagian distal tulang panjang.Thalassemia17 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang menjadi kurang. sferositosis herediter dan variasi leukemia. nickel cell anemia. Pembentukan sel darah Hemoglobin(4) Merupakan kompleks protein yang terdiri dari heme yang mengandung besi dan globin dengan interaksi dianatar heme dan globin menyebabkan hemoglobin (Hb) merupakan perangkat yang ireversibel untuk mengangkut oksigen. Pada bayi dan anak. hati. terjadi akibat penyakit yang menyebabkan gangguan produksi satu atau lebih tipe sel darah. tulang dada (sternum). kelenjar getah bening dan dinding sus. Secara umum hematopoisis ekstra medular terutama pada organ perut. seperti eritroblastosis fetalis. Selama masa intra uterin. tetapi tetap ada dalam sumsum tulang. tulang iga. Hal ini berbeda dengan dewasa normal di mana hematopoisis terbatas pada vertebra (tulang belakang). talasemia. skapula. pelvis. (3) Gambar 5.

anak dan dewasa sel darah merah mempunyai 6 hemoglobin antara lain: Hemoglobin embrional : Gower-1. Portland Hemoglobin fetal : Hb-F Hemoglobin dewasa : Hb-A1 dan Hb-A2 Hemoglobin embrional(4) Selama masa gestasi 2 minggu pertama. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . limpa. rantai γ mengganti rantai ε di yolk sac. diikuti dengan sintesis hemoglobin fetal dan awal sintesis rantai β. yang akan membentuk Hb-Portland (Z2γ2) dan Gower-2 (α2ε2) Hemoglobin yang ditemukan terutama pada masa gestasi 4-8 minggu adalah HbGower-1 dan Gower-2 yaitu kira-kira 75% dan merupakan hemoglobin yang disintesis di yolk sac. sintesis Hb-F menurun secara cepat setelah bayi lahir dan setelah usia 6-12 bulan hanya sedikit ditemukan. hati dan sumsum tulang diikuti juga dengan variasi sintesis hemoglobin. kemudian berkurang bertahap dan pada saat lahir ditemukan kira-kira 70% Hb-F. Gower-2. Setelah masa gestasi 8 minggu Hb-F paling dominan dan setelah janin berusai 6 bulan merupakan 90% dari keseluruhan hemoglobin. janin. Hemoglobin fetal(4) Migrasi pluripoten stem cell dari yolk sac ke hati. Sejak masa embrio. eritroblas priomitif dalam yolk sac membentuk rantai globin-epsilon (ε) dan zeta (Z) yang akan membentuk hemoglobin primitive Gower-1 (Z2ε2). tetapi akan menghilang pada masa gestasi 3 bulan. Selanjutnya mulai sintesis rantai α mengganti rantai zeta.Thalassemia18 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang rangkaian hematopoisis yang dimulai dari yolk sac.

Gambar 6. 4. Satu molekul Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta .masa gestasi 6 bulan ditemukan 5-10% HbA. dengan rasio normal antara HbA dan HbA 2 adalah 30:1. fetal dan pascanatal dalam hubungannya dengan perubahan tempat eritropoisis.4%. gen dan reseptor yang mempengaruhi eritroid dan dikontrol oleh factor humoral. sel stem pluripoten. Sintesis rantai globin primitive dan definitive selama periode embrional. PATOFISIOLOGI Hemoglobin (Hb) tersusun atas heme yang merupakan cincin porfirin dalam ikatan dengan Fe dan globulin yang merupakan protein pendukung. pada waktu lahir mencapai 30% dan pada usia 612 bulan sudah memperlihatkan gambaran hemoglobin dewasa.Perubahan hemoglobin janin ke dewasa merupakan proses biologi berupa diferensiasi sel induk eritroid.Thalassemia19 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Hemoglobin dewasa(4) Pada masa embrio telah dapat dideteksi HbA (α2β2) karena telah terjadi perubahan sintesis rantai γ menjadi β dan selanjutnya globin β meningkat pada . Hemoglobin dewasa minor (HbA2) ditemukan kira-kira 1% pada saat lahir dan pada usia 12 bulan mencapai 2-3.

Pada orang normal sintesis rantai α sama dengan rantai non alpha. Hb F (2α2γ) kurang dari 2% dan Hb A2 (2α2δ) kurang dari 3%. Hb A (2α2β) merupakan lebih dari 96 % Hb total. Sintesis rantai α disandi oleh gen α1 dan gen α2 di kromosom 16. yaitu sepasang rantai α dan sepasang rantai non alpha (β. sedangkan rantai non α tersusun atas 146 asam amino. Struktur hemoglobin Rantai polipeptida α tersusun atas 141 asam amino.δ). Kombinasi rantai polipeptida tersebut akan menentukan jenis hemoglobin.Thalassemia20 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang hemoglobin mengandung 4 sub-unit. Hemoglobin memiliki struktur Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Gambar 7. Globulin terdiri atas 2 pasang rantai polipeptida. rantai γ dan rantai δ terletak di kromosom 11. Zat besi dalam molekul heme secara langsung berfungsi sebagai pengikat oksigen. Struktur kimia hemoglobin memungkinkan molekul hemoglobin memiliki kemampuan untuk mengikat oksigen secara reversible.γ. sedangkan gen yang mensintesis rantai β. Thalassemia akan terjadi bila sintesis salah satu rantai polipeptida menurun. Setelah lahir. sintesis globin γ makin menurun digantikan oleh globin δ. Pada janin trisemester III kehamilan hampir 100% Hb adalah Hb F. Masing-masing sub-unit tersusun atas satu molekul globin dan satu molekul heme.

(2) Lokus α β γ δ Genotip α/α Polipetida yang terbentuk α β/β β γ/γ γ δ/δ δ Hb yang terbentuk α2β2 α2γ2 α2δ2 Untuk pembentukan α dan γ sebenarnya terdapat 2 lokus gen untuk masingmasing. masing-masing dengan satu tempat pegikatan oksigen. disintesis berdasarkan informasi genetik. Sehingga satu molekul hemoglobin dapat mengikat 4 molekul oksigen. sedangkan β dan δ hanya memilki satu lokus gen.γ.Thalassemia21 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang kuartener empat rantai polipeptida. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Masing-masing polipeptida penyusun Hb berbeda dalam urutan asam aminonya.δ) terletak pada kromosom 11. Hemoglobin yang merupakan suatu protein. Sintesis rantai γ bersama dengan sintesi rantai menonjol selama masa kehidupan janin. Dengan demikian ada beberapa lokus gen terpisah dalam kromosom yang mengatur sintesis rantai polipeptida dari hemoglobin. Rantai α akan terus disintesis sampai usia dewasa sedangkan rantai γ mulai menurun pada trisemester akhir dan dengan cepat menurun setelah kelahiran. Lokus gen untuk α terletak pada kromosom 16 sedangkan lainnya (β.

Mutasi ini dapat memperpendek rantai asam amino maupun memperpanjangnya. Pada thalassemia homozigot sintesis rantai menurun atau tidak ada sintesis sama sekali. maka orang tersebut hanya menjadi pembawa tetapi tidak menunjukkan gejala-gejala dari penyakit ini. Untuk menderita penyakit ini. Ketidakseimbangan sintesis rantai alpha atau rantai non alpha. sintesis β globin kurang lebih separuh dari nilai normalnya. yang diperlukan dalam pembentukan hemoglobin. disebabkan oleh sebuah gen cacat yang diturunkan. sedangkan kerusakan pada kedua kromosom homolog menimbulkan keadaan homozigot. seseorang harus memiliki 2 gen dari kedua orang tuanya. Pada thalasemia β homozigot. Secara genetik. Bila terjadi crossing over pada kesalahan berpasangan itu. translokasi dan iversi. pada thalasemia β heterozigot.Thalassemia22 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Talasemia merupakan salah satu bentuk kelainan genetik hemoglobin yang ditandai dengan kurangnya atau tidak adanya sintesis satu rantai globin atau lebih. gangguan pembentukan protein globin dapat disebabkan karena kerusakan gen yang terdapat pada kromosom 11 atau 16 yang ditempati lokus gen globin. (2) Secara biokimia kelainan yang paling mendasar adalah menurunnya biosintesis dari unit β globin pada Hb A. Pada replikasi DNA dapat terjadi pergantian urutan asam basa dalam DNA. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . dan perubahan kode genetic akan diteruskan pada penurunan genetic berikutnya. Kerusakan pada salah satu kromosom homolog menimbulkan terjadinya keadaan heterozigot. sintesis β globin dapat mencapai nol. khususnya kekurangan sintesis rantai β akan menyebabkan kurangnya pembentukan Hb. Sebagian besar kelainan hemoglobin dan jenis thalassemia merupakan hasil kelaianan mutasi pada gamet yang terjadi pada replikasi DNA. Kelainan mutasi dapat pula terjadi pada keselahan berpasangan kromosom pada proses meiosis yang mengakibatkan perubahan susunan material genetic. sehingga terjadi ketidak seimbangan jumlah rantai globin yang terbentuk. Ketidakseimbangan dalam rantai protein globin alfa dan beta. sebagai hasil akhir peristiwa tadi akan terjjadi apa yang disebut duplikasi. Jika hanya 1 gen yang diturunkan.delesi.

dipenuhi oleh inklusi α globin. terdistorsi. Eritropoetin meningkat sebagai respon adanya anemia. Sebagai respon kompensasi. Sel darah merah yang sudah rusak tersebut akan dihancurkan oleh limpa. Sel darah merah yang beredar kecil. mikrosisitk dan poikilositik. menggambarkan komponen hemolitik dari penyakit ini. Anemia yang berat terjadi akibat adanya penurunan oksigen carrying capacity dari setiap eritrosit dan tendensi dari sel darah merah matur (yang jumlahnya sedikit) mengalami hemolisa secara prematur. Sel darah merah yang mengandung jumlah Hb F yang lebih tinggi mempunyai umur yang lebih panjang. sehingga sumsum-sumsum tulang dipacu untuk memproduksi eritroid prekusor yang lebih banyak. maka sintesis rantai γ menjadi teraktifasi sehingga hemoglobin pasien mengandung proporsi Hb F yang meningkat. sehingga pasien dengan thalasemia β homozigot mengalami anemia berat. Namun sintesis rantai γ ini tidak efektif dan secara kuantitas tidak mencukupi. Mereka dapat beragregasi menjadi suatu inklusi protein (haeinz bodys). Namun mekanisme kompensasi ini tidak efektif karena adanya kematian yang prematur dari eritroblas. hepar. dan sumsum tulang. Hasilnya adalah suatu ekspansi sumsum tulang yang masif yang memproduksi sel darah merah baru. sintesis Hb A total menurun dengan sangat jelas atau bahkan tidak ada. Hal yang telah disebutkan diatas adalah gambaran dari Anemia Cooley: hipokromik. (7) Pada thalasemia β homozigot. menyebabkan kerusakan membran pada sel darah merah dan destruksi dari sel darah merah imatur dalam sumsum tulang sehingga jumlah sel darah merah matur yang diproduksi menjadi berkurang.Thalassemia23 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Karena adanya defisiensi yang berat pada rantai β. dan mengandung komplemen hemoglobin yang menurun. sintesis rantai α tidak mengalami perubahan. Rantai α bebas ini mudah teroksidasi. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Ketidak-seimbangan sintesis dari rantai polipeptida ini mengakibatkan kelebihan adanya rantai α bebas di dalam sel darah merah yang berinti dan retikulosit.

menginvasi bagian kortikal dari tulang. transferrin. Efek hepsidin terhadap siklus besi dilakukan melalui kerja hormon lain bernama ferroportin. Pada keadaan iron overload. fraktur patologis. Secara klinis terlihat sebagai kegalan dari pertumbuhan dan perkembangan.Thalassemia24 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Sumsum tulang mengalami ekspansi secara masif. kerentanan terhadap infeksi. seperti pada thalassemia berat. menghabiskan sumber kalori yang sangat besar pada umur-umur yang kritis pada pertumbuhan dan perkembangan. eritropoesis yang inefektif dapat diperbaiki. absorpsi besi menurun akibat meningkatnya jumlah hepsidin. Besi ini cukup Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . mengalihkan sumber-sumber biokimia yang vital dari tempat-tempat yang membutuhkannya dan menempatkan suatu stress yang sangat besar pada jantung. Namun. kegagalan jantung high output. yang mentransportasikan besi dari enterosit dan makrofag menuju plasma dan menghantarkan besi dari plasenta menuju fetus. dan kematian di usia muda tanpa adanya terapi transfusi. meskipun keduanya memiliki jumlah besi yang sama. Hubungan ini juga menjelaskan mengapa penderita dengan thalassemia-β yang memiliki jumlah besi yang sama memiliki jumlah ferritin yang berbeda sesuai dengan apakah mereka mendapat transfusi darah teratur atau tidak. dan terjadi peningkatan jumlah hormon hepcidin. transferrin tersaturasi. Kebanyakan besi non-heme pada individu yang sehat berikatan kuat dengan protein pembawanya. penderita thalassemia-β intermedia yang tidak mendapatkan transfusi darah memiliki jumlah ferritin yang lebih rendah dibandngkan dengan penderita yang mendapatkan transfusi darah secara teratur. deformitas dari tulang. hal ini tidak terjadi pada penderita thalassemia-β berat karena diduga faktor plasma menggantikan mekanisme tersebut dan mencegah terjadinya produksi hepsidin sehingga absorpsi besi terus berlangsung meskipun penderita dalam keadaan iron overload. sehingga penyerapan besi akan berkurang dan makrofag akan mempertahankan kadar besi. (8) Dengan pemberian transfusi darah. dan besi bebas ditemukan di plasma. Sebagai contoh. Ferroportin diregulasi oleh jumlah penyimpanan besi dan jumlah hepsidin. Pada pasien dengan iron overload (misalnya hemokromatosis).

secara garis besar terdapat dua tipe utama thalassemia yaitu α thalassemia dan β thalassemia. seperti jantung. KLASIFIKASI Talasemia adalah grup kelainan sintesis hemoglobin yang heterogen akibat pengurangan produksi satu atau lebih rantai globin. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan produksi rantai globin. dan hati.Thalassemia25 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang berbahaya karena memiliki material untuk memproduksi hidroksil radikal dan akhirnya akan terakumulasi pada organ-organ. Sebagaimana telah disebutkan di atas.penyakit Hb H Penghapusan 2 gen ( trait thalasemia α° ) Penghapusan 1 gen ( trait thalasemia α+ ) Thalassemia β Homozigot – thalassemia mayor Heterzigot.hydrops fetalis Penghapusan 3 gen. kelenjar endokrin. Selain itu juga terdapat tipe thalassemia lain seperti thalassemia intermediate. (2) 5.trait thalassemia Anemia berat perlu transfusi darah Sediaan darah mikrositik hipokrom tetapi biasanya dengan atau tanpa anemia Kematian in utero Anemia hemolitik Sediaan darah mikrositik hipokrom tetapi biasanya tanpa anemia Sindroma klinik Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . mengakibatkan terjadinya kerusakan pada organ-organ tersebut (organ damage). Abnormalitas genetic Thalassemia α Penghapusan 4 gen.

Heterozigot biasanya tanpa gejala homozigot atau gabungan heterozigot gejalanya lebih berat dari talasemia α atau β. dan empat bentuk thalassemia-α yang berbeda telah diketahui sesuai dengan delesi satu. dua.Thalassemia26 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Thalassemia intermediate Sindroma klinik yang disebabkan olehAnemia sejenis lesi genetik hipokrom mikrositik. kelebihan beban besi. Thalassemia-α Genotip Jumlah gen α Presentasi Klinis Hemoglobin Elektroforesis Saat Lahir αα/αα -α/αα 4 3 Normal Silent carrier Trait thal-α N 0-3 % Hb Barts 2-10% Hb Barts > 6 bulan N N N --/αα atau –2 α/-α Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . tiga.(2) Thalassemia-α(7) Anemia mikrositik yang disebabkan oleh defisiensi sintesis globin-α banyak ditemukan di Afrika. negara di daerah Mediterania. Terdapat empat gen globin-α pada individu normal. dan sebagian besar Asia. Talasemia diturunkan berdasarkan hukum Mendel. Tabel 1. resesif atau ko-dominan. dan semua empat gen ini. Delesi gen globin-α menyebabkan sebagian besar kelainan ini. hepato- splenomegali.

Penderita sehat secara hematologis. Silent carrier thalassemia-α  Merupakan tipe thalassemia subklinik yang paling umum.  Pada tipe silent carrier. hanya ditemukan adanya jumlah eritrosit (sel darah merah) yang rendah dalam beberapa pemeriksaan. Hb Barts tidak terlihat lagi. seringnya pada etnik Afro-Amerika. salah satu gen α pada kromosom 16 menghilang. diagnosis tidak dapat dipastikan dengan pemeriksaan elektroforesis Hb. dan kadar Hb A2 dan HbF secara khas normal. (7) b. Kelainan ini sering ditemukan di Asia Tenggara. dan Timur Tengah. Hb Bart’s = γ4. Hb = hemoglobin. sejumlah kecil Hb Barts (γ 4) dapat ditemukan pada elektroforesis Hb. Lewat umur satu bulan.  Pada bayi baru lahir yang terkena. Trait thalassemia-α  Trait ini dikarakterisasi dengan anemia ringan dan jumlah sel darah merah yang rendah. Kondisi ini disebabkan oleh hilangnya 2 gen α pada satu kromosom 16 atau satu gen α pada masing-masing kromosom. sehingga harus dilakukan tes lain yang lebih canggih. HbH = β4 a.Thalassemia27 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang --/-α --/-- 1 0 Penyakit Hb H Hydrops fetalis 15-30% Hb Bart >75% Hb Bart Hb H - Ket : N = hasil normal. Pemeriksaan darah lengkap pada salah satu orangtua yang menunjukkan adanya hipokromia dan mikrositosis tanpa penyebab yang jelas merupakan bukti yang cukup kuat menuju diagnosis thalasemia. (7) Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . biasanya ditemukan secara kebetulan diantara populasi. Seperti telah dijelaskan sebelumnya. menyisakan hanya 3 dari 4 gen tersebut.  Pada tipe ini. Bisa juga dicari akan adanya kelainan hematologi pada anggota keluarga (misalnya orangtua) untuk mendukung diagnosis. terdapat 2 gen α yang terletak pada kromosom 16. subbenua India.

(7) Gambar 8. Thalassemia alpha menurut hukum Mendel (6) c. merepresentasikan thalassemia-α intermedia. dan jumlah sel darah merah yang abnormal. dengan anemia sedang sampai berat. splenomegali. ikterus.Thalassemia28 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Gambar 7. Pada sediaan apus darah tepi yang diwarnai dengan pewarnaan supravital akan tampak sel-sel darah merah yang diinklusi oleh rantai tetramer β (Hb H) yang tidak stabil dan terpresipitasi di dalam eritrosit. Penyakit Hb H Kelainan disebabkan oleh hilangnya 3 gen globin α. sehingga menampilkan gambaran golf ball. Badan inklusi ini dinamakan sebagai Heinz bodies. Pewarnaan supravital pada sapuan apus darah tepi Penyakit Hb H yang menunjukkan Heinz-Bodies Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta .

Lebih dari 90% individu dengan trait thalassemia-β mempunyai peningkatan Hb-A2 yang berarti (3. atau keduanya. dengan gagal jantung kongestif dan edema anasarka berat. maka bayi-bayi itu mengalami hipoksia berat. disebabkan oleh delesi semua gen globin-α. dikenal beberapa bentuk klinis dari thalassemia-β. Hb F.  Kebanyakan dari bayi-bayi ini lahir mati. (7) Thalassemia-β (8) Sama dengan thalassemia-α. antara lain : a. Individu dengan ciri (trait) thalassemia sering didiagnosis salah sebagai anemia defisiensi besi dan mungkin diberi terapi yang tidak tepat dengan preparat besi selama waktu yang panjang. Yang dapat hidup dengan manajemen neonatus agresif juga nantinya akan sangat bergantung dengan transfusi. Trait thalassemia-β+ heterozigot (Thalassemia minor) Penderita mengalami anemia ringan. disertai dengan tidak ada sintesis rantai α sama sekali. Bayi ini sangat hidropik. dan karena γ4 memiliki afinitas oksigen yang tinggi. Eritrositnya juga mengandung sejumlah kecil Hb embrional normal (Hb Portland = ζ2γ2). yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen.  Karena Hb F. maka tidak satupun dari Hb ini terbentuk. dan Hb A 2 semuanya mengandung rantai α. dan kebanyakan dari bayi yang lahir hidup meninggal dalam waktu beberapa jam. dan elektroforesis Hb abnormal dimana didapatkan peningkatan jumlah Hb A2. nilai eritrosit abnormal.Thalassemia29 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang a. Hb Barts (γ 4) mendominasi pada bayi yang menderita.4%-7%). Hb A. Kira-kira 50% individu Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Thalassemia-α mayor  Bentuk thalassemia yang paling berat.

(8) Gambar 9. Thalassemia-β° homozigot (Anemia Cooley. Tanpa transfusi. sekitar 2-6%. Sapuan darah tepi tampak sel target a. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta .Thalassemia30 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang ini juga mempunyai sedikit kenaikan HbF. Thalassemia Mayor) Bergejala sebagai anemia hemolitik kronis yang progresif selama 6 bulan kedua kehidupan. yang mewakili thalassemia tipe δβ. dijumpai Hb A2 normal dengan kadar HbF berkisar dari 5% sampai 15%. yang benar-benar khas. 80% penderita meninggal pada 5 tahun pertama kehidupan. Pada sekelompok kecil kasus. Transfusi darah yang reguler diperlukan pada penderita ini untuk mencegah kelemahan yang amat sangat dan gagal jantung yang disebabkan oleh anemia. Thalassemia beta menurut Hukum Mendel Gambar 10.

Deformitas tulang pada thalassemia beta mayor (Facies Cooley) Pucat. Limpa dan hati membesar karena hematopoesis ekstrameduler dan hemosiderosis. limpa mungkin sedemikian besarnya sehingga menimbulkan ketidaknyamanan mekanis dan hipersplenisme sekunder.Thalassemia31 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Pada kasus yang tidak diterapi atau pada penderita yang jarang menerima transfusi pada waktu anemia berat. terjadi hipertrofi jaringan eritropoetik disumsum tulang maupun di luar sumsum tulang. Pada penderita yang lebih tua. dan ikterus sama-sama memberi kesan coklat kekuningan. Gambar 11. hemosiderosis. Ekspansi masif sumsum tulang di wajah dan tengkorak menghasilkan bentuk wajah yang khas. Tulang-tulang menjadi tipis dan fraktur patologis mungkin terjadi. Gambar 12. Splenomegali pada thalassemia Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta .

tidak aktif beraktifitas atau jarang bermain dengan teman seusianya. yang membedakan adalah tingkat keparahannya. pembesarah lien dan atau hepar.letih. lemah. aneh (sel bizarre) dan sel target. conjungtiva anemis. bentuk tulang yang abnormal. Kadar serum besi tinggi dengan saturasi kapasitas pengikat besi (iron binding capacity). Gambaran biokimiawi yang nyata adalah adanya kadar HbF yang sangat tinggi dalam eritrosit. gagal tumbuh. Kadar Hb turun secara cepat menjadi < 5 gr/dL kecuali mendapat transfusi. Terdapat suatu sistem pembagian stadium thalassemia berdasarkan jumlah kumulatif transfusi darah yang diberikan pada penderita untuk menentukan tingkat gejala yang melibatkan kardiovaskuler dan untuk memutuskan kapan untuk memulai terapi Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Inklusi intraeritrositik. GEJALA KLINIS (STADIUM THALASSEMIA) (9) Gejala klinis pada thalassemia hampir semua sama. pubertas terlambat atau tidak terjadi karena kelainan endokrin sekunder. yang merupakan presipitasi kelebihan rantai α. Kelainan morfologi eritrosit pada penderita thalassemia-β° homozigot yang tidak ditransfusi adalah ekstrem. terutama setelah splenektomi. Gejala klinis biasa berupa tanda-tanda anemia seperti pucat. juga terlihat pasca splenektomi. banyak ditemukan poikilosit yang terfragmentasi.lesu. dari ringan (asimptomatik) sampai parahnya gejala. Pada pemeriksaan fisik didapatkan facies Cooley. sering pula disertai dengan kesulitan makan. infeksi berulang dan perubahan tulang. termasuk aritmia dan gagal jantung kongestif kronis yang disebabkan oleh siderosis miokardium sering merupakan kejadian terminal. sesak nafas kurang konsentrasi. Sejumlah besar eritrosit yang berinti ada di darah tepi. Disamping hipokromia dan mikrositosis berat. Komplikasi jantung. Diabetes mellitus yang disebabkan oleh siderosis pankreas mungkin terjadi.. (8) 6.Thalassemia32 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Pertumbuhan terganggu pada anak yang lebih tua.

pasien dibagi menjadi tiga kelompok. Pada ECG ditemukan penebalan dan dilatasi pada dinding ventrikel kiri. Dapat ditemukan pulsasi atrial dan ventrikular abnormal pada EKG dalam 24 jam.Thalassemia33 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang khelasi pada pasien dengan thalassemia-β mayor atau intermedia. 7. Stadium II Merupakan mereka yang mendapat transfusi antara 100-400 unit PRC dan memiliki keluhan lemah-lesu. yaitu : Stadium I Merupakan mereka yang mendapat transfusi kurang dari 100 unit Packed Red Cells (PRC). Pada sistem ini. Penderita biasanya asimtomatik. Stadium III Gejala berkisar dari palpitasi hingga gagal jantung kongestif. DIAGNOSIS BANDING Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . pada echokardiogram (ECG) hanya ditemukan sedikit penebalan pada dinding ventrikel kiri. menurunnya fraksi ejeksi pada ECG. Pada EKG dalam 24 jam ditemukan pulsasi prematur dari atrial dan ventrikular. dan elektrokardiogram (EKG) dalam 24 jam normal.

Namun kedua penyakit ini dapat dibedakan. dimana enzim ini bekerja untuk mencegah kerusakan eritrosit akibat oksidasi. dan gambaran eritrosit mikrositik hipokrom. kadar TIBC (Total Iron Binding Capacity) normal atau meningkat sedangkan pada thalassemia kadar besi dan TIBC normal.Thalassemia34 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Thalassemia sering kali didiagnosis salah sebagai anemia defisiensi Fe. karena pada anemia defisiensi Fe didapatkan : (10) Pucat tanpa organomegali SI rendah IBC meningkat Tidak tedapat besi dalam sumsum tulang Bereaksi baik dengan pengobatan dengan preparat besi Gambar 13. Apusan darah tepi defisiensi besi Anemia sideroblastik dimana didaptkan pula gambaran apusan darah tepi mikrositik hipokrom dan gejala-gejala anemia. Dapat juga dibandingkan dengan anemia defisiensi G6PD. hal ini disebabkan oleh karena kemiripan gejala yang ditimbulkan. yang membedakan dengan thalassemia adalah kadar besi dalam darah tinggi. Merupakan salah satu Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta .

Bila terjadi hipersplenisme akan terjadi penurunan dari jumlah trombosit. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium yang perlu untuk menegakkan diagnosis thalassemia ialah: 1. Dapat ditemukan penurunan jumlah eritrosit. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . (9) 8. peningkatan jumlah lekosit. yang memberi gambaran klinis yang sama. Thalassemia juga didiagnosis banding dengan jenis thalassemia lainnya. Darah (2) Pemeriksaan darah yang dilakukan pada pasien yang dicurigai menderita thalasemia adalah : Darah rutin Kadar hemoglobin menurun. ditemukan pula peningkatan dari sel PMN. Hitung retikulosit Hitung retikulosit meningkat antara 2-8 %. Pada thalassemia α dengan HbH ditemukan jaundice dan splenomegali.Thalassemia35 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang anemia hemolitik juga. Dapat dibedakan dengan thalassemia dengan gambaran apusan darah tepi dimana pada defisiensi G6PD nomositik-normokrom dan pemeriksaan enzim G6PD. Namun pada pemeriksaan elektroforesis hemoglobin dapat diketahui jenis thalassemia α atau thalassemia β.

2. Pada anemia defisiensi besi SI akan menurun. Sapuan darah tepi pada thalassemia Serum Iron & Total Iron Binding Capacity Kedua pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan anemia terjadi karena defisiensi besi. Tes Fungsi Hepar Kadar unconjugated bilirubin akan meningkat sampai 2-4 mg%. Pada gambaran sediaan darah tepi akan ditemukan retikulosit. bila angka tersebut sudah terlampaui maka harus dipikir adanya kemungkinan hepatitis. Gambar 13. Akibat dari kerusakan ini akan berakibat juga terjadi kelainan dalam faktor pembekuan darah. obstruksi batu empedu dan cholangitis. tear drops sel dan target sel. poikilositosis. sedangkan TIBC akan meningkat. Elektroforesis Hb (2) Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta .Thalassemia36 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Gambaran darah tepi Anemia pada thalassemia mayor mempunyai sifat mikrositik hipokrom. Serum SGOT dan SGPT akan meningkat dan menandakan adanya kerusakan hepar.

8. namun juga pada orang tua. Pemeriksaan sumsum tulang (2) Pada sumsum tulang akan tampak suatu proses eritropoesis yang sangat aktif sekali. Gambar 14. Pemeriksaan ini tidak hanya ditujukan pada penderita thalassemia saja. pada keadaan normal biasanya nilai perbandingannya 10 : 3. Pemeriksaan ini untuk melihat jenis hemoglobin dan kadar HbA2. Bila tidak mendapat tranfusi dijumpai osteopeni. Ratio rata-rata antara myeloid dan eritroid adalah 0. Sapuan sumsum tulang May-Giemsa stain. sedangkan dalam keadaan normal kadarnya tidak melebihi 1%. resorbsi tulang meningkat. 3. Pada thalassemia β kadar Hb F bervariasi antara 10-90%. mineralisasi berkurang. x1000 4.Thalassemia37 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Diagnosis definitif ditegakkan dengan pemeriksaan eleltroforesis hemoglobin. Pemeriksaan rontgen (5) Ada hubungan erat antara metabolisme tulang dan eritropoesis. dan saudara sekandung jika ada. Apabila tranfusi tidak optimal terjadi Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . dan dapat diperbaiki dengan pemberian tranfusi darah secara berkala. Petunjuk adanya thalassemia α adalah ditemukannya Hb Barts dan Hb H.

disebut dengan "hair on end" yaitu menyerupai rambut berdiri potongan pendek pada anak besar. Trabekulasi memberi gambaran mozaik pada tulang. Gambar 15. HLA typing untuk pasien yang akan di transplantasi sumsum tulang. sehingga kadar serum besi yang berlebihan. 5. EKG dan echocardiography untuk mengetahui dan memonitor keadaan jantungnya. Pemeriksaan mata. fungsi ginjal dan test darah rutin untuk memonitor efek terapi deferoxamine (DFO) dan shelating agent. leukosit dan trombosit. pendengaran. Gambar rontgen kepala "Hair on end" dan tulang panjang yang terjadi penipisan korteks. (9) 9. 6. Tulang terngkorak memberikan gambaran yang khas. penipisan cortex tulang dan mudah fraktur. Kadang ditemukan jantung yang kardiomegali akibat anemianya. 7. Hemosdierosis akibat pemberian transfuse. Anak dengan β thalassemia mayor dengan transfuse yang tidak adekuat dapat menyebabkan pertumbuhan kurang dan mudah terinfeksi.Thalassemia38 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang ekspansi rongga sumsum dan penipisan dari korteknya. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . KOMPLIKASI Splenomegali karena penimbunan besi dan eritrosit abnormal. hepatosplenomegali.

thalassemia meningkatkan komplikasi pada kehamilan karena toksikemia dan peradarahan post partum. Congestive heart failure dan cardiac aritmia pada transfusi tanpa chelating agent. Penderita thalassemia berat membutuhkan terapi medis. Terapi preparat besi sebaiknya tidak diberikan kecuali memang dipastikan terdapat defisiensi besi dan harus segera dihentikan apabila nilai Hb yang potensial pada penderita tersebut telah tercapai. (10) 9. Thrombosis dan septikemia pada splenektomi Wanita dengan fetus α. Transfusi darah harus dimulai pada usia dini ketika anak mulai mengalami gejala dan setelah periode pengamatan awal untuk menilai apakah anak dapat mempertahankan nilai Hb dalam batas normal tanpa transfusi. TERAPI Penderita trait thalassemia tidak memerlukan terapi ataupun perawatan lanjut setelah diagnosis awal dibuat. Diperlukan konseling pada semua penderita dengan kelainan genetik.Thalassemia39 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Kerusakan hepar yang disebabkan oleh besi yang berhubungan dengan komplikasi sekunder dari transfuse dan infeksi hepatitis C merupakan penyebab tersering hepatitis pada anak dengan thalassemia. dan regimen transfusi darah merupakan terapi awal untuk memperpanjang masa hidup. khususnya mereka yang memiliki anggota keluarga yang berisiko untuk terkena penyakit thalassemia berat. Transfusi Darah (4) Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta .

Beberapa tahun lalu. Infeksi oleh organisme opurtunistik dapat menyebabkan demam dan enteriris pada penderita dengan iron overload. Virus Hepatitis C (HCV) merupakan penyebab utama hepatitis pada remaja usia di atas 15 tahun dengan thalassemia. khususnya mereka yang mendapat terapi khelasi dengan Deferoksamin (DFO). maka dibutuhkan suatu studi lengkap untuk keperluan pretransfusi. pada beberapa pasien. sebaiknya diterapi dengan Gentamisin dan Trimetoprim-Sulfametoksazol.5 gr/dL sepanjang waktu. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Terapi Khelasi (Pengikat Besi) (4) Apabila diberikan sebagai kombinasi dengan transfusi. 25% pasien yang menerima transfusi terekspose virus hepatitis B. Pemeriksaan tersebut meliputi fenotip sel darah merah. Saat ini. terapi khelasi dapat menunda onset dari kelainan jantung dan. Demam yang tidak jelas penyebabnya. vaksinasi hepatitis B (bila perlu). Pada pasien yang membutuhkan transfusi darah reguler.Thalassemia40 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Transfusi darah bertujuan untuk mempertahankan nilai Hb tetap pada level 9-9. dengan adanya imunisasi. dan pemeriksaan hepatitis. insidens tersebut sudah jauh berkurang. bahkan tanpa diberikan transfusi. bahkan dapat mencegah kelainan jantung tersebut. Pertimbangkan pemberikan asetaminofen dan difenhidramin sebelum transfusi untuk mencegah demam dan reaksi alergi. Darah yang akan ditransfusikan harus rendah leukosit. 10-15 mL/kg PRC dengan kecepatan 5 mL/kg/jam setiap 3-5 minggu biasanya merupakan regimen yang adekuat untuk mempertahankan nilai Hb yang diinginkan. Komplikasi Transfusi Darah (4) Komplikasi utama dari transfusi adalah yang berkaitan dengan transmisi bahan infeksius ataupun terjadinya iron overload. Penderita thalassemia mayor biasanya lebih mudah untuk terkena infeksi dibanding anak normal.

Prognosis jangka panjang pasca transplantasi . Prognosis bagi penderita yang memiliki ketiga karakteristik ini adalah 59%. fibrosis portal. fungsi penyimpanan). atau subkutan). Terapi Bedah(4) Splenektomi merupakan prosedur pembedahan utama yang digunakan pada pasien dengan thalassemia. Prognosis yang buruk pasca TSSH berhubungan dengan adanya hepatomegali. Limpa juga meningkatkan perusakan sel darah merah dan distribusi besi. Meskipun transfusi darah tidak diperlukan setelah transplantasi sukses dilakukan. Fakta-fakta ini harus selalu dipertimbangkan sebelum memutuskan melakukan splenektomi. Dosis total yang diberikan adalah 30-40mg/kg/hari diinfuskan selama 8-12 jam saat pasien tidur selama 5 hari/minggu. Karena DFO tidak diserap di usus. sedangkan pada penderita yang tidak memiliki ketiganya adalah 90%. intramuskular. individu tertentu perlu terus mendapat terapi khelasi untuk menghilangkan zat besi yang berlebihan. maka rute pemberiannya harus melalui parenteral (intravena.Thalassemia41 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Chelating agent yang biasa dipakai adalah DFO yang merupakan kompleks hidroksilamin dengan afinitas tinggi terhadap besi. Kemungkinan kanker setelah TSSH juga harus dipertimbangkan. tidak diketahui. Waktu yang optimal untuk memulai pengobatan tersebut adalah setahun setelah TSSH. termasuk fertilitas.. Limpa diketahui mengandung sejumlah besar besi nontoksik (yaitu. dan terapi khelasi yang inefektif sebelum transplantasi dilakukan. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Transplantasi Sel Stem Hematopoetik (TSSH) (4) TSSH merupakan satu-satunya yang terapi kuratif untuk thalassemia yang saat ini diketahui. Rute pemberiannya sangat penting untuk mencapai tujuan terapi. Limpa berfungsi sebagai penyimpanan untuk besi nontoksik. Biaya jangka panjang terapi standar diketahui lebih tinggi daripada biaya transplantasi. yaitu untuk mencapai keseimbangan besi negatif (lebih banyak diekskresi dibanding yang diserap).

dengan suplemen sebagai berikut : Vitamin C à 100-250 mg/hari selama pemberian kelasi besi. Pengangkatan limpa yang terlalu dini dapat membahayakan. Pengobatan agresif dengan antibiotik harus selalu diberikan untuk setiap keluhan demam sambil menunggu hasil kultur. Transplantasi sumsum tulang merupakan satu-satunya terapi definitive untuk talasemia. menyebabkan penghancuran sel darah merah yang berlebihan dan dengan demikian meningkatkan kebutuhan transfusi darah. Vitamin E à 200-400 IU setiap hari. Splenektomi dapat bermanfaat pada pasien yang membutuhkan lebih dari 200-250 mL / kg PRC per tahun untuk mempertahankan tingkat Hb 10 gr / dL karena dapat menurunkan kebutuhan sel darah merah sampai 30%.Thalassemia42 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang sehingga melindungi seluruh tubuh dari besi tersebut. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Sebaliknya. Transplantasi sumsum tulang(4) Transplantasi sumsum tulang untuk talasemia pertama kali dilakukan tahun 1982. Jarang dilakukan karena mahal dan sulit. Diet talasemia (11) Pasien dianjurkan menjalani diet normal. dan banyak prosedur sekarang dilakukan dengan laparoskopi. prosedur ditunda bila memungkinkan sampai anak berusia 4-5 tahun atau lebih. splenektomi dibenarkan apabila limpa menjadi hiperaktif. Dosis rendah Aspirin® setiap hari juga bermanfaat jika platelet meningkat menjadi lebih dari 600. Biasanya. menghasilkan lebih banyak akumulasi besi. Asam Folat à 2-5 mg/hari untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat.000 / μL pasca splenektomi. Risiko yang terkait dengan splenektomi minimal.

(9) Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Bayi dengan thalassemia α mayor kebanyakn lahir mati atau lahir hidup dan meninggal dalam beberapa jam. kadar Hb A2 (meningkat pada thalassemia-β).Thalassemia43 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang Sebaiknya zat besi tidak diberikan. pasangannya bisa diperiksa dan bila termasuk karier. PROGNOSIS Prognosis bergantung pada tipe dan tingkat keparahan dari thalassemia. pasien dikirim ke pusat yang bisa menganalisis rantai α. Penting menyediakan program konseling verbal maupun tertulis mengenai skrinning. 10. Seperti dijelaskan sebelumnya. (4) 11. biasanya meninggal karena penimbunan besi. Bila heterozigot menikah. pasangan tersebut ditawari diagnosis prenatal dan terminasi kehamilan pada fetus dengan thalassemia β berat. Bila kadarnya normal. Bila populasi tersebut menghendaki pemilihan pasangan. kondisi klinis penderita thalassemia sangat bervariasi dari ringan bahkan asimtomatik hingga berat dan mengancam jiwa. Bila ibu heterozigot sudah diketahui sebelum lahir. 1 dari 4 anak mereka bisa menjadi homozigot atau gabungan heterozigot. tergantung pula pada terapi dan komplikasi yang terjadi. skrinning populasi dan koseling tentang pasangan bisa dilakukan. dilakukan skrinning premarital yang bisa dilakukan di sekolah anak. Kopi dan teh diketahui dapat membantu mengurangi penyerapan zat besi di usus. melalui ukuran eritrosit. dan makanan yang kaya akan zat besi juga dihindari. Pasien dengan thalassemia dengan transfuse darah biasanya hanya bertahan sampai usia 20 tahun. Alternatif lain bisa juga dilakukan pemeriksaan terhadap setiap wanita hamil berdasar ras. SKRINNING Ada 2 pendekatan untuk menghinadari thalassemia: Karena karier thalassemia β bias diketahui dengan mudah.

Terapi thalassemia antara lain adalah terapi transfusi. India sampai Asia Tenggara. resesif atau ko-dominan. terapi pengikat besi (khelasi). sedangkan homozigot atau gabungan heterozigot gejalanya lebih berat dari thalassemia α dan β. Thalassemia ditemukan tersebar di seluruh ras di Mediterania. yang nantinya akan dibagi lagi menjadi beberapa subtipe berdasarkan derajat mutasi (secara genetik) ataupun berat ringannya gejala. Masing-masing terapi memiliki kriteria dan efek samping tertentu sehingga perlu dipertimbangkan secara seksama. Gejala klinis biasa berupa tanda-tanda anemia seperti pucat.letih.Thalassemia44 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang BAB III KESIMPULAN Thalassemia adalah gangguan pembuatan hemoglobin yang diturunkan. conjungtiva anemis. gagal tumbuh. penderita thalassemia yang berat biasanya tidak dapat bertahan hingga mencapai usia dewasa normal meskipun kemungkinan ini tidak tertutup sama sekali. Thalassemia diturunkan berdasarkan hukum Mendel. sering pula disertai dengan kesulitan makan. splenektomi. bentuk tulang yang abnormal. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Pada pemeriksaan fisik didapatkan facies Cooley. tidak aktif beraktifitas atau jarang bermain dengan teman seusianya. lemah. Heterozigot biasanya tanpa gejala. pembesarah lien dan atau hepar. sesak nafas kurang konsentrasi.lesu. Sampai saat ini. Thalassemia memiliki dua tipe utama berdasarkan rantai globin yang hilang pada hemoglobin individu yaitu Thalassemia-α dan thalassemia-β. dan transplantasi sumsum tulang. infeksi berulang dan perubahan tulang. Timur Tengah. Konseling mengenai thalassemia sangat diperlukan untuk skrining dan pemahaman terhadap penderita.

Blood cells. Thalassemia intermedia: Revisited. al. 7th Edition: The McGraw-Hill Companies. Edisi ke-15..S. 1995 Donald L. Volume 2. et. Disorders of Globin Synthesis: The Thalassemias. Molecules and Diseases Journals: Elsevier Inc.R. William A. al. Chapter 46. Marshall A. 2006 Clara Camaschella et. al. Kelainan Hemoglobin: Sindrom Thalassemia. 2000: Hemoglobinopathies and Thalassemia in 369-394 Bessie E Spiliotis et. Lichtman et. et al.. Williams Hematology. THALASSEMIA INTERMEDIA. 2001. al. 2007.. Marcel Dekker Inc. JR. Sanford A. Hal 1708-1712. Ali Taher. Arvin Ann M. Molecular Basis of Disease Journals: Haematologica. Ilmu Kesehatan Anak Nelson.Thalassemia45 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang DAFTAR PUSTAKA Behrman Richard E. β-Thalassemia and normal growth: are they compatible. et. al. R. European Journal of Endocrinology: European Journal of Endocrinology (1998) 139 143–144 Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Handbook of Hematologic Pathology. Kliegman Robert. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Chruchill Livingstone. Available at : http://emedicine. Haut. al. 18th Edition. 2010. Thalassemias.medscape. New York : Lange Medical Books/ McGraw Hill Publishing Division . 2005.. Forfar and Arneil’s Textbook of Paediatrics. 2010. Current Diagnosis and Treatment in Pediatrics. The hemoglobinopathies and thalassemias. K.S Department of Health & Human Services. IRON STORE AND FREE RADICALS IN THALASSEMIA. 20 (2) 192-194 U. September 27.Thalassemia46 Kepaniteraan Klinik Dasar Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kodya Semarang K.medscape. 2007. Edisi 7. Wintrobe MM. Available at : http://emedicine. 2009.nhlbi. SA. Hematologic Disorders. Bleibel. 2010. Thalassemia: Differential diagnoses & Workup. Intan Soraya Universitas Trisakti Jakarta . Goswami et.com/article/206397-overview Takeshita. April 30. Hal 841-845.com/article/958850-diagnosis Hay WW. Thalassemia Alpha.com/article/206490-overview Yaish Hassan M.nih. A. Available at: http://www. August 26. Available at : http://emedicine.gov/health/dci/Diseases/Thalassemia/Thalassemia_Causes.medscape. Hal 1621-1632. Levin MJ. Thalassemia Beta.html. Indian Journal of Clinical Biochemistry.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful