BAB I PENDAHULUAN

Malaria adalah infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual didalam darah. Infeksi malaria memberikan gejala berupa demam, menggigil, anemia dan splenomegali. Dapat berlangsung akut atau kronik. Infeksi malaria dapat berlangsung tanpa komplikasi ataupun mengalami komplikasi sitemik yang dikenal sebagai malaria berat. 1,2 Penyebab infeksi malaria ialah plasmodium. Plasmodium pada manusia menginfeksi eritrosit (sel darah merah) dan mengalami pembiakan aseksual di jaringan hati dan di eritrosit. Plasmodium malaria yang sering dijumpai ialah plasmodium vivax yang menyebabkan malaria tertiana (Benign malaria) dan plasmodium falciparum yang menyebabkan malaria tropika ( Maligna malaria). Selain itu terdapat plasmodium malariae dan plasmodium ovale. Malaria masih merupakan masalah kesehatan yang penting di Indonesia khususnya di luar Jawa dan Bali, tetapi akhir-akhir ini di Jawa terutama Jawa Tengah terjadi peningkatan kasus malaria. Lebih dari setengah penduduk Indonesia hidup atau bertempat tinggal di daerah dengan transmisi malaria sehingga berisiko tertular malaria.1 Penyakit malaria sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan dengan morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi. Malaria dapat ditemui hampir di seluruh dunia, terutama Negara-negara beriklim tropis dan subtropics. Setiap tahunnya ditemukan 300-500 juta kasus malaria yang mengakibatkan 1,5-2,7 juta kematian terutama di negara-negara benua Afrika.3 Beberapa upaya dilakukan untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat malaria, yaitu melalui program pemberantasan malaria yang kegiatannya antara lain meliputi diagnosis dini, pengobatan cepat dan tepat, surveilans dan pengendalian vector yang kesemuanya ditujukan untuk memutuskan rantai penularan malaria.3

1

BAB II STATUS PASIEN

I. Identitas Pasien - Nama - Umur - Jenis Kelamin - Agama - Pekerjaan - Tgl masuk RS II. Anamnesa Keluhan Utama : Demam sejak ± 2 minggu SMRS : Ny. R : 50 tahun : Perempuan : Islam : PNS : 21-02-2013

Riwayat Penyakit Sekarang ± 2 minggu SMRS pasien merasakan demam. Demam bersifat hilang timbul dan biasanya terjadi setiap hari, tinggi pada perabaan, hilang dengan obat penurun demam kemudian demam naik lagi. Demam dirasakan memuncak pada saat sore hingga malam hari dan menurun pada pagi hari. Menggigil (+). Penderita berkeringat banyak saat panas turun. Pasien juga merasa mual, nafsu makan menurun dan sakit kepala, sakit kepala bersifat hilang timbul, seperti di tusuk-tusuk, timbul bersamaan dengan timbulnya panas. Batuk (-), sesak napas (-). Riwayat berpergian keluar daerah sebelum sakit disangkal. ± 1 minggu SMRS pasien masih merasakan demam yang sama mual (+), Muntah (+) 2 x, banyaknya ½ gelas belimbing berisi cairan dan makanan yang dimakan, darah (-), nyeri sendi (+), nyeri pinggang (-), nyeri pada saat berkemih (-), BAB dan BAK normal seperti biasa. ± 1 hari SMRS pasien masih demam, mual (+), muntah (+) 1 x banyaknya ¼ gelas belimbing berisi cairan dan makanan yang dimakan, darah (-), sakit kepala (+), BAB dan BAK normal. Karena pasien merasa semakin lemas oleh keluarga pasien dibawa ke IGD RSUD Raden Mattaher dan kemudian dirawat di ruang interne penyakit dalam.
2

Pemeriksaan Mata .Bentuk Kepala .pupil : ikterik (-) : reflek cahaya (+). mual/muntah dan nafsu makan menurun.Rambut . III. simetris.Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat malaria sebelumnya disangkal Riwayat transfusi sebelumnya disangkal Riwayat demam typoid 1 bulan yang lalu Riwayat DM 1 tahun yang lalu Riwayat hipertensi disangkal Riwayat Penyakit Keluarga Tidak terdapat anggota keluarga yang menderita gejala-gejala yang serupa dengan pasien seperti demam naik turun. tidak ada trauma maupun memar : lurus.palpebra : tidak terdapat edema .Edema facial : Mesochepal. diameter ± 3 mm 3 . : tidak ada : tidak ada 2. Suhu : 37.tipis. tidak mudah dicabut. tidak mudah rontok. warna hitam.3 º C per axilla Status Generalis 1.sklera . Pemeriksaan Fisik Keadaan umum Kesadaran Vital Sign TD : Tampak sakit sedang : Compos mentis : : 130/80 mmHg Napas : 20 x/menit. Nadi : 82 x/menit. isi dan tegangan cukup.Nyeri tekan .konjungtiva : anemis . Pemeriksaan Kepala . reguler. isokor.

faring tidak hiperemis.3.JVP .kelenjar tiroid . tonsil tidak membesar (T1=T1). • Paru-paru Inspeksi : simetris paru kanan dan kiri 4 .bibir kering . 6.kelenjar lymphoid . Pemeriksaan Mulut . tidak terdapat bising dan murmur.kaku kuduk : tidak terdapat deviasi trakea : tidak membesar : tidak membesar : tidak meningkat ( 5-2 cm H2O ) : tidak ada 7. Pemeriksaan Hidung .tidak terdapat otore. maupun nyeri tekan 4. Pemeriksaan Leher . tidak sianosis. Pemeriksaan Thorak • Jantung Inspeksi Palpasi angkat. deformitas. lidah tidak kotor. nafas cuping hidung maupun deformitas 5. tidak pucat. Pemeriksaan Telinga . Perkusi :  batas kanan  batas kiri  batas atas : linea sternalis kanan : linea midklavikularis kiri : ICS II sinistra : iktus cordis tidak terlihat : iktus cordis teraba di ICS V ± 2 cm medial LMC sinistra.tidak terdapat sekret. tidak kuat  pinggang jantung : ICS III sinistra Auskultasi : BJ1 dan BJ2 reguler.trakea . tidak terlihat adanya perdarahan gusi.

akral hangat . akral hangat : nyeri tekan epigastrium. Pemeriksaan ektremitas . Paracetamol 3 x 500 mg (k/p) 7.Perkusi . Diet lunak 5 .Palpasi :  Perut  Hepar  Lien 9.ISK VI. ronkhi (-).- Palpasi Perkusi Auskultasi : vocal fremitus kanan sama dengan kiri : sonor disemua lapangan paru : suara dasar vesikuler. sianosis . Diagnosis Banding . pucat .Auskultasi . : tidak teraba : teraba schuffner II : datar : bising usus (+) normal : tympani. Ondancentron 2 x 1 ampul 6. Terapi 1.Inspeksi . Artesunate 4 x 50 mg selama 3 hari (2:1:1) 3. pucat . wheezing (-) 8. maupun oedema. maupun oedema.Inferior : tidak terdapat deformitas. Amodiaquine 4 x 150 mg selama 3 hari (2:1:1) 4.Demam typoid . sianosis . Primaquin 1 x 15 mg selama 14 hari 5. nyeri ketok (-).Superior : tidak terdapat deformitas. IV. Diagnosis Kerja Malaria vivax + DM tipe II + Anemia Ringan V. Pemeriksaan abdomen . Infus D 5% 20 tetes/menit 2.

Pemeriksaan Anjuran GDN/PP Cek elektrolit Cek urin rutin SGOT/SGPT Bilirubin total.5 % (35-50 %) Trombosit : 508. bilirubin direct.5 gr/dl) Hematokrit : 30.VII.000 mm3 (150.Quo ad vitam : Dubia ad bonam . Prognosis .8 x 106/mm3) Hemoglobin : 9.000-390.000 mm3) GDS : 123 mg/dl DDR : malaria vivax (+) VIII. Pemeriksaan Laboratorium Darah rutin Leukosit : 9900 mm3 (3500-10000 mm3) Eritrosit : 3.Quo ad fungtionam: Dubia ad bonam 6 . bilirubin indirect Test Widal IX.7 gr/dl (11-16.8-5.78 x 106 / mm3 (3.

1 3. Dan penerapan tindakan pengendalian lainnya yang dapat menurunkan penularan. tingkat turunnya hujan serta temperatur. anemia. Pada manusia Plasmodium terdiri dari 4 spesies. hiperendemik jika berkisar dari 51-75 %. yaitu Plasmodium falciparum. menggigil. serta nyamuk dalam komunitas yang beresiko. spesies parasit. dan holoendemik jika < 75 %.4 Endemisitas telah diartikan dengan pengertian prevalensi parasitemia dan terabanya limpa pada anak-anak yang berusia kurang dari 9 tahun.2 Epidemiologi Epidemiologi penyakit malaria dapat bervariasi sekalipun dalam daerah-daerah geografis yang kecil.1 Definisi Malaria merupakan suatu penyakit akut maupun kronik.3 Etiologi Malaria disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium. mesoendemik jika angka-angka itu tersebut berkisar dari 11.Palcifarum berlangsung secara intensif. dan pembesaran limpa. kendati angka-angka ini dapat bervariasi menurut musim dan keberadaan penyakit endemik lainnya yang menyebabkan splenomegali. Keempat spesies Plasmodium yang yang terdapat di Indonesia yaitu 7 . anemia dan pembesaran limpa.50 % . dengan gejala demam. Faktor epidemiologi yang penting adalah keadaan imunologi serta genetik populasi. dan Plasmodium ovale. Plasmodium vivax. distribusi tempat perkembangbiakan nyamuk.4 3. penggunaan obat anti malaria. Suatu daerah dianggap hipoendemik jika < 10 % anak yang menderita parasitemia dengan lien yang tewraba.BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3. . yang disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium dengan manifestasi klinis berupa demam. Sedangkan meurut ahli lain malaria merupakan suatu penyakit infeksi akut maupun kronik yang disebakan oleh infeksi Plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di jaringan hati dan eritrosit. Pada daerah-daerah holoendemik dan hiperendemik (misalnya sebagian besar kawasan afrika yang treopis dan daerah pantai new Guinea) tempat penularan P. Plasmodium malariae.

000 sampai 30. Setelah itu sporozoit akan masuk ke dalam sel hati dan menjadi tropozoit hati.1 Silkus Pada Manusia Pada waktu nyamuk anopheles infektif mengisap darah manusia. Plasmodium vivax yang yang menyebabkan malaria tertiana.4. Pada P. vivak dan P. yaitu manusia dan nyamuk anopheles betina. Kemudian berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari 10. sehingga menimbulkan berbagai komplikasi di dalam organ-organ tubuh. 5 3. karena malaria yang ditimbulkannya dapat menjadi berat sebab dalam waktu singkat dapat menyerang eritrosit dalam jumlah besar. Spesies terakhir ini paling berbahaya. tetapi ada yang 8 . sporozoit yang berada dalam kelenjar liur nyamuk akan masuk ke dsalam peredaran darah selama kurang lebih 30 menit. dan Plasmodium falciparum yang menyebabkan malaria tropika. sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon. ovale.Plasmodium ovale yang menyebabkan malaria ovale.4 Siklus hidup plasmodium Gambar 1.000 merozoit hati. Plasmodium malariae yang menyebabkan malaria kuartana. Siklus hidup plasmodium Parasit malaria memerlukan dua hospes untuk siklus hidupnya.(5) 3. Siklus ini disebut siklus eksoeritrositer yang berlangsung selama kurang lebih 2 minggu.

(5) 3. Sedangkan masa prepaten atau rentang waktu mulai dari sporozoit masuk sampai parasit dapat dideteksi dalam darah dengan pemeriksaan mikroskopik. Di dalam sel darah merah.(5) 3. akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan relaps (kambuh).(5) Merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke dalam peredaran darah dan menginfeksi sela darah merah. Malaria tropika menyerang semua bentuk eritrosit. anemia. Plasmodium ini 9 . Disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni. Pada suatu saat bila imunitas tubuh menurun.(5) Masa inkubasi atau rentang waktu yang diperlukan mulai dari sporozoit masuk ke tubuh manusia sampai timbulnya gejala klinis yang ditandai dengan demam bervariasi. splenomegali. Hipnozoit tersebut dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.2 Siklus Pada Nyamuk Anopheles Betina Apabila nyamuk Anopheles betina menghisap darah yang mengandung gametosit. parasitemia yang banyak dan sering terjadi komplikasi.memjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Masa inkubasi 9-14 hari. gamet jantan dan gamet betina melakukan pembuahan menjadi zigot. Zigot ini akan berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk. di dalam tubuh nyamuk. tergantung dari spesies Plasmodium.4. Di luas dinding lambung nyamuk ookinet akan menjadi ookista dan selanjutnya menjadi sporozoit yang nantinya akan bersifat infektif dan siap ditularkan ke manusia. sebagian merozoit yang meninfeksi sel darah merah dan membentuk stadium seksual yaitu gametosit jantan dan betina. ditandai dengan panas yang ireguler. Malaria Tropika (Plasmodium Falcifarum) Malaria tropika/ falciparum malaria tropika merupakan bentuk yang paling berat. parasit tersebut berkembang dari stadium tropozoit sampai skizon (8-30 merozoit).5 Klasifikasi Pembagian jenis-jenis malaria berdasarkan jenis plasmodiumnya antara lain sebagai berikut 2. Selanjutnya eritrosit yang terinfeksi skizon) pecah dan merozoit yang keluar akan menginfeksi sel darah merah lainnya. Setelah 2-3 siklus skizogoni darah.3: a. Siklus inilah yang disebut dengan siklus eritrositer.

asites. gangguan gastrointestinal. Klasifikasi penyebaran Malaria Tropika: Plasmodium Falcifarum menyerang sel darah merah seumur hidup. lebih kecil dan sitoplasmanya lebih kompak/ lebih biru. Masa inkubasi 11-16 hari. tanpa uremia dan hipertensi.berupa Ring/ cincin kecil yang berdiameter 1/3 diameter eritrosit normal dan merupakan satu-satunya spesies yang memiliki 2 kromatin inti (Double Chromatin). Gejala lain nyeri pada kepala dan punggung. Ciri-ciri demam tiga hari sekali setelah puncak 48 jam. Algid Malaria. dan malaise umum. walau pun periode laten sampai 4 10 . Komplikasi yang jarang terjadi namun dapat terjadi seperti sindrom nefrotik dan komplikasi terhadap ginjal lainnya. Malaria ovale merupakan bentuk yang paling ringan dari semua malaria disebabkan oleh Plasmodium ovale. Tropozoit matur mempunyai granula coklat tua sampai hitam dan kadang-kadang mengumpul sampai membentuk pita. Infeksi Plasmodium Falcifarum sering kali menyebabkan sel darah merah yang mengandung parasit menghasilkan banyak tonjolan untuk melekat pada lapisan endotel dinding kapiler dengan akibat obstruksi trombosis dan iskemik lokal. c. Malaria Kwartana (Plasmoduim Malariae) Plasmodium Malariae mempunyai tropozoit yang serupa dengan Plasmoduim vivax. mual. Pada pemeriksaan akan di temukan edema. proteinuria. Bentuk gametosit sangat mirip dengan Plasmodium vivax tetapi lebih kecil. skizonnya hanya mempunyai 8 merozoit dengan masa pigmen hitam di tengah. Skizon Plasmodium malariae mempunyai 8-10 merozoit yang tersusun seperti kelopak bunga/ rossete. hipoproteinemia. b. Infeksi ini sering kali lebih berat dari infeksi lainnya dengan angka komplikasi tinggi (Malaria Serebral. Malaria Ovale (Plasmodium Ovale) Malaria ovale (Plasmodium Ovale) bentuknya mirip Plasmodium malariae. Karakteristik yang dapat di pakai untuk identifikasi adalah bentuk eritrosit yang terinfeksi Plasmodium Ovale biasanya oval atau ireguler dan fibriated. dan Black Water Fever). pembesaran limpa.

dan sering terjadinya komplikasi. kromatinin eksentris.3 Anemia terutama disebabkan oleh pecahnya eritrosit dan difagositosis oleh sistem retikuloendotelial.2 11 . Bentuknya mirip dengan plasmodium Falcifarum. 3.tahun. Gejala yang paling mencolok adalah demam yang diduga disebabkan oleh pirogen endogen.6 Patofisiologi Gejala malaria timbul saat pecahnya eritrosit yang mengandung parasit. Terdiri dari 12-24 merozoit ovale dan pigmen kuning tengguli. anemia. Hebatnya hemolisis tergantung dari jenis Plasmodium dan status imunitas pejamu. parasitemis yang banyak. namun seiring dengan maturasi. splenomegali. Gametosit berbentuk oval hampir memenuhi seluruh eritrosit. tropozoit vivax berubah menjadi amoeboid. Pada hemolisis berat dapat terjadi hemoglobinuria dan hemoglobinemia. yaitu TNF dan interleukin-1. malaria tropika merupakan malaria yang paling berat di tandai dengan panas yang ireguler. Terjadinya kongesti pada organ lain meningkatkan resiko terjadinya ruptur limpa. Gejala malaria jenis ini secara periodik 48 jam dengan gejala klasik trias malaria dan mengakibatkan demam berkala 4 hari sekali dengan puncak demam setiap 72 jam. Anemia juga disebabkan oleh hemolisis autoimun. Hiperkalemia dan hiperbilirubinemia juga sering ditemukan. Serangan paroksismal 3-4 hari dan jarang terjadi lebih dari 10 kali walau pun tanpa terapi dan terjadi pada malam hari. Akibat demam terjadi vasodilatasi perifer yang mungkin disebabkan oleh bahan vasoaktif yang diproduksi oleh parasit. Dari semua jenis malaria dan jenis plasmodium yang menyerang system tubuh. Juga terjadi penurunan jumlah trombosit dan leukosit neutrofil. Pembesaran limpa disebabkan oleh terjadinya peningkatan jumlah eritrosit yang terinfeksi parasit dan sisa eritrosit akibat hemolisis. pigmen kuning. dan gangguan eritropoiesis. sekuestrasi oleh limpa pada eritrosit yang terinfeksi maupun yang normal. d.2. Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax) Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax) biasanya menginfeksi eritrosit muda yang diameternya lebih besar dari eritrosit normal.

sehingga perjalanannya dalam kapiler terganggu dan mudah melekat pada endotel kapiler karena adanya penonjolan membran eritrosit. dapat diterangkan sebagian oleh tidak adekuatnya respon ini. Pertahanan terhadap malaria terutama penting untuk melindungi anak kecil atau bayi karena sifat khusus eritrosit yang relatif resisten terhadap masuk dan berkembangbiaknya parasit malaria. terjadi gangguan pada integritas kapiler dan dapat terjadi perembesan cairan bahkan perdarahan ke jaringan sekitarnya. Setelah terjadi penumpukan sel dan bahan pecahan sel. gagal ginjal dan malabsorpsi usus. Rangkaian kelainan patologis ini dapat menimbulkan manifestasi klinis sebagai malaria serebral. edema paru.2. yang merupakan suatu antibodi spesifik yang diproduksi untuk melengkapibeberapa aktivitas opsonin terhadap eritrosit yang terinfeksi. disebabkan karena sel darah merah yang terinfeksi menjadi kaku dan lengket. Antigen yang heterogen terhadap Plasmodium mungkin juga merupakan salah satu faktor.2. Monosit/ makrofag merupakan partisipan selular fagositosis eritrosit yang terinfeksi. Namun imunitas ini tidak mutlak dapat mengurangi gambaran klinis infeksi ataupun dapat menyebabkan asimptomatik dalam periode panjang. demam tidak terjadi (misalnya yang terpenting dalam 12 . maka aliran kapiler terhambat dan timbul hipoksi jaringan.3 Pertahanan tubuh individu terhadap malaria dapat berupa faktor yang diturunkan maupun yang didapat. pengaruh GPI (glycosyl phosphatidylinositol) atau terbentuknya sitokin atau toksin lainnya.6 3.7 Manifestasi klinis Malaria sebagai penyebab infeksi yang disebabkan oleh Plasmodium mempunyai gejala utama yaitu demam. Pada individu dengan malaria dapat dijumpai hipergamaglobulinemia poliklonal. tetapi proteksi ini tidak lengkap dan hanya bersifat sementara bilamana tanpa disertai infeksi ulangan. Pada beberapa penderita.Kelainan patologik pembuluh darah kapiler pada malaria tropika.3 Imunitas humoral dan seluler tehadap malaria didapat sejalan dengan infeksi ulangan. Masuknya parasit tergantung pada interaksi antara organel spesifik pada merozoit dan struktur khusus pada permukaan eritrosit. Tendensi malaria untuk menginduksi imunosupresi. Demam yang terjadi diduga berhubungan dengan proses skizogoni (pecahnya merozoit atau skizon).

vivax dan P. 2. 3. sedangkan P. berupa: malaise. Selain itu juga cara infeksi yang mungkin disebabkan gigitan nyamuk atau secara induksi (misalnya transfuse darah yang mengandung stadium aseksual)(1. sakit kepala. anemia dan splenomegali(1. Keluhan-keluhan prodromal Keluhan-keluhan prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya demam. muntah-muntah dan dapat terjadi syok.2). malariae keluhan prodromal tidak jelas(2). Masa inkubasi Masa inkubasi biasanya berlangsung 8-37 hari tergantung dari spesies parasit (terpendek untuk P. dapat sampai 40oC atau lebih. 13 . diikuti dengan keadaan berkeringat.2):  Periode dingin Dimulai dengan menggigil. Manifestasi umum malaria adalah sebagai berikut: 1. nyeri retroorbital. anoreksia. dan kering. diare ringan dan kadang-kadang merasa dingin di punggung. Periode ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperatur. Gejala-gejala umum Gejala-gejala klasik umum yaitu terjadinya trias malaria (malaria proxym) secara berurutan(1. pucat sampai sianosis seperti orang kedinginan. kulit panas dan kering. nadi cepat dan panas tubuh tetap tinggi. falciparum dan terpanjanga untuk P. penderita sering membungkus dirinya dengan selimut atau sarung pada saat menggigil. nyeri kepala.pada daerah hiperendemik) banyak orang dengan parasitemia tanpa gejala. Periode ini berlangsung lebih lama dari fase dingin dapat sampai 2 jam atau lebih. malariae).  Periode panas Wajah penderita terlihat merah. lesu. falciparum dan P.2.5). ovale. sering seluruh badan gemetar. sakit tulang belakang. Gambaran karakteristik dari malaria ialah demam periodic. kulit dingin. nyeri pada tulang dan otot. beratnya infeksi dan pada pengobatan sebelumnya atau pada derajat resistensi hospes. perut tidak enak. respirasi meningkat. penderita membuka selimutnya. Keluhan prodromal sering terjadi pada P.

penderita merasa capek dan sering tertidur. Periode berkeringat Penderita berkeringan mulai dari temporal. nyeri dan hiperemis(1). Biasanya terjadi diantara dua keadaan paroksismal  Recrudescense Berulangnya gejala klinik dan parasitemia dalam masa 8 minggu sesudah berakhirnya serangan primer. Anemia merupakan gejala yang sering ditemui pada infeksi malaria. Kelainan pada limpa akan terjadi setelah 3 hari dari serangan akut dimana limpa akan membengkak. diikuti seluruh tubuh. biasanya terjadi karena infeksi tidak sembuh atau oleh dibentuk diluar eritrosit (hati) pada malaria vivaks atau ovale. Bial penderita bangun akan merasa sehat dan dapat melakukan pekerjaan biasa.  Relapse atau rechut Berulangnya gejala klinik atau parasitemia yang lebih lama diantara serangan periodik dari infeksi primer yaitu setelah periode yang lama dari masa laten (sampai 5 tahun). dan lebih sering ditemukan pada daerah endemik. Recrudescense dapat terjadi berupa berulangnya gejala klinik sesudah periode laten dari serangan primer. Beberapa keadaan klinik dalam perjalanan infeksi malaria ialah (1):  Serangan primer Yaitu keadaan mulai dari akhir masa inkubasi dan mulai terjadi serangan peroksismal yang terdiri dari dingin/menggigil. Serangan paroksismal ini dapat pendek atau panjang tergantung dari perpanjangan parasit dan keadaan imunitas penderita  Periode laten Yaitu periode tanpa gejala dan tanpa parasitemia selama terjadinya infeksi malaria.  Recurrent Yaitu berulangnya gejala klinik atau parasitemia setelah 24 minggu berakhirnya serangan primer. 14 . panas dan berkeringat.

Komplikasi malaria vivak seperti malaria serebral. Keadaan ini prognosisnya jelek. tidak terjadi. hipoproteinaemia. Komplikasi jarang terjadi. biasanya pada waktu sore dan parasitemia sangat rendah < 1 %. Parasitemia mulai menurun setelah 14 hari. Mortalitas malaria vivax rendah tetapi morbiditas tinggi karena sering terjadinya relaps. serangan demam hanya pendek.Benigna Masa inkubasi malaria vivax yaitu 12-17 hari. Serangan paroksismal biasanya pada sore hari dan berlangsung 4-8 jam. Pada pemeriksaan dapat dijumpai edema.1 Manifestasi klinis Malaria Ovale Merupakan bentuk yang paling ringan dari semua jenis malaria. Panas dapat mencapai puncak hingga 40. falciparum. Pada malaria vivax manifestasi klinis dapat berlangsung berat tapi kurang membahayakan. Pada minggu kedua limpa mulai teraba. dan penyembuhan lebih cepat. anemia jarang terjadi. Diuga komplikasi ginjal disebabkan oleh karena deposit kompleks immun pada glomerulus ginjal. parasitemia hanya rendah. sindroma nefrotik dilaporkan pada infeksi plasmodium malariae pada anak-anak di Afrika. pada saat tersebut perasaan dingin atau menggigil jarang terjadi.Manifestasi klinis Malaria Tertiana / M. Pada hari pertama panas iregular. Pada penderita yang semi-immune perlangsungan malaria vivax tidak spesifik dan ringan saja. masa inkubasi 11-16 hari. splenomegali sering dijumpai walaupun pembesaran ringan. serangan paroksismal 3-4 hari terjadi malam hari dan jarang lebih dari 10 kali walaupun 15 .5ºC. manifestasi klinik sama seperti pada malaria vivax hanya berlangsung lebih ringan. hipoglikemia. kadangkadang remiten atau intermiten. Quartana Masa inkubasi 18-40 hari. proteinuria yang banyak. Pada akhir minggu tipe panas menjadi intermiten dan periodik setiap 48 jam dengan gejala klasik trias malaria. Serangan peroksismal terjadi tiap 3-4 hari. asidosis metabolik dan gangguan pernapasan seperti pada malaria P. limpa dapat membesar sampai derajat 4 atau 5 (ukuran hackett). Relaps sering terjadi karena keluarnya bentuk hipnozoit yang tertinggal di hati pada status imun tubuh menurun.vivax/ M. Resistensi terhadap kloroquin pada malaria vivaks juga dilaporkan di Papua dan daerah lainnya. tanpa uremia dan hipertensi. asites. Kepadatan parasit mencapai maksimal dalam waktu 714 hari. 1 Manifestasi klinis Malaria Malariae / M. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan Ig M bersama peningkatan titer antibodinya.

Apabila terjadi infeksi campuran dengan plasmodium lain. yaitu demam. Gejala klinis hampir sama dengan malaria vivax. Falsiparum Malaria tropika merupakan bentuk yang paling berat. Apabila infeksi memberat nadi cepat. hati membesar dapat disertai timbulnya ikterus.1 3. maka plasmodium ovale tidak akan tampak didalam darah tetapi plasmodium yang lain yang akan ditemukan.tanpa terapi. Riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir. lebih ringan puncak plasma lebih rendah dan perlangsungan lebih pendek. 1. Panas biasanya irreguler dan tidak periodik sering terjadi hiperpireksia dengan temperatur diatas 40ºC. Riwayat sakit malaria. Masa inkubasi 9-14 hari. Riwayat berkunjung dan bermalam lebih kurang 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemik malaria. Kelainan urin dapat berupa albuminuria. Diagnosis Diagnosis malaria ditegakkan seperti diagnosis penyakit lainnya berdasarkan anamnesis. lesu. muntah. Anemia dengan leukopeni dan monositosis. Diagnosis pasti infeksi malaria ditegakkan dengan pemeriksaan sediaan darah secara mikroskopik atau tes diagnostic cepat. muntah dan diare. parasitemia sering dijumpai. hialin dan kristal yang granuler. dan dapat sembuh spontan tanpa pengobatan. muntah. Serangan menggigil jarang terjadi dan spenomegali jarang dapat diraba. nyeri otot dan pegal-pegal. Riwayat tinggal di daerah endemik malaria.dan parasitemia yang tinggi dan menyerang semua bentuk eritrosit. dan sering terjadi komplikasi. nyeri belakang atau tungkai. mual. pneumonia aspirasi dan banyak keringat waqlaupun temperatur normal. diare menjadi berat dan diikuti dengan kelainan paru (batuk). anemia splenomegali. ditandai dengan panas yang irreguler. Anamnesis      Keluhan utama. gejala lain berupa konvulsi.1 Manifestasi klinis Malaria Tropika / M.8. neusia. Malaria tropika mempunyai perlangsungan yang cepat. Splenomegali dijumpailebih sering dari pada hepatomegali dan nyeri pada perabaan. mual. diare. berkeringat dan dapat disertai sakit kepala. perasaan dingin. 16 . menggigil. Gejala prodormal yang sering dijumpai yaitu sakit kepala. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.

Perdarahan hidung. Jumlah air seni kurang bahkan sampai tidak ada. Tanda-tanda dehidrasi. 17 . Tekanan darah sistolik <70 mmHg pada orang dewasa dan <50 mmHg pada anakanak. Nadi capat dan lemah. Manifestasi perdarahan: ptekie.5oC) Kunjunctiva atau telapak tangan pucat Pembesaran limpa Pembesaran hati 2. Keadaan umum yang lemah. Telapak tangan sangat pucat. Tanda-tanda anemia berat. purpura. Mata dan tubuh kuning. Warna air seni seperti teh pekat dan dapat sampai kehitaman.7 Selain hal-hal tersebut di atas. Pemeriksaan Fisik Pada penderita tersangaka malaria berat ditemukan tanda-tanda klinis sebagai berikut:         Temperature rectal ≥40oC. hematom. gusi. Kejang-kejang. Muntah terus menerus dan tidak dapat makan minum. Panas sangat tinggi. Frekuensi napas >35 kali permenit pada orang dewasa atau >40 kali permenit pada balita. Nafas cepat (sesak napas). tau saluran cerna. Penurunan kesadaran. dapat ditemukan keadaan di bawah ini:                Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat. pada tersangka penderita malaria berat. dan >50 kali permenit pada anak dibawah 1 tahun.7 Demam (≥37. Riwayat mendapat transfusi darah.

Spesies dan stadium Plasmodium Kepadatan parasit .    Sklera mata kuning. Pemeriksaan Laboratorium a.Kuantitatif Jumlah parasit dihitung permikroliter darah pada sediaan darah tebal atau sediaan darah tipis. Gejala neurologik: kaku kuduk. dengan menggunakan metoda immunokromatografi dalam bentuk dipstik.7 3. Pemeriksaan darah tebal dan tipis untuk menentukan:    Ada/tidaknya parasit malaria. Pemeriksaan dengan tes diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test) Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria. Gagal ginjal ditandai dengan oligouria sampai anuria. 7 18 . Pembesaran limpa dan atau hepar.7 b. Pemeriksaan dengan mikroskopik Sebagai standar emas pemeriksaan laboratoris demam malaria pada penderita adalah mikroskopik untuk menemukan parasit di dalam darah tepi. refleks patologis positif.Semi kuantitatif: (-) (+) (++) : tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB : ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB : ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB (+++) : ditemukan 1-10 parasit dalam 1 LPB (++++): ditemukan >10 parasit dalam 1 LPB .

falciparum. tripanososmiasis. dan tes >1:20 dinyatakan positif. ensefalitis.7 3. Titer >1:200 dianggap sebagai infeksi baru. pada infeksi P. Pada malaria dengan ikterus. demam tifoid. uremi). Diagnosis Banding Demam merupakan salah satu gejala malaria yang menonjol. abses hati dan leptospirosis. bruselosis. Malaria serebral.9.1 Pada malaria berat diagnosis banding tergantung manifestasi malaria beratnya.10 Komplikasi Hampir semua kematian akibat malaria disebabkan oleh P. influenza. tuberkulosis. 2. kolisistitis. dan tumor otak. Hepatitis pada saat timbul ikterus biasanya tidak dijumpai demam lagi. falciparum stadium aseksual dengan satu atau lebih komplikasi sebagai berikut: 1 1. yang juga dijumpai pada semua penyakit infeksi seperti infeksi virus pada sistem respiratorius. Pada malaria serebral harus dibedakan dengan infeksi pada otak lainnya seperti meningitis.000/µl. demam dengue. derajat kesadaran berdasarkan GCS kurang dari 11. falciparum dapat meimbulkan malaria berat dengan komplikasi umumnya digolongkan sebagai malaria berat yang menurut WHO didefinisikan sebagai infeksi P. dan infeksi bakterial lainnya seperti pneumonia. diagnosa banding ialah demam tifoid dengan hepatitis. eklamsi. 19 . epilepsi. Tes ini kurang bermanfaat sebagai alat diagnostic sebab antibodi baru terbentuk setelah beberapa hari parasitemia. tifoid ensefalopati. Anemia berat (Hb<5 gr% atau hematokrit <15%) pada keadaan hitung parasit >10. Tes serologi Tes ini berguna untuk mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap malaria atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Penurunan kesadaran dan koma dapat terjadi pada gangguan metabolik (diabetes. gangguan serebrovaskuler (stroke).1 3. Pada daerah hiper-endemik sering dijumpai penderita dengan imunitas yang tinggi sehingga penderita dengan infeksi malaria tetapi tidak menunjukkan gejala klinis malaria. infeksi saluran kencing.c.

Gagal ginjal akut (urin kurang dari 400ml/24jam pada orang dewasa atau <12 ml/kgBB pada anak-anak setelah dilakukan rehidrasi.11. Gagal sirkulasi/syok: tekanan sistolik <70 mmHg diserta keringat dingin atau perbedaan temperature kulit-mukosa >1oC. asam artelinik. 5. Edema paru. falciparum. Kombinasi obat ini dapat berupa kombinasi dosis tetap (fixed dose) atau kombinasi tidak tetap (non-fixed dose). arthe-ether. Karenanya WHO memberikan petunjuk penggunaan artemisinin dengan mengkombinasikan dengan obat malaria yang lain. Kejang berulang lebih dari 2 kali/24jam setelah pendinginan pada hipertermis. 10. 7. P. artemeter. 9.3. Diagnosa post-mortem dengan ditemukannya parasit yang padat pada pembuluh kapiler jaringan otak. Pengobatan Secara global WHO telah menetapkan dipakainya pengobatan malaria dengan memakai obat ACT (Artemisinin base Combination Therapy). Perdarahan spontan dari hidung. Laporan kegagalan terhadap ART belum dilaporkan hingga saat ini. dosis co-artem adalah 4 tablet 2 x 1 sehari selama 3 hari. maupun dehidroartemisinin telah dipilih sebagai obat utama karena efektif dalam mengatasi plasmodium yang resisten dengan pengobatan. Selain itu artemisinin juga membunuh semua plasmodium dalam semua stadium termasuk stadium gametosit. 11.vivax maupun lainnya. artesunat. Hipoglikemia: gula darah <40 mg%. Asidemia (Ph<7. diserta kelainan kreatinin >3mg%. contohnya ialah “CoArterm” yaitu kombinasi artemeter (20 mg) + lumefantrine (120 mg).25) atau asidosis (plasma bikarbonat <15mmol/L). saluran cerna dan atau disertai kelainan laboratorik adanya gangguan koagulasi intravaskuler. Juga efektif terhadap semua spesies. 3. P. 6. Golongan artemisinin (ART) seperti artemisinin. Kombinasi tetap yang lain ialah 20 .1  Pengobatan ACT (Artemisinin base Combination Therapy) 1 Penggunaan golongan artemisinin secara monoterapi akan mengakibatkan terjadinya rekrudensi. 8. Kombinasi dosis tetap lebih memudahkan pemberian pengobatan. gusi. 4. Makroskopik hemaglobinuri oleh karena infeksi malaria akut bukan karena obat antimalaria pada kekurangan Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase.

Falciparum maupun P. 5 mg/kgBB pada hari ke III. Falciparum dan tidak efektif untuk P. Dosis amodiakuin adalah 25-30 mg /KgBB selama 5 hari. vivax. masing-masing 2 tablet. dapat dipakai untuk P. Sulfadoksin-Pirimetamin (SP) 500 mg sulfadoksin + 25 mg pirimetamin. Bila terjadi kegagalan dengan obat klorokuin dapat menggunakan SP. Atau dosis anak memakai takaran pirimetamin 1. Obat ini hanya dipakai untuk P. vivax. falciparum dan P. Dosis artekin untuk dewasa : dosis awal 2 tablet. Untukl amodiakuin (200 mg/ tablet) diminum selama 3 hari.  Pengobatan Malaria Dengan obat-obat Non-ACT 1 Klorokuin Difosfat/Sulfat 250 mg garam (250 mg basa). Pada orang dewasa biasa dipakai dosis 4 tablet hari I dan II dan 2 tablet hari ke III.vivax.dehidroartemisinin (40 mg) + piperakuin (320 mg) yaitu “Artekin”.25 mg/ kg BB. Kina Sulfat Dosis yang dianjurkan ialah 3 x 10 mg/ kg BB selama 7 hari. Kombinasi ACT yang tidak tetap misalnya : Artesunat + meflokuin Artesunat + amodiakin Artesunat + klorokiun Artesunat + sulfadoksin-pirimetamin Artesunat + pironaridin Artesunat + chlorproguanin-dapson (CDA/Lapdap plus) Dehidroartemisinin + piperakuin + trimetoprim (Artecom) Artecom + primakuin Dehidroartemisin + naptokuin Dari kombinasi diatas yang tersedia di Indonesia saat ini ialah kombinasi artesunat + amodiakuin dengan nama dagang “ Artesdiaquine” atau Artesumoon. 24 jam dan 32 jam. dosis 25 mg basa/kg BB untuk 3 hari terbagi 10 mg/kgBB hari I dan II. 8 jam kemudian 2 tablet. Dipakai untuk P. dosis orang dewasa 3 tablet dosis tunggal (1 kali). Dosis untuk orang dewasa yaitu artesunat (50 mg/tablet) 200 mg pada hari I-III. kina dipakai sebagai obat cadangan untuk mengatasi 21 .

22 . Contoh kombinasi iniadalah sebagai berikut : a.falciparum tanpa penyulit berlangsung sampai satu tahun.resistensi terhadap klorokuin dan SP. pernah dilaporkan sampai 30. Sedangkan untuk P. dan belum tersedianya obat golongan artemisinin.falciparum dengan penyulit prognosis menjadi buruk. vivax.malariae dapat berlangsung sangat lama dengan keccenderungan relaps.Falciparum maupun P.50 tahun. kombinasi klorokuin + sulfadoksin-pirimetamin. Infeksi P.12. Infeksi P. kombinasi SP + dosisiklin/tetrasiklin e.vivax pada umumnya baik. Falciparum dosisnya 45 mg (3 tablet) dosis tunggal untuk membunuh gamet. walaupun tidak diobati infeksi rata. sedangkan P. vivax dosisnya 15 mg/ hari selama 14 hari yaitu untuk membunuh gamet dan hipnozoid (anti relaps). kombinasi SP + kina c. Pemakaian obat-obat ini juga harus dilakuakn monitoring respon pengobatan sebab perkembangan resistensi terhadap obat malaria berlangsung cepat dan meluas. tidak menyebabkan kematian. kombinasi klorokuin + dosisiklin/tetrasiklin d.rata dapat berlangsung sampai 3 bulan atau lebih lama oleh karena mempunyai sifat relaps. dapat menggunakan obat standar yang dikombinasikan. 3. kombinasi kina + klindamisin. Pemakaian oabat ini untuk waktu yang lama (7 hari) menyebabkan kegagalan untuk memakai sampai selesai. apabila tidak ditanggulangi secara cepat dan tepat bahkan dapat meninggal terutama pada gizi buruk.  Penggunaan obat kombinasi Non-ACT 1 Apabila pola resistensi masih rendah dan belum terjadi multiresistensi. kombinasi Kina + dosisiklin/tetrasiklin f. Primakuin 1 tablet 15 mg dipakai sebagai obat pelengkap/pengobatan radical terhadap P. Prognosis Prognosis malaria yang disebabkan oleh P. Pada P. b.

kemudian periode berkeringat: penderita berkeringat banyak dan temperatur turun.. dan anoreksia merupakan keluhan prodormal yang dapat terjadi pada pasien malaria. Anemia pada pasien ini disebabkan oleh hemolisis dan diseritropoeisis. dan penderita merasa sehat. nafsu mkn menurun (+). nyeri sendi dan tulang. Trias malaria lebih sering terjadi pada infeksi plasmodium Vivax. nyeri epigastrium dan splenomegali. mual/muntah (+).3ºC (subfebris). perut tidak enak. Penderita berkeringat banyak saat panas turun. bersifat hilang timbul.BAB IV PEMBAHASAN Diagnosis pasien ini ditegakan berdasarkan anamnesis. Demam dirasakan memuncak pada saat sore hingga malam hari dan menurun pada pagi hari. Menggigil (+). 12 jam plasmodium falciparum. anemia. dan nyeri sendi (+). sakit kepala seperti di tusuk-tusuk. timbul bersamaan dengan timbulnya panas. hilang dengan obat penurun demam kemudian demam naik lagi. diikuti dengan meningkatnya temperatur. merasa dingin di punggung. tinggi pada perabaan. Dari pemeriksaan fisik didapati suhu badan penderita 37. Berdasarkan kepustakaan keluhan sakit kepala. Berdasarkan anamnesis. diikuti dengan keadaan berkeringat. Beratnya anemia yang 23 . Demam bersifat hilang timbul dan biasanya terjadi setiap hari. diare ringan. pada plasmodium falciparum menggigil dapat berlangsung berat ataupun tidak ada. kelesuan. Oleh karena skizogoni menyebabkan kerusakan eritrosit maka akan terjadi anemia. diikuti dengan periode panas: panas badan tetap tinggi beberapa jam. 60 jam pada plasmodium malariae. Keluhan prodormal sering terjadi pada plasmodium vivax dan ovale. penderita mengalami demam dirasakan sejak 2 minggu pasien merasakan demam. Sakit kepala ada. Periode tidak panas berlangsung 36 jam pada plasmodium vivax dan ovale. muntah. sedang pada plasmodium falciparum dan malariae keluhan prodormal tidak jelas bahkan gejala dapat mendadak. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Hal ini sesuai dengan trias malaria secara berurutan yaitu periode dingin: mulai menggigil.

Diagnosis pasti malaria dilakukan dengan menemukan parasit dalam darah yaitu pemeriksaan morfologi darah tepi melalui apusan darah tepi tebal maupun tipis dengan pewarna Giemsa. Hal ini lama kelamaan dapat mengiritasi lambung. Nyeri epigastrium pada pasien ini mungkin dikarenakan adanya peningkatan asam lambung yang ditandai dengan adanya keluhan mual dan muntah. Pada pasien ini diberikan artesunate 50 mg (4 tablet) dibagi menjadi 2:1:1 + amodiaquine 150 mg (4 tablet) dibagi 2:1:1 selama 3 hari. Berdasarkan klasifikasi derajat anemia menurut WHO. Diduga terdapat toksin malaria yang menyebabkan gangguan fungsi eritrosit dan sebagian eritrosit pecah saat melalui limpa dan keluarlah parasit. Golongan artemisinin (ART) telah dipilih sebagai obat utama karena efektif dalam mengatasi plasmodium yang resisten dengan pengobatan. menghitam dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit oleh parasit dan jaringan ikat yang bertambah.40% splenomegali paling sering ditemukan pada pemeriksaan fisik. Selain itu artemisinin juga bekerja membunuh plasmodium dalam semua stadium termasuk gametosit.tidak sebanding dengan parasitemia menunjukkan adanya kelainan eritrosit selain yang mengandung parasit. Lien mengalami kongesti. Pada pasien ini mikroskopik darah tepi didapati adanya plasmodium vivax. Pada pasien ini selain diberikan artesunat dan amodiaquin juga diberikan obat malaria non-ACT yaitu primakuin selama 14 hari. Juga efektif terhadap semua spesies plasmodium. Oleh karena itu WHO memberikan petunjuk penggunaan artemisinin dikombinasikan dengan obat antimalaria yang lainnya. Patofisiologi terjadinya splenomegali adalah produksi berlebih dari IgM sebagai respon terhadap plasmodium. pada pasien ini mengalami anemia ringan dengan Hb 9. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya anemia mungkin karena terbentuknya antibodi terhadap eritrosit. Pada plasmodium vivax dosisnya 15 mg / hari selama 14 hari itu untuk membunuh gamet dan hipnozoit ( anti 24 . Untuk terapi malaria pada kasus ini penderita diberikan artesunate (50 mg) dan amodiaquine (150 mg) yang merupakan pengobatan ACT (Artemisinin base Combination Therapy). Sekitar 24% . Penggunaan artemisinin secara monoterapi akan mengakibatkan terjadinya rekrudensi. Primakuin dipakai sebagai obat pelengkap atau pengobatan radikal terhadap plasmodium falciparum atau falciparum vivax.7 gr/dl. sehingga muncullah gejala nyeri pada daerah lambung (epigastrium).

Gejala ISK seperti nyeri pinggang. Prognosis untuk malaria yang disebabkan oleh P. Ondancentron 4 mg juga diberikan pada pasien ini karena pada pasien ini terdapat keluhan mual dan muntah.vivax pada umumnya baik. serta penurunan kesadaran tidak ditemukan pada pasien ini.relaps). 25 . Parasetamol 500 mg hanya diberikan jika pasien demam.rata dapat berlangsung sampai 3 bulan atau lebih lama oleh karena mempunyai sifat relaps. Untuk gejala klinis demam typoid lainnya seperti lidah kotor. walaupun tidak diobati infeksi rata. gangguan pencernaan seperti diare. Diagnosis banding pada pasien ini dapat disingkirkan karena pola demam typoid adalah remiten dan pada ISK demamnya tidak jelas sedangkan pada pasien ini didapati demam yang intermiten dan periodik. nyeri pada saat berkemih juga tidak ditemukan pada pasien ini. tidak menyebabkan kematian.

26 . anemia. mual/muntah.  Prognosis pasien ini adalah dubia ad bonam karena pada pasien tidak dapat dilakukan pemantauan lebih lanjut dikarenakan pasien pada saat itu melakukan pindah ruang rawat. metformin sebagai antihiperglikemia serta paracetamol jika pasien demam. splenomegali. Injeksi ondancentron 4 mg sebagai anti mual dan anti muntah. nyeri epigastrium dan pada pemeriksaan labor yaitu pemeriksaan DDR malaria vivax (+).  Pada pasien ini diberikan Artesumoon yaitu artesunate 50 mg (4 tablet) dibagi menjadi 2:1:1 + amodiaquine 150 mg (4 tablet) dibagi 2:1:1 selama 3 hari.BAB V KESIMPULAN  Malaria adalah infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual dalam darah. pada periksaan fisik didapati suhu tubuh subfebris. juga diberikan obat malaria non-ACT yaitu primakuin selama 14 hari yaitu untuk membunuh gamet dan hipnozoit (anti-relaps). Diagnose ditegakkan berdasarkan anamnesis yaitu didapatinya gejala trias malaria. dan nyeri sendi.  Pada kasus ini pasien didiagnosa dengan malaria vivax. pusing.

Diagnosis Malaria. Malaria. Edisi IV. Manifestasi Klinis dan Penanganan. 2006. Siklus Hidup Plasmodium Malaria. 2000 4. Jakarta. Gambar : http://www. Malaria. Dalam Harijanto PN (editor). 2001 7. Harijanto P.blogspot. 2. Dalam: Harijanto PN (editor).J.DAFTAR PUSTAKA 1. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Dalam: Harijanto PN (editor). Horrison : Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Purwaningsih S. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2000 6. Dalam: kapita Selekta Kedokteran. Edisi 13. Patogenesis. White J. Malaria.N dan Breman G. Volume 2. Jilid I.mylittlenotesofatikahayu. Gunawan S. Epidemiologi. 2009 3. Manifestasi Klinis dan Penanganan. 27 . Harijanto PN. Penyakit malaria dan Babesiosis. Jakarta: EGC. Nugroho A dan Tumewu WM. Jakarta : EGC. Jakarta: EGC. Manifestasi Klinis dan Penanganan. Jakarta. Malaria Dari Molekuler ke Klinis. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2000 8. Patogenesis. Patogenesis. Mansyor A dkk. Epidemiologi Malaria. Malaria. Malaria. Gunawan C. Edisi ketiga. Epidemiologi.A. Epidemiologi. N. Nugroho A.com/2011/10/malaria. 1999 5. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta: EGC. Jilid III.html. diunduh pada tanggal 23 februari 2013.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful