Está en la página 1de 10

ANALISA KEANDALAN JARINGAN DISTRIBUSI 20 KV DI DILI TIMOR - LESTE MENGGUNAKAN METODE NON KASKADE

NASKAH PUBLIKASI SKRIPSI

Disusun oleh: Nama : Nelson Ximenes Guterres

No. Mahasiswa : 310009001

Kepada JURUSAN TEKNIK ELEKTRO SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL YOGYAKARTA 2013

ANALISA KEANDALAN JARINGAN DISTRIBUSI 20 KV DI DILI TIMOR - LESTE MENGGUNAKAN METODE NON KASKADE
Nelson X. Guterres.1, Diah Suwarti W, ST, M. Eng 2 dan Janny F. Abidin, ST, MT 2
1

Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Konsentrasi Energi Listrik STTNAS Yogyakarta Alamat email: guterresnelson@yahoo.com.au
2

Staf Pengajar Jurusan Teknik Elektro STTNAS Yogyakarta

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta Jln. Babarsari Yogyakarta, 55281. Telp. (0274) 485390 Home Pag: http://www.sttnas.ac.id

Nelson Ximenes Guterres 310009001 INTISARI


Jaringan distribusi EDTL (Electicidade De Timor-Leste) , khususnya pada penyulang Dili sering terjadi gangguan hubunng singkat dan beban lebih baik pada sisi tegangan menengah 20 kV maupun pada jaringan distribusi tegangan rendah 380/220 V, sehingga menyebabkan tingkat kehandalan sistem penyaluran energi listrik rendah. Oleh karenanya perlu dilakukan penelitian tentang analisis setelan relay pada trafo distribusi tiga fasa. Cara yang dilakukan adalah pengambilan data hasil pengukuran dari pihak EDTL (Electicidade De Timor-Leste) wilayah Dili diantaranya data hubung singkat, impedansi, beban, ukuran penghantar,dan one line diagram. Data tersebut diolah dengan menggunakan metode perhitungan Non Kaskade dan Etap. Keandalan sistem adalah ketersediaan/tingkat pelayanan penyediaan tenaga listrik dari sistem ke konsumen. Indeks keandalan adalah suatu besaran untuk membandingkan penampilan sistem distribusi. Untuk tingkat keandalan pelayanan tergantung dari berapa sering (frekuensi) terjadinya pemadaman selama setahun atau dikenal dengan SAIFI dan berapa lama terjadi pemadaman selama selang waktu tertentu (satu tahun) atau dikenal dengan SAIDI.

Kata Kunci

: Keandalan, Hubung singkat, dan Beban lebih.

1. Pendahuluan Kebutuhan energi listrik wilayah Dili Timor-Leste dicatu daya dari sistem kelistrikan interkoneksi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Hera Sentral Electrica dengan kapasitas daya 119,5 MW dan PLTD Betano Sentral Electrica dengan kapasitas daya 136,6 MW. Besarnya beban yang dicatu oleh sistem kelistrikan kota Dili adalah sebesar 53,55 MW. Interkoneksi dari kedua pembangkit memiliki kapasitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pelanggan saat ini. Sistem proteksi pada penyulang yang terdapat pada gardu induk Dili Timor-Leste menggunakan peralatan proteksi relay arus lebih untuk mengantisipasi adanya gangguan beban lebih dan gangguan hubung singkat. Berdasarkan data dokumen dari EDTL (Electicidade De Timor-Leste) wilayah Dili bahwa pemadaman akibat gangguan pada penyulang tahun 2012 mencapai 18 kali dan gangguan yang bersifat temporer sebanyak 40 kali dengan waktu perbaikan rata-rata 5 jam. 2. Tujuan Penelitian Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah: a. Menghitung besar gangguan hubung singkat 3 fasa pada jaringan distribusi 20 kVdi Dili Timor Leste. b. Solusi untuk menanggulangi gangguan hubung singkat 3 fasa pada jaringan distribusi 20 kVdi Dili Timor Leste. c. Mengetahui besarnya setting waktu relay arus lebih dengan metode Non Kaskade. d. Mengetahui besarnya keandalan dengan aplikasi teoritis SAIFI dan SAIDI jaringan distribusi 20 kVdi Dili Timor Leste. e. Mengetahui beban lebih dan aliran daya dengan Etap pada jaringan distribusi 20 kVdi Dili Timor Leste. 3. Landasan Teori a. Kehandalan Sistem Distribusi Keandalan sistem adalah ketersediaan/tingkat pelayanan penyediaan tenaga listrik dari sistem ke konsumen. Secara umum keandalan merupakan ukuran kemampuan suatu komponen beroperasi secara terus menerus tanpa adanya kerusakan, tindakan perawatan pencegahan yang dilakukan dapat meningkatkan keandalan sistem. Berdasarkan standard SPLN 59:1985, pasal 4: bahwa indeks keandalan adalah suatu besaran untuk membandingkan penampilan sistem distribusi. Dua indeks yang sering digunakan dalam sistem distribusi adalah indeks frekuensi pemadaman rata-rata (System Average Interruption Frequency Index) dan indeks lama pemadaman rata-rata (System Average Interruption Duration Index).
SAIFI =
Jumlah frekuensi gangguan kali x Jumlah pelanggan padam Jumlah pelanggan yang dilayani

(2.1)
SAIDI =
Jumlah lama gangguan (jam ) x Jumlah pelanggan padam Jumlah pelanggan yang dilayani

(2.2) b. Impedansi Trafo Penyulang 20 kV Besarnya arus gangguan hubung singkat yang mungkin terjadi dalam sistem kelistrikan perlu diketahui sebelum gangguan yang sesungguhnya terjadi, arus gangguan yang dihitung bukan hanya yang berada pada titik gangguan tetapi juga kontribusinya (arus yang mengalir disetiap cabang dalam jaringan yang menuju pada titik gangguan). Daya semu hubung singkat (sisi 150 kV): MVAhs = 3x kV1 x Ihs (2.3)

Impedansi hubung singkat (sisi 150 kV):

Zs1 =

(kV 1 )2 MVA hs

(2.4)

Arus nominal trafo adalah: S In(trafo ) = 3x kV

(2.5)

Impedansi hubung singkat (sisi 20 kV): Zs2 =


kV 1 2 kV 2 2

x Zs1

(2.6)

Impedansi trafo: X T = MVA 2


(kV )2
trafo

XT : Impedansi dasar trafo ( ) XT0 : Reaktansi urutan nol trafo ( ) XT1 : Reaktansi urutan positif trafo ( ) XT2 : Reaktansi urutan negatif trafo ( ) RN :Resistansi netral (pentanahan) ( ) S : Daya trafo (MVA) Hs : Arus hubung singkat (A) Zs1(eki) : Impedansi ekivalen urutan positif dan negatif sumber ( ) Zs0(eki) : Impedansi ekivalen urutan nol sumber ( ) Penyulang wilayah Dili Timor Leste memiliki sistem distribusi dengan 3 kawat fasa. Panjang penyulang sistem kelistrikan di Dili Timor Leste terdata sepanjang 21,118 Km, untuk mempermudah perhitungan impedansi saluran mengunakan persamaan 2.13. sebagai berikut: ZL = ( x Z1Penghantar) + ( ZS1 (eki)) (2.13) Impedansi saluran (ZL) mencakup impedansi ekivalen urutan positif (Z1(eki)) dan urutan negatif (Z2(eki)). Untuk mencari impedansi saluran ekivalen urutan nol (Z0(eki)) dapat menggunakan persamaan 2.14. ZL = %.( x Z0penghantar) + ( ZS0 (eki)) (2.14) Dengan: : Panjang saluran (Km) ZL = Z1(eki) = Z2(eki) = Z0(eki) : Impedansi penghantar ekivalen urutan positif, negatif dan urutan nol (/km). c. Gangguan Hubung Singkat (Short Circuit) Sebelum merencanakan sistem proteksi yang handal diperlukan data gangguan hubung singkat serta faktorfaktor yang dapat menyebabkan gangguan hubung singkat harus diketahui. Gangguan yang terburuk pada suatu sistem tenaga listrik adalah gangguan hubung singkat, sehingga gangguan ini harus dapat diisolir sebelum merambat keperalatan sistem

(2.7)

Reaktansi trafo tenaga urutan positif dan negatif: X 1 = X trafo % x X T (2.8)

Reaktansi trafo urutan nol belitan hubungan bintang bintang (YY) : X T0 = 10 x X T1 (2.9) Tahanan pentanahan (3RN): 3R N = 3 x X T (2.10)

Impedansi ekivalen urutan posistif sumber = urutan negatif sumber: Zs1


eki

= Zs2(eki ) = Zs2 + X T1 (2.11)

Impedansi ekivalen urutan nol Zso (eki ) : Zs0(eki ) = X T0 + 3R N (2.12)

Dengan : In (trafo) : Arus nominal trafo (A) kV1 : Tegangan primer trafo (kV) Kv2 : Tegangan sekunder trafo (kV) MVAhs : Daya semu hubung singkat (MVA) Zs1 : Impedansi hubung singkat disisi primer ( ) Zs:Impedansi hubung singkat disisi sekunder ( ) Zs0: Impedansi hubung singkat disisi netral ( )

tenaga listrik. Gangguan hubung singkat yang sering terjadi dalam sistem distribusi tiga fasa adalah gangguan hubung singkat 3 fasa, gangguan hubung singkat 2 fasa dan gangguan hubung singkat 1 fase dengan netral. 1. Arus hubung singkat 3 fasa (3 ) Maka persamaan untuk menghitung arus hubung singkat 3 fasa diperlihatkan pada persamaan 2.15. Ihs (3) =
V L L 3

pemutus tenaga yang terkait mendapat energi dan kontak-kontak breaker membuka, mengisolir bagian yang terganggu dari sistem. 1. Relay Arus Lebih (Over Current Relay) Relay arus lebih adalah suatu relay dimana bekerjanya berdasarkan adanya kenaikkan arus yang melewatinya. Relay ini dirancang untuk dapat merasakan dan mengukur adanya gangguan yang diakibatkan oleh besaran arus dan mengambil keputusan untuk seketika atau dengan perlambatan waktu membuka pemutus tenaga. 2. Kaidah kaidah IDMT (Inverse Definite Minimum Time) Relay ini karakteristiknya mengandung bagian yang curam seperti inverse time relay dan bagian yang mendatar seperti definite time relay. Setelan relay dihitung berdasarakan arus beban maksimun. Untuk relay invers disetel sebesar 1, 05 sampai dengan 1, 1 x Imaks, sedangkan untuk relay definite disetel sebesar 1, 2 sampai dengan 1,3 x I maks. Persyaratan lain yang harus dipenuhi yaitu untuk penyetelan waktu maksimum dari relay arus lebih (terutama penyulang) tidak lebih kecil dari 0, 3 detik. Pertimbangan ini diambil agar relay tidak sampai trip lagi akibat arus inrush dari trafo distribusi yang tersambung di jaringan distribusi. Kaidah dasar penyetelan relay arus lebih disisi hilir tidak boleh bekerja pada arus beban maksimum, dalam penyetelan arus kerja pick up (setelah adanya arus gangguan yang dirasakan CT) maka, settingan arus primer untuk relay invers seperti persamaan 2.18 dan sekunder di CT seperti persamaan 2.19. Iset (primer ) = 1,05 x Inominal Iset (sek ) = Iset
primer

(Z 1(eki ) )2

(2.15)

2. Arus hubung singkat 2 fasa (2) Persamaan untuk menghitung arus hubung singkat 2 fasa diperlihatkan pada persamaan 2.16. V L L Ihs (2) = (2.16)
(2x Z 1(eki ) )2 + (2x Z 2(eki ) )2

3. Arus hubung singkat 1 fasa dengan netral Persamaan untuk menghitung arus hubung singkat 1 fasa dengan netral diperlihatkan pada persamaan 2.17.
Ihs (1) =
V 3 x L L 3

2x( Z 1 eki + Z 2(eki ) )+ Z 0(eki )

(2.17) hubung

Dengan: Ihas (1) singkat 1 fasa (A) VL-L fasa (V) Z1(eki) positif () Z2 (eki) negatif () Z0 (eki) netral/nol ()

Arus

: Tegangan fasa ke : Impedansi urutan : Impedansi urutan : Impedansi urutan

d. Relay Proteksi Jaringan Distribusi 20 kV Relay adalah suatu peralatan yang dapat mendeteksi keadaan tidak normal yang terjadi didalam sistem, dengan cara memberi signal kepada circuit breaker untuk membuka kontaknya. Apabila kontak-kontak relay menutup, maka rangkaian-rangkaian trip

(2.18) (2.19)

1 Rasio CT

3. Penyetelan waktu Multiplier Setting)

TMS

(Time

penyetelen yang dicapai masih tetap diperoleh keselektifitas yang baik. Koordinasi pada Circuit Breaker Fail yang dikomunikasikan antara zone (daerah OCR A dan OCR B). Kalaupun ada gangguan, relay dapat bekerja lebih selektif dan cepat. Sehingga koordinasi relay dapat dihandalkan apabila terdapat kondisikondisi tertentu didalam terjadinya gangguan. Skema jaringan pola Non Kaskade diperlihatkan pada gambar 3.1.
CB CT

Penyetelan waktu kerja relay yang paling hilir ialah secepat mungkin. Untuk relay dengan karakteristik waktu terbalik pada saat penyetelan, waktu dial atau TMS (Time Multiplier Setting) ialah didasarkan pada waktu kerja yang diinginkan sebesar t = 0, 3 0, 5 detik. Penyetelan waktu kerja relay di incoming 20 kV adalah dengan menambahkan waktu kerja yang dipilih di penyulang dengan selisih waktu yang dipilih (t). Biasanya selisih waktu yang dipilih adalah 0, 4 detik Persamaan untuk menghitung waktu kerja relay arus lebih adalah: TMS = (2.20) 0.14 Waktu setingan sebenarnya adalah: 0.14 x TMS t = I 0.02 (2.21)
hs I set

TC

Gardu induk 150kV

Trafo

tx

I hs I set

0.02

CT CB TC

a) Bus 20kV
TC
t CBF

CB CT

TC
B

CB CT

b)
B

Dengan: Ihs: Arus hubung singkat [A] Iset: Arus settingan CT primer [A] t: Waktu settingan OCR sebenarnya [det] TMS: Waktu pengali (Tampa satuan) e. Pola Non Kaskade Proteksi gardu induk dengan sistem Non Kaskade adalah untuk melindungi bagian-bagian vital pada gardu induk dan sekaligus menjaga kestabilan di daerah busbar. Sistem Non Kaskade adalah semacam pengaman cadangan jika harus terjadi kegagalan di pengaman utama, maka pengaman cadangan akan trip seketika untuk mendapatkan selektifitas dan stabilitas. Prinsip kerja Non Kaskade adalah pola tanpa pentanahan. Pola ini relay dapat dikomunikasikan ke relay yang lain. Relay ini bekerja dan dapat memberi signal jika ada kegagalan relay disisi penyulang, maka relay disisi trafo akan langsung bekerja. Namun

Gambar 3.1. Skema jaringan pola Non Kaskade

f. ETAP (Electric Transient Analysis Program) Electric transient analysis program adalah suatu software analisis yang comprehensive untuk mendesain dan mensimulasi suatu sistem rangkaian tenaga. Analisis yang ditawarkan oleh Etap yang digunakan oleh penulis adalah untuk menghitung besarnya beban lebih pada jaringan. Etap juga biasa memberikan peringatan (Warning) terhadap bus-bus yang undervoltage dan overvoltage sehingga penguna bisa mengetahui bus mana yang tidak beroperasi optimal, untuk menganilisa suatu rangkaian diperlukan data rangkaian yang lengkap dan akurat, sehingga hasil perhitungan Etap dapat dipertanggung- jawabkan.

4. Jalannya Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana sistem proteksi tegangan dan kehandalan pada jaringan distribusi di Dili Timor Leste. Untuk mempermudah analisa ataupun pembahasan, maka dilakukan pokok pokok atau langkah langkah dalam analisa perhitungan maupun pembahasan. Adapun langkah - langkah tersebut antara lain : a. Menentukan diteliti. obyek yang akan

1. Menghitung impedans saluran, arus hubung singkat, menghitung TMS, menghitung waktu sebenarnya dengan Non Kaskade, menghitung beban lebih, drop tegangan dengan software Etap. 2. Mengevaluasi tingkat keandalan sistem distribusi menggunakan standar SAIFI dan SAIDI. d. Pembahasan Setelah poin d tercapai, maka selanjutnya dilakukan pembahasan. Materi pembahasan tersebut antara lain; membahas seberapa besar sistem proteksi jaringan distribusi 20 kV Dili Timor Leste dengan mengunakan metode Non Kaskade, dan sebarapa besar beban lebih, drop tegangan dengan software Etap. ). Disamping itu pembahasan tingkat kehandalan yang didapat dari data dokumentasi EDTL (Electicidade De Timor Leste) Dili. Sebagai parameter tingkat kehandalan diambil ketentuan target suatu pengoperasian sistem distribusi dari EDTL Dili. Target tersebut menggunakan parameter target SAIFI dan SAIDI. 5. Hasil Penelitian Hasil penelitian yang diberikan dalam bentuk perhitungan perhitungan data yang didapatkan dari EDTL (Electicidade De Timor Leste) Dili. Adapun data tersebut tertera pada bab III dan oleh karenanya agar mudah dalam pembahasan maka analisa perhitungan yang dikerjakan antara lain arus hubung singkat 3 fasa, 2 fasa, dan 1 fasa dengan netral, menghitung waktu kerja login Non Kaskade, SAIFI dan SAIDI, menghitung drop tegangan, rugi daya dengan Etap.

Obyek yang dimaksud adalah sebelum mengambil data yang diinginkan terlebih dahulu menentukan data apa yang harus diambil dan batasan permasalahan yang akan diambil. b. Pengumpulan data. Sebagai awal penelitian untuk mengetahui lokasi yang akan diambil, dan juga untuk mengetahui masalah yang terjadi dan akibat akibatnya. Data yang diambil adalah data yang mempunyai nilai sesungguhnya yang didapat dari EDTL (Electicidade De Timor Leste) Dili. c. Mengelompokan data. Data - data yang dikelompokan diantaranya one line diagram penyulang 20 kV Dili Timor Leste, data gardu induk, penghantar, trafo distribusi, data gangguan, dan data beban selama tahun 2012. d. Pemrosesan data Data yang telah dikelompokkan pada poin c, selanjutnya dilakukan pemrosesan. Sesuai dengan judul penelitian maka langkah awal proses data antara lain :

a. Arus hubung singkat Hasil perhitungan arus gangguan hubung singkat 3 fasa, 2 fasa dan 1 fasa dengan netral, dapat digunakan untuk penyetelan relay arus lebih. Maka dibuat suatu perbandingan besarnya arus gangguan terhadap titik gangguan (lokasi gangguan pada penyulang yang dinyatakan dalam persen) dipelihatkan pada tabel 5.1. sedangkan kurva hubungan arus hubung singkat diperlihatkan pada gambar 5.1.

b. Waktu setting IDMT login Non Kaskade dengan Etap

Gambar 5.2. Grafik koordinasi waktu relay arus lebih 3 fasa

c. Perhitungan SAIFI dan SAIDI Nilai indeks SAIFI dan SAIDI melebihi standar yang ditetapkan (3 kali/tahun dan 2 jam/tahun), yaitu 10,678 kali/tahun dan 25,508 jam/tahun. d. Menghitung beban lebih, drop tegangan dan rugi daya dengan Etap.

Gambar 5.1. Kurva arus gangguan hubung singkat 3 , 2 , 1-N

Tabel 5.3 hasil perhitungan beban lebih, drop tegangan dan rugi daya dengan Etap
Kode Trafo Kapa sitas (KV A) 500 250 250 315 160 250 250 250 250 100 160 160 315 250 160 200 160 160 100 200 250 250 160 160 250 160 200 160 250 160 250 250 315 250 160 250 250 Arus RataRata (A) Resista nsi (K) 373,783 188,867 163,333 158,333 783,333 135,000 60,200 340,667 893,667 642,667 66,000 495,333 295,733 262,333 755,667 152,667 284,333 776,667 23,100 252,667 71,000 247,933 108,333 252,933 211,667 46,000 235,200 43,833 127,167 136.067 136,000 360,333 192,000 199,733 775,667 282,667 188,133 0,065 0,133 0,146 0,115 0,224 0,142 0,149 0,125 0,144 0,377 0,217 0,233 0,115 0,144 0,23 0,181 0,219 0,221 0,415 0,182 0,139 0,125 0,221 0,228 0,146 0,218 0,18 0,235 0,153 0,225 0,114 0,122 0,113 0,144 0,235 0,153 0,143 Bebn RataRata (KVA) 246,016 124,308 107,503 104,212 51,557 88,854 39,622 224,22 58,819 42,299 43,439 32,602 194,646 172,662 49,736 100,482 187,142 51,119 15,204 166,3 46,731 163,185 71,303 166,475 139,315 30,276 154,804 28,850 83,698 89,556 89,512 237,164 126,370 131,46 51,053 186,045 123,825 7,1 3,6 3,1 3 1,5 2,6 1,1 6,5 1,7 1,2 1,3 0,9 5,65 5 1,4 2,9 5,4 1,5 0,4 4,8 1,4 4,7 2,1 4,8 4 0,9 4,5 0,8 2,4 2,6 2,6 6,9 3,7 3,8 1,5 5,8 3,6 2,56 2,58 2,26 1,73 1,85 1.82 0.82 4,71 1,22 2,32 1,41 1,05 2,23 3.61 1,61 2.62 6.17 1,66 0,83 4.36 0,97 3,41 2,32 5,48 2,91 0,98 4,05 0,94 1,84 2,92 1,48 4,98 2,09 2,73 1,76 4,45 2,58 2,5 1,3 1 0,7 0,3 0,7 0,1 4,2 0,4 0,3 0,2 0,4 2,5 2,5 0,3 1,1 4,6 0,6 0,1 2,9 0,2 2,2 0,7 3,6 1,6 0,1 2,5 0,1 0,7 1 0,2 4.7 1,1 1,4 0,4 4,1 1,3 Arus prim er (A) Drop Tega ngan (kV) Rugi daya (kW )

b. Untuk relay arus lebih pada penyulang tidak tepat mengunakan karakteristik relay arus lebih definite time. c. Dilihat dari hasil perhitungan SAIFI dan SAIDI pada penyulang Dili dengan mengacu pada standar EDTL maka penyulang Dili Timor Leste telah melebihi standard yang telah ditetapkan, faktor penyebab adalah banyaknya gangguan dan waktu pemulihan yang terlalu lama. d. Dari 37 trafo distribusi 20 kV Dili Timor Leste drop tegangan tidak memenuhi syarat adalah di DT-17 (Lokasi terminal Becora Antiga) sebesar 5,916% dan di DT-24 ( lokasi Caicoli) sebesar 5,48 %. e. Total rugi daya berdasarkan perhitungan sebesar 52, 2 kW atau 0,097 % dari daya yang didistribusikan. 7. Saran

DT-01 DT-02 DT-03 DT-04 DT-05 DT-06 DT-07 DT-08 DT-09 DT-10 DT-11 DT-12 DT-13 DT-14 DT-15 DT-16 DT-17 DT-18 DT-19 DT-20 DT-21 DT-22 DT-23 DT-24 DT-25 DT-26 DT-27 DT-28 DT-29 DT-30 DT-31 DT-32 DT-33 DT-34 DT-35 DT-36 DT-37

a.

6. Kesimpulan Berdasarkan hasil perhitungan dan pembahasan pada bab IV, maka dapat diambil beberapa kesimpulan diantaranya : a. Koordinasi waktu kerja relay arus lebih pada Non Kaskade di penyulang dan di incoming tidak terkoordinasi dengan baik yaitu 0,429 dan tidak memenuhi standar koordinasi waktu relay arus lebih antara 0,66 - 0,75.

b.

c.

Berdasarkan hasil analisis dari data EDTL ( Electricidade De Timor Leste) Dili, sebaiknya mengunakan relay arus lebih dengan karakteristik inverse definite minimum time (IDMT) untuk jaringan distribusi 20 kV. Berdasarkan hasil analisis yang menyebakan sering terjadi pemadaman adalah gangguan dari luar, maka pohon-pohon yang menggangu perlu dirabas/ditebang. Mengunakan lightning arrester yang tepat untuk memproteksi gangguan sambaran petir.

8. Daftar Pustaka Andi, Praktik Paraktik Sistem Tenaga Listrik, 2012: C.V Andi Offset Yogyakarta. Arismunandar, Prof. Dr. A. dan Dr. S. Kuwara, 1974: Buku Pegangan Teknik Tenaga Listrik, Jilid II: Saluran Transmisi, Association for International Technical Promotion Tokyo & Jakarta: Pradnya Paramita. Dewberry, R.A., 1982 : Electric Distribution Systems Engineering, New York: McGraw-Hill Publicatiuons Company. Gonen Turan, 1987, Electic power Distribution system engineering. Mc. Graw-Hill Book company, USA. Kadir Abdul, Distribusi Dan Utilisasi Tenaga Listrik, 2006: Universitas Indonesia (UI- Press), Jakarta. Marsudi Djiteng Ir., Operasi Sistem Tenaga Listrik, 1990: Graha Ilmu. Mason, C. Russel, 2001: The Art and of Protective Relaying. Wiley Eastern Limited. New Delhi. Pacific Department Asian Development Bank, 2004: Power Sector Development Plan for Timor Leste, Electricidade de Timor Leste. SPLN 59, 1985: Keandalan Sistem Distribusi 20 kV dan 6 kV, Departemen Pertambangan dan Energi, Jakarta. Suswanto Daman, 2009: Sistem Distribusi Listrik, Universitas Negeri Padang.

www.laohamutuk.org/Oil/Power/10 PowerPlant.htm. Yayasan PUIL, 2000: Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2000, Jakarta.